Tugas Ekologi Pangan & Gizi 2009

  1. Buatlah makalah pendek maksimal 1200 kata dengan mengambil topik-topik yang telah dijelaskan sebelumnya.
  2. Masukkan dalam kolom “comment” di bawah ini!
  3. Tugas telah masuk sebelum UTS.

Comments

Firdhanti Rufaidah
Posted on 4th October, 2009

Pengalengan Ikan sebagai Pengembangan Produk Olahan Ikan dan Hasil Laut Untuk Perbaikan Gizi
Masalah gizi di Indonesia merupakan masalah yang tetap ada dan masih terus menjadi permasalahan bagi negara ini. Masalah gizi yang utama di Indonesia meliputi Kurang Energi Protein, anemia gizi besi, kekurangan yodium, dan kekurangan vitamin A. marasmus dan kwashiorkor merupakan kasus yang paling banyak terjadi pada anak balita usia satu sampai lima tahun. Masalah gizi dapat berdampak pada penghambatan perkembangan kecerdasan. Kasus malnutrisi akan menyebabkan Indonesia kehilangan lebih dari dua ratus juta angka potensi IQ per tahun. Malnutrisi berkelanjutan kan meningkatkan angka kematian anak.
Sebenarnya, masalah gizi di Indonesia dapat dicegah dengan melakukan langkah-langkah preventif. Langkah tersebut dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Salah satu langkah preventif yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menjamin ketersediaan pangan yang berasal dari darat dan laut di seluruh negeri. Pemerintah dapat juga meningkatkan daya beli masyarakat. Masyarakat Indonesia telah mampu mengonsumsi makanan yang secara kuantitatif mencukupi. Namun dari segi kualitatif masih banyak yang belum mampu mencukupi kebutuhan gizinya. Langkah preventif lain adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan gizi dan kesehatan dalam masyarakat.
Selain adanya langkah preventif yang nyata dari pemerintah, masyarakat juga berperan dalam mengurangi masalah gizi di Indonesia. Dengan teknologi dan sumber daya yang melimpah, seharusnya rakyat Indonesia bersedia dan mampu membuat produk makanan yang kaya protein yang berasal dari bumi hayati Indonesia. Terciptanya produk olahan makanan yang baru dapat membuat masyarakat mendapat tambahan pilihan atas makanan yang akan dikonsumsi. Produk olahan tersebut harus berasal dari bahan alami yang kaya protein sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Produk olahan ikan menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan masalah gizi di Indonesia.
Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan spesies ikan di perairannya. Berbagai jenis ikan hidup dalam perairan laut di wilayah Indonesia, yaitu sekitar 20.000 jenis. Walaupun beragam jenis spesies ikan terdapat di wilayah perairan Indonesia, namun jenis ikan yang digunakan sebagai bahan makanan hanya terbatas pada beberapa jenis ikan. Para ahli perikanan memperkirakan bahwa hanya sekitar dua persen dari seluruh jenis ikan yang tersedia yang telah digunakan sebagai bahan makanan manusia. Perikanan masih merupakan salah satu andalan Indonesia dalam perolehan devisa negara. Nilai ekspor perikanan Indonesia di pasar dunia pada tahun 2006 menduduki peringkat 10 dibawah Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang dengan pertumbuhan ekspor selama tahun 2003-2007 mencapai rata-rata sebesar 8,28%. Hal ini membuka peluang untuk produksi ikan kaleng dari berbagai jenis bahan mentah ikan dengan terlebih dahulu diuji kelayakannya. Selain itu, ikan air tawar yang juga termasuk ikan perairan umum juga memiliki kemungkinan untuk dijadikan sebagai bahan baku pengolahan ikan kaleng. Selama ini, pengembangan pengolahan ikan secara modern sudah banyak dilakukan di tingkat industri, namun pengembangan pengolahan ikan secara tradisional masih jarang diperhatikan.
Jenis komoditas perikanan yang sering dikalengkan adalah tuna, salmon, sarden, udang, dan kerang. Selain ikan yang dikalengkan, sayuran dan daging juga mulai banyak dikalengkan. Konsep pengolahan modern dikembangkan atas kemajuan ilmu dan teknologi berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan. Proses pengalengan sangat menentukan keamanan produk kaleng yang dihasilkan. Secara umum, proses pengalengan meliputi penyiapan ikan, pemasakan, pemasukan dalam kaleng, penambahan bahan untuk meningkatkan rasa dan mutu, exhausting, penutupan kaleng secara hermetic, pemanasan (sterilisasi), pendinginan dan pencucian, serta pelabelan. Tujuan proses pengalengan adalah menghasilkan produk steril dengan memusnahkan mikroorganisme patogen dan bakteri pembusuk pada produk kemasan melalui proses sterilisasi panas. Dengan begitu produk yang dihasilkan dapat disimpan lebih lama dengan kondisi mutu yang baik dan aman untuk dikonsumsi.
Produk ikan kaleng tetap dapat digolongkan sebagai jenis makanan bernilai gizi tinggi. Adanya proses pemanasan menyebabkan terjadinya denaturasi protein. Hidrolisis protein terjadi pada pemanasan suhu 1100 celcius selama 90 menit dan pada suhu 1300 celcius selama 60 menit. Hidrolisis protein akan meningkat dengan semakin tingginya suhu dan lama pemanasan. Sterilisasi menyebabkan terjadinya sedikit perubahan pada lipid akibat hidrolisis, oksidasi, dan polimerisasi. Degradasi vitamin tergantung pada spesies dan kandungan lemak pada ikan. Vitamin B1 yang sangat sensitif terhadap panas berkurang 25-55%. Vitamin C yang ada pada media saus tomat hampir rusak semuanya. Sebaliknya, riboflavin, vitamin A, E, dan D relatif stabil terhadap panas pada pemanasan tanpa oksigen.
Jenis ikan yang umum diolah menjadi produk kaleng adalah ikan tuna dan salmon. Saat ini, mulai dikembangkan produk ikan kaleng dengan jenis ikan yang telah banyak ada di masyarakat seperti lele, gabus, belut, bawal, kembung, pari, dan tengiri karena jenis ikan tuna dan salmon tidak mudah diperoleh. Ikan kaleng tersebut banyak dimasak dengan tambahan bumbu saus tomat atau cabai. Ikan kaleng tersebut termasuk makanan internasional. Pengembangan produk olahan ikan secara tradisional dapat pula dilakukan. Masyarakat Indonesia lebih familiar dengan makanan tradisional yang biasa dimakan sehari-hari. Misalnya ikan pepes yang banyak dimakan oleh masyarakat Indonesia. Kita dapat memulai produksi pengalengan pepes sebagai tambahan produk olahan ikan. Ikan yang bisa digunakan dalam pengalengan pepes meliputi bawal, kembung, tengiri, dan lain sebagainya. Cara mengolah pepes adalah dengan mencampur semua bahan seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai, kunyit, jahe, lengkuas, garam, gula pasir, tomat, asam jawa, daun salam, serai, daun bawang, dan daun kemangi. Kemudian pepes dibungkus dengan daun pisang, dikukus hingga matang, dan dibakar di atas bara. Pengawetan pepes dapat dilakukan dengan cara irradiasi. Dengan proses penyinaran tenaga nuklir ini, pepes dapat awet lama bahkan hingga satu tahun. Kelebihan dari proses pengawetan ini adalah tidak mengubah kualitas makanan dan tetap aman dikonsumsi. Pengawetan pepes dengan cara pengalengan juga merupakan alternatif yang baik. Pengalengan didefinisikan sebagai salah satu pengawetan bahan pangan yang dikemas secara hermetic, yaitu kedap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya dalam suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen dan pembusuk. Pengalengan secara hermetic dapat menghindarkan makanan dari kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi, dan perubahan cita rasa. Kaleng dapat menjaga bahan pangan yang ada di dalamnya dari kontaminasi mikroba atau bahan asing yang dapat menyebabkan kebusukan atau perubahan penampilan dan cita rasa makanan tersebut. Kaleng juga dapat menjaga bahan pangan terhadap penyerapan oksigen, gas-gas lain, bau-bauan, dan partikel radioaktif yang ada di atmosfer. Untuk bahan pangan berwarna yang peka terhadap reaksi fotokimia, kaleng dapat menjaga dari cahaya.
Keamanan produk ikan pepes yang dikalengkan pada dasarnya sama dengan pengolahan ikan kaleng lainnya yang harus diperhatikan sejak pemilihan bahan baku hingga pelabelan. Dalam pengolahan pepes terdapat proses pembakaran yang biasanya terjadi pembentukan senyawa hidrokarbon yang bersifat karsinogenik, namun sebelum dikalengkan, pepes dikeluarkan dari pembungkusnya kemudian dilanjutkan dengan pengisian medium pengalengan yaitu bumbu atau rempah-rempah sehingga ikan pepes yang dimasukkan ke dalam kaleng dapat dikatakan aman dari senyawa tersebut. Keamanan pangan dari aspek mikrobiologi pepes kaleng ini juga harus diperhatikan pada penyiapan bahan dan pengolahan yang saniter dan higienis, serta proses pengalengan yang benar sehingga dapat membunuh mikroba patogen dan pembusuk.
Dengan adanya perkembangan teknologi dalam mengolah ikan, produk ikan di pasaran dapat ditambah dengan produk olahan ikan lain. Sehingga konsumen mendapat lebih banyak pilihan untuk makanan yang akan dikonsumsinya. Ikan sebagai salah satu sumber protein hewani dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizinya. Ikan dapat memenuhi kecukupan gizi anak balita karena kandungan protein ikan berkisar antara 20-35 persen yang berpotensi tinggi menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial serta mutu daya cernanya yang setara dengan telur. Kandungan asam amino esensial yang lengkap dan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh omega 3 yang kurang dimiliki oleh produk daratan, merupakan keunggulan produk kelautan. Budaya makan ikan yang tinggi dalam masyarakat Jepang telah membuktikan terjadinya peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak-anak negara itu. Dengan begitu, pengembangan produk olahan ikan dapat digunakan sebagai salah satu cara mengurangi masalah gizi di Indonesia.
Nama : Firdhanti Rufaidah
NIM : 100710140
Kelas : IKM A 2007

Rizka Agustininda
Posted on 4th October, 2009

PENGEMBANGAN SRI (System of Rice Intensification)

Praktek pertanian yang tidak berkelanjutan menganggap tanah sebagai mesin produksi dan tidak memperlakukan tanah sebagai sistem yang hidup serta mengabaikan fungsi dan peranan air juga bahan organik tanah. Disamping itu, upaya peningkatan produksi dan takut kehilangan hasil sekecil apapun, membuat pelaku pertanian seolah sebagai penguasa lingkungan. Tiga kondisi yang merupakan ongkos mahal yang harus dibayar sebagai akibat sistem pertanian yang dikembangkan selama 50 tahun terakhir adalah: kerapuhan alam pertanian, kerapuhan pangan dan bertani yang terjajah. Oleh karena itu perlu peningkatan efisiensi produksi, produktivitas padi dan kelestarian lingkungan melalui pengembangan SRI (System of Rice Intensification.
System of rice intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan.
SRI adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar, dimana kondisi dan keadaan alamnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena pertimbangan kondisi lahan pertanian yang kian menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung, maka dikembangkanlah metoda tersebut.
Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik. Karena, mulai dari mengolah tanah, pemupukan dan penanggulangan hama atau penyakit, sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagaimana yang dilakukan petani selama ini.
Budi daya model SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan, sehubungan dengan hal itu maka model pertanian SRI ini adalah salah satu pilihan untuk dibangun dan dikembangkan, karena penggunaan air yang hemat merupakan salah satu langkah dalam mengantisipasi krisis air.
Dengan cara SRI sawah tidak digenangi air karena memang padi bukanlah tanaman air, cukup dengan tanah dalam kondisi lembab/macak-macak. Tetapi karena mengandung kompos yang cukup sehingga tanah mempunyai kemampuan untuk mengikat air yang banyak selain menyisakan ruang untuk udara, mikroorganisme, dan pertumbuhan akar. Kebutuhan air untuk sistem ini hanya setengah dari cara konvensional, serta membuka peluang penerapan teknik baru untuk pemenuhannya baik berupa penyiraman maupun pengaturan lainnya.
Penyiangan atau ngarambet merupakan faktor yang sangat penting, fungsinya bukan saja untuk menghilangkan gulma tetapi juga untuk memasukkan udara ke dalam tanah. Pada cara SRI penyiangan dilakukan paling sedikit empat kali dari yang biasanya hanya dua kali pada cara konvensional. Sekali saja penyiangan tidak dilakukan bisa menurunkan produksi padi sekitar 1 ton/ha. Dengan tanah yang berkompos dan beberapa jam sebelumnya air di sawah dinaikkan maka pada saat penyiangan rumput yang tumbuh dapat dicabut/disiang dengan mudah. Untuk maksud ini alat penyiangan dengan menggunakan seperangkat alat yang berputar dapat dikembangkan.
Cara SRI dapat menekan gangguan hama yang sering terjadi secara berarti tanpa harus menggunakan bahan kimia anti hama/pestisida sintetis. Banyak jenis serangga yang hidup bersama dengan tumbuhnya tanaman padi, namun mereka tidak sempat menjadi hama (merusak dan merugikan) karena dengan cara SRI kondisi rimbunnya rumpun padi tidak memberi cukup waktu kepada serangga untuk berkembangbiak. Serangan keong pun dapat ditekan karena tanah terhindar dari genangan.
Menanam padi dengan cara SRI dapat meningkatkan produktivitas secara nyata. Ujicoba petani di beberapa daerah misalnya di Ciamis, Garut, Tasik memberikan hasil berturut-turut mulai dari 9,4 ton/ha, 11 ton/ha, 11,2 ton/ha, bahkan terakhir ada yang mencapai 12,5 ton/ha, tentunya pada luasan yang masih sangat terbatas. Demikian juga ujicoba pemula di Cianjur, Bekasi, Sukabumi, Bandung selalu diatas 8 ton/ha sekalipun dalam penerapan keseksamaannya masih jauh dari sempurna. Cara SRI juga meningkatkan kualitas bulir padi yang dihasilkan. Produk beras kepalanya meningkat 17%, rasanya lebih pulen, dan lebih tahan.
Tantangan pada pengembangan SRI Sejalan dengan berkembangnya penerapan SRI di lapangan dan minatnya para petani, terutama dalam pelaksanaan penggunaan pupuk organik maka muncul beberapa masalah diantaranya :
- Ketersediaan Bahan Organik baik dari biomassa atau yang bersumber dari limbah ternak masih sangat terbatas
- Pembuatan kompos di sebagian besar masyarakat masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama
- Membiasakan membuang dan membakar sumber bahan organik ( Jerami dan limbah organik lainnya) , telah menjadi budaya
- Petugas dan petani yang memahami dan terampil dalam penguasaan teknis Ekologi Tanah dan SRI jumlahnya masih sangat terbatas
Dalam Pengembangannya model Usahatani dengan metoda SRI diikuti dengan pengembangan ternak, penyediaan alat pengolah organik (Chooper) dan pembelajaran.
Sebagai pendukung agar SRI mampu diterapkan para pelaku usahatanai, sebelumnya diutamakan Pembelajaran Ekologi Tanah (PET) dipahami lebih dulu sebagai sebuah gerbang dalam mengelola agro-ekosistem, hal ini berdampak pada psikologis pengelola usahatani untuk berhati-hati dalam setiap keputusan untuk mengambil sebuah tindakan sehingga kondisi mahluk-mahluk hidup yang berada disekitarnya tidak lagi mati terbunuh atau hidup merusak dan merugikan.

NAMA: RIZKA AGUSTININDA
NIM: 100710144
KELAS: IKM A 2007

DAFTAR PUSTAKA:
http://74.125.153.132/search?q=cache:_-H6pAcl66sJ:pla.deptan.go.id/pdf/03_PEDOMAN_TEKNIS_SRI_2009.pdf+pengembangan+system+of+rice+intensification&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://74.125.153.132/search?q=cache:ypw9nVz520UJ:pla.deptan.go.id/pdf/04_PEDOMAN_TEKNIS_DAMPAK_SRI_2009.pdf+pengembangan+system+of+rice+intensification&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60
http://www.serambinews.com/news/meretas-padi-organik-lewat-sri

Bahana Rizka W
Posted on 4th October, 2009

Terpalisasi dalam Penanganan Pasca Panen Padi

Salah satu syarat untuk menstabilkan ketahanan pangan nasional adalah ketersediaan beras yang mencukupi. Kertersediaan beras tersebut dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri dan pengadaan luar negeri (impor). Pengadaan dalam negeri dilakukan dengan berbagai upaya seperti melalui peningkatan produksi padi. Namun dalam peningkatan produksi tersebut masih ditemukan permasalahan besar yang perlu perhatian khusus oleh semua pihak yaitu besarnya tingkat kehilangan hasil pada saat panen dan pasca panen serta mutu gabah/ beras yang relatif rendah dan variatif.
Data dari hasil pengukuran tingkat kehilangan hasil panen dan pasca panen padi oleh Biro Pusat Statistik (BPS) yang dilaksanakan 1995/1996 terhadap komoditi padi masih tinggi yaitu 20,51%. Tingkat kehilangan hasil tersebut terutama terjadi pada saat perontokan sebesar 4,78 % dan pengeringan sebesar 2,13%. Hasil penelitian Litbang pengukuran yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu 2004 – 2006 menunjukkan bahwa tingkat kehilangan pasca panen padi antara 10,39 % hingga 15,26 %. Beberapa hasil survai bahkan menunjukkan bahwa angka kehilangan pasca panen tersebut berkisar antara 7,31 – 11,65 % di berbagai daerah. Angka yang berbeda dengan angka acuan tersebut dipandang cukup logis dari berbagai alasan. Selain disebabkan oleh adanya introduksi dan adopsi teknologi penekanan kehilangan hasil padi, pengenalan dan penataan kelembagaan pasca panen padi serta kebijakan yang dikembangkan Pemerintah Daerah secara bersama-sama juga telah memberikan dampak seperti diatas.
Tingginya kehilangan hasil ini disebabkan antara lain karena penanganan panen dan pasca panen hasil pertanian masih banyak ditangani secara tradisional dan relatif, hal ini antara lain ditandai dengan rendahnya penerapan sarana dan teknologi panen/pasca panen serta pengelolaan hasil panen yang belum optimal. Disamping itu waktu panen yang kurang tepat, terbatasnya peralatan pendukung, belum optimalnya pemanfaatan peralatan mesin pasca panen yang tersedia pada masyarakat tani, penempatan dan pengalokasian peralatan mesin pasca panen yang kurang tepat serta kemampuan dan pengetahuan petani dalam penanganan panen dan pasca panen masih terbatas juga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat kehilangan hasil padi serta rendahnya mutu gabah petani.
Petani padi pada umumnya menjemur/mengeringkan gabah dengan cara menghamparkan gabah pada plastik. Penjemuran/ pengeringan dengan alas plastik merupakan cara konvensional pengeringan gabah yang paling popular di Indonesia, karena lebih murah dibandingkan pengeringan buatan (makanis atau semi mekanis) mengingat bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) cenderung meningkat.
Menyadari tingginya kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan penanganan pasca panen tersebut perlu adanya upaya untuk menurunkan tingkat kehilangan hasil, baik pada saat panen dan pasca panen serta peningkatan mutu untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani. Oleh karena itu salah satu alternatif yang efektif dan efisien dapat dilakukan melalui : ”Terpalisasi Penanganan Pasca Panen Padi”
Terpalisasi penanganan pasca panen padi adalah penggunaan terpal plastik untuk alas perontokan, penjemuran/ pengeringan gabah dan penutup/ pelindung gabah dari guyuran air hujan. Spesifikasi terpal plastik yang cocok digunakan adalah sebagai berikut :
Bahan plastik setebal ± 1 mm dan kedap air
Warna gelap (hitam, biru atau coklat tua)
Ukuran 8 x 8 meter2
Ada lubang di ujung dan tengah (min 8 buah lubang)
Pelaksanaan penjemuran sangat tergantung cuaca. Gabah hasil panen yang tidak dapat dikeringkan segera dapat mengakibatkan gabah menjadi rusak, busuk, berjamur, berubah warna karena fermentasi, serta berkecambah. Hal ini banyak terjadi pada saat panen raya yang bertepatan jatuhnya musim penghujan. Kelemahan lain dari penjemuran adalah gabah mengalami deraan panas dan dingin silih berganti pada siang dan malam hari yang menimbulkan tegangan dalam sel gabah. Tegangan sel ini dapat mengakibatkan butir retak yang lebih lanjut lagi akan menimbulkan butir pecah pada saat digiling dan menurunkan rendeman beras.
Fungsi terpalisasi penanganan pasca panen padi ini adalah :
Mengurangi/ menekan kehilangan butiran gabah pada saat perontokan dan pengeringan.
Untuk dinding dan alas dalam upaya mencegah bercampurnya kotoran dengan gabah
Memudahkan pengumpulan gabah dan penutup gabah pada waktu hujan turun
Untuk menghasilkan penyebaran panas yang merata pada saat penjemuran/pengeringan.
Keuntungan terpalisasai penanganan pasca panen padi adalah :
Memudahkan penyelamatan gabah bila dalam masa penjemuran/ pengeringan hujan turun secara tiba–tiba, misalnya dengan cara memasang tali pengikat untuk memudahkan menggulung terpal/ lembaran plastik kemudian menutup/ melindungi gabah dari hujan dengan cepat.
Memudahkan pengumpulan untuk pengarungan gabah pada akhir perontokan dan penjemuran.
Dapat mengurangi tenaga kerja buruh tani dilapangan.
Untuk menghasilkan gabah kering yang seragam, maka unsur ketebalan pada penjemuran gabah sangat besar pengaruhnya. Bila dipandang dari sudut kapasitas dan efisiensi, maka makin tebal padi yang di jemur makin tinggi kapasitas dan efisiensi penjemuran. Namun demikian, makin tebal padi yang di jemur makin besar pula kemungkinan terjadi:
Pengeringan gabah tidak seragam, kadar air gabah pada lapisan bawah lebih tinggi dari lapisan atas.
Bila cuaca mendung atau berawan, penjemuran dapat berlangsung lama, lebih dari 7 (tujuh) hari. Penjemuran yang berlangsung terlalu lama dapat mengakibatkan timbulnya butir kuning dan gabah berjamur.
Hasil giling gabahnya dapat menimbulkan beras pecah/ patah dan menurunkan rendemen giling.
Untuk mengamankan panen raya, Ditjen PPHP telah menghambat Dinas Pertanian Pertanian dan Kabupaten/Kota, agar mengkampanyekan penyediaan plastik untuk alas perontokan, alas pengeringan dan pelindung gabah gabah guna mengurangi dan menekan kehilangan hasil sekaligus menjaga mutu gabah/beras dan mengkampanyekan penggunakan terpal untuk alas. Pada akhirnya upaya ini diharapkan akan berdampak kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani padi.

Bahana Rizka W.
100710164 / 91
IKM 2007 A

Daftar Pustaka
http://agribisnis.deptan.go.id/Pustaka/makalah_terpalisasi-1.htm
http://agribisnis.net/index.php?files=Berita_detail&id=61

Hanis Kusumawati R
Posted on 5th October, 2009

Pengembangan Varietas Padi Bibit Unggul Hibrida (VUH)

Oleh : Hanis Kusumawati Rahayu
100710155 / 84
Ikm A ‘ 07
Varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 150 varietas unggul padi yang meliputi 80% total areal padi di Indonesia.
Keberhasilan varietas unggul dalam meningkatkan produksi sangat menakjubkan, dan disebut dengan revolusi hijau. Fenomena revolusi hijau dimulai pada tahun 60-an dengan ditemukannya varietas IR-5 dan IR-8. Kedua varietas tersebut mampu berproduksi tinggi, responsif terhadap pemupukan dan berumur genjah, sehingga dapat melipat gandakan hasil. IR-5.8 ton/ha tiga kali tanam dalam setahun, sementara pada kondisi yang sama varietas lokal hanya memeberikan hasil 2-4 t/ha satu atau dua kali tanam dalam setahun jelas sekali pelipat gandaan hasil dapat dilakukan melalui penggunaan varietas unggul.
Oleh karena itu pengembangan varietas padi unggul yang berproduksi tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit utama merupakan kelebihan yang dimiliki padi hibrida yang selama dua dekade terakhir ini telah memberikan hasil yang tinggi dan cukup mengembirakan, terutama penanaman yang dilakukan pada lahan sawah beririgasi dan lahan tadah hujan yang baik. kondisi ini telah mampu membuat renovasi dalam produksi padi di beberapa negara termasuk Indonesia.
Beberapa keunggulan benih padi hibrida ini antara lain gejala heterosis yang terdapat pada hasil dan komponen hasil, pertumbuhan vegetatif, sistem perakaran, aktivitas akar, kemampuan beradaptasi serta umur panen. Selain itu padi hibrida mempunyai beberapa keunggulan-keunggulan yang biasanya tidak dimiliki oleh padi konvensional yaitu kualitas gabah dan umur yang hampir sama dengan IR 64 ( berumur antara 115 - 120 hari dengan kadar amilosa 25 - 27 % ), toleran terhadap serangan hama dan penyakit utama seperti wereng coklat dan BLB dan mempunyai berat 1000 biji sekitar 25 gram.
Pengujian daya hasil padi hibrida di Indonesia dari tahun 1984 - 1987 menunjukkan bahwa, padi hibrida selalu menempati urutan teratas pada masing-masing percobaan, walaupun dalam beberapa percobaan, keunggulan hasil ini belum menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai standart heterosis untuk hasil yang dicapai oleh kombinasi hibrida terbaik pada masing-masing percobaan berkisar antara 0,9 - 117,4 % dengan rata-rata sebesar 23,54 % . Sedangkan untuk produktifitas per hari berkisar antara - 12,3 sampai 98,0 % dengan rata-rata sebesar 38,05 %. Pengujian daya hasil padi hibrida dari tahun 1990 -1996 juga menunjukkan hal yang sama dengan diatas, dimana hasil tertinggi selalu ditempati oleh padi hibrida. Dimana nilai standart heterosis untuk hasil kombinasi hibrida terbaik berkisar antara 2 - 49 %, dengan rata-rata sebesar 24,5 %. Dengan mengkaji keunggulan-keunggulan padi hibrida tersebut diatas, maka pengembangan padi hibrida di Indonesia merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dimasa yang akan datang.
Menurut hirarkinya benih unggul padi dibedakan menjadi empat kelas yakni benih penjenis (breeder seeds/ BS), benih dasar (foundation seeds/ FS), benih pokok (stock seeds /SS), serta benih sebar (extension seeds/ ES). Benih unggul ini diproduksi oleh instansi atau badan yang ditetapkan atau ditunjuk oleh Badan Benih Nasional dan mempunyai sertifikat. Benih Penjenis adalah benih yang menjadi sumber benih dasar. Sementara itu benih dasar adalah merupakan keturunan pertama dari benih penjenis. Benih Pokok adalah benih keturunan dari benih penjenis atau benih dasar. Jenis-jenis benih tersebut diberi label berbeda-beda. BS dilabeli kuning, FS dilabeli putih, SS dilabeli ungu, ES dilabeli biru. Terdapat satu lagi padi bersertifikat yakni label merah jambu yang merupakan keturunan pertama dari ES, namun setelah tahun 2007 benih dengan label ini sudah tidak diproduksi lagi karena produktivitas yang rendah.
Oleh karena itu diperlukan kunci sukses pengembangan padi hibrida agar produktivitasnya selalu meningkat yakni 1) varietas yang cocok; 2) benih yang bermutu; 3) teknologi budidaya yang tepat; 4) wilayah yang sesuai, dan 5) respon petani. Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut. tentunya kelima kunci sukses tersebut bisa dihasilkan hanya dengan melakukan perakitan sendiri dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional atau setidaknya menggabungkan galur tetua introduksi dengan galur nasional.
Namun demikian dengan semakin gencarnya pemerintah menggalakan penggunaan padi varietas bibit unggul hibrida mengancam eksistensi varietas padi local. Ribuan varietas padi lokal telah lenyap dari ladang petani. Berbagai pemeksaan yang dilakuakan pemerintah untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies indika. Padahal, Indonesia kaya plasma nutfah padi lokal spesies Javanika, yang berpotensi untuk dikembangkan. Pemaksaan yang dilakukan pemerintah kepada petani untuk menanam varietas padi unggul, justru membunuh kreativitas petani. Tanaman padi lokal semakin hilang dan varietas padi unggul tidak bisa dipastikan sebagai produk yang maksimal. Kearifan lokal masyarakat pertanian yang sudah bertahun- tahun menciptakan sistem pertanian dengan penyilangan antara benih satu dengan yang lainnya, ternyata lebih berkualitas dari pada varietas unggul yang dicanakan pemerintah.
Tanaman padi lokal sekarang hanya tinggal 10-15 persen. Jika kita lihat dari kepemilikan plasma nutfah padi, Indonesia hanya ada 3.800 plasma nutfah yang terdaftar di Balai Besar Penelitian dan Pengembagan Bioteknologi dan Sumber daya Genetik Pertanian Departemen Pertanian. Jika ini berlangsung terus-menerus, maka lama-kelamaan varietas padi lokal akan semakin punah. Yang pada dasarnya varietas lokal memiliki karakteristik tertentu dari hasil adaptasi dengan lahan pertanian setempat. Yang sangat dihawatirkan adalah ketika penanaman varietas padi unggul dan hasilnya tidak memuaskan, itu merupakan sebuah tekanan berat bagi petani yang hanya menggantungkan hidupnya dengan bertani. Dalam hal ini varietas padi lokal lebih memihak pada petani karena hasil penyilangan padi dengan tempat berproduksi lama akan menghasil kan padi yang produktivitasnya tingi tanpa membutuhkan biaya maupun pestisida.
Kemrosotan kinerja pertani pada saat ini mirip dengan yang terjadi pada saat sebelum dilaksanakannya revolusi hijau tahun 1960-an yakni ketika petani secara turun temurun masih menanam ribuan varietas padi lokal. Seperti varietas angkong, bengawan, engseng, melati, markoti, longong, dan ribuan varietas padi lokal asli Indonesia lainnya. Tetapi, sejak pemerintah mengadopsi tanaman padi spesies indika, seperti IR-64, PB-5, PB-8, dan kini varietas unggul nasional ciherang, IR-64, cisantana, cigeulis, cibogo, dll, perlahan keberadaan varietas lokal tergusur. Sehingga sekarang terjadi apa yang disebut Clliford Geert (1963) sebagai involusi pertanian agricultural involution, yakni suatu kondisi di mana sektor pertanian seperti jalan di tempat. Jika ini terbukti, kemrosotan kinerja pada petani bisa dikatakan involusi yang kedua setelah kejadian sebelum revolusi hijau dilakukan. Ciri-cirinya sama, yaitu kemiskinan dipedesaan yang tinggi, produktifitas pertanian stagnan, serta perkembangan sektor pertanian cenderung menurun. Akibatnya sistem pangan kita terganggu dan pertanian juga mengalami kemunduran.
Melihat dari keadaan yang terjadi, masih butuhkah kita mengandalkan produk varietas unggul sementara para petani mogok untuk menanam padi atau dengan varietas padi lokal dan para petani giat bekerja serta hasil yang didapatkan juga tinggi? Sebuah tanda tanya besar untuk direnungkan bersama. Nasib negara terletak pada para petani, yang mana petani adalah pemuas kebutuhan pokok manusia yang berupa. Bila petani terus mengalami stagnasi berkepanjangan, secara otomatis masyarakat Indonesia akan mengalami krisis pangan seperti yang telah terjadi pada saat ini. Itu adalah data faktual yang menunjukkan kemrosotan petani yang di kekang oleh pemerintah. Dan pada akhirnya kita semakin menggantungkan diri dengan impor beras.

daftar pustaka :
http://www.tanindo.com/abdi4/hal1501.htm
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/415/+PENGEMBANGAN+VARIETAS+PADI+UNGGUL+HIBRIDA&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
http://green-organic-rice.blogspot.com/2009/01/eksistensi-varietas-padi-lokal-terancam.html
http://www.kr.co.id/web/

Septa Indra Puspikawati
Posted on 6th October, 2009

PENGEMBANGAN VARIETAS PADI UNGGUL HIBRIDA
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang disebut padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Negara produsen padi terkemuka adalah RR Tiongkok, India, dan Indonesia. Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antarnegara. Thailand merupakan pengekspor padi utama. Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia. Untuk mendapatkan padi yang berkualitas dibutuhkan pula benih padi yang berkualitas. Benih padi adalah bahan tanaman (planting material) berkualitas yang dihasilkan dari perkembangbiakan tanaman padi secara generatif yang digunakan untuk produksi benih atau produksi tanaman. Jika kualitas benih tidak bagus, maka hasilnya pun tidak akan bagus. Oleh karena itu peran benih sangat strategis.
Selain varietas padi lokal, saat ini telah muncul berbagai varietas padi diantaranya varietas padi unggul dan hibrida. Departemen Pertanian (Deptan) hingga saat ini telah melepas sebanyak 31 varietas unggul padi hibrida yang memiliki daya hasil 10-25% lebih tinggi dari padi inhibrida (lokal), ke 31 varietas tersebut terdiri enam varietas hasil Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) sedangkan 25 varietas lainnya dimiliki oleh perusahaan.
Padi hibrida dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi beras. Keunggulan benih padi hibrida ini merupakan ungkapan gejala heterosis yang terdapat pada hasil dan komponen hasil, pertumbuhan vegetatif, sistem perakaran, aktivitas akar, kemampuan beradaptasi serta umur panen. Selain itu padi hibrida mempunyai beberapa keunggulan-keunggulan yang biasanya tidak dimiliki oleh padi konvensional yaitu kualitas gabah dan umur yang hampir sama dengan IR 64 ( berumur antara 115 - 120 hari dengan kadar amilosa 25 - 27 % ), toleran terhadap serangan hama dan penyakit utama seperti wereng coklat dan BLB dan mempunyai berat 1000 biji sekitar 25 gram. Dengan mengkaji keunggulan-keunggulan padi hibrida tersebut diatas, maka pengembangan padi hibrida di Indonesia merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dimasa yang akan datang. Berdasarkan luasan lahan irigasi yang dimiliki oleh negara Indonesia, serta upah tenaga kerja yang relatif tidak mahal, maka Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan padi hibrida, baik untuk pengembangan penggunaan padi hibrida guna pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, maupun untuk pengembangan industri benih padi hibrida.
Agar dalam memproduksi benih hibrida dapat mencapai 2 ton / Ha , diperlukan restorer dan maintainer yang kompatibel ( seed set-nya tinggi ) serta lingkungan agroklimat yang sesuai yakni: rata-rata suhu harian sebesar 24-30 °C, kelembaban relatif 70 - 80 %, perbedaan antara suhu siang hari dengan malam hari sebesar 8-10 °C, dan pada saat fase pembungaan ( polinasi ) tidak terjadi hujan selama 3 hari berturut - turut. Hasil benih akan rendah jika temperatur 35 °C. Selain hal diatas, menurut Balai Besar Penelitian Padi (BBP Padi) ada lima kunci utama agar pengembangan padi hibrida berhasil. Kelima kunci utama itu adalah 1) varietas yang cocok; 2) benih yang bermutu; 3) teknologi budidaya yang tepat; 4) wilayah yang sesuai, dan 5) respon petani.
Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut. Lingkungan agroklimat yang diperlukan untuk pertumbuhan padi tersebut dapat ditemukan dipulau Jawa, sehingga daerah - daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur cocok digunakan sebagai tempat produksi benih padi hibrida, maupun sebagai tempat pemasaran dari benih padi hibrida tersebut. Tentunya kelima kunci sukses tersebut bisa dihasilkan hanya dengan melakukan perakitan sendiri dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional atau setidaknya menggabungkan galur tetua introduksi dengan galur nasional.
Selain itu, dengan turut sertanya perusahaan-perusahaan benih pemerintah maupun swasta dalam menyiapkan sarana maupun prasarana dalam pengembangan industri benih padi hibrida di Indonesia diharapkan mempercepat penemuan dan sosialisasi penggunaan benih padi hibrida di Indonesia. Seperti kerja sama yang sedang dilakukan oleh PT. DuPont Indonesia dengan Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi). Keduanya kini menjalin kerjasama dalam pengembangan benih padi hibrida. Selama ini PT. DuPont maupun BB Padi sudah melakukan penelitian benih padi hibrida. Tapi masih berjalan sendiri-sendiri. Paling banter kerjasamanya adalah perusahaan benih asal AS itu mendapatkan hak lisensi dari hasil penelitian BB Padi. Satu varietas hasil penelitian BB Padi yang kini dikembangkan DuPont adalah varietas Maro. Tapi kini kerjasama keduanya melangkah lebih jauh, kerjasamanya yaitu PT. DuPont rela menggelontorkan anggaran sekitar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,2 miliar untuk membantu uji multi lokasi padi hibrida hasil penelitian BB Padi. Kerjasama kali ini PT. Dupont tidak hanya menerima hasil penelitian dari BB Padi, tapi juga ikut langsung dalam penelitian, khususnya uji multi lokasi. Ada tiga kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Pertama, uji multilokasi terhadap 14 galur padi hibrida. Kedua, evaluasi terhadap delapan galur padi yang masih tahap penelitian. Ketiga, evaluasi beberapa tetua padi hibrida. Kerjasama ini diharapkan dapat menghasilkan varietas unggul yang sesuai dengan spesifik lokasi dan mempunyai produktivitas tinggi. Sinergi penelitian ini akan saling menguntungkan, karena kedua pihak bisa memberikan pengalaman dalam penelitian dan memperluas penyerapan teknologi padi hibrida ke petani.
Keuntungan lain dari kerja sama ini adalah pertama, penelitian untuk menghasilkan varietas bisa lebih cepat karena sudah tersedia dana. Selama ini jika mengandalkan anggaran pemerintah, penelitian berjalan lambat. Kedua, benih yang dihasilkan BB Padi bisa cepat dipasarkan. Sebab, PT. DuPont lebih banyak mengetahui varietas yang sesuai dengan minat pasar. Dibanding dengan perusahaan benih lainnya yang telah melisensi benih hasil penelitian BB Padi, PT. DuPont telah menunjukkan kinerja yang baik dengan mengembangkan perbenihan Maro seluas 133,8 ha. Selain itu perusahaan itu juga berhasil menjual benih Maro sebanyak 2,7 ton dengan nilai royalti yang diterima BB Padi sebanyak Rp4.749.200. PT. DuPont menjadi satu-satunya perusahaan yang memberikan laporan secara rutin terhadap pengembangan benih padi yang lisensinya ke perusahaan swasta. Dari pencapaian ini, Badan Litbang Pertanian tidak ragu untuk menggandeng PT DuPont sebagai salah satu mitra dalam penelitian dan pengembangan hibrida di Indonesia.
Walaupun negara kita memiliki beberapa keunggulan potensi dan agroklimatologi untuk pengembangan produksi padi hibrida, tetapi mengingat teknologi produksi benih padi hibrida sangat spesifk dan lebih rumit dibanding penangkaran padi konvensional, maka agar dapat diperoleh hasil produksi benih yang optimal, diperlukan persiapan-persiapan yang seksama baik sarana maupun prasarananya dalam produksi benih hibrida. Dalam hal ini termasuk mempersiapkan sumber daya manusia, penyusunan dan penerbitan pedoman teknis produksi benih hibrida, penjabaran pelaksanaan secara jelas, terperinci dan berkelanjutan, pemilihan lokasi produksi atau penangkaran benih hibrida ( isolasi, roguing dsb ) dan lain lain.
Septa Indra Puspikawati
100710150 (80)
IKM 2007 A
Daftar pustaka :
http://www.litbang.deptan.go.id/../415/
http://www.wawasandigital.com/index.php?option…id
http://agroindonesia.co.id/2009/03/…/berkoalisi-teliti-padi-hibrida/
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid…

Henriesca Sandra APP
Posted on 6th October, 2009

Pemanfaatan Komoditi Sorgum Sebagai Alternatif Bahan Pangan Sumber Karbohidrat di Indonesia

Bahan pangan sumber karbohidrat yang selama ini dikonsumsi sebagian besar masyarakat dunia terutama masyarakat Indonesia adalah beras. Bahkan di Indonesia, beras menjadi komoditi utama sebagai sumber bahan pangan nasional maka sudah dapat dipastikan kebutuhan nasional akan beras sangat besar. Saat ini populasi penduduk Indonesia tercatat lebih dari 220 juta orang. Dengan konsumsi beras perkapita sekitar 139 kg. Bisa dikalkulasikan berapa banyak jumlah beras yang harus tersedia setiap tahunnya. Jumlah penduduk ini semakin lama menunjukkan tren peningkatan dan secara linear kebutuhan pangan juga semakin meningkat. Seperti teori kependudukan dari Malthus bahwa pertambahan penduduk mengikuti deret ukur sedangkan pertambahan jumlah pangan mengikuti deret hitung. Produksi beras negara kita terbatas karena jumlah lahan terus tereduksi akibat industrialisasi. Keadaan ini membuat kita perlu mengadakan diversifikasi pangan demi menjaga ketahanan pangan nasional.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemilihan komoditi sorgum sebagai salah satu alternatif bahan pangan non beras merupakan jawaban yang solutif. Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman biji-bijian (serealia) yang banyak dibudidayakan di daerah beriklim panas dan kering. Sorgum bukan merupakan tanaman asli Indonesia tapi berasal dari wilayah sekitar sungai Niger di Afrika. Domestikasi sorgum dari Etiopia ke Mesir dilaporkan telah terjadi sekitar 3000 tahun sebelum masehi (House, 1985). Sekarang sekitar 80 % areal pertanaman sorgum berada di wilayah Afrika dan Asia, namun produsen sorgum dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat, India, Nigeria, Cina, Mexico, Sudan dan Argentina.
Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas, sebagian besar dengan kondisi iklim kering yang sesuai untuk pertanaman sorgum, sehingga berpeluang besar dapat mengembangkan budidaya sorgum. Peluang tersebut didukung dengan kenyataan bahwa sorgum memiliki daya adaptasi yang luas, dapat tumbuh di hampir semua jenis lahan, tahan terhadap kekeringan, membutuhkan input pertanian yang relatif lebih sedikit, dan banyak berguna baik sebagai sumber bahan pangan, pakan ternak maupun bahan baku bermacam industri. Sorgum hanya membutuhkan 332 kg untuk menghasilkan 1 kg bahan kering, sedangkan jagung 368 kg, barley 434 kg, dan gandum 514 kg. Umur tanaman relatif pendek (100-110 hari), daya adaptasi tinggi, dan biaya produksi rendah. Tercatat pada tahun 1999, produksi sorgum kering 3-4 ton/ hektar.
Di dunia, sorgum telah dijadikan sebagai tanaman pangan urutan ke lima setelah gandum, padi, jagung, dan barley. Sedangkan di Amerika Serikat, sorgum putih menduduki peringkat ke tiga. Cara mengolah sorgum juga mudah, tidak perlu membeli peralatan khusus untuk mengolahnya. Sorgum dapat digiling dan disosoh dengan penggilingan dan pensosoh beras. Selain itu cara memasak juga mudah, yakni menanak dengan tanakan nasi ataupun rice cooker. Yang berbeda hanyalah jumlah air dan waktu yang dibutuhkan untuk mengolahnya menjadi seperti nasi Dengan berbagai keunggulan tersebut, prospek sorgum di Indonesia sangat baik dan dapat dijadikan komoditas andalan mengingat sorgum bisa dikembangkan searah dan sejalan dengan upaya peningkatan produktivitas lahan kosong (lahan marginal, lahan tidur, dan lahan non-produktif lainnya) yang terdapat di negeri ini.
Selain karena karakteristik sorgum dan kemudahannya untuk dibudidayakan, kandungan zat gizi sorgum juga menjadi pertimbangan penting. Selama ini hampir seluruh sumber karbohidrat berasal dari beras. Tetapi faktanya, kandungan karbohidrat pada sorgum juga tak kalah dibandingkan dengan beras. Kandungan nutrisi sorgum tentu saja tak hanya mengandung karbohidrat, masih banyak kandungan nutrisi lain yang terkandung dalam sorgum. Berikut ini adalah nutrisi yang terkandung dalam sorgum dan perbandingannya dengan bahan pangan yang lain menurut kajian dari Depkes RI, Direktorat Gizi (1992).

Unsur Nutrisi Kandungan/100 g
Beras Sorgum Singkong Jagung Kedele
Kalori (cal) 360 332 146 361 286
Protein (g) 6.8 11.0 1.2 8.7 30.2
Lemak (g) 0.7 3.3 0.3 4.5 15.6
Karbohidrat (g) 78.9 73.0 34.7 72.4 30.1
Kalsium (mg) 6.0 28.0 33.0 9.0 196.0
Besi (mg) 0.8 4.4 0.7 4.6 6.9
Posfor (mg) 140 287 40 380 506
Vit. B1 (mg) 0.12 0.38 0.06 0.27 0.93
Sumber: DEPKES RI., Direktorat Gizi (1992).
Dari tabel di atas, kandungan karbohidrat sorgum tidak jauh berbeda dengan beras sehingga sorgum memang berpotensi menjadi alternatif sumber karbohidrat selain beras. Ditambah lagi, kandungan protein sorgum lebih tinggi daripada beras, begitu pula dengan kandungan kalsium, zat besi, dan vitamin B1 yang lebih tinggi. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri sebagai bahan pangan potensial. Sorgum memang tanaman serba guna, mulai dari biji, batang, daun sampai akarnya pun dapat dimanfaatkan. Salah satu potensinya adalah sebagai salah satu sumber karbohidrat yang baik sebagai penunjang beras.
Di Indonesia sendiri, budidaya sorgum sebenarnya telah mulai dirintis dan digalakkan sebagai diversifikasi pangan. Sorgum telah lama dikenal oleh petani khususnya di Jawa, NTB dan NTT. Di Jawa sorgum dikenal dengan nama Cantel, sering ditanam oleh petani sebagai tanaman sela atau tumpang sari dengan tanaman lainnya. Hanya saja budidaya dan penelitian yang terkait dengan pengembangbiakan sorgum masih belum dikenal luas. Dewasa ini, pemerintah telah mengupayakan pengembangan dan budidaya sorgum pada petani kita melalui Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).
Budidaya sorgum memang potensial untuk dikembangkan secara terpadu tetapi dalam pelaksanaannya juga terdapat beberapa hambatan. Hambatan dari masyarakat terkait dengan kurangnya pengetahuan dan kemauan untuk berinovasi dalam pengelolaan bahan pangan. Bila dibandingkan dengan produksi sorgum dibeberapa negara di Asia Tenggara, produksi sorgum di Indonesia masih jauh tertinggal. Bahkan di Irian Jaya sorgum baru ditanam di beberapa daerah dengan cara yang belum tersentuh teknologi. Faktor yang menyebabkan adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang manfaat serta teknologi pembudidayaannya.
Hambatan yang lain adalah varietas sorgum yang notabene tidak berasal dari dalam negeri sehingga terjadi keterbatasan ragam varietas sorgum. Hal ini pula yang menyebabkan rencana untuk menjadikan sorgum sebagai alternatif sumber karbohidrat belum bisa terealisasi. Sampai saat ini, masyarakat kita masih “beras minded”. Bukan karena masyarakat kita tak mengenal sorgum, tetapi lebih karena beras masih menjadi primadona.
Masalah pengetahuan masyarakat mengenai budidaya sorgum dapat ditangani dengan penyuluhan dan sosialisasi tentang sorgum terutama tentang manfaat dan kandungan gizinya yang dapat diandalkan menjadi bahan pangan non beras. Memang masyarakat kita butuh wacana yang bisa menstimulasi mereka untuk berpikir inovatif untuk tidak bergantung pada satu komoditi saja.
Keterbatasan ragam genetik sorgum memacu kita untuk mencari sumber-sumber genetik baru. Upaya tersebut dapat ditempuh melalui program pemuliaan tanaman dengan berbagai metode seperti seleksi, introduksi, hibridisasi, mutasi, atau bioteknologi. Kombinasi antara metode-metode tersebut mungkin dapat dilakukan untuk memperoleh hasil optimal. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah melakukan pemuliaan tanaman sorgum, khususnya dengan metode kombinasi mutasi, induksi dan hibridisasi untuk memperbaiki genotipe tanaman.
Pada intinya, untuk terus memenuhi kebutuhan manusia akan bahan pangan, perlu dilakukan diversifikasi pangan dengan selektif memilih bahan pangan yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan secara terus-menerus. Sorgum adalah salah satu alternatif yang harus terus digalakkan di tengah masyarakat kita sebagai upaya swasembada beras yang ditunjang dengan komoditi non beras. Kerjasama antara lembaga litbang baik nasional maupun internasional, dan juga dengan mitra swasta, perlu terus ditingkatkan untuk memperkuat aspek agronomi, pemuliaan tanaman, perbenihan, pasca panen serta pengembangan agribisnis sorgum. Sehingga nantinya sorgum dikenal luas sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras demi keberlangsungan dan peningkatan ketahanan pangan nasional.

Oleh:
Henriesca Sandra Ayu PP
IKM 2007 A
100710154/83

Aprilina Amalia
Posted on 7th October, 2009

Pasca Panen Holtikultura Membutuhkan Perhatian Intensif

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pangan dan gizi mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas hidup manusia. Kebutuhan gizi manusia diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Proses panen bahan pangan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan, terjadi secara periodic, berkaitan dengan perputaran bumi mengelilingi matahari. Namun, semua makanan manusia merupakan komoditi yang mudah rusak, mereka mulai mengalami kerusakan dalam waktu singkat setelah panen, pengumpulan dan pemotongan. Beberapa kerusakan dapat disertai dengan terbentuknya senyawa beracun (proses biologis), kerusakan yang lain dapat berupa kehilangan nilai gizi. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk mencegah kerusakan–kerusakan tersebut dalam upaya mempertahankan hasil pertanian sebagai persediaan bahan pangan dengan jumlah yang tepat, ketersediaan yang continue dan mutu yang memadai.
Salah satu bentuk upaya untuk mempertahankan pangan hasil pertanian adalah dengan cara dilakukannya pemuliaan tanaman, budidaya dan penanganan pasca panen. Kegiatan tersebut dapat dilakukan pada semua komoditi pangan. Pemuliaan dan budidaya yang dilakukan antara lain dengan melakukan proses extensifikasi dan intensifikasi seperti yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan penanganan pasca panen dapat menggunakan teknologi pangan. Manfaat penanganan pasca panen antar lain dapat menghambat kerusakan (meningkatkan daya simpan), mengurangi kerusakan, memperkecil kehilangan, meningkatkan nilai guna dan nilai tambah, meningkatkan keamanan dan kandungan gizi. Dalam artikel ini akan dibahas penanganan pasca panen pada aneka buah unggul seperti manggis, papaya, nanas, pisang, mangga. Komoditi ini merupakan komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan kaya vitamin mineral. Jadi komoditi yang telah dipanen tidak dibiarkan membusuk begitu saja. Selain itu, komoditi yang berupa buah atau sayur dapat dipanen sebelum matang.
Pasca panen merupakan salah satu kegiatan penting dalam menunjang keberhasilan agribisnis. Agribisnis sebagai salah satu upaya pengembangan perekonomian daerah, karena, sumber daya ekonomi yang dikuasai rakyat di setiap daerah di Indonesia hanya sumber daya agribisnis berbasis tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Seperti kita ketahui bahwa barang pertanian bersifat perisable (mudah rusak), bulky, mudah busuk, tidak tahan lama sehingga pemasarannya sangat terbatas dalam waktu maupun jangkauan pasarnya. Selama ini perhatian kita lebih bertumpu pada aspek produksi dalam usaha tani, padahal bila kita memiliki sense of business dalam agribisnis, maka forward lingkage (keterkaitan ke depan) dan backward lingkage (keterkaitan ke belakang) harus lebih diperhatikan. Artinya agar produk kita bisa diterima dan bersaing dipasar maka kita harus mengetahui apa saja yang diinginkan pasar terutama mutu suatu produk yang baik. Mutu yang baik tentu saja disamping harus diperbaiki lewat usaha taninya, juga harus memperhatikan kegiatan pasca panennya pula.
Adapun beberapa permasalahan berkaitan dengan pasca panen yang sering ditemui antara lain penentuan dan cara panen yang tidak tepat, standar mutu yang belum diterapkan, belum melakukan penundaan pematangan, belum melakukan pematangan di tempat tujuan, pengemasaan yang masih tradisional serta sarana pengangkutan yang belum memadai. Dari beberapa permasalahan yang ada maka terlihat bahwa secara umum berkutat pada teknologi pasca panen terutama yang berkaitan dengan pengemasan maupun penundaan kematangan. Kegiatan penundaan kematangan buah sangat penting mengingat barang pertanian yang bersifat mudah busuk dan tidak tahan lama, sehingga dengan melakukan kegiatan tersebut diharapkan waktu pemasarannya lebih lama sehingga jangkauannya menjadi lebih luas dan buah bisa sampai di tangan tujuan dalam keadaan yang sudah matang.
Saat ini cukup banyak teknologi pasca panen terutama yang berkaitan dengan proses pemindahan dari produsen ke tangan konsumen. Teknologi yang dimaksud mencakup penentuan saat panen, seleksi / grading, perlakuan sebelum pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan. Cara panen yang baik akan mengurangi / menghindarkan buah dari kerusakan mekanis sehingga pemetikan yang baik dapat dilakukan secara manual dengan memilih buah yang cukup matang dan memperhitungkan waktu panen yang tepat. Buah yang telah dipanen seharusnya tidak diletakkan di bawah sinar matahari langsung. Bila memungkinan dan memadai, maka buah tersebut diangin-anginkan dan disimpan di tempat pre-cooling. Selain itu, tidak semua buah yang dipanen berkualitas dan bagus penampilannya. Apalagi bila hasil panen tersebut dimaksudkan untuk dijual terutama diekspor ke manca negara. Oleh sebab itu kegiatan seleksi (sortasi) dan grading (pengkelasan) perlu diperhatikan mulai di tingkat petani. Biasanya kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh tengkulak. Namun, alangkah baiknya bila kita sendiri yang melakukannya. Seleksi itu sendiri dimaksudkan untuk memilih mana buah yang termasuk kriteria yang diinginkan pasar dan mana yang tidak. Pada proses sortasi, maka semua buah yang cacat, rusak fisik maupun mekanis, belum matang, dan tidak seragam harus disingkirkan. Setelah seleksi dilakukan maka barulah buah yang memenuhi kriteria tersebut dipisah menurut kelasnya. Standar kriteria untuk pengkelasan produk buah bisa kita dapatkan dari pasar modern, supermarket dan pihak-pihak yang lebih mengerti.
Sebelum buah di bawa ke tempat penjualan / agen eskportir, agar buah lebih awet dan lebih tahan serta mencegah kerusakan buah oleh mikroorganisme dapat dilakukan beberapa perlakuan yaitu penundaan kematangan buah. Pengemasan buah dapat dilakukan dengan box kardus, keranjang bambu maupun kayu yang ringan seperti sengon / albasia. Pengemasan yang baik dan benar dapat menekan kerusakan karena tekanan statis maupun tekanan dinamis selama pengangkutan dapat berkurang. Pengangkutan pada umumnya menggunakan truk yang ditutup dengan terpal. Selain itu dalam pengangkutan agar dihindarkan dari muatan secara berlebihan. Pengangkutan cara demikian perlu diperhatikan dan mempertimbangkan adanya sirkulasi udara di bawah terpal sehingga suhunya tidak terlalu tinggi, selain itu agar dihindarkan pengangkutan dalam bentuk curah karena bisa merusak bentuk fisik buah, apalagi untuk buah-buahan yang sangat rentan terhadap benturan.Bila memungkinan pengangkutan jarak jauh dianjurkan menggunakan box pendingin. Agar buah-buahan yang diterima dari pengirim menjadi lebih tahan lama, maka penyimpanan yang baik. Penyimpanan yang ideal dan baik adalah menggunakan pendingin, karena suhu yang dingin dapat menghambat kerusakan fisiologis, penguapan serta aktivitas mikroorganisme yang mengganggu sehingga kualitas buah dari mulai panen sampai diterima ditangan konsumen masih tetap terjaga. Berdasarkan beberapa uraian diatas nampak jelas bahwa kegiatan pasca panen yang dilakukan selama ini belum dilakukan dengan baik dan serius. Hal ini bisa terjadi karena faktor efisiensi, biaya dan ketidaktahuan cara penanganan sehingga penanganan pasca panen dilakukan seadanya. Untuk itu, guna menjaga agar mutu buah yang dihasilkan terjaga dan mampu memenuhi harapan konsumen bersaing, sudah selayaknya dan saatnya kita mulai memperhatikan secara intensif kegiatan itu mulai dari saat panen sampai barang tersebut sampai di konsumen. Dengan demikian, kualitas buah yang kita hasilkan akan mampu bersaing dengan produk impor.
Setelah penanganan pasca panen tersebut dialkukan dengan baik maka kita dapat menerapkan teknologi tepat guna untuk mengolah hasil panen tersebut untuk mendapt nilai tambah dari komoditi tersebut. Namun, selama ini teknologi yang digunakan hanya sebatas pengolahan secara konvensional saja dan belum diterapkan teknologi modern yang luas. Pengolahan makanan secara konvensional telah banyak dilakukan oleh masyarakat misalnya pengawetan buah dengan cara dibuat asinan sehingga bertahan cukup lama. Pengolahan makanan seperti yang telah disebutkan tadi biasa dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Pengolahan teknologi pangan memberikan kesempatan bagi terpadunya pengetahuan untuk mencegah kerusakan–kerusakan tersebut dalam upaya mempertahankan hasil. Teknologi untuk mengawetkan pangan pasca panen saat ini telah berkembang pesat. Pengolahan makanan dengan teknologi modern antara lain pengolahan pangan dengan penggunaan panas, pengolahan pangan dengan suhu rendah, pengolahan pangan dengan pengeringan, pengolahan pangan dengan fermentasi dan pengolahan pangan dengan bahan tambahan kimia.
Referensi:
1. W. Desrosier, Norman. Teknologi Pengawetan Makanan. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 1988.
2. Ir.suharto. Teknologi Pengawetan Makanan. Rineka Cipta. Jakarta. 1991.
3. Pardede, James P. Agribisnis Buah-Buahan Perlu Penerapan Teknologi dan Penanganan Pasca Panen. http://www.agribisnis.web . diakses tanggal 1 Oktober 2009 , pukul 18.30
4. _______________. Sumber Petunjuk Teknis rakitan Tekhnologi Pertanian - BPTO Karangploso - malang. http://www.bbpp-lembang.infoindex diakses tanggal 1 Oktober 2009, pukul19.00
5. _______________. Sepuluh Tahap Pasca Panen. http://www.sinartani.com diakses tanggal 1 Oktober 2009, pukul 19.10

oleh:
Aprilina Amalia
IKM 2007 A
100710162

Aprilina Amalia
Posted on 7th October, 2009

Pasca Panen Holtikultura Membutuhkan Perhatian Intensif

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pangan dan gizi mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas hidup manusia. Kebutuhan gizi manusia diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Proses panen bahan pangan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan, terjadi secara periodic, berkaitan dengan perputaran bumi mengelilingi matahari. Namun, semua makanan manusia merupakan komoditi yang mudah rusak, mereka mulai mengalami kerusakan dalam waktu singkat setelah panen, pengumpulan dan pemotongan. Beberapa kerusakan dapat disertai dengan terbentuknya senyawa beracun (proses biologis), kerusakan yang lain dapat berupa kehilangan nilai gizi. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk mencegah kerusakan–kerusakan tersebut dalam upaya mempertahankan hasil pertanian sebagai persediaan bahan pangan dengan jumlah yang tepat, ketersediaan yang continue dan mutu yang memadai.
Salah satu bentuk upaya untuk mempertahankan pangan hasil pertanian adalah dengan cara dilakukannya pemuliaan tanaman, budidaya dan penanganan pasca panen. Kegiatan tersebut dapat dilakukan pada semua komoditi pangan. Pemuliaan dan budidaya yang dilakukan antara lain dengan melakukan proses extensifikasi dan intensifikasi seperti yang telah dilakukan sebelumnya, sedangkan penanganan pasca panen dapat menggunakan teknologi pangan. Manfaat penanganan pasca panen antar lain dapat menghambat kerusakan (meningkatkan daya simpan), mengurangi kerusakan, memperkecil kehilangan, meningkatkan nilai guna dan nilai tambah, meningkatkan keamanan dan kandungan gizi. Dalam artikel ini akan dibahas penanganan pasca panen pada aneka buah unggul seperti manggis, papaya, nanas, pisang, mangga. Komoditi ini merupakan komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan kaya vitamin mineral. Jadi komoditi yang telah dipanen tidak dibiarkan membusuk begitu saja. Selain itu, komoditi yang berupa buah atau sayur dapat dipanen sebelum matang.
Pasca panen merupakan salah satu kegiatan penting dalam menunjang keberhasilan agribisnis. Agribisnis sebagai salah satu upaya pengembangan perekonomian daerah, karena, sumber daya ekonomi yang dikuasai rakyat di setiap daerah di Indonesia hanya sumber daya agribisnis berbasis tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Seperti kita ketahui bahwa barang pertanian bersifat perisable (mudah rusak), bulky, mudah busuk, tidak tahan lama sehingga pemasarannya sangat terbatas dalam waktu maupun jangkauan pasarnya. Selama ini perhatian kita lebih bertumpu pada aspek produksi dalam usaha tani, padahal bila kita memiliki sense of business dalam agribisnis, maka forward lingkage (keterkaitan ke depan) dan backward lingkage (keterkaitan ke belakang) harus lebih diperhatikan. Artinya agar produk kita bisa diterima dan bersaing dipasar maka kita harus mengetahui apa saja yang diinginkan pasar terutama mutu suatu produk yang baik. Mutu yang baik tentu saja disamping harus diperbaiki lewat usaha taninya, juga harus memperhatikan kegiatan pasca panennya pula.
Adapun beberapa permasalahan berkaitan dengan pasca panen yang sering ditemui antara lain penentuan dan cara panen yang tidak tepat, standar mutu yang belum diterapkan, belum melakukan penundaan pematangan, belum melakukan pematangan di tempat tujuan, pengemasaan yang masih tradisional serta sarana pengangkutan yang belum memadai. Dari beberapa permasalahan yang ada maka terlihat bahwa secara umum berkutat pada teknologi pasca panen terutama yang berkaitan dengan pengemasan maupun penundaan kematangan. Kegiatan penundaan kematangan buah sangat penting mengingat barang pertanian yang bersifat mudah busuk dan tidak tahan lama, sehingga dengan melakukan kegiatan tersebut diharapkan waktu pemasarannya lebih lama sehingga jangkauannya menjadi lebih luas dan buah bisa sampai di tangan tujuan dalam keadaan yang sudah matang.
Saat ini cukup banyak teknologi pasca panen terutama yang berkaitan dengan proses pemindahan dari produsen ke tangan konsumen. Teknologi yang dimaksud mencakup penentuan saat panen, seleksi / grading, perlakuan sebelum pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan. Cara panen yang baik akan mengurangi / menghindarkan buah dari kerusakan mekanis sehingga pemetikan yang baik dapat dilakukan secara manual dengan memilih buah yang cukup matang dan memperhitungkan waktu panen yang tepat. Buah yang telah dipanen seharusnya tidak diletakkan di bawah sinar matahari langsung. Bila memungkinan dan memadai, maka buah tersebut diangin-anginkan dan disimpan di tempat pre-cooling. Selain itu, tidak semua buah yang dipanen berkualitas dan bagus penampilannya. Apalagi bila hasil panen tersebut dimaksudkan untuk dijual terutama diekspor ke manca negara. Oleh sebab itu kegiatan seleksi (sortasi) dan grading (pengkelasan) perlu diperhatikan mulai di tingkat petani. Biasanya kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh tengkulak. Namun, alangkah baiknya bila kita sendiri yang melakukannya. Seleksi itu sendiri dimaksudkan untuk memilih mana buah yang termasuk kriteria yang diinginkan pasar dan mana yang tidak. Pada proses sortasi, maka semua buah yang cacat, rusak fisik maupun mekanis, belum matang, dan tidak seragam harus disingkirkan. Setelah seleksi dilakukan maka barulah buah yang memenuhi kriteria tersebut dipisah menurut kelasnya. Standar kriteria untuk pengkelasan produk buah bisa kita dapatkan dari pasar modern, supermarket dan pihak-pihak yang lebih mengerti.
Sebelum buah di bawa ke tempat penjualan / agen eskportir, agar buah lebih awet dan lebih tahan serta mencegah kerusakan buah oleh mikroorganisme dapat dilakukan beberapa perlakuan yaitu penundaan kematangan buah. Pengemasan buah dapat dilakukan dengan box kardus, keranjang bambu maupun kayu yang ringan seperti sengon / albasia. Pengemasan yang baik dan benar dapat menekan kerusakan karena tekanan statis maupun tekanan dinamis selama pengangkutan dapat berkurang. Pengangkutan pada umumnya menggunakan truk yang ditutup dengan terpal. Selain itu dalam pengangkutan agar dihindarkan dari muatan secara berlebihan. Pengangkutan cara demikian perlu diperhatikan dan mempertimbangkan adanya sirkulasi udara di bawah terpal sehingga suhunya tidak terlalu tinggi, selain itu agar dihindarkan pengangkutan dalam bentuk curah karena bisa merusak bentuk fisik buah, apalagi untuk buah-buahan yang sangat rentan terhadap benturan.Bila memungkinan pengangkutan jarak jauh dianjurkan menggunakan box pendingin. Agar buah-buahan yang diterima dari pengirim menjadi lebih tahan lama, maka penyimpanan yang baik. Penyimpanan yang ideal dan baik adalah menggunakan pendingin, karena suhu yang dingin dapat menghambat kerusakan fisiologis, penguapan serta aktivitas mikroorganisme yang mengganggu sehingga kualitas buah dari mulai panen sampai diterima ditangan konsumen masih tetap terjaga. Berdasarkan beberapa uraian diatas nampak jelas bahwa kegiatan pasca panen yang dilakukan selama ini belum dilakukan dengan baik dan serius. Hal ini bisa terjadi karena faktor efisiensi, biaya dan ketidaktahuan cara penanganan sehingga penanganan pasca panen dilakukan seadanya. Untuk itu, guna menjaga agar mutu buah yang dihasilkan terjaga dan mampu memenuhi harapan konsumen bersaing, sudah selayaknya dan saatnya kita mulai memperhatikan secara intensif kegiatan itu mulai dari saat panen sampai barang tersebut sampai di konsumen. Dengan demikian, kualitas buah yang kita hasilkan akan mampu bersaing dengan produk impor.
Setelah penanganan pasca panen tersebut dialkukan dengan baik maka kita dapat menerapkan teknologi tepat guna untuk mengolah hasil panen tersebut untuk mendapt nilai tambah dari komoditi tersebut. Namun, selama ini teknologi yang digunakan hanya sebatas pengolahan secara konvensional saja dan belum diterapkan teknologi modern yang luas. Pengolahan makanan secara konvensional telah banyak dilakukan oleh masyarakat misalnya pengawetan buah dengan cara dibuat asinan sehingga bertahan cukup lama. Pengolahan makanan seperti yang telah disebutkan tadi biasa dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Pengolahan teknologi pangan memberikan kesempatan bagi terpadunya pengetahuan untuk mencegah kerusakan–kerusakan tersebut dalam upaya mempertahankan hasil. Teknologi untuk mengawetkan pangan pasca panen saat ini telah berkembang pesat. Pengolahan makanan dengan teknologi modern antara lain pengolahan pangan dengan penggunaan panas, pengolahan pangan dengan suhu rendah, pengolahan pangan dengan pengeringan, pengolahan pangan dengan fermentasi dan pengolahan pangan dengan bahan tambahan kimia.
Referensi:
1. W. Desrosier, Norman. Teknologi Pengawetan Makanan. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 1988.
2. Ir.suharto. Teknologi Pengawetan Makanan. Rineka Cipta. Jakarta. 1991.
3. Pardede, James P. Agribisnis Buah-Buahan Perlu Penerapan Teknologi dan Penanganan Pasca Panen. http://www.agribisnis.web . diakses tanggal 1 Oktober 2009 , pukul 18.30
4. _______________. Sumber Petunjuk Teknis rakitan Tekhnologi Pertanian - BPTO Karangploso - malang. http://www.bbpp-lembang.infoindex diakses tanggal 1 Oktober 2009, pukul19.00
5. _______________. Sepuluh Tahap Pasca Panen. http://www.sinartani.com diakses tanggal 1 Oktober 2009, pukul 19.10

oleh:
Aprilina Amalia
IKM 2007 A
100710162/89

Intan Serya P
Posted on 7th October, 2009

Penggunaan limbah pertanian untuk pupuk kompos

Saat ini dunia pertanian telah berkembang dengan pesat. Hal ini terjadi karena semakin meningkatnya kebutuhan manusia dalam masalah pangan. Untuk memenuhi kebutuhan manusia maka produksi pangan pun harus ditambah. Lalu dengan ditambahnya produksi pangan maka limbah hasil pertanian pun juga semakin bertambah. Dengan bertambahnya limbah pertanian, jika tidak diolah dengan baik tentu saja akan mencemari lingkungan atau merusak keindahan dari lingkungan. Oleh sebab itu sangat penting sekali jika pengolahan dari limbah pertanian ini diperhatikan karena limbah pertanian yang diolah dengan tepat dapat menambah nilai ekonomis dari tanaman-tanaman pertanian.
Salah satu pemanfaatan limbah pertanian yaitu dengan dimanfaatkannya limbah pertanian dari tanaman padi yaitu sekam dan jerami untuk pupuk kompos. Pupuk kompos adalah pupuk yang bekerja dengan memanfaatkan mikroba untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Proses pembuatan pupuk inipun sangat mudah ada beberapa teknik yang bisa diguanakan untuk membuat pupuk kompos ini.
Yang pertama yaitu pembuatan pupuk kompos “bokashi”. Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah jerami padi 1 bagian, bekatul 1 bagian, sekam padi 1 bagian , EM 4 10 s/d 20 cc (suatu campuran mikro organisme yang bermanfaat untuk meningkatkan keaneka-ragaman mikroba dari tanah maupun tanaman, serta berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman),Molase 10 s/d 20 cc ,Air 10 liter. Cara Pembuatannya pun juga tidak terlalu rumit yaitu dengan membuat formula dasar dengan mencampur air, molase dan EM 4 terlebih dahulu. Selanjutnya mencampurkan semua jerami padi, sekam dengan formula dasar, kemudian tambahkan bekatul, sambil diaduk rata dengan tingkat kebasahan 50% (bila diremas dengan tangan,air tidak sampai menetes ). Lalu memfermentasikan bahan campuran tersebut pada karung goni dan diletakkan diatas jerami (untuk mencegah basah dari lantai), kemudian dilipat dan setelah 5 jam suhunya diukur, apabila suhu mencapai 40°-50°C, bahan campuran harus diaduk dan diratakan untuk menurunkan suhu (pengukuran suhu dilakukan setiap 5 jam sekali). Bokashi yang baik akan terbentuk setelah 3 - 4 hari fermentasi, ciri-cirinya suhunya stabil dan berbau sedap.
Yang kedua adalah teknik yang sering dipakai oleh petani di pedesaan yaitu teknik yang sangat tradisional yakni dengan menumpuk sekam dan jerami padi dipinggir sampai busuk atau dengan cara dibakar. Setelah proses ini dilakukan lalu limbah hasil pembusukan dan pembakaran tersebut dimasukkan lagi ke dalam sawah dengan tujuan meningkatkan bahan organik tanah serta mengembalikan unsur hara yang hilang selama sawah diusahakan. Selain itu pengembalian limbah jerami dan sekam ke sawah dapat akan merangsang peningkatan jumlah dan aktivitas mikroorganisme sawah sehingga dapat memperkaya kandungan humus. Humus ini cenderung menyatu dengan tanah liat dan mempertahankan agregasi tanah sehingga tanah dapat lebih gembur.
Dari pembahasan di atas dapat dilihat begitu besarnya manfaat limbah pertanian yang mungkin banyak orang berfikir limbah tersebut tidak berguna padahal jika limbah tersebut diolah dengan baik dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi manusia dan jika pebuatan pupuk ini digunakan sebagai salah satu usaha untuk di jual ke masyarakat tentu saja keuntungan yang dihasilkan juga besar.

Daftar pustaka
1.Jamaludin.Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Kontribusinya terhadap pendapatan keluarga di sepanjang sungai Cihideung.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/pdf/40121.pdf. Diakses tanggal 6 Oktober 2009 pukul 15.00 WIB

2.Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian.Pemanfaatan Limbah Pertanian Untuk Pupuk Organik.http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/dkij0104.pdf
Diakses tanggal 6 Oktober 2009 pukul 15.00 WIB

Oleh :
Intan Setya P
100710096 / 55
IKM A 2007

Desy Nurmala Sari
Posted on 10th October, 2009

PENGEMBANGAN SRI (System of Rice Intensification)

System of rice intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan maupun Asia Tenggara.
Di Indonesia sendiri, berbagai upaya mendukung pembangunan pertanian, telah banyak dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga non pemerintah. Begitu pula halnya dengan berbagai inovasi telah berkembang dan dihasilkan untuk mendukung perubahan kearah yang lebih baik dalam proses pembangunan pertanian. Beberapa upaya konkrit melalui program-program pertanian telah berhasil diimplementasikan dan diterima oleh sebagian petani di beberapa wilayah. Tetapi juga tidak jarang introduksi inovasi belum dapat langsung diterapkan oleh petani bahkan masih perlu waktu yang cukup lama agar inovasi tersebut dapat diadopsi dan menjadi bagian dari kebutuhan petani sebagai pengguna. Di sisi lain, ada komunitas petani yang terus berupaya melakukan inovasi berdasarkan indigenous teknologi yang dijalankan sesuai dengan perkembangan waktu dan kemampuan yang dimiliki oleh petani. Pendekatan partisipatif menjadi modal dasar untuk mendorong petani dalam melakukan inovasi baru.
Kegiatan partisipatif yang telah dilakukan oleh petani dalam usaha tani padi, yaitu dengan menerapkan System of Rice Intensification (SRI) di beberapa daerah (seperti lokasi penelitian Garut dan Ciamis) kemudian terus berkembang menjadi komunitas petani Budidaya Padi Ekologis (BPE). Berdasarkan beberapa informasi, BPE dengan pola SRI dapat meningkatkan produksi padi dibandingkan budidaya padi dengan cara konvensional serta bernilai ekonomi, khususnya beras organic. Gagasan SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Sekalipun demikian, konsep SRI masih belum dapat diterima serta masih menimbulkan polemik dan kontroversial dalam penerapannya hampir di semua tempat maupun di lembaga-lembaga yang berkepentingan dengan kebijakan-kebijakan maupun implementasi di lapangan, baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk IRRI sebagai Lembaga Penelitian Padi Internasional. Namun dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumberdaya telah mendorong petani di beberapa tempat mempraktekan sistem pendekatan SRI. Peluang pengembangan SRI ke depan juga didukung oleh tuntutan globalisasi dan konsumen internasional terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang mudah dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik. Kendala pengembangan dalam skala luas, terkait dengan terbatasnya ketersediaan bahan kompos terutama yang bersumber dari kotoran hewan, pembuatan kompos masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan waktu lama, tenaga kerja yang tinggi, ditribusi bahan organik/kompos pada skala luas memerlukan biaya tinggi, kebiasaan membuang dan membakar jerami di sebagian besar petani menjadi budaya, jumlah petugas/petani yang memahami teknis metoda SRI masih sangat terbatas serta diperlukan proses pembelajaran/pendampingan intensif serta kemauan dari petani sendiri. Dan berdasarkan informasi terakhir, pola budidaya padi dengan penerapan SRI telah mendapat perhatian Presiden maupun Menteri Pertanian, sekaligus mendorong pengembangan SRI diterapkan secara lebih luas di wilayah Indonesia sebagai SRI organik.
Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen. Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya. Penerapan gagasan SRI berdasarkan pada enam komponen penting : (1) Transplantasi bibit muda, (2) Bibit ditanam satu batang, (3) Jarak tanam lebar, (4) Kondisi tanah lembab (irigasi berselang), (5) Melakukan pendangiran (penyiangan), (6) Hanya menggunakan bahan organik (kompos).
Hasil penerapan gagasan SRI di lokasi penelitian (Kabupaten Garut dan Ciamis), menunjukkan bahwa : (1) Budidaya padi model SRI telah mampu meningkatkan hasil dibanding budidaya padi model konvensional, (2) Meningkatkan pendapatan, (3) Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usahatani secara finansial, (4) Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut:
- Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
- Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
- Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
- Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Keunggulan metode SRI adalah :
1. Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
4. Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
5.Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan Mikro-oragisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida.
Perbedaan Hasil Cara SRI dengan Konvensional
Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro-organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan behasiat sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang keluarkan menjadi lebih efisien dan murah. Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian pupuk anorganik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk dapat meningkatkan produsi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba. Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus menerus kondisi tanah semakin kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal
Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah
1. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
2. memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
3. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka
4. membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani
5. menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia
6. mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang.
Berdasarkan hal di atas, metode SRI menguntungkan untuk petani, karena produksi meningkat sampai 10 ton/ha, selain itu karena tidak mempergunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi gembur, mikroorganisme tanah meningkat jadi ramah lingkungan. Untuk mempercepat penyebaran metode SRI perlu dukungan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah

DAFTAR PUSTAKA
Entun Santosa, 2005. Rice organic farming is a programme for strengtenning food security in sustainable rural development, Makalah disampaikan pada seminar Internasinal Kamboja ROF.
Sampurna Untuk Indonesia, 2008. SRI Sytem Rice intensification, Pasuruan
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60
http://www.slideshare.net/SRI.CORNELL/0920-sri-datang-membawa-peluang
http://www.healthy-rice.com/

Oleh : Desy Nurmala Sari
100710163 / 90
IKM A 2007

Silvia Safitri
Posted on 11th October, 2009

Topik : Rekaya genetika benih ikan untuk peningkatan produksi

Solusi Penurunan Kualitas Lele Dumbo
Protein merupakan zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita. Zat gizi tersebut salah satunya bisa kita dapatkan dari ikan. Ikan sebagai sumber makanan protein hewani tidak akan pernah terlepas dari seberapa besar tingkat konsumsi ikan dunia. Oleh karena itu seiring dengan pertumbuhan populasi dunia, konsumsi ikanpun semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Saat ini lebih kurang seperempat bagian dari ikan yang dikonsumsi oleh penduduk dunia adalah berasal produk budidaya dan persentase ini akan terus meningkat, sementara produk hasil tangkapan dari laut dan danau akan terus menurun disebabkan overfishing dan kerusakan lingkungan. Penurunan ini terjadi selama 10 tahun (1970 sampai 1980 an), dimana penangkapan ikan dilakukan secara besar-besaran sebagai hasil dari perluasan area penangkapan, penerapan teknologi penangkapan terbaru dan meningkatnya investasi pada sektor ini.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (81.000 km) setelah Kanada dan kekayaan alam laut yang besar dan beranekaragam (mengoleksi 45 persen spesies ikan dunia). Namun, seperti halnya kondisi perikanan dunia, kondisi perikanan tangkap Indonesia juga semakin menurun dari tahun ke tahun sehingga hal ini mendorong upaya peningkatan aktivitas di bidang budidaya ikan. Sebagai contoh, dari tahun 1986-1991, produksi ikan dari perikanan tangkap meningkat sebesar 5%, sementara pertumbuhan tahunan dalam produksi budidaya adalah 8.5%. Dengan menigkatnya konsumsi ikan dunia dan terus menurunnya aktivitas penangkapan ikan, maka jalan terbaik yaitu dengan mengembangkan inovasi-inovasi dan perbaikan dalam budidaya ikan.
Salah satu budidaya ikan yang cukup menjanjikan yaitu budidaya ikan lele. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan : 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah. Lele dapat dikatakan sebagai jenis ikan yang sangat popular di masyarakat. Oleh karena rasanya yang lezat, kandungan zat gizinya pun cukup tinggi sehingga disukai berbagai kalangan. Konon, lele sudah berhasil dibudidayakan sejak puluhan tahun yang lalu, mulai dari pembenihan sampai pembesaran, sehingga sudah dianggap sebagai lele lokal. Namun, kelanjutannya pembudidayan lele lokal tersebut mengalami banyak kendala sehingga hasil yang diperoleh dalam satu dekade pemeliharaan menurun.

Dengan banyaknya kendala pembudidayaan lele lokal, pada tahun 1984 diperkenalkan spesies baru yang diberi nama lele dumbo (Clarias gariepinus). Lele dumbo atau juga disebut lele afrika memiliki berbagai keunggulan dibanding lele lokal. Keunggulan tersebut yaitu :
1. Tumbuh lebih cepat
2. Dapat mencapai ukuran lebih besar
3. Lebih banyak kandungan telur
4. Pakan tambahan bermacam-macam
Dengan keunggulan tersebut lele dumbo telah menjadi komoditas sangat populer dan mendatangkan keuntungan sangat besar.

PERBEDAAN LELE DUMBO DAN LELE LOKAL
Lele Dumbo
Warna Kulit : Keunguan atau kemerahan berbintik besar (loreng)
Perubahan warna saat stres : Lebih loreng
Gerakan : lincah
Patil : Tidak beracun
Sifat Biologis : tidak merusak pematang

Lele Sangkuriang
Warna Kulit : Hitam abu-abu, terkadang putih berbintik
Perubahan warna saat stres : Tidak ada perubahan
Gerakan : kurang lincah
Patil : beracun
Sifat Biologis : merusak pematang

Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversation Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo, Balai Pengembangan Benih Air Tawar (BBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama Lele Sangkuriang. Budidaya lele sangkuriang (Clarias sp) mulai berkembang sejak tahun 2004, setelah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, dengan Nomor Kepmen KP 26/Men/2004. Teknik budidaya lele sangkuriang tidak berbeda dengan lele dumbo, mulai dari pembenihan sampai pembesaran. Keunggulan dari lele sangkuriang ini diantaranya dapat dipijahkan sepanjang tahun, fekunditas telur yang tinggi, dapat hidup pada kondisi air yang marjinal dan efisiensi terhadap pakan yang tinggi.

Lele sangkuriang yang merupakan hasil perbaikan genetika lele dumbo melalui silang balik (backcross) mempunyai klasifikasi yang sama dengan lele dumbo yakni: Phyllum: Chordata, Kelas: Pisces, Subkelas : Teleostei, Ordo: Ostariophysi, Subordo: Siluroidea, Famili: Clariidae, Genus: Clarias, Spesies: Clarias sp (Lukito, 2002).
Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Kemudian menghasilkan jantan dan betina F2-6. Jantan F2-6 selanjutnya dikawinkan dengan betina generasi kedua (F2) sehingga menghasilkan lele sangkuriang. Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi.

Lele sangkuriang dapat hidup di lingkungan yang kualitas airnya sangat jelek. Kualitas air yang baik untuk pertumbuhan yaitu kandungan O2 6 ppm, CO2 kurang dari 12 ppm, suhu (24-26) o C, pH (6-7), NH3 kurang dari 1 ppm dan daya tembus matahari ke dalam air maksimum 30 cm (Lukito, 2002).

Faktor penting dalam pembenihan ikan lele sangkuriang yaitu kualitas induk yang akan dipijahkan. Kualitas induk yang baik dapat dilihat dari postur tubuh yang proporsional, tidak ada cacat dan luka pada tubuh ikan, serta gerakan ikan yang lincah. Pemijahan tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.

Kegagalan pada kegiatan pembenihan ikan lele dapat diakibatkan oleh serangan organisme predator (hama) ataupun organisme pathogen (penyakit). Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain insekta, ular, atau belut. Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan manajemen lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Bila serangan sudah terjadi,benih harus dipanen untuk diobati.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil rekaya genetika strain baru lele dumbo, yaitu lele sangkuriang bisa menjadi solusi penurunan kualitas lele dumbo, sehingga produksi ikan lele yang bermutu akan tetap terjaga.

Faktor penting dalam kelangsungan budidaya yaitu tersedia benih yang memadai dalam hal kuantitas maupun kualitas, sedangkan tersedianya benih yang memadai dipengaruhi oleh kualitas induk, keadaan lingkungan yang cocok, pakan yang cukup serta pengelolaan yang baik dan terencana. Hal-hal tersebut harus diperhatikan apabila tidak ingin penurunan kualitas seperti lele domba terulang kembali.

Daftar Pustaka :
Anonim. Saatnya Indonesia Menerapkan Budidaya Ikan Ramah Lingkungan. http://www.kamusilmiah.com/pangan/saatnya-indonesia-menerapkan-budidaya-ikan-ramah-lingkungan-1/. Diakses tanggal : 10 Oktober 2009

Anonim.2009.Teknik pemijahan lele sangkuriang.
http://hobiikan.blogspot.com/2009/01/teknik-pemijahan-lele-sangkuriang.html. Diakses tanggal : 10 Oktober 2009.

Hadinata, Febrian. 2009. Pembenihan Dan Perbaikan Genetika Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus). http://febrianhadinata87.multiply.com/journal/item/2. Diakses tanggal 10 Oktober 2009.

Prihartono,Eko,dkk.2000.Mengatasi Permasalahan Budidaya Lele Dumbo.Jakarta : Penebar Swadaya.
Oleh :
Silvia Safitri
100710222/62
IKM B’07

Peni Ernidya Nazari
Posted on 11th October, 2009

Pemuliaan dan Budidaya untuk Peningkatan Produktifitas Kedelai

Tanaman kacang-kacangan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan dalam system agribisnis dan mendukung system ketahanan pangan yang salah satunya adalah kedelai. Komoditas ini dapat dikembangkan dalam industri pangan dan pakan, menambah lapangan pekerjaan, dan memacu industrialisasi pertanian. Kedelai adalah komoditas penting di Indonesia karena merupakan sumber protein di samping sebagai sumber lemak, vitamin dan mineral bagi masyarakat. Di samping itu kedelai juga merupakan bahan baku bagi industri dan bahan baku pakan ternak. Program intensifikasi maupun ekstensifikasi yang dibantu dengan paket kredit telah dilaksanakan untuk meningkatkan produksi, namum menghadapi beberapa masalah antara lain adalah dalam hal penyediaan benih unggul, penanggulangan hama/penyakit, serta teknologi bercocok tanam yang belum dikuasai oleh sebagian petani. Bulog (badan Urusan Logistik) telah ditunjuk sebagai pengimpor tunggal bahan pangan yang salah satunya adalah kedelai. Dengan demikian diharapkan perdagangan dan harga kedelai dapat dikendalikan untuk melindungi konsumen maupun produsen dari ketidakstabilan harga di pasar internasional. Dengan kebijakan tersebut harga kedelai di dalam negeri lebih tinggi daripada harga padanan internasionalnya. Kebijaksanaan yang dilakukan pemerintah dalam mngembangkan produksi kedelai adalah :
1.Kebijaksanaan harga yang berorientasi pada produsen
2.Pengembangan paket teknologi
3.Subsidi sarana produksi
4.Pengendalian impor dan perdagangan dalam negeri.

Tujuan dari paket kebijaksanaan perkedelaian ini adalah untuk memeberikan insentif berproduksi pada petani dan memberikan dorongan untuk terobosan pengembangan dan penerapan paket teknologi maju system komoditas kedelai. Verietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang diperlukan dalam usaha program intensifikasi kedelai. Varietas unggul kedelai yang mempunyai potensi hasil yang tinggi, berumur genjah, tahan penyakit dan mampu beradaptasi terhadap tekanan lingkungan diperlukan untuk peningkatan produksi. varietas-varietas unggul tersebut perlu dirakit lewat program pemuliaan. Sasaran umum dari program pemuliaan adalah untuk membentuk varietas-varietas unggul yang cocok untuk lingkungan produksi yang spesifik, dengan tekanan pada hasil yang tinggi dan stabil serta tahan terhadap penyakit.faktor-faktor pembatas produksi kedelai seperti umur dalam (lebih dari 90 hari), kepekaan terhadap penyakit karat daun, kepekaan terhadap genangan dan drainase buruk, kepekaan terhadap lahan masam, potensi hasil yang rendah, serta kualitas biji yang rendah) dapat diatasi dengan program pemuliaan.

Sehingga tujuan dari program pemuliaan kedelai adalah untuk mendapatkan varietas-varietas unggul dengan sifat-sifat :
1.Potensi hasil tinggi (lebih dari 2,0 t/ha)
2.Umur genjah hingga tengahan( genjah : kurang dari 80 hari, tengahan 81-90 hari).
3.Toleran terhadap penyakit karat
4.Cocok ditanam dengan masukan minimal, serta toleran terhadap drainase yang jelek, untuk ditanam pada lahan sawah
5.Toleran terhadap lahan masam (untuk ditanam di lahan bukaan baru)
Di samping itu faktor-faktor yang juga dipertimbangkan dalam seleksi adalah kualitas biji yang baik (bulat, kuning, ukuran kecil hingga sedang), tanggap terhadap rhizobium serta kualitasnya bagus untuk diproses menjadi tahu dan tempe. Peningkatan produktifitas kedelai dapat dilakukan dengan rakitan teknologi budidaya kedelai, sehingga meningkatkan kualitas dan kuntitas kedelai sesuai yang diharapkan oleh petani. Komponen rakitan teknologi tersebut adalah :

A.Rakitan Teknologi Budidaya Kedelai Lahan Sawah
Komponen utama bertanam kedelai dilahan sawah adalah sebagai berikut :
1.Perbaikan penyiapan lahan untuk tanam, yakni dengan membuat selokan pembuangan air dengan jarak 2-3 meter sehingga lahan berbentuk bedengan memanjang searah panjang petakan. Gulma dan jerami dibersihkan dari petakan dan air tidak sampai menggenangi petakan.
2.Tanam secepatnya setelah padi di panen, tidak boleh lewat tujuh hari setelah panen padi secara serempak dalam satu hamparan.
3.benih berdaya tumbuh di atas 80%, varietas unggul : Wilis, Kerinci, Raung, Jaya wijaya, Pangrango dan varietas lainnya kebutuhan benih 45-50 kg.
4.Pemberian pupuk dasar/saat tanam dengan dosis 50-70 Kg Urea, 50-70 Kg SP36 60-75 Kg KCl/ha.
5.Jarak tanam diatur dengan barisan ganda yakni dua baris berjarak 15-20 cm dan jaraak antara dua barisan berikutnya 50-60 cm. Jarak tanam dalam masing-masing barisan 10 cm, dua tanam per rumpun. Tidak dianjurkan cara tanam dengan sistem disebar. Karena cara tanam dengan baris ganda ini memiliki beberapa keuntungn yakni :
•Penyiangan mudah, dengan menggunakan cangkul
•Pembumbunan tanaman mudah.
•Pengendalian hama lebih efektif
6.Pemberian mulsa jerami setelah benih ditanam.
7.Di daerah yang sering terjadi serangan lalat bibit, perlu dilakukan pengobatan benih menggunakan marshal dengan dosis 5g/Kg benih. Pengendalian hama berdasarkan pemantauan populasi serangan hama. Tindakan pengendalian menggunakan insektisida mengikuti anjuran. Penanaman ”tanaman perangkap” berupa jagung berumur genjah dengan jarak tanam 3m x 0,4 m, untuk pengendalian heliothis
8.Pengendalian gulma sedini mungkin, sehingga tanaman bebas gulma dari sejak tanaman tumbuh hingga tanaman berbunga
9.Pembumbunan tanaman, dilakukan pada tanaman berumur 3 minggu sambil menyiang gulma
10.Pengairan menurut keperluan. Keadaan air tnag yang optimal bagi pertumbuhan kedelai adalah tanah lembab (± 75% dari air kapasitas lapang) dari sejak kedelai tumbuh hingga polong mengisi penuh, kemudian tanah kering saat polong telah menguning.
11.Panen dilakukan setelah polong mulai kering, daun telah rontok. Panen jangan terlambat hingga polong mulai pecah.
12.Hasil panen segera dijemur, tidak boleh diperam karena biji kedelai akan busuk dan tidak dapat tumbuh. Penjemuran menggunakan alas, batang kedelai diberdirikan kalau hujan harus diangkat dimasukan ke dalam bangunan beratap.
13.Bila polong telah keringsegera dibijikan, menggunakan thresher atau cara tradisional dengan kayu. Biji dibersihkan dari bekas polong dan potongan batang dan dijemur hingga kadar air di bawah 13%
14.Biji untuk benih perlu dipilih yang utuh, bernas, sehat. Biji dijemur hingga kadar air kurang dari 10%. Bila benih akan segera ditanam kadar air cukup sekitar 13%.

B.Rakitan Teknologi Budidaya Kedelai Lahan Tegal
1.Varietas
Wilis, Lokon, Raung, Cikurai, Petek tau varietas unggul lainnya.
2.Benih
40 Kg/ha, daya tumbuh 80% atau lebih.
3.Penyiapan lahan
Tanah diolah hingga genbur, gulma dibersihkan, kalu memungkinkan dibuat bedengan lebar 2-3 meter.
4.Tanam
Tanam serempak, bila tanah telah cukup lembab hingga kedalaman 10 cm. Pengobatan benih dengan marshal 5g/1 Kg benih untuk mencegah serangan lalat bibit. Inokulasi Rhizobium bagi lahan yang belum bisa ditanami kedelai. Inokulasi sebaik-baiknya dilakukan tiga musim berturut-turut. Untuk jarak tanam dapat dipilih yaitu
•40 cm x 10 cm, dua biji per lubang
•60 cm x 3 cm, satu biji per lubang
baris ganda berjarak 20 cm dan jarak antara dua baris berikutnya 60 cm. Jarak tanam dalam barisan 15 cm, dua tanaman per rumpun.
5.Pemupukan
Pupuk kandang 3-7 ton per ha, diberikan pada saat akan mengolah tanah.
Pupuk urea 50-100 Kg, SP36 75-100 Kg dan KCl 50-75 Kg per ha, deberikan sepanjang barisan pada tanaman umur 3 minggu dan pupuk dibenamkan. Pada tanah vertisol dosis pupuk Kalium perlu ditingkatkan hingga 100-150 Kg Kcl/ha.
6.Penyiangan
Penggunaan Herbisida pra tumbuh seperti Goal, empat hari sebelum tanam, apabila tenaga penyiangan sulit diperoleh. Penyiangan dilakukan sedini mungkin atau pada tanaman berumur 3-6 miggu. Tanaman kedelai harus bebas gulma dari sejak tanaman tumbuh hingga berbunga.
7.Pengendalian Hama
Bila terdapat kelompok ulat grayak (Spodoptera) harus diambil dan dimusnahkan. Bila terdapat empat ekor ulat pemakan daun setiap 12 contoh rumpun tanaman berdekatan perlu dikendalikan dengan insektisida Monokrotopos. Lalat putih atau kutu kebul dikendalikan dengan insektisida Tamaron, Lanate atau Dencis. Pengisap polng (Nezara sp, Riptortus sp) dikendalikan dnegan insektisoda Monitor, Azodrin, Karphos atau Theodan.
8.Panen
Bila polong telah kuning menjelang kering, kedelai sudah dapat dipanen. hasil panen dijemur dan dibijikan kadar air biji bersih sebaiknya kurang 13%.

Di harapkan dengan rakitan teknologi budidaya kedelai ini dapat memberikan hasil panen yang memuaskan sehingga produktifitas kedelai dapat meningkat. Namun juga perlu dilihat dari potensi areal yang ada, kondisi sosial ekonominya yang beragam, baik dilihat dari tersedianya tenaga dalam jumlah dan ketrampilannya, sarana dan prasarana. Untuk dapat mendorong peningkatan produksi perlu tersedia pasar, sarana produksi di tempat, sarana pengangkutan, penyuluhan. teknologi baru, dan rangsangan berproduksi bagi petani. Peranan pemerintah juga sangat penting dalam hal ini, namun demikian keikutsertaan swasta merupakan tantangan yang sangat menarik.

Daftar Pustaka :
•Balitbang Pertanian. 2004. Teknologi Inovatif Agribisnis kacang-kacangan dan Umbi-umbian untuk Mendukung Ketahanan pangan. Laporan tahunan 2003/2004
•Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 1996. Hasil Penelitian Rakitan Teknologi Budidaya tanaman sayuran, Hias dan Palawija
•Dirjen Pertanian Tanaman Pangan. 1986. Pengembangan Produksi Kedelai
•Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 1990. Pengembangan kedelai Potensi, Kendala dan Peluang
•http://distan.kalselprov.go.id/index2.php?hal=main&act=detailteknologi&id=2

Oleh :
Peni Ernidya Nazari
100710203/IKM B 07/47

Ayu Kusumaningtias
Posted on 11th October, 2009

Peningkatan produktivitas dan mutu ubi kayu, ubi jalar, talas, iles-iles, garut, ganyong, sukun untuk pangan.

Nama : Ayu Kusumaningtias
NIM : 100710135
Kelas: IKM 07 A

Sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini menggunakan beras sebagai makanan pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ada berbagai alasan yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat Indonesia semakin cenderung mengarah ke pangan pokok beras, diantaranya; beras mudah didapat, cita rasa enak, mudah disiapkan, nilai sosial tinggi, serta bernilai gizi tinggi Kebutuhan beras tersebut akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk. Hal ini dapat menimbulkan masalah ketahanan pangan apabila ketersediaan beras tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Selain itu juga dapat menyebabkan ketergantungan pada satu bahan pangan pokok. Oleh karena itu pengembangan bahan pangan alternatif secara terpadu perlu untuk dilakukan. Upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan tingkat produksi dan mutu dari bahan pangan lain selain beras agar mencukupi sebagai alternatif sumber karbohidrat. Sumber daya hayati umbi-umbian yang beraneka ragam belumlah dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kecukupan pangan, khususnya sebagai sumber karbohidrat. Beberapa tanaman pangan yang dapat dikembangkan untuk pangan adalah :

1. Ubi kayu ( Mannihot esculenta )
Ubi kayu merupakan jenis umbi yang dikenal luas di hampir seluruh daerah di Indonesia dan merupakan salah satu bahan makanan sumber karbohidrat. Berbagai macam kue dan keripik banyak dibuat dari bahan ini selain menjadi tepung tapioka sampai gula cair, namun pada musim paceklik di beberapa daerah rawan pangan ubi kayu
2. Ubi jalar ( Ipomoea batatas L )
Ubi jalar merupakan salah satu umbi-umbian yang mudah ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu bahan pangan sumber karbohidrat ini jika dilihat dari komponen gizinya mengandung prebiotik, serat makanan dan antioksidan (karotenoid/betakaroten). Selain dikonsumsi dalam bentuk aslinya ubi jalar juga dapat dijadikan tepung ubi jalar, bahan baku pembuat sirup.
3. Talas ( Colocasia esculenta )
Talas dapat diolah menjadi tepung sebagai pengganti terigu dalam pembuatan roti.
4. Iles-iles ( Amorphophallus muelleri Blume )
Iles-iles merupakan tipe tanaman liar sehingga petani Indonesia belum banyak mengenal. Iles-iles dapat berpotensi sebagai penghasil glukomanan atau tepung konjak serta bahan baku snack dan manisan.
5. Garut ( Maranta arundinacea )
Dapat diolah menjadi tepung garut sebagai pengganti terigu dan dapat digunakan untuk industri coklat batangan serta dapat diolah menjadi bubur dan puding.
6. Ganyong ( Canna edulis )
Ganyong belum sepopuler ubi jalar atau ubi kayu, namun memiliki kandungan gizi tinggi berupa fosfor, kalsium, dan karbohidrat. Ganyong dapat diolah menjadi agar-agar, diolah agar lebih bervariasi dan mudah dikonsumsi dengan dijadikan tepung, bahkan sereal bayi.
7. Sukun ( Artocarpus altilis /Parkinson )
Merupakan alternatif sumber karbohidrat, disamping itu salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi karena dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan sebagai alternatif pangan pengganti beras. Buah Sukun juga mengandung sejumlah asam amino esensial yang tidak diproduksi tubuh manusia, oleh karena itu kualitas Sukun sebagai makanan lebih tinggi kalau dibandingkan kualitas beras. Dengan demikian, tepung Sukun memiliki prospek cerah sebagai bahan dasar berbagai produk pangan olahan seperti roti, mi, kue-kue, aneka makanan bayi dan anak-anak yang selama ini banyak dibuat dari tepung terigu impor

Peningkatan produktivitas tanaman pangan melalui intensifikasi dapat ditempuh dengan pengembangan teknik budidaya dan pemuliaan tanaman. Pengembangan teknik budidaya dapat meliputi teknik-teknik pengolahan lahan, pemberantasan hama dan penyakit, dan lain-lain. Upaya pemuliaan terutama ditujukan untuk memperoleh varietas-varietas berdaya hasil tinggi, tahan hama penyakit, serta memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik seperti lahan marginal. Selain upaya intensifikasi tersebut, penanganan pasca panen merupakan hal yang perlu mendapat perhatian. Di daerah sentra produksi perlu diupayakan teknik pengolahan hasil panen menjadi produk yang dapat disimpan.

Dengan berbagai kelebihannya, sudah waktunya kita memberikan perhatian yang lebih besar untuk mendorong peningkatan pemanfaatan umbi-umbian spesifik daerah, melalui upaya: 1) peningkatan produktivitas dengan varietas unggul; 2) peningkatan kualitas dengan menggunakan varietas yang mempunyai kandungan zat gizi yang tinggi; 3) pengembangan teknologi penanganan dan penyimpanan yang tepat guna, sehingga tidak banyak yang rusak atau busuk serta tahan lama; dan 4) pengayaan teknologi pengolahan yang dapat meningkatkan citra dan nilai tambah umbi-umbian agar lebih bergengsi.

Daftar Pustaka :
http://www.iptek.net.id
http://www.sinartani.com
http://www.lipi.go.id
http://www.unsjournals.com
http://www.situshijau.co.id
http://salam.leisa.info
http://www.hortikultura.deptan.go.id

Mohammad Dzulfikar Arifi
Posted on 12th October, 2009

Pengembangan Padi Organik yang Dipertanyakan
Mohammad Dzulfikar Arifi / IKM B 2007 / 100171089

Indonesia yang dikenal sebagai Negara agraris dengan berjuta hektar lahan pertanian yang ada di Indonesia, telah mampu menyerap banyak masyarakat terjun langsung dalam proses produksi hasil pangan ini. Menurut bapak Siswono Yudhohusodo, jumlah petani di Indonesia sekitar 51 % dari jumlah total populasi keseluruhan. Namun sebagian besar dari para petani tersebut tergolong sebagai masyarakat miskin yang memiliki kualitas hidup seadanya. Saat ini bertani pada hakikatnya bukanlah pilihan profesi. Karena tingginya ongkos produksi, harga pupuk in-organik dan pestisida, ditambahi dengan rendahnya produktifitas dan harga gabah menyebabkan bertani bukan merupakan kegiatan ekonomis lagi. Namun demikian petani sudah pasrah dan putus asa dengan kondisi pertanian ini dan untuk mempertahankan hidupnya banyak dari kalangan petani yang mencari usaha sampingan di kota besar misalnya dengan menjadi buruh atau pekerja kasar lainnya selama menunggu masa panen yang sudah tidak terlalu mereka harapkan lagi dan hasilnya hanya sekedar cukup untuk dimakan sendiri dan keluarganya saja. Ditambah lagi dengan ketidaksadaran para petani terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarganya dan para pengguna produksinya serta lingkungan di sekitar termasuk tanah dan air akibat residu bahan kimia yang terhirup saat penyemprotan, terserap tanah dan yang tertinggal dalam air minum maupun makanan hasil pertaniannya. Tentunya ini bukan murni kesalahan para petani kita, mereka tidak mungkin mengatasi semua persoalan yang dihadapi di bidang pertanian ini tanpa bantuan dan kerjasama dari pihak-pihak yang berkompeten dengan memberikan solusi dan jalan keluar yang tepat untuk permasalahan yang dihadapi.
Sehingga dunia pertanian Indonesia kembali dipertanyakan terkait kualitas produk yang dihasilkannya. Hal ini lebih khusus lagi terkait keamanan dari sisi hygiene dan sanitasi yang dipengaruhi berbagai factor sejak proses penanaman hingga proses pasca panen. Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian yang dilaksanakan dewasa ini adalah melalui program intensifikasi yaitu upaya peningkatan produksi melalui tehnik peningkatan produksi persatuan luas. Adapun pola tersebut melibatkan kegiatan sapta usaha diantaranya pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang tepat dan benar. Selain itu, Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam waktu yang lama mulai disadari sehingga perlu alternative dalam bercocok tanam yang mampu menghasilkan produksi yang tinggi, bebas dari pencemaran kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat.
Akhir-akhir ini mulai muncul trend pertanian organik yang menghasilkan produk pangan organic termasuk padi organic. Pertanian organik saat ini sering disebut sebagai salah satu bentuk pertanian yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang aman bagi kesehatan karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetis serta akan dapat mengembalikan kesehatan tanah serta kesehatan penggunaan produksinya. Cikal bakal pertanian organik sudah sejak lama kita kenal, saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian, berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut
Namun sebenarnya apa sih padi organic hasil dari pertanian organic itu sendiri? Padi organik adalah padi yang disahkan oleh sebuah badan independen, untuk ditanam dan diolah menurut standar organic. Organik disini berarti bahwa dalam proses pengolahannya tidak menggunakan pupuk ataupun pestisida dari bahan kimia sintetis atau buatan, Kesuburan tanah dijaga dengan menggunakan proses ‘Alami’ seperti penanaman tumbuhan penutup atau pengguanaan pupuk kandang, pergantian bentuk-bentuk bukan kimia dari pengendalian hama, digunakan untuk mengendalikan sertangga, penyakit dan gulma.
Dalam realitanya memang banyak keunggulan yang dimiliki dari padi organic, terutama di pasar maju bianya memiliki harga jual yang tinggi serta dianggap secara keamanan pangan serta bernilai ekonomi lebih tinggi tanpa merusak kelestarian sumber daya alam. Padi organik memiliki sejumlah keunggulan, pertama, beras lebih sehat karena tak mengandung senyawa kimia. Kedua, harga di pasaran lebih mahal, yaitu Rp 8.000 per kg beras, sedangkan harga gabah kering Rp 4.800 per kg. Selain itu, biaya tanamnya juga lebih murah dan waktu semai lebih cepat. Untuk menanam padi organik hanya dibutuhkan 8-10 kg benih per hektar, sedangkan padi anorganik memerlukan 20-25 kg per ha. Hal inilah yang menjadi kebanggaan dari departemen pertanian terhadap produk padi organic itu sendiri. Selain itu padi jenis ini mengoptimalkan kesehatan sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan.
Namun muncullah beberapa pendapat dari berbagai kelompok masyarakat yang pro maupun kontra terhadap permasalahan ini. Para kaum yang pro padi organic dengan berpendapat tentang segala keunggulan padi organic adalah para pemerhati lingkunagn dan kesehatan. Mereka sangat mengaggap penting padi oragnik karena tidak adanya input kimia dalam pengolahannya. Menurut mereka sasaran dari produk ini adalah menghasilkan produk yang berkualitas, bersih, sehat dan tidak menyebabkan kerusakan lingkungan. Sedangkan kelompok kontra pertanian organik yang diwakili oleh para peneliti padi di berbagai negara termasuk Indonesia menilai bahwa pertanian organik adalah system pertanian yang menggunakan bahan organik sebagai salah satu input untuk pembenah tanah dan suplemen pupuk, namun tetap menggunakan input kimia berupa pupuk buatan dan pestisida secara selektif. Mereka sepakat untuk mengurangi penggunaan input kimia dan pengurangan tersebut dikompensasi oleh bahan organic. Keadaan aini menimbulkan pro kontra di masyarakat terkait ketidakpastian dari adanya padi organic ini. Padahal di Indonesia padi merupakan sumber perekonomian bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini juga meninbulkan bahaya bagi ketahanan pangan. Untuk sistem pertanian organic yang tidak mentoleransi penggunaan input kimia, khususnya pada tanaman padi, perlu pemahaman yang lebih bijaksana. Secara teknis, sistem ini tidak mampu mendorong laju peningkatan produktivitas padi, dan bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Hal ini tentu tidak relevan dengan keberlanjutan ketahanan pangan. Pertanian organik akan lebih menguntungkan jika diterapkan pada komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti tanaman hortikultura dan perkebunan, sedangkan untuk padi perlu dibatasi pada kawasan tertentu. Hal inilah yang menjadi pusat perhatian dari para pakar pertanian terkait padi organic itu sendiri. Kalau berpedoman kepada konsep pertanian organik yang tidak mentoleransi penggunaan pupuk kimia, maka diperlukan bahan organik sebanyak 13 ton jerami jagung atau 15 ton jerami padi per hektar untuk menggantikan pupuk urea pada pertanaman padi yang umumnya diberikan sebanyak 200 kg/ha (setara 90 kg N/ha). Ditinjau dari aspek teknis dan ekonomis, cara ini kurang layak karena bahan organik sebanyak itu sulit dikelola dan sulit diperoleh. Dalam hal ini pemberian bahan organik merupakan salah satu syarat utama (compulsory technology), namun fungsinya hanya sebagai suplemen dan pembenah tanah. Karena itu aplikasi bahan anorganik tetap menjadi andalan dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi, yang tentu saja memperhatikan aspek kelestarian sumber daya lahan. Selain itu juga dibuthkan teknologi yang lebih mahal terkait dengan system pertanian organic ini. Alhasil apabila ini terus berkelanjutan maka produksi pad dikhawatirkan turun.
Alhasil bagaiman jalan keluarnya? Kalau pun padi organik ingin dikembangkan secara luas, akan lebih bijak jika didahului dengan uji coba atau demonstrasi rencana dalam luasan terbatas (50-100 ha) dengan melibat kan petani setempat, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian dan Ditjen Produksi Tanaman Pangan dalam setiap pengembangan varietas unggul baru dan inovasi lainnya seperti PTT. Cara ini tentu sesuai dengan prinsip alih teknologi di alam demokrasi. Dengan begitu kita dapat memperhitungkan besaran biaya dibandingkan dengan hasil dan dampak dari sistem ini. Sekali lagi prinsip prioritas diterapkan dalam hal ini.

Daftar Pustaka
http://www.knowledgebank.irri.org/regionalsites/indonesia/PDF%20files/padi%20organik.pdf
http://www.antaranews.com/berita/1250781988/menteri-harapkan-petani-tanam-padi-organik
http://www.sith.itb.ac.id/abstract/s2/2008-S2-Sri%20Akrav-Pengelolaan%20Pemupukan%20pada%20Pertanian%20Padi%20Organik%20dengan%20Metode%20System%20of%20Rice%20Intensification.pdf

Mohammad Dzulfikar Arifi
NIM 100710189
IKM B 2007 absen 33

Dina Fitriana R
Posted on 13th October, 2009

PEMANFAATAN PRODUK PANGAN BERBASIS ANEKA TEPUNG

Dengan jumlah penduduk diatas 200 juta jiwa, Indonesia menjadi negara dengan persoalan kependudukan yang cukup rumit. Penduduk Indonesia pada tahun 2035 diperkirakan akan bertambah menjadi dua kali lipat dari jumlahnya sekarang atau menjadi sekitar 400 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar tersebut jelas akan menimbulkan persoalan serius terhadap kebutuhan lapangan kerja, ketersediaan pangan dan persoalan lainnya. Setiap tahunnya jumlah angkatan kerja yang tidak mampu diserap dunia kerja selalu meningkat yang berarti angka pengangguran bertambah setiap tahunnya. Semakin meningkatnya jumlah pengangguran berarti pula semakin banyak keluarga miskin di Indonesia. Selain kemiskinan, persoalan ketahanan pangan juga menjadi ancaman serius jika tidak ditangani dengan benar. Kondisi ini jelas membutuhkan penanganan serius agar tidak menjadi potensi konflik.
Berbagai upaya untuk mengatasi masalah pengentasan kemiskinan dan terwujudnya ketahanan pangan nasional memerlukan kesungguhan dan kreatifitas untuk mewujudkannya. Penyelesaian permasalahan ini harus berupa kerangka kerja yang komprehensif sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru. Untuk bisa membuka lapangan dalam jumlah banyak tentunya dibutuhkan perkembangan industri yang signifikan.
Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945. Sebagai kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa.
Pengertian pangan sendiri sebenarnya memiliki dimensi yang luas lebih dari sekedar kebutuhan kenyang. Pangan tidak hanya berarti pangan pokok, dan jelas tidak hanya berarti beras, tetapi pangan terkait dengan berbagai hal lain. Bagi Indonesia, pangan diidentikkan dengan beras karena jenis pangan ini merupakan makanan pokok utama. Pengalaman telah membuktikan kepada kita bahwa gangguan pada ketahanan pangan seperti meroketnya kenaikan harga beras pada waktu krisis ekonomi 1997/1998, yang berkembang menjadi krisis multidimensi, telah memicu kerawanan sosial yang membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional.
Berkaitan dengan masalah ketahanan pangan nasional maka solusi yang diharapkan tidak sekedar meningkatkan produksi beras saja. Hal lain yang juga harus digalakkan adalah adanya diversifikasi pangan. Ketergantungan pada satu komoditi saja seperti beras, akan membuat ketahanan pangan nasional menjadi rapuh. Sudah sejak lama program diversifikasi pangan dimunculkan ke arah konsumsi produk-produk karbohidrat selain beras yaitu ubi jalar, jagung, ubi kayu, sagu dan tepung terigu. Namun pada kenyataannya hanya tepung terigu yang mengalami perkembangan signifikan sebagai pengganti beras. Sumber karbohidrat lain belum mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Konsumsi terigu terutama dalam bentuk mie mengalami perkembangan pesat di Indonesia. Hal ini bisa dimengerti karena tepung terigu lebih mudah diolah menjadi bahan makanan dari jenis umbi-umbian.
Selain persoalan produksi, distribusi dan sinkronisasi kebijakan, aspek diversifikasi juga menjadi bagian penting bagi terwujudnya ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang terlalu bergantung pada satu komoditi, mengandung resiko bahwa kebutuhan pangan rumah tangga dan nasional akan rapuh. Oleh karenanya kita perlu meningkatkan upaya pengembangan pangan alternatif yang berbasis umbi-umbian (ubi, ketela, garut, dll), tanaman pohon (sukun dan sagu), serta bahan pangan berbasis biji-bijian (beras, jagung, sorgum, dli), yang dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Supaya tidak bergantung terhadap beras Indonesia harus mengembangkan diversifikasi pangan tersebut sejak sekarang.
Dalam situasi seperti ini imbauan diversifikasi pangan menjadi layak untuk dipertimbangkan kembali. Apalagi, selama ini umbi-umbian hanya dikenal sebagai makanan ringan kecuali di pedalaman Papua yang konsumsi utama masyarakatnya adalah ubi jalar.

