Tugas Ekologi Pangan dan Gizi [V-2010/2011]

Tugas Ekologi Pangan dan  Gizi semester 5 tahun akademik 2010/2011

  1. Buatlah makalah pendek maksimal 1200 kata dengan mengambil topik yang berkaitan dengan pangan
  2. Masukkan dalam kolom “comment” di bawah ini
  3. Tugas telah masuk sebelum UTS.

Bentuk makalah berupa makalah populer dengan disertai daftar pustaka.

Comments

Yenyen Wulandari
Posted on 17th October, 2010

Pola Pangan di Indonesia

Pada umumnya penduduk Indonesia yang sebagian besar terdiri atas petani, masih mengandalkan sebagian besar dari konsumsi makanannya pada makanan pokok. Makanan pokok yang digunakan adalah beras, jagung, umbi-umbian (terutama singkong dan ubi jalar), dan sagu. Penggunaan makanan pokok didasarkan atas ketersediaannya di daerah yang bersangkutan.

Yenyen Wulandari
Posted on 17th October, 2010

PENGEMBANGAN POLA PANGAN DI INDONESIA

Pada umumnya penduduk Indonesia, yang sebagian besar terdiri atas petani, masih mengandalkan sebagian besar dari konsumsi makanannya pada makanan pokok. Makanan pokok yang digunakan adalah beras, jagung, umbi-umbian (terutama singkong dan ubi jalar), dan sagu. Penggunaan makanan pokok didasarkan atas ketersediaannya di daerah bersangkutan.
Sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan beras sebagai bahan makanan pokok. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Achmad Suryana, mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statitistik (BPS) tahun 2009 lalu, konsumsi beras Indonesia sebesar 139 kilogram per kapita per tahun. Padahal, rata-rata konsumsi beras masyarakat dunia hanya 60 kilogram per kapita per tahun.
Berdasarkan data SUSENAS, skor PPH tahun 2009 mencapai 75,7 (sasaran 2015 = 95) menunjukkan bahwa keragaman pola konsumsi pangan masyarakat belum terwujud, dan konsumsi masyarakat masih didominasi oleh kelompok padi-padian. Pelaksanaan penganekaragaman konsumsi pangan menuju konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan akan memberikan manfaat yang besar, apabila mampu menggali dan mengembangkan potensi sumber-sumber pangan lokal. Selain itu, pola konsumsi pangan yang bergizi seimbang juga mensyaratkan perlunya diversifikasi pangan dalam menu sehari-hari.

Diversivikasi Pangan
Diversifikasi/Penganekaragaman Pangan, adalah proses pemilihan pangan yang tidak tergantung kepada satu jenis saja, tetapi terhadap macam-macam bahan pangan mulai dari aspek produksi, aspek pengolahan, aspek distribusi hingga aspek konsumsi pangan tingkat rumah tangga
Diversifikasi pangan merupakan salah satu kunci sukses pembangunan pertanian tahun 2010-2014 dan menjadi salah satu butir penting dari kontrak kinerja antara Menteri Pertanian dengan Presiden. Empat sukses pertanian sebagai Kontrak Kerja Menteri Pertanian dengan Presiden RI mencakup: (1) Peningkatan Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan; (2) Peningkatan diversifikasi pangan; (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing, dan Ekspor; dan (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani.
Upaya membangun diversifikasi konsumsi pangan telah dilaksanakan sejak tahun 60-an. Saat itu pemerintah mulai menganjurkan konsumsi bahan pangan pokok selain beras. Kemudian di akhir Pelita I(1974), secara eksplisit pemerintah mencanangkan kebijaksanaan diversifikasi pangan melalui Inpres No.14 tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR), dan disempurnakan melalui Inpres No.20 tahun 1979. Maksud dari instruksi tersebut adalah untuk lebih menganekaragamkan jenis pangan dan meningkatkan mutu gizi makanan rakyar baik secara kualitas maupun kuantitas sebagai usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Diversivikasi pangan pada dasarnya memperluas pilihan masyarakat dalam kegiatan konsumsi sesuai dengan cita rasa yang diinginkan dan menghindari kebosanan untuk mendapatkan pangan dan gizi agar dapat hidup sehat dan aktif. Hal ini memang sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, pengetahuan, ketersediaan, dukungan kebijakan dan faktor sosial budaya.
Namun dalam perjalanannnya, tujuan diversifikasi konsumsi pangan lebih ditekankan sebagai usaha untuk menurunkan tingkat konsumsi beras.

Pengembangan Pola Konsumsi Pangan
Dasar Pengembangan Pola Konsumsi Pangan dalam rangka penganekaragaman pangan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1998 telah menetapkan 2200 Kkal perkapita perhari di tingkat konsumsi dan 2500 Kkal perkapita perhari untuk tingkat ketersediaan sebagai Angka Kecukupan Energi (AKE) Tingkat Nasional.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, untuk mengukur keberhasilan upaya diversifikasi baik di bidang produksi, penyediaan dan konsumsi pangan penduduk diperlukan suatu parameter. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk menilai tingkat keanekaragaman pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH). Dengan PPH diketahui tidak hanya pemenuhan kecukupan gizi tetapi sekaligus juga mempertimbangkan keseimbangan gizi yang didukung oleh cita rasa, daya cerna, daya terima masyarakat, kuantitas dan kemampuan daya beli. Dengan pendekatan PPH dapat dinilai mutu pangan penduduk berdasarkan skor pangan. Semakin tinggi skor pangan, maka semakin beragam dan semakin baik komposisinya.

Penilaian Pengembangan Pola Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH
Pola Pangan harapan (PPH) adalah suatu komposisi pangan yang seimbang untuk dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan gizi penduduk. PPH dapat dinyatakan (1) dalam bentuk komposisi energi (kalori) anekaragam pangan dan/atau (2) dalam bentuk komposisi berat (gram atau kg) anekaragam pangan yang memenuhi kebutuhan gizi penduduk. Pola pangan harapan mencerminkan susunan konsumsi pangan anjuran untuk hidup sehat.
PPH (desirable dietary pattern) diperkenalkan pertama kali oleh FAO-RAPA dalam pertemuan konsultasi FAO-RAPA di Bangkok pada tahun 1989. PPH disarankan untuk digunakan bagi setiap negara dikawasan Asia Pasifik yang dalam penerapannya perlu diadaptasi sesuai pola konsumsi pangan dan kebutuhan gizi setempat. PPH berguna (1) sebagai alat atau instrumen perencanaan konsumsi pangan, ketersediaan pangan dan produksi pangan; (2) sebagai instrumen evaluasi tingkat pencapaian konsumsi pangan, penyediaan pangan dan produksi pangan, baik penyediaan dan konsumsi pangan; (3) dapat pula digunakan sebagai basis pengukuran diversifikasi dan ketahanan pangan; (4) sebagai pedoman dalam merumuskan pesan-pesan gizi. Untuk menjadikan PPH sebagai instrumen dan pendekatan dalam perencanaan pangan di suatu wilayah atau daerah diperlukan kesepakatan tentang pola konsumsi energi dan konsumsi pangan anjuran dengan mempertimbangkan (1) pola konsumsi pangan penduduk saat ini; (2) kebutuhan gizi yang dicerminkan oleh pola kebutuhan energi (asumsi : dengan makan anekaragam pangan, kebutuhan akan zat gizi lain akan terpenuhi); (3) mutu gizi makanan yang dicerminkan oleh kombinasi makanan yang mengandung protein hewani, sayur dan buah; (4) pertimbangan masalah gizi dan penyakit yang berhubungan dengan gizi; (5) kecenderungan permintaan (daya beli); (6) kemampuan penyediaan dalam konteks ekonomi dan wilayah.
.

Pengembangan Pola Konsumsi Pangan Tingkat Nasional dan Regional.
Pengembangan Pola Konsumsi Pangan dapat diterapkan baik untuk tingkat Nasional, Regional ( propinsi dan Kabupaten ) dan tingkat keluarga tergantung keperluannya, sedangkan penilaiannya dapat dilakukan melalui 2(dua) sisi yaitu : sisi kuantitas dan sisi kualitas.
a. Sisi kualitas
kualitas pangan dalam hal ini dapat mencakup aspek fisik pangan, kualitas kimiawi dan mikrobiologi/aspek keamanan pangan, aspek organoleptik dan aspek gizi.
b. Sisi kuantitas
pada sisi ini ditinjau dari volume pangan yang dikonsumsi dan konsumsi zat gizi yang dikandung bahan
pangan.

Kesimpulan
Pola konsumsi pangan masyarakat di Indonesia masih belum sesuai dengan pola pangan ideal yang tertuang dalam PPH. Konsumsi di kelompok padi-padian (beras, jagunga, terigu) masih dominan baik dalam kota maupun desa. Pangsa konsumsi energi seharusnya dari kelompok padi-padian hanya 50 persen, namun pada kenyataannya masih sebesar 60,7 persen di kota dan 63,9 persen di desa. Sebaliknya, pangsa energi dari umbi-umbian masih sekitar setengahnya dari yang dianjurkan, padahal di Indonesia tersedia berbagai jenis umbi-umbian dengan harga yang relatif murah.
Diversivikasi konsumsi pangan pada hakekatnya tidak hanya sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada beras tetapi juga sebagai upaya perbaikan gizi masyarakat untuk mendapatkan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing dalam era globalisasi dan juga meningkatkan ketahanan pangan.

Daftar Pustaka
Almatsier,Sunita, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009.
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/09/16/135002-wah-konsumsi-beras-indonesia-tertinggi-di-dunia
http://www.deptan.go.id/news/detail.php?id=783;
http://www.docstoc.com/docs/11595961/PEDOMAN-PENGEMBANGAN-PROGRAM-PENGANEKARAGAMAN
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Mono27-7.pdf

Yenyen Wulandari/IKMB’08/100810013

Suju Fatmawati
Posted on 21st October, 2010

STOP Krisis Pangan dan Ketergantungan Impor Indonesia
dengan ISLAM

Potret Buram Krisis Pangan Negara Gemah Ripah Loh Jinawi

Indonesia adalah Sebuah Negeri Yang terdiri dari hamparan kepulauan dengan luas terbesar se-asia tenggara, jumlah penduduknya kurang lebih 220 juta jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1,5% per tahun merupakan negara yang mempunyai beraneka ragam kekayaan alam. Negara ini punya Hutan Tropis terbesar di dunia. Hutan tropis ini memiliki luas 39.549.447 Hektar, dengan keanekaragaman hayati dan plasmanutfah terlengkap di dunia. Negara ini punya Lautan terluas di dunia. Dikelilingi dua samudra, yaitu Pasific dan Hindia hingga tidak heran memiliki jutaan spesies biota laut yang tidak dimiliki negara lain. Semua wilayahnya memiliki potensi yang berbeda-beda dan kaya akan Sumber daya alam (SDA). Sebagian orang berkata bahwa apapun yang di sebar di bumi indonesia asalkan tumbuhan pasti akan bisa tumbuh, artinya negara kita indonesia tanahnya subur dan kaya akan SDA. Namun ironinya hingga kini Negara Indonesia masih mengalami krisis pangan di bagian beberapa daerah???

Pada tahun 2005, secara nasional kasus busung lapar yang menyerang anak Indonesia rata-rata mencapai angka 8%. Sesuai dengan proyeksi penduduk Indonesia yang disusun BPS, jumlah anak usia 0-4 tahun di Indonesia mencapai 20,87 juta. Itu berarti sekitar 1,67 juta anak balita menderita busung lapar. Diperkirakan jumlah anak balita yang terancam kurang gizi terus meningkat. Mengingat ada 5-6 juta bayi lahir di Indonesia dan dari jumlah itu 75%-85% berasal dari keluarga miskin. Ketersedian pangan pada tingkat daerah tidak menjamin pada daerah tersebut tidak akan terjadi masalah kekurangan pangan dan gizi. Pertama, persediaan makanan di tingkat masyarakat juga harus diperhatikan. Produksi yang tinggi tidak menjamin ketersediaan pangan pada tingkat masyarakat karena masih bergantung pada distribusi dan pemasaran hasil produksi pangan tersebut. Kedua, persediaan makanan di tingkat keluarga. Ketersediaan pangan di tingkat masyarakat tidak menjamin ketersediaan pangan di tingkat keluarga. Masih ada sejumlah faktor yang mempengaruhinya seperti daya beli keluarga yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan harga pangan. Setelah krisis ekonomi melanda Indonesia, harga-harga bahan pangan meningkat berkali-kali. Semakin langkanya lapangan kerja dan banyaknya pemutusan hubungan kerja mengakibatkan daya beli keluarga makin melemah.

Hilangnya Kedaulatan rakyat

Kekayaan alam itu merupakan sumber kehidupan manusia yang dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Tetapi faktanya telah terjadi pengalihan hak dan akses atas SDA tersebut, secara terpaksa dan dipaksa dengan tidak adil dari rakyat kepada pihak korporasi dan melibatkan kekuatan negara. Korporasi dan Negara merupakan pihak yang paling dominant mengkontrol hak dan akses atas kekayaan alam tersebut, yang digunakan untuk kepentingan proyek-proyek pembangunan raksasa milik pemodal,pengusahaan kayu,pengembangan industri pertanian dan perkebunan monokultur,pertambangan,perikanan, pembangunan infrastruktur,air kemasan,pembangunan irigasi,bendungan,pembangkit listrik,energy, dsb. Pihak korporasi tidak hanya menguasai sumber-sumber bahan baku produksi sosial ekonomi dan budaya, tetapi juga mengatur dan memiliki industri pengolahan dan hasil akhir, hingga pasar global.

Hilangnya hak dan akses atas SDA menyebabkan terjadinya permasalahan pangan yang kompleks. Corak produksi pangan terjebak dan dipaksa dalam system pertanian modern dan memproduksi komoditas pasar dengan produksi monokulture dan bergantung pada input produksi benih, pupuk dan pestisida, yang di produksi dengan teknologi yang boros energi dan rekayasa genetika yang dihasilkan oleh korporasi dari luar. Akibatnya terjadi kerusakan lingkungan, pencemaran, hilangnya kemandirian rakyat berproduksi dan dengan produksi sumber-sumber pangan asli, menurunnya kemampuan lahan dan hasil pangan, merosotnya produksi pangan, meningkatnya kelaparan, gizi buruk dan busung lapar, meningkatnya impor pangan dan ketergantungan terhadap pangan dari luar, kurangnya dukungan kebijakan pemerintah untuk melindungi dan meningkatkan akses petani kepada keuangan.

Situasi tersebut berhubungan erat dengan perilaku dan tatanan social ekonomi neoliberal yang dijalankan rejim negara yang tergantung pada kekuatan trans nasional korporasi dan modal asing, lembaga keuangan international dan organisasi perdagangan dunia yang mengendalikan secara ekstrim sistem pasar bebas dan ekonomi dunia dan negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia, melalui kebijakan deregulasi, liberalisai dan privatisasi.

Mengingat Indonesia belum berhasil dalam mengurangi pengangguran, di satu sisi kita kekurangan devisa untuk membangun negara, tetapi disisi lain kita menghamburkan devisa untuk bahan konsumsi yang sebenarnya dapat kita produksi sendiri. Meningkatnya utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan negara di satu sisi dan impor bahan pangan yang semakin meningkat disisi yang lainnya, terkurasnya sumber daya alam negara dengan mafaat yang minim bagi rakyat, dan kekurangsiapan menghadapi pasar bebas ASEAN 2003, Asia Pasific (APEC) 2010 dan Dunia 2020. Menggambarkan situasi yang membingungkan.

Ketika pemerintah tidak dapat memenuhi APBN akhirnya ditempuh pilihan kebijakan yang sangat membebani rakyat berupa kenaikan pajak, tarif dasar listrik, harga BBM, tarif telepon serta menjual asset yang berada di bawah penguasaan BUMN dengan harga yang relatif murah, padahal asset tersebut sangat potensial sebagai sumber pendapatan negara. PHK yang terjadi akhirnya mengembalikan tenaga kerja yang bersangkuata ke desa, ke sektor pertanian, sehingga semakin mengurangi pendapatan per kapita keluarga petani. Sementara kebutuhan akan konsumsi pangan harus terus dilanjutkan, namun akibat kesalahan fatal pemerintah dalam mengambil kebijakan yang akhirnya banyak menghancurkan kondisi perekonomian rakyat, banyak akhirnya rakyat yang menderita kelaparan atau maal gizi (kasus busung lapar).

Ketergantungan Impor Pangan

Indonesia yang lemah dalam memproduksi aneka bahan pangan mengakibatkan pemerintah menghadapi persoalan pangan yang besar dan serius. Apalagi kemampuan produksi pangan yang berbeda antarwilayah dan antarmusim merupakan tantangan pendistribusian pangan kepada konsumen diseluruh wilayah Indonesia sepanjang waktu. Indonesia yang semula sebagai penghasil berbagai produk pertanian, kini tengah menuju sebuah perangkap ketergantungan pada impor pangan (food trap) dari negara maju. Hal ini ditandai dengan makin meningkatnya kuantitas produk yang diimpor, dan jenis produk pertanian yang diimpor pun makin bertambah. Hal itu pada gilirannya akan mengancam ketahanan nasional.

Indonesia tercatat mengimpor beras sebagai komoditas pangan strategis dengan jumlah rata-rata dua juta ton per tahun (2007).

Hingga sekarang Indonesia mengimpor gula 30% dari kebutuhan nasional. Indonesia menjadi importir gula nomor dua terbesar di dunia, yakni sekitar 1,6 juta ton per tahun.

Hingga tahun 2006 Indonesia impor rata-rata 1 juta ton garam/tahun, 50% dari kebutuhan garam nasional. Padahal, Indonesia mampu memproduksi garam (kondisi normal) 1,8 juta ton per tahun.

Belum lagi mengimpor 45% dari kebutuhan kedelai; 10% kebutuhan jagung, 15% kebutuhan kacang tanah, sekitar 600.000 ekor sapi atau 25% dari konsumsi daging sapi nasional, daging beku 30 ribu ton per tahun, 70 persen dari total kebutuhan susu dan produk turunannya.

Secara keseluruhan, pemerintah mengabaikan pengembangan potensi pangan lokal dan pemenuhan kebutuhan pangan warga. Akibatnya, Indonesia kian terjebak dalam arus impor pangan. Ketergantungan terhadap pangan impor menempatkan Indonesia pada kondisi dilematis. Fluktuasi harga pangan dunia siap menguras devisa lebih besar lagi. Sendi ekonomi bangsa bisa ambruk kapan saja apabila pasokan dari luar terhenti total karena berbagai alasan.

Solusi Ketahanan Pangan dengan ISLAM

Tanggung jawab besar urusan pangan tentunya ada di tangan pemerintah. Dengan kondisi perekonomian dunia yang semakin liberal, orang-orang atau negara-negara yang memiliki modal banyak maka perekonomian mereka akan mampu melaju, sementara untuk negara miskin seperti Indonesia menjadi sangat sulit untuk mengejar.

Dengan keunggulan dalam berbagai SDA, terutama komoditas pangan dan potensi lain, kesempatan Indonesia amat besar untuk menjadi produsen komoditas pertanian tropis. Kita harus berani dalam mengambil inisiatif baru agar keterlibatan kita di dunia memberikan posisi tawar yang strategis bagi Indonesia secara politis dan ekonomis.

Dalam Islam konsep kelangkaan barang dan jasa bersifat relatif sebab kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi secara pasti adalah kebutuhan primer (basic needs) individu, dalam kapasitasnya sebagai manusia, bukan kebutuhan sekunder dan tersier, justru yang akan menimbulkan masalah adalah tidak terpenuhinya kebutuhan primer. Kebutuhan manusia bersifat individu (A, B, C, dst) bukan kebutuhan segenap manusia, umat, atau bangsa. Masalahnya bagaimana kebutuhan-kebutuhan pokok tiap individu bisa terpenuhi bukan bagaimana barang dan jasa bisa diproduksi.

Politik ekonomi Islam menjamin pemenuhan seluruh individu masyarakat, semua kebutuhan pokok (primer) kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) dengan gaya hidup yang sesuai hukum Allah. Bukan dalam perspektif kemakmuran kolektif rata-rata (agregat), kemakmuran negara semata dan pencapaiannya dengan cara bebas.

Dalam penyelesaiannya Islam memandang bahwa penerapan berbagai kebijakan haruslah menjamin pemenuhan semua kebutuhan pokok tiap individu masyarakat secara menyeluruh, disertai adanya jaminan yang memungkinkan setiap individu dapat memenuhi kebutuhan pelengkap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Saat ini Islam memang belum dapat diterapkan secara menyeluruh, namun langkah konkrit untuk dapat menyelesaikan masalah perekonomian di Indonesia khususnya adalah memperjuangkan tegaknya Islam sebagai suatu system kehidupan yang teratur dan berlaku untuk seluruh umat manusia. Karena kesejahteraan dan kedamaian adalah mutlak di dambakan oleh seluruh umat manusia. Suatu kondisi yang mampu menjamin seluruh hak dan kewajiban dapat terpenuhi. Hal tersebut tidak akan terjadi selama system kapitalis yang menguasai dunia sekarang belum hancur.

Sumber :

http://Negara%20Terkaya%20di%20Dunia%20Dengan%20Kekayaan%20Alam%20Yang%20Berlimpah%20_%20uniqpost.htm
http://Perubahan%20Untuk%20Rakyat%20_%20Membangun%20Kemandirian%20Pangan%20Indonesia.htm
http://MIFEE%20Jadi%20Harapan%20Pemasok%20Pangan%20Indonesia%20dan%20Dunia%20%C2%AB%20The%20Boven%20Digoel%20Post.htm
http://Serikat%20Petani%20Indonesia%20%C2%BB%20Program%20food%20estate%20bukan%20solusi%20mendongkrak%20produksi%20padi%20nasional.htm
http://Serikat%20Petani%20Indonesia%20%C2%BB%20Kedaulatan%20Pangan,%20Jalan%20Keluar%20Krisis%20Pangan%20Indonesia.htm

Suju Fatmawati/100911161/IKM B 2008

Aninditya Karina R.
Posted on 24th October, 2010

Aninditya Karina R.
100810014 / V B
IKM B 2008

Mie Instan di Kalangan Masyarakat

Siapa yang tidak mengenal mie instan? Makanan itu memang fenomenal di Indonesia, makanan yang mudah didapat, mudah diolah, murah dan enak yang menjadi alasan mengapa banyak orang menyukainya. Sifatnya yang praktis, bervariasi, dan harganya terjangkau merupakan daya tarik yang luar biasa.Dengan perkembangan yang serba cepat dan praktis turut pula menjadi alasan mengapa banyak orang memilihnya. Meskipun sering beredar rumor soal efek buruk konsumsi mie instan bagi tubuh, penjualan produk makanan ini seperti tak terpengaruh. Konsumsi mie instan di negeri ini sudah menembus lima kilogram per kapita pada 2005.

Mie instan adalah produk olahan mie yang telah mengalami proses pemasakan lanjutan (instanisasi), yaitu dikukus dan digoreng atau dikeringkan dengan udara panas hingga titik gelatinisasinya, lalu dikemas. Proses ini memungkinkan tingkat kemasakan mi yang sempurna dapat dicapai hanya dalam 3-5 menit perebusan. Mie instan diciptakan oleh Momofuku Ando pada 1958, yang kemudian mendirikan perusahaan Nissin dan memproduksi produk mi instan pertama di dunia Chicken Ramen (ramen adalah sejenis mi Jepang) rasa ayam. Peristiwa penting lainnya terjadi pada 1971 ketika Nissin memperkenalkan mi dalam gelas bermerek Cup Noodle. Kemasan mie adalah wadah styrofoam tahan air yang bisa digunakan untuk memasak mi tersebut. Inovasi berikutnya termasuk menambahkan sayuran kering ke gelas, melengkapi hidangan mie tersebut. Menurut sebuah survei Jepang pada tahun 2000, mie instan adalah ciptaan terbaik Jepang abad ke-20, (Karaoke di urutan kedua dan CD hanya di urutan ketiga). Hingga 2002, setidaknya ada 55 juta porsi mie instan dikonsumsi setiap tahunnya di seluruh dunia.

Semula makanan instan disiapkan untuk para astronot yang akan melakukan perjalanan ke luar angkasa ataupun tentara yang sedang berperang. Agar makanan mudah diolah, tetapi bercita rasa enak dan tahan lama, ditambahkanlah sejumlah bahan tambahan makanan.

Dalam perkembangannya, industri pun memanfaatkan berbagai bahan tambahan makanan ini, baik pengawet, perisa, penguat rasa, pewarna, pengembang adonan, penstabil adonan, pembuat emulsi, pembuat tekstur, dan zat pewarna agar warnanya menarik.maupun berbagai jenis lainnya. Bahan tersebut membuat produksi makanan menjadi lebih murah, bisa dimanfaatkan dalam waktu lama, serta sebarannya pun menjadi lebih luas.

Meskipun begitu, dari sisi kesehatan, makanan popular ini bukan untuk semua orang. Orang yang menderita sakit maag, tidak disarankan untuk mengonsumsi mie karena mengandung ragi sehingga akan menambah gas di lambungnya. Selain itu, kandungan monosodium glutamat (MSG) pada mi instan juga sebaiknya dihindari oleh pengidap tekanan darah tinggi. Natrium pada MSG akan membuat tekanan darah tinggi meningkat. Selain itu, MSG juga dapat mengganggu fungsi kerja otak.

Dalam mie instan, jenis bahan tambahan makanan yang ada, antara lain, pemantap nabati, pengatur keasaman, pewarna, dan antioksidan. Sedangkan yang ada dalam bumbu umumnya berupa penguat rasa, perisa, dan berbagai jenis vitamin. Dalam kecap dan saus cabai umumnya terdapat pengawet dan pengental. Bahan tambahan tersebut ada yang bersifat sintetik ataupun alami. Dalam batas normal, penggunaan bahan tambahan makanan tidak akan memengaruhi kesehatan. Sejumlah bahan tambahan makanan memiliki risiko bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan dan hipersensitif, oleh sebab itu bagi penderita autis, disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan pabrikan sama sekali. Kandungan pewarna kuning (tartrazin) yang terdapat dalam mi instan lebih berbahaya bagi kesehatan. Pewarna tersebut bisa membuat kekambuhan pada penderita penyakit asthma dan efek-efek negatif lainnya pada kesehatan seperti kanker dan penyakit lambung lainnya.

Selain itu, mie instan juga ada lapisan lilin anti lengket. Lilin atau zat kimia lain sejenis wax tersebut digunakan agar mi tidak lengket dan menyatu ketika dimasak. Lilin yg terkandung dalam mie instan bisa membuat usus mengalami iritasi akibatnya penyerapan nutrisi dari makanan lain tidak bisa optimal. Selain itu, ada dugaan bahwa zat lilin tersebut mengandung bahan karsinogenik, bahan yang dapat menimbulkan terjadinya kanker. Untuk itu, agar mengurangi kadar lilin dalam mie instan, pada saat akan memasak, didihkan air agak banyak, lalu kita tunggu sampai mendidih. Setelah itu, kita pisahkan air menjadi dua bagian (tuang ke dalam dua panci berbeda). Masukkan mie ke panci pertama (atau panci pencuci lilin mie), dan didihkan kembali. Tunggu hingga air menjadi agak menguning (ini tanda bahwa lapisan lilin yang terdapat di permukaan mie instan mulai luntur). Setelah itu, angkat dan tiriskan. Jika menginginkan mie instan kuah, masukkan mie yang telah ‘dicuci’ ke dalam panci kedua, didihkan sebentar.

Kebanyakan minyak dalam kemasan mie instant adalah minyak jenuh, kandungan trans fatty acid, adalah minyak yang umumnya ditakuti para wanita karena bisa menyebabkan timbunan lemak terutama didaerah perut yang bisa menyebabkan banyak komplikasi penyakit-penyakit yang berhubungan dengan lemak.

Mie instan adalah salah satu makanan yang tidak banyak mengandung serat, yang namanya kurang serat, ini bisa menyebabkan BAB (Buang Air Besar) kita tidak lancar, kegemukan tentunya, paling menakutkan juga adalah kanker usus besar dan bisa jadi diabetes.

Karena sebab-sebab di atas, jika ingin mengkonsumsi mie instan lagi, jangka waktunya paling tidak tiga sampai lima hari. Hal ini karena tubuh manusia baru benar-benar dapat mengeluarkan seluruh zat-zat kimia yang terkandung dalam makanan (dalam hal ini adalah mie instan) dalam jangka waktu tiga sampai lima hari. Jika kurang dari jangka waktu tersebut, dikhawatirkan terjadi penumpukan zat-zat kimia di dalam tubuh yang dapat menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan, mengganggu metabolisme tubuh, dan salah satunya dapat menimbulkan kanker. Sering makan mie instant tidak baik untuk kesehatan. Hal ini dapat menyebabkan rambut sering rontok, kanker usus, ginjal batu, gagal ginjal, dan mungkin bisa penyakit lainnya. Selain itu, konsumsi mie instan setiap hari dapat meningkatkan kemungkinan atau resiko seseorang untuk terjangkiti kanker.

Mie yang terbuat dari terigu mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, tetapi kandungan protein, vitamin, dan mineralnya hanya sedikit. Namun, sifat karbohidrat dalam mi berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mi instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mie instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi. Menurut Prof dr Made Astawan dalam buku Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan, sumbangan gizi dalam semangkuk mi siap santap kemasan 75 gram adalah sekitar 8 gram protein, 45 gram karbohidrat, 15 gram lemak, serta sejumlah protein dan vitamin. Total energi yang diperoleh sekitar 350 kilokalori energi.

Agar asupan gizi yang kita peroleh dari sebungkus mi instan lebih baik, dalam penyajiannya, kita disarankan menambahkan bahan-bahan lain untuk meningkatkan mutu gizi makanan tersebut. Bahan-bahan yang bisa ditambahkan adalah telur untuk meningkatkan kadar protein dan sayuran, seperti wortel, tomat, kol, sawi, atau tauge agar kadar vitamin dan mineralnya meningkat. Itu sebabnya, mi instan tidak disarankan sebagai pengganjal perut satu-satunya setiap hari. Selain karena punya kandungan energi sedikit, mutu gizinya juga kurang. Namun, untuk menjaga kesehatan tubuh kita, lebih baik kita mengkonsumsi sayur dan buah daripada mengkonsumsi mie instan dan tidak mengkonsumsi mie instan secara berlebihan atau sering.

Stephany M. Pondaang
Posted on 24th October, 2010

Stephany M. Pondaang
100810349
IKM B ‘08

Ketersediaan dan Ketahanan Pangan di Tingkat Rumah Tangga

Pangan merupakan semua jenis bahan yang terdapat di alam yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Sedangkan makanan merupakan seluruh bahan hasil olahan yang dapat dimakan ataupun diminum. Makanan yang dibutuhkan oleh manusia biasanya didapat melalui bertani atau berkebun yang meliputi sumber hewan dan tumbuhan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Pangan di Indonesia saat ini mengalami krisis dan membuat Indonesia tergantung kepada impor, dan harganya naik tak terkendali. Masalah krisis pangan ini sebenarnya terkait dengan sistem penyediaan pangan yang tidak dapat terpenuhi dengan baik. Seharusnya sistem penyediaan pangan memenuhi lima karakteristik dasar: kapasitas, yakni kemampuan menghasilkan (produksi), mengimpor dan menyimpan makanan pokok dalam jumlah yang cukup guna memenuhi kebutuhan semua penduduk; pemerataan, yakni kemampuan menjamin dan mendistribusikan makanan pokok sehingga tersedia dalam rumah tangga; kemandirian; yakni kemampuan menjamin kebutuhan ketersediaan makanan pokok dengan mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga ancaman fluktuasi pasar dan tekanan politik internasional dapat ditekan seminimal mungkin; kehandalan, yakni kemampuan meredam dampak variasi musiman siklus tanaman sehingga kecukupan ketersediaan pangan dapat terjamin setiap saat; keberlanjutan, yakni kemampuan menjaga keberlanjutan kecukupan ketersediaan pangan dalam jangka panjang tanpa merusak lingkungan hidup. Produksi pangan merupakan suatu proses dimana menghasilkan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dalam produksi pangan ini, dapat dihasilkan suatu perubahan bentuk pangan. Setelah menghasilkan, lalu pangan tersebut didistribusikan ke seluruh daerah dan ke seluruh lapisan masyarakat. Namun hal ini terkadang mendapati sebuah kesulitan, karena tidak semua pangan dapat diakses ataupun dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena kondisi geografi daerah tempat tinggal masyarakat, dimana kondisi ini dapat menyulitkan masyarakat untuk mengakses pangan atau makanan tersebut. Alasan lainnya ialah karena kondisi ekonomi masyarakat yang tidak mampu membeli pangan tersebut sehingga pangan tersebut tidak dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Lalu bagaimana dengan ketersedian pangan di masing-masing rumah tangga?
Berdasarkan data Dewan Ketahanan Pangan menunjukkan, terdapat 81 juta orang yang mengalami defisit energi dan protein, sementara 8 juta orang lainnya berada dalam kondisi rawan pangan. Begitu pun status gizi anak, angka kematian bayi, dan gangguan pertumbuhan anak menunjukkan indikasi belum tercukupinya kebutuhan gizi di tingkat individu secara merata. Keadaan di atas menunjukkan bahwa di tingkat rumah tangga ketahanan dan ketersediaan pangan masih lemah.
Akses rumah tangga terhadap pangan masih memprihatinkan. Di tingkat rumah tangga, konsumsi rata-rata pangan belum mencapal standar kecukupan. Masing-masing rumah tangga memiliki karakteristik yang berbeda yang dapat menyebabkan perbedaan dalam ketersediaan pangan di rumah mereka. Pengetahuan orang tua dan pendapatan orang tua merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketersediaan pangan di rumah mereka.
Pembelian jenis-jenis pangan di pasar dipengaruhi oleh pengetahuan rumah tangga dalam hal pangan dan gizi, kebiasaan makan dan nilai-nilai budaya yang dianut rumah tangga. Ini berat walaupun rumah tagga memiliki daya beli yang cukup dan pangan yang juga tersedia, namun bila pengetahuan pangan dan gizinya masih rendah maka akan sulit bagi rumah tangga yang bersangkutan untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya baik secara kuantitas maupaun kualitas. Namun keluarga yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah menyebabkan keluarga tersebut tidak mampu membeli pangan untuk memenuhi kebutuhan minimum mereka. Bagii keluarga yang tidak bekerja atau berpenghasilan rendah, kenaikan harga pangan dapat mengancam ketahanan dan ketersediaan pangan rumah tangganya. Dengan penghasilan rendah sehingga pengeluarannya juga rendah, tingkat aksesibilitas mereka terhadap pangan menjadi rendah karena terbatasnya daya beli. Padahal, hak atas pangan sebagian dari upaya mempertahankan hidup dan kehidupan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.
Seperti disebutkan di atas, ketersediaan pangan dan ketahanan pangan di rumah tangga bergantung pada tingkat ekonomi dan pengetahuan keluarga, sehingga mempengaruhi peranan ibu dalam mengolah pangan dan mengasuh bayi serta anak-anaknya. Ibu yang memiliki pengetahuan dan pendapatan yang baik maka akan berusaha untuk memberikan asuhan dan makanan yang terbaik dan berkualitas, serta aman bagi anaknya serta mampu mengolah pangan dengan baik sesuai dengan usia anaknya dan mengasuh anaknya dengan baik dan cekatan. Namun jika ibu memiliki pengetahuan yang kurang baik dan ekonominya cukup rendah maka kebutuhan gizi anak dapat tidak tercukupi dengan baik, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan anak.
Sehingga tak salah jika sebagian orang berpendapat bahwa tingkat ekonomi merupakan penyebab utama dari lemahnya ketersediaan dan ketahanan pangan di rumah tangga.
Untuk mengatasi lemahnya ketersediaan dan ketahanan pangan di rumah tangga, pemerintah harus menopang aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan. Pada aspek-aspek inilah peran regulasi pemerintah dibutuhkan.
Pada aspek ketersediaan harus terwujud swasembada pangan yang bertumpu pada produksi domestik lewat peningkatan akses lahan serta pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan penguasaan ilmu dan teknologi on farm maupun off farm bagi petani, khususnya guna mendukung peningkatan produktifitas.
Pada aspek distribusi harus terwujud pasar pangan yang adil bagi produsen dan konsumen. Untuk itu diperlukan, pertama, intervensi pasar pangan berupa insentif harga yang menguntungkan bagi petani dan bagi konsumen sehingga tercipta suatu sikap saling ketergantungan antara petani dengan konsumen. Dan konsumen dapat menjangkau harga tersebut dan petani tidak mengalami kerugian. Masalah-masalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh pada harga, daya beli rumahtangga yang berkaitan pendapatan rumah tangga, dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh pada konsumsi dan kecukupan pangan rumah tangga. Ke dua, intervensi sistem distribusi pangan agar terwujud keseimbangan distribusi antarwaktu dan antarwilayah dengan dukungan infrastruktur transportasi serta pasar yang memadai.
Pada aspek konsumsi harus terwujud budaya makan yang sehat, aman, beragam, dan seimbang. Hal ini bisa ditempuh melalui diversifikasi bahan pangan yang tetap bertumpu pada keberagaman sumber daya lokal disertai diversifikasi cara pengolahan dan konsumsi serta peningkatan kesadaran budaya hidup sehat melalui pendidikan dan penyuluhan dengan dukungan upaya peningkatan pendapatan rumah tangga. Adapun program jaminan sosial akses pangan diperuntukkan bagi rumah tangga miskin atau rumah tangga lain yang karena alasan tertentu, misalnya karena bencana alam, sulit mendapatkan pangan. Mengingat kemiskinan bersifat dinamis antarwaktu dan antarwilayah, jaminan ini harus dinamis sehingga setiap keluarga miskin dapat segera terlindungi jaminan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga masih dalam tingkatan yang cukup memprihatinkan, yang disebabkan tingkat ekonomi yang rendah serta faktor lainnya yang berpengaruh. Oleh karena itu diperlukan peran serta pemerintah dalam mengatasi hal ini, yaitu dengan menopang aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan. Dengan cara melakukan swasembada pangan serta diversifikasi dan peningkatan mutu dan kualitas SDM, pemerataan pangan dan insentif harga yang menguntungkan bagi produsen dan konsumen. Serta pemerintah dapat melakukan perluasan lapangan pekerjaan guna meningkatkan pendapatan masyarakat.

Nurhidayati Ningsih
Posted on 24th October, 2010

Nurhidayati Ningsih
IKM B 2008
100810347/41

Masalah pangan di Indonesia tidak terlepas dari beras dan terigu, disamping bahan pangan lainnya seperti ubi kayu, jagung, dan sagu. Salah satu alternative pemecahan masalah kelangkaan bahan pangan baik terigu maupun beras adalah melalui substitusi dengan sorgum.

Sorgum (Sorghum bicolor) mempunyai potensi penting sebagai sumber karbohidrat bahan pangan, pakan dan komoditi ekspor. Namun potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena adanya berbagai hambatan baik dari segi pemahaman akan manfaat sorgum maupun dari segi penerapan teknologi pembudidayaannya. Keadaan tersebut tercermin dari rendahnya produksi sorgum di Indonesia secara nasional bila dibandingkan dengan produksi dari beberapa negara di Asia Tenggara, di Irian Jaya, sorgum bahkan baru ditaman di beberapa daerah dengan cara bercocok tanaman yang masih tradisional pula.

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan serealia sumber karbohidrat. Nilai gizi sorgum cukup memadai sebagai bahan pangan, yaitu mengandung sekitar 85% karbohidrat, 3,5% lemak, dan 10% protein (basis kering). Namun, pemanfaatannya sebagai bahan pangan di Indonesia masih sangat terbatas. Sorgum juga mengandung senyawa antinutrisi, terutama tannin yang menyebabkan rasa sepat sehingga kurang disukai konsumen. Namun hal ini dapat diatasi dengan menerapkan teknologi pengolahan yang tepat.
Ahza (1998) menyatakan bahwa biji sorgum dapat diolah menjadi tepung mapun beras dan bermanfaat sebagai bahan substitusi terigu. Volume impor terigu dan beras cukup besar dengan harga yang terus meningkat. Oleh karena itu pengembangan sorgum cukup prospektif dalam upaya menyediakan sumber karbohidrat lokal, baik sebagai bahan baku perusahaan roti, kue kering dan mie maupun digunakan sebagai substitusi beras. Hal ini didukung dengan harga tepung sorgum yang relative murah, umur tanaman pendek (100-110 hari), daya adaptasi terhadap lahan tinggi, tahan terhadap kekeringan dan genangan, produksi tinggi, lebih tahan terhadap hama dan penyakit jika dibanding dengan tanaman pangan lain, dan biaya produksi rendah karena memerlukan pupuk yang relative lebih sedikit (Wijaya1198). Mengingat potensi serta keistimewaannya itu, sorgum sebenarnya layak dikembangkan terutama untuk menunjang upaya-upaya pelestarian swasembada beras maupun terigu. Untuk itu diperlukan bimbingan serta penyuluhan tentang pemanfaatan serta teknologi budidayanya sehingga sorgum dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Meskipun beras telah menduduki posisi yang utama dalam swasembada karbohidrat, namun masalah pangan dan kebijaksanaan pangan perlu didukung oleh jenis komoditi nonberas lainnya. Salah satunya yaitu beras yang berasal dari sorgum. Beras Sorgum (beras sorgum giling) Beras Sorgum yang dimaksud adalah biji sorgum lepas kulit sebagai hasil penyosohan sehingga diperoleh beras sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan mesin yang terdiri dari silinder gurinda batu, sehingga beras yang dihasilkan putih bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi, bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape, Lemper, rengginang dan wajik.

Selain itu, penggunaan tepung sorgum sebagai campuran pada pembuatan makanan di Indonesia belum banyak dilakukan. Untuk meningkatkan penggunaan sorgum sebagai sumber pangan, perlu diketahui batas maksimal penambahan tepung sorgum ke dalam adonan, sehingga masih dapat menghasilkan produk olahan dengan kualitas yang baik (Mudjisihono 1994; Suarni dan Zakir 2000; Suarni dan Patong 2002.

Komposisi kimia dan zat gizi sorgum mirip dengan gandum dan serealia lain (Colas 1994). Rendahnya mutu tepung sorgum disebabkan oleh tingginya kadar protein prolamin sehingga nilai gizinya relative rendah (Suwelo 1998). Namun demikian, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa prolamin bersifat merugikan bila sorgum diolah dengan baik.
Kandungan nutrisi sorgum jika dibandingkan dengan terigu yakni kandungan lemak pada sorgum lebih tinggi jika dibandingkan pada terigu. Kandungan lemak pada sorgum berkisar 3,65% sedangkan pada terigu 2,09%. Lemak dalam biji sorgum sangat berguna bagi hewan dan manusia, akan tetapi dapat menyebabkan bau yang tidak enak dan tengik dalam produk bahan pangan. Serat kasar pada sorgum juga lebih tinggi jika dibanding dengan terigu yakni pada sorgum 2,74% sedangkan pada terigu 1,92%. Selain itu pati pada sorgum juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan pada terigu, yaitu 80,42% terkandung dalam sorgum, namun hanya 78,74% yang terkandung dalam terigu. Namun protein yang terkandung dalam sorgum masih lebih rendah jika dibandingkan dengan protein yang terkandung pada terigu, yaitu pada sorgum hanya berkisar 10,11% sedangkan pada terigu 14,45%. Hasil penelitian Dogget dan Gomes (1984) menunjukkan bahwa walaupun mutu protein sorgum tergolong rendah terutama lisin, tetapi kandungan leusin dan alanin relative tinggi. Selain itu, kandungan asam amino lainnya pada sorgum relative mendekati terigu, termasuk valin, serin, dan asam aspartat. Kandungan asam amino penyusun protein sangat menentukan nilai gizi bahan pangan (Winanrno 1986).

Pembuatan tepung hampir sama dengan pembuatan tepung beras, yaitu beras sorgum direndam dalam air agar cukup lunak, ditiriskan, digiling, diayak, kemudian dikeringkan. Dalam proses pembuatan tepung ini, dibutuhkan teknologi yang dapat menunjang kualitas maupun kuantitas tepung yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika proses penggilingan dilakukan secara tradisional yakni dengan cara membasahi beras sorgum dan menumbuknya, banyak biji yang hancur sehingga kualitasnya menurun, selain itu waktu prosesnya juga kurang efisien. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat digunakan alat atau mesin penyosoh yang dimana alat tersebut memiliki silinder batu gurinda dan alat penepung. Selain untuk efektivitas dan efisiensi, proses penyosohan ini juga dapat menghilangkan kandungan tannin yang menyebabkan rasa sepat. Namun, penggilingan sorgum dengan menggunakan alat penyosoh beras mengakibatkan masih banyak lembaga yang tertinggal pada endosperm. Hal ini ditandai oleh kandungan lemak dalam biji sorgum giling yang masih relatif tinggi yaitu sekitar 3,65%. Oleh karena itu dalam proses penggilingan harus diusahakan agar lemak dalam biji sorgum yang telah dikuliti menjadi rendah yaitu dibawah 1 % dengan demikian tepung sorgum yang dihasilkan akan lebih tahan lama.

Teknologi pengolahan produk setengah jadi dari sorgum yang diperlukan industry pengolahan lanjutan telah banyak dihasilkan. Teknologi ini mencakup teknik pembuatan beras sorgum, tepung, ekstrak pati. Pengolahan sorgum menjadi tepung lebih dianjurkan dibanding produk setengah jadi lainnya, karena tepung lebih tahan disimpan, mudah dicampur (komposit), dapat diperkaya dengan zat gizi (fortifikasi), dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis.

Kemajuan teknologi pengolahan bahan pangan yang didukung dengan tersedianya peralatan modern telah mendorong berkembangya industry makanan jadi selama dua decade terakhir ini. Pergeseran pola makan dan gaya hidup modern yang serba praktis serta keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan sehari-hari turut memacu berkembangnya industry pengolahan makanan jadi. Aneka produk makanan jadi yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat antara lain kue kering (cookies), kue basah (cake), roti tawar, mie kering, dan lain sebagainya. Mayoritas bahan yang digunakan dalam pembuatan produk tersebut adalah tepung terigu, namun walaupun demikian kita dapat mensubstitusinya dengan menggunakan tepung sorgum.

Hal lain yang harus diperhatikan selain pengolahan dan teknologi pengolahan adalah daya simpan sorgum. Penyimpanan sorgum dalam bentuk biji tidak dapat bertahan lama; hanya dalam waktu 2 bulan biji sudah terserang serangga Coleobrucbus calandra (nonci et al . 1999). Penyimpanan dalam bentuk tepung dapat bertahan diatas 6 bulan dalam kemasan plastik. Komposisi tepung yang disimpan juga tidak mengalami perubahan begitu pula kadar airnya masih dibawah 12%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penyimpanan dalam bentuk tepung lebih baik daripada bentuk biji dan penyimpanan terbaik adalah dalam kemasan kantong plastik.

Anonimus. 1990. Teknologi Budidaya Sorgum. Irian Jaya : Departemen Pertanian, Balai Informasi Pertanian.
Suarni. 2004. Pemanfaatan Tepung Sorgum untuk Produk Olahan. Makasar : Balai Penelitian Tanaman Serealia.

Windi Prigita
Posted on 25th October, 2010

Windi Prigita Savitri
IKMA 2008 / 100810333 (64)

Mari Kita Tingkatkan Produksi dan Konsumsi Susu di Indonesia!

Kesejahteraan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini semakin meningkat, sehingga membuat mereka sadar akan pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi. Zat gizi berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral harus terpenuhi setiap hari. Semua zat gizi tersebut terdapat dalam menu makanan yang dulu dikenal dengan menu empat sehat lima sempurna. Masih ingatkah anda apa saja isi menu tersebut? Ingatan masa TK dan SD kita pasti yang berbicara, empat sehat lima sempurna terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur mayur, buah-buahan, dan susu. Ya, empat sehat makanan bergizi dan susu yang menyempurnakannya.
Susu merupakan salah satu sumber zat gizi yang paling lengkap, dan diperlukan oleh semua kelompok umur, terutama balita dan anak-anak. Minuman ini mengandung banyak zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, yaitu protein, lemak, vitamin, dan mineral seperti kalsium yang mempengaruhi pertumbuhan tulang. Oleh sebab itu, susu sangat diperlukan oleh semua anak bangsa ini tanpa terkecuali. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh generasi muda yang sehat dan cerdas. Dan susu merupakan salah satu faktor penting untuk membentuk generasi yang diharapkan tersebut.
Sepertinya masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya minum susu untuk melengkapi menu harian bergizi mereka. Indikasi ini terlihat dari permintaan susu yang terus meningkat jauh melebihi kemampuan produksi domestik. Konsumsi susu setiap tahun memang terus menunjukkan kenaikan. Rata-rata pertumbuhan konsumsi susu selama periode 2002 hingga 2007 sebesar 14,01% (Sucipto & Hatta, 2009). Sayangnya kita belum bisa berbangga hati atas kenaikan konsumsi susu tersebut, karena meskipun menunjukkan indikasi kenaikan, konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu, 7,7 liter/kapita/tahun atau setara dengan 19 gram/hari atau sekitar 1/10 konsumsi susu di dunia.
Masih rendahnya konsumsi susu di Indonesia, berdampak pada kurangnya kualitas gizi balita dan anak, terutama dari keluarga yang kurang mampu. Bangsa ini masih menghadapi permasalahan gizi nasional, tercatat, hasil survei tahun 2007 menyebutkan 5,4 % rata-rata anak balita prevalensi gizi buruk dan gizi kurang sebesar 13 %. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia adalah masih rendahnya produk susu nasional.
Ketersediaan sumber pangan susu di Indonesia masih belum mencukupi. Peningkatan konsumsi susu relatif lebih cepat dibanding produksinya. Pada tahun 2009 produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi 25,11 % dari total kebutuhan nasional. Jumlah perusahaan sapi perah hanya 517, tentu saja tidak mencukupi kebutuhan konsumsi susu negara berpenduduk hampir 300 juta jiwa ini. Sampai saat ini Indonesia masih impor susu. 70% lebih dari total kebutuhan susu kita masih impor, 85% lebih populasi sapi perah penghasil susu ada di Pulau Jawa. Data yang belum 100% benar tapi sudah mendekati masalah besar dan serius. Padahal jika bangsa ini mau introspeksi diri, banyak sekali dokter hewan, sarjana peternakan, pengangguran, dan lahan tidur di luar Pulau Jawa yang bisa untuk pakan. Ditambah lagi pasti ada kucuran dana dari sektor peternakan dan yang paling penting pangsa pasar susu di Indonesia setiap tahun semakin meningkat
Solusi pemerintah saat ini untuk mencukupi kebutuhan konsumsi susu di Indonesia adalah kebijakan impor susu. Padahal kebijakan ini mempunyai konsekuensi penggunaan devisa negara yang cukup besar. Tahun 1984 impor produksi susu menghabiskan devisa 41,65 juta USD, meningkat menjadi 61,42 juta USD tahun 1989 (Statistik Peternakan, 1991). Menurut data BPS, pada 2002 lalu impor susu dan produk susu Indonesia baru tercatat 107.900 ton, yang kemudian meningkat 8,7% menjadi 117.300 ton pada tahun berikutnya dengan nilai US$207,5 juta. Namun, impor susu terus membengkak hingga pada November 2008 lalu mencapai 171.900 ton.
Untuk mengurangi penggunaan devisa negara pada sektor impor susu diupayakan meningkatkan produksi susu nasional melalui pengembangan peternakan sapi di dalam negeri. Pengembangan usaha peternakan rakyat sangat diperlukan dalam upaya untuk mengurangi impor susu ke Indonesia, yang jelas-jelas merugikan dan menghambat perkembangan usaha peternakan dalam negeri karena kalah bersaing dengan susu impor. Pengembangan usaha peternakan rakyat seharusnya dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus. Pengembangan ini tentu saja harus diimbangi dengan keseriusan usaha peternakan. Santosa (2008) menyatakan, dalam suatu usaha peternakan, ternak yang bernilai genetis baik dan berkualitas tinggi dengan sendirinya akan diperoleh jika peternakan dikelola dengan terampil berdasarkan teori yang benar dan ilmiah. Peternak rakyat harus dibekali ketrampilan pengelolaan ternak secara profesional karena tanpa semua itu, produksi ternak yang akan dihasilkan tidak akan sesuai dengan harapan.
Pengelolaan ternak yang profesional harus juga diimbangi dengan kemampuan peternak untuk menganalisis usaha peternakannya, dengan demikian peternak mampu mengetahui prospek jangka pendek dan jangka panjang usaha peternakannya. Analisis usaha peternakan diharapkan mampu membantu peternak untuk menghitung penerimaan, besarnya biaya yang dibutuhkan serta melakukan efisiensi atas usaha peternakannya.
Pemerintah harus mampu mengambil langkah sebagai bentuk perlindungan atau campur tangan untuk menyelamatkan produsen dalam negeri, yaitu dengan melakukan pengurangan impor. Penghentian impor mungkin terlalu ekstrem, karena hal ini secara otomatis akan menaikkan harga susu menjadi cukup tinggi di tingkat konsumen. Itu karena produksi susu nasional hanya mampu memasok tidak lebih dari seperempat konsumsi susu nasional. Lebih bijaksananya, pembatasan melalui kuota impor lebih baik dengan pertimbangan Indonesia masih membutuhkan susu impor untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Kuota ini diharapkan mampu membatasi impor, sehingga susu impor tidak membanjiri pasar dalam negeri yang mengakibatkan anjloknya harga susu dalam negeri dan kemudian merugikan produsen dalam negeri. Selain itu, dalam jangka panjang, langkah yang perlu menjadi prioritas pemerintah adalah menstimulus peternak susu dalam negeri untuk meningkatkan produksi susunya guna memenuhi konsumsi nasional. Dengan demikian, ketergantungan impor dapat diminimalisasi.
Namun, pertanyaan klasik yang selalu timbul dalam masalah pengembangan peternakan untuk produksi susu nasional adalah dananya dari mana? Jawabnya sederhana saja, semua elemen masyarakat Indonesia harus bersatu demi mengatasi masalah ini. Misalnya, pemerintah menyisihkan cukai rokok yang bisa digunakan untuk biaya pemeliharaan sapi perah atau iklan edukasi ke masyarakat untuk mengajak investasi pengembangan sapi perah. Atau menargetkan swasembada susu dan daging seperti yang dilakukan di Langkat Sumut, Kampar Riau dan Boyolali.
Bayangkan saja, bila kita memiliki 10 juta ekor sapi perah maka kita tidak hanya swasembada susu tapi juga bisa menjadi eksportir susu. Tentu dengan sendirinya akan mengantongi lebih banyak devisa, tenaga kerja terserap, dan yang lebih penting lagi bangsa ini bisa kita wariskan kepada generasi yang cukup gizi karena terbiasa mengkonsumsi susu.
Produksi susu yang meningkat pesat akan mempengaruhi kenaikan konsumsi susu. Karena dengan banyaknya produk susu nasional dan kebijakan impor susu dibatasi sesuai kuota, harga susu tidak akan melambung dan terjangkau oleh daya beli masyarakat kita. Selain itu, dibutuhkan pula program edukasi gizi oleh tenaga kesehatan kepada masyarakat, terutama pada keluarga yang kurang mampu dan tingkat pendidikannya rendah. Edukasi gizi tersebut berupa pengenalan budaya minum susu setiap hari dan manfaatnya bagi tubuh. Sehingga masyarakat dapat benar-benar memahami dan sadar akan pentingnya minum susu. Tidak sekedar karena anjuran orang lain, harga susu yang murah, pengaruh iklan, rasa yang enak ataupun promosi hadiah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.15 Mei 2010. Konsumsi Susu di Indonesia Masih Rendah. available[online]:[17 Oktober 2010]

Badan Pusat Statistik. 2010. Data Jumlah Perusahaan Sapi Perah Menurut Kegiatan Utama. available[online]:[20 Oktober 2010]

Badan Pusat Statistik. 2010. Data Produksi Susu Perusahaan Sapi Perah. available[online]:[17 Oktober 2010]

Redaksi Berita Sore.27 Mei 2008. Depkes: Susu Salah Satu Sumber Gizi Terlengkap. available[online]:[20 Oktober 2010]
Riza Kaedar. 23 Mei 2010. Analisis Usaha Ternak Sapi Perah Rakyat. available[online]:[17 Oktober 2010]
Wayan Supadno.10 Oktober 2009. Sampai Kapan Kita Harus Impor Susu?.available[online]:[17 Oktober 2010]

putu desi ariani
Posted on 25th October, 2010

“ Peran Sistem Pangan dan Gizi dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga”
Oleh :
Putu Desi Ariani 100810021
IKM B 2008
Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di dunia padahal dalam kehidupan sehari-hari,setiap manusia membutuhkan makanan untuk beraktivitas karena makanan merupakan sumber energi bagi manusia. Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia.
Di Indonesia sendiri, permasalah pangan tidak dapat kita hindari, walaupun kita sering disebut sebagai negara agararis yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi sehingga kecukupan gizi di masyarakat pun dapat berpengaruh dimana sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada dibawah kebutuhan konsumsi yang semestinya. Hal ini dikarenakan berbagai macam faktor,salah satunya yaitu sistem pangan dan gizi yang ada di Indonesia. Sistem pangan dan gizi merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan, pembinaan, dan/atau pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi pangan dan peredaran pangan sampai dengan siap dikonsumsi manusia.
Sistem pangan dan gizi terdiri atas sub sistem produksi,sub sistem distribusi,sub sistem konsumsi dan sub sistem status gizi. Keempat sub sistem tersebut sangat berperan dalam hal ketahanan pangan dimasyarakat. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagai rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata. dan terjangkau. Rumah tangga tahan pangan adalah rumah tangga yang memiliki persedian pangan/makanan pokok secara kontinyu (diukur dari persediaan makan selama jangka masa satu panen dengan panen berikutnya dengan frekuensi makan 3 kali atau lebih per hari serta akses langsung) dan memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati atau protein hewani saja. Sedangkan Rumah tangga tidak tahan pangan adalah rumah tangga yang dicirikan:
a. ketersediaan pangan kontinyu, tetapi tidak memiliki pengeluaran untuk protein hewani maupun nabati
b. ketersediaan pangan kontinyu kurang kontinyu dan hanya memiliki pengeluaran untuk protein hewani atau nabati, atau tidak untuk kedua-duanya.
c. ketersediaan pangan tidak kontinyu walaupun memiliki pengeluaran untuk protein hewani dan nabati
d. ketersediaan pangan tidak kontinyu dan hanya memiliki pengeluaran untuk protein nabati saja, atau tidak untuk kedua-duanya
Berdasarkan definisi ketahanan pangan dari FAO (1996) dan UU RI No. 7 tahun 1996, yang mengadopsi definisi dari FAO, ada 4 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan yaitu:
Kecukupan ketersedian pangan
Ketersediaan pangan adalah jumlah atau suplay bahan makanan yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu untuk jangka waktu tertentu baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Dalam hal ini ketersediaan pangan terkait dengan sub sistem produksi produksi dan juga sub sistem distribusi. Sub sistem produksi adalah sub sistem yang berkaitan dengan berbagai macam usaha atau kegiatan untuk menghasilkan pangan baik berupa bahan baku atau makanan yang sudah jadi serta pengolahan dan pengelolaan lahan dan bahan baku. Contohnya : dalam usaha produksi beras,sub sistem produksi ini mencakup pemilihan biji padi yang berkualitas, pengolahan lahan, penanaman biji padi,pemanenan padi sampai penggilingan menjadi beras yang siap untuk dijual. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Sehingga untuk mencukupi ketersediaan pangan di rumah tangga,perlu diperhatikan sub sistem produksi dan sub sistem distribusi karena jika sub sistem produksi terganggu maka tidak akan dihasilkan pangan atau bahan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sedangkan jika sub sistem distribusi terganggu maka usaha untuk menyalurkan pangan atau bahan pangan ke rumah tangga tidak lancar dan pasokan pangan pun akan berkurang sehingga ketersediaan panganpun ikut berkurang.
Stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun.
Stabilitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga diukur berdasarkan kecukupan ketersediaan pangan dan frekuensi makan anggota rumah tangga dalam sehari. Satu rumah tangga dikatakan memiliki stabilitas ketersediaan pangan jika mempunyai persediaan pangan diatas cutting point (240 hari untuk Provinsi Lampung dan 360 hari untuk Provinsi NTT) dan anggota rumah tangga dapat makan 3 (tiga) kali sehari sesuai dengan kebiasaan makan penduduk di daerah tersebut. Stabilitas ketersediaan pangan juga terkait dengan sub sistem produksi dan sub sistem distribusi. Seperti penjelasan di atas jika kedua sub sistem tersebut terganggu maka masyarakat akan kesulitan untuk mendapatkan makanan karena produksi pangan yang tidak memenuhi sehingga stabilitas ketersediaan pangan juga akan terganggu akibat berkurangnya pasokan makanan baik karena produksi yang kurang maupun karena distribusi yang tidak lancar.
Keterjangkauan Pangan
Indikator aksesibilitas/keterjangkauan dalam pengukuran ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dilihat dari kemudahan rumah tangga memperoleh pangan. Cara rumah tangga memperoleh pangan juga dikelompokkan dalam 2 (dua) kateori yaitu: (1) produksi sendiri dan (2) membeli. Dari pengukuran indikator aksesibilitas ini kemudian diukur indikator stabilitas ketersedian pangan yang merupakan penggabungan dari stabilitas ketersediaan pangan dan aksesibilitas terhadap pangan.
Sub sistem distribusi dan sub sistem konsumsi sangat berperan dalam keterjangkauan pangan karena sub sistem distribusi berfungsi untuk menyalurkan pangan atau bahan pangan ke rumah tangga,jika sub sistem ini bermasalah maka proses penyaluran pangan atau bahan pangan tidak berjalan dengan lancar misalnya ada,namun lambat sampai ke rumah tangga atau bahkan tidak sampai ke rumah tangga. Sedangkan sub sistem konsumsi terkait dengan kemampuan masyarakat untuk mengakses sumber pangan yang ada, jika suatu rumah tangga tidak dapat menjangkau pangan atau bahan pangan yang tersedia maka kemampuan untuk konsumsinya juga berkurang sehingga ketahanan pangan rumah tangga pun akan berkurang.
Kualitas dan Kuantitas Makanan
Kualitas/keamanan jenis pangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ukuran kualitas pangan seperti ini sangat sulit dilakukan karena melibatkan berbagai macam jenis makanan dengan kandungan gizi yang berbeda-beda., sehingga ukuran keamanan pangan hanya dilihat dari ‘ada’ atau ‘tidak’nya bahan makanan yang mengandung protein hewani dan/atau nabati yang dikonsumsi dalam rumah tangga. Kualitas dan kuantitas makanan berkaitan dengan sub sistem pangan dan gizi yang ke empat yaitu sub sistem status gizi. Sub sistem ini melihat kualitas pangan atau bahan pangan baik atau tidak serta bagaimana kandungan gizinya. Sehingga jika kita dapat melihat kualitas dan kuatitas pangan yang ada maka hal ini dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan kita juga tidak asal dalam membeli ataupun memakan pangan yang ada.

Dari penjelasan di atas cukup jelas bahwa sistem pangan dan gizi sangat berperan dalam status ketahanan pangan rumah tangga dimana masing-masing sub sistem pangan dan gizi saling berkaitan dengan keempat kondisi ketahanan pangan. Sehingga untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga diperlukan upaya untuk meningkatkan sistem pangan dan gizi antara lain :
Sub sistem produksi
Misalnya dengan kebijakan diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan rehabilitasi yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian.
Sub sistem distribusi
Misalnya dengan memperbaiki kualitas pengawasan distribusi, pengembangan stok pangan, peningkatan sarana dan prasarana transportasi, dan pengembangan pemasaran.
Sub sistem konsumsi
Diversifikasi konsumsi pangan dan pembinaan kebiasaan pangan dan pengendalian harga pangan atau bahan pangan di masyarakat.
Sub sistem status gizi
Meningkatkan informasi mengenai gizi dengan penyuluhan dan iklan di media cetak maupun eletronik, mendukung dan menerapkan penambahan gizi pada bahan makanan pokok.
Dengan adanya upaya untuk peningkatan di masing-masing sub sistem pangan dan gizi maka hal ini juga akan meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga karena sistem pangan dan gizi memiliki peran dalam ketahanan pangan rumah tangga.

Referensi :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/09/tantangan-menuju-ketahanan-pangan/
http://www.ppk.lipi.go.id/file/publikasi/KETAHANAN%20PANGAN%20RUMAH%20TANGGA.doc

Trah Arumingtyas
Posted on 25th October, 2010

PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN

Pengolahan pangan pada industri komersial umumnya bertujuan memperpanjang masa simpan, mengubah atau meningkatkan karakteristik produk (warna, cita rasa, tekstur), mempermudah penanganan dan distribusi, memberikan lebih banyak pilihan dan ragam produk pangan di pasaran, meningkatkan nilai ekonomis bahan baku, serta mempertahankan atau meningkatkan mutu, terutama mutu gizi, daya cerna, dan ketersediaan gizi. Kriteria atau komponen mutu yang penting pada komoditas pangan adalah keamanan, kesehatan, flavor, tekstur, warna, umur simpan, kemudahan, kehalalan, dan harga.
Keterangan mengenai umur simpan (masa kadaluarsa) produk pangan merupakan salah satu informasi yang wajib dicantumkan oleh produsen pada label kemasan produk pangan. Pencantuman informasi umur simpan menjadi sangat penting karena terkait dengan keamanan produk pangan dan untuk memberikan jaminan mutu pada saat produk sampai ke tangan konsumen. Informasi umur simpan produk sangat penting bagi banyak pihak, baik produsen, konsumen, penjual, dan distributor. Konsumen tidak hanya dapat mengetahui tingkat keamanan dan kelayakan produk untuk dikonsumsi, tetapi juga dapat memberikan petunjuk terjadinya perubahan citarasa, penampakan dan kandungan gizi produk tersebut. Bagi produsen, informasi umur simpan merupakan bagian dari konsep pemasaran produk yang penting secara ekonomi dalam hal pendistribusian produk serta berkaitan dengan usaha pengembangan jenis bahan pengemas yang digunakan. Bagi penjual dan distributor informasi umur simpan sangat penting dalam hal penanganan stok barang dagangannya.
Peraturan mengenai penentuan umur simpan bahan pangan telah dikeluarkan oleh Codex Allimentarius Commission (CAC) pada tahun 1985 tentang Food Labelling Regulation. Di Indonesia, peraturan mengenai penentuan umur simpan bahan pangan terdapat dalam UU Pangan No. 7 tahun 1996 dan PP No. 69 tahun 1999. Menurut Rahayu et al. (2003), terdapat tujuh jenis produk pangan yang tidak wajib mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa, yaitu: 1) buah dan sayuran segar, termasuk kentang yang belum dikupas, 2) minuman yang mengandung alkohol lebih besar atau sama dengan 10% (volume/volume), 3) makanan yang diproduksi untuk dikonsumsi saat itu juga atau tidak lebih dari 24 jam setelah diproduksi, 4) cuka, 5) garam meja, 6) gula pasir, serta 7) permen dan sejenisnya yang bahan bakunya hanya berupa gula ditambah flavor atau gula yang diberi pewarna. Berdasarkan peraturan, semua produk pangan wajib mencantumkan tanggal kedaluwarsa, kecuali tujuh jenis produk pangan tersebut.
Sifat alamiah makanan yang bersifat dinamis menyebabkan penurunan kualitas sampai dengan penolakan produk oleh konsumen, apalagi bila kondisi penyimpanannya buruk akan memungkinkan reaksi kerusakan berlangsung lebih cepat. Pengolahan pangan merupakan usaha untuk memperpanjang umur simpan produk. Dalam penentuan umur simpan, harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi masa simpan suatu produk pangan tersebut. Menurut Institute of Food Science and Technology (1974), umur simpan produk pangan adalah selang waktu antara saat produksi hingga konsumsi di mana produk berada dalam kondisi yang memuaskan berdasarkan karakteristik penampakan, rasa, aroma, tekstur, dan nilai gizi. Penetapan umur simpan dan parameter sensori sangat penting pada tahap penelitian dan pengembangan jenis produk pangan baru. Pada skala industri besar atau komersial, umur simpan ditentukan berdasarkan hasil analisis di laboratorium yang didukung hasil evaluasi distribusi di lapangan. Berkaitan dengan berkembangnya industri pangan skala usaha kecil-menengah, dipandang perlu untuk mengembangkan penentuan umur simpan produk sebagai bentuk jaminan keamanan pangan. Penentuan umur simpan di tingkat industri pangan skala usaha kecil menengah sering kali terkendala oleh faktor biaya, waktu, proses, fasilitas, dan kurangnya pengetahuan produsen pangan.
Pada saat baru diproduksi, mutu produk dianggap dalam keadaan 100%, dan akan menurun sejalan dengan lamanya penyimpanan atau distribusi. Selama penyimpanan dan distribusi, produk pangan akan mengalami kehilangan bobot, nilai pangan, mutu, nilai uang, daya tumbuh, dan kepercayaan. Penggunaan indikator mutu dalam menentukan umur simpan produk siap masak atau siap saji bergantung pada kondisi saat percobaan penentuan umur simpan tersebut dilakukan. Hasil percobaan penentuan umur simpan hendaknya dapat memberikan informasi tentang umur simpan pada kondisi ideal, umur simpan pada kondisi tidak ideal, dan umur simpan pada kondisi distribusi dan penyimpanan normal dan penggunaan oleh konsumen. Suhu normal untuk penyimpanan yaitu suhu yang tidak menyebabkan kerusakan atau penurunan mutu produk. Suhu ekstrim atau tidak normal akan mempercepat terjadinya penurunan mutu produk dan sering diidentifikasi sebagai suhu pengujian umur simpan produk. Pengendalian suhu, kelembapan, dan penanganan fisik yang tidak baik dapat dikategorikan sebagai kondisi distribusi pangan yang tidak normal.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan mutu produk pangan. Floros dan Gnanasekharan (1993) menyatakan terdapat enam faktor utama yang mengakibatkan terjadinya penurunan mutu atau kerusakan pada produk pangan, yaitu massa oksigen, uap air, cahaya, mikroorganisme, kompresi atau bantingan, dan bahan kimia toksik atau off flavor. Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan terjadinya penurunan mutu lebih lanjut, seperti oksidasi lipida, kerusakan vitamin, kerusakan protein, perubahan bau, reaksi pencoklatan, perubahan unsur organoleptik, dan kemungkinan terbentuknya racun. Lebih lanjut, Sadler (1987) mengelompokkan faktor yang mempengaruhi perubahan mutu produk pangan menjadi tiga golongan, yaitu energi aktivasi rendah (215 kkal/mol), energi aktivasi sedang (1530 kkal/mol), dan energi aktivasi tinggi (50100 kkal/ mol). Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pada produk pangan menjadi dasar dalam menentukan titik kritis umur simpan. Titik kritis ditentukan berdasarkan faktor utama yang sangat sensitive serta dapat menimbulkan terjadinya perubahan mutu produk selama distribusi, penyimpanan hingga siap dikonsumsi.
Salah satu kendala yang sering dihadapi industri pangan dalam penentuan masa kedaluwarsa produk adalah waktu. Pada prakteknya, ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menduga masa kedaluwarsa, yaitu:
1) Nilai pustaka (literature value)
Nilai pustaka sering digunakan dalam penentuan awal atau sebagai pembanding dalam penentuan produk pangan karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki produsen pangan.
2) Distribution turn over
Distribution turn over merupakan cara menentukan umur simpan produk pangan berdasarkan informasi produk sejenis yang terdapat di pasaran. Pendekatan ini dapat digunakan pada produk pangan yang proses pengolahannya, komposisi bahan yang digunakan, dan aspek lain sama dengan produk sejenis di pasaran dan telah ditentukan umur simpannya.
3) Distribution abuse test
Distribution abuse test merupakan cara penentuan umur simpan produk berdasarkan hasil analisis produk selama penyimpanan dan distribusi di lapangan, atau mempercepat proses penurunan mutu dengan penyimpanan pada kondisi ekstrim (abuse test).
4) Consumer complaints
Pada penentuan umur simpan berdasarkan komplain konsumen, produsen menghitung nilai umur simpan berdasarkan komplain atas produk yang didistribusikan.
5) ASS (accelerated storage studies) atau Accelerated shelf-life testing (ASLT)
Penentuan umur simpan produk dengan metode ASS atau sering disebut dengan ASLT dilakukan dengan menggunakan parameter kondisi lingkungan yang dapat mempercepat proses penurunan mutu (usable quality) produk pangan. Salah satu keuntungan metode ASS yaitu waktu pengujian relatif singkat (34 bulan), namun ketepatan dan akurasinya tinggi. Kesempurnaan model secara teoritis ditentukan oleh kedekatan hasil yang diperoleh (dari metode ASS) dengan nilai ESS. Untuk produk pangan yang masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, analisis untuk menentukan umur simpan produk dilakukan sebelum produk dipasarkan. Untuk keperluan tersebut produsen akan meramu serta memproses produk sampai ditemukan kondisi umur simpan maksimal yang dikehendaki. Setelah kondisi optimal diperoleh, prototype produk diuji coba dengan menggunakan accelerated storage studies (ASS) atau ASLT dan uji distribusi. Berdasarkan hasil pengujian, akan diperoleh nilai umur simpan produk akhir dan produk siap dipasarkan. Data yang diperlukan untuk menentukan umur simpan produk yang dianalisis di laboratorium dapat diperoleh dari analisis atau evaluasi sensori, analisis kimia dan fisik, serta pengamatan kandungan mikroba (Koswara 2004).
6) ESS (extended storage studies)
Sering disebut sebagai metode konvensional, merupakan penentuan tanggal kedaluwarsa dengan cara menyimpan satu seri produk pada kondisi normal sehari-hari sambil dilakukan pengamatan terhadap penurunan mutunya (usable quality) hingga mencapai tingkat mutu kedaluwarsa. Metode ini akurat dan tepat, namun pada awal penemuan dan penggunaan metode ini dianggap memerlukan waktu yang panjang dan analisis parameter mutu yang relative banyak serta mahal. Dewasa ini metode ESS sering digunakan untuk produk yang mempunyai masa kedaluwarsa kurang dari 3 bulan. Metode konvensional biasanya digunakan untuk mengukur umur simpan produk pangan yang telah siap edar atau produk yang masih dalam tahap penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
http://wiyana-ian.blogspot.com/2010/07/pendugaan-umur-simpan-produk-pangan_17.html
http://jatim.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=274&Itemid=10
http://file.upi.edu/Direktori/D%20%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20KIMIA/195109191980032%20-%20SUSIWI/SUSIWI-31%29.%20Kadaluwarsa.pdf
NAMA : TRAH ARUMINGTYAS
NIM : 100810054/24
KELAS : IKM A 2008

Nurhidayati Ningsih
Posted on 25th October, 2010

“Pemanfaatan Sorgum sebagai Upaya Diversifikasi Pangan”

Nurhidayati Ningsih
IKM B 2008
100810347/41

Masalah pangan di Indonesia tidak terlepas dari beras dan terigu, disamping bahan pangan lainnya seperti ubi kayu, jagung, dan sagu. Salah satu alternative pemecahan masalah kelangkaan bahan pangan baik terigu maupun beras adalah melalui substitusi dengan sorgum.