Masyarakat kita perlu mengembangkan makanan berbasis tepung, yang bisa tahan lebih lama, dapat diperkaya dengan mineral dan vitamin, serta lebih fleksibel pengolahannya. Mengembangkan bahan pangan tepung tidak harus berupa industri besar, sebab jagung atau beras dapat ditumbuk atau digiling dengan mesin giling tepung yang tersebar di desa-desa penghasilnya, sementara untuk membuat tepung sagu, teknologinya telah dikuasai masyarakat lokal. Sayangnya teknologi pemanfaatan tepung dan bahan yang dapat kita produksi sendiri seperti tepung tapioka, tepung beras, tepung jagung, tepung sagu belum berkembang dengan baik untuk menjadi bahan baku roti, pengganti gandum. Penggunaan yang umum baru pada produk makanan ringan. Kita tidak usah menutup mata bahwa masyarakat sebenarnya lebih menyukai terigu sebagai alternatif substitusi beras. Produk mi instan yang diperkenalkan industri sejak beberapa dekade lalu, telah menggeser preferensi masyarakat terhadap umbi-umbian dan akhirnya mi instan menduduki posisi sebagai alternatif pangan pokok.
Meningkatnya komsumsi terigu umumnya dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang menjurus serba instan. Kelompok ekonomi tinggi umumnya telah mengurangi konsumsi beras karena telah mengalami pergeseran pola makan. Sarapan tak lagi harus nasi, tetapi bisa roti atau sereal.
Terigu dan produk olahannya menunjukkan tendensi meningkat konsumsinya di kalangan masyarakat Indonesia. Di supermarket kita bisa leluasa memilih mi instan dari berbagai merek. Biskuit aneka rasa sebagai makanan cemilan di waktu senggang berjejer penuh di rak-rak toko dan swalayan. Restoran fast-food dengan burgernya laris diserbu pengunjung. Makanan-makanan tersebut semuanya terbuat dari bahan dasar terigu.Tepung terigu dapat dibuat menjadi beragam jenis makanan.
Melihat dari kenyataan di atas, teknologi tepung campuran (tepung komposit) tampaknya cukup prospektif sebagai pendorong diversifikasi pangan. Pendekatan ini tentu saja tidak sesederhana yang dibayangkan, melainkan tetap memerlukan berbagai pengkajian. Sebagai contoh, pencampuran bahan membawa konsekuensi perubahan karakter bahan dan perubahan mutu produk pangan. Preferensi dan budaya makan daerah yang sangat beragam merupakan modal dasar sebagai acuan bentuk pangan yang berdiversifikasi.
Sumber karbohidrat dari buah-buahan masih relatif tertinggal pemanfaatannya dibandingkan dengan bahan pangan sumber karbohidrat asal serealia dan umbi-umbian.
Sebagian contoh produk pangan berbasis aneka tepung yakni Sukun, Ubi jalar, tanaman garut dan sagu. Buah sukun telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Di daerah Fiji, Tahiti, Hawai, Samoa dan kepulauan Sangir Talaut, sukun dimanfaatkan sebagai makanan tradisional dan makanan ringan. Cara memanfaatkannya dengan direbus, digoreng maupun dibakar, atau dimasak seperti kentang. Pemanfaatan sukun sebagai bahan pangan semakin penting, sejak pemerintah mulai melancarkan program diversifikasi pangan.
Ubi jalar dapat dimanfaatkan menjadi bermacam-macam produk pangan seperti roti, mie, biscuit dan lain lain Antarlina, 1994; Widowati et al., 1994; Utomo dan Antarlina, 2002; Nur Aini et al., 2004). Tepung ubi jalar berpotensi sebagai pengganti tepung terigu terutama karena bahan bakunya banyak terdapat di Indonesia dan rasanya manis sehingga dapat mengurangi penggunaan gula pada pengolahannya. Salah satu bentuk olahan ubi jalar adalah tepung ubi jalar. Dibandingkan dengan tepung ubi kayu, tepung ubi jalar lebih unggul. Tepung ubi kayu mempunyai kandungan amilopektin yang tinggi, sehingga produk tepung ini mudah keras dan aspek karena amilopektin mempunyai rantai yang bercabang dan akan mudah memerangkap air sehingga peluang terjadinya retrogradasi lebih besar. Dibandingkan dengan beras giling atau jagung giling (rata-rata 360 kal per 100 gram) jumlah kalori ubi jalar lebih rendah 123 kalori per 100 gram, tetapi ubi jalar lebih unggul pada kandungan mikronutriennya.
Selain sukun dan ubi juga ada tanaman garut. Tanaman Garut adalah tanaman tropis yang tumbuh berumpun, menghasilkan umbi akar bewarna putih beruas-ruas. Sayangnya pengelolaannya pun belum ada intensif apalagi dalam skala komersial. Padahal, tanaman ini termasuk jenis umbi-umbian penghasil pati yang sangat potensial sebagai bahan baku industri, disamping sebagai bahan makanan atau sumber energi. Hingga saat ini, memang belum ada angka pasti seputar permintaan tepung garut di dalam negeri. Padahal di Negara-negara maju, tepung yang berasal dari umbi-umbian seperti Garut lebih disukai karena mempunyai kandungan gizi yang baik.
Pemanfaatan produk pangan berbasis aneka tepung diharapkan membuat ketahanan pangan nasional menjadi lebih baik dan berkualitas, lebih lanjut dakmpaknya bisa mengurangi impor terigu dari tahun ke tahun sehingga akan menghemat devisa negara. Penghematan devisa itu akan memberi peluang bagi pemerintah untuk menggunakannya dalam aktivitas ekonomi lain yang lebih produktif dalam upaya peningkatan laju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.

Sumber:
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/nuraini.pdf
http://rks.ipb.ac.id/file_pdf/AGENDA%20RISET%20PANGAN-rev.pdf
http://agribisnis.deptan.go.id/xplore/files/PENGOLAHAN-HASIL/PENGOLAHAN%20HASIL/DIVERSIFIKASIPANGAN/D4tanamangarut.pdf
http://www.suarapembaruan.com
http://www.balitbangjatim.com/bul_d2.asp?id_subBab=55

Dina Fitriana Rosyada (100710240)
IKMB / 75

Alfa Beta Gamalia
Posted on 13th October, 2009

ALFA BETA GAMA LIA
UNAIR/FKM/SEM 05 B
100710245/7
METODE DAN USAHA PADI ORGANIC
Di
INDONESIA

Trend peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan turut berimbas pada sektor pertanian. Hal tersebut dapat dilihat dengan dikembangkannya tehologi pertanian organik. Pertanian organic terutama padi organic merupakan jawaban atas dampak revolusi hijau yang digalakkan pada era tahun 60an yang telah menyebabkan kesuburan tanah menjadi berkurang dan kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimiawi yang tidak terkendali
Menurut Utami dan Handayani (2003),system pertanian berbasis bahan high input energy (bahan fosil)seperti pupuk kimia dan pestisida dapat merusak sifat tanah dan akhirnya menurunkan produktivitas tanah untuk waktu yang akan datang . Disisi lain konsep pertanian organic terutama padi organic menitikberatkan pada keterpaduan antara sector pertanian dan peternakan dalam menjamin daur hara yang optimum dan pertanian organic sering disebut sebagai salah satu bentuk pertanian yang ramah lingkungan dan menghasilkan produc yang aman bagi kesehatan karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetis. Padi organic adalah padi yang disahkan oleh sebuah badan independen untuk ditanam dan diolah menurut standart organic yang ditetapkan .walau tidak ada satu definisi pun untuk organic .
Tujuan dari penanaman padi organic adalah menyediakan padi organic yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen .serta tidak merusak lingkungan . Keunggulan teknologi ini adalah meminimalkan atau bahkan menghilangkan sama sekali residu-residu pestisida dan zat kimia berbahaya lainnya.
Metode Pertanian Padi System of Rice Intensification (SRI)
Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI-Organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Metode ini dikembangkan dengan beberapa prinsip dasar:Top of Form dan Bottom of Form(Pemberian pupuk organik,Peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang,Penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan.
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut:Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air,Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia,Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai),Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.SRI hanya mengubah cara petani dalam mengelola tanamannya, tanah, air dan nutrient). Perubahan ini mengurangi penggunaan air dan biaya produksi dan menyebabkan peningkatan faktor produktivitas dan pendapatan petani.
Keuntungan ini hasil dari (a) peningkatan pertumbuhan dari sistem akar, dan (b) meningkatkan berlimpahnya dan beragamnya organisma tanah, yang pada gilirannya memberikan kontribusi pada produktivitas tanaman
Beberapa usaha yang bergerak di bidang pertanian organic terutama padi organic adalah:
1.PERUSAHAAN DAGANG PELOPOR ALAM LESTARI (PD PAL)

PD PAL merupakan salah satu pilot project Kabupaten Sragen. PD PAL yang berdiri pada 2001 bergerak terutama di bidang produksi beras, meliputi jenis beras organik dan non organik. Lebih dari itu, PD PAL juga didirikan dengan tujuan untuk menyangga harga dasar gabah di Kabupaten Sragen terutama saat panen raya, meningkatkan kesejahteraan para petani, memberikan nilai tambah bagi petani, menjadi sentra penjualan beras organik – dimana merupakan produk unggulan Kabupaten Sragen.
Program pengadaan padi organik oleh PD. PAL dilaksanakan pada tahun 2001 dengan budidaya pertanian padi organik varietas Menthik Wangi dan IR 64. Pola kemitraan dijalin oleh PD. PAL dengan para kelompok tani yang memiliki kecakapan tinggi dalam budidaya padi organik. Lokasi untuk budi daya padi organik menggunakan lahan-lahan yang bebas dari pencemaran air limbah, diolah dengan menggunakan pupuk organik dari kompos sampah dan kotoran ternak. Pengendali hama tanaman menggunakan pestisida organik yang dibuat dari ekstrak daun-daunan obat dan akar tanaman yang memiliki khasiat pengendali hama tanaman padi.
PD PAL menerapkan Ware House System untuk menampung hasil panen petani tanpa terpengaruh musim penghujan. Sistem ini merupakan proses terpadu yang dirancang untuk pengeringan gabah dengan kualitas baik, sebagai tempat pemrosesan padi menjadi beras, dan penyimpanan gabah. Sistem ini berjalan menyesuaikan kondisi pasar. Jika harga di pasaran sudah membaik atau persediaan beras di pasaran tinggal sedikit maka gabah/ beras baru dikeluarkan. Sistem ini sangat mendukung dalam program stabilitas harga petani pada saat musim panen raya.
Areal Pertanian PD PAL yang dikhususkan untuk Padi Organik mencapai 1.450 hektar, tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Sragen. Adapun kapasitas produksi PD PAL sbb:
Dari 1.450 hektar lahan pertanian padi organik dapat dihasilkan :7.975 ton padi organik / tahun atau 3.987 ton beras organik / tahun,Produksi beras organik (sudah dalam kemasan siap kirim) = 8 ton/ minggu,Sedangkan untuk penggilingan beras organik, kapasitas penggilingan mencapai 10-20 ton / hari,Produksi beras non organik (sudah dalam kemasan siap kirim) = 46 ton/ minggu,Sedangkan untuk penggilingan beras non organik kapasitas penggilingan mencapai 32 ton/hari,Gabah kering giling rata-rata = 30 ton/ hari. Keunggulan yang ditawarkan PD PAL: Kontrol kualitas terhadap beras dilakukan dengan teliti, ada tenaga kerja khusus yang dilatih untuk menyortir butiran beras. Untuk beras organik, butiran beras disortir/diamati satu demi satu,Jaringan pemasaran yang sudah mantap di Indonesia, Armada transportasi ekpedisi/ pengangkut yang memadai,Jaringan kerjasama dengan berbagai kelompok tani yang sudah berpengalaman menangani beras organik, Proyeksi ke depan, PD PAL tidak hanya menangani bidang pengadaan padi namun juga produk pertaaaanian lainnya yakni jagung dan kacang. Pada saat ini PD PAL telah menampung produk jagung dan telah memiliki pasaran jagung di Semarang.
2. PADI MULYA
Perusahaan Beras (PB) Padi Mulya, merupakan perusahaan swasta Sragen yang bergerak di bidang produksi beras. Padi Mulya memiliki lahan khusus untuk pertanian beras organik seluas 250 hektar, namun baru 120 hektar yang dimanfaatkan. Padi Mulya juga menjalin kerjasama dengan 13 kelompok tani beranggotakan 500 petani yang memiliki keahlian di bidang pertanian beras organik. Oleh Padi Mulya, para petani ini dipersilakan menggarap lahan yang telah disediakan dengan padi organic. Sebagai imbal baliknya, petani harus menjual hasil panennya hanya kepada Padi Mulya. Dengan skema kerjasama ini, kapasitas produksi lahan milik Padi Mulya dalam satu kali musim panen mencapai 6 ton gabah per hektar. Gabah dari petani dibeli oleh Padi Mulya sebesar Rp 1.500,00 per kg. Setelah diproses lebih lanjut akan menghasilkan 2400 kg beras organik per hektar. Biaya produksi dari gabah menjadi beras berkisar Rp 800,00. Itu di luar ongkos angkut dan pengemasan. Sedangkan harga jual ke konsumen dipatok Rp7000,00 per kg untuk jenis menthik wangi dan Rp 6000,00 per kg untuk jenis beras C 4. Dalam satu hari, pesanan beras organik yang mampir ke Padi Mulya tidak pernah kurang dari 3 ton.
Untuk menjaga kualitas beras organic produksinya, Padi Mulya melakukan pengawasan ketat mulai dari proses pengolahan lahan, penanaman benih, pemupukan sampai dengan pemanenan padi. Semua proses tersebut turut melibatkan tenaga ahli organic Padi Mulya.
http://www.sasak.org/univ-ks/52-pertanian/461-pertanian-padi-organik-sri-dalam-konsep-sistem-pertanian-terpadu-1.html
http://www.sasak.org/univ-ks/52-pertanian/461-pertanian-padi-organik-sri-dalam-konsep-sistem-pertanian-terpadu-1.html
http://www.inilah.com/berita/teknologi/2009/03/18/91524/padi-organik-sumber-kesejahteraan/
http://www.google .co.id/gwt/n?q=Padi+organic&ct=res&oi=blended&sa=X&ei=RuKwSoiYBZKQ6APHzrlTA&cd=7&resnum=7&hl=id&source=m&rd=1&u=http%3A%2F%2Fwww.sith.itb.ac.id%2Fabstract%2Fs2%2F2008-S2-Sri%2520Akrav-Pengelolaan %2520Pemupukan%2520pada%2520Pertanian %2520Padi52520Organic%2520dengan%2520Metode%2520System%2520of%2520Rice%2520Intensification.pdf

Ulivatul Wardiyyah IKM B' 07
Posted on 13th October, 2009

PEMULIAAN & BUDIDAYA UNTUK PENINGKATAN
PRODUKTIVITAS KEDELAI
Oleh; Ulivatul Wardiyyah,100710237

Berdasarkan warna bijinya dikenal kedelai putih dan kedelai hitam. Pemeliharaan kedelai hitam umumnya lebih mudah dari pada kedelai putih. Kendelai putih membutuhkan tanah yang lebih subur, serta memerlukan pengairan dan pemeliharaan lebih baik dari pada kedelai hitam. Kedelai hitam umunya hanya digunakan untuk bahan baku kecap, sedangkan kedelai putih untuk bahan baku tempe dan tahu serta makanan lainnya (tauco dan lain-lain). Berdasarkan umurnya dikenal

Tanaman kedelai dapat diusahakan di dataran rendah mulai dari 0 – 500 m d.p.l. dengan curah hujan relatif rendah (suhu tinggi), tetapi membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan tanamannya. Sebagai barometer untuk mengetahui apakah keadaan iklim di suatu daerah, cocok atau tidak untuk tanaman kedelai, dapat dibandingkan dengan tanaman jagung yang tumbuh di aderah tersebut.Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya juga baik, berarti iklim di daerah sesuai untuk tanaman kedelai. Namun kedelai mempunyai daya tahan yang lebih baik daripada jagung.

Budidaya tanaman kedelai umumnya ditanam pada awal dan akhir musim hujan di sawah (teknis, setengah teknis dan tadah hujan) dan lahan kering. Dengan pola tanam rotasi (tumpang gilir) dan atau tumpangsari dengan tanaman setahun lainnya, misalnya jagung, padi, tebu dan ketela pohon, sebagaimana banyak dijumpai di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, NTB, dan NTT.

Teknik Budidaya

Teknik budidaya kedelai yang dialukakan sebagian besar petani umumnya masih sangat sederhana, baik dalam hal pengolahan tanah, pemupukan dan pemberantasan hama/penyakitnya, sehingga produksinya masih relatif rendah.Sebagian besar petani tidak melakukan pengolahan tanah (TOT = tanpa olah tanah), terutama tanah bekas padi atau tebu. Tanah hanya dibersihkan dari je-rami padi dan daun tebu, yang selanjutnya bibit kedelai ditebar atau ditugal terlebih dahulu untuk lubang untuk penanaman biji kedelai. Selain itu kualitas bibitnya kurang baik, sehingga produksinya relatif rendah.

Dalam hal pemupukan, sebagian besar petani belum melakukannya secara intensif atau semi intensif. Tidak menggunakan pupuk sama sekali atau minim sekali jumlahnya. Demikian juga dalam hal pemberantasan hama penyakit dapat dikatakan kurang sekali, sehingga banyak kerugian atau rendahnya produksi akibat serangan hama penyakit. Teknik produksi yang cukup intensif adalah sebagai berikut :

Seleksi Bibit Kedelai

Bibit yang baik adalah berukuran besar, tidak cacat, berwarna seragam (putih, kekuning-kuningan). Jumlah bibit antara 40 – 50 kg per ha untuk tanaman monokultur, sedangkan untuk tanaman tumpangsari dengan jagung, yaitu 30 kg biji kedelai dan jagung 20 kg per ha.

Pengolahan Tanah

Di lahan kering dengan tanaman tumpang sari, tanah diolah dua kali dengan alat bajak dan luku, sedangkan di sawah dengan tanaman monokultur, tanah dibersihkan dari jerami, kemudian tanah diolah satu kali.Untuk tanah yang pH-nya rendah, diberi kapur atau dolomit antara 200 – 300 Kg per ha. Pada saat ini juga tanah diberi pupuk dasar, yaitu pupuk SP-36 sebanyak 100 Kg untuk monokultur, sedangkan bila tumpang sari dengan jagung dosisnya adalah sebanyak 200 kg – 250 kg per ha.

Penugalan Lubang

Untuk tanaman monokultur, dibuat lubang dengan tugal dengan jarak 20 x 30 cm, sedangkan untuk tumpangsari dengan jagung lubang untuk kedelai 30 x 30 cm dan untuk jagung 90 x 90 cm. Lubang untuk jagung dibuat terlebih dahulu, dan setelah jagung tumbuh 2 – 3 minggu kemudian dibuat lubang untuk kedelai.

Penanaman Kedelai

Untuk tanaman monokultur, biji kedelai dimasukan dalam lubangang telah dibuat. Untuk tanaman tumpang sari, biji jagung ditanam ter-lebih dahulu dan 2 – 3 minggu kemudian baru ditanam kedelai.

Penyiangan Dan Pemupukan

Penyiangan dilakukan setelah tanaman berumur 30 – 35 hari, dan setelah itu langsung dipupuk, yaitu untuk tanaman monokultur dengan 50 kg urea dan 50 kg KCl. Bila kondisinya masih kurang baik, maka penyiangan dilakukan lagi pada umur 55 hari.Sedangkan untuk tanaman tumpangsari penyiangan dilakukan pada umur jagung 40 – 45 hari dan setelah itu diberi pupuk sebanyak 350 kg urea dan 100 kg KCl.

Pemberantasan Penyakit

Untuk mencegah atau memberantas hama/penyakit, maka mulai umur 25 hari dan 50 hari disemprot dengan pestisida (karbofuran) sebanyak 5 – 10 liter.
Pengairan/Drainase

Untuk memperoleh pertumbuhan yang baik, maka bila kekurangan air, tanaman perlu diberi pengairan, terutama pada umur 1 – 50 hari. Demikian pula bila tanahnya terlalu banyak air, perlu adanya drainase.

Panen

Panen kedelai dilakukan bila sebagian daunnya sudah kering. Caranya adalah dengan mencabut batang tanaman, termasuk daunnya. Selanjutnya dijemur dan setelah kering, batang berbuah tersebut dihamparkan diatas tikar bambu. Kemudian dipukul-pukul agar bijinya jatuh ketikar. Selanjutnya biji kedelai dimasukkan dalam karung.

Produksi

Produksi kedelai yang diusahakan secara monokultur secara intensif, se-benarnya dapat mencapai 2,00 – 2,50 ton per Ha. Akan tetapi karena pertimbangan teknis dalam MK PKT ini angka produksi yang digunakan untuk analisis adalah sebesar 1,5 ton.Sedangkan produksi secara tradisional maksimum hanya 1,00 – 1,50 ton per ha. Produksi kedelai yang diusahakan secara tumpangsari dengan jagung secara intensif dapat mencapai 1,5 – 1,75 ton kedelai per Ha dan 2 – 2,5 ton jagung per Ha. Dengan cara intensifikasi ini selain produksinya meningkat, juga kualitasnya (ukuran biji, keutuhan) meningkat pula, sehingga harganya juga akan meningkat. Dengan demikian pendapatan petani atau laba usaha akan meningkat dengan adanaya kenaikan produksi dan harga.

Teknologi Masa Depan
Untuk mengantisifikasi pesatnya permintaan di dalam negeri, selain meningkatkan kuantitas lahan budidaya (yaitu pertambahan areal penanaman) juga harus dipertimbangkan peningakatan kualitas budidaya (yaitu peningkatan produktivitas tanaman) dengan cara penerapan teknologi budidaya tanaman kedelai yang lebih modern daripada teknologi yang diterapkan selama ini.Perlunya teknologi yang lebih maju ini, mengingat tanaman sebenarnya adalah tanaman sub tropis, sehingga budidaya tanaman kedelai di negara tropis hasilnya lebih rendah dari pada di negara-negara sub tropis yang mampu mencapai produksi hingga 4 ton per ha. Dengan penerapan teknologi yang maju ini, sehingga produksi tanaman kedelai diharapkan akan meningikat setidaknya menjadi rata-rata 2,5 ton per Ha.

Budidaya tanaman kedelai di masa depan perlu menyusun perencanaan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan-bahan kimia, dengan menerapkan teknologi yang akrab lingkungan, yaitu penerapan teknologi bio-plus. Dengan penerapan teknologi yang lebih maju dan mengurangi bahan-bahan kimia ini, maka PKT budidaya tanaman kedelai kelak akan menghasilkan produktivitas yang lebih baik dan akrab lingkungan. Cara yang paling tepat untuk mencapai penerapan teknologi masa depan pada setiap PKT ini, adalah mendorong perusahaan INTI untuk menyusun suatu konsep pengembangan PKT yang berorientasi ke depan secara gradual, baik secara individual oleh perusahaan Inti itu sendiri, atau bekerjasama dengan isntitusi lain seperti Lembaga-Lembaga Penelitian (dari universitas atau lembaga lainnya).

Titik-Titik Rawan

Masalah teknis yang dihadapi petani dalam budidaya tanaman kedelai antara lain masalah pengadaan bibit yang tidak terseleksi (bukan bibit unggul), pengadaan pupuk dan obat-obatan, serta masalah iklim. Seperti telah diuraikan di depan, bahwa hambatan ini antara lain karena faktor-faktor internal petani. Oleh karenanya, dalam PKT Budidaya Tanaman Kedelai ini, sangat ditekankan pentinya peranan UB selaku Inti, di mana selain menyediakan bibit unggul, juga bertindak sebagai pembinan dalam pengaturan jadwal penanaman, pengarahan pemberian pupuk dan obat-obatan serta penyuluhan dan pembinaan teknis lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=301&id_kolom=2.

Barokatun Kamilah IKM B' 07
Posted on 13th October, 2009

Tempe Pangan Tradisional yang Fungsional
Oleh:
Barokatun Kamilah
100710201
IKM B’07/45
Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.
Tempe merupakan makanan yang dibuat dari fermentasi biji kedelai yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus.Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”.
Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan sebagai pencegahan terhadap penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma yang khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.Kandungan gizi yang terdapat dalam tempe, antara lain:
• Asam lemak
Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.Dalam proses tersebut asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.
• Vitamin
Dua kelompok vitamin yang terdapat pada tempe, yaitu vitamin larut air (vitamin B kompleks) dan vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe juga merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin B yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).
Tempe memiliki keistimewaan dalam hal kandungan Vitamin B12 karena umumnya vitamin tersebut terdapat pada produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati.Namun, tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin B yang potensial dari bahan pangan nabati.Saat proses pembuatan, vitamin B12 aktivitasnya meningkat hingga 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.
Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari.Sehingga dengan adanya hal ini, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12 sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.
• Mineral
Kandungan mineral pada tempe meliputi mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 gr tempe.
Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.
• Antioksidan
Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.Tempe merupakan sumber antioksidan yang baik sehingga konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini (aging).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Selain itu, tempe juga memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
1. Sumber antioksidan yang mengandung isoflavon aglikon sebagai pencegah kanker.
2. Sumber antibiotik, zat antibakteri yang memperkecil peluang infeksi.
3. Hipokolesterolemik, menurunkan lipid atau lemak dalam darah.
4. Sumber vitamin B.
5. Mengandung vitamin B12. Vitamin tersebut umumnya terdapat dalam produk hewani tapi tidak dijumpai pada makanan nabati, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian.
6. Mengandung delapan macam asam amino esensial dan asam lemak tidak jenuh.
7. Mengandung serat tinggi.
8. Mudah dicerna oleh semua kelompok umur, dari bayi sampai usia lanjut.
9. Pengolahan kedelai menjadi tempe menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yang memicu timbulnya gejala flatulensi.
Dengan adanya berbagai keunggulan dari tempe, mulai dari kandungan gizinya hingga manfaat fisiologis yang ditimbulkan di dalam tubuh, maka tempe dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional yang potensial di masa depan.
Pangan fungsional menurut Badan POM merupakan pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen juga tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya.
Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Jika obat fungsinya terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit.
Terdapat tiga faktor yang harus dipenuhi oleh suatu produk agar dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional menurut ilmuwan Jepang, antara lain:
1. Produk tersebut merupakan produk pangan (bukan kapsul, tablet, atau serbuk) yang berasal dari bahan yang terdapat secara alami.
2. Produk tersebut dapat dan selayaknya dikonsumsi sebagai bagian dari pangan sehari-hari.
3. Produk tersebut memiliki fungsi tertentu pada waktu dicerna, serta memberikan peran tertentu dalam proses metabolisme tubuh, misalnya:
• Memperkuat mekanisme pertahanan tubuh
• Mencegah timbulnya penyakit tertentu, seperti penyakit kanker, kardiovaskuler dan jantung koroner, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya akibat kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu)
• Membantu mengembalikan kondisi tubuh setelah terserang penyakit tertentu
• Menjaga kondisi fisik dan mental
• Merperlambat proses penuaan
Tempe telah diketahui oleh masyarakat mengandung protein nabati yang cukup tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga bisa menjadi pengganti protein daging, telur maupun susu. Tempe juga mengandung asam lemak esensial, mengandung antioksidan yang dapat menghambat proses penuaan, mengandung isoflavon yang berfungsi sebagai anti kanker, vitamin B12 yang tinggi, kaya akan serat makanan, mengandung phospor yang berguna bagi untuk berbagai reaksi metabolisme tubuh serta mengandung antibiotik alami yang dapat menghambat munculnya berbagai penyakit. Artinya, tempe bernilai strategis karena mempunyai kontribusi terhadap asupan gizi masyarakat Indonesia yang tidak bisa diremehkan tetapi harganya relatif murah.
Namun demikian penelitian tentang tempe masih diperlukan jika ingin ditingkatkan sebagai obat, khususnya penelitian yang lebih spesifik tentang komponen-komponen fungsional tempe dan bioavailabilitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://74.125.153.132/search?q=cache:6xGKMlP5j1wJ:id.wikipedia.org/wiki/Tempe+tempe&hl=id&gl=id&strip=1
http://www.resep.web.id/makanan-sehat/keunggulan-jika-mengkonsumsi-tempe.htm
http://74.125.153.132/search?q=cache:xf8mkmbuzBAJ:depoikan.com/depoikan/content/view/38/38/+pangan+fungsional&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://74.125.153.132/search?q=cache:kMTdMvOurRQJ:www.untag-sby.ac.id/index.php%3Fmod%3Dberita%26id%3D169+tempe+sebagai+pangan+fungsional&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

Foni Istiana Dewi
Posted on 13th October, 2009

Kajian Tata Ruang Daerah dan Wilayah Propinsi yang Menjadi Kantong Produksi untuk Visi Indonesia 2020

Oleh : Foni Istiana Dewi
100710018

Konsep mengenai rencana tata ruang dan wilayah daerah kantong produksi untuk skala nasional masih dalam proses penyempurnaan. Perncanaan mengenai tata ruang dan wilayah menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan mengingat pidato wakil presiden Jusuf Kalla dalam pidatonya mengatakan bahwa Indonesia di tahun 2020 akan menjadi Negara industri dengan lima industri yang akan menopang laju pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk menghindari kerusakan lingkungan yang parah, menjaga daya dukung lingkungan, serta untuk menciptakan sebuah bangsa yang cerdas dan kuat maka diperlukan sebuah konsep pembangunan yang terintregasi. Dalam konsep RTRW ( rencana tata ruang dan wilayah ) akan dibahas secara mendetail mengenai konsep pembangunan yang untuk sementara ini, konsep pembangunan tersebut hanya bisa diterapakan untuk skala provinsi. Hal ini bisa dimaklumi karena setiap wilayah di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda baik ditinjau dari perkembangan social, politik dan perekonomian. Apalagi jika ditinjau dari wilayah geografis, tentu semua bisa menjawab bahwa setiap wilayah propinsi di Indonesia memiliki komposis geografis yang tidak bisa disamakan. Tapi meskipun begitu, harus ada perencanaan tata ruang dan wilayah di setiap wilayah propinsi di Indonesia mengingat bahwa Indonesia memiliki visi yang besar untuk tahun 2020.

Satu dari lima kelompok indutri yang peranannya sangat penting dalam pembangunan suatu bangsa adalah adanya industry agro. Satu alasan yang menjadikan industry agro menjadi salah satu penopang perekonomian dimasa mendatang adalah karena potensi dari alam Indonesia yang subur dan hampir setiap jengkal tanahnya kaya akan mineral. Hal inilah yang membuat pertanian yang sudah ada akan dimodernisasi menjadi agro industri yang nantinya diharapakan agar hasil pertanian dari para petani Indonesia dapat dijadikan sebagai salah satu komunitas andalan. Konsep industri agro atau agro industry adalah konsep yang utuh mulai penyediaan bahan baku sampai dengan produksi untuk mengolah hasil produksi hasil pertanian menjadi bentuk lain yang mempunyai nilai jual tinggi. Agroindustri adalah salah satu cabang industri yang mempunyai kaitan yang erat dan langsung dengan sektor pertanian. Dalam industri agro pada intinya lebih diutamakan untuk meningkatkan cadangan pangan yang bermutu dan cukup baik ditingkat keluarga maupun tingkat nasional. Kecukupan atau ketahanan pangan yang diutamakan untuk saat ini adalah menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga. Ketahanan pangan tingkat rumah tangga merupakan ukuran atau indikator tentang kecukupan ketersediaan pangan, Meskipun ketahanan pangan tingkat nasional sudah baik akan tetapi jika kecukupan pangan tingkat keluarga tidak terpenuhi dengan baik maka tidak akan ada jaminan bahwa setiap keluarga bisa berada dalam garis aman untuk masalah pangan, kesehatan dan kecerdasan keluarganya. Masalah ketahanan pangan mencakup tiga pilar penting yaitu aspek penyediaan pangan, aspek distribusi pangan, dan aspek konsumsi.

Ketiga aspek dalam ketahanan pangan merupak sebuah system yang saling berhubungan. Ketiga aspek tersebut akan senantiasa bergerak mengikuti arah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Dari pernyataan tersebut secara tersirat makna bahwa setiap kebijakan atau aturan yang dibuat oleh pemerintah akan secara tidak langsung juga mempengaruhi kondisi pangan diwilyahnya yang kemudian juga akan membawa perubahan pada status kesehatan masyarakatnya. Ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang ataupun status kesehatan sebuah kelompok masyarakat. Salah satu diantaranya adalah factor lingkungan. Ada banyak hal yang menjadi determinan status kesehatan yang berasal dari lingkungan. Di lingkungan terdapat agen penyakit, lingkungan menjadi vector penularan berbagai penyakit, lingkungan juga menyediakan factor penyembuh dari penyakit yang diderita seseorang ataupun sekelompok orang. Fakta bahwa lingkungan yang kumuh akan mengakibatkan penurunan derajat kesehatan masyarakat yang tinggal diarea tersebut sudah menjadi hal yang biasa. Tapi, yang menjadi tren saat ini adalah bahwa setiap penyakit yang dahulunya adalah penyakit golongan kelompok orang yang berada dibawah garis kemiskinan menjadi penyakit yang umum dan bisa menyerang siapapun.

Ada banyak kejadian yang bisa digunakan sebagai alasan untuk menunjukkan mengenai pentingnya suatu perencanaan yang mendetail dan berkelanjutan untuk pembangunan suatu wilayah. Pengalihfungsian lahan pertanian menjadi sarana yang digunakan bukan untuk kepentingan pertanian menjadi sebuah masalah tersendiri, kompleks dan perlu perhatian serius dari pemerintah. Meskipun hingga saat ini, pemerintah masih berpeluang untuk membuka lahan basah hingga seluas 17,51 hektar namun bukan berarti Indonesia bebas dari masalah pangan dan siap menjadi negara industri di tahun 2020. Saat ini, beberapa kota di Indonesia telah melakukan upaya perbaikan dalam pembangunan wilyahnya yaitu dengan terlebih dahulu menggagas konsep tata ruang dan wilayah yang sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya di Kalimantan Tengah, untuk tata ruang kota di Kalimantan Tengah setiap periode memiliki focus yang berbeda akan tetapi konsep ideal dari RTRW tetap terlaksana yaitu sebuah program yang berkelanjutan dan terintegrasi. Dijelaskan dalam penutup dari buku sejarah pentaan ruang Indonesia bahwa tata ruang di Kalimantan Tengah dimulai setelah embrio Kota Palangkaraya sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Tengah selesai dibangun. Perkembangan rencana tata ruang kota di Palangkaraya menurut peruntukan lahannya semakin lama semakin bertambah. Peruntukan lahan di bantaran Sungai Kahayan secara peruntukan lahan dari rencana satu ke rencana yang baru selalu berubah. Dengan berubah-ubahnya peruntukan lahan di bantaran Sungai Kahayan dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama tata ruang kota di Palangkaraya berada di bantaran sungai kahayan. ( Wijanarka, bab VIII). Sementara konsep tata ruang dan wilayah untuk daerah Padang yang baru saja terguncang gempa pada tanggal 30 September 2009, Gubernur pada 24 Februari 2009 mengusulakan konsep pembangunan dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi ( RTRWP), agar memperhatikan letak potensi - potensi daerah terutama pertambangan dan kawasan produksi. Gubernur juga menyampaikan bahwa perlu melakukan kajian ulang dan melakukan prediksi – prediksi yang sempurna untuk penyusunan RTRWP sebelum menetapkannya menjadi sebuah standard yang baku untuk 20 tahun mendatang.
Konsep perancanaan tata ruang dan wilayah untuk daerah kantong produksi pangan seperti wilayah Jawa Barat ( menghasilkan 20,7 % dari total produksi beras nasional, sayuran sebesar 36,6 %, buah – buahan sebesar 26,9 % , daging sebanyak 21,1 % dan telur sebanyak 20,8 %), Jawa Timur ( menghasilkan 36,0 % dari total produksi jagung nasional, untuk kedelai sebesar 37,9 %, kacang tanah sebesar 24,4 %, gula tebu sebesar 44,1 % ), dan Sumatra Utara ( penghasil terbanyak untuk minyak sawit dalam skala nasional ) perlu direncakan secara mendetail. Ketelitian yang dianjurkan untuk digunakan adalah dengan menggunakan skala ketelitian 1 : 1.000.000. RTRW Pulau pada dasarnya merupakan instrumen operasionalisasi dari RTRWN. RTRW Provinsi merupakan perencanaan makro strategis jangka menengah dengan horizon waktu 15 tahun pada skala ketelitian 1 : 250.000. Demikian juga dengan RTRW Kabupaten dan Kota merupakan perencanaan mikro operasional jangka menengah (5-10 tahun) dengan skala ketelitian 1 : 20.000 hingga 100.000, yang kemudian diikuti dengan rencana-rencana rinci yang bersifat mikro-operasional jangka pendek dengan skala ketelitian dibawah 1 : 5.000. Adapun strategi pemerintah untuk daerah Sumatra – Jawa – Bali adalah pengembangan kawasan lindung dan budidaya, pengembangan sistim pusat permukiman, pengembangan sistem transportasi dan kerja sama regional (ALKI, KESR, APEC). Konsep dari tata ruang dan wilayah untuk daerah produksi pangan terutam di jawa dan bali akan diutamakan pada peningkatan pembangunan infrastruktur kemargaan. Adapun proyek pembangunan yang akan dilakukan antara lain pembangunan jalan tol di Pulau Jawa, modernisasi jaringan jalur kereta api, serta dengan direncanakannya pembangunan Jembatan Selat Sunda. Hal ini membuka kemungkinan Pulau Jawa Bali menjadi sebuah Mega Region, seperti Boston-Washington (Boshwash), Chicago-Pittsburg (Chipitts), San Fransisco-San Diego (Sansan), Tokyo-Yokohama, dan Shenzen-Hongkong dalam beberapa dasawarsa ke depan. Dukungan jaringan jalan juga sangat diperlukan untuk mendukung sistem ferry besar sebagai jembatan besar dari Pulau Jawa langsung ke Lombok, menghindari beban lalu lintas di Pulau Bali sesuai dengan RTR Pulau Jawa Bali yang saat ini sedang disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang.

Daftar Pustaka

Darwanto, Dwidjono H. Darwanto. 2005. Ilmu Pertanian Vol. 12 No.2, 2005 : 152 - 164 KETAHANAN PANGAN BERBASIS PRODUKSI DAN KESEJAHTERAAN PETANI.
DIREKTORAT JENDRAL PENATAAN RUANG : DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM. Arah Pengembangan Pulau Jawa Bali Disepakati (www.penataanruang.net ). 12 Oktober 2009.

Direktur Jendral Penataan Ruang : Depertemen Pekerjaan Umum. STRATEGI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG PULAU JAWA – BALI DAN SUMATERA.
Djoko Kirmanto. PEMANTAPAN INFRASTRUKTUR DALAM PEMBENTUKAN STRUKTUR RUANG WILAYAH PULAU JAWA-BALI DAN SUMATERA : Rapat Kerja Daerah Se-Pulau Jawa-Bali dan Sumatera Semarang 7 – 9 Desember 2005.

Gamawan Fauzi. Kita Ingin Sumbar menjadi yang pertama dan terbaik menetapkan Riview Perubahan RTRWP ( http://www.detail_news.php.htm ). Oktober 2009.

Sjarifuddin Akil. Makalah PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENATAAN RUANG DI INDONESIA : TINJAUAN TEORITIS DAN PRAKTIS1.DIREKTUR JENDERAL PENATAAN RUANG DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARAN
( http://www.PaperUNHAS-KAPET.pdf ).
Suhartanto. 2009. Ketersediaan Lahan Pertanian Pangan Secara Berkelanjutan
( http://www.KetersediaanLahanPertanianPanganSecaraBerkelanjutan_LandPolicy.htm ).
Wijranaka.Sejarah Penataan Ruang Indonesia.
Yowan Pratama. Agroindustri Penyulingan Minyak Daun Cengkeh.

luluk murni wahyuni
Posted on 13th October, 2009

Budidaya Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) melalui metode “tumposun” sebagai Alternatif Makanan Pokok untuk Menanggulangi masalah Gizi Ganda

Pada beberapa dekade terakhir ini, dunia kesehatan dipenuhi oleh masalah gizi ganda yaitu KEP dan obesitas. Dua masalah yang bertolak belakang tetapi nyata terjadi. KEP yang terjadi di Indonesia sebagian besar dialami oleh masyarakat golongan bawah. Hal ini dikarenakan harga bahan makanan pokok yang semakin mahal sehingga mereka sulit untuk mendapatkan. Korban dari KEP sebagian besar adalah anak-anak dengan ciri tidak mau makan, diare, kurus, wajah seperrti orang tua, dan terjadi odema. Di lain sisi masyarakat golongan menengah keatas mengalami masalah overweigh dan obesitas. Dimana masalah ini tidak dapat dibiarkan begitu saja karena dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan diabetes melitus yang menempati rating pertama dan ketiga penyebab kematian tertinggi di dunia.Dua masalah ini dapat ditanggulangi dengan adanya Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth). Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) mengandung karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh sehari-hari. Selain itu, teksturnya yang lembut mudah dicerna oleh sistem pencernaan tubuh anak-anak sehingga tidak menyebabkan sembelit dan diare. Keunggulan inilah yang dapat menanggulangi masalah KEP pada anak-anak. Dilihat dari kandunagn Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) yang rendah lemak dan tinggi serat, kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dapat dijadikan alternatif makanan pokok atau selingan bagi penderita obesitas. Penderita obesitas yang melakukan diet Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) akan dapat menjaga keseimbangan kalori masuk dan kalori keluar, dengan kata lain secara perlahan-lahan tubuhnya dikondisikan seperti orang normal, jika kondisi ini dilakukan terus-menerus maka berat badan penderita akan turun secara bertahap. Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari golongan masyarakat bawah sampai dengan golongan menengah ke atas. Hal itu karena harganya yang terjangkau, nutrisi yang memadai, mudah dibudidayakan, tahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh jamur dan ukuran umbinya yang kecil memungkinkan Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) untuk ditanam didalam pot tanpa mempengaruhi pertumbuhan umbinya. Dengan adanya keunggulan diatas metode Tumposun (tanaman dalam pot susun) cocok untuk membudidayakan Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth). Dalam satu tumposun terdapat empat pohon Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dan setiap pohon menghasilkan ± 1 kilogram yang berarti satu tumposun menghasilkan 4 kilogram kentang ireng (Coleus tuberosus Benth). Berbeda dengan budidaya bahan makanan pokok lain seperti padi, jagung, dan sagu yang tidak mungkin dibudidayakan di dalam pot karena memerlukan lahan yang cukup luas. Dengan Tumposun, setiap keluarga bisa menanem Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) di dalam pot susun yang perawatan dan pemeliharaannya dapat di lakukan setiap waktu. Hasil budidaya dari Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan makanan pokok diwaktu padi, jagung dan sagu sulit untuk didapatkan ataupun harganya terus naik. Budidaya Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dengan metode tumposun cocok untuk budidaya di pekarangan rumah yang sempit. Dalam kasus ini Budidaya Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dengan metode tumposun selain menghasilkan umbi juga dapat menambah nilai estetika rumah. Metode Tumposun juga bisa digunakan di lahan yang luas pada pedesaan dan perkotaan. KEP adalah penyakit akibat kekurangan energi protein dan karbohidrat sedangkan obesitas merupakan kelebihan berat badan (BB). Tingginya kasus kurang gizi sebanding dengan meningkatnya kasus akibat obesitas. Dibandingkan dengan berbagai bahan makanan pokok di Indonesia, kandungan gizi Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) tidak berbeda jauh. Baik dalam segi kandungan kalori maupun karbohidrat.
Kandungan gizi Bahan Makanan Pokok per 100 gram bahan

Kentang Jagung Beras ubi kentang ireng

Kalori
(kal) 83 140 360 123 142
Protein
(g) 2,0 4,7 6,8 1,8 0,9
Lemak
(g) 0,1 1,3 0,7 0,7 0,4
Karbohidrat
(g) 19,1 33,1 78,9 27,9 33,7
Kalsium
(mg) 11,0 6,0 6 30,0 34,0
Fosfor
(mg) 56 118 140 49,0 75,0
Ferrum
(mg) 0,7 0,7 0,4 0,7 0,2
Vitamin A
(SI) 0 51 0 963 0
Vitamin B1
(mg) 0,11 0,24 0,12 0,09 0,02
Vitamin C
(mg) 17 8 0 22 38
Serat
(g) - 9 10 49 34

Sumber Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi 1988
Kandungan kalori dari Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) sebanding dengan makanan pokok lainnya kecuali beras. Jumlah karbohidrat Kentang ireng cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh yaitu sebesar 33,7 gram. Kandungan serat yang tinggi sejumlah 34 gram dalam Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dapat dikonsumsi untuk penderita obesitas.
Tumposun merupakan metode budidaya yang dikembangkan dari tambulampot (tanaman buah dalam pot). Selama ini yang ditaman dalam tambulampot hanya sebatas buah-buahan. Masyarakat yang tidak mempunyai lahan lebar bisa bertani dengan metode ini. Permasalahan yang ada sekarang ini adalah ketidakmerataan penyebaran bahan makanan pokok dan harga yang terus meningkat membuat sebagian besar masyarakat Indonesia kesulitan dalam mendapatkannya. Tumposun ini dapat dijadikan solusi. Dengan pot berukuran 30cmX60cm, tinggi mencapai 1 meter, dan bersusun dapat dijadikan tempat pembudidayaan bagi Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) sebagai alternatif pengganti bahan makanan pokok. Tumposun juga dapat dikembangbiakan di daerah perkotaan dengan model urban farming. Negara berkembang memanfaatkan urban farming untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan penghasilan. Pemanfaatan tumposum lebih luas lagi, tidak terbatas pada masyarakat kota saja, tetapi masyarakat pedesaan juga bisa memanfaatkan ladang yang minim untuk dijadikan tumposun sehingga hasil yang diperoleh berlipat karena model bersusun. Proses menanam Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) juga terdapat syarat-syarat tertentu agar kentang yang dihasilkan bisa memuaskan yaitu, pemilihan bibit yang berkualitas, bibit yang berkualitas akan menghasilkan kentang yang berkualitas pula. Selain itu tanah sebagai media tanam juga perlu diperhatikan, akan lebih baik jika komposisi tanah adalah 50 % tanah, 20 % pasir, dan bahan organik 30 %. Pada tanaman kentang juga dikenal teknik pemangkasan. Tujuannya untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produksi Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth). Pemangkasan juga mampu menjaga kelembaban tanaman sehingga tidak mudah terserang hama dan penyakit. Tumposun memiliki tinggi 100 cm yang terdiri dari dua susunan pot. Masing-masing pot memiliki tinggi 30 cm dan jarak antar pot bawah dengan pot atas adalah 40 cm. Luas pot 60 x 30 cm bisa diisi oleh dua tanaman Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth). Saat penanaman akar tanaman diletakkan 10 cm dari permukaan hal itu untuk memastikan akar berkembang dengan baik. Budidaya dengan metode tumposun juga dapat diterapkan di lahan yang luas denagn analisis setiap tumposun berukuran 30 x 60 cm, jarak antar tumposun 50 cm ke kanan, 50 cm ke kiri, 50 cm ke atas dan hal itu untuk memastikan bahwa setiap tumbuhan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Dengan menggunakan metode tumposun untuk setiap luas lahan 100 M2 dapat menghasilkan 464 kg Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth). Apabila luas lahan sampai 1 ha atau sama dengan 10.000 M2 akan dapat dihasilkan 46.400 kg atau 46,4 ton Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth), nilai ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan hasil panen beras dengan metode budidaya konservatif yaitu hanya menghasilkan 42 Kwintal atau 4,2 ton beras untuk setiap 1 ha lahan pertanian.

Kesimpulan dalam karya tulis ini adalah;
1. Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) mengandung karbohidrat dan kalori yang dibutuhkan tubuh dan dapat sebagai pengganti makanan pokok bagi penderita KEP.
2. Kandungan rendah lemak dan tinggi akan serat dapat digunakan sebagai pengganti makanan pokok bagi penderita obesitas.
3. Pembudidayaan dengan metode tumposun menjadikan Kentang ireng (Coleus tuberosus Benth) dapat ditanam diberbagai jenis lahan dan menghasilkan hasil panen yang berlipat.
Akhsan. 2005. Mungkinkah Kebijakan Pemerintah Penyebab Langsung Busung Lapar?. http://www. Google.co.id/KEP
Anonimous. Kentang Hitam. http://groups.google.co.id/groups?q=kandungan+gizi+nasi&hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&hs=u10&um=1&ie=UTF-8&ei=IcynSdqqC5iq6wPfvZHICw&sa=X&oi=groups&ct=title. 26 Februari 2009
Azrur Anwar. 2007. Kecenderungan Masalah Gizi dan Tantangan di Masa Mendatang. Government nformation System, Kamis, 01 Februari 2007. http://www.google.ci.id/gizi
Evawany, A. 2004. Kurang Energi Protein (Protein Energy Malnutrition).
http://www.google.co.id/KEP. Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatra Utara. Depkes RI,2000.
Oleh: luluk murni wahyuni
Nim : 100710138
Ikm A 2007

Zahroh Setyo Ardhani
Posted on 14th October, 2009

Budidaya dan Penanganan Pasca Panen buah Pisang

Oleh:
Zahroh Setyo Ardhani
100710250 / 83
IKM B 2007

Pisang merupakan komoditas buah paling dominan yang banyak di tanam oleh petani. Sebagai negara tropika dengan areal yang cukup luas di dunia, peran Indonesia dalam produksi buah tropika khususnya pisang cukup besar. Peningkatan jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran akn manfaat buah sebagai sumber karbohidrat, vitamin, mineral dan zat gizi lainnya menyebabkan konsumsi pisang mengalami trend meningkat dari waktu ke waktu. Sehubungan dengan hal itu, maka pisang sebagai tanaman asli Indonesia memiliki potensi yang cukup besar, yang antara lain di sebabkan oleh kurangnya kesungguhan dalam budidaya, rendahnya ketersediaan bibit yang bermutu, teknik budidaya yang belum di kuasai.
Pisang dimanfaatkan baik dalam keadaan mentah, maupun dimasak, atau diolah menurut cara-cara tertentu. Pisang dapat diproses menjadi tepung, kripik, atau didehidrasi. Daun pisang digunakan untuk menggosok lantai, sebagai alas kastrol tempat membuat nasi liwet, dan sebagai pembungkus berbagai makanan. Serat untuk membuat kain dapat diperoleh dari batang semunya. Tanaman pisang (atau daun dan buahnya) juga memegang peranan dalam upacara-upacara adat, misalnya di Indonesia, untuk upacara pernikahan, ketika mendirikan rumah, dan upacara keagamaan setempat. Dalam pengobatan, daun pisang yang masih tergulung digunakan sebagai obat sakit dada dan sebagai tapal dingin untuk kulit yang bengkak atau lecet. Air yang keluar dari pangkal batang yang ditusuk digunakan untuk disuntikkan ke dalam saluran kencing untuk mengobati penyakit raja singa, disentri, dan diare; air ini juga digunakan untuk menyetop rontoknya rambut dan merangsang pertumbuhan rambut. Cairan yang keluar dari akar bersifat anti-demam dan memiliki daya pemulihan kembali. Dalam bentuk tepung, pisang digunakan dalam kasus anemia dan casa letih pada umumnya, serta untuk yang kekurangan gizi. Buah yang belum matang merupakan sebagian dari diet bagi orang yang menderita penyakit batuk darah (haemoptysis) dan kencing manis. Dalam keadaan kering, pisang bersifat antisariawan usus. Buah yang matang sempurna merupakan makanan mewah jika dimakan pagi-pagi sekali. Tepung yang dibuat dari pisang digunakan untuk gangguan pencernaan yang disertai perut kembung dan kelebihan asam.

Pedoman Budidaya
Pisang umumnya diperbanyak dengan anakan. Anakan yang berdaun pedang-lah yang lebih disenangi petani, sebab pohon pisang yang berasal dari anakan demikian akan menghasilkan tandan yang lebih besar pada panen pertamanya (tanaman induk). Bonggol atau potongan bonggol juga digunakan sebagai bahan perbanyakan. Bonggol ini biasanya dibelah dua dan direndam dalam air panas (52° C) atau dalam larutan pestisida untuk membunuh nematoda dan penggerek penggerek sebelum ditanamkan. Kini telah dikembangkan kultur jaringan untuk perbanyakan secara cepat, melalui ujung pucuk yang bebas-penyakit. Cara ini telah dilaksanakan dalam skala komersial, tetapi adanya mutasi yang tidak dikehendaki menimbulkan kekhawatiran. Penanaman pada umumnya dilakukan pada awal musim hujan. Bahan perbanyakan biasanya ditanamkan sedalam 30 cm. Pisang dapat dijadikan tanaman utama atau tanaman pencampur pada sistem tumpang sari. Pisang biasanya ditanam sebagai tanaman perawat (nurse drop) untuk tanaman muda coklat, kopi, lada, dan sebagainya. Juga dapat digunakan sebagai tanaman sela pada perkebunan karet atau kelapa sawit yang baru dibangun, atau ditanam di bawah pohon-pohon kelapa yang telah dewasa. Jika ditanam sebagai tanaman utama, pisang biasanya ditumpangsarikan dengan tanaman semusim.

Pemeliharaan
Penyiangan berulang-uiang diperlukan sampai pahon-pohon pisang dapat menaungi dan menekan gulma. Gulma diberantas dengan cara-cara mekanik (dibabat, dibajak, – dan sebagainya) atau dengan tangan: Herbisida pratumbuh cukup efektif, dan jika tanaman telah mencapai tinggi 1,5 m atau lebih, dapat digunakan herbisida kontak. Pisang memerlukan sejumlah besar hara. Di pekarangan pemakaian pupuk kandang dan kompos dianjurkan, yang dikombinasikan dengan 0,25 kg urea dan kalium nitrat (muriate of potash) setiap tiga bulan untuk masing-masing rumpun. Pengairan diperlukan di areal yang memiliki musim kemarau panjang, tetapi juga jika curah hujannya kurang dari 200-220 mm bulan. Air dapat dialirkan melalui parit atau disemprotkan; kini pengairan-tetesan (drip irrigation) telah banyak diterima. Selama putaran pemangkasan ringan, daun-daun yang layu dipotong agar diperoleh mulsa dan untuk menghindari sumber infeksi melalui penyakit-penyakit daun.
Di perkebunan skala komersial beberapa tindakan lain dilakukan untuk rnempertahankan produktivitas yang tinggi dan untuk menjamin buah berkualitas baik untuk pasatan (ekspor). Tindakan-tindakan itu mencakup pembuangan anakan, pembuangan tunggul-tunggul, pemotongan jantung pisang, dan pengurangan tandan buah. Setiap 6-12 minggu tanaman pisang dibuangi anakannya, hanya ditinggalkan satu tanaman induk (yang sedang berbuah), satu batang anakan (yang tertua), dan dalam hal tanaman-sirung (ratoons), satu tanaman cucu. Pada kepadatan yang rendah, setiap rumpun dapat berisi 2 batang induk berikut 2 anakannya. Jadi, untuk menghindari berjejalnya batang, dan untuk mengatur panen yang berurutan dalam setiap rumpun, satu anakan disisakan pada satu pohon induk setiap 6-10 bulan (atau lebih untuk daerah beriklun sejuk) untuk menghasilkan tandan berikutnya. Hanya anakan yang sehat dan tertancap dalam yang boleh disisakan. Penyangga atau tali dapat memberikan dukungan tambahan bagi tanaman yang berisi tandan buah; topangan ini akan menghindarkan tanarnan dari patahnya batang karena keberatan oleh tandan. Jantung pisang hendaknya segera dibuang setelah 2 sisir terakhir dari tandan itu muncul. Pada waktu yang bersamaan, satu atau dua sisir terakhir mungkin perlu dibuang untuk meningkatkan panjangnya masing-masing buah pisang yang tersisa, dan tandan itu mungkin perlu dikarungi. Karung itu dapat berupa kantung plastik yang telah diberi insektisida, maksudnya untuk menghindari kerusakan oleh serangga, burung, debu, dan sebagainya, dan untuk menaikkan suhu tandan, memajukan pertumbuhan buah, terutama untuk daerah beriklim dingin.

Panen dan Pasca Panen
Panen Buah pisang dipanen ketika masih mentah. Tingkat kematangan diperkirakan dari adanya siku-siku pada individu buah; buah yang penampang melintangnya lebih bulat berarti lebih matang. Sewaktu berat buah meningkat dengan cepat sejalan dengan menghilangnya siku-siku pada buah, buah pisang juga menjadi lebih rentan terhadap kerusakan selama pengangkutan, dan buah itu tidak dapat bertahan lama, karenanya harus dipetik lebih awal. Untuk memanen pisang diperlukan 2 orang, si pemanen dan si pengumpul. Si pengumpul menyandang bantalan bahu untuk menahan jatuhnya tandan setelah si pemanen menusuk batang pisang dengan parang, sehingga bagian atas pohon beserta tandannya merunduk. Diperlukan satu galah bambu untuk menopang tandan sampai menyentuh bantalan di bahu: Setelah tandan itu merendah dengan cara begitu, si pemanen memotong gagang tandan dengan menyisakan sebagian gagang yang masih berada pada tandan, yang digunakan sebagai pegangan. Tandan-tandan itu kemudian diangkut dengan hati-hati ke ruangan pengepakan melalui sistem kabel atau dengan gerobak yang ditarik oleh traktor.
Penanganan pasca panen Tandan yang telah dipanen kemudian dipotong menurut sisiran, dan bekas-bekas bunga pada sisiran itu dibuangi, sisiran dicuci, disortir, dan dipak dalarn kotak-kotak karton. Sebagai tambahan, buah pisang itu diperlakukan dengan fungisida untuk menghindari busuknya sisiran buah itu. Daya simpan pisang mentah berkisar antara 21-30 hari pada suhu 13-15° C. Kalsium karbida (CaC2) atau larutan etefon dapat digunakan untuk mematangkan buah tua-mentah. Pada perlakuan kalsium karbida, buah pisang dikenai bahan ini selama 24-36 jam dalam sebuah wadah tertutup, sedangkan pada perlakuan etefon, pencelupan selama 5 menit sudah cukup efektif. Pada pengusahaan secara komersial besar-besaran digunakan gas etilena. Pisang diperlakukan selama 24 jam dalam kamar tertutup yang berisi etilena dan suhunya dipertahankan 14-18° C. Setiap 24 jam sekali kamar dibuka untuk ventilasi sampai buah-buah pisang itu mencapai warna yang disenangi konsumen.

DAFTAR PUSTAKA
- Prihatman, kemal. 2000. Budidaya Pisang. Jakarta. http://infopekalongan.com/content/view/59/1/. Diakses Tanggal 08 Oktober 2009, Pada pukul 18.45 WIB

umi salamah
Posted on 14th October, 2009

PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT PADI
OLEH :
UMI SALAMAH / IKM B’07 / 100710244 / 78

Serangan hama dan penyakit padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Gejala serangan hama dan penyakit penting seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), blas dan sebagainya, harus diwaspadai agar dapat dilakukan pengendalian secara tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat dan bahkan kehilangan hasil panen.
Dicontohkan, pengendalian hama keong mas yang menyerang padi muda, 0-30 hari setelah tanam dengan kemampuan melahap satu rumpun padi dalam waktu 15 menit. Lahan sawah saat padi berumur 0-25 hari dikeringkan, saluran air dibersihkan seperti kangkung dan lainnya agar tidak menjadi makanan berkembangnya keong mas.
Pada sistim tanam legowo/jurong baik 1:2 atau 1:4, setiap selang 4-5 jurong, perlu dibuat parit, agar keong berkumpul lalu dimusnahkan. Bila perlu, kawat di pintu air dipasang atau ajir dari kayu untuk meletakkan kelompok telur keong. Bisa juga dipasang perangkap berupa daun pepaya atau kulit pisang agar keong berkumpul, sehingga mudah diambil untuk dimusnahkan.
Untuk mengatasi hama tikus yang telah menjadi momok menakutkan bagi petani perlu perlakuan khusus, seperti pola tanam padi teratur dan waktu tanam serempak. Hama ini cepat sekali berkembang, walau rantai makanannya terputus karena bisa dengan cepat menyesuaikan dengan jenis makanan lain serta menyerang tanaman sejak masa tanam sampai digudangkan.
Tikus yang kelaparan akan memakan hampir semua benda yang dijumpainya. Tetapi bila makanan cukup tersedia, tikus akan memilih makanan yang disukai, seperti padi bunting, jagung, kacang tanah, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, tebu dan kelapa. Hama tikus terdiri dari beberapa jenis, antara lain Rattus argentiventer, Rattus-rattus diardi, Rattus exultant dan Rattus norvegikus. Dua jenis pertama merusak tanaman padi dan dua jenis lagi merusak hasil pertanian di gudang penyimpanan.
Dijelaskan, satu ekor tikus betina dapat melahirkan sampai 4-6 kali per tahun dengan melahirkan sampai 60 ekor anak atau total 1.200 ekor turunan per tahun. Umur tikus di laboratorium dapat mencapai 3-4 tahun, sedangkan di lapangan tikus sangat sukar mencapai umur satu tahun. Untuk mengendalikan serangan hama binatang pengerat itu, harus dilakukan secara massal, sebut Iskandar. Dicontohkan, memusnahkan sarang tikus pada tempat hidup utama seperti tanggul irigasi, jalan sawah, rel kereta api, lahan kosong atau kebun kosong dekat persawahan. Atau juga dibuat Brandang Kecil (rumah tikus) 1 unit untuk luas 10 ha. Kemudian pada waktu gropyokan (Gotong royong massal) pengejaran tikus berandang tersebut dibakar.
Khusus masa persemaian benih padi, dilindungi dengan pemasangan pagar plastik yang dipasang bubu perangkap. Pada masa pertumbuhan vegetatif, pembersihan lingkungan sawah yang menjadi tempat tinggal tikus (Sanitasi) dan juga perlu mewaspadai hutan kecil di lingkungan sawah, termasuk rumput, alang-alang sawah yang bisa menjadi sarang tikus. Bisa juga dengan mekanis, berupa penggunaan rodentisida (racun tikus) bila populasi masih tinggi. Pada masa generatif (berbunga dan berbuah), jika ditemukan pemotongan malai padi dan berserakan di bawah, berarti ada serangan tikus. Maka lakukanlah pengendalian secara fumigasi (pengasapan) asap belerang pada setiap sarang tikus aktif.
Untuk mengurangi serangan tikus, baik periode vegetatif atau generatif dengan sistim tanam jurong, serangan tikus dapat dihindari karena sifat tikus tidak suka daerah yang terang, seperti di pinggir pematang. Dia mengungkapkan berdasarkan hasil pengkajian BPTP, sistem tanam jurong dapat mengurangi serangan hama tikus, bahkan tidak terserang sama sekali.
Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang betul-betul terencana. Untuk mengurangi gangguan penyakit blas, misalnya perlu dipilih varietas yang tahan dan sistem tanam multi varietas atau mozaik varietas agar penyebaran dalam waktu singkat dapat dikurangi seperti varietas Celebes, Silugonggo. Sedangkan untuk hama wereng dan beberapa penyakit tertentu, perlu menggunakan varietas yang tahan seperti varietas Cisadane, Cisokan, Ciliwung, dll. Untuk mengurangi serangan hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring agar keberadaan hama sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dilakukan pengendalian dengan aplikasi pestisida.
Setiap kali manusia memunculkan teknologi baru untuk mengatasi hama, selalu muncul hama yang lebih tahan. Sudah ratusan jenis dan varietas padi yang dilepas kaum peneliti ke lapangan, selalu saja muncul strain baru hama yang menyerang padi. Pestisida yang disemprotkan pada akhirnya hanya membuat lingkungan tercemar, sementara hama baru tetap muncul.
Sebagai contoh penyakit HDB, ini merupakan salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri (HDB). Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae oryzae (XOO) tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua. HDB termasuk penyakit bakteri yang tersebar luas dan dapat menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit dapat berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basa, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Semakin meluas tanaman varietas unggul IR64 yang tahan terhadap wereng batang cokelat malah meningkatkan HDB. IR64 ternyata rentan terhadap serangan HDB karena patogen penyebab HDB memiliki banyak strain terus meningkat. Kerusakan yang ditimbulkan terus meningkat dari waktu ke waktu akibat pergeseran patotipe XOO di lapangan. Pergeseran tersebut menyebabkan upaya penanggulangannya menjadi sulit. Pasalnya strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menonjol ketika mendapatkan inang yang cocok. Selain itu, terdapat satu strain XOO yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain itu.
Saat ini penggunaan varietas tahan hama masih menjadi antisipasi terbaik dalam penanggulangan HDB. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan pergeseran strain di lapangan. Mengetahui strain yang dominan akan mempermudah rekomendasi varietas yang ditanam di suatu daerah. Jadi, untuk saat ini yang lebih banyak dipakai untuk menanggulangi hama adalah penggunaan varietas tahan dinilai masih cukup efektif, efisien, aman, dan murah, serta tidak mencemari lingkungan.
Intensitas serangan HDB tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas padi dan virulensi patogen. Tetapi, juga dipengaruhi oleh cara bercocok tanam petani termasuk pemupukan. Pemupukan N dengan dosis tinggi dan berlebihan bisa merusak ketahanan varietas, oleh karena itu sebaiknya dihindari.

Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan. Penyakit HDB secara efektif dikendalikan dengan menanam varietas yang tahan seperti Code dan Angke dengan menggunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus menerus, misalnya 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan.
Saat ini penelitian tentang strain XOO sudah menggunakan teknologi molekular melalui pengamatan DNA. Pengamatan hingga ke tingkat gen tidak hanya mengidentifikasi patogen secara lebih cermat, juga mampu mengamati interaksi di antara strain-strain hama tersebut.

Penelitian secara molekuler mampu menunjukkan hasil pengamatan tingkat virulensi patogen HDB. Di sisi lain juga bisa membantu program pemuliaan padi, terutama dalam pembuatan marka molekuler untuk gen ketahanan pada tanaman, sehingga bisa dipilih varietas mana yang bisa tahan terhadap patogen HDB yang selama ini sulit di cegah.
Penggunaan teknik molekuler juga bisa memantau setiap pergeseran strain di lapangan akan bisa dipantau lebih akurat dan lebih cepat. Hasil penelitian dapat membantu menjelaskan gen dan mekanik yang berperan dalam mengatur ketahanan yang bersifat host resistance dan now host resistance. Sehingga, usulan jenis varietas mana yang bisa dilepas di lapangan pun bisa tepat dan dalam waktu uji yang lebih singkat.
Semoga saja dengan teknologi tersebut kegagalan panen yang sering menghantui petani bisa dihindari. Pestisida untuk membasmi hama pun bisa ditekan penggunaannya dan lagi mencemari lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/611/
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=83032
http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=225&id_kolom=1
http://m.serambinews.com/news/serangan-hama-di-aceh-tinggi

umi salamah
Posted on 14th October, 2009

PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT PADI
OLEH :
UMI SALAMAH / IKM B’07 / 100710244 / 78

Serangan hama dan penyakit padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Gejala serangan hama dan penyakit penting seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), blas dan sebagainya, harus diwaspadai agar dapat dilakukan pengendalian secara tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat dan bahkan kehilangan hasil panen.
Dicontohkan, pengendalian hama keong mas yang menyerang padi muda, 0-30 hari setelah tanam dengan kemampuan melahap satu rumpun padi dalam waktu 15 menit. Lahan sawah saat padi berumur 0-25 hari dikeringkan, saluran air dibersihkan seperti kangkung dan lainnya agar tidak menjadi makanan berkembangnya keong mas.
Pada sistim tanam legowo/jurong baik 1:2 atau 1:4, setiap selang 4-5 jurong, perlu dibuat parit, agar keong berkumpul lalu dimusnahkan. Bila perlu, kawat di pintu air dipasang atau ajir dari kayu untuk meletakkan kelompok telur keong. Bisa juga dipasang perangkap berupa daun pepaya atau kulit pisang agar keong berkumpul, sehingga mudah diambil untuk dimusnahkan.
Untuk mengatasi hama tikus yang telah menjadi momok menakutkan bagi petani perlu perlakuan khusus, seperti pola tanam padi teratur dan waktu tanam serempak. Hama ini cepat sekali berkembang, walau rantai makanannya terputus karena bisa dengan cepat menyesuaikan dengan jenis makanan lain serta menyerang tanaman sejak masa tanam sampai digudangkan.
Tikus yang kelaparan akan memakan hampir semua benda yang dijumpainya. Tetapi bila makanan cukup tersedia, tikus akan memilih makanan yang disukai, seperti padi bunting, jagung, kacang tanah, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, tebu dan kelapa. Hama tikus terdiri dari beberapa jenis, antara lain Rattus argentiventer, Rattus-rattus diardi, Rattus exultant dan Rattus norvegikus. Dua jenis pertama merusak tanaman padi dan dua jenis lagi merusak hasil pertanian di gudang penyimpanan.
Dijelaskan, satu ekor tikus betina dapat melahirkan sampai 4-6 kali per tahun dengan melahirkan sampai 60 ekor anak atau total 1.200 ekor turunan per tahun. Umur tikus di laboratorium dapat mencapai 3-4 tahun, sedangkan di lapangan tikus sangat sukar mencapai umur satu tahun. Untuk mengendalikan serangan hama binatang pengerat itu, harus dilakukan secara massal, sebut Iskandar. Dicontohkan, memusnahkan sarang tikus pada tempat hidup utama seperti tanggul irigasi, jalan sawah, rel kereta api, lahan kosong atau kebun kosong dekat persawahan. Atau juga dibuat Brandang Kecil (rumah tikus) 1 unit untuk luas 10 ha. Kemudian pada waktu gropyokan (Gotong royong massal) pengejaran tikus berandang tersebut dibakar.
Khusus masa persemaian benih padi, dilindungi dengan pemasangan pagar plastik yang dipasang bubu perangkap. Pada masa pertumbuhan vegetatif, pembersihan lingkungan sawah yang menjadi tempat tinggal tikus (Sanitasi) dan juga perlu mewaspadai hutan kecil di lingkungan sawah, termasuk rumput, alang-alang sawah yang bisa menjadi sarang tikus. Bisa juga dengan mekanis, berupa penggunaan rodentisida (racun tikus) bila populasi masih tinggi. Pada masa generatif (berbunga dan berbuah), jika ditemukan pemotongan malai padi dan berserakan di bawah, berarti ada serangan tikus. Maka lakukanlah pengendalian secara fumigasi (pengasapan) asap belerang pada setiap sarang tikus aktif.
Untuk mengurangi serangan tikus, baik periode vegetatif atau generatif dengan sistim tanam jurong, serangan tikus dapat dihindari karena sifat tikus tidak suka daerah yang terang, seperti di pinggir pematang. Dia mengungkapkan berdasarkan hasil pengkajian BPTP, sistem tanam jurong dapat mengurangi serangan hama tikus, bahkan tidak terserang sama sekali.
Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang betul-betul terencana. Untuk mengurangi gangguan penyakit blas, misalnya perlu dipilih varietas yang tahan dan sistem tanam multi varietas atau mozaik varietas agar penyebaran dalam waktu singkat dapat dikurangi seperti varietas Celebes, Silugonggo. Sedangkan untuk hama wereng dan beberapa penyakit tertentu, perlu menggunakan varietas yang tahan seperti varietas Cisadane, Cisokan, Ciliwung, dll. Untuk mengurangi serangan hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring agar keberadaan hama sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dilakukan pengendalian dengan aplikasi pestisida.
Setiap kali manusia memunculkan teknologi baru untuk mengatasi hama, selalu muncul hama yang lebih tahan. Sudah ratusan jenis dan varietas padi yang dilepas kaum peneliti ke lapangan, selalu saja muncul strain baru hama yang menyerang padi. Pestisida yang disemprotkan pada akhirnya hanya membuat lingkungan tercemar, sementara hama baru tetap muncul.
Sebagai contoh penyakit HDB, ini merupakan salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri (HDB). Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae oryzae (XOO) tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua. HDB termasuk penyakit bakteri yang tersebar luas dan dapat menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit dapat berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basa, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Semakin meluas tanaman varietas unggul IR64 yang tahan terhadap wereng batang cokelat malah meningkatkan HDB. IR64 ternyata rentan terhadap serangan HDB karena patogen penyebab HDB memiliki banyak strain terus meningkat. Kerusakan yang ditimbulkan terus meningkat dari waktu ke waktu akibat pergeseran patotipe XOO di lapangan. Pergeseran tersebut menyebabkan upaya penanggulangannya menjadi sulit. Pasalnya strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menonjol ketika mendapatkan inang yang cocok. Selain itu, terdapat satu strain XOO yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain itu.
Saat ini penggunaan varietas tahan hama masih menjadi antisipasi terbaik dalam penanggulangan HDB. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan pergeseran strain di lapangan. Mengetahui strain yang dominan akan mempermudah rekomendasi varietas yang ditanam di suatu daerah. Jadi, untuk saat ini yang lebih banyak dipakai untuk menanggulangi hama adalah penggunaan varietas tahan dinilai masih cukup efektif, efisien, aman, dan murah, serta tidak mencemari lingkungan.
Intensitas serangan HDB tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas padi dan virulensi patogen. Tetapi, juga dipengaruhi oleh cara bercocok tanam petani termasuk pemupukan. Pemupukan N dengan dosis tinggi dan berlebihan bisa merusak ketahanan varietas, oleh karena itu sebaiknya dihindari.

Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan. Penyakit HDB secara efektif dikendalikan dengan menanam varietas yang tahan seperti Code dan Angke dengan menggunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus menerus, misalnya 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan.
Saat ini penelitian tentang strain XOO sudah menggunakan teknologi molekular melalui pengamatan DNA. Pengamatan hingga ke tingkat gen tidak hanya mengidentifikasi patogen secara lebih cermat, juga mampu mengamati interaksi di antara strain-strain hama tersebut.

Penelitian secara molekuler mampu menunjukkan hasil pengamatan tingkat virulensi patogen HDB. Di sisi lain juga bisa membantu program pemuliaan padi, terutama dalam pembuatan marka molekuler untuk gen ketahanan pada tanaman, sehingga bisa dipilih varietas mana yang bisa tahan terhadap patogen HDB yang selama ini sulit di cegah.
Penggunaan teknik molekuler juga bisa memantau setiap pergeseran strain di lapangan akan bisa dipantau lebih akurat dan lebih cepat. Hasil penelitian dapat membantu menjelaskan gen dan mekanik yang berperan dalam mengatur ketahanan yang bersifat host resistance dan now host resistance. Sehingga, usulan jenis varietas mana yang bisa dilepas di lapangan pun bisa tepat dan dalam waktu uji yang lebih singkat.
Semoga saja dengan teknologi tersebut kegagalan panen yang sering menghantui petani bisa dihindari. Pestisida untuk membasmi hama pun bisa ditekan penggunaannya dan tidak lagi mencemari lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/611/
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=83032
http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=225&id_kolom=1
http://m.serambinews.com/news/serangan-hama-di-aceh-tinggi

ika ahmaliah zanani
Posted on 14th October, 2009

Pelestarian Plasma Nutfah

Menurut Kamus Pertanian Umum yang diterbitkan PT. Penebar Swadaya, definisi dari plasma nutfah adalah substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit agar tercipta suatu jenis unggul atau kultivar baru. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dimaklumi bahwa Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat besar, dengan jenis yang beraneka ragam pula. Luasnya wilayah penyebaran spesies, menyebabkan spesies-spesies tersebut menjadikan keanekaragaman plasma nutfah cukup tinggi.

Keberadaan beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah akibat perubahan besar dalam penggunaan sumber daya hayati dan penggunaan lahan sebagai habitatnya. Semua ini disebabkan oleh perbuatan manusia. Kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan pun turut berperan dalam proses kepunahan plasma nutfah tersebut. Dengan semakin banyaknya permasalahan konservasi plasma nutfah -terutama di daerah-daerah rawan erosi plasma nutfah- dirasakan penanganan permasalahan tersebut tidak mungkin hanya ditangani Komisi Nasional Plasma Nutfah. Untuk itu, dirasakan perlu membentuk Komisi Daerah Plasma Nutfah agar masalah-masalah yang timbul dapat cepat ditangani. Apalagi dengan diberlakukannya UU No. 20 tahun 1999 tentang otonomi daerah serta memperhatikan minat daerah yang besar, maka pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah sangat diperlukan.

Pada peringatan 30 tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tanggal 3-8 Agustus 2004 telah dilakukan penanaman Manggis di kompleks pelestarian plasma nutfah Kampus Penelitian Pertanian oleh Menteri Pertanian. Pada kesempatan ini Kepala Badan Litbang Pertanian menanam Ylang Ylang, Walikota Bogor menanam Kayu Manis dan Wakil Ketua DPR menanam pohon Pala. Kegiatan tersebut merupakan penanaman perdana pelestarian plasma nutfah yang menurut rencana di Kompleks tersebut akan ditanam plasma nutfah dari seluruh Indonesia. Diharapkan Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor di masa mendatang akan menjadi acuan dan sumber plasma nutfah dari seluruh Indonesia.

Menurut para pakar lingkungan hidup, menyinggung masalah plasma nutfah yang tidak kalah penting adalah perangkat hukum tentang pengamanan hayati. Para pakar sangat mendukung upaya penyusunan peraturan hukum tentang pengamanan hayati, sesuai komitmen Protokol Cartagena 2000. Namun rancangan undang-undang (RUU) tersebut hendaknya diintegrasikan dan selaras dengan UU tentang pelestarian plasma nutfah.

Rancangan naskah UU tentang pelestarian plasma nutfah saat ini juga sedang disusun, sebagai antisipasi atas kerusakan plasma nutfah. Alangkah baiknya jika topik keamanan hayati produk transgenik diintegrasikan dengan pelestarian plasma nutfah. Pembentukan UU yang terpisah dari UU yang sudah ada dan mengatur tentang keamanan hayati dari produk transgenik bakal menambah kompleksitas pengaturannya. Apalagi proses pembentukan sebuah UU selalu memakan waktu lama, padahal semakin banyak permasalahan di lapangan yang perlu segera ditangani.

Peraturan pemerintah yang fleksibel dan terkait dengan kelembagaan perlu segera lahir sehingga operasional tidak terkotak-kotak pada berbagai induk organisasi yang berbeda, padahal materi yang diatur adalah sama. Sudah lebih kurang dua tahun terakhir isu bioteknologi mencuat dalam perdebatan pro dan kontra di kalangan akademisi, media masa, maupun masyarakat pengguna. Marilah kita memandang ke depan dengan hati nurani yang tulus untuk menyusun rambu-rambu pengamanan hayati. Ini demi kesejahteraan rakyat Indonesia, serta demi kelangsungan daya dukung kehidupan alam Indonesia sebagai modal dasar pembangunan semesta.

Acuan peraturan dalam bentuk Undang-undang yang mengatur pengamanan sumberdaya hayati dan produknya dari hari ke hari semakin diperlukan. Kesiapan daerah menangani pengelolaan plasma nutfah perlu juga terus ditingkatkan, agar kerusakan ekosistem dan lingkungan tidak semakin parah.

Koleksi plasma nutfah diperlukan untuk memudahkan pengujian dengan teknologi tertentu. Sehingga, penyimpanan benih dan pelestarian tanaman tidak hanya untuk persediaan penanaman musim berikutnya, namun bersifat jangka panjang. Perubahan iklim, berkurangnya areal hutan dan aktivitas permukiman menyebabkan erosi keragaman hayati asli Indonesia. Sedangkan upaya melestarikannya belum optimal, termasuk minimnya dana yang sering menjadi batu sandungan.

Indonesia adalah negeri yang disebut-sebut sebagai pemilik megabiodiversity karena tingginya keragaman hayati. Tidak kurang dari 28 ribu jenis tumbuhan, 350 ribu jenis binatang, dan 10 ribu jenis mikroba ada di bumi nusantara ini. Dari jumlah itu, sekitar 6.000 jenis tumbuhan, 1.000 jenis hewan, dan 100 jenis mikroba sudah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Demikian Netty Widyastuti, peneliti pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dikatakan, sebagian besar spesies tersebut endemik di Indonesia atau pun hanya di kepulauan tertentu. Sering kali organisme tersebut hanya bisa hidup pada habitat yang sangat spesifik dengan penyebaran yang secara geografis terbatas. Karena itu, ekosistem tropis dataran rendah Indonesia yang khas itu menjadi perhatian khusus dunia.

Celakanya berbagai faktor telah menyebabkan menipisnya keragaman hayati tersebut. Padahal, menurut Netty, keragaman hayati secara langsung memberi sumbangan besar bagi pengaturan iklim dan pola cuaca global maupun regional. Untuk itu, pelestarian keragaman hayati khususnya plasma nutfah sebagai sumber keragaman sudah sangat mendesak.

Koleksi plasma nutfah diperlukan untuk memudahkan pengujian dengan teknologi tertentu. Sehingga, penyimpanan benih dan pelestarian tanaman tidak hanya untuk persediaan penanaman musim berikutnya, namun bersifat jangka panjang. Koleksi plasma nutfah membantu melestarikan plasma nutfah asli Indonesia.

Namun seperti dikatakan Kusumo Diwyanto, Ketua Komisi Plasma Nutfah Nasional, selama ini dana telah membatasi kegiatan pengoleksian plasma nutfah. Karena itu, Kusumo mengharapkan semua pihak mau mendukung upaya pelestarian tersebut.

Selain itu, informasi tentang perkembangan flora dan fauna dan pentingnya pelestarian perlu disosialisasikan secara luas. Dengan demikian, setiap orang merasa memiliki sehingga turut membantu pelestarian minimal mencegah kerusakan yang masih tersisa.

Penebangan liar, kebakaran, dan perambahan hutan menyebabkan musnahnya bank plasma nutfah terbesar tersebut.

Selain itu, Netty menjelaskan, bioteknologi menawarkan potensi yang hebat untuk perbaikan produksi tanaman, ternak, dan bioproses.

Para peneliti dapat mengembangkan pendekatan baru untuk mendapatkan varietas tanaman dengan daya produksi dan kualitas nutrisi tinggi. Bioteknologi juga berjasa dalam mengatasi penyakit dan cekaman lingkungan baik biotik maupun abiotik.

Penggunaan Bioteknologi

Netty menjelaskan, bioteknologi berpeluang untuk memberi terobosan dalam upaya pelestarian plasma nutfah.

Perkembangan dan kemajuan bioteknologi telah dimanfaatkan untuk pelestarian secara ex-situ dengan menempatkan biji-bijian di ruang pendingin. Atau juga penyimpanan bagian vegetatif dengan alat khusus, yakni dengan mengatur lingkungan dan penggunaan bahan-bahan kimia tertentu.

Di Indonesia metode itu belum banyak digunakan dan masih dalam taraf pengembangan.

Salah satu yang sudah memanfaatkan teknologi itu adalah Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika Pertanian (Balitbiogen), Badan Litbang Pertanian.

Menurut Dr Sutrisno, Kepala Balitbiogen, lembaganya menggunakan teknik kriopreservasi untuk melestarikan plasma nutfah berbagai tanaman. Saat ini terdapat sekitar 10 ribu nomor plasma nutfah yang dilestarikan di laboratorium milik Balitbiogen.

Penggunaan bioteknologi untuk pelestarian plasma nutfah menurut Sutrisno, dapat di bagi menjadi dua bagian. Yakni kelompok yang diperbanyak melalui biji seperti kakao, kelapa, rambutan, mangga dan alpukat. Kelompok kedua diperbanyak secara vegetatif baik yang berbiji, hanya berbiji saat tertentu, biji heterzigot, maupun tanaman umbi-umbian seperti ubi kayu, talas, pisang, dan kentang.

Sedangkan lama penyimpanan dengan teknik in vitro dibagi menjadi penyimpanan jangka pendek atau menengah dengan tujuan menekan pertumbuhan untuk sementara.

Hal itu dilakukan dengan menggunakan suhu rendah, penambahan zat pengatur tumbuh, penambahan minyak mineral, dan pemiskinan media.

Sedangkan pada penyimpanan jangka panjang, aktivitas metabolisme betul-betul dihentikan, namun sel-selnya tidak mati. Misalnya dengan menggunakan nitrogen cair (N2) pada suhu minus 186 derajat Celsius atau dikenal dengan teknologi Cryopreservation, kata Sutrisno.

Dengan pemanfaatan teknologi tersebut Netty berharap plasma nutfah berbagai tanaman asli Indonesia bisa terselamatkan. Jika tidak tanaman seperti durian, rambutan, salak, duku, manggis, mangga, kecapi, sawo, jeruk pontianak, jeruk garut, jeruk bali, jeruk medan, serta berbagai varietas pisang akan tinggal sejarah.

Seiring dengan itu hak paten dari hasil-hasil penelitian bioteknologi di Indonesia perlu menjadi perhatian. Selain untuk mencegah pencurian plasma nutfah oleh pihak asing, juga untuk lebih menggairahkan para peneliti Indonesia. Sehingga, hasil jerih payah para pemulia (breeder) Indonesia mendapat penghargaan yang layak.

DAFTAR PUSTAKA :
http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=163&id_kolom=1
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/127/

OLEH :
IKA AHMALIAH ZANANI
100710002
IKM A 2007

Ika Kurnia Putri
Posted on 14th October, 2009

Pengkajian Potensi Satwa Liar Sebagai Komoditas Ternak Baru

Pengembangan komoditas baru tentu harus disesuaikan faktor-faktor fisiologi, biofisik dan sosial ekonomi yang merupakan sumber keunggulan wilayah (Simatupang et al. 2004). Dalam judul ini, penulis memilih hewan rusa sebagai satwa liar yang dijadikan untuk pembahasan. Rusa merupakan salah satu alternatif sebagai hewan yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan statusnya mengingat ketersediaannya yang meluas hampir di setiap pulau di Indonesia dan rendahnya kandungan lemak dalam venison (dagingnya) serta keunggulan lain berupa hasil ikutan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Rusa timor (Cervus timorensis) sebagai hewan endemik Indonesia yang beriklim tropis ternyata mampu bertahan hidup di daerah dengan empat musim. Hewan ini juga memiliki beberapa keunggulan sebagai hewan ternak, antara lain memiliki adaptasi yang tinggi, dan tingkat pengembangbiakan yang baik. Produk dagingnya memiliki keunggulan, yaitu kandungan lemak dan kandungan kolesterol yang lebih rendah daripada daging sapi. Mengingat berbagai keungggulannya itu, maka perlu dilakukan usaha penangkaran rusa timor sekaligus melakukan penelitian untuk menemukan koefisien teknis bagi Rusa Timor untuk kepentingan konservasi, dan dalam bentuk usaha komersial.
Selama belum ada usaha-usaha budidaya selama ini pula kelangsungan hidup rusa semata-mata hanya tergantung pada kebaikan alam (on forest potensials). Tidak mustahil akan menjadi fauna yang langka seiring dengan eksploitasi hutan yang tidak terkendali, apalagi pada tahun 2002 sekitar 7000 ekor rusa atau setara 524.5 ton, diburu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dikonsumsi dagingnya secara tidak terkendali.
Untuk mengatasi kondisi tersebut dan memenuhi permintaan masyarakat akan daging rusa yang terus meningkat, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan populasi rusa dengan menerapkan metode-metode pembudidayaan yang baru. Pada tahun 90-an Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Peternakan melakukan upaya-upaya tersebut, diantaranya dengan melakukan penangkaran rusa.
Penangkaran rusa bersifat melestarikan jenis rusa dari kepunahan, menyelamatkan plasma nuftah specific rusa sambar sekaligus sebagai awal domestikasi untuk dapat membudidayakan dan dimanfaatkan seperti ternak lainnya. Bahkan dibeberapa Negara ternak rusa sudah menjadi industry yang kuat sebagai komoditi ekspor mereka.
Karekteristik Rusa
Rusa sambar (Cervus unicolor brookei) termasuk golongan ruminansia yang lain, yaitu mempunyai ketajaman pendengaran, penciuman, kecepatan melompat dan berlari yang cukup tinggi serta tidak punya kantong empedu.
Pada umur dewasa berbadan besar, tungkai panjang, hidung gelap, dan suara melengking nyaring. Umumnya berwarna hitam kecoklatan dan cenderung coklat ke abu-abuan atau kemerahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Bobot rusa sambar dewasa (10-12 bulan), betina 40-50 kg dan jantan 50-60 kg, panjang badan berkisar 1,5 m dan tinggi badan 1,4-1,6 m, bobot lahir 3-4 kg dan disapih umur 6 bulan.
Dewasa kelamin umur 1-1,5 tahun. Perkawinan alami secara umum berkisar antara bulan Juli sampai September masa bunting(35 hari atau 7-8 bulan dan calving interval 10-12 bulan).
Pada saat akan melahirkan rusa selalu mencari tempat yang aman seperti semak-semak. Anak akan bersembunyi selama 1-2 minggu kemudian bergabung dengan kelompok. Anak yang lahir dengan mendapat perlakuan yang baik akan menunjukkan sifat yang lebih jinak.
Sementara itu, pertumbuhan tanduk hanya pada rusa jantan, tumbuh pada umur 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan akan bercabang pada tumbuh tanduk berikutnya. Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah tumbuh selanjutnya akan tumbuh kembali.
Rusa betina yang sedang bunting tua kadang-kadang bersifat agresif dan bisa membahayakan demikian juga  rusa jantan bersifat agresif pada saat tanduk mulai mengeras dan musim kawin.
Sebenarnya pengembangan rusa di Indonesia sampai saat ini masih menimbulkan perdebatan. Kelompok pertama menganggap rusa termasuk golongan satwa langka yang harus dilindungi, sehingga apabila dilakukan pengembangan secara komersial akan menyebabkan kepunahan. Kelompok kedua, justru menganggap rusa merupakan hewan dengan nilai ekonomi yang tinggi, karena Rusa mempunyai potensi produksi daging yang tinggi dengan sifat yang empuk, rasa spesifik, rendah kalori dan rendah kolesterol. Konsumennya masyarakat tingkat menengah keatas selain daging, maka kulitnya, tanduk (antler), tulang velwet (tanduk muda) bermanfaat; semuanya bisa dipasarkan di dalam negeri maupun ekspor (tidak diatur CITES). Hidup rusa suka berkelompok, mudah beradaptasi dalam segala lingkungan / iklim dan cepat berkembang biak serta efisien dalam penggunaan pakan untuk diubah sebagai daging; lebih efisien daripada ternak sapi. Sehingga perlu dikembangkan secara komersial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kelompok ini berdalih, pengembangan secara komersial justru dapat menjaga rusa dari kepunahan. Selain itu, hal ini juga merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan, dimana peternakan juga sangat menentukan dalam mewujudkan ketahanan pangan tersebut, sehingga ketahanan pangan tidak lagi diartikan sebagai ketersediaan dan kecukupan pangan, tetapi kecukupan protein hewani dan pangan lainnya sesuai dengan Pola Pangan Harapan (PPH).
Untuk memperoleh solusi optimal dalam pengembangan budidaya rusa, perlu dipertimbangkan daya dukung dan tetap memperhatikan pengembangan untuk tujuan konservasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan monetasi untuk menjadi pertimbangan dalam optimasi pengembangan komersialisasi rusa timor dengan penerapan Multiple Objective Goal Programming (MOGP). Untuk memaksimumkan social benefit untuk memperoleh societal optimum, digunakan program linear yaitu Linear Goal Programming (LGP). LGP bermanfaat dalam melakukan analisis penentuan syarat-syarat pemakaian sumber daya untuk mencapai beberapa tujuan dengan sumber daya yang tersedia. Selain itu juga dapat memberikan penyelesaian yang memuaskan menurut masukan yang brmacam-macam, tingkat aspirasi dan struktur prioritas.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang doktor di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia yang menggunakan pendekatan yang bersifat kuantitatif dengan mengevaluasi empat tempat penangkaran rusa timor di wilayah Blitar yaitu di Taman Wisata Jatilangger, Kebun Binatang Surabaya, Taman Safari II Prigen Pasuruan, dan Taman Wisata Coban Rondo di wilayah Batu Malang. Metode pengambilan data dalam penelitian adalah observasi pada penangkar rusa timor di Jatim dengan penentuan lokasi berdasarkan proposive sampling dari hasil survei pendahuluan pada bulan Desember 2005-Januari 2006.

Dari hasil penelitiannya menyimpulkan, pengembangan rusa timor dalam bentuk usaha komersial mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dari hasil penjualan rangga muda, rangga tua, penjualan hewan hidup, penjualan tiket rekreasi, serta mampu menurunkan biaya untuk membayar tenaga kerja dan biaya untuk perawatan rusa selama kurun waktu 18 masa panen. Besarnya keuntungan yang diperoleh rata-rata mencapai 100% dari sasaran yang diharapkan.
Pengembangan rusa untuk menghindari kepunahan di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan tujuan ganda, yaitu gabungan usaha konservasi dan usaha komersial. Tidak hanya keuntungan finansial saja, tetapi keuntungan ekonomi yang lebih luas, seperti penyerapan tenaga kerja bagi bagi masyarakat, rekreasi, dan keuntungan yang diperoleh dari penjualan beberapa komoditi rusa yang cukup potensial.
Pengembangan usaha ini, perlu kebijakan berupa:
(a)perluasan areal
(b)sosialisasi pada masyarakat untuk pengembangan rusa dengan tujuan ganda
(c)penetapan peraturan pemerintah mengenai budidaya rusa
(d) publikasi mengenai tempat wisata, dan sebagainya.
Disarankan, infrastruktur hukum sebagai kendala utama harus segera mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah, untuk mengubah opini masyarakat tentang usaha budidaya rusa di Indonesia. Sebagai aset komoditi peternakan yang dapat beredar secara terbuka, diperlukan juga penataan pasar dalam mengembangkan usaha budidaya rusa timor secara komersial.
Sebelum keluarnya PP No.7/1999 rusa tidak termasuk jenis yang dilindungi, malinkan sebagai satwa bekeru, penangkapannya diatur melalui undang-undang perburuan dan bebas sebagai satwa piaraan. Masyarakat bisa memeliharanya dalam bentuk ranching (penggembalaan atau peternakan ekstensif) atau ½ insentif (pengandangan dam poddock-poddock). Kita bisa menghitung berapa ratus ribu populasi rusa di Indonesia dan apabila 10% saja yang dimanfaatkan, betapa besar daging rusa tersedia mengisi kekurangan daging sapi yang harus kita impor.
Peternakan rusa mempunyai masa depan yang baik, karena daging rusa mempunyai potensi besar untuk dipasarkan, baik didalam maupun diluar negeri dengan spesifikasi kadar lemak rendah, rasa khas dan dipercaya dapat meningkatkan kesehatan, stamina, selain itu juga dari hasil rusa ini berupa tanduk, testis, ekor dan lain-lain dapat digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional China dan punya potensi dipasarkan secara lokal bahkan ekspor.
Melihat potensi tersebut, ternak rusa mempunyai prospek yang menarik untuk dikembangkan sebagai komoditi unggulan baru di wilayah Kalimantan, Jawa, dan Papua pada bidang peternakan kemudian bisa diusahakan ke arah agribisnis dan agroindustri bahkan sangat dimungkinkan untuk dikembangkan ke arah pengembangan agrowisata sebagai salah satu obyek wisata baru.

Daftar Pustaka
Riady, Mathur. 2005. Jurnal Upaya Pengembangan Industri Peternakan
Nasional Bebas Dari Penyakit-Penyakit Strategis. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian.

http://id.kaltimtourism.com/?penangkaran-rusa-penajam-paser-utara.php(diakses Oktober 2009)
http://www.iwf.or.id/Perlunya%20ada%20SKB%20KP.htm(diakses Oktober 2009)
http://peternakan.kaltimprov.go.id/disnak.php?module=detailberita&id=76(diakses Oktober 2009)

http://silviahanum.multiply.com/journal/item/24/Membudidayakan_Rusa_Timor(diakses Oktober 2009)

http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=penelitian/hasilcari&status=buka&id_haslit=HP/004.05/TOE/p(diakses September 2009)

Ika Kurnia Putri
100710118
IKM B 2007

Setiawan Widyatmoko
Posted on 14th October, 2009

PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL BIBIT HIBRIDA (VUH)
Sebagai salah satu komponen produksi yang handal, varietas unggul berperan dalam peningkatan produksi pangan nasional. Kini sekitar 80% lahan pertanian di Indonesia ditanami varietas unggul dan dari tahun ketahun mengalami peningkatan dan pengembangan beberapa Varietas Unggul yang baru yang sudah dikembangkan di beberapa negara selain Indonesia seperti Cina, India dan Vietnam.
Pembangunan pertanian tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan dan memantapkan ketahanan pangan nasional, baik secara kuantitas maupun kualitas (mutu dan gizi), dan meningkatkan kesejahteraan petani. Oleh sebab itu, sasaran utama perbaikan sistem produksi padi ditujukan untuk: 1) meningkatkan produksi padi agar mampu mendukung ketahanan pangan, terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal panen, dan 2) meningkatkan nilai tambah ekonomi sistem produksi, terutama melalui peningkatan efisiensi produksi, perbaikan mutu produk, diversifikasi, pengembangan sistem, dan usaha agribisnis padi.

 Teknologi benih hibrida sebenarnya bukan hal baru bagi petani dan pembina pertanian Indonesia, tetapi dalam hal hibrida padi, nampaknya diperlukan pemahaman yang lebih spesifik. Di Indonesia benih hibrida telah lama ditanam petani pada komoditas jagung, cabe, tomat, mentimun, melon, semangka, dan bahkan kelapa sawit dan kelapa. Benih hibrida pertama kali diperkenalkan kepada petani di Amerika Serikat pada tahun 1920 untuk tanaman jagung. Sejak tahun 1950-an seluruh tanaman jagung di Amerika Serikat telah menggunakan benih hibrida dan produktivitasnya meningkat 100% mencapai 9-11 t/ha biji kering. Di Indonesia benih jagung hibrida mula-mula diperkenalkan kepada petani oleh Peneliti Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang pada tahun 1984.
Selama ini perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Kalangan  swasta pun sudah banyak yang melirik dalam pengembangan hingga pemasaran  jenis padi yang satu ini. Namun masih ada sebagian masyarakat yang bersikap hati-hati dalam menggunakan padi ini. Dan hal ini tidak selamanya salah karena pada kenyataannya ada beberapa kendala pada pengembangan padi  hibrida.
Kedala itu  antara lain adalah keterbatasan benih, kerentanan terhadap hama dan penyakit utama, dan ekpresi heterosis yang tidak stabil. Varietas padi hibrida yang telah dilepas pada umumnya (tentu saja tidak semuanya-red) rentan terhadap hama-penyakit utama seperti wereng coklat,  HDB, dan virus tungro.
Macam Varietas Unggul Hibrida
Menurut hirarkinya benih unggul padi dibedakan menjadi empat kelas yakni benih penjenis (breeder seeds/ BS), benih dasar (foundation seeds/ FS), benih pokok (stock seeds /SS), serta benih sebar (extension seeds/ ES). Benih unggul ini diproduksi oleh instansi atau badan yang ditetapkan atau ditunjuk oleh Badan Benih Nasional dan mempunyai sertifikat. Benih Penjenis adalah benih yang menjadi sumber benih dasar. Sementara itu benih dasar adalah merupakan keturunan pertama dari benih penjenis. Benih Pokok adalah benih keturunan dari benih penjenis atau benih dasar. Jenis-jenis benih tersebut diberi label berbeda-beda. BS dilabeli kuning, FS dilabeli putih, SS dilabeli ungu, ES dilabeli biru. Terdapat satu lagi padi bersertifikat yakni label merah jambu yang merupakan keturunan pertama dari ES, namun setelah tahun 2007 benih dengan label ini sudah tidak diproduksi lagi karena produktivitas yang rendah.
Oleh karena itu diperlukan kunci sukses pengembangan padi hibrida agar produktivitasnya selalu meningkat yakni :
1) varietas yang cocok
2) benih yang bermutu
3) teknologi budidaya yang tepat
4) wilayah yang sesuai
5) respon petani.
Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut. tentunya kelima kunci sukses tersebut bisa dihasilkan hanya dengan melakukan perakitan sendiri dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional atau setidaknya menggabungkan galur tetua introduksi dengan galur nasional.
Namun demikian dengan semakin gencarnya pemerintah menggalakan penggunaan padi varietas bibit unggul hibrida mengancam eksistensi varietas padi local.
Beberapa Varietas Unggul yang sudah dilepas
Sampai saat ini sudah dilepas lebih dari 20 varietas padi hibrida, diantaranya adalah Intani 1, Intani 2, Rokan, Maro, Miki 1, Miki 2, Miki 3, Longping Pusaka1, Longping Pusaka 2, Hibrindo R-1, Hibrindo R-2, Batang Samo, Hipa 3, Hipa 4, PP1, Adirasa, Mapan 4, Manis 5, Bernas Super, dan Bernas Prima.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan benih Hibrida :
1. Sinkronisasi saat berbunga.
Kedua tetuaharus berbunga pada saat yang sama. Oleh karenaitu, tanggal-tanggal penanaman dari kedua tetua seringkali harus bervariasi.
2. Penyerbukan tambahan.
Untuk membantu penyebaran serbuk sari, tali atau kayu seringkali digunakan untuk meningkatkan penyebaran serbuk sari dari galur tetua jantan ke tetua betina.
3. Aplikasi Giberellic Acid (GA).
GA meningkatkan munculnya malai tetua betina dari pelepah daun – yang meningkatkan kemampuan tetua betina untuk menerima serbuk sari dari tetua jantan.
4. Rouging (seleksi).
Tujuannya untuk memperoleh hasil benih murni. Rouging dilakukan sejak fase vegetatif sampai menjelang panen. Periode paling kritis adalah sejak mulai keluar bunga sampai fase tetua jantan tidak menghasilkan serbuk sari lagi.

Bagaimana Padi Jenis Hibrida dikembangkan

1. Diperlukan adanya galur mandul jantan (GMJ atau Galur A atau CMS line) – varietas padi tanpa serbuk sari yang hidup dan dianggap berfungsi sebagai tetua betina dan menerima serbuk sari dari tetua jantan untuk menghasilkan benih hibrida.
2. Diperlukan adanya galur pelestari (Galur B atau maintainer line) – varietas atau galur yang berfungsi untuk memperbanyak atau melestarikan keberadaan GMJ.
3. Diperlukan adanya tetua jantan (restorer) – varietas padi dengan fungsi reproduksi normal yang dianggap sebagai tetua jantan untuk menyediakan serbuk sari bagi tetua betina di lahan produksi benih yang sama. Tali (atas) atau kayu seringkali digunakan untuk meningkatkan penyebaran serbuk sari di lahan produksi benih hibrida.
4. Benih padi hibrida dapat dihasilkan (diproduksi) dengan cara menyilangkan antara GMJ dengan restorer yang terpilih secara alami di lapangan.

Dalam pengembangan Varietas Unggul pasti dibarengi dengan adanya hama penyakit menyerang padi varietas unggul tersebut, memang pada saat ini sudah banyak padi varietas unggul yang dikembangkan tahan terhadap hama penyakit dan sebagainya. Namun ada juga yang tidak tahan terhadap hama penyakit. Untuk mencegah hama penyakit pada tanaman padi dapat dilakukan hal-hal dibawah ini baik secara tradisional atau moderen :
Pengendalian gulma: penyiangan dilakukan dengan alat landak atau osrok. Penyiangan I, dilakukan sedini mungkin, maksimal pada umur 18 HST (sebelum pemupukan II). Penyiangan II, dilakukan jika masih banyak gulma yang tumbuh, dilakukan pada umur 30 HST (sebelum pemupukan III). Penyiangan III, dilakukan jika masih banyak gulma yang tumbuh, dilakukan pada umur 30 HST (sebelum pemupukan III). Rumput gulma yang dicabut dibenamkan ke dalam tanah (untuk menambah bahan organik).
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT). Pengendalian HPT dilakukan secara periodik, dengan cara melakukan pengamatan tiap minggu, mulai dari persemaian hingga tanaman menjelang panen. Pada 35 hari sebelum menabur benih, dilakukan pengendalian hama tikus secara serempak. Upaya pencegahan dan pengendalian HPT dengan menggunakan pestisida hendaknya mengacu pada
konsep PHT. Hama yang perlu diwaspadai adalah: wereng coklat, penggerek batang, tikus dan walang sangit, sedangkan penyakit adalah tungro hawar daun bakteri blast. Menjelang panen perlu waspada terhadap serangan burung emprit, dikendalikan secara manual dengan jaring.
Harapan Indonesia untuk mencapai swasembada beras kini diperkuat oleh tersedianya padi verietas hibrida yang mulai diperkenalkan ke petani sejak dua tahun terakhir. Dengan menanam padi hibrida diharapkan peningkatan produksi beras nasional tidak memerlukan investasi untuk peluasan lahan sawah yang biayanya mahal dan sering menimbulkan konflik sosial maupun lingkungan. Pemerintah telah memfasilitasi pengembangan areal penanaman hibrida dengan pelepasan beberapa varietas hibrida baru, bantuan benih hibrida untuk petani, dan ijin impor benih padi hibrida dari luar negeri. Pengusaha benih padi juga telah mulai bergerak untuk menyediakan benih hibrida yang dijual dengan harga antara Rp 35.000/kg hingga Rp 50.000/kg.
Semoga harapan Indonesia untuk tidak lagi mengimpor beras dapat tercapai dengan adanya varietas unggul ini kalo bisa sebaliknya. Dan harapan Indonesia untuk swaswembada beras pada tahun 2009 ini dapat berjalan dengan baik dan petani Indonesia dapat lebih produktif lagi dalam meningkatkan hasil pangan untuk Negeri.
Nama : Setiawan Widyatmoko P
NIM : 100710087
Kelas : IKM A 2007
Daftar pustaka ;
http://www.litbang.deptan.go.id
http://agroindonesia.co.id
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid…
http://www.tanindo.com/abdi4/hal1501.htm

Ayu Kusuma Andriani
Posted on 15th October, 2009

AYU KUSUMA ANDRIANI
100710141 / 71
IKM-A 2007
TUGAS EKOLOGI PANGAN DAN GIZI 2009

Pengembangan Teknologi Penanganan
Hama dan Penyakit Padi

Serangan hama dan penyakit padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Gejala serangan hama dan penyakit padi penting seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), penyakit blas dan sebagainya harus selalu diwaspadai agar dapat dilakukan pengendalian secara tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat bahkan kehilangan hasil panen, karena pengendalian hama merupakan salah satu faktor keberhasilan usaha tani. Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang harus terencana.
Pada akhirnya mulai dipikirkan suatu konsep pengendalian hama yang efektif dan aman bagi lingkungan, yaitu dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT) yang dikenal dengan istilah integrated pest management. Di Indonesia program PHT ini menjadi program nasional sejak tahun 1979. Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), PHT adalah sistem pengendalian hama yang berhubungan dengan dinamika populasi dan lingkungan yang berkaitan dengan spesies hama serta memanfaatkan perpaduan semua teknik dan metode yang memungkinkan secara kompatibel menahan populasi hama dibawah tingkat yang menyebabkan kerusakan ekonomi.
Sedangkan definisi PHT menurut The Council on Enviromental Quality (1972) adalah suatu pendekatan yang menggunakan kombinasi dari berbagai teknik untuk mengendalikan berbagai macam hama potensial yang dapat mengancam hasil tanaman budidaya. Di dalamnya meliputi ketergantungan maksimal pada pengendalian populasi hama secara alami bersama dengan serangkaian teknik yang mendukungnya, yaitu cara bercocok tanam, penyakit spesifik, hama, varietas tanaman tahan hama, serangga mandul, senyawa-senyawa perangkap, cara menstimulasi pertumbuhan parasit atau penggunaan pestisida kimia jika diperlukan.
Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa PHT mengandung pengertian dan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
a. Pengendalian hama bukan berupaya membunuh habis populasi hama melainkan mengendalikan hingga populasi dibawah ambang ekonomi.
b. Tujuan dari pengendalian hama adalah mencapai kualitas dan kuantitas produksi tanpa mengganggu kelestarian lingkungan hidup.
c. Konsep dasar pengendalian hama dan penyakit tanaman adalah mengurangi sumber hama dan penyakit dengan memanipulasi ekosistem, mengintegrasikan cara-cara pemberantasan yang kompatibel serta menerapkan analisis ongkos dan keuntungan.
d. Penggunaan bahan kimia pestisida merupakan alternatif terakhir bila benar-benar dibutuhkan.
Berikut ini merupakan penggunaan teknik-teknik pengendalian hama dengan memadukan semua teknik pengendalian, yaitu :
1. Menggunakan varietas yang tahan atau toleran terhadap hama penyakit. Misalnya varietas padi Cartuna yang agak peka terhadap pyricularia (blas) dan lalat bibit.
2. Sistem budidaya yang memperhatikan siklus hidup hama seperti rotasi tanam yaitu pengaturan jadwal tanam secara bergilir dengan tujuan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit tanaman. Dengan begitu dapat menekan perkembangan hama dan penyakit tanaman.
3. Penggendalian cara biologis dengan menyebarkan atau mempertahankan kehidupan musuh alami dari hama. Salah satu caranya adalah menyebarkan predator-predator dilahan yang terdapat hama, misalnya predator hama tikus seperti ular sawah, elang, kucing yang disebarkan dilokasi yang ada tikusnya.
4. Pengendalian cara mekanik/fisik merupakan pengendalian hama dengan cara gropyokan (ditngkap, dibunuh, diburu dan dijerat hamanya), dan pemberian umpan. Gropyokan merupakan gerakan massal dalam pengendalian hama, yang melibatkan seluruh masyarakat mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan. Prinsip-prinsipnya adalah bertindak sedini mungkin sebelum ada serangan hama berat, harus dilakukan dengan gerakan massal, harus dilakukan dengan suasana yang menarik, dan dapat diorganisasikan oleh kelompok tani /brigade pengendalian hama dibawah bimbingan petugas.
5. Penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dan penggunaannya harus berdaya bunuh selektif dan aman bagi lingkungan. Karena penggunaan pestisida lebih banyak dampak negatifnya daripada dampak positifnya. Terutama dampak terhadap lingkungan dan gangguan kesehatan, oleh karena itu penggunaan pestsida ini digunakan sebagai alternatif terakhir dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman.

Selain upaya pengendalian hama ada juga upaya dalam pengendalian penyakit tanaman terutama penyakit padi. Padi (Oryza sativa) merupakan makanan pokok dari hampir seluruh penduduk di dunia. Indonesia berusaha miningkatkan produksi berasnya dengan cepat agar dapat berswasembada. Usaha ini terutama dilakukan dengan cara intensifikasi, antara lain dengan perakitan jenis-jenis baru, pemupukan dan sebagainya. Tapi usaha ini menjadi pemicu dalam masalah hama dan penyakit. Adapun penyakit padi yang timbul seperti:
1. Penyakit blas (pyricularia):
yaitu penyakit yang dapat timbul pada daun, batang, bunga, malai dan biji yang berbentuk bercak-bercak bewarna putih atau kelabu yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae Cav. Gejala blas yang khas adalah menjadi busuknya ujung tangkai malai yang dikenal dengan busuk leher (neck rot). Serangan ini dapat menimbulkan kerugian besar karena hampir semua biji pada malai itu hampa.
Cara pengendaliannya yaitu :
a. Perlu dipilih varietas yang tahan dan sistem tanam multi varietas atau mozaik varietas agar penyebaran dalam waktu singkat dapat dikurangi seperti varietas Celebes, Silugonggo.
b. Mengusahakan agar persemaian dan pertanaman padi memperoleh air yang cukup
c. Membakar jerami dari pertanaman yang sakit untuk mengurangi sumber infeksi.
d. Tidak memakai biji dari tempat yang terjangkit sebagai benih.
2. Penyakit HDB (hawar daun bakteri) :
Merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan dapat menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit dapat berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basah, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Penyebabnya adalah bakteri Xanthomonas campestris pv.oryzae. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan.
Penyakit HDB secara efektif dikendalikan dengan:
a. Menanam varietas yang tahan, seperti Code dan Angke dengan menggunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan hindari penggenangan yang terus menerus, misalnya 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan.
b.Bibit padi yang dipindah tidak dipotong ujung daunnya
c. Tidak mengairi persemaian terlalu dalam.
d. Pemupukan yang seimbang.
Agar ketersediaan pangan kita tetap ada dan stabil bahkan bisa berkembang maka perlu dilakukan upaya-upaya agar dapat mencapai peningkatan efisiensi produksi, produktivitas padi dan kelestarian lingkungan sehingga kelestarian pangan kita dapat terhindar dari serangan hama maupun penyakit tanaman terutama penyakit padi karena padi merupakan makanan pokok hampir seluruh penduduk dipejuru dunia dan dalam rangka mendukung program peningkatan produksi beras nasional (P2BN), informasi ini diharapkan bisa membantu para pengamat hama dan penyakit tanaman pangan, penyuluh maupun petani untuk menambah pengetahuan, sehingga apabila di lapangan ditemukan permasalahan tentang hama dan penyakit tanaman padi, segera dapat diantisipasi dan dilakukan upaya penanggulangannya/penanganannya.