Sorgum (Sorghum bicolor) mempunyai potensi penting sebagai sumber karbohidrat bahan pangan, pakan dan komoditi ekspor. Namun potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena adanya berbagai hambatan baik dari segi pemahaman akan manfaat sorgum maupun dari segi penerapan teknologi pembudidayaannya. Keadaan tersebut tercermin dari rendahnya produksi sorgum di Indonesia secara nasional bila dibandingkan dengan produksi dari beberapa negara di Asia Tenggara, di Irian Jaya, sorgum bahkan baru ditaman di beberapa daerah dengan cara bercocok tanaman yang masih tradisional pula.

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan serealia sumber karbohidrat. Nilai gizi sorgum cukup memadai sebagai bahan pangan, yaitu mengandung sekitar 85% karbohidrat, 3,5% lemak, dan 10% protein (basis kering). Namun, pemanfaatannya sebagai bahan pangan di Indonesia masih sangat terbatas. Sorgum juga mengandung senyawa antinutrisi, terutama tannin yang menyebabkan rasa sepat sehingga kurang disukai konsumen. Namun hal ini dapat diatasi dengan menerapkan teknologi pengolahan yang tepat.
Ahza (1998) menyatakan bahwa biji sorgum dapat diolah menjadi tepung mapun beras dan bermanfaat sebagai bahan substitusi terigu. Volume impor terigu dan beras cukup besar dengan harga yang terus meningkat. Oleh karena itu pengembangan sorgum cukup prospektif dalam upaya menyediakan sumber karbohidrat lokal, baik sebagai bahan baku perusahaan roti, kue kering dan mie maupun digunakan sebagai substitusi beras. Hal ini didukung dengan harga tepung sorgum yang relative murah, umur tanaman pendek (100-110 hari), daya adaptasi terhadap lahan tinggi, tahan terhadap kekeringan dan genangan, produksi tinggi, lebih tahan terhadap hama dan penyakit jika dibanding dengan tanaman pangan lain, dan biaya produksi rendah karena memerlukan pupuk yang relative lebih sedikit (Wijaya1198). Mengingat potensi serta keistimewaannya itu, sorgum sebenarnya layak dikembangkan terutama untuk menunjang upaya-upaya pelestarian swasembada beras maupun terigu. Untuk itu diperlukan bimbingan serta penyuluhan tentang pemanfaatan serta teknologi budidayanya sehingga sorgum dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Meskipun beras telah menduduki posisi yang utama dalam swasembada karbohidrat, namun masalah pangan dan kebijaksanaan pangan perlu didukung oleh jenis komoditi nonberas lainnya. Salah satunya yaitu beras yang berasal dari sorgum. Beras Sorgum (beras sorgum giling) Beras Sorgum yang dimaksud adalah biji sorgum lepas kulit sebagai hasil penyosohan sehingga diperoleh beras sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan mesin yang terdiri dari silinder gurinda batu, sehingga beras yang dihasilkan putih bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi, bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape, Lemper, rengginang dan wajik.

Selain itu, penggunaan tepung sorgum sebagai campuran pada pembuatan makanan di Indonesia belum banyak dilakukan. Untuk meningkatkan penggunaan sorgum sebagai sumber pangan, perlu diketahui batas maksimal penambahan tepung sorgum ke dalam adonan, sehingga masih dapat menghasilkan produk olahan dengan kualitas yang baik (Mudjisihono 1994; Suarni dan Zakir 2000; Suarni dan Patong 2002).

Komposisi kimia dan zat gizi sorgum mirip dengan gandum dan serealia lain (Colas 1994). Rendahnya mutu tepung sorgum disebabkan oleh tingginya kadar protein prolamin sehingga nilai gizinya relative rendah (Suwelo 1998). Namun demikian, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa prolamin bersifat merugikan bila sorgum diolah dengan baik.

Kandungan nutrisi sorgum jika dibandingkan dengan terigu yakni kandungan lemak pada sorgum lebih tinggi jika dibandingkan pada terigu. Kandungan lemak pada sorgum berkisar 3,65% sedangkan pada terigu 2,09%. Lemak dalam biji sorgum sangat berguna bagi hewan dan manusia, akan tetapi dapat menyebabkan bau yang tidak enak dan tengik dalam produk bahan pangan. Serat kasar pada sorgum juga lebih tinggi jika dibanding dengan terigu yakni pada sorgum 2,74% sedangkan pada terigu 1,92%. Selain itu pati pada sorgum juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan pada terigu, yaitu 80,42% terkandung dalam sorgum, namun hanya 78,74% yang terkandung dalam terigu. Namun protein yang terkandung dalam sorgum masih lebih rendah jika dibandingkan dengan protein yang terkandung pada terigu, yaitu pada sorgum hanya berkisar 10,11% sedangkan pada terigu 14,45%. Hasil penelitian Dogget dan Gomes (1984) menunjukkan bahwa walaupun mutu protein sorgum tergolong rendah terutama lisin, tetapi kandungan leusin dan alanin relative tinggi. Selain itu, kandungan asam amino lainnya pada sorgum relative mendekati terigu, termasuk valin, serin, dan asam aspartat. Kandungan asam amino penyusun protein sangat menentukan nilai gizi bahan pangan (Winanrno 1986).

Kelebihan terigu dibandingkan sorgum adalah sifat fisikokimianya, terutama kemampuan protein dalam membentuk gluten. Sifat ini kurang dimiliki oleh tepung sorgum maupun serealia lainnya, apalagi komoditas nonserealia. Keistimewaan gluten terigu adalah memiliki kandungan protein penyusun yang seimbang, yaitu glutenin dan gliadin. Bila ditambah air, gluten akan membentuk sifat elastisitas yang tinggi. Sifat ini sangat dibutuhkan dalam pembuatan mie dan roti.

Pembuatan tepung hampir sama dengan pembuatan tepung beras, yaitu beras sorgum direndam dalam air agar cukup lunak, ditiriskan, digiling, diayak, kemudian dikeringkan. Dalam proses pembuatan tepung ini, dibutuhkan teknologi yang dapat menunjang kualitas maupun kuantitas tepung yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika proses penggilingan dilakukan secara tradisional yakni dengan cara membasahi beras sorgum dan menumbuknya, banyak biji yang hancur sehingga kualitasnya menurun, selain itu waktu prosesnya juga kurang efisien. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat digunakan alat atau mesin penyosoh yang dimana alat tersebut memiliki silinder batu gurinda dan alat penepung. Selain untuk efektivitas dan efisiensi, proses penyosohan ini juga dapat menghilangkan kandungan tannin yang menyebabkan rasa sepat. Namun, penggilingan sorgum dengan menggunakan alat penyosoh beras mengakibatkan masih banyak lembaga yang tertinggal pada endosperm. Hal ini ditandai oleh kandungan lemak dalam biji sorgum giling yang masih relatif tinggi yaitu sekitar 3,65%. Oleh karena itu dalam proses penggilingan harus diusahakan agar lemak dalam biji sorgum yang telah dikuliti menjadi rendah yaitu dibawah 1 % dengan demikian tepung sorgum yang dihasilkan akan lebih tahan lama.

Teknologi pengolahan produk setengah jadi dari sorgum yang diperlukan industry pengolahan lanjutan telah banyak dihasilkan. Teknologi ini mencakup teknik pembuatan beras sorgum, tepung, ekstrak pati. Pengolahan sorgum menjadi tepung lebih dianjurkan dibanding produk setengah jadi lainnya, karena tepung lebih tahan disimpan, mudah dicampur (komposit), dapat diperkaya dengan zat gizi (fortifikasi), dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis.

Kemajuan teknologi pengolahan bahan pangan yang didukung dengan tersedianya peralatan modern telah mendorong berkembangya industry makanan jadi selama dua decade terakhir ini. Pergeseran pola makan dan gaya hidup modern yang serba praktis serta keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan sehari-hari turut memacu berkembangnya industry pengolahan makanan jadi. Aneka produk makanan jadi yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat antara lain kue kering (cookies), kue basah (cake), roti tawar, mie kering, dan lain sebagainya. Mayoritas bahan yang digunakan dalam pembuatan produk tersebut adalah tepung terigu, namun walaupun demikian kita dapat mensubstitusinya dengan menggunakan tepung sorgum.

Hal lain yang harus diperhatikan selain pengolahan dan teknologi pengolahan adalah daya simpan sorgum. Penyimpanan sorgum dalam bentuk biji tidak dapat bertahan lama; hanya dalam waktu 2 bulan biji sudah terserang serangga Coleobrucbus calandra (nonci et al . 1999). Penyimpanan dalam bentuk tepung dapat bertahan diatas 6 bulan dalam kemasan plastik. Komposisi tepung yang disimpan juga tidak mengalami perubahan begitu pula kadar airnya masih dibawah 12%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penyimpanan dalam bentuk tepung lebih baik daripada bentuk biji dan penyimpanan terbaik adalah dalam kemasan kantong plastik.

Anonimus. 1990. Teknologi Budidaya Sorgum. Irian Jaya : Departemen Pertanian, Balai Informasi Pertanian.
Suarni. 2004. Pemanfaatan Tepung Sorgum untuk Produk Olahan. Makasar : Balai Penelitian Tanaman Serealia.

Nurhidayati Ningsih
Posted on 25th October, 2010

Nurhidayati Ningsih
IKM B 2008
100810347/41

“Pemanfaatan Sorgum sebagai Upaya Diversifikasi Pangan”

Masalah pangan di Indonesia tidak terlepas dari beras dan terigu, disamping bahan pangan lainnya seperti ubi kayu, jagung, dan sagu. Salah satu alternative pemecahan masalah kelangkaan bahan pangan baik terigu maupun beras adalah melalui substitusi dengan sorgum.

Sorgum (Sorghum bicolor) mempunyai potensi penting sebagai sumber karbohidrat bahan pangan, pakan dan komoditi ekspor. Namun potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena adanya berbagai hambatan baik dari segi pemahaman akan manfaat sorgum maupun dari segi penerapan teknologi pembudidayaannya. Keadaan tersebut tercermin dari rendahnya produksi sorgum di Indonesia secara nasional bila dibandingkan dengan produksi dari beberapa negara di Asia Tenggara, di Irian Jaya, sorgum bahkan baru ditaman di beberapa daerah dengan cara bercocok tanaman yang masih tradisional pula.

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan serealia sumber karbohidrat. Nilai gizi sorgum cukup memadai sebagai bahan pangan, yaitu mengandung sekitar 85% karbohidrat, 3,5% lemak, dan 10% protein (basis kering). Namun, pemanfaatannya sebagai bahan pangan di Indonesia masih sangat terbatas. Sorgum juga mengandung senyawa antinutrisi, terutama tannin yang menyebabkan rasa sepat sehingga kurang disukai konsumen. Namun hal ini dapat diatasi dengan menerapkan teknologi pengolahan yang tepat.
Ahza (1998) menyatakan bahwa biji sorgum dapat diolah menjadi tepung mapun beras dan bermanfaat sebagai bahan substitusi terigu. Volume impor terigu dan beras cukup besar dengan harga yang terus meningkat. Oleh karena itu pengembangan sorgum cukup prospektif dalam upaya menyediakan sumber karbohidrat lokal, baik sebagai bahan baku perusahaan roti, kue kering dan mie maupun digunakan sebagai substitusi beras. Hal ini didukung dengan harga tepung sorgum yang relative murah, umur tanaman pendek (100-110 hari), daya adaptasi terhadap lahan tinggi, tahan terhadap kekeringan dan genangan, produksi tinggi, lebih tahan terhadap hama dan penyakit jika dibanding dengan tanaman pangan lain, dan biaya produksi rendah karena memerlukan pupuk yang relative lebih sedikit (Wijaya1198). Mengingat potensi serta keistimewaannya itu, sorgum sebenarnya layak dikembangkan terutama untuk menunjang upaya-upaya pelestarian swasembada beras maupun terigu. Untuk itu diperlukan bimbingan serta penyuluhan tentang pemanfaatan serta teknologi budidayanya sehingga sorgum dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Meskipun beras telah menduduki posisi yang utama dalam swasembada karbohidrat, namun masalah pangan dan kebijaksanaan pangan perlu didukung oleh jenis komoditi nonberas lainnya. Salah satunya yaitu beras yang berasal dari sorgum. Beras Sorgum (beras sorgum giling) Beras Sorgum yang dimaksud adalah biji sorgum lepas kulit sebagai hasil penyosohan sehingga diperoleh beras sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan mesin yang terdiri dari silinder gurinda batu, sehingga beras yang dihasilkan putih bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi, bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape, Lemper, rengginang dan wajik.

Selain itu, penggunaan tepung sorgum sebagai campuran pada pembuatan makanan di Indonesia belum banyak dilakukan. Untuk meningkatkan penggunaan sorgum sebagai sumber pangan, perlu diketahui batas maksimal penambahan tepung sorgum ke dalam adonan, sehingga masih dapat menghasilkan produk olahan dengan kualitas yang baik (Mudjisihono 1994; Suarni dan Zakir 2000; Suarni dan Patong 2002.

Komposisi kimia dan zat gizi sorgum mirip dengan gandum dan serealia lain (Colas 1994). Rendahnya mutu tepung sorgum disebabkan oleh tingginya kadar protein prolamin sehingga nilai gizinya relative rendah (Suwelo 1998). Namun demikian, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa prolamin bersifat merugikan bila sorgum diolah dengan baik.
Kandungan nutrisi sorgum jika dibandingkan dengan terigu yakni kandungan lemak pada sorgum lebih tinggi jika dibandingkan pada terigu. Kandungan lemak pada sorgum berkisar 3,65% sedangkan pada terigu 2,09%. Lemak dalam biji sorgum sangat berguna bagi hewan dan manusia, akan tetapi dapat menyebabkan bau yang tidak enak dan tengik dalam produk bahan pangan. Serat kasar pada sorgum juga lebih tinggi jika dibanding dengan terigu yakni pada sorgum 2,74% sedangkan pada terigu 1,92%. Selain itu pati pada sorgum juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan pada terigu, yaitu 80,42% terkandung dalam sorgum, namun hanya 78,74% yang terkandung dalam terigu. Namun protein yang terkandung dalam sorgum masih lebih rendah jika dibandingkan dengan protein yang terkandung pada terigu, yaitu pada sorgum hanya berkisar 10,11% sedangkan pada terigu 14,45%. Hasil penelitian Dogget dan Gomes (1984) menunjukkan bahwa walaupun mutu protein sorgum tergolong rendah terutama lisin, tetapi kandungan leusin dan alanin relative tinggi. Selain itu, kandungan asam amino lainnya pada sorgum relative mendekati terigu, termasuk valin, serin, dan asam aspartat. Kandungan asam amino penyusun protein sangat menentukan nilai gizi bahan pangan (Winanrno 1986).

Pembuatan tepung hampir sama dengan pembuatan tepung beras, yaitu beras sorgum direndam dalam air agar cukup lunak, ditiriskan, digiling, diayak, kemudian dikeringkan. Dalam proses pembuatan tepung ini, dibutuhkan teknologi yang dapat menunjang kualitas maupun kuantitas tepung yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika proses penggilingan dilakukan secara tradisional yakni dengan cara membasahi beras sorgum dan menumbuknya, banyak biji yang hancur sehingga kualitasnya menurun, selain itu waktu prosesnya juga kurang efisien. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat digunakan alat atau mesin penyosoh yang dimana alat tersebut memiliki silinder batu gurinda dan alat penepung. Selain untuk efektivitas dan efisiensi, proses penyosohan ini juga dapat menghilangkan kandungan tannin yang menyebabkan rasa sepat. Namun, penggilingan sorgum dengan menggunakan alat penyosoh beras mengakibatkan masih banyak lembaga yang tertinggal pada endosperm. Hal ini ditandai oleh kandungan lemak dalam biji sorgum giling yang masih relatif tinggi yaitu sekitar 3,65%. Oleh karena itu dalam proses penggilingan harus diusahakan agar lemak dalam biji sorgum yang telah dikuliti menjadi rendah yaitu dibawah 1 % dengan demikian tepung sorgum yang dihasilkan akan lebih tahan lama.

Teknologi pengolahan produk setengah jadi dari sorgum yang diperlukan industry pengolahan lanjutan telah banyak dihasilkan. Teknologi ini mencakup teknik pembuatan beras sorgum, tepung, ekstrak pati. Pengolahan sorgum menjadi tepung lebih dianjurkan dibanding produk setengah jadi lainnya, karena tepung lebih tahan disimpan, mudah dicampur (komposit), dapat diperkaya dengan zat gizi (fortifikasi), dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis.

Kemajuan teknologi pengolahan bahan pangan yang didukung dengan tersedianya peralatan modern telah mendorong berkembangya industry makanan jadi selama dua decade terakhir ini. Pergeseran pola makan dan gaya hidup modern yang serba praktis serta keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan sehari-hari turut memacu berkembangnya industry pengolahan makanan jadi. Aneka produk makanan jadi yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat antara lain kue kering (cookies), kue basah (cake), roti tawar, mie kering, dan lain sebagainya. Mayoritas bahan yang digunakan dalam pembuatan produk tersebut adalah tepung terigu, namun walaupun demikian kita dapat mensubstitusinya dengan menggunakan tepung sorgum.

Hal lain yang harus diperhatikan selain pengolahan dan teknologi pengolahan adalah daya simpan sorgum. Penyimpanan sorgum dalam bentuk biji tidak dapat bertahan lama; hanya dalam waktu 2 bulan biji sudah terserang serangga Coleobrucbus calandra (nonci et al . 1999). Penyimpanan dalam bentuk tepung dapat bertahan diatas 6 bulan dalam kemasan plastik. Komposisi tepung yang disimpan juga tidak mengalami perubahan begitu pula kadar airnya masih dibawah 12%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penyimpanan dalam bentuk tepung lebih baik daripada bentuk biji dan penyimpanan terbaik adalah dalam kemasan kantong plastik.

Anonimus. 1990. Teknologi Budidaya Sorgum. Irian Jaya : Departemen Pertanian, Balai Informasi Pertanian.
Suarni. 2004. Pemanfaatan Tepung Sorgum untuk Produk Olahan. Makasar : Balai Penelitian Tanaman Serealia.

lydia p
Posted on 25th October, 2010

LYDIA P
100810379 / VB
IKM B 2008

PERAN DAN KONTRIBUSI TEKNOLOGI TERHADAP PENCAPAIAN SISTEM KETAHANAN PANGAN di MASYARAKAT

A. Teknologi dan Masyarakat (petani, peternak, pembudidaya ikan, dan nelayan)
Teknologi tidak dapat dipisahkan dari konteks masyarakat di mana teknologi tersebut dimanfaatkan. Tidak ada teknologi dalam sejarah dunia – dari penemuan api sampai domestikasi tumbuhan dan hewan, bioteknologi tradisional, Revolusi Industri dan Revolusi Hijau – terjadi di dalam ruang kosong. Oleh karena itu, ruang yang berbeda-beda di dalam masyarakat — baik itu ruang ekonomi, politik, sosial, budaya atau pun etika – semuanya dipengaruhi oleh penggunaan dan diadopsinya sebuah teknologi, dengan sifat dan kecepatan yang berbeda-beda. Teknologi hanya akan memberikan kontribusi jika ia digunakan dalam proses produksi barang/jasa untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia, termasuk dalam upaya penyediaan pangan yang cukup, bergizi, aman, dan sesuai selera konsumen serta terjangkau secara fisik dan ekonomi bagi setiap individu sehingga ketahanan pangan dapat dicapai. Untuk dapat digunakan, teknologi harus dikembangkan dengan mengenali terlebih dahulu pengguna potensialnya. Dalam konteks upaya pencapaian ketahanan pangan, terdapat pengguna primer dan pengguna sekunder, seperti :
1. pengguna primer teknologi tersebut adalah : petani, peternak, pembudidaya ikan, dan nelayan.
2. Pengguna sekundernya tersebut adalah : pengolah bahan pangan segar menjadi produk pangan olahan.
Kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi oleh para pengguna perlu dipahami secara komprehensif terlebih dahulu, agar solusi teknologi yang ditawarkan diminati oleh para pengguna dan harus setara dengan teknologi yang dikembangkan serta perlu dilihat dari kemampuan teknis, manajerial, finansial, dan sosiokultural agar proses dapat berlangsung sehingga untuk menghindari terjadinya tidak dapat digunakannya dalam proses produksi pangan sebagai akibat dari tidak padunya antara teknologi yang diintroduksikan dengan kebutuhan dan kapasitas pihak pengguna. Ketahanan pangan tercapai jika seluruh individu rakyat Indonesia mempunyai akses (secara fisik dan finansial) untuk mendapatkan pangan agar dapat hidup sehat dan produktif. Jika konsisten dengan ini, maka pembangunan pertanian/pangan harus lebih berorientasi pada upaya pemenuhan permintaan pasar domestik. Kemandirian dalam pemenuhan pangan domestik merupakan modal dasar dalam menangkal dampak krisis global.
Faktor penyebab kegagalan dalam introduksi teknologi pertanian/pangan yang paling umum adalah bukan karena kendala teknis, tetapi sering disebabkan karena biaya operasionalnya yang tinggi sehingga tidak menguntungkan bagi petani. Harga komoditas pangan yang rendah menjadi tantangan berat bagi para pengembang teknologi untuk menghasilkan teknologi yang sesuai bagi petani atau pengguna primer teknologi pertanian/pangan lainnya. Tantangannya adalah menciptakan teknologi yang lebih efisien, tidak menyebabkan ongkos produksi lebih mahal dibandingkan dengan cara-cara tradisional yang telah diterapkan, dan menjamin peningkatan keuntungan bagi pengguna primer yang menggunakannya tanpa ada dampak social-ekonomi dari penggunaan alat teknologi tersebut.
Kontribusi teknologi harus di sesuaikan dengan :
a. Teknologi sesuai kebutuhan pengguna tidak bertolak belakang dengan teknologi maju dan tidak pula identik 100% dengan teknologi sederhana.
b. Teknologi sesuai-pengguna bersifat dinamis, mengikuti dinamika perkembangan kapasitas cara penggunanya. Jika saat ini yang dibutuhkan adalah teknologi sederhana, maka mungkin saja dalam waktu mendatang berubah menjadi teknologi yang lebih maju.
c. Produk teknologi maju di bidang pangan belum tentu lebih baik bagi pengguna primer, selain biaya operasionalnya kemungkinan akan lebih tinggi, juga dapat pula menyebabkan ketergantungan yang lebih tinggi. Misalnya, padi hibrida mungkin mempunyai potensi hasil yang tinggi tetapi menyebabkan petani tergantung pada benih yang hanya dapat diproduksi oleh industri benih.
B. ReorientasiI Teknologi Sistem Inovasi Nasional
Masalah fundamental yang berkaitan dengan ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna teknologi (petani dan industri pengolahan pangan) perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum langkah-langkah lain diambil, karena solusi yang tepat untuk masalah ini merupakan ‘faktor kunci keberhasilan’ pengembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) . Secara akademik, ada dua alternatif yang bisa ditempuh, yakni dengan pendekatan ‘supply-push’ (mengembangkan teknologi terlebih dahulu, baru kemudian menawarkannya kepada pengguna) atau ‘demand-driven’ (memahami terlebih dahulu kebutuhan pengguna, baru kemudian mengembangkan teknologi yang sesuai).
Pendekatan supply-push yang selama ini secara dominan dilakukan, secara faktual terbukti tidak mampu mengalirkan teknologi yang dikembangkan tersebut, sehingga SINas menjadi mandul dan teknologi tidak mampu memberikan kontribusi yang berarti terhadap pembangunan nasional. Fakta ini menuntut perlunya dilakukan reorientasi pendekatan, yakni menggeser pendekatan dari yang lebih dominan supply-push, menjadi lebih dominan demand-driven.
Di sesuaikan dengan keadaan sekarang saat ini kegiatan para periset dan akademisi lebih banyak bersifat curiousity-driven research (CdR) dibandingkan dengan goal-oriented research (GoR). Banyak riset yang dilakukan hanya pada tataran untuk memuaskan rasa keingin-tahuan dan belum secara cermat dirancang untuk menghasilkan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan nasional, termasuk persoalan di bidang pangan. Sepatutnya riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan tak harus secara dikotomis dipisahkan dengan riset untuk menyediakan solusi bagi persoalan nyata. Sehinnga di butuhkan pendekatan demand-driven membutuhkan perubahan mendasar dalam prilaku kerja para akademisi dan periset, termasuk :
1. reposisi akademisi dan periset yang selama ini mengambil peran sebagai penentu arah SINas, menjadi pemasok teknologi yang dibutuhkan pengguna.
2. menggeser prioritas dari CdR menjadi GoR.
3. pengguna teknologi perlu diposisikan sebagai penjuru dalam pengembangan SINas.
Pilihan kebijakan yang paling ideal adalah menumbuhkan hubungan mutualistik pengembangpengguna teknologi yang didukung oleh regulasi untuk menjamin lingkungan tumbuh-kembang SINas yang kondusif dan dukungan lembaga intermediasi secara profesional dan proporsional. Ada tiga aktor utama yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi ini yaitu : pengembang teknologi (periset dan akademisi - A), pengguna teknologi (petani dan industri pangan - B) yang sekaligus sebagai pelaku produksi pangan segar dan olahan, dan pemerintahan (government - G) yang melakukan fasilitasi dan regulasi agar hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat lebih intensif dan bersifat mutualistik. Dinamika interaksi dan ko-evolusi antara tiga aktor utama ini merupakan dasar dari konsepsi ‘Triple Helix A-B-G’.
C. Agenda Riset Nasional
Dewan Riset Nasional (DRN) sedang menyusun Agenda Riset Nasional (ARN) untuk periode 2010 - 2014, termasuk riset di bidang pangan. Pendekatan yang dilakukan dalam menyusun ARN adalah dengan terlebih dahulu mengidentifikasi isu-isu pokok untuk masing-masing bidang fokus. Isu pokok di bidang pangan yang membutuhkan riset sebagai upaya menemukan solusinya adalah:
1) perubahan iklim
2) konversi lahan pertanian
3) mahalnya harga dan kelangkaan pupuk
4) mahalnya pakan ternak dan ikan, serta ketergantungan bahan baku pada impor.
5) keterbatasan kemampuan pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan, keamanan pangan.
6) kehilangan hasil saat panen dan pascapanen masih tinggi.
7) ketergantungan pada beras sebagai bahan pangan pokok.
8) ketergantungan bahan baku industri pangan pada impor.
9) kesulitan dan mahalnya ongkos angkut.
Iklim riset yang ingin dibangun melalui ARN adalah mendorong agar kegiatan GoR menjadi arus utama riset nasional, sehingga diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.dephut.go.id/files/RISTEK_HPS.pdf ( Tanggal 23 oktober 2010)
http://www.beritabumi.or.id/…/Dampak%20Potensial%20Transgenik%20terhadap%20Sosial-Ekonomi.pdf ( Tanggal 23 oktober 2010 )

Fauzi Dharma P
Posted on 26th October, 2010

FAUZI DHARMA PUTRA
100810442
IKM B 08 / NO ABSEN 81

PERMASALAHAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA

Dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah ketahanan pangan menjadi isu penting di Indonesia, dan dalam setahun belakangan ini dunia juga mulai dilanda oleh krisis pangan. Inti dari masalah krisis pangan global saat ini memang karena terjadinya kelebihan permintaan, sementara itu pada waktu yang bersamaan, suplai di pasar dunia sangat terbatas atau cenderung menurun terus.
Tentu krisis pangan global tidak lain tidak bukan adalah gabungan dari krisis pangan dari sejumlah negara. Memang sangat ironis melihat kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara besar agraris mengalami masalah ketahanan pangan.
Ketahanan pangan sangat ditentukan oleh sejumlah faktor berikut:
a) Lahan
Keterbatasan lahan pertanian memang sudah merupakan salah satu persoalan serius dalam kaitannya dengan ketahanan pangan di Indonesia selama ini. pPencetakan sawah baru menemui banyak kendala, termasuk biayanya yang mahal, sehingga tambahan lahan pertanian setiap tahun tidak signifikan ketimbang luas areal yang terkonversi untuk keperluan non-pertanian. Ironisnya, laju konversi lahan pertanian tidak bisa dikurangi, bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan pesatnya urbanisasi. Ironisnya lagi, konversi lahan sawah ke non-sawah justru banyak terjadi di wilayah-wilayah yang sentra- sentra produksi pangan, seperti di Jawa Barat. Lahan pertanian yang semakin terbatas juga akan menaikan harga jual atau sewa lahan, sehingga hanya sedikit petani yang mampu membeli atau menyewanya, dan akibatnya, kepincangan dalam distribusi lahan tambah besar.
b) Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur pertanian menjadi syarat penting guna mendukung pertanian yang maju. Irigasi (termasuk waduk sebagai sumber air) merupakan bagian terpenting dari infrastruktur pertanian. Yang menjadi masalah adalah luas lahan irigasi teknis di Indonesia tidak merata selain itu juga kerusakan lahan irigasi dimana penyebab utama kerusakan tersebut terutama karena kurangnya perawatan dan adanya bencana banjir dan tanah longsor
c) Teknologi dan Sumber Daya Manusia
Teknologi dan sumber daya manusia (SDM), bukan hanya jumlah tetapi juga kualitas, sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan. Bahkan dapat dipastikan bahwa pemakaian teknologi dan input-input modern tidak akan menghasilkan output yang optimal apabila kualitas petani dalam arti pengetahuan atau wawasannya mengenai teknologi pertanian, pemasaran, standar kualitas, dll. rendah. Lagipula, teknologi dan SDM adalah dua faktor produksi yang sifatnya komplementer, dan ini berlaku di semua sektor, termasuk pertanian.
Ada sejumlah indikator untuk mengukur tingkat penguasaan teknologi oleh petani. Salah satunya adalah pemakaian traktor. Namun demikian, pemakaian input ini per hektarnya di Indonesia tetap kecil dibandingkan di negara-negara Asia lainnya tersebut. Hal ini bisa memberi kesan bahwa tingkat mekanisasi dari pertanian Indonesia masih relatif rendah. Pemerintah sangat menyadari bahwa salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah lewat peningkatan mekanisasi dalam proses produksi dan salah satunya dengan menggantikan tenaga binatang dengan traktor
d) Energi
Energi sangat penting untuk kegiatan pertanian lewat dua jalur, yakni langsung dan tidak langsung. Jalur langsung adalah energi seperti listrik atau BBM yang digunakan oleh petani dalam kegiatan bertaninya, misalnya dalam menggunakan traktor. Sedangkan tidak langsung adalah energi yang digunakan oleh pabrik pupuk dan pabrik yang membuat input-input lainnya dan alat-alat transportasi dan komunikasi. Yang sering diberitakan di media masa mengenai pasokan energi yang tidak cukup atau terganggu yang mengakibatkan kerugian bagi petani sejak reformasi adalah, misalnya, gangguan pasokan gas ke pabrik-pabrik pupuk, atau harga gas naik yang pada akhirnya membuat harga jual pupuk juga naik. Selain itu, kenaikan harga BBM selama sejak dimulainya era reformasi membuat biaya transportasi naik yang tentu sangat memukul petani, yang tercerminkan dalam menurunnya nilai tukar petani
e) Dana
Penyebab lainnya yang membuat rapuhnya ketahanan pangan di Indonesia adalah keterbatasan dana. Diantara sektor-sektor ekonomi, pertanian yang selalu paling sedikit mendapat kredit dari perbankan (dan juga dana investasi) di Indonesia.
f) Lingkungan Fisik/Iklim
Tidak diragukan bahwa pemanasan global turut berperan dalam menyebabkan krisis pangan, termasuk di Indonesia. Pertanian, terutama pertanian pangan, merupakan sektor yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, mengingat pertanian pangan di Indonesia masih sangat mengandalkan pada pertanian sawah yang berarti sangat memerlukan air yang tidak sedikit. Dampak langsung dari pemanasan global terhadap pertanian di Indonesia adalah penurunan produktivitas dan tingkat produksi sebagai akibat terganggunya siklus air karena perubahan pola hujan dan meningkatnya frekuensi anomali cuaca ekstrim yang mengakibatkan pergeseran waktu, musim, dan pola tanam
g) Relasi Kerja
Relasi kerja akan menentukan proporsi nisbah ekonomi yang akan dibagi kepada para pelaku ekonomi di pedesaan. Dalam kata lain, pola relasi kerja. yang ada di sektor pertanian akan sangat menentukan apakah petani akan menikmati hasil pertaniannya atau tidak. Untuk mengidentifikasi bagaimana pola relasi kerja yang berlaku selama ini di Indonesia bisa dilakukan dengan memakai beberapa indikator, diantaranya nilai tukar petani. Kesejahteraan petani akan meningkat apabila selisih antara hasil penjualannya dan biaya produksinya bertambah besar, atau nilai tambahnya meningkat. Jadi besar kecilnya nilai tambah petani ditentukan oleh besar kecilnya NTP
h) Ketersedian Input Lainnya
Terutama keterbatasan pupuk dan harganya yang meningkat terus merupakan hambatan serius bagi pertumbuhan pertanian di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dilihat dari ketersediaan input lainnya. Walaupun niatnya jelas, namun dalam implementasi di lapangan, pemerintah selama ini kelihatan kurang konsisten dalam usahanya memenuhi pupuk bersubsidi untuk petani agar ketahanan pangan tidak terganggu. Tanpa ketersediaan sarana produksi pertanian, termasuk pupuk dalam jumlah memadai dan dengan kualitas baik dan relatif murah, sulit diharapkan petani, yang pada umumnya miskin, akan mampu meningkatkan produksi komoditas pertanian.
Di atas telah dibahas bahwa faktor-faktor utama yang mempengaruhi kemampuan Indonesia dalam ketahanan pangan. Maka jelas fokus dari solusi haruslah pada aspek-aspek tersebut, dengan langkah-langkah yang konkrit, diantaranya:
1) Lahan: Proses sertifikasi lahan pertanian harus dipercepat atau dipermudah; rencana tata ruang harus melindungi lahan pertanian yang produktif dan subur; dan pembelian lahan petani secara ”paksa” atau untuk tujuan-tujuan yang sebenarnya tidak terlalu perlu (seperti lapangan golf, apartemen mahal, pertokoan mewah) harus dihentikan.
2) Infrastruktur: pembangunan infrastruktur di pedesaan diseluruh pelosok tanah air harus lebih digiatkan, terutama di daerah-daerah sentra pertanian, termasuk irigasi dan waduk ditambah dan yang rusak segera diperbaiki.
3) Teknologi dan SDM: petani harus diberdayakan lewat pelatihan, penyuluhan, dan bantuan teknis secara intensif. Disini, peran perguruan tinggi dan lembaga litbang (R&D) setempat sangat krusial.
4) Energi: dalam melaksanakan kebijakan kenaikan harga energi/pemotongan subsidi energi akibat harga BBM yang terus naik, subsidi energi terhadap petani dan sektor-sektor yang mendukung pertanian seperti pabrik pupuk dan transportasi harus dipertahankan atau diadakan. Ini bisa dalam bentuk antara lain harga energi yang murah bagi petani atau dana khusus yang diberikan langsung ke petani.
5) Dana: perbankan perlu diberikan semacam insentif untuk memperluas akses petani ke kredit perbankan, atau dengan cara pengadaan dana khusus.
6) Lingkungan fisik/iklim: usaha-usaha mengurangi pemanasan global harus sudah merupakan salah satu prioritas pembangunan jangka panjang ekonomi pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya. Disini termasuk penggundulan hutan, pencemaran air sungai dan laut, pembangunan perumahan di tanah-tanah resapan air harus dihentikan.
7) Relasi kerja: kebijakan penetapan harga pertanian, sistem perpajakan, dan lainnya harus menciptakan fair market yang juga menguntungkan petani
8) Ketersediaan input lainnya: kelangkahan pupuk yang disebabkan oleh praktek-praketk penimbunan atau kemacetan produksi harus dicegah untuk tidak terulang lagi.

Daftar Pustaka
http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-2918-10062008.pdf
Yustika, Ahmad Erani (2008), “Masalah Ketahanan Pangan”, Kompas

Daftar Pustaka
http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-2918-10062008.pdf
Yustika, Ahmad Erani (2008), “Masalah Ketahanan Pangan”, Kompas

unduh file lengkap disini
http://www.mediafire.com/?h031ljlrp92cyol

Fauzi Dharma Putra
Posted on 26th October, 2010

FAUZI DHARMA PUTRA
100810442
IKM B 08 / ABSEN 81

PERMASALAHAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA

Dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah ketahanan pangan menjadi isu penting di Indonesia, dan dalam setahun belakangan ini dunia juga mulai dilanda oleh krisis pangan. Inti dari masalah krisis pangan global saat ini memang karena terjadinya kelebihan permintaan, sementara itu pada waktu yang bersamaan, suplai di pasar dunia sangat terbatas atau cenderung menurun terus.
Tentu krisis pangan global tidak lain tidak bukan adalah gabungan dari krisis pangan dari sejumlah negara. Memang sangat ironis melihat kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara besar agraris mengalami masalah ketahanan pangan.
Ketahanan pangan sangat ditentukan oleh sejumlah faktor berikut:
a) Lahan
Keterbatasan lahan pertanian memang sudah merupakan salah satu persoalan serius dalam kaitannya dengan ketahanan pangan di Indonesia selama ini. pPencetakan sawah baru menemui banyak kendala, termasuk biayanya yang mahal, sehingga tambahan lahan pertanian setiap tahun tidak signifikan ketimbang luas areal yang terkonversi untuk keperluan non-pertanian. Ironisnya, laju konversi lahan pertanian tidak bisa dikurangi, bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan pesatnya urbanisasi. Ironisnya lagi, konversi lahan sawah ke non-sawah justru banyak terjadi di wilayah-wilayah yang sentra- sentra produksi pangan, seperti di Jawa Barat. Lahan pertanian yang semakin terbatas juga akan menaikan harga jual atau sewa lahan, sehingga hanya sedikit petani yang mampu membeli atau menyewanya, dan akibatnya, kepincangan dalam distribusi lahan tambah besar.
b) Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur pertanian menjadi syarat penting guna mendukung pertanian yang maju. Irigasi (termasuk waduk sebagai sumber air) merupakan bagian terpenting dari infrastruktur pertanian. Yang menjadi masalah adalah luas lahan irigasi teknis di Indonesia tidak merata selain itu juga kerusakan lahan irigasi dimana penyebab utama kerusakan tersebut terutama karena kurangnya perawatan dan adanya bencana banjir dan tanah longsor
c) Teknologi dan Sumber Daya Manusia
Teknologi dan sumber daya manusia (SDM), bukan hanya jumlah tetapi juga kualitas, sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan. Bahkan dapat dipastikan bahwa pemakaian teknologi dan input-input modern tidak akan menghasilkan output yang optimal apabila kualitas petani dalam arti pengetahuan atau wawasannya mengenai teknologi pertanian, pemasaran, standar kualitas, dll. rendah. Lagipula, teknologi dan SDM adalah dua faktor produksi yang sifatnya komplementer, dan ini berlaku di semua sektor, termasuk pertanian.
Ada sejumlah indikator untuk mengukur tingkat penguasaan teknologi oleh petani. Salah satunya adalah pemakaian traktor. Namun demikian, pemakaian input ini per hektarnya di Indonesia tetap kecil dibandingkan di negara-negara Asia lainnya tersebut. Hal ini bisa memberi kesan bahwa tingkat mekanisasi dari pertanian Indonesia masih relatif rendah. Pemerintah sangat menyadari bahwa salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah lewat peningkatan mekanisasi dalam proses produksi dan salah satunya dengan menggantikan tenaga binatang dengan traktor
d) Energi
Energi sangat penting untuk kegiatan pertanian lewat dua jalur, yakni langsung dan tidak langsung. Jalur langsung adalah energi seperti listrik atau BBM yang digunakan oleh petani dalam kegiatan bertaninya, misalnya dalam menggunakan traktor. Sedangkan tidak langsung adalah energi yang digunakan oleh pabrik pupuk dan pabrik yang membuat input-input lainnya dan alat-alat transportasi dan komunikasi. Yang sering diberitakan di media masa mengenai pasokan energi yang tidak cukup atau terganggu yang mengakibatkan kerugian bagi petani sejak reformasi adalah, misalnya, gangguan pasokan gas ke pabrik-pabrik pupuk, atau harga gas naik yang pada akhirnya membuat harga jual pupuk juga naik. Selain itu, kenaikan harga BBM selama sejak dimulainya era reformasi membuat biaya transportasi naik yang tentu sangat memukul petani, yang tercerminkan dalam menurunnya nilai tukar petani
e) Dana
Penyebab lainnya yang membuat rapuhnya ketahanan pangan di Indonesia adalah keterbatasan dana. Diantara sektor-sektor ekonomi, pertanian yang selalu paling sedikit mendapat kredit dari perbankan (dan juga dana investasi) di Indonesia.
f) Lingkungan Fisik/Iklim
Tidak diragukan bahwa pemanasan global turut berperan dalam menyebabkan krisis pangan, termasuk di Indonesia. Pertanian, terutama pertanian pangan, merupakan sektor yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, mengingat pertanian pangan di Indonesia masih sangat mengandalkan pada pertanian sawah yang berarti sangat memerlukan air yang tidak sedikit. Dampak langsung dari pemanasan global terhadap pertanian di Indonesia adalah penurunan produktivitas dan tingkat produksi sebagai akibat terganggunya siklus air karena perubahan pola hujan dan meningkatnya frekuensi anomali cuaca ekstrim yang mengakibatkan pergeseran waktu, musim, dan pola tanam
g) Relasi Kerja
Relasi kerja akan menentukan proporsi nisbah ekonomi yang akan dibagi kepada para pelaku ekonomi di pedesaan. Dalam kata lain, pola relasi kerja. yang ada di sektor pertanian akan sangat menentukan apakah petani akan menikmati hasil pertaniannya atau tidak. Untuk mengidentifikasi bagaimana pola relasi kerja yang berlaku selama ini di Indonesia bisa dilakukan dengan memakai beberapa indikator, diantaranya nilai tukar petani. Kesejahteraan petani akan meningkat apabila selisih antara hasil penjualannya dan biaya produksinya bertambah besar, atau nilai tambahnya meningkat. Jadi besar kecilnya nilai tambah petani ditentukan oleh besar kecilnya NTP
h) Ketersedian Input Lainnya
Terutama keterbatasan pupuk dan harganya yang meningkat terus merupakan hambatan serius bagi pertumbuhan pertanian di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dilihat dari ketersediaan input lainnya. Walaupun niatnya jelas, namun dalam implementasi di lapangan, pemerintah selama ini kelihatan kurang konsisten dalam usahanya memenuhi pupuk bersubsidi untuk petani agar ketahanan pangan tidak terganggu. Tanpa ketersediaan sarana produksi pertanian, termasuk pupuk dalam jumlah memadai dan dengan kualitas baik dan relatif murah, sulit diharapkan petani, yang pada umumnya miskin, akan mampu meningkatkan produksi komoditas pertanian.
Di atas telah dibahas bahwa faktor-faktor utama yang mempengaruhi kemampuan Indonesia dalam ketahanan pangan. Maka jelas fokus dari solusi haruslah pada aspek-aspek tersebut, dengan langkah-langkah yang konkrit, diantaranya:
1) Lahan: Proses sertifikasi lahan pertanian harus dipercepat atau dipermudah; rencana tata ruang harus melindungi lahan pertanian yang produktif dan subur; dan pembelian lahan petani secara ”paksa” atau untuk tujuan-tujuan yang sebenarnya tidak terlalu perlu (seperti lapangan golf, apartemen mahal, pertokoan mewah) harus dihentikan.
2) Infrastruktur: pembangunan infrastruktur di pedesaan diseluruh pelosok tanah air harus lebih digiatkan, terutama di daerah-daerah sentra pertanian, termasuk irigasi dan waduk ditambah dan yang rusak segera diperbaiki.
3) Teknologi dan SDM: petani harus diberdayakan lewat pelatihan, penyuluhan, dan bantuan teknis secara intensif. Disini, peran perguruan tinggi dan lembaga litbang (R&D) setempat sangat krusial.
4) Energi: dalam melaksanakan kebijakan kenaikan harga energi/pemotongan subsidi energi akibat harga BBM yang terus naik, subsidi energi terhadap petani dan sektor-sektor yang mendukung pertanian seperti pabrik pupuk dan transportasi harus dipertahankan atau diadakan. Ini bisa dalam bentuk antara lain harga energi yang murah bagi petani atau dana khusus yang diberikan langsung ke petani.
5) Dana: perbankan perlu diberikan semacam insentif untuk memperluas akses petani ke kredit perbankan, atau dengan cara pengadaan dana khusus.
6) Lingkungan fisik/iklim: usaha-usaha mengurangi pemanasan global harus sudah merupakan salah satu prioritas pembangunan jangka panjang ekonomi pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya. Disini termasuk penggundulan hutan, pencemaran air sungai dan laut, pembangunan perumahan di tanah-tanah resapan air harus dihentikan.
7) Relasi kerja: kebijakan penetapan harga pertanian, sistem perpajakan, dan lainnya harus menciptakan fair market yang juga menguntungkan petani
8) Ketersediaan input lainnya: kelangkahan pupuk yang disebabkan oleh praktek-praketk penimbunan atau kemacetan produksi harus dicegah untuk tidak terulang lagi.

Daftar Pustaka
http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-2918-10062008.pdf
Yustika, Ahmad Erani (2008), “Masalah Ketahanan Pangan”, Kompas

unduh file tugas disini :
http://www.mediafire.com/?h031ljlrp92cyol

Paramita Candra Dewi
Posted on 26th October, 2010

PARAMITA CANDRA DEWI
100810373
SMT VB / 59

RAWAN PANGAN DAN KEBIJAKAN IMPORT BAHAN PANGAN
DI NEGARA INDONESIA

“Bahaya kelaparan?…
Di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, bahaya kelaparan? Ya, saudara pembaca. Beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan,…ibu-ibu menjual anak-anak untuk makan,…ibu-ibu memakan anaknya sendiri”
(Multatuli, Max Havelaar, 1972 (asli 1860): 64)

Pernah membaca tulisan itu sebelumnya? Atau baru kali ini saja? Sebenarnya tulisan itu bisa menjadi cambuk bagi kita semua. Katanya Negara agraris? Akan tetapi masih mengimport beras. Katanya Negara yang subur? Bahkan tongkat dan kayu-pun jadi tanaman. Akan tetapi, sekali lagi hal itu tidak sesuai dengan realita yang ada. Realita yang ada di masyarakat adalah bahwa banyak daerah-daerah dimana warganya sulit sekali mendapatkan beras. Untuk beras saja susah apalagi untuk lauk pauk. Selain sulit didapat, mereka juga mengeluhkan harga beras yang melambung tinggi sehingga banyak sekali diatara mereka yang harus puas dengan memakan ubi saja. Ironis memang. Tapi seperti inilah keadaan yang ada di Negara kita yang tercinta ini.

Padahal kondisi agroekologis Nusantara cocok untuk budi daya hampir semua bahan pangan tersebut. Buktinya kita pernah mengukir prestasi monumental yang diakui dunia (FAO), swasembada beras pada 1984, yang sebelumnya sebagai pengimpor beras nomor pertama di dunia. Sebelum keporak-porandaan struktur yang ada, kita pun mampu berswasembada gula, jagung, dan kedelai.

Krisis ketahanan pangan diprediksi oleh pemerintah bakal terjadi tahun 2017. Namun sebenarnya sudah mulai mengancam bangsa yang dulu dikenal berhasil melakukan swasembada. Terutama untuk beberapa komoditi penting seperti beras, gula, kedelai dan jagung. Kelangkaan kedelai pada awal 2008, impor beras dan gula serta komoditi pangan lainnya, melonjaknya harga daging yang diikuti lenyapnya daging sapi pada bulan Februari 2008 merupakan pertanda bahwa Indonesia belum berdaulat di bidang pangan. Faktor penyebabnya sangat kompleks. Namun, bila ditarik benang merah, hampir bisa dipastikan bahwa pangkal persoalan adalah kurangnya perhatian pemerintah pusat maupun daerah terhadap sektor pertanian.

Secara gamblang, berdasarkan sumber yang didapat, krisis pangan bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu :
• Pertambahan penduduk
• Kerusakan lingkungan
• Konversi lahan dan Penurunan kualitas lahan pertanian
• Tingginya harga bahan bakar fosil (Transportasi & Perdagangan Gandum Antar Negara melalui 3885 Km atau mendekati 4 kali panjang Pulau Jawa)
• Perubahan pola konsumsi
• Pemanasan global dan Perubahan iklim
• Kebijakan lembaga keuangan internasional dan negara maju.

Dengan adanya krisis pangan yang terjadi di Indonesia, pemerintah sebenarnya telah mengambil berbagai kebijakan terkait untuk menangani krisis pangan yang mulai terjadi di Indonesia. Ada yang baik, dan ada pula yang justru seperti menambah masalah di atas masalah. Yaitu kebijakan untuk mengimport beras. Para pemburu keuntungan selama ini kecanduan mengimpor aneka bahan pangan, mulai dari beras, gula, daging, sampai buah-buahan. Mereka beralasan bahwa bahan-bahan pangan dari luar lebih berkualitas, lebih bagus. Padahal impor bahan pangan dapat menyengsarakan para petani. Meningkatkan pengangguran, menghamburkan devisa, dan membunuh sektor pertanian yang mestinya menjadi keunggulan kompetitif bangsa. Indonesia mengimpor sekitar 2,5 juta ton beras/tahun (terbesar di dunia); 2 juta ton gula /tahun (terbesar kedua); 1,2 juta ton kedelai/tahun; 1,3 juta ton jagung/tahun; 5 juta ton gandum/tahun; dan 550.000 ekor sapi/tahun. Dengan kenyataan seperti ini sudah seharusnya kan kalau kita bias memenuhi pasokan beras dari dalam negeri sendiri tanpa harus import dari luar.

Saai ini, kemampuan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri, relatif telah dan sedang menurun dengan sangat besar. Indonesia berada dalam keadaan “Rawan Pangan” bukan karena tidak adanya pangan, tetapi karena pangan untuk rakyat Indonesia sudah tergantung dari Supply Luar Negeri, dan ketergantungannya semakin besar. Pasar pangan amat besar yang kita miliki diincar oleh produsen pangan luar negri yang tidak menginginkan Indonesia memiliki kemandirian di bidang pangan.

Padahal berdasarkan hasil dari penelitian FAO (2000) mengatakan bahwa suatu negara-bangsa dengan jumlah penduduk lebih dari 100 juta orang, tidak mungkin atau sulit untuk menjadi maju dan makmur, bila kebutuhan pangannya bergantung pada impor. Dan, sebagai salah satu bukti nyatanya adalah ambruknya bekas negara adidaya Uni Soviet yang ditengarai karena pemenuhan kebutuhan pangannya bergantung pada pasokan dari negara-negara NATO. Negara yang bergabtung pada pasokan beras/bahan pangan dari luar, tidak akan menjadi suatu Negara yang mandiri. Sehingga bila suatu saat import dari luar dihentikan, semisal akibat adanya hubungan yang tidak baik dengan Negara pengimport, maka kita akan mati, tidak berdaya.

Saya jadi berpikir juga, bahwa sebenarnya apa alasan pemerintah untuk mengimport bahan pangan? Setelah saya cari-cari, akhirnya bisa disimpulkan bahwa kebijakan import pangan disebabkan oleh :
• Kebutuhan dalam negeri yang amat besar
• Harga di pasar international yang rendah
• Produksi dalam negeri yang tidak mencukupi,
• Adanya bantuan kredit impor dari negara Eksportir.

Sejak satu dasawarsa terakhir ini pembangunan sektor pertanian macet. Terutama sejak ditandatanganinya letter of intent antara IMF dengan pemerintah dimana di dalamnya meniadakan proteksi terhadap sektor pertanian. Keterpurukan industri pertanian semakin kukuh dengan perubahan status Indonesia dari eksportir bahan pangan menjadi net importir untuk segala jenis bahan makanan. Sebagai gambaran, impor beras tahun 2007 lalu mencapai 1,5 juta ton dan impor kedelai rata-rata 1 juta ton. Terhadap gejolak pasar keuangan di Indonesia, Presiden melihatnya sebagai bagian dari gejala global. Dampak kenaikan harga pangan dunia tidak akan membuat kondisi pangan di Indonesia parah seperti saat ini apabila pemerintah menyiapkan solusi sejak awal. Solusi yang dimaksud dapat berupa produksi komoditas pangan yang memadai, stok pangan cukup untuk pengamanan dan stabilisasi harga, serta jaringan distribusi kuat. Jika salah satu dari ketiga komponen itu tidak memadai, dampak lonjakan harga pangan dunia lebih parah. Indonesia seharusnya tidak menghadapi dampak yang serius karena memiliki potensi besar dalam produksi pangan. Namun, sayangnya hal itu belum dilakukan sungguh-sungguh. Negara lain lebih siap menghadapi kenaikan harga pangan dibandingkan dengan Indonesia. China, misalnya, sejak awal mengamankan stok pangan nasionalnya. Sehingga bisa berkompetisi dengan kenaikan harga dunia.

Dapat kita ambil contoh adalah membanjirnya jeruk jenis tertentu di pasaran dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah dibanding produk lokal merupakan kenyataan. Mengapa terjadi? Penyebab utamanya adalah biaya transportasi. Sebagai contoh, biaya transportasi dari Medan ke Jakarta lebih mahal dibanding Bangkok-Jakarta akibat tingginya pungutan liar dan infrastruktur yang kurang menunjang, serta belum adanya insentif transportasi produk pertanian.

Departemen Pertanian selaku instansi terkait dengan produksi padi menyatakan produksi nasional dalam keadaan surplus namun disisi lain dalam 10 tahun terakhir impor beras jalan terus.

Secara terinci, berdasarkan sumber yang didapat, untuk mengatasi permasalahan pangan di Indonesia dapat dilakukan dengan cara :

1. Pengamanan ketersediaan pangan dari produksi dalam negeri, antara lain melalui pengamanan lahan sawah di daerah irigasi, peningkatan mutu intensifikasi, serta optimalisasi dan perluasan areal pertanian
2. Peningkatan distribusi pangan, melalui penguatan kapasitas kelembagaan pangan dan peningkatan infrastruktur perdesaan yang mendukung sistem distribusi pangan, untuk menjamin keterjangkauan masyarakat atas pangan
3. Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil, melalui optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian untuk pasca panen dan pengolahan hasil, serta pengembangan dan pemanfaatan teknologi pertanian untuk menurunkan kehilangan hasil
4. Diversifikasi pangan, melalui peningkatan ketersediaan pangan hewani, buah dan sayuran, perekayasaan sosial terhadap pola konsumsi masyarakat menuju pola pangan dengan mutu yang semakin meningkat, dan peningkatan minat dan kemudahan konsumsi pangan alternatif/pangan lokal
5. Pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, melalui peningkatan bantuan pangan kepada keluarga miskin/rawan pangan, peningkatan pengawasan mutu dan kemanan pangan, dan pengembangan sistem antisipasi dini terhadap kerawanan pangan.

Kebijakan inilah yang harus tetap dipertahankan dan dikembangkan oleh pemerintah. Berdayakanlah petani! Toh kualitas kita juga tidak begitu kalah dengan yang dari luar. Bantu para petani melalui koperasi unit desa tau dengan memberi pinjaman. Sebab, petani yang ada di Indonesia cenderung berada di bawah garis kemiskinan. Sekitar 70% dari total penduduk di pedesaan yang berjumlah 21.141. 273 rumah tangga hidup dari pertanian. Sebagian besar adalah petani pangan berupa padi dan holtikultura. Sebagian lain di perkebunan, peternakan, hasil hutan dan perikanan. Setengah dari petani itu, 50% adalah petani yang memiliki lahan yang sempit, kurang dari 0,5 ha bahkan tuna kisma, sehingga sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan buruh perkebunan.

http://www.kapanlagi.com/h/old/0000155284.html
http://adie-wongindonesia.blogspot.com/2010/02/dampak-krisis-pangan-bagi-indonesia.html

DWI ASTIKA ARNINDYA
Posted on 26th October, 2010

NAMA : DWI ASTIKA ARNINDYA
NIM : 100810076 (IKM A 2008)

JAMUR SEBAGAI PANGAN ALTERNATIF PENGGANTI DAGING SAPI

Jamur adalah kelompok besar jasad hidup yang termasuk ke dalam dunia tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai pigmen hijau daun (klorofil). Tetapi jamur berinti, berspora, berupa sel, atau benang, bercabang-cabang, dengan dinding sel dari selulosa atau khitin atau kedua-duanya. Pada umumnya jamur berkembang biak secara seksual dan aseksual. Secara taksonomi kelompok ini masuk dalam kerajaan fungi dengan beberapa kelasnya. Jamur mempunyai bentuk tubuh mulai dari yang sederhana yaitu satu sel atau uniseluler, kemudian bentuk serat atau filamen, sampai dengan bentuk lengkap seperti halnya jaringan lengkap pada tanaman biasa.
Jamur mempunyai nilai gizi tinggi terutama kandungan proteinnya (15%-20% berat keringnya). Daya cernanya pun tinggi (34%-89%). Sifat nutrisi (kelengkapan asam amino) yang dimiliki jamur lebih menentukan mutu gizinya. Jamur segar umumnya mengandung 85%-89% air. Kandungan lemak cukup rendah antara 1,08%-9,4% (berat kering) terdiri dari asam lemak bebas mono ditriglieserida, sterol, dan phoshpolipida. Jamur juga merupakan sumber vitamin antara lain thiamin, niacin, biotin dan asam askorbat. Vitamin A dan D jarang ditemukan pada jamur, Sebuah studi di Massa-chusett University juga menyimpulkan, riboflavin, asam nicotinat, pantothenat, dan biotin (vitamin B) yang ada pada jamur, tetap terpelihara dengan baik meskipun jamur sudah dimasak. Ini berbeda dengan bahan makanan lainnya yang kandungan zat gizi-nya bisa berkurang setelah melalui proses pemasakan.
Jamur adalah makanan yang banyak digemari oleh hampir setiap orang. Banyak sekali macam dan ragam jamur beserta namanya. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan manfaat dari jamur tiram dan jamur kuping. Pertama adalah Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) yaitu jamur yang hidup pada kayu lapuk, serbuk gergaji, limbah jerami, atau limbah kapas. Dinamakan jamur tiram karena mempunyai flavor dan tekstur yang mirip tiram yang berwarna putih. Tubuh buah jamur ini menyerupai cangkang kerang, tudungnya halus, panjangnya 5-15 cm. Bila muda, berbentuk seperti kancing kemudian berkembang menjadi pipih. Ketika masih muda, warna tudungnya cokelat gelap kebiru-biruan. Tetapi segera menjadi cokelat pucat dan berubah menjadi putih bila telah dewasa. Tangkai sangat pendek berwarna putih.
Jamur tiram mengandung 100% sayuran dan berserat tinggi, baik untuk mengobati liver, diabetes, dan mengandung senyawa antiviral dan antikanker. Teksturnya lembut, penampilannya menarik, dan cita rasanya relatif netral sehingga mudah untuk dipadukan pada berbagai masakan. Selain jamur tiram putih ada pula beberapa jenis jamur tiram yang berbeda warna pada batang tubuh buahnya, yaitu P. flabellatus berwarna merah jambu, P. florida berwarna putih bersih, P. sajor caju berwarna kelabu dan P. cysridious berwarna kelabu.
Jamur yang kedua adalah jamur kuping yang sudah sangat familiar di masyarakat kita. Menurut seorang peneliti Amerika, Dr. Dale Hammerschmidt dari Minnesota Medical School jamur kuping jika disajikan dalam menu makanan sehari-hari berkhasiat melancarkan peredaran darah dalam tubuh. Sekaligus, mencegah penyumbatan pembuluh darah. Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan keluarga jamur kayu. Dulunya, jamur ini tumbuh liar dan hidup menempel pada pokok kayu yang telah lapuk atau dipungut dari hutan.
Di kenal 2 jenis jamur kuping yaitu jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) atau cloud ear mushrooms. Berbentuk seperti daun telinga, berwarna hitam keunguan, hidupnya menempel pada kayu yang cukup basah dan lembab. Jamur jenis ini banyak dibudidayakan di Cina, Thailand dan beberapa negara di kawasan Indocina. Sedangkan, jamur kuping merah (Auricularia auricula judae), berukuran lebih besar dan warnanya sedikit kemerahan. Jenis ini paling umum dibudidayakan di Indonesia, Malaysia dan kawasan Asia lainnya. Kandungan nutrisi dalam jamur kuping terdiri atas air (89,1), protein (4,2), lemak (8,2), karbohidrat total (82,8), serat (19,8), abu(4,7) dan nilai energi 351. Jamur kuping juga dapat mengobati panas dan mengurangi rasa sakit pada kulit akibat luka bakar, Jika jamur kuping direbus atau dipanaskan, maka akan menghasilkan lendir yang sangat berhasiat untuk penangkal racun, baik dalam bentuk racun nabati, residu pestisida, sampai keracun logam berat.
Sampai saat ini jamur lebih banyak diproduksi di Jawa. Berdasar data MAJI, setiap hari Jabar memproduksi 10 ton jamur tiram dan jamur kuping, setiap hari diproduksi sebanyak 1 ton dengan sentra utama Jateng. Sebagian besar produksi jamur dipasarkan dalam bentuk segar. Kota besar menjadi tujuan pasar utama jamur selama ini. Pasar Jakarta misalnya, dipasok dari Karawang, Bandung, Bogor, dan Sukabumi.
Saat ini, makanan seperti daging, telur, lemak, dan keju adalah makanan protein hewan. Makanan tersebut terdiri dari sejumlah besar protein, sehingga masyarakat umum menganggap sangat penting. Telah diketahui bahwa jamur mengandung protein dalam jumlah kecil tetapi masih dapat mencukupi kebutuhan. Protein dan lemak yang terkandung dalam jamur tidak setinggi pada daging, namun jamur banyak mengandung nutrisi lainnya. Dengan mengkonsumsi jamur justru dapat membuat badan lebih sehat dibandingkan dengan mengkonsumsi daging yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Meskipun dampak negatif akibat daging masih kontroversi dan kemungkinan dampak negatif tersebut juga berkorelasi dengan gaya hidup. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam tubuh buah jamur sangat berguna dalam pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit. Jadi selain jamur memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, beberapa jamur memiliki khasiat pengobatan, seperti aktivitas polisakarida antitumor dan glikoprotein, asam nukleat antivirus, senyawa penghambat platelet aglitinosa, senyawa aktif antikolesterol, dan dapat merangsang sistem kekebalan tubuh.
Pada awalnya mungkin banyak masyarakat khawatir mengenai jamur sebagai makanan sumber nutrisi. Tampaknya penyebar luasan informasi diperlukan untuk menujukkan nilai nutrisi yang sebenarnya. Khususnya di Indonesia, harapannya dengan semakin populer jamur pangan yang memiliki khasiat obat akan lebih menggairahkan budidaya jamur yang mulai tampak lesu, sehingga menjanjikan kecerahan terhadap perekonomian. Indonesia kaya akan keragaman hayati jamur. Di masa lalu, jamur hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat yang menemukan jamur tumbuh, dan masyarakat kelompok atas yang mampu menjangkau harga jamur yang relatif masih mahal. Saat ini, konsumen jamur telah mengalami pergeseran hingga masyarakat kelompok bawah pun dapat merasakannya, karena jamur tertentu sudah mulai mudah ditemukan pada pasar tradisional.
Dibandingkannya dengan tempe, yang terbuat dari kedelai, maupun daging ayam, kandungan gizi jamur jauh lebih lengkap. Sebagai salah satu contoh adalah jamur tiram, jamur ini mempunyai kandungan protein 5,94%, karbohidrat 50,59 %, serat 1,56 %, lemak 0,17 %, abu 1,14 %. Setiap 100 gram jamur tiram segar mengandung 45,65 kalori, 8,9 miligram kalsium, 1,9 miligram besi, 17 miligram fosfor, 0,15 miligram vitamin B1, 0,75 miligram vitamin B2, dan 12,40 miligram Vitamin C. Karena kandungan gizi jamur jauh lebih komplet, suatu saat nanti jamur akan menjadi bahan pangan di masa depan
Dengan kisaran cita rasa rasa dan nilai protein tinggi dari jamur yang sebanding terhadap daging maka jamur dapat memberikan kontribusi penting suplai protein, vitamin dan mineral dalam makanan serta aman bagi kesehatan. Selain itu, dengan banyak mengkonsumsi jamur maka secara tidak sengaja dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan, karena jamur pangan banyak mengandung senyawa aktif yang sangat membantu pengobatan.
Cita rasa daging sapi memang lezat, namun sayangnya manusia tidak dapat mengkonsumsi daging terus menerus karena daging tidak mengandung serat (fibre). Protein, vitamin, dan mineral yang terkandung dalam jamur pangan dapat merupakan harapan pengganti daging sapi yang permintaan setiap tahunnya meningkat sejalan dengan peningkatan ekonomi per kapita masyarakat Indonesia. Cita rasa jamur pangan tertentu sebanding dengan daging sapi dan mengkonsumsi jamur pangan yang diolah terlebih dahulu tidak memberikan efek yang negatif terhadap kesehatan dibandingkan dengan mengkonsumsi daging sapi. Semakin banyak jenis jamur pangan yang dibudidayakan akan menambah banyak cita rasa jamur sehingga tidak membosankan mengkonsumsi jamur sambil secara tidak sengaja mencegah timbul penyakit. Pada akhirnya dengan mengkonsumsi jamur dapat meningkatkan taraf hidup dan status kesehatan masyarakat.

Referensi :
http://www.naturindonesia.com/jamur-pangan/jamur-kuping.html
http://1jamurtiram.blogspot.com/
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1030678870,22766,
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/sri_listiyowati.pdf
http://sumberforum.com/showthread.php/1140-Jenis-Jamur-yang-Umum-Dikonsumsi

Hinggil Karunia Saputri
Posted on 26th October, 2010

NAMA : HINGGIL KARUNIA S.
NIM : 100810455 / VB / 89
KULIAH : EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga Surabaya
2010

SISTEM KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA

Pengertian ketahanan pangan telah menjadi perdebatan selama tahun 1970 sampai tahun 1980an. Ketahanan pangan nasional tidak mensyaratkan untuk melakukan swasembada produksi pangan karena tergantung pada sumberdaya yang dimiliki. Suatu negara bisa menghasilkan dan mengekspor komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi dan barang-barang industri, kemudian membeli komoditas pangan di pasar internasional. Sebaliknya, negara yang melakukan swasembada produksi pangan pada level nasional, namun dijumpai masyarakatnya yang rawan pangan karena ada hambatan akses dan distribusi pangan Stevens et al. (2000). Pengertian ketahanan pangan berdasarkan Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Pemenuhan kebutuhan pangan diutamakan bersumber dari produksi dalam negeri dan pengelolaan sistem pangan negeri ditentukan sendiri sesuai kepentingan nasional.
Pemenuhan pangan untuk hidup sehat dan aktif diukur dengan menggunakan tiga hal pokok yang meliputi aspek ketersediaan pangan, yaitu tersedia cukup untuk seluruh penduduk, kemudian aspek distribusi meliputi penyerapan pangan merata ke seluruh wilayah dengan harga stabil dan terjangkau, kemudian aspek konsumsi pangan yaitu masyarakat mampu mengakses cukup pangan dan mengelola konsumsi sesuai dengan kecukupan status gizi dan kesehatan. Di negara-negara seperti USA, Canada, Australia, Brunei memiliki kapasitas pangan yang paling kuat karena memiliki kondisi pangan ideal di mana mereka mampu berswasembada pangan tetapi sekaligus juga memiliki ketahanan pangan yang kuat.
Namun sampai saat ini di Indonesia, banyak kalangan praktis dan birokrat kurang memahami pengertian swasembada pangan dengan ketahanan pangan. Akibat dari keadaan tersebut konsep ketahanan pangan seringkali diidentikkan dengan peningkatan produksi ataupun penyediaan pangan yang cukup. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber karbohidrat berupa beras. Dengan tingkat konsumsi beras sebesar 130 kg/kap/th membuat Indonesia sebagai konsumen beras tertinggi di dunia, jauh melebihi Jepang dan Malaysia. Penduduk Indonesia yang berjumlah 212 juta membutuhkan beras untuk keperluan industri dan rumah tangga lebih dari 30 juta ton per tahun. Kebutuhan beras tersebut akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk yang berakibat akan membuat ketahanan pangan nasional sangat rapuh. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti dan akademisi menyadari bahwa kerawanan pangan terjadi dimana situasi pangan tersedia tetapi tidak mampu diakses rumah tangga karena keterbatasan sumberdaya ekonomi yang dimiliki (pendapatan, kesempatan kerja, sumberdaya ekonomi lainnya).
Salah satu kebijakan pembangunan pangan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi pangan, yang dimaksudkan untuk memberikan alternatif bahan pangan sehingga mengurangi ketergantungan terhadap beras. Penganekaragaman pangan, juga diharapkan akan memperbaiki kualitas konsumsi pangan masyarakat, karena semakin beragam konsumsi pangan maka suplai zat gizi lebih lengkap dari pada jika didominasi oleh satu jenis bahan saja. Secara tradisional masyarakat Indonesia dikenal mengkonsumsi beragam pangan pokok diantaranya sagu (Maluku, Sulawesi Tenggara), jagung (NTT, Gorontalo Tenggara, Madura), ubi jalar (Papua), dan ubi kayu (DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung).
Diversifikasi bahan pangan pokok perlu dikembangkan dengan memanfaatkan bahan pangan alternatif antara lain jagung, singkong, dan ubi jalar. Ke tiga komoditas ini di anjurkan untuk dikembangkan mempertimbangkan bahan tersebut telah banyak dikenal masyarakat, bergizi tinggi serta memiliki produktivitas yang tinggi. Selain kebijakan tersebut, ada kebijakan lain untuk menjamin ketahanan pangan. Terdapat tiga komponen kebijakan mengenai ketahanan pangan :
1. Ketersediaan Pangan: Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
• Larangan impor beras
• Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan
• Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras
2. Keterjangkauan Pangan. Elemen terpenting dari kebijakan ketahanan pangan ialah adanya jaminan bagi kaum miskin untuk menjangkau sumber makanan yang mencukupi. Cara terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan ini ialah dengan memperluas strategi pertumbuhan ekonomi, khususnya pertumbuhan yang memberikan manfaat bagi kaum miskin. Kebijakan ini dapat didukung melalui program bantuan langsung kepada masyarakat miskin, yang diberikan secara seksama dengan target yang sesuai.
3. Kualitas Makanan dan Nutrisi: Hal yang juga penting untuk diperhatikan, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis-jenis pangan yang berkualitas lebih baik. Namun, seperti catatan diatas, keadaan nutrisi makanan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan sejak akhir krisis. Sejumlah kebijakan penting yang berpengaruh terhadap kualitas pangan dan nutrisi meliputi:
• Upaya untuk melindungi sejumlah komoditas pangan penting
• Memperkenalkan program pangan tambahan setelah krisis
• Penyebarluasan dan pemasaran informasi mengenai nutrisi

Telah dicontohkan mengenai masalah ketahanan pangan dalam cakupan rumah tangga berdasarkan data Susenas BPS (1999) secara nasional lebih dari 30% rumah tangga rawan pangan. Didaerah perkotaan 27% dan pedesaan sekitar 33%. Dari 26 propinsi di Indonesia yang dilakukan sensus, 7 propinsi yang tergolong memiliki tingkat kerawanan pangan rumah tangga tinggi, 3 propinsi memiliki tingkat kerawanan pangan rendah dan sisanya berada diantara kedua kategori tersebut (Handewi dkk, 2004).
Jumlah persentase rawan pangan pada tingkat rumah tangga di pedesaan lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Di pedesaan dijumpai 40-50% rumah tangga defisit energi dan protein (Handewi, dkk, 2004). Maka pemeritah segera melakukan tindakan dengan meningkatkan ketahanan pangan khususnya ketahanan pangan rumah tangga. Intervensi bagi kelompok rumah tangga kurang pangan diprioritaskan pada upaya penyadaran dan peningkatan pengetahuan pangan dan gizi. Dengan sasaran dan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai cara memperlakukan bahan pangan dalam pengolahan sehingga zat gizi yang terkandung di dalamnya tidak rusak atau hilang masih perlu dikaji ditingkat pedesaan. Atau dapat juga dilakukan diversifikasi dan penganekaragaman pangan seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Terdapat Sepuluh Langkah untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Indonesia yaitu:
1. Mengupayakan peran Bulog
2. Mengkaji kemungkinan dipisahkannya Badan Ketahanan Pangan Nasional dari Kementrian Pertanian
3. Meningkatkan efektivitas Dewan Ketahanan Pangan di Tingkat Kabupaten/Kota
4. Menghilangkan larangan impor beras
5. Mengubah fokus Departemen Pertanian dari mendorong peningkatan produksi ke perluasan teknologi dan penciptaan diversifikasi
6. Menurunkan biaya Raskin
7. Memikirkan kembali kebijakan stabilitasi harga beras
8. Mendukung dan menerapkan peningkatan gizi pada bahan makanan pokok
9. Fokuskan kembali perhatian pada program makanan tambahan
10. Meningkatkan informasi mengenai gizi

DAFTAR PUSTAKA
1. Bustanul Arifin, 2004. Penyediaan dan Aksesibilitas Ketahanan pangan. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, LIPI. Jakarta
2. Departemen Pertanian, 2005, Peta Kerawanan Pangan Indonesia, Pusat Kewaspadaan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, September 2005.
3. Husodo SY, Muchtadi T. 2004. Alternatif solusi permasalahan dalam ketahanan pangan. Makalah pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII; Jakarta, 17-19 Mei 2004.

M. Dikry Alfin Nugroho
Posted on 26th October, 2010

Nama : M. Dikry Alfin Nugroho
100810100 – No. 25 IKM B 08
Potensi budidaya bandeng Kec.Sedati- Kab. Sidoarjo

Di sini tambak, di sana tambak. Itulah Sidoarjo. Sebagai kabupaten yang berada di muara sungai, delta, sejak dulu Sidoarjo memang kaya tambak. Maka simbol kabupaten ini: udang dan bandeng. Dua satwa khas tambak. Kabupaten Sidoarjo adalah salah satu diantara kabupaten / kota-kota lain yang mengandalkan budidaya ikan bandeng sebagai salah satu keunggulan.
Data Dinas Perikanan dan Kelautan Sidoarjo menyebutkan, Kecamatan Sedati (sekitar wilayah Bandara Juanda) ada 4.100 hektare lahan tambak. Petani tambak juga membuka usaha pemancingan ikan di Sedati. Setiap akhir pekan ratusan orang memanfaatkan waktu luang dengan memancing di berbagai tambak Sedati. Menurut warga sekitar, produksi tambak pada 2007 mencapai 22.296 ton, terdiri dari udang windu 3.515 ton, bandeng 15.537 ton, udang putih 108 ton, udang campur 1.782 ton. Sisanya berupa tawes, nila, dan lain-lain mencapai 1.354 ton.
“Komoditas unggulan tetap udang windu dan bandeng. Udang windu setahun tiga kali panen, sedangkan bandeng setahun satu sampai dua kali panen,”
Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya yang telah mapan untuk tingkat petani tambak, upaya efisiensi budidayanya merupakan tuntutan utama, sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani dan nelayan. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya lainnya dalam hal :
1. Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam.
2. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik, secara teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan.
3. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut.
4. Pertumbuhannya cepat (1,6%/hari), 3 bulan sejak nener bisa di panen.
5. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1,7-2,2.
6. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa.
7. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka.
Melihat dari sekian banyak kelebihan dengan cara berternak bandeng, dapat dikatakan bahwa prospek kedepan dari usaha berternak bandeng sangat luas, hal ini juga didukung oleh semakin majunya perkembangan IPTEK yang dapat membantu petani tambak dalam memecahkan masalah seputar cara berternak bandeng.

Walaupun usaha budidaya telah banyak dilakukan oleh masyarakat, namun masih terbentur pada beberapa masalah diantaranya:
1. Harga pakan yang relatif masih mahal, sehingga masih diperlukan pengkajian lanjutan yang lebih intensif khususnya bagaimana memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia dalarn jumlah yang memadai sebagai bahan pakan guna menekan biaya pakan yang diperkirakan dapat mencapai 70% dan biaya operasional
2. Belum terciptanya suatu sistem yang berorientasi agribisnis yang mampu menjamin keberlanjutan produksi mulai dari penyiapan benih dari panti benih, penggelondongan, pembesaran, panen, dan pemasaran sebagai upaya peningkatan efisiensi dalarn mengantisipasi pasar bebas
3. Pemenuhan benih yang bermutu, tepat waktu, jumlah, ukuran, harga, dan tempat belum terpenuhi akibat panti-panti benih tidak terdistribusi secara merata
4. Penataan ruang untuk budidaya laut belum dikelola secara baik dengan mengacu pada hasil kapan ilmiah yang kokoh dan profesional
5. Ketersediaan informasi pasar yang belum akurat dan tepat waktu, khususnya untuk pasar domestik dan ekspor yang belum memadai
6. Pengadaan modal untuk petani guna menjamin kesinambungan produksi belum memadai. Untuk itu perlu dibangun suatu kemitraan antara pengusaha dan petani ikan yang dapat menciptakan keberlanjutan usaha dan pembagian keuntungan yang proporsional antara pemilik modal dengan pembudidaya
7. Kontinyuitas produksi, konsistensi mutu utamanya dalarn hal bobot, rasa, ukuran, dan penampilan fisik belum dipertahankan
Dari segi manfaat bagi yang mengkonsumsi ikan bandeng adalah pada keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna. Ikan juga mengandung asam lemak, terutama Omega-3, yang sangat penting artinya bagi kesehatan dan perkembangan otak bayi untuk potensi kecerdasannya. Demikian besar peranan gizinya bagi kesehatan, ikan merupakan pilihan yang tepat untuk diet di masa yang akan datang. Jadi sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik dan prospektif.
Sumber :
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/nutrition/1963204-mau-sehat-makanlah-ikan-bandeng/

pungky
Posted on 27th October, 2010

Nama : Pungky Anggraeni Mustika
NIM : 100810008/IKM A 2008
Tugas ekologi pangan dan gizi

Bahan Makanan Pokok Pengganti Beras

Indonesia adalah Negara yang subur dan makmur, karena hampir di setiap tempat, kita bisa menanam berbagai macam tumbuhan baik dalam bentuk daun, akar, batang dan dalam bentuk yang lain. Begitu kayanya Negara kita sehingga dibuat lagu oleh sebuah band legendaris yaitu koes plus yang berjudul kolam susu. Dalam lagu ini Negara Indonesia memiliki kelebihan yang istimewa yang berbeda dengan Negara lain. Salah satu lirik lagunya yang menggambarkan Negara kita yaitu “Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Melalui sebagian lirik ini, kita dapat mengetahui bahwa hanya dengan menancapkan sebatang tongkat kayu tertentu pada tanah dan kita pelihara tongkat tersebut, maka pada beberapa bulan kemudian tongkat kayu tadi akan berubah menjadi tanaman yang bisa dimanfaatkan dari daun, batang dan akar atau umbinya (singkong). Sehingga dengan begitu suburnya tanah yang ada di Indonesia seharusnya kebutuhan masalah pangan bukan menjadi masalah utama di Indonesia tetapi pada kenyataannya begitu banyak warga Negara Indonesia yang masih saja mengalami kesulitan dalam memperoleh berbagai macam pangan, salah satunya adalah kandungan kabohidrat dalam bentuk beras (nasi).
Setiap orang yang berada di Negara Indonesia pasti mengetahui apa itu beras dan apa itu nasi?. Beras atau nasi adalah salah satu jenis kabohidrat yang menjadi makanan pokok bagi warga Negara Indonesia. Jika kita memakan kabohidrat selain nasi seperti kentang, singkong maka makanan tersebut hanya berfungsi sebagai camilan saja bukan sebagai makanan pokok. Stigma yang ada dimasyarakat bahwa beras yang menjadi makanan pokok sudah melekat dan tertanam dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kebutuhan beras di Indonesia sangat tinggi sekali dibandingkan dengan Negara lain, walaupun produksi beras mengalami peningkatan di tahun ini, tetap saja kebutuhan masyarakat masih belum dapat tercukupi sehingga pemerintah tetap saja melakukan import beras dari Negara Thailand dan Vietnam padahal Indonesia dahulu adalah lumbung padi Asia tenggara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi pada 2010 sebanyak 65,15 juta ton atau naik 1,17 persen dibandingkan 2009. Sementara jagung produksinya mencapai 18,02 juta ton atau naik 2,19 persen dibandingkan 2009. Sedangkan produksi gula sebanyak 4,5 juta ton dan daging mencapai 329,40 ribu ton. Saat ini permasalahan yang terjadi adalah perubahan iklim yang cukup ekstrim di Indonesia yang di landa La Nina hingga tidak ada musim kemarau pada 2010, dan cuaca ekstrim akan berlangsung hingga Februari 2011. Dengan adanya permasalahan ini akan berdampak pada produksi padi dan produksi pangan lainnya. Meskipun ketersediaan pangan (produksi pangan) cukup aman, namun karena jumlah penduduk terus bertambah dan akibat faktor perubahan iklim (La Nina ) maka perlu dianggap melakukan diversifikasi pangan.
Dalam setahun Indonesia membutuhkan beras sebanyak kurang lebih 33 juta ton sehingga apabila kondisi pangan dapat dikatakan mencukupi di Negara Indonesia, maka pemerintah harus menyediakan stok beras sebanyak 7, 5 juta ton beras setiap bulannya. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan di kalangan masyarakat membuat kondisi pangan dan energi mengalami kelangkahan, dan diperkirakan pada tahun 2050 pemerintah harus menyediakan pangan bagi Sembilan milyar penduduk. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah harus mengkampanyekan kepada masyarakat “sehari tanpa beras”. Tidak hanya dengan kampaye ini, pemerintah juga harus mensosialisasikan makanan alternatif sebagai pengganti beras. Dalam Konferensi Dewan Ketahanan Pangan Tahun 2010 di Jakarta Convention Center. Presiden Yudhoyono meminta masyarakat agar konsumsi beras dikurangi dan diganti dengan sumber pangan lain. makanan pengganti ini disesuaikan dengan komoditas unggulan didaerah masing-masing. Contohnya adalah sagu yang merupakan makanan pokok bagi masyarakat yang berada di daerah Indonesia bagian timur.
Kebutuhan akan kalori setiap orang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, dan aktivitasnya. Untuk anak – anak yang berusia dibawah 9 tahun, kebutuhan kalori yang dibutuhkan sebanyak 1.090-2.190 dan kebutuhan kalori bagi laki-laki sebesar 3600 kilo kalori dan wanita 2600 kilo. Besarnya kebutuhan tiap orang yang berbeda membuat setiap orang untuk mampu memenuhi kebutuhannya supaya dapat melakukan aktivitasnya. Bahan alternative makanan pokok selain beras antara lain:
1.Sagu : adalah butiran atau tepung yang diperoleh dari teras batang pohon sagu atau rumbia (Metroxylon sago Rottb). Ini merupakan makanan pokok bagi masyarakat Maluku dan Papua, dan biasanya dimakan dalam bentuk papeda (semacam bubur). Sagu sendiri juga dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang. Saat ini ada mie yang diolah dari bahan dasar sagu. Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di mana di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0.2 gram protein, 0.5 gram serat, 10 mg kalsium, 1.2mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil.
2. Kentang : merupakan lima kelompok besar makanan pokok dunia selain gandum, jagung, beras, dan terigu. Bagian utama kentang yang menjadi bahan makanan adalah umbi, yang merupakan sumber karbohidrat, dengan vitamin dan mineral cukup tinggi.
Kandungan gizi dalam 100 gr kentang antara lain: protein 2 gr, lemak 0,3 gr, karbohidrat 19,10 gr, kalsium 11 mg, fosfor 56 mg, serat 0,3 gr, besi 0,3 mg, vitamin B1 0.09 mg, vitamin B2 0,03 mg, vitamin C 16,00 mg, dan niacin 1,40 mg.
3. Jagung : merupakan makanan pokok alternantif untuk warga Madura, Nusa Tenggara bahkan juga warga Amerika Serikat. Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g.
4. Singkong atau Ubi : ubi mengandung beberapa kandungan vitamin dan mineral lain yang sangat diperlukan tubuh. Kandungan karbohidrat dalam singkong juga cocok untuk tubuh manusia, singkong bisa disulap menjadi tiwul yang cukup bergizi dan menjadi makanan utama di daerah Gunung Kidul.
5. Gandum : merupakan makanan pokok untuk manusia, pakan ternak dan bahan industri yang mempergunakan karbohidrat sebagai bahan baku. Gandum dapat diklasifikasikan berdasarkan tekstur biji gandum (kernel), warna kulit biji (bran), dan musim tanam. Berdasarkan tekstur kernel, gandum diklasifikasikan menjadi hard, soft, dan durum. Sementara itu berdasarkan warna bran, gandum diklasifikasikan menjadi red (merah) dan white (putih). Untuk musim tanam, gandum dibagi menjadi winter (musim dingin) dan spring (musim semi). Namun, secara umum gandum diklasifikasikan menjadi hard wheat, soft wheat dan durum wheat.
Setiap bahan makanan alternatif ini memiliki berbagai macam keuntungan dan kerugian. Keuntungan yang didapat adalah harga bahan makanan ini seperti singkong, ubi, jagung memiliki harga yang relatif lebih murah daripada beras sehingga masyarakat dapat dan mampu untuk membelinya dan kebutuhan kabohidrat dapat mencukupi. Dan pada gandum dapat menurunkan penyakit hipertensi. Sedangkan kerugian yang didapat adalah harga bahan makanan yang mahal harganya tetapi memiliki kualitas yang bagus seperti gandum dan stigma yang ada di masyarakat yang lebih suka makan nasi daripada makan bahan pangan alternatif karena menganggap nasi (beras) adalah makanan yang lebih mengenyangkan daripada bahan pangan tersebut sehingga masyarakat lebih menganggap bahwa bahan makanan alternatif hanya sebagai camilan saja. Hal ini membuat para petani lebih suka untuk menanam padi karena padi dianggap lebih ekonomis dan bermanfaat daripada bahan makanan lain. Tetapi apabila terjadi kegagalan panen yang diakibatkan oleh cuaca buruk, hama padi (tikus, wereng )dan lain-lain maka akan berdampak pada ketahanan pangan nasional. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah harus bekerja lebih giat dalam mempromosikan bahan makanan alternative tersebut di masyarakat dan meningkatkan hasil komoditas unggulan untuk tiap daerah dan menyediakan cadangan persediaan bahan makanan untuk masing – masing daerah tersebut (seperti lumbung padi) sehingga pada akhirnya masyarakat dapat mengurangi angka keterngantungan mereka pada beras dan dapat memenuhi kebutuhan kabohidratnya melalui bahan pangan alternatif.
file:///18641-masyarakat-indonesia-diharapkan-peduli-masalah-pangan-dunia.htm
Posman Sibuea, dosen Fakultas Pertanian Unika Santo Thomas Medan, peneliti di Pusat Studi Pengembangan Agro-industri Yayasan Permata Medan.
file:///D:/dana-ketahanan-pangan-2011-dinaikkan-jadi-rp-3-triliun.htm
http://www.detikfinance.com/read/2010/08/20/162902/1424479/4/hatta-nilai-rakyat-indonesia-kecanduan-beras
http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=44398

Aditya Tetra Firdaussyah
Posted on 27th October, 2010

ADITYA TETRA FIRDAUSSYAH
100810109 PRODI S1 IKM B
UNIVERSITAS AIRLANGGA

PERGESERAN POLA BAHAN MAKANAN POKOK DI WILAYAH TIMUR INDONESIA

Wilayah timur Indonesia, memiliki keragaman bentuk muka bumi yang lebih bervariasi dibandingkan dengan wilayah barat Indonesia. Secara geografis, wilayah timur lebih luas daripada wilayah barat. Namun, wilayah timur lebih didominasi dengan kepulauan dan wilayah perairan. Dari citra satelit diperoleh bahwa kontur dataran wilayah timur lebih terjal dibandingkan wilayah barat. Dengan demikian, kontur dan kenampakan alam tersebut mempengaruhi flora dan fauna yang ada diwilayah tersebut. Sebagian besar wilayah timur Indonesia memang belum tereksplorasi maksimal sehingga pemanfaatan sumber daya alam tersebut belum berjalan optimal. Dengan adanya flora dan fauna yang lebih beragam tersebut, Indonesia memiliki keragaman bahan pangan pokok yang cukup banyak dibanding negara-negara lain di Asia.
Di wilayah barat. Bahan pangan pokok di dominasi oleh beras. Beras dapat dibudidayakan dengan baik karena kontur permukaan bumi di wilayah barat sangat mendukung, banyak lahan yang subur karena Indonesia wilayah barat berada di barisan gunung berapi sirkum mediterania, debu vulkanik yang membantu proses penyuburan lahan, tersedianya sumber air yang mudah diakses untuk irigasi pertanian, tersedianya sumber daya pendukung seperti tersedianya pupuk yang cukup, dan lain sebagainya.
Pulau penghasil beras terbesar di Indonesia adalah Pulau jawa. Menurut survey yang dilaukan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, lahan yang digunakan untuk pembudidayaan beras berkisar pada 6.093.603 hektoare. Dengan demikian penduduk Indonesia di wilayah barat memiliki bahan pangan pokok berupa beras. Faktanya, tahun 1984 kita sempat swasembada beras. Status ini merupakan kehormatan dan kebanggaan negara di tingkat dunia. Persoalannya adalah seberapa besar kebanggaan tingkat negara ini menjadi kebanggaan di tingkat petani, karena ternyata hingga tahun 2001 sekitar 70 persen petani padi (termasuk petani kecil dan buruh tani) termasuk golongan masyarakat miskin (Suryana, 2001).
Selain itu, fenomena sering terjadi di wilayah ini. Pengembangan perumahan dan peningakatan industri kerap merubah lahan potensial untuk pertanian dan pembudidayaan beras menjadi bangunan-bangunan industri yang pada akhirnya akan menimbulkan pencemaran. Terlepas dari faktor-faktor tersebut, konsumsi beras di Indonesia merupakan angka yang tertinggi sedunia, sedangkan jumlah penduduk Indonesia hanya nomor 5 sedunia. Tingkat konsumsi beras orang Indonesia 149 kg per kapita per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan orang seusia dari negara lain. Jepang hanya 60 kg per kapita per tahun, Thailand 80 kg, dan Malaysia 90 kg (deptan).
Berbeda dengan wilayah timur yang didominasi oleh hutan hujan tropis dan perairan, variasi bahan pangan pokok makin beragam, sebab kebanyakan bahan pokok diambil dari hutan tanpa adanya proses pengelolaan bahan pangan tersebut dari awal, dengan kata lain masyarakat Indonesia di wilayah timur banyak yang menggantungkan bahan pangan pokoknya dari hasil hutan, seperti sagu dan sorgum, terlebih mereka yang hidup terapung diatas laut, atau masyarakat laut masing-masing memiliki pola bahan pangan pokok yang berbeda-beda bergantung dari ketersediaan di alam dan budaya yang ada di lingkungan mereka. Sumber daya alam yang ada di wilayah timur, dapat dikatakan masih dalam daya dukung yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduknya, dengan berarti, tanpa diadakan pengolahan lahan secara intensifpun alam sudah menyediakan bahan pangan pokok secara berlebih. Beriring dengan berjalannya waktu, pola bahan pangan pokok masyarakat di wilayah timur Indonesia banyak yang bergeser dari yang semula sagu menjadi beras.
Hegemoni pembangunan masa lalu telah menyebabkan banyak wilayah atau komunitas yang mengalami proses perubahan sosial budaya yang sangat mendasar. Masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan pokok seperti jagung, sagu atau singkong, kini merata mengkonsumsi beras. Masyarakat yang tinggal di daerah dengan agroekosistem yang tidak cocok untuk padi, sudah beralih konsumsi beras sebagai pangan pokok. Benturan-benturan yang tejadi pada tahap awal, secara perlahan menjadi harmoni karena dibingkai dalam nuansa kebijakan dan sarana yang kondusif.
Kebanggaan sebagai negara swasembada beras di tengah masyarakat yang sudah terlanjur memiliki budaya mengkonsumsi beras, melahirkan dilema pembangunan yang cukup sulit untuk dipecahkan. Saat seluruh rakyat di pelosok negeri ini sudah tergantung pada beras, ketersediaan beras dalam negeri kerap tidak memadai. Belum lagi pertumbuhan penduduk yang mengalami peningkatan, terutama semenjak terjadi krisis ekonomi yang lalu. Ini berarti ada peningkatan jumlah konsumsi beras dalam negeri. Sementara pola produksi yang fluktuasi memberi indikasi bahwa berbagai upaya peningkatan produksi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Realitas ini mendesak pemerintah khususnya Departemen Pertanian untuk berfikir dan bertindak secara cepat dan bijaksana.
Berpijak pada kerangka berfikir klasik dari Wolf (1985), dilema di atas berpeluang ditanggulangi melalui dua cara yang “bertentangan” yaitu memperbesar produksi dan mengurangi konsumsi. Di tingkat negara, cara pertama layak untuk diupayakan. Namun kapasitas petani perlu mendapat perhatian. Menggerakkan petani untuk terus meningkatkan produksi, saat sensitifitas beras terhadap harga sangat rendah, sama dengan menggiring petani memasuki dunia kemiskinan dan bertahan di sana sampai muncul kesadaran bahwa padi tidak lagi sumber rejeki yang menciptakan rasa aman dan nyaman. Hal yang penting justru membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan petani padi yang tidak selalu berimpit atau identik dengan kepentingan negara. Good governance harus menunjukkan bahwa pada saat sangat mendesak sekalipun, Negara adalah perlindungan masyarakat, terutama masyarakat miskin (tarigan, 2003).
Mengurangi konsumsi sebagai cara kedua dalam mengatasi masalah pangan beras merupakan cara yang lebih rumit karena menyangkut dua hal yaitu:
1. Pertumbuhan penduduk yang sulit ditekan. Selama masa krisis terjadi kenaikan angka pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan.
2. Karena jenis makanan pokok keluarga merupakan bentuk konkrit dari sebuah budaya, maka proses perubahannya hanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Ada indikasi bahwa beras dikonstruksikan sebagai makanan yang enak dan melambangkan status sosial yang lebih baik. Ini bisa dilihat pada masyarakat pedesaan di Jawa, yang mengkonsumsi gaplek atau jagung jika dan hanya jika ketersediaan beras terbatas (tidak tersedia di wilayah atau rumah tangga tidak mampu membelinya). Hal yang sama terjadi di Maluku, hampir tidak ditemukan rumah tangga yang mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sarapan pagi dengan papeda menjadi momen yang langka. Padahal agroekosistem yang memungkinkan untuk ditanami padi sangat terbatas. Artinya, ketergantungan terhadap komoditas luar sangat tinggi.

Kepustakaan:
1. Data statistik Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Padi Seluruh Provinsi di Indonesia , BPS, 2009 (http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?eng=0)
2. Herlina Tarigan, Dilema Pangan Beras Indonesia .Tabloid Sinar Tani, 23 April 2003
3. http://www.deptan.go.id

Ana Fauziah
Posted on 27th October, 2010

ANA FAUZIAH
100810351/44
IKMB 2008

FAKTOR FISIOLOGI DALAM PEMANFAATAN PANGAN DAN GIZI IBU HAMIL

Faktor fisiologis dalam kebutuhan gizi atau kemampuan dalam metabolisme zat gizi merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam pemanfaatan pangan oleh tubuh. Ibu hamil yang mengalami kurang gizi akan mempengaruhi janin yang dikandungnya. Oleh karena itu kualitas bayi atau anak akan sangat tergantung pada status gizi ibunya. Dengan demikian, upaya intervensi terhadap golongan ibu hamil sangat penting dari segi pembinaan kualitas hidup manusia dimasa mendatang.
Ibu yang sedang hamil bersangkutan pula dengan proses pertumbuhan, yaitu pertumbuhan foetus yang ada di dalam kandungan dan pertumbuhan berbagai organ ibu pendukung proses kehamilan tersebut, seperti alat kandungan dengan adneksanya, mammae, dan lainnya. Energy expenditure juga meningkat terlihat dari peningkatan Metabolisme Basal (BM) yang dapat mencapai 10-15% diatas BM normal.
Untuk mendukung berbagai proses pertumbuhan dan peningkatan energy expenditure, kebutuhan makanan sumber enersi juga meningkat dengan 300-350 kalori sehari, terutama pada pertengahan kedua dari kehamilan. Kebutuhan protein juga meningkat dengan 10 gram sehari di atas kebutuhannya jika ibu tersebut tidak sedang hamil.
Peningkatan metabolisme sebagai zat gizi membutuhkan pula peningkatan kebutuhan suplai vitamin, terutama thiamin dan riboflavin serta vitamin A dan vitamin D, serta vitamin yang mendukung hemopoiesis seperti Asam folat dan Vitamin B12.
Dari mineral, khusus Ca dan Fe menunjukkan peningkatan kebutuhan yang menyolok, sedangkan P biasanya dicukupi bila konsumsi protein mencukupi.
Kondisi gizi dan konsumsi ibu yang sedang hamil akan berpengaruh pada kondisi foetus dan neonates setelah lahir. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berakibat berat lahir anak yang rendah, kelainan premature, kelahiran anak yang meninggal (dari sudut ibu, dapat memberikan kehamilan dengan berbagai kesulitan).
Pada periode hamil muda sering terjadi rangsangan pada organ rongga perut, yang memberikan nausea, vomitus atau hyperemesis gravidarum dan anorexia. Untuk mengurangi efek-efek ini, makanan harus kering (minum harus dipisahkan dari waktu makan), makan sedikit-sedikit tetapi sering, kadar lemak rendah dalam hidangan dan relatip tinggi karbohidrat, makanan mudah dicerna dan jangan banyak diberi bumbu, kandungan protein cukup tinggi terutama bila terdapat proteinuria, dan terutama pada bagian ke dua dari masa kehamilan, sebaiknya diberi suplemen Fe, Vitamin C dan B-kompleks.
Sebagai bagian dari kehamilan yang normal, maka terjadi perubahan-perubahan berganda pada tubuh wanita hamil. Perubahan-perubahan ini terutama akan berhubungan dengan darah, sistem kardiovaskuler, sistem pencernaan, jaringan lemak, dan saluran uro-genetalis.
Darah. Diperkirakan kurang lebih 1 g zat besi diperlukan selama kehamilan untuk menunjang kebutuhan besi dalam janin, plasenta, dan peningkatan sintesis sel darah merah ibu sendiri.
Sistem Kardiovaskuler. selama kehamilan, produksi jantung meningkat sampai 1 liter per menit, karena pembesaran pembuluh darah di sekitar kandungan, termasuk jalur arteriovena yang disediakan oleh plasenta untuk memberi makanan kepada janin. Tekanan nadi cenderung melebar dalam kondisi ini dan volume debaran jantung meningkat dengan nyata.
Sistem pencernaan makanan. Selama kehamilan, kombinasi perubahan-perubahan hormonal menyebabkan efek relaksasi pada otot-otot halus seluruh tubuh, termasuk urat-urat nadi. Perut lebih lambat bekerja dan usus kecil menjadi lebih santai. Bukanlah hal yang luar biasa bila pasien-pasien hamil mengeluh adanya panas lambung, karena masuknya kembali asam lambung ke dalam esophagus. Gerakan kontraksi usus berkurang dan biasanya sering terjadi konstipasi.
Jaringan Lemak. Massa jaringan lemak total bertambah selama kehamilan, bukan hanya dalam payudara, tetapi juga di daerah bawah kulit umumnya. Lemak ini biasanya dilepaskan kembali sesudah kelahiran pada wanita yng menyusui, yaitu sebagai bahan bakar bagi pembentukan air susu.
Saluran Uro-genetalis. Saluran uro-genetalis sangat dipengaruhi oleh kadar estrogen dan progesterone. Pembesaran uterus menjadi kira-kira sepuluh kali lipat diperlukan untuk menyediakan cukup tempat bagi janin. Pembengkakan sistem pengumpulan oleh ginjal dan kandung kemih sering terjadi, dan mungkin menjadi permulaan dari gangguan kencing dan infeksi.
Kebutuhan energy untuk kehamilan yang normal kira-kira 80.000 kkal di atas konsunsi biasanya selama seluruh masa kehamilan yaitu 280 hari. Kebutuhan ini memperhitungkan kebutuhan energi untuk pertumbuhan janin dan plasenta dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain karena perubahan-perubahan tubuh ibu selama kehamilan. Hal ini berarti penambahan ekstra sebanyak 300 kkal setiap hari selama masa hamil. Nyata sekali bahwa kebutuhan itu semakin besar dalam trimester ketiga. WHO menganjurkan penambahan sebanyak 150 kkal per hari di atas konsumsi harian selama trimester pertama dan 350 kkal perhari di atas konsumsi harian sesudah masa itu. Angka-angka ini dihitung hanya berdasarkan kehamilan, dan tidak memperhitungkan faktor lainnya seperti variasi aktifitas fisik, perubahan temperature sekeliling atau kebutuhan untuk pertumbuhan kedewasaan yang tak ada kaitannya dengan kehamilan. Pengeluaran energi menurun selama trimester ketiga karena berkurangnya kegiatan.
Seorang ibu hamil memiliki kebutuhan gizi khusus. Beberapa kebutuhan gizi ibu hamil dapat ditutupi oleh makanan sehat yang seimbang. Selain pilihan makanan sehat, pada saat kehamilan dibutuhkan vitamin. Idealnya adalah tiga bulan sebelum kehamilan. Hal ini dapat membantu mendapatkan gizi yang dibutuhkan. Namun, terkadang diperlukan tambahan makanan, bahkan suplemen sesuai kebutuhan. Berikut adalah beberapa syarat makanan sehat bagi ibu hamil:
• Menyediakan energi yang cukup (kalori) untuk kebutuhan kesehatan tubuh anda dan pertumbuhan bayi
• Menyediakan semua kebutuhan ibu dan bayi (meliputi protein, lemak, vitamin, mineral)
• Dapat menghindarkan pengaruh negatif bagi bayi
• Mendukung metabolisme tubuh ibu dalam memelihara berat badan sehat, kadar gula darah, dan tekanan darah.
Menjadi ibu hamil membawa banyak perubahan keseharian anda. Salah satu perubahan yang cukup besar adalah perubahan pola makan. Berikut beberapa tips mengenai pola makan bagi ibu hamil:
• Konsumsilah makanan dengan jumlah lebih banyak dari piramida makanan bagian bawah. Kemudian tambahkan dengan sayuran dan protein, buah, produk susu, dan terakhir makanan berlemak. Dengan konsep paramida, makin ke bawah, makin besar kebutuhan yang harus dipenuhi setiap harinya.
• Menu yang bervariasi pada makanan sangat penting. Hal ini membantu mendapatkan kebutuhan vitamin dan mineral dari makanan yang anda konsumsi. Variasi menu juga membantu mencegah kebosanan.
• Bawalah selalu air putih. Minum air dalam jumlah cukup dapat membantu kehamilan sehat. Dengan cukup air, kulit ibu lebih sehat (lebih elastis), serta dapat mengurangi gejala kehamilan umum seperti sembelit, bengkak, dan sebagainya. Minum cukup 8 gelas air sehari. Minuman lain seperti soda, kopi tidak boleh dihitung sebagai perhitungan 8 gelas air.
• Makanlah dalam jumlah sedikit jika anda memiliki masalah mual atau muntah atau pengurangan ruang di perut ketika hamil. Mengkonsumsi makanan dalam jumlah kecil (namun sering) dapat membantu mengatur kadar gula darah yang membuat anda merasa nyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
• Selalu ingat bahwa penambahan berat badan saat kehamilan merupakan bagian penting dari kehamilan. Hindari diet ataupun pantang pada makanan tanpa berdiskusi dengan praktisi kesehatan anda. Makan baik selama kehamilan dapat memastikan pertambahan berat badan dan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan selama hamil.
• Vitamin maupun suplemen tidak dimaksudkan untuk mengganti asupan makanan anda selama kehamilan. Suplemen dan vitamin dimaksudkan untuk membantu mencukupi kebutuhan yang diperlukan ibu hamil. Anda bisa saja mengkonsumsi banyak vitamin, namun beberapa vitamin (seperti vitamin A) dalam jumlah besar dapat menyebabkan kecacatan. Pastikan anda memberitahukan suplemen vitamin kepada praktisi kesehatan.
Yang perlu diingat adalah bahwa mengkonsumsi makanan selama kehamilan untuk dua orang (ibu dan si jabang bayi) bukan berarti jumlah makanan tidak terkontrol. Yang penting adalah kandungan makanan dalam jumlah yang cukup.

Daftar Pustaka
http://medicastore.com/artikel/268/Kebutuhan_Gizi_Ibu_Hamil.html diambil pada 27 Oktober 2010. 20-05-2009 Enny Sophia-medicastore.com
Suhardjo.2003.Perencanaan Pangan dan Gizi.PT Bumi Aksara.Jakarta
Sediaoetama, Achmad D.2008. Ilmu Gizi.PT Dian Rakyat.Jakarta
Nasution, Andi H.1988.Gizi untuk Kebutuhan Fisiologis Khusus.PT Gramedia.Jakarta

M. Arif Syamsuddin
Posted on 28th October, 2010

M. Arif Syamsuddin
100810015 / 03 / V.B
Bakteri Laktat, Pengawet Sayuran Penghambat Kolesterol
TRAGEDI berulang setiap panen raya sayuran. Produk yang bertumpuk tidak semuanya terjual atau harganya jatuh. Hal ini terus berlangsung di sentra-sentra pertanian sayuran di Jawa Tengah (Magelang, Dieng, Ambarawa), maupun di tempat-tempat lainnya.

Ada berbagai teknik pengawetan agar sayuran tidak membusuk. Salah satu teknik pengolahan sayuran adalah dengan mengawetkannya menjadi asinan atau sejenisnya. Bahkan pengolahan sayuran dengan teknologi fermentasi bukan hanya berfungsi sebagai pengawet sumber makanan, tetapi juga berkhasiat bagi kesehatan.

Departemen Kesehatan di Amerika Serikat beserta instansi terkait pernah gencar mengingatkan masyarakat pengonsumsi daging sapi dari salah satu negara bagiannya yang ternyata tercemar bakteri fekal. Kalau termakan, konsumennya akan muntah-muntah, diare, atau muntaber.

Dampak fermentasi bakteri laktat pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun di bawah 5.0 sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri fekal. Lactobacillus juga menghasilkan lactobacillin (laktobasilin), yaitu sejenis antibiotika serta senyawa lain yang berkemampuan menontaktifkan reaksi kimia yang dihasilkan oleh bakteri fekal di dalam tubuh manusia dan bahkan mematikannya. Dengan demikian, bahaya bakteri fekal bisa dinetralkan. Umum Disantap Beberapa contoh jenis makanan mungkin bukan saja sudah dikenal di masyarakat kita, tetapi malah sudah umum disantap. Sebut saja asinan, sauerkrat, kimchi dan acar (terbuat dari sayuran). Ada juga yang terbuat dari susu, berupa yoghurt, keju, butter, kefir dan susu asam. Sedangkan yang terbuat dari biji serealia seperti beras, jagung, dan sebagainya adalah idli dari India, pui dari Hawaii, pulque dari Meksiko, dan chicha dari Brasil. Bisa disimpulkan, hampir di setiap tempat dan negara selalu ada jenis makanan dan minuman yang merupakan hasil fermentasi laktat.

Jenis bakteri laktat yang terlibat langsung pada pembuatan makanan dan minuman fermentasi adalah Lactobacillus acidophilus, L fermentum, L casei, dan L lactis. Di beberapa kawasan Indonesia, tanpa disadari makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian di dalam menu makanan sehari-hari. Yang paling terkenal tentu saja adalah asinan sayuran dan buah-buahan. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan. Bekasam atau bekacem dari Sumatera bagian Selatan, yaitu ikan awetan dengan cara fermentasi bakteri laktat, bukan saja merupakan makanan tradisional yang digemari, tetapi juga menjadi contoh pengawetan secara biologis yang luas penggunaannya. Padahal, cara pembuatannya sangat sederhana. Ikan-ikan yang sudah dibersihkan isi dan sisiknya kemudian dicampur nasi serta disimpan pada tempat tertutup selama beberapa hari atau minggu, hingga tercium bau asam. Maka setelah dibersihkan, ikan bisa tahan lama hingga tahunan walau tekstur ikannya akan mengeras. Jadi, sebelum dimasak harus direndam terlebih dahulu agar lunak.

Hal serupa juga terjadi pada pembuatan terasi. Terasi yang baik, seperti asal Cirebon yang terkenal dari “rebon” (udang kecil) dan terasi Sidoarjo dari ikan, dibuat dengan menggunakan ramuan bukan saja dari rebon dan ikan, tetapi juga sayuran. Maka, selama proses pembuatannya, muncul bau asam yang berasal dari asam laktat.

Tidak mengherankan bila dalam makanan awetan di atas terkandung senyawa bermanfaat seperti laktobasilin. Bakteri laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. Bakteri ini juga menempel pada jasad hidup lain seperti tanaman, hewan, serta manusia.
Pada manusia, sejumlah bakteri laktat ditemukan di usus, aliran darah, paru-paru, serta mulut. Pada vagina yang merupakan organ reproduksi wanita, tercatat delapan jenis bakteri laktat, antara lain Lacobacillus acidophilus, L fermentum, L brevis, L casei, L leichmannii, L lactis, L salivarius, dan L cellobiosus.

Vitamin
Asam laktat yang dihasilkan bakteri dengan nilai pH (keasaman) 3,4-4 cukup untuk menghambat sejumlah bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman. Namun, selama proses fermentasi, tidak hanya menghasilkan asam laktat dan laktobasilin. Dihasilkan pula senyawa tertentu yang dapat meningkatkan nilai organoleptik makanan dan minuman, termasuk rasa dan bau yang mengundang selera serta memperbaiki penampilan. Bahkan sejak awal 1960-an telah dibuktikan oleh tim peneliti di lingkungan Laboratorium Mikrobiologi ITB, selama pembuatan terasi ikan diproduksi sejumlah vitamin, khususnya B-12.

Penelitian juga menunjukkan, laktobasilin yang dihasilkan asam laktat membuat bakteri fekal tidak aktif.
Proses pembentukan kolesterol dan karsinogen (senyawa pemicu tumor) dimulai dari lemak yang akan berubah menjadi asam empedu yang kemudian menjadi sederet enzim. Kemudian mengubah prokarsinogen menjadi karsinogen, yang antara lain memicu kanker usus, payudara, prostat, dan pankreas.
Proses pembentukan asam empedu dari lemak dirangsang oleh bakteri fekal atau bakteri coli yang berasal dari tinja atau feses. Tetapi dengan adanya laktobasilin, maka bakteri fekal menjadi tidak aktif sehingga proses perubahan lemak menjadi asam empedu juga terhenti. Senyawa lain dari bakteri laktat adalah NI (not yet identified atau belum diketahui). Namun, senyawa ini sudah diketahui perannya dalam menghambat pembentukan kolesterol.

NI bekerja menghambat enzim 3-hidroksi 3-metil glutaril reduktase yang akan mengubah NADH menjadi asam nevalonat dan NAD. Dengan demikian, rangkaian senyawa lain yang akan membentuk kolesterol juga terhambat. Karena itu bisa dikatakan kalau kehadiran makanan dan minuman yang diasamkan secara alami dengan fermentasi bakteri laktat, bisa membantu pengonsumsinya mencegah munculnya kolesterol dan kanker. (13)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/03/13/4651/Bakteri-Laktat-Pengawet-Sayuran-Penghambat-Kolesterol

LILA ULVIANINGTIAS
Posted on 28th October, 2010

LILA ULVIANINGTIAS
04/100810020
IKM-B’08

MUTU DAN KEAMANAN PANGAN
Status kesehatan seseorang berhubungan dengan kecukupan asupan gizi yang dikonsumsi. Asupan gizi sendiri tidak lepas dari keberadaan pangan yang memadai. Akan tetapi ketersediaan pangan yang memadai tanpa disertai kualitas (mutu dan keamanan) yang cukup tidak akan mampu membantu peningkatan status kesehatan. Rendahnya mutu dan keamanan pangan juga dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit yang biasa disebut dengan PBM ( Penyakit Bawaan Makanan). Penyebab banyak penyakit yang dibawa oleh makanan dari yang ringan hanya diare sampai dengan botulisme, tipus, hepatitis, parasitis, efek kronis dari kontaminan bahan kimia dan lain–lain. WHO (2004) dalam laporannya menyebutkan bahwa angka kematian global akibat diare selama tahun 2002 adalah sebesar 1,8 juta orang. Oleh karena itu perlu sekali dilakukannya tindakan pengendalian mutu dan keamanan pangan untuk menekan terjadinya penyakit karena pangan serta demi terwujudnya peningkatan status kesehatan.
Mutu Pangan
Mutu pangan merupakan seperangkat sifat atau faktor pada produk pangan yang membedakan tingkat pemuas/aseptabilitas produk itu bagi pembeli/konsumen. Mutu pangan bersifat multidimensi dan mempunyai banyak aspek. Aspek-aspek mutu pangan tersebut antara lain:
1.aspek gizi (kalori, protein, lemak, mineral, vitamin, dan lain-lain).
2.aspek selera (indrawi, enak, menarik, segar).
3.aspek bisnis (standar mutu, kriteria mutu).
4.aspek kesehatan (jasmani dan rohani).
Sedangkan unsur mutu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: sifat mutu, parameter mutu, dan faktor mutu.
1.Sifat mutu
Ada lima sifat mutu, yaitu dasar penilaian mutu; kepentingan (standarisasi, uji mutu, sertifikasi, dan penggunaan produk); sifat subyektif (morfologi, fisik, mekanik, kimiawi, mikrobiologi, fisiologik, dan anatomi); aspek penting (cacat, pencemaran/pemalsuan, sanitasi); serta sanitasi (merupakan tiang mutu).
2.Parameter mutu adalah gabungan dari dua atau lebih sifat mutu yang menjadi suatu ukuran.
3.Faktor mutu adalah sesuatu yang berkaitan dengan produk tetapi tidak bisa diukur dan dianalisa oleh peralatan apapun juga. Faktor mutu terbagi menjadi empat, yaitu: asal daerah, varietas/ras, umur panen, dan faktor pengolahan. Berdasarkan asal daerah, mutu terbagi lagi menjadi nama jenis, nama mutu, serta kekhasan daerah (faktor iklim, produk primer dan produk olahan). Berdasarkan varietas/ras dibedakan berdasarkan ciri-ciri khas, varietas tanaman, ras hewan (ternak), sifat genetik dengan hibrida, dan sistem sertifikasi ras/variasi. Hibrida adalah mengumpulkan beberapa sifat yang diinginkan dan hanya berlaku pada generasi itu saja, sedangkan untuk generasi selanjutnya sifatnya sudah hilang.
Keamanan Pangan
Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Keamanan pangan disini dikaitkan dengan pengendalian sanitasi dalam penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan. Pengendalian sanitasi bertujuan untuk mencegah kemungkinan tumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan kesehatan manusia. Pengendalian sanitasi harus sesuai dengan persyaratan sanitasi yang telah tercantum pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada suatu daerah/negara yang menjadi sasaran pasar pangan.
Tujuan dari perwujudan keamanan pangan adalah:
(1) Menghindarkan masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan, yang tercermin dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran produsen terhadap mutu dan keamanan pangan.
(2) Memantapkan kelembagaan pangan, yang antara lain dicerminkan oleh adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur keamanan pangan.
(3) Meningkatkan jumlah industri pangan yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kebijakan Sistem Mutu dan Keamanan Pangan di Indonesia.
Kebijakan Nasional tentang Mutu dan Keamanan Pangan telah disusun secara lintas sektoral dengan melibatkan berbagai Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terlibat dalam pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan. Kebijakan Mutu dan keamanan Pangan nasional tersebut adalah sebagai berikut (Kantor Menteri Negara Pangan: 1997):
1.Meningkatkan mutu dan keamanan pangan melalui penelitian dan pengembangan, pengembangan peraturan perundang-undangan serta kelembagaan.
2.Meningkatkan mutu gizi pangan dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat.
3.Memberikan jaminan bahwa pangan sebagai bahan baku industri maupun konsumsi, bebas dari kontaminasi bahan kimia, biologi dan toksin, serta tidak bertentangan dengan keyakinan yang dianut oleh masyarakat.
4.Menerapkan secara terpadu sistem jaminan mutu dan keamanan pangan sejak pra produksi, selama proses produksi sampai konsumen baik dalam pembinaan maupun pengawasan melalui Program Sistem Mutu dan Keamanan Pangan Nasional.
5.Meningkatkan pengawasan melekat/mandiri (self regulatory control) pada produsen, konsumen, pengolah, pedagang, serta pembina dan pengawas mutu dalam melaksanakan jaminan mutu dan keamanan pangan.
6.Melarang memperadagangkan (ekspor dan impor) pangan yang melanggar ketentuan yang secara internasional telah disepakati bersama.
7.Melaksanakan sertifikasi dan menerebitkan sertifikat mutu produk pangan yang memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produsen, eksportir dan eksportir produsen yang telah mampu menerapkan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan.
8.Menjaga standar mutu yang tinggi dalam setiap aspek kinerja pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan secara terpadu.
9.Melaksanakan pemasyarakatan Program Mutu dan keamanan Pangan Nasional.
10.Pengembangkan sumberdaya manusia pembinaan dan pengawasan mutu pangan melalui pendidikan dan latihan.

Sumber :
http://drhyudi.blogspot.com/2009/07/definisi-higiene-sanitasi-dan-higiene.html
http://aqela.blogsome.com/category/mutu-pangan/
http://www.scribd.com/doc/4378642/keamanan-pangan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN

CUT NICKY C.D.H.
Posted on 28th October, 2010

Cut Nicky Candra D.H
Smt 5B / 100810080 / 11

Bahaya Penggunaan Zat Pewarna untuk Tekstil yaitu Rhodamine B sebagai Zat Pewarna pada Makanan.

Dewasa ini keamanan penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih dipertanyakan di kalangan konsumen. Sebenarnya konsumen tidak perlu khawatir karena semua badan pengawas obat dan makanan di dunia secara kontinyu memantau dan mengatur zat pewarna agar tetap aman dikonsumsi. Jika ditemukan adanya potensi risiko terhadap kesehatan, badan pengawas obat dan makanan akan mengevaluasi pewarna tersebut dan menyebarkan informasinya ke seluruh dunia. Pewarna yang terbukti mengganggu kesehatan, misalnya mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker, akan dilarang digunakan. Di Indonesia tugas ini diemban oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Baik zat pewarna sintetis maupun alami yang digunakan dalam industri makanan harus memenuhi standar nasional dan internasional. Penyalahgunaan zat pewarna melebihi ambang batas maksimum atau penggunaan secara ilegal zat pewarna yang dilarang digunakan dapat mempengaruhi kesehatan konsumen, seperti timbulnya keracunan akut dan bahkan kematian. Pada tahap keracunan kronis, dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan syaraf, gangguan organ tubuh dan kanker (Lee 2005).

Pemerintah telah mengatur penggunaan zat pewarna dalam makanan. Namun demikian masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan zat-zat pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya rhodamine B sebagai pewarna untuk tekstil atau cat yang pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah, lebih stabil dalam penyimpanan, harganya lebih murah dan produsen pangan belum menyadari bahaya dari pewarna tersebut.

Rhodamine B
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamine B termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa. Sebagai contoh, rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman seperti kerupuk, sambal botol dan sirup di Makassar pada saat BPOM Makassar melakukan pemeriksaan sejumlah sampel makanan dan minuman ringan (Anonimus 2006).

Rhodamine B termasuk zat yang apabila diamati dari segi fisiknya cukup mudah untuk dikenali. Bentuknya seperti kristal, biasanya berwarna hijau atau ungu kemerahan. Di samping itu rhodamine juga tidak berbau serta mudah larut dalam larutan berwarna merah terang berfluorescen. Zat pewarna ini mempunyai banyak sinonim, antara lain D and C Red no 19, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine dan Brilliant Pink B. Rhodamine biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini digunakan sebagai pewarna bahan kain atau pakaian. Campuran zat pewarna tersebut akan menghasilkan warna-warna yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil, rhodamine B juga sangat diperlukan oleh pabrik kertas. Fungsinya sama yaitu sebagai bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas yang menarik. Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan.

Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamine B termasuk karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan fungsi hati atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati (Syah et al. 2005). Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan pada makanan. Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma (Anonimus 2006).

Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti dengan analisis metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamine B tidak hanya disebabkan oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal dan arsen (Subandi 1999). Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun kosmetik sekalipun. Hal ini didukung oleh Winarno (2004) yang menyatakan bahwa timbal memang banyak digunakan sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam makanan dapat terjadi salah satu diantaranya oleh zat pewarna untuk tekstil.

Jadi, penambahan zat pewarna pada makanan dilakukan hanya untuk memberi kesan menarik bagi pembeli, menyeragamkan warna makanan, menstabilkan warna dan menutupi perubahan warna selama penyimpanan. Dan penambahan zat pewarna ini pada makanan terbukti mengganggu kesehatan, misalnya mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker. Oleh karena itu rhodamine B dinyatakan sebagai pewarna berbahaya dan dilarang penggunannya. Pemerintah sendiri telah mengatur penggunaan zat pewarna dalam makanan. Namun demikian masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan zat-zat pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya pewarna untuk tekstil atau cat yang pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah, lebih stabil dalam penyimpanan, harganya lebih murah dan produsen pangan belum menyadari bahaya dari pewarna-pewarna tersebut.

Alternatif lain untuk menggantikan penggunaan zat pewarna sintetis adalah dengan menggunakan pewarna alami seperti ekstrak daun suji, kunyit dan ekstrak buah-buahan yang pada umumnya lebih aman. Di samping itu masih ada pewarna alami yang diijinkan digunakan dalam makanan antara lain caramel, beta-karoten, klorofil dan kurkumin.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2006. Rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman di Makassar. Republika Kamis 5 Januari 2006. http://www.republika.co.id/online_detail.asp?=229881&kat_id=23. [30 September 2006].
Lee TA, Sci BH, Counsel. 2005. The food from hell: food colouring. The Internet Journal of Toxicology. Vol 2 no 2. China: Queers Network Research.
Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Subandi. 1999. Penelitian kadar arsen dan timbal dalam pewarna rhodamine B dan auramine secara spektrofotometri: Suatu penelitian pendahuluan. http://www.malang.ac.id/jurnal/fmipa/mipa/1999a.htm. [30 September 2006 ]
Winarno FG. 2004. Keamanan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

nizar rohman amin
Posted on 28th October, 2010

NIZAR ROHMAN AMIN
88/100810423
IKM-A’08

Bahaya Saos Botolan Kaki Lima
Apakah anda suka makan bakso, mie ayam, siomay atau batagor di pinggir jalan? Jika iya, berarti Anda tahu saos dalam kemasan botol sebesar botol kecap. Atau jangan-jangan anda sangat gemar mengkonsumsi jajanan pinggir jalan dengan mencampurkan saos tersebut pada makanan anda? Dan apabila benar maka sebaiknya anda hentikan kebiasaan tersebut.
Saos-saos tersebut bisa saja mengandung zat aditif seperti bahan pengawet, pewarna, penguat rasa (mono sodium glutamat) dan lain sebagainya. Dan alasan itulah yang memicu hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti misalnya dari bahan mono sodium glutamat yang merupakan zat yang sulit dicerna oleh alat cerna manusia, otomatis unsur nutrisi yang lain pencernaannya juga akan terhambat, jika tubuh sudah sulit untuk mendapat asupan gizi
maka jangan heran jika perkembangan otaknya juga lambat. Serta bahan pengawet yang dikonsumsi terus-menerus oleh tubuh bisa mengakibatkan kankerr hati. Hal ini karena bahan pengawet yang bersifat racun bagi tubuh. Dan hati yang tugasnya menetralkan racun di dalam tubuh tidak akan bisa bekerja secara maksimal apabila racun dari saos tersebut terlalu banyak dan terus-menerus.
Selain itu faktor lain adalah ketika saos tersebut dipasarkan bisa saja terjadi perubahan terhadap saos tersebut, bisa karena penyimpanan yang tidak benar, suhu penyimpanan yang salah, ataupun saos tersebut sudah kadaluarsa. Banyaknya saos-saos yang mengandung zat-zat berbahaya beredar di masyarakat karena semakin banyaknya home industri yang bermunculan yang tidak memakai aturan yang benar untuk membuat saos,
yang pada akhir-akhir ini banyak kita ketahui investigasi saos yang tidak berlabel ataupun labelnya hanya menggunakan sablon biasa terbuat dari bahan pepaya yang hampir busuk bukan tomat segar yang kemudian dicampur dengan bahan pengawet mayat yaitu formalin sehingga awet dan rasanya yang cenderung gurih dari penyedap kain batik yang sangat tidak aman untuk tubuh dan kalau membuat saos sambal dari sisa cabe yang sudah tidak segar terkadang tercampur ulat atau belatung!!.
Pemerintah dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikanperaturan tentang batasan dalam pembuatan saos itu sendiri serta melakukan beberapa kali razia terhadap saos yang mengandung zat-zat berbahaya, seperti pewarna, pengawet, dan msg. BPOM juga mengeluarkan peraturan dalam Pasal 26 Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 722/Menkes/PER/IX/88. Pasal itu menyebutkan kandungan natrium benzoat yang diperbolehkan dalam suatu produk, adalah maksimal 600mg/kguntuk produk kecap, sementara untuk aneka saos maksimal 1.000 mg/kg.
Beberapa produsen saos cabai ada yang melakukan fortifikasi yaitu penambahan zat-zat gizi tertentu biasanya berupa vitamin dan mineral. Hal tersebut dapat dilihat pada label kemasannya. Dengan karakteristiknya yang kental dan berwarna, saos cabai, cukup menguntungkan untuk difortifikasi dengan beberapa zat gizi. Ke dalam saos cabai dapat ditambahkan zat gizi mikro yang sangat penting bagi kesehatan seperti mineral iodium (untuk mencegah gondok, kertinisme dan gangguan kecerdasan), zat besi (mencegah
anemia gizi), dan vitamin A (mencegah gangguan proses penglihatan dan kebutaan). Ketiga zat gizi mikro tersebut sangat perlu ditambahkan mengingat masih banyaknya masalah gizi kurang akibat kekurangan zat-zat tersebut. Fortifikasi zat gizi ke dalam berbagai produk pangan hasil industri sangat berarti bagi pengentasan berbagai masalah yang menyangkut gizi.
Masyarakat seharusnya tidak perlu resah. Saos yang aman dari zat-zat berbahaya juga ada. Seperti saos dari AB* dan Ind*food. Hal tersebut sudah terjamin karena kedua merk tersebut telah didaftarkan dan diawsai oleh BPOM. Tetapi kebanyakan mengkonsumsi saos juga tidak baik karena tidak baik untuk usus dan lambung
Daftar Pustaka
http://www.BlogWordPress.com/bahaya saos botol
Subandi. 1999. Penelitian kadar arsen dan timbal dalam pewarna rhodamine B dan auramine secara spektrofotometri: Suatu penelitian pendahuluan

Winarno FG. 2004. Keamanan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Stephany M. Pondaang + daftar pustaka
Posted on 28th October, 2010

Stephany M. Pondaang
100810349
IKM B ‘08

Ketersediaan dan Ketahanan Pangan di Tingkat Rumah Tangga

Pangan merupakan semua jenis bahan yang terdapat di alam yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Sedangkan makanan merupakan seluruh bahan hasil olahan yang dapat dimakan ataupun diminum. Makanan yang dibutuhkan oleh manusia biasanya didapat melalui bertani atau berkebun yang meliputi sumber hewan dan tumbuhan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Pangan di Indonesia saat ini mengalami krisis dan membuat Indonesia tergantung kepada impor, dan harganya naik tak terkendali. Masalah krisis pangan ini sebenarnya terkait dengan sistem penyediaan pangan yang tidak dapat terpenuhi dengan baik. Seharusnya sistem penyediaan pangan memenuhi lima karakteristik dasar: kapasitas, yakni kemampuan menghasilkan (produksi), mengimpor dan menyimpan makanan pokok dalam jumlah yang cukup guna memenuhi kebutuhan semua penduduk; pemerataan, yakni kemampuan menjamin dan mendistribusikan makanan pokok sehingga tersedia dalam rumah tangga; kemandirian; yakni kemampuan menjamin kebutuhan ketersediaan makanan pokok dengan mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga ancaman fluktuasi pasar dan tekanan politik internasional dapat ditekan seminimal mungkin; kehandalan, yakni kemampuan meredam dampak variasi musiman siklus tanaman sehingga kecukupan ketersediaan pangan dapat terjamin setiap saat; keberlanjutan, yakni kemampuan menjaga keberlanjutan kecukupan ketersediaan pangan dalam jangka panjang tanpa merusak lingkungan hidup. Produksi pangan merupakan suatu proses dimana menghasilkan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dalam produksi pangan ini, dapat dihasilkan suatu perubahan bentuk pangan. Setelah menghasilkan, lalu pangan tersebut didistribusikan ke seluruh daerah dan ke seluruh lapisan masyarakat. Namun hal ini terkadang mendapati sebuah kesulitan, karena tidak semua pangan dapat diakses ataupun dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena kondisi geografi daerah tempat tinggal masyarakat, dimana kondisi ini dapat menyulitkan masyarakat untuk mengakses pangan atau makanan tersebut. Alasan lainnya ialah karena kondisi ekonomi masyarakat yang tidak mampu membeli pangan tersebut sehingga pangan tersebut tidak dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Lalu bagaimana dengan ketersedian pangan di masing-masing rumah tangga?

Berdasarkan data Dewan Ketahanan Pangan menunjukkan, terdapat 81 juta orang yang mengalami defisit energi dan protein, sementara 8 juta orang lainnya berada dalam kondisi rawan pangan. Begitu pun status gizi anak, angka kematian bayi, dan gangguan pertumbuhan anak menunjukkan indikasi belum tercukupinya kebutuhan gizi di tingkat individu secara merata. Keadaan di atas menunjukkan bahwa di tingkat rumah tangga ketahanan dan ketersediaan pangan masih lemah. Akses rumah tangga terhadap pangan masih memprihatinkan. Di tingkat rumah tangga, konsumsi rata-rata pangan belum mencapai standar kecukupan. Masing-masing rumah tangga memiliki karakteristik yang berbeda yang dapat menyebabkan perbedaan dalam ketersediaan pangan di rumah mereka. Pengetahuan orang tua dan pendapatan orang tua merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketersediaan pangan di rumah mereka.
Pembelian jenis-jenis pangan di pasar dipengaruhi oleh pengetahuan rumah tangga dalam hal pangan dan gizi, kebiasaan makan dan nilai-nilai budaya yang dianut rumah tangga. Ini berat walaupun rumah tagga memiliki daya beli yang cukup dan pangan yang juga tersedia, namun bila pengetahuan pangan dan gizinya masih rendah maka akan sulit bagi rumah tangga yang bersangkutan untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya baik secara kuantitas maupaun kualitas. Namun keluarga yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah menyebabkan keluarga tersebut tidak mampu membeli pangan untuk memenuhi kebutuhan minimum mereka. Bagi keluarga yang tidak bekerja atau berpenghasilan rendah, kenaikan harga pangan dapat mengancam ketahanan dan ketersediaan pangan rumah tangganya. Dengan penghasilan rendah sehingga pengeluarannya juga rendah, tingkat aksesibilitas mereka terhadap pangan menjadi rendah karena terbatasnya daya beli. Padahal, hak atas pangan sebagian dari upaya mempertahankan hidup dan kehidupan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia. Seperti disebutkan di atas, ketersediaan pangan dan ketahanan pangan di rumah tangga bergantung pada tingkat ekonomi dan pengetahuan keluarga, sehingga mempengaruhi peranan ibu dalam mengolah pangan dan mengasuh bayi serta anak-anaknya. Ibu yang memiliki pengetahuan dan pendapatan yang baik maka akan berusaha untuk memberikan asuhan dan makanan yang terbaik dan berkualitas, serta aman bagi anaknya serta mampu mengolah pangan dengan baik sesuai dengan usia anaknya dan mengasuh anaknya dengan baik dan cekatan. Namun jika ibu memiliki pengetahuan yang kurang baik dan ekonominya cukup rendah maka kebutuhan gizi anak dapat tidak tercukupi dengan baik, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan anak. Sehingga tak salah jika sebagian orang berpendapat bahwa tingkat ekonomi merupakan penyebab utama dari lemahnya ketersediaan dan ketahanan pangan di rumah tangga.

Untuk mengatasi lemahnya ketersediaan dan ketahanan pangan di rumah tangga, pemerintah harus menopang aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan. Pada aspek-aspek inilah peran regulasi pemerintah dibutuhkan.

Pada aspek ketersediaan harus terwujud swasembada pangan yang bertumpu pada produksi domestik lewat peningkatan akses lahan serta pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan penguasaan ilmu dan teknologi on farm maupun off farm bagi petani, khususnya guna mendukung peningkatan produktifitas.

Pada aspek distribusi harus terwujud pasar pangan yang adil bagi produsen dan konsumen. Untuk itu diperlukan, pertama, intervensi pasar pangan berupa insentif harga yang menguntungkan bagi petani dan bagi konsumen sehingga tercipta suatu sikap saling ketergantungan antara petani dengan konsumen. Dan konsumen dapat menjangkau harga tersebut dan petani tidak mengalami kerugian. Masalah-masalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh pada harga, daya beli rumahtangga yang berkaitan pendapatan rumah tangga, dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh pada konsumsi dan kecukupan pangan rumah tangga. Ke dua, intervensi sistem distribusi pangan agar terwujud keseimbangan distribusi antarwaktu dan antarwilayah dengan dukungan infrastruktur transportasi serta pasar yang memadai.

Pada aspek konsumsi harus terwujud budaya makan yang sehat, aman, beragam, dan seimbang. Hal ini bisa ditempuh melalui diversifikasi bahan pangan yang tetap bertumpu pada keberagaman sumber daya lokal disertai diversifikasi cara pengolahan dan konsumsi serta peningkatan kesadaran budaya hidup sehat melalui pendidikan dan penyuluhan dengan dukungan upaya peningkatan pendapatan rumah tangga. Adapun program jaminan sosial akses pangan diperuntukkan bagi rumah tangga miskin atau rumah tangga lain yang karena alasan tertentu, misalnya karena bencana alam, sulit mendapatkan pangan. Mengingat kemiskinan bersifat dinamis antarwaktu dan antarwilayah, jaminan ini harus dinamis sehingga setiap keluarga miskin dapat segera terlindungi jaminan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ketersediaan dan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga masih dalam tingkatan yang cukup memprihatinkan, yang disebabkan tingkat ekonomi yang rendah serta faktor lainnya yang berpengaruh. Oleh karena itu diperlukan peran serta pemerintah dalam mengatasi hal ini, yaitu dengan menopang aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan. Dengan cara melakukan swasembada pangan serta diversifikasi dan peningkatan mutu dan kualitas SDM, pemerataan pangan dan insentif harga yang menguntungkan bagi produsen dan konsumen. Serta pemerintah dapat melakukan perluasan lapangan pekerjaan guna meningkatkan pendapatan masyarakat.

Daftar pustaka

Ramly, Edy. 2001. Perspektif Pangan Masa Depan. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0109/26/opi02.html. Diakses pada 21 Oktober 2010.

Rusastra, I Wayan. 2010. Teknologi Pangan Sedagai Pendukung Ketahanan Pangan. http://ciprutchece.student.umm.ac.id/2010/08/18/teknologi-pangan/. Diakses pada 24 Oktober.2010

Siswono. 2004. Menjembatani Kesenjangan Ketersediaan dan Akses Pangan. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1086152100,22842,. Diakses pada 22 Oktober 2010.