Daftar Pustaka

Semangun,Haryono ,Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1993)

Kusnaedi, Pengendalian Hama Tanpa Pestisida (Jakarta: Penebar Swadaya , 2003)
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/611/

Sinta Kurniasari
Posted on 15th October, 2009

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI SEBAGAI
BAHAN BAKAR ALTERNATIF
Bahan bakar minyak secara bertahap akan diganti dengan bahan bakar gas (LPG), kedepan bagaimanapun bahan bakar fosil makin langka sehingga prediksi ekonomis tidak mungkin harga bahan bakar fosil bisa murah, Padahal dari pertanian kita cukup banyak energy yang belum termanfaatkan secara optimal dari sekam padi, jerami, tongkol jagung, batang kedelai dll yang merupakan residu hasil pertanian. Gabah atau padi dikenal dengan nama latin ORYZA SATIVA merupakan salah satu bahan makanan dari biji bijian tertua didunia yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia, dari gabah selain dihasilkan beras untuk konsumsi manusia juga didapat bekatul (dedak halus) untuk pakan ternak dan juga dedak kasar (sekam padi) pemanfaatannya belum optimal. Sekam sebagai limbah penggilingan padi jumlahnya mencapai 20-23% dari gabah. Jika produksi gabah kering giling (GKG) menurut press release Badan Statistik sekitar 54 juta ton, maka jumlah sekam yang dihasilkan lebih dari 10,8 juta ton. Secara theoritis l kg sekam mengandung kalori 3.000 kcal/kg dibanding dengan minyak tanah 9.000 kcal/kg. bayangkan dari 52 juta ton gabah produk nasional akan didapat sekam hamper 11 juta ton setara dengan lebih dari 3,5 juta ton minyak bumi, belum lagi energy dari tongkol jagung .
Permasalahannya adalah bagaimana energy tersebut dapat digunakan dengan aman, nyaman dan juga “bergengsi.” Salah satu methode pemanfaatannya yaitu dengan gasifikasi dimana biomas tersebut dengan pembakaran pyrolisis dikonversikan menjadi gas bakar yang lebih aman dan nyaman digunakan.
Biomass energy dapat dimanfaatkan melalui tiga methode:
1. Pembakaran (burning) ini adalah cara paling tua , dimana biomas (sekam) dll, dibakar untuk dimanfaatkan sebagai sumber panas.
2. Pengarangan dan pemadatan (carbonasi and briketing) biomass dibakar tertutup dengan oxygen terbatas sehingga menghasilkan arang biomass.
3. Pengegasan (Gasifikasi) biomas dibakar dengan oxygen terbatas (30% dari pembakaran) sehingga dihasilkan syngas H2 – CO – CH4 sebagai gas bakar.
Berdasar theory tersebut sebenarnya hampir semua sisa biomass dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy terbarukan, salah satu diantaranya yang cukup potensial adalah “SEKAM PADI” sebagai hasil samping industri beras yang ketersediaanya menyebar hampir di semua kawasan dengan nilai ekonomis yang sangat rendah.
Dua Type Kompor Gas Sekam:
1. Untuk Rumah Tangga.
Standart untuk keluarga kecil, kompor sekam dibuat dengan kapasitas 45 menit dengan isi sekam 1,5 kg dan dapat dinyalakan kembali dengan cepat dengan mengisi ulang sekam. Penggunaan kompor sekam cukup prospektif untuk skala rumah tangga pedesaan karena mudah mendapatkan sekam juga harganya kompornya relatif terjangkau.

Bahan dan pembuatan :
Material dibuat dari plat tebal 1.5 s//d 3 mm tergantung dari tersedianya material dan biaya , dengan umur teknis diperhitungkan lebih dari 5 tahun (2 -3 jam/hari), unit metal blower dengan daya 15 atau 20 watt untuk penghembus oxygen dengan pengatur putaran, biaya pembuatan sangat tergantung dari tersedianya dan pemilihan bahan dalam kisaran Rp 150.000 s/d Rp 300.000,-

Pengoperasian:
1. Masukkan daun kering secukupnya di bagian bawah kompor.
2. Masukkan sekam kering sebanyak 1 kg.
3. Nyalakan api untuk membakar daun kering di bagian bawah kompor.
4. Jika sekam sudah hampir habis terbakar maka dapat ditambahkan sekam lagi.
5. Sekam yang sudah terbakar menjadi abu bagian bawah dapat di dorong menggunakan
kawat besi atau kayu agar keluar dari tungku.

2. Untuk Industri.
Tegantung dari kebutuhan (besar panas dan waktu yang dibutuhkan), yang disesuaikan dengan penggunaannya. Unit ukuran 70 cm x 70 cm x 3 meter tinggi dengan bahan bakar sekam dipasang pada ketel air untuk industri gula. Unit ukuran 35 cm diameter tinggi 195 cm sedang dipasang untuk diesel gasifikasi untuk pompanisasi pertanian. Dan banyak kegunaan lainnya misalnya untuk pengering padi, pengering/ open tembakau dll.
Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya:
(a) sebagai bahan baku industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural
(b) sebagai bahan baku industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO2 ) untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan industri bata merah,
(c) sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Untuk lebih memudahkan diversifikasi penggunaan sekam, maka sekam perlu dipadatkan menjadi bentuk yang lebih sederhana, praktis dan tidak voluminous, yaitu arang sekam maupun briket arang sekam. Arang sekam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang tidak berasap dengan nilai kalori yang cukup tinggi. Briket arang sekam mempunyai manfaat yang lebih luas lagi yaitu di samping sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sebagai media tumbuh tanaman hortikultura.

PROSES PEMBUATAN ARANG SEKAM DAN BRIKET ARANG SEKAM :
1. Membuat bara api dengan kayu kering untuk membuat arang sekam.
2. Bara api ditutup dengan cerobong pembuat arang sekam.
3. Kemudian cerobong ditutup dengan sekam kering.
4. Arang sekam telah jadi dan siap digunakan untuk pembuatan briket arang sekam.
5. Cara membuat adonan briket arang sekam, dengan ditambahkan air dan perekat (tanah liat/ tepung kanji).
6. Setelah briket jadi selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari, dan siap digunakan.

GASIFIKASI SEKAM PADI
Sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik dengan sistem gasifikasi. Gas yang dihasilkan selain sebagai energy panas juga telah dikembangkan dengan melengkapi reactor dengan gas clean up sehingga dapat dimanfaatkan sebagai power energy, pada skala besar sekam padi digunakan sebagai pembangkit listrik (cogen system). Indonesia bisa menghemat penggunaan solar dengan memanfaatkan sekam sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). 6 kg sekam bisa diubah menjadi energi setara dengan satu liter solar. Indonesia telah membuat 10 unit peralatan gasifikasi yang mampu membakar sekam menjadi gas sebagai sumber energi bagi PLTD berdaya masing-masing 100 kilowatt. Potensi sekam di Indonesia jika dimanfaatkan sebagai PLTD setara dengan 2,1 juta kiloliter solar atau senilai Rp3,5 triliun per tahun.
Analisa ekonomis.
Secara sederhana dapat di ilustrasikan sbb:
- 1 liter minyak tanah bersubsidi Rp 2.500,- untuk 7.000 k kalori.
- 1 kg LPG Rp 6.250,- untuk 9.000 k kalori.
- 1 kg sekam Rp 50,- untuk 3.000 k kalori.
Pada saat harga gas Rp 6250/kg dan minyak tanah Rp 2500/l, sekam merupakan bahan bakar termurah yaitu butuh biaya Rp 2 untuk mendidihkan 6 l air.
Dari ilustrasi diatas terlihat betapa murahnya energy biomass dengan bahan dasar sekam padi, apabila mau mengimplementasikannya.
Sinta Kurniasari / 100710011 (10)
IKM A 2007

DAFTAR PUSTAKA :
Bachrian P, Rina S.2008. Pemanfaatan Sekam Sebagi Bahan Bakar Kompor Sekam. http://index.php.htm. Diakses tanggal 11 Oktober 2009,pukul 09.29
Sigit Nugraha.2008. Pemanfaatan Sekam Sebagai Bahan Bakar Murah. http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp08008.pdf. Diakses tanggal 11 Oktober 2009, pukul 09.31.
Slamet Sulaiman.2008. Konversi Minyak Tanah Ke Biomass. http://energybiomasa.blogspot.com.html. Diakses tanggal 11 Oktober 2009, pukul 09.33
Slamet Sulaiman.2008. Energy Sekam Padi. http://energysekampadi.blogspot.com. Diakses tanggal 11 Oktober 2009, pukul 09:30

Sinta Kurniasari
Posted on 15th October, 2009

PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI SEBAGAI
BAHAN BAKAR ALTERNATIF
Bahan bakar minyak secara bertahap akan diganti dengan bahan bakar gas (LPG), kedepan bagaimanapun bahan bakar fosil makin langka sehingga prediksi ekonomis tidak mungkin harga bahan bakar fosil bisa murah, Padahal dari pertanian kita cukup banyak energy yang belum termanfaatkan secara optimal dari sekam padi, jerami, tongkol jagung, batang kedelai dll yang merupakan residu hasil pertanian. Gabah atau padi dikenal dengan nama latin ORYZA SATIVA merupakan salah satu bahan makanan dari biji bijian tertua didunia yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia, dari gabah selain dihasilkan beras untuk konsumsi manusia juga didapat bekatul (dedak halus) untuk pakan ternak dan juga dedak kasar (sekam padi) pemanfaatannya belum optimal. Sekam sebagai limbah penggilingan padi jumlahnya mencapai 20-23% dari gabah. Jika produksi gabah kering giling (GKG) menurut press release Badan Statistik sekitar 54 juta ton, maka jumlah sekam yang dihasilkan lebih dari 10,8 juta ton. Secara theoritis l kg sekam mengandung kalori 3.000 kcal/kg dibanding dengan minyak tanah 9.000 kcal/kg. bayangkan dari 52 juta ton gabah produk nasional akan didapat sekam hamper 11 juta ton setara dengan lebih dari 3,5 juta ton minyak bumi, belum lagi energy dari tongkol jagung .
Permasalahannya adalah bagaimana energy tersebut dapat digunakan dengan aman, nyaman dan juga “bergengsi.” Salah satu methode pemanfaatannya yaitu dengan gasifikasi dimana biomas tersebut dengan pembakaran pyrolisis dikonversikan menjadi gas bakar yang lebih aman dan nyaman digunakan.
Biomass energy dapat dimanfaatkan melalui tiga methode:
1. Pembakaran (burning) ini adalah cara paling tua , dimana biomas (sekam) dll, dibakar untuk dimanfaatkan sebagai sumber panas.
2. Pengarangan dan pemadatan (carbonasi and briketing) biomass dibakar tertutup dengan oxygen terbatas sehingga menghasilkan arang biomass.
3. Pengegasan (Gasifikasi) biomas dibakar dengan oxygen terbatas (30% dari pembakaran) sehingga dihasilkan syngas H2 – CO – CH4 sebagai gas bakar.
Berdasar theory tersebut sebenarnya hampir semua sisa biomass dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy terbarukan, salah satu diantaranya yang cukup potensial adalah “SEKAM PADI” sebagai hasil samping industri beras yang ketersediaanya menyebar hampir di semua kawasan dengan nilai ekonomis yang sangat rendah.
Dua Type Kompor Gas Sekam:
1. Untuk Rumah Tangga.
Standart untuk keluarga kecil, kompor sekam dibuat dengan kapasitas 45 menit dengan isi sekam 1,5 kg dan dapat dinyalakan kembali dengan cepat dengan mengisi ulang sekam. Penggunaan kompor sekam cukup prospektif untuk skala rumah tangga pedesaan karena mudah mendapatkan sekam juga harganya kompornya relatif terjangkau.

Bahan dan pembuatan :
Material dibuat dari plat tebal 1.5 s//d 3 mm tergantung dari tersedianya material dan biaya , dengan umur teknis diperhitungkan lebih dari 5 tahun (2 -3 jam/hari), unit metal blower dengan daya 15 atau 20 watt untuk penghembus oxygen dengan pengatur putaran, biaya pembuatan sangat tergantung dari tersedianya dan pemilihan bahan dalam kisaran Rp 150.000 s/d Rp 300.000,-

Pengoperasian:
1. Masukkan daun kering secukupnya di bagian bawah kompor.
2. Masukkan sekam kering sebanyak 1 kg.
3. Nyalakan api untuk membakar daun kering di bagian bawah kompor.
4. Jika sekam sudah hampir habis terbakar maka dapat ditambahkan sekam lagi.
5. Sekam yang sudah terbakar menjadi abu bagian bawah dapat di dorong menggunakan
kawat besi atau kayu agar keluar dari tungku.

2. Untuk Industri.
Tegantung dari kebutuhan (besar panas dan waktu yang dibutuhkan), yang disesuaikan dengan penggunaannya. Unit ukuran 70 cm x 70 cm x 3 meter tinggi dengan bahan bakar sekam dipasang pada ketel air untuk industri gula. Unit ukuran 35 cm diameter tinggi 195 cm sedang dipasang untuk diesel gasifikasi untuk pompanisasi pertanian. Dan banyak kegunaan lainnya misalnya untuk pengering padi, pengering/ open tembakau dll.
Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya:
(a) sebagai bahan baku industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural
(b) sebagai bahan baku industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO2 ) untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan industri bata merah,
(c) sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Untuk lebih memudahkan diversifikasi penggunaan sekam, maka sekam perlu dipadatkan menjadi bentuk yang lebih sederhana, praktis dan tidak voluminous, yaitu arang sekam maupun briket arang sekam. Arang sekam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang tidak berasap dengan nilai kalori yang cukup tinggi. Briket arang sekam mempunyai manfaat yang lebih luas lagi yaitu di samping sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sebagai media tumbuh tanaman hortikultura.

PROSES PEMBUATAN ARANG SEKAM DAN BRIKET ARANG SEKAM :
1. Membuat bara api dengan kayu kering untuk membuat arang sekam.
2. Bara api ditutup dengan cerobong pembuat arang sekam.
3. Kemudian cerobong ditutup dengan sekam kering.
4. Arang sekam telah jadi dan siap digunakan untuk pembuatan briket arang sekam.
5. Cara membuat adonan briket arang sekam, dengan ditambahkan air dan perekat (tanah liat/ tepung kanji).
6. Setelah briket jadi selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari, dan siap digunakan.

GASIFIKASI SEKAM PADI
Sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik dengan sistem gasifikasi. Gas yang dihasilkan selain sebagai energy panas juga telah dikembangkan dengan melengkapi reactor dengan gas clean up sehingga dapat dimanfaatkan sebagai power energy, pada skala besar sekam padi digunakan sebagai pembangkit listrik (cogen system). Indonesia bisa menghemat penggunaan solar dengan memanfaatkan sekam sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). 6 kg sekam bisa diubah menjadi energi setara dengan satu liter solar. Indonesia telah membuat 10 unit peralatan gasifikasi yang mampu membakar sekam menjadi gas sebagai sumber energi bagi PLTD berdaya masing-masing 100 kilowatt. Potensi sekam di Indonesia jika dimanfaatkan sebagai PLTD setara dengan 2,1 juta kiloliter solar atau senilai Rp3,5 triliun per tahun.
Analisa ekonomis.
Secara sederhana dapat di ilustrasikan sbb:
- 1 liter minyak tanah bersubsidi Rp 2.500,- untuk 7.000 k kalori.
- 1 kg LPG Rp 6.250,- untuk 9.000 k kalori.
- 1 kg sekam Rp 50,- untuk 3.000 k kalori.
Pada saat harga gas Rp 6250/kg dan minyak tanah Rp 2500/l, sekam merupakan bahan bakar termurah yaitu butuh biaya Rp 2 untuk mendidihkan 6 l air.
Dari ilustrasi diatas terlihat betapa murahnya energy biomass dengan bahan dasar sekam padi, apabila mau mengimplementasikannya.
Sinta Kurniasari / 100710011 (10)
IKM A 2007

DAFTAR PUSTAKA :
Bachrian P, Rina S.2008. Pemanfaatan Sekam Sebagi Bahan Bakar Kompor Sekam. http://index.php.htm. Diakses tanggal 11 Oktober 2009,pukul 09.29
Sigit Nugraha.2008. Pemanfaatan Sekam Sebagai Bahan Bakar Murah. http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp08008.pdf. Diakses tanggal 11 Oktober 2009, pukul 09.31
Slamet Sulaiman.2008. Konversi Minyak Tanah Ke Biomass. http://energybiomasa.blogspot.com.html. Diakses tanggal 11 Oktober 2009, pukul 09.33
Slamet Sulaiman.2008. Energy Sekam Padi. http://energysekampadi.blogspot.com. Diakses tanggal 11 Oktober 2009, pukul 09.30

Novie Poetri E
Posted on 16th October, 2009

Membudayakan Padi Organik
Grafik pengarusutamaan padi organik, baik yang dikembangkan dengan metode SRI (System of Rice Intensification), PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) maupun dengan metode lainnya, terus meningkat di Indonesia. Selain karena mampu mendongkrak produktivitas padi hingga 6-9 ton per hektare –bahkan dengan metode SRI ada yang mencapai produktivitas hingga 10-11 ton per hektare, padi organik juga lebih dihargai oleh pasar.
Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik. Pertanyaannya, kenapa budi daya padi organik yang menguntungkan dan prospektif tersebut lambat diadopsi petani?
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.
Hasil penelitian, baik melalui survei maupun diskusi terfokus dengan para pelaku padi organik di Jawa Barat, hampir di semua kabupaten/kota padi organik telah diujicobakan, bahkan di beberapa kabupaten (seperti Tasikmalaya dan Garut) telah mengarah ke pengembangan. Secara kelembagaan, telah pula dijajaki sertifikasi produk padi organik sebagai prasyarat untuk menembus pasar ekspor. Namun, terungkap pula bahwa di beberapa kabupaten pengembangan padi organik justru mengalami pelambatan dan penurunan. Bahkan, para petani yang telah mencoba dan menerapkan padi organik kembali ke metode konvensional. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.
Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.
Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial.
Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.
Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya).
Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian Faperta Unpad mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik (pada kasus SRI) ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.
Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi (baca: rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang. Intervensi tentu harus didudukkan dalam kerangka dinamika dan keberlanjutan, sehingga menghasilkan feed back berupa kedewasaan berpikir, keberdayaan, dan kemandirian.

Novie Poetri E
100710009 / 08
IKM A 2007

Sumber:

Iwan Setiawan. 2009. Membudayakan Padi Organik. http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/ekonomi-bisnis/6678-membudayakan-padi-organik.html. Diakses tanggal 13 Oktober 2009, pukul 15:00

Wayan Supadno. 2009. Budidaya Padi Organik dengan Teknologi Paket GSM. http://bangkittani.com/2009/09/news-test/. Diakses tanggal 13 Oktober 2009, pukul 15:19

ADISTI FITRIYANA ANDAR NUSA
Posted on 16th October, 2009

ADISTI FITRIYANA ANDAR NUSA
100710166 / 93
IKM A 2007

PENGEMBANGAN PADI ORGANIK

Padi organik adalah padi yang disahkan oleh sebuah badan independen, untuk ditanam dan diolah menurut standar ‘organik’ yang ditetapkan. Walau tidak ada satu definisi pun untuk “organik”, kebanyakan definisi memiliki elemen umum. Misalnya, “organik” sebagaimana digunakan pada kebanyakan tanaman sawah yang umumnya berarti bahwa:
1. Tidak ada pestisida dan pupuk dari bahan kimia sintetis atau buatan yang telah digunakan.
2. Kesuburan tanah dipelihara melalui proses “alami” seperti penanaman tumbuhan penutup dan/atau penggunaan pupuk kandang yang dikompos dan limbah tumbuhan.
3. Tanaman dirotasikan di sawah untuk menghindari penanaman tanaman yang sama dari tahun ke tahun di sawah yang sama.
4. Pergantian bentuk-bentuk bukan-kimia dari pengendalian hama digunakan untuk mengendalikan serangga, penyakit dan gulma – misalnya serangga yang bermanfaat untuk memangsa hama, jerami setengah busuk untuk menekan gulma, dan lain-lain.

Yang terlibat dalam penanaman padi organic antara lain :
1. Harus mengikuti standar ketat untuk produksi dan pengolahan yang ditetapkan oleh badan sertifikasi.
2. Harus membuat dan menyerahkan rencana tahunan yang memperlihatkan bahwa Anda akan memenuhi persyaratan produksi dan pengolahan dari badan sertifikasi.
3. Produk hanya dapat disertifikasi “organik” bila produk ditanam di lahan yang telah bebas dari zat-zat terlarang (misalnya, pestisida dan pupuk kimia buatan) selama tiga tahun sebelum sertifikasi.
4. Tantangan utama dari penanaman padi awalnya berkaitan dengan pengelolaan hara dan pengendalian gulma.
Contoh utama mencakup:
a. Nitrogen biasanya disediakan melalui penanaman leguminosa penutup tanah.
b. Jerami dan pupuk kandang merupakan sumber kalium yang baik. Kalium dapat berkadar tinggi dalam air irigasi.
c. Gulma dapat dikurangi melalui perataan lahan yang baik, pengelolaan air, pengolahan tanah, dan rotasi tanaman.
d. Sebagian besar serangga dan penyakit dapat dikendalikan melalui penggunaan varietas yang tepat.
5. Anda akan harus membuat catatan terperinci mengenai metode dan bahan yang digunakan dalam penanaman atau pengolahan produk organik untuk memperlihatkan bahwa standar telah dijaga dan diperiksa.
6. Anda biasanya akan membutuhkan pihak ketiga yang disetujui oleh badan sertifikasi nasional untuk mensertifikasi yang setiap tahun menginspeksi semuan metode dan bahan.

Grafik pengarusutamaan padi organik, baik yang dikembangkan dengan metode SRI (System of Rice Intensification), PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) maupun dengan metode lainnya, terus meningkat di Indonesia. Selain karena mampu mendongkrak produktivitas padi , padi organik terutama di pasar-pasar maju – biasanya menerima harga yang lebih tinggi. Produk organik juga sering dianggap sebagai memiliki manfaat kesehatan yang lebih besar.
Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani .
Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.
1. Secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.
2. Secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
3. Secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.
4. Secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya.
1. Peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal social
2. Perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.
3. Mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
4. Mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
5. Secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya)
6. Secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian Faperta Unpad mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik (pada kasus SRI) ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.
7. Secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi (baca: rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang. Intervensi tentu harus didudukkan dalam kerangka dinamika dan keberlanjutan, sehingga menghasilkan feed back berupa kedewasaan berpikir, keberdayaan, dan kemandirian.
Referensi :

http://www.knowledgebank.irri.org/regionalsites/indonesia/PDF%20files/padi%20organik.pdf
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=93040

DISUSUN OLEH :
ADISTI FITRIYANA ANDAR NUSA
100710166 / 93
IKM A 2007

RATRY SEFFY RAMIDHA
Posted on 16th October, 2009

RATRY SEFFY RAMIDHA
100710101 (59)
IKM A 2007
Pangan Tradisional, Pengembangan Sebagai Pangan Fungsional
Pangan tradisional adalah salah satu dari ribuan aneka pangan yang dapat dikembangkan sebagai pangan fungsional.Pangan tradisional meliputi berbagai jenis bahan pangan seperti; bahan asal tanaman (kacang-kacangan, sayuran hijau, umbi-umbian, buah-buahan), asal hewani (kerang, ikan, unggas), dan bahan rempah-rempah (jahe, kunyit, ketumbar, salam, sereh, beluntas, sirih, pinang, dll).
Sejarah peradaban bangsa di dunia ini menunjukkan bahwa berbagai upaya yang dilakukan berbagai bangsa untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya pada awalnya berbasis pada sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Demikian halnya dengan nenek moyang kita. Mereka telah mempunyai pengalaman panjang dan turun temurun dalam menyeleksi berbagai sumberdaya hayati disekitarnya, yang mereka anggap dan yakini bermanfaat bagi peningkatan kesehatan dan terapi penyakit. Pangan tradisional adalah makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu, dengan citarasa khas yang diterima oleh masyarakat tersebut. Bagi masyarakat Indonesia umumnya amat diyakini khasiat aneka pangan tradisional, seperti tempe, bawang putih, madu, kunyit, jahe, kencur, temu lawak, asam jawa, sambiloto, daun beluntas, daun salam, cincau, dan aneka herbal lainnya. Jamu sebagai racikan aneka herbal berkhasiat sangat popular di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Kemajuan iptek pangan dan farmasi yang pesat telah memberikan bukti ilmiah bahwa sebagian besar jenis-jenis pangan yang diyakini nenek moyang kita bermanfaat untuk peningkatan kesehatan dan pengobatan. Sebagain besar zat-zat bioaktif bahan-bahan tersebut juga telah dapat diidentifikasi dan diisolasi. Kemajuan ini mendorong lahirnya berbagai produk pangan fungsional dengan berbagai klaim khasiat dan manfaatnya. Di masa datang kita tentu tidak ingin menggantungkan diri pada produk pangan fungsional yang diproduksi di mancanegara tetapi bahan bakunya berasal dari kita, atau diproduksi dengan lisensi/paten dari mancanegara padahal komponen bioaktifnya berasal dari sumberdaya hayati pangan kita.
Dalam rangka pengembangan pangan tradisional dengan peningkatan mutu dan keamanannya harus tetap mengacu pada food habbit atau kebiasaan makan, dengan cara;
1. setiap masukan hal-hal baru akan mudah diterima bila ada kesamaan dengan ciri yang telah ada dan
2. atribut yang menjadi ciri pangan tradisional sebaiknya tetap dipertahankan.
Peningkatan mutu, keamanan, dan prestise pangan tradisional dapat dilakukan dengan upaya-upaya :
1. Pemilihan bahan mentah yang baik
2. Pemilihan bahan tambahan pangan yang baik
3. Penanganan yang lebih higienis, dan
4. Penyajian/penampilan yang lebih menarik.
Sejak tahun 1984, pemerintah Jepang telah menyusun suatu alternatif pengembangan pangan fungsional dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi-fungsi fisiologis, agar dapat melindungi tubuh dari penyakit, khususnya penyakit-penyakit degeneratif.
Satu fenomena lagi yang tidak lepas dari strategi pengembangan pangan tradisional Jepang adalah pemanfaatan akan keterikatan emosional masyarakat terhadap hasil karya anak bangsa. Rasa cinta dan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat Jepang terhadap produknya sendiri merupakan potensi pasar yang tidak perlu diragukan lagi. Lebih baiknya lagi adalah rasa kepercayaan dan cinta ini dijawab secara gigih oleh pihak produsen untuk menghasilkan produk-produk dengan mutu yang tinggi. Keterikatan inilah yang sulit ditembus oleh pelaku pasar luar negeri, sehingga secara tidak sadar menjadi proteksi alamiah yang sangat efektif.
Dapat kita simpulkan bahwa Indonesia juga mempunyai peluang yang sangat besar untuk mengembangkan produk pangan tradisional dengan berbasis pada sifat-sifat fungsionalnya. Mengapa kita tidak mulai dengan menggalang kerjasama terpadu, tuntas, dan terfokus, sehingga menghasilkan produk-produk yang secara nyata dapat meningkatkan prestise pangan tradisional kita yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan para petani.
Peluang tanaman rempah dan obat sebagai sumber pangan fungsional

Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga bergeser. Bahan pangan yang kini banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasanya menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh, seperti dapat menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah, serta meningkatkan penyerapan kalsium. Dasar pertimbangan konsumen di negara-negara maju dalam memilih bahan pangan bukan hanya bertumpu pada kandungan gizi serta kelezatannya, tetapi juga pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh. Fenomena tersebut melahirkan konsep pangan fungsional.

Menurut Badan POM, pangan fungsional ialah pangan yang secara alami maupun telah melalui proses mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Pangan fungsional dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen, serta tidak memberikan kontraindikasi dan efek samping terhadap metabolisme zat gizi lainnya jika digunakan dalam jumlah yang dianjurkan. Meskipun mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami.

Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan atau obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Bila fungsi obat terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional lebih bersifat pencegahan terhadap penyakit. Berbagai jenis pangan fungsional telah beredar di pasaran, mulai dari produk susu probiotik tradisional seperti yoghurt, kefir dan coumiss sampai produk susu rendah lemak siap dikonsumsi yang mengandung serat larut. Juga produk yang mengandung ekstrak serat yang bersifat larut yang berfungsi menurunkan kolesterol dan mencegah obesitas. Untuk minuman, telah tersedia berbagai minuman yang berkhasiat menyehatkan tubuh yang mengandung komponen aktif rempah-rempah seperti kunyit asam, minuman sari jahe, sari temu lawak, beras kencur, serbat, dan bandrek.

Contoh aneka pangan yaitu rempah-rempah diantaranya Pala,di kembangkan sebagai pangan fungsional.
Pala (Myristica fragrans Houtt)
Pala adalah salah satu jenis rempah yang banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Biji dan fuli pala (selaput biji) digunakan sebagai sumber rempah-rempah, sedangkan daging buah pala sering diolah menjadi berbagai produk pangan seperti manisan, sirup, jam, jeli, dan chutney. Minyak biji pala terutama digunakan dalam industri flavor (penambah cita rasa) makanan dan dalam jumlah kecil digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik.

Komposisi kimia daging buah pala per 100g adalah :
• Kalori (kal) : 42
• Protein (g) : 0,30
• Lemak (g) : 0,20
• Karbohidrat (g) : 10,90
• Kalsium (mg) : 32
• Fosfor (mg) : 24
• Besi (mg) : 1,50
• Vitamin A (IU) : 29,50
• Vitamin B (mg) : Sedikit
• Vitamin C (mg) : 22
• Air (g) : 88,10

Biji pala digunakan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit, seperti sakit gigi, disentri, encok, bau nafas tidak sedap, dan untuk menginduksi aborsi.

Pala juga dikenal berkhasiat sebagai obat penenang. Salah satu komponen penting dalam buah pala adalah miristicin yang mempunyai aktivitas sebagai hepatoprotektor.
Kandungan minyak atsiri pala sekitar 5-15% yang meliputi pinen, sabinen, kamfen, miristicin, elemisin, isoelemisin, eugenol, isoeugenol, metoksieugenol, safrol, dimerik polipropanoat, lignan, dan neolignan.

Eugenol merupakan komponen utama yang bersifat menghambat peroksidasi lemak dan meningkatkan aktivitas enzim seperti dismutase superoksidase, katalase, glutation peroksidase, glutamin transferase, dan glukose-6-fosfat dehidrogenase. Ekstrak kloroform pala juga mempunyai aktivitas antidiare dengan meningkatkan kandungan ion-ion Na dan Cl dalam jaringan, sedangkan ekstrak petroleum eter buah pala mempunyai aktivitas antibakteri terhadap beberapa spesies Shigela dan E. coli.

Prospek Tanaman Rempah Dan Obat Sebagai Sumber Pangan Fungsional

Tanaman rempah dan obat mempunyai potensi besar sebagai sumber makanan dan minuman fungsional seiring dengan makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. Keberadaan pangan fungsional tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat atau konsumen, tetapi juga bagi pemerintah maupun industri pangan. Bagi konsumen, pangan fungsional bermanfaat untuk mencegah penyakit, meningkatkan imunitas, memperlambat proses penuaan, serta meningkatkan penampilan fisik.

Bagi industri pangan, pangan fungsional akan memberikan kesempatan yang tidak terbatas untuk secara inovatif memformulasikan produk-produk yang mempunyai nilai tambah bagi masyarakat. Selanjutnya bagi pemerintah, adanya pangan fungsional akan menurunkan biaya untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat.

Ada tiga alasan yang mendukung peningkatan minat terhadap pangan fungsional, yaitu tingginya biaya pemeliharaan kesehatan, peraturan yang mendukung, dan penemuan-penemuan ilmiah.

Referensi :

http://www.kamusilmiah.com/pangan/pangan-tradisional-pengembangan-sebagai-pangan-fungsional

http://www.smallcrab.com/…/648-peluang-tanaman-rempah-dan-obat-sebagai-sumber-pangan-fungsional

Tugas Ekologi Pangan dan Gizi 2009
Posted on 16th October, 2009

Pengembangan Padi Organik

Grafik pengarusutamaan padi organik, baik yang dikembangkan dengan metode SRI (System of Rice Intensification), PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) maupun dengan metode lainnya, terus meningkat di Indonesia. Selain karena mampu mendongkrak produktivitas padi hingga 6-9 ton per hektare –bahkan dengan metode SRI ada yang mencapai produktivitas hingga 10-11 ton per hektare, padi organik juga lebih dihargai oleh pasar.
Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik. Pertanyaannya, kenapa budi daya padi organik yang menguntungkan dan prospektif tersebut lambat diadopsi petani?
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.Hasil penelitian penulis, baik melalui survei maupun diskusi terfokus dengan para pelaku padi organik di Jawa Barat, hampir di semua kabupaten/kota padi organik telah diujicobakan, bahkan di beberapa kabupaten (seperti Tasikmalaya dan Garut) telah mengarah ke pengembangan. Secara kelembagaan, telah pula dijajaki sertifikasi produk padi organik sebagai prasyarat untuk menembus pasar ekspor. Namun, terungkap pula bahwa di beberapa kabupaten pengembangan padi organik justru mengalami pelambatan dan penurunan. Bahkan, para petani yang telah mencoba dan menerapkan padi organik kembali ke metode konvensional. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.
Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.
Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan. Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial.
Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.
Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya).
Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian Faperta Unpad mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik (pada kasus SRI) ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.
Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi (baca: rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang. Intervensi tentu harus didudukkan dalam kerangka dinamika dan keberlanjutan, sehingga menghasilkan feed back berupa kedewasaan berpikir, keberdayaan, dan kemandirian.
Peluang pasar padi organik yang besar (terutama pasar domestik) sudah seharusnya dioptimalkan, agar tidak kembali direbut produk impor. Upaya membesut kuantitas padi organik harus pula disertai dengan komitmen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas dan kontinuitasnya, sehingga produk tersertifikasi sesuai standar pasar internasional. Jika kita mencermati klausul sertifikasi internasional, kualitas padi organik yang bagus itu hanya akan tercapai apabila semua hal yang terkait dengan padi organik terbebas dari kontaminan kimiawi, termasuk air untuk pengairannya. Artinya, itu akan tercipta jika padi organik sudah menjadi budaya para petani.
Oleh karena itu, pengembangan padi organik harus didudukkan dalam kerangka pemahaman yang berkelanjutan, baik menyangkut rekonstruksi teknologi budi daya, rekonstruksi modal sosial, pemberdayaan petani, ketahanan dan kedaulatan pangan, maupun rekonstruksi keseimbangan ekosistem. Pertanian ramah lingkungan harus menjadi keharusan, bukan pilihan (opsi). Ini penting dikedepankan mengingat sekarang ini pengembangan padi organik cenderung dilatarbelakangi iming-iming harga tinggi dan bantuan sarana produksi. Oleh karena itu, muncul kekhawatiran, jangan-jangan kalau harga padi organik turun hingga setara harga padi konvensional, para petani padi organik akan kembali ke metode konvensional. Faktanya, kekhawatiran itu benar-benar terjadi, termasuk di Jawa Barat.Membudayakan padi organik dalam tatanan mapan modernitas tentu bukan hal yang mudah. Itu hanya akan tercapai apabila kita mampu memutus rantai siklus, dengan memulai menanamkan pertanian ramah lingkungan (seperti padi organik) menjadi warna pola pikir (mind set) masyarakat, sehingga perlahan namun pasti masyarakat memahami persoalan, serta menumbuhkan kesadaran akan arti keberlanjutan dan masa depan (regenerasi). Itu lebih baik, daripada harus menanggung risiko dari efek homeostatis (penyesuaian) alam yang semakin membesar.

Daftar pustaka :
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id

Moch Candra Pratama
100710474/IKM A (99)

Tugas Ekologi Pangan dan Gizi
Posted on 16th October, 2009

Pengembangan Produk Olahan Ikan untuk Perbaikan Gizi

Krisis ekonomi berkelanjutan berdampak buruk bagi pengembangan sumber daya bangsa Indonesia. Unicef 1999 menyebutkan, tingkat inflasi di Indonesia mencapai 80 persen, pengangguran nyata 17 juta orang, dan tingkat kemiskinan 174 juta orang. Semua ini berdampak pada kekurangan pangan, yang menurunkan kualitas kesehatan dan status gizi masyarakat.
Hingga saat ini masalah gizi utama di Indonesia ada empat, yaitu kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, kekurangan yodium dan kurang vitamin A. KEP merupakan masalah gizi yang paling banyak terjadi, terbukti dengan ditemukannya anak balita (usia 1-5 tahun) penderita KEP berat (marasmus dan kwashiorkor).
Kwashiorkor disebabkan oleh kekurangan protein dan diderita bayi usia enam bulan dan anak balita. Sedang penyebab marasmus adalah kekurangan kalori dan energi atau gejala kekurangan pangan secara keseluruhan (kelaparan).
KEP ditemukan pada 35,4 persen anak balita (sekitar 8,5 juta jiwa) tahun 1995, dan meningkat menjadi 39,8 persen tahun 1998. Data Unicef tahun 1999 menunjukkan, 10-12 juta (50-69,7 persen) anak balita Indonesia (empat juta diantaranya di bawah satu tahun) berstatus gizi sangat buruk dan mengakibatkan kematian.
Masa balita adalah the point of no return . Perkembangan otak tidak bisa diperbaiki bila mereka kekurangan gizi pada masa ini. Pertumbuhan fisik dan intelektualitas anak akan terganggu. Hal ini menyebabkan mereka menjadi generasi yang hilang, dan negara kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas.

Degradasi kualitas
Situasi rawan gizi pada anak balita dan usia sekolah tidak boleh dipandang sebelah mata, karena menimbulkan akibat lanjutan yang kompleks dan berujung pada degradasi kualitas sumber daya. Hal itu karena pertama, masalah gizi yang parah pada usia muda akan menghambat laju tumbuh kembang keadaan fisik anak. KEP berkelanjutan membuat anak menderita marasmus-kwashiorkor. Kekurangan yodium dalam jangka panjang dapat menimbulkan gondok endemik, bahkan mengakibatkan kretinisme atau cebol.
Anemia zat gizi besi berkepanjangan menghambat pertumbuhan fisik, meningkatkan risiko penyakit infeksi, bahkan menghambat aktivitas kognitif dan daya tahan fisik. Akibat buruk lainnya adalah kekurangan gizi akan meningkatkan jumlah anak dengan tinggi badan terhambat, 10 cm lebih pendek dibandingkan anak sehat berusia sama.
Kedua, masalah gizi menghambat perkembangan kecerdasan. Kasus malnutrisi akan menyebabkan Indonesia kehilangan lebih dari 200 juta angka potensi IQ/tahun (30 persen dari peluang produktivitas).
Ketiga, penyakit degeneratif pada usia muda—yang bukan disebabkan oleh faktor genetika—dapat timbul akibat masalah gizi. Pada penderita gizi buruk, struktur sel-sel tubuh tidak tumbuh sempurna. Misalnya jumlah pertumbuhan sel otak tidak maksimum, terjadinya jantung koroner, serta rusaknya pankreas yang mengakibatkan insulin tidak berfungsi optimal sehingga anak menderita diabetes.
Keempat, malnutrisi berkelanjutan meningkatkan angka kematian anak. Setiap tahun diperkirakan tujuh persen anak balita Indonesia (sekitar 300.000 jiwa) meninggal. Ini berarti setiap dua menit terjadi kematian satu anak balita dan 170.000 anak (60 persen) di antaranya akibat gizi buruk.
Kasus gizi buruk pada anak-anak Indonesia harus pula dilihat dari perspektif keadilan dan hak azasi manusia (HAM). Ini dapat dirujuk pada UUD 1945, UU No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, Konvensi Hak Anak (telah diratifikasi dengan Keppres No 36/1990, serta UU No 7/1996 tentang Pangan.
Negara memiliki tiga kewajiban untuk memenuhi hak atas kecukupan pangan warga, yaitu menghormati, melindungi dan memenuhi segala kebutuhannya. Jadi penanggulangan gizi buruk melalui pengadaan dan ketersediaan pangan berkelanjutan merupakan tanggung jawab negara. Timbulnya kasus malnutrisi pada anak dapat dikatakan sebagai pengabaian anak oleh negara ataupun perlakuan salah pada anak oleh negara. Pada tingkat terjadinya maslah gizi yang parah, dapat dikatakan negara telah melakukan sikap kekerasan, mengarah pada terjadinya pelanggaran hak asasi masyarakat oleh negara.

Langkah preventif

Beberapa langkah preventif dalam menanggulangi masalah gizi dapat dilakukan pemerintah. Perama, menjamin ketersediaan pangan asal darat dan laut di seluruh negeri. Ketersediaan pangan masih menjadi masalah besar negeri ini. Tahun 1998, Indonesia telah menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia dengan mengimpor 5,8 juta ton beras (48 persen) produksi beras dunia. Karena itu program diversifikasi pangan perlu dioptimalkan kembali, untuk mengurangi ketergantungan pada beras.
Gerakan makan ikan mendesak dibudayakan lagi, terutama untuk memenuhi kecukupan gizi anak balita, Ikan, dengan kandungan protein berkisar antara 20-35 persen, berpotensi tinggi menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial serta mutu daya cernanya yang setara dengan telur.
Kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap dan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh omega 3 (DHA, docosahexaenoic acid, C20 H30O2) yang kurang dimiliki oleh produk daratan (hewani dan nabati), merupakan keunggulan produk kelautan. Budaya makan ikan yang tinggi dalam masyarakat Jepang telah membuktikan terjadinya peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak-anak negara itu.
Adanya kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara maritim (luas laut 5,8 juta km2), menjanjikan potensi pembangunan ekonomi yang luar biasa. Kekayaan laut Indonesia, ternyata baru sekitar 58,5 persen dari potensi lestari ikan laut (6,18 juta ton per tahun) yang dimanfaatkan saat ini, sehingga optimalisasi pemanfataan sumber daya kelautan masih jauh dari harapan.
Tingkat konsumsi ikan per kapita di Indonesia tahun 1997 adalah 18kg/kapita/tahun dan diharapkan menjadi 21,8 kg/kapita/tahun pada tahun 2003. Rendahnya tingkat konsumsi ikan per kapita per tahun ini menunjukkan masih rendahnya budaya makan ikan dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang (110 kg), Korea Selatan (85 kg), Amerika Serikat (80 kg), Singapura (80 kg), Hongkong (85 kg), Malaysia (45 kg), Thailand (35 kg), Philipina (24 kg). Penyebabnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi ikan, ketrampilan mengolah hasil perikanan, selain terbatasnya teknologi penangkapan ikan nelayan.
Kedua, meningkatkan daya beli masyarakat. Secara umum masyarakat Indonesia telah mampu mengonsumsi makanan yang secara kuantitatif mencukupi. Namun, dari segi kualitatif, masih banyak yang belum mampu mencukupi kebutuhan gizi minimumnya.
Ketiga, meningkatkan mutu pendidikan gizi dan kesehatan dalam masyarakat. Hal ini dirasakan penting karena walaupun langkah pertama dan kedua berhasil dicapai, bila tidak disertai dengan peningkatan pengetahuan gizi dan kesehatan masyarakat, timbulnya kasus balita gizi buruk tetap berpeluang terjadi. Hal ini terbukti dengan adanya 30 persen kasus gizi buruk di Indonesia akibat rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan.
Disadari atau tidak, hilangnya suatu generasi telah terjadi di negeri ini. Maka apabila kondisi ini tidak segera diatasi, generasi mendatang akan menjadi generasi yang berkualitas inferior dibandingkan negara-negara lain. Berdasarkan indeks sumber daya manusia (Human Development Index/HDI) dari UNDP, di tahun 2000 ini peringkat SDM Indonesia berada diurutan 109 dari 174 negara, terendah di antara negara-negara Asia.
Peringkat Indonesia di tahun 2000 itu menunjukkan penurunan bila dibandingkan dengan tahun 1998, saat itu SDM Indonesia menduduki peringkat 96. Sementara Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Singapura masing-masing berada pada peringkat 77, 67, 56, 25 dan 22 pada tahun 200 itu. Ini artinya Indonesia menjadi bangsa paling terpuruk di ASEAN saat memasuki AFTA 2003. Pengabaian segala upaya pengentasan masalah gizi buruk, akan menghancurkan masalah bangsa.

http://anekalaut.blogspot.com/2009/03/ikan-untuk-perbaikan-kualitas-anak.html

Moch Candra Pratama
100710474
IKM A 07 (99)

Hafidha Prayusnita
Posted on 16th October, 2009

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADI

Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, lahan sawah beririgasi masih tetap menjadi andalan bagi produksi padi nasional. Program intensifikasi yang dicanangkan sejak sekitar tiga dekade yang lalu, pada awalnya telah mampu meningkatkan produktivitas dan produksi padi secara nyata. Tetapi, sejak dekade terakhir, produktivitas padi cenderung melandai dan bahkan ada yang menurun di beberapa lokasi.
Berdasarkan pengalaman dari program peningkatan produksi padi, petani diharapkan sudah mengenal komponen teknologi produksi padi mulai dari varietas unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, sampai penanganan panen dan pascapanen. Petani dapat menentukan atau memilih kombinasi teknologi yang akan digunakan, tergantung pada potensi lahan dan kemampuan petani atau kondisi setempat. Kombinasi komponen teknologi yang digunakan pada lokasi tertentu dapat berbeda dengan lokasi lainnya, karena beragamnya kondisi lingkungan pertanaman padi. Setiap teknologi atau kombinasi teknologi yang sedang dikembangkan pada suatu lokasi dapat berubah sejalan dengan perkembangan ilmu dan pengalaman petani di lokasi setempat
Hama merupakan hewan yang mengganggu atau merusak tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Hama dapat merusak tanaman secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan atau serangan hama dapat terjadi sejak benih, pembibitan, pemanenan, hingga di gudang penyimpanan. Gangguan dan serangan itu dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hama yang menyerang tanaman ada beraneka ragam, misalnya wereng, gangsir, tikus, ulat tanah, lalat buah, walang sangit, dan kutu. Selain itu, tanaman juga dapat terserang berbagai macam penyakit. Penyakit tanaman dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan alga.
Teknologi pengendalian hama dengan mengandalkan pestisida, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi masalah hama tanaman. Bahkan penggunaan pestisida bisa berdampak buruk bagi manusia, jasad bukan sasaran dan lingkungan hidup. Kenyataan tersebut menggugah kesadaran akan kebutuhan pengendalian yang baru, yang dapat mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida. Pendekatan pengendalian baru yang dikembangkan ialah pengendalian hama terpadu (PHT).
Konsepsi PHT semula diartikan secara terbatas sebagai kombinasi pengendalian hama secara hayati dan pengendalian hama secara kimiawi menggunakan pestisida. Tetapi teknik pengendalian kemudian dikembangkan dengan memadukan semua metode pengendalian hama yang dikenal. Termasuk didalamnya pengendalian secara fisik, pengendalian mekanik, pengendalian secara bercocok tanam, pengendalian hayati, pengendalian kimiawi dan pengendalian hama lainnya. Dengan cara ini, diharapkan ketergantungan petani terhadap pestisida dapat dikurangi.
Sifat dasar pengendalian hama terpadu berbeda dengan pengendalian hama secara konvensional yang saat ini masih banyak dipraktekkan. Dalam PHT, tujuan utama bukanlah pemusnahan, pembasmian atau pemberantasan hama. Melainkan berupa pengendalian populasi hama agar tetap berada di bawah aras yang tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi, melainkan pembatasan (containment). Program PHT mengakui bahwa ada suatu jenjang toleransi manusia terhadap populasi hama, atau terhadap kerusakan yang disebabkan oleh hama. Dalam keadaan tertentu, adanya individu serangga atau binatang kemungkinan berguna bagi manusia. Pandangan yang menyatakan bahwa setiap individu yang ada di lapangan harus diberantas, tidak sesuai dengan prinsip PHT.
Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan semua metode atau teknik pengendalian yang dikenal. PHT tidak bergantung pada satu cara pengendalian tertentu, seperti memfokuskan penggunaan pestisida saja, atau penanaman varietas tahan hama saja. Melainkan semua teknik pengendalian sedapat mungkin dikombinasikan secara terpadu, dalam suatu sistem kesatuan pengelolaan. Disamping sifat dasar yang telah dikemukakan, PHT harus dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi. Dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi mahluk berguna, hewan, dan manusia, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain : (1). memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut, (2). mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik, dan (3). penggunaan pestisida secara selektif. Strategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir. Pestisida digunakan, jika teknik pengendalian yang lain dianggap tidak mampu mengendalikan serangan hama.
Solusi pengendalian hama jangka panjang dibutuhkan untuk mengembalikan keseimbangan alam di lahan pertanian, perkebunan dan lingkungan alami. Ini tentu saja memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga PHT juga meliputi solusi jangka pendek, termasuk penggunaan pestisida alami. PHT juga menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama untuk mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama, mengurangi jumlah permasalahan hama jika sudah terjadi, dan menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan yang sudah terjadi.
Setiap bagian dalam lingkungan berkaitan erat dengan setiap bagian lainnya, termasuk manusia. Apa yang terjadi pada satu bagian dari sistem atau lingkungan akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya dari sistem atau lingkungan tersebut. Ini adalah filosofi yang penting dalam PHT dan masa depan yang berkelanjutan. Jadi, untuk berhasilnya PHT kita haruslah memahami bagaimana setiap bagian dalam sistem bekerja dan bagaimana mereka saling bekerjasama. (Misalnya, tanah, serangga, tanaman dan pepohonan, burung, binatang, air, manusia, teknologi).
Sistem PHT akan membantu dalam mengurangi penggunaan sumber daya dan produk yang mahal, karena lahan akan “merawat” dirinya sendiri secara terus-menerus, serta sumber daya yang dibutuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya lokal. Memperbaiki kualitas tanah, tumbuhan dan lingkungan. Meningkatkan produksi dari tanah secara keseluruhan. Meningkatkan keanekaragaman dan daya tahan terhadap hama, penyakit dan cuaca ekstrim serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitarnya. Pengendalian Hama Terpadu dapat diterapkan di kebun rumah skala kecil, kebun untuk pasar, hingga lahan pertanian skala besar seperti padi, tanaman buah-buahan dan juga untuk keseluruhan sistem.
PHT memiliki banyak aspek, yang bermanfaat untuk mencegah permasalahan hama secara alami:
• Tanah yang sehat dan hidup – Memperkuat daya tahan tanaman
• Predator hama alami – Mengontrol jumlah hama
• Lingkungan yang sehat – Menjaga keseimbangan hama dan mendorong pertumbuhan predator hama.
• Penyerbukan terbuka, benih non-hibrida – Memperkuat daya tahan terhadap hama.
• Pengelolaan tanaman yang baik
• Membuat & menggunakan umpan serta perangkap – Menjaga rendahnya jumlah hama
• Menggunakan binatang untuk mengontrol hama – Metode yang efektif dan efisien untuk mengontrol hama
• Membuat & menggunakan pestisida alami – Mendukung lingkungan yang lebih sehat
• Kontrol biologis – Mekanisme pengontrolan hama alami dalam skala yang lebih luas

Oleh karena itu terobosan inovatif dalam upaya mengembangkan penanganan teknologi hama dan penyakit padi di Indonesia diperlukann program PHT agar hama dan penyakit padi dapat diminimilasir keberadaannya. Jika segera diatasi, juga berdamapak pada ketersediaan pangan kita.Yaitu ketersedian pangan kita tetap ada dan stabil bahkan bisa berkembang lagi. Dengan informasi yang singkat ini, diharapkan para petani, penyuluh serta pengamat hama dan penyakit padi dapat menambah pengetahuannya serta dapat mengaplikasikannya jika menemui masalah- masalah di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
Serech, 2006. Majalah Kampus Cultivar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta , yogyakarta
Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
http://www.idepfoundation.org/download_files/permakultur/09_Fac_BK_pht_INDO.pdf.

HAFIDHA PRAYUSNITA
100710051 / 33
IKM A ‘07

Hafidha Prayusnita
Posted on 16th October, 2009

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADI

Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, lahan sawah beririgasi masih tetap menjadi andalan bagi produksi padi nasional. Program intensifikasi yang dicanangkan sejak sekitar tiga dekade yang lalu, pada awalnya telah mampu meningkatkan produktivitas dan produksi padi secara nyata. Tetapi, sejak dekade terakhir, produktivitas padi cenderung melandai dan bahkan ada yang menurun di beberapa lokasi.
Berdasarkan pengalaman dari program peningkatan produksi padi, petani diharapkan sudah mengenal komponen teknologi produksi padi mulai dari varietas unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, sampai penanganan panen dan pascapanen. Petani dapat menentukan atau memilih kombinasi teknologi yang akan digunakan, tergantung pada potensi lahan dan kemampuan petani atau kondisi setempat. Kombinasi komponen teknologi yang digunakan pada lokasi tertentu dapat berbeda dengan lokasi lainnya, karena beragamnya kondisi lingkungan pertanaman padi. Setiap teknologi atau kombinasi teknologi yang sedang dikembangkan pada suatu lokasi dapat berubah sejalan dengan perkembangan ilmu dan pengalaman petani di lokasi setempat
Hama merupakan hewan yang mengganggu atau merusak tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Hama dapat merusak tanaman secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan atau serangan hama dapat terjadi sejak benih, pembibitan, pemanenan, hingga di gudang penyimpanan. Gangguan dan serangan itu dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hama yang menyerang tanaman ada beraneka ragam, misalnya wereng, gangsir, tikus, ulat tanah, lalat buah, walang sangit, dan kutu. Selain itu, tanaman juga dapat terserang berbagai macam penyakit. Penyakit tanaman dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan alga.
Teknologi pengendalian hama dengan mengandalkan pestisida, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi masalah hama tanaman. Bahkan penggunaan pestisida bisa berdampak buruk bagi manusia, jasad bukan sasaran dan lingkungan hidup. Kenyataan tersebut menggugah kesadaran akan kebutuhan pengendalian yang baru, yang dapat mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida. Pendekatan pengendalian baru yang dikembangkan ialah pengendalian hama terpadu (PHT).
Konsepsi PHT semula diartikan secara terbatas sebagai kombinasi pengendalian hama secara hayati dan pengendalian hama secara kimiawi menggunakan pestisida. Tetapi teknik pengendalian kemudian dikembangkan dengan memadukan semua metode pengendalian hama yang dikenal. Termasuk didalamnya pengendalian secara fisik, pengendalian mekanik, pengendalian secara bercocok tanam, pengendalian hayati, pengendalian kimiawi dan pengendalian hama lainnya. Dengan cara ini, diharapkan ketergantungan petani terhadap pestisida dapat dikurangi.
Sifat dasar pengendalian hama terpadu berbeda dengan pengendalian hama secara konvensional yang saat ini masih banyak dipraktekkan. Dalam PHT, tujuan utama bukanlah pemusnahan, pembasmian atau pemberantasan hama. Melainkan berupa pengendalian populasi hama agar tetap berada di bawah aras yang tidak mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi, melainkan pembatasan (containment). Program PHT mengakui bahwa ada suatu jenjang toleransi manusia terhadap populasi hama, atau terhadap kerusakan yang disebabkan oleh hama. Dalam keadaan tertentu, adanya individu serangga atau binatang kemungkinan berguna bagi manusia. Pandangan yang menyatakan bahwa setiap individu yang ada di lapangan harus diberantas, tidak sesuai dengan prinsip PHT.
Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan semua metode atau teknik pengendalian yang dikenal. PHT tidak bergantung pada satu cara pengendalian tertentu, seperti memfokuskan penggunaan pestisida saja, atau penanaman varietas tahan hama saja. Melainkan semua teknik pengendalian sedapat mungkin dikombinasikan secara terpadu, dalam suatu sistem kesatuan pengelolaan. Disamping sifat dasar yang telah dikemukakan, PHT harus dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi. Dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi mahluk berguna, hewan, dan manusia, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain : (1). memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut, (2). mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik, dan (3). penggunaan pestisida secara selektif. Strategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir. Pestisida digunakan, jika teknik pengendalian yang lain dianggap tidak mampu mengendalikan serangan hama.
Solusi pengendalian hama jangka panjang dibutuhkan untuk mengembalikan keseimbangan alam di lahan pertanian, perkebunan dan lingkungan alami. Ini tentu saja memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga PHT juga meliputi solusi jangka pendek, termasuk penggunaan pestisida alami. PHT juga menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama untuk mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama, mengurangi jumlah permasalahan hama jika sudah terjadi, dan menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan yang sudah terjadi.
Setiap bagian dalam lingkungan berkaitan erat dengan setiap bagian lainnya, termasuk manusia. Apa yang terjadi pada satu bagian dari sistem atau lingkungan akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya dari sistem atau lingkungan tersebut. Ini adalah filosofi yang penting dalam PHT dan masa depan yang berkelanjutan. Jadi, untuk berhasilnya PHT kita haruslah memahami bagaimana setiap bagian dalam sistem bekerja dan bagaimana mereka saling bekerjasama. (Misalnya, tanah, serangga, tanaman dan pepohonan, burung, binatang, air, manusia, teknologi).
Sistem PHT akan membantu dalam mengurangi penggunaan sumber daya dan produk yang mahal, karena lahan akan “merawat” dirinya sendiri secara terus-menerus, serta sumber daya yang dibutuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya lokal. Memperbaiki kualitas tanah, tumbuhan dan lingkungan. Meningkatkan produksi dari tanah secara keseluruhan. Meningkatkan keanekaragaman dan daya tahan terhadap hama, penyakit dan cuaca ekstrim serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitarnya. Pengendalian Hama Terpadu dapat diterapkan di kebun rumah skala kecil, kebun untuk pasar, hingga lahan pertanian skala besar seperti padi, tanaman buah-buahan dan juga untuk keseluruhan sistem.
PHT memiliki banyak aspek, yang bermanfaat untuk mencegah permasalahan hama secara alami:
• Tanah yang sehat dan hidup – Memperkuat daya tahan tanaman
• Predator hama alami – Mengontrol jumlah hama
• Lingkungan yang sehat – Menjaga keseimbangan hama dan mendorong pertumbuhan predator hama.
• Penyerbukan terbuka, benih non-hibrida – Memperkuat daya tahan terhadap hama.
• Pengelolaan tanaman yang baik
• Membuat & menggunakan umpan serta perangkap – Menjaga rendahnya jumlah hama
• Menggunakan binatang untuk mengontrol hama – Metode yang efektif dan efisien untuk mengontrol hama
• Membuat & menggunakan pestisida alami – Mendukung lingkungan yang lebih sehat
• Kontrol biologis – Mekanisme pengontrolan hama alami dalam skala yang lebih luas

Oleh karena itu terobosan inovatif dalam upaya mengembangkan penanganan teknologi hama dan penyakit padi di Indonesia diperlukann program PHT agar hama dan penyakit padi dapat diminimilasir keberadaannya. Jika segera diatasi, juga berdamapak pada ketersediaan pangan kita.Yaitu ketersedian pangan kita tetap ada dan stabil bahkan bisa berkembang lagi. Dengan informasi yang singkat ini, diharapkan para petani, penyuluh serta pengamat hama dan penyakit padi dapat menambah pengetahuannya serta dapat mengaplikasikannya jika menemui masalah- masalah di lapangan..

DAFTAR PUSTAKA
Serech, 2006. Majalah Kampus Cultivar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta , yogyakarta
Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
http://www.idepfoundation.org/download_files/permakultur/09_Fac_BK_pht_INDO.pdf.

HAFIDHA PRAYUSNITA
100710051 / 33
IKM A ‘07

gigik may riza
Posted on 16th October, 2009

REKAYASA GENETIK BENIH IKAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI

Tolak ukur keberhasilan budidaya ikan adalah produksi ikan dengan pertumbuhan yang cepat dalam waktu yang singkat. Target produksi dapat berupa jumlah ikan yang dihasilkan (menghitung tingkat kelangsungan hidupnya) khususnya untuk sekuen kegiatan pembenihan dan dapat pula berupa bobot yang dihasilkan (menghitung biomassa) pada sekuen kegiatan pembesaran. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi, maka faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan perlu dikaji. Setiap spesies ikan mempunyai kemampuan tumbuh yang berbeda-beda. Perbedaan pertumbuhan ini dapat tercermin, baik dalam laju pertumbuhannya maupun potensi tumbuh dari ikan tersebut. Perbedaan kemampuan tumbuh ikan pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan faktor genetik (gen). Ikan mempunyai gen khusus yang dapat menghasilkan organ atau sel organ tertentu dan gen umum yang memberikan turunan kepada jenisnya. Baik gen khusus maupun gen umum dari setiap ikan terdiri dari bahan kimia yaitu DNA (deoxyribonucleic acid) dan RNA (ribonucleic acid). Ekspresi dari gen-gen tersebut dan sel yang terbentuk menjadi satu paket yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan. Karakteristik genetik tertentu yang dimiliki oleh seekor ikan biasanya menyatu dengan sejumlah sifat bawaan yang mempengaruhi pertumbuhan seperti kemampuan ikan menemukan dan memanfaatkan pakan yang tinggi, ketahanan terhadap penyakit dan dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang luas. Semua hal tersebut akhirnya tercermin pada laju pertumbuhan ikan. Untuk mencapai hal tersebut, perlu dilakukan usaha-usaha yang mampu menghasilkan benih ikan unggul seperti tersebut di atas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan rekayasa genetik melalui penerapan teknologi transgenik pada ikan. Transgenik atau teknologi DNA rekombinan (rDNA) merupakan rekayasa genetik yang memungkinkan kombinasi ulang (rekombinasi) atau penggabungan ulang gen dari sumber yang berbeda secara in vitro.
Tujuan dari transgenik ini adalah untuk mendapatkan sifat yang diinginkan dan peningkatan produksi. Meskipun teknologi transgenik ini memungkinkan untuk diaplikasikan dalam bidang akuakultur (budidaya perikanan), namun masih perlu dilakukan penelaahan khusus untuk mengetahui teknologi tersebut.Era teknologi DNA rekombinan yang dimulai tahun 70-an, dan sejak saat itu telah menghasilkan kemajuan dalam berbagai bidang antara lain beberapa rekombinan di bidang peternakan, farmasi, dan beberapa produk bioaktif lainnya. Di bidang perikanan, telah diproduksi ikan yang resisten terhadap pembusukan dan tahan disimpan dalam alat pendingin. Selain itu, melalui penerapan teknologi transgenik telah dihasilkan ikan-ikan teleostei dengan produksi yang tinggi. Modifikasi untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan telah dicapai pada varietas yang luas pada beberapa spesies ikan dan beberapa proses lainnya juga telah dimodifikasi sehingga menguntungkan. Sementara itu, sebagian besar penggunaan teknik untuk menghasilkan ikan transgenik diperoleh berdasarkan percobaan-percobaan yang telah dilakukan. Hal ini dimungkinkan, sesuai dengan kenyataan bahwa transgenik pada bidang akuakultur bisa lebih dikomersilkan seperti pada hewan ternak. Alasan lain yang berhubungan dengan percepatan pada ikan transgenik ini adalah berhubungan dengan kemudahan dari transfer gen yang dimasukkan. Sejak telur-telur ikan dikeluarkan ke lingkungan eksternal, maka diperlukan teknologi dan ketrampilan personal untuk memproduksi ikan transgenik, seperti fertilisasi in vitro, metode implantasi dan lain-lain. Hal ini mungkin merupakan salah satu alasan kenapa begitu banyak spesies ikan yang telah dimodifikasi secara genetik. Banyaknya telur yang dihasilkan oleh seekor ikan apabila dibandingkan dengan mamalia, menjadikan ikan-ikan lebih mudah diperoleh, dipertahankan dan dimanipulasi. Keuntungan lainnya dalam penggunaan ikan transgenik berhubungan dengan kenyataan bahwa fertilisasi seringkali dapat ditunda untuk beberapa jam tanpa ikan mengalami kerusakan. Ikan juga relatif lebih mudah untuk dipertahankan, dipacu kematangan gonadnya, dan secara umum tidak membutuhkan biaya pemeliharaan yang mahal serta pertumbuhan ukuran dapat diatur. Tetapi dapatkah teknologi trasgenik ini diterapkan pada usaha budidaya perikanan secara komersial?
Peralatan yang dibutuhkan untuk menginjeksi telur ikan dengan materi genetik asing secara relatif sangat mendasar. Pada kelompok ikan yang berbeda telah dikembangkan suatu sistem kontrol secara elektronik untuk mengantar campuran penyangga DNA ke dalam telur.Peralatan penting yang digunakan selama injeksi adalah jarum suntik mikro (mikroinjeksi). Persiapan pertama, jarum dilekatkan pada gas Hamilton tight syringe yang membawa larutan penyangga DNA yang telah dipetakan. Larutan terdiri dari DNA rekombinan yang berbeda komposisinya, akan tetapi beberapa peneliti telah menggabungkan pembuatan visualisasi tersebut untuk lebih mempermudah injeksi gen. Volume DNA yang disuntikkan ke dalam telur secara individu juga berbeda. Selanjutnya telur yang disuntikkan ditempatkan di dalam penampung telur. Letak telur diatur sehingga microphylenya berada pada sudut yang sesuai dengan jarum microinjector. Manipulasi ini dikerjakan di bawah mikroskop binokuler dengan pantulan cahaya dan alat kromatografi. Posisi awal, jarum ditempatkan ke dalam bagian micropyle kemudian disuntikkan larutan penyangga selanjutnya telur diikubasi di bawah kondisi normal. Keberhasilan prosedur mikroinjeksi telur bergantung kepada beberapa faktor termasuk di dalamnya: kualitas benih dan telur, metode pelaksanaan manipulasi, tipe penyangga injeksi yang digunakan, bentuk dari DNA, konsentrasi suntikan dan ketrampilan teknisi. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi tingkat kegagalan atau keberhasilan pasca injeksi misalnya laju kematian yang bervariasi dari satu telur salmonid pasca injeksi yang berkisar antara 30-95% (Fletcher dan Davids, 1991). Pada spesies lain, tingkat kelangsungan hidup dilaporkan oleh Dunham et al. (1992) pada channel catfish (Ictalurus punctatus) yang memperoleh tingkat kelangsungan hidup sekitar 33%. Beberapa penelitian terdahulu telah menguji pengaruh waktu injeksi terhadap tingkat kelangsungan hidup telur. Evaluasi data telah mengindikasikan bahwa terdapat hubungan langsung antara waktu injeksi dengan tingkat kelangsungan hidup telur. Sebagai contoh, Brem (1988) melaporkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan Tilapia adalah 25, 52 dan 98% mengikuti mikroinjeksi telur- telur pada 0-16, 21-24 dan 40-43 jam sesudah pemijahan. Penelitian lain yang telah dilakukan adalah mengevaluasi pengaruh EDTA terhadap tingkat kelangsungan hidup telur dan dilaporkan bahwa keberadaan EDTA dapat menurunkan kelangsungan hidup terhadap telur-telur ikan cyprinid yang telah diinjeksi. Dalam hal yang sama, Penman et al. (1990) mengobservasi hasil penggunaan Tris-NaCl daripada EDTA pada ikan rainbow trout. Konsentrasi DNA yang dapat diterima melalui panampakan embrio yang berkembang bervariasi dengan spesies yang berbeda. Sebagai contoh : mortalitas pada zebrafish mendekati 100% mengikuti injeksi 50 pg DNA (Stuart et al., 1988). Dalam hal yang berbeda, telur-telur ikan salmon nampak lebih sehat, dan dapat menerima injeksi  200 pg DNA/telur (Fletcher dan Davis, 1991). Sebagian besar peneliti mengindikasikan bahwa penyuntikan DNA adalah persisten dan secara cepat mengalami replikasi selama proses embriogenesis. Hal ini dapat terjadi, meskipun ketika DNA tidak bergabung ke dalam genom, tetapi berada dalam suatu posisi kromosom ekstra. Dalam kenyataannya, opini umum mengesankan bahwa sebagian besar injeksi DNA ke dalam telur berada sebagai unit fungsional ekstra kromosom untuk memperpanjang periode waktu. Sebagai akibat dari fenomena ini, adalah untaian-untaian DNA tidak didistribusikan seluruhnya pada semua jaringan seperti pada mosaicism (pola) yang berkembang.
Masalah utama dengan posisi kromosom ekstra berhubungan dengan pengaruh DNA yang terselubung, hal ini bergantung kepada kemampuan untuk mendeteksi genomic DNA bahwa DNA yang diinjeksikan telah berinkorporasi ke dalam genom ikan. Beberapa studi menggambarkan transfer DNA yang telah diinjeksikan ke dalam anak (keturunan) menghasilkan pola atau bentuk dalam garis induk yang bervariasi dalam persentase generasi F2 yang membawa DNA asing. Dengan demikian, sifat kehati-hatian harus dijalankan dalam mengevaluasi transmisi gen pada level F2. Jika tidak, tranmisi kuman dari gen-gen yang dimasukkan dapat muncul pada ikan, dengan proporsi individu transgenik diantara keturunan dilaporkan bervariasi antara 1-50%. Semua gen menyampaikan informasi di bawah kontrol dari untaian DNA. Semua gen-gen eukaryotik memiliki urutan promoter yang memungkinkan terjadinya transkripsi yang tepat (transfer informasi dari DNA ke dalam molekul RNA). Banyak diantara gen-gen tersebut memiliki untaian khusus yang dapat ditingkatkan untuk mengontrol laju kecepatan transkripsi yang terus menerus. Pembangkit tersebut dapat meningkatkan aktivitas gen beberapa ratus kali. Gen-gen dapat menyambung dengan kisaran yang luas dari promoter, yang seringkali digunakan secara eksprimen yaitu gen metallothionin promoter. Kelemahanan dari promoter khusus ini, berhubungan dengan kenyataan bahwa aktivasinya bergantung kepada logam berat. Tetapi ada berbagai promoter yang menguntungkan berasal dari mamalia dan ikan-ikan teleostei dan telah tersedia. Dengan demikian, teknologi transgenik dapat diaplikasikan dalam industri akuakultur dengan menggunakan untaian promoter enhancer yang homolog.
Keuntungan dan produksi ikan transgenik
Laju pertumbuhan
Teknologi manipulasi gen untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan potensial untuk diaplikasikan dalam industri akuakultur. Peningatan karakteristik pertumbuhan ikan telah dicapai melalui seleksi alami. Efek dramatis terhadap pertumbuhan telah dihasilkan melalui injeksi gen hormon pertumbuhan (growth hormone, GH). Produksi Hormon pertumbuhan pada ikan transgenik telah diproduksi dengan teknik pemurnian, meskipun masih sebatas uji coba. Akan tetapi, dengan perbaikan teknik dan penambahan pengalaman dalam metode insersi gen, telah diproduksi berbagai spesies ikan yang pertumbuhannya cepat. Keberhasilan penerapan teknologi transgenik ini bergantung kepada transfer gen yang diekspresikan dan diwariskan dengan cara yang stabil serta dapat dipridiksi. Teknologi transgenik dapat menyediakan produksi rata-rata bagi “designer fish” untuk pangsa pasar, percepatan penampakan luar dari ikan, tekstur dagingnya, rasa, warna dan komposisi. Calon gen lain yang memberikan keuntungan pada pertumbuhan ikan termasuk pengaturan pertumbuhan adalah pengkodean untuk pelepasan hormon pertumbuhan dan insulin sebagai faktor pertumbuhan (Fletcher dan David, 1991).
Nutrisi
Budidaya ikan bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan. Salah satu pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui peningkatan efisiensi pemanfaatan pakan. Semakin efisien penggunaan pakan oleh ikan maka peluang tercapainya keuntungan akan lebih besar, hal ini didasarkan atas kenyataan saat ini bahwa biaya pakan pada budidaya ikan dapat melbihi 50% dari biaya produksi. Pengaturan nutrisi pada ikan budidaya berkaitan dengan pentingnya mengubah kapasitas pencernaan ikan seperti kemampuan untuk meningkatkan kecernaan karbohidrat dan protein nabati. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada ikan-ikan teleostei memberikan sumbangan yang berarti. Hal ini memungkinkan pemberian ijin kepada para pengusaha industri pakan untuk menggunakan komponen pakan yang sedikit lebih rendah kualitasnya. Seperti halnya pada ekspresi enzim phytase dalam ikan-ikan budidaya yang memungkinkan peningkatan kemampuan mencerna posfor asam phytic (Mayer dan McLean, 1994) yang memungkinkan penggabungan protein nabati dalam pakan, dengan konsekwensi dapat mengurangi bahan pencemar yang mengandung posfor. Masalah utama yang berhubungan dengan studi teknologi transgenik pada ikan sampai saat ini berhubungan dengan jumlah dan jenis-jenis ikan yang diuji. Salah satu pembatas studi utama berasal dari efisiensi konversi pakan sepanjang siklus hidup ikan. Pemasukan dari konstruksi gen kepada ikan dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap efisiensi konversi pakan. Keuntungan-keuntungan dari teknik ini bervariasi pada berbagai spesies ikan.
kontrol penyakit
Pada budidaya ikan secara intensif resiko penyakit akan muncul. Munculnya penyakit tersebut seringkali dihubungkan dengan stress. Untuk mengatasi masalah tersebut dua strategi yang dapat diterapkan yaitu dengan memperhatikan modifikasi secara genetik ikan-ikan yang resisten terhadap penyakit dan aleviasi stress di bawah kondisi budidaya intesif. Teknologi transgenik atau DNA rekombinan telah memberikan pengaruh dalam mengontrol penyakit pada ikan-ikan, dengan hasil rekombinasi beberapa vaksin secara viral. Dasar genetik dari pertahanan stress pada organisme air sama. Namun demikian, ikan mempunyai ciri-ciri spesifik untuk meningkatkan ketahanannya terhadap stress yang secara genetik dapat diidentifikasi. Beberapa hasil penelitian terdahulu telah berhasil mengidentifikasi lysozyme pada ikan trout (Oncorhynchus mykiss) yang 15 kali lebih aktif dibanding yang ditemukan pada ikan salmon Atlantik (Salmo salar) (Grinde, 1988). Oleh karena produksi lysozyme bertindak dikontrol oleh gen tunggal, maka melalui tahapan yang jelas gen ini akan dapat diisolasi dan menghasilkan ikan transgenik yang lebih kuat lysozymnya. Dengan demikian, penerapan teknologi transgenik dimungkinkan untuk mengkonversi resistensi penyakit pada sebagian besar spesies ikan. Hal ini dapat ditingkatkan melalui manipulasi secara langsung pada sistem kekebalan ikan.
Teknologi transgenik dalam bidang akuakultur di masa mendatang memiliki prospek yang sangat cerah terutama dalam memproduksi benih ikan-ikan yang memiliki potensi tumbuh, seperti : efisiensi pemanfaatan pakan yang tinggi, ketahanan terhadap stress dan penyakit, dan mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan yang luas. Kesemua hal tersebut sangat menunjang dalam upaya peningkatan produksi ikan-ikan budidaya. Dalam rangka pengaplikasian teknologi transgenik ini pada usaha budidaya perikanan secara komersial yang bertujuan untuk mengoptimalkan produksi, maka masih perlu dilakukan pengkajian-pengkajian yang berkaitan dengan manipulasi gen yang berperanan dalam pertumbuhan ikan. Selain itu, juga perlu dilakukan pengkajian tentang dampak mengkonsumsi ikan transgenik bagi kesehatan manusia.
Daftar pustaka
http://rudyct.com/PPS702-ipb/04212/m_yusri_k.doc
GIGIK MAY RIZA
100710109 / 04
IKM B ‘07

Raras Purna Enrilladela
Posted on 17th October, 2009

Radiasi Nuklir Untuk Sorgum Unggul

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman biji-bijian (serealia) yang banyak dibudidayakan di daerah beriklim panas dan kering. Sorgum bukan merupakan tanaman asli Indonesia tapi berasal dari wilayah sekitar sungai Niger di Afrika. Domestikasi sorgum dari Etiopia ke Mesir dilaporkan telah terjadi sekitar 3000 tahun sebelum masehi (House, 1985). Sekarang sekitar 80 % areal pertanaman sorgum berada di wilayah Afrika dan Asia, namun produsen sorgum dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat, India, Nigeria, Cina, Mexico, Sudan dan Argentina (ICRISAT/FAO, 1996). Sorgum dapat bertahan tumbuh pada kondisi kekeringan. Secara fisiologis, permukaan daun sorgum yang mengandung lapisan lilin dan sistem perakaran yang ekstensif, fibrous dan dalam cenderung membuat tanaman efisien dalam absorpsi dan pemanfaatan air (laju evavotranspirasi sangat rendah). Hasil studi oleh House (1985) menunjukkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg akumulasi bahan kering sorgum hanya memerlukan 332 kg air, sedangkan jagung, barley dan gandum berturut-turut memerlukan 368, 434 dan 514 kg air. Dibanding tanaman jagung, sorgum juga memiliki sifat yang lebih tahan terhadap genangan air, kadar garam tinggi dan keracunan aluminium (House, 1985).

Sorgum adalah tanaman serbaguna yang banyak kegunaannya. Sebagai sumber bahan pangan global sorgum berada di peringkat ke-5 setelah gandum, padi, jagung dan barley (ICRISAT/FAO, 1996). Sedangkan menurut laporan U.S. Grain Council (2005) di Amerika Serikat sorgum merupakan serealia terpenting ketiga. Sorgum dilaporkan memiliki kandungan nutrisi yang baik, bahkan kandungan protein dan unsur-unsur nutrisi penting lainnya lebih tinggi daripada beras. Selain digunakan sebagai sumber pangan, sorgum juga dimanfaatkan untuk pakan ternak, yaitu biji sorgum untuk bahan campuran ransum pakan ternak unggas, sedangkan batang dan daun sorgum (stover) untuk ternak ruminansia. Selain itu, biji sorgum yang mengandung karbohidrat cukup tinggi sering digunakan sebagai bahan baku bermacam industri seperti industri beer, pati, gula cair (sirup), jaggery (semacam gula merah), etanol, lem, cat, kertas, degradable plastics dan lain-lain. Adapula jenis sorghum yang batangnya mengandung kadar gula cukup tinggi dan disebut sorgum manis (sweet sorghum). Sorgum manis sangat ideal digunakan untuk pakan ternak ruminansia, gula cair (sirup), jaggery dan bioetanol (ICRISAT, 1990).

Sorgum memiliki potensi hasil yang relatif lebih tinggi dibanding padi, gandum dan jagung. Bila kelembaban tanah bukan merupakan faktor pembatas, hasil sorgum dapat melebihi 11 ton/ha dengan rata-rata hasil antara 7-9 ton/ha. Pada daerah dengan irigasi minimal, rata-rata hasil sorgum dapat mencapai 3-4 ton/ha (House, 1985). Selain itu, sorgum memiliki daya adaptasi luas mulai dari dataran rendah, sedang sampai dataran tinggi. Hasil biji yang tinggi biasanya diperoleh dari varietas sorgum berumur antara 100-120 hari. Varietas sorgum berumur dalam cenderung akan cocok bila digunakan sebagai tanaman pakan ternak (forage sorghum).

Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorgum diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu ras Bicolor, Guenia, Caudatum, Kafir, dan Durra. Perbedaan secara visual masing-masing ras disajikan dalam Gambar 1. Ras Durra yang umumnya berbiji putih merupakan tipe paling banyak dibudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorghum). Sedangkan ras-ras lain pada umumnya digunakan sebagai biomasa dan pakan ternak.

Budidaya, penelitian dan pengembangan tanaman sorgum di Indonesia masih sangat terbatas, bahkan secara umum produk sorgum belum begitu populer di masyarakat. Padahal sorgum memiliki potensi besar untuk dapat dibudidayakan dan dikembangkan secara komersial karena memiliki daya adaptasi luas, produktivitas tinggi, perlu input relatif lebih sedikit, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, serta lebih toleran kondisi marjinal (kekeringan, salinitas dan lahan masam). Dengan daya adaptasi sorgum yang luas tersebut membuat sorgum berpeluang besar untuk dikembangkan di Indonesia sejalan dengan optimalisasi pemanfaatan lahan kosong, yang kemungkinan berupa lahan marginal, lahan tidur, atau lahan non-produktif lainnya.

Oleh karena sorgum bukan merupakan tanaman asli Indonesia maka keragaman genetik sorgum yang ada masih sangat terbatas. Beberapa varietas sorgum biji (grain sorghum) diintroduksi dari International Crop Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT) dan dari beberapa negara seperti India, Thailand dan China. Setelah melalui proses pengujian adaptasi dan daya hasil selama beberapa generasi kemudian beberapa varietas introduksi tersebut oleh Departemen Pertanian dilepas menjadi varietas unggul nasional. Sampai saat ini Indonesia telah memiliki beberapa varietas sorgum unggul nasional seperti UPCA, Keris, Mandau, Higari, Badik, Gadam, Sangkur, Numbu dan Kawali. Varietas-varietas unggul nasional tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan pada lahan-lahan pertanian di Indonesia. Belum banyak informasi diperoleh tentang genotipe sorgum manis yang telah dibudidayakan di Indonesia, khususnya yang terkait dengan industri bioetanol.

Sorgum tergolong tanaman berpenyerbuk sendiri (selfpollinated crop) dan diploid (2x=2n=20). Oleh karena itu, sistem pemuliaan tanaman sorgum kira-kira mirip dengan sistem pemuliaan tanaman padi, kedelai dan sebagainya. Seperti halnya pada padi, pemuliaan tanaman sorgum dapat diarahkan menuju perolehan varietas galur murni atau varietas hibrida. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, India dan China, sorgum hibrida telah banyak dikembangkan dan memiliki hasil sampai 15 ton/ha. Di masa depan, Indonesia mungkin perlu juga mengarah pada pengembangan sorgum hibrida apabila nanti budidaya sorgum telah memasyarakat, meluas dan komersial.

Keterbatasan ragam genetik sorgum memacu kita untuk mencari sumber-sumber genetik baru. Upaya tersebut dapat ditempuh melalui program pemuliaan tanaman dengan berbagai metoda seperti seleksi, introduksi, hibridisasi, mutasi, atau bioteknologi. Kombinasi antara metoda-metoda tersebut mungkin dapat dilakukan untuk memperoleh hasil optimal. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah melakukan pemuliaan tanaman sorgum, khususnya dengan metoda kombinasi mutasi induksi dan hibridisasi untuk memperbaiki genotipe tanaman (Soeranto dkk., 2001). Tujuan penelitian adalah memperbaiki sifat agronomi dan kualitas produk sorgum (biji dan hijauan) untuk dikembangkan sebagai sumber bahan pangan dan pakan ternak alternatif di daerah kering khususnya selama musim kemarau. Induksi mutasi untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman dilakukan dengan meradiasi benih (seeds) atau embrio (plantlets) dengan sinar Gamma bersumber dari Cobalt-60 yang terpasang pada alat Gamma Chamber model 4000A. Seleksi tanaman dilakukan mulai generasi kedua (M2) setelah perlakuan radiasi, dan dilanjutkan pada generasi-generasi berikutnya, yaitu dengan memilih tanaman mutan yang menunjukkan sifat agronomi unggul dibanding kontrol, samapai diperoleh tanaman yang homosigot. Selanjutnya, galur mutan unggul diuji daya hasilnya pada daerah kering seperti di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada musim kemarau. Dalam pengujian galur-galur mutan tersebut PATIR-BATAN bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan Perguruan Tinggi setempat.

Sumber koleksi plasma nutfah sorgum berasal dari varietas lokal, introduksi dari ICRISAT dan China, dan beberapa galur hasil riset pemuliaan tanaman di BATAN. Dalam koleksi plasma nutfah terdapat beberapa jenis sorgum manis yang memiliki peluang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku bioetanol (Soeranto dkk., 2006). Penelitian sorgum untuk bioetanol dilakukan bekerjasama dengan Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) di Lampung dan termasuk dalam program Riset Insentif Terapan dari kementerian RISTEK tahun anggaran 2007-2009. Penelitian sorgum juga mendapat dukungan dari International Atomic Energy Agency (IAEA) melalui Technical Co-operation Project (TC Project INS/5/030) dan Regional Co-operation Agreement Project (RCA Project RAS/5/045). Bantuan internasional umumnya diberikan dalam bentuk materi pemuliaan (breeding materials), peralatan laboratorium, bahan penelitian, tenaga ahli (experts), pelatihan (training), serta seminar dan workshop

Daftar Pustaka
1. Hoeman, Soeranto. Prospek dan Potensi Sorgum Sebagai Bahan Baku Bioetanol. http://www.bsl-online.com/energi. Diakses tanggal 17 Oktober 2009
2. Anonym. Radiasi Nuklir untuk Sorgum Unggul. http://cjfeed.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1446&Itemid=127. Diakses tanggal 17 Oktober 2009
3. Anonym. Pemuliaan Tanaman Sorgum di PATIR-BATAN. http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/sorgum/sorgum.html. Diakses tanggal 17 oktober 2009
4. Yudhi. 06 Febuari 2009. Aplikasi Nuklir Pertanian : Sorgum Tanaman Pangan Alternatif. http://www.infonuklir.com/modules/news/article.php?storyid=193. Diakses tanggal 17 oktober 2009

Oleh : Raras Purna Enrilladela
100710215/55
IKM 07 B

kino adi s
Posted on 17th October, 2009

Kino adi S
IKM A 07/100710054

Pengembangan produk olahan ikan dan hasil laut untuk perbaikan gizi

Hingga saat ini masalah gizi utama di Indonesia ada empat, yaitu kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, kekurangan yodium dan kurang vitamin A. KEP merupakan masalah gizi yang paling banyak terjadi, terbukti dengan ditemukannya anak balita (usia 1-5 tahun) penderita KEP berat (marasmus dan kwashiorkor).Masalah gizi menghambat perkembangan kecerdasan. Beberapa langkah preventif dalam menanggulangi masalah gizi dapat dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan menjamin ketersediaan pangan berasal dari darat dan laut.

Konsumsi makanan pada masyarakat kurang beragam, terutama pada hasil olahan ikan laut, selain karena harganya yang cukup mahal dan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kandungan dalam ikan, cara pengolahan serta penyimpananya yang kurang dipahami. Negara kita masih rendah dalam budaya makan ikan dibandingkan negara-negara tetangga seperti Jepang, Korea Selatan, , Singapura, Malaysia,Thailand dan Philipina Penyebabnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi ikan, ketrampilan mengolah hasil perikanan, selain terbatasnya teknologi penangkapan ikan nelayan.
Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah, menyusul dua per tiga wilayah Indonesia terdiri dari laut, potensi perikanan sebesar 6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan namun belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Ternyata baru sekitar 58,5 persen dari potensi lestari ikan laut (6,18 juta ton per tahun) yang dimanfaatkan saat ini, sehingga optimalisasi pemanfataan sumber daya kelautan masih jauh dari harapan. ikan-ikan yang hasil tangkapannya tidak ditangani dengan baik dikapal, sehingga ikan yang didaratkan bermutu rendah (20–30%), sehingga berdampak pada tingginya tingkat kehilangan (losses) sekitar 30-40%. Lebih jauh lagi, ekspor hasil perikanan Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan belum diolah. Sebagai konsekuensinya, usaha pengolahan produk hasil perikanan di Indonesia belum bergairah.Dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan dalam bentuk basah, sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan olahan lainnya 1,86%.

Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, seperti di negara Jepang dan Taiwan ikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang memberikan efek awet muda dan harapan hidup lebih tinggi dari Negara lainnya. Penggolahan ikan dengan berbagai cara dan rasa menyebabkan orang mengkonsumsi ikan lebih banyak, berbeda dengan negara kita yang kurang dalam teknologi pengolahan ikan, hal ini menjadi tugas kita semua dalam mengelolah ikan dengan baik dan berbagai jenis produk baru harus dihasilkan, guna memenuhi kebutuhan gizi dalam ikan segar.

Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat karena ikan cepat mengalami proses pembusukan. Pengawetan ikan secara tradisional dapat dilakukan dengan mudah, yang bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak.

Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan ikan.

Perlu diketahui nilai gizi dalam Ikan Segar per 100 gram KADAR (%)
1. Kandungan air 76,00
2. Protein 17,00
3. Lemak 4,50
4. Mineral dan vitamin 2,52-4,50

Dari zat gizi di atas, dapat dilihat bahwa ikan mempunyai nilai protein tinggi, dan kandungan lemaknya rendah sehingga banyak memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh manusia. Kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap dan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh omega 3 (DHA, docosahexaenoic acid, C20 H30O2) yang kurang dimiliki oleh produk daratan (hewani dan nabati), merupakan keunggulan produk kelautan. Asam lemak omega 3 berperan dalam melingungi jantung, daging ikan mampu menurunkan kolesterol dalam darah dan sangat diperlukan dalam pembentukan otak. Perbaikan gizi denga ikan laut dapat meningkatkan kecerdasan generasi bangsa menjadi lebih baik. Budaya makan ikan yang tinggi dalam masyarakat Jepang telah membuktikan terjadinya peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak-anak negara itu.

Daya beli masyarakatpun perlu ditingkatkan. Secara umum masyarakat Indonesia telah mampu mengonsumsi makanan yang secara kuantitatif mencukupi. Namun, dari segi kualitatif, masih banyak yang belum mampu mencukupi kebutuhan gizi minimumnya. Untuk menarik minat masyarakat perlu adanya produk olahan baru yang inovatif, memiliki rasa yang disukai masyarakat namun tanpa mengurangi gizi yang terkandung didalamnya, misalnya adanya produk ikan berupa nugget dengan berbagai bentuk, tempura, bakso ikan, abon kepiting, udang kupas, sosis ikanm, pilus ikan, Bakso Kakap, Spring Roll, Udang Krupuk, Kupang dll, tentunya tanpa mengguinakan pengawet buatan dan MSG apalagi menggunakan formalin, boraks, rhodamin-B, untuk pengawet, pengenyal, pewarna maupun pemanis buatan, karena bahan tersebut malah membuat nilai gizi dalam ikan tidak berarti lagi, malah menjadi penyebab penyakit degeneratif. Cara pemasakan ikan juga perlu diketahui masyarakat, agar tidak menggurangi terlalu banyak kandungan didalamnya, hal ini perlu diberikan arahan cara pemasakannya dengan baik.

Adapun yang dimaksud ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya. Karenanya diperlukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan kesegaran ikan hingga sampai ketangan konsumen, mengingat ikan segar mempunyai sifat-sifat mudah rusak yaitu menjadi berbau anyir/amis, membusuk, daging menjadi rusak/koyak dan kulit berlendir karena aktivitas mikroorganisme atau terjadinya proses kimiawi dalam tubuh ikan itu sendiri. Pentingnya aktivitas kualitas dalam organisasi telah berkembang bersama dengan pentingnya pelanggan, artinya perusahaan yang digerakan pelanggan dan pasar sebagai sesuatu yang berjanji menyediakan kualitas yang sangat baik serta produk dan jasa yang kompetitif untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan segmen pasar yang telah ditentukan dengan baik. Pendekatan tersebut secara kontras berbeda dari organisasi tradisional.
Pengertian kualitas baik dalam ikan juga perlu diketahui masyarakat, agar mendapatkan kualitas yang baik dan gizi yang utuh didalamnya. Berikut yang dimaksud kualitas ikan yang baik:
1. Kualitas terdiri dari jumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan langsung maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk itu.
2. Kualitas terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau kerusakan.
Dengan memperhatikan pengertian kualitas tersebut diatas, maka jika diaplikasikan pada proses pemindangan diharapkan menghasilkan kualitas yang benar-benar memenuhi kepuasan pelanggan.yaitu yang bercirikan: ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya, atau ciri tersebut dapat diindikatorkan : segar, bentuknya utuh, bau masih segar/tidak busuk, rasanya tidak anyir dan teksturnya mengkilat. Untuk menjamin dihasilkannya ikan pindang sesuai dengan kualitas yang dikenhendaki tersebut maka dibutuhkan cara yang berciri manajemen kualitas, yaitu : suatu cara meningkatkan perfomansi terus
menerus pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap fungsional organisasi, dengan menggunakan semua sumberdaya manusia dan modal yang tersedia.

Aditya Sukma Pawitra
Posted on 17th October, 2009

PENGELOLAAN AGROEKOSISTEM PADI SAWAH
MODEL SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI)

Peningkatan produksi padi terus dilakukan dengan berbagai jenis program, sejak revolusi hijau sampai dengan saat ini untuk memenuhi kebutuhan pangan khususnya kebutuhan beras di dalam negeri, sehingga peningkatan produksi menjadi tujuan yang utama dan kehilangan produksi sekecil apapun menjadi sebuah hantu yang menakutkan. Pada pertengahan tahun 1984 Indonesia dilaporkan sebagai negara yang berhasil meningkatkan produksi padi atau beras, hal ini dibuktikan dengan pernyataan swasembada beras bahkan Indonesia dilaporkan telah mampu menyumbang beras ke salah satu negara yang pada saat itu dilanda kekurangan pangan(beras). Intensifikasi khusus yang salah satu program dengan menggunakan sarana produksi yang berasal dari bahan-bahan sintetis baik pupuk maupun pestisida telah mengantarkan produksi meningkat secara drastis, namun demikian peningkatan produksi beras tersebut tidaklah langgeung.

Peggunaan bahan-bahan sintetis berupa pupuk dan pestisida terus menerus dilakukan dalam jumlah yang semakin meningkat namun akhir-akhir ini produksi padi sulit untuk ditingkatkan bahkan cenderung menurun, disisi lain gangguan organisme pengganggu tanaman cenderung mengalami peningkatan disamping bencana alam seperti banjir disaat musim hujan dan kekeringan pada saat musim kemarau.

Penurunan produksi tidak hanya ditentukan hal seperti diatas namun prilaku usahatani mengenai pengelolaan lahan (tanah, air dan tanaman) sangat menentukan, disamping terjadinya penurunan kualitas struktur dan tekstur tanah yang sekaligus mempengaruhi aktivitas biologi tanah dan terancam terjadinya degradasi biodiversitas, dari yang kompleks menjadi lebih sederhana akibat kandungan bahan organik yang dikandung tanah sangat kurang karena perlakuan terhadap lahan kurang memperhatikan kaidah-kaidah ekologis, inikah ekologi untuk eksploitasi ?

Selain itu semua, permasalahan sampai sekarang adalah degradasi lahan dan air setiap tahun semakin besar dan bertambah akibat eksploitasi SDLA tanpa diimbangi upaya pengendalian dan perbaikan kemudian akibat penggunaan pupuk dan pestisida, maka sekitar 65% tanah sawah di propinsi penghasil tanaman pangan, kandungan bahan organik kurang dari 1% dan hanya 5% yang mempunyai kandungan diatas 3%. Tidak kita sadari system pertanian selama ini, telah mengantarkan kita pada kondisi yang cukup mengenaskan. Alam pertanian dan pangan kita semakin lama semakin rapuh; hama dan serangga semakin ganas menyerang dan resisten; tekstur tanah menjadi lengket, keras, padat dan sulit mengikat air dan menurunnya volume air baik secara kualitas maupun kuantitas.

Kondisi ini mengantarkan suatu inovasi dan pengembangan model pertanian, yang memperhatikan segala aspek dalam bertani, tidak hanya hasil produksi semata. Maka salah satu upaya perbaikan kualitas lahan untuk mendukung kegiatan usaha tani terutama padi sawah sedang dikembangkan diseluruh Nusantara yang dikenal dengan System Of Rice Intensification (SRI).

SRI merupakan model budidaya padi intensif dan efisien dengan manajemen sistim perakaran yang berbasis pada,
1. Pengelolaan tanah
2. Pengelolaan tanaman
3. Pengelolaan air
Yang mana diutamakan produktivitas tinggi dan nilai ekologis. Dengan demikian selain dapat menghasilkan produksi yang melimpah, SRI juga untuk memahami, mempelajari sekaligus memperbaiki agroekosistem padi sawah yang rusak dengan pemberdayaan segala SDM yang memadai dengan penerapan pertanian ramah lingkungan.

Sistem Pertanian Di Indonesia Selama Ini
Kondisi perilaku budidaya padi saat ini
1. Dibenam
2. Ditanam banyak
3. Ditanam dalam
4. Direndam
Apabila digenangi air dalam jumlah cukup besar, akan merusak dan menghancurkan jaringan akar kompleks. Keadaan ini selama ini tidak begitu diperhatikan masyarakat petani. Mereka berlomba – lomba mencari lahan irigasi sebanyak mungkin agar menggenangi tanaman padi. Dengan anggapan makin banyak air, maka pertumbuhan akan semakin cepat, dan produksi akan berlimpah. Kenyataan tidak demikian. Malah merusak jaringan xylem, floem tanaman. Akibatnya akar akan cepat membusuk serta akan berpengaruh kepada aktivitas akar dalam mengambil nutrisi di dalam tanah lebih sedikit. Sehingga pertumbuhan tanaman terhambat dan berakibat kepada kapasitas produksi yang lebih rendah dan umur tanaman yang tidak lama.

Prinsip Dasar SRI
SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistic dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas berkelanjutan, sehubungan dengan preferensi seperti itu maka model pertanian hemat air khususnya pada tanaman padi adalah salah satu pilihan untuk dibangun dan dikembangkan, selain itu juga penggunaan air yang hemat dalam berbagai hal merupakan salah satu langkah dalam mengantisifasi kekurangan, krisis air bahkan kesulitan air. Hal ini dirasakan oleh beberapa daerah di propinsi Jawa Barat.
Agar tujuan SRI tercapai, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, diantaranya :
a. Mengetahui, mengerti dan memahami Permbelajaran Ekologi Tanah (PET), PET merupakan penguatan dari proses belajar pertanian dengan pendekatan ekologis (lingkungan) diartikan sebagai praktek-praktek usaha tani yang berusaha meningkatkan kualitas lingkungan atau tidak merugikan lingkungan dan berusaha untuk membatasi dan menekan penggunaan masukan bahan kimia sintetis. Pertanian ekologis tidak hanya memikirkan kelestarian lingkungan saja, tetapi juga tidak memandang peningkatan produksi yang tinggi menjadi tujuan utama berusaha tani. Nilai-nilai keberlanjutan dan pertimbangan-pertimbangan yang jauh kedepan menjadi jiwanya pertanian ekologis
b. Memahami proses dekomposisi di alam terutama yang berhubungan dengan hancurnya bahan organik secara alamiah, sehingga pemaknaan dari proses tersebut dapat menambah bangunan pikiran untuk pengembangan dalam memperkuat terjadinya proses dekomposisi di alam selain bisa mempercepat juga mempertahankan agar proses tersebut memperkuat kondisi ekosistem di lahan sawah.

Yang menjadi landasan atau prinsip SRI dalam penanaman adalah :
1. Tanah sehat dengan menggunakan bahan organic
Pada dasarnya keberadaan bahan organik didalam tanah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui fisika, kimia dan biologi tanah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah dengan perbaikan dan perubahan dari beberapa sifat fisik tanah , antara lain volume dan daya ikat tanah. Pegaruh Kimia meliputi peningkatan kapasitas Tukar Kation, PH dan unsur hara, sedangkan pengaruh biologi dengan bahan organik tersebut sebagai sumber energi dari mokrobia tanah.
2. Pengembangan mikroorganisme local (MOL) sebagai decomposer, activator dan nutrisi
MOL adalah cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami (sayuran dll) yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau dekomposer dan sebagai aktivator atau tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikroorganisme yang berada didaerah tersebut.
3. Menyiapkan benih dan semai
Salah satu cara menguji benih : menggunakan indicator telur mentah pada larutan garam(Berat Jenis larutan lebih berat dari pada gabah/telur), sehingga pada larutan garam tersebut keadaan telur (ayam/bebek) dalam posisi terapung yang semula pada air tawar tenggelam dan masukan benih pada larutan garam tersebut, ambil benih yang tenggelam dan cuci dengan air tawar, selanjutnya benih siap disemai. Benih sebelum disemai bisa direndam selama semalam untuk merangsang kecambah
4. Penanaman
Jarak tanam diatur dengan caplak/garitan ukuran jarak tanam, jarak tanam minimal 27 x 27 cm, bisa juga 30 x 30 cm. Agar kondisi perakaran jauh lebih baik dan pergerakannya lebih mantap dalam pengambilan nutrisi. Jarak tanam lebar dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada tanaman, terutama pada pembentukan anakan, pertumbuhan akar dan jalannya sinar matahari untuk masuk .
5. Penyiangan 4 kali
Penggemburan tanah berarti menjaga kestabilan rumah tangga tanah, sehingga tersedia oksigen yang cukup banyak.
6. Tidak menggenangi tanaman dengan air
Karena padi bukanlah tanaman air tapi hanya butuh air , dan mencegah membusuknya akar
7. Pengelolaan hama dan penyakit
Karena SRI bernuansa EKOLOGIS maka metoda pengendalian terhadap beberapa jenis OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) menggunakan bahan alamiah yang dikenal dengan nama pestisida nabati. Bisa berasal dari keluwek, pinus, sirsak dll tergantung untuk peruntukkannya apakah insektisida, fungisida ataukah bakterisida.

Dengan adanya metoda SRI ini diharapkan pertanian Indonesia mengalami peningkatan yang pesat baik dari segi produksi, kualitas maupun nilai – nilai ekologis tetap dipertahankan.

DAFTAR PUSTKA
Mudianto, G. 2009. Materi SRI Tuban. Dinas Pertanian Kab. Tuban.
Ruchiyat, Entang PhD. TOT NASIONAL SRI Ditjen PLA. 2009

Nama : ADITYA SUKMA PAWITRA
NIM : 100710472
IKM A 2007

Sayyidatul LCH.
Posted on 17th October, 2009

Budidaya dan Penanganan Pasca Panen Wortel ( Daucus carrota L )
Oleh :
Sayyidatul LCH
100710254
Sayuran ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vit. A karena memiliki kadar karotena (provitamin A). Selain itu, wortel juga mengandung vit. B, vit. C, sedikit vit. G, Pada umbinya terdapat gula, karotin, pektin, aspargin, vitamin A, B, C, D, E, dan vitamin K, serat, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, besi, sodium, asam amino, minyak esensial dan betakaroten. serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Sosok tanamannya berupa rumput dan menyimpan cadangan makanannya di dalam umbi. Mempunyai batang pendek, berakar tunggang yang bentuk dan fungsinya berubah menjadi umbi bulat dan memanjang. Umbi berwarna kuning kemerah-merahan, berkulit tipis, dan jika dimakan mentah terasa renyah dan agak manis.
Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24° C), lembap, dan cukup sinar matahari. Dianjurkan untuk menanam wortel pada tanah yang subur, gembur dan kaya humus dengan pH antara 5,5-6,5. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalkan dilakukan pemupukan intensif. Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. Bila demikian, tanah perlu dikapur, karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi.

Tanah yang akan ditanami wortel diolah sedalam 30-40 cm. Tambahkan pupuk kandang sebanyak 1,5 kg/m2 agar tanah cukup subur. Bila tanah termasuk miskin unsur hara dapat ditambahkan pupuk urea 100 kg/ha, TSP 100 kg/ha, dan KCl 30 kg/ha. Selanjutnya dibuatkan bedengan selebar 1,5-2 m dan panjangnya disesuaikan dengan lahan. Tinggi bedengan di tanah kering adalah 15 cm, sedangkan untuk tanah yang terendam, tinggi bedengan dapat lebih tinggi lagi. Di antara bedengan perlu dibuatkan parit selebar sekitar 25 cm untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman. Kebutuhan benih wortel adalah 15-20 g/10 m2 atau 15-20 kg/ha. Benih wortel yang baik dapat dibeli di toko-toko tanaman atau membenihkan sendiri dari tanaman yang tua. Jika membeli, pilihlah benih yang telah bersertifikat. Benih wortel dapat langsung disebarkan tanpa disemai dahulu. Sebelumnya, benih direndam dalam air sekitar 12-24 jam untuk membantu proses pertumbuhan. Kemudian, benih dicampur dengan sedikit pasir, lalu digosok-gosokkan agar benih mudah disebar dan tidak melekat satu sama lain. Benih ditabur di sepanjang alur dalam bedengan dengan bantuan alat penugal, lalu benih ditutupi tanah tipis-tipis. Berikutnya, bedengan segera ditutup dengan jerami atau daun pisang untuk menjaga agar benih tidak hanyut oleh air. Jika tanaman telah tumbuh (antara 10-14 hari), jerami atau daun pisang segera diangkat.

Setelah tanaman tumbuh segera dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan pertama adalah penyiraman yang dapat dilakukan sekali sehari atau dua kali sehari jika udara sangat kering. Cara pemberian air yang lain ialah dengan jalan menggenangi parit di antara bedengan. Cara seperti ini dapat dilakukan bila terdapat saluran drainase. Tanaman yang telah tumbuh harus segera diseleksi. Caranya cabutlah tanaman yang lemah atau kering, tinggalkan tanaman yang sehat dan kokoh. Tindakan ini sekaligus diikuti dengan penjarangan yang berguna untuk memberikan jarak dalam alur dan menjaga tercukupinya sinar matahari sehingga tanaman tumbuh subur. Penjarangan menghasilkan alur yang rapi berjarak antara 5- 10 cm. Pemeliharaan selanjutnya adalah pemupukan yang sudah dapat dilakukan sejak tanaman berumur dua minggu berupa 50 kg Urea/ha, disusul pemberian kedua (1 atau 1,5 bulan kemudian) berupa urea sebanyak SO kg/ha dan KCl 20 kg/ha. Dosis dapat berubah sesuai kondisi tanah dan rekomendasi pemupukan yang ada. Cara pemupukan adalah dengan menaburkan pupuk pada alur sedalam 2 cm yang dibuat memanjang berjarak sekitar 5 cm dari alur tanaman. Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pendangiran. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Ada beberapa hama yang penting diketahui karena sering menyerang tanaman wortel di Indonesia, di antaranya sebagai berikut. Manggot-manggot (Psila rosae ) lalat wortel, Semiaphis dauci(serangga berwarna abu-abu) Dan masih banyak penyakit lainnya yang harus diperhatukan sebab dan cara mengatasinya.

Penangan pasca panen merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam rangka kualitas hasil yang baik, sehingga akan disenangi oleh konsumen dan memperoleh harga yang sampai ke tangan konsumen cukup baik. Beberapa tahap pelaksanaan panen dan pasca panen wortel adalah sebagai berikut :
1. Pemanenan
Wortel dapat dipanen pada umur sekitar 3-4 bulan. Untuk mengetahui waktu panen adalah dengan melihat daun tanaman wortel, yaitu apabila telah menguning dalam keadaan wajar artinya kuning bukan karena serangan hama atau penyakit dan diameter umbinya telah cukup besar yaitu sekitar 2 cm atau lebih. Pemanenan dilaksanakan pada pagi hari dengan menggunakan alat bantu seperti garpu dan cangkul. Umbi wortel diangkat beserta batangnya untuk memudahkan pengangkutan sehingga tiap untaian mudah dijinjing atau dipikul tanpa ada yang terluka.
2. Pembersihan dan Sortasi
Pada waktu pencucian untaian dilepas, bagian daun yang menguning dilepas, daun yang hijau dipertahankan. Setelah pencucian, dilakukan sortasi untuk memisahkan umbi yang besar, sedang dan kecil. Umbi yang rusak dan terluka dipisahkan karena mudah terkena infeksi mikrobia pembusuk. Sebaiknya umbi yang rusak ini dimanfaatkan untuk makanan ternak atau untuk kompos, sedangkan yang telah membusuk sebaiknya dibakar dan/atau dibuang. Umbi yang telah disortasi dapat diikat menjadi untaian sekitar 10-15 umbi untuk setiap untaian agar kelihatan lebih menarik dan segar sehingga disenangi oleh konsumen.
3. Penyimpanan
Umbi wortel yang telah siap disimpan, ditempatkan berjajar di lantai ruangan dengan dialasi daun pisang atau ditempatkan di rak-rak yang telah tersedia atau digantung berjajar pada gantungan. Ruang penyimpanan berupa ruang yang teduh dan terhindar dari sinar matahari langsung. Untuk menjaga kualitas perlu pengetahuan mengenai temperatur dan kelembaban ruangan penyimpanan. Temperatur ruangan sekitar 32 40 F, kelembaban sekitar 90 - 95 % dan aerasi cukup baik. Hal ini disebabkan karena :
a. Temperatur yang rendah dapat menghambat terjadinya tunas pada umbi serta timbulnya ethylene yang dapat menstimulir rasa pahit.
b. Kelembaban yang tinggi dapat menekan/ mengurangi kehilangan berat pada umbi dan mencegah umbi menjadi lembek.
4. Pengepakan dan Pengiriman
Untuk pengiriman yang memerlukan waktu tempuh sekitar 2 - 3 jam dapat dilakukan pengemasan dalam bentuk untaian yang disusun dengan baik dalam keranjang agar aerasi cukup baik dan ditutup dengan daun pisang. Selanjutnya bak kendaraan ditutup dengan kain terpal agar terhindar dari sinar matahari. Sebaiknya pengiriman dilakukan pada pagi atau sore hari.Untuk pengiriman dengan jarak tempuh yang jauh sebaiknya dilakukan dengan kendaraan box yang berpendingin.
5. Pengeringan
Selain dalam bentuk segar untuk dikonsumsi sebagai juice dan sayur, umbi wortel juga dapat dikeringkan untuk dijadikan sebagai sayuran kering (Teknopro No. 09 tanggal 15 September 2001) serta untuk dijadikan sebagai tepung dan dikemas dalam kaleng untuk bahan makanan yang bergizi terutama untuk makanan bayi. Dan yang dapat juga disajikan sebagai kripik.
Permasalahan utama yang menyebabkan keharusan perhatian pada masa pasca panen adalah adanya kualitas produk yang tidak tahan lama (wortel-busuk) sehingga produk harus segera habis terjual sebelum produk tersebut menurun kualitasnya,
Dan dengan adanya proses produksi pasca panen diharapkan masa mendatang wortel bisa lebih dimanfaatkan tidak hanya sebagai sayuran tetapi bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi. Sehingga pada saat musim panen wortel dengan banyaknya ragam pengolahannya, maka nilai jual wortel tidak akan merugikan petani.

Daftar pustaka
http://www.iptek.net.id
Ir. A.G. Kartasapoetra, 1994. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Rineka Cipta, Jakarta.
http://warnadunia.com/manfaat-khasiat-dan-kandungan-wortel-bagi-kesehatan/

Frisya Febriani
Posted on 18th October, 2009

Pengembangan SRI (System of Rice Intensification)

System of Rice Intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Metode SRI ini menggunakan bibit dan input yang lebih sedikit dibandingkan metode tradisional (misalnya air) atau metode yang lebih modern (pemakaian pupuk dan asupan kimiawi lain). Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, uji coba pola/teknik SRI pertama dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Sukamandi Jawa Barat pada musim kemarau 1999 dengan hasil 6,2 ton/ha dan pada musim hujan 1999/2000 menghasilkan padi rata-rata 8,2 ton/ha. SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur yang sebagian besar dipromosikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menaruh perhatian dan sekaligus aktif mempromosikan perluasan SRI di Indonesia, diantaranya adalah Yayasan Field (Field Foundation) yang tugas utamanya adalah untuk memperkenalkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) kepada petani dan berkembang mengadopsi praktek SRI melalui Sekolah Lapang. Melalui Field Foundation, orientasi pengembangan SRI diarahkan pada Budidaya Padi Ekologis (BPE) yang dilaporkan mempunyai potensi untuk meningkatkan produksi padi, pendapatan petani dan pemanfaatan tenaga kerja, khususnya di daerah-daerah yang mempunyai sumberdaya dan pola hidup petaninya mendukung. LSM lainnya yang juga mengintroduksikan praktek SRI adalah World Education, VECO, dan MEDCO Foundation dengan rencana pengembangan 10 ribu hektar padi organik, dari rencana keseluruhan 400 ribu hektar di seluruh Indonesia. Selanjutnya, SRI juga telah berkembang di beberapa daerah di Kalimantan, Sulawesi serta Papua.
Penerapan gagasan SRI berdasarkan pada enam komponen penting :
(1) Transplantasi bibit muda. Secara umum SRI menganjurkan untuk menanam bibit muda saat berumur 8-15 hari. Transplantasi pada saat bibit muda dapat mengurangi guncangan dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam
memproduksi batang dan akar selama pertumbuhan vegetatif, sehingga batang yang muncul lebih banyak jumlahnya dalam satu rumpun dan maupun bulir padi yang dihasilkan oleh malai. Disamping itu juga agar mendapatkan jumlah anakan dan pertumbuhan akar maksimum.
(2) Bibit ditanam satu batang. Hal ini dimaksudkan agar tanaman memiliki cukup ruang untuk menyebar dan memperdalam perakaran. Tanaman tidak bersaing terlalu ketat untuk memperoleh ruang tumbuh, cahaya atau hara dalam tanah sehingga sistem perakaran menjadi sangat baik.
(3) Jarak tanam lebar. SRI menganjurkan jarak tanam lebar dengan jarak minimal 25 cm x 25 cm agar akar tanaman tidak berkompetisi dan mempunyai cukup ruang untuk berkembang sehingga anakan maksimum dapat dicapai.
(4) Kondisi tanah lembab (irigasi berselang). SRI menganjurkan teknik irigasi berselang agar tercipta kondisi perakaran yang teroksidasi untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendapatkan akar tanaman yang panjang dan lebat. Dengan SRI, kondisi tidak tergenangi hanya dipertahankan selama pertumbuhan vegetatif. Selanjutnya setelah pembuangan, sawah digenangi air 1-3 cm (seperti praktek konvensional). Petak sawah diairi secara tuntas mulai 25 hari sebelum panen.
(5) Melakukan pendangiran (penyiangan). SRI menganjurkan 2-3 kali pendangiran dengan menggunakan gasrok atau lalandak, selain untuk membersihkan gulma, memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aerasi tanah.
(6) Hanya menggunakan bahan organik (kompos). SRI menganjurkan pemakaian bahan organik (kompos) untuk memperbaiki stuktur tanah agar padi dapat tumbuh baik dan hara tersupply kepada tanaman secara baik.
Hasil penerapan gagasan SRI di lokasi penelitian (Kabupaten Garut dan Ciamis), menunjukkan bahwa : (1) Budidaya padi model SRI telah mampu meningkatkan hasil dibanding budidaya padi model konvensional, (2) Meningkatkan pendapatan, (3) Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usahatani secara finansial, (4) Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik.
Secara umum, dalam konsep SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, tidak diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua potensi tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya. Hal ini karena SRI menerapkan konsep sinergi, dimana semua komponen teknologi SRI berinteraksi secara positif dan saling menunjang sehingga hasilnya secara keseluruhan lebih banyak daripada jumlah masing-masing bagian. Dalam pelaksanaannya, sangat ditekankan bahwa SRI hanya akan berhasil jika semua komponen teknologi dilaksanakan secara bersamaan. Paket teknologi yang diterapkan dalam usahatani SRI secara nyata telah menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan input. Metode persemaian yang dimodifikasi dalam baki-baki kecil dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 20 cm, lebih hemat dibandingkan dengan pembuatan persemaian normal. Selain itu juga terjadi penghematan benih. Jika pada cara konvensional kebutuhan benih mencapai 30-40 kg per hektar, dalam pola SRI hanya sekitar 7-9 kg per hektar. Untuk penanaman sawah seluas 1 hektar diperlukan persemaian baki sebanyak 300-350. Oleh karena itu, persemaian baki cocok untuk dikembangkan pada sawah luasan kecil sebagaimana banyak dimiliki oleh sebagian besar petani di Indonesia. Penerapan pola SRI lebih ditekankan pada pola penghematan dalam penggunaan air. Dalam hal penggunaan air membutuhkan ketinggian genangan air yang jauh lebih rendah. Genangan air yang diperlukan dalam SRI bisa dikurangi mencapai 10-15 cm lebih rendah, bahkan bisa hanya genangan air dengan ketinggian 2 atau 1 cm. Pemahaman usahatani padi SRI sebagai padi organik dengan tidak mempergunakan pupuk anorganik, selain produksinya lebih bebas residu kimia bagi kesehatan tubuh manusia, juga secara langsung mendukung penyehatan tanah dan lingkungan. Hal tersebut menjadi dasar dilaksanakannya SRI.
Budidaya model SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan. Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
1. Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
2. Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
3. Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
4. Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.

Daftar Pustaka
http://lecture.brawijaya.ac.id/tatiek/files/2009/08/sri-2.pdf
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60
http://www.pertaniansehat.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=68
http://tep.tp.ugm.ac.id/content/system-rice-intensification-sri-meningkatkan-produksi-dan-menghemat-air
http://www.healthy-rice.com

NAMA : FRISYA FEBRIANI
NIM : 100710026
KELAS : IKM A 2007

Rizka Karina
Posted on 18th October, 2009

Pengembangan System Of Rice Intensification

Ancaman krisis pangan saat ini melanda dunia, tidak luput juga terhadap negara Indonesia. Sebagai makanan pokok rakyat Indonesia, namun sungguh ironis negeri subur makmur ini kini telah menjadi pengimpor beras nomor wahid di dunia. Akan lebih memprihatinkan lagi bila melihat kehidupan para produsen beras ini yaitu para petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat miskin negeri yang buminya subur dan kaya raya ini.
Saat ini bertani pada hakikatnya bukanlah pilihan profesi. Karena tingginya ongkos produksi, harga pupuk in-organik dan pestisida, ditambahi dengan rendahnya produktifitas dan harga gabah menyebabkan bertani bukan merupakan kegiatan ekonomis lagi. Namun demikian petani sudah pasrah dan putus asa dengan kondisi pertanian ini dan untuk mempertahankan hidupnya banyak dari kalangan petani yang mencari usaha sampingan di kota besar misalnya dengan menjadi penarik becak dan berbagai profesi buruh kasar lainnya selama menunggu masa panen yang sudah tidak terlalu mereka harapkan lagi dan hasilnya hanya sekedar cukup untuk dimakan sendiri dan keluarganya saja.
Bertani bagi mereka seolah-olah hanya menjadi sebagai suatu kebiasaan saja yang diturunkan leluhurnya dan sudah tidak bisa diharapkan untuk menjadi sandaran hidup lagi. Ditambah lagi dengan ketidaksadaran para petani terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarganya dan para pengguna produksinya serta lingkungan di sekitar termasuk tanah dan air akibat residu bahan kimia yang terhirup saat penyemprotan, terserap tanah dan yang tertinggal dalam air minum maupun makanan hasil pertaniannya. Tentunya ini bukan murni kesalahan para petani kita, mereka tidak mungkin mengatasi semua persoalan yang dihadapi di bidang pertanian ini tanpa bantuan dan kerjasama dari pihak-pihak yang berkompeten dengan memberikan solusi dan jalan keluar yang tepat untuk permasalahan yang dihadapi.
Kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian karena tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan. Namun demikian upaya peningkatan produksi instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia membuat kondisi tanah semakin rendah tingkat kesuburannya berakibat turunnya hasil produksi. Untuk mengatasinya para petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida/insektisida. Pada awalnya penambahan biaya produksi ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun.
Oleh karena itu teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.
SRI merupakan singkatan dari System of Rice Intensification, suatu sistem pertanian yang berdasarkan pada prinsip Process Intensification (PI) dan Production on Demand (POD). SRI mengandalkan optimasi untuk mencapai delapan tujuan PI, yaitu cheaper process, smaller equipment, safer process, less energy consumption, shorter time to market, less waste or byproduct, more productivity, and better image (Ramshaw, 2001).
SRI ditemukan oleh Pendeta Madagaskar Henri de Laulanie sekitar tahun 1983 di Madagaskar. SRI lahir karena adanya kepedulian dari Laulanie terhadap kondisi petani di Madagaskar yang produktivitas pertaniannya tidak bisa berkembang. Berangkat dari keterbatasan sarana yang Laulanie bisa perbantukan pada petani (yang terdiri atas keterbatasan lahan, biaya dan waktu), ia kemudian bisa membantu melipatgandakan produktivitas pertanian sampai suatu nilai yang mencengangkan. Sampai tulisan ini dibuat, terdapat banyak penelitian yang mencoba mengungkap ‘misteri’ dibalik keberhasilan Laulanie.
 Metode ini terdiri atas 3 poin utama, yaitu:
1. Penanganan bibit padi secara seksama. Hal ini terdiri atas, pemilihan bibit unggul, penanaman bibit dalam usia muda (kurang dari 10 hari setelah penyemaian), penanaman satu bibit per titik tanam, penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal), dan dalam jarak tanam yang cukup lebar.
2. Metode pokok SRI yang kedua adalah penyiapan lahan tanam. Penyiapan lahan tanam untuk metode SRI berbeda dari metode konvensional terutama dalam hal penggunaan air dan pupuk sintetis (untuk kemudian disebut pupuk). SRI hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak) dan tidak adanya penggunaan pupuk karena SRI menggunakan kompos.
3. Prinsip ketiga dalam metode SRI adalah keterlibatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos sebagai ’tim sukses’ dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda. Peran kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh padi secara optimal. Konsep bioreaktor adalah kunci sukses dari SRI.
Penanaman Padi dengan sistem SRI tidak perlu menggenangi sawah dengan air. Pemberian air di berikan secara berkala dengan tinggi air maksimum 0,5 cm dan pada periode tertentu sawah dibiarkan kering hingga tanah pecah-pecah. Dengan demikian dapat menghemat pemakaian air sekitar 30-50% dibandingkan dengan cara konvensional. Benih padi ditanam secara satu persatu tidak banyak seperti yang biasa dilakukan sehingga penggunaan benih lebih hemat. Meskipun ditanam satu per satu namun akarnya lebih panjang dan anakan padi yang dihasilkan lebih banyak.
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
• Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
• Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
• Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
• Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Padi SRI terbukti merupakan cara bercocok tanam yang hemat air, namun berproduktifitas tinggi. Selain itu, keunggulan padi SRI organik juga tidak memerlukan pupuk nonorganik, sehingga bisa ikut membantu pemerintah mengurangi penggunaan gas yang menjadi bahan utama pembuatan pupuk non organik.
Metode penanaman padi SRI organik juga dapat menjadi solusi mengatasi problem sampah, karena bahan organik dari sampah bisa digunakan sebagai pupuk kompos yang bermanfaat bagi budidaya padi SRI organic. Dengan padi SRI Organik, produktifitas akan naik tanpa merusak lingkungan, itu kuncinya. Sehingga kita ikut bertanggung jawab pada anak cucu kita.( SBY, 2007 )
Presiden mengemukakan hal itu pada acara panen padi yang menggunakan sistem “System of Rice Intensification (SRI) organik yang ramah lingkungan dan memiliki produktifitas yang tinggi. Saya mendukung penuh dan saya minta marilah kita kembangkan padi SRI seluas-luasnya. Menurut Presiden, padi SRI organik merupakan contoh nyata dari pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan sehingga perlu diterapkan seluas-luasnya.
Dan di Indonesia gagasan SRI telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Dan setelah dilakukan perbandingan dengan wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5 propinsi tersebut. Didapat jawaban bahwa setelah diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat. Dengan melihat banyaknya factor yang mendukung dan keuntungan yang bisa diperoleh, maka metode SRI harus dikembangkan lebih luas lagi di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60
http://www.kapanlagi.com/h/0000178034.html
http://www.pertaniansehat.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=68
http://lp.unand.ac.id/?pModule=penelitian&pSub=penelitian&pAct=detail&id=48&bi=18
http://www.antara.co.id/view/?i=1185772242&c=EKB&s=

Oleh :
Rizka Karina Wahyudi
100710180 / 26
IKM B 2007

YULI INDAH ROHMATIN
Posted on 18th October, 2009

PENGEMBANGAN PADI ORGANIK (SRI)
Oleh :
YULI INDAH ROHMATIN
IKM B / SEMESTER 5B
100710171
NOMER ABSEN : 19

Ancaman krisis pangan terutama beras, saat ini melanda dunia, begitu juga terhadap negara Indonesia. Karena tingginya ongkos produksi, harga pupuk in-organik dan pestisida, ditambahi dengan rendahnya produktifitas dan harga gabah menyebabkan bertani bukan merupakan kegiatan ekonomis lagi. Selain itu, masyarakat menginginkan makanan yang aman dari sisi kesehatan. Untuk memenuhi permintaan pasar itu, maka muncullah padi organic. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan yang diimbangi dengan meningkatnya kemampuan daya beli akhir-akhir ini telah mendorong konsumsi terhadap produk makanan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan terus meningkat.
Padi organik adalah padi yang disahkan oleh sebuah badan badan independen, untuk ditanam dan diolah menurut standar “organik” yang disahkan. Yakni berarti bahwa:
1. Tak ada pestisida dan pupuk dari bahan kimia sintetis atau buatan yang telah digunakan.
2. Kesuburan tanah dipelihara melalui proses “alami” seperti penanaman tumbuhan penutup dan atau penggunaan pupuk kandang yang dikompos dan limbah tumbuhan.
3. Tanaman dirotasikan di sawah untuk menghindari penanaman tanaman yang sama dari tahun ke tahun di sawah yang sama.
4. Pergantian bentuk-bentuk bukan kimia dari pengendalian hama digunakan untuk mengendalikan serangga, penyakit, dan gulma.
Dalam upaya pengembangan padi organik, yakni salah satu caranya adalah dengan menggunakan pola pertanian padi SRI organik. Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Metode ini dikembangkan dengan beberapa prinsip dasar sebagai berikut:
1. Pemberian pupuk organik
2. Peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang.
3. Penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan.
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
1. Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
2. Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
3. Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
4. Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Beras organik, merupakan beras yang bebas dari pestisida, pewarna dan bahan kimia lainnya, sehingga sangat aman dan sehat dikonsumsi oleh balita, orang dewasa, maupun para manula. Dikarenakan beras atau dalam hal ini nasi merupakan makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi sehari-hari maka sangatlah penting untuk memperhatikan keamanan dari makanan pokok kita ini. Beras organik ada beberapa macam warna, yakni: hitam, merah, coklat dan putih. Tak heran kalau masyarakat sering menyebutnya beras herbal. Beras organik dari Indonesia mempunyai keunggulan rasa lebih enak karena struktur tanahnya, aromanya harum dan tahan lama penyimpanannya.
Prinsip dasar budidaya padi organik SRI terdiri dari beberapa kegiatan kunci dan prosesnya mutlak harus dilakukan agar hasil yang dicapai petani optimal:
1. Proses Pembibitan.
2. Proses Pengolahan Lahan.
3. Proses Penanaman Bibit Padi.
4. Proses Pemeliharaan.
5. Proses Pemupukan.
6. Proses Pengendalian Hama.
Pada pengembangan padi secara organik ini memiliki kelebihan sebagai berikut:
1. Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik).
2. Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat.
3. Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat.

Adapun keunggulan beras organik dari beras un-organik adalah:
1. Memiliki kandungan nutrisi dan mineral tinggi,
2. Kandungan glukosa,karbohidrat dan proteinnya mudah terurai,
3. Aman dan sangat baik dikonsumsi penderita Diabetes,
4. Aman dikonsumsi oleh penderita Diabetes,
5. Baik untuk program diet,
6. Mencegah kanker,jantung,asam urat,darah tinggi, dan vertigo.
Pengembangan padi organik yang dilakukan petani tersebut bukan tidak menemui hambatan, sebaliknya sejumlah kendala masih menghadang usaha pertanian tersebut. Pemilikan lahan petani umumnya masih sangat rendah yakni hanya satu hektare, sementara itu harga jual beras organik juga masih disamakan dengan padi biasa.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, para petani membentuk gabungan kelompok tani. Gabungan kelompok tani itu menjalin bekerjasama dengan perusahaan yang memberikan pembinaan kepada petani untuk menghasilkan beras kualitas bagus serta menjamin pemasaran produk mereka. Untuk memproduksi beras organik yang berkualitas tersebut akhirnya membuahkan hasil yakni dengan diterimanya sertifikat organik dari “Institute or Marketology” (IMO) Swis. Dengan adanya sertifikat tersebut berarti telah ada pengakuan internasional bahwa kelompok tani itu sudah menerapkan sistem budidaya dan pengolahan beras dengan baik dan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi, keamanan pangan, serta keberlanjutan produktivitas lahan. Upaya untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya.
 Pertama, yakni peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani
 Kedua, yakni perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industry).
 Ketiga, yakni dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
 Keempat, yakni penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
 Kelima, yakni membangun jejaring yang terintegrasi
 Keenam, yakni secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air.
 Ketujuh, yakni secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik.
Peluang pasar padi organik yang besar (terutama pasar domestik) sudah seharusnya dioptimalkan, agar tidak kembali direbut produk impor. Upaya membesut kuantitas padi organik harus pula disertai dengan komitmen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas dan kontinuitasnya, sehingga produk tersertifikasi sesuai standar pasar internasional. Pengembangan padi organik harus didudukkan dalam kerangka pemahaman yang berkelanjutan, baik menyangkut rekonstruksi teknologi budi daya, rekonstruksi modal sosial, pemberdayaan petani, ketahanan dan kedaulatan pangan, maupun rekonstruksi keseimbangan ekosistem. Pertanian ramah lingkungan harus menjadi keharusan, bukan pilihan (opsi). Membudayakan padi organik dalam tatanan mapan modernitas tentu bukan hal yang mudah. Itu hanya akan tercapai apabila kita mampu memutus rantai siklus, dengan memulai menanamkan pertanian ramah lingkungan (seperti padi organik) menjadi warna pola pikir (mind set) masyarakat, sehingga perlahan namun pasti masyarakat memahami persoalan, serta menumbuhkan kesadaran akan arti keberlanjutan dan masa depan (regenerasi). Hal in akan lebih baik, daripada harus menanggung resiko dari efek homeostatis (penyesuaian) alam yang semakin membesar.

Daftar Pustaka:

Kristanto, Philip. 2002. Ekologi Industri. Jogjakarta : Penerbit Andi
Winarno. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi, dan Konsumen. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama
http://www.inilah.com/berita/teknologi/2009/03/18/91524/padi-organik-sumber-kesejahteraan/
http://www.rribandung.info/index.php?option=com_content&task=view&id=2630&Itemid=46
http://www.healthy-rice.com/
http://bumiganesa.com/?p=155
http://www.megtech.net/?p=14
http://www.radarjogja.co.id/berita/metropolis/2887-awas-beras-organik-palsu.html
http://green-organic-rice.blogspot.com/2009/02/beras-organik-hitam-merah-coklat-dan.html
http://www.koranbekasi.com/2008/07/21/padi-organik-petani-untung-lingkungan-sehat/

Mitah Rahayu Suwignyo
Posted on 18th October, 2009

Penggunaan Teknologi Bone Separator Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Ikan-Ikan Ekonomis Rendah

Indonesia adalah negara yang memiliki perairan laut yang sangat luas, beragam jenis ikan dapat kita temui di perairan Indonesia, mulai dari ikan yang bernilai ekonomis tinggi seperti tuna, tongkol, kerapu, bawal dan kakap hingga ikan dengan nilai ekonomis yang rendah seperti kurisi, kuniran, gurame maupun gulamah Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah, dua per tiga wilayah Indonesiaterdiri dari laut, potensi perikanan sebesar 6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan
namun belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2005, total produksi perikanan
4,71 juta ton, dimana 75% (3,5 juta ton) berasal dari tangkapan laut. Apabila dilihat dari tingkat
pemanfaatan, terutama untuk ikan-ikan non ekonomis belum optimal. Hal ini disebabkan
pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan konsumsi segar. Ekspor hasil
perikanan Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan
belum diolah (DKP,2007).
Dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan dalam bentuk basah,
sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan
olahan lainnya 1,86% Sedangkan dari ekspor tahun 2005 sebesar 857.782 ton, 80% diantaranya
didominasi produk olahan modern sedangkan produk olahan tradisional hanya sekitar 6%.
Selain belum maksimalnya pemanfaatan potensi perikanan di Indonesia, nasib nelayan miskin juga memprihatinkan. Hal ini dikarenakan hasil tangkapan ikan dari nelayan miskin seringkali menyedihkan. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah sangat sederhananya peralatan para nelayan itu saat mencari ikan di perairan. Sehingga hasil tangkapan para nelayan sederhana itu sedikit dan kebanyakan hanya ikan-ikan bernilai ekonomis rendah di pasaran. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan hasil tangkapan dari kapal-kapal perusahaan besar yang dapat meraup ribuan ikan termasuk ikan dengan nilai ekonomis tinggi.
Terdorong untuk memajukan perikanan dan mengembangkan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) serta perbaikan nasib nelayan miskin di bidang perikanan, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penggunaan teknologi tepat guna untuk pemanfaatan ikan-ikan dengan nilai ekonomis rendah dengan menggunakan teknologi bone separator atau mesin pemisah tulang ikan. Ikan-ikan ini setelah ditangkap, akan diolah lebih lanjut menjadi bahan makanan yang dapat dijual dengan harga lebih tinggi, artinya pengolahan lanjutan dengan bone separator ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah pada ikan bernilai ekonomis rendah. Penggunaan teknologi ini melalui pengembangan kelompok-kelompok UKM di kalangan masyarakat pesisir akan menggerakkan roda ekonomi nelayan sehingga akan memicu tumbuhnya usaha-usaha pengolahan terkait. Usaha-usaha pengolahan tersebut misalnya Fillet (Bakso, Siomay, Otak-otak, Krupuk, Sosis, Nugget, Mpek-mpek, Kemplang), Jenis makanan olahan lainnya Limbah (Tulang,kepala,sisik, dan jerohan), Minyak ikan, Gelatin, Tepung ikan, Makanan ternak, Filamen.
Usaha ini jelas memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi jika dibandingkan saat ikan-ikan tersebut langsung dijual di pasar karena rasanya lebih lezat.
Mesin ini digunakan untuk memisahkan daging dan tulang ikan. Daging ikan lumat (mince fish) yang dihasilkan dapat langsung diolah menjadi baso, nugget, otak-otak, kerupuk ikan, atau produk lainnya, maupun disimpan dalam bentuk beku untuk stocking atau penggunaan dalam kurun waktu tertentu. Bahan baku ikan segar yang digunakan adalah jenis-jenis ikan ekonomis rendah seperti gulamah, gerot-gerot, kurisi, selar dan kembung. Penggunaan ikan-ikan ini dimaksudkan untuk memperoleh nilai tambah (added value) yang signifikan setelah diolah menjadi produk seperti tersebut di atas.
Salah satu jenis mesin bone separator adalah Mesin Fish Press atau pengepres ikan
Tipe 1
Kapasitas : 400 kg / jam
Listrik : 220 / 2200 watt
Tipe 2
Kapasitas : 300 kg / jam
Listrik : 220 / 1500 watt
Cara kerja mesin pemisah tulang ikan ini adalah ada beberapa tahapan untuk membuat daging lumat. Salah satu langkah dari proses tersebut adalah pemisahan daging dan tulang ikan tanpa kepala dan sudah tercuci bersih. Tujuan dari kegiatan perancangan dan pabrikasi ini adalah pembuatan mesin pemisahan daging dan tulang ikan. Prinsip kerja pemisahan adalah dengan pemberian tekanan terhadap ikan tanpa kepala tersebut dengan menggunakan roll silinder berlubang dan PVC flat belt conveyor. Proses pemisahan tersebut, daging yang sudah lumat akan melalui lubang-lubang pada roll silinder, kemudian masuk kedalam bagian drum. Didalam drum tersebut terdapat auger untuk mendorong keluar daging lumat tersebut menuju outlet. Sedangkan kulit dan tulang ikan yang berada dipermukaan drum akan didorong keluar oleh pisau ke bak penampung limbah. Komposisi mesin pemisah daging dan tulang ikan terdiri dari : roll silinder berlubang, auger, PVC flat belt convenyor, sistem transmisi (reduction gear, rantai sproket) dan motor listrik 2 hp. Dari uji fungsi menunjukkan bahwa unjuk kerja mesin bekerja dengan sangat baik pada kapasitas 35 Kg/jam.
Berdasarkan rincian di atas, teknologi bone separator ini merupakan suatu teknologi yang tepat guna dalam bidang perikanan. Teknologi ini dapat mendorong kemandirian nelayan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pemasukan bagi negara untuk hasil olahan ikan.

Oleh :
Mitah Rahayu Suwignyo
IKM A 2007
100710168

Daftar pustaka:
http://samuderateknik.com/index.php?pilih=hal&id=2 jam 11:47 18okt2009
http://samuderateknik.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=35 jam 11:51 18okt2009
http://www.mesinpertanian.com/Mesin_Press_Ikan_Mesin_Untuk_Mengepres_Ikan.html jam 12:00 18okt2009
http://indonetwork.co.id/Archigama_Indonesia/1169020/alatmesin-pemisah-tulang-ikan-fish-meat-bone-separator-fish.htm jam 12:05 18okt2009
http://mekanisasi.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=121%3Arancang-bangun-pemisah-daging-dan-tulang-ikan–fishmeat-bone-separator-machine-2000&catid=35%3Aabstrak-litbang-mektan-2000&Itemid=51 jam 12:10 18okt2009
http://74.125.153.132/search?q=cache:MtZwlcb032gJ:www.bi.go.id/NR/rdonlyres/B42DA6A8-A712-488B-A0CC-70ACBCBFD3DB/15982/FilletIkan.pdf+kerugian+teknologi+bone+separator&cd=6&hl=id&ct=clnk&gl=id jam 12:36 18okt09

Syafitria K Sari
Posted on 18th October, 2009

Pengembangan padi Hibrida Melalui Ekstensifikasi di Lahan Pasang Surut
Peningkatan kebutuhan akan pangan terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk. Sementara produksi pangan sendiri mengalami kecenderungan stagnan. Dengan keadaan seperti itu maka produksi pangan yang ada terutama beras tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan yang semakin meningkat. Kondisi ini terjadi disebabkan salah satu faktor klasik di negara yang pertumbuhan penduduknya tinggi, yaitu keterbatasan lahan produksi yang produktif. Kenyataan bahwa pada lahan produktif juga terus terjadi konversi lahan (penyusutan sebesar 1.4 % per tahun di pulau Jawa ) juga semakin menyurutkan lahan produksi. Lahan pertanian banyak berganti wajah menjadi pemukiman dan fasilitas lain. Kebutuhan beras menjadi salah satu kebutuhan pokok di Indonesia. Hampir setiap tahun terjadi peningkatan permintaan akan beras. Menurut FAO, permintaan akan beras di Indonesia 151 kg/kap/tahun sementara area tanam hanya 11.5 juta hektar dengan asumsi produksi 4.3 ton/hektar . Dengan jumlah penduduk 206 juta jiwa maka dalam 1 tahun permintaan beras diperkirakan akan mencapai 31.1 juta ton. Sebuah angka yang cukup besar. Kondisi penyusutan lahan produktif di Pulau Jawa ini telah memaksa pemerintah Indonesia untuk melakukan impor beras sebagai penyeimbang dari kecenderungan stagnasi produksi beras tersebut. Kondisi stagnasi produksi padi ini melahirkan pemikiran untuk meningkatkan kapasitas produksi padi nasional dengan dua cara yaitu : penggunaan bibit unggul dan pemanfaatan lahan-lahan marginal di luar Pulau Jawa.
• Pemanfaatan lahan marginal
Sampai saat ini lahan sawah irigasi masih menjadi tulang punggung produksi padi nasional. Padahal, pembangunan sistem irigasi memerlukan dana yang tidak sedikit. Adanya kecenderungan penyusutan lahan produktif di Pulau Jawa akhirnya mengharuskan kita untuk mengarahkan perhatian pada ketersediaan lahan marginal yang ada. Adapun lahan marginal ini berupa lahan tadah hujan, pasang surut, dan lahan kering. Salah satu pemanfaatan lahan marginal yang kini diupayakan adalah pengembangan lahan pasang surut.
• Lahan Pasang Surut
Ketersediaan lahan pasang surut di Indonesia kurang lebih 33 juta hektar yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Dari luasan yang ada tersebut, sekitar 6 juta hektar diantaranya cukup potensial untuk pengembangan pertanian. Namun dari luasan 6 juta tersebut hanya 554.000 hektar saja yang cocok untuk ditanami tanaman padi dengan hasil rata-rata 1.5 ton/ha. Rendahnya produktivitas padi di lahan pasang surut disebabkan karena tingkat kemasaman tanah yang tinggi, keracunan zat besi, alumunium, salinitas tinggi serta kekahatan unsur P dan Zn.
Pengenalan tipologi lahan dan tipe luapan air merupakan langkah awal dalam menentukan langkah prioritas penanganan. Kunci keberhasilan produksi padi pada agroekosistem lahan pasang surut ini adalah pengelolaan dan tata air secara tepat. Untuk itu maka sebelum kita memanfaatkan lahan pasang surut tersebut, kita harus membedakan dahulu tipologinya.
Adapun lahan pasang surut terbagi kedalam empat macam yaitu : lahan potensial, lahan sulfat asam, lahan gambut dan lahan salin.
Lahan potensial dengan memiliki kadar pirit beracun dengan kedalaman lebih dari 50 cm merupakan lahan yang paling sedikit kendalanya dalam meng-optimalkan lahan tersebut untuk pengembangan pertanian dibandingkan lahan sulfat dan lahan gambut yang memerlukan penanganan ekstra hati-hati. Sementara itu, berdasarkan tipe luapan air pasangnya, lahan pasang surut dibedakan menjadi empat macam yaitu : Type A, Type B, Type C dan Type D. Type A merupakan lahan yang terluapi pada pasang besar maupun kecil, type B adalah lahan yang hanya terluapi oleh pasang kecil saja. Type C adalah lahan pasang surut yang tidak terluapi pasang besar dan kecil dengan kedalaman kurang dari 50 cm sedangkan Type D merupakan lahan pasang surut yang tidak terluapi pasang besar maupun kecil dengan kedalaman lebih dari 50 cm.
Berdasarkan pada tipologi diatas, maka Type luapan A cocok untuk pengembangan padi sawah, Type B untuk sawah sistem surjan, Type C untuk sawah tadah hujan sedangkan Type D untuk tegalan atau perkebunan. Dengan memadukan pengelolaan lahan dan tata air (aliran satu arah) serta teknik budidaya tanaman, hasil padi sawah di berbagai lokasi lahan pasang surut berkisar 4-6 ton/ha gabah kering panen atau 2- 3 kali lipat hasil yang dicapai petani.
Pemilihan teknologi yang mencakup varietas unggul, pemupukan dan ameliorasi lahan bersifat spesifik lokasi. Beberapa varietas unggul yang biasa dikembangkan di lahan pasang surut antara lain : Punggur, Indragiri (toleran terhadap keracunan Fe dan AL), IR-42, Lalan dan Lematang Kendala yang ada dalam budidaya padi di lahan pasang surut pertama adalah aspek tanah yaitu sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Keasaman tanah yang tinggi dapat menyebabkan kelarutan unsur hara P tidak tersedia karena kelarutan Al dan Fe yang tinggi sehingga P terikat oleh unsur Al dan Fe. Selain itu dapat juga menyebabkan keberadaan pirit (FeS2) yang sangat rendah. Kedua adalah aspek lingkungan yang meliputi iklim, topografi, ketinggian dari permukaan laut, sistem tata air dan organisme pengganggu tanaman lainnya (Maamun , et al., 1996 ; Maas, et al 1996)
• Padi Hibrida di Pasang Surut
Produksi padi yang secara genetik kecil , sangat berpengaruh dalam besar kecilnya peningkatan hasil. Superioritas padi hibrida (sistem perakaran kuat, pembentukkan anakan tinggi, jumlah anakan produktif yang tinggi, jumlah gabah per malai yang tinggi, aktivitas akar yang lebih tinggi, kapasitas fotosintetis lebih tinggi, intensitas respirasi yang lebih rendah, efisiensi fotosintetis yang lebih tinggi serta pendistribusian hasil asimilasi yang lebih efektif) ini sangat memungkinkan dalam meningkatkan produksi padi secara nasional. Namun mampukah padi hibrida ditanam di lahan marginal seperti lahan pasang surut? Tentu saja bisa namun tidak mudah karena pengembangan padi hibrida di lahan pasang surut sangat ditentukan oleh seberapa kuat daya adaptasinya terhadap lingkungan.
Meninjau dari sifat-sifat superioritas padi hibrida, maka dalam pengembangannya di lahan pasang surut dapat berimplikasi pada beberapa keadaan antara lain :
1. Kemasaman yang tinggi lahan pasang surut dapat menyebabkan kelarutan beberapa hara sangat kecil terutama P dan Zn sehingga gejala kahat P dan Zn sering ditemui sementara unsur superioritas padi hibrida diharapkan mampu untuk toleran terhadap kemasaman tinggi, keracunan Al dan Fe serta kahat P dan Zn.
2. bahan organik mentah di atas tanah mineral mengakibatkan perakaran sukar menembus ke bagian bawah akibat kekurangan oksigen sehingga banyak akar-akar yang muncul di permukaan, adanya superioritas yang diharapkan adalah aktivitas perakaran yang tinggi dengan kondisi oksigen yang minim.
3. Kemudahan dan kejenuhan air bahan penyusun gambut menyebabkan keadaan tanah sangat lembek, kecendrungan sanggahan tanah yang sangat rendah sehingga menyanggah tegaknya tanaman juga rendah, superioritas yang diperlukan disini adalah sistem perakaran yang kuat. Dan terakhir, tempat bersarangnya hama dan penyakit tanaman, adanya superioritas yang diperlukan adalah toleransi bahkan resistensi padi terhadap hama dan penyakit.
Berkaitan dengan hal itu, mungkinkah padi hibrida dapat ditanam di lahan pasang surut? Dengan sifat-sifat superioritas yang ada ternyata padi hibrida mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan pasang surut. Hal ini telah dibuktikan oleh M. Zikri yang melakukan percobaan demplot padi hibrida di beberapa lokasi lahan pasang surut di Sumatera Selatan (Lihat tabel).
Selain penggunaan varietas unggul, perbaikan teknologi budidaya juga sangat diperlukan untuk mendukung daya adaptasi dan peningkatan hasil padi hibrida. Beberapa teknik budidaya padi hibida yang bisa diterapkan di lahan pasang surut antara lain :
1.Penanaman dengan memperhitungkan waktu pasang maupun surutnya air
2.Pengolahan lahan yangtidak terlalu dalam. Hal ini dilakukan karena lahan pasang surut cenderung mengandung banyak unsur pirit (FeS2). Bila terlalu dalam dikhawatirkan akan terjadi oksidasi pirit yang dapat berakibat pada kemasaman ekstrim.
3.Penyiapan tata air (saluran sekunder maupun tersier)
4.Pengaturan air pada fase vegetatif (tidak selalu membutuhkan kondisi tergenang) yang penting tanah cukup basah.
5.Pengaturan air pada fase generatif dimana genangan air tidak boleh lebih dari 10 cm
6.Pemupukan, untuk lahan yang agak masam, perlu ditambahkan dolomite untuk menetralisir kemasamannya (penurunan 0.1 unit setara dengan 1 ton/ha kapur) misal pH tanah 5,5; pH larutan penyangga 7; pH suspensi tanah dikurangi pH larutan penyangga 6,5 maka kebutuhan kapur tanah tersebut adalah 1.5/0.1 dikalikan 1 ton/ha yaitu 3 ton/ha. Selain itu minimalisir juga penggunaan pupuk yang mengandung asam tinggi. Kadangkala penggunaan pupuk melalui tanah kurang efektif karena kondisi kemasaman sehingga dimungkinkan penambahan nutrisi melalui foliar application (penggunaan pupuk daun).
7.Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sedini mungkin tanpa menunggu gejala serangan nampak. Hal ini disebabkan penanaman padi baik hibrida maupun non hibrida di lahan pasang surut sangat beresiko terserang hama dan penyakit. Kondisi lahan pasang surut sangat memungkinkan menjadi sarang hama dan penyakit. Untuk itu, maka pemberian nutrisi terutama unsur mikro Cu disarankan untuk menjaga ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Selain beberapa kondisi di atas, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam rangka pengembangan padi hibrida di lahan pasang surut. Namun demikian, potensi lahan yang cukup luas lahan pasang surut untuk dikembangkan merupakan salah satu kesempatan mendongkrak produksi padi nasional. Sebuah kajian yang lebih mendalam sangat dibutuhkan terutama masukan berbagai pihak dalam pengembangan padi hibrida di lahan pasang surut sangat dibutuhkan agar tidak terjadi lagi proyek lahan sejuta hektar yang tersia-sia yang mengakibatkan berjuta-juta kerusakan.

NAMA : Syafitria K Sari
100710061 / IKM A-07
Daftar Pustaka :
http://www.tanindo.com/abdi18/hal1401.htm

An Nisaa Aninditya (100710116) IKM-B'2007 / no.11
Posted on 18th October, 2009

Pengembangan Varietas Padi Unggul Hibrida (VUH) di Indonesia
Oleh :
An Nisaa Aninditya (100710116)
IKM-B’2007 / no.11

Keberadaan varietas padi lokal sekarang dalam keadaan kritis. Ribuan varietas padi lokal telah lenyap dari ladang petani. Berbagai pemaksaan yang dilakukan pemerintah untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies indika. Padahal, Indonesia kaya plasma nutfah padi lokal spesies Javanika, yang berpotensi untuk dikembangkan. Pemaksaan yang dilakukan pemerintah kepada petani untuk menanam varietas padi unggul, justru membunuh kreativitas petani. Tanaman padi lokal semakin hilang dan varietas padi unggul tidak bisa dipastikan sebagai produk yang maksimal. Cuplikan di atas merupakan sebagian dari bentuk kontra tentang adanya Pengembangan VUH di Indonesia.
Di sisi lain, varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 150 varietas unggul padi yang meliputi 80% total areal padi di Indonesia. Perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. Dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut. Pengembangan varietas padi hibrida secara komersial setidaknya didasarkan atas dua hal, yaitu keunggulan varietas hibrida tersebut dan kemudahan produksi benihnya. Keunggulan varietas padi hibrida didasarkan atas fenomena heterosis yang diharapkan muncul, terutama potensi hasil, sedangkan kemudahan produksi benih dapat dilakukan dengan penggunaan galur mandul jantan dengan karakter pembungaan yang mendukung persilangan alami. Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1983 dengan tujuan menjajagi prospek dan kendala penggunaan padi hibrida.
Varietas unggul baru selalu dikembangkan untuk menghadapi tantangan zaman. Salah satu terobosan adalah perakitan padi tipe baru. Padi tersebut memiliki tekstur yang memungkinkan memiliki potensi hasil maksimal. Tipe tanaman yang dibentuk adalah malai panjang, jumlah anakan sedikit. Sifat lain yang diharapkan akan terbentuk adalah batang kuat, postur tanaman tegak, daun hijau tua dengan masa penuaan (senesence) yang lambat, serta tahan terhadap hama penyakit utama. Padi tipe baru mulai dikembangkan di IRRI dengan banyak memanfaatkan varietas lokal Indonesia. Indonesia sendiri, mulai merakit padi tipe baru pada tahun 1985 dan terus dikembangkan sampai sekarang.
Kini, padi yang lebih banyak menarik perhatian dunia swasta adalah padi hibrida. Karena dapat memberikan lonjakan hasil melalui fenomena hipotesis, yaitu penampakan keturunan F1 (keturunan pertama hasil persilangan antara dua tetua yang berbeda) yang lebih bagus daripada kedua tetuanya, atau varietas terbaik yang telah ada. Padi hibrida mulai dikembangkan di Cina pada tahun 1964 dengan ditemukannya mandul jantan. Selanjutnya pada tahun 1976 padi hibrida telah dikomersialkan. Saat ini, lebih dari separuh areal pertanaman padi di Cina adalah hibrida. Padi hibrida di sana mampu memberikan hasil 15% lebih tinggi daripada varietas non hibrida. Pihak lain yang semenjak awal meneliti padi hibrida adalah Jepang, Amerika, IRRI, dan India. Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai sekitar tahun 1980-an, dengan mengintroduksi padi hibrida dari Cina, dan selanjutnya memanfaatkan padi asal Indonesia sendiri, serta bekerjasama dengan IRRI. Pada tahun 2002 ini, telah dilepas dua varietas padi hibrida oleh pemerintah (Badan Litbang Departemen Pertanian) dan lima varietas oleh swasta. Varietas-varietas hibrida lain segera menyusul. Padi hibrida dapat memberikan tingkat produksi rata-rata yang relatif lebih baik daripada padi unggul nasional. Tapi padi hibrida hanya lebih baik apabila ditanam pada tempat yang cocok dan dengan praktik agronomis yang ideal. Apabila ditanam di tempat yang tidak cocok dan praktik agronomis yang tidak sempurna, hasilnya tidak lebih baik daripada padi unggul nasional. Suatu hal yang menarik dari pengembangan padi hibrida di Indonesia adalah inisiatifnya datang dari swasta yang berkeinginan untuk mengembangkan benih padi di dalam negeri. Perusahaan swasta waktu itu seperti PT Benih Inti Subur Intani, Mitsui Chemical, Inc., PT Bangun Pusaka, PT Bayer Indonesia, dan PT Karya Niaga Beras Mandiri. Selama ini hanya pemerintah yang mempunyai inisiatif dan pemerintah melalui Balai Besar Penelitian Padi juga sudah menghasilkan 4 varietas padi hibrida. Selain itu, Kebijakan mengenai padi hibrida pada waktu itu adalah pemerintah mendukung swasta untuk pengembangan padi hibrida di dalam negeri. Dan mereka diberi izin sementara untuk mengimpor benih padi hibrida. Tujuan impor tersebut untuk percobaan dan bahan dasar pengembangan benih di dalam negeri. Kendati pun padi hibrida kini terlihat lebih unggul daripada padi unggul nasional tetapi kita tidak bisa mengabaikan begitu saja padi unggul nasional. Karena dia sudah lebih teruji daya adaptasinya, lebih toleran terhadap hama penyakit, dan produktivitasnya cukup baik. Beberapa contoh padi unggul nasional adalah Ciherang, Sintanur, dan Fatmawati. Dan penggunaan varietas padi yang beragam dapat mengantisipasi risiko gagal panen bila hanya ditanam satu varietas. Indonesia sekalipun hanya menggunakan benih padi unggul nasional saja sudah termasuk salah satu negeri dengan produktivitas padi per-hektarnya paling tinggi di dunia. Kita hanya sedikit di bawah China, Jepang, dan Korea. Produktivitas padi Indonesia lebih tinggi dibandingkan India, Thailand, Filipina, dan negara-negara penghasil beras lainnya. Meski disebut-sebut memiliki tingkat produktivitas lebih baik dibandingkan dengan varietas inhibrida, Riza V Tjahjadi dari BioTani Indonesia melihat sejauh ini respons petani terhadap padi hibrida pasif. Pasalnya, tingkat produksi padi hibrida rata-rata 6,6 ton/ha, lebih rendah daripada produksi padi konvensional 7-8 ton/ha. “Selain peka terhadap hama, padi hibrida yang ada di pasaran kurang enak.” Ada sejumlah faktor padi hibrida tidak menarik bagi petani. Harga benih padi hibrida mahal, bisa enam kali lipat. Petani harus membeli benih baru setiap tanam karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai. Produksi benih rumit dan memerlukan areal tanam khusus. Pengujian daya hasil padi hibrida di Indonesia dari tahun 1984 - 1987 menunjukkan bahwa, padi hibrida selalu menempati urutan teratas pada masing-masing percobaan, walaupun dalam beberapa percobaan, keunggulan hasil ini belum menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai standart heterosis untuk hasil yang dicapai oleh kombinasi hibrida terbaik pada masing-masing percobaan berkisar antara 0,9 - 117,4 % dengan rata-rata sebesar 23,54 % . Sedangkan untuk produktifitas per hari berkisar antara - 12,3 sampai 98,0 % dengan rata-rata sebesar 38,05 %. Pengujian daya hasil padi hibrida dari tahun 1990 -1996 juga menunjukkan hal yang sama dengan diatas, dimana hasil tertinggi selalu ditempati oleh padi hibrida. Dimana nilai standart heterosis untuk hasil kombinasi hibrida terbaik berkisar antara 2 - 49 %, dengan rata-rata sebesar 24,5 %. Dengan mengkaji keunggulan-keunggulan padi hibrida tersebut diatas, maka pengembangan padi hibrida di Indonesia merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dimasa yang akan datang. Berdasarkan luasan lahan irigasi yang dimiliki oleh negara Indonesia, serta upah tenaga kerja yang relatif tidak mahal, maka Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan padi hibrida, baik untuk pengem-bangan penggunaan padi hibrida guna pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, maupun untuk pengembangan industri benih padi hibrida. Selain itu, dengan turut sertanya perusahaan-perusahaan benih pemerintah (PT. Sang Hyang Sri dan PT. Pertani), maupun swasta (PT. BISI) dalam menyiapkan sarana maupun prasarana dalam pengembangan industri benih padi hibrida di Indonesia diharapkan mempercepat penemuan dan sosialisasi penggunaan benih padi hibrida di Indonesia.

Daftar Pustaka :
http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/st260203-1.pdf
http://www.tanindo.com/abdi4/hal1501.htm
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid=643.html

an nisaa aninditya
Posted on 18th October, 2009

Pengembangan Varietas Padi Unggul Hibrida (VUH) di Indonesia
Oleh :
An Nisaa Aninditya (100710116)
IKM-B’2007 / no.11

Keberadaan varietas padi lokal sekarang dalam keadaan kritis. Ribuan varietas padi lokal telah lenyap dari ladang petani. Berbagai pemaksaan yang dilakukan pemerintah untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies indika. Padahal, Indonesia kaya plasma nutfah padi lokal spesies Javanika, yang berpotensi untuk dikembangkan. Pemaksaan yang dilakukan pemerintah kepada petani untuk menanam varietas padi unggul, justru membunuh kreativitas petani. Tanaman padi lokal semakin hilang dan varietas padi unggul tidak bisa dipastikan sebagai produk yang maksimal. Cuplikan di atas merupakan sebagian dari bentuk kontra tentang adanya Pengembangan VUH di Indonesia.
Di sisi lain, varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 150 varietas unggul padi yang meliputi 80% total areal padi di Indonesia. Perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. Dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut. Pengembangan varietas padi hibrida secara komersial setidaknya didasarkan atas dua hal, yaitu keunggulan varietas hibrida tersebut dan kemudahan produksi benihnya. Keunggulan varietas padi hibrida didasarkan atas fenomena heterosis yang diharapkan muncul, terutama potensi hasil, sedangkan kemudahan produksi benih dapat dilakukan dengan penggunaan galur mandul jantan dengan karakter pembungaan yang mendukung persilangan alami. Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1983 dengan tujuan menjajagi prospek dan kendala penggunaan padi hibrida.
Varietas unggul baru selalu dikembangkan untuk menghadapi tantangan zaman. Salah satu terobosan adalah perakitan padi tipe baru. Padi tersebut memiliki tekstur yang memungkinkan memiliki potensi hasil maksimal. Tipe tanaman yang dibentuk adalah malai panjang, jumlah anakan sedikit. Sifat lain yang diharapkan akan terbentuk adalah batang kuat, postur tanaman tegak, daun hijau tua dengan masa penuaan (senesence) yang lambat, serta tahan terhadap hama penyakit utama. Padi tipe baru mulai dikembangkan di IRRI dengan banyak memanfaatkan varietas lokal Indonesia. Indonesia sendiri, mulai merakit padi tipe baru pada tahun 1985 dan terus dikembangkan sampai sekarang.
Kini, padi yang lebih banyak menarik perhatian dunia swasta adalah padi hibrida. Karena dapat memberikan lonjakan hasil melalui fenomena hipotesis, yaitu penampakan keturunan F1 (keturunan pertama hasil persilangan antara dua tetua yang berbeda) yang lebih bagus daripada kedua tetuanya, atau varietas terbaik yang telah ada. Padi hibrida mulai dikembangkan di Cina pada tahun 1964 dengan ditemukannya mandul jantan. Selanjutnya pada tahun 1976 padi hibrida telah dikomersialkan. Saat ini, lebih dari separuh areal pertanaman padi di Cina adalah hibrida. Padi hibrida di sana mampu memberikan hasil 15% lebih tinggi daripada varietas non hibrida. Pihak lain yang semenjak awal meneliti padi hibrida adalah Jepang, Amerika, IRRI, dan India. Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai sekitar tahun 1980-an, dengan mengintroduksi padi hibrida dari Cina, dan selanjutnya memanfaatkan padi asal Indonesia sendiri, serta bekerjasama dengan IRRI. Pada tahun 2002 ini, telah dilepas dua varietas padi hibrida oleh pemerintah (Badan Litbang Departemen Pertanian) dan lima varietas oleh swasta. Varietas-varietas hibrida lain segera menyusul. Padi hibrida dapat memberikan tingkat produksi rata-rata yang relatif lebih baik daripada padi unggul nasional. Tapi padi hibrida hanya lebih baik apabila ditanam pada tempat yang cocok dan dengan praktik agronomis yang ideal. Apabila ditanam di tempat yang tidak cocok dan praktik agronomis yang tidak sempurna, hasilnya tidak lebih baik daripada padi unggul nasional. Suatu hal yang menarik dari pengembangan padi hibrida di Indonesia adalah inisiatifnya datang dari swasta yang berkeinginan untuk mengembangkan benih padi di dalam negeri. Perusahaan swasta waktu itu seperti PT Benih Inti Subur Intani, Mitsui Chemical, Inc., PT Bangun Pusaka, PT Bayer Indonesia, dan PT Karya Niaga Beras Mandiri. Selama ini hanya pemerintah yang mempunyai inisiatif dan pemerintah melalui Balai Besar Penelitian Padi juga sudah menghasilkan 4 varietas padi hibrida. Selain itu, Kebijakan mengenai padi hibrida pada waktu itu adalah pemerintah mendukung swasta untuk pengembangan padi hibrida di dalam negeri. Dan mereka diberi izin sementara untuk mengimpor benih padi hibrida. Tujuan impor tersebut untuk percobaan dan bahan dasar pengembangan benih di dalam negeri. Kendati pun padi hibrida kini terlihat lebih unggul daripada padi unggul nasional tetapi kita tidak bisa mengabaikan begitu saja padi unggul nasional. Karena dia sudah lebih teruji daya adaptasinya, lebih toleran terhadap hama penyakit, dan produktivitasnya cukup baik. Beberapa contoh padi unggul nasional adalah Ciherang, Sintanur, dan Fatmawati. Dan penggunaan varietas padi yang beragam dapat mengantisipasi risiko gagal panen bila hanya ditanam satu varietas. Indonesia sekalipun hanya menggunakan benih padi unggul nasional saja sudah termasuk salah satu negeri dengan produktivitas padi per-hektarnya paling tinggi di dunia. Kita hanya sedikit di bawah China, Jepang, dan Korea. Produktivitas padi Indonesia lebih tinggi dibandingkan India, Thailand, Filipina, dan negara-negara penghasil beras lainnya. Meski disebut-sebut memiliki tingkat produktivitas lebih baik dibandingkan dengan varietas inhibrida, Riza V Tjahjadi dari BioTani Indonesia melihat sejauh ini respons petani terhadap padi hibrida pasif. Pasalnya, tingkat produksi padi hibrida rata-rata 6,6 ton/ha, lebih rendah daripada produksi padi konvensional 7-8 ton/ha. “Selain peka terhadap hama, padi hibrida yang ada di pasaran kurang enak.” Ada sejumlah faktor padi hibrida tidak menarik bagi petani. Harga benih padi hibrida mahal, bisa enam kali lipat. Petani harus membeli benih baru setiap tanam karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai. Produksi benih rumit dan memerlukan areal tanam khusus. Pengujian daya hasil padi hibrida di Indonesia dari tahun 1984 - 1987 menunjukkan bahwa, padi hibrida selalu menempati urutan teratas pada masing-masing percobaan, walaupun dalam beberapa percobaan, keunggulan hasil ini belum menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai standart heterosis untuk hasil yang dicapai oleh kombinasi hibrida terbaik pada masing-masing percobaan berkisar antara 0,9 - 117,4 % dengan rata-rata sebesar 23,54 % . Sedangkan untuk produktifitas per hari berkisar antara - 12,3 sampai 98,0 % dengan rata-rata sebesar 38,05 %. Pengujian daya hasil padi hibrida dari tahun 1990 -1996 juga menunjukkan hal yang sama dengan diatas, dimana hasil tertinggi selalu ditempati oleh padi hibrida. Dimana nilai standart heterosis untuk hasil kombinasi hibrida terbaik berkisar antara 2 - 49 %, dengan rata-rata sebesar 24,5 %. Dengan mengkaji keunggulan-keunggulan padi hibrida tersebut diatas, maka pengembangan padi hibrida di Indonesia merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dimasa yang akan datang. Berdasarkan luasan lahan irigasi yang dimiliki oleh negara Indonesia, serta upah tenaga kerja yang relatif tidak mahal, maka Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan padi hibrida, baik untuk pengem-bangan penggunaan padi hibrida guna pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, maupun untuk pengembangan industri benih padi hibrida. Selain itu, dengan turut sertanya perusahaan-perusahaan benih pemerintah (PT. Sang Hyang Sri dan PT. Pertani), maupun swasta (PT. BISI) dalam menyiapkan sarana maupun prasarana dalam pengembangan industri benih padi hibrida di Indonesia diharapkan mempercepat penemuan dan sosialisasi penggunaan benih padi hibrida di Indonesia.

Daftar Pustaka :
http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/st260203-1.pdf
http://www.tanindo.com/abdi4/hal1501.htm
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid=643.html

Apriliana L.M
Posted on 18th October, 2009

Budidaya Varietas Unggul, Turunkan Angka Impor Kedelai Indonesia

Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi manfaat, tidak saja digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Pengembangan kedelai telah memberi kontribusi terhadap perekonomian nasional (PDB sub sektor tanaman pangan) meskipun nilainya masih relatif kecil dibandingkan dengan komoditi tanaman pangan lainnya.
Produksi kedelai tidak mampu memenuhi permintaan dalam negeri sehingga diperlukan impor dalam cukup besar, rata-rata 1,3 juta ton setiap tahunnya yang menghilangkan devisa negara ± Rp. 3 triliun. Pada tahun 2000 nilai impor kedelai mencapai US$ 544,2 juta (senilai 4,7 triliun). Besarnya impor telah memboroskan devisa serta mempengaruhi pasar dalam negeri yang mengakibatkan kurang minatnya petani untuk menanam komoditi tersebut sehingga hilangnya lapangan kerja dan nilai tukar petani.
Produksi kedelai nasional belum dapat memenuhi kebutuhan, karena luas panen aktual masih belum memadai dan produktivitas masih rendah. Produktivitas pada tingkat petani rata-rata 1,3 ton/ha, sedangkan potensi produksi mencapai 2,0 – 2,5 ton/ha.
Besarnya kesenjangan tersebut antara lain disebabkan karena penerapan teknologi pada tingkat petani masih rendah, penggunaan benih terbatas dan SDM masih lemah. Ditingkat petani, kedelai masih dianggap sebagai tanaman sampingan, tanaman sela atau tanaman untung-untungan. Untuk mengatasi itu maka upaya peningkatan produksi kedelai perlu diikuti dengan usaha menyadarkan petani menjadi profesional dalam berusahatani.
Secara teknis agronomis, masalah yang sering terlihat dilapang adalah sebagai berikut :
• Masa tanaman dalam satu hamparan (> 50 ha) belum serempak, tanaman yang terlambat tanam sering terserang hama, tumbuh kerdil atau kekeringan.
• Varietas dan benih yang ditanam kebanyakan masih bermutu ”asal-asalan”.
• Populasi tanaman yang dipanen setiap hektar optimal sehingga hasil rendah.
• Penyiapan lahan bekas sawah pada musim kemarau tanpa pembuatan saluran drainase, sehingga masih tergenang atau tanaman muda mengalami deraan penggenangan sehingga terhambat pertumbuhannya.
• Pengendalian gulma sering terlambat atau jarang dilakukan.
• Pengendalian hama penyakit belum efektif dan sering terlambat.
Akhirnya, untuk menyelesaikan masalah agronomis tersebut, pemerintah telah berhasil menyediakan komponen teknologi budidaya kedelai, yaitu berupa budidaya penanaman kedelai varietas unggul.
Varietas unggul Wilis paling luas ditanam oleh petani saat ini. Disisi lain, telah tersedia tujuh varietas unggul baru untuk ditanam dilahan sawah. Varietas unggul tersebut telah dievaluasi daya hasilnya, sehingga apabila dibudidayakan dengan benar dan baik, produktivitasnya dapat mencapai 1,5-2,0 ton/ha.
Penyediaan benih kedelai yang bermutu untuk petani masih merupakan masalah yang memerlukan pemecahan. Kebutuhan benih dengan daya tumbuh lebih 90% adalah sekitar 45-50 kg biji/ha luas lahan. Berikut adalah beberapa varietas unggul kedelai.
Tabel 1. Varietas Unggul Baru Kedelai Lahan Sawah Dilepas Antara Tahun 1998-2001
Varietas Hasil biji Umur Masak Berat 100 Sifat Khusus
((ton/ha) (hari) biji(gr)
Argomulyo 1,50-2,00 82 17-20 Toleran karat daun
Bromo 1,50-2,50 85 14-15 -
Burangrang 1,60-2,50 80 16-17 Agak genjah
Sinabung 2,10-2,64 85 11 Adaptif pada lahan sawah
Agak tahan pyk.kerat daun
Kaba 2,00-2,85 85 11 Adaptif pada lahan sawah
Agak tahan pyk.kerat daun
Mahameru 2,12-3,03 85 17 Agak tahan pyk.kerat daun
Anjasmoro 2,14-2,96 85 15 Agak tahan pyk.kerat daun
Penanaman dan budidaya varietas unggukl kedelai tenyu saja membutuhkan beberapa perlakuan khusus, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Penyiapan Lahan
Kedelai yang ditanam setelah padi sawah tidak memerlukan pengolahan tanah. Saluran drainase dengan kedalaman 25-30 cm dan lebar 30 cm, setiap 3-4 perlu dibuat untuk mengurangi kelebihan air dan berfungsi pula sebagai saluran irigasi pada saat hujan sudah berhenti.
2. Waktu Tanam
Ditanam pada bulan Maret/April atau Juli/Agustus masing-masing untuk pertanaman MK I dan MK II. Agar tidak terjadi akumulasi serangan hama dan penyakit serta kekurangan air, kedelai dianjurkan ditanam tidak lebih dari 7 hari setelah tanaman padi dipanen. Tanam harus dilakukan secara serempak pada satu hamparan, minimal 50 Ha.
3. Pemupukan
Pemberian pupuk sebaiknya ditaburkan dalam larikan yang dibuat di dekat lubang tanam disepanjang barisan kedelai. Pada lahan sawah yang subur atau setelah tanam padi Supra Insus, kedelai hanya perlu penambahan 50 kg Urea/ha. Sedangkan pada lahan sawah bertekstur berat (misalnya jenis tanah Vertisol) diperlukan pupuk 50 kg Urea + 50 kg SP36 + 100-150 KCl/ha. Pupuk anorganik dapat digantikan dengan pemberian 5-10 ton kotoran ayam/ha dengan 5 ton kompos jerami/ha.
4. Mulsa Jerami Padi
Mulsa jerami dapat menekan frekuensi penyiangan sehingga cukup dilakukan 1 x sebelum tanaman berbunga. Pada umumnya, banyaknya jerami padi yang digunakan sebagai mulsa sama dengan hasil jerami pada suatu petakan sehingga tidak diperlukan tambahan dari petakan lain. Namun demikian, sebanyak 5 ton jerami/ha diperkirakan cukup bagi kedelai. Pada daerah dengan lalat bibit dan gulma merupakan kendala, pembakaran jerami setelah tanam kedelai dapat dilakukan dan cara ini lebih menyeragamkan pertumbuhan awal kedelai.
5. Pengairan
Penambahan air ditujukan untuk mem-pertahankan kelembaban tanah hingga dicapai kondisi kapasitas lapang. Fase pertumbuhan tanaman yang sangat peka terhadap kekurangan air adalah awal pertumbuhan vegetatif sekitar 15-21 hst, saat berbunga 25-35 hst dan saat pengisian polong 55-70 hst. Dengan demikian pada fase-fase tersebut tanaman harus diairi apabila hujan sudah tidak turun lagi
6. Pengendalian Hama
Pengendalian hama secara bercocok tanam (kultur teknis) dan pengendalian secara hayati (biologis) saat ini dilakukan untuk menekan pencemaran lingkungan. Pengendalian secara kultur teknis antara lain penggunaan mulsa jerami, pengolahan tanah, pergiliran tanaman dan tanam serentak dalam satu hamparan serta penggunaan tanaman perangkap jagung. Sedangkan contoh pengendalian secara biologis antara lain penggunaan parasitoid Trichogrammatoidea bactrae-bactrae, penggunaan Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV) untuk ulat grayak Spadoptera litura (SINPV) dan untuk ulat buah Helicoverpa armigera (HaNPV) serta penggunaan feromonoid seks yang mampu mengendalikan ulat grayak. Terdapat 4 bahan nabati yang efektif terhadap hama pengisap polong dilapangan, yaitu serbuk biji nimba, srikaya, sirsak dan ekstrak daun mindi. Serbuk biji srikaya 40 gr/l mampu menekan populasi kutu kebul setara dengan insektisida Amitraz.
7. Pengendalian Penyakit
Penyakit utama pada kedelai adalah karat daun Phacospora pachyrhizi, busuk batang dan akar Schlerospora rol feii dan berbagai penyakit yang disebabkan virus. Pengendalian penyakit karat daun dengan fungisida Mancozeb, penyakit busuk batang dan akar menggunakan jamur antagonis Trichoderma harzianum. Sedangkan pengendalian virus dengan mengendalikan vektornya yaitu serangga hama kutu dengan insektisida Decis. Waktu pengendalian dilakukan pada saat tanaman berumur 40, 50 dan 60 hari.
8. Panen dan Pasca Panen
Panen dilakukan apabila 95% jumlah polong pada batang utama telah matang berwarna kunig kecoklatan atau kehitaman dan sebagian besar daunnya sudah rontok. Hasil panen ini segera dijemur agar cepat kering (4-5 hari tergantung sinar matahari) kemudian dilakukan perontokan biji dengan menggunakan thresher atau alat pemukul dari bambu. Butir biji dipisahkan dari kotoran/sisa kulit polong dan diusahakan kadar air biji mencapai 10-12% pada saat mulai disimpan.
Budidaya varietas unggul kedelai diharapkan mampu memenuhi permintaan kedelai dalam negeri, sehingge dapat menekan angka impor kedelai. Selain itu, petani dapat meningkatkan penghasilannya karena kedelai yang dihasilkan berkualitas dan tidak lagi menganggap kedelai adalah hasil tani sampingan. Pada akhirnya, kesejahteraan petani Indonesia akan meningkat pula.

DAFTAR PUSTAKA
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kedelai.html
http://www.deptan.go.id/teknologi/tp/tkedele4.htm
http://www.puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=download/download_detail&&id=34

Apriliana Lailatul Maghfiroh
IKM B 2007
100710199 / 43

Dian Fristyawati
Posted on 18th October, 2009

Nama : Dian Fristyawati
NIM/Absen : 100710014/11
Kelas : IKM A 2007
Mengintensifkan SRI (System of Rice Insification) dengan 5P
Indonesia adalah negara agraris yang sumber daya alamnya sangat mendukung pertanian yang ada. Tapi sumber daya alam yang ada hanya akan sia-sia saja jika pemanfaatannya tidak dapat efisien dan efektif. Banyaknya hambatan mengembangkan pertanian, khusunya produksi padi, perlu adanya cara yang dapat memaksimalkan hasilnya dengan sumber daya dan faktor pendukung yang ada. Sejalan dengan gagasan dan akibat yang telah ditimbulkan dari penggenangan air di lahan padi sawah, maka dipilih budidaya padi dengan SRI, yang diartikan sebagai upaya budidaya tanaman padi yang memperhatikan semua komponen yang ada di ekosistem (tanah, tanaman, mikroorganisme dan makroorganisme, udara, sinar matahari dan air) sehingga memberikan produktivitas yang optimal dan sinergis, menghindari berbagai pengaruh negatif bagi kehidupan komponen tersebut atau menghindari berbagai kerusakannya dan memperkuat dukungan untuk terjadinya aliran energi dan siklus nutrisi secara alami.
SRI memang bukan hal baru, tapi pelaksanaannya memerlukan kondisi yang sesuai dan optimal dari berbagi pihak. Kerja sama dari pemerintah, petani dan pihak-pihak yang terlibta sangat dibutuhkan untuk mengembangkan SRI dan memberikan manfaat yang maksimal dari hasil SRI. Dari beberapa pendapat dan berita, saya mencoba memaparkan bagaimana peluang SRI dikembangkan dengan program 5P.
Peluang Pengembangan SRI adalah sebagai berikut:
1. Pangan
SRI salah satu cara dalam mengoptimalkan potensi tanaman, kemampuan tanah, fungsi air, juga teknik budidaya menjadi satu rangkaian sistem yang akan memberikan produktivitas lahan lebih baik, pertumbuhan yang normal pada masing-masing biomassa tanaman sangat berpengaruh pada struktur tanaman, apalagi didukung oleh fungsi tanah sebagai sebuah pabrik yang terus bekerja /bioreaktor. sehingga produksi SRI telah didapatkan hasil yang meningkat 32% bahkan 2 kali lipat dari cara biasa (konvensional). Sehatnya tanah akan memberikan dukungan terhadap normalnya pertumbuhan tanaman yang pada gilirannya akan diperoleh makanan yang sehat, dengan kandungan karbohidrat tinggi, atau zat lainnya serta terhindar dari zat-zat yang berpengaruh negatif terhadap kesehatan manusia. Dari manfaat tersebut, berarti kita dapat berorientasi SRI meningkatkan produksi kebutuhan pangan utama, yaitu beras.
2. Pekerjaan
Kegiatan budidaya SRI di beberapa daerah telah membangkitkan semangat berusahatani terutama keterlibatan para petani dalam penyediaan sarana yang digunakan dalam usahanya seperti : pengadaan bahan organik, pembuatan kompos, pengembangan mikroorganisme lokal dan pembuatan pestisida nabati yang langsung dikerjakan para petani sendiri padahal sebelumnya mereka membeli, pengadaan dan pengembangan ternak untuk memenuhi kebutuhan organik selain penganekaragaman usaha di sektor pertanian, hal ini peluang untuk terus dikembangkan sekaligus membanguan pasar-pasar lokal yang merupakan sumber kekuatan perekonomian di pedasaan.
3. Pemanfaatan Energi
Pengelolaan agroekosistem pada budidaya metode SRI mengutamakan potensi alam lebih optimal , aktivitas biota dalam tanah didukung dengan upaya-upaya mengintensifkan pengelolaannya yang diintegrasikan oleh penggunaan air sesuai dengan kebutuhan aktivitas pertanaman dan ekologi tanah. Hal ini akan terjamin dengan kehadiran bahan organik di dalam tanah. Matahari, air dan unsur lainnya yang dapat dikelola adalah modal sumber energi yang dapat ditingkatkan nilainya dalam mendukung dan memperkuat budidaya tanam metoda SRI menjadi lebih efisien dan efektif serta produktif.
4. Perubahan Budaya yang Mendukung Pertanian
Kegiatan usahatani yang turun temurun adalah kekuatan budaya masyarakat di pedesaan, namun demikian beberapa hal yang telah menjadi budaya terkadang memberikan dampak negatif seperti : tanaman padi yang sejak semai sampai panen harus terus digenang, serangga yang hidup di pandang sebagai hama sehingga terjadi persaingan hidup yang ketat dan akhirnya harus jadi korban dibunuh, maka pestsida menjadi senjata yang ampuh untuk solusi terbaiknya, beberapa perlakuan terhadap benih yang mau ditanamkan terjadi pengrusakan biomasa, dipersemaian akar dicabut putus, daun di potong, batang diikat, dimasukan keranjang atau karung, ditumpuk sebelum ditanam, dilempar, ditanam banyak, ditanam dalam dan akhirnya di petakan sawah direndam.
SRI melakukan kebalikan dari apa yang telah dilakukan pada cara konvensional, sehingga dengan melaksankan pola SRI ini diharapkan kondisi tanaman berawal dari benih yang bernas, sehat tanpa ada kerusakan. Sehingga akan didapat sebuah budaya yang mengarah pada norma-norma saling menguntungkan dan berkesinambungan tanpa harus saling merusak atau membentuk persaingan yang bersifat merugikan.
5. Peningkatan Manfaat Lingkungan
Keharmonisan lingkungan di berbagai ekosistem tercipta dari sebuah pemikiran dan tindakan yang dperbuat, pada gilirannya hidup sehat akan dirasakan di berbagai kehidupan ekosistem serta unsur-unsurnya seperti : tanah sehat akan memberikan kehidupan rumah tangga tanah (ekologi tanah) yang sehat sekaligus akan mendukung produktivitas lahan lebih tinggi, rumah tangga tanah yang sehat sebagai jaminan terjadinya daur aliran energi dan siklus nutrisi yang lebih mapan sehingga diatas permukaan tanah akan menjamin kedinamisan, struktur jenjang hirarkis, dan interaksi yang saling tergantung satu sama lain di agro-ekosistem.
Sysem Of Rice Intensification dalam pengalamannya menerapkan pengelolaan akar tanaman padi sehat yang mengintegrasikan pengelolaan tanah yang dijadikan sebuah pabrik, pengelolaan tanaman dengan menjaga dan mempertahankan potensi tumbuhnya serta pengelolaan air yang merupakan sumber energi, nutrisi lebih efisien dan efektif.
Dari program-program di atas, saya mencoba manggabungakan pendapat dari Ir. H. Samsudin, M.Si sebagai bentuk aplikasi nyata yang dirangkum dalam paket teknologi budidaya SRI, sebagai berikut:
1) Penanaman bibit muda yaitu umur 8-12 hari setelah berkecambah saat tanaman baru berdaun dua helai dan tidak boleh melebihi dari 15 hari setelah berkecambah.
2) Menggunakan jarak tanam lebar, yaitu minimal 25cm x 25 cm, dan menanam tunggal (1 bibit per lubang).
3) Untuk menghindari trauma pada bibit saat penanaman, maka bibit ditanam segera secara hati-hati maksimal 30 menit setelah bibit di ambil dari persemaian.
4) Penanaman bibit padi secara dangkal (1-2 cm) dengan arah akar horisontal.
5) Dilakukan pengaturan air, yaitu: tanah dijaga terairi dengan baik (lembab), tetapi tidak terus menerus direndam.
6) Meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis.
7) Penggunaan pupuk dan pestisida organik untuk menjaga keseimbangan biologi tanah.
Sebagai pendukung agar SRI mampu diterapkan para pelaku usahatani, sebelumnya diutamakan Pembelajaran Ekologi Tanah (PET) dipahami lebih dulu sebagai sebuah gerbang dalam mengelolan agro-ekosistem, hal ini berdampak pada psikologis pengelola usahatani untuk berhati-hati dalam setiap keputusan untuk mengambil sebuah tindakan sehingga kondisi mahluk-mahluk hidup yang berada disekitarnya tidak lagi mati terbunuh atau hidup merusak dan merugikan.
Sebaik-baiknya program akan hanya menjadi sebuah program tanpa adanya aplikasi yang nyata dan tindakan yang sinergis antara pihak-pihak yang terlibat. SRI hanyalah salah satu cara dan banyak lagi cara-cara yang lain untuk mengembangkan potensi pertanian di Indonesia, khususnya pertanian padi. Tapi ketika itu hanya menjadi suatu yang dikerjakan secara tidak maksimal maka hasilnya juga tidak akan maksimal.

Daftar Pustaka:
http://tep.tp.ugm.ac.id/content/system-rice-intensification-sri-meningkatkan-produksi-dan-menghemat-air
Pedoman Teknis Pengembangan System of Rice Intensification (SRI), Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian, Jakarta, 2009

Idha Nurochmawati
Posted on 18th October, 2009

Pengembangan varietas padi unggul hibrida (VUH)
Oleh:
Idha Nurochmawati / 100710210 IKM B

Kebutuhan pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang mendasar bagi makhluk hidup di muka bumi ini. Kebutuhan pokok satu ini juga tidak lepas akan permasalahan, seperti halnya permasalahan pangan di Indonesia. Misalnya ketergantungan masyarakat Indonesia akan beras sangat tinggi, pola konsumsi masyarakat yang masih di atas 100 kg per kapita per tahun, kurangnya distribusi-distribusi pada daerah terpencil sehingga timbulnya masalah kesehatan seperti gizi buruk, harga pangan yang tinggi, kualitas pangan (dalam hal ini adalah beras) yang semakin menurun dan lain-lain. Oleh karena itu, pada saat ini pemerintah sudah berusaha menggalakkan program subsidi beras untuk masyarakat miskin, penyuluhan kepada para petani, program swasembada pangan, pengembangan benih varietas unggul padi atau jagung dan sebagainya. Namun program pemerintah ini masih belum maksimal. Pada supply dan mutu pangan khususnya beras perlu terus ditingkatkan, khususnya dalam hal produksi dan produktivitas.
Dalam bahasan sistem produksi pangan pra panen, mulai dari awal penanaman suatu pangan yang akan atau sedang dikonsumsi atau benih perlu mendapat perhatian lebih. Misalnya mulai dari pemilihan benih, persiapan lahan, penggunaan teknologi pra panen, persiapan irigasi, penyemaian dan lain-lain. Dalam artikel ini saya akan membahas tentang peningkatan produksi dan produktivitas pangan, dalam hal ini adalah padi. Lebih khususnya adalah pada suatu jenis varietas padi unggul hibrida.

Peranan benih
Benih adalah blueprint dari agribisnis. Kemajuan agribisnis sangat ditentukan oleh kualitas benih. Jika kualitas benih tidak bagus, maka hasilnya pun tidak akan bagus. Sekalipun kualitas benih yang tidak bagus dapat diatasi dengan teknik agronomis yang luar biasa baik sehingga baru dapat menghasilkan secara baik. Oleh karena itu peran benih sangat strategis. Depatemen pertanian yang dinaungi pemerintah banyak mengembangkan benih di dalam negeri melalui penelitian-penelitian dan kemudian dirilis sebagai varietas unggul. Satu kelompok benih yang telah dirilis saat ini adalah kelompok benih padi hibrida. Dari 2001—2004 telah dirilis 17 varietas padi hibrida yang berasal dari China, India, IRRI (Filipina), dan Jepang.

Padi unggul varietas hibrida
Padi dengan varietas hibrida dipercaya akan memberikan tingkat produksi rata-rata yang relatif lebih baik dari pada padi unggul nasional. Tapi padi hibrida hanya lebih baik apabila ditanam pada tempat yang cocok dan dengan praktik agronomis yang ideal. Apabila ditanam di tempat yang tidak cocok dan praktik agronomis yang tidak sempurna, hasilnya tidak lebih baik daripada padi unggul nasional.
Suatu hal yang menarik dari pengembangan padi hibrida di Indonesia adalah inisiatifnya datang dari swasta yang berkeinginan untuk mengembangkan benih padi di dalam negeri. Selama ini pemerintah yang mempunyai inisiatif melalui Balai Besar Penelitian Padi juga sudah menghasilkan 4 varietas padi hibrida, yaitu Hipa4 dilepas BB Padi, Hipa5 Ceva dan Hipa6 Jete hasil kerja samanya dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, dan Hipa7 yang dikembangkan sebagai publik dominan.
Salah satu peneliti padi hibrida pada Balai Besar Penelitian Padi (BPP Padi) menyebutkan bahwa secara teknis ada lima kunci utama agar pengembangan padi hibrida berhasil. Kelima kunci tersebut adalah 1) varietas yang cocok; 2) benih yang bermutu; 3) teknologi budidaya yang tepat; 4) wilayah yang sesuai, dan 5) respon petani.
Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu, belum tentu cocok di wilayah yang lain. Dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama dan penyakit serta memiliki mutu beras padi hibrida juga beraneka ragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut. Teknologi tepat guna yang telah atau belum dikembangkan pada daerah tersebut juga sangat berpengaruh pada produktivitas varietas ini, misalnya pada tahap penaburan benih dan pengelolaan tanah.

Pengunaan Benih Padi Hibrida Masih Rendah
Penggunaan benih padi hibrida di Indonesia relatif masih rendah dibandingkan dengan luas areal tanam yang ada. Banyak penyebabnya, salah satunya adalah petani banyak yang belum terbiasa dengan teknologi budidaya padi hibrida. Padahal, penggunaan padi hibrida dapat mendukung peningkatan produktivitas.
Namun perkembangan padi hibrida saat ini sudah terasa lebih baik. Kalangan swasta pun sudah banyak yang melirik dalam pengembangan hingga pemasaran jenis padi yang satu ini. Namun masih ada sebagian masyarakat yang bersikap hati-hati dalam menggunakan padi ini. Dan hal ini tidak selamanya salah karena pada kenyataannya ada beberapa kendala pada pengembangan padi hibrida.
Kedala itu antara lain adalah keterbatasan benih, kerentanan terhadap hama dan penyakit utama, dan ekpresi heterosis yang tidak stabil. Varietas padi hibrida yang telah dilepas pada umumnya (tentu saja tidak semuanya) rentan terhadap hama-penyakit utama seperti wereng coklat, HDB, dan virus tungro.
Meskipun produktivitas padi hibirida secara umum lebih tinggi 20% dibandingkan non hibrida, tapi tidak mudah mengubah kebiasaan petani beralih dari menanam padi varietas unggul non hibrida ke hibrida. Ada beberapa sebab diantaranya, sangat terkait dengan kebiasaan petani dalam menanam padi. Kemungkinan lain adalah karena harga benih padi hibrida lebih mahal.
Kendati pun padi hibrida itu terlihat lebih unggul daripada padi unggul nasional tetapi kita tidak bisa mengabaikan begitu saja padi unggul nasional. Karena dia sudah lebih teruji daya adaptasinya, lebih toleran terhadap hama penyakit, dan produktivitasnya cukup baik. Beberapa contoh padi unggul nasional adalah Ciherang, Sintanur, dan Fatmawati. Dan penggunaan varietas padi yang beragam dapat mengantisipasi risiko gagal panen bila hanya ditanam satu varietas.

Kebijakan pengembangan kualitas padi varietas unggul hibrida
Pengembangan benih hibrida menjadi salah satu upaya pemerintah mendorong penggunaan benih unggul bermutu di tingkat petani. Perkembangan terakhir kini penggunaan benih padi unggul (hibrida dan non hibrida) sudah mencapai 56% dari total luas areal tanam padi 7 juta ha. Setiap tahun kebutuhan benih padi sebanyak 320.000 ton.
Suksesnya pengembangan varietas ini bisa dihasilkan hanya dengan melakukan perakitan sendiri dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional atau setidaknya menggabungkan galur tertua introduksi dengan galur nasional.
Kebijakan mengenai padi hibrida pada waktu itu adalah pemerintah mendukung swasta untuk pengembangan padi hibrida di dalam negeri. Dan mereka diberi izin sementara untuk mengimpor benih padi hibrida. Tujuan impor tersebut untuk percobaan dan bahan dasar pengembangan benih di dalam negeri. Alasannya, kita berpendapat bahwa benih khususnya padi, karena penggunaan sangat luas, sebaiknya dihasilkan di dalam negeri. Indonesia bisa mengimpor neneknya, tapi tetua dan benih sebarnya dikembangkan di dalam negeri. Namun kebijakan pemerintah sendiri tidak setuju benih sebar sepenuhnya diimpor dan dalam jumlah besar. Jika tidak dibatasi demikian, benih sebar yang diimpor sangat potensial membawa hama dan penyakit yang belum ada di dalam negeri.
“Arah dan sasaran utama perakitan varietas padi hibrida ke depan adalah untuk menghasilkan varietas yang benar-benar adaptif di Indonesia, tahan terhadap berbagai hama dan penyakit utama dan akhirnya menghasilkan mutu beras yang lebih baik,” ungkap Satoto, pengamat padi kepada salah satu majalah agrobisnis di Indonesia.
Dapat disimpulkan bahwa pengembangan varietas padi di Indonesia masih perlu lebih ditingkatkan dan kebijakan pemerintah mengenai hal tersebut sebaiknya lebih diperhatikan, nenek moyangnya varietas hibrida saja dari Indonesia, kenapa harus mengimpor, sebaiknya dengan teknologi yang memadai, Indonesiapun mampu mencetak bibit-bibit padi unggul varietas hibrida. Demikian uraian singkat tentang peningkatan produksi dan produktivitas padi melalui pengembangan varietas padi unggul hibrida di Indonesia. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Daftar Pustaka
Unknown name.2007.Kunci Sukses Pengembangan Padi Hibrida. Subang. http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/415/
Jaya, Untung.2008. Padi Hibrida Padi Masa Depan.-. http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid=643
Julian.2009.Berkoalisi Teliti Padi Hibrida.Jakarta. http://agroindonesia.co.id/2009/03/24/berkoalisi-teliti-padi-hibrida/

pratiwi magdalina
Posted on 18th October, 2009

Pratiwi Magdalina
NIM 100710046
IKM A 2007

PEMANFAATAN JERAMI PADI UNTUK KONSERVASI
DAN PAKAN TERNAK

Telah lama diketahui bahwa usaha peningkatan produksi bahan makanan dunia selalu tidak dapat mengejar kecepatan pertumbuhan penduduk dunia. Hal ini antara lain karena kondisi tanah dan air sebagai sumberdaya alam pada umumnya sudah mengalami degradasi sedemikian rupa sehingga memerlukan usaha konservasi yang sungguh-sungguh.
Pengawetan tanah dan air, yang lebih tepatnya disebut konservasi tanah dan air adalah usaha – usaha untuk menjaga dan meningkatkanh produktivitas tanah, kuantitas dan kualitas air. Apabila tingkat produktivitas tanah menurun terutama karena erosi, maka kualitas air teutama air sungai untuk irigasi dan keperluan manusia lain menjadi tercemar, sehingga jumlah air bersih semakin berkurang.
Kekhawatiran kita akan semakin beralasan dengan kedaan iklim yang tidak menentu, dimana sewaktu-waktu terjadinya kekeringan karena kemarau panjang dan sewaktu-waktu terjadi penggenangan air atau banjir akibat curah hujan yang tinggi. Selama belum dapat mengelola air dengan baik maka selama itu pula masalah-masalah kekeringan dan banjir akan selalu terulang yang dapat menurunkan tingkat produktivitas tanah dan kualitas air.
Penggunaan sisa-sisa tanaman sebagai mulsa penutup tanah seperti jerami padi dalam konservasi tanah dan air sudah sering dilakukan karena dapat mencegah terjadinya erosi dengan menghindarkan pengaruh-pengaruh langsung dari curah hujan terhadap tanah. Selain itu dapat meningkatkan kegiatan jasad hidup dalam tanah yang dapat menyebabkan terbentuknya pori-pori makro di dalam tanah.
Sisa-sisa tanaman penutup tanah akan menghambat kecepatan aliran permukaan (run off), oleh karena dapat mengurangi tekanan gesekan dan kapasitas pengaliran air dipermukaan tanah.
Kandungan lumpur dalam aliran air dipermukaan tanah yang terdapat mulsa ternyata jauh lebih sedikit daripada aliran air di permukaan tanah yang diolah secara biasa tanpa mulsa.
Dalam setiap kegiatan penelitian terutama di negara berkembang, maka teknologi baru hendaknya dapat diterapkan sehingga alih teknologi didalam masyarakat dapat membawa perubahan pada kondisi sosial ekonominya. Agar usaha peternakan lebih menguntungkan, petani ternak harus dapat melakukan penekanan biaya makanan dengan tidak mengurangi nilai gizi dari pakan. Untuk itulah maka kesangsiang petani peternak dalam hal pemanfaatan bahan-bahan inkomvensional sebagai pakan ternak segera dihilangkan, mengingat harganya yang relatif murah, mudah diperoleh dan tidak bersaing dengan manusia.
Produktivitas ternak akan baik apabila diimbangi dengan faktor produksi seperti bibit unggul, pakan yang bermutu dan obat-obatan. Dari ketiga faktor tersebut disinyalir bahwa 70 % biaya produksi digunakan untuk pakan ternak. Oleh karena itu dalam mengelolah usaha petrnakan, hendaknya mempertimbangkan faktor pakan dengan saksama.
Salah satu faktor yang menetukan suksesnya suatu usaha peternakan ialah pemberian pakan ternak. Pemberian pakan ternak yang sesuai serasi baik kualitas dankuantitasnya akan sangat penting artinya bagi ternak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi genetisnya.
Pada umumnya peternak kita masih memelihara ternaknya secara ekstensif tradisional dengan sumber pakannya atau hijauan hanya diharapkan dari rumput lapangan yang tumbuh di pinggir jalan, sungai, pematang sawah dan tegalan yang mana produksi rumput ini sangat tergantung pada musim, tidak tetap sepanjang tahun. Pada musim hujan produksinya berlimpah sedang musim kemarau relatif sedikit. Kurangnya pakan ternak sering membawa dampak terhadap kelangsungan kehidupan ternak. Musnahnya sumberdaya ternak ini sebenarnya merupakan akibat dari kelalaian petani ternak yang kurang memanfaatkan potensi alam yang dimiliknya.
Sebagai negara agraris, kekurangan hijauan pakan ternak adalah hal yang mustahil bila saja petani kita dapat memanfaatkan limbah pertaniannya sebagai sumber pakan ternak.
Banyak bahan makanan yang merupakan hasil limbah baik itu limbah pertanian maupun limbah industri, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengganti yang dapat memenuhi nilai gizi ransum yang setara atau lebih tinggi, relatif murah, mudah mendapatkannya serta penggunaannya sebagai bahan pakan ternak tidak bersaing dengan manusia, salah satu diantaranya adalah penggunaan jerami padi yang banyak terdapat disekitar persawahan setelah padi dipanen oleh petani dan dibuang begitu saja sebagai limbah hasil pertaniaanya.

POTENSI JERAMI PADI
Jerami padi adalah batang padi yang ditinggalkan termasuk dau sesudah diambil buahnya yang masak. Lebih kurang 30 % jerami padi digunakan untuk beberapa kepentingan manusia berupa atap rumah, kandang, penutup tanah (mulsa), bahkan bahan bakar industri dan untuk pakan ternak (bila terpaksa) selebihnya dibuang atau dibakar yang tidak jarang akibatnya mengganggu keseimbangan linkungan.
Menurut hasil survei Limbah Pertanian yang dilakukan oleh Team Fakultas Peternakan UGM (1982) melaporkan luas panen 5.069.385 Ha dengan produksi jerami pada rata-rata 3,39 ton /Ha sehingga total produksi pertahun 1.928.900 ton.
Jumlah bahan organik sisa - sisa tanaman ( jerami ) dapat diperkirakan bila indeks panen (harvest index) tanaman diketahui. Indeks panen padi yang telah dimuliakan adalah sekitar 0,5 , sedang jenis – jenis yang lama dibawah angka ini. Misalnya suatu pertanaman padi menghasilkan 3 ton gabah per hektar, maka dengan indeks panen 0,4 tanaman tersebut menghasilkan 10/4 x 3 ton = 7,5 ton gabah plus jerami , jadi 7,5 – 3 = 4 ton jerami per hektar. Produksi sisa –sisa tanaman akan lebih banyak bila tanaman tumbuh lebih subur dan populasi tanamanper hektar tinggi. Untuk mendapatkan tanaman yang subur, perlu dilakukan pemupukan, bersama usaha-usaha lainnya.
PEMANFAATAN JERAMI UNTUK KONSERVASI TANAH DAN AIR
1. Manfaat Sebagai Mulsa
Pemulsaan adalah menutupi permukaan tanah dengan sisa-sisa tanaman (jerami padi) benar - benar berkemampuan mencegah berlangsungnya erosi, dikarenakan pemulsaan akan melindungi tanah permukaan dari daya timpa butir-butir hujan, dan melindungi tanah permukaan tersebut dari daya kikis aliran air di permukaan. Selain itu mulsa juga berpengaruh pada suhu, Kelembaban, sifat-ifat fisik tanah, kesuburan dan biologi tanah.
Menurut D.J. Greenland dan R. LAL, dalam ‘’ Soil Conservation and Management in the Humic Tropic ” New York, 1977 dengan dilakukan nya pemulsaan konservasi air dalam tanah dapat diperbaiki, jumlah pori-pori yang dapat menginfiltrasikan air meningkat juga dengan adanya pemulsaan evaporasi yang berlebihan dapat dikurangi dan teraturnya suhu.
2. Peranan Mulsa Untuk Konservasi Tanah
Mulsa melindungi lapisan atas tanah yang akan menghancurkan struktur tanah, jadi mengurangi terisimya pori-pori tanah dengan bagian – bagian tanah yang telah hancu. Dengan mengurangi terjadinya pengompakan tanah ini, mulsa memelihara kemampuan tanah meresapkan air. Air lebih banyak masuk kedalam tanah, dan kalau cukup banyak akan terus masuk kelapisan tanah yang lebih dalam. Bertambahnya air yang masuk kedalam tanah meningkatkan kadar air tanah sampai mencapai kapasitas lapang, lapisan per lapisan. Mulsa memperbaiki porositas dandaya memegang air tanah.
Dengan mencegah penghancuran tanah, mulsa mengurangi terbentuknya kulit tanah (crust). Mulsa juga mengurangi jumlah dan jarak percikan akibat benturan hujan pada tanah. Bahan mulsa yang melapuk memperbaiki struktur tanah, dengan memperbaiki agregasi tanah. Dengan memelihara struktur tanah, pemulsaan merupakan salah satu teknologi yang dapat mengurangi kebutuhan pengolahan tanah.
Kondisi tanah dibawah mulsa kondusif untuk kegiatan – kegiatan biologik tanah, hal ini disebabkan tersedianya bahan makanan organic dan lebih stabilnya kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban). Cacing – cacing dan organisme tanah lainnya membuat saluran-salurang dan sarangnya di dalam tanah sehinggamemperbaiki aerasi dan memperbesar kemampuan tanah meresapkan air. Eksreta cacing – cacing tanah mengandung lebih banyak liat dan karbon dibandingkan dengan tanah asalnya. Dengan penuaan (ageing), ekskreta yang diletakkan diatas permukaan tanah menghasilkan agregat-agregat mantap air, yaqng lebih tahan terhadap erosi.
Karena berpengaruh baik pada sifat-sifat fisik tanah dan kelembaban tanah, pemulsaan dapat juga menguntungkan pada perkecambahan dan munculnya tanaman baru.

3. Peranan Mulsa Untuk Konservasi Air
Dengan lebih rendahnya suhu, terlindunginya permukaa tanah, dari angin dantertekannya pertumbuhan gulma, mulsa mengurangi eveporasi atau evapotranspirasi. Bila tanah yang terbuka dan basah dapat kehilangan air 12 mm dalam tiga sampai lima hari, maka tanah yang di mulsa memerlukan beberapa minggu untuk menghilangkan jumlah ini. Konservasi air oleh mulsa penting pada pertanian di daerah iklim kering. Kontribusi mulsa ini juga penting di daerah basah yang mempunyai musim kering. Di daerah tropika basah, periode – periode kering yang pendek juga sering terjadi pada musim hujan.
Pemulsaan tanah memperbesar infiltrasi curah hujan dengan jalan mencegah hujan menghancurkan agregat-agregat dan memperbaiki struktur tanah. Kelembaban tanah yang lebih tinggi karena bertambahnya infiltrasi air dan berkurangnya evapotranspirasi dari tanah dan gulma menguntungkan tanaman bila curah hujan rendah dan kurang terdistribusi membatasi pertumbuhan tanaman. Dengan suplai air yang lebih baik, tanaman dapat memacu pertumbuhannya pada musim kemarau karena giatnya fotosintesa. Kemampuan menyediakan air oleh tanah dapat ditingkatkan secara berarti dengan pemulsaan.
PEMANFATAAN JERAMI SEBAGAI SUMBER PAKAN
1. Pengolahan Jerami Padi Untuk Pakan
Pada dasarnya ternak ruminansia mampu mensintesa protein dari bahan makanan yang berkualitas rendah sekalipun karena dalam rumennya terdapat mikroorganisme yang menghasilkan enzim proteolitik, cellulase, dan hemicellulase. Pada prinsipnya pengolahan jerami padi ini mengikuti pola kerja mikroorganisme rumen.
Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak telah banyak dilakukan di Indonesia dengan berbagai cara (Sutrisno dan Sukamto , 1985) antara lain :
a. Digunakan langsung dalam ransum tanpa diolah lebih dahulu
b. Pengolahan untuk mempertinggi nilai pakannya
c. Pengawetan untuk menjaga kelangsungan penyediaan pakan ternak.
Upaya untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi dengan beberapa pra-perlakuan , seperti fisik, kimia dan biologis dapat dilihat pada gambar 1. Dari berbagai cara yang dikemukakan pada gambar 1, nampaknya yang menguntungkan dan mudah dilaksanakan adalah cara kimia dengan mencampur jerami padi dengan larutan urea. Hasil campuran inilah disebut Jerami padi amoniasi.
Mikroorganisme rumen akan berkembang biak secara maksimal bila tersedia protein kasar yang cukup dengan minimal 8- 10 persen dalam ransum. Hasil akhir proses dalam rumen ini ialah amoniak (dari protein) untuk sumber protein dan asam lemak terbang (dari serat kasar) sebagai sumber energi (Komar, 1983) . Amoniak akan berperan dalam hidrolisa ikatan-ikatan cellulose, menghancurkan ikatan Lino-hemicellulosa (khusus jerami padi juga melarutkan sebagai silika), terjadinya fiksasi Nitrogen maka kandungan protein kasar akan meningkat.
2. Nilai Gizi Pakan
Jerami padi sebagai hasil sisa dari tanaman padi mengandung protein kasar 3,6 persen ; lemak 1.3 persen; BETN 41,6 persen ; Abu 16 ,4 persen; Lignin 4,9 persen; serat kasar 32,0 persen; silika 13,5 persen ; Kalsium 0,24 persen; Kalium 1,20 persen ; Magnesium 0,11 persen dan posphor 0,10 persen . Walaupun pada kenyataannyajerami padi miskin akan zat-zat makanan, namun sekitar 40 persen dapat dicerna sebagai sumber energi dalam proses pencernaan ternak ruminansia. Rendahnya daya cerna ini disebabkan oleh adanya Lignin dan silika yang menngikat Cellulosa dan Hemicellulosa dalam bentuk ikatan rangkap , sehingga sukar dicerna oleh enzim dari mikroorganisme dalam rumen (salah satu bagaian perut ternak ruminansia.
3. Cara Pembuatan Jerami Padi Amoniasi.
Menurut Chadarsyah ( 1984) pada dasarnya prinsip kerja ammonia, berawal dari bahan baku pupuk urea yang biasa digunakan petani peternak. Urea yang ada dilarutkan dalam air dengan ukuran tertentu .
Larutan air yang mengandung urea tersebut disemprotkan / dipercikkan pada jerami maka Amoniak (NH3) pada proses amoniasi akan berperan sebagai berikut :
a. Menghidrolisa ikatan lignin-cellulosa
b. Menghancurkan ikatan lignin –hemicellulosa (khusus jerami padi juga melarutkan sebagian silika)
c. Memuaikan/mengembangkan serat cellulose sehingga memudahkan penetrasi enzim cellulosa pada saat jerami padi ada dalam rumen.
d. Berkat adanya pengikatan nitrogen pada jerami padi saat proses amonia maka kandungan protein kasar jerami akan mengikat.
Pada akhirnya peranan NH3 (Amoniak) ialah untuk membebaskan cellulosa dari ikatan lignin yang tak dapat dicerna dengan demikian maka mikroorganisme dalam rumen dapat mencerna serat kasar tersebut dengan baik.
Pembutan jerami padi amoniasi tidaklah sulit untuk dikerjakan .Pada prinsipnya adalah mencampur jerami padi dengan larutan urea lalu diperam selama kurang lebih tiga minggu. Langkah kerjanya sebagai berikut :
1. Mengumpulkan jerami padi secukupnya, lalau ditimbang untuk mengetahui perbandingan bahan baku dengan larutan yang akan digunakan.
2. Membuat/ menggali lubang bila menggunakan tanah sebagai tempat pemeramnya atau menggunakan kantung plastik.
3. Membuat larutan urea denganperbandingan 48 gram urea (48 % N ) dicampur dengan satu liter air untuk satu kg bahan kering jerami padi atau secara praktis untuk satu zak urea dicampur dengan 320 liter air (bila jerami yang tersedia diperkirakan kadar airnya 30 %), kemudian larutanurea tadi disemprotakn secara merata pada kurang lebih 800 kg jerami padi.
4. Jerami padi yang telah disemprot tadi lalu dimasukkan kedalam kantong plastik atau kedalam lubang dengan catatan terlebih dahulu lubangnya dialasi plastik untuk mencegah perembesan larutan atau gas ke dinding lubang. Setelah itu lubangnya ditutup rapat dan dibiarkan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu dapat dipanen untuk diberikan pada ternak dengan catatan sebelum diberikan dikering anginkan dulu.
4. Manfat Amoniasi
Beberapa manfat dari Amoniasi adalah sebagai berikut :
A. Memperkaya Kandungan Protein
Sebagian dari amoniak yang diinjeksi meresap kedalam hijauan atau jerami dengan demikian maka kandungan protein kasar meningkat. Penigkatan ini tercermin dari adanya fiksasi amoniak yang diinjeksikan. Kandungan protein meningkat dua sampai empat kali lipat dari kandungan protein semula. Protein ini dapat dipergunakan dengan baik oleh mikro arganisma dalam rumen sehingga dengan demikian jerami dapat dicerna lebih baik karena dihasilkan enzim sellulase yang berarti pula dapat meningkatkan nilai energi dari jerami yang diolah tersebut.
Disamping itu protein yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan protein ternak yang mengalami defisit bila jerami tersebut diberikan tanpa diolah.
B. Meningkatkan Daya Cerna
Peningkatan daya cerna ini adalah berkat :
1. Terurainya ikatan antara lignin sellulosa dan lignin hemisellulosa.
2. Dengan adanya protein yang tersedia maka mirkroorganisma dapat berkembang dengan baik .
Peningkatan daya cerna bahan organik dapat mencapai sekitar 10 – 15 unit atau suatu peningkatan sebesar antara 20 – 30 persen.
C. Meningkatkan Kuantitas Konsumsi
Pengolahan dengan amoniak ternyata dapat meningkatkan kuantitas konsumsi yang berarti jumlah protein dan energi yang dikonsumsi lebih dapat ditingkatkat bila dibandingkan dengan jerami yang tidak diolah.

Pada hakikatnya jerami padi yang dijadikan mulsa berperan dalam konservasi tanah dan air karena mempunyai kemampuan dalam hal memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Makin besar jumlah bahan mulsa yang di tempatkan di permukaan tanah, maka ternyata hasilnya akan lebih efektif dalam pengawetan lahan dari serangan erosi, oleh karena itu pemberian bahan mulsa dalam jumlah yang optimal perlu diperhatikan . Pemberian mulsa secara optimal selain sangat berpengaruh optimal dalam mengurangi tingkat erosi, juga memberi pengaruh yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Pengolahan bahan jerami padi dengan perlakuan jerami padi dengan amoniasi membawa efek yang positif terhadap nilai nutrisi ternak. Nampaknya amoniasi jerami padi mempunyai peluang untuk dikembangkan secara intensif pada masyarakat khususnya yang mempunyai ternak dalam rangka menanggulangi problema kekurangan pakan ternak.
Dengan cara tersebut diatas diharapkan limbah pertanian terutama jerami padi yang biasanya hanya dibuang begitu saja, yang mempunya nilai gizi / relatif rendah dapat ditingkatkan nilai manfaatnya.

Daftar Pustaka
http://www.mail-archive.com/agromania@yahoogroups.com/msg14440.html
http://asosiasi-smd-unsoed.blogspot.com/2009/02/teknologi-pengolahan-jerami-padi.html
Kartasapoetra G., dkk.,1987. Teknologi Konservasi Tanah dan Air, Penerbit Bina Aksara, Jakarta.

Noviana Ariyani
Posted on 18th October, 2009

NOVIANA ARIYANI
100710142 / 72
IKM A 2007

Tenik Pengawetan Bahan Makanan dalam Pengolahan Pangan

Seiring dengan kemajuan teknologi, manusia terus melakukan perubahan – perubahan dalam hal pengolahan dan pengawetan bahan pangan. Hal seperti ini wajar sebab dengan semakin berkembangnya teknologi kehidupan manusia semakin hari semakin sibuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk melakukan pengolahan bahan makanan yang hanya mengandalkan bahan mentah yang kemudian diolah di dapur. Dalam keadaan demikian, makanan yang telah diolah dan diawetkan banyak manfaatnya bagi manusia itu sendiri khususnya yang tinggal di kota besar.

Pengolahan makanan yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk memudahkan pemakaian oleh masyarakat, tetapi juga mencegah adanya permainan harga oleh pasar. Karena jika jumlah barang dipasar berlimpah, maka harga yang didapat sangat murah. Hal ini dapat merugikan produsen. Stabilitas harga, terutama bahan pangan pokok, mempunyai pengaruh yang besar terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi harga secara keseluruhan, kedaan kesehatan, tingkat gizi dan status gizi masyarakat.

Dampak negative dari adanya pengolahan makanan adalah kejadian hilangnya zat – zat gizi yang bisa terjadi jika system pengolahan yang dilakukan tidak didasarkan pada pengolahan yang berorientasi gizi misalnya pengolahan yang terlalu panas. Contohnya pada makanan yang mengandung protein, pencucian beras yang berlebihan akan menyebabkan hilangnya thiamin, pengolahan sayur yang terlalu matang dan lain – lain.

Pada pengolahan makanan yang baik, berorientasi pada hilangnya kandungan gizi yang minimal dan memaksimalkan perubahan tekstur, rasa, aroma/ bau dan warna. Pada teknik pengolahan dengan pembekuan / pendinginan dan penjemuran / pengeringan akan menyebabkan berkurangnya kadar air pada bahan makanan yang bertujuan untuk menghentikan aktivitas mikroorganisme tertentu yang menyebabkan pembusukan.

Bahan pangan yang dikeringkan pada suhu terlalu tinggi dan dengan cara yang terlalu cepat akan mengalami case hardening ( bagian luar bahan mengeras sedangkan bagian dalam tetap lunak ). Gejala lain yang terjadi adalah gosong, warna makanan gelap dan terjadi karamelisasi.

Pada penjemuran ikan yang kurang akan menyebabkan pink spoilage yaitu timbulnya warna keabu-abuan, bau busuk dan terlepasnya daging ikan dari tulangnya sebagai akibat pengaruh bakteri halophilik. Pembekuan dengan suhu yang tidak tepat dapat menimbulkan kerusakan berupa pecahnya sel – sel sehingga cairannya keluar dari sel, warna bahan menjadi gelap, terjadi pembusukan dan palunakan. Pada daging yang dibekukan tanpa dibungkus, bagian luar daging menjadi kering dan mengeras ( freezer burn ).

Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai pembawa atau media zat gizi yang di dalamnya banyak mengandung zat – zat yang dibutuhkan oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan lain – lain. Di dalam masyarakat ada berbagai macam cara pengolahan dan pengawetan makanan yang dilakukan kesemuanya untuk meningkatkan mutu makanan yang dimaksud dengan tidak mengurangi nilai gizi yang dikandungnya. Pada dasarnya bahan makanan diolah dengan tiga macam alasan :
1. Menyiapkan bahan makanan untuk dihidangkan
2. Membuat produk yang dikehendaki termasuk di dalamnya nutrifikasi bahan makanan.
3. Mengawetkan, mengemas dan menyimpan ( pengalengan )

Pengolahan makanan yang dilakukan dengan maksud mengawerkan, lebih intensif daripada memasak biasa kecuali bahan makanan harus dimasak, juga misalnya pada canning, makanan itu harus disterilkan dari jasad renik pembusuk. Untuk beberapa jenis bahan makanan, waktu yang diperlukan untuk proses itu cukup lama, sehingga dapat dipahami mengapa kadar zat makanan dapat menurun, akan tetapi dengan penambahan zat makanan ( nutrient ) dalam bentuk murni sebagau pengganti yang hilang maka hal seperti ini dapat diatasi.

Dengan singkat, factor – factor yang dapat merendahkan kadar nutrient di dalam sayuran yang dimasak ialah :
1. Bila jumlah air yang digunakan untuk merebus terlalu banyak.
2. Bila air perebus ini kemudian bila dibuang setelah dipakai, dan tidak terus dipergunakan sebagai bagian dari masakan.
3. Bila sayuran yang akan direbus itu dipotong kecil – kecil dan dibiarkan lama sebelum dimasak.
4. Bila air perebus tidak dibiarkan mendidih dahulu sebelum sayuran dimasukkan di dalamnya.
5. Bila waktu merebus, panci dibiarkan terbuka.
6. Bila menggunakan panci atau lainnya yang terbuat dari logam yang dapat mengkatalisa proses oksidasi terhadap vitamin, misalnya alat – alat yang terbuat dari besi, tembaga dan lain – lainnya.

Sedangkan berikut merupakan prinsip pengolahan bahan makanan untuk pengawetan :
1. Pengurangan air – pengeringan, dehidrasi dan pengentalan
2. Perlakuan panas – blanching, pasteurisasi dan sterilisasi
3. Perlakuan suhu rendah – pendinginan dan pembekuan
4. Pengendalian makanan – fermentasi dan aditif asam
5. Berbagai macam zat kimia aditif
6. Iradiasi.

Yang perlu diperhatikan adalah factor – factor yang perlu dipertimbangkan dalam usaha mempertinggi ketahanan nilai gizi, harus termasuk mempertimbangan labih lanjut tentang pemilihan teknologi yang digunakan dalam pengolahan bahan makanan, berbagai aspek penyimpanan bahan makanan dan distribusi dari system institusional bahan makanan, dan yang terakhir penyiapan bahan makanan di rumah.

Sumber :
Budiyanto, Moch. Agus Krisno.2001.Dasar – Dasar Ilmu Gizi.Malang : Universitas Muhammadiyah.
Dirdjosoenyoto, Djiteng Roedjito.1987.Perencanaan Gizi.Bogor : PT Le Ruwista Indonesia.

Reza Prasetyawan Dj
Posted on 19th October, 2009

Nama : Reza prasetyawan Dj
NIM : 100710473/IKM A07

Penanganan Pasca Panen
Perontokan Padi Dengan Power Thresher

Untuk mencapai swasembada beras pemerintah telah melakukan berbagai usaha diantaranya dengan panca usaha pertanian yang meliputi Penggunaan bibit unggul, Pengairan dan Pengolahan tanah, Pemberantasan hama penyakit atau gulma (tanaman penganggu) dan panen.
Namun demikian selama penanganan pasca panen kehilangan hasil padi masih cukup tinggi.Untuk menekan kehilangan hasil dan perbaikan mutu, telah dilakukan penelitian baek komponen teknologi maupun sistem panennya.Penggunaan sabit bergerigi yang dimodifikasi Balittan Maros dapat menurunkan kehilangan hasil menjadi 3,84%.Selain itu, dengan cara perontokan padi yang tepat waktu dapat mencegah kehilangan sebesar 2,84%.Hasil laporan survei Biro Pusat Statistik (1998) menunjukan bahwa tingkat kehilangan hasil secara nasional pada tahapan pascapanen cukup tinggi, yaitu sebesar 19,54%.Titik kritis kehilangan hasil terjadi pada tahap pemanenan, yaitu 9,19% dan tahap perontokan sebesar 4,58%.
Pasca panen hasil pertanian adalah suatu tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan hsil pertanian sampai siap untuk dipasarkan.Penanganan pascapanen padi adalah semua kegiatan perlakuan dan pengolahan yang meliputi proses pemanenan, perontokan, pengangkutan, perawatan, dan pengeringan, penyimpanan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan.
Penanganan pascapanen tanaman pangan, khususnya padi, bertujuan untuk mendapatkan gabah/beras dengan mutu tinggi, mengefisienkan tenaga dalam pelaksanaan pemanenan dan perontokan, serta memperkecil kehilangan hasil.Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan pendapatan petani.
Kualitas beras yang rendah tidak saja merugikan petani, tetapi juga mengganggu persediaan pangan nasional.Kerugian bagi petani denagn harga jual hasil panennya tidak sesuai dengan harga dasar,sedangkan bagi kepentingan nasional berasnya tidak dapat disimpan lama.
Dalam menangani pascapanen, kendala umum yang dihadapi petani adalah ketidakmampuan petani menerapkan inovasi teknologi baru dan mengubah kebiasaan yang sudah berkembang dalam masyarakat.Hasil observasi di jalan pantura menunjukan bahwa petani mengalami kesulitan dalam membatasi jumlah pemanen dan mencegah terlambatnya perontokan padi yang telah dipotong dan ditinggalkan oleh pemanen begitu saja,Keterlambatan perontokan padi dapat menurunkan mutu dan meningkatkan kehilangan hasil panen.
Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi untuk melepaskan butir gabah dari malai, Perontokan padi dapat di lakukan secara manual antara lain diinjak, dipukul dengan bambu atau pelapah daun kelapa, dibanting dan pedal thresher,sedangkan yang menggunakan penggerak motor disebut Power thresher.Dari berbagai cara tersebut perlu dicari cara yang efisien dan efektif yang dapat menguntungkan petani.
Perontokan padi yang umum dilakukan adalah dengan cara dibanting ataudi gebot pada kerangka kayu atau bambu yang diletakkan diatas alas.Cara ini kuarang efisien dan mengakibatkan kehilangan hasil karena banyak gabah terlempar keluar alas atau tercecer dan banyak gabah yang belum terlepas dari malainya.Untuk mencegah terlemparnya gabah dapat digunakan alas yang cukup luas dan dilengkapi dengan kelambu dari plastik atau karung pada keliling landasan agak lebih efisien.
Seiring dengan perkembangan tehnologi sekarang sudah banyak petani menggunakan mesin perontok (Power Thresher).Semula mesin perontok hanya digunakan pada pabrik penggilingan padi,tetapi sekarang sudah banyak digunakan petani dengan cara potong atas atau potong tengah.Proses cara kerja alat perontok adalah menumbuk dan menggaruk gabah sehingga terlepas dari malainya.Tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan alat perontok dapet berupa tenaga manusia atau tenaga motor.
Menurut Rachmat et tal (1993) Penggunaan mesin perontok lebih cepat dan efisien bila dibandingkan dengan cara dipukul atau digebot.Jumlah gabah yang masih melekat pada malainya setelah dirontok dengan mesin perontok (Power Thesher) relatif sedikit yaitu berkisar antara 0,34 – 1,54 %.
Menurut Nugraha et al (1993) kapasitas perontokan dengan menggunakan nesin perontok (Power Thresher) lebih besar yaitu kurang lebih 850 kg/jam, sedangkan cara dibanting atau digebot tanpa kelambu atau tirai 35,0 – 41,8 kg/jam, banting atau di gebot berkisar 38,5 – 55,1 kg/jam,dan pedal thresher 30,0 – 50 kg.
Surut perontokan adalah susut yang terjadi selama proses perontokan.Susut perontokan dihitung berdasarkan banyaknya butir gabah yang terlempar keluar alas petani,butir yang masih melekat pada jerami karena beras tidak rontok dan butir tidak terbawa kotoran.Faktor yang mempengaruhi besarnya perontokan antara laen cara perontokan yang dilakukan.
Hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2005 – 2007 terhadap besarnya susut perontokan menurut cara perontokan adalah sebagai berikut :

Cara Perontokan Persentase Responden
(%) Susut Perontokan (%)
Iles/injak-injak 12,92 0,13
Gedig/Pukul 3,69 0,18
Banting/Gebot tanpa tirai 23,43 0,41
Banting/Gedot dengan
Tirai 14,76 0,27
Pedal Thresher 12,34 0,10
Power Thresher 32,86 0,08
Jumlah/Rata-Rata 100,00 0,18
Tahun 1995/1996 4,81
Perubahan (Point) -4,63

Terdapat perbedaan metodologi pengukuran susut perontokan:
Tahun 1995/1996 :
Susut perontokan berdasarkan selisih antar a berat gabah hasil perontokan secara teliti dengan berat gabah hasil perontokan dengan cara biasa/petani.Perontokan secara teliti dilakukan dengan memetik gabah satu per satu dari malainya sehingga susut dianggap nol.Kelemahan metode ini adalah besaran susut yang diperoleh tidak sepenuhnya karena adanya butiran gabah beras yang tercecer selama proses perontokan, tetapi juga diperkirakan karena adanya perbedaan produktivitas antara ampel petani cara petani dan sampel perontokan teliti.

Tahun 2005 – 2007 :
Metode pengukuran susut perontokan yang digunakan adalah dengan menghitung jumlah butiran gabah beras yang terlempar diluar alas petani, butiran gabah yang terbawa jerami karena tidak rontok, dan butiran gabah yang terbwa kotoran.

Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa alat perontok padi yang paling banyak digunakan petani adaah alat perontok (Power Thrusher) yaitu 32,86%, demikian juga terhadap susut perontokan paling kecil yaitu 0,08%.

DAFTAR PUSTAKA :

Biro Pusat Statistik.1998. Survei susut pasca panen musim tanam 1986/1987.Kerja sama Biro Pusat Statistik, Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pengendalian Bimas, IPB dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Badan Pusat Statistik.2008. Survei Susut Panen dan Pasca Panen Gabah atu Beras Tahun 2005 – 2007 Kerja Sama Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian.

Direktorat Jenderal Penyuluhan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Departemen Pertanian, 2009. Pedoman Teknis Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan.