Soemarno. Strategi Pemenuhan Kecukupan Pangan Rumah Tangga Petani. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=4&ved=0CB0QFjAD&url=http%3A%2F%2Fimages.soemarno.multiply.multiplycontent.com%2Fattachment%2F0%2FTCG21QooCzYAADDaPzU1%2Fstrategi%2520pemenuhan%2520kecukupan%2520pangan%2520rumahtangga%2520petani4.doc%3Fnmid%3D345167162&ei=Z2HJTPeDN4yyuAPRmMED&usg=AFQjCNGaG9rDeTHQhczHi2K5LLbS1giRgA. Diakses pada 24 Oktober 2010.

Yuniarti, Niar. 2008. Krisis Pangan, Ironi Negeri Ini. http://km.itb.ac.id/web/diskusi/?p=7. Diakses pada 22 Oktober 2010.

CORNEY MARGARETHA S
Posted on 28th October, 2010

Corney Margaretha S
100810452
Ikm B/ 86

KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA YANG MASIH SEBATAS KONSEP
Urusan makan memang bukan sekedar masalah perut. Meskipun ada yang mengatakan makan bukan untuk sekedar hidup tetapi urusan makanan tetap tak dapat dipandang sebelah mata. Tengok saja bencana kelaparan di negeri kita seolah menguatkan ungkapan: ayam yang mati di lumbung padi. Situasi ironis yang membuat miris. Pun urusan pangan dapat berkaitan dengan politik. Pramoedya A. Toer pernah menuturkan sebuah kisah tentang seorang raja di China yang pusing memikirkan kondisi rakyatnya di tengah hantu pemberontakan. Sang penasihat membisikkan kalimat melegakan: “Buatlah rakyat menjadi kenyang sehingga mereka tenang. Jangan biarkan mereka kelaparan!”
Berabad-abad kemudian pemikir Thomas Robert Malthus juga meramalkan sesuatu yang berhubungan dengan urusan pangan. Ia meramalkan pertambahan penduduk berlangsung menurut deret ukur sedangkan persediaan makanan bertambah seperti deret hitung, Dengan teori tersebut kita dapat memperhitungkan bahwa suatu saat manusia di bumi akan mengalami kekurangan pangan.Ketika manusia lapar segala hal dapat terjadi. Berbagai cara dan strategi ditempuh untuk mengisi perut mereka. Setelah berhasil memperoleh makanan, manusia yang diberi kecerdasan oleh sang Pencipta, mengolah makanan tersebut hingga dapat dikonsumsi. Berbagai teknik mengolah makanan dipelajari oleh manusia di berbagai belahan dunia. Tak jarang perbedaan budaya dari setiap bangsa saling bersilang hingga menghasilkan jenis makanan baru.

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Menurut UU RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa pangan merupakan hak asasi bagi setiap individu di Indonesia. Oleh karena itu terpenuhinya kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Selain itu pangan juga memegang kebijakan penting dan strategis di Indonesia berdasar pada pengaruh yang dimilikinya secara sosial, ekonomi, dan politik.

Konsep ketahanan pangan di Indonesia berdasar pada Undang-Undang RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana setiap individu dan rumahtangga memiliki akses secara fisik, ekonomi, dan ketersediaan pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat. Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangakau oleh masyarakat juga tidak boleh dilupakan.

Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global, nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan suatu rangkaian system hirarkis. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya ketersediaan pangan bagi umat manusia.
Bagi Indonesia, ketahanan pangan masih sebatas konsep. Pada prakteknya, permasalahan ketahanan pangan di Indonesia masih terus terjadi, masalah ini mencakup empat aspek aspek pertama ialah aspek produksi dan ketersediaan pangan. Ketahanan pangan menghendaki ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dan setiap rumah tangga. Dalam arti setiap penduduk dan rumah tangga mampu untuk mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup. Permasalahan aspek produksi diawali dengan ketidakcukupan produksi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan produksi pangan yang relatif lebih lambat dari pertumbuhan permintaannya. Permasalahan ini akan berpengaruh pada ketersediaan bahan pangan. Ketersediaan bahan pangan bagi penduduk akan semakin terbatas akibat kesenjangan yang terjadi antara produksi dan permintaan. Selama ini, permasalahan ini dapat diatasi dengan impor bahan pangan tersebut. Namun, sampai kapan bangsa ini akan mengimpor bahan pangan dari luar? Karena hal ini tidak akan membuat bangsa ini berkembang. Sebaliknya akan mengancam stabilitas ketahanan pangan di Indonesia dan juga mengancam produk dalam negeri.
Aspek selanjutnya ialah aspek distribusi. Permasalahan di dalam permbangunan ketahanan pangan adalah distribusi pangan dari daerah sentra produksi ke konsumen di suatu wilayah. Distribusi adalah suatu proses pengangkutan bahan pangan dari suatu tempat ke tempat lain, biasanya dari produsen ke konsumen. Berikut ini merupakan ilustrasi yang menggambarkan permasalahan distribusi pangan di Indonesia.
Thailand merupakan negara pengekspor beras terbesar di dunia, sementara Indonesia merupakan negara pengimport beras. Berdasarkan data, harga produksi rata-rata gabah atau beras antara Indonesia dan Thailand tidak terlalu berbeda jauh sekitar 100 USD per ton. Namun harga beras di pasaran antara Thailand dan Indonesia cukup berbeda jauh. Harga beras di Indonesia sampai awal tahun 2004 berkisar antara Rp. 2.750, 00 – Rp. 3.000, 00. Harga beras di Thailand lebih lebih murah dibandingkan itu. Hal ini dapat menunjukkan bahwa permasalahan yang terjadi tidak hanya pada skala produksi, namun juga terdapat pada rantai distribusi beras tersebut dapat sampai pada konsumen.

Berikut ini ada empat akar permasalahan pada distribusi pangan, yang dihadapi. Pertama, dukungan infrastruktur, yaitu kurangnya dukungan akses terhadap pembangunan sarana jalan, jembatan, dan lainnya. Kedua, sarana transportasi, yakni kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat di dalam pemeliharaan sarana transportasi kita. Ketiga, sistem transportasi, yakni sistem transportasi negara kita yang masih kurang efektif dan efisien. Selain itu juga kurangnya koordinasi antara setiap moda transportasi mengakibatkan bahan pangan yang diangkut sering terlambat sampai ke tempat tujuan. (4) masalah keamanan dan pungutan liar, yakni pungutan liar yang dilakukan oleh preman sepanjang jalur transportasi di Indonesia masih sering terjadi.

Aspek lain yang tak kalah penting ialah aspek konsumsi. Permasalahan dari aspek konsumsi diawali dengan suatu keadaan dimana masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi terhadap bahan pangan beras. Berdasarkan data tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap beras sekitar 134 kg per kapita. Walaupun kita menyadari bahwa beras merupakan bahan pangan pokok utama masyarakat Indonesia. Keadaan ini dapat mengancam ketahanan pangan negara kita. Jika kita melihat bahwa produksi beras Indonesia dari tahun ke tahun yang menurun tidak diimbangi dengan tingkat konsumsi masyarakat terhadap beras yang terus meningkat. Walaupun selama ini keadaan ini bisa teratasi dengan mengimport beras. Namun sampai kapan negara ini akan terus mengimport beras? Pertanyaan ini perlu kita perhatikan.
Pola konsumsi masyarakat terhadap suatu bahan pangan sangat dipengaruhi oleh dua faktor, diantaranya : tingkat pengetahuan masyarakat tersebut terhadap bahan pangan atau makanan yang dikonsumsi dan pendapatan masyarakat. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap bahan pangan juga sangat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat tersebut. Apabila suatu masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahan pangan yang sehat, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi. Maka masyarakat tersebut tentunya akan lebih seksama dalam menentukan pola konsumsi makanan mereka. Selain itu, pendapatan masyarakat sangat berpengaruh di dalam menentukan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan data dari BPS mengenai hubungan antara skor pola pangan harapan (PPH) suatu masyarakat dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Terdapat hubungan positif dianta keduanya, yakni semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan suatu masyarakat maka akan semakin tinggi pula pola pangan harapan masyarakat tersebut.

Aspek terkhir ialah aspek kemiskinan. Ketahanan pangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek kemiskinan. Kemiskinan menjadi penyebab utamanya permasalahan ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan tingkat pendapatan masyarakat yang dibawah rata-rata sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Tidak tercukupi pemenuhan kebutuhan masyarakat dikarenan daya beli masyarakat yang rendah juga akan mempengaruhi tidak terpenuhinya status gizi masyarakat. Tidak terpenuhinya status gizi masyarakat akan berdampak pada tingkat produktivitas masyarakat Indonesia yang rendah. Status gizi yang rendah juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan generasi muda suatu bangsa. Oleh karena itu daptlah kita lihat dari tahun ke tahun kemiskinan yang dikaitkan dengan tingkat perekonomian, daya beli, dan pendapatan masyarakat yang rendah sangat berpengaruh terhadap stabilitas ketahanan pangan di Indonesia.

Dari berbagai aspek permasalahan di atas, sebenarnya ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh bangsa kita agar memiliki ketahanan pangan yang baik. Diantara solusi tersebut ialah diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan adalah suatu proses pemanfaatan dan pengembangan suatu bahan pangan sehingga penyediaannya semakin beragam. Latar belakang pengupayaan diversifikasi pangan adalah melihat potensi negara kita yang sangat besar dalam sumber daya hayati. Indonesia memiliki berbagai macam sumber bahan pangan hayati terutama yang berbasis karbohidrat. Setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik bahan pangan lokal yang sangat berbeda dengan daerah lainnya. Diversifikasi pangan juga merupakan solusi untuk mengatasi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap satu jenis bahan pangan yakni beras.
Selanjutnya ialah mendukung secara nyata kegiatan peningkatan pendapatan in situ (income generating activity in situ).

Peningkatan pendapatan in situ bertujuan meningkatan pendapatan masyarakat melalui kegiatan pertanian berbasis sumber daya lokal. Pengertian dari in situ adalah daerah asalnya. Sehingga kegiatan peningkatan pendapatan ini dipusatkan pada daerah asal dengan memanfaatkan sumber daya lokal setempat. Kegiatan ini dapat mengikuti permodelan klaster dimana dalam penerapannya memerlukan integrasi dari berbagai pihak, diantaranya melibatkan sejumlah besar kelompok petani di beberapa wilayah sekaligus. Kegiatan ini juga harus melibatkan integrasi proses hulu-hilir rantai produksi makanan. Pertumbuhan dari kegiatan hulu-hilir membutuhkan dukungan dari teknologi. Teknologi dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi. Inilah tugas dari akademisi. Akademisi berperan untuk melahirkan penelitian yang tidak hanya dapat diterapkan pada skala lab namun juga dapat diterapkan pada skala industri. Akademisi menjembatani teknologi sehingga dapat diterapkan pada skala industrialisasi. Hal ini meningkatkan efektifitas dan efisiensi industrialisasi. Model kelompok industri meliputi serangkaian program, diantaranya :
1. Pengembangan sumber daya manusia oleh partner industri
2. Persiapan penanaman modal untuk inisiasi konstruksi dan sistem produksi
3. Pengembangan brbagai macam produk pangan yang dapat di proses secara komersial dan dijual ke pasaran
4. Penerapan konsultasi dan pengawasan dalam penanganan komoditas dan keamanan produk kepada para petani sehingga dapat memenuhi kualitas standart yang diterapkan oleh industri
5. Pengembangan dan penerapan operasi prosedur standar dari pabrik
6. Inisiasi dan memperkuat jaringan dengan perusahaan untuk pemasaran produk

Klaster merupakan kumpulan berbagai kelompok petani, dimana satu kelompok petani merupakan satu industri kecil yang bekerjasama untuk memproses bahan tertentu dan mengubahnya menjadi bahan setengah jadi utnuk siap dipasok ke industri.
Teknologi berperan penting di dalam penginovasian produk sehingga dapat memiliki nilai tambah. Oleh karena itu perlu adanya industrialisasi pengembangan teknologi dari skala lab ke skala industri. Penerapan teknologi ke dalam skala komersial diperlukan adanya kerjasama dengan industri pangan. Kerjasama ini dapat memberikan manfaat kepada pihak petani. Para petani dapat meningkatkan pendapatan mereka melalui komoditi tertentu yang dijual kepada puhak industri. Secara tidak langsung melalui kegiatan ini dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Stakeholder dalam BUMP (Badan Usaha Milik Petani) memiliki funsi sebagai berikut :
1. Kelompok petani : Pengupayaan konservasi penanaman tanaman lokal berdasar pada sistem bercocok tanam yang baik (good agriculture practices), menghasilkan komoditas lokal yang dapat memenuhi standar kualitas,
2. Pemerintah lokal : Mengkoordinasi fasilitas dan program inventarisasi untuk rotasi tanaman dan supervisi petani, bekerjasama dengan pihak akademisi untuk meningkatkan produktivitas, bekerjasama dengan pihak industri dalam meningkatkan kontribusi petani di dalam program pengembangan industri, menyediakan alternatif modal untuk pertanian, dan mendukung pengembangan kooperasi dari KUD (Koperasi Unit Desa).
3. Industri : (a) mempersiapkan pembentukan dan manajerial dari kelompok industri yang tergabung dalam empat pilar, yakni kelompok petani, pemerintah lokal, industri, dan akademisi; (b) mempersiapkan rencana strategis untuk pengembangan masa depan industri; (c) percepatan transfer teknologi dan ilmu pengetahuan di dalam teknologi proses, manajerial sumberdaya manusia, pengaturan tanaman dan industri, termasuk penanaman kembali modal; (d) membuka pasar dan menjamin pemasaran produk; (e) memperkuat pertumbuhan kerjasama dengan pihak industriuntuk pemasaran produk.
4. Akademisi : (a) memfasilitasi pengembangan dari teknologi penanaman dan produk berbasis lokal yang memiliki potensi pasar; (b) merekomendasikan pemecahan masalah di dalam pengembangan industri.
Dari keempat elemen ini, tentu saja diperlukan adanya kerjasama dan integrasi yang baik dari setiap stakeholder sehingga dapat menjalankan program pengembangan industri sumber daya lokal.

Kegiatan peningkatan pendapatan melalui pengembangan kelompok industri diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkuat ketahanan pangan dalam waktu jangka panjang, diantaranya : (a) meningkatkan nilai tambah dari komoditi lokal; (b) menyediakan komoditi lokal yang memiliki potensi secara komersial; (c) mendorong pengembangan desa melalui kegiatan peningkatan pendapatan berdasar padapertanian lokal; (d) mendukung ketahanan pangan dalam jangka panjang; (e) memberikan solusi terhadap permasalahan pengangguran dan kemiskinan terutama pada masyarakat pedesaan. Melalui diversifikasi pangan dan kegiatan peningkatan peningkatan pendapatan berbasis sumberdaya lokal diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan di Indonesia dalam waktu jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA
http://sunjayadi.com/?p=181
Maryoto, Andreas. 2009. Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa,
http://nugrohogalih.wordpress.com/2009/02/06/meningkatkan-ketahanan-pangan-indonesia-berbasis-sumber-daya-lokal/

Xenixia Pratita Reksiwati
Posted on 28th October, 2010

Xenixia Pratita Reksiwati
100810380 / 65
IKM B 2008

CIRENG JAJANAN NIKMAT BAGI ANAK SEKOLAH

Setiap saya berkunjung ke salah satu sekolah di Surabaya tak jarang saya melihat banyak penjual jajanan didepan pagar sekolah. Namun yang paling sering saya lihat adalah penjual cireng. Bentuknya yang putih pipih selalu menarik mata ketika saos berwarna merah pekat dituangkan dalam plastiknya.
Cireng sebagian besar atau bisa dibilang hampir seluruhnya terbuat dari tepung kanji yang digoreng, sehingga harganyapun murah. Satu biji cireng bisa dibeli dengan harga Rp 100,- sampai dengan Rp 200,00, harga tersebut cukup terjangkau bagi anak sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai tingkat SMU. Rata – rata setiap hari satu orang anak membeli 10 sampai 20 biji cireng.
Cireng yang berasal dari kata Aci Goreng ini berasal dari Bandung, namun saat sampai di Surabaya cireng ini berubah dari aslinya yang di Bandung. Di Bandung cireng ini telah berkembang menjadi berbagai macam rasa, ada yang isi keju hingga daging. Saus dari cireng Bandung ini adalah saus oncom.
Cireng setelah sampai Surabaya sebagian besar terbuat dari tepung kanji,tepung …… Setelah adonan telah jadi, adonan dibuat tipis – tipis lalu digoreng pada minyak yang telah dipanaskan. Setelah matang tiriskan dan tinggal tunggu pembeli untuk memesan yang kemudian masukkan ke dalam kantong plastic, tanpa peduli apakah cireng masih panas atau sudah dingin, lalu tuang saos berwarna yang telah dicampur dengan sambal maupun tidak ke dalam kantong plastic. Untuk memakannya biasanya mengggunakan potongan lidi atau mengikat bagian atas plastic kemudian gigit sedikit bagian bawahnya agar cireng dapat keluar dari kantong plastic.
Dengan kondisi seperti yang dipaparkan di atas maka kita perlu mempertanyakan kandungan gizi apa saja yang terkandung dalam cireng tersebut, serta apakah kualitas minyak gorengnya layak dipergunakan, apakah ada bahan pewarna yang berbahaya dalam sausnya.
Seperti yang kita tahu bahwa bahan dasar dari membuat cireng adalah tepung kanji. Tepung Kanji berasal dari pati umbi atau singkong sehingga kandungan gizi tepung kanji adalah karbohidrat yang terdiri dari sejumlah besar glukosa unit bergabung bersama oleh obligasi glikosidik . Ini polisakarida diproduksi oleh semua hijau tanaman sebagai menyimpan energi. Ini adalah karbohidrat paling penting dalam diet manusia dan terkandung di dalam seperti makanan pokok seperti kentang , gandum , jagung (jagung), padi , dan ubi kayu .
Pati murni adalah bubuk putih, tawar dan tidak berbau yang tidak larut dalam air dingin atau alkohol. Ini terdiri dari dua jenis molekul: linear dan spiral amilosa dan bercabang amilopektin . Tergantung pada tanaman, pati umumnya berisi 20 sampai 25% amilosa dan 75 sampai 80% amilopektin. Glikogen , glukosa toko hewan, adalah versi lebih bercabang amilopektin.
Pati diolah untuk menghasilkan banyak gula dalam makanan olahan. Ketika dilarutkan dalam air hangat, dapat digunakan sebagai suatu penebalan, kaku atau mengelem agen, memberikan wheatpaste .
Karena kanji dapat menjadi kaku dan tebal maka rasa cireng seperti lem. Tepung kanji yang mengandung pati berarti banyak pula mengandung karbohidrat, sehingga pengkonsumsi cireng mendapat asupan karbohidrat yang banyak tanpa mendapat asupan dari sumber gizi yang lain. Namun saat kita terlalu banyak memakan makanan yang mengandung karbohidrat maka resiko terkena diabetes akan semakin tinggi selain itu ketika kita kelebihan lemak maka cadangan karbohidrat tersebut disimpan dalam bentuk lemak dalam tubuh yang kemudian akan mengakibatkan seseorang memiliki resiko obesitas. Tidak hanya itu, terlalu banyak karbohidratpun dapat menyebabkan meningkatnya resiko terkena kanker.
Apabila ditinjau dari bahan dasar pembuat cireng tampak jajanan anak sekolahan ini tidak berbahaya namun bila ditilik lebih dalam lagi ternyata bahaya jajanan ini mulai nampak.
Untuk membuat cireng ini dapat dimakan maka diperlukan minyak goreng untuk menggoreng. Minyak goreng yang dipakai para pedagang cireng di depan sekolah biasanya minyak goreng yang dipakai berkali – kali sampai menghitam dan dipakai sampai cireng yang mereka bawa dari rumah habis. Karena minyak tersebut dipakai terus – menerus maka minyak goreng berubah warna menjadi hitam. Pemakaian minyak jelantah sampai tiga kali, masih dapat ditoleransi dan dianggap baik, atau tidak membahayakan bagi kesehatan manusia. Tapi jika lebih dari tiga kali, apalagi kalau warnanya sudah berubah menjadi kehitam-hitaman, maka itu sebagai indikasi tidak baik dan harus dihindarkan.
Secara kimia, minyak jelantah sangat berbeda dengan minyak sawit yang belum digunakan untuk menggoreng. Pada minyak sawit terdapat sekitar 45,5 persen asam lemak jenuh yang didominasi oleh asam lemak palmitat dan sekitar 54,1 persen asam lemak tak jenuh yang didominasi oleh asam lemak oleat. Sedangkan pada minyak jelantah, angka asam lemak jenuh jauh lebih tinggi dari pada angka asam lemak tidak jenuhnya. Asam lemak jenuh sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat memicu berbagai penyakit penyebab kematian, seperti penyakit jantung dan stroke.
Pada proses penggorengan pertama, minyak memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh yang tinggi. Kadar asam lemak tidak jenuhnya akan semakin menurun dengan semakin seringnya minyak dipakai secara berulang, sedangkan kadar asam lemak jenuhnya meningkat. Minyak goreng yang digunakan lebih dari empat kali akan mengalami proses oksidasi. Proses oksidasi tersebut akan membentuk gugus peroksida dan monomer siklik. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan gugus peroksida dalam dosis yang besar dapat merangsang terjadinya kanker kolon. Selain itu, penggunaan minyak jelantah dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan dan diare.
Sebagai media transfer panas, saat proses penggorengan berlangsung, dengan pemanasan yang tinggi (3000C -3500C), minyak goreng akan teradsorbsi pada makanan masuk mengisi ruang-ruang kosong pada makanan sehingga hasil penggorengan mengandung 5-40% minyak. Dengan demikian mau tidak mau minyak goreng ikut terkonsumsi dan masuk ke dalam tubuh. Hal ini tidak menjadi masalah selama minyak yang digunakan untuk menggoreng tidak rusak. Kerusakan minyak goreng terjadi atau berlangsung selama proses penggorengan, dan itu mengakibatkan penurunan nilai gizi terhadap makanan yang digoreng. Minyak goreng yang rusak akan menyebabkan tekstur, penampilan, cita rasa dan bau yang kurang enak pada makanan. Dengan pemanasan minyak yang tinggi dan berulang-ulang, juga dapat terbentuk akrolein, di mana akrolein adalah sejenis aldehida yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan, membuat batuk konsumen dan yang tak kalah bahaya adalah dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker dalam hati dan pembengkakan organ, khususnya hati dan ginjal.
Selain bahan dasarnya dan minyak goreng ternyata masih ada dua masalah lagi yang harus diperhatikan yaitu penyajian cireng yang langsung dimasukkan ke dalam plastic saat masih panas dan penggunaan saus tomat yang berwarna sangat merah serta diindikasikan mengandung bahan pewarna berbahaya. Salah satu zat paling berbahaya adalah rhodamin B. Bahan ini bila dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan pada fungsi hati, bahkan kanker hati. Bila mengonsumsi makanan yang mengandung rhodamin B, dalam tubuh akan terjadi penumpukan lemak, sehingga lama-kelamaan jumlahnya terus bertambah. Dampaknya baru akan kelihatan setelah puluhan tahun kemudian. Anak-anak yang sering mengonsumsi jajanan yang mengandung rhodamin B, dan zat berbahaya lain, biasanya rentan terhadap penyakit dan pertumbuhan badannya juga cenderung lambat.
Dengan menilik factor – factor yang membahayakan tersebut sebaiknya para orang tua mulai mengawasi jajanan yang dibeli anak – anaknya saat berada di sekolah. Hal ini dapat disiasati dengan memberi bekal sekolah dari rumah kepada anak – anaknya sehingga kebersihan dan gizi makanannya terjamin dan dapat dikontrol.
Kecenderungan anak – anak sekolah tersebut membeli cireng dapat pula dikarenakan memang jajanan ini saja yang mampu mereka beli dengan uang saku mereka karena harganya yang relative murah bagi anak sekolah. Keadaan ekonomi masyarakat Indonesia yang belum merata menyebabkan pemilihan makanan sebagai asupan gizi juga tidak begitu diperhatikan, sehingga jika membuat makanan ini lebih sehat dengan lebih murah agaknya sedikit lebih susah. Ketika kita ingin membuat sesuatu lebih baik sebaiknya benahi dulu dan sama ratakan pendidikan dan ekonomi mereka.
Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Tapioka
http://komunikasi.um.ac.id/?p=603
http://dapurnyarina.blog.com/2005/06/26/tepung-sagu-tapioka-dan-kanji/
http://www.lily.staff.ugm.ac.id/dl/index.php?file=Nutritional%20Food%20Safety.doc
http://repository.umm.ac.id/474/3/F._BAB_IV.doc
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Starch
http://www.halalmui.org/index.php?option=com_content&view=article&id=262:tidak-thoyyib-menggunakan-minyak-jelantah-berulang-ulang&catid=93:halal-article&Itemid=428&lang=in

MARANTI YUNITA WIJAYANTI
Posted on 29th October, 2010

MARANTI YUNITA WIJAYANTI
100810436 / VB
IKM B 2008

BAHAYA KEMASAN MAKANAN DAN MINUMAN DARI PLASTIK

Penggunaan plastik untuk kemasan makanan sudah meluas, bahkan sudah menjangkau desa-desa terpencil. Bahan tersebut lebih mudah didapat. Harganya relatif murah dan praktis, sehingga mampu menyisihkan bahan pembungkus makanan alami seperti daun pisang, daun jati dan daun kelapa muda. Namun ternyata pemakaian plastik yang makin meluas tidak disertai perhatian terhadap dampak negatif yang ditimbulkannya. Selain merusak lingkungan, penggunaan plastik untuk kemasan makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia.
Plastik yang digunakan untuk kemasan makanan digolongkan dalam bentuk monomer, dimmer dan trimer. Jenis senyawa kimianya meliputi polystyrene (PS), polyvinyl chloride (PPC), vinylidene chloride resin (VCR), PVDC, akrilonitril (ABS), polietilen dan polipropilen. Ada juga kemasan makanan yang terbuat dari plastik daur ulang yang sulit diidentifikasi jenis bahan kimianya. Dari sekian banyak bahan pembuat plastik, jenis yang kurang berbahaya ialah polietilen dan polipropilen.
Jenis kemasan plastik yang cukup popelar ialah Styrofoam, warnanya putih dan empuk. Saat ini penggunaannya sangat meluas, terutama untuk mie instant dan kemasan fast food. Styrofoam terdiri dari styrene dimmer dan styrene trimer, mengandung bahan kimia polystyrene. Bahan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan manusia, antara lain bersifat karsinogen (menimbulkan kanker) dan dapat menyebabkan endrocrine disruption.
Endrocrine disruption chemical (EDC) merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada pada system endrokrinologi dan reproduksi pada manusia, terutama disebabkan oleh bahan kimia yang bersifat karsinogen dalam makanan. Selain dari bahan untuk kemasan makanan seperti Styrofoam dan jenis plastik lainnya, EDC juga bersumber dari pestisida (meliputi 66 senyawa seperti DDT, dioxin, PCBs, endrin, dan sebagainya), kosmetik (BHA) dan komponen elektronik (PCBs).
Antara senyawa-senyawa dalam kemasan Styrofoam dengan senyawa-senyawa dalam makanan terjadi reaksi kimia yang aktif, terutama jika makanan masih memiliki suhu tinggi (panas). Hal itu disebabkan lemahnya ikatan struktur kimia Styrofoam, sehingga residu monomernya mudah berpindah ke makanan. Kandungan residu monomer Styrofoam yang diserap makanan makin tinggi jika kontak makanan dengan kemasan makin lama.
Mie instant yang dikemas dalam Styrofoam, bila secara langsung ditambah air panas, maka komposisinya selain mengandung karbohidrat, protein, lemak dan vitamin, juga akan mengandung residu monomer. Begitu pula nasi panas, bubur panas, ayam goreng dan kentang goreng yang ditempatkan pada wadah yang terbuat dari styrofoam, dengan sendirinya bahan makanan tersebut akan dilengkapi dengan residu monomer yang tergolong EDC.
Bagi penyantap makanan dengan kemasan terbuat dari Styrofoam, kelenjar endrokrinnya sangat rawan terhadap gangguan. Kelenjar endrokrin disebut juga kelenjar inkresi atau kelenjar buntu, merupakan kelenjar yang menghasilkan lebih dari 20 jenis hormon, seperti thyroxin, parathormon, insulin, adrenalin dan somatotrop. Hormon yang merupakan zat organic dihasilkan oleh tubuh sendiri, sangat vital dalam memperngaruhi metabolisme tubuh.
Jika kelenjar endrokin terkontaminasi EDC, antara lain dapat menyebabkan:
1. Menurunnya tingkat kesuburan yang ditandai dengan merosotnya jumlah sperma;
2. Terjadinya demaskulinisasi dan defeminisasi;
3. System kekebalan tubuh menjadi lemah;
4. Menurunnya tingkat kecerdasan (cretinisme akibat terganggunya fungsi kerja hormon thyroxin);
5. Menurunnya kandungan air susu ibu (ASI) dan periode laktasi menjadi pendek;
6. Gangguan psikologis;
7. Menimbulkan kekerdilan atau gigantisme akibat hormon somatotrop yang mengalami hypo atau hyper;
8. Menyebabkan diabetes mellitus (kencing manis) akibat hormon insulin dalam kondisi hypo;
9. Dapat menimbulkan kanker payudara, rahim, prostat dan testis.

Meghindari Bahaya Plastik
1 Tentu sulit menentukan, terbuat dari plastik jenis apa kemasan atau wadah plastik makanan anda. Yang terbaik, minimalkan penggunaan plastik. Misalnya, kalau ingin membeli bakso atau makanan lain, pakailah rantang seperti masa dulu. Mungkin kurang praktis. Tapi, demi kesehatan, mengapa tidak?
2 Perhatikan tanggal kadaluarsa makanan. Jangan dikonsumsi bila tanggal kadaluarsa telah lewat batas. Begitu pula bila ada kejanggalan rasa atau aroma, serta penampilan pada makanan (maupun minuman) meskipun batas kadaluarsa belum terlewati.
3 Bila ingin memanaskan makanan dengan oven microwave, gunakanlah wadah dari kaca jangan menggunakan yang berbahan plastik.
4 Bila ingin memilih plastik lemas (fleksibel) untuk penutup makanan, pilihlah yang di labelnya tertera polietilen.
5 Wadah atau kemasan untuk makanan atau minuman dingin (misal, untuk es krim, dan sejenisnya) sebaiknya jangan dipakai untuk wadah makanan atau minuman panas. Karena itu, wadah plastik tersebut hanya cocok untuk makanan atau minuman dingin (bersuhu rendah). Jangan pula menghangatkan makanan (misalnya, mengukus sayuran) dengan menggunakan wadah plastik.

Kode Penanda 

-Angka 1 
Tanda ini biasanya disertai tulisan PET (polyethylene terephthalate). Plastik jenis ini berwarna jernih atau transparan dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman ringan lain. Yang perlu diperhatikan adalah botol dengan bahan ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Mengapa? Pertama, desain leher sempit pada botol membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan bakteri dari tangan dan mulut dapat tumbuh di botol. Kedua, bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (yang dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.
-Angka 2 
Umumnya, kode ini disertai tulisan HDPE (high density polyethylene). Jenis plastik ini memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasa dipakai untuk botol kemasan susu berwarna putih, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan atau minuman yang dikemasnya. Meski begitu, sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian saja. Pasalnya, untuk membuat PET dan HDPE digunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa kimia itu mudah masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Kontaminasi senyawa dalam periode lama akan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi perempuan, senyawa ini bisa meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran. 


-Angka 3 
Inilah jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Pada kemasan yang mengandung plastik jenis ini biasanya tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya serta tulisan V yang berarti PVC (polyvinyl chloride). Plastik ini bisa ditemukan pada pembungkus (wrap) dan beberapa botol minuman kemasan. Jenis ini berbahaya untuk kesehatan karena mengandung DEHA (Di-2-etil-heksiladipat) yang dapat bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15 derajat celsius. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas plastik ini berbahaya untuk ginjal, hati dan penurunan berat badan. Sebisa mungkin hindari pemakaian jenis plastik ini. Cari alternatif pembungkus lain saja seperti plastik dari polyethylene atau bahan alami, misalnya daun pisang atau daun jati. 


-Angka 4 
Biasanya ditulis bersama kode LDPE (low density polyethylene). Karakter plastik ini kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dengan permukaan agak berlemak. Terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Pada suhu di bawah 60 derajat Celsius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa kimia. Daya proteksinya terhadap uap air tergolong baik. Namun, kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan tapi dapat didaur ulang. Bahan ini baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemasnya. 


-Angka 5 
Tulisann PP (polypropylene) biasanya hadir bersama angka ini. Karakteristik plastik ini lebih kuat, transparan yang tidak jernih atau berawan, ringan dengan daya tembus uap yang rendah, memiliki ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. PP adalah jenis bahan plastik terbaik dan aman, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol susu untuk bayi serta wadah plastik yang bisa dipanaskan dalam microwave. Carilah wadah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman. 


-Angka 6 
Terbuat dari bahan plastik jenis PS (polystyrene). PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ketika makanan itu bersentuhan dengan wadah. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf. Selain itu, bahan plastik ini sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. 


-Angka 7 
Biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis plastik ini terbagi 4 yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER dapat ditemukan pada botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik, dan plastik kemasan, botol susu bayi, gelas Balita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan, termasuk kaleng susu formula.

Penutup
Sebenarnya sampai saat ini belum ditemukan bagaimana cara mengatasi dampak negatif EDC terhadap kesehatan manusia. Berbagai penelitian di Jepang makin mengarah pada pembuktian, bahwa bahan pengemas polystyrene seperti Styrofoam cenderung positif membahayakan kesehatan manusia. Hal itu diperkirakan akan mengguncang bisnis pangan, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan kemasan.
Perlu ada langkah preventif untuk mencegah bahaya penggunaan kemasan plastik yang makin meluas, tidak cukup hanya dengan diterbitkannya UU tentang pangan atau UU tentang Perlindungan Konsumen. Kalangan produsen bahan pangan dituntut untuk menggunakan kemasan plastik yang bersifat food grade (aman atau sesuai untuk makanan). Sedangkan konsumen dituntut untuk meningkatkan kewaspadaannya dengan menerapkan langkah-langkah:
1. Hindari membungkus makanan dan minuman panas dengan plastik;
2. Hindari penggunaan alat makan dan minum yang terbuat dari plastik untuk makanan dan minuman yang masih panas;
3. Hindari kontak yang terlalu lama antara makanan dan minuman berlemak dan bersifat asam dengan plastik;
4. Gunakan pembungkus alami untuk makanan. Bagaimanapun menggunakan pembungkus alami jauh lebih sehat dibandingkan dengan plastik. Penggunaan daun pisang untuk nasi timbel misalnya, selain menjadikan aroma nasi lebih harum, meningkatkan selera makan, juga mudah terurai menjadi bahan organic tanah, sehingga berperan terhadap pelestarian lingkungan.
5. Apabila menggunakan bahan plastik sebagai kemasan makanan atau minuman hendaknya mengetahui angka-angka kode penanda agar aman bagi tubuh manusia.

PUSTAKA :
http://pantona.wordpress.com/2010/05/10/bahaya-kemasan-plastik/
http://www.beritaterkinionline.com/2010/10/bahaya-di-balik-kemasan-plastik.html

ratna kusumaning w.
Posted on 29th October, 2010

TUGAS EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
NAMA: RATNA KUSUMANING W.
NIM: 100810052
KELAS: IKM V-A
TELO MAKANAN DESA YANG MENDUNIA
Ubi jalar atau yang akrab disebut telo merupakan umbi-umbian yang mudah ditemui di tanah air dan dapat tumbuh tanpa mengenal musim. Ubi jalar dapat hidup tanpa perawatan khusus, bisa dibilang dengan dibiarkan tumbuh sendiri di tanah yang subur ubi jalar dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan. Yang perlu diketahui, kandungan gizi ubi jalar sangatlah banyak dan kaya akan manfaat. Di dalam umbi telo terdapat beragam manfaat luar biasa. Seperti yang dirilis oleh Nutrition Action Health letter, USA, bahwa umbi jalar menempati rangking satu dari 58 jenis sayuran. Hal ini diperkuat oleh WHO, badan kesehatan PBB jika ubi jalar mempunyai kandungan vitamin A sebanyak 4 kali wortel, sehingga sangat baik untuk mencegah kebutaan dan penyakit mata lainnya
Di beberapa negara ubi jalar itu sudah merupakan produk komersial yang cukup diminati. Negara-negara maju telah lama memanfaatkan ubi jalar sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi dan secara ekonomis memiliki peluang pasar yang besar. Misalnya di Jepang, ubi jalar sejak lama telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang dipromosikan setara dengan hamburger atau pizza dan makanan barat lainnya. Hal tersebut dikarenakan kandungan ubi jalar yang komplit bila dibandingkan dengan beras.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Di Indonesia sampai saat ini kepopuleran ubi jalar, Ipomoea batatas atau huwi boled, masih kalah dibanding beras dan jagung. Makanan dari ubi masih dipandang sebagai makanan orang-orang pedesaan. Orang Indonesia belum tahu benar kandungan gizi pada ubi jalar. Padahal ubi jalar cocok sebagai makanan pengganti beras sebagai sumber karbohidrat di Indonesia karena mudah didapat dan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya karena merupakan produk lokan yang proses pendistribusiannya tidak memakan banyak biaya transportasi.
Bagaimana dengan tingkat produksi serta tingkat konsumsi ubi jalar di Indonesia?
Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan padi. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat menghasilkan produk lebih dari 30 ton/Ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/Ha, tetapi jumlah ini masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas padi (+/-4.5 ton/Ha). Selain itu, masa tanam ubi jalar juga lebih singkat dibandingkan dengan padi. Sementara itu, 89% produksi ubi jalar digunakan sebagai bahan pangan dengan tingkat konsumsi 7,9 kg/kapita/tahun, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk bahan baku industri, terutama saus, dan pakan ternak.
Di Indonesia sendiri ada tiga jenis ubi jalar yang tumbuh, yaitu ubi jalar putih, ubi jalar merah, dan ubi jalar kuning. Gizi yang terkandung pada ketiga macam ubi jlar itu pun berbeda-beda. Secara umum kandungan kimia pada ubi jalar adalah protein, lemak, karbohidrat, kalori, serat, abu, kalsium, fosfor, zat besi, karoten, vitamin B1, B2, C, dan asam nikotinat. Pada ubi jalar merah kandungan beta-karoten sangatlah tinggi, bahkan menurut WHO beta-karoten ubi jalar merah 4 kali lebih banyak daripada yang ada pada wortel, sedangkan pada ubi jalar kuning tidak ada beta karoten. Karbohidrat yang terkandung pada 100 gram ubi jalar putih dan merah adalah 27,90 gram, sedangkan ubi jalar kuning lebih mengenyangkan karena karbohidratnya lebih banyak yaitu 32,30 gram per 100 gram sehingga kalori yang ada pun terbanyak pada ubi jalar kuning yaitu 136 kal. Protein terbanyak ada pada ubi jalar putih dan merah yaitu 1,80 gram per 100 gram, sdangkan pada ubi jalar kuning hanya 1,10 gram per 100 gram.
Bila ubi jalar merah dibandingkan dengan beras memang kalah dalam hal karbohidrat, protein, dan kalori. Namun, dalam beras tidak terkandung vitamin A seperti pada ubi jalar merah. Selain itu, kalsium, vitamin B1, dan vitamin C pada ubi jalar merah lebih banyak daripada yang terkandung dalam beras. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index (LGI, 54), artinya komoditi ini sangat cocok untuk penderita diabetes. Mengonsumsi ubi jalar tidak secara drastis menaikkan gula darah, berbeda halnya dengan sifat karbohidrat dengan Glycemix index tinggi, seperti beras.
Ubi jalar merah selain rasanya yang enak dan warnanya menarik juga memiliki banyak manfaat. Ternyata ubi jalar merah yang identik dengan “wong ndeso” ini sangat kaya akan antioksidan. Semakin pekat warnanya, semakin banyak kandungan antioksidannya.
Manfaat lainnya yaitu ubi jalar merah sebagai alternative pengganti wortel bagi yang tidak suka mengonsumsi sayuran untuk mendapatkan beta-karoten yang baik bagi kesehatan mata. Ubi merah yang berwarna kuning emas tersimpan 2900 mkg (9675 SI) betakaroten, ubi merah yang berwarna jingga 9900 mkg (32967 SI). Makin pekat warna jingganya. makin tinggi kadar betakarotennya yang merupakan bahan pembentuk vitamin A dalam tubuh. Secangkir ubi jalar merah kukus yang telah dilumatkan menyimpan 50000 SI betakaroten, setara dengan kandungan betakaroten dalam 23 cangkir brokoli, yang menggembirakan perebusan hanya merusak 10% kadar betakaroten, sedangkan penggorengan atau pemanggangan dalam oven hanya 20%. Namun penjemuran menghilangkan hampir separuh kandungan betakaroten, sekitar 40%. Menyantap seporsi ubi jalar merah kukus /rebus sudah memenuhi anjuran kecukupan vitamin A 2100 - 3600 mkg sehari.
Makan 1 buah sedang ubi jalar merah mentah sudah memenuhi 42 % anjuran kecukupan vitamin C sehari. Dibanding dengan havermut (oatmeal), ubi jalar merah lebih kaya serat, khususnya oligosakarida. Menyantap ubi jalar merah 2 - 3 kali seminggu membantu kecukupan serat. Apabila dimakan bersama kulitnya menyumbang serat lebih banyak lagi.
Di sisi lain, ubi jalar merah juga memiliki beberapa kandungan zat yang dapat merugikan tubuh karena mengganggu system metabolisme tubuh. ubi jalar mengandung zat anti gizi tripsin inhibitor dengan jumlah 0,26 %;43,6 IU per 100 gram ubi jalar segar ( Bradbury, 1985). Tripsin inhibitor tersebut akan menutup gugus aktif enzim tripsin sehingga aktivitas enzim tersebut terhambat dan tidak dapat melakukan fungsinya sebagai pemecah protein. Namun demikian, aktivitas tripsin inhibitor tersebut dapat dihilangkan dengan pengolahan sederhana yakni dengan cara pengukusan, perebusan dan pemasakan ( Bradbury and Halloway, 1988).
Senyawa lain yang tidak menguntungkan pada ubi jalar adalah senyawa-senyawa penyebab flatulensi, namun senyawa tersebut belum teridentifikasi secara jelas. Flatulensi dapat disebabkan oleh senyawa karbohidrat yang tidak tercerna yang difermentasi oleh bakteri tertentu dalam usus sehingga menghasilkan gas H2 dan CO2. Diduga flatulensi disebakan oleh karbohidrat jenis rafinosa, stakios dan verbaskosa (Palmer, 1982).
Setelah kita tahu zat-zat gizi yang terkandung dalam ubi jalar, terutama ubi jalar merah, dan beberapa manfaatnya maka menyosialisasikan ubi jalar bukan pilihan tanpa alasan. Alasan-alasan tersebut antara lain (1) Sesuai dengan agroklimat sebagian besar wilayah Indonesia, ubi jalar juga (2) Mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. Alasan lainnya adalah (3) Mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta (4) Potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk program diversifikasi pangan.

SUMBER:
Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar ILMU GIZI. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
http://onlinebuku.com/2009/03/12/telo-ubi-jalar-indonesia-diminati-jepang-dan-korea-harganya-20-sgdbungkus/
http://wsclick.infospace.com/clickserver/_iceUrlFlag=1?rawURL=http%3A%2F%2Fwww.pustaka-deptan.go.id%2Finovasi%2Fkl08081.pdf&0=&1=0&4=67.63.58.255&5=182.2.190.50&9=de035c4c4a964fa18cf1023f5b6fcb01&10=1&11=facemoods.1.tab&13=search&14=239138&15=main-title&17=1&18=1&19=0&20=0&21=1&22=nYMHRSSO5Aw%3D&40=lv3OFbdqdmZ4pxU1P%2FSbyg%3D%3D&_IceUrl=true
http://id.wikipedia.org/wiki/Beras
http://biens-naturels.blogspot.com/2009/09/khasiat-ubi-jalar.html
http://mantrihewan.blogspot.com/2010/05/kandungan-ubi-jalar-yang-mengcengangkan.html

MARANTI YUNITA WIJAYANTI
Posted on 29th October, 2010

MARANTI YUNITA WIJAYANTI
100810436 / VB
IKM B 2008

BAHAYA KEMASAN MAKANAN DAN MINUMAN DARI PLASTIK

Penggunaan plastik untuk kemasan makanan sudah meluas, bahkan sudah menjangkau desa-desa terpencil. Bahan tersebut lebih mudah didapat. Harganya relatif murah dan praktis, sehingga mampu menyisihkan bahan pembungkus makanan alami seperti daun pisang, daun jati dan daun kelapa muda. Namun ternyata pemakaian plastik yang makin meluas tidak disertai perhatian terhadap dampak negatif yang ditimbulkannya. Selain merusak lingkungan, penggunaan plastik untuk kemasan makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia.
Plastik yang digunakan untuk kemasan makanan digolongkan dalam bentuk monomer, dimmer dan trimer. Jenis senyawa kimianya meliputi polystyrene (PS), polyvinyl chloride (PPC), vinylidene chloride resin (VCR), PVDC, akrilonitril (ABS), polietilen dan polipropilen. Ada juga kemasan makanan yang terbuat dari plastik daur ulang yang sulit diidentifikasi jenis bahan kimianya. Dari sekian banyak bahan pembuat plastik, jenis yang kurang berbahaya ialah polietilen dan polipropilen.
Jenis kemasan plastik yang cukup popelar ialah Styrofoam, warnanya putih dan empuk. Saat ini penggunaannya sangat meluas, terutama untuk mie instant dan kemasan fast food. Styrofoam terdiri dari styrene dimmer dan styrene trimer, mengandung bahan kimia polystyrene. Bahan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan manusia, antara lain bersifat karsinogen (menimbulkan kanker) dan dapat menyebabkan endrocrine disruption.
Endrocrine disruption chemical (EDC) merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada pada system endrokrinologi dan reproduksi pada manusia, terutama disebabkan oleh bahan kimia yang bersifat karsinogen dalam makanan. Selain dari bahan untuk kemasan makanan seperti Styrofoam dan jenis plastik lainnya, EDC juga bersumber dari pestisida (meliputi 66 senyawa seperti DDT, dioxin, PCBs, endrin, dan sebagainya), kosmetik (BHA) dan komponen elektronik (PCBs).
Antara senyawa-senyawa dalam kemasan Styrofoam dengan senyawa-senyawa dalam makanan terjadi reaksi kimia yang aktif, terutama jika makanan masih memiliki suhu tinggi (panas). Hal itu disebabkan lemahnya ikatan struktur kimia Styrofoam, sehingga residu monomernya mudah berpindah ke makanan. Kandungan residu monomer Styrofoam yang diserap makanan makin tinggi jika kontak makanan dengan kemasan makin lama.
Mie instant yang dikemas dalam Styrofoam, bila secara langsung ditambah air panas, maka komposisinya selain mengandung karbohidrat, protein, lemak dan vitamin, juga akan mengandung residu monomer. Begitu pula nasi panas, bubur panas, ayam goreng dan kentang goreng yang ditempatkan pada wadah yang terbuat dari styrofoam, dengan sendirinya bahan makanan tersebut akan dilengkapi dengan residu monomer yang tergolong EDC.
Bagi penyantap makanan dengan kemasan terbuat dari Styrofoam, kelenjar endrokrinnya sangat rawan terhadap gangguan. Kelenjar endrokrin disebut juga kelenjar inkresi atau kelenjar buntu, merupakan kelenjar yang menghasilkan lebih dari 20 jenis hormon, seperti thyroxin, parathormon, insulin, adrenalin dan somatotrop. Hormon yang merupakan zat organic dihasilkan oleh tubuh sendiri, sangat vital dalam memperngaruhi metabolisme tubuh.
Jika kelenjar endrokin terkontaminasi EDC, antara lain dapat menyebabkan:
1. Menurunnya tingkat kesuburan yang ditandai dengan merosotnya jumlah sperma;
2. Terjadinya demaskulinisasi dan defeminisasi;
3. System kekebalan tubuh menjadi lemah;
4. Menurunnya tingkat kecerdasan (cretinisme akibat terganggunya fungsi kerja hormon thyroxin);
5. Menurunnya kandungan air susu ibu (ASI) dan periode laktasi menjadi pendek;
6. Gangguan psikologis;
7. Menimbulkan kekerdilan atau gigantisme akibat hormon somatotrop yang mengalami hypo atau hyper;
8. Menyebabkan diabetes mellitus (kencing manis) akibat hormon insulin dalam kondisi hypo;
9. Dapat menimbulkan kanker payudara, rahim, prostat dan testis.

Meghindari Bahaya Plastik
1 Tentu sulit menentukan, terbuat dari plastik jenis apa kemasan atau wadah plastik makanan anda. Yang terbaik, minimalkan penggunaan plastik. Misalnya, kalau ingin membeli bakso atau makanan lain, pakailah rantang seperti masa dulu. Mungkin kurang praktis. Tapi, demi kesehatan, mengapa tidak?
2 Perhatikan tanggal kadaluarsa makanan. Jangan dikonsumsi bila tanggal kadaluarsa telah lewat batas. Begitu pula bila ada kejanggalan rasa atau aroma, serta penampilan pada makanan (maupun minuman) meskipun batas kadaluarsa belum terlewati.
3 Bila ingin memanaskan makanan dengan oven microwave, gunakanlah wadah dari kaca jangan menggunakan yang berbahan plastik.
4 Bila ingin memilih plastik lemas (fleksibel) untuk penutup makanan, pilihlah yang di labelnya tertera polietilen.
5 Wadah atau kemasan untuk makanan atau minuman dingin (misal, untuk es krim, dan sejenisnya) sebaiknya jangan dipakai untuk wadah makanan atau minuman panas. Karena itu, wadah plastik tersebut hanya cocok untuk makanan atau minuman dingin (bersuhu rendah). Jangan pula menghangatkan makanan (misalnya, mengukus sayuran) dengan menggunakan wadah plastik.

Kode Penanda 

-Angka 1 
Tanda ini biasanya disertai tulisan PET (polyethylene terephthalate). Plastik jenis ini berwarna jernih atau transparan dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman ringan lain. Yang perlu diperhatikan adalah botol dengan bahan ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Mengapa? Pertama, desain leher sempit pada botol membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan bakteri dari tangan dan mulut dapat tumbuh di botol. Kedua, bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (yang dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.
-Angka 2 
Umumnya, kode ini disertai tulisan HDPE (high density polyethylene). Jenis plastik ini memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasa dipakai untuk botol kemasan susu berwarna putih, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan atau minuman yang dikemasnya. Meski begitu, sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian saja. Pasalnya, untuk membuat PET dan HDPE digunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa kimia itu mudah masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Kontaminasi senyawa dalam periode lama akan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi perempuan, senyawa ini bisa meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran. 


-Angka 3 
Inilah jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Pada kemasan yang mengandung plastik jenis ini biasanya tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya serta tulisan V yang berarti PVC (polyvinyl chloride). Plastik ini bisa ditemukan pada pembungkus (wrap) dan beberapa botol minuman kemasan. Jenis ini berbahaya untuk kesehatan karena mengandung DEHA (Di-2-etil-heksiladipat) yang dapat bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15 derajat celsius. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas plastik ini berbahaya untuk ginjal, hati dan penurunan berat badan. Sebisa mungkin hindari pemakaian jenis plastik ini. Cari alternatif pembungkus lain saja seperti plastik dari polyethylene atau bahan alami, misalnya daun pisang atau daun jati. 


-Angka 4 
Biasanya ditulis bersama kode LDPE (low density polyethylene). Karakter plastik ini kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dengan permukaan agak berlemak. Terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Pada suhu di bawah 60 derajat Celsius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa kimia. Daya proteksinya terhadap uap air tergolong baik. Namun, kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan tapi dapat didaur ulang. Bahan ini baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemasnya. 


-Angka 5 
Tulisann PP (polypropylene) biasanya hadir bersama angka ini. Karakteristik plastik ini lebih kuat, transparan yang tidak jernih atau berawan, ringan dengan daya tembus uap yang rendah, memiliki ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. PP adalah jenis bahan plastik terbaik dan aman, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol susu untuk bayi serta wadah plastik yang bisa dipanaskan dalam microwave. Carilah wadah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman. 


-Angka 6 
Terbuat dari bahan plastik jenis PS (polystyrene). PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ketika makanan itu bersentuhan dengan wadah. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf. Selain itu, bahan plastik ini sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. 


-Angka 7 
Biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis plastik ini terbagi 4 yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER dapat ditemukan pada botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik, dan plastik kemasan, botol susu bayi, gelas Balita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan, termasuk kaleng susu formula.

Penutup
Sebenarnya sampai saat ini belum ditemukan bagaimana cara mengatasi dampak negatif EDC terhadap kesehatan manusia. Berbagai penelitian di Jepang makin mengarah pada pembuktian, bahwa bahan pengemas polystyrene seperti Styrofoam cenderung positif membahayakan kesehatan manusia. Hal itu diperkirakan akan mengguncang bisnis pangan, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan kemasan.
Perlu ada langkah preventif untuk mencegah bahaya penggunaan kemasan plastik yang makin meluas, tidak cukup hanya dengan diterbitkannya UU tentang pangan atau UU tentang Perlindungan Konsumen. Kalangan produsen bahan pangan dituntut untuk menggunakan kemasan plastik yang bersifat food grade (aman atau sesuai untuk makanan). Sedangkan konsumen dituntut untuk meningkatkan kewaspadaannya dengan menerapkan langkah-langkah:
1. Hindari membungkus makanan dan minuman panas dengan plastik;
2. Hindari penggunaan alat makan dan minum yang terbuat dari plastik untuk makanan dan minuman yang masih panas;
3. Hindari kontak yang terlalu lama antara makanan dan minuman berlemak dan bersifat asam dengan plastik;
4. Gunakan pembungkus alami untuk makanan. Bagaimanapun menggunakan pembungkus alami jauh lebih sehat dibandingkan dengan plastik. Penggunaan daun pisang untuk nasi timbel misalnya, selain menjadikan aroma nasi lebih harum, meningkatkan selera makan, juga mudah terurai menjadi bahan organic tanah, sehingga berperan terhadap pelestarian lingkungan.
5. Apabila menggunakan bahan plastik sebagai kemasan makanan atau minuman hendaknya mengetahui angka-angka kode penanda agar aman bagi tubuh manusia.

PUSTAKA :
http://pantona.wordpress.com/2010/05/10/bahaya-kemasan-plastik/
http://www.beritaterkinionline.com/2010/10/bahaya-di-balik-kemasan-plastik.html
http://yunandafebe.multiply.com/journal/item/159/Bahaya_Di_Balik_Kemasan_Plastik_The_danger_behind_Plastics_Packaging

SEPTA LINDA R 100810367 IKM B 2008
Posted on 29th October, 2010

MAKAN BESAR TIDAK DENGAN NASI PUTIH = TIDAK MERASA KENYANG?

Muncul pertanyaan pertama akan masalah ini, “Mengapa kita mengkonsumsi beras?”. Tentunya banyak yang akan berkata itu karena kita terbiasa mengkonsumsinya sejak lahir dan akhirnya kita membiasakan diri dengan itu. Meskipun sejak pagi kita sudah mengkonsumsi roti, bubur ayam, lontong sayur, dan buah-buahan. Tetapi kalau belum makan nasi, kita selalu bilang, “saya belum makan”. Bahkan banyak dipemikiran masyarakat bahwa kalau kita tidak mengkonsumsi beras kita tidak akan merasa kenyang.
Masalah beras sesungguhnya adalah masalah yang sederhana, namun hal tersebut kita kacaukan dengan kenyataan diri kita bahwa kita harus mengonsumsi beras. Seolah-olah tanpa beras kelangsungan hidup kita akan terancam. Program pangan yang mempatenkan beras/nasi sebagai makanan pokok secara otomatis meminggirkan sumber karbohidrat lain yang setara dengan nasi. Keberadaan jagung, tiwul, dan umbi-umbian sebagai makanan pokok alternatif dianggap sebagai second dan hanya layak dikonsumsi oleh warga miskin dan binatang. Warga kaya dan berduit enggan mengkonsumsi makanan pokok selain nasi dikarenakan makan nasi yang sudah dibudayakan dan juga gengsi dianggap sebagai warga miskin.
Sebetulnya salah pemerintah juga, di masa lalu membiarkan beras/ nasi putih dipopulerkan sebagai makanan pokok yang terbaik. Harus diakui bahwa pembangunan yang bersifat hegemoni pada masa yang lampau telah meninggalkan banyak dampak negatif. Salah satu kebijakan yang telah menciptakan dampak kompleks adalah hegemoni dalam bidang pangan, yaitu menyeragamkan jenis makanan pokok rakyat dengan komoditi beras. Pemerintah sendiri melakukan intensifikasi pertanian padi supaya bisa swasembada beras. Akibatnya masyarakat mulai meninggalkan bahan makanan pokok yang semula mereka konsumsi seperti jagung, sagu, singkong, dan lain-lain.
Misi itu diimplementasikan saat produksi padi Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Selain itu ada keyakinan yang besar bahwa usaha tani padi masih mempunyai potensi untuk terus dikembangkan. Berbagai teknologi mulai dari benih, pupuk, pestisida hingga alsintan diteliti dan diintroduksikan ke pedesaan dengan tujuan agar petani bisa menangani proses produksi secara intensif. Pembangunan yang mempunyai ideologi identik dengan revolusi hijau diorientasikan pada tingkat pertumbuhan dengan landasan efisiensi. Indikator utamanya adalah produktivitas.
Sekarang masyarakat Indonesia sudah tergantung pada nasi dan menganggap kalau belum makan nasi berarti belum makan. Sumber karbohidrat lain seperti roti, ubi, mi, bihun, kentang, jagung, umbi, talas, singkong, termasuk makaroni, spageti, dan aneka pasta yang kini semakin populer itu masih dianggap sekadar bahan pangan selingan atau pengganjal lapar sebelum makan nasi.
Selain itu, perluasan lahan melalui percetakan sawah, pemanfaatan lahan rawa dan pasang surut, hingga intensifikasi usahatani padi pada lahan kering, menjadi program pembangunan yang mendapat prioritas. Sebagian besar dana, energi, dan perhatian Departemen Pertanian tercurah untuk komoditas beras. Kedudukan beras sebagai komoditi publik sekaligus komoditas politis “seakan-akan” menghilangkan rasionalitas untuk memikirkan bahwa tujuan sejati pembangunan pertanian adalah kesejahteraan masyarakat, termasuk petani padi.
Sedangkan di sata Badan Pusat Statistik (BPS) angka ramalan III produksi padi tahun 2007 sebesar 57,05 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini didasarkan pada realisasi produksi padi Januari – Agustus 2007 serta perkiraan produksi September – Desember 2007. Dengan demikian, BPS memperkirakan adanya peningkatan produksi beras 2,59 juta ton GKG. Sementara itu, stok beras di Perum Bulog pada akhir tahun 2007 diperkirakan tidak mencapai target sebanyak 1,5 – 2 juta ton. Kondisi ini harus diwaspadai mengingat perkiraan minimnya stok beras Bulog pada akhir tahun yang hanya 1,2 juta ton saat sejumlah negara eksportir beras dunia tahun 2007 dan 2008 menahan ekspor demi keamanan pangan negaranya masing-masing. Apabila perhitungan impor beras meleset dan produksi beras tahun 2008 menurun, ketahanan pangan nasional akan terganggu.
Pertama-tama yang perlu diperbaiki adalah persepsi masyarakat bahwa makanan yang membuat kenyang dan cocok di lidah itu bukan hanya nasi putih. Harapannya, orang tua dapat mensosialisasikan keanegaragaman bahan pangan pokok tersebut kepada anak-anak, mengingat pembentukan selera dan kebiasaan makan dimulai sejak balita.
salah satu contoh bahan pangan pokok yang terdapat di Indonesia yang dapat menggantikan nasi sebagai bahan pangan pokok andalan adalah jagung. Jagung adalah makanan pokok sumber karbohidrat. Makanan ini mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh seperti gula, minyak lemak, kalium, kalsium, fosfor, zinc (besi), vitamin A, B1, B6, dan C. Jagung itu mengenyangkan, lho. Supaya tidak bosan, jagung bisa diolah menjadi berbagai makanan yang unik. Misalnya, jadi perkedel jagung, pop corn , jagung rebus atau jagung bakar yang dioles dengan margarin.
Tak kalah hebatnya dengan beras, jagung bisa dijadikan makanan ternak. Hebatnya lagi, jagung bisa tumbuh hampir di belahan bumi mana pun. Hampir di seluruh daerah di negeri kita, khususnya daerah kering, tanaman jagung tumbuh dengan baik. Bila dilihat lebih seksama, nilai gizi jagung tidak kalah dari nasi. Dalam 100 gram beras terkandung energi sebesar 360 kalori, atau setara dengan energi pada jagung. Kandungan karbohidrat jagung sebagian besar juga terdiri atas pati, sehingga dapat mengenyangkan.
Ada salah satu keunggulan jagung sebagai pengganti nasi dibandingkan dengan komoditas lain, yaitu rasanya yang manis, sehingga dapat meningkatkan selera makan. Rasa manis pada jagung disebabkan kandungan gula, yaitu berkisar 1-3 persen, terdiri atas 57 persen sukrosa yang terdapat di bagian lembaga (biji).
Beberapa masalah yang diperkirakan menjadi pembatas peningkatan produksi adalah:
1. Keterbatasan sumberdaya lahan sebagai akibat konversi menjadi pabrik, jalan, perkantoran maupun pemukiman,
2. Pemilikan lahan yang relatif kecil-kecil sehingga sulit berproduksi secara optimal,
3. Kualitas agroekosistem yang kian miskin bahkan jenuh input; dan
4. Sebaran produksi yang sebagian besar masih bertumpu di Pulau Jawa.
Sekiranya yang perlu diperhatikan, selain memperhatikan proses produksi, ada beberapa yang perlu mendapat perhatian yaitu:
1). Menentukan tarif dan membatasi jumlah impor beras yang mampu mangatasi banjirnya beras impor di dalam negeri. Kebijakan ini hanya efektif jika didukung peraturan dan kontrol hukum yang tegas.
2). Melepaskan penggunaan indikator inflasi dalam mengendalikan harga beras dengan alasan apapun.
3). Menangani masalah kehilangan hasil pada proses panen dan pasca panen dengan teknologi dan sistem kerja yang lebih baik.
Mengurangi konsumsi sebagai cara kedua dalam mengatasi masalah pangan beras merupakan cara yang lebih rumit karena menyangkut dua hal yaitu:
1). Pertumbuhan penduduk yang sulit ditekan. Selama masa krisis terjadi kenaikan angka pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan.
2). Karena jenis makanan pokok keluarga merupakan bentuk konkrit dari sebuah budaya, maka proses perubahannya hanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Pemerintah harus berpikir panjang untuk mengatasi persoalan public, tidak mengambil penyelesaian instant yang pada akhirnya justru menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat. Kebijakan impor termasuk salah satu program yang masuk dalam kategori itu. Selain itu, pemerintah perlu membuat kebijakan yang terstruktur dan sistematis untuk merubah persepsi masyarakat tentang beras sebagai makanan pokok bergengsi. Jika selama ini masyarakat merasa gengsi jika mengonsumsi makanan pokok non beras, maka pemerintah dapat mengemas dan mempromosikannya secara lebih menarik sehingga masyarakat juga merasa berkelas jika mengonsumsi makanan alternative tersebut.

Pengalihan pola konsumsi ke bahan makanan pokok lain memang tidak mudah karena pencernaan manusia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat beradaptasi dengan makanan alternative tersebut. Sebuah riset mengatakan bahwa alat kecap manusia butuh waktu 21 hari untuk beradaptasi dengan makanan pokok baru. Jadi, baru di hari ke-22 kita akan familier dengan bahan makanan alternative. Memang cukup lama dan sulit, tapi kalau tidak kita coba dari sekarang, kapan lagi?

Sumber:
http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/13/pdf/Dilema%20Pangan%20Beras%20Indonesia.pdf

http://www.suaramedia.com/gaya-hidup/makanan/31208-makan-besar-tak-harus-dengan-nasi-putih.html

Novi Turendah P
Posted on 29th October, 2010

TUGAS EKOLOGI PANGAN & GIZI
NOVI TURENDAH P.
100810365 / 54
IKM VB / O8

UPAYA-UPAYA MENGATASI MASALAH PANGAN & GIZI DI INDONESIA
Pada umumnya produksi pangan di Negara-negara sedang berkembang meningkat dari tahun ke tahun, tetapi tiap tahun penduduk yang tidak cukup makan meningkat jumlahnya, terutama di Negara miskin. Hal ini menyebabkan masalah kurang gizi juga bertambah. Perencanaan untuk meningkatkan pengadaan pangan pada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil maupun yang dekat pertanian harus menjadi perhatian serius dalam pembangunan nasional dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat. Peningkatan produksi pangan haruslah dikaitkan dengan program kecukupan pangan dan gizi untuk pemerataan pangan bagi seluruh golongan rawan pangan dan gizi di Indonesia. Masalah ini perlu mendapat perhatian dan diharapkan ada pemikiran mengenai cara pemerataan pangan dan gizi tersebut ke lapisan masyarakat yang sangat membutuhkan.
1. Pangan
Pangan adalah bahan-bahan yang kita makan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jaringan tubuh yang rusak. Pangan juga dapat diartikan sebagai bahan sumber gizi dan merupakan kebutuhan asasi (pokok) manusia sehingga manusia harus makan makanan yang cukup setiap hari dengan gizi yang cukup juga. Berdasarkan pemenuhan pangan, masyarakat dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Kelompok masyarakat yang kehidupannya sulit.
Masalah utama yang dihadapi kelompok ini adalah bagaimana caranya agar dengan daya beli yang terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Kelompok masyarakat ini rentan dengan masalah kekurangan gizi. Permasalahan ini akan semakin berat jika kelompok masyarakat ini mempunyai balita dengan jumlah yang cukup banyak, yang berarti akan mencetak generasi muda yang pertumbuhan badan dan intelektualnya terganggu jika tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat sekitar.
b. Kelompok masyarakat yang tergolong beruntung.
Kelompok ini adalah kelompok yang dapat membeli jenis makanan apa saja yang diinginkannya dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga pemenuhan gizi dapat terjamin. Malnutrisi pada kelompok ini seringkali diakibatkan oleh konsumsi makanan yang terlalu berlebihan, sehingga muncul penyakit atau kelainan seperti hiperglikemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, obesitas, dan lain sebagainya.
Di sisi lain pangan dapat juga mempengaruhi stabilitas Poleksosbudhankam. Kelangkaan pangan akan menyebabkan tindakan-tindakan yang akan mengganggu stabilitas komponen lain. Tanpa adanya pangan yang cukup akan terjadi kelaparan yang mengakibatkan suatu Negara terganggu stabilitasnya baik ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan politiknya. Untuk itu perlu penyediaan pangan yang cukup agar kita terhindar dari akibat negatif dari kelangkaan pangan. Upaya penyediaan pangan di Indonesia melalui produksi pangan ternyata masih menghadapi permasalahan yang cukup mendasar, diantaranya adalah:
a. Sentral produksi pangan hanya di daerah tertentu, yang menyebabkan kerumitan dalam pemasaran dan distribusi pangan.
b. Produksi pangan masih tergantung pada musim.
c. Produksi pangan bersifat fluktuatif yang dipengaruhi oleh keadaan cuaca, gangguan hama, penyakit, dan gangguan alam, dll.
Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tidak saja berorientasi pemenuhan jumlah (kuantitas), tetapi haruslah juga berorientasi kepada pemenuhan mutunya (kualitas).
2. Pangan dan Gizi
Pangan menyediakan unsur-unsur kimia tubuh yang disebut zat gizi. Zat gizi ini menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Oleh karena itu, pengetahuan tentang kandungan zat gizi dalam pangan yang diperoleh penduduk di suatu tempat penting guna merencanakan, menyiapkan , dan mengkonsumsi makanan seimbang. Banyaknya gizi yang diperlukan berbeda-beda tiap individu. Berdasarkan asupan gizi tersebut setiap orang akan mempunyai status gizi , yaitu status gizi kurang, status gizi seimbang (normal), dan status gizi lebih. Pada tahun 2004, kasus gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 5,1 juta, kemudian tahun 2005 turun menjadi 4,42 juta, tahun 2006 turun menjadi 4,2 juta ( 944.246 diantaranya kasus gizi buruk ) dan tahun 2007 turun lagi menjadi 4,1 juta ( 755.397 diantaranya kasus gizi buruk ). Masalah krisis pangan yang berakibat pada munculya kasus kurang gizi dan gizi buruk ini dipicu oleh keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan.
Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah melakukan penjagaan terhadap stabilitas ketahanan pangan dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi), mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat. Selain itu, pemerintah juga melakukan operasi pasar, program Raskin serta impor dari luar negeri. Selain peran pemerintah peran serta masyarakat juga diperlukan melalui upaya meningkatkan kinerja organisasi kepemudaan sebagai lembaga non formal di masyarakat yang selama ini kurang termanfaatkan. Organisasi kepemudaan yang terdapat di masyarakat adalah lembaga yang bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar dan memiliki peran yang sangat strategis bagi tercapainya harapan-harapan di masyarakat.
Usaha-usaha peningkatan gizi harus ditujukan pada anak-anak dan ibu hamil, karena penundaan pemberian perhatian pemeliharaan gizi yang tepat terhadap anak-anak akan menurunkan nilai potensi mereka sebagai sumberdaya pembangunan masyarakat. Hal ini disebabkan karena:
a. Kekurangan gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan anak-anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas sumber daya manusia di masa yang akan datang.
b. Kekurangan gizi berakibat meningkatnya angka kesakitan dan menurunnya produktivitas kerja manusia.
c. Kekurangan gizi berakibat menurunnya kecerdasan anak-anak, yang berarti menurunnya kualitas kecerdasan manusia muda yang dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.
d. Kurangnya gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk bekerja, yang berarti menurunnya prestasi dan produktivitas kerja manusia.
Oleh karena itu pemerintah membuat program-program yang bermuara pada perbaikan gizi masyarakat. Adapun program-program perbaikan gizi yang sedang dan telah dilaksanakan di Indonesia selama ini meliputi:
Kegiata Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
• Penanggulangan kekurangan vitamin A
• Penanggulangan anemia gizi
• Penanggulangan gondok endemik, dsb.
Program pemerintah yang lain adalah Komite Ketahanan Pangan dan Gizi Desa yang dibentuk untuk menganalisa situasi pangan dan gizi dari Ibu, Balita dan Ibu hamil, merencanakan intervensi, mengimplementasikan dan memantau semua aktivitas serta capaiannya.
Komite ini lebih dikenal sebagai Komite FNS (Food & Nutrition Security) Desa. Komite ini beranggotakan warga desa, aparat desa, tokoh agama, kader posyandu, bidan desa, petugas gizi, PKK, kelompok tani dan kelompok masyarakat lainnya terutama keluarga yang mempunyai balita. Secara rutin Komite FNS melakukan pertemuan di seketariat umumnya masih di Posyandu atau Balai Desa. Pertemuan ini membahas permasalahan pangan dan gizi yang ada di desa, bagaimana memecahkannya, dan bagaimana upaya mendapatkan support pemerintah setempat sebagai upaya advokasi dan networking. Intervensi yang diberikan dalam program ini akan berkontribusi pada proses pembelajaran bersama bagi semua pihak yang terlibat, serta untuk tujuan perbaikan gizi terutama anak balita.
Pemerintah setempat pun terlibat aktif dalam intervensi pangan dan gizi. Mengingat masalah pangan dan gizi menjangkau dimensi yang luas, penanganannya memerlukan keterpaduan lintas sektor termasuk Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Penyuluh Pertanian, Tenaga Kesehatan, Posyandu, LSM Lokal dan Perguruan Tinggi sebagai nara sumber dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat.