Nugraha, S., A. Setyono dan R. Thahir.1993. Perbaikan sistem panen dalam usaha menekan kehilangan hasil padi. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta atau Bogor, 23 – 25 Agustus 1993

Rachmat, R., A. Setyono dan S. Nugraha. 1993. Evaluasi sistem pemanenan beregu menggunakan beberapa model mesin perontokan. AGRIMEK Vol 4 dan 5 No.1, 1992/1993 Perteja Sulawesi Selatan

Nama : Reza Prasetyawan Dj
Nim : 100710473/ikm A07

Reza Prasetyawan Dj
Posted on 19th October, 2009

Nama : Reza prasetyawan Dj
NIM : 100710473/IKM A07

Penanganan Pasca Panen
Perontokan Padi Dengan Power Thresher

Untuk mencapai swasembada beras pemerintah telah melakukan berbagai usaha diantaranya dengan panca usaha pertanian yang meliputi Penggunaan bibit unggul, Pengairan dan Pengolahan tanah, Pemberantasan hama penyakit atau gulma (tanaman penganggu) dan panen.
Namun demikian selama penanganan pasca panen kehilangan hasil padi masih cukup tinggi.Untuk menekan kehilangan hasil dan perbaikan mutu, telah dilakukan penelitian baek komponen teknologi maupun sistem panennya.Penggunaan sabit bergerigi yang dimodifikasi Balittan Maros dapat menurunkan kehilangan hasil menjadi 3,84%.Selain itu, dengan cara perontokan padi yang tepat waktu dapat mencegah kehilangan sebesar 2,84%.Hasil laporan survei Biro Pusat Statistik (1998) menunjukan bahwa tingkat kehilangan hasil secara nasional pada tahapan pascapanen cukup tinggi, yaitu sebesar 19,54%.Titik kritis kehilangan hasil terjadi pada tahap pemanenan, yaitu 9,19% dan tahap perontokan sebesar 4,58%.
Pasca panen hasil pertanian adalah suatu tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan hsil pertanian sampai siap untuk dipasarkan.Penanganan pascapanen padi adalah semua kegiatan perlakuan dan pengolahan yang meliputi proses pemanenan, perontokan, pengangkutan, perawatan, dan pengeringan, penyimpanan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan.
Penanganan pascapanen tanaman pangan, khususnya padi, bertujuan untuk mendapatkan gabah/beras dengan mutu tinggi, mengefisienkan tenaga dalam pelaksanaan pemanenan dan perontokan, serta memperkecil kehilangan hasil.Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan pendapatan petani.
Kualitas beras yang rendah tidak saja merugikan petani, tetapi juga mengganggu persediaan pangan nasional.Kerugian bagi petani denagn harga jual hasil panennya tidak sesuai dengan harga dasar,sedangkan bagi kepentingan nasional berasnya tidak dapat disimpan lama.
Dalam menangani pascapanen, kendala umum yang dihadapi petani adalah ketidakmampuan petani menerapkan inovasi teknologi baru dan mengubah kebiasaan yang sudah berkembang dalam masyarakat.Hasil observasi di jalan pantura menunjukan bahwa petani mengalami kesulitan dalam membatasi jumlah pemanen dan mencegah terlambatnya perontokan padi yang telah dipotong dan ditinggalkan oleh pemanen begitu saja,Keterlambatan perontokan padi dapat menurunkan mutu dan meningkatkan kehilangan hasil panen.
Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi untuk melepaskan butir gabah dari malai, Perontokan padi dapat di lakukan secara manual antara lain diinjak, dipukul dengan bambu atau pelapah daun kelapa, dibanting dan pedal thresher,sedangkan yang menggunakan penggerak motor disebut Power thresher.Dari berbagai cara tersebut perlu dicari cara yang efisien dan efektif yang dapat menguntungkan petani.
Perontokan padi yang umum dilakukan adalah dengan cara dibanting ataudi gebot pada kerangka kayu atau bambu yang diletakkan diatas alas.Cara ini kuarang efisien dan mengakibatkan kehilangan hasil karena banyak gabah terlempar keluar alas atau tercecer dan banyak gabah yang belum terlepas dari malainya.Untuk mencegah terlemparnya gabah dapat digunakan alas yang cukup luas dan dilengkapi dengan kelambu dari plastik atau karung pada keliling landasan agak lebih efisien.
Seiring dengan perkembangan tehnologi sekarang sudah banyak petani menggunakan mesin perontok (Power Thresher).Semula mesin perontok hanya digunakan pada pabrik penggilingan padi,tetapi sekarang sudah banyak digunakan petani dengan cara potong atas atau potong tengah.Proses cara kerja alat perontok adalah menumbuk dan menggaruk gabah sehingga terlepas dari malainya.Tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan alat perontok dapet berupa tenaga manusia atau tenaga motor.
Menurut Rachmat et tal (1993) Penggunaan mesin perontok lebih cepat dan efisien bila dibandingkan dengan cara dipukul atau digebot.Jumlah gabah yang masih melekat pada malainya setelah dirontok dengan mesin perontok (Power Thesher) relatif sedikit yaitu berkisar antara 0,34 – 1,54 %.
Menurut Nugraha et al (1993) kapasitas perontokan dengan menggunakan nesin perontok (Power Thresher) lebih besar yaitu kurang lebih 850 kg/jam, sedangkan cara dibanting atau digebot tanpa kelambu atau tirai 35,0 – 41,8 kg/jam, banting atau di gebot berkisar 38,5 – 55,1 kg/jam,dan pedal thresher 30,0 – 50 kg.
Surut perontokan adalah susut yang terjadi selama proses perontokan.Susut perontokan dihitung berdasarkan banyaknya butir gabah yang terlempar keluar alas petani,butir yang masih melekat pada jerami karena beras tidak rontok dan butir tidak terbawa kotoran.Faktor yang mempengaruhi besarnya perontokan antara laen cara perontokan yang dilakukan.
Hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2005 – 2007 terhadap besarnya susut perontokan menurut cara perontokan adalah sebagai berikut :

Cara Perontokan Persentase Responden(%) Susut Perontokan (%)
Iles/injak-injak 12,92 0,13
Gedig/Pukul 3,69 0,18
Banting/Gebot tanpa tirai 23,43 0,41
Banting/Gedot dengan
Tirai 14,76 0,27
Pedal Thresher 12,34 0,10
Power Thresher 32,86 0,08
Jumlah/Rata-Rata 100,00 0,18
Tahun 1995/1996 4,81
Perubahan (Point) -4,63

Terdapat perbedaan metodologi pengukuran susut perontokan:
Tahun 1995/1996 :
Susut perontokan berdasarkan selisih antar a berat gabah hasil perontokan secara teliti dengan berat gabah hasil perontokan dengan cara biasa/petani.Perontokan secara teliti dilakukan dengan memetik gabah satu per satu dari malainya sehingga susut dianggap nol.Kelemahan metode ini adalah besaran susut yang diperoleh tidak sepenuhnya karena adanya butiran gabah beras yang tercecer selama proses perontokan, tetapi juga diperkirakan karena adanya perbedaan produktivitas antara ampel petani cara petani dan sampel perontokan teliti.

Tahun 2005 – 2007 :
Metode pengukuran susut perontokan yang digunakan adalah dengan menghitung jumlah butiran gabah beras yang terlempar diluar alas petani, butiran gabah yang terbawa jerami karena tidak rontok, dan butiran gabah yang terbwa kotoran.

Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa alat perontok padi yang paling banyak digunakan petani adaah alat perontok (Power Thrusher) yaitu 32,86%, demikian juga terhadap susut perontokan paling kecil yaitu 0,08%.

DAFTAR PUSTAKA :

Biro Pusat Statistik.1998. Survei susut pasca panen musim tanam 1986/1987.Kerja sama Biro Pusat Statistik, Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pengendalian Bimas, IPB dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Badan Pusat Statistik.2008. Survei Susut Panen dan Pasca Panen Gabah atu Beras Tahun 2005 – 2007 Kerja Sama Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian.

Direktorat Jenderal Penyuluhan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Departemen Pertanian, 2009. Pedoman Teknis Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan.

Nugraha, S., A. Setyono dan R. Thahir.1993. Perbaikan sistem panen dalam usaha menekan kehilangan hasil padi. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta atau Bogor, 23 – 25 Agustus 1993

Rachmat, R., A. Setyono dan S. Nugraha. 1993. Evaluasi sistem pemanenan beregu menggunakan beberapa model mesin perontokan. AGRIMEK Vol 4 dan 5 No.1, 1992/1993 Perteja Sulawesi Selatan

Nama : Reza Prasetyawan Dj
Nim : 100710473/ikm A07

Reza Prasetyawan Dj
Posted on 19th October, 2009

Nama : Reza prasetyawan Dj
NIM : 100710473/IKM A07

Penanganan Pasca Panen
Perontokan Padi Dengan Power Thresher

Untuk mencapai swasembada beras pemerintah telah melakukan berbagai usaha diantaranya dengan panca usaha pertanian yang meliputi Penggunaan bibit unggul, Pengairan dan Pengolahan tanah, Pemberantasan hama penyakit atau gulma (tanaman penganggu) dan panen.
Namun demikian selama penanganan pasca panen kehilangan hasil padi masih cukup tinggi.Untuk menekan kehilangan hasil dan perbaikan mutu, telah dilakukan penelitian baek komponen teknologi maupun sistem panennya.Penggunaan sabit bergerigi yang dimodifikasi Balittan Maros dapat menurunkan kehilangan hasil menjadi 3,84%.Selain itu, dengan cara perontokan padi yang tepat waktu dapat mencegah kehilangan sebesar 2,84%.Hasil laporan survei Biro Pusat Statistik (1998) menunjukan bahwa tingkat kehilangan hasil secara nasional pada tahapan pascapanen cukup tinggi, yaitu sebesar 19,54%.Titik kritis kehilangan hasil terjadi pada tahap pemanenan, yaitu 9,19% dan tahap perontokan sebesar 4,58%.
Pasca panen hasil pertanian adalah suatu tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan hsil pertanian sampai siap untuk dipasarkan.Penanganan pascapanen padi adalah semua kegiatan perlakuan dan pengolahan yang meliputi proses pemanenan, perontokan, pengangkutan, perawatan, dan pengeringan, penyimpanan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan.
Penanganan pascapanen tanaman pangan, khususnya padi, bertujuan untuk mendapatkan gabah/beras dengan mutu tinggi, mengefisienkan tenaga dalam pelaksanaan pemanenan dan perontokan, serta memperkecil kehilangan hasil.Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan pendapatan petani.
Kualitas beras yang rendah tidak saja merugikan petani, tetapi juga mengganggu persediaan pangan nasional.Kerugian bagi petani denagn harga jual hasil panennya tidak sesuai dengan harga dasar,sedangkan bagi kepentingan nasional berasnya tidak dapat disimpan lama.
Dalam menangani pascapanen, kendala umum yang dihadapi petani adalah ketidakmampuan petani menerapkan inovasi teknologi baru dan mengubah kebiasaan yang sudah berkembang dalam masyarakat.Hasil observasi di jalan pantura menunjukan bahwa petani mengalami kesulitan dalam membatasi jumlah pemanen dan mencegah terlambatnya perontokan padi yang telah dipotong dan ditinggalkan oleh pemanen begitu saja,Keterlambatan perontokan padi dapat menurunkan mutu dan meningkatkan kehilangan hasil panen.
Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi untuk melepaskan butir gabah dari malai, Perontokan padi dapat di lakukan secara manual antara lain diinjak, dipukul dengan bambu atau pelapah daun kelapa, dibanting dan pedal thresher,sedangkan yang menggunakan penggerak motor disebut Power thresher.Dari berbagai cara tersebut perlu dicari cara yang efisien dan efektif yang dapat menguntungkan petani.
Perontokan padi yang umum dilakukan adalah dengan cara dibanting ataudi gebot pada kerangka kayu atau bambu yang diletakkan diatas alas.Cara ini kuarang efisien dan mengakibatkan kehilangan hasil karena banyak gabah terlempar keluar alas atau tercecer dan banyak gabah yang belum terlepas dari malainya.Untuk mencegah terlemparnya gabah dapat digunakan alas yang cukup luas dan dilengkapi dengan kelambu dari plastik atau karung pada keliling landasan agak lebih efisien.
Seiring dengan perkembangan tehnologi sekarang sudah banyak petani menggunakan mesin perontok (Power Thresher).Semula mesin perontok hanya digunakan pada pabrik penggilingan padi,tetapi sekarang sudah banyak digunakan petani dengan cara potong atas atau potong tengah.Proses cara kerja alat perontok adalah menumbuk dan menggaruk gabah sehingga terlepas dari malainya.Tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan alat perontok dapet berupa tenaga manusia atau tenaga motor.
Menurut Rachmat et tal (1993) Penggunaan mesin perontok lebih cepat dan efisien bila dibandingkan dengan cara dipukul atau digebot.Jumlah gabah yang masih melekat pada malainya setelah dirontok dengan mesin perontok (Power Thesher) relatif sedikit yaitu berkisar antara 0,34 – 1,54 %.
Menurut Nugraha et al (1993) kapasitas perontokan dengan menggunakan nesin perontok (Power Thresher) lebih besar yaitu kurang lebih 850 kg/jam, sedangkan cara dibanting atau digebot tanpa kelambu atau tirai 35,0 – 41,8 kg/jam, banting atau di gebot berkisar 38,5 – 55,1 kg/jam,dan pedal thresher 30,0 – 50 kg.
Surut perontokan adalah susut yang terjadi selama proses perontokan.Susut perontokan dihitung berdasarkan banyaknya butir gabah yang terlempar keluar alas petani,butir yang masih melekat pada jerami karena beras tidak rontok dan butir tidak terbawa kotoran.Faktor yang mempengaruhi besarnya perontokan antara laen cara perontokan yang dilakukan.
Hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2005 – 2007 terhadap besarnya susut perontokan menurut cara perontokan adalah sebagai berikut :

Cara Perontokan Persentase Responden(%) Susut Perontokan (%)
Iles/injak-injak 12,92 0,13
Gedig/Pukul 3,69 0,18
Banting/Gebot tanpa tirai 23,43 0,41
Banting/Gedot denganTirai1 4,76 0,27
Pedal Thresher 12,34 0,10
Power Thresher 32,86 0,08
Jumlah/Rata-Rata 100,00 0,18
Tahun 1995/1996 4,81
Perubahan (Point) -4,63

Terdapat perbedaan metodologi pengukuran susut perontokan:
Tahun 1995/1996 :
Susut perontokan berdasarkan selisih antar a berat gabah hasil perontokan secara teliti dengan berat gabah hasil perontokan dengan cara biasa/petani.Perontokan secara teliti dilakukan dengan memetik gabah satu per satu dari malainya sehingga susut dianggap nol.Kelemahan metode ini adalah besaran susut yang diperoleh tidak sepenuhnya karena adanya butiran gabah beras yang tercecer selama proses perontokan, tetapi juga diperkirakan karena adanya perbedaan produktivitas antara ampel petani cara petani dan sampel perontokan teliti.

Tahun 2005 – 2007 :
Metode pengukuran susut perontokan yang digunakan adalah dengan menghitung jumlah butiran gabah beras yang terlempar diluar alas petani, butiran gabah yang terbawa jerami karena tidak rontok, dan butiran gabah yang terbwa kotoran.

Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa alat perontok padi yang paling banyak digunakan petani adaah alat perontok (Power Thrusher) yaitu 32,86%, demikian juga terhadap susut perontokan paling kecil yaitu 0,08%.

DAFTAR PUSTAKA :

Biro Pusat Statistik.1998. Survei susut pasca panen musim tanam 1986/1987.Kerja sama Biro Pusat Statistik, Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pengendalian Bimas, IPB dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Badan Pusat Statistik.2008. Survei Susut Panen dan Pasca Panen Gabah atu Beras Tahun 2005 – 2007 Kerja Sama Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian.

Direktorat Jenderal Penyuluhan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Departemen Pertanian, 2009. Pedoman Teknis Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan.

Nugraha, S., A. Setyono dan R. Thahir.1993. Perbaikan sistem panen dalam usaha menekan kehilangan hasil padi. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta atau Bogor, 23 – 25 Agustus 1993

Rachmat, R., A. Setyono dan S. Nugraha. 1993. Evaluasi sistem pemanenan beregu menggunakan beberapa model mesin perontokan. AGRIMEK Vol 4 dan 5 No.1, 1992/1993 Perteja Sulawesi Selatan

Nama : Reza Prasetyawan Dj
Nim : 100710473/ikm A07

Anggraini Dwi Wijayanti / 100710219
Posted on 19th October, 2009

Pengembangan Teknologi Penanganan
Hama dan Penyakit Padi
Oleh
Anggraini Dwi W. / 100710219 IKM B’07

Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi perkapita akibat peningkatan pendapatan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, lahan sawah beririgasi masih tetap menjadi andalan bagi produksi padi nasional. Program intensifikasi yang dicanangkan sejak sekitar tiga dekade yang lalu, pada awalnya telah mampu meningkatkan produktivitas dan produksi padi secara nyata. Tetapi sejak dekade terakhir, produktivitas padi cenderung melandai dan bahkan ada yang menurun di beberapa lokasi. Namun di lain pihak upaya peningkatan produksi beras saat ini terhambat oleh beberapa kendala, salah satunya disebabkan belum efektifnya pengendalian hama dan penyakit pada padi. Serangan hama dan penyakit padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Pengertian hama dan penyakit hendaknya dibedakan untuk memudahkan penanganannya. Dalam pengertian sederhana, hama digolongkan sebagai pengganggu tanaman yang kasat mata seperti keong, kutu, dan ulat. Sementara penyakit merupakan pengganggu tanaman yang tidak kasat mata seperti jamur, bakteri, dan virus. Penyakit hanya terlihat dengan bantuan alat pembesar seperti mikroskop.
Hama dan penyakit pada padi yang perlu diwaspadai antara lain seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), blas dan sebagainya, karena dapat menimbulkan kerusakan berat dan bahkan kehilangan hasil panen.
Salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri (HDB). Penyakit HDB merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil panen. Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae oryzae (XOO) tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua. Penyakit ini berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basa, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan. Semakin meluas tanaman varietas unggul baru IR64 yang tahan terhadap wereng batang cokelat malah meningkatkan HDB. IR64 ternyata rentan terhadap serangan HDB karena patogen penyebab HDB memiliki banyak strain. Setiap kali manusia memunculkan teknologi baru untuk mengatasi hama, selalu muncul hama yang lebih tahan. Sudah ratusan jenis dan varietas padi yang dilepas kaum peneliti ke lapangan, selalu saja muncul strain baru hama yang menyerang padi. Pestisida yang disemprotkan pada akhirnya hanya membuat lingkungan tercemar, sementara hama baru tetap muncul. Kerusakan yang ditimbulkan terus meningkat dari waktu ke waktu akibat pergeseran patotipe XOO di lapangan. Pergeseran tersebut menyebabkan upaya penanggulangannya menjadi sulit. Pasalnya strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menonjol ketika mendapatkan inang yang cocok. Selain itu, terdapat satu strain XOO yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain itu. Saat ini penggunaan varietas tahan hama masih menjadi antisipasi terbaik dalam penanggulangan HDB seperti Code dan Angke dengan menggunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus menerus, misalnya 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan pergeseran strain di lapangan. Mengetahui strain yang dominan akan mempermudah rekomendasi varietas yang ditanam di suatu daerah. intensitas serangan HDB tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas padi dan virulensi patogen. Tetapi, juga dipengaruhi oleh cara bercocok tanam petani termasuk pemupukan. Pemupukan N dengan dosis tinggi dan berlebihan bisa merusak ketahanan varietas, oleh karena itu sebaiknya dihindari. Saat ini penelitian tentang strain XOO sudah menggunakan teknologi molekular melalui pengamatan DNA. Pengamatan hingga ke tingkat gen tidak hanya mengidentifikasi patogen secara lebih cermat, juga mampu mengamati interaksi di antara strain-strain hama tersebut. Penelitian secara molekuler mampu menunjukkan hasil pengamatan tingkat virulensi patogen HDB. Di sisi lain juga bisa membantu program pemuliaan padi, terutama dalam pembuatan marka molekuler untuk gen ketahanan pada tanaman, sehingga bisa dipilih varietas mana yang bisa tahan terhadap patogen HDB yang selama ini sulit di cegah. Penggunaan teknik molekuler juga bisa memantau setiap pergeseran strain di lapangan akan bisa dipantau lebih akurat dan lebih cepat. Hasil penelitian dapat membantu menjelaskan gen dan mekanik yang berperan dalam mengatur ketahanan yang bersifat host resistance dan now host resistance. Sehingga, usulan jenis varietas mana yang bisa dilepas di lapangan pun bisa tepat dan dalam waktu uji yang lebih singkat. Dengan teknologi tersebut diharapkan kegagalan panen dapat dihindari serta penggunaan pestisida dapat ditekan karena dapat mencemari lingkungan.
Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang betul-betul terencana. Untuk mengurangi gangguan penyakit blas, misalnya perlu dipilih varietas yang tahan dan sistem tanam multi varietas atau mozaik varietas agar penyebaran dalam waktu singkat dapat dikurangi seperti varietas Celebes, Silugonggo. Sedangkan untuk hama wereng dan beberapa penyakit tertentu, perlu menggunakan varietas yang tahan seperti varietas Cisadane, Cisokan, Ciliwung, dll. Untuk mengurangi serangan hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring agar keberadaan hama sejak dini dapat diketahui. Pengelolaan Tanaman dan Sumber daya secara Terpadu yang sering diringkas Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan holistik yang semakin populer dewasa ini. Pendekatan ini bersifat partisipatif yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi sehingga bukan merupakan paket teknologi yang harus diterapkan petani di semua lokasi. Tujuan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan mulai dari varietas unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, sampai penanganan panen dan pascapanen.
Pengendalian Hama Penyakit Terpadu merupakan pengelolaan tanaman terpadu dalam mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang padi. Strategi pengendaliannya yaitu :
a. Gunakan varietas padi yang tahan terhadap hama dan penyakit.
b. Tanam tanaman yang sehat, termasuk pengendalian dari aspek kultur teknis seperti:
• pola tanam tepat,
• pergiliran tanaman ,
• kebersihan lapang,
• waktu tanam yang tepat,
• pemupukan yang tepat,
• pengelolaan tanah dan irigasi,
• tanam tanaman perangkap untuk
• mengendalikan tikus.
c. Pengamatan berkala untuk memantau pergeseran strain di lapangan.
d. Pemanfaatan musuh alami seperti pemangsa (predator), misalnya laba-laba.
e. Pengendalian secara mekanik, seperti:
• menggunakan alat atau mengambildengan tangan,
• menggunakan pagar,
• menggunakan perangkap
f. Pengendalian secara fisik, seperti menggunakan lampu perangkap (mengendalikan hama penggerek batang padi).
g. Penggunaan pestisida hanya bila diperlukan dengan:
• insektisida,
• fungisida, atau
• molusida

Daftar Pustaka

http://www.situshijau.co.id/
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/kategori/1/
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains/Vol%2071/Upaya%20Peningkatan%20Produktivitas%20Padi%20Sawah%20Melalui%20Pendekatan%20Pengelolaan%20Tanaman%20dan%20Sumberdaya%20Terpadu.pdf
http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp04001.pdf

Anggraini Dwi Wijayanti / 100710219 IKM B'07
Posted on 19th October, 2009

Pengembangan Teknologi Penanganan
Hama dan Penyakit Padi
Oleh
Anggraini Dwi W. / 100710219

Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi perkapita akibat peningkatan pendapatan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, lahan sawah beririgasi masih tetap menjadi andalan bagi produksi padi nasional. Program intensifikasi yang dicanangkan sejak sekitar tiga dekade yang lalu, pada awalnya telah mampu meningkatkan produktivitas dan produksi padi secara nyata. Tetapi sejak dekade terakhir, produktivitas padi cenderung melandai dan bahkan ada yang menurun di beberapa lokasi. Namun di lain pihak upaya peningkatan produksi beras saat ini terhambat oleh beberapa kendala, salah satunya disebabkan belum efektifnya pengendalian hama dan penyakit pada padi. Serangan hama dan penyakit padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Pengertian hama dan penyakit hendaknya dibedakan untuk memudahkan penanganannya. Dalam pengertian sederhana, hama digolongkan sebagai pengganggu tanaman yang kasat mata seperti keong, kutu, dan ulat. Sementara penyakit merupakan pengganggu tanaman yang tidak kasat mata seperti jamur, bakteri, dan virus. Penyakit hanya terlihat dengan bantuan alat pembesar seperti mikroskop.
Hama dan penyakit pada padi yang perlu diwaspadai antara lain seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), blas dan sebagainya, karena dapat menimbulkan kerusakan berat dan bahkan kehilangan hasil panen.
Salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri (HDB). Penyakit HDB merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil panen. Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae oryzae (XOO) tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua. Penyakit ini berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basa, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan. Semakin meluas tanaman varietas unggul baru IR64 yang tahan terhadap wereng batang cokelat malah meningkatkan HDB. IR64 ternyata rentan terhadap serangan HDB karena patogen penyebab HDB memiliki banyak strain. Setiap kali manusia memunculkan teknologi baru untuk mengatasi hama, selalu muncul hama yang lebih tahan. Sudah ratusan jenis dan varietas padi yang dilepas kaum peneliti ke lapangan, selalu saja muncul strain baru hama yang menyerang padi. Pestisida yang disemprotkan pada akhirnya hanya membuat lingkungan tercemar, sementara hama baru tetap muncul. Kerusakan yang ditimbulkan terus meningkat dari waktu ke waktu akibat pergeseran patotipe XOO di lapangan. Pergeseran tersebut menyebabkan upaya penanggulangannya menjadi sulit. Pasalnya strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menonjol ketika mendapatkan inang yang cocok. Selain itu, terdapat satu strain XOO yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain itu. Saat ini penggunaan varietas tahan hama masih menjadi antisipasi terbaik dalam penanggulangan HDB seperti Code dan Angke dengan menggunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus menerus, misalnya 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan pergeseran strain di lapangan. Mengetahui strain yang dominan akan mempermudah rekomendasi varietas yang ditanam di suatu daerah. intensitas serangan HDB tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas padi dan virulensi patogen. Tetapi, juga dipengaruhi oleh cara bercocok tanam petani termasuk pemupukan. Pemupukan N dengan dosis tinggi dan berlebihan bisa merusak ketahanan varietas, oleh karena itu sebaiknya dihindari. Saat ini penelitian tentang strain XOO sudah menggunakan teknologi molekular melalui pengamatan DNA. Pengamatan hingga ke tingkat gen tidak hanya mengidentifikasi patogen secara lebih cermat, juga mampu mengamati interaksi di antara strain-strain hama tersebut. Penelitian secara molekuler mampu menunjukkan hasil pengamatan tingkat virulensi patogen HDB. Di sisi lain juga bisa membantu program pemuliaan padi, terutama dalam pembuatan marka molekuler untuk gen ketahanan pada tanaman, sehingga bisa dipilih varietas mana yang bisa tahan terhadap patogen HDB yang selama ini sulit di cegah. Penggunaan teknik molekuler juga bisa memantau setiap pergeseran strain di lapangan akan bisa dipantau lebih akurat dan lebih cepat. Hasil penelitian dapat membantu menjelaskan gen dan mekanik yang berperan dalam mengatur ketahanan yang bersifat host resistance dan now host resistance. Sehingga, usulan jenis varietas mana yang bisa dilepas di lapangan pun bisa tepat dan dalam waktu uji yang lebih singkat. Dengan teknologi tersebut diharapkan kegagalan panen dapat dihindari serta penggunaan pestisida dapat ditekan karena dapat mencemari lingkungan.
Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang betul-betul terencana. Untuk mengurangi gangguan penyakit blas, misalnya perlu dipilih varietas yang tahan dan sistem tanam multi varietas atau mozaik varietas agar penyebaran dalam waktu singkat dapat dikurangi seperti varietas Celebes, Silugonggo. Sedangkan untuk hama wereng dan beberapa penyakit tertentu, perlu menggunakan varietas yang tahan seperti varietas Cisadane, Cisokan, Ciliwung, dll. Untuk mengurangi serangan hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring agar keberadaan hama sejak dini dapat diketahui. Pengelolaan Tanaman dan Sumber daya secara Terpadu yang sering diringkas Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu pendekatan holistik yang semakin populer dewasa ini. Pendekatan ini bersifat partisipatif yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi sehingga bukan merupakan paket teknologi yang harus diterapkan petani di semua lokasi. Tujuan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan mulai dari varietas unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, sampai penanganan panen dan pascapanen.
Pengendalian Hama Penyakit Terpadu merupakan pengelolaan tanaman terpadu dalam mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang padi. Strategi pengendaliannya yaitu :
a. Gunakan varietas padi yang tahan terhadap hama dan penyakit.
b. Tanam tanaman yang sehat, termasuk pengendalian dari aspek kultur teknis seperti:
• pola tanam tepat,
• pergiliran tanaman ,
• kebersihan lapang,
• waktu tanam yang tepat,
• pemupukan yang tepat,
• pengelolaan tanah dan irigasi,
• tanam tanaman perangkap untuk
• mengendalikan tikus.
c. Pengamatan berkala untuk memantau pergeseran strain di lapangan.
d. Pemanfaatan musuh alami seperti pemangsa (predator), misalnya laba-laba.
e. Pengendalian secara mekanik, seperti:
• menggunakan alat atau mengambildengan tangan,
• menggunakan pagar,
• menggunakan perangkap
f. Pengendalian secara fisik, seperti menggunakan lampu perangkap (mengendalikan hama penggerek batang padi).
g. Penggunaan pestisida hanya bila diperlukan dengan:
• insektisida,
• fungisida, atau
• molusida

Daftar Pustaka

http://www.situshijau.co.id/
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/kategori/1/
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains/Vol%2071/Upaya%20Peningkatan%20Produktivitas%20Padi%20Sawah%20Melalui%20Pendekatan%20Pengelolaan%20Tanaman%20dan%20Sumberdaya%20Terpadu.pdf
http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp04001.pdf

Sri Rahayu Ningsih
Posted on 19th October, 2009

BEKATUL BAHAN PAKAN TERNAK KAYA MANFAAT

Mendengar kata bekatul, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan bahan untuk pakan ternak. Banyak orang menggambarkan bekatul sebagai limbah dengan bau tengik, apek, dan asam. Persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar karena bekatul memiliki karakteristik cita rasa yang lembut dan agak manis. Bau tidak sedap akan muncul jika bekatul mulai mengalami kerusakan. Bekatul berbeda dengan dedak banyak orang mengangap bekatul sama dengan dedak. sebenarnya
Bekatul merupakan lapisan sebelah dalam butiran beras (lapisan aleuron/kulit ari) dan sebagian kecil endosperma berpati. Dalam proses penggilingan padi di Indonesia, dedak dihasilkan pada proses penyosohan pertama, bekatul pada proses penyosohan kedua. Bahan Pangan Dunia (FAO) telah membedakan pengertian dedak dan bekatul. Dedak merupakan hasil sampingan dari proses penggilingan padi yang terdiri atas lapisan sebelah luar butiran beras (perikarp dan tegmen) dan sejumlah lembaga beras.
Bekatul memang merupakan hasil sampingan dari proses penggilingan atau penumbukan gabah menjadi beras. Gabah dihilangkan bagian sekamnya melalui proses penggilingan (pengupasan kulit), akan diperoleh beras pecah kulit (brown rice). Beras pecah kulit terdiri atas bran (dedak dan bekatul), endosperm, dan embrio (lembaga).
Endosperma terdiri atas kulit ari (lapisan aleuron) dan bagian berpati. Selanjutnya, bagian endosperma tersebut akan mengalami proses penyosohan, menghasilkan beras sosoh, dedak, dan bekatul. Proses penyosohan merupakan proses penghilangan dedak dan bekatul dari bagian endosperma beras. Secara keseluruhan proses penggilingan padi menjadi beras akan menghasilkan 1628 persen sekam, 6-11 persen dedak, 2-4 persen bekatul, dan sekitar 60 persen endosperma.
Tujuan penyosohan untuk menghasilkan beras yang lebih putih dan bersih. Makin tinggi derajat sosoh, semakin putih dan bersih penampakan beras, tapi semakin miskin zat gizi. Pada penyosohan beras dihasilkan dua macam limbah, yaitu dedak (rice bran) dan bekatul (rice polish). Berbagai penelitian menunjukkan, bekatul beras memiliki komponen gizi yang sangat dibutuhkan manusia. Jadi patut disayangkan jika bekatul hanya ditujukan sebagai pakan ternak. Bekatul mengandung karbohidrat cukup tinggi, yaitu 51-55 g/100 g. Kandungan karbohidrat merupakan bagian dari endosperma beras karena kulit ari sangat tipis dan menyatu dengan endosperma. Kehadiran karbohidrat ini sangat menguntungkan karena membuat bekatul dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.
Kandungan protein pada bekatul juga sangat baik, yaitu 11-13 g/100 g. Dibandingkan dengan telur, nilai protein bekatul memang kalah, tapi masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan kedelai, biji kapas, jagung, dan tepung terigu.
Dibandingkan dengan beras, bekatul memiliki kandungan asam amino lisin yang lebih tinggi. Zat gizi lain yang menonjol pada bekatul beras adalah lemak, kadarnya mencapai 10-20 g/100 g. Minyak yang diperoleh dari bekatul dapat digunakan sebagai salah satu minyak makan yang terbaik di antara minyak yang ada, dan sudah dijual secara komersial di beberapa negara. Keunggulan dari minyak bekatul untuk menurunkan kolesterol. Bekatul beras juga kaya akan vitamin B kompleks dan vitamin E. Vitamin B kompleks sangat dibutuhkan sebagai komponen pembangun tubuh, sedangkan vitamin E merupakan antioksidan yang sangat kuat.
Selain itu, bekatul merupakan sumber mineral yang sangat baik, setiap 100 gramnya mengandung kalsium 500700 mg, magnesium 600-700 mg, dan fosfor 1.000-2.200 mg. Bekatul juga merupakan sumber serat pangan (dietary fiber) yang sangat baik. Selain untuk memperlancar saluran pencernaan, kehadiran serat pangan juga berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol darah.
Bekatul memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan ditambah komponen bioaktif oryzanol, tokoferol, dan asam ferulat menjadikan bekatul sebagai bahan baku yang berpotensi untuk dijadikan pangan fungsional.
Efek hipoklesterolemik bekatul dan beberapa fraksinya (neutral detergent fiber, hemiselulosa, minyak bekatul padi, dan bahan tak tersabunkan) telah banyak diorservasi baik pada hewan percobaan maupun manusia. Minyak bekatul padi menurunkan secara nyata kadar kolesterol darah, LDL kolesterol, VLDL kolesterol, dan dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol darah. Kemampuan minyak bekatul padi menurunkan kadar kolesterol dikarenakan adanya oryzanol dan kemampuan lainnya dari bahan yang tidak tersabunkan. Disamping mempunyai efek dapat menurunkan kadar kolesterol darah, penelitian terbaru menunjukkan bahwa asam ferulat juga mempunyai peranan dalam menurunkan tekanan darah dan glukosa darah baik pada uji hewan maupun uji manusia.
Sebenarnya bekatul padi dapat digunakan sebagai bahan baku industri makanan maupun industri farmasi. Pangan fungsional didefinisikan sebagai makanan yang berdasarkan pengetahuan tentang hubungan antara makanan/komponen makanan dan kesehatan diharapkan mempunyai manfaat kesehatan tertentu (Broek, 1993). Karena merupakan makanan, maka pangan fungsional menurut ilmuwan Jepang mempunyai tiga fungsi dasar, yaitu Sensory (warna dan penampilan menarik, citarasanya enak).Sutritional (bernilai gizi tinggi).Physiological (memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh).
Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan dari pangan fungsional adalah pencegahan timbulnya penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh, regulasi kondisi ritmik tubuh, memperlambat proses penuaan, dan penyehatan kembali (recovery). Dengan demikian, meskipun mengandung senyawa yang berkhasiat bagi kesehatan, pangan fungsional bukan kapsul, tablet atau bubuk yang berasal dari senyawa alami. Oleh karena itu pangan fungsional seharusnya dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan sehari-hari, bentuknya dapat makanan maupun minuman.
Untuk pangan, bekatul dapat dicampur dengan bahan lain pada pembuatan biskuit, kue, dan lain-lain. Penggunaan bekatul secara komersial di luar negeri baru pengekstrakan bekatul untuk minyak goreng. Pemanfaatan bekatul yang telah diawetkan sebagai makanan sarapan sereal, dengan perbandingan (%) tepung beras : bekatul (90 : 10 - 30 : 70). Substitusi bekatul padi 15 % pada tepung terigu dilaporkan memberikan hasil yang optimal terhadap penerimaan cookies dan roti manis. Substitusi ini meningkatkan kandungan serat pangan (hemiselulosa, selulosa, dan lignin) dan niasin pada produk (Muchtadi et al., 1995).

Sumber :
http://smarters06.blogspot.com/2009/01/pengembangan-pangan-fungsional.html
http://4-healthyfood.blogspot.com/2008/05/pangan-fungsional-pangan-atau-obat.html

TOPIK: “PENGEMBANGAN DEDAK PADI DAN BEKATUL UNUTK ANEKA PANGAN (PANGAN FUNGSIONAL KAYA SERAT DAN MINYAK) “
SRI RAHAYU NINGSIH
100710159 IKM A2007

Karinta Dian Saraswati
Posted on 19th October, 2009

Pangan Tinggi Serat
Dan Rendah Indeks Glikemik
OLEH :
KARINTA DIAN S.
100710239 / IKM B 07

Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telah mengakibatkan peningkatan beberapa penyakit degeneratif di antaranya kanker, diabetes mellitus (DM), dll. Menurut laporan World Cancer Report – WHO April 2003, diperkirakan pada tahun 2020 penderita kanker di dunia akan meningkat 50% menjadi 15 juta orang. Salah satu kanker yang menonjol peningkatan jumlah penderita dan kematiannya adalah kanker usus. Saat ini ada sekitar 1 juta orang penderita baru yang terdeteksi kanker usus, dan hampir ½ juta diantaranya meninggal dunia. Di AS, penyakit ini menduduki posisi kedua setelah kanker paru, dengan jumlah penderita baru setiap tahunnya mencapai 130.000 orang dengan kematian 50.000 orang. Penderita yang terdeteksi tersebut umumnya terlambat memeriksakan diri ke dokter, karena pada stadium akhir atau stadium 4, kemungkinan hidup penderita sudah sangat kecil sekali dan tidak dapat disembuhkan.

Namun dibalik fakta yang menakutkan itu, laporan kesehatan memberikan setitik harapan bahwa penyakit tersebut dapat dicegah melalui perubahan pola makan dan gaya hidup yang sehat. Perubahan pola makan sehat, melalui kecukupan serat dari sayur dan buah, serta perubahan gaya hidup yang sehat melalui aktifitas fisik, terbukti mampu menurunkan resiko kanker usus hingga 40%. Penelitian dari EPIC (European Prospective Investigation into Cancer & Nutrition) dan AICR (American Institute for Cancer Research) Mei 2003, melaporkan bahwa kecukupan konsumsi serat pada pola makan setiap hari ternyata dapat mengurangi resiko kanker usus hingga 40% di Eropa dan 27% di AS.

Sedangkan di Indonesia, menurut rujukan RSCM dan RS Kanker Dharmais, diperoleh data bahwa RSCM mendapat tambahan 50 pasien baru kanker usus setiap bulannya dan RS Kanker Dharmais menemukan bahwa 6,5% pasien pasien kolonoskopi sudah menderita kanker usus.

Depkes RI juga sudah memberikan isyarat-isyarat penting akan potensi bahaya penyakit yang terkait akibat kurangnya konsumsi serat. Ditemukan bahwa konsumsi serat masyarakat kita pada tahun 2001 ternyata lebih rendah dari konsumsi serat masyarakat Eropa dan bahkan AS. Konsumsi serat masyarakat Eropa dan AS sekitar 15 gram per hari, sedangkan masyarakat kita hanya mengkonsumsi serat 10,5 gram per hari. Angka ini sangat memprihatinkan karena kecukupan yang direkomendasikan oleh para ahli kesehatan dunia berkisar antara 25 – 35 gram per hari. Sudah banyak penelitian tingkat dunia yang melihat kaitan yang amat erat antara kurangnya konsumsi serat dengan berbagai macam penyakit seperti; susah buang air besar, wasir, kanker usus, kegemukan, kolesterol dan diabetes mellitus.

Penelitian oleh para dokter di North California, AS Juni 2003 menemukan bahwa susah buang air besar atau konstipasi meningkatkan resiko kanker usus hingga 2 kali lipat.

Definisi Serat
Menurut Dr. Luciana B Sutanto, MS, SpGK, spesialis gizi FKUI, serat adalah bahan makanan nabati yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan di dalam tubuh. Sayuran dan buah adalah bahan makanan yang banyak mengandung serat alias dietary fiber. Di dalam bahan pangan nabati, serat ditemukan pada sebagian besar struktur tanaman, daun, batang, akar, buah, maupun biji.

Serat dapat digolongkan ke dalam 2 kategori yakni :
1.Serat yang tidak larut air
Serat ini tidak larut di dalam air dan dapat membantu memperlancar buang air besar. Serat tidak larut akan menyerap air, membuat feses berukuran lebih besar, lebih lunak sehingga akan menjadi mudah dikeluarkan. Serat tidak larut ini dapat membantu mencegah wasir. Tepung gandum, tepung terigu, dedak gandum, kacang-kacangan dan banyak sayur-mayur merupakan sumber dari serat yang tidak larut air.
2.Serat larut air
Serat jenis ini larut di dalam air untuk membentuk suatu material yang seperti ‘gel’. Serat ini akan mengikat lemak sehingga lemak tidak akan diserap oleh tubuh melainkan akan dikeluarkan dari tubuh bersama feses. Serat ini berperan menurunkan kadar kolesterol darah dan dapat ditemukan jenis di dalam gandum, kacang polong, kacang-kacangan, buah-buahan (apel, jeruk), wortel, dan psyllium.

Sedangkan manfaat serat antara lain :
1.Mencegah sembelit
Diet kaya serat akan meningkatkan ukuran dan memperlunak konsistensi dari feses. Serta mengurangi kemungkinan sembelit. Jika diare atau kotoran encer/berair, serat akan membantu mengeraskan kotoran karena serat menyerap air.
2.Menurunkan resiko terhadap gangguan pencernaan
Suatu diet yang tinggi serat akan menurunkan resiko dari gangguan pencernaan seperti, wasir, dan diverticular disease (terdapatnya kantong-kantong kecil di dalam usus besar). Konsistensi feses yang lunak akan membantu mengurangi kerja gerakan otot rectal dan mengurangi tekanan pada rectum sehingga wasir dapat dicegah.
3.Menurunkan kadar kolesterol
Serat yang dapat larut yang ditemukan di dalam kacang-kacang, gandum, dan dedak gandum akan membantu menurunkan kadar kolesterol. Serat dapat mengikat kolesterol dan asam empedu dan membawanya keluar dari tubuh bersama-sama dengan feses sehingga konsentrasi lemak dalam darah menurun dan kemungkinan resiko sakit jantung juga akan menurun.
4.Mengendalikan gula darah
Serat, terutama serat yang dapat larut, dapat memperlambat penyerapan gula, yang bagi penderita diabetes dapat membantu mengontrol kadar gula darah. Diet yang tinggi serat dapat mengurangi resiko terkena diabetes type II.
5.Mengontrol berat badan / membantu diet
Mengkonsumsi makanan tinggi serat dan mengurangi konsumsi lemak dan gula yang berlebih dapat membantu menurunkan berat badan. Hal ini dapat dibuktikan, karena makanan tinggi serat menghasilkan energi kurang dari lemak dan gula / karbohidrat. Selain itu, serat menimbulkan perasaan kenyang sehingga konsumsi makanan dapat dikurangi.
6.Mencegah kanker kolon
Serat dapat mempercepat lewatnya makanan di dalam saluran pencernaan sehingga memperpendek waktu transit dan mencegah paparan bahan penyebab kanker pada jaringan pencernaan.

Salah satu contoh pangan yang mengandung serat adalah pepaya. Pepaya mengandung karpaina, yaitu suatu alkaloid yang berfungsi untuk mengurangi serangan jantung, peluruh cacing, mengatasi sariawan, mengatasi infeksi, meredakan demam, melancarkan saluran pencernaan, dan mencegah konstipasi (sembelit). Pengembangan pepaya dapat dilakukan dengan pengembangan varietas ( pemantapan koleksi plasma nutfah, pengembangan varietas unggul, studi ketahanan terhadap penyakit, analisis pewarisan sifat dan studi DNA marker untuk penentu kelamin ) dan pengembangan teknologi produksi ( upsys produksi benih bermutu, pengendalian lingkungan tumbuh papaya,& pupuk organic yang digunakan.

Indeks Glikemik
Indeks Glikemik (IG) makanan adalah angka yang diberikan kepada makanan tertentu yang menunjukkan seberapa tinggi makanan tersebut meningkatkan gula darah setelah di konsumsi. Angka yang digunakan adalah 0-100. Makanan yang memiliki IG yang tinggi berarti makanan tersebut meninggikan gula darah dalam waktu yang lebih cepat, lebih fluktuatif, lebih tinggi, dari makanan yang memiliki IG yang rendah. Naiknya gula darah atau glukosa darah hanya disebabkan oleh zat karbohidrat. Jadi indeks glikemik ini paling penting untuk memilih makanan yang mengandung banyak karbohidrat sebagai sumber tenaga. Makanan yang sangat kurang atau tidak mengandung karbohidrat tidak memiliki nilai IG seperti ikan, daging, telur, alpukat, minyak goreng, margarine dan lain-lain.

Badan Kesehatan Dunia WHO bersama dengan FAO menganjurkan konsumsi makanan dengan IG rendah untuk mencegah penyakit-penyakit degeneratif yang terkait dengan pola makan seperti penyakit jantung, diabetes, dan obesitas.

Nilai indeks glikemik bahan pangan dikelompokkan menjadi rendah (70).

Contoh beras yang memiliki nilai indeks glikemik rendah antara lain Cisokan (kadar amilosa 26,7% ; indeks glikemik 34), Margasari (25% ; 39), IR36 (27,3% ; 45), Logawa (25,5% ; 49);, Martapura (26,4% ; 50), Air Tenggulang (28,6% ; 50), Batang Lembang (25,6% ; 54), dan Ciherang (22,9% ; 54).

Sedangkan contoh yang lain yakni roti gandum (putih dan cokelat), roti heavy fruit, beras merah, beras tumbuk, jenis padi – padian, pasta gandum, bubur havermut, muesli tanpa pemanis, sereal gandum berserat tinggi, ubi, jamur, kacang polong, buncis, brokoli, terung, apel, jeruk, pir, jeruk bali, pisang, madu, selai, susu kedelai.

DAFTAR PUSTAKA
pkbt.ipb.ac.id/pages/exsum/2005-pepaya.pdf –
http://www.smallcrab.com/…/642-mengenal-indeks-glikemik-pada-beras -
http://www.abang-holic.blogspot.com/…/indeks-glikemik-tubuh.html -
fengshuisehatbugar.wordpress.com/…/sehat-dengan-diet-tinggi-serat/ -
http://www.carahidup.um.ac.id/2009/08/buah-berserat-tinggi/ -
http://www.lucianasutanto.com/index.php?option=com…
aminuddin01.wordpress.com/…/diet-diabetes-memahami-dan-menggunakan-indeks-glikemik-makanan-dan-indeks-glikemik-load/

Arina Madjidi
Posted on 19th October, 2009

Arina Madjidi (100710139)
IKM 07 A/69

Mengembangkan Padi Organik untuk Mencukupi Ketahanan Pangan dan Menjaga Kelestarian Lingkungan.

Kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian. Bumi Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian sangat cocok untuk terus dikembangkan. Namun demikian, upaya peningkatan produksi instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia membuat kondisi tanah semakin rendah tingkat kesuburannya. Hal ini berakibat turunnya hasil produksi. Untuk mengatasinya, para petani mengupayakan dengan meningkatkan biaya produksi, diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida/insektisida. Pada awalnya usaha ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun.
Oleh karena itu teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI-Organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.
Selain metode SRI-Organik, dalam upaya peningkatan produktivitas padi, pendapatan petani,dan kelestarian lingkungan produksi, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) bekerja sama dengan IRRI dan FAO telah mengembangkan konsep Integrated Crop Management atau Pengelolaan Tanaman dan sumber Daya Terpadu (PTT)sejak 2001. PTT itu sendiri adalah pendekatan dalam sistem usaha tani padi yang berlandaskan pada sinergistik dan keterpaduan antara sumber daya dan pengelolaan tanaman yang bertitik tolak dari konsep good agricultural practices. Dalam hal ini pemberian bahan organik merupakan salah satu syarat utama (compulsory technology), namun fungsinya hanya sebagai suplemen dan pembenah tanah. Karena itu aplikasi bahan anorganik tetap menjadi andalan dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi, yang tentu saja memperhatikan aspek kelestarian sumber daya lahan. Dalam kaitan ini, Balitpa dan IRRI telah memperkenalkan teknik pengelolaan hara spesifik lokasi (site specific nutrient management) yang menganut prinsip feed what the crop need. Artinya, penggunaan pupuk harus proporsional dan rasional, sesuai kebutuhan tanaman untuk dapat berproduksi tinggi.
Keuntungan Budidaya Padi Organik
Metode SRI-Organik maupun PTT mampu mendongkrak produktivitas padi hingga 6-9 ton per hektare dari 4,7 ton per hektare–bahkan dengan metode SRI ada yang mencapai produktivitas hingga 10-11 ton per hektare, padi organik juga lebih dihargai oleh pasar. Bahkan beras organik produksi Tasikmalaya, Jawa Barat dapat menembus ekspor Amerika Serikat yang mempunyai standart impor tinggi. Bahkan negara-negara lain juga menunggu hasil padi organik dari Tasikmalaya ini.
Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik.
Tantangan Pengembangan Padi Organik
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional. Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Upaya untuk meningkatkan budaya padi organik
Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik dengan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus menyentuh masyarakat luas sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial. Kedua, mengembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani.
Ketiga, mengeembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang. Keempat, penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai penjelasan kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air.
Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik.
Sumber :
Anonim. 2009. Ekspor Beras Organik dari Tasikmalaya. Wordpress. 04 Oktober 2009. 18:44.
Bilad, M. Roil. 2009. Pertanian Padi Organik SRI dalam konsep Sistem Pertanian Terpadu (1). Megtech. 04 Oktober 2009. 18:52.
Las, Irsal. 2009. Sudah Perlukah Padi Organik?. Deptan. 04 Oktober 2009. 18:34.
Setiawan, Iwan. 2009. Membudayakan Padi Organik. Ahmadheryawan. 04 Oktober 2009. 18:31

Destyas
Posted on 19th October, 2009

Pengelolaan DAS Terpadu untuk Konservasi Lahan di Daerah Aliran Sungai
Oleh Destyas Nurrrohmah (100710179)
Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekologi Pangan dan Gizi

Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa pada tahun 2005 (Data BPS, 2005). Jumlah penduduk yang semakin tinggi ini akan diikuti pemenuhan kebutuhan untuk menunjang kehidupannya. Bentuk pemenuhan kebutuhan dapat berupa pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada, diantaranya adalah tanah. Adanya ketimpangan dalam penguasaan tanah akan membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat pedesaan sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) terutama dalam kaitannya dengan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, jangkauan lembaga pemerintah dan lain sebagainya.
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan kesatuan ekosistem dimana jasad hidup dan lingkungannya berinteraksi secara dinamik dan terdapat saling ketergantungan (interdependensi) diantara komponen-komponen penyusunnya. Manan (1998) menyatakan bahwa DAS adalah sebuah kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografi yang menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh di atasnya ke sungai utama yang bermuara ke danau atau ke laut.
Di antara semua komponen DAS, manusia merupakan komponen yang memegang peranan penting dalam mempengaruhi kualitas suatu DAS. Pertumbuhan dan perkembangan penduduk yang cukup pesat serta aktivitas masyarakat yang semakin beragam menyebabkan peningkatan kebutuhan manusia akan sumberdaya. Pemenuhan kebutuhan penduduk akan menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuannya.
Pada daerah aliran sungai terdapat berbagai macam penggunaan lahan, misalnya hutan, lahan pertanian, pedesaan dan jalan. Dengan demikian DAS mempunyai berbagai fungsi sehingga perlu dikelola. Pengelolaan DAS merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, petani dan pemerintah untuk memperbaiki keadaan lahan dan ketersediaan air secara terintegrasi di dalam suatu DAS. Masalah pada DAS yang utama berhubungan dengan jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) air. Yaitu Air sungai menjadi berkurang (kekeringan) atau menjadi terlalu banyak sehingga mengakibatkan banjir.
Diantara pengelolaan DAS bertujuan untuk: mengkonservasi tanah pada lahan pertanian, memanen/menyimpan kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau, memacu usaha tani berkelanjutan dan menstabilkan hasil panen melalui perbaikan pengelolaan sistem pertanian. Memperbaiki keseimbangan ekologi (hubungan tata air hulu dengan hilir, kualitas air, kualitas dan kemampuan lahan, dan keanekaragaman hayati). Sehingga dalam pengelolaan DAS ini terdapat komponen-komponen yang perlu diperhatikan yaitu:
 Pengelolaan dan konservasi lahan pertanian ,
 Pembuatan dan pemeliharaan saluran air, bangunan terjunan air dan sebagainya
 Peningkatan penutupan lahan melalui penerapan teknik agroforestri, hutan rakyat, hortikultura buah-buahan,
 Penanaman hijauan pakan ternak dan perikanan darat.
 Pemeliharaan tebing sungai
 Pengembangan infrastruktur yang sesuai, misalnya pembangunan sarana irigasi, sungai.
Pengelolaan DAS terpadu pada dasarnya merupakan bentuk pengelolaan yang bersifat partisipatif dari berbagai pihak-pihak yang berkepentingan dalam memanfaatkan dan konservasi sumberdaya alam pada tingkat DAS. Pengelolaan DAS terpadu mengandung pengertian bahwa unsur-unsur atau aspek-aspek yang menyangkut kinerja DAS dapat dikelola dengan optimal sehingga terjadi sinergi positif yang akan meningkatkan kinerja DAS dalam menghasilkan output, sementara itu karakteristik yang saling bertentangan yang dapat melemahkan kinerja DAS dapat ditekan sehingga tidak merugikan kinerja DAS secara keseluruhan.
Menurut Tim Koordinasi Pengelolaan DAS, sasaran pengelolaan DAS terpadu yang ingin dicapai pada dasarnya adalah: (1) Terciptanya kondisi hidrologis DAS yang optimal; (2) Meningkatnya produktivitas lahan pertanian dan hutan; (3) Meningkatnya partisipasi mayarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS dan (4) Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Pertama, terciptanya kondisi hidrlogis DAS yang optimal, meliputi hasil air yang memadai baik jumlah, kualitas, kontinuitas serta terkendalinya erosi serta kekeringan. Hasil air yang optimal ditekankan pada kemampuan DAS sebagi suplai sumber air minum penduduk dan untuk keperluan lain rumah tangga, air untuk industri, air untuk irigasi dan air untuk habitat biologi. Kedua, meningkatnya produktivitas lahan di DAS dapat dilihat dari meningkatnya kesuburan tanah, ketersediaan air yang optimal, erosi dan degradasi lahan rendah. Hal ini dapat dilakukan melalui usaha konservasi tanah dan air.
Ketiga, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS. Partisipasi masyarakat dapat dilihat dari kelembagaan lokal (organisasi/kelompok) yang ada di masyarakat. Dimana anggota-anggota masyarakat berusaha meningkatkan kapasitas kelembagaannya dalam mengelola sumberdaya yang ada untuk menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan dalam menjaga kelestarian DAS. . Bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS dapat dilihat dari partisipasi mayarakat yang terorganisir dalam kelembagaan, seperti kelompok tani dan kelompok tradisional (Kolopaking dan Tonny, 1994). Selama ini dalam pelaksanaan program konservasi dan pengelolaan DAS, yang muncul umumnya berupa bentuk hubungan vertical-instructional dan partisipasi yang semu. Hal ini terjadi karena kelembagaan tradisional semata-mata dipandang sebagai obyek. Selain itu dari sisi masyarakat yang menjadi anggota kelompok tani dan kelompok tradisional, kendala yang mereka hadapi sehingga tidak dapat berpartisipasi sepenuhnya adalah karena faktor pemilikan lahan (Kolopaking dan Tonny, 1994). Sebagai contoh di luar Jawa (DAS Saddang, Jeneberang dan Batanghari) tidak sedikit lahan kritir lahan milik pemerintah yang ditelantarkan. Padahal para petani mau berperanserta melakukan kegiatan konservasi di atas lahan kritis tersebut. Akan tetapi karena status lahan yang tidak jelas dan tidak memiliki kekuatan untuk menguasai lahan tersebut, menyebabkan para petani tidak mampu untuk berpartisipasi dalam program-program konservasi
Keempat, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan ini dapat dilihat dari pelaksanaan program/kegiatan yang berhubungan dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem sumber daya hutan, lahan dan air di DAS.

Daftar Rujukan:
Badan Pusat Statistik. Data Jumlah Penduduk Menurut Propinsi. http://www.datastatistik-indonesia.com. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2009.Kolopaking, Lala M. 1994.
Aspek Kelembagaan dan Partisipasi dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Secara Terpadu dalam Mimbar Sosek, Jurnal Sosial-Ekonomi Pertanian. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
R, S. Tejowulan dan Suwardji. 2007. Sistem Ekologi dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Mataram: Lembaga Penerbit Fakultas Pertanian Univeresitas Mataram.

fahmi adrian akbar
Posted on 19th October, 2009

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADI.
Serangan hama dan penyakit padi cukup menonjol sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Gejala serangan hama dan penyakit penting seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), blas dan sebagainya, harus diwaspadai agar dapat dilakukan pengendalian secara tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat dan bahkan kehilangan hasil panen.
Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang betul-betul terencana. Untuk mengurangi gangguan penyakit blas, misalnya perlu dipilih varietas yang tahan dan sistem tanam multi varietas atau mozaik varietas agar penyebaran dalam waktu singkat dapat dikurangi seperti varietas Celebes, Silugonggo. Sedangkan untuk hama wereng dan beberapa penyakit tertentu, perlu menggunakan varietas yang tahan seperti varietas Cisadane, Cisokan, Ciliwung, dll. Untuk mengurangi serangan hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring agar keberadaan hama sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dilakukan pengendalian dengan aplikasi pestisida.
Sebagai contoh penyakit HDB, ini merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan dapat menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit dapat berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basa, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan. Penyakit HDB secara efektif dikendalikan dengan menanam varietas yang tahan seperti Code dan Angke dengan menggunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus menerus, misalnya 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan.
Selain itu juga padi harus disimpan dalam keaadaan kering untuk mencegah tumbuhnya jamur bila kadar airnya berkurang maka aktivitas mikroba pun ikut berkurang dan aktivitas metabolisme(respirasi) akan sedikit berkurang , sehingga menjadi tahan lama dalam hal ini dapat juga dilakukan penyemprotan dengan fungisida.
Untuk jenis hama wereng dapat dilakukan dengan cara penyemprotan APPLAUD 10 WP,agar hama wereng dapat di berantas.penyemprotan dengan pestisida juga harus menganati penyakit apa yang menyerang padi tsb.
Karena padi memiliki tekstur kulit biji yang tebal maka mikroba pun akan sulit merusak padi tersebut apabila ditemukan sedikit maka akan berakibat fatal bagi daya tahan padi tersebut karena mikroba akan masuk kedalam dan merusak,biasanya di Negara-negara berkembang padi di simpan dalam bentuk curah atau di simpan meneumpuk dalam sebuah ruangan dan ini sangat rawan kerusakan namun di Negara maju penyimpanan padi sangat lah bagus karena telah menggunakan technology yang maju pula,misalnya dengan MAS (modifikasi atnosfir) yaitu mengatur udara dalam ruangan dimana kadar oksigen lebih rendah dan kadar karbondioksida lebih tinggi dari udara normal.
Khusus untuk hama sejenis serangga dan lainnya dapat dilakukan pengemposan yakni dengan cara pengasapan.

Dalam rangka mendukung program peningkatan produksi beras nasional (P2BN), informasi ini sangat membantu para pengamat hama dan penyakit tanaman pangan, penyuluh maupun petani untuk menambah pengetahuan, sehingga apabila di lapangan ditemukan permasalahan tentang hama dan penyakit tanaman padi, segera dapat diantisipasi dan dilakukan penanggulangannya.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/611/
http://www.pertaniansehat.or.id
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=83032

FAHMI ADRIAN AKBAR
100710025/19/IKM A ‘07

noer aslichah 100710205
Posted on 20th October, 2009

Pengembangan Dedak Padi dan Bekatul untuk Aneka Pangan (Pangan Fungsional Kaya Serat, Minyak)

Dengan meningkatnya penduduk dunia, semakin besar pula kebutuhan akan makanan. Dengan semakin sempitnya lahan untuk pertanian, manusia harus jeli memanfaatkan peluang-peluang untuk menghasilkan produk konsumsi untuk memenuhi kebutuhan akan pangan yang semakin tinggi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan produk sampingan hasil pengolahan padi, yakni dedak dan bekatul.
Padi adalah makanan pokok penduduk di Asia dan beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin (sekitar dua pertiga dari populasi penduduk dunia). Asia menghasilkan dan mengkonsumsi sekitar 90% dari produksi dan konsumsi beras dunia. Produksi padi di Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan sebesar 51.2 juta ton gabah kering giling (GKG). Padi mempunyai komposisi, 70-72% endosperma, 20% sekam padi, 7-8.5% dedak padi, dan 2-3% embrio.
Dari data di atas, terlihat bahwa ‘sampah’ hasil pengolahan padi memiliki prosentase yang cukup tinggi. Alangkah sayang bila tidak dimanfaatkan dengan baik. Berikut adalah sedikit pembahasan mengenai pemanfaatan dedak padi dan bekatul untuk aneka pangan kaya serat dan minyak.

Dedak Padi
Dedak padi adalah hasil samping dari pabrik penggilingan padi untuk memproduksi beras, yaitu kulit ari beras yang dibuang pada waktu dilakukan pemutihan beras. Dedak padi termasuk salah satu limbah pertanian yang berpotensi sebagai bahan baku industri pakan dan pangan. Ketersediaan dedak di Indonesia cukup tinggi, yaitu berkisar 4.8 juta ton per tahun. Selain sebagai pakan ternak, dedak berpotensi sebagai bahan pangan karena mengandung pati dan minyak, serta sebagai bioproses karena mengandung lipase. Oleh karena itu, perlu kajian yang dapat meningkatkan mutu dan daya guna dedak melalui penerapan teknologi sederhana dan tepat guna. Tujuan penelitian ini ialah melakukan fraksinasi dan analisis proksimat hasil fraksinasi limbah dedak padi, mengkaji faktor yang berpengaruh terhadap produksi β-karoten, menentukan kondisi optimum untuk memproduksi pengemulsi monoasil gliserol (MAG) dan diasil gliserol (DAG) minyak dedak padi, dan mengkaji faktor yang mempengaruhi rendemen dan mutu tepung hasil pengolahan dedak dan aplikasinya pada pembuatan biskuit dan roti.

Dari penelitian ini ditemukan komposisi ransum ayam potong yang mengandung provitamin A hasil fermentasi dedak (fraksi I) yang cenderung mengurangi pembentukan lemak abdominal. Penggunaan dedak sebagai pakan unggas dapat diaplikasikan melalui fraksinasi (pengurangan serat kasar) dan fermentasi dengan cendawan oncom merah (peningkatan provitamin A). Hasil penelitian ini juga memberikan informasi tentang kondisi reaksi pembentukan MAG dan DAG serta waktu reaksi yang optimum. MAG dan DAG ialah senyawa turunan lemak atau minyak yang mempunyai fungsi sebagai bahan pengemulsi, aman digunakan untuk pangan, kosmetik, dan obat-obatan sehingga mempunyai prospek yang cerah. MAG dan DAG pada penelitian ini disintesis secara enzimatis, yaitu lipase sebagai biokatalis yang terdapat pada sekam (dedak fraksi III). Kondisi reaksi yang optimum untuk memperoleh kandungan MAG dan DAG yang tinggi ialah pada nisbah dedak fraksi III:gliserol:minyak:heksana ialah 10:1:2:50 dengan kondisi suhu 37°C dan pH 7.0 serta lama waktu reaksi 103 jam. Rendemen campuran MAG dan DAG yang diperoleh sekitar 90% kotor dengan menggunakan reaktor berkapasitas 10 liter.

Dari penelitian ini juga diperoleh tepung rendah lemak dan tinggi protein hasil pengolahan dedak fraksi II. Rendemen tepung rendah lemak dan tinggi protein terdiri atas tepung endapan 34% dan tepung dekantasi 60% yang diperoleh dari dedak fraksi II (tepung). Tepung rendah lemak dan tinggi protein digunakan pada pembuatan biskuit dan roti. Pada pembuatan biskuit dan roti tepung rendah lemak dan tinggi protein dapat mensubstitusi tepung terigu sampai 20%.

Bekatul
Selain dedak padi, hasil sampingan dari proses pengolahan padi menjadi beras adalah bekatul. Bekatul merupakan lapisan sebelah dalam butiran beras (lapisan aleuron/kulit ari) dan sebagian kecil endosperma berpati. Dalam proses penggilingan padi di Indonesia, dedak dihasilkan pada proses penyosohan pertama, bekatul pada proses penyosohan kedua.
Di Indonesia banyak orang menggambarkan bekatul sebagai makanan ternak. Penggunaan bekatul di luar negeri (misalnya di Jepang atau USA) secara komersil diperoleh dengan mengekstraksi bekatul menjadi minyak goreng. Selain itu bekatul juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan maupun industri.
Senyawa fitokimia dalam bekatul menjadi topik penelitian penting karena dapat memberikan fungsi-fungsi fisiologis. Komposisi fitokimia bekatul sangat bervariasi, tergantung kepada faktor agronomis padi, termasuk varietas padi, dan proses penggilingannya. Fraksi tak tersabunkan dari minyak bekatul mencapai 5% berat minyak, dengan kandungan utama sterol. Sterol yang terdapat dalam jumlah banyak adalah υ-sitosterol yang jumlahnya 50% dari total sterol.
Hampir 75% kandungan asam lemak minyak bekatul terdiri dari asam lemak tidak jenuh. Sementara itu sisanya terdiri dari asam lemak jenuh dan komponen-komponen tidak tersabunkan. Tingginya kandungan asam lemak jenuh pada bekatul akan memberikan efek positif bila kita mengkonsumsinya.
Efek hipoklesterolemik bekatul dan beberapa fraksinya (neutral detergent fiber, hemiselulosa, dan bahan tak tersabunkan) telah banyak dilaporkan baik pada percobaan dengan menggunakan hewan maupun manusia. Minyak bekatul menurunkan secara nyata kadar kolesterol darah, yaitu low density lipo-protein (LDL) colesterol dan very low density lipo-prortein (VLDL) colesterol. Selain itu minyak bekatul juga dapat meningkatkan kadar high density lipo-protein (HDL) kolesterol darah. Kemampuan minyak bekatul menurunkan kadar kolesterol disebabkan adanya -oryzanol, bahan yang tidak tersabunkan, dan kandungan asam lemak tidak jenuh.
Disamping terbukti mampu menurunan kadar kolesterol darah, penelitian lain juga berhasil membuktikan bahwa fraksi bekatul mempunyai kemampuan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan metabolisme glukosa dengan menggunakan hewan percobaan, yang disebut stroke-prone spontaneously hypertensive rats (SHRSP); spesies tikus yang secara genetik mengalami hipertensi dan hiperlipidemia. Asam ferulat dan total fenol yang terkandung dalam fraksi bekatul diketahui sebagai komponen bioaktif yang dapat menurunkan tekanan darah.
Di beberapa negara maju, khususnya di Jepang dan Amerika Serikat, komponen bioaktif yang terdapat pada bekatul telah disuplementasi ke dalam produk-produk kecantikan. Produk-produk tersebut antara lain sabun mandi, pelembab dan pembersih kulit, serta pelembab muka. Tujuan penggunannya adalah untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan kulit. Silab (2002), melaporkan bahwa Hydrolyzed Rice Protein Product (Nutriskin) adalah suatu produk perawatan kulit dengan kandungan asam amino yang cukup beragam. Dalam kosmetika, “serum” merupakan bahan cair yang kandungannya sebagian besar asam amino, dan penggunaannya dioleskan langsung ke kulit. Kandungan asam amino yang terdapat pada bekatul diketahui sangat sesuai untuk memberikan efek perlindungan kulit.
Seiring dengan peningkatan pengetahuan tentang komsumsi bahan pangan, konsumen akhir-akhir ini memiliki kecenderungan memperhatikan dan mengutamakan aspek kesehatan dan kebugaran tubuh. Artinya, pangan tidak hanya membuat tubuh sehat, tetapi juga mampu mengusir efek negatif penyakit. Tuntutan itu kemudian melahirkan konsep pangan fungsional (functional foods).
Untuk dijadikan sebagai penganan, bekatul dapat dicampur dengan bahan lain pada pembuatan biskuit, kue, dan lain-lain.  Bekatul yang diawetkan juga telah dimanfaatkan sebagai makanan sarapan sereal, dengan perbandingan (%) tepung beras : bekatul dari 90 : 10 sampai dengan 30 : 70. Substitusi 15 persen bekatul padi dalam tepung terigu, dilaporkan mengakibatkan penerimaan konsumen yang optimal terhadap produk kue kering dan roti manis.   Di Indonesia, pemanfaatan bekatul mulai berkembang di kalangan masyarakat menengah ke atas yang well informed. Masyarakat kalangan menengah ke atas memanfaatkan bekatul sebagai suplai serat tambahan dalam makanan untuk membantu lancarnya jadwal buang air besar setiap harinya.
Dari uraian di atas terlihat bahwa dedak padi dan bekatul tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, tetapi juga mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional. Potensi ini berkorelasi dengan produksi beras sebagai konsumsi utama masyarakat Indonesia. Pemanfaatan limbah penggilingan padi dapat diolah menjadi bekatul awet dan kemudian diolah lanjut sebagai pangan fungsional.
1159 kata
Daftar pustaka
Anonim, 2003, Sarapan Bekatul Olga, Gatra, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Anonim, 2006, Badan Fit Berkat Bekatul, Kompas, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Anonim, 2006, Khasiat Bekatul, Blogsome, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Anonim, 2008, Dedak Padi Stabilisasi Alternatif Isolat Protein Kedelai, Sinar Tani, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Anonim, 2009, Dedak Padi, Cisaruafarm, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Astawan, Made, 2009, Bekatul, Gizinya Kaya Betul, Kompas, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Mappiratu dkk, 2009, Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Guna Limbah Dedak Padi, SMK Negeri 3 Kimia Madiun, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Michwan, Ardiansyah, 2008, Sehat dan Cantik dengan Bekatul, Inovasi Online, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Padarincang, 2008, Manfaat Bekatul, Multiply, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Rozikin Busro, M, 2005, Efektifitas Stabilisasi Dedak Padi dengan Metode Pemasakan Ekstrusif, Fakultas Teknologi Industri ITB, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Suryanawati, Ika, 2006, Bekatul, Murah Tetapi Berkhasiat Oleh Letkol TNI (Purn) dr.Liem, Blogspot, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009
Zulle, 2008, Pemanfaatan Dedak Padi, Multiply, diakses pada tanggal 5 Oktober 2009

Adinda Setiyo Hutami
Posted on 20th October, 2009

Pengembangan Varietas Padi Bibit Unggul Hibrida (VUH)

Kesejahteraan Indonesia harus dimulai dari kesejahteraan masyarakat pedesaan sebagai ujung tombak dari pemerintahan itu sendiri, kesejahteraan disini dapat dilihat dari bagaimana penduduk desa bias melakukan transaksi perekonomian dasar seperti mencukupi kebutuhan hidup pokok seperti makan dan minum yang mudah dan cepat. Harapan untuk mencapai swasembada beras kini diperkuat oleh tersedianya padi verietas hibrida yang mulai diperkenalkan ke petani sejak dua tahun terakhir. Dengan menanam padi hibrida diharapkan peningkatan produksi beras nasional tidak memerlukan investasi untuk peluasan lahan sawah yang biayanya mahal dan sering menimbulkan konflik sosial maupun lingkungan.
Varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 150 varietas unggul padi yang meliputi 80% total areal padi di Indonesia.
Keberhasilan varietas unggul dalam meningkatkan produksi sangat menakjubkan, dan disebut dengan revolusi hijau. Fenomena revolusi hijau dimulai pada tahun 60-an dengan ditemukannya varietas IR-5 dan IR-8. Kedua varietas tersebut mampu berproduksi tinggi, responsif terhadap pemupukan dan berumur genjah, sehingga dapat melipat gandakan hasil. IR-5.8 ton/ha tiga kali tanam dalam setahun, sementara pada kondisi yang sama varietas lokal hanya memeberikan hasil 2-4 t/ha satu atau dua kalitanam dalam setahun jelas sekali pelipat gandaan hasil dapat dilakukan melalui penggunaan varietas unggul.
Seiring dengan penggunaan varietas unggul dengan teknik budidaya yang intensif produksi dan produktivitas padi nasional juga terus naik. Pada tahun 1972 produksi padi nasional sebesar 20 juta ton dengan produktivitas 3.21 ton/ha, sedangkan pada tahun 1984 produksi nasional sebesar 38.14 juta ton dengan produktivitas 3.91 ton/ha. Pada tahun 2000, produksi nasional mencapai sekitar 4.4 ton/ha. Permasalahan yang kemudian muncul adalah terjadinya pelandaian peningkatan produksi dan produktivitas padi secara nasional. Data BPS menyebutkan bahwa pertambahan produksi padi nasional tahun 1974 sampai dengan 1980 sebesar 4,8% per tahun, sedangkan pada dekade 1981-1990 sebesar 4,35%. Angka tersebut kembali turun pada dekade 1991-2000 menjadi sebesar 1,32%. Peningkatan produktivitas atau rata-rata produksi padiperhektar secara nasional juga mengalami penurunan. Rata-rata peningkatan produktivitas padi secara nasional tahun 1973-1980 adalah 0,29% tahun 1981-1990 sebesar 3,03%, sedangkan pada tahun 1991-2000 mengalami penurunan menjadi 1,15%, bahkan pada beberapa tahun bernilai negatif. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Prediksi ke Depan Dengan asumsi pertambahan penduduk 1,35% per tahun dan tingkat konsumsi 133 kg/kapita/th, kebutuhan padi di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan sebesar 70 juta ton. Hal itu berarti 19 juta ton lebih tinggi daripada tahun 2000. Jika kita anggap luas lahan dan kualitas lahan tanaman padi tidak berubah, maka kebutuhan padi tahun 2025 tersebut dapat dipenuhi dengan produktivitas padi nasional sebesar 6 ton/ha. Rata-rata hasil nasional saat ini sekitar 4.4 ton/ha. Jadi terdapat selisih sebesar 1.6 ton/ha yang harus dicapai pada tahun 2025. Besarnya peningkatan produktivitas padi nasional yang dicapai selama ini adalah 0.5 ton/ha dalam 15 tahun. Jadi, dalam waktu 25 tahun hanya dicapai peningkatan produktivitas padi nasional sebesar 0.83 ton/ha (dari 1.6 ton/ha yang dibutuhkan). Produksi yang dapat dicapai adalah 61 juta ton (kebutuhan 70 juta ton). Devisit 9 juta ton. Dari mana diperoleh? Upaya ke Depan. Padi yang lebih banyak menarik perhatian dunia swasta adalah padi hibrida. Padi hibrida dapat memberikan lonjakan hasil melalui fenomena hipotesis, yaitu penampakan keturunan F1 (keturunan pertama hasil persilangan antara dua tetua yang berbeda) yang lebih bagus daripada kedua tetuanya, atau varietas terbaik yang telah ada.
Padi hibrida mulai dikembangkan di Cina pada tahun 1964 dengan ditemukannya mandul jantan. Selanjutnya pada tahun 1976 padi hibrida telah dikomersialkan. Saat ini, lebih dari separuh areal pertanaman padi di Cina adalah hibrida. Padi hibrida di sana mampu memberikan hasil 15% lebih tinggi daripada varietas non hibrida. Pihak lain yang semenjak awal meneliti padi hibrida adalah Jepang, Amerika, IRRI, dan India. Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai sekitar tahun 1980-an, dengan mengintroduksi padi hibrida dari Cina, dan selanjutnya memanfaatkan padi asal Indonesia sendiri, serta bekerjasama dengan IRRI. Pada tahun 2002 ini, telah dilepas dua varietas padi hibrida oleh pemerintah (Badan Litbang Departemen Pertanian) dan lima varietas oleh swasta. Varietas-varietas hibrida lain segera menyusul. Padi tipe baru dan padi hibrida, diharapkan merupakan terobosan teknologi yang dapat menciptakan lonjakan produksi padi nasional. Memang padi hibrida itu memberikan tingkat produksi rata-rata yang relatif lebih baik daripada padi unggul nasional. Tapi padi hibrida hanya lebih baik apabila ditanam pada tempat yang cocok dan dengan praktik agronomis yang ideal. Apabila ditanam di tempat yang tidak cocok dan praktik agronomis yang tidak sempurna, hasilnya tidak lebih baik daripada padi unggul nasional.
Suatu hal yang menarik dari pengembangan padi hibrida di Indonesia adalah inisiatifnya datang dari swasta yang berkeinginan untuk mengembangkan benih padi di dalam negeri. Kebijakan mengenai padi hibrida pada waktu itu adalah pemerintah mendukung swasta untuk pengembangan padi hibrida di dalam negeri. Dan mereka diberi izin sementara untuk mengimpor benih padi hibrida.
Kendati pun padi hibrida itu terlihat lebih unggul daripada padi unggul nasional tetapi kita tidak bisa mengabaikan begitu saja padi unggul nasional. Karena dia sudah lebih teruji daya adaptasinya, lebih toleran terhadap hama penyakit, dan produktivitasnya cukup baik.
Untuk mencapai tambahan 2 juta ton beras pada 2007 memang tidak mudah. padi hibrida hanyalah salah satu solusi, bukan satu-satunya solusi. Sekalipun kita ingin menanam padi hibrida katakanlah satu juta hektar, apakah benihnya sekitar 15.000 ton tersedia tahun ini? padi hibrida itu adalah padi masa depan jadi merupakan solusi jangka panjang yang pengembangannya dimulai dari sekarang.
Perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Kalangan swasta pun sudah banyak yang melirik dalam pengembangan hingga pemasaran jenis padi yang satu ini. Namun masih ada sebagian masyarakat yang bersikap hati-hati dalam menggunakan padi ini. Dan hal ini tidak selamanya salah karena pada kenyataannya ada beberapa kendala pada pengembangan padi hibrida. Kedala itu antara lain adalah keterbatasan benih, kerentanan terhadap hama dan penyakit utama, dan ekpresi heterosis yang tidak stabil. Varietas padi hibrida yang telah dilepas pada umumnya (tentu saja tidak semuanya-red) rentan terhadap hama-penyakit utama seperti wereng coklat, HDB, dan virus tungro. Menurut Dr. Satoto, peneliti padi hibrida pada Balai Besar Penelitian Padi (BBP Padi), secara teknis ada lima kunci utama agar pengembangan padi hibrida berhasil. Kelima kunci tersebut adalah 1) varietas yang cocok; 2) benih yang bermutu; 3) teknologi budidaya yang tepat; 4) wilayah yang sesuai, dan 5) respon petani.
Tidak Sekedar Produksi Perakitan varietas unggul tidak hanya dirancang untuk menjawab tantangan produksi. Masyarakat yang relatif mampu, tidak hanya sekedar memburu kenyang, tetapi enak dan bergengsi. Padi aromatik jawaban untuk itu. Padi tahun 2000 telah dilepas varietas unggul aromatik bernama Sintanur, disusul Batang Gadis tahun 2002. Padi aromatic lainnya adalah Celebes 1 dan 2. Pihak swasta tidak ketinggalan telah melepas varietas hibrida aromatik.

Daftar pustaka:

http://www.tanindo.com/abdi4/hal1501.htm
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/415/+PENGEMBANGAN+VARIETAS+PADI+UNGGUL+HIBRIDA&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
http://green-organic-rice.blogspot.com/2009/01/eksistensi-varietas-padi-lokal-terancam.html
http://www.kr.co.id/web/

nama : Adinda Setiyo Hutami
nim/no : 100710037/26
IKM A 2007

Sherilla Irianti Putri
Posted on 20th October, 2009

Topik : Identifikasi dan Pengembangan Varietas Padi Unggul untuk Pangan Fungsional
Rendah glikemiks (IG)
Tinggi Fe
Tinggi Vit. A

Oleh :
SHERILLA IRIANTI PUTRI
100710148 (78)
IKM A’07

Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkraman penjajah/musuh. Dengan demikian upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi untung rugi ekonomi saja tetapi harus disadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasional yang harus dilindungi.
Berita peningkatan produksi padi nasional 2002 cukup melegakan hati. Namun, kita harus selalu waspada, karena tanpa usaha sungguh-sungguh, belum tentu tahun depan akan terjadi hal yang serupa. Serangan hama/penyakit, kekeringan, dan banjir selalu terjadi setiap tahun. Sementara itu, konversi lahan pertanian ke non pertanian terus terjadi, sedangkan pembukaan lahan baru tidak terdengar kabarnya. Segala antisipasi harus disiapkan untuk menghadapi kendala-kendala tersebut. Teknologi harus terus dikembangkan, apalagi menghadapi pasar bebas AFTA, NAFTA, dan GATT.
Efisiensi, kualitas, dan produktivitas adalah kata kunci untuk itu. Varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 150 varietas unggul padi yang meliputi 80% total areal padi di Indonesia.
Varietas unggul baru selalu dikembangkan untuk menghadapi tantangan zaman. Salah satu terobosan adalah perakitan padi tipe baru. Padi tersebut memiliki tekstur yang memungkinkan memiliki potensi hasil maksimal. Tipe tanaman yang dibentuk adalah malai panjang, jumlah anakan sedikit. Sifat lain yang diharapkan akan terbentuk adalah batang kuat, postur tanaman tegak, daun hijau tua dengan masa penuaan (senesence) yang lambat, serta tahan terhadap hama penyakit utama. Perakitan varietas unggul tidak hanya dirancang untuk menjawab tantangan produksi. Masyarakat yang relatif mampu, tidak hanya sekedar memburu kenyang, tetapi enak dan bergengsi.
Padi dengan kandungan Fe tinggi tengah diteliti untuk menolong masyarakat yang menderita defisiensi zat besi (Fe) namun dia menggantungkan makanannya kepada
nasi. IRRI telah mengembangkan golden rice, yaitu padi yang memiliki kandungan vitamin A yang tinggi. Padinya berwarna kuning keemasan, sehingga disebut golden rice. Beras tersebut diberi nama Golden Rice (beras keemasan), karena warnanya yang berwarna kuning keemasan dan sangat berbeda dengan beras pada umumnya yang berwarna putih. 
Beras tersebut merupakan hasil rekayasa genetika, melalui penyisipan gen psy atau gen penyandi phytoene synthase, digabungkan dengan gen crtl atau gen penyandi carotene desaturase. Kedua gen ini berfungsi untuk memproduksi beta karoten (pro-vitamin A), sebagaimana yang banyak terkandung pada wortel. Gabungan sisipan kedua gen tersebut berhasil meningkatkan kandungan beta karoten hingga 23 kali kandungan beta karoten pada beras keemasan generasi pertama yang ditemukan 5 tahun yang lalu di Swiss. Bahkan dibandingkan dengan tomat dan cabe yang juga mengandung beta karoten, beras keemasan ini masih memiliki kandungan beta karoten yang lebih tinggi. 
Salah satu alasan upaya penemuan beras ini, adalah untuk mengatasi permasalahan defisiensi vitamin A yang banyak terjadi di negara-negara berkembang terutama di Asia.
Dengan teknologi ini para ahli berupaya meningkatkan kualitas atau melakukan pemuliaan tanaman. Misalnya tanaman padi yang umumnya rentan terhadap hama wereng dapat direkayasa sehingga lebih tahan terhadap serangan wereng. Beberapa produk transgenik yang telah dipasarkan antara lain tomat, labu dan kentang yang mengandung kadar vitamin A, C dan E yang tinggi, jagung dan kedelai yang mengandung lebih banyak asam amino essensial, kentang dengan kadar pati lebih tinggi serta mempunyai kemampuan menyerap lemak yang lebih rendah, daun bawang dengan kandungan allicin (bahan yang berkhasiat menurunkan kolesterol) yang lebih banyak, kedelai dengan kandungan lemak jenuh yang rendah dan lemak tak jenuh yang tinggi, padi dengan kandungan vitamin A yang lebih tinggi (Golden Rice), dan padi yang mengandung zat besi (Ferritin Rice).
Selain mulai dikembangkannya benih padi dengan kandungan Fe dan vit.A tinggi, sekarang juga sudah mulai dikembangkan padi dengan indeks glikemiks rendah yang cocok bagi penderita diabetes. Indeks glikemik (IG) adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap gula darah. Pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan cepat memiliki IG tinggi. Sebaliknya, pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan lambat memiliki IG rendah .
Secara umum IG beras ditentukan oleh varietas atau jenis padi dan gabahnya, yang ada hubungannya dengan sifat fisiko kimia, namun bisa juga dipengaruhi oleh proses pengolahan, di antaranya pada proses parboiling, misalnya pada beras Taj Mahal dan Batang Piaman. Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telah mengakibatkan peningkatan beberapa penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus (DM) dan hipertensi. Penderita diabetes mellitus memerlukan makanan yang tidak menaikkan kadar gula darah secara drastis.
Nilai IG beras didefinisikan sebagai nisbah antara luas area kurva glukosa darah dari beras yang diuji yang mengandung karbohidrat total setara 50 g gula terhadap luas glukosa darah setelah makan 50 g glukosa pada hari yang berbeda dan pada orang yang sama. Glukosa sebagai standar mempunyai nilai IG 100. Nilai IG beras dikelompokkan menjadi IG rendah (70).
Dari 8 jenis beras yang diamati, terdapat tiga contoh beras yang berindeks glikemik rendah, yaitu IR36, Beras X, dan Beras X parboiled. Dua contoh beras berindeks glikemik sedang, yaitu Taj Mahal dan Batang Piaman parboiled (proses perebusan pada suhu 60 derajat Celsius selama 8 jam dan pengukusan / steam pada suhu 100 derajat Celsius selama 30 menit dalam bentuk gabah). Batang Piaman dan Mekongga memiliki indeks glikemik tinggi. Beras dengan Indeks glikemik rendah (IR36) dan sedang (Taj Mahal) dapat mengendalikan kadar kenaikan gula darah.
Tidak hanya jenis padi tersebut, Padi rawa pasang surut cocok bagi penderita diabetes melitus karena kandungan glikemiknya rendah dan jenis padi ini mengandung amilosa sehingga cocok bagi penderita Diabetes Mellitus. Padi rawa pasang surut yang sudah dilepas Departemen Pertanian, ada 14 jenis diantaranya Inpara 1 hingga 3, Mendawak, Lambur, Air Tenggulung, Siak Raya, Margasari, Martapura, Punggur, Indragiri, Dendang, Batanghari dan Banyuasin. Berdasarkan penelitian, ternyata tidak semua beras tinggi glikemik (hiperglikemik) malah beberapa jenis sangat rendah sehingga cocok bagi para penderita sakit gula. Salah satu varietas yang glikemiknya cukup rendah yakni padi varietas Inpara 4. Padi tersebut meskipun secara resmi sudah diluncurkan, tetapi belum dikembangkan secara luas oleh masyarakat.
Dengan adanya identifikasi dan upaya pengembangan varietas padi unggul yang kaya akan kandungan Fe, vit.A serta kadar glikemiks rendah, diharapkan akan menjawab tantangan jaman, di mana tingkat penyakit serta infeksi (seperti anemia, defisiensi vit.A, dan penyakit DM) di beberapa negara, khususnya negara – negara berkembang dapat diminimalkan. Sehingga masyarakatnya sendiri dapat menjaga kesehatannya dan menjadi pangan fungsional yang nantinya akan tetap lestari keberadaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2008. Beras Bervitamin A, Tanaman Transgenik Baru yang Melirik Asia. http://www.kamusilmiah.com/pangan/beras-bervitamin-a-tanaman-transgenik-baru-yang-melirik-asia/. Diakses tanggal 18 Oktober 2009 pukul 20.08 WIB.

Dewi Indrasari. 2009. Padi Rawa Pasang Surut Cocok Bagi Penderita Diabetes. http://www.bulog.co.id/1ndex.php?url=2009/08/9546317/1171/9/berita_9.xml. Diakses tanggal 3 Oktober 2009 pukul 16.28 WIB.

Hutapea, Dr. Jaegopal, Ali Zum Mashar, SP.  2007. Ketahanan Pangan dan Teknologi Produktivitas Menuju Kemandirian Pertanian Indonesia. http://bto.depnakertrans.go.id/download/Jurnal/01KETAHANAN-PANGAN-DAN-TEKNOLOGI-PRODUKTIVITAS.doc. Diakses tanggal 30 September 2009 pukul 13.15 WIB.

Nugraha, Sigit. 2008. Beras dan Indeks Glikemiknya. http://www.pustaka-deptan.go.id. Diakses tanggal 3 Oktober 2009 pukul 16.57 WIB.

Republika Newsroom. 2008. RI Siap Kembangkan Padi Golden Rice IRRI pada 2014.
http://www.republika.co.id/berita/4843/RI_Siap_Kembangkan_Padi_Golden_Rice_IRRI_pada_2014 . Diakses tanggal 18 Oktober 2009 pukul 20.05 WIB.

S u s a n t o, Untung. 2003. Perkembangan Varietas Unggul Padi Menjawab Tantangan Jaman. http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/st260203-1.pdf. Diakses tanggal 3 Oktober 2009 pukul 15.34 WIB.

nuril maulidah
Posted on 20th October, 2009

Nuril Maulidah
IKM A 2007
100710006 / 6

BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN PADI ORGANIK
METODE SRI (System of Rice Intensification)
Budidaya padi organik metode SRI mengutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya. Pertanian organik pada prinsipnya menitik beratkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara
mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, mampu memberikan hasil yang
lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional. Kata kunci ( Key Words) : SRI, Pertanian Organik

1. 1novasi metode SRI
SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 -84 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam bahasa Prancis dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI.
SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan presentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRIdilaksanakan di luar Madagaskar.
Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen. Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.

2. Keunggulan metode SRI
1. Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
4. Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
5.Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan Mikro-oragisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida.

3. Teknik Budidaya Padi Organik metode SRI
3.1. Persiapan benih
Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung. Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik (1:1) di dalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm (pipiti). Selama 7 hari. Setelah umur 7-10 hari benih padi sudah siap ditanam.
3.2. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah Untuk Tanam padi metode SRI tidak berbeda dengan cara pengolahan tanah untuk tanam padi cara konvesional yaitu dilakukan untuk mendapatkan struktur tanah yang lebih baik bagi tanaman, terhidar dari gulma. Pengolahan dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan menggunakan traktor tangan, sampai terbentuk struktur lumpur. Permukaan tanah diratakan untuk mempermudah mengontrol dan mengendalikan air.

3.3. Perlakuan pemupukan
Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim taman. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bias berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.
3.4. Pemeliharaan
Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan dilakukan hanya untuk mempermudah pemeliharan. Pada prakteknya pengelolaan air pada sistem padi organik dapat dilakukan sebagai berikut; pada umur 1-10 HST tanaman padi digenangi dengan ketinggian air ratarata 1cm, kemudian pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi. Untuk perlakuan yang masih membutuhkan penyiangan berikutnya, maka dua hari menjelang penyiangan tanaman digenang. Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu tanaman tidak digenangi kembali
sampai panen. Untuk mencegah hama dan penyakit pada SRI tidak digunakan bahan kimia, tetapi dilakukan pencengahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik

4. Perbedaan Hasil Cara SRI dengan Konvensional
Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro-organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan behasiat sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang keluarkan menjadi lebih efisien dan murah.
Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian pupuk anorganik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk dapat meningkatkan produsi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba.
Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus menerus kondisi tanah semakin kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal.
Beras organik yang dihasilkan dari sistem tanam di musim pertama memiliki harga yang sama dengan beras dari sistem tanam konvesional, harga ini didasarkan atas dugaan bahwa beras tersebut belum tergolong organik, karena pada lahan tersebut masih ada pupuk kimia yang tersisa dari musim tanam sebelumnya. Dan untuk musim berikutnya dengan menggunakan metode SRI secara berturut-turut, maka sampai musim ke 3 akan diperoleh beras organik dan akan memiki harga yang lebih tinggi dari beras padi dari sistem konvensional.

7. Manfaat Sistem SRI
Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut :
1. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
2. Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
3. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri.
4. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka
5. Membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan
pendapatan keluarga petani
6. Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu
kimia
7. Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang

Kuswara dan Alik Sutaryat, 2003. Dasar Gagasan dan Praktek Tanam Padi Metode SRI (System of Rice Intencification). Kelompok Studi Petani (KSP). Ciamis
Mutakin, J. 2005. Kehilangan Hasil Padi Sawah Akibat Kompetisi Gulma pada Kondisi SRI (Systen of Rice Intencification). Tesis. Pascasarjana. Unpad Bandung
Sampurna Untuk Indonesia, 2008. SRI Sytem Rice intensification, Pasuruan

vania rizka a
Posted on 20th October, 2009

Mengatasi Masalah Kurang Gizi Dengan Menggunakan Produk Olahan Ikan

Pentingnya kebiasaan hidup sehat dan pola makan gizi seimbang sehari-hari belum merupakan kebutuhan yang dirasakan sebagaian besar masyarakat. Karena itu upaya perbaikan gizi tidak cukup dengan penyediaan sarana tetapi juga perlu upaya perubahan sikap dan perilaku. Masalah gizi, terutama masalah gizi kurang disebabkan banyak faktor yang saling terkait. Masalah gizi kurang yang dapat menjadi gizi buruk, misalnya bukan hanya karena anak kekurangan makanan, tetapi juga karena penyakit. Sedangkan pada masalah gizi lebih, masalah yang mendominasi adalah pola hidup yang salah.

Pada masalah gizi kurang lebih banyak terjadi pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah atau biasa disebut dengan keluarga miskin, karena untuk membeli barang keperluan sehari-hari mereka mengalami kesulitan, sehinga untuk memenuhi kebutuhan pangan, mereka hanya makan makanan seadanya tanpa melihat kandungan gizi yang ada di dalamnya.

Masyarakat yang menderita masalah gizi akan mengalami penurunan fungsi organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tubuh terhadap penyakit terutama penyakit infeksi seperti diare dan ISPA, serta menurunnya produktivitas dan aktivitas kerja. Akibatnya masyarakat yang berasal dari keluarga miskin akan menghadapi masalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas rendah. Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan tantangan berat dalam menghadapi persainan bebas di era globalisasi.

Hingga saat ini masalah gizi utama di Indonesia ada empat, yaitu kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, kekurangan yodium dan kurang vitamin A. KEP merupakan masalah gizi yang paling banyak terjadi, terbukti dengan ditemukannya anak balita (usia 1-5 tahun) penderita KEP berat (marasmus dan kwashiorkor). Dengan adanya berbagai macam penyakit ini balita akan mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan mentalnya, karena di usia 1-5 tahun merupakan usia untuk tumbuh dan berkembang

Pada bayi dan anak balita, kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan organ dan jaringan dalam tubuhnya dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Karena pada masa bayi dan balita merupakan masa untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi dan balita, dengan demikian, akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Selain berasal dari masalah ekonomi, masalah kurang gizi juga dapat disebabkan oleh masalah kerawanan pangan. Kerawanan pangan dapat disebabkan oleh pasca panen, gagal panen, bencana alam, serta distribusi pangan yang kurang merata terutama pada daerah terpencil. Dan yang menjadi masalah utama pada kerawanan pangan ini adalah pada bagian distribusi pangannya.

Masalah gizi tidak dapat ditangani dengan kebijakan dan program sepotong-sepotong dan jangka pendek serta sektoral, apalagi hanya ditinjau dari aspek pangan. Tetapi juga dari aspek lainnya yaitu aspek pengetahuan atau pendidikan, keamanan, lingkungan hidup dan pelayanan kesehatan. Dari pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasai masalah gizi secara tuntas dan lestari seperti Thailand, Tiongkok dan Malaysia diperlukan peta jalan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. Masing-masing diarahkan memenuhi persediaan pelayanan dan menumbuhkan kebutuhan atau permintaan akan pelayanan.

Beberapa langkah preventif dalam menanggulangi masalah gizi dapat dilakukan pemerintah. Salah satunya, menjamin ketersediaan pangan asal darat dan laut di seluruh negeri. Ketersediaan pangan masih menjadi masalah besar negeri ini. Tahun 1998, Indonesia telah menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia dengan mengimpor 5,8 juta ton beras (48 persen) produksi beras dunia. Karena itu program diversifikasi pangan perlu dioptimalkan kembali, untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Pemerintah juga dapat mencari alternatif lain untuk pengganti beras yang mempunyai kandungan sama dengan beras agar masyarakat tidak kebingungan mencari bahan pokok.

Gerakan makan ikan mendesak dibudayakan lagi, terutama untuk memenuhi kecukupan gizi anak balita, Ikan, dengan kandungan protein berkisar antara 20-35 persen, berpotensi tinggi menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial serta mutu daya cernanya yang setara dengan telur. Selain itu Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan alut yang dapat dimanfaatkan , tetapi hingga saat ini pemanfaatan sumber daya laut jauh dari optimal.

Kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap dan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh omega 3 (DHA, docosahexaenoic acid, C20 H30O2) yang kurang dimiliki oleh produk daratan (hewani dan nabati), merupakan keunggulan produk kelautan. Budaya makan ikan yang tinggi dalam masyarakat Jepang telah membuktikan terjadinya peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak-anak negara itu.

Tingkat konsumsi ikan per kapita di Indonesia tahun 1997 adalah 18kg/kapita/tahun dan diharapkan menjadi 21,8 kg/kapita/tahun pada tahun 2003. Rendahnya tingkat konsumsi ikan per kapita per tahun ini menunjukkan masih rendahnya budaya makan ikan dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang (110 kg), Korea Selatan (85 kg), Amerika Serikat (80 kg), Singapura (80 kg), Hongkong (85 kg), Malaysia (45 kg), Thailand (35 kg), Philipina (24 kg). Penyebabnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi ikan, ketrampilan mengolah hasil perikanan, selain terbatasnya teknologi penangkapan ikan nelayan. Selain dukungan pemerintah terhadap kehidupan nelayan yang kurang, sehingga kebanyakan nelayan hidup kurang layak.

Untuk menimgkatkan minat terhadap konsumsi ikan terhadap balita, ikan tersebut dapa diolah sedemikian rupa agar balita itu tertarik dan mau memakannya. Dan untuk pendistribusian ikan, maka pemerintah harus melakukan suatu kebijakan agar ikan dapat tersebar merata dan dapat dikonsumsi oleh sebagian besar warganya.

Jika pengetahuan tentang gizi ikan dan sumber daya laut dapat dioptimalkan, maka masalah gizi kurang pada balita akan dapat dikurangi. Setidaknya kandungan gizi yang terdapat dalam ikan akan membantu memenuhi kebutuhan gizi pada balita. Dan pertumbuhan balita tidak akan terganggu dan dapat berjalan secara optimal. Dan Indonesiapun mempunyai sumber daya manusia yang produktivitasnya tinggi.

.
.

Daftar pustaka:
http://bebas.vlsm.org/v12/artikel/pangan/DEPKES/pedum_gizi-seimbang.pdf.
http://kikisrirezeki.multiply.com/journal/item/87/Upaya_mengatasi_masalah_kelaparan_dan_kurang_gizi
http://anekalaut.blogspot.com/2009/03/ikan-untuk-perbaikan-kualitas-anak.html

Topik :
Pengembangan produk olahan ikan dan hasil laut untuk perbaikan gizi

Nama : Vania Rizka A (100710176 / 22)
IKM 07B

Argita Dyah Salindri
Posted on 20th October, 2009

ARGITA DYAH SALINDRI (100710220)
IKM B 2007

PENGEMBANGAN VARIETAS PADI UNGGUL HIBRIDA (VUH)

Padi merupakan bahan makanan pokok utama bagi masyarakat Indonesia. Namun, dengan melihat kondisi negara Indonesia yang semakin lama semakin berkembang dan disertai dengan pembangunan di berbagai sektor baik secara fisik, mental, dll. Permasalahan yang dapat timbul sebagai dampak dari pembangunan segala bidang terutama pembangunan fisik ini adalah semakin terbatasnya luas lahan pertanian. Dapat kita bayangkan bahwa setiap menit bahkan detiknya, masyarakat Indonesia selalu bertambah namun, setiap itu pula lahan pertanian semakin sempit. Hal ini tentunya menjadikan suply makanan untuk seluruh penduduk ikut terpotong kuantitasnya karena lahan untuk penanamannya menjadi sangat terbatas.
Untuk mengatasi hal ini, berbagai upaya pengembangan teknologi dalam sektor pertanian selalu dilakukan. Salah satunya adalah pengadaan benih varietas padi unggul hibrida. Di Indonesia, penelitian padi hibrida telah dilakukan sejak tahun 1983 yang diawali dengan pengujian keragaan Galur Mandul Jantan (GMJ) dan hibrida hasil introduksi. Kemudian sejak tahun 1998, penelitian pemuliaan padi hibrida di Indonesia lebih diintensifkan, dengan menguji bahan pemuliaan introduksi yang disertai pula dengan perakitan berbagai kombinasi hibrida.
Padi hibrida dengan keunggulan heterosisnya dapat diharapkan meningkatkan potensi hasil padi. Pengembangan ini menjadi salah satu upaya pemerintah mendorong penggunaan benih unggul bermutu di tingkat petani. Perkembangan terakhir kini penggunaan benih padi unggul (hibrida dan non hibrida) sudah mencapai 56% dari total luas areal tanam padi 7 juta ha. Setiap tahun kebutuhan benih padi sebanyak 320.000 ton. Namun, penggunaan benih padi hibrida di Indonesia relatif masih rendah dibandingkan dengan luas areal tanam yang ada. Banyak penyebabnya, salah satunya adalah petani banyak yang belum terbiasa dengan teknologi budidaya padi hibrida. Padahal, penggunaan padi hibrida dapat mendukung peningkatan produktivitas.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi(BB Padi) dalam rentang waktu hampir 9 tahun melakukan penelitian padi hibrida, telah menghasilkan 6 varietas unggul hibrida (VUH) yaitu Maro, Rokan, Hipa3, Hipa4, Hipa5 Ceva dan Hipa6 Jete. Varietas-varietas padi hibrida tersebut mempunyai tingkat produktivitas 15-20% lebih tinggi dibandingkan dengan varietas IR64. Padi hibrida memiliki keunggulan hasil yang lebih tinggi dari pada hasil padi unggul inbrida, lebih kompetitif terhadap gulma, memiliki aktivitas perakaran yang lebih luas dan lebih kuat, jumlah anakan lebih banyak, jumlah gabah per malai lebih banyak dan bobot 1000 butir gabah isi lebih tinggi.
Pada daerah pengembangan yang sesuai varieta shibrida yang telah dilepas selama ini mampu memberikan hasil 1,0 -1,5 t/ha atau sekitar 15 - 20 % lebih tinggi dibandingkan dengan varietas IR64. Padi hibrida yang telah dilepas di Indonesia belum ada yang tahan terhadap wereng coklat(WBC), penyakit tungro maupun penyakit hawar daun bakteri (HDB) sehingga membatasi daerah pengembangannya. Perbaikan sifat VUH khususnya ketahanan terhadap hama dan penyakit utama telah dilakukan untuk H34 dan H36. Kedua kombinasi hibrida tersebut diberi nama berturut-turut Hipa5 Ceva dan Hipa6 Jete. Hipa5 Ceva memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap wereng coklat dan penyakit tungro dibandingkan dengan hibrida lainnya yang telah dilepas. Pada lokasi-lokasi yang sesuai Hipa5 Ceva dan Hipa6 Jete mampu memberikan hasil lebih tinggi dari IR64 dengan peningkatan hasil berturut-turut sebesar 24,3% dan 26,3%. Dengan demikian dapat mendukung upaya peningkatan produksi beras nasional. Target pengembangan padi hibrida sebaiknya dipilih area yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)area dengan produksi padi yang tinggi,
2) area dengan irigasi terjamin dan drainasi yang baik,
3) sawah subur dengan tekstur ringan-sedang,
4) bukan merupakan daerah endemis WBC, HDB, dan tungro,
5) area dengan jadwal tanam serempak,
6) mudah mendapatkan input produksi (pupuk, pestisida, dll),
7)petani responsif.

Diperkirakan penggunaan benih padi nasional saat ini baru 4.000 ton dari total kebutuhan benih padi sebanyak 300 ribu ton. Diperkirakan, jika setiap hektare sawah memerlukan benih padi 15 kg, maka luas areal pertanaman padi hibrida sekitar 270.000ha. Padahal luas areal pertanaman padi di Indonesia mencapai 12 juta ha. Jadi penggunaan benih padi hibrida di Indonesia masih sangat kecil. Karena itu peluang pengembangan benih ini masih cukup besar. Apalagi ada upaya pemerintah terus meningkatkan produksi padi nasional. Pada tahun ini target peningkatan produksi padi seba-nyak 53,2 juta ton gabah kering giling (GKG) atau sekitar 40 juta ton beras.

Diakui, meski produktivitas padi hibirida secara umum lebih tinggi 20% dibandingkan non hibrida, tapi tidak mudah mengubah kebiasaan petani beralih dari menanam padi varietas unggul nonhibrida ke hibrida. Ada beberapa sebab diantaranya, sangat terkait dengan kebiasaan petani dalam menanam padi. Kemungkinan lain adalah karena harga benih padi hibrida lebih mahal, yakni mencapai Rp40.000/kg, sedangkan benih non hibrida hanya sekitar Rp4.000-5.000/kg.

Tapi jika menghitung keuntungan yang akan diperoleh petani, maka penggunaan benih padi hibrida lebih tinggi. Ini didapat dari adanya peningkatanan produktivitas. Jika produktivitas padi non hibrida hanya 5 ton/ha, maka padi hibrida bisa mencapai 8-10 ton/ha. Dengan biaya usaha tani lain hampir sama, harga benih padi hibrida yang lebih mahal akan bisa tertutupi.

Saat ini ada sekitar 10 produsen benih padi hibrida di Indonesia, baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta. Diantaranya, PT DuPoont Indonesia, PT Bayer CropScience, PT Bangun Pusaka, PT Kondo, PT Sumber Alam Sutera (SAS), PT BISI Indonesia, PT Karya Niaga Beras Mandiri dan PT Sang Hyang Seri (SHS).

PT DuPont Indonesia dengan Balai Besar Penelitian dan Pengebangan Tanaman Padi (BB Padi) kini menjalin kerjasama dalam pengembangan benih padi hibrida. Selama ini PT DuPont maupun BB Padi sudah melakukan penelitian benih padi hibrida. Tapi masih berjalan sendiri-sendiri. Maksimal kerjasama yang dilakukan perusahaan benih asal AS itu mendapatkan hak lisensi dari hasil penelitian BB Padi. Satu varietas hasil penelitian BB Padi yang kini dikembangkan DuPont adalah varietas Maro.

Dalam kerjasama ini di satu sisi BB Padi mempunyai banyak varietas padi hibrida unggul tapi belum dikembangkan secara komersial. Kenyataannya sampai kini, BB Padi masih memiliki cadangan 60 galur hibrida pada tahap uji daya hasil lanjutan (UDHL) dan lebih dari 300 galur potential pada tahap uji daya hasil pendahuluan (UDHP). Badan litbang pertanian, khususnya BB Padi optimis bahwa padi hibrida akan berkembang dengan pesat dan akan mampuh memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan produksi beras nasional. Sementara itu PT DuPont memiliki fasilitas produksi dan tenaga pemasaran. Kali ini perusahaan tersebut tidak hanya menunggu hasil penelitian BB Padi, tapi ikut dalam penelitian dan memberikan bantuan anggaran untuk uji multi lokasi 14 galur.

Jadi bisa dikatakan kini kerjasama keduanya melangkah lebih jauh. Pada Senin, 16 Maret lalu saja DuPont rela menggelontorkan anggaran sekitar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,2 miliar untuk membantu uji multi lokasi padi hibrida hasil penelitian BB Padi. Ada tiga kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Pertama, uji multilokasi terhadap 14 galur padi hibrida. Kedua, evaluasi terhadap delapan galur padi yang masih tahap penelitian. Ketiga, evaluasi beberapa tetua padi hibrida. Diharapkan, dengan kerjasama ini dapat menghasilkan varietas unggul yang sesuai dengan spesifik lokasi dan mempunyai produktivitas tinggi. Sinergi penelitian ini akan saling menguntungkan, karena kedua pihak bisa memberikan pengalaman dalam penelitian dan memperluas penyerapan teknologi padi hibrida ke petani.

Ternyata hasil yang didapatkan mengungkapkan bahwa, sesuai dengan arahan Menteri Pertanian pengembangan padi hibdrida harus dalam posisi satu banding satu. Maksudnya, agar terjadi keseimbangan jumlah varietas hibrida yang menjadi milik publik dan yang dilisensi swasta.

Diakui, untuk mengembangkan benih padi hibrida memang tidak mudah. Perlu keahlian khusus dan tidak bisa disamakan dengan varietas padi yang non hibrida. Bagaimana tentang paket tekonologinya, kapan waktunya mengawinkan padinya dan proses penyerbukannya. Jadi bagi orang biasa tau awam pasti akan menyulitkan. Namun, bila hasilnya memang memuaskan, kenapa kita tidak berani mencoba?
DAFTAR PUSTAKA

http://www.beritadaerah.com/artikel.php?pg=artikel_sumatra&id=6558&sub=Artikel&page=8

http://agroindonesia.co.id/2009/03/24/berkoalisi-teliti-padi-hibrida/

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains/Vol%207-1/Upaya%20Peningkatan%20Produktivitas%20Padi%20Sawah%20Melalui%20Pendekatan%20Pengelolaan%20Tanaman%20dan%20Sumberdaya%20Terpadu.pdf

Sekar Arum N. D.
Posted on 20th October, 2009

Nama : Sekar Arum N. D.
NIM : 100710023
Absen : 18
IKM A 2007
Pengembangan varietas padi unggul hibrida (VUH)
Benih adalah blueprint dari agribisnis. Kemajuan agribisnis sangat ditentukan oleh kualitas benih. Pada masa pemerintahan yang lalu, Departemen Pertanian banyak mengembangkan benih didalam negeri melalui penelitian-penelitian dan kemudian dirilis sebagai varietas unggul. Satu kelompok benih yang kita rilis saat itu adalah kelompok benih hibrida. Dari 2001-2004 telah dirilis 17 varietas padi hibrida yang berasal dari China, india, Filipina, dan Jepang.
Padi hibrida itu memberikan tingkat produksi rata-rata yang relatif lebih baik daripada padi unggul nasional. Tapi padi hibrida hanya lebih baik apabila ditanam pada tempat yang cocok dan dengan praktik agronomis yang ideal. Apabila ditanam di tempat yang tidak cocok dan praktik agronomis yang tidak sempurna, hasilnya tidak lebih baik daripada padi unggul nasional.
Di Indonesia, varietas unggul padi hibrida mulai di lepas pada tahun 2001, yaitu Intani 1 dan intani 2. Pada tahun 2002, dilapas varietas Maro dan Rokan hasil penelitian Badan Lotbang Departemen Pertanian. Selanjutnya berkembanglah berbagai hibrida dari berbagai pihak dengan keistimewaan yang ditawarkan. Padi hibrida adalah hasil perkawinan dua tetua yang berbeda genotipnya. Melalui perkawinan itulah terkumpul gen-gen keberadaannya secara bersamaan memberikan efek heterosis, yaitu fenomena di mana tanaman yang tumbuh dari benih hasil persilangan dua genotype yang bebeda (disebut generasi F1) memiliki sifat lebih baik dari tetuanya. Oleh karena itu, jika padi tersebut tumbuh dab secara alami melakukan kawin sendiri, akan terjadi segregasi gen-gen di dalamnya, sehingga keturunan yang dihasilkan tidak akan seragam.

Suatu hal yang menarik dari pengembangan padi hibrida di Indonesia adalah inisiatifnya datang dari swasta yang berkeinginan untuk mengembangkan benih padi di dalam negeri. Perusahaan swasta waktu itu seperti PT Benih Inti Subur Intani, Mitsui Chemical, Inc., PT Bangun Pusaka, PT Bayer Indonesia, dan PT Karya Niaga Beras Mandiri. Selama ini hanya pemerintah yang mempunyai inisiatif dan pemerintah melalui Balai Besar Penelitian Padi juga sudah menghasilkan 4 varietas padi hibrida.
Perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Namun masih ada sebagian masyarakat yang bersikap hati-hati dalam menggunakan padi ini. Dan hal ini tidak selamanya salah karena pada kenyataannya ada beberapa kendala pada pengembangan padi  hibrida.
Kedala itu  antara lain adalah keterbatasan benih, kerentanan terhadap hama dan penyakit utama, dan ekpresi heterosis yang tidak stabil. Varietas padi hibrida yang telah dilepas pada umumnya (tentu saja tidak semuanya-red) rentan terhadap hama-penyakit utama seperti wereng coklat,  HDB, dan virus tungro.
Secara teknis ada lima kunci utama agar pengembangan padi hibrida berhasil. Kelima kunci tersebut adalah 
1) varietas yang cocok;
2) benih yang bermutu;
3) teknologi budidaya yang tepat;
4) wilayah yang sesuai, dan
5) respon petani.
Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut.
Kebijakan mengenai padi hibrida pada waktu itu adalah pemerintah mendukung swasta untuk pengembangan padi hibrida di dalam negeri. Dan mereka diberi izin sementara untuk mengimpor benih padi hibrida. Tujuan impor tersebut untuk percobaan dan bahan dasar pengembangan benih di dalam negeri. Alasannya, kita berpendapat bahwa benih khususnya padi, karena penggunaan sangat luas, sebaiknya dihasilkan di dalam negeri.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan padi hibrida yang lebih tahan terhadap wereng coklat dan penyakit tungro. Varietas unggul
hibrida (VUH) itu diberi nama Hipa5 Ceva dan Hipa6 Jate
Padi hibrida dengan keunggulan heterosisnya dapat diharapkan meningkatkan potensi hasil padi. Pada daerah pengembangan yang sesuai varietas hibrida yang telah dilepas selama ini mampu memberikan hasil 1,0 -1,5 t/ha atau sekitar 15 - 20 % lebih tinggi dibandingkan dengan varietas IR64.
Padi hibrida yang telah dilepas di Indonesia belum ada yang tahan terhadap wereng coklat (WBC), penyakit tungro maupun penyakit hawar daun bakteri (HDB) sehingga membatasi daerah pengembangannya. Perbaikan sifat VUH khususnya ketahanan terhadap hama dan penyakit utama telah dilakukan untuk H34 dan H36.
Kedua kombinasi hibrida tersebut diberi namaberturut-turut Hipa5 Ceva dan Hipa6 Jete. Hipa5Ceva memiliki ketahanan yang lebih baik terhadapwereng coklat dan penyakit tungro dibandingkan dengan hibrida lainnya yang telah dilepas.
Pada lokasi-lokasi yang sesuai Hipa5 Ceva danHipa6 Jete mampu memberikan hasil lebih tinggi dari IR64 dengan peningkatan hasil berturut-turut sebesar 24,3% dan 26,3%. Dengan demikian dapat mendukung upaya peningkatan produksi beras nasional.
Target pengembangan padi hibrida sebaiknya dipilih area yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)area dengan produksi padi yang tinggi
2) area denganirigasi terjamin dan drainasi yang baik
3) sawah subur dengan tekstur ringan-sedang
4) bukanmerupakan daerah endemis WBC, HDB, dan tungro
5) area dengan jadwal tanam serempak
6) mudahmendapatkan input produksi (pupuk, pestisida, dll)
7) petani responsif.
Kendati pun padi hibrida itu terlihat lebih unggul daripada padi unggul nasional tetapi kita tidak bisa mengabaikan begitu saja padi unggul nasional. Karena dia sudah lebih teruji daya adaptasinya, lebih toleran terhadap hama penyakit, dan produktivitasnya cukup baik.
Beberapa contoh padi unggul nasional adalah Ciherang, Sintanur, dan Fatmawati. Dan penggunaan varietas padi yang beragam dapat mengantisipasi risiko gagal panen apabila ditanam satu varietas saja.
Indonesia sekalipun hanya menggunakan benih padi unggul nasional saja sudah termasuk salah satu negeri dengan produktivitas padi per hektarnya paling tinggi di dunia. Kita hanya sedikit di bawah China, Jepang, dan Korea. Produktivitas padi Indonesia lebih tinggi dibandingkan India, Thailand, Filipina, dan negara-negara penghasil beras lainnya

Sumber :
http://www.agrina.com
http://www.r1organik.com
http://www.litbang.deptan.go.id

Dwi Yulianto Prihandoko ( IKM A 2007)
Posted on 20th October, 2009

Nama : Dwi Yulianto Prihandoko
NIM : 100710090
No. Absen : 54
IKM A 2007
SRI adalah sistem budidaya padi dengan pendekatan manajemen perakaran, yang berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air dengan mengutamakan berjalannya aliran energi dan siklus nutirisi untuk memperkuat suatu kesatuan agroekosistem.
Metode ini menggunakan bibit dan input yang lebih sedikit dibandingkan metode tradisional (misalnya air) atau metode yang lebih modern (pemakaian pupuk dan asupan kimiawi lain). SRI dikembangkan pertama kali di Madagascar lebih dari 20 tahun yang lalu oleh Fr. Henri de Laulanié, S.J., sehingga metoda ini dikenal juga dengan nama Metoda Madagascar. Pada tahun 1994 Tefy Saina (lembaga swadaya masyarakat) dan CIIFAD (Cornel International Institute for Food and Agriculture Development) mulai bekerjasama dalam pengembangan SRI. Dengan bantuan CIIFAD khususnya dari Prof. Norman Uphoff, SRI menyebar ke negara lain. Di Indonesia, metode SRI mulai dikembangkan pada 1999, melalui pengujian dan evaluasi SRI di Balai Penelitian Padi Sukamandi, Jawa Barat.
Budi daya model SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan. Sehubungan dengan hal itu maka model pertanian SRI ini dapat dijadikan salah satu pilihan model untuk dibangun dan dikembangkan, karena penggunaan air yang hemat merupakan salah satu langkah dalam mengantisipasi krisis air.