Sumber:
1. Krisno Budiyanto, Moch. Agus. 2001. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.
2. http://www.pewarta-indonesia.com/nspirasi/Opini/mengatasi-masalah-pangan-dan-gizi-adalah-tugas-bersama.html
3. http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/25/peningkatan-potensial-kinerja-organisasi-kepemudaan-berorientasi-organisasi-pelayanan-kemanusiaan-penyelenggara-usaha-kesejahteraan-sosial-dalam-pendampingan-dan-pemberdayaan-masyarakat-sebagai-upaya/
TUGAS EKOLOGI PANGAN & GIZI
NOVI TURENDAH P.
100810365 / 54
IKM VB / O8

UPAYA-UPAYA MENGATASI MASALAH PANGAN & GIZI DI INDONESIA
Pada umumnya produksi pangan di Negara-negara sedang berkembang meningkat dari tahun ke tahun, tetapi tiap tahun penduduk yang tidak cukup makan meningkat jumlahnya, terutama di Negara miskin. Hal ini menyebabkan masalah kurang gizi juga bertambah. Perencanaan untuk meningkatkan pengadaan pangan pada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil maupun yang dekat pertanian harus menjadi perhatian serius dalam pembangunan nasional dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat. Peningkatan produksi pangan haruslah dikaitkan dengan program kecukupan pangan dan gizi untuk pemerataan pangan bagi seluruh golongan rawan pangan dan gizi di Indonesia. Masalah ini perlu mendapat perhatian dan diharapkan ada pemikiran mengenai cara pemerataan pangan dan gizi tersebut ke lapisan masyarakat yang sangat membutuhkan.
1. Pangan
Pangan adalah bahan-bahan yang kita makan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jaringan tubuh yang rusak. Pangan juga dapat diartikan sebagai bahan sumber gizi dan merupakan kebutuhan asasi (pokok) manusia sehingga manusia harus makan makanan yang cukup setiap hari dengan gizi yang cukup juga. Berdasarkan pemenuhan pangan, masyarakat dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Kelompok masyarakat yang kehidupannya sulit.
Masalah utama yang dihadapi kelompok ini adalah bagaimana caranya agar dengan daya beli yang terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Kelompok masyarakat ini rentan dengan masalah kekurangan gizi. Permasalahan ini akan semakin berat jika kelompok masyarakat ini mempunyai balita dengan jumlah yang cukup banyak, yang berarti akan mencetak generasi muda yang pertumbuhan badan dan intelektualnya terganggu jika tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat sekitar.
b. Kelompok masyarakat yang tergolong beruntung.
Kelompok ini adalah kelompok yang dapat membeli jenis makanan apa saja yang diinginkannya dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga pemenuhan gizi dapat terjamin. Malnutrisi pada kelompok ini seringkali diakibatkan oleh konsumsi makanan yang terlalu berlebihan, sehingga muncul penyakit atau kelainan seperti hiperglikemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, obesitas, dan lain sebagainya.
Di sisi lain pangan dapat juga mempengaruhi stabilitas Poleksosbudhankam. Kelangkaan pangan akan menyebabkan tindakan-tindakan yang akan mengganggu stabilitas komponen lain. Tanpa adanya pangan yang cukup akan terjadi kelaparan yang mengakibatkan suatu Negara terganggu stabilitasnya baik ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan politiknya. Untuk itu perlu penyediaan pangan yang cukup agar kita terhindar dari akibat negatif dari kelangkaan pangan. Upaya penyediaan pangan di Indonesia melalui produksi pangan ternyata masih menghadapi permasalahan yang cukup mendasar, diantaranya adalah:
a. Sentral produksi pangan hanya di daerah tertentu, yang menyebabkan kerumitan dalam pemasaran dan distribusi pangan.
b. Produksi pangan masih tergantung pada musim.
c. Produksi pangan bersifat fluktuatif yang dipengaruhi oleh keadaan cuaca, gangguan hama, penyakit, dan gangguan alam, dll.
Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tidak saja berorientasi pemenuhan jumlah (kuantitas), tetapi haruslah juga berorientasi kepada pemenuhan mutunya (kualitas).
2. Pangan dan Gizi
Pangan menyediakan unsur-unsur kimia tubuh yang disebut zat gizi. Zat gizi ini menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Oleh karena itu, pengetahuan tentang kandungan zat gizi dalam pangan yang diperoleh penduduk di suatu tempat penting guna merencanakan, menyiapkan , dan mengkonsumsi makanan seimbang. Banyaknya gizi yang diperlukan berbeda-beda tiap individu. Berdasarkan asupan gizi tersebut setiap orang akan mempunyai status gizi , yaitu status gizi kurang, status gizi seimbang (normal), dan status gizi lebih. Pada tahun 2004, kasus gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 5,1 juta, kemudian tahun 2005 turun menjadi 4,42 juta, tahun 2006 turun menjadi 4,2 juta ( 944.246 diantaranya kasus gizi buruk ) dan tahun 2007 turun lagi menjadi 4,1 juta ( 755.397 diantaranya kasus gizi buruk ). Masalah krisis pangan yang berakibat pada munculya kasus kurang gizi dan gizi buruk ini dipicu oleh keterbatasan kemampuan daya beli masyarakat terhadap bahan pangan.
Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah melakukan penjagaan terhadap stabilitas ketahanan pangan dengan melakukan SKPG (Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi), mengaktifkan kembali peran Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) dalam mengontrol berat badan balita, karena orang yang aktif adalah ibu balita, bukan petugas Posyandu setempat. Selain itu, pemerintah juga melakukan operasi pasar, program Raskin serta impor dari luar negeri. Selain peran pemerintah peran serta masyarakat juga diperlukan melalui upaya meningkatkan kinerja organisasi kepemudaan sebagai lembaga non formal di masyarakat yang selama ini kurang termanfaatkan. Organisasi kepemudaan yang terdapat di masyarakat adalah lembaga yang bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar dan memiliki peran yang sangat strategis bagi tercapainya harapan-harapan di masyarakat.
Usaha-usaha peningkatan gizi harus ditujukan pada anak-anak dan ibu hamil, karena penundaan pemberian perhatian pemeliharaan gizi yang tepat terhadap anak-anak akan menurunkan nilai potensi mereka sebagai sumberdaya pembangunan masyarakat. Hal ini disebabkan karena:
a. Kekurangan gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan anak-anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas sumber daya manusia di masa yang akan datang.
b. Kekurangan gizi berakibat meningkatnya angka kesakitan dan menurunnya produktivitas kerja manusia.
c. Kekurangan gizi berakibat menurunnya kecerdasan anak-anak, yang berarti menurunnya kualitas kecerdasan manusia muda yang dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.
d. Kurangnya gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk bekerja, yang berarti menurunnya prestasi dan produktivitas kerja manusia.
Oleh karena itu pemerintah membuat program-program yang bermuara pada perbaikan gizi masyarakat. Adapun program-program perbaikan gizi yang sedang dan telah dilaksanakan di Indonesia selama ini meliputi:
Kegiata Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
• Penanggulangan kekurangan vitamin A
• Penanggulangan anemia gizi
• Penanggulangan gondok endemik, dsb.
Program pemerintah yang lain adalah Komite Ketahanan Pangan dan Gizi Desa yang dibentuk untuk menganalisa situasi pangan dan gizi dari Ibu, Balita dan Ibu hamil, merencanakan intervensi, mengimplementasikan dan memantau semua aktivitas serta capaiannya.
Komite ini lebih dikenal sebagai Komite FNS (Food & Nutrition Security) Desa. Komite ini beranggotakan warga desa, aparat desa, tokoh agama, kader posyandu, bidan desa, petugas gizi, PKK, kelompok tani dan kelompok masyarakat lainnya terutama keluarga yang mempunyai balita. Secara rutin Komite FNS melakukan pertemuan di seketariat umumnya masih di Posyandu atau Balai Desa. Pertemuan ini membahas permasalahan pangan dan gizi yang ada di desa, bagaimana memecahkannya, dan bagaimana upaya mendapatkan support pemerintah setempat sebagai upaya advokasi dan networking. Intervensi yang diberikan dalam program ini akan berkontribusi pada proses pembelajaran bersama bagi semua pihak yang terlibat, serta untuk tujuan perbaikan gizi terutama anak balita.
Pemerintah setempat pun terlibat aktif dalam intervensi pangan dan gizi. Mengingat masalah pangan dan gizi menjangkau dimensi yang luas, penanganannya memerlukan keterpaduan lintas sektor termasuk Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Penyuluh Pertanian, Tenaga Kesehatan, Posyandu, LSM Lokal dan Perguruan Tinggi sebagai nara sumber dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat.

Sumber:
1. Krisno Budiyanto, Moch. Agus. 2001. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.
2. http://www.pewarta-indonesia.com/nspirasi/Opini/mengatasi-masalah-pangan-dan-gizi-adalah-tugas-bersama.html
3. http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/25/peningkatan-potensial-kinerja-organisasi-kepemudaan-berorientasi-organisasi-pelayanan-kemanusiaan-penyelenggara-usaha-kesejahteraan-sosial-dalam-pendampingan-dan-pemberdayaan-masyarakat-sebagai-upaya/

Noviaranita Alif Ramdana
Posted on 29th October, 2010

NOVIARANITA ALIF R
IKM B’08
100810446 / 84

PENTINGNYA KEMASAN MAKANAN
Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai “pelindung” makanan. Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan. Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan, pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya.
Kemasan berperan penting dalam usaha produksi khususnya dalam kaitannya dengan pemasaran. Kemasan yang mempunyai penampakan yang baik dan serasi adalah hal yang penting, karena dapat menunjang pemasaran dari suatu produk. Fungsi utama pengemasan adalah untuk melindungi produk dari kerusakan oleh unsur-unsur dari luar. Kerusakan bahan/produk yang disebabkan oleh unsur-unsur perusak dari dalam produk, tetapi tidak dapat dilakukan hanya dengan pengemasan kecuali dengan mengkombinasikannya dengan perlakuan tertentu. Perlindungan terhadap probuk dari kerusakan oleh unsur-unsur dari luarpun tidak tanpa batas, tetapi mempunyai tenggang waktu. Sampai ada batas tertentu kemasan dapat menghambat/menahan daya kerusakan dari unsur perusak.
Budaya kemasan sebenarnya telah dimulai sejak manusia mengenal sistem penyimpanan bahan makanan. Sistem penyimpanan bahan makanan secara tradisional diawali dengan memasukkan bahan makanan ke dalam suatu wadah yang ditemuinya. Dalam perkembangannya di bidang pascapanen, sudah banyak inovasi dalam bentuk maupun bahan pengemas produk pertanian. Temuan kemasan baru dan berbagai inovasi selalu dikedepankan oleh para produsen produk-produk pertanian, dan hal ini secara pasti menggeser metode pengemasan tradisional yang sudah ada sejak lama di Indonesia.
Dalam menentukan fungsi perlindungan dari pengemasan, maka perlu dipertimbangkan aspek-aspek mutu produk yang akan dilindungi. Mutu produk ketika mencapai konsumen tergantung pada kondisi bahan mentah, metoda pengolahan dan kondisi penyimpanan. Dengan demikian fungsi kemasan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Kemampuan/daya membungkus yang baik untuk memudahkan dalam penanganan, pengangkutan, distribusi, penyimpanan dan penyusunan/ penumpukan.
• Kemampuan melindungi isinya dari berbagai resiko dari luar, misalnya perlindungan dari udara panas/dingin, sinar/cahaya matahari, bau asing, benturan/tekanan mekanis, kontaminasi mikroorganisme.
• Kemampuan sebagai daya tarik terhadap konsumen. Dalam hal ini identifikasi, informasi dan penampilan seperti bentuk, warna dan keindahan bahan kemasan harus mendapatkan perhatian.
• Persyaratan ekonomi, artinya kemampuan dalam memenuhi keinginan pasar, sasaran masyarakat dan tempat tujuan pemesan.
• Mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada, mudah dibuang, dan mudah dibentuk atau dicetak.
Dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi kemasan tersebut maka kesalahan dalam hal memilih bahan baku kemasan, kesalahan memilih desain kemasan dan kesalahan dalam memilih jenis kemasan, dapat diminimalisasi. Untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut maka kemasan harus memiliki sifat-sifat :
• Permeabel terhadap udara (oksigen dan gas lainnya).
• Bersifat non-toksik dan inert (tidak bereaksi dan menyebabkan reaksi kimia) sehingga dapat mempertahankan warna, aroma, dan cita rasa produk yang dikemas.
• Kedap air (mampu menahan air atau kelembaban udara sekitarnya).
• Kuat dan tidak mudah bocor.
• Relatif tahan terhadap panas.
• Mudah dikerjakan secara massal dan harganya relatif murah.
Adapun bahan kemasan makanan yang perlu kita waspadai, yaitu :
1. Kertas
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas koran dan majalah) yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah, dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain seperti ginjal, hati,otak, saraf dan tulang. Keracunan timbal ini pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit) dan paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang terjadi pun bisa bersifat kronis dan akut.
Untuk terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang susah-susah gampang. Banyak makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng yang dibungkus dengan koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual. Padahal bahan yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbel makanan tersebut. Sebagai usaha pencegahan, taruhlah makanan jajanan tersebut di atas piring.
2. Styrofoam
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya.
Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan.
Saat ini masih banyak restoran - restoran siap saji yang masih menggunakan styrofoam sebagai wadah bagi makanan atau minumannya. Sebisa mungkin Anda harus menghindari penggunaan styrofoam untuk makanan atau minuman panas, karena sama halnya dengan plastik, suhu yang tinggi menyebabkan perpindahan komponen kimia dari styrofoam ke dalam makanan Anda.
3. Kaleng
Pada umumnya, produk makanan yang dikemas dalam kaleng akan kehilangan citra rasa segarnya dan mengalami penurunan nilai gizi akibat pengolahan dengan suhu tinggi. Satu hal lagi yang juga cukup mengganggu adalah timbulnya rasa taint kaleng atau rasa seperti besi yang timbul akibat coating kaleng tidak sempurna.
Bahaya utama pada makanan kaleng adalah tumbuhnya bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan keracunan botulinin.
Cermat memilih kaleng kemasan merupakan suatu upaya untuk menghindari bahaya-bahaya yang tidak diinginkan tersebut. Boleh-boleh saja memilih kaleng yang sedikit penyok, asalkan tidak ada kebocoran. Selain itu segera pindahkan sisa makanan kaleng ke tempat lain agar kerusakan kaleng yang terjadi kemudian tidak akan mmepengaruhi kualitas makanannya.
4. Plastik
Setiap hari kita menggunakan plastik, baik untuk mengolah, menyimpan atau mengemas makanan. Ketimbang kemasan tradisional seperti dedaunan atau kulit hewan, plastik memang lebih praktis dan tahan lama. Kelemahannya adalah, plastik tidak tahan panas dan dapat mencemari produk akibat migrasi komponen monomer yang akan berakibat buruk terhadap kesehatan konsumen. Selain itu, plastik juga bermasalah untuk lingkungan karena merupakan bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami. (non-biodegradable).
Perlu diingat bahwa sebenarnya plastik itu tidak berbau dan berwarna. Jadi hindari penggunaan plastik yang bau dan berwarna gelap untuk membungkus makanan secara langsung.
Plastik kresek hitam yang sering digunakan sebagai pembungkus gorengan, gelas plastik yang dipakai untuk air mendidih, botol kemasan air mineral yang diterpa sinar matahari setiap hari, serta penggunaan plastik kiloan untuk membuat ketupat, adalah contoh-contoh penggunaan kemasan plastik yang salah dan sangat berbahaya. Akibat dari penggunaan plastik yang tidak sesuai dengan fungsinya ini, dikhawatirkan akan terjadi perpindahan komponen kimia dari plastik ke dalam makanan.

DAFTAR PUSTAKA
http://byluvia.multiply.com/journal/item/5/Problem_Kemasan_Makanan. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengemasan. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.
Triyono,Agus.Teknologi Pengemasan Produk Makanan. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=3&ved=0CCEQFjAC&url=http%3A%2F%2Fkatalog.pdii.lipi.go.id%2Findex.php%2Fsearchkatalog%2FdownloadDatabyId%2F7759%2F7759.pdf&ei=lYfFTPCEMMWPcaaw1cwN&usg=AFQjCNE1m_gNAMYAa0yjMBm48SRyqbL-wA. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.

NOVIARANITA ALIF R
IKM B’08
100810446 / 84

PENTINGNYA KEMASAN MAKANAN
Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai “pelindung” makanan. Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan. Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan, pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya.
Kemasan berperan penting dalam usaha produksi khususnya dalam kaitannya dengan pemasaran. Kemasan yang mempunyai penampakan yang baik dan serasi adalah hal yang penting, karena dapat menunjang pemasaran dari suatu produk. Fungsi utama pengemasan adalah untuk melindungi produk dari kerusakan oleh unsur-unsur dari luar. Kerusakan bahan/produk yang disebabkan oleh unsur-unsur perusak dari dalam produk, tetapi tidak dapat dilakukan hanya dengan pengemasan kecuali dengan mengkombinasikannya dengan perlakuan tertentu. Perlindungan terhadap probuk dari kerusakan oleh unsur-unsur dari luarpun tidak tanpa batas, tetapi mempunyai tenggang waktu. Sampai ada batas tertentu kemasan dapat menghambat/menahan daya kerusakan dari unsur perusak.
Budaya kemasan sebenarnya telah dimulai sejak manusia mengenal sistem penyimpanan bahan makanan. Sistem penyimpanan bahan makanan secara tradisional diawali dengan memasukkan bahan makanan ke dalam suatu wadah yang ditemuinya. Dalam perkembangannya di bidang pascapanen, sudah banyak inovasi dalam bentuk maupun bahan pengemas produk pertanian. Temuan kemasan baru dan berbagai inovasi selalu dikedepankan oleh para produsen produk-produk pertanian, dan hal ini secara pasti menggeser metode pengemasan tradisional yang sudah ada sejak lama di Indonesia.
Dalam menentukan fungsi perlindungan dari pengemasan, maka perlu dipertimbangkan aspek-aspek mutu produk yang akan dilindungi. Mutu produk ketika mencapai konsumen tergantung pada kondisi bahan mentah, metoda pengolahan dan kondisi penyimpanan. Dengan demikian fungsi kemasan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Kemampuan/daya membungkus yang baik untuk memudahkan dalam penanganan, pengangkutan, distribusi, penyimpanan dan penyusunan/ penumpukan.
• Kemampuan melindungi isinya dari berbagai resiko dari luar, misalnya perlindungan dari udara panas/dingin, sinar/cahaya matahari, bau asing, benturan/tekanan mekanis, kontaminasi mikroorganisme.
• Kemampuan sebagai daya tarik terhadap konsumen. Dalam hal ini identifikasi, informasi dan penampilan seperti bentuk, warna dan keindahan bahan kemasan harus mendapatkan perhatian.
• Persyaratan ekonomi, artinya kemampuan dalam memenuhi keinginan pasar, sasaran masyarakat dan tempat tujuan pemesan.
• Mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada, mudah dibuang, dan mudah dibentuk atau dicetak.
Dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi kemasan tersebut maka kesalahan dalam hal memilih bahan baku kemasan, kesalahan memilih desain kemasan dan kesalahan dalam memilih jenis kemasan, dapat diminimalisasi. Untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut maka kemasan harus memiliki sifat-sifat :
• Permeabel terhadap udara (oksigen dan gas lainnya).
• Bersifat non-toksik dan inert (tidak bereaksi dan menyebabkan reaksi kimia) sehingga dapat mempertahankan warna, aroma, dan cita rasa produk yang dikemas.
• Kedap air (mampu menahan air atau kelembaban udara sekitarnya).
• Kuat dan tidak mudah bocor.
• Relatif tahan terhadap panas.
• Mudah dikerjakan secara massal dan harganya relatif murah.
Adapun bahan kemasan makanan yang perlu kita waspadai, yaitu :
1. Kertas
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas koran dan majalah) yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah, dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain seperti ginjal, hati,otak, saraf dan tulang. Keracunan timbal ini pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit) dan paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang terjadi pun bisa bersifat kronis dan akut.
Untuk terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang susah-susah gampang. Banyak makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng yang dibungkus dengan koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual. Padahal bahan yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbel makanan tersebut. Sebagai usaha pencegahan, taruhlah makanan jajanan tersebut di atas piring.
2. Styrofoam
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya.
Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan.
Saat ini masih banyak restoran - restoran siap saji yang masih menggunakan styrofoam sebagai wadah bagi makanan atau minumannya. Sebisa mungkin Anda harus menghindari penggunaan styrofoam untuk makanan atau minuman panas, karena sama halnya dengan plastik, suhu yang tinggi menyebabkan perpindahan komponen kimia dari styrofoam ke dalam makanan Anda.
3. Kaleng
Pada umumnya, produk makanan yang dikemas dalam kaleng akan kehilangan citra rasa segarnya dan mengalami penurunan nilai gizi akibat pengolahan dengan suhu tinggi. Satu hal lagi yang juga cukup mengganggu adalah timbulnya rasa taint kaleng atau rasa seperti besi yang timbul akibat coating kaleng tidak sempurna.
Bahaya utama pada makanan kaleng adalah tumbuhnya bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan keracunan botulinin.
Cermat memilih kaleng kemasan merupakan suatu upaya untuk menghindari bahaya-bahaya yang tidak diinginkan tersebut. Boleh-boleh saja memilih kaleng yang sedikit penyok, asalkan tidak ada kebocoran. Selain itu segera pindahkan sisa makanan kaleng ke tempat lain agar kerusakan kaleng yang terjadi kemudian tidak akan mmepengaruhi kualitas makanannya.
4. Plastik
Setiap hari kita menggunakan plastik, baik untuk mengolah, menyimpan atau mengemas makanan. Ketimbang kemasan tradisional seperti dedaunan atau kulit hewan, plastik memang lebih praktis dan tahan lama. Kelemahannya adalah, plastik tidak tahan panas dan dapat mencemari produk akibat migrasi komponen monomer yang akan berakibat buruk terhadap kesehatan konsumen. Selain itu, plastik juga bermasalah untuk lingkungan karena merupakan bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami. (non-biodegradable).
Perlu diingat bahwa sebenarnya plastik itu tidak berbau dan berwarna. Jadi hindari penggunaan plastik yang bau dan berwarna gelap untuk membungkus makanan secara langsung.
Plastik kresek hitam yang sering digunakan sebagai pembungkus gorengan, gelas plastik yang dipakai untuk air mendidih, botol kemasan air mineral yang diterpa sinar matahari setiap hari, serta penggunaan plastik kiloan untuk membuat ketupat, adalah contoh-contoh penggunaan kemasan plastik yang salah dan sangat berbahaya. Akibat dari penggunaan plastik yang tidak sesuai dengan fungsinya ini, dikhawatirkan akan terjadi perpindahan komponen kimia dari plastik ke dalam makanan.

DAFTAR PUSTAKA
http://byluvia.multiply.com/journal/item/5/Problem_Kemasan_Makanan. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengemasan. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.
Triyono,Agus.Teknologi Pengemasan Produk Makanan. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=3&ved=0CCEQFjAC&url=http%3A%2F%2Fkatalog.pdii.lipi.go.id%2Findex.php%2Fsearchkatalog%2FdownloadDatabyId%2F7759%2F7759.pdf&ei=lYfFTPCEMMWPcaaw1cwN&usg=AFQjCNE1m_gNAMYAa0yjMBm48SRyqbL-wA. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.

Fita Diana Puspita
Posted on 29th October, 2010

Fita Diana Puspita
100810389/IKM B ‘08
Tugas Ekologi Pangan dan Gizi

Mycoprotein Sebagai Pengganti Daging

Dewasa ini prevalensi penyakit degeneratif telah menggeser penyakit infeksi sebagai penyebab mortalitas dan morbiditas di banyak negara di dunia. Dulu penyakit degeneratif dapat disebut sebagai penyakit negara-negara maju. Sedangkan kondisi yang ada saat ini penyakit degeneratif juga telah menjadi momok bagi negara-negara berkembang.
Penyakit degeneratif tersebut meliputi penyakit jantung, hipertensi, kolesterol, dsb. Telah banyak dibuktikan oleh berbagai studi bahwa penyakit degeneratif banyak disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat serta jarang melakukan olahraga. Banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan lemak tinggi dan tidak diimbangi dengan makan makanan berserat serta jarang melakukan olahraga dapat meningkatkan resiko terserang penyakit degeneratif.
Tingginya tingkat mortalitas dan morbiditas akibat penyakit degeneratif di banyak negara mulai menyadarkan masyarakat akan bahaya tidak baiknya pola makan dan jarang berolahraga. Provider kesehatan mulai menginformasikan pada masyarakat mengenai bahaya pola makan tidak sehat. Masyarakat pun mulai membatasi asupan makanan dengan kandungan lemak tinggi. Bahkan ada juga golongan masyarakat yang memilih menjadi vegetarian yaitu orang yang menghindari makanan yang bersumber dari pangan hewani.
Macam-macam vegetarian yaitu :
1. Vegan
Vegan adalah kelompok vegetarian yang anti makanan dan minuman yang mengandung hewani. Kaum vegan tidak mengkonsumsi madu, yogurt, sarang burung walet, dsb.
2. Ovo vegetarian
Ovo vegetarian adalah jenis vegetarian yang tidak makan minum yang mengandung hewani namun tetap mengkonsumsi telur
3. Lacto vegetarian
Lacto vegetarian adalah jenis vegetarian yang tidak makan minum yang mengandung hewani namun tetap mengkonsumsi susu. Vegetarian ini tidak makan bawang bombay dan bawang putih
4. Lacto-ovo vegetarian
Lacto-ovo vegetarian adalah jenis vegetarian yang tidak makan minum yang mengandung hewani namun tetap mengkonsumsi telur, susu, dan produk olahannya seperti yoghurt, keju, butter milk, dan produk turunan telur dan susu lainnya.
Melihat perkembangan kondisi tersebut para ahli mulai berpikir untuk melakukan inovasi bagi vegetarian agar dapat tetap menikmati daging tanpa harus mengkonsumsi daging. Di Eropa, terutama di Inggris, Belgia, Belanda, Irlandia, Swiss, dan Swedia, telah dikembangkan sebuah produk pangan baru, yakni mycoprotein yang dipasarkan dengan nama dagang Quorntm.
Mycoprotein merupakan nama generik yang diberikan pada biomassa yang kandungan asam ribonukleatnya (RNA) telah dikurangi. Mycoprotein terdiri atas hifa (sel-sel) organisme kultur PTA 2684 kapang Fusarium venetatum. Fusarium venetatum sendiri merupakan kapang yang aslinya ditemukan tumbuh di sebuah area Buckinghamshire Inggris.
Seperti minyak Canola yang diproduksi Amerika, mycoprotein juga memiliki sejarah tidak pernah dikonsumsi manusia sebelumnya. Oleh karena itu, masih banyak pihak yang meragukan aspek keamanan mycoprotein ini. Akan tetapi, berdasarkan panel pakar di Amerika dengan meninjau seluruh data pada tahun 1998, maka dinyatakan bahwa proses pembuatan mycoprotein ini dapat menghasilkan suatu produk yang konsisten dan bebas dari cemaran-cemaran yang mungkin membawa risiko pada kesehatan manusia.
Umumnya kekhawatiran orang akan sumber protein dari mikroba menyangkut kadar asam nukleatnya yang tinggi. Dalam proses produksi myco-protein ini digunakan suatu sistem dimana enzim RNA-ase endogen dapat mendegradasi asam nukleat, sehingga kadarnya sekitar 10 persen berkurang menjadi lebih rendah dari 2 persen.
Tampaknya, ke depan, mycoprotein akan dapat menjadi alternatif pengganti daging bagi para vegetarian. Mycoprotein memiliki fungsi fisik yang menguntungkan, yaitu sebagai pengganti serat otot. Mycoprotein dikatakan dapat menggantikan fungsi serat otot. Hal ini berkaitan dengan bentuk dan ukuran dari hifa Fusarium venetatum di mana panjang hifanya 400-700 mikron dan diameter 3-5 mikron dengan frekuensi cabang 1/250300 yang menyerupai morfologi sel-sel otot hewan. Selain itu, bila dibandingkan dengan daging, produk mycoprotein mempunyai kadar lemak yang lebih rendah, lemak jenuh lebih rendah, dan tidak ada kolesterol.
Secara nutrisi, kandungan gizi mycoprotein cukup baik karena hasil analisisnya menunjukkan bahwa mycoprotein mengandung asam amino esensial dengan kadar lemak 2-3,5 persen. Komposisi asam lemak mycoprotein lebih mirip sumber pangan nabati daripada sumber pangan hewani.
Selain itu, ada keunikan tersendiri dari mycoprotein ini, yaitu kombinasi yang tidak umum. Ketidakumuman tersebut disebabkan mycoprotein selain merupakan sumber protein yang baik juga kaya serat. Serat tersebut berasal dari komponen dinding sel yang mengandung sekitar 6,25 gram serat makanan per 100 gram sel.
Keunggulan lain mycoprotein adalah tidak mengandung asam fitat dan garam fitat (zat antinutrien yang dapat menghalangi penyerapan zat besi) sehingga dapat dikatakan bahwa mycoprotein tidak akan mengganggu penyerapan Ca, Mg, P, Zn, dan Fe. Ditambah lagi mycoprotein memiliki kerapatan energi lebih rendah sehingga memberikan efek mengenyangkan dan juga dapat mereduksi kolesterol serum total.
Dari segi rasa, mycoprotein memiliki rasa yang netral (bebas). Selain itu, pada produk alternatif daging yang terdiri atas 90 persen mycoprotein berat produk tidak ada aftertaste (rasa pahit yang tertinggal setelah makan tempe misalnya).
Untuk menjamin keamanan mycoprotein telah secara luas dilakukan. Sebuah penelitian dilakukan untuk menilai toleransi manusia terhadap mycoprotein.
Dalam penelitian tersebut, sukarelawan diberikan beberapa tingkat mycoprotein yang berkisar 10-40 g/hari. Dan untuk periode 1-30 hari, hasilnya menunjukkan bahwa mycoprotein dapat diterima oleh manusia dan potensial alerginya juga rendah.
Dengan ini, mycoprotein dapat dikatakan memiliki asal-usul keamanan yang kuat sehingga dapat menjamin keamanan mikrobiologis dan mutu sensorinya. Selain itu, mycoprotein tidak terkait dengan bahaya potensial yang umum terkait dengan pengolahan daging.
Para vegetarian dapat menikmati mycoprotein sebagai pengganti daging. Harapannya masyarakat penggemar daging dapat menjadikan mycoprotein sebagai alternatif pengganti daging mengingat banyaknya keunggulan yang dimiliki mycoprotein yaitu kaya serat dan rendah lemak pastinya dapat menurunkan resiko masyarakat untuk terserang penyakit degeneratif.
Namun sayangnya produk mycoprotein sejauh ini masih belum dikembangkan di Indonesia. Walaupun telah ditemukan sumber protein yang menjanjikan untuk masa depan, kita tidak boleh melupakan pentingnya pola makan yang sehat serta berolah raga. Agar badan kita tetap fit dan dapat menjalankan fungsinya dengan optimal.

Sumber :
http://nurcha.wordpress.com/2007/08/13/mycoprotein-alternatif-pangan-baru-pengganti-daging/
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_makanan.php
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
http://organisasi.org/jenis-macam-vegetarian
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010

Fita Diana Puspita
100810389/IKM B ‘08
Tugas Ekologi Pangan dan Gizi

Mycoprotein Sebagai Pengganti Daging

Dewasa ini prevalensi penyakit degeneratif telah menggeser penyakit infeksi sebagai penyebab mortalitas dan morbiditas di banyak negara di dunia. Dulu penyakit degeneratif dapat disebut sebagai penyakit negara-negara maju. Sedangkan kondisi yang ada saat ini penyakit degeneratif juga telah menjadi momok bagi negara-negara berkembang.
Penyakit degeneratif tersebut meliputi penyakit jantung, hipertensi, kolesterol, dsb. Telah banyak dibuktikan oleh berbagai studi bahwa penyakit degeneratif banyak disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat serta jarang melakukan olahraga. Banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan lemak tinggi dan tidak diimbangi dengan makan makanan berserat serta jarang melakukan olahraga dapat meningkatkan resiko terserang penyakit degeneratif.
Tingginya tingkat mortalitas dan morbiditas akibat penyakit degeneratif di banyak negara mulai menyadarkan masyarakat akan bahaya tidak baiknya pola makan dan jarang berolahraga. Provider kesehatan mulai menginformasikan pada masyarakat mengenai bahaya pola makan tidak sehat. Masyarakat pun mulai membatasi asupan makanan dengan kandungan lemak tinggi. Bahkan ada juga golongan masyarakat yang memilih menjadi vegetarian yaitu orang yang menghindari makanan yang bersumber dari pangan hewani.
Macam-macam vegetarian yaitu :
1. Vegan
Vegan adalah kelompok vegetarian yang anti makanan dan minuman yang mengandung hewani. Kaum vegan tidak mengkonsumsi madu, yogurt, sarang burung walet, dsb.
2. Ovo vegetarian
Ovo vegetarian adalah jenis vegetarian yang tidak makan minum yang mengandung hewani namun tetap mengkonsumsi telur
3. Lacto vegetarian
Lacto vegetarian adalah jenis vegetarian yang tidak makan minum yang mengandung hewani namun tetap mengkonsumsi susu. Vegetarian ini tidak makan bawang bombay dan bawang putih
4. Lacto-ovo vegetarian
Lacto-ovo vegetarian adalah jenis vegetarian yang tidak makan minum yang mengandung hewani namun tetap mengkonsumsi telur, susu, dan produk olahannya seperti yoghurt, keju, butter milk, dan produk turunan telur dan susu lainnya.
Melihat perkembangan kondisi tersebut para ahli mulai berpikir untuk melakukan inovasi bagi vegetarian agar dapat tetap menikmati daging tanpa harus mengkonsumsi daging. Di Eropa, terutama di Inggris, Belgia, Belanda, Irlandia, Swiss, dan Swedia, telah dikembangkan sebuah produk pangan baru, yakni mycoprotein yang dipasarkan dengan nama dagang Quorntm.
Mycoprotein merupakan nama generik yang diberikan pada biomassa yang kandungan asam ribonukleatnya (RNA) telah dikurangi. Mycoprotein terdiri atas hifa (sel-sel) organisme kultur PTA 2684 kapang Fusarium venetatum. Fusarium venetatum sendiri merupakan kapang yang aslinya ditemukan tumbuh di sebuah area Buckinghamshire Inggris.
Seperti minyak Canola yang diproduksi Amerika, mycoprotein juga memiliki sejarah tidak pernah dikonsumsi manusia sebelumnya. Oleh karena itu, masih banyak pihak yang meragukan aspek keamanan mycoprotein ini. Akan tetapi, berdasarkan panel pakar di Amerika dengan meninjau seluruh data pada tahun 1998, maka dinyatakan bahwa proses pembuatan mycoprotein ini dapat menghasilkan suatu produk yang konsisten dan bebas dari cemaran-cemaran yang mungkin membawa risiko pada kesehatan manusia.
Umumnya kekhawatiran orang akan sumber protein dari mikroba menyangkut kadar asam nukleatnya yang tinggi. Dalam proses produksi myco-protein ini digunakan suatu sistem dimana enzim RNA-ase endogen dapat mendegradasi asam nukleat, sehingga kadarnya sekitar 10 persen berkurang menjadi lebih rendah dari 2 persen.
Tampaknya, ke depan, mycoprotein akan dapat menjadi alternatif pengganti daging bagi para vegetarian. Mycoprotein memiliki fungsi fisik yang menguntungkan, yaitu sebagai pengganti serat otot. Mycoprotein dikatakan dapat menggantikan fungsi serat otot. Hal ini berkaitan dengan bentuk dan ukuran dari hifa Fusarium venetatum di mana panjang hifanya 400-700 mikron dan diameter 3-5 mikron dengan frekuensi cabang 1/250300 yang menyerupai morfologi sel-sel otot hewan. Selain itu, bila dibandingkan dengan daging, produk mycoprotein mempunyai kadar lemak yang lebih rendah, lemak jenuh lebih rendah, dan tidak ada kolesterol.
Secara nutrisi, kandungan gizi mycoprotein cukup baik karena hasil analisisnya menunjukkan bahwa mycoprotein mengandung asam amino esensial dengan kadar lemak 2-3,5 persen. Komposisi asam lemak mycoprotein lebih mirip sumber pangan nabati daripada sumber pangan hewani.
Selain itu, ada keunikan tersendiri dari mycoprotein ini, yaitu kombinasi yang tidak umum. Ketidakumuman tersebut disebabkan mycoprotein selain merupakan sumber protein yang baik juga kaya serat. Serat tersebut berasal dari komponen dinding sel yang mengandung sekitar 6,25 gram serat makanan per 100 gram sel.
Keunggulan lain mycoprotein adalah tidak mengandung asam fitat dan garam fitat (zat antinutrien yang dapat menghalangi penyerapan zat besi) sehingga dapat dikatakan bahwa mycoprotein tidak akan mengganggu penyerapan Ca, Mg, P, Zn, dan Fe. Ditambah lagi mycoprotein memiliki kerapatan energi lebih rendah sehingga memberikan efek mengenyangkan dan juga dapat mereduksi kolesterol serum total.
Dari segi rasa, mycoprotein memiliki rasa yang netral (bebas). Selain itu, pada produk alternatif daging yang terdiri atas 90 persen mycoprotein berat produk tidak ada aftertaste (rasa pahit yang tertinggal setelah makan tempe misalnya).
Untuk menjamin keamanan mycoprotein telah secara luas dilakukan. Sebuah penelitian dilakukan untuk menilai toleransi manusia terhadap mycoprotein.
Dalam penelitian tersebut, sukarelawan diberikan beberapa tingkat mycoprotein yang berkisar 10-40 g/hari. Dan untuk periode 1-30 hari, hasilnya menunjukkan bahwa mycoprotein dapat diterima oleh manusia dan potensial alerginya juga rendah.
Dengan ini, mycoprotein dapat dikatakan memiliki asal-usul keamanan yang kuat sehingga dapat menjamin keamanan mikrobiologis dan mutu sensorinya. Selain itu, mycoprotein tidak terkait dengan bahaya potensial yang umum terkait dengan pengolahan daging.
Para vegetarian dapat menikmati mycoprotein sebagai pengganti daging. Harapannya masyarakat penggemar daging dapat menjadikan mycoprotein sebagai alternatif pengganti daging mengingat banyaknya keunggulan yang dimiliki mycoprotein yaitu kaya serat dan rendah lemak pastinya dapat menurunkan resiko masyarakat untuk terserang penyakit degeneratif.
Namun sayangnya produk mycoprotein sejauh ini masih belum dikembangkan di Indonesia. Walaupun telah ditemukan sumber protein yang menjanjikan untuk masa depan, kita tidak boleh melupakan pentingnya pola makan yang sehat serta berolah raga. Agar badan kita tetap fit dan dapat menjalankan fungsinya dengan optimal.

Sumber :
http://nurcha.wordpress.com/2007/08/13/mycoprotein-alternatif-pangan-baru-pengganti-daging/
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_makanan.php
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
http://organisasi.org/jenis-macam-vegetarian
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010

Dinda Dwi Arta
Posted on 29th October, 2010

NAMA : DINDA DWI ARTA
NIM : 100810112 / 33
KELAS : IKM B ‘08

Pengolahan Dan Pengawetan Pangan Beserta Permasalahannya

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengolahan dan pengawetan bahan makanan memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka tidak mengherankan jika semua negara baik negara maju maupun berkembang selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman dan bergizi. Salah satunya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi.
Banyaknya kasus keracunan makanan yang terjadi di masyarakat saat ini mengindikasikan adanya kesalahan yang dilakukan masyarakat ataupun industri makanan dalam mengolah dan mengawetkan bahan makanan yang dikonsumsi. Problematika mendasar pengolahan makanan yang dilakukan masyarakat lebih disebabkan budaya pengelohan pangan yang kurang berorientasi terhadap nilai gizi, serta keterbatasan pengetahuan sekaligus desakan ekonomi sehingga masalah pemenuhan dan pengolahan bahan pangan terabaikan. Kasus yang paling menyeruak dikalangan masyarakat baru-baru ini ialah penggunaan formalin dan borak di beberapa produk makanan pokok masyarakat dengan berbagai dalih untuk menambah rasa dan keawetan makanan tanpa memperdulikan efek bahan yang digunankan terhadap kesehatan masyarakat, hal inilah yang mendorong diperlukannya berbagai peraturan dari instansi terkait agar dapat melindungi konsumen dari berbagai masalah keamanan pangan dan industri pangan di Indonesia.
Pengolahan dan pengawetan pangan merupakan dua proses yang sulit dipisahkan. Tujuan utama pengolahan pangan adalah membuat produk baru (bisa bersifat mengawetkan). Contohnya adalah pembuatan dendeng atau abon dari ikan yang tujuannya adalah membuat produk baru, tapi sekaligus menjadikan daging ikan lebih awet. Sedangkan tujuan utama pengawetan pangan adalah memperpanjang masa simpan. Pengawetan tidak dapat meningkatkan mutu, artinya bahan yang sudah terlanjur busuk, tidak akan menjadi segar kembali. Prinsip pengawetan pangan ada tiga, yaitu: mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial, mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan; dan mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan termasuk serangan hama.
Masing-masing cara pengawetan hanya efektif selama mekanisme pengawetannya masih bekerja. Ada banyak cara untuk mengolah dan mengawetkan makanan, yakni:
- Pendiginan. Pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai +10 0 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali.
- Pengeringan. Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan energi panas. Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah.
- Pemanasan. Penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh pada bahan pangan. Pada umumnya semakin tinggi jumlah panas yang di berikan semakin banyak mikroba yang mati. Pada proses pengalengan, pemanasan di tujukan untuk membunuh seluruh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan pembusukan makanan dalam kaleng tersebut, selama penanganan dan penyimpanan. Pada proses pasteurisasi, pemanasan di tujukan untuk memusnahkan sebagian besar mikroba pembusuk, sedangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal dan masih hidup terus di hambat pertumbuhanya dengan penyimpanan pada suhu rendah atau dengan cara lain misalnya dengan bahan pengawet.
- Penggunaan bahan kimia. Bahan pengawet dari bahan kimia berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan dari serangan makroba pembusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan pewarna.
- Penggaraman dan penggulaan. Garam dan gula dapat digunakan untuk menyerap kandungan air dalam makanan. Semakin rendah kandungan air dalam makanan maka bagi bakteri untuk hidup di dalamnya.
- Pengemasan. Pengemasan merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi untuk pengawetan makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air.
- Pengalengan adalah upaya pensterilan pada suhu kira-kira 1200 C, kemudian dikemas hampa udara untuk menghindarkan pencemaran. Makanan relatif mudah dikalengkan dan memudahkan pengangkutan dan penggunaannya.
Pada pengolahan bahan pangan zat gizi yang terkandung dalam bahan pangan dapat mengalami kerusakan bila di olah, karena zat itu peka terhadap PH pelarut, oksigen, cahaya dan panas atau kombinasinya. Unsur-unsur minor terutama tembaga, besi, dan enzim dapat mengkatalisis pengaruh tersebut. Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai pembawa atau media zat gizi yang di dalamya banyak mengandung zat-zat yang di butuhkan oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan lain-lain.
Di Indonesia dikenal banyak sekali makanan yang telah diolah dengan berbagai cara dengan tujuan memberikan variasi dalam menu sehari-hari. Untuk menarik pembeli sering makanan atau minuman yang dijual diberi BTM (Bahan Tambahan Makanan). Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap makanan yang praktis dan awet menunjang berkembangnya penggunaan BTM yang berperan besar dalam rantai produksi dan pengolahan. Salah satu permasalahan yang mencuat akhir-akhir ini adalah penggunaan BTM ilegal yaitu formalin dan borak pada sejumlah produk makanan, dan sebagian besar pada jenis mie, bakso, dan juga ikan asin yang selama ini banyak dikonsumsi masyarakat luas. Formalin bersifat desinfektan, kuat terhadap bakteri pembusuk dan jamur. Oleh karena itu gas formalin dipakai oleh pedagang bahan tekstil supaya tidak rusak oleh jamur atau ngengat. Selain itu formalin juga dapat mengeraskan jaringan sehingga dipakai sebagai pengawet mayat dan digunakan pada proses pemeriksaan bahan biologi maupun patologi. Dampak formalin bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi yaitu formalin terbukti bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker pada hewan percobaan, yang menyerang jaringan permukaan rongga hidung. Bila dilihat dari respon tubuh manusia terhadap formalin, efek yang sama juga dapat terjadi. Oleh karena itu, penggunaan zat aditif (tambahan) dalam makanan dan minuman sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat, terutama zat tambahan bahan kimia sintetis yang toksik dan berakumulasi dalam tubuh untuk jangka waktu yang relatif lama bagi yang menggunakannya.

Daftar Pustaka
Dwiari, Sri Rini, dkk. 2008. Teknologi Pangan Jilid 1 untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional
http://zaifbio.wordpress.com/2009/02/02/pengolahan-dan-pengawetan-bahan-makanan-serta-permasalahannya/ . Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:20
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Prinsip%20dan%20Teknik%20Pengawetan%20Makanan%20%28%20Pangan%20%29&&nomorurut_artikel=93. Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:25
http://software-komputer.blogspot.com/2008/04/pengawetan-dengan-penggunaan-suhu.html . Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:27
http://tiyapoenya.blogspot.com/2010/03/pengawetan-makanan.html . Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:30

NAMA : DINDA DWI ARTA
NIM : 100810112 / 33
KELAS : IKM B ‘08

Pengolahan Dan Pengawetan Pangan Beserta Permasalahannya

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengolahan dan pengawetan bahan makanan memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka tidak mengherankan jika semua negara baik negara maju maupun berkembang selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman dan bergizi. Salah satunya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi.
Banyaknya kasus keracunan makanan yang terjadi di masyarakat saat ini mengindikasikan adanya kesalahan yang dilakukan masyarakat ataupun industri makanan dalam mengolah dan mengawetkan bahan makanan yang dikonsumsi. Problematika mendasar pengolahan makanan yang dilakukan masyarakat lebih disebabkan budaya pengelohan pangan yang kurang berorientasi terhadap nilai gizi, serta keterbatasan pengetahuan sekaligus desakan ekonomi sehingga masalah pemenuhan dan pengolahan bahan pangan terabaikan. Kasus yang paling menyeruak dikalangan masyarakat baru-baru ini ialah penggunaan formalin dan borak di beberapa produk makanan pokok masyarakat dengan berbagai dalih untuk menambah rasa dan keawetan makanan tanpa memperdulikan efek bahan yang digunankan terhadap kesehatan masyarakat, hal inilah yang mendorong diperlukannya berbagai peraturan dari instansi terkait agar dapat melindungi konsumen dari berbagai masalah keamanan pangan dan industri pangan di Indonesia.
Pengolahan dan pengawetan pangan merupakan dua proses yang sulit dipisahkan. Tujuan utama pengolahan pangan adalah membuat produk baru (bisa bersifat mengawetkan). Contohnya adalah pembuatan dendeng atau abon dari ikan yang tujuannya adalah membuat produk baru, tapi sekaligus menjadikan daging ikan lebih awet. Sedangkan tujuan utama pengawetan pangan adalah memperpanjang masa simpan. Pengawetan tidak dapat meningkatkan mutu, artinya bahan yang sudah terlanjur busuk, tidak akan menjadi segar kembali. Prinsip pengawetan pangan ada tiga, yaitu: mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial, mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan; dan mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan termasuk serangan hama.
Masing-masing cara pengawetan hanya efektif selama mekanisme pengawetannya masih bekerja. Ada banyak cara untuk mengolah dan mengawetkan makanan, yakni:
- Pendiginan. Pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai +10 0 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali.
- Pengeringan. Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan energi panas. Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah.
- Pemanasan. Penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh pada bahan pangan. Pada umumnya semakin tinggi jumlah panas yang di berikan semakin banyak mikroba yang mati. Pada proses pengalengan, pemanasan di tujukan untuk membunuh seluruh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan pembusukan makanan dalam kaleng tersebut, selama penanganan dan penyimpanan. Pada proses pasteurisasi, pemanasan di tujukan untuk memusnahkan sebagian besar mikroba pembusuk, sedangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal dan masih hidup terus di hambat pertumbuhanya dengan penyimpanan pada suhu rendah atau dengan cara lain misalnya dengan bahan pengawet.
- Penggunaan bahan kimia. Bahan pengawet dari bahan kimia berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan dari serangan makroba pembusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan pewarna.
- Penggaraman dan penggulaan. Garam dan gula dapat digunakan untuk menyerap kandungan air dalam makanan. Semakin rendah kandungan air dalam makanan maka bagi bakteri untuk hidup di dalamnya.
- Pengemasan. Pengemasan merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi untuk pengawetan makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air.
- Pengalengan adalah upaya pensterilan pada suhu kira-kira 1200 C, kemudian dikemas hampa udara untuk menghindarkan pencemaran. Makanan relatif mudah dikalengkan dan memudahkan pengangkutan dan penggunaannya.
Pada pengolahan bahan pangan zat gizi yang terkandung dalam bahan pangan dapat mengalami kerusakan bila di olah, karena zat itu peka terhadap PH pelarut, oksigen, cahaya dan panas atau kombinasinya. Unsur-unsur minor terutama tembaga, besi, dan enzim dapat mengkatalisis pengaruh tersebut. Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai pembawa atau media zat gizi yang di dalamya banyak mengandung zat-zat yang di butuhkan oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan lain-lain.
Di Indonesia dikenal banyak sekali makanan yang telah diolah dengan berbagai cara dengan tujuan memberikan variasi dalam menu sehari-hari. Untuk menarik pembeli sering makanan atau minuman yang dijual diberi BTM (Bahan Tambahan Makanan). Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap makanan yang praktis dan awet menunjang berkembangnya penggunaan BTM yang berperan besar dalam rantai produksi dan pengolahan. Salah satu permasalahan yang mencuat akhir-akhir ini adalah penggunaan BTM ilegal yaitu formalin dan borak pada sejumlah produk makanan, dan sebagian besar pada jenis mie, bakso, dan juga ikan asin yang selama ini banyak dikonsumsi masyarakat luas. Formalin bersifat desinfektan, kuat terhadap bakteri pembusuk dan jamur. Oleh karena itu gas formalin dipakai oleh pedagang bahan tekstil supaya tidak rusak oleh jamur atau ngengat. Selain itu formalin juga dapat mengeraskan jaringan sehingga dipakai sebagai pengawet mayat dan digunakan pada proses pemeriksaan bahan biologi maupun patologi. Dampak formalin bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi yaitu formalin terbukti bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker pada hewan percobaan, yang menyerang jaringan permukaan rongga hidung. Bila dilihat dari respon tubuh manusia terhadap formalin, efek yang sama juga dapat terjadi. Oleh karena itu, penggunaan zat aditif (tambahan) dalam makanan dan minuman sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat, terutama zat tambahan bahan kimia sintetis yang toksik dan berakumulasi dalam tubuh untuk jangka waktu yang relatif lama bagi yang menggunakannya.

Daftar Pustaka
Dwiari, Sri Rini, dkk. 2008. Teknologi Pangan Jilid 1 untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional
http://zaifbio.wordpress.com/2009/02/02/pengolahan-dan-pengawetan-bahan-makanan-serta-permasalahannya/ . Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:20
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Prinsip%20dan%20Teknik%20Pengawetan%20Makanan%20%28%20Pangan%20%29&&nomorurut_artikel=93. Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:25
http://software-komputer.blogspot.com/2008/04/pengawetan-dengan-penggunaan-suhu.html . Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:27
http://tiyapoenya.blogspot.com/2010/03/pengawetan-makanan.html . Diakses tanggal 23 Oktober 2010. Pukul 14:30

Dhadang Widha Putra
Posted on 29th October, 2010

Dhadang Widha Putra
100810382/IKM B ‘08
Kandungan Zat Gizi dalam Kedelai

Kacang kedelai telah dikenal luas di Indonesia karena hampir di setiap kesempatan kacang ini diolah untuk menjadi berbagai macam makanan. Protein kedelai (Soy protein) telah muncul sebagai salah satu sumber makanan alternatif kaya protein untuk konsumsi manusia. Semua ahli kesehatan berharap dengan hadirnya protein kedelai ini akan dapat membantu perbaikan gizi.
Butiran kacang kecil yang disebut orang Jepang “edamame” ini memiliki segudang manfaat. Dari kandungan gizinya, kedelai merupakan makanan yang sarat akan manfaat, seperti sumber protein, lemak, vitamin, mineral, juga merupakan serat yang paling baik. Tak hanya itu, susunan asam amino pada kedelai lebih lengkap dan seimbang dibanding kacang lainnya. Kacang kedelai juga tidak mengandung laktosa sehingga aman dikonsumsi oleh orang dengan lactosa-intolerance.
Kandungan proteinnya setara dengan protein hewani dari daging, susu, dan telur. Hingga 25 % kandungan lemak tak jenuhnya yang bisa mencegah mengerasnya pembuluh nadi. Sehingga, kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga sel-sel tubuh.
Satu hal yang mungkin terlewatkan dari perhatian para kaum wanita, ternyata dari hasil penelitian, kacang kedelai mengandung isoflavon yang sangat tinggi. Isoflavon berfungsi sebagai antioksidan dan berpengaruh meningkatkan kelembapan kulit.
Direktur Perfect Anti-Aging Clinic, Dr. Deby Susanti Vinski, mengungkapkan bahwa dari hasil penelitian NODA, Jepang, 26 wanita yang berusia 30-40 tahun dan mengkonsumsi isoflavon sebanyak 40 mg selama 12 minggu ditemukan mengalami perlambatan kerutan pada wajah dan pada minggu kedelapan, kulit wajah mereka menjadi lebih kenyal.
Isoflavon memiliki zat yang mampu mengurangi keriput pada kulit dan merangsang pembentukan kolagen. Meski isoflavon sangat baik bagi kulit perlu takaran yang tepat dalam mengkonsumsi. Sehari konsumsi isoflavon sebanyak 30-40 miligram. Itu sudah cukup untuk merangsang pembentukan kolagen.
Isoflavon ini dapat ditemui pada jenis tumbuhan dan kacang-kacangan. Namun, yang tertinggi terdapat pada kacang kedelai dan dari hasil pengkajian lebih lanjut, kandungan isoflavon pada tepung kedelai ternyata lebih baik hingga 6-7 kali lipat dibanding susu kedelai.
Dianjurkan bagi kaum hawa yang sudah memasuki usia 30 tahun atau memasuki masa menopause sangat tepat mulai mengkonsumsi isoflavon. Pasalnya, saat terjadi menopause, hormon estrogen berkurang dan tidak lagi diproduksi tubuh. Berkurangnya hormon estrogen dalam tubuh akan menimbulkan masalah seperti sulit tidur. Jadi, adanya kandungan isoflavon yang memiliki kemiripan dengan hormon estrogen atau dikenal sebagai fitoestrogen dapat membantu mengatasi masalah yang kemungkinan timbul seperti sulit tidur dan munculnya keriput pada kulit.
Namun ternyata kandungan isoflavon dalam kacang kedelai ini justru dapat mengganggu fungsi pembentukan sperma pada laki-laki. Struktur isoflavon sama dengan hormon estrogen dan dan dapat menirukan fungsi estrogen dalam tubuh.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pusat Kesehatan Harvard menunjukan bahwa kacang kedelai dapat menurunkan produksi sel sperma. Penelitian ini dilakukan pada 99 pria. Hasilnya ternyata pria yang mengkonsumsi kacang kedelai selama tiga bulan, jumlahnya spermanya jauh lebih sedikit daripada yang tidak mengkonsumsi kedelai.
Mereka yang memakan kacang kedelai terbanyak, jumlah sel spermanya 41 juta per mililiter lebih sedikit dari para pria yang tidak mengkonsumsi kedelai. Sebagai gambaran pria normal memproduksi 80 juta hingga 120 juta sel sperma per mililiternya.
Selain itu untuk mengatasi masalah kelaparan dunia, telah diusulkan budidaya kedelai secara besar-besaran. Kedelai sangat mudah untuk tumbuh dan panen, mereka akan tumbuh hampir di mana saja dan menghasilkan banyak dalam waktu singkat. Telah dilaporkan bahwa banyak petani telah mengganti seluruh tanaman dengan kacang kedelai.
Sangat dianjurkan lebih mengkonsumsi protein alami daripada protein buatan jika memungkinkan, protein buatan sebagai makanan biasanya memiliki beberapa risiko yang menyertainya. Penggunaan terbaik atas kedelai dikarenakan kedelai ini rendah lemak dan cocok untuk diet protein tinggi.
Produk kedelai juga dapat menjadi sumber bahan gizi lain seperti saponins dan phytosterol. Saponins membantu mendukung sistem kekebalan tubuh. Bila bergabung dengan kolesterol untuk menghindari peningkatan penyerapan kolesterol dalam tubuh. Phytosterols juga membantu mengurangi penyerapan kolesterol dalam tubuh dengan cara yang sama dengan saponins lakukan.
Kedelai dapat bermanfaat besar bagi orang-orang yang mencari sumber protein yang tidak berefek samping dibanding sebagian besar sumber-sumber protein lain.
Namun mengingat kerja isoflavon dalam kedelai yang mirip dengan estrogen, sebaiknya para pria membatasi konsumsi kacang kedelai agar produksi sperma dapat optimal.

Sumber :
http://mdl525.info/2008/11/29/manfaat-yang-menakjubkan-dari-protein-kedelai/
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
http://vinadanvani.wordpress.com/2008/05/03/manfaat-lain-susu-kedelai-atasi-keluhan-menopause/
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
Dhadang Widha Putra
100810382/IKM B ‘08
Kandungan Zat Gizi dalam Kedelai

Kacang kedelai telah dikenal luas di Indonesia karena hampir di setiap kesempatan kacang ini diolah untuk menjadi berbagai macam makanan. Protein kedelai (Soy protein) telah muncul sebagai salah satu sumber makanan alternatif kaya protein untuk konsumsi manusia. Semua ahli kesehatan berharap dengan hadirnya protein kedelai ini akan dapat membantu perbaikan gizi.
Butiran kacang kecil yang disebut orang Jepang “edamame” ini memiliki segudang manfaat. Dari kandungan gizinya, kedelai merupakan makanan yang sarat akan manfaat, seperti sumber protein, lemak, vitamin, mineral, juga merupakan serat yang paling baik. Tak hanya itu, susunan asam amino pada kedelai lebih lengkap dan seimbang dibanding kacang lainnya. Kacang kedelai juga tidak mengandung laktosa sehingga aman dikonsumsi oleh orang dengan lactosa-intolerance.
Kandungan proteinnya setara dengan protein hewani dari daging, susu, dan telur. Hingga 25 % kandungan lemak tak jenuhnya yang bisa mencegah mengerasnya pembuluh nadi. Sehingga, kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga sel-sel tubuh.
Satu hal yang mungkin terlewatkan dari perhatian para kaum wanita, ternyata dari hasil penelitian, kacang kedelai mengandung isoflavon yang sangat tinggi. Isoflavon berfungsi sebagai antioksidan dan berpengaruh meningkatkan kelembapan kulit.
Direktur Perfect Anti-Aging Clinic, Dr. Deby Susanti Vinski, mengungkapkan bahwa dari hasil penelitian NODA, Jepang, 26 wanita yang berusia 30-40 tahun dan mengkonsumsi isoflavon sebanyak 40 mg selama 12 minggu ditemukan mengalami perlambatan kerutan pada wajah dan pada minggu kedelapan, kulit wajah mereka menjadi lebih kenyal.
Isoflavon memiliki zat yang mampu mengurangi keriput pada kulit dan merangsang pembentukan kolagen. Meski isoflavon sangat baik bagi kulit perlu takaran yang tepat dalam mengkonsumsi. Sehari konsumsi isoflavon sebanyak 30-40 miligram. Itu sudah cukup untuk merangsang pembentukan kolagen.
Isoflavon ini dapat ditemui pada jenis tumbuhan dan kacang-kacangan. Namun, yang tertinggi terdapat pada kacang kedelai dan dari hasil pengkajian lebih lanjut, kandungan isoflavon pada tepung kedelai ternyata lebih baik hingga 6-7 kali lipat dibanding susu kedelai.
Dianjurkan bagi kaum hawa yang sudah memasuki usia 30 tahun atau memasuki masa menopause sangat tepat mulai mengkonsumsi isoflavon. Pasalnya, saat terjadi menopause, hormon estrogen berkurang dan tidak lagi diproduksi tubuh. Berkurangnya hormon estrogen dalam tubuh akan menimbulkan masalah seperti sulit tidur. Jadi, adanya kandungan isoflavon yang memiliki kemiripan dengan hormon estrogen atau dikenal sebagai fitoestrogen dapat membantu mengatasi masalah yang kemungkinan timbul seperti sulit tidur dan munculnya keriput pada kulit.
Namun ternyata kandungan isoflavon dalam kacang kedelai ini justru dapat mengganggu fungsi pembentukan sperma pada laki-laki. Struktur isoflavon sama dengan hormon estrogen dan dan dapat menirukan fungsi estrogen dalam tubuh.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pusat Kesehatan Harvard menunjukan bahwa kacang kedelai dapat menurunkan produksi sel sperma. Penelitian ini dilakukan pada 99 pria. Hasilnya ternyata pria yang mengkonsumsi kacang kedelai selama tiga bulan, jumlahnya spermanya jauh lebih sedikit daripada yang tidak mengkonsumsi kedelai.
Mereka yang memakan kacang kedelai terbanyak, jumlah sel spermanya 41 juta per mililiter lebih sedikit dari para pria yang tidak mengkonsumsi kedelai. Sebagai gambaran pria normal memproduksi 80 juta hingga 120 juta sel sperma per mililiternya.
Selain itu untuk mengatasi masalah kelaparan dunia, telah diusulkan budidaya kedelai secara besar-besaran. Kedelai sangat mudah untuk tumbuh dan panen, mereka akan tumbuh hampir di mana saja dan menghasilkan banyak dalam waktu singkat. Telah dilaporkan bahwa banyak petani telah mengganti seluruh tanaman dengan kacang kedelai.
Sangat dianjurkan lebih mengkonsumsi protein alami daripada protein buatan jika memungkinkan, protein buatan sebagai makanan biasanya memiliki beberapa risiko yang menyertainya. Penggunaan terbaik atas kedelai dikarenakan kedelai ini rendah lemak dan cocok untuk diet protein tinggi.
Produk kedelai juga dapat menjadi sumber bahan gizi lain seperti saponins dan phytosterol. Saponins membantu mendukung sistem kekebalan tubuh. Bila bergabung dengan kolesterol untuk menghindari peningkatan penyerapan kolesterol dalam tubuh. Phytosterols juga membantu mengurangi penyerapan kolesterol dalam tubuh dengan cara yang sama dengan saponins lakukan.
Kedelai dapat bermanfaat besar bagi orang-orang yang mencari sumber protein yang tidak berefek samping dibanding sebagian besar sumber-sumber protein lain.
Namun mengingat kerja isoflavon dalam kedelai yang mirip dengan estrogen, sebaiknya para pria membatasi konsumsi kacang kedelai agar produksi sperma dapat optimal.

Sumber :
http://mdl525.info/2008/11/29/manfaat-yang-menakjubkan-dari-protein-kedelai/
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010
http://vinadanvani.wordpress.com/2008/05/03/manfaat-lain-susu-kedelai-atasi-keluhan-menopause/
diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010

Era Puspitasari
Posted on 29th October, 2010

NAMA : ERA PUSPITASARI
NIM : 100810359

Dilema Sumber Bahan Pangan di Indonesia

Menurut Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan,
pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman. Sejak dulu cara pandang masyarakat terhadap sumber pangan pokok seolah-olah digiring kedalam pandangan yang lebih sempit bahwa sumber pangan pokok masyarakat hanya beras. Sekitar sembilan puluh persen dari masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok. Hal ini membentuk
keyakinan bahwa ketahanan pangan nasional ditentukan oleh ketersediaan beras. Akibat lainnya pengolahan bahan makanan pokok selain beras menjadi terbatas.
Tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai negara pengkonsumsi beras tertinggi di dunia. Hal ini sering menyebabkan berkurangnya stok pangan nasional dan melemahkan ketahanan pangan nasional. Masalah perberasan Indonesia menghadapi dilema antara upaya mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri dengan cara peningkatan produktivitas dan impor beras, dengan upaya menjaga kestabilan harga beras agar tetap terjangkau oleh semua pihak. Dalam mengatasi permasalahan ini pemerintah lebih memilih jalan pintas dengan melakukan impor beras. Ketergantungan ini hanya akan membuat ketahanan pangan nasional menjadi rapuh dan berimbas pada kondisi perekonomian negara. Sebenarnya masih banyak solusi lain dari masalah ini. Misalnya dengan pengoptimalan bahan pangan lokal, perubahan citra bahan makanan pokok selain beras, penganekaragaman pangan, dll. Penganekaragaman ini juga diharapkan dapat memperbaiki kualitas pangan masyarakat, dan menjadikan perbaikan gizi masyarakat. Hal ini dikarenakan semakin beragam konsumsi masyarakat, suplai zat gizi masyarakat juga akan lebih lengkap dibandingkan dengan satu jenis bahan pangan saja.
Beberapa masalah yang diperkirakan menjadi pembatas peningkatan produksi adalah 1). Keterbatasan sumberdaya lahan sebagai akibat konversi menjadi pabrik, jalan, perkantoran maupun pemukiman, 2). Pemilikan lahan yang relatif kecil-kecil sehingga sulit berproduksi secara optimal, 3). Kualitas agroekosistem yang kian miskin bahkan jenuh input; dan 4). Sebaran produksi yang sebagian besar masih bertumpu di Pulau Jawa. Padahal Indonesia masih memiliki lahan yang produktif. Misalnya lahan yang dinilai produktif antara lain di daerah Kalimantan Timur tempat di mana akan diproyeksikan sebagai daerah tempat pertahanan pangan terakhir di negeri ini. Kalimantan Timur memang memiliki lahan yang subur dan sangat menguntungkan sehingga banyak negara maju yang melirik daerah ini sebagai investasi untuk memproduksi sebanyak mungkin pangan. Seperti padi, tebu, buah-buahan, dan kelapa sawit. Ironisnya bangsa Indonesia belum bisa memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal. Sangat memprihatinkan jika negeri yang dikaruniai sumber daya pangan dan energi yang besar harus menjadi kuli dan pembeli di negeri sendiri. Bahkan bahan makanan pokok bangsa Indonesia harus mengimpor dari luar negeri karena sebagian besar hasilnya dinikmati oleh negara lain. Hal ini dikarenakan Indonesia belum mampu memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal.

Dari segi konsumen, hegemoni pembangunan masa lalu telah menyebabkan banyak wilayah atau komunitas yang mengalami proses perubahan sosial budaya yang sangat mendasar. Masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan pokok seperti jagung, sagu atau singkong, kini merata mengkonsumsi beras. Masyarakat yang tinggal di daerah dengan agroekosistem yang tidak cocok untuk padi, sudah beralih konsumsi beras sebagai pangan pokok. Benturan-benturan yang tejadi pada tahap awal, secara perlahan menjadi harmoni karena dibingkai dalam nuansa kebijakan dan sarana yang kondusif. Namun juga ada beberapa daerah yang sekarang sudah mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras. Seperti jagung (Madura), sagu (Maluku), ubi kayu (DIY), dan ubi jalar (Papua).
Berpijak pada kerangka berfikir klasik dari Wolf (1985), dilema di atas berpeluang ditanggulangi melalui dua cara yang “bertentangan” yaitu memperbesar produksi dan mengurangi konsumsi. Di tingkat negara, cara pertama layak untuk diupayakan. Namun kapasitas petani perlu mendapat perhatian. Menggerakkan petani untuk terus meningkatkan produksi, saat sensitifitas beras terhadap harga sangat rendah, sama dengan menggiring petani memasuki dunia kemiskinan dan bertahan di sana sampai muncul kesadaran bahwa padi tidak lagi sumber rejeki yang menciptakan rasa aman dan nyaman. Hal yang penting justru membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan petani padi yang tidak selalu berimpit atau identik dengan kepentingan negara. Pemeintahan yag baik harus menunjukkan bahwa pada saat sangat mendesak sekalipun, Negara adalah perlindungan masyarakat, terutama masyarakat miskin.
Secara transparan, kegundahan mengenai beras telah menciptakan situasi yang menundukkan instansi-instansi yang menangani tanaman pangan khususnya padi, terkesan lebih penting dan prioritas dibanding yang lainnya. Kekhawatiran yang besar juga yang menginisiasi adanya institusi seperti ketahanan pangan dengan program-program seperti lumbung padi modern. Sekiranya perlu diperhatikan, selain memperhatikan proses produksi, ada beberapa yang perlu mendapat perhatian yaitu: 1). Menentukan tarif dan membatasi jumlah impor beras yang mampu mangatasi banjirnya beras impor di dalam negeri. Kebijakan ini hanya efektif jika didukung peraturan dan kontrol hukum yang tegas. 2). Melepaskan penggunaan indikator inflasi dalam mengendalikan harga beras dengan alasan apapun. 3). Menangani masalah kehilangan hasil pada proses panen dan pasca panen dengan teknologi dan sistem kerja yang lebih baik. Mengurangi konsumsi sebagai cara kedua dalam mengatasi masalah pangan beras merupakan cara yang lebih rumit karena menyangkut dua hal yaitu: 1). Pertumbuhan penduduk yang sulit ditekan. Selama masa krisis terjadi kenaikan angka pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan. 2). Karena jenis makanan pokok keluarga merupakan bentuk konkrit dari sebuah budaya, maka proses perubahannya hanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Ada indikasi bahwa beras dikonstruksikan sebagai makanan yang enak dan melambangkan status sosial yang lebih baik. Ini bisa dilihat pada masyarakat pedesaan di Jawa, yang mengkonsumsi gaplek atau jagung jika ketersediaan beras terbatas (tidak tersedia di wilayah atau rumah tangga tidak mampu membelinya). Hal yang sama terjadi di Maluku, hampir tidak ditemukan rumah tangga yang mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sarapan pagi dengan papeda menjadi momen yang langka. Padahal agroekosistem yang memungkinkan untuk ditanami padi sangat terbatas. Artinya, ketergantungan terhadap komoditas luar sangat tinggi.
Berdasarkan kedua faktor penghambat pengurangan-pengurangan konsumsi di atas dapat dipastikan Departemen Pertanian akan kesulitan jika dibebani penyelesaian masalah pangan tanpa ada dukungan dan solidaritas dari pihak lain. Upaya mengurangi konsumsi memerlukan beberapa kondisi pendukung seperti 1). Program kependudukan yang lebih terencana, termasuk menekan tingkat pertumbuhan. Penyuluhan KB, alat kontrasepsi dan pelayanan kesehatan yang murah dan mudah, sangat mendesak mengingat kemampuan beli/bayar penduduk yang semakin rendah. 2). Menggerakkan program diversifikasi pangan yang disertai peningkatan pengetahuan ilmu gizi pangan yang benar. Mengenali kelebihan kandungan gizi pada bahan pangan selain beras berfungsi merubah persepsi yang berlebihan tentang komoditas beras. 3). Meningkatkan penelitian, pengetahuan dan pelatihan keterampilan mengolah bahan pangan selain beras hingga dikenal keragaman makanan pengolahan yang enak dan bergengsi. Kegencaran teknik promosi diperlukan untuk merubah pandangan masyarakat tentang makanan yang bergengsi dan modern. 4). Mengurangi program beras murah yang memelihara ketergantungan masyarakat untuk mengkonsumsi beras. Selama masih memungkinkan untuk memperoleh beras, masyarakat sulit untuk merubah jenis pangan pokoknya. Jika dahulu perubahan pangan masyarakat dari non beras bisa dibuat menjadi seragam beras, tentu ada peluang untuk merubah atau mengembalikannya pada posisi semula.
Program beras murah mempunyai kontribusi dalam “merusak” harga gabah petani padi. Kelompok petani kecilpun akhirnya mensiasati keadaan dengan menjual gabahnya sendiri dan membeli beras murah pemberian pemerintah. Ironisnya, pendapatan hasil gabah tersebut seringkali digunakan untuk keperluan konsumtif hasil produksi industri perkotaan yang kerap tidak berhubungan dengan usahataninya sendiri. Masalah pangan ditingkat negara maupun tingkat petani tetap merupakan dilematis. Pemerintah berupaya mencukupi pangan nasional dengan alasan stabilitas dan integrasi, tapi secara bersamaan memiskinkan atau membiarkan miskin mereka yang memproduksi pangan bagi mereka yang tidak miskin

SUMBER: http://Dilema%20Pangan%20beras%20Indonesia.pdf
http://arunm.pdf
NAMA : ERA PUSPITASARI
NIM : 100810359

Dilema Sumber Bahan Pangan di Indonesia

Menurut Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan,
pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman. Sejak dulu cara pandang masyarakat terhadap sumber pangan pokok seolah-olah digiring kedalam pandangan yang lebih sempit bahwa sumber pangan pokok masyarakat hanya beras. Sekitar sembilan puluh persen dari masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok. Hal ini membentuk
keyakinan bahwa ketahanan pangan nasional ditentukan oleh ketersediaan beras. Akibat lainnya pengolahan bahan makanan pokok selain beras menjadi terbatas.
Tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai negara pengkonsumsi beras tertinggi di dunia. Hal ini sering menyebabkan berkurangnya stok pangan nasional dan melemahkan ketahanan pangan nasional. Masalah perberasan Indonesia menghadapi dilema antara upaya mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri dengan cara peningkatan produktivitas dan impor beras, dengan upaya menjaga kestabilan harga beras agar tetap terjangkau oleh semua pihak. Dalam mengatasi permasalahan ini pemerintah lebih memilih jalan pintas dengan melakukan impor beras. Ketergantungan ini hanya akan membuat ketahanan pangan nasional menjadi rapuh dan berimbas pada kondisi perekonomian negara. Sebenarnya masih banyak solusi lain dari masalah ini. Misalnya dengan pengoptimalan bahan pangan lokal, perubahan citra bahan makanan pokok selain beras, penganekaragaman pangan, dll. Penganekaragaman ini juga diharapkan dapat memperbaiki kualitas pangan masyarakat, dan menjadikan perbaikan gizi masyarakat. Hal ini dikarenakan semakin beragam konsumsi masyarakat, suplai zat gizi masyarakat juga akan lebih lengkap dibandingkan dengan satu jenis bahan pangan saja.
Beberapa masalah yang diperkirakan menjadi pembatas peningkatan produksi adalah 1). Keterbatasan sumberdaya lahan sebagai akibat konversi menjadi pabrik, jalan, perkantoran maupun pemukiman, 2). Pemilikan lahan yang relatif kecil-kecil sehingga sulit berproduksi secara optimal, 3). Kualitas agroekosistem yang kian miskin bahkan jenuh input; dan 4). Sebaran produksi yang sebagian besar masih bertumpu di Pulau Jawa. Padahal Indonesia masih memiliki lahan yang produktif. Misalnya lahan yang dinilai produktif antara lain di daerah Kalimantan Timur tempat di mana akan diproyeksikan sebagai daerah tempat pertahanan pangan terakhir di negeri ini. Kalimantan Timur memang memiliki lahan yang subur dan sangat menguntungkan sehingga banyak negara maju yang melirik daerah ini sebagai investasi untuk memproduksi sebanyak mungkin pangan. Seperti padi, tebu, buah-buahan, dan kelapa sawit. Ironisnya bangsa Indonesia belum bisa memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal. Sangat memprihatinkan jika negeri yang dikaruniai sumber daya pangan dan energi yang besar harus menjadi kuli dan pembeli di negeri sendiri. Bahkan bahan makanan pokok bangsa Indonesia harus mengimpor dari luar negeri karena sebagian besar hasilnya dinikmati oleh negara lain. Hal ini dikarenakan Indonesia belum mampu memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal.

Dari segi konsumen, hegemoni pembangunan masa lalu telah menyebabkan banyak wilayah atau komunitas yang mengalami proses perubahan sosial budaya yang sangat mendasar. Masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi bahan pokok seperti jagung, sagu atau singkong, kini merata mengkonsumsi beras. Masyarakat yang tinggal di daerah dengan agroekosistem yang tidak cocok untuk padi, sudah beralih konsumsi beras sebagai pangan pokok. Benturan-benturan yang tejadi pada tahap awal, secara perlahan menjadi harmoni karena dibingkai dalam nuansa kebijakan dan sarana yang kondusif. Namun juga ada beberapa daerah yang sekarang sudah mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras. Seperti jagung (Madura), sagu (Maluku), ubi kayu (DIY), dan ubi jalar (Papua).
Berpijak pada kerangka berfikir klasik dari Wolf (1985), dilema di atas berpeluang ditanggulangi melalui dua cara yang “bertentangan” yaitu memperbesar produksi dan mengurangi konsumsi. Di tingkat negara, cara pertama layak untuk diupayakan. Namun kapasitas petani perlu mendapat perhatian. Menggerakkan petani untuk terus meningkatkan produksi, saat sensitifitas beras terhadap harga sangat rendah, sama dengan menggiring petani memasuki dunia kemiskinan dan bertahan di sana sampai muncul kesadaran bahwa padi tidak lagi sumber rejeki yang menciptakan rasa aman dan nyaman. Hal yang penting justru membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan petani padi yang tidak selalu berimpit atau identik dengan kepentingan negara. Pemeintahan yag baik harus menunjukkan bahwa pada saat sangat mendesak sekalipun, Negara adalah perlindungan masyarakat, terutama masyarakat miskin.
Secara transparan, kegundahan mengenai beras telah menciptakan situasi yang menundukkan instansi-instansi yang menangani tanaman pangan khususnya padi, terkesan lebih penting dan prioritas dibanding yang lainnya. Kekhawatiran yang besar juga yang menginisiasi adanya institusi seperti ketahanan pangan dengan program-program seperti lumbung padi modern. Sekiranya perlu diperhatikan, selain memperhatikan proses produksi, ada beberapa yang perlu mendapat perhatian yaitu: 1). Menentukan tarif dan membatasi jumlah impor beras yang mampu mangatasi banjirnya beras impor di dalam negeri. Kebijakan ini hanya efektif jika didukung peraturan dan kontrol hukum yang tegas. 2). Melepaskan penggunaan indikator inflasi dalam mengendalikan harga beras dengan alasan apapun. 3). Menangani masalah kehilangan hasil pada proses panen dan pasca panen dengan teknologi dan sistem kerja yang lebih baik. Mengurangi konsumsi sebagai cara kedua dalam mengatasi masalah pangan beras merupakan cara yang lebih rumit karena menyangkut dua hal yaitu: 1). Pertumbuhan penduduk yang sulit ditekan. Selama masa krisis terjadi kenaikan angka pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan. 2). Karena jenis makanan pokok keluarga merupakan bentuk konkrit dari sebuah budaya, maka proses perubahannya hanya bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Ada indikasi bahwa beras dikonstruksikan sebagai makanan yang enak dan melambangkan status sosial yang lebih baik. Ini bisa dilihat pada masyarakat pedesaan di Jawa, yang mengkonsumsi gaplek atau jagung jika ketersediaan beras terbatas (tidak tersedia di wilayah atau rumah tangga tidak mampu membelinya). Hal yang sama terjadi di Maluku, hampir tidak ditemukan rumah tangga yang mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sarapan pagi dengan papeda menjadi momen yang langka. Padahal agroekosistem yang memungkinkan untuk ditanami padi sangat terbatas. Artinya, ketergantungan terhadap komoditas luar sangat tinggi.
Berdasarkan kedua faktor penghambat pengurangan-pengurangan konsumsi di atas dapat dipastikan Departemen Pertanian akan kesulitan jika dibebani penyelesaian masalah pangan tanpa ada dukungan dan solidaritas dari pihak lain. Upaya mengurangi konsumsi memerlukan beberapa kondisi pendukung seperti 1). Program kependudukan yang lebih terencana, termasuk menekan tingkat pertumbuhan. Penyuluhan KB, alat kontrasepsi dan pelayanan kesehatan yang murah dan mudah, sangat mendesak mengingat kemampuan beli/bayar penduduk yang semakin rendah. 2). Menggerakkan program diversifikasi pangan yang disertai peningkatan pengetahuan ilmu gizi pangan yang benar. Mengenali kelebihan kandungan gizi pada bahan pangan selain beras berfungsi merubah persepsi yang berlebihan tentang komoditas beras. 3). Meningkatkan penelitian, pengetahuan dan pelatihan keterampilan mengolah bahan pangan selain beras hingga dikenal keragaman makanan pengolahan yang enak dan bergengsi. Kegencaran teknik promosi diperlukan untuk merubah pandangan masyarakat tentang makanan yang bergengsi dan modern. 4). Mengurangi program beras murah yang memelihara ketergantungan masyarakat untuk mengkonsumsi beras. Selama masih memungkinkan untuk memperoleh beras, masyarakat sulit untuk merubah jenis pangan pokoknya. Jika dahulu perubahan pangan masyarakat dari non beras bisa dibuat menjadi seragam beras, tentu ada peluang untuk merubah atau mengembalikannya pada posisi semula.
Program beras murah mempunyai kontribusi dalam “merusak” harga gabah petani padi. Kelompok petani kecilpun akhirnya mensiasati keadaan dengan menjual gabahnya sendiri dan membeli beras murah pemberian pemerintah. Ironisnya, pendapatan hasil gabah tersebut seringkali digunakan untuk keperluan konsumtif hasil produksi industri perkotaan yang kerap tidak berhubungan dengan usahataninya sendiri. Masalah pangan ditingkat negara maupun tingkat petani tetap merupakan dilematis. Pemerintah berupaya mencukupi pangan nasional dengan alasan stabilitas dan integrasi, tapi secara bersamaan memiskinkan atau membiarkan miskin mereka yang memproduksi pangan bagi mereka yang tidak miskin

SUMBER: http://Dilema%20Pangan%20beras%20Indonesia.pdf
http://arunm.pdf

Intan Nina Sari
Posted on 29th October, 2010

INTAN NINA SARI
IKM V B – 100810024
Absen: 7

Mewujudkan Ketahanan Pangan Dengan Budidaya Pangan Lokal

Pangan adalah hak asasi setiap individu untuk memperolehnya dengan jumlah yang cukup dan aman serta terjangkau. Disadari atau tidak, terjadi peningkatan kebutuhan (growing demand) terhadap pangan akibat penduduk Indonesia terus bertambah. Terdapat kenaikan dari the middle class, middle class ini akan mengkonsumsi lebih banyak pangan sehingga juga terjadi peningkatan kebutuhan bagi lapisan masyarakat.
Cuaca ekstrim yang melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia dapat menjadi indikator terhadap masalah pangan yang serius dikemudian hari. Climate change menimbulkan kerusakan lingkungan degradasi sehingga mengganggu produksi dan produktifitas pangan. Bahkan FAO sudah mengingatkan anggota-anggota FAO untuk memperkuat ketahanan pangannya. Adanya pemanasan global dan meningkatnya persaingan atau kompetisi antara sumber-sumber pangan dengan sumber-sumber energi, yaitu antara feed (pakan), food (pangan), dan fuel (bahan bakar), menempatkan pangan lokal menjadi alternatif bahan baku yang dapat dimanfaatkan. Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong budidaya sumber pangan lokal seperti ubi jalar, ubi kayu, ganyong, garut, talas, jagung, dan sagu. Sebab pangan lokal ini memiliki potensi menjadi alternatif sumber karbohidrat nonberas dan nonterigu. Contohnya jagung. Jagung ini bisa dikonsumsi manusia, dikonsumsi ternak. Tetapi sekarang juga ada gerakan untuk membuat biodiesel yang berasal dari jagung. Kalau tidak ada pertimbangan yang baik pada tingkat global, tentu akan mengganggu supply dari jagung ini bagi konsumen manusia dan ternak.
Oleh karena itu, upaya pemantapan ketahanan pangan dan swasembada berkelanjutan pada komoditas tertentu di tingkat nasional maupun di daerah-daerah harus terus dikembangkan dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. Penguatan ketahanan pangan dilakukan dengan sumber karbohidrat seperti umbi-umbian dan sagu. Setiap daerah memiliki potensi pangan yang berbeda-beda. Berbagai jenis pangan tersebar, dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk pemenuhan kebutuhan konsumsinya baik sebagai pangan pokok maupun substitusi.
Pangan lokal yang selama ini sudah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat perlu ditingkatkan pengembangannya, baik dari sisi produksi maupun pemanfaatan/pengelolaannya. Dalam hal ini tentu membutuhkan pendampingan yang intensif serta permodalan dan teknologi. Pangan lokal termasuk di dalamnya pangan tradisional dan pangan khas daerah mempunyai peranan strategis dalam upaya pemantapan ketahanan pangan khususnya aspek konsumsi dalam hal ini penganekaragaman di daerah karena bahan baku pangan tersebut tersedia secara spesifik.
Jika jumlah sagu, singkong, sukun, jagung, dan ubi makin besar karena penganekaragaman, ekonomi bergerak pasti, lapangan pekerjaan juga tumbuh, impor berkurang. Jagung dan jenis sumber pangan lokal lainnya merupakan riset yang bagus. Tetapi riset itu belum semua dialirkan ke produksi untuk kemudian dipasarkan. Sehingga diversifikasi pangan lokal terjadi, ekonomi lokal bergerak, sumberdaya lokal bisa didayagunakan dengan baik. Singkong mempunyai peranan yang sangat berarti dalam penganekaragaman konsumsi pangan. Singkong sebagai sumber pangan menempati urutan ke-2 setelah kelompok pangan serealia, dan singkong menempati urutan pertama dari kelompok umbi-umbian, ketersediaan jenis pangan ini hampir merata di seluruh wilayah bumi pertiwi, harganya yang relatif murah dan bahkan pernah dikenal menjadi pola makan masyarakat.

Kebijakan Pengembangan Konsumsi Pangan Lokal
1) Pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki konsumsi pangan penduduk baik jumlah maupun mutu, termasuk keragaman dan keseimbangan gizinya
2) Pengembangan konsumsi pangan lokal baik nabati dan hewani yang diarahkan untuk meningkatkan mutu pangan lokal dan makanan tradisional dengan memperhatikan standar mutu dan keamanan pangan sehingga dapat diterima di seluruh lapisan masyarakat.

Strategi pengembangan konsumsi pangan diarahkan pada tiga hal yaitu produk/ketersediaan, pengolahan dan pemasaranan. Strategi pengembangannya adalah :
1) Pemberdayaan masyarakat
Dalam hal ini adalah berupa peningkatan peran masyarakat dalam pengembangan konsumsi pangan yang meliputi peningkatan pengetahuan/kesadaran dan peningkatan pendapatan untuk mendukung kemampuan akses pangan oleh setiap rumah tangga.
2) Peningkatan kemitraan
Merupakan implementasi, sinkronisasi dan kerjasama antara semua stakeholders dalam pengembangan konsumsi pangan termasuk pengembangan produksi/pengembangan teknologi pengolahan pangan.
3) Sosialisasi
Memasyarakatkan dan meningkatkan apresiasi masyarakat dalam pengembangan konsumsi pangan melalui promosi, kampanye, penyebaran informasi melalui media massa (cetak dan elektronik) lomba cipta menu dan pemberian penghargaan.

Kebijakan “One Day No Rice”

Dari data yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, konsumsi (pangan) orang Indonesia cukup baik, misalnya untuk ketentuan standar energi perhari itu 2000 kilokalori per orang per hari kita tahun 2008 itu sudah 2038 kilokalori per orang perhari. Namun dilihat dari keragamannya terlihat konsumsi pangan masyarakat Indonesia kurang beragam.Ketergantungan terhadap beras saat ini mencapai 92-95 %. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras tersebut mengakibatkan konsumsi beras masyarakat Indonesia per tahunnya mencapai 34 juta ton, sementara produksi sedikit di atas konsumsi kurang lebih diperkirakan tahun ini 38 juta ton. Melihat kondisi tersebut, pemerintah berupaya melakukan gerakan menekan tingkat konsumsi beras di masyarakat dan mendorong peningkatan konsumsi pangan non beras bersumber daya lokal. Salah satu strategi yang diterapkan untuk itu yakni dengan mengampanyekan mengurangi konsumsi nasi melalui gerakan “Sehari Tanpa Nasi” atau “One Day No Rice”.
Gerakan mengurangi makan nasi merupakan bagian upaya pemerintah menyukseskan diversifikasi pangan nasional agar ketergantungan pangan pada nasi/beras tidak terlalu tinggi sehingga stabilitas pangan bisa tetap terjaga serta untuk mendukung ketahanan stok dan diversifikasi pangan. Bahkan dengan mengkonsumsi pangan yang beragam bisa menjadi perbaikan gizi masyarakat.
Tuti Soenardi, seorang pakar gizi kuliner yang sudah berpuluh tahun menggeluti program penganekaragaman pangan melihat bahwa orang Indonesia tidak bisa berpisah dengan nasi. Oleh karena itu, untuk menghentikan makan nasi tidak bisa serta merta diterapkan namun yang dapat dilakukan adalah melengkapinya dengan pangan lokal. Misalnya, nasi dicampur dengan jagung, atau nasi dengan singkong.
Mie instan selama 20 terakhir disenangi sebagian besar orang. Misalnya kalau sedang jenuh mie instan menjadi alternatif konsumsi karena cepat saji. Mengembangkan mie instan dengan komposisi separuh terigu, separuhnya campuran misalkan singkong, sukun, sagu atau singkong sesuai kesukaan masyarakat berdasarkan riset. Sehingga impor terigu dapat dikurangi.
Dalam menghadapi permasalahan pangan, dikaitkan dengan gejolak harga, maka perlu kebijakan dari pemerintah. Pertama adalah memastikan petani yang memproduksi komoditas itu dilindungi dan tetap mendapatkan penghasilan yang layak, yang baik. Yang kedua, pastikan pula konsumen akhir masyarakat kita di pasar, di warung itu bisa membeli atau terjangkau.
Sangat penting mengajak masyarakat kembali mencintai bahan pangan lokal karena merekalah yang akan mempertahankan sumber daya tersebut dan mengembangkannya. Perlu sosialisasi yang benar kepada masyarakat bagaimana pola konsumsi bahan pangan. Misalnya, dari sisi karbohidrat, nasi kalah dengan sagu atau singkong, tapi proteinnya lebih banyak. Sagu yang karbohidrat tinggi tapi proteinnya rendah harus dikonsumsi dengan pelengkapnya seperti ulat sagu yang juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat Papua. Ubi jalar bermanfaat karena punya kandungan karbohidrat tinggi sehingga baik untuk menghangatkan tubuh buat masyarakat di pegunungan seperti di Wamena. Gaplek juga berguna buat masyarakat Gunung Kidul karena sumbernya lokal sehingga tidak terpengaruh harga komoditas lainnya.

Sumber:

Pidato presiden dalam Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010 di JCC
http://www.antaranews.com/berita/1287813032/one-day-no-rice-strategi-angkat-pangan-lokal
http://agoesman120.wordpress.com/2009/06/27/pangan-lokal/
http://ceriwis.us/showthread.php?t=11650
http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4319&Itemid=29
http://sains.kompas.com/read/2010/07/20/22153412/Pertahankan.Sumber.Pangan.Lokal
http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbppketindan/index.php/artikel/116-opl

INTAN NINA SARI
IKM V B – 100810024
Absen: 7

Mewujudkan Ketahanan Pangan Dengan Budidaya Pangan Lokal

Pangan adalah hak asasi setiap individu untuk memperolehnya dengan jumlah yang cukup dan aman serta terjangkau. Disadari atau tidak, terjadi peningkatan kebutuhan (growing demand) terhadap pangan akibat penduduk Indonesia terus bertambah. Terdapat kenaikan dari the middle class, middle class ini akan mengkonsumsi lebih banyak pangan sehingga juga terjadi peningkatan kebutuhan bagi lapisan masyarakat.
Cuaca ekstrim yang melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia dapat menjadi indikator terhadap masalah pangan yang serius dikemudian hari. Climate change menimbulkan kerusakan lingkungan degradasi sehingga mengganggu produksi dan produktifitas pangan. Bahkan FAO sudah mengingatkan anggota-anggota FAO untuk memperkuat ketahanan pangannya. Adanya pemanasan global dan meningkatnya persaingan atau kompetisi antara sumber-sumber pangan dengan sumber-sumber energi, yaitu antara feed (pakan), food (pangan), dan fuel (bahan bakar), menempatkan pangan lokal menjadi alternatif bahan baku yang dapat dimanfaatkan. Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong budidaya sumber pangan lokal seperti ubi jalar, ubi kayu, ganyong, garut, talas, jagung, dan sagu. Sebab pangan lokal ini memiliki potensi menjadi alternatif sumber karbohidrat nonberas dan nonterigu. Contohnya jagung. Jagung ini bisa dikonsumsi manusia, dikonsumsi ternak. Tetapi sekarang juga ada gerakan untuk membuat biodiesel yang berasal dari jagung. Kalau tidak ada pertimbangan yang baik pada tingkat global, tentu akan mengganggu supply dari jagung ini bagi konsumen manusia dan ternak.
Oleh karena itu, upaya pemantapan ketahanan pangan dan swasembada berkelanjutan pada komoditas tertentu di tingkat nasional maupun di daerah-daerah harus terus dikembangkan dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. Penguatan ketahanan pangan dilakukan dengan sumber karbohidrat seperti umbi-umbian dan sagu. Setiap daerah memiliki potensi pangan yang berbeda-beda. Berbagai jenis pangan tersebar, dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk pemenuhan kebutuhan konsumsinya baik sebagai pangan pokok maupun substitusi.
Pangan lokal yang selama ini sudah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat perlu ditingkatkan pengembangannya, baik dari sisi produksi maupun pemanfaatan/pengelolaannya. Dalam hal ini tentu membutuhkan pendampingan yang intensif serta permodalan dan teknologi. Pangan lokal termasuk di dalamnya pangan tradisional dan pangan khas daerah mempunyai peranan strategis dalam upaya pemantapan ketahanan pangan khususnya aspek konsumsi dalam hal ini penganekaragaman di daerah karena bahan baku pangan tersebut tersedia secara spesifik.
Jika jumlah sagu, singkong, sukun, jagung, dan ubi makin besar karena penganekaragaman, ekonomi bergerak pasti, lapangan pekerjaan juga tumbuh, impor berkurang. Jagung dan jenis sumber pangan lokal lainnya merupakan riset yang bagus. Tetapi riset itu belum semua dialirkan ke produksi untuk kemudian dipasarkan. Sehingga diversifikasi pangan lokal terjadi, ekonomi lokal bergerak, sumberdaya lokal bisa didayagunakan dengan baik. Singkong mempunyai peranan yang sangat berarti dalam penganekaragaman konsumsi pangan. Singkong sebagai sumber pangan menempati urutan ke-2 setelah kelompok pangan serealia, dan singkong menempati urutan pertama dari kelompok umbi-umbian, ketersediaan jenis pangan ini hampir merata di seluruh wilayah bumi pertiwi, harganya yang relatif murah dan bahkan pernah dikenal menjadi pola makan masyarakat.

Kebijakan Pengembangan Konsumsi Pangan Lokal
1) Pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan yang diarahkan untuk memperbaiki konsumsi pangan penduduk baik jumlah maupun mutu, termasuk keragaman dan keseimbangan gizinya
2) Pengembangan konsumsi pangan lokal baik nabati dan hewani yang diarahkan untuk meningkatkan mutu pangan lokal dan makanan tradisional dengan memperhatikan standar mutu dan keamanan pangan sehingga dapat diterima di seluruh lapisan masyarakat.

Strategi pengembangan konsumsi pangan diarahkan pada tiga hal yaitu produk/ketersediaan, pengolahan dan pemasaranan. Strategi pengembangannya adalah :
1) Pemberdayaan masyarakat
Dalam hal ini adalah berupa peningkatan peran masyarakat dalam pengembangan konsumsi pangan yang meliputi peningkatan pengetahuan/kesadaran dan peningkatan pendapatan untuk mendukung kemampuan akses pangan oleh setiap rumah tangga.
2) Peningkatan kemitraan
Merupakan implementasi, sinkronisasi dan kerjasama antara semua stakeholders dalam pengembangan konsumsi pangan termasuk pengembangan produksi/pengembangan teknologi pengolahan pangan.
3) Sosialisasi
Memasyarakatkan dan meningkatkan apresiasi masyarakat dalam pengembangan konsumsi pangan melalui promosi, kampanye, penyebaran informasi melalui media massa (cetak dan elektronik) lomba cipta menu dan pemberian penghargaan.

Kebijakan “One Day No Rice”

Dari data yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, konsumsi (pangan) orang Indonesia cukup baik, misalnya untuk ketentuan standar energi perhari itu 2000 kilokalori per orang per hari kita tahun 2008 itu sudah 2038 kilokalori per orang perhari. Namun dilihat dari keragamannya terlihat konsumsi pangan masyarakat Indonesia kurang beragam.Ketergantungan terhadap beras saat ini mencapai 92-95 %. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras tersebut mengakibatkan konsumsi beras masyarakat Indonesia per tahunnya mencapai 34 juta ton, sementara produksi sedikit di atas konsumsi kurang lebih diperkirakan tahun ini 38 juta ton. Melihat kondisi tersebut, pemerintah berupaya melakukan gerakan menekan tingkat konsumsi beras di masyarakat dan mendorong peningkatan konsumsi pangan non beras bersumber daya lokal. Salah satu strategi yang diterapkan untuk itu yakni dengan mengampanyekan mengurangi konsumsi nasi melalui gerakan “Sehari Tanpa Nasi” atau “One Day No Rice”.
Gerakan mengurangi makan nasi merupakan bagian upaya pemerintah menyukseskan diversifikasi pangan nasional agar ketergantungan pangan pada nasi/beras tidak terlalu tinggi sehingga stabilitas pangan bisa tetap terjaga serta untuk mendukung ketahanan stok dan diversifikasi pangan. Bahkan dengan mengkonsumsi pangan yang beragam bisa menjadi perbaikan gizi masyarakat.
Tuti Soenardi, seorang pakar gizi kuliner yang sudah berpuluh tahun menggeluti program penganekaragaman pangan melihat bahwa orang Indonesia tidak bisa berpisah dengan nasi. Oleh karena itu, untuk menghentikan makan nasi tidak bisa serta merta diterapkan namun yang dapat dilakukan adalah melengkapinya dengan pangan lokal. Misalnya, nasi dicampur dengan jagung, atau nasi dengan singkong.
Mie instan selama 20 terakhir disenangi sebagian besar orang. Misalnya kalau sedang jenuh mie instan menjadi alternatif konsumsi karena cepat saji. Mengembangkan mie instan dengan komposisi separuh terigu, separuhnya campuran misalkan singkong, sukun, sagu atau singkong sesuai kesukaan masyarakat berdasarkan riset. Sehingga impor terigu dapat dikurangi.
Dalam menghadapi permasalahan pangan, dikaitkan dengan gejolak harga, maka perlu kebijakan dari pemerintah. Pertama adalah memastikan petani yang memproduksi komoditas itu dilindungi dan tetap mendapatkan penghasilan yang layak, yang baik. Yang kedua, pastikan pula konsumen akhir masyarakat kita di pasar, di warung itu bisa membeli atau terjangkau.
Sangat penting mengajak masyarakat kembali mencintai bahan pangan lokal karena merekalah yang akan mempertahankan sumber daya tersebut dan mengembangkannya. Perlu sosialisasi yang benar kepada masyarakat bagaimana pola konsumsi bahan pangan. Misalnya, dari sisi karbohidrat, nasi kalah dengan sagu atau singkong, tapi proteinnya lebih banyak. Sagu yang karbohidrat tinggi tapi proteinnya rendah harus dikonsumsi dengan pelengkapnya seperti ulat sagu yang juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat Papua. Ubi jalar bermanfaat karena punya kandungan karbohidrat tinggi sehingga baik untuk menghangatkan tubuh buat masyarakat di pegunungan seperti di Wamena. Gaplek juga berguna buat masyarakat Gunung Kidul karena sumbernya lokal sehingga tidak terpengaruh harga komoditas lainnya.

Sumber:

Pidato presiden dalam Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010 di JCC
http://www.antaranews.com/berita/1287813032/one-day-no-rice-strategi-angkat-pangan-lokal
http://agoesman120.wordpress.com/2009/06/27/pangan-lokal/
http://ceriwis.us/showthread.php?t=11650
http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4319&Itemid=29
http://sains.kompas.com/read/2010/07/20/22153412/Pertahankan.Sumber.Pangan.Lokal
http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbppketindan/index.php/artikel/116-opl

Nur Lailis Sa'adah
Posted on 29th October, 2010

NAMA : NUR LAILIS SA’ADAH
NIM/ No. ABSEN : 1001810342/ 38
KRISIS PANGAN DAN DETERMINANNYA
Pangan, merupakan kebutuhan primer manusia yang tidak dapat ditawar-tawar lagi pemenuhannya. Pengabaian atas kewajiban pemenuhan pangan merupakan pelanggaran hak asasi manusia, yang akan menimbulkan dampak serius baik dalam skala individu maupun pada tatanan stabilitas sebuah negara. Kalimat ini disampaikan oleh Presidensial Commission on Hunger pada tahun 1980.
Kendati merupakan kebutuhan primer, pengaturan atas pangan ternyata tidak lepas dari masalah. Berdasarkan data dari New Straits of Malaysia Times oleh Shukor Rahman tahun 2001 menunjukkan bahwa dunia sebenarnya mampu memberi makan 12 miliar manusia tanpa masalah sedikitpun. Akan tetapi, ironisnya 826 juta manusia diseluruh dunia tengah menderita kekurangan pangan kronis
Krisis pangan dunia sedang terjadi. Hal tersebut disampaikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agricultural Organization/FAO) pada akhir tahun 2007. Naiknya harga pangan pokok hingga mencapai 75% di pasar dunia semenjak tahun 2000, menunjukkan bahwa krisis pangan benar-benar tengah terjadi. FAO juga memperingatkan bahwa 36 negara menghadapi krisis pangan, 21 diantaranya adalah negara-negara Afrika. Bagaimana dengan Indonesia? Keadaan tak berbeda, negeri kita tercinta pun tengah menghadapi masalah serupa. Di atas tanah subur dan limpahan kekayaan alam ini, 13,8 juta jiwa atau sekitar 6% dari jumlah penduduk menderita rawan pangan (World Development Indicator, 2007). Fakta tersebut diperkuat dengan kasus kelaparan dan kematian akibat gizi buruk yang terjadi di berbagai daerah. Kerawanan pangan masih menjadi masalah serius di negeri ini. Pada tahun 2000, propinsi-propinsi Indonesia seperti NAD, NTT, Sulawesi Utara dan Selatan, Lampung, Bali, Jawa Timur, Riau, Kalimantan Selatan dan Jambi menderita rawan pangan hingga diatas 50%. Propinsi lumbung pangan nasional seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan pun tak luput dari ancaman kerawanan pangan ini. Paradoks memang, saat kita melihat bahwa kelaparan justru terjadi di tengah melimpahnya ketersediaan pangan. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah ketika BPS melaporkan bahwa kita telah mencapai swasembada pangan pada tahun 2004, yang mana artinya negara kita telah mencapai fase ketahanan pangan karena telah mampu menyediakan pangan sendiri untuk negaranya dengan jumlah dan mutu yang optimal, namun, setahun kemudian terdengar kabar telah terjadi kelaparan kronis di 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.
Menarik dari data di atas, maka dapat disimpulkan, ketahanan pangan suatu negeri tidaklah ditentukan dari melimpahnya ketersediaan pangan di negeri tersebut, melainkan dari kemampuan masyarakatnya untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka, baik kualitas maupun kuantitasnya (aksesibilitas yang tinggi terhadap pangan).
Secara umum, gambaran ketersediaan dan potensi negeri ini dalam hal pangan adalah luar biasa besar. Letak astronomis Indonesia yang berada tepat pada khatulistiwa, merupakan tempat yang strategis untuk masalah pangan. Matahari bersinar sepanjang tahun dengan curah hujan yang tinggi menjadikan Indonesia negeri yang subur dan makmur dengan keanekaragaman hayati yang mampu mendukupi kebutuhan pangan penduduknya. Untuk beras saja, jika dilihat dari data-data BPS, tidak ada masalah. Pada tahun 2007 produksi beras Indonesia mencapai 33 juta ton. Jumlah ini adalah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat yang mencapai 30 juta ton, dengan standar konsumsi beras 133 kg/kapita/tahun. Namun pada kenyataannya, kelaparan tetap terjadi. Hal ini mengindikasikan ada yang salah dengan pengaturan pangan di negeri ini, distribusi pangan yang buruk adalah salah satunya.
Kelaparan di negeri ini tidak hanya terjadi karena kesalahan kebijakan lokal, tetapi lebih besar karena peran dunia internasional dalam permainan globalisasi pertanian, dimana kita terjebak di dalamnya. Indonesia merupakan anggota dari berbagai organisasi multilateral, termasuk WTO (World Trade Organization). Negeri ini dijuluki sebagai good boy, karena sikap patuhnya menjalani kebijakan-kebijakan yang didesain WTO, termasuk kebijakan di bidang pertanian yang disebut Agreement of Agriculture (AoA). Melalui program structural adjustment dari Agreement on Agriculture (AoA) WTO, IMF dan Bank Dunia, mendesak tarif bea masuk pasar domestik yang sangat ramah impor, dan menyulap Indonesia menjadi negara berkembang paling bebas dalam melakukan tindakan ekonomi di dunia. Impor pun melonjak tinggi, sebaliknya, ekspor komoditas pertanian merosot. Sejak tahun 1994 Indonesia jatuh dari net food exporter country menjadi net importer country. Dan dari hari ke hari, angka ketergantungan impor atas berbagai komoditas pangan terus meningkat.
Skenario globalisasi tersebut di atas telah menghancurkan pasar pertanian Indonesia, dengan menggeser basis produksi pangan, dari produksi mandiri menjadi impor. Enam tahun setelah AoA disepakati, impor beras melonjak sampai 664%. Impor gula, dalam kurun waktu yang sama, meroket sampai 356%. Di sisi lain, produktivitas dalam negeri semakin menurun karena adanya keharusan pencabutan subsidi pupuk, benih, dan pestisida. AS mendominasi hampir semua produk impor pangan, disusul Cina dan Australia. Impor beras dan palawija pada tahun 2001 sebagian besar dipasok dari AS. Terbukanya pasar domestic lebar-lebar telah memaksa petani kita yang gurem, miskin dan tradisional untuk bertarung dengan petani negara-negara maju yang kaya, modern dan ditopang dengan proteksi dan subsidi oleh negara-negaranya.
Aneh memang, disaat WTO dengan AoA-nya yang beraroma pasar bebas memaksakan ketiadaan proteksi pertanian dan pangan terhadap negara-negara berkembang, pada saat yang sama AS yang disebut-sebut sebagai ideologi pasar bebas justru melindungi pertaniannya dengan lebih dari 100 jenis UU yang detail seperti Sugar Act 1774, Agricultural Adjustment Act 1938, dll. Dan sistem proteksi pangan yang dilakukan negara-negara maju ini makin mengokohkan pertanian dan ketahanan pangan negara-negara tersebut. Meyakinkan kemampuan mereka untuk terus mengekspor hasil-hasil pertaniannya ke pasar negara-negara berkembang yang telah diliberalisasi melalui AoA, dan makin mematikan potensi negeri-negara ini untuk mencapai ketahanan pangan. Pertanyaannya adalah mengapa hal serupa tidak dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah-masalah pangan yang terjadi bertubi-tubi di negeri ini? Pada KTM V WTO di Cancun, Indonesia menjadi inisiator G-33 yang justru menyetujui mekanisme globalisasi perdagangan, namun dengan syarat adanya SP (Special Product) dan SSM (Special Safeguard Mechanism) pada 4 jenis komoditas. Entah, apa yang menjadi landasan Indonesia untuk menyetujui dan mengambil keputusan seperti itu. Padahal, negeri ini sebenarnya merupakan negara yang besar dan mampu berdiri sendiri dengan kemandiriannya. Potensi plasma nutfah terbesar kedua di dunia setelah Brazil menjadikan negeri ini mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa harus didikte oleh pihak lain. Optimalisasi potensi ini tentu dapat dilakukan sehingga Indonesia dapat memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri, tidak bergantung pada makanan ataupun pertanian impor. Banyak bahan pangan yang dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan, penggantian produk pangan (subtitusi), dan diversifikasi pun dapat dilakukan di negara yang subur ini.
Oleh karena itu, kemandirian dalam menentukan kebijakan pertanian, baik dari sisi produksi untuk menjamin ketersediaan pangan, maupun dari sisi distribusi untuk menjamin aksesibilitas masyarakat terhadap pangan merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki negera ini. Negara harus mandiri dalam menentukan kebijakan negerinya sendiri, bukan di bawah bayang-bayang badan perdagangan internasional ataupun korporasi kapitalisme global. Jika Indonesia mampu melakukan hal tersebut, sehingga tidak ada lagi bayang-bayang kapitalisme dan liberalisme dari negara lain, negara ini akan mencapai ketahanan pangan seperti semula dan semua pemenuhan kebutuhan masyarakat akan terpenuhi tanpa adanya impor dari nagara lain, sehingga dapat dipastika negara ini tidak pernah mengalami krisis pangan seperti saat ini.
Sumber: http://km.itb.ac.id/web/diskusi/?p=7

Nur Saidatul Ulfah
Posted on 29th October, 2010

NAMA : NUR SAIDATUL ULFAH
NIM/ NO. ABSEN : 100810444/ 82

KEBIJAKAN PANGAN DAN GIZI
Dalam kondisi serba sulit seperti saat ini, yang diderita oleh Negara berkembang seperti Indonesia, masalah perencanaan kebijakan pangan dan gizi jangka sedang dan jangka panjang tampaknya kurang tepat. Inflasi, harga minyak, pupuk angkutan dan lain-lain membawa pengaruh yang serius terhadap keseimbangan pendapatan, perubahan kegiatan ekonomi dan tingkat perkembangan GNP. Perubahan semacam ini merupakan hal yang sangat serius yang memerlukan ketegasan dan kesigapan pemerintah secara khusus untuk segera menyalasaikannya. Masalah gizi tidak dapat ditangani dengan kebijakan dan program sepotong-sepotong dan jangka pendek serta sektoral, apalagi hanya ditinjau dari aspek pangan. Dari pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasai masalah gizi secara tuntas dan lestari seperti Thailand, Tiongkok dan Malaysia diperlukan peta jalan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. Masing-masing diarahkan memenuhi persediaan pelayanan dan menumbuhkan kebutuhan atau permintaan akan pelayanan.
Meningkatnya harga pangan, tingginya angka impor pangan dan bertambahnya pengangguran serta masalah rendahnya pendapatan, telah menguatkan hasrat untuk mengadakan perencanaan jangka menengah dan jangka panjang di bidang kebijakan pangan dan gizi. Penanganan jangka pendek terhadap kelompok-kelompok rawan yang membutuhkan memang penting, namun kebutuhan untuk melakukan penanganan jangka panjang dirasakan mendesak, seirama dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk di Negara sedang berkembang. Kebijakan pangan dan giji harus merupakan bagian integral dalam setiap kegiatan perencanaan. Beberapa kejadian krisis pangan telah memberikan pelajaran dan alternative cara penanganannya. Namun tidak selamanya terjadi bahwa beberakesimpulan dari pelajaran tersebut langsung dapat diterapkan pada setiap krisis yang sedang dihadapi.
Untuk itu diperlukan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi, pangan, kesehatan dan pendidikan, serta keluarga berencana yang saling terkait dan mendukung, yang secara terintegrasi ditujukan untuk mengatasi masalah gizi (kurang dan lebih) dengan meningkatkan status gizi masyarakat (World Bank, 2006). Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi lima hal. Pertama, pelayanan gizi dan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang dilaksanakan tahun 1970-1990an, penimbangan balita di Posyandu dengan KMS. Kedua, pemberian suplemen zat gizi mikro seperti pil besi kepada ibu hamil, kapsul vitamin A kepada balita dab ibu nifas. Ketiga, bantuan pangan kepada anak gizi kurang dari keluarga miskin. Keempat, fortifikasi bahan pangan seperti fortifikasi garam dengan yodium, fortifikasi terigu dengan zat besi, seng, asam folat, vitamin B1 dan B2. Kelima, biofortifikasi, suatu teknologi budi daya tanaman pangan yang dapat menemukan varietas padi yang mengandung kadar zat besi tinggi dengan nilai biologi tinggi pula sebagai contoh. Kebijakan yang menumbuhkan permintaan adalah dengan mendorong perubahan perilaku hidup sehat dan sadar gizi, melalui pendidikan gizi dan kesehatan. Pendidikan itu bertujuan memberikan pengetahun kepada keluarga, khususnya kaum perempuan, tentang gizi seimbang, memantau berat badan bayi dan anak sampai usia 2 tahun, pengasuhan bayi dan anak yang baik dan benar, air bersih dan kebersihan diri serta lingkungan, serta mendorong pola hidup sehat lainnya. Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi enam hal. Pertama, pelayanan kesehatan dasar termasuk keluarga berencana dan pemberantasan penyakit menular. Kedua, penyediaan air bersih dan sanitasi. Ketiga, kebijakan pengaturan pemasaran susu formula. Keempat, kebijakan pertanian pangan untuk menjamin ketahanan pangan. Kelima, kebijakan pengembangan industri pangan yang sehat. Keenam, memperbanyak fasilitas olah raga bagi umum. Kebijakan yang mendorong terpenuhinya permintaan atau kebutuhan pangan dan gizi meliputi pembangunan ekonomi yang meningkatkan pendapatan rakyat miskin, pembangunan ekonomi dan sosial yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat rakyat miskin, pembangunan yang menciptakan lapangan kerja, kebijakan fiscal dan harga pangan yang meningkatkan daya beli masyarakat miskin dan pengaturan pemasaran pangan yang tidak sehat dan tidak aman. Kebijakan yang mendorong perubahan perilaku yang mendorong hidup sehat dan gizi baik bagi anggota keluarga adalah mengurangi beban kerja wanita terutama pada waktu hamil, dan meningkatkan pendidikan wanita.
Perencanaan adalah metode dan prosedur yang teratur untuk mereumuskan keputusan yang mantap pada tingkat pemerintah. Perencanaan merupakan alat yang efisien, dengan langkah-langkah yang logis dapat menjamin kemantapan dalam menanggapi berbagai macam perkembangan dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pangan dan gizi. Namun bagaimanapun baiknya teknik perencanaan, kualitas suatu keputusan yang diambil tetap tergantung dari unsure manusia, dukungan financial dan sumber daya yang terorganisir serta didukung oleh kemauan politik pemerintah.
Suatu sistim perencanaan harus menjamin bahwa semua tindakan yang dilaksanakan oleh berbagai pusat pengambilan keputusan selalu konsisten dari semua kebijakan, program dan proyek semuanya terarah pada suatu pengembangan tujuan yang telah ditetapkan dengan tingkat produktifitas yang maksimal dan penggunaan sumbedaya secara ekonomi. Semua sasaran ditetapkan harus dengan berhasil, beberapa hal pokok harus diusahakan, yaitu :
a. Dukungan politik dari pemerintah
Dasar pokok dari suksesnya kebijakan pangan dan gizi adalah dukungan dari pemerintah. Apabila pemerintah tidak mempunyai kemauan politik menyelesaikan permasalahan di bidang pengan dagizi, maka tidak akan dijumpai program-program gizi jangka sedang maupun jangka panjang.
b. Perencana
Perencana yang berkompeten dan berdedikasi sangat diperlukan untuk menangani masalah pangan dan gizi. Pada tahap awal pengembangan suatu kebijakan, perencana harus menjelaskan upaya pengembnagan gizi, mempengarui pemerintah untuk mau memberikan pengaruh dan sumber daya yang dibutuhkan guna pemecahan masalah.
Apabila rencana sudah ditetapkan, perencana harus mampu mengawasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan, menentukan skala pioritas dan sasaran serta mengembangkan perencanaan tersebut sesuai dengan perkiraan situasi yang diperhitungkan.
c. Sumber daya ekonomi
Sebelum suatu rencana tindakan dirumuskan, terlebih dahulu harus di pertimbangkan kemungkinan pelaksanaannya. Kebijakan perencanaan yang berhasil harus memperhitungkan situasi perekonomian apabila menginginkan hasil berjangka panjang. Pendekatan secara multidisipliner terhadap permasalahan gizi, sekarang diakui sebagai cara yang paling efektif, sehingga memaksa para perencana untuk mempertimbangkan permasalahan distribusi pendapatan, memperhatikan berbagai sector kegiatan pemerintah atau menyelesaikan masalah dengan pengembangan ekonomi.
Berbagai studi mengenai kecenderungan pembagian pedapatan di Negara sedang berkembang dikaitkan dengan system kapitalis, berusaha menjawab pertanyaan apakah hipotesis bahwa pertumbuhan ekonomi semata-matadapat mengubah pembagian pendapatan masyarakat yang paling miskin atau pada suatu kelompok tertentu. Dalam kondisi seperti ini, suatu peningkatan pendapatan pada strata masyarakat bawah nampaknya sulit terjadi, termasuk peningkatan konsumsi pangan dan status gizinya.
d. Tenaga administrasi
Tenaga administrasi harus mengadakan koordinasi vertical dan horizontal dengan tenaga administrasi departemen-departemen yan relevan, untuk memantapkan pelaksanaan terpadu dan mencegah adanya duplikasi usaha yang tak perlu. Mereka juga harus melaksanakan komunikasi vertical di lingkungan departemennya sehingga nampak adanya arus informasi dari tingkat perencana kepada para pelaksana setempat. Selain itu tenaga administrasi yang baik harus mampu memperkecil hambatan dalam pelaksanaan dan melaksakan komunikasi efektif, dengan mengembangkan kerja sama multidisipliner, melaksanakan evaluasi dan jika perlu melaksanakan modifikasi program dan kegiatan.
e. Struktur keembagaan
Untuk dapat menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan, paling tidak ada tiga dasae kebutuhan institusional. Pertama adalah membentuk badan perencanaan diantara struktur pemerintahan melekat pada lembaga pelaksana, mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai kebijaksanaan masing-masing departemen sehingga tujuan dan upaya-upayanya menjadi terarah, saling mendukung dan terpadu. Kedua adanya staf teknis yang multidisiplin, memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. Ketiga adanya organisasi yang sesuai untuk menyusun formulasi rencana secara menyeluruh, sector maupun regional. Organisasi ini harus disepakati oleh lembaga-lembaga atau para pengambil keputusan dari segi sektoral baik skala nasoional mapun regional.

Sumber :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1175678704,77751 http://www.gizi.net/gaya-hidup/index.shtml
Suhardjo.2003. Perencanaan pangan dan giz; jakarta

Nur Lailis Sa'adah
Posted on 29th October, 2010

NAMA : NUR LAILIS SA’ADAH
NIM/ No. ABSEN : 1001810342/ 38/ IKM B’08
KRISIS PANGAN DAN DETERMINANNYA
Pangan, merupakan kebutuhan primer manusia yang tidak dapat ditawar-tawar lagi pemenuhannya. Pengabaian atas kewajiban pemenuhan pangan merupakan pelanggaran hak asasi manusia, yang akan menimbulkan dampak serius baik dalam skala individu maupun pada tatanan stabilitas sebuah negara. Kalimat ini disampaikan oleh Presidensial Commission on Hunger pada tahun 1980.
Kendati merupakan kebutuhan primer, pengaturan atas pangan ternyata tidak lepas dari masalah. Berdasarkan data dari New Straits of Malaysia Times oleh Shukor Rahman tahun 2001 menunjukkan bahwa dunia sebenarnya mampu memberi makan 12 miliar manusia tanpa masalah sedikitpun. Akan tetapi, ironisnya 826 juta manusia diseluruh dunia tengah menderita kekurangan pangan kronis
Krisis pangan dunia sedang terjadi. Hal tersebut disampaikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agricultural Organization/FAO) pada akhir tahun 2007. Naiknya harga pangan pokok hingga mencapai 75% di pasar dunia semenjak tahun 2000, menunjukkan bahwa krisis pangan benar-benar tengah terjadi. FAO juga memperingatkan bahwa 36 negara menghadapi krisis pangan, 21 diantaranya adalah negara-negara Afrika. Bagaimana dengan Indonesia? Keadaan tak berbeda, negeri kita tercinta pun tengah menghadapi masalah serupa. Di atas tanah subur dan limpahan kekayaan alam ini, 13,8 juta jiwa atau sekitar 6% dari jumlah penduduk menderita rawan pangan (World Development Indicator, 2007). Fakta tersebut diperkuat dengan kasus kelaparan dan kematian akibat gizi buruk yang terjadi di berbagai daerah. Kerawanan pangan masih menjadi masalah serius di negeri ini. Pada tahun 2000, propinsi-propinsi Indonesia seperti NAD, NTT, Sulawesi Utara dan Selatan, Lampung, Bali, Jawa Timur, Riau, Kalimantan Selatan dan Jambi menderita rawan pangan hingga diatas 50%. Propinsi lumbung pangan nasional seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan pun tak luput dari ancaman kerawanan pangan ini. Paradoks memang, saat kita melihat bahwa kelaparan justru terjadi di tengah melimpahnya ketersediaan pangan. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah ketika BPS melaporkan bahwa kita telah mencapai swasembada pangan pada tahun 2004, yang mana artinya negara kita telah mencapai fase ketahanan pangan karena telah mampu menyediakan pangan sendiri untuk negaranya dengan jumlah dan mutu yang optimal, namun, setahun kemudian terdengar kabar telah terjadi kelaparan kronis di 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.
Menarik dari data di atas, maka dapat disimpulkan, ketahanan pangan suatu negeri tidaklah ditentukan dari melimpahnya ketersediaan pangan di negeri tersebut, melainkan dari kemampuan masyarakatnya untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka, baik kualitas maupun kuantitasnya (aksesibilitas yang tinggi terhadap pangan).
Secara umum, gambaran ketersediaan dan potensi negeri ini dalam hal pangan adalah luar biasa besar. Letak astronomis Indonesia yang berada tepat pada khatulistiwa, merupakan tempat yang strategis untuk masalah pangan. Matahari bersinar sepanjang tahun dengan curah hujan yang tinggi menjadikan Indonesia negeri yang subur dan makmur dengan keanekaragaman hayati yang mampu mendukupi kebutuhan pangan penduduknya. Untuk beras saja, jika dilihat dari data-data BPS, tidak ada masalah. Pada tahun 2007 produksi beras Indonesia mencapai 33 juta ton. Jumlah ini adalah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat yang mencapai 30 juta ton, dengan standar konsumsi beras 133 kg/kapita/tahun. Namun pada kenyataannya, kelaparan tetap terjadi. Hal ini mengindikasikan ada yang salah dengan pengaturan pangan di negeri ini, distribusi pangan yang buruk adalah salah satunya.
Kelaparan di negeri ini tidak hanya terjadi karena kesalahan kebijakan lokal, tetapi lebih besar karena peran dunia internasional dalam permainan globalisasi pertanian, dimana kita terjebak di dalamnya. Indonesia merupakan anggota dari berbagai organisasi multilateral, termasuk WTO (World Trade Organization). Negeri ini dijuluki sebagai good boy, karena sikap patuhnya menjalani kebijakan-kebijakan yang didesain WTO, termasuk kebijakan di bidang pertanian yang disebut Agreement of Agriculture (AoA). Melalui program structural adjustment dari Agreement on Agriculture (AoA) WTO, IMF dan Bank Dunia, mendesak tarif bea masuk pasar domestik yang sangat ramah impor, dan menyulap Indonesia menjadi negara berkembang paling bebas dalam melakukan tindakan ekonomi di dunia. Impor pun melonjak tinggi, sebaliknya, ekspor komoditas pertanian merosot. Sejak tahun 1994 Indonesia jatuh dari net food exporter country menjadi net importer country. Dan dari hari ke hari, angka ketergantungan impor atas berbagai komoditas pangan terus meningkat.
Skenario globalisasi tersebut di atas telah menghancurkan pasar pertanian Indonesia, dengan menggeser basis produksi pangan, dari produksi mandiri menjadi impor. Enam tahun setelah AoA disepakati, impor beras melonjak sampai 664%. Impor gula, dalam kurun waktu yang sama, meroket sampai 356%. Di sisi lain, produktivitas dalam negeri semakin menurun karena adanya keharusan pencabutan subsidi pupuk, benih, dan pestisida. AS mendominasi hampir semua produk impor pangan, disusul Cina dan Australia. Impor beras dan palawija pada tahun 2001 sebagian besar dipasok dari AS. Terbukanya pasar domestic lebar-lebar telah memaksa petani kita yang gurem, miskin dan tradisional untuk bertarung dengan petani negara-negara maju yang kaya, modern dan ditopang dengan proteksi dan subsidi oleh negara-negaranya.
Aneh memang, disaat WTO dengan AoA-nya yang beraroma pasar bebas memaksakan ketiadaan proteksi pertanian dan pangan terhadap negara-negara berkembang, pada saat yang sama AS yang disebut-sebut sebagai ideologi pasar bebas justru melindungi pertaniannya dengan lebih dari 100 jenis UU yang detail seperti Sugar Act 1774, Agricultural Adjustment Act 1938, dll. Dan sistem proteksi pangan yang dilakukan negara-negara maju ini makin mengokohkan pertanian dan ketahanan pangan negara-negara tersebut. Meyakinkan kemampuan mereka untuk terus mengekspor hasil-hasil pertaniannya ke pasar negara-negara berkembang yang telah diliberalisasi melalui AoA, dan makin mematikan potensi negeri-negara ini untuk mencapai ketahanan pangan. Pertanyaannya adalah mengapa hal serupa tidak dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah-masalah pangan yang terjadi bertubi-tubi di negeri ini? Pada KTM V WTO di Cancun, Indonesia menjadi inisiator G-33 yang justru menyetujui mekanisme globalisasi perdagangan, namun dengan syarat adanya SP (Special Product) dan SSM (Special Safeguard Mechanism) pada 4 jenis komoditas. Entah, apa yang menjadi landasan Indonesia untuk menyetujui dan mengambil keputusan seperti itu. Padahal, negeri ini sebenarnya merupakan negara yang besar dan mampu berdiri sendiri dengan kemandiriannya. Potensi plasma nutfah terbesar kedua di dunia setelah Brazil menjadikan negeri ini mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa harus didikte oleh pihak lain. Optimalisasi potensi ini tentu dapat dilakukan sehingga Indonesia dapat memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri, tidak bergantung pada makanan ataupun pertanian impor. Banyak bahan pangan yang dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan, penggantian produk pangan (subtitusi), dan diversifikasi pun dapat dilakukan di negara yang subur ini.
Oleh karena itu, kemandirian dalam menentukan kebijakan pertanian, baik dari sisi produksi untuk menjamin ketersediaan pangan, maupun dari sisi distribusi untuk menjamin aksesibilitas masyarakat terhadap pangan merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki negera ini. Negara harus mandiri dalam menentukan kebijakan negerinya sendiri, bukan di bawah bayang-bayang badan perdagangan internasional ataupun korporasi kapitalisme global. Jika Indonesia mampu melakukan hal tersebut, sehingga tidak ada lagi bayang-bayang kapitalisme dan liberalisme dari negara lain, negara ini akan mencapai ketahanan pangan seperti semula dan semua pemenuhan kebutuhan masyarakat akan terpenuhi tanpa adanya impor dari nagara lain, sehingga dapat dipastika negara ini tidak pernah mengalami krisis pangan seperti saat ini.
Sumber: http://km.itb.ac.id/web/diskusi/?p=7

Nur Saidatul Ulfah
Posted on 29th October, 2010

NAMA : NUR SAIDATUL ULFAH
NIM/ NO. ABSEN : 100810444/ 82/ IKM B’08

KEBIJAKAN PANGAN DAN GIZI
Dalam kondisi serba sulit seperti saat ini, yang diderita oleh Negara berkembang seperti Indonesia, masalah perencanaan kebijakan pangan dan gizi jangka sedang dan jangka panjang tampaknya kurang tepat. Inflasi, harga minyak, pupuk angkutan dan lain-lain membawa pengaruh yang serius terhadap keseimbangan pendapatan, perubahan kegiatan ekonomi dan tingkat perkembangan GNP. Perubahan semacam ini merupakan hal yang sangat serius yang memerlukan ketegasan dan kesigapan pemerintah secara khusus untuk segera menyalasaikannya. Masalah gizi tidak dapat ditangani dengan kebijakan dan program sepotong-sepotong dan jangka pendek serta sektoral, apalagi hanya ditinjau dari aspek pangan. Dari pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasai masalah gizi secara tuntas dan lestari seperti Thailand, Tiongkok dan Malaysia diperlukan peta jalan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. Masing-masing diarahkan memenuhi persediaan pelayanan dan menumbuhkan kebutuhan atau permintaan akan pelayanan.
Meningkatnya harga pangan, tingginya angka impor pangan dan bertambahnya pengangguran serta masalah rendahnya pendapatan, telah menguatkan hasrat untuk mengadakan perencanaan jangka menengah dan jangka panjang di bidang kebijakan pangan dan gizi. Penanganan jangka pendek terhadap kelompok-kelompok rawan yang membutuhkan memang penting, namun kebutuhan untuk melakukan penanganan jangka panjang dirasakan mendesak, seirama dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk di Negara sedang berkembang. Kebijakan pangan dan giji harus merupakan bagian integral dalam setiap kegiatan perencanaan. Beberapa kejadian krisis pangan telah memberikan pelajaran dan alternative cara penanganannya. Namun tidak selamanya terjadi bahwa beberakesimpulan dari pelajaran tersebut langsung dapat diterapkan pada setiap krisis yang sedang dihadapi.
Untuk itu diperlukan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi, pangan, kesehatan dan pendidikan, serta keluarga berencana yang saling terkait dan mendukung, yang secara terintegrasi ditujukan untuk mengatasi masalah gizi (kurang dan lebih) dengan meningkatkan status gizi masyarakat (World Bank, 2006). Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi lima hal. Pertama, pelayanan gizi dan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang dilaksanakan tahun 1970-1990an, penimbangan balita di Posyandu dengan KMS. Kedua, pemberian suplemen zat gizi mikro seperti pil besi kepada ibu hamil, kapsul vitamin A kepada balita dab ibu nifas. Ketiga, bantuan pangan kepada anak gizi kurang dari keluarga miskin. Keempat, fortifikasi bahan pangan seperti fortifikasi garam dengan yodium, fortifikasi terigu dengan zat besi, seng, asam folat, vitamin B1 dan B2. Kelima, biofortifikasi, suatu teknologi budi daya tanaman pangan yang dapat menemukan varietas padi yang mengandung kadar zat besi tinggi dengan nilai biologi tinggi pula sebagai contoh. Kebijakan yang menumbuhkan permintaan adalah dengan mendorong perubahan perilaku hidup sehat dan sadar gizi, melalui pendidikan gizi dan kesehatan. Pendidikan itu bertujuan memberikan pengetahun kepada keluarga, khususnya kaum perempuan, tentang gizi seimbang, memantau berat badan bayi dan anak sampai usia 2 tahun, pengasuhan bayi dan anak yang baik dan benar, air bersih dan kebersihan diri serta lingkungan, serta mendorong pola hidup sehat lainnya. Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi enam hal. Pertama, pelayanan kesehatan dasar termasuk keluarga berencana dan pemberantasan penyakit menular. Kedua, penyediaan air bersih dan sanitasi. Ketiga, kebijakan pengaturan pemasaran susu formula. Keempat, kebijakan pertanian pangan untuk menjamin ketahanan pangan. Kelima, kebijakan pengembangan industri pangan yang sehat. Keenam, memperbanyak fasilitas olah raga bagi umum. Kebijakan yang mendorong terpenuhinya permintaan atau kebutuhan pangan dan gizi meliputi pembangunan ekonomi yang meningkatkan pendapatan rakyat miskin, pembangunan ekonomi dan sosial yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat rakyat miskin, pembangunan yang menciptakan lapangan kerja, kebijakan fiscal dan harga pangan yang meningkatkan daya beli masyarakat miskin dan pengaturan pemasaran pangan yang tidak sehat dan tidak aman. Kebijakan yang mendorong perubahan perilaku yang mendorong hidup sehat dan gizi baik bagi anggota keluarga adalah mengurangi beban kerja wanita terutama pada waktu hamil, dan meningkatkan pendidikan wanita.
Perencanaan adalah metode dan prosedur yang teratur untuk mereumuskan keputusan yang mantap pada tingkat pemerintah. Perencanaan merupakan alat yang efisien, dengan langkah-langkah yang logis dapat menjamin kemantapan dalam menanggapi berbagai macam perkembangan dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pangan dan gizi. Namun bagaimanapun baiknya teknik perencanaan, kualitas suatu keputusan yang diambil tetap tergantung dari unsure manusia, dukungan financial dan sumber daya yang terorganisir serta didukung oleh kemauan politik pemerintah.
Suatu sistim perencanaan harus menjamin bahwa semua tindakan yang dilaksanakan oleh berbagai pusat pengambilan keputusan selalu konsisten dari semua kebijakan, program dan proyek semuanya terarah pada suatu pengembangan tujuan yang telah ditetapkan dengan tingkat produktifitas yang maksimal dan penggunaan sumbedaya secara ekonomi. Semua sasaran ditetapkan harus dengan berhasil, beberapa hal pokok harus diusahakan, yaitu :
a. Dukungan politik dari pemerintah
Dasar pokok dari suksesnya kebijakan pangan dan gizi adalah dukungan dari pemerintah. Apabila pemerintah tidak mempunyai kemauan politik menyelesaikan permasalahan di bidang pengan dagizi, maka tidak akan dijumpai program-program gizi jangka sedang maupun jangka panjang.
b. Perencana
Perencana yang berkompeten dan berdedikasi sangat diperlukan untuk menangani masalah pangan dan gizi. Pada tahap awal pengembangan suatu kebijakan, perencana harus menjelaskan upaya pengembnagan gizi, mempengarui pemerintah untuk mau memberikan pengaruh dan sumber daya yang dibutuhkan guna pemecahan masalah.
Apabila rencana sudah ditetapkan, perencana harus mampu mengawasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan, menentukan skala pioritas dan sasaran serta mengembangkan perencanaan tersebut sesuai dengan perkiraan situasi yang diperhitungkan.
c. Sumber daya ekonomi
Sebelum suatu rencana tindakan dirumuskan, terlebih dahulu harus di pertimbangkan kemungkinan pelaksanaannya. Kebijakan perencanaan yang berhasil harus memperhitungkan situasi perekonomian apabila menginginkan hasil berjangka panjang. Pendekatan secara multidisipliner terhadap permasalahan gizi, sekarang diakui sebagai cara yang paling efektif, sehingga memaksa para perencana untuk mempertimbangkan permasalahan distribusi pendapatan, memperhatikan berbagai sector kegiatan pemerintah atau menyelesaikan masalah dengan pengembangan ekonomi.
Berbagai studi mengenai kecenderungan pembagian pedapatan di Negara sedang berkembang dikaitkan dengan system kapitalis, berusaha menjawab pertanyaan apakah hipotesis bahwa pertumbuhan ekonomi semata-matadapat mengubah pembagian pendapatan masyarakat yang paling miskin atau pada suatu kelompok tertentu. Dalam kondisi seperti ini, suatu peningkatan pendapatan pada strata masyarakat bawah nampaknya sulit terjadi, termasuk peningkatan konsumsi pangan dan status gizinya.
d. Tenaga administrasi
Tenaga administrasi harus mengadakan koordinasi vertical dan horizontal dengan tenaga administrasi departemen-departemen yan relevan, untuk memantapkan pelaksanaan terpadu dan mencegah adanya duplikasi usaha yang tak perlu. Mereka juga harus melaksanakan komunikasi vertical di lingkungan departemennya sehingga nampak adanya arus informasi dari tingkat perencana kepada para pelaksana setempat. Selain itu tenaga administrasi yang baik harus mampu memperkecil hambatan dalam pelaksanaan dan melaksakan komunikasi efektif, dengan mengembangkan kerja sama multidisipliner, melaksanakan evaluasi dan jika perlu melaksanakan modifikasi program dan kegiatan.
e. Struktur keembagaan
Untuk dapat menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan, paling tidak ada tiga dasae kebutuhan institusional. Pertama adalah membentuk badan perencanaan diantara struktur pemerintahan melekat pada lembaga pelaksana, mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai kebijaksanaan masing-masing departemen sehingga tujuan dan upaya-upayanya menjadi terarah, saling mendukung dan terpadu. Kedua adanya staf teknis yang multidisiplin, memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. Ketiga adanya organisasi yang sesuai untuk menyusun formulasi rencana secara menyeluruh, sector maupun regional. Organisasi ini harus disepakati oleh lembaga-lembaga atau para pengambil keputusan dari segi sektoral baik skala nasoional mapun regional.