Sejalan dengan berkembangnya penerapan SRI di lapangan dan minatnya para petani, terutama dalam pelaksanaan penggunaan pupuk organik maka muncul beberapa masalah diantaranya :
Ketersediaan bahan organik baik dari biomasa atau yang bersumber dari limbah ternak masih sangat tebatas.
Pembuatan kompos di sebagian besar masyarakat masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama.
Adanya kebiasaan membuang dan membakar sumber bahan organik, seperti jerami oleh para petani.
Petugas dan petani yang memahami dan terampil dalam penguasaan teknis Ekologi Tanah dan SRI jumlahnya masih sangat terbatas.
Untuk itu harus ada upaya terencana untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan pupuk dan pestisida organik yang relatif cepat, mudah dan murah. Serta upaya pendampingan, pemberdayaan petani dan pelatihan kader-kader penyuluh dan petani andalan.

PRINSIP UTAMA SRI :
 Beberapa filosofi dasar dari SRI adalah sebagai berikut:
1.Padi bukan tanaman air, tetapi tanaman yang membutuhkan air untuk pertumbuhannnya (rice is not an aquatic plant)
2.Potensi pertumbuhan bibit padi akan berkurang jika dipindahkan dari persemaian setelah umur 15 hari (rice seedling lose much of their growt potential if they are transplanted more than about 15 days after they emerge in their nursery)
3.Pada saat penanaman (tandur) diminimalkan trauma pada tanaman khususnya pada bagian akar (during transplanting, trauma to seedlings and especially their roots should be minimized)
4.Menggunakan jarak tanam yang lebih besar untuk pertumbuhan akar (wide spacing of plants will lead to greater root growth and accompanying tillering).
5.Aerasi yang baik dan penggunaan bahan-bahan organic akan mendukung pertumbuhan akar tanaman dengan baik (soil aeration and organic matter create beneficial condition for plant root growth)
 PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA SRI :
1.Penanaman bibit muda yaitu umur 8-12 hari setelah berkecambah saat tanaman baru berdaun dua helai dan tidak boleh melebihi dari 15 hari setelah berkecambah.
2.Menggunakan jarak tanam lebar, yaitu minimal 25cm x 25 cm, dan menanam tunggal (1 bibit per lubang).
3.Untuk menghindari trauma pada bibit saat penanaman, maka bibit ditanam segera secara hati-hati maksimal 30 menit setelah bibit di ambil dari persemaian.
4.Penanaman bibit padi secara dangkal (1-2 cm) dengan  arah akar horisontal.
5.Dilakukan pengaturan air, yaitu: tanah dijaga terairi dengan baik (lembab), tetapi tidak terus menerus direndam.
6.Meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis.
7.Penggunaan pupuk dan pestisida organik untuk menjaga keseimbangan biologi tanah.
Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar pada tahun 1980. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia gagasan SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sulawesi serta Papua. Penerapan sistem SRI ini berdasarkan enam langkah penting, yaitu :
1.Transpantasi bibit muda
2.Bibit di tanam satu batang
3.Jarak tanam lebar
4.Kondisi tanah lembab (Irigasi berselang)
5.Melakukan pendangiran
6.Hanya menggunakan bahan organik (kompos)
Hasil penerapan gagasan SRI di lokasi (Kabupaten Ciamis dan Garut), menunjukkan bahwa :
1. Budidaya padi model SRI telah mampu meningkatkan hasil dibandingf budidaya padi model konvensional.
2. Meningkatkan pendapatan.
3. Terjadi efisisensi produksi dan usaha tani secara finansial.
4. Pangsa harga produksi jauh lebih tinggi sebagai beras organik.
Sekalipun demikian, konsep SRI masih belum dapat diterimaserta masih menimbulkan polemik. Namun dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida serta rusaknya lingkungan sumberdaya di beberapa tempat, telah mendorong petani untuk menggunakan pendekatan ini. Peluang pengembagan SRI ke depan didukung oleh globalisasi dan konsumen internasional terhadap padi yang ramah lingkungan.

Sumber :
http://www.pertaniansehat.or.id
http://www.indosat.net.id

riyanti
Posted on 20th October, 2009

HAMBATAN PENGEMBANGAN PADI ORGANIK
Oleh :
RIYANTI
100710195/39/kelas B

Kesadaran konsumen akan pentingnya kesehatan mendorong untuk mengkonsumsi produk organic. Hal ini ditunjukkan dengan lebih besarnya permintaan daripada penawaran yang tersedia. Sehingga harga dari pangan yang dihasilkan melalui system pertanian organic rata – rata lebih tinggi daripada produk yang dihasilkan dari pertanian konvensional. Penghargaan konsumen terhadap produk ini antara lain dinilai dari sisi pemeliharaan ekosistem dan kelestarian lingkungan, dengan cara mencermati sifat alam dan bersahabat dengan semua rantai ekosistem, sehingga dapat menghasilkan produk yang bebas dari bahan kimia termasuk pestisida dan pupuk ini sesuai dengan mutu yang diharapkan yaitu aman untuk dikonsumsi.
Pertanian organic merupakan jawaban atas dampak revolusi hijau yang digalakkan pada era tahun 60-an yang telah menyebabkan kesuburan tanah menjadi berkurang dan kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimiawi yang tidak terkendali. Menurut Utami dan Handayani (2003), system pertanian yang berbasis bahan high input energy (bahan fosil) seperti pupuk kimia dan pestisida yang dapat merusak sifat – sifat tanah dan akhirnya menurunkan produktivitas tanah untuk waktu yang akan datang. Disisi lain konsep pertanian organic menitikberatkan pada keterpaduan antara sector pertanian dan peternakan dalam menjamin daur hara yang optimum (Johannsen et al, 20005)
Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik.
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.
Hasil penelitian , baik melalui survei maupun diskusi terfokus dengan para pelaku padi organik di Jawa Barat, hampir di semua kabupaten/kota padi organik telah diujicobakan, bahkan di beberapa kabupaten (seperti Tasikmalaya dan Garut) telah mengarah ke pengembangan. Secara kelembagaan, telah pula dijajaki sertifikasi produk padi organik sebagai prasyarat untuk menembus pasar ekspor. Namun, terungkap pula bahwa di beberapa kabupaten pengembangan padi organik justru mengalami pelambatan dan penurunan. Bahkan, para petani yang telah mencoba dan menerapkan padi organik kembali ke metode konvensional. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.
Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.
Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial.
Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.
Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya).
Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian Faperta Unpad mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik (pada kasus SRI) ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.
Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi (baca: rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang. Intervensi tentu harus didudukkan dalam kerangka dinamika dan keberlanjutan, sehingga menghasilkan feed back berupa kedewasaan berpikir, keberdayaan, dan kemandirian.

Sumber :
 Dodi Priyadi, Tatang Kuswara dan Osep Soetisna. Padi organic versus anorganik. Jurnal ilmu – ilmu pertanian Indonesia, volum 9, nomor 2, 2007, hal 130 – 138
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id..
http://www.tempointeraktif.com/…/brk,20090827-194794,id.html

natalina kasmar
Posted on 20th October, 2009

Kodok sebagai Bahan Pangan
Natalina Kasmar
100710228/ 67
Pangan merupakan kebutuhan pokok bagi semua orang. Kebutuhan pangan manusia, selain diperoleh dari tumbuhan juga dari hewan. Panenan bahan pangan, terjadi secara periodik, berkaitan dengan perputaran bumi mengelilingi matahari. Dilihat dari jumlah manusia yang setiap kurun waktu selalu bertambah tanpa diimbangi oleh persediaan pangan memunculkan kejadian kelaparan yang terjadi dari waktu ke waktu. Panenan pangan tidak selalu dapat mengatasi kelaparan yang terjadi sehingga perlu berbagai cara untuk mengatasinya yaitu dengan mencari sumber bahan makanan yang baru kemudian memperkenalkan kepada masyarakat luas, seperti menjadikan hewan liar menjadi ternak. Dalam hal ini dengan membudidayakan kodok untuk bahan pangan. Kodok sebagai bahan makanan yang masih asing oleh sebagian masyarakat khususnya bangsa Indonesia menjadi hal yang perlu mendapat perhatian, berbeda dengan orang Cina yang telah lama menjadikan kodok sebagai bahan pangan yang dikenal dengan nama swike. Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor terbesar seharusnya memanfaatkan kodok ,selain untuk ekspor juga untuk bahan komsumsi masyarakat Indonesia sendiri. Selain untuk diincar dagingnya sebagai sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya, kodok ternyata mempunyai manfaat yang lain pada kehidupan manusia. Limbah kodok yang tidak dipakai untuk bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak kita seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang sudah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok yang rasanya lumayan gurih. Kepala kodok yang sudah tepisah dari badannya pun sebenarnya masih cukup bermanfaat bagi para ilmuwan. Kelenjar hipofisa yang terdapat dalam kepala kodok bisa dipisah dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Beberapa spesies kodok asli Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan, yaitu:
Rana macrodon yang lazim dikenal sebagai kodok hijau dengan hiasan totol-totol berwarna coklat kehijau-hijauan,
Rana cancrivora yang dikenal sebagai kodok sawah karena sebagian besar hidup di sawah- sawah,
Rana limnocharis yang dikenal sebagai kodok rawa atau kodok totol, memiliki daging yang rasanya paling enak.
Rana musholini, alias kodok raksasa atau kodok batu yang hanya terdapat di Sumatera Barat yaitu Payakumbuh.
Adapun jenis-jenis kodok yang juga bisa dimanfaatkan yang berada di luar Indonesia, yaitu: Rana catesbeiana(kodok banteng amerika), Rana trigina (kodok banteng india), Pyxicephalus adspersus(kodok banteng afrika), Rana crassa, Rana daudin, Rana hexadactyla, Rana clamitans, Rana grylo, Rana pipiens, Rana sphenocehala, Rana palustris, Rana escuelenta, Rana guppy, Rana goliath.

Begitu banyaknya manfaat yang bisa diperoleh dari kodok, memunculkan adanya kekhawatiran akan punahnya spesies tersebut yang disebabkan oleh perburuan liar. Hal ini pun terlihat dari swike yang umunya hanya dijumpai di restoran menengah ke atas. Ironisnya kini swike justru sulit ditemukan pada warung- warung pinggir jalan, tidak seperti seafood yang banyak bertebaran di sembarang tempat.Naiknya posisi swike(dari kaki lima ke restoran tingkat lima belas) barangkali merupakan suatu pertanda swike kini sudah menjadi makanan elit bagi orang-orang berduit. Semakin sulitnya swike ditemukan di warung pinggir jalan juga menandakan bahwa kodok sebagai bahan baku masakan swike semakin hari semaki langka. Semakin langkanya kodok barangkali bisa dimaklumi karena selama ini kodok-kodok yang dibantai hampir seluruhnya dari alam. Alam yang semula bermurah hati menyediakan kodok dalam jumlah yang berlimpah-ruah akhirnya tidak tahan lagi mengikuti perkembangan kebutuhan manusia. Kodok – kodok yang terlahir dari rahim para induknya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan manusia, yang tidak jarang membunuhnya tanpa pandang bulu.

Dengan populasi kodok yang semakin lama semakin menyusut, lantas muncul masalah, seperti: gagalnya panen akibat wereng yang merajalela, berjangkitnya kembali penyakit demam berdarah. Semua itu semata-mata disebabkan karena kodok sebagai musuh alami para setangga tersebut sudah jarang menghuni sawah dan tegalan. Akibatnya jelas kaum serangga penyebab bencana tumbuh dan berkembang biak tak terkendali.Karena fungsinya inilah pemburuan kodok besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan manusia sering bertubrukan kepentingannya dengan upaya menjaga kelestarian lingkugan hidup. Selain menyebabkan tidak seimbangnya siklus alam, menyusutnya populasi kodok di alam juga berakibat lebih serius, menurunnya bahan pangan untuk komsumsi maupun untuk ekspor. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dilakukan beberapa cara:
Membudidayakan kodok-kodok di kolam-kolam . ini perlu segera dilaksanakan mengingat kita tidak selamanya bisa bergantung pada alam, padahal kita tahu bahwa prospek kodok sangat potensial.
Pengembangan budidaya kodok dengan pelarangan penangkapan dan ekspor kodok pada waktu musim kawin kodok.
Menebarkan benih kodok raksasa di alam, mereka akan beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan memungkinkan mereka untuk gampang mencari makan dan melindungi dirinya dari hewan pemangsa dan penyaing dirinya. Namun hal ini perlu dipertimbangkan masak-masak, karena dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan kodok-kodok lokal yang sudah lama terpinggirkan. Namun di sisi lain bisa juga penebaran ini justru akan melindungi kodok lokal dari perburuan manusia. Jika kodok raksasa berkembang biak dengan pesat otomatis orang akan segan memburu kodok lokal yang ukurannya tidak seberapa, dan lebih baik membawa pulang kodok raksasa yang lebih bisa diharapakan daging atau harga jualnya.

Dengan menjadikan hewan liar menjadi ternak dalam hal ini kodok sebagai sumber pangan yang bisa diterima masyarakat, diharapkan bisa menambah bahan pangan bagi masyarakat. Tidak cukup dengan mengkomsumsi saja, tetapi perlu adanya kegiatan budi daya untuk menjaga kelangsungan hidup kodok kedepannya. Hal ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak, terutama dari pemerintah untuk memfasilitasi dalam memperkenalkan kodok sebagai bahan makanam dan juga dengan menerapkan peraturan dalam membudidayakan kodok.

Daftar Pustaka:
Susantu Heru. Budidaya Kodok Unggul. (Jakarta:Penebar Swadaya, 1995).
Rahardi, F. Ternak Kodok.(Jakarta: Penebar Swadaya, 1982).

Nur Aziezah
Posted on 20th October, 2009

Pengembangan SRI (System of Rice Intensification)
sebagai Upaya Peningkatan Efisiensi Produksi, Produktivitas Padi, dan Kelestarian Lingkungan

Kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian karena tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan. Namun, demikian upaya peningkatan produksi instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia  membuat kondisi tanah semakin rendah tingkat kesuburannya yang akan berakibat pada turunnya hasil produksi. Untuk mengatasinya para petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida/insektisida. Pada awalnya penambahan biaya produksi ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun.
Oleh karena itu, teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktivitas harus dilakukan. Pada saat ini, ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metode SRI-Organik (System of Rice Intensification). SRI adalah sistem budidaya padi dengan pendekatan manajemen perakaran, yang berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman, dan air dengan mengutamakan berjalannya aliran energi dan siklus nutrisi untuk memperkuat suatu kesatuan agro ekosistem.
Metode ini menggunakan bibit dan input yang lebih sedikit dibandingkan metode tradisional (misalnya air) atau metode yang lebih modern (pemakaian pupuk dan asupan kimiawi lain). Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi bagi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga proses ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.
SRI (system of rice intensification) dikembangkan di Madagascar 20 tahun yang lalu oleh Fr. Henri de Laulanié, S.J., yang menghabiskan waktu selama 34 tahun bekerja bersama petani, mengamati, bereksperimen, dan juga mendapatkan ‘keberuntungan’ pada tahun 1983-1984. Metode ini dikenal juga dengan nama Metode Madagascar. Pada tahun 1994 Tefy Saina (lembaga swadaya masyarakat) dan CIIFAD (Cornel International Institute for Food and Agriculture Development) mulai bekerja sama dalam pengembangan SRI. Dengan bantuan CIIFAD khususnya dari Prof. Norman Uphoff, SRI menyebar ke negara lain. Nanjing Agricultural University di China dan AARD (Agency for Agriculture Research and Development) di Indonesia melakukan percobaan pertama di luar Madagascar pada tahun 1999. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Di Indonesia gagasan SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua.
Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik / organic rice) ini merupakan gabungan antara metode SRI (System of Rice Intensification) yang pertama kali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Metode ini dikembangkan dengan beberapa prinsip dasar yaitu :
Pemberian pupuk organik
Peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang.
Penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan.
Beberapa filosofi dasar mengenai SRI (System of Rice Intensification) adalah sebagai berikut:
1.Padi bukan tanaman air, tetapi tanaman yang membutuhkan air untuk pertumbuhannnya (rice is not an aquatic plant)
2.Potensi pertumbuhan bibit padi akan berkurang jika dipindahkan dari persemaian setelah umur 15 hari
3.Pada saat penanaman (tandur) diminimalkan trauma pada tanaman khususnya pada bagian akar
4.Menggunakan jarak tanam yang lebih besar untuk pertumbuhan akar
5.Aerasi yang baik dan penggunaan bahan-bahan organik akan mendukung pertumbuhan akar tanaman dengan baik
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi / beras akibat dari pupuk / pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
Produktivitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabetes, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.

Prinsip Utama SRI :
1.Penanaman bibit muda yaitu umur 8-12 hari setelah berkecambah saat tanaman baru berdaun dua helai dan tidak boleh melebihi dari 15 hari setelah berkecambah.
2.Menggunakan jarak tanam lebar, yaitu minimal 25cm x 25 cm, dan menanam tunggal (1 bibit per lubang).
3.Untuk menghindari trauma pada bibit saat penanaman, maka bibit ditanam segera secara hati-hati maksimal 30 menit setelah bibit di ambil dari persemaian.
4.Penanaman bibit padi secara dangkal (1-2 cm) dengan  arah akar horisontal.
5.Dilakukan pengaturan air, yaitu tanah dijaga terairi dengan baik (lembab), tetapi tidak terus menerus direndam.
6.Meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis.
7.Penggunaan pupuk dan pestisida organik untuk menjaga keseimbangan biologi tanah.
Budi daya model SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan. Sehubungan dengan hal itu maka model pertanian SRI ini dapat dijadikan salah satu pilihan model untuk dibangun dan dikembangkan, karena penggunaan air yang hemat merupakan salah satu langkah dalam mengantisipasi krisis air.
Hasil penerapan gagasan SRI di lokasi penelitian (Kabupaten Garut dan Ciamis), menunjukkan bahwa :
1.Budidaya padi model SRI telah mampu meningkatkan hasil dibandingkan budidaya padi model konvensional
2.Meningkatkan pendapatan para petani
3.Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usaha tani secara finansial
4.Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik.
Sejalan dengan berkembangnya penerapan SRI di lapangan dan minatnya para petani, terutama dalam pelaksanaan penggunaan pupuk organik maka muncul beberapa masalah diantaranya :
Ketersediaan bahan organik baik dari biomasa atau yang bersumber dari limbah ternak masih sangat tebatas.
Pembuatan kompos di sebagian besar masyarakat masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama.
Adanya kebiasaan membuang dan membakar sumber bahan organik, seperti jerami oleh para petani.
Petugas dan petani yang memahami dan terampil dalam penguasaan teknis Ekologi Tanah dan SRI jumlahnya masih sangat terbatas.
Peluang pengembangan SRI ke depan juga didukung oleh tuntutan globalisasi dan konsumen internasional terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang mudah dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik. Kendala pengembangan dalam skala luas, terkait dengan ketersediaan bahan-bahan organik, tenaga kerja tanam model SRI, serta kemauan dari petani sendiri. Untuk itu harus ada upaya terencana untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan pupuk dan pestisida organik yang relatif cepat, mudah, dan murah. Serta upaya pendampingan, pemberdayaan petani dan pelatihan kader-kader penyuluh dan petani andalan.

Daftar Pustaka :
http://tep.tp.ugm.ac.id/content/system-rice-intensification-sri-meningkatkan-produksi-dan-menghemat-air

http://www.pertaniansehat.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=68

http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60

Oleh :
Nur Aziezah
IKM B 07
100710217

Fery Firman Santoso
Posted on 20th October, 2009

Apakah Rumput Laut Hanya Sebuah Hiasan Laut?

Selama ini kita sering menikmati rumput laut dalam campuran masakan Jepang atau Korea. Ternyata, rumput laut juga bisa diambil banyak kegunaannya. Pada akhirnya banyak masyarakat di Indonesia menyadari betapa penting dan banyaknya fungsi yang bisa dimanfaatkan dari rumput laut. Langkah awal dilakukan oleh pemerintah Korea dan Indonesia yang sepakat untuk bekerjasama dalam pengembangan bio-teknologi rumput laut tersebut. Pemakaian rumput laut sebagai sumber enerji memiliki kelebihan apabila dibandingkan dengan bio-fuel yang terambil dari bahan nabati daratan, seperti tebu, jagung, kelapa sawit, singkong dan lain-lain. Lahan di darat semakin sempit bersaing dengan peruntukan lahan bagi program ketahanan pangan dan pemukiman. Usaha bio-fuel ini bila pengembangannya menggunakan lahan hutan, tentu berimplikasi terhadap iklim global pula. Adapun rumput laut, hijaunya di sepanjang pantai diharapkan memiliki peran positif terhadap lingkungan. Rumput laut yang gunakan oleh Indonesia dan Korea Selatan dalam menjajaki kerja sama pengolahan rumput laut ialah jenis Gellidium sp untuk menghasilkan bahan bakar nabati atau biofuel. Perairan Indonesia dinilai potensial untuk membudidayakan Gellidium sp, sedangkan Korsel siap menerapkan teknologi biofuel .Pemanfaatan Gellidium sp untuk sumber energi dinilai potensial karena rumput laut jenis itu tidak dimanfaatkan untuk bahan makanan. Pemanfaatan Gellidium sp akan mendorong optimalisasi potensi rumput laut yang selama ini belum banyak diolah. Menurut data dari Inha University Korea, satu hektar areal rumput laut bisa menghasilkan 58.700 liter biodiesel, dengan asumsi kandungan minyak dalam rumput laut yang dihasilkan berkisar 30 persen. Kendala utama pengembangan rumput laut adalah minimnya aplikasi teknologi pengolahan dan transportasi angkut. Akibatnya, sebagian besar produk rumput laut dijual dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah rendah. Pengolahan rumput laut memerlukan teknologi spesifik yang hanya dimiliki Prancis, Jerman, dan Denmark. Kalau kita tidak memiliki teknologi pengolahan ini masalah industri rumput laut di Indonesia tak bisa menjadi industri yang baik.
Karena itu, pihak dari Pelita Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) akan melakukan pendekatan kepada ketiga negara tersebut untuk membagikan teknologi pengolahan rumput laut guna mengembangkan industri di tanah air. Saat ini Indonesia merupakan produsen bahan baku rumput laut terbesar di dunia. Namun karena lebih banyak dijual dalam bentuk gelondongan sehingga harganya rendah.
Filipina dan China karena mampu menguasai teknologi pengolahan rumput laut, maka ekspor mereka sudah dalam bentuk olehan sehingga memiliki nilai jual tinggi. Kita akan yakinkan kepada negara-negara pemilik teknologi bahwa kita mampu seperti China maupun Filipina, jelasnya. Saat ini sudah ada salah satu investor dalam negeri yang siap mengembangkan industri pengolahan rumput laut di Minahasa Utara dengan menerapkan teknologi Perancis. PT Algomer, perusahaan yang akan menanamkan modalnya tersebut akan investasi sebesar delapan juta euro, namun hingga kini masih terkendala dengan perbankan. Tahun 2007 produksi rumput laut Sulteng mencapai 17.000 ton sehingga menempatkan provinsi ini sebagai penghasil rumput laut ke tiga di Indonesia setelah NTB dan Sulsel. Wilayah pengembangan rumput laut di Sulteng tersebar di 10 kabupaten/kota meliputi tiga klaster yakni Parigi Moutong, Toli-toli dan Bangkep. Pada 2008 Pemda Sulteng menetapkan sasaran areal rumput laut seluas 3.926 hektar dengan produksi 22.500 ton kering serta investasi di sektor budidaya Rp19,63 miliar dan untuk pabrik rumput laut Rp10 miiliar.
Disisi lain, sebagian pembudi daya rumput laut di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, kini dapat mengolah rumput laut mentah menjadi dalam bentuk setengah jadi (berupa kertas) dengan nilai jual lebih dari 10 kali lipatnya. Lebih dari itu, teknologi pengolah rumput laut ini juga terbilang murah, mudah dioperasikan, dan efisien. Hal ini terwujud oleh karena adanya temuan para peneliti di Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP). Teknologi pengolah rumput laut buatan para peneliti itu memang dirancang mudah dioperasikan dan hanya membutuhkan tenaga sekitar 6 orang. Peralatannya terdiri dari tangki ekstraksi double jackjet (tangki 1 di dalam dan tangki 2 di luar), penyaring sentrifugal, tangki pemanas, rak dan penjendal, serta pengepres gravitasi. Prosesnya juga terbilang sederhana. Awalnya, air dimasukkan ke tangki 2 dan ke dalam tangki 1 dimasukkan air 800 liter. Panaskan air dalam tangki 1 hingga mencapai suhu 100 derajat Celsius dengan menghidupkan burner yang dilengkapi dengan termokontrol. Langkah berikutnya, masukkan rumput laut ke dalam tangki 1 selama 2 jam dan aduk secara perlahan hingga menjadi bubur rumput laut. Hidupkan penyaring sentrifugal dan buka kran hingga buburnya mengalir ke dalam. Bubur yang telah disaring ditempatkan ke dalam pan dan rak penjendal. Diamkan selama 24 jam sampai bubur itu menjendal lalu dipotong menjadi setebal 8 mm. Bungkus potongan itu dengan kain lalu masukkan ke pengepres gravitasi dan diamkan selama 24 jam hingga menjadi dalam bentuk kertas. Lembaran kertas ini lalu dikeringkan dengan memanfaatkan sinar matahari hingga menjadi karaginan kertas kering.
Contoh lain di Kabupaten Jepara, yang secara geografis merupakan wilayah pesisir yang menyimpan potensi besar di sektor perikanan terutama sumberdaya rumput laut baik di Karimunjawa maupun Pesisir Jepara daratan. Ketersedian teknologi yang sederhana, serta cash flow yang terhitung cepat dengan margin keuntungan yang besar dan tingkat penyerapan tenaga kerja yang besar, menjadikan kegiatan usaha rumput laut sebagai kegiatan usaha perikanan yang mampu menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat pesisir Jepara. Tingkat pemanfaatan budidaya rumput laut sampai saat ini belum mampu meng-cover keseluruhan luas lahan potensial yang ada, ini artinya peluang usaha dan investasi masih sangat tinggi. Maka dari itu, melihat besarnya peluang yang ada, masyarakat maemanfaatkan lebih rumput laut dengan mengadakan klaster aquabisnis rumput laut. Namun, ada beberapa factor yang menyebabkan lambatnya perkembangan aquabisnis rumput laut di Jepara antara lain disebabkan : Keterbatasan permodalan di tingkat pelaku utama, Kelembagaan di tingkat pembudidaya/pelaku utama belum terbentuk secara kuat dan mandiri dan Mind set pola pengembangan yang belum terbangun dengan baik serta belum terwujudnya persamaan persepsi, komitmen serta kerjasama sinergi diantara seluruh stakeholder dalam memaksimalkan pemanfaatan potensi local (internal resources) dan peluang-peluang ekternal (external chances) yang ada, sehingga menyebabkan mata rantai proses produksi berhenti pada tahapan tertentu. Maka perlu dilakukan langkah strategis salah satunya dengan melalukan pengembangan ekonomi lokal melalui pendekatan klaster aquabisnis rumput laut. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mendukung dan menjadikan komoditas rumput laut menjadi produk unggulan sector perikanan melalui pengembangan mata rantai kegiatan usaha dari hulu ke hilir (supply chain) yang efisien dan efektif agar hasil produksi mempunyai posisi tawar (bargaining position) yang tinggi. Pengembangan klaster rumput laut pada hakekatnya lebih mengedepankan kemitraan yang dibangun melalui komunikasi dan implementasi nyata diatara stakeholder secara sinergis dan saling menguntungkan dengan demikian pengembangan ekonomi local melalui aquabisnis klaster rumput laut harus menjadi bagian integral dari upaya pemerintah daerah melalui pemberdayaan. Dari beberapa aspek di atas yang harus menjadi point penting dalam rangka membangun system kluster aquabisnis rumput laut adalah pertama : perlu adanya kesamaan persepsi, komitmen, tanggung jawab dan kerjasama sinergi ran dari seluruh stake holder mulai dari pelaku utama, UMKM pengolah, pelalu usaha, pemerintah, akademisi, perbankkan serta lembaga/institusi dalam mendukung terbentuknya model aquabisnis klaster rumput laut; Kedua : adalah peran pendampingan secara berkelanjutan yang menjadi tanggung jawab bersama semua elemen yang terlibat secara langsung dengan titik berat pada penguatan kelembagaan dan kemandirian serta membangun kultur positif pelaku utama rumput laut.
Masih banyak lagi tindakan – tindakan mengenai pengembangan teknologi rumput laut di beberapa bagian daerah di Indonesia. Maka peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk menunjang adanya kemajuan dibidang ini.

Daftar Pustaka:
Kompas. Edisi 4 November 2008. Jakarta.
http://matoa.org/2009/03/pengembangan-bio-teknologi-rumput-laut/
Cocon Sidiek, S.Pi)
http://www.dkp.go.id ( Penulis AGP Team/Mr. T )

Oleh:
Fery Firman S./ 100710001
IKM A’07

Citra Asmaradini
Posted on 20th October, 2009

Pengembangan SRI (System of Rice Intensification)

Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang sangat penting. Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktifitas biologi serta keberadaan unsur - unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan. Salah satu permasalahan saat ini yang dihadapi banyak petani adalah kesehatan dan kesuburan tanah yang semakin lama semakin menurun. Hal ini bisa ditunjukkan dengan gejala - gejala sebagai berikut : tanah cepat kering, retak-retak bila kurang air, lengket bila diolah, lapisan olah dangkal, asam dan padat, produksi sulit untuk meningkat bahkan cenderung untuk menurun. Kondisi ini semakin buruk yang dikarenakan penggunaan pupuk an-organik yang terus meningkat dan penggunaan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan yang juga terus meningkat. Sehingga pada saat ini usaha tani secara umum belum melibatkan tanah sebagai komponen yang mempengaruhi dan menentukan keputusan pengendalian di dalam pengelolaan suatu agroekosistem.

Oleh karena itu Direktorat Pengelolaan Lahan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air pada tahun 2009 melaksanakan suatu kegiatan untuk meningkatkan kemampuan teknis masyarakat tani melalui kegiatan Pelatihan dan Sekolah Lapangan System Of Rice Intensification (SRI) yaitu cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses manajemen sistem perakaran dengan berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air.

Usaha tani padi sawah organik metode SRI adalah usaha tani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien di dalam pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan. Tujuan Pedoman Teknis Pengembangan System Of Rice Intensification (SRI) adalah memberikan acuan secara umum kepada petugas daerah dalam melaksanakan kegiatan pengembangan usaha tani padi sawah organik metode SRI melalui Pelatihan dan Sekolah Lapangan SRI. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan pelatihan dan Sekolah Lapangan SRI ini antara lain adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang usaha tani padi sawah organik metode SRI, meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, menghasilkan produksi yang bisa berdaya saing tinggi, sehat dan berkelanjutan serta dapat mengembangkan usaha tani padi yang ramah lingkungan.

Cara ini diyakini dapat mengubah paradigma pengelolaan tanah yang hanya sebagai media tanam menjadi pengelolaan tanah sebagai bioreaktor yang merupakan pabrik hara bagi tanaman dengan para pekerjanya organisme yang berbagai macam di dalam tanah. Dengan perubahan yang sangat mendasar ini sekalipun hampir semua input eksternal dikurangi bahkan dihilangkan justru dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik, lebih baik dalam arti lebih produktif (tanaman lebih tinggi, anakan lebih banyak, malai lebih panjang dan bulir lebih berat / banyak), lebih sehat (tanaman lebih tahan hama dan penyakit), lebih kuat (tanaman lebih tegar, lebih tahan kekeringan dan tekanan abiotik), lebih menguntungkan (biaya produksi lebih rendah), dan memberikan risiko ekonomi yang lebih rendah.

Sementara hal - hal yang melatar belakangi Pedoman Teknis Pengembangan System of Rice Intensification (SRI) ini antara lain yaitu semakin menurunnya ketersediaan air, semakin menurunnya potensi lahan pertanian, semakin meningkatnya harga sarana produksi pertanian, rendahnya tingkat pendapatan petani, semakin tingginya dampak pencemaran lingkungan, perlunya perkenalan terhadap metode pertanian ramah lingkungan dan merupakan salah satu kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility).

Sedangkan sasaran dari kegiatan pengembangan SRI adalah petani yang mempunyai lahan sawah beririgasi yang ketersediaan airnya terjamin. Pada tahun 2009 kegiatan pengembangan SRI sebanyak 111 paket yang telah tersebar di 21 propinsi, 53 kabupaten / kota di Indonesia.

Adapun diseminasi dan upaya pengembangan SRI dapat dilakukan dalam berbagai cara. Antara lain sosialisasi, baik untuk petani maupun petugas dan pihak swasta lain; workshop atau semiloka SRI dan panen; sekolah lapang yang pesertanya adalah petani SRI, dilakukan seminggu sekali, dan pokok bahasan yang dibahas disana antara lain monev (monitoring dan evaluasi) pertumbuhan tanaman, pembelajaran ekologi tanah dan teknis pengendalian hama dan penyakit; pelatihan dasar buruh tanam yang diikuti masing - masing desa binaan minimal 15 orang per desa; lomba kegiatan SRI seperti demplot SRI, tanaman SRI, asah terampil, dan kekompakan; pembuatan MOL (mikro organisme lokal) yang terdiri dari dekomposer (starter kompos), nutrisi (pupuk daun), zat perangsang daun (ZPT) dan pestisida organik; pembuatan kompos; lomba pemacu SRI seperti lomba tanam, lomba caplak, dan lomba menyemai; dan SRI hamparan yang bertujuan untuk menyamakan kalender tanam.

Mekanisme pelaksanaan pengembangan SRI melalui Pelatihan dan Sekolah Lapangan SRI (SL - SRI) dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten/Kota, sedangkan pengadaan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO) dan benih dilakukan oleh kelompok tani atau kelompok tani yang menggarap lahan dalam satu hamparan dan bersedia menerapkan metode SRI pada seluruh lahan garapan kelompok tani tersebut secara utuh.

Simulasi nilai tambah yang diperoleh dari pengembangan padi organik SRI dapat dilihat dari berbagai aspek seperti aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial. Dari aspek ekonomi misalnya, kita dapat berhemat sekitar 5 - 6 Trilyun rupiah dengan mengasumsikan 10 % dari 7,8 juta lahan sawah Indonesia bisa diSRIkan. Lalu dari aspek lingkungan, kita dapat menurunkan emisi gas metan, mengurangi emisi gas CO2 akibat pembakaran jerami, mereduksi pencemaran tanah dan air dari pupuk kimia dan residu pestisida, mendaur ulang sampah yang ada, meningkatkan kadar BO dalam tanah, dan memelihara keaneka ragaman hayati. Sedangkan dari aspek sosial, hal yang kita dapatkan adalah kearifan lokal, kelembagaan pedesaan, pemberdayaan petani, terciptanya lapangan pekerjaan yang lebih banyak, dan urbanisasi yang dapat dikendalikan.

Namun bukan berarti tidak ada tantangan bagi pengembangan SRI. Tantangan mendasar dari pengembangan SRI sendiri antara lain yaitu merubah paradigma / cara pandang budidaya dari konvensional ke SRI, transfer ilmu ke petani, pasar beras organik SRI, serta komitmen pemimpin formal dan non formal. Sedangkan untuk tantangan teknisnya antara lain yaitu terbatasnya ketersediaan bahan kompos terutama yang bersumber dari kotoran hewan, pembuatan kompos masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan waktu lama dan tenaga kerja yang tinggi, distribusi bahan organik / kompos pada skala luas memerlukan biaya yang tinggi, kebiasaan membuang dan membakar jerami di sebagian besar petani yang akhirnya menjadi budaya, keterbatasan sarana pasca panen (lantai jemur, dryer, threser,dll), jumlah petugas / petani yang memahami teknis metoda SRI masih sangat terbatas, di beberapa daerah sawah irigasi masih memerlukan perbaikan / rehab jaringan irigasi, serta sertifikasi mutu beras organik SRI.

Contoh dari Program Pengembangan SRI Departemen Pertanian antara lain sosialisasi / pengenalan pada daerah - daerah irigasi yang potensial namun belum tersentuh SRI, perluasan dampak pengembangan SRI bagi daerah yang sudah ada kegiatan SRI, perluasan skala pengembangan SRI satu Scheme, mendorong pemberdayaan petani untuk membuat pupuk organik, MOL (mikro organisme lokal) dan pestisida nabati sendiri, gerakan pengembalian jerami dan limbah organik ke lahan pertanian, kemitraan dengan dunia usaha yang peduli organik, promosi produk beras sehat serta promosi penyelamatan lingkungan hidup.

Adapun metode di dalam pengembangan SRI yang mudah untuk diterapkan yaitu melalui Workshop, Lokakarya, Farm Field Day, TOT, Sekolah Lapang, Leaflet, Brosur, Pemutaran film, Forum Komunikasi Pengembang SRI, dialog interaktif melalui media massa, internet dan media - media yang lainnya.

Pengembangan SRI melalui pelatihan dan Sekolah Lapangan SRI dilakukan dengan merubah perilaku usaha tani menjadin yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Perubahan perilaku usaha tani tersebut memerlukan waktu untuk berproses, sehingga upaya bimbingan dan pembinaan perlu dilakukan secara terus menerus oleh petugas lapangan. Lalu implementasi usaha tani padi sawah organik metode SRI pada saat pelatihan dan Sekolah Lapangan SRI diharapkan pada tahun 2009 dapat diterapkan pada seluruh area sawah yang dikelola oleh kelompok tani pelaksana metode SRI.

Daftar Pustaka :
http://pla.deptan.go.id/pdf/03_PEDOMAN_TEKNIS_SRI_2009.pdf
_______________. PENGALAMAN PT HM SAMPOERNA Tbk. DALAM PENGEMBANGAN SRI BAGI MASYARAKAT SEKITAR PLANT SUKEREJO. SAMPOERNA Untuk Indonesia. 2009.
http://www.diperta.jabarprov.go.id/data/arsip/TANTANGAN%20DAN%20PELUANG%20SRI.pdf

Citra Asmaradini
IKM B 2007
100710111 / 06

intan rizky
Posted on 20th October, 2009

Intan Rizky M
100710231 / 68
IKM B 2007
Pengembangan System of Rice Intensification (SRI)
SRI ( System of Rice Intensification ) dikembangkan di Madagaskar sekitar 20 tahun yang lalu telah menyebar di banyak negara termasuk Indonesia. Paket rekomendasi SRI yang berlaku secara umum adalah:
(1) tanam bibit muda berumur 8-15 hari, satu batang per rumpun
(2) tanam pindah dengan akar horizontal dan kedalaman 1-2 cm
(3) jarak tanam 25 cm x 25 cm atau lebih lebar
(4) pengairan berkala (intermitten)
(5) penyiangan dengan landak 2-4 kali sebelum primordia
(6) penggunaan bahan organik atau kompos sebanyak mungkin sebelum tanam.
Hasil padi dengan metode system of rice intensification dilaporkan mencapai 12-16 ton/ha gabah kering panen (GKP), jauh lebih tinggi dari rata-rata hasil padi sawah nasional. Hal ini telah mendorong berbagai pihak di dalam dan luar negeri untuk menguji SRI dengan membandingkannya dengan cara budi daya yang diterapkan petani dewasa ini.
SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses management system perakaran dengan berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air. Tanaman padi sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan produksi dalam taraf tinggi, ini hanya akan dicapai bila kita membantu tanaman dengan kondisi baik untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman padi sawah berdasarkan praktek SRI ternyata bukan tanaman air tetapi dalam pertumbuhan membutuhkan air, dengan tujuan menyediakan oxygen lebih banyak di dalam tanah, kemudian tidak tergenang akar akan tumbuh dengan subur dan besar. Maka tanaman dapat menyerap nutrisi sebanyak-banyaknya.
Cara budidaya system of rice intensification sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda system of rice intensification seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun-tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda system of rice intensification sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis( kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi.
Prinsip Dasar Budidaya Padi Organik System Of Rice Intensification (SRI) :
1. Proses Pembibitan.
Tahapan proses pembibitan dimulai dari proses pemilihan ( seleksi ) bibit padi serta penyemaian
2. Proses Pengolahan Lahan.
Kondisi lahan sawah kita umumnya sudah miskin bahan organik dan banyak residu pupuk kimia serta pestisida kimia, sehingga lahan miskin unsur hara dan agregatnya sangat kuat. Karena itu perlu dimasukkan bahan-bahan organik minimal sama volume dan bobotnya dengan yang keluar dari sawah ( jerami dan padi ) atau setara 7-10 ton kompos/Ha. Jerami dan sekam harus dimasukkan kembali ke sawah setelah dilakukan fermentasi ( pengomposan ) terlebih dahulu. Untuk mempercepat proses fermentasi/pengomposan, jerami ditumpuk berlapis-lapis dan diberikan kotoran hewan serta mikroba ( dalam bentuk cairan atau kompos mikroba ). Setiap lapisan jerami tebalnya 10-20 cm lalu ditaburi kotoran hewan atau mikroba , kemudian disiram hingga basah sebelum ditumpuk lapisan jerami berikutnya. Tumpukan jerami ditutup dengan plastik atau bahan lain agar tidak terlalu basah oleh air hujan atau kekeringan oleh teriknya sinar matahari.
3. Proses Penanaman Bibit Padi.
Pada saat penanaman bibit padi ke petak sawah, kondisi petak sawah tidak boleh tergenang. Gunakan hanya satu bibit padi per posisi tanam, penanaman bibit padi sangat dangkal, hampir tidak dibenamkan sama sekali, hanya sedalam 0,5-1,0 cm saja. Posisi akar bibit padi sejajar dengan permukaan tanah sehingga batang bibit padi dan akarnya berbentuk huruf ’L’. Kalau penanaman bibit padi dibenamkan batang dan akar akan membentuk huruf ’J’ sehingga akan mengurangi kemampuan bibit padi untuk tumbuh, berkembang dan memiliki akar yang banyak serta kuat. Untuk menekan pertumbuhan gulma,setelah penanaman, sawah agak direndam ( 1 – 2 cm diatas pangkal batang padi ) selama 10 hari. Setelah 10 hari lalu di keringkan kembali, taburlah kompos mikroba merata per 2 baris tanaman padi.
4. Proses Pemeliharaan.
Selalu perhatikan tanaman padi dengan cara menyiangi gulma, memperhatikan intake air pada padi.
5. Proses Pemupukan.
Penerapan pemakaian yang tinggi dari pupuk, pestisida dan insektisida kimia pada lahan sawah untuk pertanian padi selama ini yang tidak terkendali sudah memberikan dampak sangat negatip pada kesuburan lahan sawah kita. Baik secara struktur phisik tanah maupun secara bio-organisme tanah, tanah sawah kita kebanyakan mengalami tingkat kerusakan yang tinggi. Hal ini diperlihatkan dengan terus menurunnya hasil panen padi per musim tanam dan seringnya terjadi serangan hama & penyakit yang luas dan dalam waktu yang singkat. Karena itu
6. Proses Pengendalian Hama & Penyakit.
Dengan semakin membaiknya sistem lingkungan hidup biotik berarti semakin dapat ditekan resiko kerusakan akibat serangan hama dan penyakit karena setiap hama padi akan muncul musuh alaminya. Metoda system of rice intensification yang diterapkan adalah menggunakan bahan-bahan organik seluruhnya dan tidak menganjurkan sama sekali pemakaian pupuk maupun obat-obatan kimia. Pemakaian air yang sangan minim ( 50% ) dari pada cara konvensional akan dapat menekan berkembang biaknya keong emas karena secara praktis sawah tidak pernah tergenang air.
SYARAT DAN KUNCI KEBERHASILAN METODA SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
Sebenarnya metoda system of rice intensification merupakan cara untuk melanjutkan tradisi leluhur kita dalam bidang pertanian. Persyaratan teknis seperti pengairan, pengolahan tanah ataupun pemilihan bibit sudah dijelaskan pada tulisan di atas, sedangkan persyaratan non teknis yang mutlak harus mereka miliki diantaranya:
(1) Petani harus memilki motivasi untuk maju dan berubah dengan tekad yang kuat dalam rangka memperbaiki kehidupan dan kesejahteraannya.
(2) Petani bersedia bekerja keras karena dengan metoda system of rice intensification akan membuat pekerjaan lebih banyak, serta harus ulet sehingga tidak cepat putus asa bila mendapatkan tantangan dalam melaksanakan kegiatan penanaman padinya.
(3) Petani harus mau untuk terus belajar, dan senantiasa meng- up date pengetahuan.
(4) Petani jangan mudah tertarik serta terjebak dengan harga saprotan yang murah, persayaratan pembayaran yang ringan tanpa memperhitungkan akibat-akibat yang lebih jauh baik pada tanamannya maupun kemandiriannya.
(5) Petani tidak boleh terkecoh dengan informasi yang menyatakan bahwa kompos bisa dicampur dengan pupuk kimia, atau pupuk organik cair saja sudah cukup untuk menyuburkan tanaman.
Kunci utama metoda system of rice intensification terletak pada konsistensi petani dalam melaksanakan aturan serta petunjuk yang telah digariskan, tetapi bila kondisi tidak memungkinkan maka petani masih bisa mengubahnya. Untuk itu mereka harus mengetahui hal-hal apa yang mutlak, yang bisa digantikan, serta yang sama sekali tidak diperbolehkan. Pupuk dan pestisida sintetis (kimia) mutlak tidak boleh digunakan, pupuk organik cair masih boleh tidak digunakan, tetapi pupuk organik kompos mutlak harus digunakan. Karena itu petani SRI tidak boleh terkecoh, dengan informasi yang menyebutkan bahwa pupuk organik akan lebih baik bila dicampur dengan pupuk kimia, atau pupuk organik cair saja sudah cukup tanpa harus menggunakan kompos. Karena dari pengalaman terbukti tanaman akan sangat baik bila menggunakan pupuk kompos organik tanpa unsur kimia sedikitpun seperti yang dianjurkan dalam metoda system of rice intensification.

Referensi :
Anonim. Pedoman Teknis Pengembangan System Of Rice Intensification (SRI).http://lecture.brawijaya.ac.id/tatiek/files/2009/08/sri-2.pdf.( 5 oktober 2009)

Gustawan,tatang. Tentang Sri (System Of Rice Intensification). http://tatanggustawan.blogspot.com/2009/02/tentang-sri-system-of-rice.html ( 5 oktober 2009)
Sumedi. Gagasan dan implementasi system of rice intensification (SRI) dalam kegiatan budidaya padi ekologis.http://www.puslittan.bogor.net/berkas_PDF/IPTEK/2006/Nomor-1/03-Mahyuddin.pdf.( 5 oktober 2009)

Anindya Astrianti M
Posted on 20th October, 2009

PENGEMBANGAN SRI DI INDONESIA

Pada masa global ini, masih sering kita dengar dari media massa dan elektronik mengenai daerah yang terserang busung lapar dikarenakan pada daerah tersebut sedang mengalami masa paceklik. Tentu saja masa tersebut menjadi masa paling sulit dilalui oleh masyarakat. Tentu saja kita langsung memikirkan korelasinya pada ketersediaan beras di wilayah tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakt di wilayah tersebut. Ancaman kekurangan beras sudah di depan mata dan tidak jarang akan selalu terjadi pada daerah tersebut. Keadaan ini secara langsung berdampak pada status gizi masyarakat tersebut, baik pada semua golongan umur dan jenis kelamin, dan yang menjadi fokus utama pada masyarakat yang berada pada status ekonomi lemah. Mereka akan lebih rentan terkena busung lapar. Bagaimana hal ini dapat terjadi pada wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?? Ironis yang kita rasakan. NKRI dikenal dengan “Zambrut Khatulistiwa”, dimana keadaan seharusnya membuat tanah ibu pertiwi menjadi tanah yang sangat subur, semua yang ditancapkan akan tumbuh subur di atasnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, NKRI telah menjadi pengeksport beras no.1 di dunia. Belum lagi bila kita melihat pada kehidupan para petani yang menajadi bagian besar masyarakat miskin di negeri ini. Untuk memenuhi kehidupan mereka tidaklah cukup dengan hanya melakukan kegiatan pertanian. Kegiatan bertani yang selama dilakukan pun tidak lepas dari masalah seperti bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarga saat peyemprotan dan para pengguna produksinya, membahayakan lingkungan disekitarnya seperti tanah dan air akibat residu bahan kimia, terserapnya tanahdan yang tertinggal dalam air minum dan makanan hasil pertaniannya. Lahan yang tersedia di Indonesia pun semakin lama semakin sedikit untuk lahan pertanian, khusunya untuk di Pulau Jawa dimana lahanya mulai disulap menjadi kawasan industri. Tidak hanya itu, pada daerah tertentu lahan telah berubah menjadi area perkebunan yang dinilai mampu turut serta mendukung kegiatan eksport Indonesia.
Pengembangan metode penanaman padi dengan melakukan intensifikasi melalui System of Rice Intensification (SRI) mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 2000 yang dipelopori oleh Alik Sutaryat sebagai pengembang SRI Jawa Barat yang dilakukan secara swadaya. Pada mulanya gagasan SRI mulai di kembangkan di Madagaskar di awal tahun 1980. Pengembangan SRI juga di uji coba pada beberapa negara, termasuk Asia Tenggara. Dengan berjalannya waktu gagasan SRI telah di uji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatra, Bali,Nusa Tenggara barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
System of Rice Intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada menajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Pada teknik ini, system budidaya padi mampu meningkatkan produktivitas tanaman dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, air, dan unsur hara. Selain itu teknik SRI tidak memerlukan bibit padi khusus. Petani dapat menggunakan bibit hasil penangkaran sendiri sehingga tidak bergantung pada benih impor dan dapat diadopsi dengan mudah oleh petani. Penerapan teknik SRI berdasarkan enam komponen penting : (1) transpalsi bibit muda, (2) bibit ditanam satu batan, (3) jarak tanam lebar, (4) kondisi tanah lembab, (5) melakukan pendangiran (penyiangan), (6) hanya menggunkanan bahan organik (kompos).
Dari hasil penerapan gagasan SRI di lokasi penelitian (Kabupaten Garut dan Ciamis) menunujukkan bahwa: (1) budidaya padi dengan teknik SRI telah mampu meningkatkan hasil banding budidaya, (2) meningkatkan pendapatan, (3) terjadi efesiensi produksi dan efesienasi usaha tani secara finansial, (4) pangsa harga pasar produk lebih tinggi dari pada beras organik. Tercatat SRI telah meningkatkan hasil dari 5,6 ton/Ha menjadi 9,5 ton/Ha Selain itu mengembangkan SRI organik di beberpa propinsi di Indonesia telah memberikan keunggulan nyata yaitu: (1) usaha tani ramah lingkungan, (2) hemat air irigasi, (3) hemat saprodi (terutama benih), (4) produksi tinggi di atas rata-rata nasional, (5) mendaur ulang limbah, (5) memperbaiki kesuburan tanah, (5) produksi sehat, (6) bebas residu kimia (bebas organik), (6) harga berasnya diatas harga pasar, dan (7) berbasis kearifan lokal.
Menurut Sato sebagai Ketua Tim Proyek Pengembangan Sistem Desentralisasi Irigasi Indonesia Bagian Timur (DISIMP) itu mengatakan, metode SRI mampu menghemat penggunaan air hingga 40 persen, dan beras yang dihasilkan praktis tidak ada kadar gulanya.
SRI juga mampu menghemat biaya produksi petani karena hanya memerlukan bibit 5 kg per hektar, dibandingkan cara konvensional yang membutuhkan 25 kg per hektar. Selain itu metode ini cocok untuk dikembangkan di wilayah dengan curah hujan rendah seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Metode SRI juga terbukti ramah lingkungan karena mampu membantu meredam pemanasan bumi dengan memperkecil sebaran gas metan dari lahan persawahan sehingga mengurangi penebalan lapisan gas rumah kaca. Hal ini juga di dukung oleh Mentri Pertanian Anton Apriyantono yang mengungkapkan bahwa metode SRI menarik, dengan alasan pertama, ada efisiensi penggunaan input benih dan penghematan air. Kedua, mendorong penggunaan pupuk organik. Dengan demikian, bisa menjaga bahkan merehabilitasi kesuburan tanah, selain tentu saja mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organic dapat memberi nilai tambah tersendiri. Padi/beras organik lebih sehat, karena itu bisa dihargai lebih tinggi.
Walaupun dengan keunggulan harga beras yang berada di atas harga rata-rata, tetap dibutuhkan dukungan dari pemerintah Indonesia untuk membuat sebuah kebijakan yang dapat mendukung hal tersebut dan mencarikan pengusaha yang dapat memasarkan hasil produksi menggunakan teknik SRI. Dapat kita lihat, harga beras organik di Singapura bisa mencapai Rp. 50.000/kg yang tentu saja berbeda dengan di Indonesia, Dengan begitu peran pemerintah masih dibutuhkan dalam penentuan harga jual beras terendah dan tertinggi untuk beras organik sehingga produsen dan konsumen sama-sama mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Jika kita analisis untuk pihak produsen, tentu saja kebijakan secara langsung dapat membawa kehidupan perekonomian petani meningkat, yang tentu saja akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup mereka.
Peluang pengembangan SRI ke depan juga di dukung oleh tuntutan globalisasi dan konsumen internasional terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang dapat dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik. Saat ini, pada kelompok masyarakat tertentu mulai menyadari dengan melakukan pemilihan produk yang akan dikonsumsi khusus akan produk organik dikarenakan telah menyadari dan merasakan keuntungan yang diperoleh. Kendala pengembangan dalam sekala luas terkait dengan ketersediaan bahan-bahan organik yang masih langka di Indonesia, tenaga kerja tanam model SRI, dan kemauan dari petani sendiri.
Setelah melihat akan pengembangan, keuntungan, peluang , dan kendala SRI di Indonesia, maka metode SRI dapat digunakan petani Indonesia secara meluas dan sebagai metode baru cara budidaya padi yang merupakan contoh nyata menggoreksi gerakan revolusi hijau. Dengan menggunkan metode SRI diharapkan terjadi peningkatan efesiensi produksi dan produktivitas padi yang akan membawa ketahanan pangan di Indonesia dapat terjaga dan mencapai swasembada beras tanpa merusak kelestarian lingkungan. Kelestarian lingkungan harus tetap dijaga demi keberlangsungan kehidupan penerus bangsa Indonesia. Selain itu metode ini dapat ikut mendongkrak perekonomian petani Indonesia sehingga mendapatkan kualitas hidup yang sesuai.

Daftar Pustaka :
HTTP://WWW.BERAS-ORGANIK.BIZ/NORMAN-UPHOFF.HTM (18 okt 09)
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=5012&Itemid=699 (18 okt 09)
http://www.hupelita.com/baca.php?id=43153 (18 okt 09)
HTTP://WWW.SPI.OR.ID/?P=1240 (18 okt 09)
HTTP://ANTONAPRIYANTONO.COM/2007/08/02/PRESIDEN-DAN-MENTAN-PANEN-BERSAMA-PADI-SRI/ (18 okt 09)
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60 (18 okt 09)

ANINDYA ASTRIANTI M.
100710114
IKM 07 B

Kunthi Adiati
Posted on 20th October, 2009

PENGEMBANGAN OLAHAN IKAN DAN HASIL LAUT UNTUK PERBAIKAN GIZI

Oleh:
KUNTHI ADIATI
100710236 / 71 / IKM B’07

Indonesia sebagai negara maritim dengan luas laut 5,8 juta km2, menjanjikan potensi pembangunan ekonomi yang luar biasa. Kekayaan laut Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi besar dalam bidang perikanan.
Indonesia memiliki potensi budidaya laut yang cukup besar. Dari potensi luas lahan budidaya laut sebesar 8,4 juta ha perairan laut, baru sekitar 1-25% lahan yang dimanfaatkan, dengan produksi sebesar 3.080.000 ton pada tahun 2007 (Grahadyarini, 2008) . Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, hasil budidaya laut juga sangat berperan dalam peningkatan devisa dari sektor perikanan.
Namun, seperti halnya kondisi perikanan dunia, kondisi perikanan tangkap Indonesia juga semakin menurun dari tahun ke tahun sehingga hal ini mendorong upaya peningkatan aktivitas di bidang budidaya ikan. Budidaya ikan relatif cepat menghasilkan, teknologinya mudah dikuasai dan pasar dalam negeri masih terbuka luas.
Saat ini konsumsi ikan per kapita masyarakat Indonesia baru sebesar 23 kg per orang/tahun, masih jauh lebih rendah dibanding negara-negara Asia lainnya. Gerakan makan ikan mendesak dibudayakan lagi, terutama untuk memenuhi kecukupan gizi anak balita, Ikan, dengan kandungan protein berkisar antara 20-35 persen, berpotensi tinggi menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial serta mutu daya cernanya yang setara dengan telur.
Hasil budidaya laut kaya akan sumber protein hewani yang sangat murah dan penting bagi peningkatan gizi keluarga. Penganekaragaman usaha budidaya laut harus terus diusahakan dengan perpaduan kemampuan sumber daya manusia dan penggunaan teknologi.
Namun hasil laut tidak hanya ikan saja, masih banyak hasil laut lainnya. Diantaranya : kerang hijau.
Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu komoditas dari kelompok shellfish yang sudah dikenal masyarakat. Kerang hijau adalah salah satu hewan laut yang sudah lama dikenal sebagai sumber protein hewani yang murah, kaya akan asam amino esensial (arginin, leusin, lisin). Kerang hijau mengandung daging sekitar 30% dari berat keseluruhan, yang mengandung mineral-mineral kalsium, fosfat, besi, yodium, dan tembaga. Nama-nama local kerang hijau di Indonesia antara lain kerang hijau atau kijing (Jakarta), kemudi kapal (Riau) dan kedaung (Banten).
Karena permintaan pasar local meningkat, maka usaha budidaya kerang hijau makin diintensifkan, khususnya di pantai utara Pulau Jawa. Namun dalam proses pengelolaan kerang hijau banyak menimbulkan limbah.
Selama ini limbah padat kerang berupa cangkang hanya dimanfaatkan sebagai hiasan dinding, hasil kerajinan, atau bahkan sebagai campuran pakan ternak yang belum mempunyai nilai tambah yang besar karena masih terbatas dari segi harga maupun jumlah produksinya. Sehingga diperlukan upaya dalam pemanfaatan limbah tersebut berupa diversifikasi produk pangan manusia yang diformulasikan dalam bentuk tepung sebagai sumber kalsium alami dan diaplikasikan sebagai bahan fortifikasi dalam suatu produk yang sudah populer dan digemari masyarakat banyak, yaitu kerupuk.
Kerupuk merupakan makanan kudapan yang bersifat kering, ringan, dan porous, yang terbuat dari bahan-bahan yang mengandung pati cukup tinggi. Kerupuk merupakan makanan kudapan yang sangat populer, mudah cara pembuatannya, beragam warna dan rasa, disukai oleh segala lapisan usia dan suku bangsa di Indonesia ini. Namun selama ini produk kerupuk hanya digunakan sebagai makanan kudapan yang bersifat hiburan saja dan nyaris tanpa memperhatikan nilai maupun mutu gizinya. Dengan adanya pemanfaatan cangkang kerang yang dibuat menjadi tepung kalsium dan diaplikasikan sebagai bahan tambahan dalam produk krupuk, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah yang berguna bagi masyarakat, khususnya bagi penderita defisiensi kalsium dan penderita gangguan tulang (osteoporosis). Penderita osteoporosis lebih banyak diderita oleh penduduk Asia yang mempunyai postur tubuh yang kecil, dan di antara penduduk Asia sendiri ternyata kaum perempuan lebih banyak yang terkena osteoporosis dibandingkan kaum prianya. Osteoporosis adalah penyakit rapuh tulang yang ditandai dengan hilangnya kepadatan tulang, sehingga tulang mudah patah dan tidak tahan benturan, walaupun ringan. Asupan kalsium yang tidak mencukupi dan rendahnya penyerapan kalsium oleh tubuh, hanyalah dua dari beberapa faktor resiko bagi timbulnya osteoporosis.

Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia, yaitu 1.5-2% dari bobot tubuh orang dewasa. Bagian tubuh yang terbanyak mengandung kalsium adalah tulang dan gigi, yaitu bersama-sama dengan fosfat membentuk kristal yang tidak larut disebut kalsium hidroksiapatit (3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2). Kebanyakan kalsium di dalam bahan nabati tidak dapat digunakan dengan baik karena berikatan dengan oksalat, fitat yang dapat membentuk garam kalsium yang tidak larut dengan air, sehingga dapat menghambat absorpsi kalsium. Beberapa mineral pada ikan merupakan unsur pokok dari jaringan keras seperti tulang, sirip, dan sisik. Unsur utama dari tulang ikan terdiri dari kalsium, fosfor, dan karbonat; sedangkan yang terdapat dalam jumlah kecil adalah magnesium, sodium, fitat, klorida, sulfat, strontium. Persentase berat kalsium pada ikan secara umum adalah 0.1-1.0%, dimana rasio kalsium dan fosfor adalah 0.7-1.6. Saat tubuh sangat membutuhkan kalsium dan berada pada kondisi optimal, 30-50% kalsium yang dikonsumsi dapat diabsorpsi tubuh, sedangkan pada kondisi normal, penyerapan sebesar 20-30% dianggap baik, dan kadang-kadang penyerapannya hanya mencapai 10%. Pada masa pertumbuhan anak, penyerapan dapat mencapai 75% dari makanan berkalsium. Agar kalsium dapat digunakan tubuh, maka kalsium tersebut harus dapat diserap oleh tubuh terlebih dahulu. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan kalsium, yaitu : (1) keberadaan asam oksalat dan asam fitat, (2) keberadaan serat yang dapat menurunkan waktu transit makanan dalam saluran cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk absorpsi, (3) rendahnya bentuk aktif vitamin D, (4) keseimbangan rasio fosfor dan kalsium, (5) kompleksitas struktur dan konfigurasi protein.

Bahan baku yang paling banyak digunakan untuk pembuatan kerupuk adalah tepung tapioka. Namun banyak juga kerupuk yang menggunakan bahan dasar tepung kedelai, dan tepung sagu. Pembuatan kerupuk meliputi empat tahap proses yaitu pembuatan adonan, pengukusan, pengeringan, dan penggorengan. Mutu kerupuk dapat dinilai dengan menggunakan beberapa parameter, yaitu bersifat sensori, kimiawi, fisik, mapun mikrobiologis.
Tingginya kadar abu pada kerupuk yang difortifikasi oleh tepung cangkang kerang hijau berkorelasi positif dengan tingginya kadar kalsium yang berkontribusi di dalamnya. Analisis bioavailabilitas kalsium dilakukan secara in vitro, dan diperoleh hasil bahwa hanya 12.93% kalsium yang dapat diserap oleh tubuh pada pada kerupuk kontrol (0%) dan 6.09% kalsium yang dapat diserap oleh tubuh pada kerupuk dengan fortifikasi 10% tepung cangkang kerang hijau; walaupun kalsium yang tersedia pada kerupuk kontrol (0%) adalah 4.90 mg/100g dan pada kerupuk dengan 10% fortifikasi cangkang kerang hijau adalah 156.77 mg/100g.

Pada uji kesukaan dengan nilai hedonik berkisar antara 1 (tidak suka) sampai 7 (amat sangat suka), maka nilai rata-rata kesukaan konsumen yang diperoleh pada kerupuk kontrol (0% tepung cangkang kerang hijau) adalah 3.81 (agak suka); sedangkan nilai rata-rata kesukaan konsumen yang diperoleh pada kerupuk yang ditambahkan 10% tepung cangkang kerang hijau adalah 3.62 (agak suka). Sehingga dapat dikatakan bahwa kerupuk yang ditambahkan tepung cangkang kerang hijau pun ternyata tidak mempengaruhi kesukaan konsumen secara signifikan. Maka penggunaan tepung cangkang kerang hijau dapat dijadikan salah satu alternatif untuk perbaikan nilai kalsium pada produk, peningkatan nilai tambah limbah cangkang kerang hijau, serta perbaikan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Namun hal yang patut dianjurkan bila mengkonsumsi kerupuk yang difortifikasi dengan tepung cangkang kerang hijau adalah juga meningkatkan asupan bahan-bahan makanan yang kaya fosfor, sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitas kalsium pada kerupuk yang difortifikasi dengan tepung cangkang kerang hijau.
Mengingat nilai ekonomi limbah cangkang kerang hijau hampir tidak ada, maka pemanfaatan limbah cangkang kerang hijau akan merupakan suatu lahan bisnis baru yang prospektif, di samping turut mensukseskan program pengembangan produk hasil perikanan serta berorientasi pada perluasan penyediaan lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir khususnya dan perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.damandiri.or.id/file/epirospiatiipbbab1.pdf
anekalaut.blogspot.com/…/ikan-untuk-perbaikan-kualitas-anak.html
arali2008.wordpress.com/…/kebutuhan-gizi-embrio-dan-pradigma-baru- program-perbaikan-gizi-masyarakat/
http://www.eduslide.net/app/modules/…/lessonPlay.pop.php?id… -

Yuni Ramawati
Posted on 20th October, 2009

Pengembangan Produk Pangan dari Lidah Buaya
Sebagai Salah Satu Ragam Pangan Fungsional

Oleh:
Yuni Ramawati
100710196 / 40
IKM B 2007

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia.Banyak orang makan hanya sekedar untuk menghilangkan rasa lapar atau memenuhi kebutuhan tubuh untuk mendapat asupan energi.Namun, saat ini juga tidak sedikit orang yang menyadari akan peran makanan sebagai pemenuh kebutuhan gizi. Bahkan yang sangat populer saat ini adalah kemampuan beberapa bahan pangan sebagai pencegah berbagai penyakit degeneratif serta penunda penuaan yang sangat potensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangai makan yang baik dapat menjaga kebugaran tubuh. Hal ini bisa dilihat pada beberapa populasi dunia yang mempunyai pola pangan berbeda menunjukkan kecenderungan usia harapan hidup dan status kesehatan lansia (lanjut usia) yang berbeda pula. Nampaknya bahan pangan tak hanya bermanfaat sebagai sumber zat kimiawi bergizi, tetapi kandungan zat kimiawi nirgizi (non-gizi)nya pun dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh manusia sangat strategis. Peran komponen-komponen bioaktif ini bagi kesehatan tubuh manusia mendapat banyak sorotan ahli pangan dunia dalam dua dasa-warsa terakhir ini. Terutama, sejak para pakar Jepang meluncurkan konsep yang aslinya dikenal sebagai FOSHU (Food for Specified Health Use) dan saat ini dikenal dengan sebutan `Pangan Fungsional` (functional foods).
Pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. dapat dikatakan bahwa pangan fungsional adalah bahan pangan yang berpengaruh positif terhadap kesehatan seseorang, penampilan jasmani dan rohani selain kandungan gizi dan cita-rasa yang dimilikinya. Jadi dalam hal ini keberadaan faktor ´plus´ bagi kesehatan yang diperoleh karena adanya komponen aktif pada bahan pangan tersebut.Sehingga fungsi bahan pangan tidak lagi ada dua tetapi menjadi tiga, yaitu: segi nutrisi, citarasa dan kemampuan fisiologis aktifnya.
Komponen pangan fungsional, dikelompokkan dalam golongan sebagai berikut: Vitamin, mineral, gula alkohol, asam lemak tidak jenuh, peptida dan protein tertentu, asam amino, serat pangan, prebiotik, probiotik, kolin, lesitin dan Inositol, Karnitin dan Skualen, Isoflavon (kedelai), Fitosterol dan Fitostanol, Polifenol (teh), dan komponen fungsional lain yang akan ditetapkan kemudian.

Lidah buaya (Aloe vera ) dikenal sebagai tanaman yang mempunyai bentuk fisik yang elok,tak salah jika banyak orang menanamnya sebagai tanaman hias penyemarak taman. Kini lidah buaya semakin populer, tak hanya manfaat untuk kesehatan maupun kecantikan yang terus diteliti. Gel atau daging dari pelepah daun ternyata juga lezat untuk dikonsumsi.
Lidah buaya memiliki berbagai kandungan zat aktif diantaranya:
a. Lignin, mempunyai kemampuan penyerapan yang tinggi sehingga memudahkan peresapan gel ke dalam kulit atau mukosa
b. Saponin, mempunyai kemampuan membersihkan dan bersifat antiseptik, serta bahan pencuci yang baik
c. Kompleks Anthraguinone sebagai bahan laksatif, penghilang rasa sakit, mengurangi
racun, sebagai anti bakteri, antibiotik
d. Acemannan Sebagai anti virus, anti bakteri, anti jamur, dan dapat menghancurkan sel tumor, serta meningkatkan daya tahan tubuh
e. Enzim bradykinase,karbiksipeptidase, mengurangi inflamasi, anti alergi dan dapat mengurangi rasa sakit
f. Glukomannan,mukopolysakarida, memberikan efek imonomodulasi
g. Tennin, aloctin A Sebagai anti inflamasi
h. Salisilat Menghilangkan rasa sakit, dan anti inflamasi
i. Asam amino Bahan untuk pertumbuhan dan perbaikan serta sebagai sumber energi. Aloe vera menyediakan 20 asam amino dari 22 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh
j. Mineral Memberikan ketahanan tubuh terhadap penyakit, dan berinteraksi dengan Vitamin untuk mengandung fungsi-fungsi tubuh
k. Vitamin A, Bl, B2, B6, B12, C, E, asam folat bahan penting untuk menjalankan fungsi tubuh secara normal dan sehat
Dengan mengetahui berbagai manfaat lidah buaya, produsen makanan dapat tertarik untuk menjadikan lidah buaya sebagai bahan baku untuk menghasilkan aneka jenis makanan.
Produk makanan yang bisa dibuat dari lidah buaya antara lain dodol, selai, dan jeli. Sedangkan produk minuman berupa serbat dan teh lidah buaya. Tanaman ini juga bisa diolah menjadi cendol,untuk bahan campuran es cendol/dawet. Lidah buaya juga memiliki keunggulan komparatif. Yaitu bahan pangan yang memiliki khasiat obat, sehingga menyehatkan konsumen.
Kita sebenarnya agak ketinggalan, di negara tetangga seperti Hongkong, Taiwan dan Cina, mengkonsumsi lidah buaya sudah membudaya. Mereka mengkonsumsi dalam bentuk juice, manisan bahkan di campur dengan teh. Jika kita mau berkreasi, daging lidah buaya sebenarnya lezat untuk dijadikan beragam masakan. Teksturnya kenyal dengan rasanya menyegarkan, sangat cocok untuk campuran salad, tumisan, juice maupun manisan.
Budidaya lidah buaya semakin berkembang di Kalimantan Barat. Produsen makanan nampaknya melihat hal ini sebagai peluang bisnis. Oleh karena itu saat ini banyak dijumpai aneka produk olahan pangan dari bahan lidah buaya.Produk tersebut terdiri dari beraneka variasi makanan dan minuman. Banyak produk yang cukup laris dipasaran dikarenakan saat ini tidak sedikit orang yang tahu manfaat mengonsumsi produk dari lidah buaya. Di Pulau Jawa perkembangan budidaya lidah buaya tidak sepesat di Kalimantan Barat.Produk olahan dari lidah buaya juga masih jarang dijumpai.Produk pangan dari lidah buaya ini merupakan salah satu ragam pangan fungsional. Tanaman obat yang memiliki berbagai manfaat diolah menjadi suatu produk pangan yang dapat dikonsumsi masyarakat. Namun tentu saja teknik pengolahan yang dilakukan harus tepat. Hal tersebut dikarenakan zat yang terkandung dalam lidah buaya mudah menghilang atau berkurang. Salah satu produk olaha lidah buaya yang digemari oleh masyarakat adalah minuman nata de aloe. Lidah buaya dikupas dan dagingnya dipotong dadu dan dicampur dengan gula.Dengan suhu tropis di Indonesia minuman yang menyegarkan dan menyehatkan merupakan salah satu pilihan pangan masyarakat.Minuman yang dapat menghilangkan dahaga sekaligus memberi manfaat kesehatan bagi tubuh. Selain minuman nata de aloe, lidah buaya dapat digunakan untuk membuat teh. Proses pembuatannya relatif sederhana. Bahannya hanya kulit lidah buaya yang berwarna hijau. Jadi, kita bisa menggunakan limbah saat membuat cendol. Dalam hal ini, kulit dicuci bersih, kemudian ditiriskan. Selanjutnya kulit dipotong kecil-kecil (dirajang) dan dijemur di bawah terik matahari hingga kering atau pengeringan dalam oven. Setelah kering akan terbentuk produk serupa teh, yang bisa langsung dikonsumsi seperti teh biasa. Warna seduhan teh lidah buaya tidak begitu berwarna merah bila dibandingkan dengan teh pada umumnya. Banyak produk yang sebenarnya bisa dihasilkan dari bahan baku lidah buaya.Lidah buaya dapat dimanfaatkan dalam masakan. Hal tersebut tergantung inovasi kita bagaimana bisa mengolah tanaman yang bermanfaat yang banyak dibudidayakan di Indonesia tersebut sehingga pangan yang ada di Indonesia semakin beraneka ragam dan tentunya juga memberikan kontribusi bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka:
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK 00.05.52.0685 Tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional
Setiani, Tenny, dkk. Penerapan Penggunaan Daun Lidah Buaya (Aloe vera) untuk pengobatan Stomatitis Aftosa (Sariawan) di Desa Ciburial Kecamatan Cimeyan Kabupaten Bandunghttp://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/padresources/makalah%20lidah%20buaya.pdf .Diakses 14 Oktober 2009.
Wijayanti, Irene.2005. Lidah Buaya Di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah(Agroindustrial Development Prospect of Aloe vera Juice inPurworejo Regency, Central Java) http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/(10)%20soca-surya%20diartatourism%20 impact%20on%20socia(1).pdf. Diakses 14 Oktober 2009

sisilia sherly salisa
Posted on 21st October, 2009

SISILIA SHERLY SALISA
100710214/54
IKM B 2007
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI RUMPON LAUT DALAM
Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.
Definisi rumpon menurut SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97 adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut. Selanjutnya dalam SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/1/97 tentang Pemasangan dan Pemanfaatan rumpon menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis rumpon,yaitu:
1. Rumpon Perairan Dasar
adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut
2. Rumpon Perairan Dangkal
adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan padaperairan laut dengan kedalaman sampai dengan 200 meter.
3. Rumpon Perairan Dalam
adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman di atas 200 meter.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP-RI) bersama beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) saat ini sedang dan akan terus mengembangkan program rumponisasi di seluruh perairan Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk lebih mengefisiensikan usaha nelayan kecil, dengan cara menghemat biaya operasional penangkapan ikan. Harapan pemerintah terhadap penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan dapat memberikan keuntungan kepada nelayan, seperti nelayan tidak perlu melakukan penangkapan ikan dengan cara mengejar (mengikuti) kemana ikan bergerak, dengan menciptakan daerah penangkapan ikan buatan nelayan cukup menangkap ikan di sekitar rumpon, memberikan kepastian dalam menentukan daerah penangkapan, mendekatkan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan nelayan, mampu menekan biaya operasional penggunaan BBM (solar) hingga sebesar 30%, dan mampu meningkatkan produksi penangkapan ikan hingga mencapai 300%.
• Sejarah Rumpon (FAD) di Indonesia
Rumpon telah lama dikenal di Indonesia, terutama di daerah Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai ‘rompong mandar”. Didaerah Indonesia Bagian Timur lain seperti di Sorong, Fakfak. Maluku Utara, Teluk Tomini, Laut Sulawesi, Sulawesi Tenggara berkembang dengan alat tangkap pancing huhate (pole and line) dan pancing ulur (handline) rumpon jenis ini biasanya dipasang di perairan laut dalam untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar. Sedangkan rumpon laut dangkal berkembang penggunaannya di perairan Selat Malaka dan Laut Jawa dengan alat tangkap purse seine mini.
Teknologi rumpon laut dalam baru dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 1985 untuk penangkapan ikan pelagis besar. Metode pemasangan dan dua jenis rumpon tersebut hampir sama dan perbedaannya hanya pada daerah pemasangan serta bahan yang digunakan. Pada rumpon laut dangkal digunakan dari alam seperti bambu, rotan. daun kelapa dan batu kali.Sebaliknya pada rumpon laut dalam sebagian besar dari bahan seperti bahan sintetis, plat besi, ban bekas, tali baja, tali nylon dan semen
Penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan belum menyebar di seluruh wilayah perairan Indonesia terutama untuk rumpon laut dalam. Penggunaan rumpon laut dalam di wilayah Indonesia Bagian Barat atau Samudera Indonesia dapat dikatakan belum ada.
• Konstruksi dan Teknis Pemasangan Rumpon
Secara garis besar rumpon menurut Preston (1982) adalah tersusun dan tiga bagian utama yang terdiri dan attraktor, mooring line dan pemberat. Konstruksi rumpon, terdiri dan komponen-komponen yang sama bila dilihat berdasarkan fungsinya seperti pelampung, alat pengumpul ikan, tali-temali dan pemberat. tetapi untuk rumpon-rumpon yang dipergunakan oleh nelayan diberbagai lokasi di Indonesia mempunyai perbedaan bila dilihat dan material masing-masing komponen konstruksi rumpon tersebut.
Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa persyaratan umum komponen komponen dan konstruksi rumpon adalah sebagai berikut:
1. Pelampung,
- Mempunyai kemampuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung di atas air 1/3 bagian)
- Konstruksi cukup kuat
- Tahan terhadap gelombang dan air
- Mudah dikenali dari jarak jauh
- Bahan pembuatnya mudah didapat;

2. Atraktor atau pemikat,
- Mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan
-Tahan lama
- Mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertikal dengan arah ke bawah
-Melindungi ikan-ikan kecil
-Terbuat dan bahan yang kuat, tahan lama dan murah;

3. Tali-temali,
- Terbuat dan bahan yang kuat dan tidak mudah busuk
- Harganya relatif murah mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-benda lainnya dan terhadap arus
- Tidak bersimpul (less knot);

4. Pemberat,
- Bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh
- Massa jenisnya besar, permukaannva tidak licin dan dapat mencengkeram.

Daya tahan rumpon yang dipasang di laut sangat bervariasi tergantung jenis material dari masing-masing komponen serta kondisi dan kedalaman perairan dimana rumpon tersebut dipasang. Tim Pengkajian Rumpon IPB (1987) mengemukakan bahwa berdasarkan hasil evaluasi rumpon yang dipasang PT. Usaha Mina di Perairan Utara Irian Jaya dan di perairan Maluku utara dapat disimpulkan bahwa rumpon yang dipasang pada kedaan 600-1000 m dapat bertahan antara 10-17 bulan.
Menurut Atapattu (1991). penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan laju tangkap dengan pengurangan biaya produksi, mengurangi waktu untuk mencari gerombolan ikan sehingga mengurangi biaya operasi kapal, meningkatkan efisiensi penangkapan serta memudahkan operasi penangkapan ikan yang berkumpul di sekitar rumpon.
Dalam pemasangannya diperlukan adanya informasi tentang kedalaman, kecerahan air. arus. suhu, salinitas dan keadaan topografi dan dasar perairan dimana rumpon akan dipasang. Informasi dasar tersebut sangat diperlukan untuk diketahui agar dalam pemasangan rumpon benar-benar tepat pada perairan yang diharapkan dan menghindari rumpon putus. Pemasangan rumpon harus pula memperhatikan aspek biologis dan ikan yang menjadi sasaran penangkapan. Hal ini bertujuan agar rumpon yang dipasang benar-benar pada perairan yang subur dan banyak ikannya.
• Tingkah Laku Ikan Di Sekitar Rumpon
Asikin (1985) mengemukakan bahwa keberadaan ikan di sekitar rumpon karena berbagai sebab, antara lain:
1. Rumpon sebagai tempat bersembunyi di bawah bayang-bayang daun rumpon bagi beberapa jenis ikan tertentu;
2. Rumpon sebagai tempat berpijah bagi beberapa jenis ikan tertentu;
3. Rumpon itu sebagai tempat berlindung bagi beberapa jenis ikan yang mempunyai sifat fototaksis negatif.
Samples dan Sproul (1985) mengemukakan teori tertariknya ikan yang berada di sekitar rumpon disebabkan karena:
1. Rumpon sebagai tempat berteduh (shading place) bagi beberapa jenis ikan tertentu;
2. Rumpon sebagai tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan-ikan tertentu;
3. Rumpon sebagai substrat untuk meletakkan telurnya bagi ikan-ikan tertentu;
4. Rumpon sebagai tempat berlindung (shelter) dan predator bagi ikan-ikan tertentu
5. Rumpon sebagai tempat sebagai titik acuan navigasi (meeting point) bagi ikan-ikan tertentu yang beruaya.
Di samping kelima teori di atas Gooding dan Magnuson (1967) melaporkan bahwa rumpon merupakan tempat stasiun pembersih (cleaning place) bagi ikan ikan tertentu. Dikemukakan bahwa dolphin dewasa umumnya akan mendekati bagian bawah floating objects dan menggesekkan badannya. Breder (1949) juga mendukung hal ini dimana kadang-kadang dolphin mendekati ikan lain untuk membersihkan badannya. Tingkah laku ini sesuai dengan tingkah laku dan famili coryphaenids yang memindahkan parasit atau menghilangkan iritasi kulit dengan cara menggesekkannya. Freon dan Dagom (2000) menambahkan teori tentang rumpon sebagai tempat berasosiasi (association place) bagi jenis ikan-ikan tertentu.
Rumpon yang dipasang. pada suatu perairan akan dimanfaatkan oleh kelompok ikan tertentu sebagai tempat berlindung dan serangan predator. Kelompok jenis ini akan berenang-renang dengan mengusahakan agar posisi tubuh selalu membelakangi bangunan rumpon. Selain sebagai tempat berlindung, rumpon diibaratkan sebagai pohon yang tumbuh di padang pasir yang merupakan wadah pemikat kelompok ikan (Subani, 1972).
Ikan berkumpul di sekitar rumpon untuk mencari makan. Menurut Soemarto (1962) dalam area rumpon terdapat plankton yang merupakan makanan ikan yang lebih banyak dibandingkan di luar rumpon. Diterangkan juga oleh Soemarto (1962) bahwa perairan yang banyak planktonnya akan menarik ikan untuk mendekat dan memakannya.

DAFTAR PUSTAKA
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/07/01215027/penggunaan.rumpon.bisa.menghemat.bbm
http://jurnalbesuki.com/Rumpon-Dasar-Segera-Dipasang-di-Laut-Puger.html

Febriana Nuraningtyas
Posted on 21st October, 2009

BUDIDAYA PEMULIHAN dan PASCA PANEN PISANG PLANTAI
Pisang plantain dan pisang berpati adalah makanan pokok penting lebih dari 50 juta penduduk dibanyak negara tropika keduanya merupakan salah satu bahan pangan sumber kalori yang dihasilkan dengan biaya sangat murah, dan umumnya tersedia sepanjang tahun. Kecocokan pisang plantain ditanam secara tumpang sari sangat menguntungkan sehingga tanaman tersebut banyak digunakan dalam pertanian subsisten.
Perbedaan antara pisang plantain dan pisang buah cukup jelas, buah pisang plantain tidak dapat dimakan jika tidak direbus. Jika dimakan mentah rasa sepatnya amat kuat dan awet. Bahkan setelah dimasak pun daging buah pisang ini biasanya tetap keras. Pisang-buah yang matang terasa manis dan biasa dimakan tanpa dimasak dahulu. Perbedaan komposisi utama pisang plantain dengan pisang-buah adalah jumlah dan laju perubahan pati yang tertimbun gula ketika matang. Pisang plantain dimakan ketika baru sebagian kecil pati berubah menjadi gula sedangkan pisang buah dimakan ketika perubahan tersebut mulai lanjut. Sebagai perbandingan, total kandungan padatan pisang buah matang adalah sekitar 80% gula dan kurang dari 5% pati, sedangkan pisang plantain mengandung sekitar 66% gula dan 17 % pati pisang buah ketika belum matang juga berpati dan dapat digunakan sebagai sayuran rebus, sangat mirip dengan pisang plaintain tetapi biasanya ditunggu hingga matang dan karena itu memungkinkan perubahan pati menjadi gula.
Secara taksonomi family Musacae terdiri atas dua genus, Ensete dan Musa, karena pada mulanya secara terus menerus diberikan tata nama yang tidak tepat, terjadi kebinggungan dalam taksonominya. Ensete yang meliputi 6 – 7 spesies berasala dari asia, tetapi bentukn liarnya juga telah ada di Afrika selama berabad- abad. Ensete ventricosum (sinonim E. Edule dan Musa Edule) umumnya dikenal sebagai pisang Abissinia dan ditanam dalam jumlah terbatas di Ethiopia. Walapun seluruh bagian tanaman ini dapat dimakan, jaringan kormus dan batabg terdalam merupakan bagian utama yang digunakan sebagai bahan pangan.
Secara Botani pisang plaintain adalah tanaman herbal monokotil tahunan yang berukuran besar yang ditanam terutama untuk diambil buah partenocarpinya yang berpati. Akar awal tanaman yang berasal dari batang liar ternyata berumur pendek, dan segera digantikan oleh banyak akar adventif yang terbentuk dari bagian dasar dan samping jaringan dasar (kormus) bawah tanah. Karena kormus terus membesar, akar adventif dan akar samping terus bertambah dengan demikian, biasanya terdapat beberapa ratus akar adventif. Sebagian terbesar akar ini berada pada kedalaman kurang dari 30 cm. akar ini relative kecil dan ramping, walaupun beberapa jenis pisang memiliki akar lateral lier- tikar yang menyebar hingga beberapa meter, yang meningkatkan serapan hara dan tegakan tanaman. Akar baaru terus menerus terbentuk mengantikan akar yang mati, dan meningkatkan jumlah total akar.
Kormus pisang ada batang didalam tanah yang memendek apical dengan ruas batang pendek- pendek. Bagian apical kormus mengandung jaringan meristem yang akan menghasilkan daun, akar dan batang liar. Setiap daun terdiri atas pelepah, tangkai daun , tulang daun dan lembar daun.
Perbungaan muncul ketika meristem apical memanjang dan menerobos keatas melalui batang palsu. Perbungaan memiliki bunga jantan dan betina pada tangkai pandan layang yang melalui dan ditopang oleh batang palsu. Bunga terbentuk sebagai tandan berbuku buku, buku-buku pangkal menghasilkan bunga betina. Bunga betina memiliki bakal buah yang memanjang dengan tiga daun buah yang menyatu. Setelah beberapa sisir dassar bunga betina mulai terbentuk. Buku buku perbungaan bagian tengah membentuk bunga hemafrodit dan bunga jantanterbentuk pada buku buku ujung. Pada ujung perbungaan tumbuh tunas apical bunga jantan yang pada banyak kultivar dapat terus menghasilkan bunga jantan hingga tandan siap dipanen
Perbanyakan pisang plantain dilakukan hanya secara vegetative. Bahan perbanyakan yang biasa digunakan adalah batang liar (pedang, anakan, tunas pengintip, dan tunas air) yang tumbuh dari tunas pada kormus sebagai batang.
Budidaya plantain terbaik di dataran rendah daerah tropika basah tetapi tanaman dapat ditanam diberbagai lokasi bebas es. Pertumbuhan dapat optimum antara suhu 27-28 C. Suhu yang jauh lebih rendah dari 20 C dan lebih tinggi dari 30 C dapat menghambat pertumbuhan. Tanaman ini memerlukan intensitas cahaya tinggiuntuk pertumbuhan maksimum.
Tanah terbaik untuk produksi adalah tanah berliat yang dalam dan berdrainase baik, subur, dan memiliki kandungan bahan organic yang sangat mampu menahan air. Tanah yang agak miring disisi bukit sering dipilih karena memiliki drainase baik.Untuk perkembangan akar yang optimum tanaman ini lebih menyukai tanah berstekstur ringan, dan yang memiliki kandungan bahan organic tinggi.
Dibanyak wilayah tropika dan kususnya bagi petani subsisten, hara sebagian besar tergantung bergantung pada keberadaan bahan organic tanah, hara tanaman sebagian besar bergantung pada keberadaan bahan organic tanah . Karena pisang plantain memerlukan tanh yang relative baik dengan bahan organic yang cukup, pada tanah miskin hara pemupukan harus pada dosis tinggi dan sering ditambahkan. Mulsa diketahui dapat meningkatkan hasil secara nyata. Penggunaan mulsa dapat menghambat pertumbuhan gulma,mencegah hanyutnya tanah dan hara, menstabilkan suhu tanah, dan mengurangi kehilangan air melalui evaporasi dari permukaan tanah.
Dalam budidaya subsisten, pertanaman lebihn sering memiliki umur produktif pendek, terutama Karena pemeliharaan yang minimum. Di beberapa wilayah, pertanaman mengikuti pola semak-bera, yaitu pisang plantain ditanam untuk beberapa tahun, dan kemudian lahan dibiarkan sebelum digunakan untuk tanaman lain. Pergiliran tanaman, khususnya dengan tanaman yang mampu memperbaiki sifat tanah dan hara. Penanaman tumpang sari digunakan secara luas oleh petani komersial. Ubi kayu, uwi,jagung,talas-talasan dan kacang-kacangan adalah tanaman yang umum di gunakan dalam tumpang sari dengan pisang plantain.
Membuang batang liar adalah praktik budidaya yang umum di lakukan untuk mengurangi persaingan dengan tanaman induk dan untuk memelihara kepatan tanaman yang diinginkam, disamping untuk memperoleh sumber bahan perbanyakan tanaman. Pemangkasan daun dilakuka untuk membuang daun yang diserang penyakit, ataun untuk muencegah daun menggores buah yang sedang berkembang. Jantung ( tunas bunga jantan ) dapat dipotong untuk mengurangi bobot tandan yang sedang tumbuh dan/atau dipanen untuk digunakan sebagai sayuran.
Pengecekan secara visual mengenai kepadatan buah dan sudut sudut bentuk potongan/melintang buah biasanya digunakan sebagai cara untuk menentukan saat panen. Kulit buah muda agak membentuk sudut, yang akan menjadi lebih melingkar ketika buah sudah matang, Dalam panen pisang plantain, pekerja biasanya melakukan sekali tebasan pada batang palsuuntuk memudahkan pemanenan Pada produksi skala komersial, tandan yang dipanen dipotong menjadi sisir dan dikemas dilapangan. Secara umum hasil pisang plantain sangat beragam berkisar mulai kurang dari 5 ton/ha pada petanian subsisten hingga 50 ton/ha pada budidaya yang intensif. Hasil pisang plantain juga beragam diantara tipe klon.
Ketidakseragaman perkembangan buah dan kemampuan untuk memperkirakan kematangan tanaman yang tepat adalah variabel panen yang penting. Buah dipanen pada tahap pra-klimakterik, dengan pematangan selanjutnya berlangsung selama tahap pasca panen selama pematangan, karbohidrat berangsung berubah menjadi gula tereduksi dan gula tak tereduksi. Masalah utama panen dan pascapanen sebagian besar berkaitan dengan kerentanan buah terhadap kerusakan fisik dan busuk akibat cendawan patogen.
Pisang plantain yang baru dipanen dapat didinginkan pada suhu 130C untuk menunda pematangan alami.Umur simpananya dapat diperpanjang jika buahnya dikemas dalam polietilen tertutup, lebih disukai jika ditambahkan bahan penyerap etilen. Berbagai bahan pelapis secara efektif dapat mencegah pemasakan buah dan hilangnya lengas, tapi tidak digunakan secara luas karena pisang plantain bernilai ekonomi rendah.
Karena peka terhadap suhu dingin, buah sebaiknya disimpan dalam suhu kurang dari 120C. penyimpanan bertekanan rendah (hipobarik) pada tekanan setengah atmosfer juga dapat memperpanjang umur simpan. Pada suhu lebih dari 25-300C, proporsi pati yang berubah menjadi gula meningkat, jumlahnya beragam menurut klon.

Rubatzky, Vincent., dan Mas yamaguchi. 1998. Sayuran dunia I. ITB Bandung. Bandung
FEBRIANA NURANINGTYAS
100710074/43
IKM A 2007

Boby Aldino
Posted on 21st October, 2009

IMPLEMENTASI SRI (System of Rice Intensification) DI INDONESIA
Berbagai upaya mendukung pembangunan pertanian telah banyak dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga non pemerintah. Begitu pula halnya dengan berbagai inovasi telah berkembang dan dihasilkan untuk mendukung perubahan ke arah yang lebih baik dalam proses pembangunan petanian. Beberapa upaya konkrit melalui program-program pertanian telah berhasil diimplementasikan dan diterima oleh sebagian petani di wilayah. Tetapi juga tidak jarang terjadi introduksi inovasi belum dapat langsung diterapkan oleh petani bahkan masih perlu waktu yang cukup lama agar inovasi tersebut dapat diadopsi dan menjadi bagian dari kebutuhan petani sebagai pengguna.
System of rice intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Pengetian SRI di Indonesia adalah merupakan usahatani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanh, tanaman, dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal serta berbasis pada kaidah ramah lingkungan (Deptan, 2007 dalam Simarmata, 2007). Dengan kata lain SRI adalah model tanam padi yang mengutamakan perakaran yang berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air, dengan tetap menjaga produktivitas dan mengedepankan nilai ekologis. Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Di Indonesia gagasan SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, serta Papua. Secara umum, dalam konsep SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, tidak diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua potensi tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya. Hal ini karena SRI menerapkan konsep sinergi, dimana semua komponen teknologi SRI berinteraksi secara positif dan saling menunjang sehingga hasilnya secara keseluruhan lebih banyak daripada jumlah masing-masing bagian. Dalam pelaksanaannya, sangat ditekankan bahwa SRI hanya akan berhasil jika semua komponen teknologi dilaksanakan secara bersamaan (Berkelaar, 2001; Kuswara, 2003 dan Wardana et al., 2005).
Dalam beberapa forum diskusi, pengembangan SRI masih menimbulkan debat dan polemik teknik yang kadangkala bersifat kontroversi. Dalam kaitan ini, International Rice Research Insitute (IRRI) sebagai Lembaga Penelitian Padi Internasional yang lebih berkompeten dalam inovasi teknologi padi tidak begitu antusias dalam mengembangkan SRI, bahkan IRRI bersama-sama dengan lembaga penelitian nasional di berbagai negara termasuk di Indonesia mengembangkan model dan pendekatan Integrated Crop Management (ICM) atau Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Perbedaan dalam perhitungan hasil produksi, nampaknya menjadi polemik yang paling utama disamping aspek teknis usahatani padi yang diterapkan pada SRI tersebut. Terlepas dari polemik teknis yang berlangsung, diakui atau tidak penerapan SRI di Indonesia terus berkembang dan dipraktekkan para petani di beberapa kabupaten di Pulau Jawa, Sumatera, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi, serta di beberapa lokasi lainnya di tanah air, sekalipun dengan pengistilahan yang berbeda. Penerapan metode SRI sebelumnya diberikan melalui sekolah lapang, sehingga teknologi SRI sangat efektif untuk diserap/diadopsi petani. Selama ini motivator SRI, disamping memperoleh informasi SRI dari internet dan menyebarkannya kepada Kelompok Studi Petani (KSP) melalui media CD juga melalui kegiatan sekolah lapang yang dilakukan di beberapa sekolah lapang partisipatif yang ada. Sekolah lapang telah berdampak kuat pada pengembangan dinamika petani serta kelompoknya. Petani binaan SRI memandang sekolah lapang ysng dilskuksn n oleh Field Foundation sangatlah bermanfaat. Bahkan dengan cara ini, telah mendorong para petani agar berorientasi pada pasar. Sekolah lapang juga efektif untuk mengubah kebiasaan berdasarkan rutinitas menjadi kebiasaan yang produktif dan kreatif serta pola pikir yang mengarah ke pertanian ramah lingkungan.
Peluang pengembangan pola budidaya padi melalui SRI berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, bahwa penerapan pola pertanian dengan pola SRI mendapat respon dari para petani yang tergabung dalam Kelompok Studi Petani (KSP) yang kemudian membentuk komunitas Budidaya Padi Ekologis (BPE) dengan latar belakang sebagai alumni SLPHT. Pola pembelajaran partisipatif yang diterapkan secara simultan antara metode pembelajaran dinamika kelompok dengan metode aplikasi melalui sekolah lapang oleh petani, telah mendorong minat petani lain untuk mengetahui lebih banyak tentang komponen-komponen yang diterapkan melalui metode SRI ini. Peluang pengembangan SRI juga mendapatkan respon positif dari Kepala Negara maupun Menteri Pertanian. Upaya pengembangan SRI secara luas, diharapkan mendorong peningkatan produksi padi, serta peningkatan kesejahteraan petani tercapai. Masalah ketahanan pangan dapat ditanggulangi tanpa meruska lingkungan (Setjen Deptan, 2007). Menurut Menteri Pertanian, metode SRI dapat diterapkan di Indonesia, karena persoalam lahan yang lama kelamaan kian menyempit akibat dari alih fungsi. Selain itu, terdapat efisiensi penggunaan input benih dan air serta mendorong penggunaan pupuk organik. Lebih lanjut menurut Menteri Pertanian, paling tidak, ada empat alasan utama perlunya dikembangkan SRI, yaitu : pertama, metode SRI sudah terbukti mampu menghasilkan produktifitas padi yang tinggi diatas rata-rata nasional yang pada gilirannya akan memberikan pendapatan yang cukup tinggi bagi petani. Kedua, metode SRI juga telah terbukti dapat menghemat penggunaan air mencapai 40 persen sehingga dapat mengurangi konflik sosial pada saat situasi krisis air. Disamping itu, terjadi penghematan dalam penggunaan bibit sampai 80 persen, sehingga dapat mengurangi biaya usahatani. Ketiga, metode SRI mapu memulihkan kesuburan tanah dan mampu memelihara keberlanjutan produktifitas lahan. Keempat, metode SRI dikenalramah lingkungan, karena beberapa hal seperti kemampuan memitigasi terjadinya polusi asap akibat berkurangnya pembakaran jerami, sehingga mampu menekan emisi gas CO2, dan emisi gas methan, menekan gas pembusukan, daur ulang limbah, serta mencegah pencemaran lingkungan akibat kontaminasi. SRI juga menghasilkan produk beras yang cukup sehat sebagai beras organik (Bustanulm, 2007).
Prospek pengembangan SRI secara makro kedepan lebih kepada tuntutan kebutuhan manusia akan kesediaan lahan, air dan lingkungan serta bahan pangan bebas kimia. Beras organik sebagai produk uasahatani padi dengan pola SRI telah mendapatkan harga pasar yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jenis beras lainnya, sekalipun jumlah konsumennya masih terbatas. Hal ini diharapkan dapat mendorong pada upaya penerapan SRI di beberapa lokasi pertanian di wilayah Indonesia. Dalam kaitan dengan pengembangan SRI secara luas di seluruh Indonesia, peluang pertumbuhan kelembagaan jasa tanam SRI, jasa usaha pengolahan sampah dan kompos menjadi pupuk organik, kelembagaan pemasaran beras organik serta kelembagaan lain sebagai dampak dari penerapan pola SRI skala luas akan membuka peluang usaha yang cukup besar. Peluang investasi pemeliharaan ternak pada rumah tangga petani di beberapa lokasi penerapan SRI skala luas juga didorong oleh kebutuhan pupuk kandang untuk bahan pupuk organik. Adanya pola kerjasama pembinaan yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan melalui kelembagaan informal, khususnya LSM akan menjadi dasar terbentuknya KSP-KSP SRI baru yang kemudian mengimplementasikan pola pertanian SRI diwilayahnya masing-masing, sehingga penyebaran pola SRI menjadi lebih cepat melalui motivator alumni pelatihan tersebut. Peluang penyebaran SRI juga didukung oleh penyebaran informasi tentang keberhasilan peningkatan produksi dan produktifitas dibandingkan dengan cara konvensional pada berbagai media dan situs internet melalui web SRI, sehingga mendorong percepatan informasi. Berkembangnya isu pemanasan global, kerusakan lingkungan yang gencar disuarakan oleh berbagai lembaga internasional, telah menempatkan pola pendekatan SRI diakui sebagai upaya mendukung kearah meminimalisir kondisi tersebut. Permasalahan sampah perkotaan yang selama ini juga dihadapi oleh kota-kota besar dapat difasilitasi dengan pembuatan sampah organik sehingga menjadi bahan pembuatan pupuk irganik yang dibutuhkan pada pola SRI secara skala luas.
Kendala dalam pengembangan budidaya padi model SRI antara lain : ketersediaan pupuk kandang untuk kompos yang masih kurang, distribusi air irigasi yang tidak merata karena kondisi sumber air dan saluran irigasi tidak memadai, serangan hama keong emas dan belalang pada tanaman muda, dan pemasaran hasil padi organik yang masih terbatas. Gagasan dan rencana pengembangan usahatani model SRI secara massal juga harus mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya terhadap pertumbuhan sektor ekonomi lain secara keseluruhan, mengingat kegiatan usahatani padi juga sangat terkait dengan berbagai kegiatan pendukung baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga diperlukan upaya yang bijak dari semua pihak yang terkait di dalamnya agar tujuan pencapaian peningkatan kesejahteraan petani sebagai perilaku utama kegiatan usahatani dapat terwujud.

Tinjauan Pustaka
lecturedotbrawijayadotacdotid/tatiek/files/2009/08/sri-2dotpdf
Boby Aldino
100710261 / 92
IKM B’07

NORMAN ARIAS
Posted on 21st October, 2009

Pemanfaatan Limbah Ikan untuk Pupuk Organik

Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas dan hanya 1/5 saja merupakan daratan. Dengan kondisi yang lebih banyak perairannya tinggi maka akan muncul potensi yang besar dalam bidang perikanan. Potensi yang besar itu belum dapat dioptimalkan dengan maksimal sehingga belum menjadi komoditas yang dapat diandalkan oleh pemerintah dan masyarakat sebagai sumber ekonomi yang menjanjikan.
Sektor perikanan belum menjadi ekomis penting bagi sumber ekonomi Indonesia lebih dikarenakan penanganan potensi yang kurang tepat baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Penanganan ikan yang kurang tepat akan menjadikan ikan menjadi barang sampah yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Ini terjadi karena ikan merupakan salah satu jenis produk perikanan yang mudah mengalami kerusakan (most perishable food). Dari data yang dapat dikumpulkan, setiap musim masih terdapat antara 25 - 30% hasil tangkapan Ikan Laut yang akhirnya harus menjadi ikan sisa atau ikan buangan yang disebabkan karena berbagai hal antara lain Keterbatasan pengetahuan dan sarana para nelayan di dalam cara pengolahan ikan. Misalnya, hasil tangkapan tersebut masih terbatas sebagai produk untuk dipasarkan langsung (ikan segar), atau diolah menjadi ikan asin, pindang, terasi serta hasil-hasil olahannya. Selan itu juga tertangkapnya jenis-jenis ikan lain yang kurang berharga ataupun sama sekali belum mempunyai nilai di pasaran, yang akibatnya ikan tersebut harus dibuang kembali.
Untuk memaksimalkan potensi perikanan dan banyaknya ikan yang terbuang sia-sia tanpa ada nilai ekonimisnya maka perlu dilakukan suatu terobosan baru dalam memanfaatkan setiap bagaian dalam bidang perikanan salah satunya adalah dengan memanfaatkan limbah ikan atau mungkin ikan-ikan yang tidak ekomomis penting dan ikan yang terbuang sia-sia. Pemanfaatan ini, salah satunya adalah menjadikan pupuk organik.
Untuk itulah, ikan sisa atau ikan-ikan yang terbuang itu ternyata masih dapat dimanfaatkan, yaitu sebagai bahan baku pupuk organik lengkap, yakni pupuk dimana kandungan unsur-unsur makronya terbatas (tidak mencukupi untuk kebutuhan tanaman) dan harus dilengkapi dengan penambahan unsur lainnya sehingga kandungan N (nitrogen)-P (fosfor)-K (kalium)-nya sesuai yang dibutuhkan. Sebagai mana kita ketahui, untuk dapat tumbuh dan berkembang, tanaman perlu nutrisi secara lengkap dan bentuk unsur hara makro yang terdiri dari makro primer seperti N-P-K, serta makro sekunder seperti Ca (kalsium), Mg (magnesium), dan S (belerang). Sedangkan unsur hara mikro terdiri dari Fe (besi), Zn (seng), Cu (tembaga), Mn (mangan), Cl (khlor), Bo (borium), Mo (molubdenum)dsb.
Kelompok unsur tersebut sangat membutuhkan dalam jumlah dan susunan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara baik serta hasil sesuai yang diharapkan. Namun, tanah ternyata tidak dapat menyediakan jumlah unsur-unsur tersebut sesuai kebutuhan. Karenanya, agar tanaman tumbuh dan berkembang secara subur, petani harus menambahkan sumber tersebut dalam bentuk pupuk.
Pupuk organik lengkap yang dibuat dari bahan ikan ini bukan barang baru di bidang pertanian, khususnya pertanian buahan-buahan. Ini karena nilai organiknya, baik organik-N, organik-P, dan organik-K yang terkandung didalam tubuh ikan mempunyai kelebihan kalau dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya. Juga bahwa di dalam ikan masih terkandung unsur-unsur lainnya, khususnya unsur mikro.
Bahan baku ikan untuk memproduksi pupuk organik sangat mempengaruhi kandungan lemaknya. Dengan kandungan lemak yang tinggi, kemungkinan besar bahwa prosesnya berbeda dengan kandungan lemaknya. Dengan kandungan lemak yang tinggi, kemungkinan besar bahwa prosesnya akan lambat atau tidak sempurna. Berbeda dengan kandungan lemak yang sedikit, maka hasil pupuknya akan termasuk yang terbaik.
Kandungan lemak berpengaruh didalam proses pembuatan pupuk organik, karena prosesnya berjalan dalam dua tahap, yaitu proses fisik melalui penggilingan bahan-bahan yang dipergunakan, dan proses biologis yaitu lanjutan proses yang dikenal dengan fermentasi non-alkoholik atau proses ensiling.
Pupuk organik lengkap yang terbuat dari bahan baku ikan memiliki kualitas sebagai pupuk yang lebih dibandingkan dengan pupuk organik lain, apalagi kalau dibandingkan dengan pupuk kompos, pupuk kandang, ataupun pupuk hijau. di Indonesia saat ini telah banyak beredar pupuk organik yang terbuat dari ikan dengan aneka merk, baik produksi dalam negeri maupun impor. Sayangnya, yang masih memenuhi persyaratan masih terbatas. FAO telah menetapkan kriteria dasar untuk pupuk jenis ini, yakni: kandungan unsur makro harus mempunyai nilai minimal N (12%), P (8%), dan K (6%) disamping kandungan unsur mikro seperti Ca, Fe, Mg, Cu, Zn, Mn, dan sebagainya.
Masih banyak hal yang perlu dikaji lagi mengenai pemanfaatan limbah perikanan untuk produksi pupuk organik. Ini karena masih banyak hal yang menjadikan kendala dalam pembuatan pupuk organik. Kandungan protein dan lemak yang tinggi akan menghambat pertumbuhan dari tanaman pangan tersebut. Perlu adanya terobosan baru untuk mengurangi kandungan lemak dan protein tersebut sebelum diterapkan menjadi pupuk organik atau terdapat tanaman pangan yang cocok dengan pupuk organik dari limbah ikan ini. Tapi melihat peluang ini, pengembangan mengenai pupuk organik ini membuka jalan untuk mengurangi penggunaan pupuk buatan sehingga ke depan akan lebih bisa menjaga kesuburan tanah dengan mineral-mineral tanah yang dapat memenuhi kebutuhan tanaman pangan. Apalagi di dukung dengan kebijakan pemerintah yang akan menjadikan Pertanian sebagai salah satu tonggak penopan ekonomi negara

DAFTAR PUSTAKA :

http://agrobinautama.blogspot.com/2009/03/pemanfaatan-limbah-ikan-untuk-pupuk.html

NAMA : NORMAN ARIAS
NIM : 100710021 / 16
IKM A ‘07

Kino Adi Sugiarto
Posted on 21st October, 2009

Kino adi S
IKM A 07
100710054/34

Daftar Pustaka
Pengembangan produk olahan ikan dan hasil laut untuk perbaikan gizi:

agos. Pdf file. http://www.aagos.ristek.go.id/perikanan/Ikan%20Laut/pembenihan_kerapu_macan02.pdf

anonim. Budidaya perikanan pada tiap jenis ikan.http://hobiikan.blogspot.com/2009/01/teknik-pemijahan-lele-sangkuriang.html

anonim. Teknologi tepat guna pada budidaya perikanan. http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3d4

anonim. Program utama. http://rca-prpb.com/private/program.htm

Elok Dyah Messwati. Dari Biopolimer sampai Vaksin Ikan Kerapu http://202.146.5.33/ver1/Iptek/0710/25/073327.htm

Haryo Dewa Brata
Posted on 21st October, 2009

Budaya Makan Ikan
Untuk
Meningkatkan Kualitas Gizi Di Indonesia

Pangan merupakan salah satu factor pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengolahan dan pengawetan bahan makanan memiliki interelasi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka tidak heran jika semua Negara baik Negara yang maju ataupun Negara berkembang selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman, dan bergizi.
Seiring dengan kemajuan teknolgi, manusia terus – menerus melakukan perubahan – perubahan dalam pengolahan makanan. Hal ini wajar sebab dengan berkembangnya teknologi kehidupan manusia semakin hari semakin sibuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk melakukan pengolahan bahan makanan yang hanya mengandalkan bahan mentah yang kemudian diolah di dapur.
Dewasa ini manusia mulai belajar mengawetkan bahan makanan agar mampu digunakan atau disimpan dalam waktu yang relative lama. Krisis ekonomi berkelanjutan berdampak buruk bagi pengembangan sumber daya bangsa Indonesia. Unicef 1999 menyebutkan, tingkat inflasi di Indonesia mencapai 80 persen, pengangguran nyata 17 juta orang, dan tingkat kemiskinan 174 juta orang. Semua ini berdampak pada kekurangan pangan, yang menurunkan kualitas kesehatan dan status gizi masyarakat.
Hingga saat ini masalah gizi utama di Indonesia ada empat, yaitu kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, kekurangan yodium dan kurang vitamin A. KEP merupakan masalah gizi yang paling banyak terjadi, terbukti dengan ditemukannya anak balita (usia 1-5 tahun) penderita KEP berat (marasmus dan kwashiorkor).
Kwashiorkor disebabkan oleh kekurangan protein dan diderita bayi usia enam bulan dan anak balita. Sedang penyebab marasmus adalah kekurangan kalori dan energi atau gejala kekurangan pangan secara keseluruhan (kelaparan).
KEP ditemukan pada 35,4 persen anak balita (sekitar 8,5 juta jiwa) tahun 1995, dan meningkat menjadi 39,8 persen tahun 1998. Data Unicef tahun 1999 menunjukkan, 10-12 juta (50-69,7 persen) anak balita Indonesia (empat juta diantaranya di bawah satu tahun) berstatus gizi sangat buruk dan mengakibatkan kematian.
Masa balita adalah the point of no return . Perkembangan otak tidak bisa diperbaiki bila mereka kekurangan gizi pada masa ini. Pertumbuhan fisik dan intelektualitas anak akan terganggu. Hal ini menyebabkan mereka menjadi generasi yang hilang, dan negara kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Situasi rawan gizi pada anak balita dan usia sekolah tidak boleh dipandang sebelah mata, karena menimbulkan akibat lanjutan yang kompleks dan berujung pada degradasi kualitas sumber daya. Hal itu karena pertama, masalah gizi yang parah pada usia muda akan menghambat laju tumbuh kembang keadaan fisik anak. KEP berkelanjutan membuat anak menderita marasmus-kwashiorkor. Kekurangan yodium dalam jangka panjang dapat menimbulkan gondok endemik, bahkan mengakibatkan kretinisme atau cebol.
Anemia zat gizi besi berkepanjangan menghambat pertumbuhan fisik, meningkatkan risiko penyakit infeksi, bahkan menghambat aktivitas kognitif dan daya tahan fisik. Akibat buruk lainnya adalah kekurangan gizi akan meningkatkan jumlah anak dengan tinggi badan terhambat, 10 cm lebih pendek dibandingkan anak sehat berusia sama.
Kedua, masalah gizi menghambat perkembangan kecerdasan. Kasus malnutrisi akan menyebabkan Indonesia kehilangan lebih dari 200 juta angka potensi IQ/tahun (30 persen dari peluang produktivitas).
Ketiga, penyakit degeneratif pada usia muda—yang bukan disebabkan oleh faktor genetika—dapat timbul akibat masalah gizi. Pada penderita gizi buruk, struktur sel-sel tubuh tidak tumbuh sempurna. Misalnya jumlah pertumbuhan sel otak tidak maksimum, terjadinya jantung koroner, serta rusaknya pankreas yang mengakibatkan insulin tidak berfungsi optimal sehingga anak menderita diabetes.
Keempat, malnutrisi berkelanjutan meningkatkan angka kematian anak. Setiap tahun diperkirakan tujuh persen anak balita Indonesia (sekitar 300.000 jiwa) meninggal. Ini berarti setiap dua menit terjadi kematian satu anak balita dan 170.000 anak (60 persen) di antaranya akibat gizi buruk.
Kasus gizi buruk pada anak-anak Indonesia harus pula dilihat dari perspektif keadilan dan hak azasi manusia (HAM). Ini dapat dirujuk pada UUD 1945, UU No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, Konvensi Hak Anak (telah diratifikasi dengan Keppres No 36/1990, serta UU No 7/1996 tentang Pangan.
Negara memiliki tiga kewajiban untuk memenuhi hak atas kecukupan pangan warga, yaitu menghormati, melindungi dan memenuhi segala kebutuhannya. Jadi penanggulangan gizi buruk melalui pengadaan dan ketersediaan pangan berkelanjutan merupakan tanggung jawab negara. Timbulnya kasus malnutrisi pada anak dapat dikatakan sebagai pengabaian anak oleh negara ataupun perlakuan salah pada anak oleh negara. Pada tingkat terjadinya maslah gizi yang parah, dapat dikatakan negara telah melakukan sikap kekerasan, mengarah pada terjadinya pelanggaran hak asasi masyarakat oleh negara. Gerakan makan ikan mendesak dibudayakan lagi, terutama untuk memenuhi kecukupan gizi anak balita, Ikan, dengan kandungan protein berkisar antara 20-35 persen, berpotensi tinggi menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial serta mutu daya cernanya yang setara dengan telur. Kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap dan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh omega 3 (DHA, docosahexaenoic acid, C20 H30O2) yang kurang dimiliki oleh produk daratan (hewani dan nabati), merupakan keunggulan produk kelautan. Budaya makan ikan yang tinggi dalam masyarakat Jepang telah membuktikan terjadinya peningkatan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak-anak negara itu.
Adanya kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara maritim (luas laut 5,8 juta km2), menjanjikan potensi pembangunan ekonomi yang luar biasa. Kekayaan laut Indonesia, ternyata baru sekitar 58,5 persen dari potensi lestari ikan laut (6,18 juta ton per tahun) yang dimanfaatkan saat ini, sehingga optimalisasi pemanfataan sumber daya kelautan masih jauh dari harapan.
Tingkat konsumsi ikan per kapita di Indonesia tahun 1997 adalah 18kg/kapita/tahun dan diharapkan menjadi 21,8 kg/kapita/tahun pada tahun 2003. Rendahnya tingkat konsumsi ikan per kapita per tahun ini menunjukkan masih rendahnya budaya makan ikan dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang (110 kg), Korea Selatan (85 kg), Amerika Serikat (80 kg), Singapura (80 kg), Hongkong (85 kg), Malaysia (45 kg), Thailand (35 kg), Philipina (24 kg). Penyebabnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi ikan, ketrampilan mengolah hasil perikanan, selain terbatasnya teknologi penangkapan ikan nelayan. Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengolah ikan agar memiliki daya tarik yang hampir sama atau bahkan lebih dari masakan – masakan yang berbahan dasar daging antara lain terindustrialisasi dengan mapan” saat ini tercatat meliputi kerupuk, ikan asin, terasi, pindang, peda dan beberapa yang lain, yang daya tariknya bagi konsumen anak-anak relatif rendah. Barangkali diantara produk tersebut hanya kerupuk yang mudah diterima konsumen anak-anak. Dengan introduksi produk nugget, ikan mulai luas dikonsumsi masyarakat konsumen kalangan ini. Namun demikian proses pengolahan dan penyiapan nugget menyebabkan produk ini “kurang bersahabat” bagi kesehatan.
Produk olahan ikan “kegemaran anak” di Indonesia yang juga sudah menunjukkan gelagat untuk dikelola sebagai industri adalah mpek-mpek dan bakso ikan. Hanya saja masih ada beberapa kelemahan yang perlu dibenahi. Kelemahan tersebut antara lain dalam aspek fleksibilitas, variabilitas, dan kemudahan penyajian; serta pengemasan yang kurang menarik minat konsumen, khususnya kalangan anak-anak. Dalam tulisan ini dicoba disajikan dua macam (diantara puluhan) contoh produk olahan ikan yang sangat luas dikonsumsi di Jepang oleh semua lapisan masyarakat, yaitu surimi dan furikake.
Di Jepang sejak abad ke 7 telah dikembangkan dan dikonsumsi secara luas produk olahan ikan berbasis surimi. Surimi dibuat dari ikan berdaging putih yang kemudian diolah menjadi pasta dan akan bertekstur seperti karet (rubbery) setelah diolah. Dari surimi selanjutnya dapat diproduksi beberapa macam makanan dengan karakter bentuk, tekstur, serta aroma yang khas. Kelompok pangan olahan berbasis surimi ini meliputi chikuwa, kamaboko, fish ball, hanpen, dan tsumire. Masing-masing produk pada dasarnya menggunakan bahan tepung, putih telur, minyak nabati, sorbitol, protein kedele, dan bumbu sebagai bahan adonan, disamping surimi sebagai bahan utama. Chikuwa berbentuk seperti tabung sebagai hasil pelapisan batang bambu atau logam dengan adonan, yang selanjutnya dikukus atau direbus (Gambar 2). Kamaboko memiliki rasa yang lebih “delicate” dengan tekstur kenyal, serta dapat ditampilkan dalam beragam bentuk (Gambar 2). Penggunaan kamaboko dalam menu makanan bisa sangat bervariasi mulai dari sup, salad, mie, casserole dan masih banyak lagi.
Disamping mudah diterimanya oleh konsumen dan kesederhanaan proses pembuatannya, karakter lain yang menonjol dari produk berbasis surimi adalah nilai manfaatnya bagi tubuh. Segala manfaat dari ikan laut sebagai sumber DHA dan EPA, telur sebagai sumber protein, dan konsentrat kedele sebagai sumber isoflavone dapat diambil dari kelompok makanan ini.
Meskipun jenis habitat atau produk lautan Jepang dengan lautan Indonesia tidak persis sama tetapi pola pemanfaatannya bisa ditiru. Peningkatan konsumsi pangan laut tidak hanya dapat menyelamatkan anak bangsa dari ancaman keterbelakangan (akibat kekurangan iodine, yang banyak terkandung dalam pangan laut), tetapi juga dapat memposisikan profesi nelayan dan yang terkait sebagai favorit. Bukankah nenek moyang kita orang pelaut ?