Sumber :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1175678704,77751 http://www.gizi.net/gaya-hidup/index.shtml
Suhardjo.2003. Perencanaan pangan dan giz; jakarta

RADITYA/100810089/IKMB 2008
Posted on 29th October, 2010

DIVERSIFIKASI PANGAN SEBAGAI ALTERNATIF
SOLUSI KEKURANGAN PANGAN

Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan pangan beras menimbulkan masalah kerawanan pangan. Untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan pada dasarnya mencakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi (Gunawan, dkk, 1993). Dari aspek produksi, diversifikasi berarti penganekaragaman
komoditas pangan dalam pemanfaatan sumberdaya, pengusahaan maupun pengembangan produk (diversifikasi horisontal dan vertikal). Diversifikasi pangan dari aspek konsumsi mencakup perilaku yang didasari pertimbangan ekonomis (pendapatan dan harga komoditas) dan nonekonomis (selera, kebiasaan dan pengetahuan). Diversifikasi pangan dan pola konsumsi ini secara dinamis mengalami perubahan. Jadi, diversifikasi pangan selain merupakan upaya mengurangi ketergantungan pada beras, juga penganekaragaman dari beras ke sumber kalori dan protein lainnya yang lebih berkualitas.
Diversifikasi pangan antara lain bertujuan untuk (1) mewujudkan pola penganekaragaman pangan yang memperhatikan nilai gizi dan daya beli masyarakat, (2) meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan keamanan pangan lewat ketersediaan pangan dari segi jumlah dan kualitas gizinya, (3) mengurangi ketergantungan pada beras (pemerintah) sehingga tidak dapat dipolitisir lagi, (4) menambah devisa negara dengan mengembangkan produk pertanian non beras yang punya keunggulan komparatif dan (5) menjaga kelangsungan dan kelestarian alam/lingkungan dengan mengembalikan pada ekosistemnya.
Diversifikasi bahan pangan pokok perlu dikembangkan dengan memanfaatkan bahan pangan alternatif antara lain jagung, singkong, dan ubi jalar. Ke tiga komoditas ini di anjurkan untuk dikembangkan, mempertimbangkan bahan tersebut telah banyak dikenal masyarakat, bergizi tinggi serta memiliki produktivitas yang tinggi. Volume produksi ketiga komoditas tersebut berpeluang untuk ditingkatkan karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lahan marginal yang kurang sesuai untuk ditanami padi.
Jagung, singkong dan ubi jalar memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Sebagai sesama serealia kandungan karbohidrat pada jagung tidak jauh berbeda dengan padi, demikian pula dengan kandungan proteinnya. Seperti kita ketahui, kandungan karbohidrat yang tinggi merupakan syarat utama pemanfaatan suatu bahan sebagai bahan pangan alternatif. Hal ini perlu diperhatikan mengingat bagi masyarakat kita makanan pokok merupakan sumber energi utama dalam pola makan sehari-hari. Hal ini tentu saja berbeda dengan masyarakat barat/Eropa yang sebagian kebutuhan energi dipenuhi dari sumber hewani.
Jagung dapat digunakan sebagai makanan pokok pengganti beras. Hal ini sudah umum dilakukan di beberapa tempat seperti Madura. Jagung pada umumnya diolah dengan cara direbus, dibakar, atau difermentasikan. Selain dikonsumsi secara langsung jagung ini pada skala industri dijadikan tepung yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat bermacam-macam penganan. Jagung juga disarankan untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus karena kandungan fruktosa yang tinggi. Singkong merupakan jenis umbi yang dikenal luas di hampir seluruh daerah di Indonesia. Berbagai macam kue dan keripik banyak dibuat dari bahan ini, namun pada musim paceklik di beberapa daerah rawan pangan pati ubi kayu digunakan sebagai bahan makanan pokok pengganti nasi. Ubi jalar merupakan salah satu bahan pangan yang cukup menarik dengan keunggulan mengandung beta karoten yang tinggi sebesar 174.2 mg/100 g bobot basah (Westphal and Jansen, 1993), disamping juga mengandung vitamin C, dan mineral-mineral utama seperti kalsium dan besi.
Bila ditinjau dari segi produktivitas per tahun, jagung, singkong dan ubi jalar prokdutivitasnya lebih tinggi dari pada padi sawah untuk satuan luas yang sama. Berdasarkan rasio produktivitasnya untuk singkong dan ubi jalar pada satuan luas yang sama kita dapat memanen 2-3 x lebih banyak dari pada padi. Untuk jagung, sejauh ini produktivitasnya belum begitu tinggi. Namun untuk penanaman di ladang, produksi jagung memberikan hasil 1,3 x lebih besar dari pada padi.
Peningkatan ketiga komoditas tersebut dapat dilakukan dengan ekstensifikasi dan intensifikasi. Upaya ekstensifikasi lebih ditekankan pada perluasan area penanaman seperti ladang atau tegalan karena luas lahan tegalan lebih luas daripada lahan sawah. Selain itu, jagung, singkong dan ubi jalar tergolong tanaman yang memiliki daya adaptasi yang cukup baik terhadap kondisi lingkungan yang kurang ramah. Ketiga tanaman ini dapat tumbuh baik pada tanah yang tergolong masam, yakni memiliki pH 5.5-7, serta curah hujan yang relatif rendah. Kandungan Al yang cukup tinggi pada umumnya mengakibatkan tanaman mengalami keracunan namun tanaman ubi kayu memiliki keunggulan, yakni mampu tumbuh pada tanah dengan kandungan Al dan Mn cukup tinggi dan toleransi terhadap tanah kering juga tinggi. Sedangkan upaya intensifikasi ditekankan pada pengembangan teknik budidaya dan pemuliaan tanaman. Pengembangan teknik budidaya dapat meliputi teknik-teknik pengolahan lahan, pemberantasan hama dan penyakit, dan lain-lain. Upaya pemuliaan terutama ditujukan untuk memperoleh varietas-varietas berdaya hasil tinggi, tahan hama penyakit, serta memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik seperti lahan marginal. Selain upaya intensifikasi tersebut, penanganan pasca panen merupakan hal yang perlu mendapat perhatian. Di daerah sentra produksi perlu diupayakan teknik pengolahan hasil panen menjadi produk yang dapat disimpan.
Disamping dua upaya di atas diperlukan juga pengerahan daya dan dana untuk investasi, pengembangan, distribusi dan pemasaran dalam kaitan lintas sektoral. Diversifikasi pangan, sekali lagi tidak mungkin berhasil kalau hanya merupakan sebuah program/proyek belaka, tanpa komitmen untuk melaksanakan. Hal ini akan berhasil jika merupakan kesadaran rakyat dan merupakan tindakan proaktivitas mereka. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak sehingga diversifikasi pangan dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga memberikan dampak positif bagi kita semua, serta kekurangan pangan dalam negeri tidak terganggu.

Daftar Pustaka:
Darmawati, Intan. (1998, September-Oktober). Diversifikasi Pangan Non Beras. Wacana. Volume 13. Halaman 2-3.
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1011854499,866,

IVA TRI WAHYUANASARI/100810083/IKMB 2008
Posted on 29th October, 2010

NAMA: IVA TRI WAHYUANASARI
NIM: 100810083
IKMB 2008

DIVERSIFIKASI PANGAN UNTUK KETAHANAN PANGAN

A. Ketahanan Pangan
Konsep ketahanan pangan yang dianut Indonesia dapat dilihat dari Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 1996 tentang pangan, Pasal 1 Ayat 17 yang menyebutkan bahwa “Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. UU ini sejalan dengan definisi ketahanan pangan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992, yakni akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat. Sementara pada World Food Summit tahun 1996, ketahanan pangan disebut sebagai akses setiap RT atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat.

B. Konsumsi Pangan
Sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber karbohidrat berupa beras. Dengan tingkat konsumsi beras sebesar 130 kg/kap/th membuat Indonesia sebagai konsumen beras tertinggi di dunia, jauh melebihi Jepang (45 kg), Malaysia (80 kg), dan Thailand (90 kg). Penduduk Indonesia yang berjumlah 212 juta membutuhkan beras untuk keperluan industri dan rumah tangga lebih dari 30 juta ton per tahun. Kebutuhan beras tersebut akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk. Jika rata-rata pertumbuhan penduduk 1,8% per tahun, maka jumlah penduduk Inonesia tahun 2010 diperkirakan 238,4 juta dan tahun 2015 menjadi 253,6 juta. Dengan melihat kondisi potensi produksi padi nasional, diperkirakan tahun 2015 persediaan beras akan mengalami defisit sebesar 5,64 juta ton.
Ketergantungan Indonesia terhadap beras yang tinggi, membuat ketahanan pangan nasional sangat rapuh. Dari aspek kebijakan pembangunan makro, kondisi tersebut mengandung resiko (rawan), yang juga terkait dengan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik. Salah satu kebijakan pembangunan pangan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi pangan, yang dimaksudkan untuk memberikan alternatif bahan pangan sehingga mengurangi ketergantungan terhadap beras. Penganekaragaman pangan diharapkan akan memperbaiki kualitas konsumsi pangan masyarakat karena semakin beragam konsumsi pangan maka suplai zat gizi lebih lengkap daripada jika didominasi oleh satu jenis bahan saja.

C. Pendekatan Diversifikasi Pangan Untuk Ketahanan Pangan
Berdasarkan analisis kandungan zat gizi untuk berbagai jenis pangan tidak ada satu jenis panganpun yang mengandung zat gizi yang lengkap, yang mampu memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan oleh manusia. Satu makanan mungkin kaya akan zat gizi tertentu, namun kurang mengandung zat gizi lainnya. Padahal seseorang untuk dapat hidup sehat paling tidak memerlukan 40 zat gizi yang harus diperoleh dari makanan. Untuk hidup sehat, orang perlu makan makanan yang beragam (diversified), termasuk pangan pokok yang tidak harus nasi beras saja.
Pengertian penganekaragaman pangan mencakup peningkatan jenis dan ragam pangan, baik dalam bentuk komoditas (bahan pangan), pangan semi-olahan dan olahan, maupun bentuk pangan yang siap saji. Pendekatan penganekaragaman tersebut dalam program pembangunan nasional dikenal dengan istilah diversifikasi horisontal dan vertikal. Melalui pengembangan anekaragam budidaya pertanian (diversifikasi horisontal) akan dihasilkan beragam pangan pokok seperti singkong, ubi, jagung, garut, sukun, sagu, uwi, ganyong dan sebagainya. Sedangkan dengan pengembangan aneka produk pangan olahan akan dihasilkan produk seperti tepung instan, kue, cereal breakfast, biskuit, cake, dan sebagainya (diversifikasi vertikal).
Perubahan kebiasaan makan pada suatu kelompok masyarakat bisa terjadi akibat perubahan keadaan sosial, ekonomi, maupun budaya. Faktor penting yang menjadi penyebab dinamisnya kebiasaan makan adalah daya terima masyarakat terhadap bahan pangan yang ada. Situasi perdagangan global juga dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap proses pengenalan makanan baru.

D. Potensi Sumber Daya Pangan Lokal
Tanaman pangan penghasil karbohidrat pada umumnya berperan sebagai bahan pangan pokok. Di negeri kita tanaman penghasil karbohidrat sangat beraneka ragam. Kita mengenal berbagai jenis umbi–umbian, meliputi ubi jalar, ubi kayu, talas, kimpul, uwi, garut, ganyong, serta beberapa jenis lainnya. Sebagian besar dari umbi-umbian tersebut telah lazim dimanfaatkan masyarakat, walaupun belum dikelola secara baik. Selain umbi-umbian kita memiliki beberapa jenis serealia penghasil karbohidrat antara lain jagung, cantel, dan sorgum.
Di antara berbagai umbi-umbian yang ada di negeri kita, beberapa jenis telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan pokok di negara lain. Talas biasa digunakan sebagai makanan pokok di beberapa negara Asia, Pasifik dan Afrika. Di Filipina dan Columbia tepung talas sering digunakan sebagai pengganti terigu dalam pembuatan roti.
Garut, suatu jenis rimpang yang serupa dengan ganyong sejauh ini belum banyak dikenal masyarakat. Di pasaran dunia garut diperdagangkan dalam bentuk tepung untuk bahan biskuit serta pudding. Sedangkan di Indonesia selain sebagai bahan biskuit tepung garut juga dimanfaatkan sebagai bahan bubur.
Jagung pada umumnya diolah dengan cara direbus, dibakar, atau difermentasikan. Selain dikonsumsi secara langsung jagung ini pada skala industri dijadikan tepung yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat bermacam-macam penganan.
Ubi kayu merupakan jenis umbi yang dikenal luas di hampir seluruh daerah di Indonesia. Berbagai macam kue dan keripik banyak dibuat dari bahan ini, namun pada musim paceklik di beberapa daerah rawan pangan pati ubi kayu digunakan sebagai bahan makanan pokok pengganti nasi.
Ubi jalar merupakan jenis ubi yang cukup populer di Indonesia. Komoditi ini biasa diolah sebagai kudapan berupa berbagai macam kue. Namun di Irian jaya dan Kepulauan Mentawai ubi jalar juga dijadikan sebagai makanan pokok. Di Cina dan Korea pemanfaatan ubi jalar tergolong cukup maju. Di kedua negara tersebut bahan ini telah diolah menjadi produk mie serta bihun.

E. Strategi Diversifikasi
Strategi yang dapat dilakukan untuk pengembangan pangan pokok melalui diversifikasi vertical, yaitu:
1. Pengembangan penyediaan bahan baku pangan alternatif. Indonesia mempunyai sumberdaya alam yang sangat melimpah, termasuk didalamnya bahan pangan sumber karbohidrat. Produk ini mungkin di beberapa daerah sudah dikenal, namun pemanfaatannya masih rendah atau bahkan terabaikan. Pangan ini sangat potensial sebagai pendukung keragaman pangan pokok masyarakat. Komoditas pangan sumber karbohidrat yang saat ini sudah cukup dikenal adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar dan sagu. Jenis komoditas umbi-umbian yang belum banyak dikembangkan misalnya garut, uwi, suweg, ganyong, gembili, iles-iles, dan sebagainya. Sedangkan serealia yang belum dikembangkan adalah sorgum, juwawut, jali dan sebagainya. Berbagai jenis tanaman ini secara tradisional sudah dikenal masyarakat dan tumbuh disekitar, tetapi belum dikembangkan baik dari aspek teknologi budidaya maupun pengolahannya.
2. Pengembangan pasca panen dan pengolahan pangan. Sumberdaya pangan pokok lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi pangan alternatif melalui rekayasa proses pangan, agar mutunya dapat ditingkatkan. Mutu pangan tersebut termasuk nilai gizi (fortifikasi), nilai sensori (rasa, warna, tekstur, bau, tekstur), keamanan, keawetan, dan sifat fungsionalnya. Pengembangan produk olahan ini harus memenuhi kriteria kebutuhan selera dan gaya hidup masyarakat saat ini, diantaranya praktis, bermutu, dan juga terjangkau. Dengan teknologi produsen dapat mengubah image dari pangan inferior menjadi superior. Misalnya, gadung yang identik dengan pangan pada saat kelaparan telah dapat diubah menjadi makanan bergengsi setelah diubah menjadi ‘chips’ (keripik gadung). Demikian pula kombinasi singkong dan keju, talas dan keju, tiwul yang dibuat instant dan sebagainya merupakan produk industri pangan yang akan mendukung program penganekaragaman pangan. Pengembangan teknologi tersebut mencakup teknologi pasca panen, termasuk penanganan bahan baku, pengolahan produk setengah jadi, dan pengolahan produk jadi.
3. Sosialisasi produk pangan pokok alternatif dalam upaya penyadaran dan penyebarluasan produk olahan non-beras. Perubahan perilaku masyarakat merupakan syarat mutlak suksesnya upaya diversifikasi pangan. Untuk itulah perlu dikembangkan sistem Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) untuk memasyarakatkan diversifikasi pangan pokok. Dengan penyebarluasan informasi tersebut diharapkan akan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mau mengurangi konsumsi beras, dan berangsur mengenal produk olahan nonberas lainnya. Contoh sukses pengenalan produk ini adalah mie instan, yang sebetulnya tidak berbahan baku lokal. Namun saat ini tidak terlalu sulit untuk menemukan produk tersebut didaerah-daerah yang terpencil sekalipun.

DAFTAR PUSTAKA

Hanani Nuhfil AR.2009.Pengertian Ketahanan Pangan. http://nuhfil.lecture.ub.ac.id/files/2009/03/2-pengertian-ketahanan-pangan-2.pdf (diakses pada tanggal 20 Oktober 2010 pada pukul 12.00 WIB)
Rudytct.2004.Pengembangan Diversifikasi Bahan Pangan Pokok Dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan Nasional.http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/9145_4.pdf (diakses pada tanggal 20 Oktober 2010 pada pukul 12.00 WIB)
Sumaryanto. Diversifikasi Sebagai Salah Satu Pilar Ketahanan Pangan http://www.dephut.go.id/files/DEPTAN_Makalah_HPS.pdf (diakses pada tanggal 20 Oktober 2010 pada pukul 12.00 WIB)

Muhammad Irham
Posted on 29th October, 2010

Nama : Muhammad Irham
NIM : 100810077
kls/abs : IKM A’08/37

SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION

Ancaman krisis pangan saat ini melanda dunia, tidak luput juga terhadap negara Indonesia. Sebagai makanan pokok rakyat Indonesia, namun sungguh ironis negeri subur makmur ini kini telah menjadi pengimpor beras nomor wahid di dunia. Akan lebih memprihatinkan lagi bila melihat kehidupan para produsen beras ini yaitu para petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat miskin negeri yang buminya subur dan kaya raya ini.
Saat ini bertani pada hakikatnya bukanlah pilihan profesi. Karena tingginya ongkos produksi, harga pupuk in-organik dan pestisida, ditambahi dengan rendahnya produktifitas dan harga gabah menyebabkan bertani bukan merupakan kegiatan ekonomis lagi. Namun demikian petani sudah pasrah dan putus asa dengan kondisi pertanian ini dan untuk mempertahankan hidupnya banyak dari kalangan petani yang mencari usaha sampingan di kota besar misalnya dengan menjadi penarik becak dan berbagai profesi buruh kasar lainnya selama menunggu masa panen yang sudah tidak terlalu mereka harapkan lagi dan hasilnya hanya sekedar cukup untuk dimakan sendiri dan keluarganya saja.
Bertani bagi mereka seolah-olah hanya menjadi sebagai suatu kebiasaan saja yang diturunkan leluhurnya dan sudah tidak bisa diharapkan untuk menjadi sandaran hidup lagi. Ditambah lagi dengan ketidaksadaran para petani terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarganya dan para pengguna produksinya serta lingkungan di sekitar termasuk tanah dan air akibat residu bahan kimia yang terhirup saat penyemprotan, terserap tanah dan yang tertinggal dalam air minum maupun makanan hasil pertaniannya. Tentunya ini bukan murni kesalahan para petani kita, mereka tidak mungkin mengatasi semua persoalan yang dihadapi di bidang pertanian ini tanpa bantuan dan kerjasama dari pihak-pihak yang berkompeten dengan memberikan solusi dan jalan keluar yang tepat untuk permasalahan yang dihadapi.
Kondisi alam, cuaca dan budaya masyarakat di Indonesia sangat mendukung sektor pertanian karena tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan. Namun demikian upaya peningkatan produksi instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia membuat kondisi tanah semakin rendah tingkat kesuburannya berakibat turunnya hasil produksi. Untuk mengatasinya para petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi diantaranya berupa peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida/insektisida. Pada awalnya penambahan biaya produksi ini bisa memberikan peningkatan kepada hasil pertanian, namun untuk selanjutnya tingkat produksi kembali menurun.
Oleh karena itu teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian dengan metoda SRI. Metode ini menekankan pada peningkatan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dan sumber nutrisi tanaman. Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga haur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan taraf kesehatan manusia dengan tidak digunakannya bahan-bahan kimia untuk pertanian.
SRI merupakan singkatan dari System of Rice Intensification, suatu sistem pertanian yang berdasarkan pada prinsip Process Intensification (PI) dan Production on Demand (POD). SRI mengandalkan optimasi untuk mencapai delapan tujuan PI, yaitu cheaper process, smaller equipment, safer process, less energy consumption, shorter time to market, less waste or byproduct, more productivity, and better image (Ramshaw, 2001).
SRI ditemukan oleh Pendeta Madagaskar Henri de Laulanie sekitar tahun 1983 di Madagaskar. SRI lahir karena adanya kepedulian dari Laulanie terhadap kondisi petani di Madagaskar yang produktivitas pertaniannya tidak bisa berkembang. Berangkat dari keterbatasan sarana yang Laulanie bisa perbantukan pada petani (yang terdiri atas keterbatasan lahan, biaya dan waktu), ia kemudian bisa membantu melipatgandakan produktivitas pertanian sampai suatu nilai yang mencengangkan. Sampai tulisan ini dibuat, terdapat banyak penelitian yang mencoba mengungkap ‘misteri’ dibalik keberhasilan Laulanie.
Metode ini terdiri atas 3 poin utama, yaitu:
1. Penanganan bibit padi secara seksama. Hal ini terdiri atas, pemilihan bibit unggul, penanaman bibit dalam usia muda (kurang dari 10 hari setelah penyemaian), penanaman satu bibit per titik tanam, penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal), dan dalam jarak tanam yang cukup lebar.
2. Metode pokok SRI yang kedua adalah penyiapan lahan tanam. Penyiapan lahan tanam untuk metode SRI berbeda dari metode konvensional terutama dalam hal penggunaan air dan pupuk sintetis (untuk kemudian disebut pupuk). SRI hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak) dan tidak adanya penggunaan pupuk karena SRI menggunakan kompos.
3. Prinsip ketiga dalam metode SRI adalah keterlibatan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos sebagai ’tim sukses’ dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda. Peran kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh padi secara optimal. Konsep bioreaktor adalah kunci sukses dari SRI.
Penanaman Padi dengan sistem SRI tidak perlu menggenangi sawah dengan air. Pemberian air di berikan secara berkala dengan tinggi air maksimum 0,5 cm dan pada periode tertentu sawah dibiarkan kering hingga tanah pecah-pecah. Dengan demikian dapat menghemat pemakaian air sekitar 30-50% dibandingkan dengan cara konvensional. Benih padi ditanam secara satu persatu tidak banyak seperti yang biasa dilakukan sehingga penggunaan benih lebih hemat. Meskipun ditanam satu per satu namun akarnya lebih panjang dan anakan padi yang dihasilkan lebih banyak.
Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
• Aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air.
• Aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
• Produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman SRI. Untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektar dimana dari benih tunggal bisa menghasilkan sampai lebih dari 100 anakan (malai).
• Kualitas yang tinggi, beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Padi SRI terbukti merupakan cara bercocok tanam yang hemat air, namun berproduktifitas tinggi. Selain itu, keunggulan padi SRI organik juga tidak memerlukan pupuk nonorganik, sehingga bisa ikut membantu pemerintah mengurangi penggunaan gas yang menjadi bahan utama pembuatan pupuk non organik.
Metode penanaman padi SRI organik juga dapat menjadi solusi mengatasi problem sampah, karena bahan organik dari sampah bisa digunakan sebagai pupuk kompos yang bermanfaat bagi budidaya padi SRI organic. Dengan padi SRI Organik, produktifitas akan naik tanpa merusak lingkungan, itu kuncinya. Sehingga kita ikut bertanggung jawab pada anak cucu kita.( SBY, 2007 )
Presiden mengemukakan hal itu pada acara panen padi yang menggunakan sistem “System of Rice Intensification (SRI) organik yang ramah lingkungan dan memiliki produktifitas yang tinggi. Saya mendukung penuh dan saya minta marilah kita kembangkan padi SRI seluas-luasnya. Menurut Presiden, padi SRI organik merupakan contoh nyata dari pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan sehingga perlu diterapkan seluas-luasnya.
Dan di Indonesia gagasan SRI telah diuji coba dan diterapkan di beberapa Kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Dan setelah dilakukan perbandingan dengan wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5 propinsi tersebut. Didapat jawaban bahwa setelah diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat. Dengan melihat banyaknya factor yang mendukung dan keuntungan yang bisa diperoleh, maka metode SRI harus dikembangkan lebih luas lagi di Indonesia.

daftar pustaka :

http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=493&Itemid=60

http://en.wikipedia.org/wiki/System_of_Rice_Intensification

http://sukatani-banguntani.blogspot.com/2009/12/mengenal-sri-system-of-rice.html

Andra Syahputra G
Posted on 29th October, 2010

ANDRA SYAHPUTRA G.
1KMB’08
100810445

Implikasi Bagi Kebijakan Beras Indonesia
Kegawatan krisis pangan saat ini dapat digambarkan oleh beberapa data statistik. Menurut Josette Sheerhan (Kepala World Food Program) kenaikan harga pangan, walaupun akan mempengaruhi semua tingkat pendapatan, akan terutama dirasakan oleh kelompok pendapatan rendah. Bagi kelompok pendapatan menengah kenaikan harga pangan akan menyebabkan golongan penduduk ini mengurangi pengeluaran rumah tangganya untuk keperluan kesehatan. Namun bagi golongan yang penghasilannya hanya USD 1/hari, kenaikan harga pangan berarti harus dihentikannya pengeluaran rumah tangganya untuk konsumsi daging dan sayuran. Untuk dapat bertahan hidup saja kelompok penduduk miskin ini terpaksa menjual assetnya berbentuk rumah gubuknya dan ternaknya sehingga pada suatu saat nanti jika harga pangan mulai stabil akan menjadi lebih sulit bagi mereka untuk kembali bangkit. Statistik tentang gawatnya krisis pangan ini juga terlihat pada tingkat kenaikan harga pangan selama setahun terakhir ini. Sampai dengan Maret 2008 peningkatan harga gandum adalah 130%, kedelai 87%, jagung 31% dan beras 74%.
Apakah yang telah menyebabkan kenaikan harga pangan yang tinggi serta tiba-tiba ini dan mengapa diperkirakan harga pangan yang tinggi ini akan berlangsung lama ? Jawabann atas pertanyaan pertama ini berkaitan dengan sebab jangka pendek dari krisis pangan sedangkan jawaban atas pertanyaan kedua terkait dengan masalah struktural yang solusinya harus diupayakan dalam jangka panjang.
Penyebab Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, dibawanya kepermukaan masalah pangan tersulut oleh terjadinya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran jagung dunia terkait dengan program pengembangan bio-fuel. Penyulut (trigger) ini terjadi pada saat telah berlangsungnya beberapa sebab lain seperti pemanasan global yang telah menyebabkan kekeringan dan gagal panen gandum di Australia, dan beralihnya para petani di Australia dari menanam padi, yang banyak membutuhkan air, ke menanam anggur yang melalui teknik “dripping” menggunakan air jauh lebih sedikit. Khusus pada triwulan pertama 2008 beberapa negara produsen beras yang secara tradisional surplus dan menjadi pengekspor beras dunia telah memutuskan untuk menghentikan atau paling tidak membatasi penjualan beras mereka ke pasar dunia. Situasi yang semakin ketat antara permintaan dan penawaran beras dunia ini kemudian diperparah lagi oleh adanya aksi spekulan beras baik di negara produsen yang surplus (seperti Thailand dan Vietnam) maupun di negara-negara yang biasanya menjadi negara pengimpor beras.
Penyebab Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, solusi krisis pangan (menurut ulasan majalah Economist terbitan 19 April 2008) terletak pada upaya menghilangkan distorsi pasar yang menyebabkan kesenjangan antara penawaran pangan/beras dan permintaannya tidak dapat menemukan keseimbangannya. Dalam pasar yang relatif tidak terdistorsi setiap kenaikan harga pangan/beras akan ditanggapi oleh para petani dengan meningkatkan produksinya sehingga harga akan kembali menurun. Menurut Economist, hal ini terjadi bagi para petani besar di AS dan Eropa yang memang telah menaikkan produksinya. Namun hal ini tidak terjadi pada para petani kecil di negara-negara yang masih membangun.
Ketika harga pangan/beras naik mereka tidak cenderung untuk menaikkan produksinya. Beberapa sebab struktural dari kurang/tidak tanggapnya para petani kecil ini adalah : pertama, berkurangnya lahan pertanian karena proses konversi lahan pertanian untuk penggunaan industri; kedua, menurunnya komitmen pemerintah negara-negara berkembang pada peningkatan alokasi pembangunan untuk pertanian, khususnya untuk penelitian dan pengembangan teknologi pangan (antara tahun 1980 dan 2004 alokasi dana pembangunan pemerintah untuk pertanian telah menurun sebesar 50%), padahal upaya peningkatan bibit baru harus berlangsung secara terus menerus mengingat suatu bibit baru harus dapat terus menyeseuaikan mengingat adanya jenis hama dan penyakit tananam yang terus berkembang; ketiga, pemilikan lahan pertanian oleh petani cenderung menurun dari rata-rata 1,5 hektar pada tahun 1990 menjadi rata-rata 0,5 hektar per petani. Hal ini telah menyebabkan biaya produksi per hektar cenderung tinggi sehingga petani tidak mempunyai cukup insentif untuk menaikkan proksi walaupun harga panga meningkat; keempat, mekanisme pasar akan berjalan baik kalau semua pelaku mempunyai informasi lengkap yang sama tentang situasi permintaan dan penawaran. Dalam realita, para petani kecil di negara-negara berkembang umumnya tidak mempunyai akses informasi tentang situasi harga pasar di tingkat pedagang grosir dan eceran dalam negeri, apalagi pada tingkat pedagang luar negeri. Karena berbagai sebab ini para petani kecil, yang produksinya seharusnya menjadi basis peningkatan produksi beras dunia secara berkelanjutan, tidak dapat tanggap atas kenaikan harga pangan dunia. Hal ini berarti bahwa selama berbagai distorsi pasar bagi petani kecil ini tidak dibenahi maka krisis pangan yang mulai meledak sejak awal tahun 2008 akan berlangsung dalam periode transisi yang agak panjang, sebelum dapat mencapai ekuilibrium baru yang menghasilkan keseimbangan yang langgeng antara penawaran dan permintaan pangan dunia. Hal ini juga berarti bahwa krisis pangan dunia yang terjadi pada awal tahun 2008 akan berlanjut terus minimal sampai lima tahun kedepan.
Produksi Padi/Beras Indonesia
Walaupun sejak mencapai swasembada beras pada tahun 1984 masih terjadi tahun-tahun defisit produksi beras dibandingkan dengan kebutuhan dalam negerinya produksi padi Indonesia telah terus meningkat (Tabel I). Kinerja dibidang beras ini terlihat dari peningkatan produksi padi dari 51,1 juta ton pada tahun 1996 yang mencapai puncaknya pada tahun 2007 menjadi 57,0 juta ton. Dengan rendemen padi menjadi beras sebesar 65% pada tahun 1996 dan 63% pada tahun 2007 hasil ini menjadi 33,2 juta ton beras dan 35,9 juta ton beras pada masing-masing tahun tersebut. Peningkatan ini juga tercermin pada kenaikan luas panen dari 11,6 juta Ha menjadi 12,2 juta Ha, dan pada kenaikan produktivitas dari 4,4 ton per hektar menjadi 4,69 juta ton per hektar pada masing-masing tahun 1996 dan 2007. Berkat kinerja produksi beras yang baik pada tahun 2007 ini maka krisis pangan/beras yang melanda dunia pada awal tahun 2008 tidak mempengaruhi stabilitas ketersediaan beras dan tingkat inflasi Indonesia. Bahkan mulai bergulir gagasan untuk mengekspor beras.
Dilain pihak, gagasan mengekspor beras perlu ditanggapi secara berhati-hati karena menyangkut berbagai jenis ketidakpastian dalam proses pembuatan kebijakan publik yang menyangkut stabilitas nasional yang tidak statis sifatnya. Keberhasilan produksi beras pada tahun 2007 dalam konteks krisis pangan dunia kalau tidak secara hati-hati ditangani dapat dengan mudah merubah peluang menjadi tantangan yang dapat berdampak negatif tidak hanya bagi stabilitas ekonomi tetapi juga politik.
Produksi Padi, Beras, Luas Panen & Produktivitas Padi
1996-2007 Tahun Produksi Padi
(ribu ton) Produksi Beras
(ribu ton) Luas Panen Padi
(ribu hektar) Produktivitas
(ton/hektar)
1996 51.102 33.216 11.569 4,41
1997 49.377 31.206 11.141 4,43
1998 49.237 31.118 11.730 4,17
1999 50.866 32.148 11.963 4,52
2000 51.899 32.800 11.608 4,41
2001 50.461 31.891 11.424 4,38
2002 51.490 32.439 11.521 4,47
2003 52.137 32.847 11.488 4,54
2004 54.088 34.076 11.923 4,54
2005 54.151 34.307 11.839 4,57
2006 54.455 34.307 11.786 4,62
2007 57.049 35.941 12.166 4,69
Sumber: BPS
Beberapa risiko yang dapat dihadapi kalau ditempuh kebijakan mengekspor beras. Pertama, data statistik tentang perberasan masih perlu terus dibenahi. Pengumpulan data produksi padi, selain dilakukan oleh mantri statistik juga melibatkan petugas dinas pertanian yang cenderung memberi angka yang lebih besar dari semestinya. Selain itu, data stok beras nasional masih perlu dipastikan keakuratan dari perkiraan stok beras yang dipegang masyarakat (Stok Nasional = Stok Pemerintah + Stok Masyarakat) Suatu kelemahan data statistik lain adalah keandalan data Konsumsi Beras Nasional. Suatu estimasi yang sering dipakai adalah angka konsumsi beras sebesar 139 kg per kapita. Keandalan data statistik ini juga harus diteliti lebih lanjut karena melesetnya beberapa kiligram per kapita dapat mengakibatkan melesetnya estimasi berapa beras yang harus dimpor ataupun dapat diekspor. Kedua, penggunaan perkembangan harga beras sebagai patokan untuk menentukan apakah aman untuk ekspor agak rancu. Daya saing ekspor beras Indonesia dapat secara sepintas diukur oleh harga beras dalam Rp/kg dikali nilai tukar Rp terhadap USD lalu dikali seribu untuk menghasilkan harga dunia dalam USD/ton.

Source: http://www.bappenas.go.id

mr. joe
Posted on 30th October, 2010

mmhhhhhh….bagus..cukup menambah wawasanku terhadap pengetahuanku tentang ekologi pangan dan gizi… terus kembangkan..

ANITA WAHYU NOVITASARI
Posted on 31st October, 2010

PENTINGNYA FOLAT UNTUK IBU HAMIL

Kehamilan merupakan saat yang ditunggu oleh seorang wanita yang telah berkeluarga. Bahkan, ada ungkapan bahwa belum sempurna seorang wanita apabila belum memberikan keturunan untuk suaminya. Oleh karena itu, masa kehamilan sangatlah penting untuk diberi perhatian khusus, terutama kebutuhan akan zat gizi. Beberapa kebutuhan gizi ibu hamil pada umumnya dapat dipenuhi dengan mengonsumsi makanan sehat yang seimbang serta vitamin yang umumnya dipenuhi tiga bulan sebelum kehamilan. Namun, terkadang perlu adanya tambahan makanan bahkan suplemen sesuai kebutuhan. ”Asupan gizi untuk ibu hamil sangatlah penting. Itu tidak hanya untuk ibunya yang sedang mengandung saja, tetapi juga untuk bayi yang sedang berkembang dalam kandungannya,” ungkap ahli obstetri dan ginekologi dari Rumah Sakit Pemerintahan Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD), dr Judi Januadi Endjun SpOG.
Makanan yang sehat bagi ibu hamil adalah makanan yang menyediakan energi (kalori), protein, lemak, vitamin, dan mineral yang cukup untuk kebutuhan kesehatan tubuh ibu hamil dan bayinya, tidak memiliki pengaruh negatif bagi bayi, serta mendukung metabolisme tubuh ibu dalam memelihara berat badan sehat, kadar gula darah, dan tekanan darah.
Folat merupakan salah satu jenis vitamin B yang berperan penting selama masa kehamilan. Folat bisa didapatkan dari suplementasi asam folat, hati, buncis, kacang-kacangan, sayuran hijau (bayam, asparagus), buah-buahan sitrus (jeruk), roti gandum, dan makanan yang diperkaya dengan folat atau bisa juga didapatkan dari susu yang telah diperkaya dengan asam folat. Sayangnya, sulit untuk memenuhi kebutuhan folat dari makanan sehari-hari. Sebab, lebih dari 80 persen kandungan folat hilang selama proses pemasakan, pemanasan, atau penyimpanan.
Asupan folat yang direkomendasikan adalah 400 mikrogram per hari. Untuk ibu hamil kebutuhannya lebih tinggi lagi, yaitu 600 mikrogram per hari. Perempuan yang merencanakan kehamilan membutuhkan 680 mikrogram Folat per hari. Sementara bagi mereka yang sedang menyusui, konsumsi folat yang dibutuhkan kaum hawa khusus ini adalah 500 mikrogram Folat per hari.
Kekurangan asam folat akan menyebabkan anemia, rambut beruban sebelum waktunya, lesu, insomnia, mudah lupa, dan depresi. Pada ibu hamil, folat bermanfaat untuk mencegah kecacatan pada janin, mengurangi risiko bayi prematur dan kelainan jantung.
Kurangnya makanan kaya asam folat bisa menyebabkan bayi lahir dengan neural tube defect atau kegagalan menutupnya tabung saraf dengan sempurna. Hal ini bisa menyebabkan spina bifida (celah pada tulang belakang), anensefali (tidak ada kubah tengkorak dan otak), atau ensefalosel (celah pada tulang tengkorak). Penelitian kadar folat pada wanita yang dilakukan di Universitas Otago bersama dengan SEAMEO dan FKUI menyebutkan, tiga dari lima wanita usia subur memiliki kadar folat darah suboptimal. Dengan demikian, si ibu dapat berisiko melahirkan bayi dengan cacat otak dan sumsum tulang belakang (NTD).”Kekurangan asam folat bisa menyebabkan timbulnya bibir sumbing, down syndrome, dan bayi yang lahir di bawah berat yang normal,” ucap Januadi saat menjadi pembicara dalam acara peluncuran Anmum Materna Gold dari PT Fonterra Brands Indonesia beberapa waktu lalu.
NTD adalah cacat bawaan pada syaraf sumsum tulang belakang di mana pembuluh syaraf tidak dapat menutup dengan sempurna. Proses ini biasanya terjadi pada sekitar hari ke-28 setelah pembuahan dalam rahim. NTD adalah salah satu jenis kelainan lahir yang terjadi pada otak atau syaraf tulang belakang yang menyebabkan kelainan fisik dan mental, bahkan mortalitas. Berdasarkan hasil penelitian yang telah banyak dilakukan sejumlah lembaga riset, diperkirakan bahwa sekira 50-70% kasus NTD dapat dicegah. Dengan catatan, bila si ibu mengonsumsi asam folat sebelum kehamilan hingga empat minggu pertama kehamilan.
Sebenarnya asam folat diperlukan oleh semua wanita dalam usia subur. Ini karena kegagalan menutupnya tabung saraf dengan sempurna terjadi pada hari ke-28 setelah pembuahan, dimana umumnya wanita belum menyadari adanya kehamilan. Mereka yang sedang merencanakan kehamilan disarankan mengonsumsi asam folat empat bulan sebelum kehamilan.
Selain berdampak pada bayi, kekurangan asam folat juga mengakibatkan tingginya risiko terjadinya preeklamsia pada ibu hamil. Menurut tim riset yang dipimpin Dr Shi Wu Wen di Universitas Ottawa, asupan folat yang seimbang berperan penting dalam perkembangan plasenta. Folat tampaknya memiliki manfaat terhadap pembentukan sel-sel endotelial, sel-sel khusus yang melapisi pembuluh darah di seluruh tubuh dan plasenta. Preeklamsia, yang juga disebut toxemia kehamilan, adalah kelainan atau gangguan progresif yang ditandai kehadiran protein dalam urin serta tingginya tekanan darah. Gangguan ini dapat diikuti oleh gejala pembengkakan, meningkatnya bobot tubuh secara drastis, sakit kepala dan terganggunya penglihatan. Namun begitu pada beberapa wanita, preeklamsia hanya ditunjukkan dengan sedikit gejala. Preeklamsia serta gangguan tekanan darah lainnya merupakan kasus yang menimpa setidaknya lima hingga delapan persen dari seluruh kehamilan. Dua penyakit ini pun tercatat sebagai penyebab utama kematian serta penyakit pada bayi dan ibu hamil di seluruh dunia. Preeklamsia juga dapat berubah menjadi eklamsia, atau kondisi lebih serius yang ditandai dengan kejang atau seizure. Komplikasi dari eklamsia dapat menimbulkan terputusnya plasenta serta kelahiran prematur.
Dalam riset yang dipimpin Dr Shi Wu Wen, sebanyak 3.000 wanita hamil yang baru memasuki 12 hingga 20 minggu kehamilan dipantau dimana sebanyak 2.713 (92 persen) di antaranya mengonsumsi asam folat atau multivitamin yang mengandung asam folat dengan dosis 1.0 milligram atau lebih. Seperti yang telah diduga, suplemen asam folat mampu menekan rata-rata terjadinya preeklamsia. Sementara itu, preeklamsia hanya terjadi pada 2,17 persen wanita yang mengonsumsi asam folat, dan sekitar 5,04 persen terjadi pada mereka yang tidak mengonsumsi suplemen. Temuan ini dipublikasikan dalam American Journal of Obstetrics and Gynaecology. Setelah peneliti mencocokan data serta mempertimbangkan pengaruh dari usia kehamilan, etnis, tingkat pendidikan, jumlah kehamilan sebelumnya , bobot tubuh, pendapatan, merokok, tekanan darah , diabetes dan sejarah mengidap preeklamsia, Wen dan rekannya menemukan bahwa asam folat dapat menurunkan risiko preeklamsia hingga 66 persen.
Menjadi ibu hamil akan memberikan perubahan pada keseharian seorang wanita, terutama perubahan pola makan. Berikut ini tips mengenai pola makan ibu hamil :
• Konsumsi makanan dengan jumlah lebih banyak dari piramida makanan bagian bawah, yaitu air putih, roti, sereal, dan nasi. Kemudian ditambah sayuran dan protein, buah, produk susu, dan terakhir makanan berlemak.
• Variasi menu makanan untuk membantu mendapatkan kebutuhan vitamin dan mineral dari makanan serta mencegah kebosanan.
• Minum air dalam jumlah cukup untuk membantu kehamilan sehat, kulit ibu lebih sehat (elastis), serta mengurangi gejala kehamilan umum seperti sembelit dan bengkak. Minuman lain seperti soda dan kopi tidak boleh dihitung sebagai perhitungan 8 gelas air.
• Konsumsi makanan dalam jumlah sedikit namun sering apabila memiliki masalah mual atau muntah atau pengurangan ruang di perut ketika hamil utnuk mengatur kadar gula darah.
• Selalu ingat bahwa penambahan berat badan saat kehamilan merupakan bagian penting dari kehamilan. Hindari diet atau pantang makanan tanpa konsultasi dengan praktisi kesehatan. Makan baik selama masa kehamilan dapat memastikan pertambahan berat badan dan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan selama hamil.
• Vitamin maupun suplemen tidak untuk mengganti asupan makanan selama kehamilan namun hanya untuk membantu mencukupi kebutuhan yang diperlukan ibu hamil. Harus diingat bahwa beberapa vitamin (seperti vitamin A) dalam jumlah besar dapat menyebabkan kecacatan.

Written by : ANITA WAHYU NOVITASARI / IKM A 2008 / 100810303

DAFTAR PUSTAKA
http://lifestyle.okezone.com/read/2010/09/21/27/374341/hamil-yuk-cukupi-asupan-gizi
http://medicastore.com/artikel/268/Kebutuhan_Gizi_Ibu_Hamil.html
http://radenbeletz.com/penyakit-preeklamsia-keracunan-pada-kehamilan-bisa-menyebabkan-kematian.html
http://www.avanzaxenia.net/showthread.php?tid=13947
http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenuKiri=&idArtikel=144

Rafika Adila - IKM B 2008 - 100810103
Posted on 31st October, 2010

Nama : Rafika Adila
NIM : 100810103/IKM B 08

Penanganan Pasca Panen
Perontokan Padi Dengan Power Thresher

Untuk mencapai swasembada beras pemerintah telah melakukan berbagai usaha diantaranya dengan panca usaha pertanian yang meliputi Penggunaan bibit unggul, Pengairan dan Pengolahan tanah, Pemberantasan hama penyakit atau gulma (tanaman penganggu) dan panen.
Namun demikian selama penanganan pasca panen kehilangan hasil padi masih cukup tinggi.Untuk menekan kehilangan hasil dan perbaikan mutu, telah dilakukan penelitian baek komponen teknologi maupun sistem panennya.Penggunaan sabit bergerigi yang dimodifikasi Balittan Maros dapat menurunkan kehilangan hasil menjadi 3,84%.Selain itu, dengan cara perontokan padi yang tepat waktu dapat mencegah kehilangan sebesar 2,84%.Hasil laporan survei Biro Pusat Statistik (1998) menunjukan bahwa tingkat kehilangan hasil secara nasional pada tahapan pascapanen cukup tinggi, yaitu sebesar 19,54%.Titik kritis kehilangan hasil terjadi pada tahap pemanenan, yaitu 9,19% dan tahap perontokan sebesar 4,58%.
Pasca panen hasil pertanian adalah suatu tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan hsil pertanian sampai siap untuk dipasarkan.Penanganan pascapanen padi adalah semua kegiatan perlakuan dan pengolahan yang meliputi proses pemanenan, perontokan, pengangkutan, perawatan, dan pengeringan, penyimpanan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan.
Penanganan pascapanen tanaman pangan, khususnya padi, bertujuan untuk mendapatkan gabah/beras dengan mutu tinggi, mengefisienkan tenaga dalam pelaksanaan pemanenan dan perontokan, serta memperkecil kehilangan hasil.Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan pendapatan petani.
Kualitas beras yang rendah tidak saja merugikan petani, tetapi juga mengganggu persediaan pangan nasional.Kerugian bagi petani denagn harga jual hasil panennya tidak sesuai dengan harga dasar,sedangkan bagi kepentingan nasional berasnya tidak dapat disimpan lama.
Dalam menangani pascapanen, kendala umum yang dihadapi petani adalah ketidakmampuan petani menerapkan inovasi teknologi baru dan mengubah kebiasaan yang sudah berkembang dalam masyarakat.Hasil observasi di jalan pantura menunjukan bahwa petani mengalami kesulitan dalam membatasi jumlah pemanen dan mencegah terlambatnya perontokan padi yang telah dipotong dan ditinggalkan oleh pemanen begitu saja,Keterlambatan perontokan padi dapat menurunkan mutu dan meningkatkan kehilangan hasil panen.
Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi untuk melepaskan butir gabah dari malai, Perontokan padi dapat di lakukan secara manual antara lain diinjak, dipukul dengan bambu atau pelapah daun kelapa, dibanting dan pedal thresher,sedangkan yang menggunakan penggerak motor disebut Power thresher.Dari berbagai cara tersebut perlu dicari cara yang efisien dan efektif yang dapat menguntungkan petani.
Perontokan padi yang umum dilakukan adalah dengan cara dibanting ataudi gebot pada kerangka kayu atau bambu yang diletakkan diatas alas.Cara ini kuarang efisien dan mengakibatkan kehilangan hasil karena banyak gabah terlempar keluar alas atau tercecer dan banyak gabah yang belum terlepas dari malainya.Untuk mencegah terlemparnya gabah dapat digunakan alas yang cukup luas dan dilengkapi dengan kelambu dari plastik atau karung pada keliling landasan agak lebih efisien.
Seiring dengan perkembangan tehnologi sekarang sudah banyak petani menggunakan mesin perontok (Power Thresher).Semula mesin perontok hanya digunakan pada pabrik penggilingan padi,tetapi sekarang sudah banyak digunakan petani dengan cara potong atas atau potong tengah.Proses cara kerja alat perontok adalah menumbuk dan menggaruk gabah sehingga terlepas dari malainya.Tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakkan alat perontok dapet berupa tenaga manusia atau tenaga motor.
Menurut Rachmat et tal (1993) Penggunaan mesin perontok lebih cepat dan efisien bila dibandingkan dengan cara dipukul atau digebot.Jumlah gabah yang masih melekat pada malainya setelah dirontok dengan mesin perontok (Power Thesher) relatif sedikit yaitu berkisar antara 0,34 – 1,54 %.
Menurut Nugraha et al (1993) kapasitas perontokan dengan menggunakan nesin perontok (Power Thresher) lebih besar yaitu kurang lebih 850 kg/jam, sedangkan cara dibanting atau digebot tanpa kelambu atau tirai 35,0 – 41,8 kg/jam, banting atau di gebot berkisar 38,5 – 55,1 kg/jam,dan pedal thresher 30,0 – 50 kg.
Surut perontokan adalah susut yang terjadi selama proses perontokan.Susut perontokan dihitung berdasarkan banyaknya butir gabah yang terlempar keluar alas petani,butir yang masih melekat pada jerami karena beras tidak rontok dan butir tidak terbawa kotoran.Faktor yang mempengaruhi besarnya perontokan antara laen cara perontokan yang dilakukan.
Hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2005 – 2007 terhadap besarnya susut perontokan menurut cara perontokan adalah sebagai berikut :
Cara Perontokan dengan cara iles/injak-injak dengan presentase responden 12,92% mengalami susut perontokan sebesar 0,13%. Untuk cara gedig / pukul memiliki prosentase responden sebesar 3,69% mengalami susut perontoakn 0,18%. Sedangkan cara banting / Gebot tanpa tirai memiliki prosentase responden sebesar 23,43% dan mengalami susut perontokan sebanyak 0,41%. Cara banting gedot dengan tirai memiliki prosentase responden 14,76% dengan susut perontokan 0,27%. Cara pedal thresher memiliki responden sebesar 12,34% dan susut perontokan 0,10%. Terakhir, untuk cara power thresher memiliki prosentase responden 32,86% dan susut perontokan 0,08%. Dari keenam cara diatas, didapatkan jumlah prosentase responden sebesar 100% dan susut perontokan 0,18%. Hasil susut ini dibandingkan dengan jumlah hasil susut pada tahun 1995/1996 sebesar 4,81% maka perubahan pointnya sebesar -4,63%.
Terdapat perbedaan metodologi pengukuran susut perontokan:
Tahun 1995/1996 :
Susut perontokan berdasarkan selisih antar a berat gabah hasil perontokan secara teliti dengan berat gabah hasil perontokan dengan cara biasa/petani.Perontokan secara teliti dilakukan dengan memetik gabah satu per satu dari malainya sehingga susut dianggap nol.Kelemahan metode ini adalah besaran susut yang diperoleh tidak sepenuhnya karena adanya butiran gabah beras yang tercecer selama proses perontokan, tetapi juga diperkirakan karena adanya perbedaan produktivitas antara ampel petani cara petani dan sampel perontokan teliti.

Tahun 2005 – 2007 :
Metode pengukuran susut perontokan yang digunakan adalah dengan menghitung jumlah butiran gabah beras yang terlempar diluar alas petani, butiran gabah yang terbawa jerami karena tidak rontok, dan butiran gabah yang terbwa kotoran.

Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa alat perontok padi yang paling banyak digunakan petani adaah alat perontok (Power Thrusher) yaitu 32,86%, demikian juga terhadap susut perontokan paling kecil yaitu 0,08%.

DAFTAR PUSTAKA :

Biro Pusat Statistik.1998. Survei susut pasca panen musim tanam 1986/1987.Kerja sama Biro Pusat Statistik, Dirjen Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pengendalian Bimas, IPB dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Badan Pusat Statistik.2008. Survei Susut Panen dan Pasca Panen Gabah atu Beras Tahun 2005 – 2007 Kerja Sama Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian.

Direktorat Jenderal Penyuluhan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Departemen Pertanian, 2009. Pedoman Teknis Pengembangan Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan.

Nugraha, S., A. Setyono dan R. Thahir.1993. Perbaikan sistem panen dalam usaha menekan kehilangan hasil padi. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jakarta atau Bogor, 23 – 25 Agustus 1993

Rachmat, R., A. Setyono dan S. Nugraha. 1993. Evaluasi sistem pemanenan beregu menggunakan beberapa model mesin perontokan. AGRIMEK Vol 4 dan 5 No.1, 1992/1993 Perteja Sulawesi Selatan

Nama : Rafika Adila
Nim : 100810103 / IKM B 08

Yesita Minda - IKMB 2008 - 100810457
Posted on 31st October, 2010

YESITA MINDA / 100810457
IKMB ‘08 / 91

MENGATASI MASALAH GIZI DAN PANGAN DI
INDONESIA DENGAN PENDEKATAN KETAHANAN
PANGAN RUMAH TANGGA

Secara nasional lebih dari 30% rumah tangga rawan pangan. Jumlah persentasi rawan pangan pada tingkat rumah tangga di pedesaan lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Di pedesaan dijumpai 40-50% rumah tangga defisit energi dan protein. Tingginya angka kematian dampak dari kekurangan gizi penduduk. Mulai dari banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dibawah 2,5 kg, yang saat ini diperkirakan 350.000 orang setiap
tahunnya. Usia balita diperkirakan 5 juta gizi kurang dan 7 juta anak baru sekolah mengalami gangguan pertumbuhan. Untuk mengatasi hal tersebut salah satu alternatif adalah perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat harus diprioritaskan pada tingkat kemampuan rumah tangga dalam mengakses dan ketersediaan pangan sebagai dasar ketahanan pangan keluarga.
Kata kunci: Gizi, Pangan dan Rumah Tangga.
Terjadinya kelaparan, kemiskinan dan kurang gizi akan terus menghantui manusia. Masalah tersebut mencerminkan berbagai tantangan yang sifatnya interdisipliner yang tidak kecil bentuknya, dan karenanya menuntut adanya pendekatan yang bersifat interdisipliner untuk mengatasinya. Ilmu dan teknologi akan mampu menyampaikan dan memberikan sumbangan yang besar dan berarti bagi perkembangan sosioekonomi hanya bila dalam mememcahkan masalah pelaksanaannya menggunakan pendekatan interdisipliner (Winarno, 1993). Selain pendekatan interdisipliner juga perlu dilakukan pendekatan multisektoral dalam perbaikan pangan dan gizi disuatu daerah. Misalnya dalam mengatasi masalah gizi utama di Indonesia yang masih dihadapkan pada 4 masalah gizi utama yaitu :1) kekurangan kalori protein (KKP), 2) kurang vitamin A (KVA), 3) anemia besi (Fe) dan 4) gangguan angka kecukupan yodium (GAKY). Tinggginya tingkat prevalensi gizi utama di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain ; kemiskinan, penyakit, faktor sosial dan budaya,aksesmasyarakat terhadap pangan (Pudjiadi, 2001). Perbaikan gizi melalui pendekatan faktor tersebut dan pendekatan multisektoral adalah salah satu alternatif untuk
penyelesaian masalah tersebut. Pendekatan multisektoral mencakup ; penyediaan air bersih, kebersihan lingkungan, kegiatan immunisasi, kesehatan dan kebersihan pangan, perawatan medis dan gizi, pencegahan dan pemberantasan penyakit, pendidikan kesehatan dan gizi, konsumsi pangan, ketersediaan pangan, pengadaan pangan (produksi pangan dalam negeri,keadaan ekspor pangan dan pemasaran pangan), permintaan pangan (faktor kependudukan, faktor kebudayaan dan agama dan faktor keadaan perekonomian), penggunaan secara biologis akan diharapkan diperoleh perbaikan pangan dan gizi (Saragih, 2002 dan Roedjito, 1989). Keberhasilan pendekatan tersebut sangat tergantung dari partisifasi
masyarakat (rumah tangga) sebagai sasaran utama. Dengan demikian usaha perbaikan gizi masyarakat haruslah ditujukan pada keluarga. Karena dalam kehidupan sehari-hari makanan keluarga ditentukan dan tanggung jawab keluarga itu sendiri sejak belanja hingga penyajian makanan tersebut. Tentu saja sejak dalam perjalanan makanan tersebut, didalam keluarga sangat dipengaruhi oleh bahan pangan, kebiasaan, selerta, pantangan, cara memasak, teknologi dapur, prestise, ketahanan pangan dan sebagainya. Partisipasi masyarakat diperlukan dalam bentuk kesadaran akan masalah gizi dan ketahanan pangan diantara
mereka, sehingga terangsang untuk usaha penanggulangan masalah gizi dan
ketahanan pangan terutama pada tingkat rumah tangga.
Masalah gizi kronis di Indonesia juga dibebani penderita anemia, kurang vitmain A, kurang Yodium dan kurang energi dan protein. Melihat permasalahan tersebut diatas pemerintah dan masyarakat terus berusaha dalan peningkatan ketahanan pangan khususnya ketahanan pangan rumah tangga dan perbaikan pelayanan kesehatan. Prioritas dan fokus sasaran intervensi kebijakan pangan dan gizi adalah dalam upaya pemantapan ketahanan pangan rumah tangga. Ketahanan pangan menurut Bustanul Arifin (2004) mengandung dua unsur pokok yaitu ketersediaan pangan dan aksesibilitas masyarakat. Kedua unsur tersebut harus terpenuhi karena jika salah satu tidak terpenuhi maka ketahanan pangan tetap
tidak terpenuhi. Intervensi bagi kelompok rumah tangga kurang pangan diprioritaskan pada
upaya penyadaran dan peningkatan pengetahuan pangan dan gizi. Kelompok rumah tangga rawan pangan, karena secara ekonomi kurang (miskin) memiliki kemampuan maka intervensi diarahkan kepada peningkatan pendapatan untuk lebih akses terhadap sumber karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Perbaikan menu makanan dan gizi masyarakat juga diarahkan akan lebih menganekaragamkan jenis dan meningkatkan mutu makanan, baik kualitas maupun kuantitas sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pengetahuan ibu dalam penyediaan makanan dalam tingkat rumah tangga sangat penting untuk mendukung perbaikan gizi. Pengetahuan ibu tentang memasak sering menghadapi kesulitan, selain itu dalam memberi makanan anak, bagaimanan sayur dapat masuk ke mulut anak dan bagaimanan keragaman bahan dan jenis makanan dapat mempengaruhi kebosanan, keragaman bahan dan jenis masakan dapat dipakai sebagai ukuran kualitatif masalah gizi. Pengetahuan ibu tentang cara memperlakukan bahan pangan dalam pengolahan sehingga zat gizi yang terkandung di dalamnya tidak rusak atau hilang masih perlu dikaji ditingkat
pedesaan. Selain itu ketahanan pangan tingkat rumah tangga juga dapat diarahkan pada penggalakan pemanfaatan pekarangan yang sering dikenal dengan tabula pot (tanaman, buah dan sayuran pada pot) dan tabulakar (tanaman, buah dan sayuran pada pekarangan) atau apotik hidup sehingga akses terhadap pangan tambahan juga dapat terpenuhi. Usaha mencari bahan pangan atau tanaman baru yang dapat dimakan untuk meningkatkan mutu gizi menu makanan keluarga.
Peningkatan konsumsi sumber protein dan kalori sangat dianjurkan terutama rumah tangga yang tinggal disentra produk . Pemanfaatan pekarangan sangat penting untuk mendukung ketersediaan bahan pangan dan obat pada tingkat rumah tangga. Perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat harus diprioritaskan pada tingkat kemampuan rumah tangga dalam mengakses dan ketersediaan pangan sebagai dasar ketahanan pangan keluarga. Peningkatan pendapatan dalam menanggulangi kemiskinan adalah hal yang mutlak dilakukan untuk meningkatkan daya beli terhadap bahan pangan rumah tangga. Semua masalah yang berhubungan dengan pangan dan gizi akan dapat diselesaikan dengan kerjasama semua pihak dan pendekatan multisektoral.

DAFTAR PUSTAKA

Atmarita dan Tatang, F, 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat.
Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, LIPI. Jakarta.
Bustanul Arifin, 2004. Penyediaan dan Aksesibilitas Ketahanan pangan. Prosiding
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, LIPI. Jakarta
BPS, 1999. Survei Sosial Ekonomi Nasional. BPS. Jakarta
Handewi, P.S., Mewa Ariani dan T.B. Purwantini, 2004. Distribusi Propinsi di
Indonesia Menurut Derajat Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Prosiding
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, LIPI. Jakarta.
Jahari,A.B, S. Sandjaya, Herman, Soekirman, F. Jalal, D. Latief dan Atmarita,
2000. Balita di Indonesia Sebelum dan Setelah Krisis. Prosiding
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII, LIPI. Jakarta.
Pudjiadji, S, 2001. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Edisi 4. Universitas Indonesia.
Jakarta.
Purwantini, T.B, Handewi, P.S dan Yuni Marisa, 2004. Analisis Ketahanan
Pangan Tingkat Rumah Tangga dan Regional. Prosiding Widyakarya
Nasional Pangan dan Gizi VIII, LIPI. Jakarta
Roedjito.D.D, 1989. Kajian Penelitian gizi. Mediatama Sarana Perkasa. Jakarta.
Saragih, B, 2002. Pendekatan Multi Sektoral untuk Perbaikan Pangan dan Gizi di
Kalimantan Timur. Bulettin Bappeda Kaltim Edisi; September No. 41
Winarno, F.G, 1993. Pangan; Gizi, Teknologi dan Konsumen. Gramedia. Jakarta

Lutfiana Mandyah - IKMB 2008 - 100810454
Posted on 31st October, 2010

Lutfiana Mandyah
100810454
IKMB08’

PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, karena itu pemenuhan atas pangan menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Karena itu, pembangunan pangan dan gizi perlu diposisikan sebagai pusat pengembangan bagi keseluruhan pencapaian target. Permasalahan pangan dan gizi mengalami perkembangan yang sangat cepat dan komplek. Perkembangan lingkungan global seperti adanya global climate change dan meningkatnya harga minyak dunia telah mendorong kompetisi penggunaan hasil pertanian untuk pangan (food), bahan energy (fuel) dan pakan ternak (feed) yang makin tajam. Di samping itu, kecenderungan pengabaian terhadap good agricultural practices dan sumber pangan lokal (biodiversity) dikhawatirkan akan mengancam ketahanan pangan dan gizi nasional. Perkembangan ini memerlukan telaah dan respon kebijakan yang lebih menjamin terhadap pengamanan aksesibilitas pangan masyarakat.
Globalisasi juga mendorong perubahan pola konsumsi pangan masyarakat yang memerlukan perhatian akan dampaknya terhadap kesehatan. Di samping itu, adanya berbagai isu di masyarakat seperti permasalahan kekurangan gizi dalam bentuk gizi kurang dan gizi buruk, masalah kegemukan atau gizi lebih, serta keamanan pangan juga memerlukan telaah yang komprehensif untuk mencari solusinya, termasuk aspek revitalisasi kelembagaan pangan dan gizi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya masalah gizi dan kesehatan masyarakat, sangat kompleks. Secara sederhana dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor yang saling berinteraksi, yaitu :

Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga yaitu kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan, dan ini sangat terkait dengan daya beli keluarga.
Pola asuhan gizi keluarga yaitu kemampuan keluarga untuk memberikan makanan bayi dan anak, khususnya menyusui secara ekslusif dan pemberian makanan pendamping ASI. Pola asuhan gizi keluarga sangat terkait dengan upaya keluarga untuk memelihara kesehatan bayi dan balita serta menjaga lingkungan yang sehat.
Akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, yaitu pemanfaatan fasilitas kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif seperti penimbangan balita di posyandu, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan bayi dan balita, suplementasi vitamin A dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), imunisasi dan sebagainya.

Dari ketiga faktor tersebut jelas perbaikan gizi dan kesehatan sangat terkait dengan perbaikan sektor lain, terutama pangan, daya beli dan pendidikan. Masalah gizi dan kesehatan tidak akan bisa ditanggulangi hanya dengan pendekatan pengobatan atau kuratif saja, tetapi harus mengedepankan upaya-upaya pencegahan dan peningkatan.

Pangan Dan Gizi Sebagai Penentu Kualitas Sumber Daya Manusia
Pembangunan suatu bangsa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap
warga negara. Peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa sangat tergantung
pada kemampuan dan kualitas sumberdaya manusianya. Ukuran kualitas sumberdaya
manusia dapat dilihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sedangkan ukuran
kesejahteraan masyarakat antara lain dapat dilihat pada tingkat kemiskinan dan status gizi masyarakat.
IPM merupakan ukuran agregat yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Kualitas SDM Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain.
Hal ini ditunjukkan oleh posisi IPM Indonesia yang berada pada urutan ke-108 dari 177Negara.

Salah satu akibat kemiskinan adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jumlah dan kualitas yang baik.
Ketidak mampuan suatu rumah tangga memenuhi kebutuhan pangan berakibat pada kekurangan gizi, baik zat gizi makro maupun mikro, yang dapat diindikasikan dari status gizi anak balita dan wanita hamil. Implikasi dari masalah gizi pada kedua kelompok tersebut sangat luas,antara lain:
a. Tingginya prevalensi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) akibat tingginya prevalensi
Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. BBLR dapat meningkatkan angka
kematian bayi dan balita, gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak, serta
penurunan kecerdasan. Anak bergizi buruk (pendek/stunted) mempunyai resiko
kehilangan IQ 10-15 poin. Gangguan kurang yodium pada saat janin atau gagal
dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak buruk pada
kecerdasan secara permanen.
b. Kurang zat besi (anemia gizi besi) pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko
kematian waktu melahirkan, meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan kurang zat
besi, dan berdampak buruk pada pertumbuhan sel-sel otak anak, sehingga secara
RANPG 2006-2010 6
konsisten dapat mengurangi kecerdasan anak. Pada orang dewasa dapat
menurunkan produktivitas sebesar 20-30 persen.
c. Kurang vitamin A pada anak balita dapat menurunkan daya tahan tubuh,
meningkatkan resiko kebutaan, dan meningkatkan resiko kematian akibat infeksi.
d. Meluasnya kekurangan gizi pada anak balita dan wanita hamil akan meningkatkan
pengeluaran rumah tangga maupun pemerintah untuk biaya kesehatan karena
banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat kurang gizi. Di samping itu, hal ini juga
menyebabkan menurunnya produktivitas.
Dari uraian di atas tampak bahwa ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas. Dalam jangka pendek, Indonesia akan sulit meningkatkan IPM. Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi “kehilangan generasi” yang dapat mengganggu kelangsungan kepentingan bangsa dan negara.


Investasi Pangan Dan Gizi Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia
Kecukupan pangan dalam jumlah dan mutu yang baik di tingkat rumah tangga
merupakan mandat untuk mewujudkan ketahanan pangan sesuai Undang-undang No.7 Tahun 1996. Pemerintah selalu menempatkan ketahanan pangan dalam program pembangunan. Berbagai program pemerintah untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan secara kontinyu melalui penghimpunan stok yang mencukupi masih terus dilakukan. Investasi besar pada pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi, jalan produksi, serta peningkatan produksi pupuk dilakukan untuk mendukung produksi pangan dalam negeri. Efisiensi sistem distribusi pangan terus ditingkatkan agar harga pangan terjangkau oleh masyarakat. Bantuan dan subsidi pangan juga diberikan pada rumah tangga miskin yang tidak dapat menjangkau harga pangan yang terjadi di pasar. Selain itu, pangan lokal juga terus dikembangkan mengingat beragamnya pola pangan dan wilayah kepulauan yang dimiliki Indonesia untuk membantu daerah-daerah rawan pangan dan daerah-daerah yang jauh dari jangkauan distribusi nasional. Hal
penting yang juga dilakukan adalah upaya peningkatan pendapatan masyarakat,
terutama petani dan masyarakat perdesaan yang tingkat kemiskinannnya tinggi
sehingga daya beli dan kemampuan mereka untuk mengakses pangan semakin
meningkat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya masalah gizi dan kesehatan masyarakat, sangat kompleks. Secara sederhana dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor yang saling berinteraksi, yaitu :

Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga yaitu kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan, dan ini sangat terkait dengan daya beli keluarga.
Pola asuhan gizi keluarga yaitu kemampuan keluarga untuk memberikan makanan bayi dan anak, khususnya menyusui secara ekslusif dan pemberian makanan pendamping ASI. Pola asuhan gizi keluarga sangat terkait dengan upaya keluarga untuk memelihara kesehatan bayi dan balita serta menjaga lingkungan yang sehat.
Akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, yaitu pemanfaatan fasilitas kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif seperti penimbangan balita di posyandu, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan bayi dan balita, suplementasi vitamin A dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), imunisasi dan sebagainya.

Dari ketiga faktor tersebut jelas perbaikan gizi dan kesehatan sangat terkait dengan perbaikan sektor lain, terutama pangan, daya beli dan pendidikan. Masalah gizi dan kesehatan tidak akan bisa ditanggulangi hanya dengan pendekatan pengobatan atau kuratif saja, tetapi harus mengedepankan upaya-upaya pencegahan dan peningkatan.

Sumber:
http://kgm.bappenas.go.id/document/makalah/24_makalah.pdf

ROSYIDAH / 100810053 / IKM A 08
Posted on 1st November, 2010

TUGAS EKOLOGI PANGAN DAN GIZI 2010-1011
ROSYIDAH
IKM A 2008
100810053/23

Beras Merah yang Terlupakan

KAPAN terakhir kali anda makan nasi merah? Mungkin sudah lupa tuh, atau kalau ingat pernah ketika masih anak-anak, atau sewaktu masih bayi umur 6 bulan. Kini yang pasti, menurut pengamatan, beras merah sudah jarang ditemui atau diperdagangkan di pasaran, apalagi dikonsumsi. Apa penyebabnya? Tidak diketahui secara pasti, mungkin saja karena tidak ada yang mau membudidayakannya atau karena sedikit peminatnya.

Ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari menyajikan nasi putih untuk keluarganya, mungkin sudah lupa atau bahkan tidak tahu dengan beras merah, begitupun warung-warung nasi dan restoran tak pernah menghidangkan menu dengan nasi merah. Anak-anak sekarang mungkin hanya mengenal nasi yang berwarna putih (dan mungkin ’kuning’), mereka tidak mengenal ada beras merah (sebenarnya berwarna coklat), karena setiap hari disodori nasi putih oleh orangtuanya.

Kalau anda ingin mencicipi beras merah, mungkin anda harus menjadi bayi dulu karena sekarang ada makanan instan bayi terbuat dari beras merah, atau anda mesti disihir dulu menjadi unggas, baru bisa menikmati rasa beras yang kini banyak dijual sebagai pakan burung.

Sayang sekali, santapan yang begitu menyehatkan itu harus hilang dari peredaran. Bila dibandingkan dengan beras putih yang kita konsumsi sehari-hari, beras merah atau dalam bahasa Inggrisnya brown rice, jauh lebih bermanfaat bagi kesehatan, orang awam sekalipun tahu akan kelebihan oryza sativa yang satu ini.

Sebenarnya jenis beras banyak bermacam-macam seperti beras putih. Beras hitam, beras merah dan varietas yang lainnya. Beras merah dan hitam yang ternyata kurang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia ternyata memiliki banyak manfaat, salah satu yang akan dibahas dalam artikel ini adalah beras merah .

Nasi yang kita makan sehari-hari atau nasi putih umumnya berasal dari beras yang telah digiling. Penggilingan bulir padi menghasilkan beras yang bersih tanpa kulit ari. Pengelupasan ini membuat beras menjadi pulen setelah dimasak, namun menghilangkan sebagian gizi yang terkandung di dalam beras.
Beras merah umumnya diolah dengan ditumbuk atau dipecah kulitnya. Hal ini membuat kulit arinya yang berwarna merah masih utuh. Pada kulit ari inilah terdapat kandungan protein, vitamin, mineral, lemak, dan serat yang sangat penting bagi tubuh. Tepung beras merah pecah kulit dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker usus, batu ginjal, beri-beri, insomnia, sembelit, wasir, gula darah, dan kolesterol. Warna merah pada beras terbentuk dari pigmen antosianin yang dikandungnya. Kandungan vitamin dan mineral pada beras merah lebih banyak 2-3 kali dari beras putih.

Suatu studi di Universitas Negara Bagian Lousiana, AS, menyatakan bahwa beras merah mengandung serat yang berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol jahat ( LDL ), menghambat aterosklerosis, dan juga berperan dalam mengkontrol tingkat kadar gula darah dalam tubuh, sehingga juga menjadi pilihan
terbaik bagi penderita diabetes.

Menurut Riset Dr. Rui Hai Liu dari Universitas Cornell, mengatakan bahwa beras merah mengandung fenolik, salah satu zat antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas pemicu kanker.
Selain itu beras merah mengandung magnesium yang mampu menurunkan keakutan asma, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan frekuensi migran, dan menurunkan resiko serangan
jantung serta stroke.

Magnesium membantu mengatur irama saraf dan otot dengan menyeimbangkan aksi kalsium. Magnesium juga berguna untuk kesehatan tulang. Sekitar dua per tiga magnesium di dalam tubuh manusia ditemukan dalam tulang. Secangkir beras merah akan memberi anda 21% keperluan sehari-hari akan magnesium.