Tinjauan pustaka
Kompas, Minggu, 23 Desember 2001
http://io dot ppi-jepang dot org
bisnisbali dot com

Haryo Dewa Brata
IKM B 2007/NO 93
100710263

KHARINA AULIA
Posted on 21st October, 2009

Organic Rice

By Kharina Aulia (48)
100710081
IKM A 2007

What is organic? All living things are organic. I had one semester of Organic Chemistry which I barely passed, but looking back now, it certainly was more understandable than the other chemistry courses I had taken. I can still remember all those hydrogen chains on the blackboard and then floating in my mind at night. But until now I have not ceased asking the impertinent question: How did anyone know they looked like that? Straightaway I must say that the problem with so-called organic rice is not in semantics but in its price. It is more expensive than the “not organic” (meaning not grown in the all-natural way) because it takes more effort and resources to grow it. Also, poisoned land has first to be brought back to its natural condition. It was not like this before the advent of chemical fertilizers and pesticides.

Is a long duration rice variety with excellent grain and straw quality, and it is ideally suited for organic farming. The quality of the grains improved when it was raised using organic methods of cultivation, and this fine quality rice fetches a premium price in the market of Indonesia.
Organic rice is the right rice for us. It is half of all that we eat. It is a grace we dare not waste. The white crystalline grains fuel our actions and provide substance to every viand. Rice defines our culture, our economy and even our own Asian proportions. We take it for granted that the fluffy steaming rice on our dinner tables are threshed, dried, pounded and boiled from lowly swamp weed. It is a testament to our farmers’ genius that they recreate the annual flooding and draining of a marsh on every rice paddy, even ones cradled by giant ancestral stone terraces in the highlands. And yet despite its importance in the lives of Indonesia, rice growing has today become an oppressive and environmentally damaging practice.

To understand the need for organic rice we must contrast it with conventional methods of growing rice. The green revolution ushered in by the seventies has been a bane to both the farmer and his field. “Miracle” rice varieties were heavily reliant on often-toxic chemical fertilizers, pesticides and herbicides. Though touted for their high yields, production from these nutrient greedy rice strains would go down after several harvests after they had exhausted the once fertile lands. The reliance on costly chemicals supplied by multinational corporations had many farmers spiraling downward into debt. These chemicals also killed beneficial and profitable organisms within the paddies such as fish, frogs and crabs. These chemicals make their way to our drinking water through run-off from the fields and into our foods through residue.

Adding to the farmers’ misery were the rice trading cartels that hoarded this basic commodity. These powerful middlemen manipulated prices and prevented profits from trickling down to the farmers. The introduction of fast-growing varieties has also upset indigenous belief systems based on the annual growth cycle of traditional strains of rice.

Organic farming uses resilient rice varieties that are not dependent on chemicals. Organic fertilizers from plant and animal refuse are utilized, making the farm more self-sufficient. Natural predators such as frogs and spiders are used against pests. But organic farming is more than just the use of certain plants, fertilizers and methods of pest control. Allied with these methods are farming cooperatives that provide capitalization, infrastructure, technical assistance and marketing. By being part of the very community organization that mills his rice and packages his products, cooperative farmers directly profit from his toils. Unscrupulous lenders and hoarding rice cartels play no part in this new scheme for organic farmers.

Organic rice cooperatives have already proven themselves to earn more for their farmers than conventional farming. Farmers that participate in organic farming programs have broken free from the cycles of debt that still plague those who engage in conventional farming.

Those who benefit most from organic rice are the consumers. The superiority of organic varieties in flavor, aroma and consistency is distinct. The safety of eating pesticide free produce as well as the health benefits of whole grain variants high in fiber are well documented by studies abroad.

Letting consumers know of these benefits is the primary goal of the Organic Rice Festival. The festival brings together the different proponent organizations tending this budding industry in Indonesia. Increasing the demand for organic rice will lower its cost making it even more competitive in the market.

Organic rice is currently more expensive than conventional rice. It has all to do with the economy of scale and the cost of marketing a product for which there is little consumer awareness. As demand for organic rice increases the cost of production should go down and there will be less need for marketing. Consumers who lead the way and patronize organic rice will reap the benefits from healthier and tastier meals right away.

Just this year, the Department of Agriculture issued an administrative order mandating the accreditation of private companies that would certify safety and authenticity of organically grown farm products. This certification assures consumers that they are getting the quality and safety they are paying for. Currently, all organizations engaged in organic rice farming are working towards being certified under this newly signed administrative order.

Farmers and nongovernment organizations point out that the department can do more for this emerging industry by providing insurance, credit programs and infrastructure such as mills and storage facilities.

Organic rice farming offers a paradigm that is safer for the environment, more profitable for the farmer and more nutritious for the consumer. It is the only way we can sustainably provide for our nation’s staple diet. Organic farming is not the alternative way to produce rice; it is the right way.

DAFTAR PUSTAKA
http://oryza.com

Syafitria K Sari
Posted on 21st October, 2009

Pengembangan padi Hibrida Melalui Ekstensifikasi di Lahan Pasang Surut
Peningkatan kebutuhan akan pangan terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk. Sementara produksi pangan sendiri mengalami kecenderungan stagnan. Dengan keadaan seperti itu maka produksi pangan yang ada terutama beras tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan yang semakin meningkat. Kondisi ini terjadi disebabkan salah satu faktor klasik di negara yang pertumbuhan penduduknya tinggi, yaitu keterbatasan lahan produksi yang produktif. Kenyataan bahwa pada lahan produktif juga terus terjadi konversi lahan (penyusutan sebesar 1.4 % per tahun di pulau Jawa ) juga semakin menyurutkan lahan produksi. Lahan pertanian banyak berganti wajah menjadi pemukiman dan fasilitas lain. Kebutuhan beras menjadi salah satu kebutuhan pokok di Indonesia. Hampir setiap tahun terjadi peningkatan permintaan akan beras. Menurut FAO, permintaan akan beras di Indonesia 151 kg/kap/tahun sementara area tanam hanya 11.5 juta hektar dengan asumsi produksi 4.3 ton/hektar . Dengan jumlah penduduk 206 juta jiwa maka dalam 1 tahun permintaan beras diperkirakan akan mencapai 31.1 juta ton. Sebuah angka yang cukup besar. Kondisi penyusutan lahan produktif di Pulau Jawa ini telah memaksa pemerintah Indonesia untuk melakukan impor beras sebagai penyeimbang dari kecenderungan stagnasi produksi beras tersebut. Kondisi stagnasi produksi padi ini melahirkan pemikiran untuk meningkatkan kapasitas produksi padi nasional dengan dua cara yaitu : penggunaan bibit unggul dan pemanfaatan lahan-lahan marginal di luar Pulau Jawa.
• Pemanfaatan lahan marginal
Sampai saat ini lahan sawah irigasi masih menjadi tulang punggung produksi padi nasional. Padahal, pembangunan sistem irigasi memerlukan dana yang tidak sedikit. Adanya kecenderungan penyusutan lahan produktif di Pulau Jawa akhirnya mengharuskan kita untuk mengarahkan perhatian pada ketersediaan lahan marginal yang ada. Adapun lahan marginal ini berupa lahan tadah hujan, pasang surut, dan lahan kering. Salah satu pemanfaatan lahan marginal yang kini diupayakan adalah pengembangan lahan pasang surut.
• Lahan Pasang Surut
Ketersediaan lahan pasang surut di Indonesia kurang lebih 33 juta hektar yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Dari luasan yang ada tersebut, sekitar 6 juta hektar diantaranya cukup potensial untuk pengembangan pertanian. Namun dari luasan 6 juta tersebut hanya 554.000 hektar saja yang cocok untuk ditanami tanaman padi dengan hasil rata-rata 1.5 ton/ha. Rendahnya produktivitas padi di lahan pasang surut disebabkan karena tingkat kemasaman tanah yang tinggi, keracunan zat besi, alumunium, salinitas tinggi serta kekahatan unsur P dan Zn.
Pengenalan tipologi lahan dan tipe luapan air merupakan langkah awal dalam menentukan langkah prioritas penanganan. Kunci keberhasilan produksi padi pada agroekosistem lahan pasang surut ini adalah pengelolaan dan tata air secara tepat. Untuk itu maka sebelum kita memanfaatkan lahan pasang surut tersebut, kita harus membedakan dahulu tipologinya.
Adapun lahan pasang surut terbagi kedalam empat macam yaitu : lahan potensial, lahan sulfat asam, lahan gambut dan lahan salin.
Lahan potensial dengan memiliki kadar pirit beracun dengan kedalaman lebih dari 50 cm merupakan lahan yang paling sedikit kendalanya dalam meng-optimalkan lahan tersebut untuk pengembangan pertanian dibandingkan lahan sulfat dan lahan gambut yang memerlukan penanganan ekstra hati-hati. Sementara itu, berdasarkan tipe luapan air pasangnya, lahan pasang surut dibedakan menjadi empat macam yaitu : Type A, Type B, Type C dan Type D. Type A merupakan lahan yang terluapi pada pasang besar maupun kecil, type B adalah lahan yang hanya terluapi oleh pasang kecil saja. Type C adalah lahan pasang surut yang tidak terluapi pasang besar dan kecil dengan kedalaman kurang dari 50 cm sedangkan Type D merupakan lahan pasang surut yang tidak terluapi pasang besar maupun kecil dengan kedalaman lebih dari 50 cm.
Berdasarkan pada tipologi diatas, maka Type luapan A cocok untuk pengembangan padi sawah, Type B untuk sawah sistem surjan, Type C untuk sawah tadah hujan sedangkan Type D untuk tegalan atau perkebunan. Dengan memadukan pengelolaan lahan dan tata air (aliran satu arah) serta teknik budidaya tanaman, hasil padi sawah di berbagai lokasi lahan pasang surut berkisar 4-6 ton/ha gabah kering panen atau 2- 3 kali lipat hasil yang dicapai petani.
Pemilihan teknologi yang mencakup varietas unggul, pemupukan dan ameliorasi lahan bersifat spesifik lokasi. Beberapa varietas unggul yang biasa dikembangkan di lahan pasang surut antara lain : Punggur, Indragiri (toleran terhadap keracunan Fe dan AL), IR-42, Lalan dan Lematang Kendala yang ada dalam budidaya padi di lahan pasang surut pertama adalah aspek tanah yaitu sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Keasaman tanah yang tinggi dapat menyebabkan kelarutan unsur hara P tidak tersedia karena kelarutan Al dan Fe yang tinggi sehingga P terikat oleh unsur Al dan Fe. Selain itu dapat juga menyebabkan keberadaan pirit (FeS2) yang sangat rendah. Kedua adalah aspek lingkungan yang meliputi iklim, topografi, ketinggian dari permukaan laut, sistem tata air dan organisme pengganggu tanaman lainnya (Maamun , et al., 1996 ; Maas, et al 1996)
• Padi Hibrida di Pasang Surut
Produksi padi yang secara genetik kecil , sangat berpengaruh dalam besar kecilnya peningkatan hasil. Superioritas padi hibrida (sistem perakaran kuat, pembentukkan anakan tinggi, jumlah anakan produktif yang tinggi, jumlah gabah per malai yang tinggi, aktivitas akar yang lebih tinggi, kapasitas fotosintetis lebih tinggi, intensitas respirasi yang lebih rendah, efisiensi fotosintetis yang lebih tinggi serta pendistribusian hasil asimilasi yang lebih efektif) ini sangat memungkinkan dalam meningkatkan produksi padi secara nasional. Namun mampukah padi hibrida ditanam di lahan marginal seperti lahan pasang surut? Tentu saja bisa namun tidak mudah karena pengembangan padi hibrida di lahan pasang surut sangat ditentukan oleh seberapa kuat daya adaptasinya terhadap lingkungan.
Meninjau dari sifat-sifat superioritas padi hibrida, maka dalam pengembangannya di lahan pasang surut dapat berimplikasi pada beberapa keadaan antara lain :
1. Kemasaman yang tinggi lahan pasang surut dapat menyebabkan kelarutan beberapa hara sangat kecil terutama P dan Zn sehingga gejala kahat P dan Zn sering ditemui sementara unsur superioritas padi hibrida diharapkan mampu untuk toleran terhadap kemasaman tinggi, keracunan Al dan Fe serta kahat P dan Zn.
2. bahan organik mentah di atas tanah mineral mengakibatkan perakaran sukar menembus ke bagian bawah akibat kekurangan oksigen sehingga banyak akar-akar yang muncul di permukaan, adanya superioritas yang diharapkan adalah aktivitas perakaran yang tinggi dengan kondisi oksigen yang minim.
3. Kemudahan dan kejenuhan air bahan penyusun gambut menyebabkan keadaan tanah sangat lembek, kecendrungan sanggahan tanah yang sangat rendah sehingga menyanggah tegaknya tanaman juga rendah, superioritas yang diperlukan disini adalah sistem perakaran yang kuat. Dan terakhir, tempat bersarangnya hama dan penyakit tanaman, adanya superioritas yang diperlukan adalah toleransi bahkan resistensi padi terhadap hama dan penyakit.
Berkaitan dengan hal itu, mungkinkah padi hibrida dapat ditanam di lahan pasang surut? Dengan sifat-sifat superioritas yang ada ternyata padi hibrida mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan pasang surut. Hal ini telah dibuktikan oleh M. Zikri yang melakukan percobaan demplot padi hibrida di beberapa lokasi lahan pasang surut di Sumatera Selatan (Lihat tabel).
Selain penggunaan varietas unggul, perbaikan teknologi budidaya juga sangat diperlukan untuk mendukung daya adaptasi dan peningkatan hasil padi hibrida. Beberapa teknik budidaya padi hibrida yang bisa diterapkan di lahan pasang surut antara lain :
1.Penanaman dengan memperhitungkan waktu pasang maupun surutnya air
2.Pengolahan lahan yangtidak terlalu dalam. Hal ini dilakukan karena lahan pasang surut cenderung mengandung banyak unsur pirit (FeS2). Bila terlalu dalam dikhawatirkan akan terjadi oksidasi pirit yang dapat berakibat pada kemasaman ekstrim.
3.Penyiapan tata air (saluran sekunder maupun tersier)
4.Pengaturan air pada fase vegetatif (tidak selalu membutuhkan kondisi tergenang) yang penting tanah cukup basah.
5.Pengaturan air pada fase generatif dimana genangan air tidak boleh lebih dari 10 cm
6.Pemupukan, untuk lahan yang agak masam, perlu ditambahkan dolomite untuk menetralisir kemasamannya (penurunan 0.1 unit setara dengan 1 ton/ha kapur) misal pH tanah 5,5; pH larutan penyangga 7; pH suspensi tanah dikurangi pH larutan penyangga 6,5 maka kebutuhan kapur tanah tersebut adalah 1.5/0.1 dikalikan 1 ton/ha yaitu 3 ton/ha. Selain itu minimalisir juga penggunaan pupuk yang mengandung asam tinggi. Kadangkala penggunaan pupuk melalui tanah kurang efektif karena kondisi kemasaman sehingga dimungkinkan penambahan nutrisi melalui foliar application (penggunaan pupuk daun).
7.Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sedini mungkin tanpa menunggu gejala serangan nampak. Hal ini disebabkan penanaman padi baik hibrida maupun non hibrida di lahan pasang surut sangat beresiko terserang hama dan penyakit. Kondisi lahan pasang surut sangat memungkinkan menjadi sarang hama dan penyakit. Untuk itu, maka pemberian nutrisi terutama unsur mikro Cu disarankan untuk menjaga ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Selain beberapa kondisi di atas, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam rangka pengembangan padi hibrida di lahan pasang surut. Namun demikian, potensi lahan yang cukup luas lahan pasang surut untuk dikembangkan merupakan salah satu kesempatan mendongkrak produksi padi nasional. Sebuah kajian yang lebih mendalam sangat dibutuhkan terutama masukan berbagai pihak dalam pengembangan padi hibrida di lahan pasang surut sangat dibutuhkan agar tidak terjadi lagi proyek lahan sejuta hektar yang tersia-sia yang mengakibatkan berjuta-juta kerusakan.

SYAFITRIA K SARI
100710061 / IKM A-07
Daftar Pustaka :
http://www.tanindo.com/abdi18/hal1401.htm

Novia Clara Putri 100710120 IKM B'07 no.14
Posted on 21st October, 2009

Pengembangan Bekatul
Bekatul adalah kulit ari beras, hasil dari pengilingan padi pertama ketika kulit keras/gabah berhasil dilepaskan dari padi. Kulit ari inilah yang sering dinamakan dedak dan biasanya berwarna merah kecoklatan. Dedak/bekatul ini biasanya tidak diproses untuk konsumsi manusia, tetapi langsung dikumpulkan dan diberikan pada hewan sebagai pakan ternak. Walaupun sudah di proses sesuai dengan standar higienis untuk di konsumsi manusia, rasanya tetaplah kurang enak untuk selera makan manusia. Bekatul diketahui mengandung komponen bioaktif oryzanol, tokoferol, dan asam felurat yang membuatnya berpotensi menjadi bahan makanan fungsional. Oryzanol berfungsi menurunkan kolesterol yang merugikan didalam darah. Tokoferol adalah vitamin E yang bersifat antioksidan, sedangkan asam felurat diketahui menurunkan kadar gula dan tekanan darah. Namun sayang kulit ari pada brown rice mudah teroksidasi sehingga membuatnya tidak tahan lama (menjadi tengik). Jadi dalam mengkonsumsi bekatul haruslah dapat dipastikan yang dikonsumsi adalah yang berasal dari padi hasil pertanian organik yang benar-benar bebas pestisida, karena jika tidak maka bekatul yang dikonsumsi merupakan sarang pestisida.
Bekatul di Indonesia sudah sejak lama dimanfaatkan, tetapi umumnya baru sebatas sebagai pakan ternak dan ikan. Padahal temuan-temuan iptek terbaru telah menempatkan bekatul sebagai salah satu bahan pangan dengan nilai gizi relatif tinggi sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Bekatul mengandung protein, lemak, berbagai vitamin seperti vitamin B1 dan E, mineral seperti fosfor dan magnesium dan serat diet (dietary fibre). Kadarnya bergantung pada jenis padi bersangkutan. Selain itu bekatul juga mengandung berbagai zat/senyawa yang berkaitan dengan khasiat mengatasi masalah kesehatan.
Dikemukakan bahwa di Indonesia bekatul yang hasil samping penggilingan padi itu cukup melimpah, yakni 2-3% dari total gabah. Tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan pakan. Pemanfaatan bekatul sebagai sumber gizi yang tinggi belum berkembang di Indonesia. Nilai tambah yang dikandung bekatul bisa memberi sumbangan berarti bagi pendapatan petani atau kelompoknya, bila mereka juga mengelola sendiri usaha penggilingan padi.
Bekatul diperoleh sebagai hasil samping proses penyosohan ganda (dua tahap) beras pecah kulit dari penggilingan padi. Pada penyosohan tahap pertama, hasil sampingnya berupa dedak yang berasal dari bagian perikarp, nuselus, segmen, lapisan aleuron, dan lembaga beras. Pada penyosohan tahap kedua dari beras dikeluarkan utamanya bagian sub-aleuron dari endosperm. Di Indonesia penyosohan beras umumnya dilakukan satu tahap saja dan menghasilkan dedak bercampur bekatul.
Sehat Dengan Mengkonsumsi Bekatul
Bekatul sebagai hasil samping penggilingan padi diperoleh dari lapisan luar karyopsis beras. Meskipun bekatul tersedia melimpah di Indonesia, namun pemanfaatannya untuk konsumsi manusia masih terbatas. Hingga saat ini pemanfaatannya terbatas sebagai pakan.
Nilai gizi bekatul sangat baik, kaya akan vitamin B, vitamin E, asam lemak esensial, serat pangan, protein, oryzanol, dan asam ferulat. Pada tulisan ini akan dipaparkan komposisi fitokimia, stabilitas dan manfaat kesehatan bekatul serta potensinya sebagai pangan fungsional.
Manfaat Kesehatan dan Potensi Bekatul Sebagai Pangan Fungsional
Bekatul memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan ditambah komponen bioaktif oryzanol, tokoferol, dan asam ferulat menjadikan bekatul sebagai bahan baku yang berpotensi untuk dijadikan pangan fungsional.
Selama ini bekatul padi sebagai hasil samping penggilingan padi bersifat limbah dan dimanfaatkan sebagai pakan dengan nilai ekonomi rendah. Sebenarnya bekatul padi dapat digunakan sebagai bahan baku industri makanan maupun industri farmasi.
Pangan fungsional didefinisikan sebagai makanan yang berdasarkan pengetahuan tentang hubungan antara makanan/komponen makanan dan kesehatan diharapkan mempunyai manfaat kesehatan tertentu (Broek, 1993). Karena merupakan makanan, maka pangan fungsional menurut ilmuwan Jepang mempunyai tiga fungsi dasar, yaitu (1) sensory (warna dan penampilan menarik, citarasanya enak), (2) nutritional (bernilai gizi tinggi), dan (3) physiological (memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh).
Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan dari pangan fungsional adalah pencegahan timbulnya penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh, regulasi kondisi ritmik tubuh, memperlambat proses penuaan, dan penyehatan kembali (recovery). Dengan demikian, meskipun mengandung senyawa yang berkhasiat bagi kesehatan, pangan fungsional bukan kapsul, tablet atau bubuk yang berasal dari senyawa alami. Oleh karena itu pangan fungsional seharusnya dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan sehari-hari, bentuknya dapat makanan maupun minuman.
Untuk pangan, bekatul dapat dicampur dengan bahan lain pada pembuatan biskuit, kue, dan lain-lain. Penggunaan bekatul secara komersial di luar negeri baru pengekstrakan bekatul untuk minyak goreng. Pemanfaatan bekatul yang telah diawetkan sebagai makanan sarapan sereal, dengan perbandingan (%) tepung beras : bekatul dari 90 : 10 sampai dengan 30 : 70. Substitusi bekatul padi 15 % pada tepung terigu dilaporkan memberikan hasil yang optimal terhadap penerimaan cookies dan roti manis. Substitusi ini meningkatkan kandungan serat pangan (hemiselulosa, selulosa, dan lignin) dan niasin pada produk (Muchtadi et al., 1995).
Dari uraian di atas terlihat bahwa bekatul padi mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional. Potensi ini berkorelasi positif dengan padi/beras sebagai konsumsi utama masyarakat Indonesia. Pemanfaatan limbah penggilingan padi dapat diolah menjadi bekatul awet, dan kemudian diolah lanjut sebagai pangan fungsional.
Untuk mendapatkan bekatul, kita bisa mengunjungi setiap penggilingan
padi (huler). Bekatul bisa disimpan di dalam toples paling lama 1
bulan. Supaya bekatul lebih tahan lama sebaiknya disimpan di dalam
freezer, atau disangrai sampai kering (dengan api kecil supaya tidak
gosong) lalu didinginkan dan simpanlah dalam toples (untuk stok).
Yang disangrai dapat langsung dipakai (cukup diseduh dengan air
termos).

Bekatul untuk Menurunkan Hipertensi dan Hiperlipidemia
Bekatul atau rice bran selama ini hanya digunakan sebagai pakan ternak. Belum banyak yang mengetahui bahwa lapisan luar dari beras hasil penggilingan padi ini ternyata mengandung komponen bioaktif pangan yang bermanfaat bagi kesehatan. Bekatul dapat diperolah sebanyak 10 persen dari hasil penggilingan padi, yang terdiri dari lapisan aleurone beras (rice kernel), endosperm, dan germ.
Data dari Departemen Pertanian, diperkirakan pada tahun 2006 produksi beras nasional mencapai angka 54,74 juta ton (Tempo Interaktif, 6 Juli 2006). Sebagai perbandingannya di Amerika Serikat bahwa 10 persen dari total produksi beras dapat dihasilkan bekatul, sehingga dari 54,75 juta ton produksi beras nasional diperkirakan akan dihasilkan 5,5 juta ton bekatul. Potensi bahan baku yang sangat berlimpah jumlahnya tersebut, sehingga perlu dilakukan usaha-usaha pemanfaatan bekatul sebagai pangan fungsional.
Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan hiperlipidemia (berlebihnya jumlah lemak) merupakan dua kondisi penyebab penyakit kardiovaskuler dan aterosklerosis. Dua penayakit ini merupakan penyebab kematian yang semakin meningkat jumlahnya, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu usaha-usaha yang dilakukan oleh para peneliti pangan dan gizi adalah mendapatkan komponen bioaktif yang terdapat dalam bahan pangan, salah satunya adalah pemanfaatan bekatul sebagai bahan untuk mencegah hipertensi dan hiperlipidemia.
Manfaat Bekatul
Fraksi lemak dari bekatul telah banyak dilaporkan memberikan efek menurunkan jumlah lemak darah (hipolipidemia) dengan uji pada hewan percobaan maupun manusia. Minyak bekatul menurunkan kadar kolesterol darah dan low density lipoprotein cholesterol (LDL-kolesterol), serta dapat meningkatkan kadar high density lipoprotein cholesterol (HDL-kolesterol) darah. Kemampuan fraksi lemak bekatul disebabkan adanya komponen oryzanol dan kemampuan lainnya dari bahan yang tidak tersabunkan. Saat ini penggunaan bekatul sebagai suplementasi telah banyak dilakukan, misalnya pada pengolahan biskuit, kue, dan lain-lain. Pemanfaatan bekatul yang telah diawetkan sebagai makanan sarapan sereal, dengan perbandingan (persentase) tepung beras: bekatul dari 90:10 sampai dengan 30:70. Substitusi bekatul padi 15 persen pada tepung terigu dilaporkan memberikan hasil yang optimal terhadap penerimaan cookies dan roti manis. Substitusi ini dapat meningkatkan kandungan serat pangan (hemiselulosa, selulosa, dan lignin) dan niasin pada produk (Muchtadi et al., 1995).Mengkonsumsi bekatul sebagai suplementasi produk-produk olahan, diharapkan dapat dijadikan saran yang paling tepat untuk mendapatkan manfaat kesehatannya.

Daftar Pustaka :

sinartani.com/agriprosesing/bekatul-formulasi-aneka-makanan-1240211103.htm
duniaratnaku.blogspot.com/2009/08/bekatul-murah-tetapi-berkhasiat.html
bekatulsehat.blogspot.com/
organicbrownrice.wordpress.com/

muchlisa oktivani
Posted on 21st October, 2009

Pelestarian Plasma Nutfah pada Domba Garut dengan Standarisasi Mutu Bibit

Plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan yang dapat berupa organ utuh atau bagian dari tumbuhan atau hewan serta jasad renik. Plasma nutfah sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit agar tercipta suatu jenis unggul atau kultivar baru.Pelestarian plasma nutfah sebagai sumber genetik akan menentukan keberhasilan program pembangunan pangan. Kecukupan pangan yang diidamkan akan tergantung kepada keragaman plasma nutfah yang dimiliki karena pada kenyataannya varietas unggul, yang sudah, sedang, dan akan dirakit merupakan kumpulan dari keragaman genetik spesifik yang terekspresikan pada sifat-sifat unggul yang diinginkan. . Plasma nutfah menjadi kekayaan alam yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.
Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, Indonesia masih miskin dalam hal koleksi plasma nutfah. Sistem pengelolaan plasma nutfah dan kebijakan yang mendukungnya sangat minim. Padahal, plasma nutfah merupakan sumber daya genetik tak ternilai yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan menjadi bibit unggul. Hal tersebut sesuai dengan yang disebut dalam UU no. 12 tahun 1992, plasma nutfah merupakan substansi yang terdapat dalam kelompok makhluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar baru.
Untuk memanfaatkan sumber daya alam tak ternilai tersebut, langkah awal yang harus dilakukan adalah identifikasi plasma nutfah yang dimiliki. Setelah itu mengkoordinasikan pengelolaan database plasma nutfah, dan membangun komunitas jaringan kerja database. Hal yang tak kalah pentingnya yang harus dilaksanakan adalah pola kerja sama sinergi dalam pelestarian, penelitian dan pengembangan plasma nutfah. Kerja sama yang mendesak dilakukan adalah dalam hal pelestarian ternak secara in situ (lekat lahan) yang dilakukan oleh masyarakat setempat dengan bimbingan pemda atau asosiasi. Ketersediaan bibit ternak yang berkualitas dalam jumlah yang memadai, merupakan hal utama untuk menyokong pengembangan ternak di tanah air. Penyediaan bibit yang berkualitas harus diawali melalui seleksi bibit ternak secara ketat, terencana, dan memiliki arah yang jelas.
Hal tersebut dilaksanakan sesuai dengan Visi Perbibitan, yaitu tersedianya berbagai jenis bibit ternak dalam jumlah dan mutu yang memadai serta mudah diperoleh, sejalan pula dengan misi yang telah digariskan, yaitu : (1)menyediakan bibit yang berkualitas dalam jumlah cukup (2)mengurangi ketergantungan impor bibit ternak, serta (3)melestarikan dan memanfaatkan bibit ternak lokal.
Spesifikasi teknis untuk domba bibit adalah (1)domba bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik, seperti : kebutaan, tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal, serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya, (2)domba bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, ambing abnormal, serta tidak menunjukkan gejala kemandulan, (3)domba bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak cacat pada alat kelaminnya.
Domba Garut sebagai aset nutfah Jawa Barat, memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai sumber daging dan cukup tanggap terhadap manajemen pemeliharaan yang baik dibandingkan bangsa domba lain yang ada di Indonesia, tingkat prolifikasi yang tinggi, kualitas kulit terbaik, dan di samping itu memiliki keunggulan unik yang dapat dijadikan daya tarik pariwisata daerah.
Upaya untuk memaksimumkan potensi Domba Garut, telah diawali dengan menginventarisasi berbagai sifat kualitatif dan kuantitatif yang dimiliki, sebagai bahan dasar dalam melakukan standardisasi mutu bibit Domba Garut di Jawa Barat, karena bahan yang akan dijadikan komoditas ekspor dalam era global tidak mungkin dapat terwujud tanpa memiliki standar mutu baku.
Data dasar yang diperoleh dari kegiatan penelitian ini meliputi dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer menyangkut sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif Domba Garut sedangkan data sekunder berasal dari berbagai hasil penelitian yang berhubungan dengan Domba Garut dan dari berbagai instansi terkait.
Mengacu pada hasil penelitian Heriyadi dkk (2003) telah dibuat standardisasi mutu bibit Domba Garut yang mengacu pada kondisi faktual Domba Garut yang terdapat di Jawa Barat.
Hasil standardisasi Domba Garut tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Kriteria inklusi untuk Domba Garut haruslah memiliki ciri khas kombinasi
(2) Standar sifat-sifat kuantitatif mutu bibit domba garut
(3) Sifat-sifat kualitatif mutu bibit domba garut
(4) Aspek-aspek produksi domba garut
(5) Aspek reproduksi domba betina
(6) Aspek reproduksi domba jantan

Dengan adanya standarisasi mutu bibit Domba Garut, diharapkan mutu bahan pangan di Indonesia meningkat. Kemudian plasma nutfah Domba Garut juga ditingkatkan sehingga supply bahan pangan (daging) di Indonesia juga mengalami peningkatan.

Nama : Muchlisa Oktivani
NIM : 100710270/99
Kelas : IKM B 2007

DAFTAR PUSTAKA
anekaplantadotwordpressdotcom/2008/03/02/plasma-nutfah-sebagai-sumber-gen-untuk-menunjang-perbaikan-sifat-dalam-perakitan-varietas-kacang-tanah/
wwwdotpoultryindonesiadotcom/modules.php?name=News&file=article&sid=1049
wwwdotlitbangdotdeptandotgodotid/berita/one/127/

Achmad khoirur Rozi IKM A 2007
Posted on 21st October, 2009

Achmad Khoirur Rozi
Indonesia Bisa Andalkan Jagung sebagai Penunjang Perekonomian

Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan unggulan di Indonesia, terutama di daerah Indonesia bagian Timur. Pasar jagung masih terbuka lebar, kebutuhan nasional masih belum mencukupi dari produksi dalam negeri, sebagai contoh pada tahun 2004 Indonesia masih impor jagung sebesar 900 ribu ton. Hal ini memberi peluang agribisnis jagung melalui peningkatan produksi dan produktivitasnya mengingat kebutuhan jagung dunia sangat tinggi.
Di dunia, jagung tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan pokok saja. Namun permintaan jagung itu juga untuk memenuhi kebutuhan industri makanan maupun industri pakan ternak. Total produksi jagung di tingkat dunia 690 juta ton, 40% di antaranya kontribusi AS, 20% dari China, 7% dari Uni Eropa dan Brasil sebanyak 6%.
Konsumsi melebihi produksi
Konsumsi Produksi
1998/1999 1450 1500
2000/2001 1480 1450
2002/2003 1500 1450
2004/2005 1600 1650
2006/2007 1600 1580

Stok biji-bijian dunia anjlok (juta ton)
Biji kasar Tepung
1998/1999 220 450
2000 220 450
2001 200 400
2002 190 390
2003 170 340
2004 150 270
2005 180 350
2006 170 340
2007 150 270
Sumber: http://www.HGCA.com
Sedangkan pemakaian jagung untuk etanol khususnya di AS, pada 2005 mencapai 50 juta ton atau 20% dari kebutuhan jagung nasional, sementara untuk 2006 naik menjadi 55 juta ton (22%) dan pada 2008 diperkirakan meningkat menjadi 82 juta ton (30%).
Kondisi pasar internasional seperti itu peluang bagi Indonesia meningkatkan produksi jagung dan menggenjot ekspor.
Banyak hal yang mendukung. Rata-rata produksi jagung Indonesia masih rendah, masih berpotensi ditingkatkan. Selain masih tersedianya varietas unggul hibrida yang selama ini masih rendah, benih jagung Indonesia masih bebas dari rekayasa genetika.
Saat ini, kendati Indonesia melakukan ekspor jagung se-banyak 40.000-150.000 ton, impornya masih tinggi, sekitar 400.000 hingga 1,8 juta ton per tahun. Deptan memperkirakan potensi ekspor jagung Indonesia pada 2010 mencapai hampir dua juta ton jika laju pertumbuhan produksi nasional dapat sebesar 4,54% per tahun dalam lima tahun mendatang.
Hal ini harus disikapi dengan penuh optimis oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia mengingat produksi jagung meningkat 9,52% per tahun (dari 11,23 juta ton pipilan kering tahun 2004 menjadi 15,86 juta ton tahun 2008). Bahkan dibanding produksi jagung tahun 2007, peningkatan produksi jagung tahun 2008 mencapai 19,34% (naik 2,57 juta ton). Pencapaian produksi jagung tahun 2008 juga merupakan produksi tertinggi yang pernah dicapai selama ini. Selanjutnya, produksi kedele juga meningkat 2,98% per tahun dari 723 ribu ton biji kering tahun 2004 menjadi 761 juta ton biji kering tahun 2008 (ARAM III).
Dalam memenuhi permintaan pasar, tentunya tidak hanya diperlukan kuantitas yang banyak, namun juga dibutuhkan kualitas yang baik. Oleh karena itu memang sangat dianjurkan untuk menggunakan bibit jagung hibrida. Menurut Edwin S. Saragih, Technology Development Lead PT Monsanto Indonesia, produsen benih jagung hibrida Dekalb, dibandingkan negara lain, tingkat produktivitas rata-rata jagung nasional masih tergolong rendah, sekitar 3,5 ton per hektar (ha). Angka itu sama dengan yang dihasilkan Vietnam. Namun bila dibanding dengan China, Argentina, dan Amerika, Indonesia masih jauh tertinggal. Produktivitas di ketiga negara itu berturut-turut 5,1 ton, 7,12 ton, dan 9,3 ton perha. Selain itu potensi besar yang bisa disumbangkan oleh hibrida antara lain peningkatan produktivitas per satuan luas dan peningkatan efisiensi usaha tani jagung. Meski demikian, pemanfaatan benih jagung hibrida di tanah air baru sekitar 30%—40%.
Namun selain kualitas bibit, juga perlu diupayakan budidaya tempat untuk mendukung peningkatan produktivitas jagung Indonesia. Apa artinya bila benih berkualitas tapi tanpa sistem budidaya yang tepat. Dapat dipastikan hasilnya pun jeblok. Kepadatan optimum dalam satu hektar, cukup 67 ribu—70 ribu tanaman. Jarak tanam 75 cm x 20 cm, dan setiap lubang tanam diisi satu benih. Diharapkan dengan perlakuan lahan yang baik serta didukung dengan kualitas bibit yang unggul, maka akan diperoleh jumlah produktivitas jagung yang banyak dan dengan kualitas baik yang sangat menjual.

Daftar pustaka
Munif, Abdul.2009.Strategi dan Pencapaian Swasembada Pangan di Indonesia http://www.beritasekarang.com/opini/41-opini/685-strategi-dan-pencapaian-swasembada-pangan-di-indonesia.html
Selamet R., Tri Mardi, Dadang, Yan S. http://www.agrina online.com/show_article.php?rid=7&aid=1344
______.2009.http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/537/
Sihombing, Martin. 2009. Indonesia berpotensi kuasai pasar jagung. http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL

oleh:
Achmad Khoirur rozi
IKM A 2007
100710005/05

Erlita Dwi Tunggal Spikadhara
Posted on 22nd October, 2009

Penggunaan limbah padi pada berbagai kebutuhan
Seiring dengan perkembangan jaman semakin meningkatnya pula tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang dapat kita terima. Hal ini dapat kita terapkan pada pengolahan atau pemanfaatan kembali limbah–limbah yang ada dilingkungan sekitar kita yang sekiranya dapat digunakan kembali sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi serta estetika lingkungan kita. Untuk itu tak ada salahnya bagi kita bila dapat mempelajari hal ini dan mampu untuk mengimplementasikannya.

Sering kali kita menganggap bahwa limbah merupakan bahan buangan atau bahan sisa dari suatu proses pengolahan yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, padahal tidak semuanya limbah selalu tidak dapat dimanfaatkan lagi. Seperti halnya yang telah kita ketahui pada limbah padi, misalnya jerami, sekam, dedak, bekatul, dan merang. Walaupun wujudnya berupa limbah dari padi, namun masih banyak manfaat baik yang dapat kita terima bila kita mau dan mampu untuk mengolahnya kembali dengan baik. Karena apabila hal ini mampu kita terapkan dengan optimal maka hal ini dapat menguntungkan para petani, karena dengan memanfaatkan kembali limbah padi ini akan dapat meningkatkan tingkat kekreatifan dan pertumbuhan ekonomi mereka.

Sebagaimana contohnya pada limbah jerami yang dapat kita manfaaatkan kembali sebagai pupuk, bahan pakan hewan ternak, alas kandang hewan ternak dan dapat dijadikan sebagai kompos. Adapun sedikit kendala pada penggunaan limbah dari jerami padi yang satu ini, yaitu pemanfaatan kembali pada limbah jerami ini memiliki tingkat kecernaan yang rendah ( bila dijadikan sebagai bahan pakan ternak ) dan pada limbah jerami sendiri ini memiliki kandungan protein yang cukup rendah ( hanya 3–5 saja ). Nilai manfaat limbah jerami padi sebagai bahan pakan ternak dapat ditingkatkan dengan dua cara, yaitu dengan mengoptimumkan lingkungan saluran pencernaan atau dengan meningkatkan nilai dari nutrisi jerami itu sendiri. Optimasi lingkungan saluran pencernaan dilakukan terutama pada rumen, dapat dilakukan dengan pemberian bahan pakan suplemen yang mampu memicu pertumbuhan mikroba rumen pencerna serat seperti bahan pakan sumber protein. Sementara nilai nutrisi dan tingkat pemanfaatan dapat diperbaiki dengan memberikan perlakuan yang dapat meningkatkan kandungan pada protein dan perenggangan ikatan lignoselulosa. Adapun perlakuan yang paling umum dilakukan adalah perlakuan amoniasi. Sumber amonia dalam amoniasi yang digunakan dapat berupa gas amonia, amonia cair, urea maupun urin. Daya kerja amonia dalam perlakuan amoniasi diantaranya adalah sebagai bahan pengawet terhadap bakteri dan fungi yang berkembang pada bahan selama proses dilakukan, sumber nitrogen yang berfiksasi dengan jaringan tanaman dan pemecah ikatan lignin dan karbohidrat. Indikator keberhasilan pengolahan dengan amonia dapat dilihat dari kandungan protein dan daya cerna bahan yang diolah yang salah satunya dipengaruhi oleh dosis amonia. Dosis amonia merupakan berat nitrogen yang dipergunakan dibandingkan berat bahan kering bahan. Dosis amonia optimum sekitar 3-5% dari bahan keing bahan. Konsentrasi amonia kurang dari 3% tidak berpengaruh terhadap daya cerna dan protein kasar bahan dan amonia hanya berperan sebagai pengawet. Konsentrasi amonia lebih dari 5% menyebabkan perlakuan tidak efisien karena banyak amonia yang terbuang.

Sedangkan pada limbah sekam padi memiliki banyak manfaat, yaitu sebagai bahan bakar pembangkit listrik dengan sistem gasifikasi yang mana dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi desa atau masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha industri kecil dan usaha rumah tangga dimana memiliki kaitan yang dapat membantu program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan di negara kita. Selain itu juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan hewan ternak. Pada limbah sekam padi yang sudah dijadikan arang dapat digunakan untuk bahan bakar ramah lingkungan, dan sebagi media tumbuh tanaman hortokultura khususnya tanaman bunga. Adapun pada komposisi kandungan kimia dari limbah sekam padi sendiri dapat digunakan sebagai bahan baku industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia dan juga digunakan sebagai bahan–bahan baku pada industri bahan bangunan, terutama pada kandungan silika (SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil. Pada limbah abu sekam padi sendiri juga banyak kelebihan yang dapat dimanfaatkan kembali semestinya, seperti dapat dijadikan untuk perbaikan tanah dan menggemburkan tanah agar dapat memudahkan akar tanaman untuk tumbuh dan menyerap berbagai kandungan unsur hara yang terdapat pada tanah. Limbah sekam padi ada dua jenis yang dipakai untuk tanaman hias, pertama yang hangus 50% untuk media tanam atau dicampur, tapi untuk semai bibit, pada adenium misalnya kurang baik, dan kedua yang hangus 100% ini baik untuk media atau campuran dan juga baik untuk semai, lebih steril, soal kelembaban saat membuat tidak perlu diperhatikan, tapi saat aplikasinya ketanaman asal jangan becek. Semua tanaman bisa tumbuh baik dengan menggunakan limbah sekam bakar, keuntungan dari pemakaian media tanaman limbah sekam bakar adalah steril, poros, banyak akan unsur hara, ringan untuk mobilisasi, akan tetapi harganya terbilang mahal, karena proses pembuatanya dapat memakan waktu dan bahan bakar yang banyak. Selain itu limbah abu sekam padi ini sendiri juga dapat digunakan sebagai bahan penyerap lemak dan sebagai zat pewarna alami.

Sedangkan pada limbah dedak dan bekatul dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan hewan ternak. Limbah dedak sendiri merupakan media pertumbuhan mikroba baik yang menguntukan maupun yang berbahaya bagi kesehatan manusia karena pada dedak memiliki kandungan brbagai unsur hara, sehingga dedak yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan dampak yang merugikan berupa bau yang tidak sedap dan meninggalkan kotoran pada tempat pembuangan. Disamping itu bekatul sendiri memiliki manfaat dari segi kesehatan berupa pengobatan dari berbagai penyakit, sepreti diabetes melitus (kencing manis), hypertensi (tekanan darah tinggi), hypercholesterilaemi (kadar kolesterol tinggi), arteriosclerosis (pengapuran pembuluh darah), heart infact (serangan jantung karena penyumbatan), obesitas, (kegemukkan) penuaan dini, pencegahan ca colon, obstiopasi (sembelit ataususah buang air besar), libido laki–laki yang menurun, rheumatik (encok), extrasystole (gejala sering berdebar), cirrhosis hepatis, asma bronchiale, coronair insufficiency (gangguan aliran pembuluh darah jantung), gejala sering sakit kepala atau pusing pada tekanan darah rendah, gangguan pencernaan, rasa pegal pada otot, basedov hyperthyroid (penyakit kelenjar gondok yang bekerja berlebihan), dan ausdaeuer (daya tahan fisik). Penggunaan bekatul di luar negri seperti di AS dan di Jepang secara komesil diperoleh dengan mengekstraksi bekatul menjadi minyak goreng.

Selain itu bekatul juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan maupun farmasi, sedangkan komponen bioaktif yang terdapat pada bekatul telah disuplementasi kedalam produk – produk kecantikan seperti sabun mandi, pelembab dan pembersih kulit dan pelembab muka yang mana berguna untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan kulit. Bekatul juga mengandung asam ferulat yang telah diketahui secara luas sebagai bahan antioksidan dan bahan fotoprotektif. Untuk dijadikan bahan pangan, bekatul dapat dicampur bahan lain pada pembuatan kue, biskuit dan lain–lain. Bekatul juga mengandung kalsium yang berfungsi untuk mengurangi gangguan insomnia, mencegah terjadinya penggumpalan darah.

Selain itu bekatul mengandung magnesium yang berfungsi untuk mengaktifkan enzim, berperan dalam produksi energi formasi protein dan replikasi sel, meningkatkan kelarutan kalsium dalam enzim sehingga dapat mencegah terbentuknya batu ginjal. Bekatul mengandung mangan yang berperan pada beberapa enzim yang terlibat pada pengontrolan gula darah, metabolisme energi serta berperan dalam enzim SOD sehingga sel tidak mudah rusak, mencegah gangguan epilepsi, berperan dalam fungsi otak. Bekatul juga mengandung zat besi yang berperan mengatur molekul hemoglobin, sebagai alat transprtasi oksigen dari paru–paru, penting selama perkembangan janin, pada masa remaja, masa kehamilan, dan menyusui. Kandungan lain bekatul yaitu kalium yang berfunsi untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, dan fungsi jantung, pengantar pesan syaraf ke otot, serta mengirim oksigen ke otak.

Erlita Dwi Tunggal Spikadhara
IKM B 07 / 100710110 / 06

Gefri Maulana
Posted on 22nd October, 2009

Pengembangan metode SRI ( system of rice intensification ) di dunia

Oleh : Gefri Maulana
100710178 / IKM B

SRI adalah teknik budidaya padi yang dapat meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50 %, bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100 %. SRI telah diuji di Cina, Indonesia, India,Filipina, Srilanka dan Bangladesh dengan hasil yang positif. SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff ( Director CIIFAD ).
Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan presentasi SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar. Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di madagaskar pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton / ha, petani yang menggunakan SRI memperolehhasil panen lebih dari 8 ton/ ha, beberapa petani memperoleh 10, 15, bahkan ada yang mencapai 20 ton / ha.
Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen. Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsure dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.
Ada beberapa metode mengenai system intensifikasi yang lain. Salah satu diantaranya adalah PTT atau pengelolaan tanaman terpadu. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan suatu model untuk meningkatkan hasil padi dan efisiensi masukan produksi dengan memperhatikan penggunaan sumberdaya alam secara bijak. Melalui usaha ini diharapkan kebutuhan beras nasional dapat dipenuhi, pendapatan petani padi dapat ditingkatkan dan usaha pertanian padi dapat terlanjutkan. Pada dasarnya teknologi yang diterapkan oleh model PTT dan System of Rice Intensification (SRI) sama, hanya strateginya berbeda. Strategi SRI lebih dipusatkan pada penggunaan bahan organik. Penggunaan bahan organik yang diintegrasikan dengan teknik pengairan berkala akan mampu menyediakan hara untuk kebutuhan tanaman padi. Namun bahan organik yang dibutuhkan cukup banyak, yaitu sekitar 10 ton kompos/ha/musim, yang pada prakteknya sulit dipenuhi dalam skala usaha padi yang luas dan akan menambah biaya tenaga kerja untuk aplikasinya.
Perbedaan antara PTT dan SRI adalah 1) pendekatan SRI berbentuk paket teknologi yang diyakini dapat diterapkan pada semua kondisi, 2) komponen SRI mudah diadopsi petani, 3) pendekatan pengembangan SRI adalah sistem belajar orang dewasa sehingga petani merasa diberi posisi yang tepat sebagai subyek perubahan. Perbedaan selanjutnya dari PTT dan SRI adalah : 1) PTT bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi input seperti benih, pupuk, dan pestisida; 2) PTT diterapkan berdasarkan spesifik lokasi; 3) PTT berorientasi pada proses produksi rasional dan ramah lingkungan; 4) PTT menggunakan pendekatan keproyekan, dan 5) PTT menggunakan cara transfer teknologi satu arah.
Dalam pelaksanaannya, pengembangan metode SRI ini juga melibatkan masyarakat dan berupaya agar masyarakat tersebut terbuka pikirannya untuk bisa menerima metode SRI ini dengan baik. Tujuan Pedoman Teknis pengembangan System Of Rice Intensification ( SRI ) adalah memberikan acuan umumkepada petugas daerah dalam melaksanakan kegiatan pengembangan usahatani padi sawah organik metode SRI melalui Pelatihan dan Sekolah Lapangan SRI. Sasaran kegiatan pengembangan SRI adalah petani yang mempunyai lahan sawah beririgasi yang ketersediaan airnya terjamin. Pada tahun 2009 kegiatan pengembangan SRI sebanyak 111 paket yang tersebar di 21 propinsi, 53 kabupaten/kota.
Tenik Budidaya Padi Organik Metode SRI
1.Persiapan Benih
Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung. Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organic di dalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm. Selama 7 hari setelah umur 7-10 hari benih padi sudah siap ditanam.

2.Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah untuk tanam padi metode SRI tidak berbeda dengan cara pengolahan tanah untuk tanam padi dengan cara konvensional yaitu dilakukan untuk mendapatkan struktur tanah yang lebih baik bagi tanaman, terhinadar dari gulma. Pengolahan dilakukan dua minggu sebelim tanam dengan menggunakan traktor tangan sampai terbentuk struktur lumpur.

3.Perlakuan Pemupukan
Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsure hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organic pertama setelah menggunakan system konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim tanam. Setelah keliatan kondisi tanah membaik maka pupuk organic bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organic dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.

4.Pemeliharaan
Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus – menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan dilakukan hanya untuk mempermudah pemeliharaan. Pada prakteknya pengelolaan air pada system padi organic dapat dilakukan sebagai berikut ; pada umur 1-10HST tanaman padi digenangi dengan ketinggian air rata – rata 1cm, kemudian pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi. Untuk perlakuan yang masih membutuhkan penyiangan berikutnya maka dua hari menjelang penyianagn tanaman digenang. Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu, tanaman tidak digenangi kembali sampai panen. Untuk mencegah hama dan penyakit pada SRI tidak digunakan bahan kimia, tetapi digunakan pencegahan dan apabila terjadi gangguan hama / penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik.

Adya Prayoga
Posted on 22nd October, 2009

PENTINGNYA PADI ORGANIK DI INDONESIA

Oleh : ADYA PRAYOGA (100710238) / (73) IKM B 07.
Akhir-akhir ini isu pertanian organik mencuat ke permukaan. Sebagian orang mendukung gagasan pengembangan pertanian organik dan sebagian lainnya tidak setuju, masing-masing dengan argumentasi yang sama-sama rasional. Argumentasi kelompok pro pertanian organic bertitik tolak dari keprihatinannya terhadap keamananpangan, kondisi lingkungan pertanian, dan kesejahteraan petani secara mikro. Sementara kelompok yang kontra bertitik tolak dari ke khawatirannya terhadap keberlanjutan ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani secara menyeluruh. Badan Litbang Pertanian menyikapi gagasan pengembangan pertanian organik berlandaskan ilmu pengetahuan, kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan pendapat pakar nasional dan internasional. Ada kerancuan awam dalam memahami pertanian organik karena adanya perbedaan sudut pandang antara kelompok yang pro dengan yang kontra. Kelompok pro pertanian organik yang diwakili oleh para pemerhati lingkungan dan kesehatan mengartikan pertanian organik (organic farming) sebagai sistem pertanian yang tidak menggunakan input (masukan) kimia sama sekali, baik pupuk maupun pestisida, tetapi hanya menggunakan input alami (organik) secara insitu. Adakalanya sistem ini dikaitkan dengan konsep pertanian berkelanjutan input rendah (LowInput Sustainable Agriculture). Sasaran utama pertanian organik menurut mereka adalah untuk menghasilkan produk yang bersih,sehat, dan bernilai ekonomi lebihtinggi tanpa merusak kelestarian sumber daya alam Kelompok kontra pertanian organik yang diwakili oleh para peneliti padi di berbagai negara termasuk Indonesia menilai bahwa pertanian organik adalah system pertanian yang menggunakan bahan organik sebagai salah satu input untuk pembenah tanah dan suplemen pupuk, namun tetap menggunakan input kimia berupa pupuk buatan dan pestisida secara selektif. Mereka sepakat untuk mengu-rangi penggunaan input kimia dan pengurangan tersebut dikompen sasi oleh bahan organik. Salah satu landasan prin-sipilnya adalah system pertanian modern (good agricultural practices) mengutamakan produktivitas tinggi,efisiensi produksi (peningkatan pendapatan petani), ketahanan pangan, kelestarian lingkungan dan sumber daya.Di Indonesia,padi tidak hanya berperan penting sebagai makanan pokok, tetapi juga merupakan sumber perekonomian sebagian besar masyarakat di pedesaan. Kekurangan produksi berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Karena itu upaya peningkatan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk tentu perlu mendapat perhatian utama dalam pembangunan pertanian. Untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 210 juta jiwa memerlukan sekitar 54 juta ton gabah kering giling per tahun atau setara dengan 35 juta ton beras. Dengan luas lahan yang ada maka produktivitas padi rata-rata harus di atas 4,9 t/ha, sedangkan hingga saat ini baru mencapai 4,7t/ha. Oleh karena itu, untuk mencapai ketahanan pangan yang stabil dengan laju peningkatan kebutuhan beras 2-3%/tahun, pemerintah harus terus berupaya meningkatkan produktivitas dan produksi padi secara intensif. Untuk sistem pertanian organik yang tidak mentoleransi penggunaan input kimia, khususnya pada tanaman padi, perlu pemahaman yang lebih bijaksana. Secara teknis, sistem ini tidak mampu mendorong laju peningkatan produktivitas padi, dan bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Hal ini tentu tidak relevan dengan keberlanjutan ketahanan pangan. Pertanian organik akan lebih menguntungkan jika diterapkan pada komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti tanaman hortikultura dan perkebunan, sedangkan untuk padi perlu dibatasi pada kawasan tertentu.
Sebagai pembanding, Thailand mempertahankan sebagian kecil areal pertanian untuk memproduksi beras berkualitas tinggi (high quality rice) guna memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Untuk keperluan ekspor, negara ini tetap mengandalkan pengembangan varietas unggul yang diketahui responsif terhadap pupuk anorganik. Dampak dari kebijakan ini, produktivitas padi di Thailand hanya 2,8t/ha, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia yang sudah mencapai 4,7 t/ha. Namun dengan luas areal panen 10 juta hektar dan jumlah penduduk hanya 68 juta jiwa, Thailand tetap menjadi eksportir beras di Asia. Bagi Indonesia, dengan luas panen sekitar 11 juta hektar dan jumlah penduduk 210 juta dengan laju pertumbuhan 1,6%/tahun, tam-paknya sulit menera pkan pertanian organik secara luas bagi peningkatan produksi padi. Saat ini sekitar 90% areal pertanaman padi di Indonesia telah ditanami varietas unggul baru dengan hasil tinggi, diatas 6 t/ha. Untuk mengaktualisasikan potensi genetik varietas-varietas unggul tersebut diperlukan input yang relatif tinggi, terutama hara N, P, dan K dalam jumlah yang cukup dalam waktu singkat, yang hanya mudah diperoleh dari pupuk anorganik. Namun, bahan organik tetap diperlukan, apalagi kandungan C/N organik lahan sawah irigasi intensif umumnya sangat rendah. Pemberian bahan organik bermanfaat sebagai pembenah danmemperbaiki agregat tanah, sumber hara mikro (Mn, Cu, Zn, Fe), dan meningkatkan efisiensi serapanhara makro (N, P, K) yang berasal dari pupuk anorganik. Dekomposisi bahan organik di tanah tergenang sebagaimana halnya di lahan sawah berlangsung lambat, sehingga peranan bahan organik sebagai sumber hara makro tidak efektif. Kalau berpedoman kepada konsep pertanian organik yang tidak mentoleransi penggunaan pupuk kimia, maka diperlukan bahan organik sebanyak 13 ton jerami jagung atau 15 ton jerami padi per hektar untuk menggantikan pupuk urea pada pertanaman padi yang umumnya diberikan sebanyak 200kg/ha (setara 90 kg N/ha). Ditinjau dari aspek teknis dan ekonomis, cara ini kurang layak karena bahan organik sebanyak itu sulit dikelola dan sulit diperoleh. Pupuk hayati yang sudah beredar saat ini tentu tidak dapat pula sertamerta menggantikan pupuk kimia sebelum diuji efektivitas dan efisiensinya. Selain cukup mahal, pupuk hayati juga memerlukan teknik aplikasi dan penanganan yang relatif khusus. Dalam upaya peningkatan produktivitas padi, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan produksi, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) bekerja sama dengan IRRI dan FAO telah mengembangkan konsep Integrated Crop Management atau Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT) sejak 2001. PTT itu sendiri adalah pendekatan dalam sistem usaha tani padi yang berlandaskan pada sinergistik dan keterpaduan antara sumber daya dan pengelolaan tanaman yang bertitik tolak dari konsep good agricultural practices. Dalam hal ini pemberian bahan organik merupakan salah satu syarat utama (compulsory technology), namun fungsinya hanya sebagai suplemen dan pembenah tanah. Karena itu aplikasi bahan anorganik tetap menjadi andalan dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi, yang tentu saja memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya lahan. Dalam kaitan ini, Balitpa dan IRRI telah memperkenalkan teknik pengelolaan hara spesifik lokasi (site specific nutrient management) yang menganut prinsip feed what the crop need. Artinya, penggunaan pupuk harus proporsional dan rasional, sesuai kebutuhan tanaman untuk dapat berpro-duksi tinggi. Bekerja sama dengan Ditjen Produksi Tanaman Pangan dan Pemerintah Daerah setempat, Badan Litbang Pertanian pada tahun 2002-2004 mengembangkan model PTT di 22 propinsi. Inovasi ini ternyata mampu menekan penggu-naan pupuk anorganik hingga 35% dan meningkatkan produktivitas padi sebesar 16-36%, bergantung pada kondisi lahan dan lingkungan serta kemampuan dan partisipasi petani dalam menerapkan teknologi spesifik lokasi di daerah setempat. Oleh karena itu, kalau produktivitas padi dapat ditingkatkan hingga mencapai dua kali lipat melalui pengembangan pertanian organik, baik dari kaca mata kelompok yang pro maupun yang kontra, adalah suatu hal yang luar biasa

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr273052.pdf

siti shobikhatul maghfiroh
Posted on 22nd October, 2009

Surimi dan furikake sebagai pengembangan olahan ikan & Hasil Laut untuk Perbaikan Gizi

Indonesia sangat kaya akan hasil laut, kususnya ikan. Sekjen Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Dr. Agung Sudarsono menyatakan bahwa tingkat konsumsi ikan nasional hanya 19 kg/kapita/tahun, lebih rendah dari Vietnam maupun Malaysia yang tingkat konsumsinya mencapai 33 kg/kapita/tahun. Tahun depan diupayakan tercapai target konsumsi 23 kg/kapita/tahun. Salah satu kemungkinan penyebab rendahnya tingkat konsumsi itu adalah minimnya keragaman hasil olahan ikan yang memiliki daya tarik bagi konsumen lintas usia, suku, dan tingkat sosial. Pola makan ikan harus terus dibudayakan di dalam menu harian, mengingat ikan sangat baik untuk kesehatan. Disamping dipasarkan dalam bentuk segar, ikan juga dipasarkan dalam bentuk produk olahan. Produk olahan ikan khas Indonesia yang telah terindustrialisasi dengan mapan saat ini tercatat meliputi kerupuk, ikan asin, terasi, pindang, peda dan beberapa yang lain, yang daya tariknya bagi konsumen anak-anak relatif rendah. Barangkali diantara produk tersebut hanya kerupuk yang mudah diterima konsumen anak-anak. Dengan introduksi produk nugget, ikan mulai luas dikonsumsi masyarakat konsumen kalangan anak-anak. Namun demikian proses pengolahan dan penyiapan nugget menyebabkan produk ini kurang bersahabat bagi kesehatan. Produk olahan ikan kegemaran anak di Indonesia yang juga sudah menunjukkan gelagat untuk dikelola sebagai industri adalah mpek-mpek dan bakso ikan. Hanya saja masih ada beberapa kelemahan yang perlu dibenahi. Kelemahan tersebut antara lain dalam aspek fleksibilitas, variabilitas, dan kemudahan penyajian; serta pengemasan yang kurang menarik minat konsumen, khususnya kalangan anak-anak. Dalam tulisan ini dicoba disajikan dua macam contoh produk olahan ikan yang sangat luas dikonsumsi di Jepang yaitu,surimi dan furikake.

Di Jepang sejak abad ke 7 telah dikembangkan dan dikonsumsi secara luas produk olahan ikan berbasis surimi. Surimi dibuat dari ikan berdaging putih yang kemudian diolah menjadi pasta dan akan bertekstur seperti karet (rubbery) setelah diolah. Dari surimi selanjutnya dapat diproduksi beberapa macam makanan dengan karakter bentuk, tekstur, serta aroma yang khas. Kelompok pangan olahan berbasis surimi ini meliputi chikuwa, kamaboko, fish ball, hanpen, dan tsumire. Masing-masing produk pada dasarnya menggunakan bahan tepung, putih telur, minyak nabati, sorbitol, protein kedele, dan bumbu sebagai bahan adonan, disamping surimi sebagai bahan utama. Chikuwa berbentuk seperti tabung sebagai hasil pelapisan batang bambu atau logam dengan adonan, yang selanjutnya dikukus atau direbus. Kamaboko memiliki rasa yang lebih delicate dengan tekstur kenyal, serta dapat ditampilkan dalam beragam bentuk. Penggunaan kamaboko dalam menu makanan bisa sangat bervariasi mulai dari sup, salad, mie, casserole dan lain-lain. Disamping mudah diterimanya oleh konsumen dan kesederhanaan proses pembuatannya, karakter lain yang menonjol dari produk berbasis surimi adalah nilai manfaatnya bagi tubuh. Segala manfaat dari ikan laut sebagai sumber DHA dan EPA, telur sebagai sumber protein, dan konsentrat kedele sebagai sumber isoflavone dapat diambil dari kelompok makanan ini. Produk surimi sebenarnya sangat tepat untuk pemanfaatan produksi perikanan di Indonesia, mengingat:
1. Jenis ikan di daerah tropis terdiri dari banyak jenis, namun untuk setiap jenis mempunyai populasi sedikit
2. Hampir semua jenis dan ukuran ikan dapat dibuat sebagai bahan baku surimi.
3. Surimi dapat disimpan jangka panjang sebagai bahan baku produk berbasis fish-gel
4. Surimi mempunyai volume lebih kecil dari ikan utuh.
5. Surimi dan produk lanjutannya dapat memberikan nilai tambah untuk nelayan serta perbaikan gizi masyarakat.
6. Dapat memperluas bentuk-bentuk diversifikasi olahan hasil perikanan sehingga akan meningkatkan daya terima konsumen
7. Memiliki jangkauan pemasaran yang luas karena mudah diterima konsumen segala lapisan dan bersifat global
8. Memiliki daya tahan simpan yang panjang pada kondisi beku

Untuk menggambarkan produk furikake secara mudah adalah dengan membandingkannya dengan produk serupa di Indonesia yaitu abon. Produk ini bisa ditaburkan diatas nasi, bubur, atau dicampurkan untuk mempercantik dan memperlezat onigiri. Berbeda dengan abon yang didominasi oleh daging (hewan darat ataupun ikan), dengan satu macam rasa, maka furikake merupakan campuran yang komposisinya bisa sangat beragam. Yang hampir selalu ada adalah daging ikan kering, wijen, dan nori. Jenis ikan yang digunakan dan bahan campurannya bisa apa saja. Karena dalam formulasinya tidak ada yang dominan maka dalam hal penampilan, furikake sungguh dapat berperan dalam mempercantik makanan. Disamping itu kemasan produk ini mayoritas dibuat dengan sangat menarik. Tambahan keunggulan produk ini adalah penyajiannya sangat mudah, maka tak salah lagi tingkat konsumsi furikake sangat tinggi. Dari aspek kesehatan, furikake boleh diandalkan sebagai makanan yang kaya. Bagaimana tidak, disamping ikan dan nori yang keunggulannya sudah melekat diingatan kita, biji wijen yang hampir selalu bergabung, bisa dikategorikan sebagai pangan fungsional. Antioksidan sesaminol dan sesamolinol menjaga lemak tetap dalam bentuk yang tidak teroksidasi.
Target Departemen Kelautan yang tidak ambisius untuk meningkatkan angka konsumsi ikan di Indonesia layak didukung. Meskipun jenis habitat atau produk lautan Jepang dengan lautan Indonesia tidak persis sama tetapi pola pemanfaatannya bisa ditiru. Peningkatan konsumsi pangan laut tidak hanya dapat menyelamatkan anak bangsa dari ancaman keterbelakangan masalah gizi.

DAFTAR PUSTAKA
http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=140
http://anekalaut.blogspot.com/2009/03/ikan-untuk-perbaikan-kualitas-anak.html.
http://haryobagushandokonews.wordpress.com/2008/04/19/mengkonsumsi-hidangan-laut-demi-kesehatan-2/.

Siti Shobikhatul Maghfiroh
100710259 / 90
IKM 2007 B

Lilik Rohmawati
Posted on 22nd October, 2009

Lilik Rohmawati
100710186 /30
Ikm B ‘07

PENANGANAN PASCA PANEN BUAH NANAS

Pemenuhan gizi yang seimbang sangat diperlukan oleh masyarakat, baik itu gizi makro maupun gizi mikro seperti karbohidrat, lemak , protein, air, mineral, dan vitamin. Holtikultura sebutan bagi tanaman sayur-sayuran, buah-buahan, dan bunga-bungaan mempunyai kandungan vitamin dan mineral yang cukup tinggi dan beberapa di antaranya yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh, seperti vitamin A, serat, gula, dan vitamin C.

Produk holtikultura merupakan produk yang mudah rusak (perisable). Produk yang telah dipanen mengalami berbagai macam bentuk stress seperti hilangnya suplai nutrisi, proses panen yang banyak menimbulkan pelukaan berarti, pengemasan dan transportasi yang sering menyebabkan kerusakan mekanis lebih lanjut, hambatan ketersedian CO2 dan O2, hambatan regim suhu, dan sebagainya. Sehingga butuh penanganan khusus pada tahapan pasca panen. Penanganan pasca panen ini bertujuan memberikan penampilan yang baik dan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat (konsumen), memberikan perlindungan produk dari kerusakan dan memperpanjan masa simpan.

Penanganan pasca panen buah dan sayuran seperti Indonesia belum mendapat perhatian yang cukup. Hal ini terlihat dari kerusakan-kerusakan pasca panen sebesar 25 % - 28 %. Oleh sebab itu agar produk holtikultura terutama buah-buahan dan sayuran dapat sampai ke tangan konsumen dalam kondisi baik perlu penanganan pasca panen yang benar dan sesuai. Bila pasca panen dilakukan dengan baik, kerusakan-kerusakan yang timbul dapat diperkecil bahkan dihindari, sehingga kerugian di tingkat konsumen dapat ditekan (Suhardi, 1992). Berbagai cara penanganan pasca panen buah dan sayuran adalah pendinginan awal (recooling), sortasi, pencucian/pembersihan, degreening (penghilangan warna hijau) dan colour adding (perbaikan warna), pelapisan lilin, fumigasi, pengemasan/pengepakan dan penyimpanan.

Namun tidak semua buah dan sayur mendapat penanganan pasca panen seperti hal di atas, karena tanaman holtikultura mempunyai karakteristik yang berbeda dan membutukan perlakuan tertentu pula. Kita ambil contoh buah nanas, hasil olahan buah nanas sudah banyak beredar di masyarakat, seperti selai nanas, dodol, dan sirup. Akan tetapi masih banyak lagi pengolahan yang dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan mutu buah nanas setelah di panen.

Nanas (Ananas comosus) yang banyak orang menyebutnya dengan nenas, danas (Sunda), dan neneh (Sumatera), dan pineapple (Bahasa Inggris), merupakan tanaman buah yang selalu tersedia sepanjang tahun. Herba tahunan atau dua tahunan, tinggi 50-150 cm, terdapat tunas merayap pada bagian pangkalnya. Daun berkumpul dalam roset akar dan pada bagian pangkalnya melebar menjadi pelepah. Helaian daun bentuk pedang, tebal, liat, panjang 80-120 cm, lebar 2-6 cm, ujung lancip menyerupai duri, tepi berduri tempel yang membengkok ke atas, sisi bawah bersisik putih, berwarna hijau atau hijau kemerahan. Bunga majemuk tersusun dalam bulir yang sangat rapat, letaknya terminal dan bertangkai panjang. Buahnya buah buni majemuk, bulat panjang, berdaging, berwarna hijau, jika masak warnanya menjadi kuning. Buah nanas rasanya enak, asam sampai manis. Bijinya kecil, seringkali tidak jadi. Tanaman buah nanas dapat diperbanyak dengan mahkota, tunas batang, stek atau tunas ketiak daunnya Berdasarkan bentuk daun dan buahnya, tanaman nenas dikelompokan dalam 4 golongan yaitu golongan Cayenne, golongan Queen, golongan Spanish dan golongan Abacaxi. Pada umumnya tanaman nanas yang dikembangkan dan dibudidayakan di Indonesia adalah golongan Cayenne dan Queen.

Bagian utama yang bernilai ekonomi penting dati tanaman nanas adalah buahnya. Buah nanas mengandung gizi yang cukup tinggi dan lengkap, kandungan vitamin C 80%, enzim bromealin (menghidrolisa protein), sehingga dapat digunakan untuk melunakkan daging. Selain itu, buah nanas juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh, sebagai obat penyembuh sembelit, gangguan saluran kencing, mual, flu, wasir, dan kurang darah. Penyakit kulit juga dapat diobati dengan mengoleskan sari buah nanas, dan kulit buah nanas dapat diolah menjadi sirup atau diekstrasi cairannya untuk pakan ternak.

Panen
Panen buah nanas dilakukan setelah nanas berumur 12-24 bulan, tergantung dari jenis bibit yang digunakan. Bibit yang berasal dari mahkota bunga berbuah pada umur 24 bulan, hingga panen buah setelah berumur 24 bulan. Tanaman yang berasal dari tunas batang dipanen setelah umur 18 bulan, sedangkan tunas akar setelah berumur 12 bulan. Pemanenan buah nanas dilakukan bertahap sampai tiga kali. Panen pertama sekitar 25%, kedua 50%, dan ketiga 25% dari jumlah yang ada. Ciri-ciri buah nanas yang siap dipanen:
a. Mahkota buah terbuka.
b. Tangkai buah mengerut.
c. Mata pada kulit buah berukuran lebar, besar, lebih bulat, tidak tajam, rata serta berlubang pada bagian tengahnya
d. Pangkal buah kuning.
e. Timbul aroma nanas yang harum dan khas.
f. Bila dipukul (diketuk) akan mengeluarkan suara menggema.
Jika buah telah siap dipanen, biasanya akan tumbuh bibit/anakan nenas dibawah pohon induk/utama yang biasa disebut “bibit ketiak”. Sehingga nenas dipanen dengan menebang pohon induk/utamanya, tetapi tetap membiarkan anakan nenas tumbuh disamping/dibawahnya. Nanas dipanen dengan cara pangkal tangkai buah dipotong mendatar/miring dengan pisau tajam dan steril. Pemanenan dilakukan secara hati-hati agar tidak rusak dan memar. Waktu panen dipengaruhi juga oleh tujuan penggunaannya, untuk dikonsumsi sebagi buah segar, diolah menjadi selai, keripik, nata, dsb, atau untuk dipasarkan ke tempat jauh. Tanaman yang sudah berumur 4-5 tahun perlu diremajakan karena pertumbuhannya lambat dan buahnya kecil. Cara peremajaan adalah membongkar seluruh tanaman nanas untuk diganti dengan bibit yang baru.

Penanganan Pasca Panen
Kegiatan penanganan lepas panen pada buah nanas meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
a. Pengumpulan Buah
Buah yang dipanen dikumpulkan di tempat pengumpulan atau tempat sortasi.
b. Sortasi/Klasifikasi
Dilakukan eliminasi produk yang luka, busuk, atau cacat, agar terpilih buah nanas yang baik dan manis sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi.
c. Pembersihan dan Pencucian
Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kotoran seperti debu, insekta, atau residu penyemprotan sebelum panen. Buah nanas harus dibersihkan dari daun-daun atau kotoran lain yang masih menempel dan memangkas tangkai buahnya. Dan pencuciannya sebaiknya pada air bersih dan mengalir.
d. Pemeraman
Agar diperoleh buah nanas yang matang secara bersama, maka dilakukan pemeraman, yaitu dengan cara membungkus buah nanas dengan daun, kemudian dimasukkan ke dalam peti.
f. Pengemasan
Proses ini juga dapat mempengaruhi tampilan buah nanas nantinya, buah nanas dengan kemasan yang menarik mempunyai harga yang lebih tinggi. Buah nanas tersebut dapat dikemas dalam kotak kayu yang jarang papannya, sehingga aliran udara masih dapat masuk. Kotak tersebut diberi alas lumut atau sabuk kelapa dan setelah itu dilapisi dengan kertas minyak.
g. Pengangkutan
Dalam proses pengangkutan harus diperhatikan penempatannya dan aliran udaranya, tidak terkena hujan atau sinar matahari langsung.
h. Penyimpanan
Penyimpanan buah dapat dilakukan pada suhu dingin, suhu atmosfer terawasi dan pada suhu ruangan. Dalam proses ini juga harus diperhatikan waktu atau lama penyimpanannya dan kerusakannya akibat bakteri.

Buah nanas memiliki kadar air yang tinggi hingga mencapai kurang lebih 80-90 % sehingga mudah sekali mengalami perubahan fisik, kimia maupun fisiologis. Dengan demikian apabila tidak segera dipasarkan atau dilakukan penanganan lebih lanjut maka mutunya akan cepat menurun sehingga harganya sangat murah bahkan tidak laku dijual. Buah nanas dapat dibuat menjadi berbagai macam produk olahan pangan sebagai salah satu alternatif untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan atau pembusukan. Buah nanas dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan dodol, selai, jelly, pengalengan sari buah, keripik, sirup serta nata de pina. Dodol nanas dan nata de pina telah berkembang dan memperoleh izin Dinas Kesehatan.

Penanganan pasca panen yang baik sebenarnya perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan nilai hasil pertanian, tetapi kenyataannya di Indonesia seringkali tidak dilakukannya penanganan pasca panen di tingkat petani, hal ini dikarenakan harga buah dan sayuran di tingkat petani rendah sehingga penanganan pasca panen dirasa mahal, keterbatasan pengetahuan mengenai penanganan pasca panen dan hasil panen tersebut membuat hasil panen langsung di jual. Sedangkan ditingkat pedagang biaya penanganan pasca panen yang lain dirasa mahal sehingga tidak sesuai dengan laba yang diperoleh karena daya beli konsumen yang rendah. Oleh karena itu diperlukan penerapan teknologi tinggi yang tentunya juga disertai dengan peningkatan pengetahuan di kalangan petani tentang pentingnya penanganan pasca panen terutama jenis buah dan sayur yang tidak tahan lama. Serta diperlukan peran serta dari masyarakat dan pemerintah untuk menunjang hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.(2009).Lahan Gambut di Kalimantan Berpotensi untuk Budidaya Nanas.[Diakses 20 Oktober 2009] http://bisnisukm.com/lahan-gambut-kalimantan-berpotensi-untuk-budidaya-nanas.html
Balitbang Pertanian.(1996).Risalah Hasil Penelitian Rakitan Teknologi Budidaya Tanaman Sayuran, Hias dan Palawija.Malang:Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Karangploso.
Buckle, K.A.,dkk.(1987).Ilmu Pangan.Jakarta:Universitas Indonesia Press.
Siswadi.(2009).Penanganan Pasca Panen Buah-buahan dan Sayuran.[Diakses tanggal 20 Oktober 2009]http://unisri.ac.id/faperta/wp-content/uploads/2009/01/penanganan-pasca-panen-buah-buahan-dan-sayuran.pdf
Utama, I Made S.(2009).Penanganan Pasca Panen Buah dan Sayuran Segar.[Diakses 20 Oktober 2009]http://docs.google.com/gview?a=v&q=cache:ZoIyhXDjLssJ:staff.unud.ac.id/~madeutama/wp-content/uploads/2009/06/5-penanganan-pascapanen.pdf+budidaya+pasca+panen+sayur+dan+buah&hl=id&gl=id&sig=AFQjCNE9ytgli3CPwS5nU-6VxhradlHzJA
Rakhmat, Farid, dkk.(2007).Budidaya dan Pasca Panen Nanas.[Diakses 20 Oktober 2009] http://kaltim.litbang.deptan.go.id/pdf/brosur/brosur%20nanas.pdf.

Riska Fitriyah
Posted on 22nd October, 2009

Riska Fitriyah
IKMB/100710242
Pengembangan Padi Organik di Indonesia
Ancaman krisis pangan saat ini tengah menghantui negara-negara diseluruh dunia, begitu juga di Indonesia. Beras merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia. Seperti yang kita ketahui juga Indonesia merupakan negara agraris, namun sungguh ironis karena Indonesia telah menjadi pengimpor beras nomor wahid di dunia, lebih memprihatinkan lagi bila melihat kehidupan para produsen beras yaitu para petani merupakan bagian terbesar dari masyarakat miskin negeri yang buminya subur dan kaya ini.
Bertani bagi para petani seolah-olah hanya sebagai suatu kebiasaan yang diturunkan leluhurnya dan tidak bisa diharapkan untuk menjadi sandaran hidup lagi. Ditambah lagi dengan ketidaksadaran para petani terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarganya dan para pengguna produksinya serta lingkungan di sekitar tempat tinggalnya termasuk tanah dan air akibat residu bahan kimia yang terhirup saat penyemprotan pestisida, belum lagi penggunaan pupuk dan pestisida kimia membuat kondisi tanah semakin rendah,tingkat kesuburannya yang mengakibatkan turunnya hasil produksi. Oleh karena itu teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan.
Saat ini ada harapan untuk peningkatan hasil produksi pertanian melalui pola pertanian dengan metoda SRI-Organik. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global. Sehingga melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.
Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertama kali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Metode ini dikembangkan dengan beberapa prinsip dasar, yaitu :
• Pemberian pupuk organik
• Peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang.
• Penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan.
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
1. Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
2. Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia, sehingga kesehatan para petani dapat tetap terjaga.
3. Produktifitas yang tinggi, untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
4. Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) merupakan beras sehat (healthy rice) tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabetes, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik untuk domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren dan kampanye gaya hidup sehat. Masalahnya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Karena selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik, mengapa?
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi seperti penjual pupuk atau pestisida organik, penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.
Hasil penelitian melalui survei maupun diskusi terfokus dengan para pelaku padi organik di Jawa Barat, hampir di semua kabupaten/kota padi organik telah diujicobakan, bahkan di beberapa kabupaten (seperti Tasikmalaya dan Garut) telah mengarah ke pengembangan. Secara kelembagaan, telah pula dijajaki sertifikasi produk padi organik sebagai prasyarat untuk menembus pasar ekspor. Namun, terungkap pula bahwa di beberapa kabupaten pengembangan padi organik justru mengalami pelambatan dan penurunan. Bahkan, para petani yang telah mencoba dan menerapkan padi organik kembali ke metode konvensional. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh,
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial, bahkan hal ini menjadi regeneratif. Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh serta konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah. Sosialisasinya tidak segencar pengenalan metode konvensional. Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Keempat, secara teknoekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya.
Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik, area penyadarannya harus menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik.
Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri).
Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif.
Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan pendukung yang jelas dan terakses, misalnya jejaring. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi, seperti pencampuran dan sebagainya.
Keenam, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi (rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang.
Membudayakan padi organik dalam tatanan mapan modernitas tentu bukan hal yang mudah. Itu akan tercapai dengan memulai menanamkan pertanian ramah lingkungan menjadi pola pikir (mindset) masyarakat, sehingga perlahan namun pasti masyarakat memahami persoalan, serta menumbuhkan kesadaran akan arti keberlanjutan dan masa depan. Itu lebih baik, daripada harus menanggung risiko dari efek exploitasi alam yang semakin membesar.

Daftar Pustaka
http:// gaming_news/Pertanian_ Padi_ Organik_ SRI_ dalam_ konsep_ Sistem_ Pertanian_ Terpadu (1) Oleh: M Roil Bilad (Direktur MEG)//
http://budi_daya_padi_organik_mulai_dikembangkan//. dosen Fakultas Pertanian Unpad dan Sekretaris Puslit Dinamika Pembangunan (PDP) Lemlit Unpad.htm

Mahmudah
Posted on 22nd October, 2009

Topik: Pengembangan Aneka Pangan Fungsional

Fungsi pangan yang utama bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Fungsi pangan yang demikian dikenal dengan istilah fungsi primer (primary function).Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder (secondary function), yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan masyarakat terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Fungsi makanan yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier (tertiary function). Pangan yang memiliki fungsi ketiga ini disebut dengan pangan fungsional.
Definisi pangan fungsional menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK. 00.05.52.0685 Tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. Meskipun mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami (Badan POM, 2001). Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Kalau obat fungsinya terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit. Tiga fungsi dasar pangan fungsional, yaitu: (1) sensory (warna dan penampilannya yang menarik dan cita rasanya yang enak), (2) nutritional (bernilai gizi tinggi), dan (3) physiological (memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh).Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan dari pangan fungsional antara lain adalah: (1) pencegahan dari timbulnya penyakit, (2) meningkatnya daya tahan tubuh, (3) regulasi kondisi ritme fisik tubuh, (4) memperlambat proses penuaan, dan (5) menyehatkan kembali (recovery). Beberapa pangan tradisional Indonesia yang memenuhi persyaratan pangan fungsional adalah minuman beras kencur, temulawak, kunyit-asam, serbat, sekoteng atau bandrek, tempe, tape, jamu, dan lain-lain.
Komponen – komponen dalam pangan fungsional bisa terjadi secara alami, akibat penambahan dari luar, atau karena proses pengolahan. Berikut ini contoh-contoh komponen aktif yang terdapat secara alami dalam bahan pangan adalah: (1) nerodiol dan linalool pada teh hijau yang berperan untuk mencegah karies gigi dan mencegah kanker; (2) komponen sulfur pada bawang-bawangan yang berfungsi untuk mencegah agregasi platelet dan menurunkan kadar kolesterol; (3) kurkumin pada rimpang kunyit dan l-tumeron pada rimpang temulawak yang berkhasiat untuk pengobatan berbagai penyakit; (4) daidzein dan genestein pada tempe yang berperan untuk menurunkan kolesterol dan mencegah kanker; (5) serat pangan (dietary fiber) dari berbagai sayuran, buah-buahan, serealia, dan kacang-kacangan yang berperan untuk pencegahan timbulnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan proses pencernaan; serta (6) berbagai komponen volatil yang terdapat pada bunga melati (jasmin), chrysant dan chamomile yang aromanya sering digunakan sebagai aromaterapi.
Di Indonesia sendiri banyak pangan tradisional yang dapat dikategorikan sebagai pangan fungsioal. Hal tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pangan tradisonal asli Indonesia menjadi pangan fungsional, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada penemuan dari luar negeri tentang pangan fungsional yang akan sangat membantu dalam hal pencegahan (preventif) maupun pengobatan (kuratif) beberapa penyakit yang ada di Negara kita, sehingga kita tidak selalu bergantung pada penemuan dari mancanegara bahkan mungkin Negara kita dapat menyumbangkan hasil penelitian kita ke Negara – negara lain.
Bagi masyarakat Indonesia sendiri umumnya amat diyakini khasiat aneka pangan tradisional, seperti tempe, bawang putih, madu, kunyit, jahe, kencur, temu lawak, asam jawa, sambiloto, daun beluntas, daun salam, cincau, dan aneka herbal lainnya. Jamu sebagai racikan aneka herbal berkhasiat sangat popular di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Kemajuan iptek pangan dan farmasi yang pesat telah memberikan bukti ilmiah bahwa sebagian besar jenis-jenis pangan yang diyakini nenek moyang kita bermanfaat untuk peningkatan kesehatan dan pengobatan.
Dalam rangka pengembangan pangan tradisional dengan peningkatan mutu dan keamanannya harus tetap mengacu pada food habbit atau kebiasaan makan, dengan cara setiap masukan hal-hal baru akan mudah diterima bila ada kesamaan dengan ciri yang telah ada dan atribut yang menjadi ciri pangan tradisional sebaiknya tetap dipertahankan. Peningkatan mutu, keamanan, dan prestise pangan tradisional dapat dilakukan dengan upaya-upaya : (1) pemilihan bahan mentah yang baik, (2) pemilihan bahan tambahan pangan yang baik, (3) penanganan yang lebih higienis, dan (4) penyajian/penampilan yang lebih menarik. Sebagai contoh adalah rempah – rempah dan sayuran. Rempah-rempah umumnya mengandung komponen bioaktif yang bersifat antioksidan (zat pencegah radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh), dan dapat berinteraksi dengan reaksi-reaksi fisiologis, sehingga mempunyai kapasitas antimikroba, anti pertumbuhan sel kanker, dan sebagainya. Dari kelompok bahan pangan rempah-rempah, jahe merupakan komoditi yang paling banyak digunakan. Luasnya penggunaan jahe disebabkan karena aroma yang khas, dapat diterima, dan dinikmasi dalam lauk, kue, manisan, permen, maupun minuman. Secara ilmiah jahe telah diteliti mampu meningkatkan aktifitas salah satu sel darah putih (Zakaria et al., 1999). Hasil ini mendukung data empiris yang dipercaya masyarakat bahwa jahe mempunyai kemampuan sebagai anti masuk angin, suatu gejala menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang oleh virus (influenza). Jahe juga memiliki aktivitas antioksidan. Studi pada mahasiswa yang diberi minuman jahe menunjukkan adanya perbaikan sistem imun (kekebalan tubuh) (Zakaria et al., 2000). Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber utama serat makanan, vitamin C, asam folat, karotenoid, flavonoid, dan senyawa-senyawa spesifik lainnya. Semua komponen yang terdapat pada sayuran dan buah-buahan telah terbukti mempunyai satu atau lebih sifat-sifat. Apabila konsumsi sayuran dan buah-buahan dikombinasikan dengan tambahan konsumsi rempah-rempah yang tinggi kandungan senyawa bioaktifnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa efek sinergis dalam mencegah penyakit degeneratif (jantung koroner, darah tinggi, diabetes, osteoporosis, dan kanker) akan lebih besar.
Namun begitu tidak jarang di dalam komponen makanan tradisional tersebut terdapat mikrobiologi yang merugikan bahkan mungkin bersifat pathogen. Untuk itu terdapat upaya – upaya preventif untuk mengatasi masalah tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan dalam penyiapan makanan tradisional yang berkaitan dengan proses penyiapannya adalah penerapan prinsip-prinsip cara pengolahan makanan yang baik (CPMB), meskipun dengan cara-cara yang sederhana. Berikut ini beberapa caranya.
Pertama, memperhatikan masalah sanitasi dan higiene. Kebersihan pada setiap tahapan proses pengolahan, yang dimulai dari persiapan dan penyediaan bahan baku, pemakaian air bersih, tahapan pengolahan, dan pasca pengolahan (pengemasan dan penyimpanan) makanan atau pangan tradisional merupakan langkah-langkah penting untuk menghindari terjadinya infeksi dan intoksikasi.
Kedua, memanfaatkan secara maksimal sifat sinergisme antara bahan-bahan penyusun makanan tradisional yang dikombinasikan dengan penambahan asam untuk menurunkan pH (keasaman) produk. Selain itu, sifat sinergisme ini juga merupakan usaha untuk menghindarkan penggunaan pengawet kimia.
Ketiga, upaya pelayanan purna jual yang diberikan kepada konsumen, dengan cara penulisan label pada kemasan makanan. Penulisan informasi tentang batas akhir penggunaan makanan (kadaluarsa), komposisi gizi penyusun makanan tradisional, komposisi zat gizi yang terkandung, bahan pengawet yang digunakan, informasi kehalalan, dan nama perusahaan atau industri rumah tangga yang memproduksi.
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa Indonesia mempunyai peluang yang sangat besar untuk mengembangkan produk pangan tradisional dengan berbasis pada sifat-sifat fungsionalnya. Namun juga harus diiringi dengan keterikatan emosional masyarakat terhadap hasil karya anak bangsa. Rasa cinta dan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat dapat menjadi potensi dalam hal pengembangan pangan tradisional menjadi pangan fungsional.

Daftar Pustaka:
http://www.pustaka-deptan.go.id
http://www.dprd.mojokertokota.go.id
http://www.kamusilmiah.com

MAHMUDAH
100710089 – 53
IKM A 2007

Andrian Prisandhie
Posted on 22nd October, 2009

Nama : Andrian Prisandhie
NIM : 100710075/ 44/ IKM ‘07

PENGEMBANGAN AGROFORESTRI

Agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll.) dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada. Sebagaimana pemanfaatan lahan lainnya, agroforestri dikembangkan untuk memberi manfaat kepada manusia atau meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Agroforestri diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah pengembangan pedesaan dan seringkali sifatnya mendesak. Agroforestri utamanya diharapkan dapat membantu mengoptimalkan hasil suatu bentuk penggunaan lahan secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat.
Untuk daerah tropis, beberapa masalah (ekonomi dan ekologi) berikut menjadi
mandat agroforestri dalam pemecahannya (von Maydell, 1986):
a.Menjamin dan memperbaiki kebutuhan bahan pangan:.
b.Memperbaiki penyediaan energi lokal, khususnya produksi kayu bakar:
Suplai yang lebih baik untuk memasak dan pemanasan rumah (catatan:
yang terakhir ini terutama di daerah pegunungan atau berhawa dingin)
c.Meningkatkan, memperbaiki secara kualitatif dan diversifikasi produksi bahan
d.Memperbaiki kualitas hidup daerah pedesaan, khususnya pada daerah dengan
persyaratan hidup yang sulit di mana masyarakat miskin banyak dijumpai:
e.Memelihara dan bila mungkin memperbaiki kemampuan produksi dan jasa lingkungan setempat.

Arah Pengembangan Agroforestri
Petani agroforestri senantiasa menghadapi berbagai hambatan dan tantangan dalam menjalankan sistem usaha taninya, baik yang berasal dari dalam maupun yang dari luar sistem. Hambatan dari dalam misalnya yang terkait dengan sistem produksi seperti kesuburan tanah dan ketersediaan tenaga kerja dan modal. Hambatan dari luar misalnya fluktuasi harga produk (harga yang rendah). Tantangan dan hambatan tersebut mengancam keberlanjutan sistem agroforestri. Oleh karena itu perlu ada inovasi teknologi yang bisa mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi oleh petani agroforestri, supaya agroforestri bisa menjadi salah satu prioritas pilihan petani.
Pengembangan agroforestri, menurut Raintree (1983) meliputi tiga aspek, yaitu
(a)meningkatkan produktivitas sistem agroforestri,
(b)mengusahakan keberlanjutan sistem agroforestri yang sudah ada
(c)penyebarluasan sistem agroforestri sebagai alternatif atau pilihan dalam penggunaan lahan yang memberikan tawaran lebih baik dalam berbagai aspek (adoptability).
Produktivitas
Produk yang dihasilkan sistem agroforestri dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni (a) yang langsung menambah penghasilan petani, misalnya makanan, pakan ternak, bahan bakar, serat, aneka produk industri, dan (b) yang tidak langsung memberikan jasa lingkungan bagi masyarakat luas, misalnya konservasi tanah dan air, memelihara kesuburan tanah, pemeliharaan iklim mikro, pagar hidup, dsb. Peningkatan produktivitas sistem agroforestri diharapkan bisa berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dan masyarakat desa.
Peningkatan produktivitas sistem agroforestri dilakukan dengan menerapkan perbaikan cara-cara pengelolaan sehingga hasilnya bisa melebihi yang diperoleh dari praktek sebelumnya, termasuk jasa lingkungan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Namun demikian, keuntungan (ekonomi) yang diperoleh dari peningkatan hasil dalam jangka pendek seringkali menjadi faktor yang menentukan apakah petani mau menerima dan mengadopsi cara-cara pengelolaan yang baru.
Perbaikan (peningkatan) produktivitas sistem agroforestri dapat dilakukan melalui peningkatan dan/atau diversifikasi hasil dari komponen yang bermanfaat, dan menurunkan jumlah masukan atau biaya produksi. Contoh upaya penurunan masukan dan biaya produksi yang dapat diterapkan dalam sistem agroforestri:
penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi dengan pemberian pupuk
hijau dari tanaman pengikat nitrogen
sistem agroforestri berbasis pohon ternyata memerlukan jumlah tenaga
kerja yang lebih rendah dan tersebar lebih merata per satuan produk dibandingkan sistem perkebunan monokultur.
Keberlanjutan
Sasaran keberlanjutan sistem agroforestri tidak bisa terlepas dari pertimbangan produktivitas maupun kemudahan untuk diadopsi dan diterapkan. Sistem agroforestri yang berorientasi pada konservasi sumber daya alam dan produktivitas jangka panjang ternyata juga merupakan salah satu daya tarik bagi petani. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan petani pada saat mereka merencanakan untuk menerapkan upaya konservasi, misalnya kepastian status lahan, pendapatan dalam jangka pendek, dan sebagainya. Ada pendapat yang menyarankan agar petani diberi insentif untuk mendorong supaya mereka mau menerapkannya. Seringkali insentif ini diwujudkan dalam bentuk subsidi bagi petani (khususnya di negara maju). Di negara berkembang, insentif tersebut diberikan dalam bentuk bantuan teknologi seperti teknikteknik konservasi lahan.
Dalam sistem agroforestri terdapat peluang yang cukup besar dan sangat terbuka untuk melakukan pendekatan yang memadukan sasaran keberlanjutan untuk jangka panjang dengan keuntungan produktivitas dalam jangka pendek dan menengah.
Kemudahan untuk diadopsi
Kegagalan penyebarluasan praktek agroforestri di kalangan petani seringkali disebabkan oleh kesalahan strategi, bukan karena keunggulan komparatif sistem itu sendiri. Oleh sebab itu alasan bahwa petani sangat konservatif dan ketidak-berhasilan penyuluh sebenarnya kurang tepat. Sebuah pendekatan yang lebih konstruktif yang bisa dilakukan adalah dengan memikirkan permasalahan dalam penyusunan rancangan dan memasukkan pertimbangan kemudahan untuk diadopsi sedini mungkin (sejak tahap rancangan). Hal ini tidak berarti bahwa kedua alasan di atas tidak benar, melainkan lebih
ditekankan kepada proses penyuluhan dan adopsinya yang sangat kompleks. Peluang untuk berhasil akan lebih besar apabila proses itu dimulai dengan dasar teknologi yang dapat diadopsi. Salah satu cara terbaik adalah dengan melibatkan secara aktif pemakai (user) teknologi tersebut (petani agroforestri) dalam proses pengembangan teknologi sejak dari tahap penyusunan rancangan, percobaan, evaluasi dan perbaikan rancangan inovasi teknologi.Perlu dipahami bahwa agroforestri bukanlah jawaban dari setiap permasalahan penggunaan lahan, tetapi keberagaman sistem agroforestri merupakan koleksi opsi pemecahan masalah yang dapat dipilih oleh petani sesuai dengan keinginannya. Apa yang dibutuhkan adalah cara yang sistematis untuk memadukan (matching) kebutuhan teknologi agroforestri dengan potensi sistem penggunaan lahan yang ada.

Sasaran Pengembangan Agroforestri
Pengertian sistem agroforestri mencakup upaya untuk memperoleh hasil atau produksi dari kombinasi tanaman (semusim), pepohonan, dan/atau ternak (hewan) secara bersama baik sekaligus atau secara bergiliran melalui pengelolaan lahan yang terjangkau secara sosial, ekonomi dan budaya. Pengertian ini mencakup bagaimana seharusnya sistem agroforestri dilaksanakan untuk mencapai tujuannya.
Salah satu sasaran utama dari setiap usaha pertanian termasuk agroforestri adalah produksi yang berkelanjutan (sustainable) yang dicirikan oleh stabilitas produksi dalam jangka panjang. Beberapa indikator terselenggaranya sistem pertanian yang berkelanjutan adalah
(a)dapat dipertahankannya sumber daya alam sebagai penunjang produksi tanaman dalam jangka panjang,
(b)penggunaan tenaga kerja yang cukup rendah,
(c)tidak adanya kelaparan tanah,
(d)tetap terjaganya kondisi lingkungan tanah dan air,
(e)rendahnya emisi gas rumah kaca serta
(f)terjaganya keanekaragaman hayati (Van der Heide et al., 1992; Tomich et al., 1998). Tidak adanya kelaparan tanah pada sistem tersebut, dapat diartikan sebagai cukupnya kandungan bahan organik tanah, terpeliharanya kesetimbangan unsur hara, terpeliharanya struktur dan kondisi biologi tanah serta adanya perlindungan tanaman terhadap gulma, hama dan penyakit.

Pengembangan agroforestri meliputi berbagai tingkatan: mikro, meso dan makro. Keberlanjutan sistem produksi usaha tani agroforestri pada tingkatan mikro merupakan titik berat bahan kuliah ini. Namun demikian, upaya ini tidak bisa terlepas dari tingkatan yang lebih tinggi (meso dan makro). Kebijakan nasional, regional dan internasional melalui pemberlakuan berbagai peraturan dan undang-undang (hukum) dapat mendorong pengembangan atau justru menghancurkan praktek-praktek agroforestri. Produk pertanian atau agroforestri yang dipasarkan di tingkat lokal sampai regional seringkali tidak dapat terlepas dari pengaruh sistem yang lebih tinggi seperti perdagangan internasional, aliran penanaman modal (investasi) dan kebijakan fiskal melalui pajak. Pengembangan agroforestri di tingkat petani (mikro) memerlukan dukungan kebijakan nasional maupun regional yang tepat secara terus-menerus bagi kelembagaan keuangan, teknis, penelitian, danpemasaran.
Sistem agroforestri memiliki keluwesan dalam merespons berbagai gejolak atau perubahan mendadak, baik fisik (iklim, hama), maupun perubahan ekonomi dan moneter (pasar, harga). Keluwesan berbagai praktek agroforestri memungkinkan menjadi penyangga (buffer) terhadap berbagai gejolak, paling tidak untuk sementara waktu atau jangka pendek. Oleh karena itu sistem agroforestri merupakan salah satu alternatif penggunaan lahan yang diharapkan mampu bersaing dengan sistem-sistem lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.worldagroforestrycentre.org

Retno Ningsih
Posted on 22nd October, 2009

Retno ningsih
100710007
IKM A 2007

Perkembangan dan Kendala Penangkapan Ikan di Indonesia

Menurut data Food Outlook (FAO 2007) menunjukan bahwa produksi perikanan tangkap Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,55 persen. Penurunan tersebut dua kali lebih besar dari rata-rata penurunan produksi perikanan dari sepuluh negara produser perikanan dunia, yaitu sebesar 2,37 persen. Hal ini memperkuat dugaan para ahli bahwa kondisi sumber daya ikan di beberapa wilayah perairan sudah mengalami degradasi. Hal ini disebabkan karena adanya eksploitasi secara besar-besaran. Pihak-pihak tertentu yang mempunyai kuasa dengan teknologi penangkapan ikan yang maju telah mengalahkan nelayan-nelayan kecil indonesia.
Berdasarkan hal tersebut, pemeritah perlu secara cepat melakukan berbagai upaya guna menyelamatkan sumber daya perikanan di wilayah perairan Indonesia. Publikasi FAO lainnya pada tahun yang sama (2007) malah menggambarkan bahwa kondisi sumber daya ikan di sekitar perairan Indonesia, terutama di sekitar perairan Samudera India dan Samudera Pasifik sudah menujukan kondisi full exploited.
Di perairan Samudera Hindia kondisinya bahkan cenderung mengarah kepada overexploited. Artinya bahwa dikedua perairan tersebut saat ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan ekspansi penangkapan ikan secara besar-besaran.
Menurut beberapa sumber, indonesia masih menggunakan cara lama dalam penangkapan ikan, namun di sumber lain disebutkan, sudah digunakan teknologi yang cukup maju untuk menangkap ikan. Bahkan dikatakan pemerintah saat ini sudah memberlakukan kembali trawl di perairan Indonesia melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 6 Tahun 2008, walaupun baru terbatas di wilayah Kalimantan Timur. Apa tanda bahwa telah ada perkembangan penangkapan ikan di Indonesia? Berikut teorinya …dan apa saja alat-alat yang digunakan patut juga untuk dikenal dan dipelajari.
Dalam beberapa prinsip dikatakan bahwa perkembangan beberapa fishing methods sangat lambat. Misalnya, dari zaman dahulu prinsip pancing tidak berubah, yaitu dengan meletakkan umpan pada kail, kail dihubungkan dengan tali, ikan memakan umpan dan terkait pada mata kail. Namun tidak benar jika dikatakan tidak berkembang sama sekali, karena semakin bertambah kebutuhan manusia, maka akan semakin berkembang kemajuan peradaban manusia.
Kemajuan fishing methods ditandai dengan :
1. perubahan usaha penangkapan dari jumlah kecil ke jumlah besar.
2. perubahan fishing ground dari perairan dangkal ke perairan lebih dalam.
3. Penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin.
Nomura dan Yamazaki (1975) mengklasifikasikan alat penangkapan ikan dan teknik penangkapan sebagai berikut :
a. Alat tangkap memakai jaring (Netting Gear)
1. Gill net yaitu semua jenis jaring (surface gill net, mid water gill net, bottom gill net, dan sweeping gill net) kecuali jaring yang menangkapa ikan secara terbelit.
2. Entangle net yaitu jaring yang menangkap ikan secara terbelit seperti tuna drift net dan tramel net.
3. Towing net yaitu kelompok jaring yang dalam operasinya ditarik atau didorong dan berkantong misalnya beach seine, cantrang, trawl.
4. Lift net yaitu semua jenis jaring angkat misalnya floating lift net, bottom lift net.
5. Surrounding net yaitu menangkap ikan dengan melingkari gerombolan ikan dan ikan masuk ke kantong atau kantong bentukan, misalnya purse seine.
6. Covering net yaitu menangkap ikan dengan menutup dari atas, umumnya dioperasikan di perairan dangkal, misalnya jala lempar, lantern net (net berbingkai).
7. Trap net yaitu menangkap ikan dengan perangkap. Berdasarkan ukurannya ada yang kecil, sedang dan besar. Dan berdasarkan posisinya ada yang portable trap net dan guilding barrier, misalnya jenis-jenis bubu dan sero.
b. Alat tangkap pancing
Yaitu semua jenis alat tangkap pancing termasuk long line misalnya, pole and line, trolling line, drift line, bottom long line.
c. Alat penangkap lainnya
Yaitu alat tangkap yang tidak termasuk dalam kelompok alat tangkap di atas. Alat tangkap tersebut antara lain harpoons dan spears (menangkap ikan dengan menggunakan panah dan tombak), menggunakan skop, elektikal fishing, dan lain-lain.
Bila kita menengok sejarah pengelolaan sumberdaya ikan, fakta menunjukkan bahwa kegagalan pengelolaan beberapa stok sumberdaya baik secara regional maupun dunia berpangkal dari kesalahan kita dalam perencanaan dan antisipasi awal terhadap dampak pengoperasian alat tangkap dan dinamikanya.
Penemuan dan penggunaan purse seine dan echosounder pada perikanan pelagis contohnya. Penggunaan purse seine yang dilengkapi echosounderdalam waktu yang sangat singkat telah mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan akan ikan dunia. Namun dibalik itu, pengembangan alat tangkap yang tak terencana dan dinamika perubahannya yang tanpa kontrol telah mempercepat punahnya sumberdaya ikan pelagis seperti sardin dan anchovy (clupeids).
Demikian juga dengan penemuan pukat harimau, yang diyakini sebagai alat tangkap paling produktif, ternyata juga mempunyai dampak negatif terhadap biota lain yang tak termanfaatkan dan lingkungan sekitarnya.
Keputusan untuk pengoperasian alat tangkap (termasuk teknologinya) harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan diperlukan evaluasi mendalam sebelumnya. Karena, setiap pengoperasin unit penangkapan ikan akan berdampak baik terhadap sumberdaya ikan yang ditangkap maupun lingkungannnya, sehingga perlu dikaji sampai sejauh mana dampaknya dan bagaimana meminimalkan dampaknya.
Evaluasi dampak pengoperasian alat tangkap minimal harus mampu menjawab tiga dampak utama, yaitu :
1. Dampak terhadap lingkungan,
2. Dampak terhadap kelimpahan sumberdaya
3. Dampak terhadap target sumberdaya ikan itu sendiri.
Keseluruhan tersebut, dengan berbagai alat yang disebutkan di atas jika dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan alam dan budidaya yang baik, tidak akan merugikan dan bisa lestari untuk generasi ke depan, namun jika banyak pengusaha atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan hanya ingin mendapat keuntungan, maka dapat dipastikan sumber daya Indonesia akan habis dalam beberapa tahun ke depan. So, harus ada pengawasan dan partisipasi langsung dari pemerintah untuk menyelasaikan masalah ini, serta partisipasi semua pihak yang bersangkutan. Lestarikan bumi dan isinya untuk anak cucu kita…

Sumber :
http://www dot warintek-nganjuk dot go dot id
http://hmjpspk dot brawijaya dot ac dot id
Sudirman dan Achmat Mallawa. 2000.Teknik penangkapan ikan. Jakarta: rineka cipta

seta prakoso
Posted on 22nd October, 2009

Pangan Tinggi Serat Untuk Mencegah Penyakit Degeneratif

Penyakit degeneratif adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk. Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya.
Penyakit degeneratif timbul karena faktor usia, tidak bisa disembuhkan namun dapat dikendalikan. Salah satunya menjaga kesehatan tubuh dengan gaya hidup sehat, “Dengan diagnosis dini mungkin penyakit yang timbul dapat dicegah dengan mengubah pola makanan saja. Disisi lain diagnosis secara dini adalah satu-satunya cara untuk mengendalikan penyakit kronik yang sangat mahal dan fatal.
.
Di kota-kota besar di Indonesia junk food dijual di berbagai pusat perbelanjaan dan pusat jajanan. Bahkan restoran jenis makanan yang memiliki kadar kolesterol tinggi ini sudah merambah kota-kota kecil di hampir seluruh pelosok tanah air.
Pola makan makanan yang serba instan saat ini memang sangat digemari oleh sebagian masyarakat perkotaan. Sebagai contoh, gorengan jenis makanan murah meriah dan mudah didapat karena banyak dijual di pinggir jalan ini rasanya memang enak.
Jajanan seperti pisang goreng, tahu isi, ubi goreng, pisang coklat (piscok), bala-bala serta banyak yang lain dengan rasanya yang gurih, renyah, dan berharga murah, membuat orang menyukai makanan gorengan.
Jenis makanan ini mengandung lemak jenuh (saturated fat), garam dan gula, serta bermacam-macam additive seperti monosodium glutamate dan tartrazinedengan kadar yang tinggi. Junk food hampir tidak mengandung protein, vitamin serta serat yang sangat dibutuhkan tubuh
Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa makanan gorengan adalah makanan yang memiliki risiko tinggi sebagai pemicu penyakit degeneratif seperti penyakitdiabetes melitus, kardiovaskular, serta stroke.
Di Indonesia, penyakit degeneratif saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan modernisasi. Perubahan gaya hidup ini dapat dilihat secara jelas antara lain dengan munculnya tempat-tempat makan junk food di hampir seluruh sudut kota. Junk food adalah makanan tidak sehat karena memiliki nilai nutrisi rendah
Penyakit degeneratif dapat dicegah dengan cara meminimalkan faktor-faktor risiko penyebabnya. Faktor-faktor risiko ini sebenarnya telah diketahui secara luas oleh hampir semua kalangan masyarakat. Faktor-faktor risiko utama penyebab penyakit degeneratif adalah pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta konsumsi rokok.
Ketiga faktor risiko ini meningkat seiring dengan perubahan kebiasaan makan masyarakat, ke arah konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, dan jenis pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga (sedentary).
Dan untuk mencegah terjadinya penyakit degenerative adalah dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi serat.
serat makanan adalah bagian dari bahan pangan yng tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan. Definisi terbaru tentang serat makanan yang dismpaikan oleh the American Association of Cereal Chemist (AACC, 2001) adalah merupakan bagian yang dapat dimakan dari tanaman atau karbohidrat anaalog yang resisten terhadap pencernaan dan absorpsi  pada usus halus dengan fermentasi lengkap atau partial pada usus besar. 
Serat digolongkan ke dalam dua kategori:
1.Serat yang tidak larut air.
Serat ini tidak larut di dalam air dan dapat membantu memperlancar buang air besar. Serat tidak larut akan menyerap air, membuat feses berukuran lebih besar, lebih lunak sehingga akan menjadi mudah dikeluarkan. Serat tidak larut ini dapat membantu mencegah wasir. Tepung gandum, tepung terigu, dedak gandum, kacang-kacangan dan banyak sayur-mayur merupakan sumber  dari serat yang tidak larut air.
2.Serat yang larut air.
Serat jenis ini larut di dalam air untuk membentuk suatu material yang seperti ‘gel’. Serat ini akan mengikat lemak sehingga lemak tidak akan diserap oleh tubuh melainkan akan dikeluarkan dari tubuh bersama feses. Serat ini berperan menurunkan kadar kolesterol darah. Anda dapat menemukan jenis serat yang dapat larut di dalam gandum, kacang polong, kacang-kacangan, buah-buahan (apel, jeruk), wortel, dan psyllium. Jumlah dari tiap jenis dari serat bervariasi di dalam setiap makanan. Untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih besar, perlu makan bervariasi dari makanan-makanan yang mengandung serat.

Akhir-akhir ini peran serat dalam makanan turut diperhitungkan oleh para ahli kesehatan. Berdasarkan bukti-bukti penelitian, serat dalam makanan dapat turut mencegah penyakit, antara lain penyakit jantung, diabetes melitus, diare, kanker kolon dan juga digunakan untuk menurunkan berat badan. Serat dapat diperoleh dari sayursayuran, buah dan rumput laut. Asupan serat yang dianjurkan adalah 25-35 hari. Beberapa mekanisme efek pelindungannya telah diketahui. Pertama, serat meningkatkan ukuran feses dan menyelubungi komponen penyebab kanker di dalam feses. Kedua, serat mempersingkat waktu lewatnya sisa pencernaan pada saluran pencernaan sehingga mengurangi paparan dinding usus terhadap karsinogen. Akhirnya, fermentasi serat terlarut oleh bakteri menghasilkan komponen yang protektif terhadap kanker kolon.
Serat makanan mempunyai daya serap air yang tinggi. Adanya serat makanan dalam feses menyebabkan feses dapat menyerap air yang banyak sehingga volumenya menjadi besar dan teksturnya menjadi lunak. Adanya volume feses yang besar akan mempercepat konstraksi usus untuk lebih cepat buang air – waktu transit makanan lebih cepat. Volume feses yang besar dengan tekstur lunak dapat mengencerkan senyawa karsinogen yang terkandung di dalamnya, sehingga konsentrasinya jauh lebih rendah. Dengan demikian akan terjadi kontak antara zat karsinogenik dengan konsentrasi yang rendah dengan usus besar, dan kontak ini pun terjadi dalam waktu yang lebih singkat, sehingga tidak memungkinkan terbentuknya sel-sel kanker.
Manfaat serat antara lain :
1.Mencegah sembelit.
Diet kaya serat akan meningkatkan ukuran dan memperlunak konsistensi dari feses. Feses yang besar ukurannya akan lebih mudah dikeluarkan, mengurangi kemungkinan sembelit. Jika Anda diare atau kotoran Anda encer/berair, serat akan  membantu mengeraskan kotoran karena serat menyerap air.
2.Menurunkan resiko terhadap gangguan  pencernaan.
Suatu diet yang tinggi serat  akan menurunkan resiko dari gangguan pencernaan seperti, wasir, irritable bowel syndrome (IBS) dan  diverticular disease (terdapatnya kantong-kantong kecil di dalam usus besar). Konsistensi feses yang lunak akan membantu mengurangi kerja gerakan otot rectal dan mengurangi tekanan pada rectum sehingga wasir dapat dicegah.
3.Menurunkan kadar kolesterol.
Serat yang dapat larut yang ditemukan di dalam kacang-kacang, gandum, dan dedak gandum akan membantu menurunkan kadar kolesterol. Serat dapat mengikat kolesterol dan asam empedu dan membawanya keluar dari tubuh bersama-sama dengan feses sehingga konsentrasi lemak dalam darah menurun dan kemungkinan resiko sakit jantung juga akan menurun
4.Mengendalikan gula darah.
Serat, terutama sekali serat yang dapat larut, dapat memperlambat penyerapan gula, yang untuk orang-orang dengan kencing manis, dapat membantu mengontrol kadar gula darahnya. Suatu diet yang tinggi serat boleh jadi mengurangi resiko terkena kencing manis type II.
5.Mengontrol berat badan/membantu diet
Mengkonsumsi makanan tinggi serat dan mengurangi konsumsi lemak dan gula yang berlebih dapat membantu menurunkan berat badan. Hal ini dapat dibuktikan, karena makanan tinggi serat menghasilkan energi kurang dari lemak dan gula /karbohidrat. Selain itu, serat menimbulkan perasaan kenyang sehingga konsumsi makanan dapat dikurangi.
6.Mencegah kanker kolon
Serat dapat mempercepat lewatnya makanan di dalam saluran pencernaan sehingga memperpendek waktu transit dam mencegah paparan bahan penyebab kanker pada jaringan pencernaan.

Serat makanan bersifat menyerap asam empedu, yang kemudian akan terbuang bersama-sama dengan feses. Asam empedu mengemulsikan lemak hingga terurai menjadi asam lemak yang akan diserap tubuh. Supaya sistem metabolisme lemak tidak terganggu, harus tersedia asam empedu di dalam sistem pencernaan.
Jumlah asam empedu akan berkurang karena diikat oleh serat makanan.stok asam empedu yang baru adalah membentuk asam empedu baru dari kolesterol yang ada di dalam darah. Dengan demikian konsentrasi kolesterol dalam darah akan menurun. Hal ini baik sekali bagi orang yang kebanyakan kolesterol dalam darahnya. Penurunan kadar kolesterol dalam darah mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah jantung.
Dengan diet tinggi serat di harapkan akan menghambat penyerapan kolesterol secara berlebih. Sehingga dapat untuk mencegah penyakit-penyakit degenerative, dengan ini penyakit degeneratif dapat dicegah agar tidak terjadi

Daftar Pustaka

Suryani, Tini (www.kapanlagi.com/gaya-hidup-berubah-penyakit-degeneratif-muncul)
Anonymous (www.semarang.go.id/cms/index)
Irawan, Dani (www.rudyct.com/pps702-ipb/04122/godlief-joseph)
Nainggolang, Owin, 2005. Diet Sehat Dengan Serat. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Seta Prakoso
100710062 (38)
IKM A ‘07

sartika
Posted on 22nd October, 2009

KONSUMSI BEKATUL, KENAPA TIDAK!
Bekatul adalah hasil samping penggilingan padi menjadi beras yang terdiri dari lapisan aleurone beras (rice kernel), endosperm, dan germ. Di Indonesia sendiri bekatul diketahui sebagai limbah dan hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Hal ini perlu disayangkan karena jika melihat masyarakat kita yang bahan makanan pokoknya adalah beras maka produksi beras kita juga cukup tingi akibatnya produk hasil samping beras seperti bekatul pasti juga cukup tinggi pula. Jika bekatul ini hanya berakhir sebagai pakan ternak akan terasa sangat disayangkan.
 Komposisi Fitokimia dan Manfaat Bekatul untuk Kesehatan
Senyawa fitokimia (phytos-tanaman, chemicals- zat kimia) menjadi topik penelitian penting karena dapat memberikan fungsi-fungsi fisiologis. Komposisi fitokimia bekatul sangat bervariasi, tergantung kepada faktor agronomis padi, termasuk varietas padi, dan proses penggilingannya. Fraksi tak tersabunkan dari minyak bekatul mencapai 5 persen berat minyak, dengan kandungan utama sterol. Sterol yang terdapat dalam jumlah banyak adalah υ-sitosterol yang jumlahnya 50 persen dari total sterol. Pada Tabel 1 disajikan komposisi asam lemak yang terdapat pada minyak bekatul.
Tabel.1. Komposisi Asam Lemak Minyak Bekatul
Asam Lemak Jumlah
Asam lemak tidak jenuh
1. Asam oleat
2. Asam linoleat
3. Asam linolenat
38,4 %
34,4 %
2,2 %
Asam lemak jenuh
1. Asam palmitat
2. Asam stearat
21,5 %
2,9%
Komponen tak tersabunkan
1. Tokoperol
2. ᵞ-oryzanol
3. Skualen
181.3 mg
16 mg
320 mg
Sumber : Silab (2002)
Pada Tabel 1 terlihat bahwa hampir 75 persen kandungan asam lemak minyak bekatul terdiri dari asam lemak tidak jenuh. Sementara itu sisanya terdiri dari asam lemak jenuh dan komponen-komponen tidak tersabunkan. Tingginya kandungan asam lemak jenuh pada bekatul akan memberikan efek positif bila kita mengkonsumsinya.
Efek hipoklesterolemik bekatul dan beberapa fraksinya (neutral detergent fiber, hemiselulosa, dan bahan tak tersabunkan) telah banyak dilaporkan baik pada percobaan dengan menggunakan hewan maupun manusia. Minyak bekatul menurunkan secara nyata kadar kolesterol darah, yaitu low density lipo-protein (LDL) colesterol dan very low density lipo-prortein (VLDL) colesterol. Selain itu minyak bekatul juga dapat meningkatkan kadar high density lipo-protein (HDL) kolesterol darah. Kemampuan minyak bekatul menurunkan kadar kolesterol disebabkan adanya ᵞ-oryzanol, bahan yang tidak tersabunkan, dan kandungan asam lemak tidak jenuh.
Disamping terbukti mampu menurunan kadar kolesterol darah, penelitian lain juga berhasil membuktikan bahwa fraksi bekatul mempunyai kemampuan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan metabolisme glukosa dengan menggunakan hewan percobaan, yang disebut stroke-prone spontaneously hypertensive rats (SHRSP); spesies tikus yang secara genetik mengalami hipertensi dan hiperlipidemia. Asam ferulat dan total fenol yang terkandung dalam fraksi bekatul diketahui sebagai komponen bioaktif yang dapat menurunkan tekanan darah. Mekanisme penurunan tekanan darah oleh asam ferulat adalah melalui penghambatan kerja enzim angiotensin I-converting enzyme (ACE); suatu enzim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan tekanan darah.
Di beberapa negara maju, khususnya di Jepang dan Amerika Serikat, komponen bioaktif yang terdapat pada bekatul telah disuplementasi ke dalam produk-produk kecantikan. Produk-produk tersebut antara lain sabun mandi, pelembab dan pembersih kulit, serta pelembab muka. Tujuan penggunannya adalah untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan kulit. Silab (2002), melaporkan bahwa Hydrolyzed Rice Protein Product (Nutriskin) adalah suatu produk perawatan kulit dengan kandungan asam amino yang cukup beragam (Tabel 2). Dalam kosmetika, “serum” merupakan bahan cair yang kandungannya sebagian besar asam amino, dan penggunaannya dioleskan langsung ke kulit. Kandungan asam amino yang terdapat pada bekatul diketahui sangat sesuai untuk memberikan efek perlindungan kulit.
Bekatul juga mengandung asam ferulat, yang telah diketahui secara luas sebagai antioksidan dan bahan fotoprotektif. Asam ferulat akan melindungi asam lemak melawan kerusakan oksidasi yang disebabkan oleh berbagai jenis polutan, peroksida, dan radikal bebas yang dibentuk selama proses metabolisme tubuh. Asam ferulat juga dapat bekerja secara sinergis dengan komponen antioksidan lain, seperti asam kafeat, vitamin C, dan betakaroten, untuk menghilangkan radikal bebas, peroksida, dan zat berbahaya potensial lain.
Tabel.2. Komposisi Asam Amino pada Nutriskin
Asam amino Persentase

Asam glutamat 18,5
Arginin 10,5
Leusin 9,2
Tirosin 9,1
Phenilalanin 8,1
Asam aspartat 8,0
Serin 7,6
Alanin 6,1
Glisin 4,6
Valin 4,6
Lisin 4,0
Threonin 3,3
Histidin 3,0
Isoleusin 2,0
Methionin 1,1
Sumber : Silab (2002)
Seiring dengan peningkatan pengetahuan tentang komsumsi bahan pangan, konsumen akhir-akhir ini memiliki kecenderungan memperhatikan dan mengutamakan aspek kesehatan dan kebugaran tubuh. Artinya, pangan tidak hanya membuat tubuh sehat, tetapi juga mampu mengusir efek negatif penyakit. Tuntutan itu kemudian melahirkan konsep pangan fungsional (functional foods).
Untuk dijadikan sebagai penganan, bekatul dapat dicampur dengan bahan lain pada pembuatan biskuit, kue, dan lain-lain.  Bekatul yang diawetkan juga telah dimanfaatkan sebagai makanan sarapan sereal, dengan perbandingan (%) tepung beras : bekatul dari 90 : 10 sampai dengan 30 : 70. Substitusi 15 persen bekatul padi dalam tepung terigu, dilaporkan mengakibatkan penerimaan konsumen yang optimal terhadap produk kue kering dan roti manis. Secara berangsur hal ini dapat menjadi peluang untuk menekan jumlah konsumsi gandum yang makin lama kian meningkat. Kita dapat menekan angka konsumsi gandum dengan menkonversi gandum tersebut dengan bekatul maka perlahan tapi pasti angka ketergantungan kita terhadap impor gandum juga akan menurun.
Pemanfaatan bekatul sebagai salah satu alternatif bahan pangan setidaknya akan memaksimalkan daya konsumsi hasil produksi tani beserta hasil samping dari produk tani tersebut. Profit yang akan kita dapatkan akan jauh lebih besar karena selain meminimalkan terbuangnya hasil samping produk tani ini kita juga dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat kita.
Daftar Pustaka
Almatsier, sunita.2004.Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta. Gramedia pustaka utama
Purnomo, heri.1995.Ilmu pangan.Jakarta. Rieneka cipta
Silab, 2002. Nutriskin Hydrolyzed Rice Protein Analysis Data. Unpublished data submitted to CTFA, 5 oktober 2009.
Nama : Sartika
NIM : 100710022 / 17 / IKM A 2007

Nur Widayati
Posted on 22nd October, 2009

TINGKATKAN PRODUKSI DAN MUTU UMBI-UMBIAN UNTUK KETAHANAN PANGAN INDONESIA
Oleh: Nur Widayati (100710241/IKM B)

Ketahanan pangan mensyaratkan ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dan kemampuan setiap rumah tangga memperoleh pangan yang cukup dari hari ke hari. Ketersediaan pangan yang cukup di tingkat wilayah belum menjamin kecukupan pangan di tingkat rumah tangga.
Organisasi Pangan Dunia mengumumkan bahwa hampir 840 juta . Penduduk dunia terancam menghadapi musibah kelaparan. Di antaranya termasuk masalah gizi buruk yang menimpa anak-anak. Potensi kerawanan pangan tersebut juga terjadi di Indonesia yang memiliki sekitar 230 juta penduduk. Padahal negeri ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa di bidang sumber pangan. Tidak kurang dari 365 jenis tanaman pangan tumbuh di Indonesia. Tidak ada negara lain sekaya Indonesia, terkait jenis tanaman pangannya, khususnya umbi-umbian.

Salah satu yang menjadi penyebab Indonesia hingga saat ini tidak bisa lepas dari krisis pangan adalah ketergantungan dengan sumber pangan tertentu, misalnya beras, gandum, dan kedelai. Hingga saat ini, Indonesia masih mengimpor ketiga komoditas tersebut. Mungkin hanya beras dan sedikit kedelai yang juga diproduksi di Indonesia. Oleh sebab itu kelancaran distribusi pangan sampai wilayah permukiman serta daya jangkau fisik dan ekonomi rumah tangga terhadap pangan merupakan dua hal yang sama pentingnya.
Pada daerah-daerah tertentu dengan sumber daya alam yang miskin, kerentanan produksi pangan terhadap tekanan iklim seperti kekeringan semakin tinggi. Tekanan yang diakibatkan dari pertambahan penduduk semakin kondusif bagi penurunan kualitas sumber daya alam dan peningkatan kemiskinan. Tanpa upaya-upaya untuk mengoptimalkan kemampuan produksi pangan, maka ketahanan pangan masyarakat di daerah tersebut akan cenderung melemah.
Pada saat produksi tanaman pangan utama terhenti, masyarakat daerah marjinal ini pada umumnya mengatasi kelangkaan pangan dengan memanfaatkan umbi-umbian seperti ubi kayu, ubi jalar, talas dan lain-lainnya sebagai sumber karbohidrat dalam pola konsumsi makanan sehari-harinya.
Pada daerah-daerah miskin tersebut peran umbi-umbian sangat signifikan dalam mempertahankan ketahanan pangan masyarakat. Oleh sebab itu upaya untuk menunjang peningkatan produktivitas dan kualitas produk umbi-umbian akan sangat membantu mengatasi masalah pangan pada daerah-daerah tersebut.
Keunggulan Umbi-umbian. Umbi-umbian yang banyak tumbuh di lahan kering ternyata banyak mempunyai berbagai keunggulan, yaitu,: 1) mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber tenaga, 2) daun ubi kayu dan ubi jalar kaya akan vitamin A dan sumber protein penting, 3) menghasilkan energi yang lebih banyak per hektare dibandingkan beras dan gandum, 4) dapat tumbuh di daerah marjinal di mana tanaman lain tidak bisa tumbuh, 5) sebagai sumber pendapatan petani karena bisa dijual sewaktu-waktu, dan 6) dapat disimpan dalam bentuk tepung dan pati.
Sebenarnya ubi kayu (singkong) sebagai menu lebih menyehatkan ketimbang beras. Lihatlah masyarakat di Gunungkidul (DIY), yang sehari-hari mengkonsumsi singkong, bukan beras. Ternyata usia harapan hidup (UHH) mereka lebih panjang daripada penduduk di pantura Jawa yang sehari-hari meng-konsumsi beras. Di pantura, UHH paling tinggi 65 tahun, sementara di Gunungkidul bisa mencapai 75 tahun.
Selama ini, beras kita dijadikan sebagai basis makanan, padahal ini kurang tepat. Padahal basis makanan kita sebenarnya tepung-tepungan dari nonberas dan nonterigu. Selain itu, jika mengandalkan beras sebagai makanan pokok, dari aspek kesehatan pun juga kurang baik karena beras memiliki kandungan kalori tinggi yang berpotensi mendatangkan diabetes.
Selain ubi kayu dan ubi jalar, sebenarnya Indonesia mempunyai banyak umbi-umbian yang lain, seperti talas, uwi, ganyong, dan lain sebagainya. Umbi-umbian juga sangat efektif untuk ketahan pangan masyarakat miskin Indonesia, mengingat wilayah Indonesia yang sangat cocok dengan tanaman umbi-umbian ini. Untuk itu kita perlu meningkatkan produksi dan mutu umbi-umbian. Karena itu kita harus berusaha mengatasi masalah produktivitas.

Permasalahan Produksi Dan Upaya Mengatasi.
Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus menurunnya produksi di Indonesia antara lain disebabkan oleh: (1) Produktivitas tanaman pangan dan mutu yang masih rendah dan terus menurun padahal wilayah indonesia sangat cocok untuk tanaman jenis umbi-umbian; (2) Peningkatan luas areal penanaman yang stagnan bahkan terus menurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa. Kombinasi kedua faktor di atas memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun yang cenderung terus menurun. Untuk mengatasi dua permasalahan teknis yang mendasar tersebut perlu dilakukan upaya-upaya khusus dalam pembangunan pertanian pangan khususnya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional.
Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan
Faktor dominan penyebab rendahnya produktivitas tanaman pangan adalah (a) Penerapan teknologi budidaya di lapangan yang masih rendah; (b)Tingkat kesuburan lahan yang terus menurun.
Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah harus memberikan subsidi teknologi kepada petani dan melibatkan stakeholder dalam melakukan percepatan perubahan (Saragih, 2003). Subsidi teknologi yang dimaksud adalah adanya modal bagi petani untuk memperoleh atau dapat membeli teknologi produktivitas dan pengawalannya sehingga teknologi budidaya dapat dikuasai secara utuh dan efisien sampai tahap pasca panennya.
Tingkat kesuburan lahan pertanian produktif terus menurun, revolusi hijau dengan mengandalkan pupuk dan pestisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen yang tidak diinginkan. Upaya yang harus dilakukan adalah melakukan Soil Management untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan memasukkan berbagai ragam mikroba pengendali yang mempercepat keseimbangan alami dan membangun bahan organik tanah, kemudian diikuti dengan pemupukan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan berimbang serta teknik pengolahan tanah yang tepat. Telah diketahui bahwa mikroorganisme unggul berguna dapat diintroduksikan ke tanah dan dapat diberdayakan agar mereka berfungsi mengendalikan keseimbangan kesuburan tanah sebagaimana mestinya. Selain itu, sekumpulan mikroorganisme diketahui menghuni permukaan daun dan ranting. Sebagian dari mereka ada yang hidup mandiri, bahkan dapat menguntungkan tanaman.

Upaya Menambah Perluasan Lahan Pertanian Baru
Dari sisi perluasan areal lahan tanaman pangan ini upaya yang dapat ditempuh adalah: (1) Memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut termasuk di kawasan pasang surut. (2) Mengoptimalkan lahan tidur dan lahan tidak produktif di pulau Jawa. Kedua pilihan di atas mutlak harus di barengi dengan menerapkan teknologi produktivitas mengingat sebagian besar lahan tersebut tidak subur untuk tanaman pangan.

Upaya mendorong peningkatan pemanfaatan umbi-umbian spesifik daerah.
Selama ini umbi-umbian belum di manfaatkan dengan baik sehingga terabaikan,padahal manfaatnnya sangat banyak. Upaya yang dapat dilakukan yaitu: 1) peningkatan produktivitas dengan varietas unggul; 2) peningkatan kualitas dengan menggunakan varietas yang mempunyai kandungan zat gizi yang tinggi; 3) pengembangan teknologi penanganan dan penyimpanan yang tepat guna, sehingga tidak banyak yang rusak atau busuk serta tahan lama; dan 4) pengayaan teknologi pengolahan yang dapat meningkatkan citra dan nilai tambah umbi-umbian agar lebih bergengsi.

Upaya pengendalian impor pangan dari luar negeri.
Sebenarnya sejak tahun 1970-an Indonesia sudah canangkan diversifikasi atau penganekaragaman pangan. Hanya program itu tidak berlanjut. Di antaranya karena kita dijebak oleh kebijakan AS yang menjual gandum dan kedelai yang murah karena disubsidi. Waktu itu AS kelebihan produksi atau surplus. Jadi AS mendorong ekspor ke Indonesia dengan MoU antar-pemerintah. Jadi impor gandum terus membesar dan kita dibiasakan makan gandum itu. Sekarang impor gandum 6 juta ton per tahun. Sampai saat itu orang Papua dan Maluku diganti makanannya dari sagu dan umbi-umbian ke beras.
Untuk pengendalian impor dari luar negeri dan untuk menjaga ketahanan pangan kita, kita kembali ke apa yang menjadi kekuatan kita. Mungkin beras cocok untuk di jawa, tapi di luar Jawa belum tentu cocok. Apalagi potensi lahan di Jawa sangat terbatas dan pulau lainnya tidak bisa seluruhnya ditanami beras. Jadi intinya kita harus kembali mengusung kekuatan pangan kita dengan mengandalkan tepung, khususnya dari umbi-umbian, yakni dari sagu, ubi jalar, sukun, keladi, dan macam-macam.


Daftar Pustaka

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1060224791,78656,
http://www.mail-archive.com/cikeas@yahoogroups…/msg07854.html
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/06/09/16838/Tinggalkan.Beras..Kembali.ke.Umbi..
http://aph168.blogspot.com/2009/04/ketahanan-pangan-dan-teknologi.html

nur imama pranita rosyida
Posted on 22nd October, 2009

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI JERAMI PADI SEBAGAI PUPUK ORGANIK

Pupuk organik sudah lama dikenal para petani, jauh sebelum Revolusi Hijau berlangsung di Indonesia pada tahun 1960-an. Namun sejak Revolusi Hijau dan selama beberapa dekade ini petani mulai banyak menggunakan pupuk buatan karena praktis penggunaannya dan sebagian besar varietas unggul memang membutuhkan hara makro (NPK) yang tinggi dan harus cepat tersedia. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia juga menyebabkan kesuburan tanah dan kandungan bahan organik tanah menurun.

Petani telah melupakan salah satu sumber daya yang dapat mempertahankan kesuburan yaitu dengan menggunakan pupuk organik sebagai pupuk sawah. Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara yang tersedia bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai pupuk organik dengan bahan organik dari sisa panen yaitu pemanfaatan jerami sisa panen padi. Pemanfaatan tersebut penting dikarenakan kondisi lingkungan sekarang yang kebanyakan sudah tidak ramah lagi dengan para petani. Dan yang terpenting untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk buatan dan dapat meningkatkan produktivitas padi.

Diperkirakan kandungan bahan organik di sebagian besar sawah di P Jawa menurun hingga 1% saja. Padahal kandungan bahan organik yang ideal adalah sekitar 5%. Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan banyak masalah, antara lain: efisiensi pupuk yang rendah, aktivitas mikroba tanah yang rendah, dan struktur tanah yang kurang baik. Akibatnya produksi padi cenderung turun dan kebutuhan pupuk terus meningkat. Solusi mengatasi permasalah ini adalah dengan menambahkan bahan organik/kompos ke lahan-lahan sawah. Kompos harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup hingga kandungan bahan organik kembali ideal seperti semula. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) kandungan hara kompos jerami adalah sebagai berikut:

Rasio C/N 18.88
C- organik (%) 35.11
N (%) 1.86
P2O5 (%) 0.21
K2O (%) 5.35
Kadar air (%) 55%

*) data kandungan hara berdasarkan berat kering kompos.
Berdasarkan hasil diskusi dengan Sekretaris Menteri Pertanian, Dr. Abdul Munif, di Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, Kamis, 7 Mei 2009 menjelaskan bahwa beberapa waktu sebelumnya pengomposan jerami pernah digalakkan, namun program ini kurang berjalan dengan baik karena beberapa hal. Salah satunya adalah teknik pengomposan yang tidak sederhana dan menyulitkan petani. Misal, anjuran untuk mencacah jerami sebelum dibuat kompos dengan mesin cacah. Cara ini mudah dilakukan apabila tersedia mesin cacah dan lokasinya dekat. Apabila lokasi sawah jauh dari jalan, petani tidak mungkin membawa mesin cacah ke tengah sawah. Akhirnya petani tidak mau untuk membuat kompos jerami. Pembuatan kompos jerami dianjurkan untuk menambahkan pupuk kandang atau beberapa bahan tambahan lain, seperti: kapur, molasses, dan lain-lain. Pupuk kandang tidak selalu tersedia dalam jumlah cukup, demikian pula molasses yang tidak tersedia di sebagian besar wilayah pertanian. Ketidaktersediaan bahan-bahan tambahan tersebut juga membuat petani tidak mau untuk membuat kompos jerami.
Berdasarkan beberapa pengalaman tersebut di atas, strategi-strategi yang dibuat agar pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik dapat ditingkatkan secara bertahap dan berkesinambungan yaitu dengan cara pembuatan kompos jerami harus dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, murah, dan mudah, seperti:
1) pengomposan jerami dibuat dilokasi di mana jerami di panen.
2) Pengomposan jerami dilakukan tanpa pencacahan dan tanpa penambahan bahan-bahan lain yang sulit di peroleh oleh petani.
3) Pengomposan jerami dapat dibuat dengan biaya yang semurah mungkin dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.
4) Pengomposan jerami tidak memerlukan mesin atau alat yang rumit dan mahal. Pengomposan jerami harus bisa dibuat dengan peralatan sederhana yang tersedia di sekitar sawah atau mudah diperoleh oleh petani.
Secara alami proses pengomposan jerami akan berlangsung dengan sendirinya apabila kondisinya ideal, seperti kadar air yang cukup (kurang lebih 60%) dan aerasi yang lancar. Proses alami pengomposan jerami kurang lebih dua hingga tiga bulan. Untuk mempercepat proses pengomposan jerami dapat ditambahkan aktivator pengomposan. Penambahan aktivator pengomposan dapat mengurangi lama pengomposan hingga tiga sampai empat minggu. Waktu pengomposan ini kurang lebih sama dengan waktu jeda antara panen dengan waktu tanam berikutnya.
Kompos jerami memang memiliki potensi hara dan nilai ekonomi yang sangat besar. Pemanfaatan kompos jerami ini oleh petani dapat menghemat pengeluaran negara untuk subsidi pupuk dan mengurangi konsumsi pupuk kimia nasional dan dapat pula menghemat pengeluaran petani untuk membeli pupuk kimia yang terkadang mengalami peningkatan harga serta distribusi yang tidak merata oleh para produsen. Namun, permasalahannya sekarang, potensi ini sepertinya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, khususnya Departemen Pertanian. Selain itu, para petani Indonesia memiliki kebiasaan membakar jerami sisa-sisa panen. Alasannya adalah lebih cepat dan murah untuk membersihkan sisa panen tersebut. Kebiasaan ini tidak mudah dirubah. Petani juga memiliki karakter untuk melihat bukti terlebih dahulu kemudian baru mengikuti.
Menggalakkan kompos jerami ke petani memerlukan usaha yang komprehensif dan berkesinambungan. HMP menyarankan Departemen Pertanian (Deptan) untuk membuat sebuah program penggalakkan penggunaan kompos jerami. Program ini meliputi semua aspek antara lain: perangkat kebijakan, diseminasi, transfer teknologi, penyediaan sarana, dan pendampingan petani untuk membuat kompos jerami. Dengan adanya program tersebut diharapkan untuk tahun-tahun selanjutnya para petani Indonesia secara mandiri dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada agar menjadi sesuatu yang berguna (contohnya pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik) baik untuk dirinya sendiri, masyarakat Indonesia, dan yeng terpenting adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan agar kita dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas kesehatan Indonesia.

NUR IMAMA PRANITA ROSYIDA
100710100 / 58
IKM A 2007

DAFTAR PUSTAKA :
Anonim..pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik insitu untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan subsidi pupuk.http://isroj.wordpress.com 13-10-2009, 16:12WIB
Anonim.pupuk organik dan pupuk hayati, organik fertilizer dan biofertilizer.http://balitanah.litbang.deptan.go.id 13-10-2009, 16;09 WIB

Isna Nur Fitasari
Posted on 22nd October, 2009

Nama : Isna Nur Fitasari
NIM : 100710225
Semester : V B
No. absen : 64

Teknologi Pupuk (Slow Release Fertilizer, Pupuk Organik, dan Pemanfaatan Mikroorganisme) dalam Peningkatan Efisiensi Produksi dan Kelestarian Lingkungan

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen pada pupuk.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun.
Pupuk dapat dikelompokkan, untuk kemudahan pembahasan, berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, atau berdasarkan kandungannya. Pada makalah ini akan diuraikan pupuk berdasarkan sumbar bahan pembuatannya.
Berdasarkan sumber bahan pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: pupuk organik atau pupuk alami dan pupuk kimia atau pupuk buatan ( fertilizer). Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih “murni” daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk kimia masih dapat dibagi lagi menjadi fast release fertilizer dan slow release fertilizer. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya, keunggulannya adalah dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.
1.Pupuk Organik
Penggunaan pupuk organik relatif lebih aman karena tidak meninggalkan residu yang membahayakan bagi kehidupan. Pengaplikasiannya mampu memperkaya sekaligus mengembalikan ketersediaan unsur hara bagi tanah dan tumbuhan dengan aman. Selain itu, pupuk ini dapat memperbaiki kondisi fisik tanah.
Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, dintaranya adalah pupuk hewan dan pupuk kompos.
a.Pupuk hewan
Pupuk hewan atau yang lebih dikenal dengan pupuk kandang ialah zat organik yang digunakan sebagai pupuk organik dalam pertanian. Pupuk ini berbahan dasar kotoran binatang ternak, seperti kambing dan sapi sehingga pembuatan pupuk ini selain berguna untuk menyuburkan tanah sekaligus untuk mengolah limbah. Pupuk kandang berperan dalam kesuburan tanah dengan menambahkan zat dan nutrien, seperti nitrogen yang ditangkap bakteri dalam tanah. Organisme yang lebih tinggi kemudian hidup dari jamur dan bakteri dalam rantai kehidupan yang membantu jaring makanan tanah. Pupuk hewan ini harus digunakan dengan benar agar tidak mencemari tanaman yang dipupuk. Sebaiknya pupuk ini dicampurkan dengan tanah yang akan ditanami, bukan hanya ditaruh di atas tanah tersebut agar saat penyiraman pupuknya tidak mudah berpindah ke tanaman.
b.Pupuk Kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Proses pengomposan meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Dari aktivator yang digunakan untuk mempercepat proses pengomposan ini terlihat pemanfaatan mikroorganisme yang sudah ditambahkan ke dalamnya. Di sini, mikroba berperan mempercepat penguraian sampah/ bahan kompos yang bersifat organik. Beberapa mikroba yang digunakan dalam activator-aktivator ini antara lain Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum, Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih), mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik).
Hasil akhir dari pengomposan merupakan bahan yang sangat dibutuhkan oleh tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah pertamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia, merangsang perakaran yang sehat, memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktifitas tanaman. Tanaman yang dipupuk dengan kompos cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misalnya hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak. Dan yang paling penting adalah penggunaan kompos sekaligus dapat menjaga kelestarian lingkungan.
Kompos murni, tanpa ditambahi mineral tertentu yang dibutuhkan tanah, tidak dapat disebut pupuk karena kompos hanya memperbaiki tekstur tanah (menggemburkan tanah). Namun jika ditambahkan mineral-mineral tertentu ke dalam kompos, maka campuran antara kompos dan mineral ini disebut dengan pupuk kompos dan inilah yang dapat menyuburkan dan menambah unsur hara dalam tanah. Selain sebagai pupuk, teknologi pengomposan juga sangat penting dalam mengatasi masalah limbah, baik limbah pertanian, rumah tangga, hingga limbah industri.
2.Pupuk Kimia/Buatan
Akhir-akhir ini, pupuk kimia marak digunakan karena hasilnya lebih cepat terlihat daripada menggunakan jenis pupuk yang lain. Memang benar, jika petani menggunakan pupuk kimia, hasil pertaniannya akan meningkat dengan drastis. Seiring dengan berjalannya waktu, produksi pertanian menurun. Namun, petani malah semakin menambah kuantitas pupuk kimia yang digunakan, dengan harapan produksi kembali stabil. Tahun berganti tahun, harapan para petani akan meningkatnya produksi mereka tak kunjung datang, kuantitas produksi malah semakin menurun, begitu pula kualitas tanah mereka. Hal ini disebabkan karena bahan kimia dalam pupuk ini tidak mampu memperbaiki kondisi tanah, pupuk kimia sangat sulit diserap oleh tanaman, sulit diuraikan air, dan dapat meracuni produk yang dihasilkan oleh tanaman.
Pada dasarnya, penggunaan pupuk kimia tidak menjadi masalah serius jika digunakan seimbang dengan kompos. Yang perlu diperhatikan adalah tidak menggunakan pupuk kimia secara berlebihan. Hal ini dikarenakan pupuk kimia dapat mencemari dan merusak lingkungan (tanah) jika digunakan berlebihan. Hasil penelitian menunjukkan pupuk kimia mengandung radikal bebas dan berbahaya bagi manusia karena dapat mengendap didalam buah yang dihasilkan. Sebagian pupuk kimia yang tidak diserap oleh tanaman juga akan menumpuk ditanah dan tidak dapat diuraikan oleh air. Kondisi seperti ini menjadikan tanah tidak produtif. Akibatnya mikroorganisme yang bertugas menggemburkan tanah tidak akan beraktivitas ditanah tersebut.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kini telah ditemukan pupuk yang dapat terurai perlahan dalam tanah atau disebut slow release fertilizer. Keuntungan dari pupuk ini adalah pupuk akan tersedia dalam tanah dalam waktu yang lebih lama daripada menggunakan pupuk pada umumnya (fast release fertilizer) yaitu sekitar 12 bulan. Ini berarti, petani tidak harus berulang-ulang memberikan pupuk pada tanaman mereka. Sebagian besar jenis slow release fertilizer akan terurai pada kondisi tanah tertentu, umumnya pada tanah yang hangat. Secara umum akar tanaman lebih aktif pada kondisi tanah yang hangat. Jadi saat akar aktif maka pupuk akan terurai dengan otomatis sehingga tanaman tidak mendapatkan pupuk secara berlebihan.
Slow release fertilizer diberi pelapis agar dapat terurai perlahan. Bahan pelapis yang dapat digunakan antara lain belerang, paraffin, resin sintetis dan alami, kopolimer, aspal, dan polyolefin. Belerang bermanfaat untuk memberikan gizi tambahan pada tanaman. Teknik yang digunakan untuk melapisi pupuk ini antara lain dengan penyemprotan dalam drum berputar.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos”
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/pupuk_kompos_keniscayaan_bagi_tanaman/
http://primatani.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=84&Itemid=56
http://en.allexperts.com/q/Fertilizer-717/slow-release-fertilizers.htm

retty dwi widyastuti
Posted on 22nd October, 2009

PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN
DENGAN SRI (System of Rice Intensification)

Seiring dengan perkembangan jaman, dimana terdapat banyak kemajuan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, termasuk dalam perkembangan sistem pangan yang ada di Indonesia. Makin banyak pula muncul ide – ide para peneliti untuk mengembangkan suatu hasil pangan dengan menggunakan suatu metode baru yang nantinya akan membantu para petani. Salah satunya dengan mengembangakan teknik budidaya pertanian yang non konvensional yang mampu menawarkan hemat air, benih dan pupuk dengan budidaya padi model System of Rice Intensification (SRI). Bila dibandingkan dengan budidaya padi dengan pola konvensional, maka metode SRI mampu menghemat benih hingga sepertiganya. Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Di Indonesia gagasan SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua.
Metode budidaya padi metode SRI ini merupakan terobosan budidaya padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara. Untuk satu hektar lahan, hanya memerlukan 10 kg benih dari yang biasanya mencapai 30-50 kg benih dalam sistem konvensional. Sementara dalam hal penggunaan pupuk bisa menghemat hingga 50 persen, penggunaan pupuk organik dan non organik dengan jumlah yang sama, maka akan menghasilkan produksi sekitar 7,9 ton per hektar. Jumlah ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan sitem konvensional yang rata-rata menghasilkan produksi padi sekitar 6,2 ton per hektar. Manfaat pupuk organik bukanlah penambahan hara tanah, kecuali beberapa jenis hara mikro tertentu, melainkan, yang utama adalah memperbaiki kesuburan fisika dan biologi tanah (asupan C Organik). Pupuk organik ini membantu perkembangbiakan organisme tanah seperti cacing tanah. Adapun peningkatan kesuburan yang didapat tidaklah instan (seperti pupuk kimia, yang mempercepat pertumbuhan tanaman secara cepat, tetapi mengakibatkan batang cepat menguning). Sedangkan dalam hal penggunaan air membutuhkan ketinggian genangan air yang jauh lebih rendah. Genangan air yang diperlukan dalam SRI bisa dikurangi mencapai 10 - 15 cm lebih rendah, bahkan bisa hanya genangan air dengan ketinggian 2 atau 1 cm. Penerapan gagasan SRI berdasarkan pada enam komponen penting : (1) Transplantasi bibit muda, (2) Bibit ditanam satu batang, (3) Jarak tanam lebar, (4) Kondisi tanah lembab (irigasi berselang), (5) Melakukan pendangiran (penyiangan), (6) Hanya menggunakan bahan organik (kompos). Hasil penerapan gagasan SRI di lokasi penelitian menunjukkan bahwa : (1) Budidaya padi model SRI telah mampu meningkatkan hasil dibanding budidaya padi model konvensional, (2) Meningkatkan pendapatan, (3) Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usaha tani secara finansial, (4) Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik
Konsep SRI masih belum dapat diterima serta masih menimbulkan polemik dan kontroversial dalam penerapannya hampir di semua tempat maupun di lembaga terkait, termasuk IRRI sebagai Lembaga Penelitian Padi Internasional. Namun dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumber daya telah mendorong petani di beberapa tempat mempraktekan sistem pendekatan SRI. Peluang pengembangan SRI ke depan juga didukung oleh tuntutan globalisasi dan konsumen internasional terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang mudah dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik. Kendala pengembangan dalam skala luas, terkait dengan ketersediaan bahan-bahan organik, tenaga kerja tanam model SRI, serta kemauan dari petani sendiri.
Sejalan dengan berkembangnya penerapan SRI di lapangan dan minatnya para petani, terutama dalam pelaksanaan penggunaan pupuk organik maka muncul beberapa masalah diantaranya :
• Ketersediaan bahan organik baik dari biomasa atau yang bersumber dari limbah ternak masih sangat tebatas.
• Pembuatan kompos di sebagian besar masyarakat masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama.
• Adanya kebiasaan membuang dan membakar sumber bahan organik, seperti jerami oleh para petani.
• Petugas dan petani yang memahami dan terampil dalam penguasaan teknis Ekologi Tanah dan SRI jumlahnya masih sangat terbatas.
PRINSIP UTAMA SRI
Beberapa filosofi dasar dari SRI adalah sebagai berikut:
1. Padi bukan tanaman air, tetapi tanaman yang membutuhkan air untuk pertumbuhannnya (rice is not an aquatic plant)
2. Potensi pertumbuhan bibit padi akan berkurang jika dipindahkan dari persemaian setelah umur 15 hari (rice seedling lose much of their growt potential if they are transplanted more than about 15 days after they emerge in their nursery)
3. Pada saat penanaman (tandur) diminimalkan trauma pada tanaman khususnya pada bagian akar (during transplanting, trauma to seedlings and especially their roots should be minimized)
4. Menggunakan jarak tanam yang lebih besar untuk pertumbuhan akar (wide spacing of plants will lead to greater root growth and accompanying tillering).
5. Aerasi yang baik dan penggunaan bahan-bahan organic akan mendukung pertumbuhan akar tanaman dengan baik (soil aeration and organic matter create beneficial condition for plant root growth)

PAKET TEKNOLOGI BUDIDAYA SRI :
1. Penanaman bibit muda yaitu umur 8-12 hari setelah berkecambah saat tanaman baru berdaun dua helai dan tidak boleh melebihi dari 15 hari setelah berkecambah.
2. Menggunakan jarak tanam lebar, yaitu minimal 25cm x 25 cm, dan menanam tunggal (1 bibit per lubang).
3. Untuk menghindari trauma pada bibit saat penanaman, maka bibit ditanam segera secara hati-hati maksimal 30 menit setelah bibit di ambil dari persemaian.
4. Penanaman bibit padi secara dangkal (1-2 cm) dengan arah akar horisontal.
5. Dilakukan pengaturan air, yaitu: tanah dijaga terairi dengan baik (lembab), tetapi tidak terus menerus direndam.
6. Meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis.
7. Penggunaan pupuk dan pestisida organik untuk menjaga keseimbangan biologi tanah.
Jadi budi daya model SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan. Sehubungan dengan hal itu maka model pertanian SRI ini dapat dijadikan salah satu pilihan model untuk dibangun dan dikembangkan, karena penggunaan air yang hemat merupakan salah satu langkah dalam mengantisipasi krisis air.
Dan beberapa petani membuktikan bahwa peningkatan produksi terjadi setelah beberapa kali musim tanam, jadi tidak hanya 1 atau 2 kali tanam. Setelah beberapa kali musim tanam, para petani SRI ini dapat meningkatkan kualitas tanah lahan pertanian dan tentu saja peningkatan produksi. Bahkan ada yang bisa mencapai 2 kali produksi awalnya.
RETTY DWI WIDYASTUTI
100710202 / 46
IKM B ‘07

DAFTAR PUSTAKA
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Jl. Ahmad Yani 70 Bogor 16161, Telp. 0251-333964, Faks. 0251-314496

Anonim.system rice intensification sri meningkatkan produksi dan-menghemat-air

Anonym.gagasan dan Implementasi system OF Rice (SRI) dalam kegiatan budidaya padi ekologis (BPE).http://litbang.deptan.go.id 20-10-2009, 11:57 WIB

Anonym.mengenal system or rice intensification (SRI).http://pertaniansehat.or.id 20-10-2009, 12.00 WIB

Anonym.nusantara SRI menjanjikan perubahan petani.http://sunartani.com 20-10-2009, 12:03 WIB

Arsyda Noor Laksmi
Posted on 22nd October, 2009

Pengembangan padi organik
  Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian yang dilaksanakan dewasa ini adalah melalui program intensifikasi. Adapun pola tersebut melibatkan kegiatan sapta usaha diantaranya pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang tepat dan benar.
Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistim pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa kalangan atas yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi.
Penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian, berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut.
Pertanian organik di definisikan sebagai “sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.
Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik. Pertanyaannya, kenapa budi daya padi organik yang menguntungkan dan prospektif tersebut lambat diadopsi petani?
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.
Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.
Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.
Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial.
Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.
Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya).
Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian Faperta Unpad mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.
Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi ( rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang. Intervensi tentu harus didudukkan dalam kerangka dinamika dan keberlanjutan, sehingga menghasilkan feed back berupa kedewasaan berpikir, keberdayaan, dan kemandirian.

Daftar Pustaka
http://lmto.wordpress.com/
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=93040

Oleh:
Arsyda Noor Laksmi
100710211/51
Ikm B 2007

Evy hidayatin
Posted on 22nd October, 2009

Evy hidayatin
100710126 / 17
Ikm B 07

PENGEMBANGAN BERAS UNTUK BAHAN BAKU INDUSTRI

Beras merupakan bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea’ (bagian yang ditutupi) dan ‘lemma’ (bagian yang menutupi).Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari: aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit, endospermia, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.
Beras adalah makanan pokok rakyat indonesia. Dari beras kemudian akan diolah menjadi nasi yang merupakan makanan utama hampir sebagian besar penduduk. Selain karbohidrat, beras juga   mengandung protein, vitamin dan mineral. Vitamin yang dikandung oleh beras yaitu vitamin b-1 ( tiamin ) banyak terdapat pada bagian kulit arinya. Sayangnya, kandungan gizi beras baik berupa vitamin maupun mineral seringkali hilang akibat proses penggilingan tepung beras.karena itu diperkirakan bahwa beras yang kita makan sehari-hari sebenarnya telah  mengami degradasi / penurunan kandungan gizi. Hal ini diperparah saat beras dicuci terlalu lama ketika akan dimasak.
Dijaman yang semakin canggih ini, sudah banyak dilakukan pengembangan beras yang dijadikan sebagai bahan baku industri. Sentuhan agroindustri terhadap beras menjadi vital dalam rangka meningkatkan nilai tambah beras. Sangat disadari, tanpa proses kenaikan nilai tambah, relatif sukar meningkatkan pendapatan riil petani. Arti penting penaikan nilai tambah beras melalui sentuhan agroindustri, selain untuk meningkatkan pendapatan riil petani, setidaknya mempunyai beberapa alasan penting lain yang merujuk pada pentingnya agroindustri pangan secara umum.
dengan kondisi sumberdaya alam dan masih banyaknya tenaga kerja Indonesia yang berkecimpung di bidang pertanian (sekitar 55%) maka industri yang tepat untuk menghadapi krisis ekonomi sekarang (yang secara khusus ditandai dengan melemahnya rupiah terhadap dolar) adalah agroindustri. Agroindustri bagi kita bukanlah footloose industry. Dengan kata lain, agroindustri bagi Negara dengan kekayaan agraris seperti Indonesia merupakan industri yang relatif memiliki kandungan impor rendah.
Seperti yang diketahui banyak industri di Indonesia yang saat ini tergolong sebagai footloose industry yang dalam proses produksinya sangat bergantung pada input dari luar. Disamping membebani neraca pembayaran nasional, dalam kondisi krisis moneter, industri seperti ini mengakibatkan satu persatu perusahaan yang ada di dalamnya gulung tikar karena inputnya menjadi sangat mahal. Akibat lebih lanjut berimbas pada pemutusan hubungan kerja besar-besaran terhadap pekerja.
Selain tidak tergolong footloose industry, agroindustri memiliki keunggulan komparatif bagi Indonesia. Bukan saja sumberdaya komoditas pertanian yang kaya dan beragam, tetapi juga masih banyak tenaga kerja yang berbasis pertanian. Sehingga, untuk beralih dari visi pertanian sebagai penghasil produk-produk primer menjadi penghasil produk-produk sekunder dan tersier, tidak terjadi lompatan yang terlalu jauh..
Potensi lain dari beras adalah berupa tepung beras. Tepung beras mempunyai sifat fisik dan sensori yang khas sehingga mempunyai potensi sebagai ingredinet pangan. ”Satu sifat penting dari tepung beras adalah nonallergenic. Sehingga secara khusus produk ini dapat dimanfaatkan untuk mensubstiutsi tepung lain, khususnya tepung terigu., sangat bermanfaat bagi orang yang alergi terhadap gluten dan produk-produk tepung terigu lainnya.
Serat yang terdapat pada tepung mata beras cocok untuk diet , guna memelihara agar berat tubuh senantiasa ideal. Manfaat tepung beras ini seratnya ini mampu menyerap air dan dapat lebih lama tinggal di dalam lambung, sehingga memperlambat timbulnya rasa lapar. Hal ini sangat cocok bagi mereka yang ingin memiliki berat badan ideal melalui pengaturan pola konsumsi makanan. Serat ini juga mampu mengikat sisa-sisa hasil metabolisme dalam saluran pencernaan, sehingga zat-zat berbahaya ini tidak ditimbun dalam usus melainkan keluar bersama dengan kotoran. Dengan demikian serat tepung mata beras membantu mencegah terjadinya proses keganasan dalam usus Berdasarkan analisa penelitian didapat bahwa tepung mata beras sehat tidak hanya kaya akan vitamin dan mineral tetapi juga tinggi kandungan
Selain itu hasil ekstraksi tepung beras ini dapat dibuat berbagai macam produk pangan yang bermanfaat. Misalnya, pasta, keripik (chips) dan produk makanan ringan lainnya. Dan pengembangan aneka olahan dari aneka tepung diharapkan akan memberikan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan nilai sosial komoditas, pengolahan bahan pangan lokal dari aneka tepung menjadi produk olahan seperti krupuk, kue-kue basah dan kue-kue kering dan beberapa jenis olahan lain banyak dijumpai di pasar-pasar kota maupun di pasar lokal
Sementara untuk mendapatkan tepung beras yang berkualitas, bisa diperoleh dari penggilingan beras pecah atau patah, yaitu beras yang memiliki ukuran kurang dari biji beras utuh. Beras pecah atau patah ini, sebaiknya dipisahkan terlebih dahulu. Sehingga nantinya akan diperoleh beras kepala (utuh) dengan mutu yang baik. ”Kalau dipisahkan akan diperoleh tepung beras dengan berbagai keunggulan yang bisa dipasarkan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.”
Selain tepung, produk samping tanaman padi dapat pula berasal dari pati beras. Pati beras ini adalah komponen utama beras, terdapat pada bagian endosperm padi. pati beras ini merupakan penyusun 90-93 persen dari berat kering beras. Dalam bahasa sehari-hari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah), istilah “pati” kerap dicampuradukkan dengan “tepung” serta “kanji”. “Pati” (bahasa Inggris starch) adalah penyusun (utama) tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya mengandung pati, karena ter-/dicampur dengan protein, pengawet, dan sebagainya. Tepung beras mengandung pati beras, protein, vitamin, dan lain-lain bahan yang terkandung pada butir beras.
Orang bisa juga mendapatkan tepung yang merupakan campuran dua atau lebih pati. Kata ‘tepung lebih berkaitan dengan komoditas ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji tampaknya terjadi karena penerjemahan. Kata ‘to starch’ dari bahasa Inggris memang berarti ‘memberi kanji’ dalam bahasa Melayu/Indonesia, karena yang digunakan memang tepung kanji.Fungsi dari pati beras ini dapat digunakan sebagai pengental pada proses produksi saus , desserts dan dapat dihidrolisis menjadi sirup manis.

Dengan demikian, selayaknya pengembangan teknologi industri di prioritaskan pada teknologi yang meningkatkan performans agroindustri agar produk-produknya memiliki keunggulan kompetitif untuk berlaga di pasar dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Http://google.co.id/#q=+tepung+beras&sa=28fp=1cb050bdb1ab7456
Http://andiirawan.com/2008/03/16/agroindustri-beras/
Http://id.wordpress.com/tag/manfaat-pati-beras/
Http://www.flamboyan.co.id/_fla.php?_fla=produk&pro_id=4029
Http://albudijono.com/agroindustri-anekatepung/
Http://id.wordpress.com/pubde/tknprss/padi.php.htm

Ade Chintya N. D
Posted on 22nd October, 2009

TEKNOLOGI RUMPON LAUT DALAM UNTUK PERAIRAN INDONESIA

Indonesia yang tiga perempat wilayahnya berupa laut (5,8 juta km2) dan merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki potensi lestari (maximum sustainable yield) ikan laut seluruhnya 6,4 juta ton per tahun atau sekitar 7 % dari total potensi lestari ikan laut dunia. Artinya, jika kita dapat mengendalikan tingkat penangkapan ikan laut lebih kecil dari 6,4 juta ton per tahun maka kegiatan usaha perikanan tangkap semestinya dapat berlangsung secara lestari (Dahuri, 2004).
Apabila Tahun 1998 Indonesia merupakan Negara penghasil ikan terbesar ketujuh di dunia dengan total produksi ikan 4 juta ton, maka pada Tahun 2003 menempatkan Indonesia sebagai produsen ikan terbesar kelima didunia dengan total produksi 6 juta ton.
Dari fakta di atas, maka kita sebagai Warga Negara Indonesia wajib waspada terhadap adanya eksploitasi di perairan indonesia. Misalnya penangkapan ikan secara besar – besaran oleh kapal – kapal yang dilengkapi oleh pukat harimau, dimana telah kita ketahui bahwa alat tersebut akan dapat merusak ekosistem perairan yang ada. Kapal – kapal dari luar negeri juga harus di waspadai, karena juga dapat menjadi ancaman bagi perekonomian Indonesia pada sektor perikanan. Maka dari itu, teknologi dalam bidang perikanan selalu diperbarui dan disempurnakan. Salah satunya adalah teknologi Rumpon.
Rumpon adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut (Barus et al, 1992). Dalam SK Mentan No. 51/Kpts/IK.250/I/97 tentang pemasangan dan pemanfaatan rumpon menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis rumpon , yaitu : (a) rumpon perairan dasar : adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut, (b) rumpon perairan dangkal : adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman laut sampai 200 meter dan (c) rumpon perairan dalam : adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman diatas 200 meter.
Fungsi rumpon sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tempat berkumpulnya ikan
2. Sebagai tempat daerah penangkapan ikan
3. Sebagai tempat berlindung jenis ikan tertentu dari serangan ikan predator
Sedangkan manfaatnya adalah sebagai berikut :
1. Memudahkan nelayan menemukan tempat untuk mengoperasikan alat
tangkapnya.
2. Mencegah terjadinya destruktif fishing, akibat penggunaan bahan peledak dan
bahan kimia/beracun.
3. Meningkatkan produksi dan produktifitas nelayan.
Rumpon perairan dalam ini sangat bermanfaat bagi masyarakat nelayan maupun bagi kelestarian ekosistem perairan. Hal ini disebabkan karena teknologi rumpon laut dalam atau rumpon perairan dalam ini memudahkan nelayan atau para pencari ikan lainnya untuk dapat mengambil ikan yang berada pada kedalaman diatas 200 meter. Sehingga hasil yang diperoleh juga akan semakin meningkat.
Penggunaan bahan peledak oleh para pencari ikan atau nelayan selama ini dapat mengakibatkan rusaknya terumbu karang dan matinya ikan – ikan kecil yang seharusnya dibiarkan tumbuh besar untuk dapat berkembang biak. Inilah salah satu alasannya teknologi rumpon laut dalam ini diterapkan, yaitu sangat bermanfaat bagi kelestarian ekosistem perairan yang kurang dari 200 meter.
Pada rumpon laut dalam sebagian besar bahan yang digunakan bukan dari alam melainkan berasal dari buatan seperti bahan sintetis, plat besi, ban bekas, tali baja, tali rafia serta semen.
Desain rumpon, baik rumpon laut dalam maupun rumpon laut dangkal secara garis besar terdiri atas empat komponen utama yaitu (1) pelampung (float), (2) tali (rope), (3) pemikat (atractor) dan (4) pemberat (sinker). Tali yang menghubungkan pemberat dan pelampung pada jarak tertentu disisipkan daun nyiur yang masih melekat pada pelepahnya setelah dibelah menjadi dua. Panjang tali bervariasi , tetapi pada umumnya adalah 1,5 kali kedalaman laut tempat rumpon tersebut ditanam (Subani, 1986). Tim pengkajian rumpon Institut Pertanian Bogor (1987) memberikan persyaratan umum komponen-komponen dari konstruksi rumpon adalah sebagai berikut :
(1) Pelampung
• Mempunyai kemanpuan mengapung yang cukup baik (bagian yang mengapung
diatas air 1/3 bagian)
• Konstruksi cukup kuat
• Tahan terhadap gelombang dan air
• Mudah dikenali dari jarak jauh
• Bahan pembuatnya mudah didapat
(2) Pemikat
• Mempunyai daya pikat yang baik terhadap ikan
• Tahan lama
• Mempunyai bentuk seperti posisi potongan vertical dengan arah ke bawah
• Melindungi ikan-ikan kecil
• Terbuat dari bahan yang kuat, ahan lama dan murah
(3) Tali temali
• Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah busuk
• Harganya relatif murah
• Mempunyai daya apung yang cukup untuk mencegah gesekan terhadap benda-
benda lainnya dan terhadap arus
• Tidak bersimpul (less knot)
(4) Pemberat
• Bahannya murah, kuat dan mudah diperoleh
• Massa jenisnya besar, permukaannya tidak licin dan dapat mencengkeram

Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang fungsinya sebagai pembantu untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul disuatu tempat yang selanjutnya diadakan penangkapan. Prinsip lain penangkapan dengan alat bantu rumpon disamping berfungsi sebagai pengumpul kawanan ikan, pada hakekatnya adalah agar kawanan ikan mudah ditangkap sesuai dengan alat tangkap yang dikehendaki. Selain itu dengan adanya rumpon, kapal penangkap dapat menghemat waktu dan bahan bakar, karena tidak perlu lagi mencari dan mengejar gerombolan ikan dari dan menuju ke lokasi penangkapan.
Harga rumpon dasar memang lebih murah dibandingkan dengan rumpon laut dalam. Yakni, berkisar antara Rp 20-25 juta per unit. Sedangkan rumpon laut dalam harganya mencapai antara Rp 100-150 juta per unit. Karena harga rumpon mahal. Hal itu umumnya membuat para nelayan tradisional enggan untuk mengadakan rumpon secara swadaya, padahal nilai investasi rumpon itu lebih besar dibandingkan dengan harganya.
Mengingat rumpon merupakan alat bantu efektif dalam mengumpulkan ikan maka diperlukan strategi pengelolaan yang berkelanjutan, antara lain dengan cara (1) pengelolaan secara berkelompok, (2) pembatasan terhadap upaya penangkapan ikan, (3) penghentian penambahan jumlah rumpon laut dangkal, (4) penggunaan alat tangkap dengan ukuran mata jaring yang besar dan (5)priorotaskan penggunaan rumpon laut dalam.

Ade Chintya N.D
100710256 / 88
IKM B 2007

Rena Kusuma P
Posted on 22nd October, 2009

MENGENAL PANGAN FUNGSIONAL

Semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat serta semakin tingginya tingkat kemakmuran masyarakat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian meningkat. Bahan pangan yang mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Saat ini banyak dipopulerkan bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu di dalam tubuh, misalnya untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, dan lain-lain.
Hipocrates, yang banyak dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran dunia pernah mengatakan “Let your food be your medicine and medicine be your food.” Hipocrates menyatakan bahwa bila kita menerapkan pola makan sehat maka apa yang kita makan dapat menunjang kesehatan tubuh secara sekaligus menepis berbagai macam penyakit. Jenis makanan yang dapat berfungsi sebagai sumber gizi bagi tubuh manusia sekaligus menepis berbagai macam penyakit tersebut sering disebut sebagai makanan fungsional (functional food), atau sebagian pakar menyebut smart food, sebagai lawan kata dari junk food.
Pangan fungsional merupakan generasi ketiga dari healthy foods. Pada era 1970an di kenal istilah healthy eating, saat itu marak dikonsumsi aneka saribuah, yoghurt, serealia dan whole meal bread. Pada era 1980an, banyak dikonsumsi makanan rendah lemak (kolesterol), rendah gula dan rendah garam, dan pada era 1990an mulai diintroduksikan pangan fungsional. Menurut konsensus pada the First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional didefinisikan sebagai pangan yang mengandung komponen aktif yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Sedangkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan.
Menurut Karyadi (2000), khasiat makanan fungsional ditimbulkan oleh komponen pangan berupa zat gizi maupun non gizi. Komponen non gizi, yang biasa disebut komponen bioaktif pangan, saat ini mendapat perhatian besar dan semakin intensif diteliti secara ilmiah. Pada tanaman rempah dan bumbu, komponen non gizi yang ada tadinya hanya berfungsi sebagai pemberi aroma, rasa dan flavor pada makanan. Saat ini, fungsi nilai fungsionalnya bertambah karena terbukti memberikan dampak terhadap kesehatan. Golongan senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar yang terkandung dalam pangan yang bersangkutan, yaitu: (1) serat pangan (dietary fiber), (2) oligosakarida, (3) gula alkohol (polyol), (4) asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids = PUFA), (5) peptida dan protein tertentu, (6) glikosida dan isoprenoid, (7) polifenol dan isoflavon, (8) kolin dan lesitin, (9) bakteri asam laktat, (10) phytosterol, dan (11) vitamin dan mineral tertentu (Astawan, 2003).
Meski mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami (Badan POM, 2001). Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Kalau obat fungsinya terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional hanya bersifat membantu pencegahan timbulnya suatu penyakit. Pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, dapat dinikmati sebagaimana makanan pada umumnya (Astawan, 2003).

Persyaratan pangan fungsional
Jepang merupakan negara yang paling tegas dalam memberi batasan mengenai pangan fungsional dan paling maju dalam perkembangan industrinya. Para ilmuwan Jepang menekankan tiga fungsi dasar pangan fungsional, yaitu:
1. Sensory (warna dan penampilannya yang menarik dan cita rasanya yang enak)
2. Nutritional (bernilai gizi tinggi), dan
3. Physiological (memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh).
Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan dari pangan fungsional antara lain adalah:
1. Pencegahan dari timbulnya penyakit,
2. Meningkatnya daya tahan tubuh,
3. Regulasi kondisi ritme fisik tubuh,
4. Memperlambat proses penuaan, dan
5. Menyehatkan kembali (recovery).
Produk makanan atau minuman dapat disebut pangan fungsional apabila memenuhi tiga persyaratan berikut ini:
1. Produk tersebut harus berupa suatu produk pangan (bukan tablet, kapsul, bubuk),
2. Berasal dari bahan atau ingredien yang terdapat secara alami,
3. Produk tersebut dapat dan selayaknya dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari-hari, dan
4. Produk tersebut mempunyai fungsi tertentu pada waktu dicerna, memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, misalnya:
(a) Memperkuat pertahanan tubuh;
(b) Mencegah penyakit tertentu;
(c) Menjaga kondisi fisik dan mental;
(d) Memperlambat proses penuaan; dan
(e) Membantu proses penyembuhan dari sakit.

Ragam Pangan Fungsional
• Pangan Fungsional Tradisional
Pangan tradisional adalah makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat tertentu, dengan citarasa khas yang diterima oleh masyarakat tersebut. Bagi masyarakat Indonesia umumnya amat diyakini khasiat aneka pangan tradisional, seperti tempe, bawang putih, madu, kunyit, jahe, kencur, temu lawak, asam jawa, sambiloto, daun beluntas, daun salam, cincau, dan aneka herbal lainnya. Jamu sebagai racikan aneka herbal berkhasiat sangat popular di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Peningkatan mutu, keamanan, dan prestise pangan tradisional dapat dilakukan dengan upaya-upaya pemilihan bahan mentah yang baik, pemilihan bahan tambahan pangan yang baik, penanganan yang lebih higienis, dan penyajian/penampilan yang lebih menarik.
Beberapa jenis pangan fungsional tradisional :
1. Bahan asal tanaman (kacang-kacangan, sayuran hijau, umbi-umbian, buah- buahan),
2. Asal hewani (kerang, ikan, unggas), dan
3. Bahan rempah-rempah (jahe, kunyit, ketumbar, salam, sereh, beluntas, sirih, pinang, dll).
• Beberapa jenis pangan fungsional modern :
1. Pangan tanpa lemak, rendah kolesterol dan trigliserida,
2. Breakfast cereals dan biskuit yang diperkaya serat pangan,
3. Mi instan yang diperkaya berbagai vitamin dan mineral,
4. Permen yang mengandung zat besi, vitamin, dan fruktooligosakarida,
5. Pasta yang diperkaya dietary fiber,
6. Sosis yang diperkaya oligosakarida, serat, atau kalsium kulit telur;
7. Minuman yang mengandung suplemen dietary fiber, mineral, dan vitamin,
8. Cola rendah kalori dan cola tanpa kafein,
9. Sport drink yang diperkaya protein,
10.Minuman isotonik dengan keseimbangan mineral,
11. Minuman untuk pencernaan,
12. Minuman pemulih energi secara kilat,
13. Teh yang diperkaya kalsium, dan lain-lain.

Pengembangan Aneka Pangan Fungsional
Di negara maju, seperti Jepang, tidaklah sulit menemukan berbagai jenis makanan fungsional ini di berbagai supermarket. Berbagai produk baru baik dari kelompok makanan maupun minuman, dengan berbagai aktifitas spesifiknya bermunculan hampir dalam hitungan bulan bahkan minggu.
Menurut laporan khusus jurnal Food Technology tentang “Top 10 Functional Food Trends 2002”, perkembangan pangsa pasar produk pangan fungsional di USA terus berkembang menuju ke tingkat “mature”. Klaim pada label yang dianggap penting oleh konsumen, yaitu meliputi : sumber kalsium yang baik, mungkin mereduksi resiko kanker, membantu system imun tubuh, membantu menjaga level kholesterol, mungkin membantu pencegahan osteoporosis, mungkin mengurangi resiko penyakit jantung, kadar serat tinggi, bebas kholesterol, sumber antioksidan yang baik, rendah kalori, rendah sodium, tinggi protein, bebas gula, pembentukan tulang yang kuat, serta sebagai sumber energi tinggi.

Pengenalan lebih banyak tentang pangan fungsional pun dapat dilakukan secara mandiri. Pengenalan melalui label produk, tulisan ilmiah popular di media massa, tayangan televisi atau siaran radio atau penelusuran melalui internet merupakan alternatif pilihan yang mudah dijangkau. Bagi yang benar-benar berminat, bahkan tersedia situs khusus seperti halnya http://www.Nutrasolutions.com atau jurnal ilmiah Journal of Medicinal Food.

Bahan Bacaan :

http://hodijat2009.kabarku.com/pangan-fungsioal/Makanan-Fungsional–Pangan-Masa-Depan-16032.html

http://jabar.litbang.deptan.go.id/images/stories/pafung/mak_a/3_Suryana.pdf

http://jabar.litbang.deptan.go.id/images/stories/pafung/mak_c/11_Widowati.pdf

http://www.bkpsulteng.go.id/print.php?type=A&item_id=14

http://maluniteta08.wordpress.com/2008/10/27/pangan-tradisional-sebagai-pangan-fungsional/

oleh : Rena Kusuma Pratiwi
NIM : 100710031
IKM A ’07

Felismawanti Ikedyni
Posted on 22nd October, 2009

BERAS SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI
(BERBASIS PATI DAN TEPUNG)

Oleh :
Felismawanti Ikedyni
100710251 / 84
IKM B 07

Beras merupakan daging buah dari tanaman Oriza Sativa. Kata “beras” mengacu pada bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea’ (bagian yang ditutupi)dan ‘lemma’ (bagian yang menutupi).
Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Beras secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari:
aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit,
endospermia, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada
embrio, merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.
Kandungan beras :
Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras tersusun dari 2 polimer karbohidrat:
amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Beras memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.
Pengembangan beras digunkan sebagai bahan baku industri, diantaranya :

Pengembangan beras sebagai bahan baku berbasis tepung

Tepung beras merupakan produk pengolahan beras yang paling mudah pembuatannya. Beras digiling dengan penggiling hammer mill sehingga menjadi tepung.
Adapun cara pembuatannya :
Beras diayak atau ditampi untuk menghilangkan kotoran seprti kerikil, sekam dan gabah
Beras yang sudah bersih, digiling sampai halus dengan menggunakan penggiling hammer mill
Beras dicuci dulu sampai bersih, kemudian direndam di dalam air yang mengandung natrium bisulfit, 1ppm (1 g natrium bisulfit di dalam 1 m³ air) selama 6 jam.
Setelah itu beras ditiriskan dan dikeringkan sehingga dihasilkan beras lembab. Selanjutnya digiling sampai halus. Beras lembab ini lebih mudah dihaluskan sehingga penggilingannya lebih cepat dan hemat energi.
Setelah digiling, tepung beras perlu dijemur atau dikeringkan sampai kadar air dibawah 14%
Serat yang terdapat pada tepung mata beras cocok untuk diet , guna memelihara agar berat tubuh senantiasa ideal. Manfaat tepung beras ini seratnya mampu menyerap air dan dapat lebih lama tinggal di dalam lambung, sehingga memperlambat timbulnya rasa lapar. Hal ini cocok bagi yang ingin memiliki berat badan ideal melalui pengaturan pola konsumsi makanan. Serat ini juga mampu mengikat sisa-sisa hasil metabolisme dalam saluran pencernaan, sehingga zat-zat berbahaya tidak ditimbun dalam usus melainkan keluar bersama dengan kotoran. Dengan demikian serat tepung mata beras membantu mencegah terjadinya proses keganasan dalam usus Berdasarkan analisa penelitian didapat bahwa tepung mata beras sehat tidak hanya kaya akan vitamin dan mineral tetapi juga tinggi kandungan manfaat tepung beras terutama seratnya yang bermanfaat dalam proses pencernaan makanan dalam usus. Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa tepung mata beras sehat memiliki keistimewaan tepung beras karena mengandung nilai gizi yang tinggi, sehingga produk ini merupakan nutrisi yang sangat baik untuk menjaga stamina dan memelihara kesehatan tubuh.
Tepung beras juga merupakan bahan pokok yang sangat penting dalam pembuatan kue-kue. Dengan munculnya tepung beras yang halus dan kering dipasaran, maka tepung beras untuk pembuatan kue-kue sangat mudah untuk didapat. Kualitas kue yang dibuat dari tepung beras yang baru ditumbuk lebih baik dibandingkan dengan kue yang dibuat dari tepung beras kering.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian tepung beras sebagai bahan dasar kue :
a. Sebaiknya menggunakan tepung yang halus dan baru ditumbuk. Agar tepung tidak cepat menjadi asam, letakkan beberapa lombok merah utuh atau sobekan-sobekan daun pisang di dalam tepung.
b. Adonan dari tepung beras sebaiknya dibuat dengan menggunakan cairan panas agar kue yang dihasilkan tidak keras dan adonan tidak mengendap kecuali adonan yang harus difermentasi menggunakan tape dan ragi
c. Untuk adonan dari tepung beras jenis keras, tambahkan sedikit tepung kanji supaya tidak kaku.
d. Memasak kue dari tepung beras harus sampai tanak betul agar enak, kenyal dan tidak cepat basi.
Pengembangan beras sebagai bahan baku berbasis pati
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi.
Dalam bahasa sehari-hari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah), istilah “pati” kerap dicampuradukkan dengan “tepung” serta “kanji”. “Pati” (bahasa Inggris starch) adalah penyusun (utama) tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya mengandung pati, karena tercampur/dicampur dengan protein, pengawet, dan sebagainya. Tepung beras mengandung pati beras, protein, vitamin, dan lain-lain bahan yang terkandung pada butir beras. Orang bisa juga mendapatkan tepung yang merupakan campuran dua atau lebih pati. Kata “tepung” lebih berkaitan dengan komoditas ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji tampaknya terjadi karena penerjemahan. Kata ‘to starch’ dari bahasa Inggris memang berarti ‘menganji’ (’memberi kanji’) dalam bahasa Melayu/Indonesia, karena yang digunakan memang tepung kanji.
Pada pembuatan beras instan :
Beras instan adalah beras yang cepat dan mudah diubah menjadi nasi. Lebih tahan terhadap gangguan (jasad renik dan serangga). Beras masak (nasi atau beras setengah masak) dapat dikeringkan dengan bebrapa cara. Untuk mendapatkan butiran beras yang keropos dan kondisi strukturnya terbuka. Produk akhir yang dihasilkan akan bersifat kering, berbutir-butir, tidak menggumpal dan mempunyai volume kira-kira 1,5 – 3 kali dari volume beras awal yang digunakan. Beras instan yang dihasilkan diharapkan dapat siap dihidangkan dalam waktu 5 – 15 menit setelah ditambah dengan air mendidih.
Bila pati mentah dimasukkan ke dalam air dingin, granula patinya akan menyerap air dan membengkak. Namun jumlah air yang terserap dan pembengkakkannya terbatas. Air yang terserap tersebut hanya dapat mencapai kadar 30%. Peningkatan granula pati yang terjadi didalam air suhu 55 – 65°C adalah pembengkakkan yang sesungguhnya dan setelah pembengkakkan ini garnula pati dapat kembali pada kondisi semula. Peningkatan suhu menyebabkan terjadinya imbibisi air yang lebih besar ke dalam garanula pati, sehingga pati akan mengembang.

Selain itu pati digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk memekatkan makanan cair seperti sup dan sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetika.

Daftar pustaka :

http://id.wikipedia.org/wiki/Beras

http://id.wikipedia.org/wiki/Pati_%28polisakarida%29

http://bikin.web.id/tag/kandungan-beras/

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=19562:pengembangan-teknologi-pangan-untuk-atasi-kelaparan-&catid=90:ilmiah-populer

http://tekhnologi-hasil-pertanian.blogspot.com/2008/07/hubungan-antara-varietas-dengan.html

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Varietas%20Beras%20dengan%20Komposisi%20Kimiawi%20Zat%20Penyusunnya&&nomorurut_artikel=136

http://dahlanforum.wordpress.com/2009/07/01/tepung-beras/

http://www.griyakuliner.com/tag/tepung-beras/

irfan ari
Posted on 22nd October, 2009

Irfan Ari W
100710267 / 97
IKM B 2007
“PENINGKATAN PRODUKSI IKAN DENGAN REKAYASA GENETIK”
Selama beberapa dekade variasi konsumsi pangan manusia terus mengalami perubahan-perubahan, hal ini berkembang sejalan dengan semakin majunya teknologi pengolahan bahan pangan. Upaya meningkatkan mutu pangan diawali dengan cara tradisional, kemudian dengan teknik mutasi, serta rekombinasi DNA telah dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi bahan pangan, serta untuk menciptakan hewan dan tanaman tertentu yang memiliki sifat-sifat yang lebih unggul. Dengan upaya seperti itu diharapkan kebutuhan pangan yang terus meningkat sesuai pertambahan penduduk, akan dapat dipenuhi.
Peningkatan produksi dalam kegiatan budidaya perairan dapat ditempuh melalui beberapa pendekatan, yakni manipulasi lingkungan, genetik atau kombinasi keduanya. Rekayasa set kromosom melalui tetraploidisasi merupakan salah satu pendekatan manipulasi genetik yang dapat diterapkan pada ikan. Individu nila tetraploid dapat dihasilkan dengan cara menggagalkan pembelahan sel mitosis I. Diantara beberapa perlakuan kejutan, yang paling sering digunakan adalah kejutan panas (suhu 41+-0,5 oC). Inkubasi telur dilakukan pada suhu 28 o C. Diantara beberapa perlakuan, pemberian kejutan pada menit ke 85 setelah pembuahan memberikan hasil yang paling baik. Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa jumlah nukleolus ikan nila diploid dan tetraploid maksimal masing-masing sebanyak 4 dan 8 buah. Sedangkan jumlah kromosom diploid dan tetraploid, masing-masing sebanyak 44 dan 88 buah.
Bioteknologi merupakan penggunaan sistem biologi atau organisme hidup dalam proses produksi. Bioteknologi memiliki cakupan manfaat yang luas bagi dunia perikanan dan budidaya ikan. Manfaat tersebut diantaranya, meningkatkan tingkat pertumbuhan ikan budidaya, meningkatkan nilai gizi pada pakan ikan, meningkatkan kesehatan ikan, membantu memperbaiki dan melindungi lingkungan, memperluas cakupan jenis ikan, meningkatkan pengelolaan dan konservasi ketersediaan benih di alam. Terdapat beberapa bioteknologi sederhana yang sudah diterapkan sejak lama seperti pemupukan kolam untuk meningkatkan ketersediaan pakan. Tujuan utama penerapan bioteknologi genetik pada ikan adalah untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan. Namun bisa juga digunakan untuk meningkatkan daya tahan terhadap penyakit dan lingkungan. Terdapat beberapa teknik bioteknologi yang sudah diterapkan pada ikan budidaya.
Pemanfaatan rekayasa genetik dalam pembentukan pangan transgenik, dianggap sebagai terobosan yang brilian dalam menghadapi kerawanan pangan di masa depan.
namun hal tersebut belum sepenuhnya terealisasi, karena adanya masalah-masalah yang muncul pada aplikasi di lapangan. Masalah-masalah yang timbul antara lain adalah: timbulnya sifat-sifat yang tidak diinginkan yang dapat memberi efek negatif pada kesehatan manusia, dan masalah-masalah lainnya. Kemajuan teknologi genetika hewan dan tanaman pangan ini sebaiknya jangan sampai terlambat, namun yang lebih penting dan lebih bijaksana adalah pemanfaatan teknologi rekayasa genetik jangan sampai membahayakan masyarakat.
Beberapa teknologi rekayasa genetik yang dapat diterapkan dalam budidaya perikanan adalah sebagai berikut :
ᴥ Manipulasi
Manipulasi pada bentuk kromosom merupakan teknik yang bisa digunakan untuk menghasilkan organisme ‘triploid’ yaitu organisme dengan tiga bentuk kromosom dimana biasanya suatu organisme cuma memiliki dua bentuk. Triploid umumnya tidak bisa bereproduksi sehingga ada pemikiran bahwa energi yang dimiliki akan sepenuhnya digunakan untuk meningkatkan perkembangan suatu organisme walaupun belum ada bukti yang menguatkan pemikiran tersebut. Keuntungan triploid lebih terlihat pada fungsi sterilitasnya meskipun tidak mencapai 100%.
ᴥ Budidaya Sejenis (monosex culture)
Dalam budidaya perikanan, budidaya sejenis (monosex culture) biasanya lebih menguntungkan dari pada budidaya lainnya. Sebagai contoh : ikan nila jantan tumbuh lebih cepat daripada betina. Produksi ikan secara monosek memberikan banyak keuntungan dan dapat dilakukan dengan cara memanipulasi perkembangan gamet dan embrio. Pemanipulasian dilakukan dalam bentuk denaturalisasi DNA sel kelamin yang dilanjutkan dengan manipulasi bentuk kromosom atau sex reversal menggunakan hormon dan tindakan pembenihan.
Penggunaan hormon yang tepat dengan ketat dapat merubah sifat fenotip kelamin ikan. Contohnya, secara genetik ikan nila jantan akan berubah secara fisik menjadi betina dengan pemberian hormon estrogen. Ikan-ikan jantan ini dikawinkan dengan ikan jantan alami untuk menghasilkan semua anakan ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan dapat menghindari perkawinan yang tidak diinginkan yang biasa terjadi pada budidaya nila secara multi-sex. Pada budidaya ikan nila multi-sex, perkawinan ikan-ikan berukuran kecil sering terjadi dan menyebabkan kepadatan yang berlebih. Beberapa anakan jantan dari proses ini memiliki dua kromosom jantan sehingga dapat dijadikan sebagai induk untuk pembenihan selanjutnya. Manfaat besar dari teknik ini yaitu semua populasi jantan bisa diproduksi untuk generasi seterusnya tanpa menggunakan hormon.
ᴥ Hibridasi
Hibridasi merupakan bioteknologi genetik yang semakin mudah dilakukan dengan berkembangnya teknik pembenihan buatan seperti penggunaan kelenjar hipopisa atau hormon lainnya yang merangsang perkembangan gamet dan mendorong pemijahan (pengeluaran telur ikan). Peningkatan pemahaman faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi reproduksi seperti lamanya penyinaran matahari, suhu atau arus air telah memainkan peranan penting dalam peningkatan program pembenihan. Sekarang pembudidaya ikan dapat mengatasi rahasia mekanisme reproduksi ikan secara alami di perairan umum. Hibridasi bisa digunakan juga untuk menghasilkan anakan satu jenis kelamin.
Manfaat Dan Harapan Pangan Transgenik
Indonesia sebagai suatu negara yang kontinu didera masalah-masalah pertanian terutama masalah penyediaan bahan pangan, selalu kewalahan dalam peningkatan produksi ternak dan produksi tanaman pangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Laju produksi pertanian tanaman pangan ternyata tidak mampu mengimbangi laju permintaan dari konsumen di dalam negeri. Efek dari keadaan tersebut adalah meningkatkan laju impor bahan pangan dari luar negeri seperti: bibit ternak, ikan konsumsi, kedelai serta beras.
Salah satu upaya termudah memperbaiki kekurangan produksi pangan di Indonesia adalah dengan meningkatkan mutu dan jumlah produksi ternak dan tanaman pangan. Perbaikan mutu dilakukan dengan sasaran agar memperkecil selisih antara laju permintaan konsumen dengan laju produksi. Upaya perbaikan mutu yang paling cepat secara teoritis adalah melalui penciptaan bahan pangan transgenik melalui rekayasa genetik seperti rekombinasi DNA. Dari upaya-upaya yang dilakukan diharapkan diperoleh ternak unggul yang cepat bertumbuh dengan tingkat konsumsi pakan yang rendah.
Problema Pangan Transgenik
Problema teknis
Prediksi terhadap performans pangan transgenik, yang tentunya memberi gambaran sangat sempurna, karena telah diproses dengan hati-hati melalui rekayasa genetik, ternyata dapat berbias. Pangan transgenik ternyata dapat memiliki sifat-sifat yang tidak dikehendaki, yang muncul di luar dugaan. Sifat tidak dikehendaki ini secara nyata dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan manusia sebagai konsumen.
Peningkatan teknologi reproduksi ikan telah banyak membantu pembudidaya dalam usaha membudidayakan ikan. Selain itu, dengan adanya kemampuan untuk mengatasi kendala alam dan masa memijah, pembudidaya bisa mengawinkan ikan lebih banyak pada saat-saat nilai jual ikan tinggi dan juga menjamin ketersediaan ikan di pasar.

Referensi :
Adikhresna.Pengkajian Metode Penerapan Tetraploidisasi pada Ikan Nila.http://id.shvoong.com/exact-sciences/engineering/1846526-pengkajian-metode-penerapan-tetraploidisasi-pada/ (online 7 oktober 2009)
Anonim.Nila Best-Perbaikan Mutu Genetik Ikan Nila (oreochromis niloticus).http://www.iaspbcikaret.org/index.php?option=com_content&view=article&id=164:perbaikan-mutu-genetik-ikan-nila-oreochromis-niloticus&catid=34:budidaya-airtawar&Itemid=50 (online 7 oktober 2009)
Kusumah, Arya. Bioteknologi Genetik Pada Ikan.http://rotifera38stp.co.cc/index.php?option=com_content&view=article&id=98:bioteknologi-genetik-pada-ikan&catid=1:r38&Itemid=50 (online 7 oktober 2009)
Siagian,Bezalel.Masalah Pangan Transgenik Di Indonesia. http://hariansib.com/?p=93529 (online 7 oktober 2009)

Ilham Prawidi Sakti 100710128 IKM A 07
Posted on 22nd October, 2009

MEMBUDAYAKAN PADI ORGANIK
Grafik pengarusutamaan padi organik, baik yang dikembangkan dengan metode SRI (System of Rice Intensification), PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) maupun dengan metode lainnya, terus meningkat di Indonesia. Selain karena mampu mendongkrak produktivitas padi hingga 6-9 ton per hektare –bahkan dengan metode SRI ada yang mencapai produktivitas hingga 10-11 ton per hektare, padi organik juga lebih dihargai oleh pasar.

Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan di Balai Penelitian Padi (Balitpa) membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.

Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik. Pertanyaannya, kenapa budi daya padi organik yang menguntungkan dan prospektif tersebut lambat diadopsi petani?

Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.

Hasil penelitian penulis, baik melalui survei maupun diskusi terfokus dengan para pelaku padi organik di Jawa Barat, hampir di semua kabupaten/kota padi organik telah diujicobakan, bahkan di beberapa kabupaten (seperti Tasikmalaya dan Garut) telah mengarah ke pengembangan. Secara kelembagaan, telah pula dijajaki sertifikasi produk padi organik sebagai prasyarat untuk menembus pasar ekspor. Namun, terungkap pula bahwa di beberapa kabupaten pengembangan padi organik justru mengalami pelambatan dan penurunan. Bahkan, para petani yang telah mencoba dan menerapkan padi organik kembali ke metode konvensional. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.

Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.

Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.

Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.

Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.

Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial.

Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.

Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.

Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.

Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya).

Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian Faperta Unpad mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik (pada kasus SRI) ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.

Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai intervensi (baca: rekayasa sosial) dari para pelaku kebijakan, perjalanannya tetap akan pincang. Intervensi tentu harus didudukkan dalam kerangka dinamika dan keberlanjutan, sehingga menghasilkan feed back berupa kedewasaan berpikir, keberdayaan, dan kemandirian.

Catatan akhir

Peluang pasar padi organik yang besar (terutama pasar domestik) sudah seharusnya dioptimalkan, agar tidak kembali direbut produk impor. Upaya membesut kuantitas padi organik harus pula disertai dengan komitmen untuk menjaga dan meningkatkan kualitas dan kontinuitasnya, sehingga produk tersertifikasi sesuai standar pasar internasional. Jika kita mencermati klausul sertifikasi internasional, kualitas padi organik yang bagus itu hanya akan tercapai apabila semua hal yang terkait dengan padi organik terbebas dari kontaminan kimiawi, termasuk air untuk pengairannya. Artinya, itu akan tercipta jika padi organik sudah menjadi budaya para petani.

Oleh karena itu, pengembangan padi organik harus didudukkan dalam kerangka pemahaman yang berkelanjutan, baik menyangkut rekonstruksi teknologi budi daya, rekonstruksi modal sosial, pemberdayaan petani, ketahanan dan kedaulatan pangan, maupun rekonstruksi keseimbangan ekosistem. Pertanian ramah lingkungan harus menjadi keharusan, bukan pilihan (opsi). Ini penting dikedepankan mengingat sekarang ini pengembangan padi organik cenderung dilatarbelakangi iming-iming harga tinggi dan bantuan sarana produksi. Oleh karena itu, muncul kekhawatiran, jangan-jangan kalau harga padi organik turun hingga setara harga padi konvensional, para petani padi organik akan kembali ke metode konvensional. Faktanya, kekhawatiran itu benar-benar terjadi, termasuk di Jawa Barat.
Membudayakan padi organik dalam tatanan mapan modernitas tentu bukan hal yang mudah. Itu hanya akan tercapai apabila kita mampu memutus rantai siklus, dengan memulai menanamkan pertanian ramah lingkungan (seperti padi organik) menjadi warna pola pikir (mind set) masyarakat, sehingga perlahan namun pasti masyarakat memahami persoalan, serta menumbuhkan kesadaran akan arti keberlanjutan dan masa depan (regenerasi). Itu lebih baik, daripada harus menanggung risiko dari efek homeostatis (penyesuaian) alam yang semakin membesar.***
DAFTAR PUSTAKA
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=93040

cyntia anggi k.
Posted on 22nd October, 2009

TUGAS EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
CYNTIA ANGGI K.
100710182/28
1KM B 2007

PENGGUNAAN JERAMI UNTUK BAHAN BAKU KERTAS

Tidak bisa kita pungkiri bahwa kertas sudah menjadi kebutuhan kita sehari-hari yang belum ada subtitusinya. Kertas sudah menjadi bagian dari hidup kita. Untuk mencatat, membuat laporan, menggambar, dan lain sebagainya. Seperti yang kita tahu juga bahwa bahan baku utama pembuatan kertas adalah kayu. Pada keadaan yang seperti sekarang, kayu atau pohon sudah sangat menjadi kebutuhan primer bagi seluruh penduduk dunia. Tidak hanya sebagai bahan baku kertas, tapi juga sebagai bahan bangunan, perabotan rumah tangga bahkan pohon adalah salah satu sumber kehidupan. Kenapa bisa dikatakan demikian, hal ini dikarenakan pohon dapat menghasilkan oksigen yang digunakan untuk bernafas dan pohon juga bisa mengurangi efek global warming yang seperti digembor-gemborkan sekarang. Banyaknya fungsi pohon di kehidupan kita tentu saja membuat kita berpikir, apakah ada alternatif lain pengganti pohon untuk bahan baku kertas. Sudah banyak yang mencoba berbagai alternatif bahan baku untuk pembuatan kertas, salah satunya adalah jerami.
Belum pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa jerami, yang merupakan batang dari tanaman padi dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kertas. Cara ini adalah salah satu bentuk pemanfaatan limbah yang dapat meningkatkan nilai ekonomi pada padi. Sebelumnya yang kita tahu, jerami padi hanya digunakan untuk media untuk menanam jamur, pakan ternak atau biasanya di daerah pedesaan jerami digunakan untuk kuas yang digunakan untuk mengecat tembok dengan kapur. Tentu saja kedua hal tersebut merupakan hal yang sudah biasa. Namun untuk pemanfaatan jerami lebih lanjut yang dapat meningkatkan nilai guna serta nilai ekonomisnya bertambah masih belum banyak diteliti. Salah satu pemanfaatan ini adalah dengan menggunakan jerami sebagai bahan baku kertas. Menurut beberapa penelian dan praktek yang sudah dilakukan di salah satu perusahaan di Jakarta, jerami padi bisa digunakan untuk pulp bahan baku kertas namun dengan cara kimia. Yang menjadi kendala adalah biayanya yang cukup mahal dan ampasnya. Di Australia, pengolahan jerami ini sudah bisa dengan menggunakan metode biologis yaitu biopulping. Hal tersebut membuat salah satu pengembang jerami sebagai bahan kertas tergelitik untuk meneliti lebih jauh dan segera direalisasikan di Indonesia.
Jerami mempunyai potensi yang sangat besar bila diolah menjadi pulp. Pulp ini akan diekspor ke Jepang dimana pasarnya sangat besar. Saat ini saja kabarnya hanya 8 % dari permintaan pasar Jepang yang bisa dipenuhi oleh salah satu pabrik kertas di Indonesia. Ditambah lagi mereka mempunyai anak perusahaan yang bergerak di bidang padi hibrida. Jeraminya sangat banyak dan mereka mendapatkannya dengan mudah.
Membaca informasi seperti demikian, tentunya membuat kita menjadi semakin termotivasi untuk membuat pulp dari bahan jerami. Mengingat juga bahwa Indonesia adalah negara agraris yang tiap tahunnya memproduksi padi cukup besar. Data dari BPS menyebutkan bahwa produksi beras nasional pada tahun 2006 kurang lebih sebanyak 54.7 juta ton dari 11.9 juta ha sawah. Berdasarkan data dari Moiorella maka jumlah jerami diperkirakan mencapai 54.7 sampai 82.05 juta ton (OD), merupakan jumlah yang sangat besar untuk jerami masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sampai saat ini, jerami hanya digunakan untuk media pertumbuhan jamur, pakan ternak, kuas dan bahan bakar seperti disebutkan di atas.
Pembuatan pulp dari jerami merupakan sebuah energi terbarukan dari limbah pertanian yang mudah didapat, selain itu jerami dapat langsung digunakan setelah masa panen padi yaitu sekitar 2 (dua) bulan. Penggunaan jerami sebagai bahan baku pembuatan kertas ini menggunakan prinsip eco-efisiensi yaitu usaha untuk memperoleh input yang sekecil-kecilnya untuk memperoleh output tertentu. Dalam hal ini penggunaan bahan baku jerami untuk pembuatan kertas sesuai dengan prinsip tersebut.
Berikut yang disebut sebagai proses pulping dengan menggunakan jerami dalam pembuatan kertas yang diambil dari sebuah situs di internet.
Pulping adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu)melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia).Pulp terdiri dari serat - serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai baku kertas .Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekanis , kimia , dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis.
Jerami merupakan limbah dari batang tumbuhan tanpa akar yang tertinggal setelah dipanen butir buahnya.
Secara garis besar ada 2 tahapan proses pembuatan kertas, yaitu;
1. Proses membuat pulp atau bubur kertas; dari skema diatas dimulai dari “woodyard” sampai dengan proses pemutihan atau “bleaching”.
2. Proses membuat lembaran kertas; dimulai saat bubur kertas atau pulp mulai masuk ke mesin kertas atau paper mesin sampai dengan lembaran kertas tergulung tapi dalam gelondongan atau roll
Ada 3 macam proses pembuatan pulp, yaitu:

1. Proses mekanis, Proses semi-kimia, dan Proses kimia
Proses mekanis, tidak digunakan bahan - bahan kimia.
Bahan baku digiling dengan mesin sehingga selulosa terpisah dari zat-zat lain.
2. Proses semi-kimia, dilakukan seperti proses mekanis, tetapi dibantu dengan bahan kimia untuk lebih melunakkan, sehingga serat-serat selulosa mudah terpisah dan tidak rusak.
3. Proses kimia, bahan baku dimasak dengan bahan kimia tertentu untuk mengllilangkan zat lain yang tidak perlu dari serat-serat selulosa. Dengan proses ini, dapat diperoleh selulosa yang murni dan tidak rusak.
Ada 2 metode pembuatan pulp dengan proses kimia, yaitu:
a. Metoda proses basa Termasuk di sini adalah:
- proses soda
- proses sulfat
b. Metoda proses asam
Yang termasuk proses asam adalah proses sulfite

Jadi dengan menggunakan prinsip efisiensi yang ada serta penggunaan teknologi yang tepat guna, maka jerami merupakan salah satu alternative bagi masyarakat untuk mengembangkannya sebagai salah satu bahan baku dalam pembuatan kertas yang masih belum banyak dilirik oleh orang. Selain itu, dengan pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami ini, pemnfaatn bahan baku yang lain contohnya kayu bisa ditekan. Dengan penggunaan bahan baku dari limbah jerami ini maka dapat mengurangi pemakaian bahan baku kayu yang mana dengan pemakaian bakan baku kayu maka akan menyebabkan berbagai macam kerugian Selain karena masa tanam yang lama tapi juga memperhitungkan manfaat pohon-pohon yang digunakan sebagai bahan baku kertas itu, yaitu sebagai paru-paru dunia yang menunjang kehidupan manusia setiap harinya.

Daftar Pustaka
Anonim. Biopulping Jerami. http://www. Google.co.id/gwt/x?site=universal&q=Jerami+bahan+bahanku+kertas&output=html&hl=in&ct=res&oi=blended&sa=X&ei=VfvSpjcMoX16wOR-satAw&cd=4&resnum=4&source=m&rd=1&u=http%3A2F%2Fisroi.wordpress.com%2F04%2F15%2Fbiopulping-jerami%2F
Lingk, tek pengelolaan limbah. Pulping Jerami. http://onlinebuku.com/category/lingkungan/page/2/
Anonim. Pulping Jerami. http://onlinebuku.com/2009/01/14/pulping-jerami/
Abs Indonesia. Pemanfaatan Jerami Untuk Pembuatan Kompos. http://isroi.wordpress.com/2008/04/28/potensi-biomassa-lignoselulosa-di-indonesia-sebagai-bahan-baku-bioetenol/

Lukluk Oktarinda
Posted on 22nd October, 2009

PENGEMBANGAN VARIETAS PADI UNGGUL HIBRIDA

Perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Kalangan swasta pun sudah banyak yang melirik dalam pengembangan hingga pemasaran jenis padi yang satu ini. Namun masih ada sebagian masyarakat yang bersikap hati-hati dalam menggunakan padi ini. Dan hal ini tidak selamanya salah karena pada kenyataannya ada beberapa kendala pada pengembangan padi hibrida. Kendala itu antara lain adalah keterbatasan benih, kerentanan terhadap hama dan penyakit utama, dan ekpresi heterosis yang tidak stabil. Varietas padi hibrida yang telah dilepas pada umumnya (tentu saja tidak semuanya-red) rentan terhadap hama-penyakit utama seperti wereng coklat, HDB, dan virus tungro.
Secara teknis ada lima kunci utama agar pengembangan padi hibrida berhasil. Kelima kunci tersebut adalah 1) varietas yang cocok; 2) benih yang bermutu; 3) teknologi budidaya yang tepat; 4) wilayah yang sesuai, dan 5) respon petani.
Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut.
Litbang Pertanian Memiliki Calon Hibrida Tahan Wereng Coklat
Tentunya kelima kunci sukses tersebut bisa dihasilkan hanya dengan melakukan perakitan sendiri dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional atau setidaknya menggabungkan galur tetua introduksi dengan galur nasional.
Selain varietas yang telah dilepas saat ini, Satoto menungkapkan BBP Padi juga memiliki beberapa galur pemulih kesuburan yang telah dijadikan tetua-tetua jantan dalam perakitan varietas unggul hibrida. Galur-galur yang telah ada bisa berpotensi produksi antara 7,0 ton/ha hingga 11,7 ton/ha. Dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama. Selain berpotensi hasil tinggi, misalnya ada galur tahan wereng coklat biotipe 2, tahan terhadap wereng coklat biotipe 3,tahan penyakit hawar daun bakteri.
Selain padi hibrida, BBP Padi juga merakit varietas unggul tipe baru yang hasilnya 15-20% lebih tinggi daripada varietas unggul biasa. Melalui berbagai persilangan yang dilakukan selama 3-5 tahun, di BBP Padi juga terdapat sejumlah galur padi tipe baru. Galur-galur tersebut berpoptensi dijadikan sebagai tetua dalam perakitan varietas unggul hibrida.
Melalui program backcross (silang balik) telah berhasil diidentifikasi beberapa galur padi tipe baru yang dapat dikonversi menjadi Galur Mandul Jantan. Di samping itu, beberapa galur juga diidentifikasi sebagai restorer. Jika potensi ini dapat diaktualisasikan dalam proses perakitan varietas maka akan diperoleh varietas unggul Padi hibrida yang diharapkan mampu berproduksi lebih tinggi dari varietas unggul padi hibrida maupun varietas unggul padi tipe baru.
Pengembangan varietas padi unggul yang berproduksi tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit utama, selama dua dekade terakhir ini telah memberikan hasil yang tinggi dan cukup mengembirakan, terutama penanaman yang dilakukan pada lahan sawah beririgasi dan lahan tadah hujan yang baik. kondisi ini telah mampu membuat renovasi dalam produksi padi di beberapa negara termasuk Indonesia.
Pada tahun 1970 produksi padi di Indonesia masih berkisar 12,3 juta ton, dan pada tahun 1985 meningkat menjadi 25,8 juta ton, sedangkan pada tahun 1993 meningkat hampir dua kalinya yakni sebesar 48,2 juta ton. Namun demikian peningkatan produksi padi tersebut tidak dapat mengimbangi peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah dengan cepat, karena dengan perhitungan pertambahan jumlah penduduk dari 188,91 juta orang pada tahun 1993 meningkat menjadi 204,24 juta orang pada tahun 1998 dengan rata - rata 1,57 % per tahun maka permintaan kebutuhan beras pada tahun 1998 sebesar 52,45 juta ton. Jika kita estimasikan bahwa penduduk Indonesia pada tahun 2025 sebanyak 265,0 juta orang maka diperkirakan kebutuhan permintaan beras sebesar 68,8 juta ton.
Mengingat cukup besarnya kebutuhan beras tersebut dan makin menyempitnya lahan pertanian, khususnya lahan sawah, maka diperlukan teknologi yang mampu memecahkan permasalahan tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dipakai dalam usaha untuk meningkatkan produksi beras adalah melalui penggunaan benih padi hibrida. Keunggulan benih padi hibrida ini merupakan ungkapan gejala heterosis yang terdapat pada hasil dan komponen hasil, pertumbuhan vegetatif, sistem perakaran, aktivitas akar, kemampuan beradaptasi serta umur panen. Selain itu padi hibrida mempunyai beberapa keunggulan-keunggulan yang biasanya tidak dimiliki oleh padi konvensional yaitu kualitas gabah dan umur yang hampir sama dengan IR 64 ( berumur antara 115 - 120 hari dengan kadar amilosa 25 - 27 % ), toleran terhadap serangan hama dan penyakit utama seperti wereng coklat dan BLB dan mempunyai berat 1000 biji sekitar 25 gram.
Pengujian daya hasil padi hibrida di Indonesia dari tahun 1984 - 1987 menunjukkan bahwa, padi hibrida selalu menempati urutan teratas pada masing-masing percobaan, walaupun dalam beberapa percobaan, keunggulan hasil ini belum menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai standart heterosis untuk hasil yang dicapai oleh kombinasi hibrida terbaik pada masing-masing percobaan berkisar antara 0,9 - 117,4 % dengan rata-rata sebesar 23,54 % . Sedangkan untuk produktifitas per hari berkisar antara - 12,3 sampai 98,0 % dengan rata-rata sebesar 38,05 %. Pengujian daya hasil padi hibrida dari tahun 1990 -1996 juga menunjukkan hal yang sama dengan diatas, dimana hasil tertinggi selalu ditempati oleh padi hibrida. Dimana nilai standart heterosis untuk hasil kombinasi hibrida terbaik berkisar antara 2 - 49 %, dengan rata-rata sebesar 24,5 %.
Dengan mengkaji keunggulan-keunggulan padi hibrida tersebut diatas, maka pengembangan padi hibrida di Indonesia merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dimasa yang akan datang. Berdasarkan luasan lahan irigasi yang dimiliki oleh negara Indonesia, serta upah tenaga kerja yang relatif tidak mahal, maka Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan padi hibrida, baik untuk pengem-bangan penggunaan padi hibrida guna pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, maupun untuk pengembangan industri benih padi hibrida.
Indonesia merupakan negara ke dua setelah India yang mempunyai potensi besar untuk menjadi suplier benih padi hibrida bagi negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki 13,38 % dan India 13,15 % dari total lahan sawah irigasi dikawasan tersebut. Hal ini juga didukung dengan kondisi agroklimatologi lahan - lahan pertanian di Indonesia khususnya pulau Jawa dan Sumatra yang sesuai untuk pengembangan produksi benih hibrida. Agar dalam memproduksi benih hibrida dapat mencapai 2 ton / Ha , diperlukan restorer dan maintainer yang kompatibel ( seed set-nya tinggi ) serta lingkungan agroklimat yang sesuai yakni: rata-rata suhu harian sebesar 24-30 °C, kelembaban relatif 70 - 80 %, perbedaan antara suhu siang hari dengan malam hari sebesar 8-10 °C, dan pada saat fase pembungaan ( polinasi ) tidak terjadi hujan selama 3 hari berturut - turut.
Hasil benih akan rendah jika temperatur 35 °C. Lingkungan agroklimat yang diperlukan tersebut dapat ditemukan dipulau Jawa, sehingga daerah - daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur cocok digunakan sebagai tempat produksi benih padi hibrida, maupun sebagai tempat pemasaran dari benih padi hibrida tersebut.

Tinjauan Pustaka :
agroindonesia.co.id/2009/03/…/berkoalisi-teliti-padi-hibrida/
http://www.knowledgebank.irri.org/indonesia/…/padi%20hibrida_BW.pdf

Lukluk Oktarinda
100710099/57
IKM A’07

Agus Rikza Ahmad
Posted on 22nd October, 2009

PENGEMBANGAN PADI ORGANIK

Secara ekologis, budi daya padi organik lebih ramah terhadap lingkungan. Penelitian membuktikan bahwa padi organik, termasuk metode SRI, lebih ramah terhadap lingkungan, karena selain tanpa input anorganik (kimiawi) juga hemat air, sehingga emisi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional (anorganik). CH4 dan CO2 merupakan dua gas kontributor pemanasan global.
Secara sosial ekonomi, permintaan terhadap padi organik, baik dari pasar domestik maupun ekspor sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan menguatnya tren (jika tidak dikatakan kesadaran) dan kampanye gaya hidup sehat. Persoalannya, permintaan pasar yang tinggi belum dapat dipenuhi para petani padi organik. Penyebabnya, selain produksi dan skala usaha petani padi organik masih sempit, juga masih sedikitnya petani padi yang mengembangkan padi organik. Pertanyaannya, kenapa budi daya padi organik yang menguntungkan dan prospektif tersebut lambat diadopsi petani?
Secara statistik, penyebaran, luas tanam, luas panen, dan jumlah petani padi organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut berjalan lamban dan bersifat sementara. Pergerakannya masih berbau projek pemerintah (percontohan), promosi oleh perusahaan sarana produksi (seperti penjual pupuk atau pestisida organik), penyadaran oleh lembaga swadaya atau masyarakat pegiat pertanian ramah lingkungan, dan coba-coba para petani.
Hasil penelitian penulis, baik melalui survei maupun diskusi terfokus dengan para pelaku padi organik di Jawa Barat, hampir di semua kabupaten/kota padi organik telah diujicobakan, bahkan di beberapa kabupaten (seperti Tasikmalaya dan Garut) telah mengarah ke pengembangan. Secara kelembagaan, telah pula dijajaki sertifikasi produk padi organik sebagai prasyarat untuk menembus pasar ekspor. Namun, terungkap pula bahwa di beberapa kabupaten pengembangan padi organik justru mengalami pelambatan dan penurunan. Bahkan, para petani yang telah mencoba dan menerapkan padi organik kembali ke metode konvensional. Ketidakkonsistenan, lemahnya partisipasi, dan lambatnya adopsi sebagian besar petani padi terhadap padi organik disebabkan oleh banyak faktor.
Pertama, secara sosial budaya para petani padi sangat ketergantungan terhadap metode konvensional, sehingga budayanya menjadi instan, eksploitatif, efisiensi-maksimalis, dan industrial. Lebih celaka, ketergantungan ini sudah mengalami regenerasi.
Kedua, secara kelembagaan, pengembangan padi organik belum mendapat dukungan dan komitmen yang penuh dan konsisten dari pelaku kebijakan, baik di pusat maupun di daerah (kabupaten/kota). Sosialisasinya, baik melalui penyuluhan, pendampingan maupun media komunikasi massa, pun tidak segencar pengenalan metode konvensional.
Ketiga, secara teknis pengembangan padi organik juga belum didukung penyediaan pupuk atau pestisida organik yang memadai dan menjamin permintaan massal. Ini penting karena faktanya, akses sebagian besar petani (yang tidak lagi berbudaya beternak) terhadap sarana produksi organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik, masih lemah.
Keempat, secara tekno-ekonomi, teknik budi daya padi organik (terutama pada metode SRI) bukan saja dipandang rumit (tidak praktis dan menyita banyak waktu) tetapi juga dianggap lebih mahal daripada metode konvensional, terutama pada fase awal dan pemupukan.
Berangkat dari faktor-faktor tadi, untuk membudayakan padi organik diperlukan sejumlah upaya. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi para petani hingga benar-benar menerapkan budi daya padi organik membutuhkan pendekatan yang konvergen, area penyadarannya harus pula menyentuh seluruh pelaku pertanian dan konsumen (masyarakat luas) sehingga tumbuh semacam dorongan, kepedulian, coping, dan perlindungan eksternal terhadap petani padi organik. Secara sosial budaya, membudayakan padi organik bukan sekadar rekonstruksi budaya tani padi, tetapi bersifat kompleks menyangkut rekonstruksi modal sosial.
Kedua, perlu dikembangkan inovasi teknologi tepat guna bagi pengolahan dan peningkatan kepraktisan pupuk dan pestisida organik, baik dalam skala kecil (untuk kelompok tani) maupun skala besar (untuk industri) sehingga keduanya bukan saja terakses tetapi juga praktis (hemat tempat dan mudah digunakan) oleh para petani. Para petani dan masyarakat harus pula memahami konsepsi dan dimensi pupuk/pestisida organik secara luas, agar tidak bias pupuk kandang atau pupuk kompos, di samping kembali menggalakkan budaya beternak.
Ketiga, mengingat kebutuhan untuk pengembangan padi organik secara massal akan membutuhkan input organik yang besar, sudah saatnya dikembangkan industri pupuk dan pestisida organik, baik oleh masyarakat, kelompok, koperasi, pemerintah maupun swasta, tentu perlu dibangun mekanisme kontrol yang efektif agar kompetisi tidak menumbuhkembangkan perilaku menyimpang (devian behaviour), seperti kenakalan produsen pupuk atau pestisida organik.
Keempat, mengingat ketergantungan terhadap teknik tanam konvensional masih sangat tinggi, maka penyadaran dan pengembangan padi organik sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel (memberi kebebasan pilihan kepada para petani untuk menggunakan dan berinovasi dalam teknik tanam), tentu dengan disertai apresiasi kelebihan dan kekurangan dari setiap teknik tanam.
Kelima, secara kelembagaan, bagi penyebaran dan pengembangan padi organik diperlukan jejaring kelembagaan pendukung yang jelas dan terakses, sehingga para petani memungkinkan menepi ke jejaring tersebut. Jejaring yang dimaksud meliputi jejaring informasi dan inovasi, jejaring sosial, jejaring pasar, jejaring distribusi, jejaring sarana produksi, dan jejaring advokasi. Jejaring harus dibangun secara terintegrasi dari pusat sampai ke tingkat petani. Jejaring penting untuk mengontrol agar mekanisme berjalan adil bagi semua pelaku, baik ke petani, pelaku lainnya maupun ke konsumen. Sebagai contoh, harga padi organik yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor, harus dirasakan pula oleh para petani padi organik, jangan terakumulasi pada satu pelaku. Jejaring juga perlu untuk mengontrol kualitas keorganikan (meminimalisasi kecurangan produsen) dan mengeliminasi perilaku penyimpangan sepanjang rantai distribusi (seperti pencampuran dan sebagainya).
Keenam, secara tekno-ekologis, padi organik (terutama dengan metode SRI) lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Hasil penelitian lainnya mengungkapkan, lahan sawah yang dipupuk organik (pada kasus SRI) ternyata lebih tahan menyimpan air, sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik. Selain itu, pada musim kemarau terik pun memungkinkan untuk dikembangkan, tentu dengan perhitungan stok air, bantuan sistem pengairan springkel atau irigasi pantek.
Ketujuh, secara politik perlu dibangun komitmen pada setiap generasi pemerintahan (terutama di daerah otonom) untuk mengawal konsistensi penerapan dan pengembangan padi organik. Membangun kesadaran para petani dan masyarakat akan pentingnya pertanian ramah lingkungan memang penting, tetapi tanpa disertai interv