Untuk anak-anak, beras merah mengandung lemak yang yang dapat meningkatkan perkembangan otak dan memperkuat daya tahan tubuh. Vitamin B1 ( thiamin) pada beras merah dapat mencegah beri-beri pada anak. Kandungan zat besinya pun lebih tinggi sehingga mampu membantu bayi berusia 6 bulan keatas yang asupan zat besi dari ASI masih belum tercukupi. Kandungan serat pada beras merah dapat mengatasi gangguan pencernaan.
Bagi wanita yang menginginkan tubuhnya ideal dan sehat, beras merah juga mengandung fiber yang tinggi juga membuat lebih kenyang dan tidak mudah lapar sehingga cocok untuk pola diet. Salah satu contohnya, beras merah digunakan dalam hidangan diet makrobiotik, dimana teorinya adalah masakan yang tidak banyak mengalami pemrosesan dianggap lebih sehat.
Selain manfaatnya, ternyata beras merah yang diolah menjadi berbagai macam olahan ini juga memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan. Sekarang tentunya, masyarakat mulai concern terhadap kesehatan sehingga untuk urusan makanan tentu akan memilih makanan yang lebih sehat. Karena nasi merah ini merupakan kuliner tradisional tempo dulu, maka banyak orang yang akan menikmati nasi merah dengan alasan ingin `nostalgia`.
Nasi merah dapat dipadukan dengan berbagai lauk pauk yang ada seperti ikan asin, tempe goreng, tahu, oseng-oseng, dll. Membuka usaha warung nasi merah ini memberikan nuansa baru di dunia kuliner. Selain melestarikan budaya kuliner kita, nasi merah juga menyehatkan masyarakat dan memberikan keuntungan secara financial bagi pemiliknya.

Beras merah kini mudah didapatkan di supermaket atau swalayan dengan harga yang cukup terjangkau. Beras merah dapat bertahan selama 6 bulan dalam kondisi normal. Penyimpanan dalam lemari pendingin atau penyimpanan tertutup dari udara luar dapat memperpanjang umur beras merah. Pendinginan beras merah, meskipun jarang-jarang juga dapat mencegah datangnya ngengat.

Sudah banyak pakar menyebutkan, beras merah merupakan salah satu pakan paling menyehatkan di dunia, jadi mengapa kita sekarang tidak mencoba untuk mengkonsumsi dan memperhatikannya manfaatnya.

Daftar Pustaka :
http://www.flyfreeforhealth.com
shvoong.com
http://www.litbang.deptan.go.id
http://dedesuhaya.blogspot.com/2008/06/segudang-manfaat-beras-merah.html

Ahmad Fakhri
Posted on 1st November, 2010

Tugas Ekologi Pangan dan Gizi semester 5 tahun akademik 2010/2011
Ahmad Fakhri
IKM A ‘08/VA
100810323
Es Tebu, segar dan bermanfaat
Dewasa ini banyak dijumpai penjual es tebu baik yang menetap dipinggir jalan atau pedagang kaki lima, maupun yang sekarang sudah menggunakan gerobak berjalan. Untuk gerobak berjalan, sudah banyak inovasi dari es tebu, ada yang tebu madu, tebu Kediri, dan lain-lain. Sehingga tidak sulit menemukan penjual es tebu khususnya di wilayah Surabaya.
Es tebu ini selain terkenal akan kesegarannya ketika diminum saat siang yang terik, ternyata es tebu ini juga memiliki banyak manfaat. Es tebu merupakan olahan tebu selain diubah menjadi gula.
Tebu adalah tanaman yang hanya dapat tumbuh di daerah beriklim subtropis dan tropis. Pada awalnya orang menduga bahwa tanaman tebu berasal dari India yaitu di wilayah sungai Gangga dan Indra. Hal ini diperoleh berdasarkan tulisan-tulisan dalam buku-buku kuno bangsa Hindu yang menyebutkan adanya tanaman tebu di daerah-daerah tersebut. Namun ada pula dugaan bahwa tanaman tebu berasal dari kepulauan Polynesia termasuk pulau-pulau di Indonesia bagian timur, karena di daerah ini lebih banyak ditemukan jenis tanaman tebu. Belum ada kepastian dari dua dugaan tersebut, yang dapat dipastikan adalah bahwa tanaman tebu sudah berabad-abad dikenal orang Indonesia. Seorang bangsa Tiong Hoa yang singgah di Jawa pada tahun 400 menuliskan di buku perjalanannya tentang penduduk Jawa yang sudah menanam tebu (Adisewojo, 1971).

Tanaman tebu termasuk golongan tanaman yang tumbuh di daerah beriklim sedang sampai panas, yaitu terletak di antara 40º LU dan 38º LS. Selama masih dalam fase pertumbuhan, tanaman tebu membutuhkan banyak air akan tetapi setelah tua (6-8 bulan) dan pada saat proses pemasakan/panen (12-14 bulan) tanaman tebu membutuhkan bulan kering dan ini sebaiknya tiba pada saat berakhirnya pertumbuhan vegetatif. Bila musim kering tiba sebelum pertumbuhan vegetatif berakhir, maka tanaman tebu yang tidak diairi akan mati sebelum mencapai tingkat masak, sebaliknya bila hujan turun terus-menerus maka pertumbuhan vegetatif tebu tetap giat, sehingga tidak mencapai kadar gula tertinggi. Di tempat-tempat yang dekat dengan garis khatulistiwa yang pada umumnya perbedaan antara musim hujan dan musim kemarau tidak jelas tanaman tebu sulit dibudidayakan (Soepardiman, 1996).

Tebu termasuk kelompok tanaman C¬4 yang memiliki sifat antara lain dapat beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang terik (panas) dan bertemperatur tinggi, fotorespirasinya rendah dimana sangat efisien dalam menggunakan air serta toleran terhadap lingkungan yang mengandung garam (Elawad et. al., 1982).

Sebagai tanaman berbiji tunggal tanaman tebu memiliki batang yang dalam pertumbuhannya hampir tidak bertambah besar, hanya bertambah tinggi. Tanaman yang pertumbuhannya baik mencapai tinggi rata-rata 2,5-4 m, bahkan ada yang lebih dari 5 m, akan tetapi yang pertumbuhannya buruk, tingginya kurang dari 2 m. Bagian luar batang tebu berkulit keras sedangkan bagian dalamnya lunak, bagian inilah yang mengandung air gula (Adisewojo, 1971).
Air gula pada batang tebu mencapai 20 % mulai dari pangkal sampai ujungnya. Kadar air gula di bagian pangkal lebih tinggi dari pada bagian ujung. Oleh karena itu pada saat pemanenan, batang tebu digali dari tanah sehingga hampir tidak ada yang tersisa. Lain halnya jika akan mengambil hasil beberapa kali maka tanaman tebu dipotong batangnya saja sehingga pangkalnya masih ada dalam tanah (Anonim, 2007b).

Tanaman tebu memiliki akar serabut yang tumbuh dari lingkaran akar di bagian pangkal batang. Di tanah yang subur dan gembur, akar-akar tebu dapat tumbuh menjalar hingga panjangnya dapat mencapai 0,5-1 m. Akar-akar ini tidak tahan terhadap genangan air, bila terlalu lama tergenang maka akar akan membusuk sehingga tanaman layu dan mati. Daun tebu terdiri dari helai dan pelepah daun. Helai daun berbentuk garis yang panjangnya sekitar 1-2 m dan lebarnya 5-7 cm, tepi daun dan permukaan daun kasar. Daun-daun yang pertama keluar dari kuncup mempunyai helai yang kecil dengan pelepah yang membungkus batangnya sampai umur 5-6 bulan (Adisewojo, 1971).

Bunga tanaman tebu berupa bunga majemuk yang berbentuk malai. Waktu berbunga tanaman tebu adalah pada bulan Maret-Mei atau pada permulaan musim kemarau.Umumnya persarian bunga berlangsung dengan bantuan angin (anemogami) sehingga pembuahan terjadi karena penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang.

Ada beberapa manfaat tebu diantaranya digunakan untuk dikomsumsi langsung dengan cara dibuat jus, dibuat menjadi tetes rum dan dibuat menjadi ethanol yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar. Limbah hasil produksi dari tebu bisa dimanfaatkan menjadi listrik. Ekstrak sari tebu yang ditambah jeruk nipis dan garam biasa di komsumsi di India itu dimaksudkan untuk memberikan kekuatan pada gigi dan gusi. Air tebu dapat dimanfaatkan sebagai minuman penyembuh sakit tenggorokan dan dapat mencegak sakit Flu serta bisa menjaga ketahanan tubuh kita agar badan kita sehat. Air tebu ini bisa dimanfaatkan oleh penderita diabetes dimanfaatkan sebagai pemanis karena kadar gula yang rendah. Karena tebu bersifat alkali sehingga dapat membantu melawan kanker payudara dan prostat. Mengkomsumsi air tebu secara teraktur dapat menjaga metabolisme tubuh kita dari kekurangan cairan karena banyak kegiatan yang sudah dilakukan sehingga dapat terhindar dari stroke. Dengan banyaknya kandungan karbonhidrat sehingga dapat menambah kekuatan jantung, mata, ginjal dan otak. Membantu dalam pengobatan penyakit kuning karena memberikan kekuatan untuk hati yang menjadi lemah selama penyakit kuning. Membantu dalam menjaga aliran air kencing yang jelas dan juga membantu ginjal untuk menjalankan fungsi mereka dengan baik.
Air tebu ternyata aman bagi penderita diabetes seperti penjelasan diatas. Lho, bukannya gula putih itu berasal dari tebu juga, tapi kenapa yang satu aman sedangkan yang hasil diproses justru berbahaya? Ternyata proses pengolahan dari tebu menjadi gula yang bertanggung jawab atas hal ini. Pada proses tersebut, zat bernama sakaran lenyap dari air tebu yang diproses menjadi gula. Karena itu gula kemudian menjadi tidak aman bagi para penderita diabetes. Sehingga para penderita diabetes tidak perlu kuatir untuk mengkonsumsi es tebu.
Manfaat lain dari tebu adalah dengan beberapa cara sebagai berikut :
1. Meredakan Jantung Berdebar, caranya adalah dengan 3 genggam akar tebu hitam yang dicuci dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih sehingga tinggal 1 gelas, Minum 2 kali sehari.
2. Sakit Panas, caranya adalah dengan menggunakan tebu hitam secukupnya yang diperas untuk diambil airnya, dan kemudian diminum.
3. Batuk, caranya adalah dengan menggunakan 3-5 ruas tebu hitam yang disesap dan diminum airnya. Atau, dapat dengan tebu hitam yang dibakar, kemudian dikupas dan diperas untuk diambil airnya.
Nah dapat disimpulkan bahwa es tebu yang terkenal akan kesegarannya juga dapat memberikan berbagai macam manfaat yang seperti sudah dijelaskan diatas. Dan es tebu ini bisa dijadikan minuman alternatif pengganti minuman-minuman siap saji yang biasa diperjual belikan di supermarket. Karena es tebu ini tidak kalah manfaatnya dengan minuman-minuman tersebut.
Sumber :
http://dadan.dagdigdug.com/2008/05/06/air-tebu-bagi-penderita-diabates/
http://sehat-secara-alami.blogspot.com/2008/03/khasiat-tebu.html
http://www.anneahira.com/tanaman-obat/tebu.htm
http://www.lombalomba.com/?s=kandungan+dalam+tebu
http://artikel-alternatif.blogspot.com/2008/01/manfaat-tebu.html
http://radensomad.com/manfaat-tebu-bagi-kesehatan-gigi-dan-manusia.html
http://wikipedia.com

Slamet Dwi Pahlawan
Posted on 1st November, 2010

Slamet Dwi Pahlawan
NIM.100810311
IKM A 2008 / VA

KETAHANAN PANGAN NASIONAL TAK SEKEDAR SWASEMBADA, TIDAK IMPOR, SERTA SUBSIDI.

Dorongan untuk mampu tidak bergantung pada berbagai pihak internasional, termasuk di dalamnya gejolak naiknya harga komoditas pertanian negara lain yang tidak ada hubungan kerjasama dalam bidang pertanian ataupun ekspor-impor, perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Selama ini kenaikan harga komoditas pangan yang terjadi di Indonesia lebih dikarenakan faktor ikut-ikutan pada negara-negara yang sedang bergejolak harga komoditas pangannya.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi dalam diskusi Blak-Blakan Soal Ketahanan Pangan di Indonesia di Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu malam, 3 Februari 2010, “Sekarang bukan lagi masalah ekspor-impor”. Menurut bayu, ketidaktergantungan pada pihak luar tersebut dimaksudkan agar harga-harga komoditas pertanian sudah seharusnya tidak terpengaruh dengan hal-hal yang terjadi di luar negeri.
Sebagai contoh, kebiasaan penduduk Filipina yang menumpuk stok pangan pada saat menjelang Pemilihan Umum seringkali membuat harga beras nasional ikut melonjak. Padahal kondisi tersebut terjadi karena aksi perdagangan di pasar komoditas yang tidak memiliki hubungan perdagangan Indonesia, dalam hal impor beras dari Filipina. Contoh lain adalah bencana alam berupa banjir di India yang menyebabkan produksi gula negara tersebut menurun menyebabkan harga gula di pasar domestik ikut mengalami tekanan. Padahal, Indonesia dan India selama ini tidak pernah memiliki hubungan ekspor-impor produk gula. “Sekarang informasi mengenai harga internasional dapat diperoleh seketika dan para produsen lokal umumnya langsung menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut,” katanya.
Indonesia, ujar Bayu, sebetulnya memiliki kecukupan asupan pangan melebihi standar yang ada. Untuk kecukupan energi, Indonesia mampu mencapai 48 persen lebih tinggi dari standar yang direkomendasikan, yaitu mencapai sekitar 3.000 kilokalori (Kkal) per kapita dari standar sekitar 2.000 Kkal per kapita. Pada bagian lain, kecukupan protein masyarakat Indonesia juga sudah melebih standar yang direkomendasikan hingga 42 persen. Dalam hal pasokan pangan, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan konsumsi kalori masyarakatnya dari pasokan dalam negeri hingga 93 persen sedangkan protein mencapai 87 persen.
Upaya ketahanan pangan nasional sebenarnya bisa dilakukan dengan tak hanya sekedar swasembada, tidak impor, serta subsidi, tapi juga dengan harus dilakukannya kecukupan pasokan komoditas dengan harga terjangkau dan stabil, memberikan pendapatan yang cukup kepada petani, dan komoditas pangan harus siap menghadapi persaingan global dan ketidakpastian iklim.
Perubahan iklim yang ditandai saat musim kemarau masih ada hujan terlalu banyak, kemudian disusul dengan banyaknya hama dan penyakit, maka masalah tersebut berpengaruh terhadap turunnya produktivitas dan rendemen beras. Hal itu akan mengakibatkan produksi beras tidak naik secara signifikan, meskipun pada musim kemarau basah terjadi penambahan luas panen. Maka, pemerintah Indonesia sebaiknya segera menyiapkan langkah-langkah antisipasinya, seperti menguatkan stok pangan, khususnya beras.
Dalam menghadapi kondisi pangan dunia, upaya meningkatkan produksi pangan di dalam negeri sangat penting. Menghadapi kondisi pangan dunia yang memprihatinkan tersebut, maka semua negara akan berupaya mementingkan kebutuhan pangannya sendiri terlebih dahulu daripada kepentingan negara lain. Oleh sebab itu, pemerintah harus merancang varietas padi umur pendek, tahan hama, dan produksinya tinggi, yang cocok ditanam di lahan kering pada saat musim kemarau basah.
Pemerintah juga harus segera menciptakan sendiri teknologi dryer (alat pengering) yang murah untuk penanganan pasca panen dalam keadaan iklim basah karena teknologi alat pengering, pada saat ini, ongkosnya masih dinilai mahal oleh mayoritas petani di Indonesia. Apabila hal tersebut bisa segera diwujudkan oleh pemerintah dalam waktu dekat atau beberapa tahun kedepan, maka akan menarik masyarakat petani di Indonesia untuk menggunakan dan memanfaatkannya, sehingga secara nasional akan dapat meningkatkan kualitas beras, mengurangi tingkat kehilangan, dan dapat meningkatkan rendemen.
Hal tersebut bisa terealisasikan apabila pemerintah secara serius menjalankan berbagai program pasca panen karena selama ini pemerintah dan masyarakat petani masih memfokuskan perhatiannya terlalu besar pada masalah budidaya. Hal ini terbukti dengan tidak adanya tindak lanjut yang serius pada penanganan infrastruktur, insentif, dan pasca panen setelah penanganan budidaya berhasil.
Beberapa negara sekarang mulai melakukan pengamanan stok pangannya untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakatnya. Strategi yang ditempuh adalah melakukan Impor pangan dalam jumlah tidak terlalu besar, karena jika mengimpor pangan dalam jumlah besar sekaligus, akan mendorong kenaikan harga beras di pasar dunia. Maka dari itu mereka melakukan impor pangan dalam jumlah kecil-kecilan dan terus ditingkatkan secara bertahap sampai mencapai jumlah tertentu yang dinilai cukup aman.
Untuk memperkuat cadangan beras ke depan, disarankan agar pemerintah tidak hanya memiliki beras satu kualitas (medium). Jadi cadangan beras pemerintah nantinya harus lebih dominan kualitas bagus (premium dan super). Dengan memiliki cadangan beras kualitas premium dan super, maka cadangan beras pemerintah dapat disimpan lama dan kualitasnya tidak turun. Sehingga kalau beras tersebut digunakan untuk operasi pasar, maka kualitasnya tetap bagus dan diminati konsumen. Dengan demikian operasi pasar beras akan efektif dapat menurunkan harga.
Pemerintah harus terus meningkatkan jumlah cadangan berasnya dari saat ini sekitar 500.000 ton menjadi 1 juta ton. Namun kalau hanya mengandalkan satu jenis beras medium saja yang dijadikan cadangan beras pemerintah, akan tidak efektif digunakan operasi pasar. Kalau pemerintah ingin melakukan pembelian beras multikualitas, maka harus didukung kebijakan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) berdasarkan multi kualitas. HPP multikualitas tersebut dapat digunakan untuk membeli beras kualitas premium dan super yang harganya lebih tinggi daripada beras kualitas medium pada musim panen gadu. Sedangkan HPP satu kualitas beras medium dan berlaku sepanjang tahun, tidak bisa digunakan untuk membeli beras premium dan super yang harganya lebih tinggi pada musim panen gadu. Akibatnya HPP satu kualitas beras medium yang berlaku saat ini menyulitkan Bulog untuk melakukan pengadaan/pembelian beras pada musim panen gadu. Padahal beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, India, dan Pakistan sudah memberlakukan HPP multikualitas.
Perlu untuk diketahui, menurut siaran pers yang disampaikan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, bahwa pemerintah menambahn dana ketahanan pangan dari satu triliun Rupiah menjadi tiga triliun Rupiah. Dua triliun dari tiga triliun dana tersebut akan digunakan untuk proses diversifikasi pangan, sementara satu triliun akan dipakai untuk pengadaan beras.
Menurut Witoro dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, berubah-ubahnya anggaran untuk pangan menunjukan pemerintah tidak pernah siap untuk mengatasi masalah pangan. “(Pemerintah) memang tidak punya strategi yang kuat untuk menghadapi berbagai krisis pangan baik nasional maupun internasional, selalu dadakan,” ujar Witoro. Menurutnya pemberian subsidi ini kurang tepat sasaran. “Subsidi satu triliun, dua triliun dan tiga triliun diberikan bukan kepada mereka yang rawan pangan khususnya para petani, produsen pangan skala kecil. (Tapi) lebih untuk kepentingan impor, terus mendorong industri-industri besar,” jelas Witoro. Witoro juga berpendapat, keadaan ironis hanya terjadi di Indonesia di mana petani yang berperan sebagai produsen justru harus mendapat jatah beras untuk masyarakat miskin (Raskin), karena mereka tak mampu membeli dengan harga di pasar. Kondisi seperti ini, menurutnya, terjadi karena ketidakmampuan pemerintah untuk mengalokasikan hasil kerja petani melalui kebijakan yang lebih baik. Menurutnya pemerintah seharusnya memahami bahwa petani, peternak dan nelayan adalah kelompok yang tidak butuh subsidi dalam bentuk pangan, melainkan akses mendapat kemudahan berbagai kebutuhan pendukung profesi mereka, seperti subsidi pupuk, benih dan pakan ternak. “(Yang dibutuhkan) bukan alat produksinya, tetapi akses terhadap sumber-sumber produksinya yang diperbaiki termasuk lahan, tetapi selama ini petani menerima raskin, itu kan membuat mereka tidak berdaya,” kata Witoro.
Sebelumnya Menteri Pertanian, Suswono menyatakan pemerintah selalu mendukung petani. Bahkan Menteri Suswono menambahkan, Indonesia masih jauh dari kondisi rawan pangan. “Mungkin nanti kita akan berusaha meningkatkan daya beli masyarakat, karena bahan pangan itu sesungguhnya ada,” jelas Menteri Pertanian.
Sementara itu menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas beras bisa secara signifikan mempengaruhi tercapai atau tidaknya target inflasi. Menurut Kepala BPS, Rusman Heriawan, komoditas beras harus dijaga agar tetap stabil baik harga maupun persediannya agar petani juga tidak dirugikan.“Inflasi kita itu banyak diwarnai oleh harga beras, bobot beras didalam perhitungan inflasi itu adalah yang tertinggi, artinya inflasi diwarnai oleh fluktuasi dari harga baras,” ungkap Rusman.
Akhir-akhir ini pemerintah sering melakukan rapat koordinasi tentang pangan. Pemerintah berulang kali menyampaikan bahwa perubahan cuaca secara ekstrim harus diantisipasi dengan berbagai cara, agar persediaan pangan tetap terjamin. Bahkan dalam waktu dekat pemerintah akan meluncurkan program “Sehari Tanpa Nasi” untuk memuluskan program diversifikasi pangan. Program ini bertujuan agar masyarakat Indonesia terbiasa dengan aneka makanan pokok selain beras.
Berdasarkan hal yang tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa ketahanan pangan nasional bisa diwujudkan dengan tak hanya sekedar swasembada, tidak impor, dan subsidi, tapi juga diperlukan adanya totalitas dari semua komponen negara. Ketahanan pangan nasional perlu totalitas adalah harga mati.

Daftar pustaka:
http://www.majalahpangan.com/2010/04/mencari-ikon-pergerakan-nasionalisme-pangan-indonesia/

http://www.voanews.com/indonesian/news/Aktivis-Kebijakan-Pangan-Indonesia-Tidak-Terarah–105109989.html

http://cjfeed.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3801&Itemid=198

http://bisnis.vivanews.com/news/read/126699-indonesia_ingin_tak_bergantung_negara_lain

http://riaupos.com/news/2010/10/20/cuaca-ekstrem-ancam-pangan/

http://www.gomong.com/2010/10/21/6755/pemerintah-upayakan-diversifikasi-pangan/

http://bataviase.co.id/node/370682

http://us.suarapembaca.detik.com/read/2010/01/21/101047/1283088/471/ketahanan-pangan-butuh-totalitas

http://www.voanews.com/indonesian/news/Pemerintah-Naikkan-Dana-Ketahanan-Pangan-Menjadi-3-Trilyun-Rupiah-105213059.html

Yanuar rinaldi
Posted on 3rd November, 2010

Tugas Ekologi Pangan dan Gizi semester 5 tahun akademik 2010/201
Nama : Yanuar Rinaldi
Kelas : IKM A 2008
NIM : 100810301

Kisah nyata dikeluarga saya,
Sehat dengan konsumsi mengkudu

Kalau kebetulan di lingkungan rumah Anda banyak pohon mengkudu, mengapa tidak mencoba mengkonsumsi buah mengkudu segar? Berikut ada beberapa resep sehat dengan buah mengkudu yang bisa Anda coba.
Seperti yang telah keluarga saya lakukan, rumah kami berada di Candi-Sidoarjo. Terdapat pohon mengkudu didepan rumah saya. Tiap sore ayah saya selalu memetik buah mengkudu yang terlihat sudah masak dan bisa untuk dijus. Diantara bermacam-macam khasiat mengkudu yang akan saya sebutkan, alasan keluarga kami mengkonsumsi mengkudu adalah juga untuk menjaga vitalitas tubuh agar tidak mudah sakit.

Resep pertama. Buah mengkudu muda dibuat jus dengan cara diblender bersama air masak secukupnya. Untuk penambah rasa, bisa dibubuhi sedikit madu. Diminum 30 menit sebelum sarapan.

Berkhasiat untuk membersihkan endapan lemak darah, sehingga dapat menyembuhkan aterosklerosis dan stroke, serta mencegah serangan jantung Dapat membatasi penyerapan lemak, konsumsi dan pembentukan lemak di dalam tubuh, sehingga dapat membantu program pelangsingan. Selain itu dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan meredakan pikiran tegang dan stress, gelisah dan rasa tak nyaman.

Resep kedua. Buah mengkudu matang dihaluskan, campur dengan rimpang lempuyang parut, dan beberapa sendok makan air masak. Peras kemudian diminum

Berkhasiat untuk mengobati sakit kuning karena peradangan hati, radang ginjal, dan radang limpa karena serangan malaria Membantu membuang cairan empedu dan kolesterol berlebihan. Menyembuhkan radang saluran kencing, yang disebut anyang-anyangan (kencing sedikit-sedikit dan terasa nyeri).

Resep ketiga. Buah mengkudu matang yang telah dihaluskan dicampur dengan rimpang lengkuas parut, dan beberapa sendok makan air panas. Peras, lalu diminum. Untuk penambah rasa, bisa dibubuhi madu atau gula batu.
Berkhasiat untuk menurunkan demam karena flu dan masuk angin, terutama pada anak-anak, mengobati radang tenggorokan dan radang amandel.

Khasiat Buah Mengkudu diantaranya..
• Menstabilkan tekanan darah dan aras kolestrol - otot jantung
• Gangguan dalam tubuh - kencing manis, sakit kepala, ginjal, buah pinggang, pundi kencing, pundi hempedu dan tiroid
• Mencegah pertumbuhan sel kanser dan tumor
• Sistem pernafasan - resdung, asthma, bronkitis, hingus meleleh, batuk, sakit tekak, batuk kering, kolera dan bayi yang demam selsema
• Gangguan penghadaman - perut kembung, ulcer, gastrik, cirit-beret, muntah-muntah, tidak hadam, buasir, keracunan makanan
• Mulut dan Tekak - radang tekak, sakit gusi dan sakit gigi
• Sakit tulang dan sendi - terseliuh dan gout
• Penyakit kulit - bisul, luka, kurap, radang, ulser kulit
• Sakit puan - senggugut, gangguan haid
• Menghilangkan gatal - celah kelangkang, pelipatan, ulat air dan penyakit kulit
• Memulihkan kesan umum penuaan (awet muda)
• Menghilangkan ketagihan dadah dan rokok
• Membantu sistem kesuburan lelaki dan wanita
• Meredakan kesakitan (analgesik)
• Meningkatkan tenaga tubuh badan
• Mengurangkan stress (tekanan)
• Anti-oxidant
Melalui riset intensif yang dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium, mengkudu menunjukkan keunggulan yang luar biasa.Tanaman ini mengandung berbagai vitamin, mineral dan enzim, alkaloid, ko-faktor dan sterol tumbuhan yang terhentuk secara alamiah. Selain itu, daun dan akar mengkudu mengandung asam amino utuh yang merupakan sumber protein utama.

Survei yang dilakukan oleh Dr. Neil Solomon terhadap 8000 pengguna sari buah mengkudu dengan melibatkan 40 dokter dan praktisi medis lainnya menun¬jukkan bahwa sari buah mengkudu membantu pemulihan sejumlah penyakit, antara lain : kanker, penyakit jantung, gangguan pencernaan, diabetes, stroke, dan sejumlah penyakit lain yang ditunjukkan pada Tabel berikut.
Kondisi Jumlah Pasien % tertolong
1. Kanker 874 67
2. Sakit jantung 1058 80
3. Stroke 983 58
4. Diabetes, tipe 1&2 2434 83
5. Lesu 7 931 91
6. Peningkatan daya seksual 1545 88
7. Penguatan otot 709 71
8. Kegemukan (ohesitas) 2638 72
9. Tekanan darah tinggi 721 87
10. Perokok 447 58
11. Artritis 673 80
12. Nyeri 3785 87
13. Depresi 781 77
14. Alergi 851 85
15. Masalah pencernaan 1509 89
16. Masalal pernapasan 2727 78
17. Sulit tidur 1148 72
18. Lemah konsentrasi 301 89
19. Peningkatan perasaan sehat 3716 79
20. Kestabilan mental 2538 73
21. Sakit ginjal 2127 66
22. Stress 3273 71

» Data di atas di sadur dari buku Liquid Island Noni(M. citrifolia ), The Tropical Fruit with 101 Medical Uses.

» % tertolong adalah pasien yang mengalami peningkatan kesehatan atau merasakan adanya perubahan dalam tubuh mereka balk secara obyektif maupun subyektif setelah rnengkonsumsi sari buah mengkudu.

Perhatian:
Buah mengkudu hanya membantu mengurangkan atau meredakan penyakit diatas dan bukannya menjamin menghilangkan penyakit. Ini adalah kerana tiada kajian saintifik keatas semua penyakit tersebut yang diiktiraf oleh kerajaan Malaysia atau mana-mana badan didunia.
Perlu diingat, kesannya bergantung kepada tindak-balas badan setiap individu dan lama mana ia telah menghadapi penyakitnya. Jadi, untuk penyakit yang kronik atau sudah lama, ia mungkin mengambil masa yang lama. Oleh itukesabaran adalah diperlukan dengan terus menggunakannya, insyallah.

Daftar pustaka:

http://www.ekafood.com/obat%20tradisional.htm

Maulidiah Ihsan (100810009) IKM A
Posted on 4th November, 2010

oleh : Maulidiah Ihsan / 100810009 IKM A

UBI JALAR SEBAGAI PANGAN SEDERHANA YANG BERMUTU TINGGI

Ubi jalar atau sweet potatoes (Ipomoea batatas) banyak dipandang remeh oleh sebagian besar orang . Padahal, ubi ini mengandung beragam zat gizi yang sangat baik bagi tubuh. Ubi jalar menyimpan khasiat yang lebih dahsyat untuk menjaga kesehatan tubuh.
Ubi jalar yang di beberapa daerah disebut telo rambat atau huwi boled, merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan kita. Kita mengenal ada beberapa jenis ubi jalar. Jenis paling umum adalah ubi jalar putih. Selain itu, ada juga yang ungu maupun merah atau tepatnya kekuningan hingga jingga alias oranye. Di tatar Sunda kita mengenal ubi cilembu yang terkenal manis dan dagingnya bertekstur lembut.
Adapun beberapa keistimewaan dari ubi jalar diantaranya adalah:
Sumber karbohidrat
Ubi jalar selain sebagai sumber karbohidrat yang baik, juga sebagai sumber serat pangan yang sangat diperlukan tubuh. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar termasuk dalam klasifikasi low glycemix index (LGI, 54), artinya ubi ini sangat cocok untuk penderita diabetes karena kandungan gulanya sederhana. Oleh karena itu meskipun sebagi sumber karbohidrat mengonsumsi ubi jalar tidak secara drastis menaikkan kadar gula darah, berbeda dengan sifat karbohidrat pada beberapa jenis makanan yang mengandung glycemix index yang tinggi, seperti beras dan jagung.
Kandungan serat yang tinggi
Keistimewaan ubi ini juga terletak pada kandungan seratnya yang sangat tinggi. Serat sangat baik untuk mencegah kanker saluran pencernaan dan mengikat zat karsinogen penyebab kanker di dalam tubuh. Serat yang terdapat pada ubi jalar merah termasuk serat larut yang menyerap kelebihan lemak/kolesterol darah sehingga kadar lemak “jahat” dalam darah tetap aman terkendali. Serat alami oligosakarida yang tersimpan dalam ubi jalar ini sekarang menjadi komoditas bernilai dalam pemerkayaan produk pangan olahan, seperti susu. Selain mencegah sembelit, oligosakarida memudahkan buang angina sehingga muncul persepsi dimasyarakat bahwa kalu banyak makan ubi menjadi sering kentut. Hanya pada orang yang sangat sensitif oligosakarida ini mengakibatkan kembung.
Betakaroten tinggi
Ubi jalar mengandung betakaroten yang tinggi. Betakaroten merupakan bahan pembentuk vitamin A dalam tubuh. Ubi jalar putih misalnya mengandung 260 mkg (869 SI) betakaroten per 100 gram, ubi jalar merah yang berwarna kuning emas tersimpan 2.900 mkg (9.675 SI) betakaroten, ubi merah yang berwarna jingga 9.900 mkg (32.967 SI). Makin pekat warna jingganya. makin tinggi kadar betakarotennya. Bahkan, dibandingkan dengan bayam dan kangkung, kandungan vitamin A ubi jalar merah masih setingkat lebih tinggi
Secangkir ubi jalar merah kukus yang telah dilumatkan menyimpan 50.000 SI betakaroten, setara dengan kandungan betakaroten dalam 23 cangkir brokoli. Proses perebusan ubi jalar hanya merusak 10% kadar betakaroten, sedangkan penggorengan atau pemanggangan dalam oven dapat merusak betakaroten hingga 20%. Namun, penjemuran dapat menghilangkan hampir separuh kandungan betakaroten, sekitar 40%. Artinya, dengan menyantap seporsi ubi jalar merah kukus/rebus sudah dapat memenuhi kecukupan vitamin A 2.100 - 3.600 mkg sehari.Betakaroten sebagai provitamin A pada ubi jalar merah berkhasiat sebagai “obat mata”.
Mengendalikan produksi hormon melatonin
Manfaat lain ubi jalar merah mengendalikan produksi hormon melatonin yang dihasilkan oleh kelenjar pineal di dalam otak. Melatonin merupakan antioksidan andal yang menjaga kesehatan sel dan sistem saraf otak, sekaligus mereparasinya jika ada kerusakan. Keterbatasan produksi melatonin berbuntut menurunkan produksi hormon endokrin sehingga sistem kekebalan tubuh merosot. Kondisi ini memudahkan terjadinya infeksi dan mempercepat laju proses penuaan.
Kaya vitamin A dan vitamin E
Ubi jalar merah yang berlimpah vitamin A dan E dapat mengoptimalkan produksi hormon melatonin. Dengan rajin makan ubi jalar merah, ketajaman daya ingat dan kesegaran kulit serta organ tetap terjaga. Yang unik, kombinasi vitamin A (betakaroten) dan vitamin E dalam ubi jalar merah bekerja sama menghalau stroke dan serangan jantung.
Kandungan betakaroten pada ubi jalar dapat juga berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan yang tersimpan dalam ubi jalar merah mampu menghalangi laju perusakan sel oleh radikal bebas. Betakarotennya mencegah stroke, sementara vitamin E mencegah terjadinya penyumbatan dalam saluran pembuluh darah sehingga munculnya serangan jantung dapat dicegah.
Kaya antosianin
Keberadaan senyawa antosianin pada ubi jalar yaitu pigmen yang terdapat pada ubi jalar ungu atau merah dapat berfungsi sebagai komponen pangan sehat dan paling lengkap. Pigmen antosianin pada ubi jalar lebih tinggi konsentrasinya dan lebih stabil bila dibandingkan dengan antosianin dari kubis dan jagung merah.
Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Balitbang Pertanian, menunjukkan antosianin bermanfaat bagi kesehatan tubuh karena dapat berfungsi sebagai antioksidan, antihipertensi, dan pencegah gangguan fungsi hati, jantung koroner, kanker, dan penyakit-penyakit degeneratif, seperti arteosklerosis.
Antosianin juga mampu menghalangi laju perusakan sel radikal bebas akibat Nikotin, polusi udara, dan bahan kimia lainnya. Antosianin berperan dalam mencegah terjadinya penuaan, kemerosotan daya ingat dan kepikunan, polyp, asam urat, penderita sakit maag (asam lambung). Selain itu, antosianin juga memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah (antihiperglisemik).
Antosianin pada ubi jalar ungu juga memiliki fungsi fisiologis misal antioksidan, antikanker, antibakteri, perlindungan terhadap kerusakan hati, penyakit jantung dan stroke. Ubi jalar ungu bisa menjadi anti kanker karena didalamnya ada zat aktif yang dinamakan selenium dan iodin dan dua puluh kali lebih tinggi dari jenis ubi yang lainnya. Ubi jalar ungu memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri 2,5 dan 3,2 kali lebih tinggi daripada beberapa varietas.
Kandungan antosianin yang tinggi pada ubi jalar ungu serta mempunyai stabilitas yang tinggi dibanding anthosianin dari sumber lain, membuat tanaman ini sebagai pilihan yang lebih sehat dan sebagai alternatif pewarna alami. Beberapa industri pewarna dan minuman berkarbonat menggunakan ubi ungu sebagai bahan mentah penghasil anthosianin. Selain itu juga industri es krim, minuman beralkohol, pie dan roti.
Berdasarkan banyaknya manfaat yang ada diatas seharusnya ubi jalar ini mulai dilirik oleh masyarakat untuk diolah menjadi beberapa produk olahan yang dijual sehingga bisa meningkatkan ekonomi mmasyarakat. Sebenarnya hal ini bisa dilakukan di Indonesia yang mempunyai tanah yang subur yang cocok untuk pertumbuhan ubi jalar. Di beberapa negara ubi jalar sudah merupakan produk komersial yang cukup diminati. Beberapa negara maju telah lama memanfaatkan ubi jalar sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi dan secara ekonomis memiliki peluang pasar yang besar. Namun pemanfaatan pati ubi jalar ini belum banyak dikembangkan di Indonesia, seperti halnya di Jepang, Cina, dan Korea Selatan. Bahkan di Vietnam, industri mi di sana sudah menggunakan tepung ubi jalar sebagai bahan bakunya. Pati ubi jalar juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan (soun, bahan pengental, pengisi, pengikat, pemanis atau gula cair), kimia, kertas, tekstil bahkan sebagai bahan baku biodegradable plastic.
Untuk merintis usaha ini di Indonesia biasa dilakukan melalui usaha kecil yang berskala rumah tangga, produk yang bisa dihasilkan dari pengolahan ubi jalar yang disesuaikan dengan makanan khas Indonesia ini bisa digunakan sebagai pengganti tepung pada beberapa jenis makan yang berupa bakpao, klepon, dodol, mie, brownies, kripik, es cream, sirup dan beberapa produk makanan lain yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Pengolahan ubi jalar menjadi berbagai produk makanan ini bisa tergolong cukup mudah, sehingga bisa dilakukan oleh siapapun dengan keterampilan yang minimal. Bayangkan saja jika hal ini dilakukan para ibu rumah tangga yang umumnya tidak bekerja yang ada diperdesaan dimana terdapat ubi jalar yang melimpah , tentunya akan sangat membantu dalam penambahan pendapatan keluarga mereka sehingga bisa meningkatkan perekonomian mereka. Disinilah peran pemerintah dirasa penting untuk memmberi pelatihan keterampilan pada masyarakat terutama pada ibu- ibu rumah tangga yang ada di perdesaan agar dapat menjadikan ubi jalar menjadi produk makanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Dari hal ini bisa juga membantu pemerintah dalam mengentas pengangguran sehingga dari ubu jalar yang banyak dianggap remeh oleh sebagian besar orang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsir , Sunita . 2009. Dasar Imu Gizi . Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Anonymus, 2010. Ubi Jalar Kaya Zat Gizi dan Serat. http://www.radarbanjarmasin.com/berita.index. Diakses tanggal 21 oktober 2010

DYAN KARTIKA SARI (100810298) IKM A
Posted on 7th November, 2010

NAMA : DYAN KARTIKA SARI
NIM : 100810298 / IKM A
TUGAS EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
ANCAMAN KRISIS PANGAN DI INDONESIA
Indonesia merupakan salah satu Negara agraris yang memiliki potensi memajukan pertaniannya menuju keadaaan yang lebih baik. Berdasarkan data Departemen Pertanian, luas lahan sawah Indonesia mencapai 7,6 juta ha. Potensi ini juga didukung oleh kekayaan komoditas dan kesuburan lahan yang sangat baik. Pemerintah juga menargetkan swasembada pangan 2014 yang jika mengacu pada FAO (Food and Agriculture Organization) diistilahkan sebagai ketahanan pangan (food security).
Terjadinya kekurangan stok pangan nasional mempunyai dampak yang luas dalam pembentukan human capital, yaitu berkurangnya asupan makanan yang mempunyai kandungan gizi tinggi. Dampak selanjutnya akan mengurangi etos kerja, sehingga produktivitas nasional juga mengalami penurunan. Kelangkaan stok pangan dalam jangka panjang akan melemahkan sistem pertahanan negara yang berbasiskan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (SISHANKAMRATA).
Terjadinya kelaparan, kemiskinan dan kurang gizi akan terus menghantui manusia. Masalah tersebut mencerminkan berbagai tantangan yang sifatnya interdisipliner yang tidak kecil bentuknya, dan karenanya menuntut adanya pendekatan yang bersifat interdisipliner untuk mengatasinya. Ilmu dan teknologi akan mampu menyampaikan dan memberikan sumbangan yang besar dan berarti bagi perkembangan sosioekonomi hanya bila dalam mememcahkan masalah pelaksanaannya menggunakan pendekatan interdisipliner.
Permasalahan ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dengan sektor pertanian. Secara umum permasalahan pertanian meliputi beberapa aspek antara lain karena ketiadaan akses terhadap sumber-sumber produksi pangan, secara khusus negara sedang berkembang menghadapi kesulitan akses terhadap tanah sebagai sumber daya utama pertanian serta tingkat penguasaan teknologi budidaya dan pengolahan hasil pertanian.
Pemerintah Indonesia harus bergerak cepat untuk mengatasi ancaman krisis pangan yang akan melanda dunia tahun depan. Krisis pangan tersebut disebabkan oleh melambungnya harga bahan pangan, terjadinya kegagalan pangan di berbagai Negara dan akibat cuaca ekstrim.
Apalagi Indonesia harus meningkatkan produksi pangan menjadi 110-120 % dari kebutuhan beras nasional pada tahun depan dari tahun 2010 ini yang mencapai 95 %. Pertumbuhan kebutuhan pangan saat ini meningkat tajam tak sebanding dengan penyediaan sehingga bakal ada ketimpangan nyata.
Secara global kenaikan harga pangan dunia mencapai 35 persen. Meroketnya harga makanan dunia ini, disebabkan karena melambungnya harga benih jagung yang mencapai 36 persen, harga benih gandum yang mencapai 72 persen. Sedangkan pupuk melonjak hingga 59 persen dan harga pakan 62 persen.
Krisis pangan juga disebabkan karena cuaca ekstrim 2010. Tahun 2010 terdapat cuaca ekstrim di belahan dunia yang bisa berujung kelangkaan pangan, antara lain gelombang panas dan kebakaran hutan di Rusia (Juni 2010), banjir akibat hujan lebat di Pakistan, longsor akibat hujan lebat di China (7 Agustus 2010), pecahnya es di Greenland (5 Agustus 2010), kekeringan dan kebakaran di Australia, suhu panas di Amerika. Bahkan sampai pertengahan tahun depan intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrim akan lebih sering terjadi. Perubahan iklim global diproyeksikan akan berdampak pada produksi pangan. Saat ini negara-negara produsen cenderung mengamankan produksinya untuk kebutuhan dalam negeri.
Jika harga beras naik, maka kebutuhan untuk orang-orang yang tak mampu harus diamankan, dengan mempersiapkan program raskin. Apalagi saat ini India dan Filipina mengimpor banyak beras sehingga akan mendorong harga beras naik. Harga beras dunia saat ini telah mencapai US$ 630 perton, atau mendekati harga saat 1997-1998, yaitu US$ 1.000 perton.
Pengembangan sistem cadangan pangan dan distribusi pangan menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan. Karena tidak dipungkiri adanya kekurangan pasok pada musim musim tertentu di daerah-daerah tertentu. Karena itu peningkatan pengelolaan stok dan cadangan pangan nasional ataupun daerah harus ditingkatkan. Karena dalam beberapa tahun terakhir krisis pangan memang sudah mulai dirasakan. Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan jumlah penduduk yang kelaparan akibat kenaikan harga pangan pada tahun 2008 bertambah 50 juta orang dari angka tahun 2007.
Berbeda dengan tahun-tahun silam, krisis pangan saat ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor seperti meningkatnya permintaan produk pertanian sehubungan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi negara-negara berkembang, juga disebabkan oleh cepatnya ekspansi biofuel, kurangnya suplai produksi pangan akibat masalah iklim, terutama kekeringan dan banjir.
Tren-tren tersebut diperparah dengan berbagai kebijakan penghambat yang diambil oleh sejumlah negara eksportir untuk melindungi konsumennya serta faktor spekulasi di pasar berjangka. Sementara investasi pertanian yang mahal telah menghambat peningkatan produksi di negara-negara berkembang.
Indonesia harus waspada dalam menghadapi ketahanan pangan nasional pada masa-masa mendatang. Kewaspadaan yang harus dimiliki, adalah sumber instabilitas komoditas pangan saat ini yanq berasal dari pasar internasional. Hal itu terlihat pada naik-turunnya harga komoditas yang lebih dipicu oleh permainan para hedge fund tmjk.it dunia.
Saat ini komoditi sudah sedemikian canggih, harga bisa berubah hanya dalam sehari. Padahal yang ada saat ini adalah perpindahan kontrak komoditas dan tidak ada perdagangan komoditasnya. Indonesia sendiri menyadari bahwa swasembada pangan saat ini menjadi sangat penting dan tidak lagi berarti swasembada beras. Oleh karena itu, target produksi pangannya pun. tidak lagi hanya beras tetapi berbagai produk pangan yang bisa mengawali langkah diversifikasi pangan yang memang diperlukan.
Perlunya diversifikasi pangan khususnya beras, ini menjadi penting sejalan dengan krisis pangan yang terjadi di mana kita tidak lagi bisa sepenuhnya menggantungkan kebutuhan pangan kita pada produk impor. Data pertanian memang menunjukkan, kita punya potensi untuk mengurangi kebergantungan terhadap produk impor. Data Kementerian Pertanian menunjukkan Indonesia memiliki potensi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat. Ada puluhan jenis umbi-umbian yang biasa ditanam dan dikonsumsi rakyat Indonesia.
Dibandingkan dengan padi, membudidayakan umbi-umbian juga jauh lebih mudah dan murah. Sebagai contoh, menanam ubi kayu secara intensif membutuhkan biaya hanya sepertiga dari biaya budidaya padi. Di sisi lain, kandungan karbohidrat umbi-umbian juga setara dengan beras.
Umbi-umbian itu kemudian dapat diproses menjadi tepung. Dalam bentuk tepung, umbi-umbian dapat difortifikasi dengan berbagai zat gizi yang diinginkan. Bentuk tepung juga mempermudah dan memperlama penyimpanan hingga dapat tahan berbulan-bulan, bahkan hingga tahunan. Selain itu, dalam bentuk tepung akan mempermudah pengguna mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan siap saji dan menyesuaikannya dengan selera yang disukai.
Krisis pangan memang mengkhawatirkan siapapun dan negara manapun karena kebutuhannya tidak bisa ditunda dan bisa menimbulkan dampak yang mengerikan. Namun dibalik krisis ini, bagi Indonesia ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar adalah peluang untuk bisa membangun sektor pertanian agar bisa menjadi sektor yang tangguh.

Daftar Pustaka
Saragih, Bernatal. 2004. Mengatasi Gizi dan Pangan di Indonesia dengan Pendekatam Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Bogor
Anonim. 2010. Mengatasi Kebutuhan Pangan Dalam Negeri. http://www.bataviase.co.id. Jakarta

Yosi Triyanda Rizzal
Posted on 8th November, 2010

Yosi Triyanda Rizzal
IKM A 08/100810075

Progam Diversifikasi Pangan di Indonesia

Indonesia adalah negara agraris.Jawa sebagai pusat pertanian telah mengusahakan sistem perladangan dan sistem persawahan. Di pedalaman Jawa saat itu, sistem persawahan telah sangat berkembang. Sementara semakin ke timur atau ke barat, sistem itu mulai banyak berkurang. Sistem persawahan dianggap lebih maju daripada perladangan karena dapat menghasilkan komoditi yang lebih banyak dan lebih terkontrol dengan satu jenis tanaman, padi misalnya.
Saat harga hasil perkebunan di pasaran dunia naik, sektor pertanian di dalam negeri mulai turun dan melemah. Tanah dan pekerja tidak lagi digunakan untuk memproduksi tanaman pangan untuk rakyat, melainkan didorong untuk terus memproduksi tanaman yang laku di pasar dunia seperti tebu, kopi, nila dan tembakau. Ketersediaan bahan pangan pokok bagi bangsa Indonesia semakin menipis seiring meningkatnya produksi bahan-bahan di atas. Selain itu ketergantungan pada beras sebagai makanan pokok semakin memperburuk keadaan. Produksi beras banyak berkurang karena lahan untuk beras banyak dialihkan untuk menanam tanaman-tanaman di atas. Karena itu penduduk desa semakin bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara meningkatkan produksi tanaman pangan di lahan yang sangat terbatas.
Sebagai kebutuhan dasar manusia, pangan memegang peranan penting di kehidupan masing-masing. Pemenuhan pangan yang berkualitas dan tercukupi menjadi hak azasi setiap warga negara demi melaksanakan pembangunan yang berkualitas pula. Dari pemahaman di atas tentang ketahanan pangan, keterbatasan pangan pada individu saja telah mencerminkan keterbatasan pangan pada tingkat masyarakat juga.
Ketergantungan akan beras sebagai makanan pokok bangsa Indonesia yang diimbangi dengan keterbatasan
produksi beras domestik menyebabkan tingginya angka impor beras dari tahun ke tahun. Walaupun beberapa tahun lalu pemerintah telah menekan angka impor beras sebesar mungkin dengan swasembada beras besar-besaran, tetapi masih saja tidak dapat memenuhi kebutuhan beras dalam negeri.
Tak hanya beras, hal yang sama juga menimpa kedelai, gandum bahkan singkong yang notabenenya adalah bahan pangan yang banyak terdapat di Indonesia. Kedelai dan singkong juga termasuk salah satu komoditi yang semakin banyak diimpor oleh Indonesia. Di sisi lain juga angka impor gandum dari tahun ke tahun semaikin tinggi karena Indonesia belum bisa dan belum berkeinginan memproduksi gandum dalam jumlah yang besar.

Tabel 1: Beberapa Komoditas Pangan yang Masih Diimpor Indonesia
NNo. Nama Komoditas Kebutuhan / Tahun
1 Beras 2 juta ton
2 Kedelai 1,2 juta ton
3 Gandum 5 juta ton
4 Kacang Tanah 800 ribu ton
5 Kacang Hijau 300 ribu ton
6 Gaplek 900 ribu ton
7 Sapi 600 ribu ton
8 Susu 964 ribu ton (70%)

Dengan potensi sumberdaya alam yang cukup melimpah, sebenarnya negara kita dapat mencukupi seluruh kebutuhan pangan dalam negeri asalkan dapat mengelolanya dengan bijak. Dari penjelasan di atas, dalam sejarah bangsa memang telah dijelaskan, konsumsi beras yang berlebihan juga disebabkan karena ketergantungan pada beras sebagai bahan pangan utama, padahal masih banyak lagi sumber pangan pokok yang cukup melimpah di negeri ini, seperti singkong dan jagung.
Ketersediaan beras sebagai makanan pokok di Indonesia sangatlah penting dan harus diperhatikan. Angka impor beras Indonesia terbilang sangat tinggi walaupun beberapa tahun terakhir ini sudah mulai menurun. Berarti, konsumsi beras dalam negeri jauh melebihi kapasitas dan kemampuan produksinya. Hal ini sangat mengganggu ketahanan pangan negara, karena kebutuhan pangan masih sangat tergantung pada negara lain.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi beras nasional adalah dengan pemeliharaan kapasitas sumberdaya lahan dan perairan, perluasan lahan baku produksi, peningkatan intensitas tanam, peningkatan produktifitas dan penekanan kehilangan hasil. Selain itu upaya untuk memelihara kapasitas produksi dapat dilakukan dengan cara rehabilitasi sistem irigasi, menekan alih fungsi lahan ke non-pertanian serta membuka lokasi pertanian baru. Dan yang terakhir upaya memacu peningkatan produktifitas usaha pangan mencangkup; (i) penciptaan varietas unggul baru dan teknologi berproduksi yang lebih efisien; (ii) teknologi pasca panen untuk menekan kehilangan hasil; dan (iii) teknologi yang menunjang peningkatan intensitas tanam.

Diversifikasi Pangan
Program diversifikasi pangan sebenarnya telah ada puluhan tahun yang lalu, namun kebijakan ini mengalami pasang surut. Kekuatan utama program ini adalah adanya kebijakan tertulis dan tujuan diversifikasi pangan baik dalam Repelita (sebelum tahun 2000), dalam Propenas (setelah tahun 2000) dan dalam dokumen rencana strategis berbagai instansi di jajaran Deptan, Deperindag, dan Depkes.
Program ini bertujuan untuk mengalihkan sebagian konsumsi karbohidrat masyarakat dari beras menuju sumber pangan pokok non-beras sebagai upaya untuk mengurangi konsumsi beras dalam negeri. Ini dapat dilakukan dengan suatu penggalakan gerakan dengan memanfaatkan sumber kalori, protein dan karbohidrat lainnya yang dapat diproduksi secara lokal.
Masih banyak sumber pangan lokal yang memiliki kalori, protein dan karbohidrat yang cukup tinggi selain beras. Diantaranya adalah singkong, jagung, ubi kayu, talas, ubi jalar, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau.
Selain peraturan, pemerintah juga melakukan aneka kegiatan yang terkait dengan diverfisikasi pangan. Pada tahun 1969 pemerintah mempopulerkan slogan pangan bukan hanya beras lewat proyek Applied Nutrition Program. Tujuannya, dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan pangannya agar tidak terjadi kelaparan. Pada saat yang sama, pemerintah juga mengenalkan beras tekad yang dibuat dari singkong, untuk mengganti beras.
Puncak dari produk legislasi yang terkait diversifikasi pangan adalah keluarnya UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan. Pada Bab VII Pasal 46 UU ini mengamanatkan, untuk mewujudkan ketahanan pangan, pemerintah –antara lain—menetapkan dan menyelenggarakan kebijakan mutu pangan nasional dan penganekaragaman pangan. Amanat ini kembali diperkuat dalam UU No 25 Tahun 2000 tentang Propenas tahun 2000-2004. Operasionalisasi peraturan ini dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Pada tahun 2001 juga telah dibentuk Dewan Ketahanan Pangan (DKP) yang dipimpin langsung Presiden. Untuk merumuskan kebijakan, mengevaluasi dan mengendalikan penyediaan, distribusi, cadangan, dan penganekaragaman pangan dikeluarkan PP No 83/2006 tentang DKP.
Meskipun sudah dirintis sejak 1960-an, hasil-hasil kebijakan diversifikasi pangan belum memuaskan. Pola pangan lokal telah ditinggalkan, berubah ke pola beras dan pola mie (terigu). Penelitian Sumarno menunjukkan, selain mayoritas pola pangan beras, masih ada dua pola pangan minoritas. Pertama, pola beras, jagung dan singkong di Nusa Tenggara Timur. Kedua, pola beras, ubi dan sagu di Maluku dan Papua. Di Banjarnegara, Wonosobo dan bagian timur Jawa Timur ditemukan kantong-kantong daerah jagung. Juga ada pola pangan utama sagu dan ubi-ubian yang masih bertahan di beberapa daerah terisolir.
Setidaknya, ada tiga penyebab mengapa diversifikasi pangan jauh dari berhasil. Pertama, kebijakan pangan bias pada beras. Sepanjang Orde Baru, dan terus berlanjut sampai kini, beras adalah segala-galanya. Fokus kebijakan at all cost pada beras. Kedelai, jagung, ketela pohon, ubi jalar, sagu, sorgum dan yang lain sifatnya sekunder.
Kedua, kebijakan diversifikasi pangan tidak konsisten, bahkan bersifat kontra. Aneka kampanye diversifikasi pangan yang dilakukan para elite atau pejabat sering tidak menyentuh masyarakat luas. Upaya penganekaragaman yang dilakukan pemerintah pun nampak paradoks. Karena di saat yang sama, semua pegawai negeri di seluruh Indonesia, termasuk TNI, mendapat jatah beras. Bahkan, bantuan pangan untuk rakyat miskin juga diberikan dalam bentuk beras. Ini terjadi pada program Raskin. Kebijakan paradoksal ini punya andil mempercepat pergeseran pola pangan pokok beragam etnis di daerah ke pangan beras. Warga NTT, NTB, Papua dan Madura yang terbiasa makan jagung dan umbi-umbian secara turun-temurun, karena di-“paksa” makan beras, akan berubah ke beras.
Ketiga, ketidakseimbangan antara pola konsumsi pangan dengan penyediaan produksi/ketersediaan pangan di masyarakat. Produksi berbagai jenis pangan tidak dapat dihasilkan di semua wilayah dan tidak dapat dihasilkan setiap saat. Di sisi lain, konsumsi pangan dilakukan semua warga dan dibutuhkan setiap saat. Ketidakseimbangan sebaran wilayah produksi dan pola konsumsi itu, antara lain, menyebabkan belum tercapainya konsumsi penduduk sesuai dengan standar ideal konsumsi pangan.

Daftar pustaka
http://yogasetiawan.blogspot.com/2010/05/kategori-pertanian-dan-pangan.html
http://www.majalahpangan.com/2010/04/mewujudkan-kedaulatan-pangan-melalui-diversifikasi-pangan-3/

marinda wibisono
Posted on 8th November, 2010

Marinda Wibisono
100810364
IKM B 2008

MIE INSTAN DAN MASYARAKAT
Mie adalah nama generik. Orang Eropa menyebut pasta (dari bahasa Italia) secara generik, dan noodle (bahasa Inggris) untuk pasta yang berbentuk memanjang. Namun begitu, di Eropa bahan baku mi biasanya dari jenis-jenis gandum, sementara di Asia bahan baku mie lebih bervariasi. Berbagai bentuk mie dapat ditemukan di berbagai tempat. Perbedaan mie terjadi karena campuran bahan, asal-usul tepung sebagai bahan baku, serta teknik pengolahan. Berikut ini adalah jenis-jenis mi (dan makanan dari mi) yang cukup dikenal.
Bihun (Tiongkok, tepung beras), Dangmyeon (Korea, tepung ubi jalar), Fettuccine (Italia), Kwetiau (Tiongkok, tepung beras), Makaroni (Italia), Mi instan, Mi sagu, Ramen (Jepang), Reshteh (Timur Tengah), Soba (Jepang, tepung buckwheat), Somyeon (Korea, tepung gandum), Spageti (Italia)
Orang Italia, Tionghoa, dan Arab telah mengklaim bangsa mereka sebagai pencipta mi, meskipun tulisan tertua mengenai mi berasal dari Dinasti Han Timur, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Pada Oktober 2005, mi tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai, Tiongkok
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, mie merupakan makanan yang akrab di telinga dan dapat dijumpai hampir di seluruh pelosok negeri. Mie disajikan dalam banyak variasi dan inovasi. Tidak asing di telinga masyarakat nama – nama seperti mie ayam, mie kocok, pangsit mie, mie kuah, mie instan yang beraneka rasa, dan sebagainya.
Saat ini, Indonesia adalah produsen mi instan yang terbesar di dunia. Dalam hal pemasaran, pada tahun 2005 Tiongkok menduduki tempat teratas, dengan 44,3 milyar bungkus, disusul dengan Indonesia dengan 12,4 milyar bungkus dan Jepang dengan 5,4 milyar bungkus.
Mi instan sudah merupakan salah satu makanan terfavorit warga Indonesia. Bisa dipastikan hampir setiap orang telah mencicipi mi instan atau mempunyai persediaan mi instan di rumah. Bahkan tak jarang orang membawa mi instan saat ke luar negeri sebagai persediaan “makanan lokal” jika makanan di luar negeri tidak sesuai selera.
Mengenai mie instan yang kabarnya berbahaya untuk dikonsumsi, hal ini sedikit membuat kecewa para penggemar mi instan. Isu mengenai bahaya pada mie instant yang membuat hati para pecinta makanan siap saji itu tak tenang.
Dibalik kelezatannya banyak persepsi salah yang beredar seputar mie instant, ada penjelasan lain menurut Prof.Dr.F.G.Winarno, mantan Presiden Codex Dunia & Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman) mengenai mie instant:
Pertanyaan : Mie instant mengandung lilin. Oleh karena itu, ketika dimasak airnya menguning.
Jawaban : SALAH. Mie instant tidak menggunakan lilin. Lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Lilin sebenarnya ada pada makanan alami, spt apet/kubis. Kubis jika dicuci dengan air tidak langsung basah, atau apel yang jika di gosok akan mengilap. Itulah lilin yang memang diciptakan alam
Pertanyaan : Mie instant menggunakan bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan.
Jawaban : Dalam proses pembuatannya mie instant menggunakan metode khusus agar lebih awet, namun sama sekali tidak berbahaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu cara pengawetan mie instant adalah deep frying yang bisa menekan rendah kadar air(sekitar 5%). Metode lain adalah air hot drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mie instant bisa awet hingga 6 bulan. asalkan kemasannya terlndung secara sempurna. Kadar air yang sangat minim ini, tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup apalagi berkembang biak. Malah mie instant tidak beraroma tengik serta tidak menggumpal basah. Langkah terakhir untuk memastikan mie instant layak konsumsi adalah perhatikan dengan seksama tanggal kadaluarsanya
Pertanyaan : Metode dua air terpisah adalah cara terbaik memasak mie
Jawaban : Justru air rebusan mie pertama yang mengandung kandungan takaroten yang tinggi. Semua vitamin (dari minyak dan bumbu) yang larut dalam air terdapat dalam air rebusan pertama ketika memasak mie. Apabila air rebusan di ganti dengan air matang baru, semua vitaminnya menghilang. Selain itu, minyaklah yang membuat mie (atau makanan lain) lebih enak. Jadi air rebusan pertama tidak perlu dibuang. Dan kandungan betakaroten juga tecoferol dalam minyak sangat berguna memenuhi kebutuhan gizi
Pertanyaan : Penggunaan styrofoam berbahaya bagi kesehatan, apalagi jika styrofoam terkena air panas, seperti ketika memasak mie instant dalam cup.
Jawaban : Styrofoam untuk mie instant cup terbukti aman di gunakan, karena telah melewati standar BPOM ( Badan Pengawas Obat dan Makanan. Cup yang dipakai mie instant adalah styrofoam khusus untuk makanan. ia memang bisa menyerap panas, ini terbukti setelah di seduh air panas, tidak terasa panas di tangan ketika dipegang. Tetapi karena proses pressingnya memenuhi standar, tidak menyebabkan molekul styrofoam larut (rontok) bersama mie instant yang di seduh air panas. Jadi, jika selama ini khawatir dengan mie instant menempel pada cupnya ketika di seduh air panas, sematamata disebabkan tingginya kadar minyak dalam mie (sekitar 20%). Desain pun dibuat berbeda yaitu dengan menambahkan gerigi dibagian atas cup, sehingga tak langsung panas di tangan. Selain itu, expandable polysteren yang di gunakan mie instan cp telah melewati penelitan BPOM dan Japan Environment Agency sehingga memenuhi syarat untuk mengemas produk pangan. Berdasar penelitian tsb, kemasan ini aman digunakan.

Pertanyaan : Mie instant kenyal karena bahan bakunya adalah karet.
Jawaban : Sama sekali tidak ada bahan karet dalam bahan baku mie instant. Mie instant dibuat dari bahan bahan berkualitas tinggi dan pilihan terbaik seperti tepung terigu yang sudah difotifikasi dengan zat besi, zinc, vitamin B1,B2 dan asam folat. Begitu pula dengan bumbu, yaitu bawang merah, cabe merah, bawang putih, dan rempahrempah. Pembuatannya pun digarap serius. Melewati proses pengeringan yang telah dipaparkan sebelumnya, seperti hot air drying atau deep frying. Karena itulah mie instan kenyal dan tidak mudah putus.
Meskipun demikian bukan berarti mi instan layak untuk dikonsumsi setiap hari. Tetap ada bahan pengawet yang digunakan di dalam komposisi mi instan dan akan menjadi berbahaya jika dikonsumsi setiap hari. Keseimbangan dalam mengonsumsi makanan sehari – hari juga harus diperhatikan guna mencukupi kebutuhan gizi dalam tubuh.
Selanjutnya, segalanya diserahkan kepada konsumen dalam memilih apa yang akan di makan dan apa yang akan dikonsumsi. Pertanyaannya adalah apakah Anda sudah cukup bijak dalam memilih produk apa yang akan Anda konsumsi?

daftar pustaka:
gugling.com/5-mitos-seputar-mie-instant.html
id.wikipedia.org/wiki/Mi_instan
oase.kompas.com/read/2010/10/14/…/Gaduh.Mie.Instan
http://lecturer.eepis-its.edu/~tessy/index.php?option=com_content&task=view&id=44&Itemid=2
id.wikipedia.org/wiki/Mi_(makanan)

M. RIDWAN ARIFIN
Posted on 8th November, 2010

Ketahanan pangan merupakan salah satu indikator yang harus dicapai untuk memperkuat posisi ekonomi suatu Negara.Indonesia, suatu Negara dengan potensi sumber daya alam melimpah, tentu permasalahan ketahanan pangan dapat mudah diatasi jika mampu mengelola sumber daya alam dengan baik.Berdasar dari keanekaragaman kebudayaan dan sumber pangan spesifik, strategi pengembangan pangan di Indonesia perlu diarahkan pada potensi sumber daya wilayah (lokal).Hal ini dikarenakan banyak bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi gizi dan komponen bioaktif yang baik, namun belum termanfaatkan secara optimum. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut.
Penelitian tentang karakterisasi dan potensi pemanfaatan komoditas pangan minor masih sangat sedikit dibandingkan komoditas pangan utama, seperti padi dan kedelai.Labu kuning atau waluh (Cucurbita moschata), yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Pumpkin, termasuk dalam komoditas pangan yang pemanfaatannya masih sangat terbatas.Tingkat konsumsi labu kuning di Indonesia masih sangat rendah, kurang dari 5 kg per kapita per tahun
Tanaman labu tumbuh merambat dengan daun yang besar dan berbulu.Pucuk daun dan daun muda dapat digunakan sebagai bahan sayuran yang lezat, bisa dimakan sebagai sayuran bersantan, oseng-oseng, atau gado-gado.Selain daun, bagian dari tanaman ini yang memiliki nilai ekonomi dan zat gizi terpenting adalah buahnya.Ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima Duchenes, Cucurbita ficifolia Bouche, Cucurbita mixta, Cucurbita moschata Duchenes, dan Cucurbita pipo L. Kelima spesies cucurbita tersebut di Indonesia disebut labu kuning (waluh) karena mempunyai ciri-ciri yang hampir sama.
Labu kuning tergolong bahan pangan minor, namun di beberapa sentra produksi, baik di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan, komoditas ini telah ditanam pada luasan tidak kurang dari 300 hektar. Penanaman labu dapat dilakukan di tanah tegalan, pekarangan, maupun di sawah setelah panen padi, baik monokultur maupun tumpangsari.
Labu ditanam di tanah petak-petak, dengan mengatur tanaman berjajar, jarak tanam antara 1-1,5 meter. Dalam satu hektar dapat ditanami sekitar 5.000 tanaman.
Untuk jenis lokal, buah Labu kuning dapat dipanen pada umur 3-4 bulan, sedangkan jenis hibrida, seperti labu kuning taiwan, pada umur 85-90 hari. Apabila ditanam secara monokultur, tiap hektar lahan dapat menghasilkan buah sekitar 50 ton per musim.Buah labu kuning berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang dengan banyak alur (15-30 alur).Ukuran pertumbuhannya cepat sekali, mencapai 350 gram per hari.Buahnya besar dan warnanya bervariasi (buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua kuning pucat). Daging buah tebalnya sekitar 3 cm dan rasanya agak manis. Bobot buah rata-rata 3-5 kg.Untuk labu ukuran besar, beratnya ada yang dapat mencapai 20 kg per buah.Biji labu tua dapat dikonsumsi sebagai kuaci setelah digarami dan dipanggang.
Buah labu kuning mempunyai kulit yang sangat tebal dan keras, sehingga dapat bertindak sebagai penghalang laju respirasi, keluarnya air melalui proses penguapan, maupun masuknya udara penyebab proses oksidasi. Hal tersebut menyebabkan labu kuning relatif awet dibanding buah-buahan lainnya. Daya awet dapat mencapai enam bulan atau lebih, tergantung pada cara penyimpanannya.

Kandungan Gizi Labu Kuning

a. Vitamin A dan Beta Karoten.
Beta karoten adalah pigmen warna kuning-oranye yang jika dicerna di dalam tubuh kita, akan berubah menjadi vitamin A. fungsi vitamin A dan beta karoten antara lain berguna bagai kesehatan mata dan kulit, kekebalan tubuh serta reproduksi. Selain itu, zat gizi ini mempunyai manfaat sebagai antiokasidan sehingga dapat mengutangi risiko terjadinya kanker dan penyakit jantung.
b. Vitamin C
Salah satu jenis vitamin yang larut dalam air ini, sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh.Vitamin C juga berperan pada fungsi kekebalan tubuh dan sebagai antioksidan.
c. Zat Besi
Zat gizi ini terutam diperlukan dalam pembentukan darah, khususnya hemoglobin (Hb).
d. Kalium
Fungsi utama kalium adalah menunjang kelancaran metabolisme tubuh.Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan air dan elektrolit (asam-basa) di dalam sel tubuh.Potassium juga disebut-sebut mineral yang mampu menurunkan risiko terkena hipertensi.
e. Zinc
Mineral ini mampu meningkatkan sistem imun (pertahanan) tubuh.Belum lagi kemampuannya menurunkan risiko osteoporosis, karena zinc berperan dalam mendukung kepadatan tulang.
Kelebihan lain dari labu kuning adalah kandungan seratnya yang tinggi, bermanfaat mengurangi resiko sembelit. Selain itu serat, menurut hasil penelitian, juga menurunkan risiko kanker dan penyakit jantung.Di samping itu, kandungan lemak labu kuning juga rendah sehingga tidak perlu takut mengalami kegemukan asal dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.Selain dagingnya, biji labu kuning juga mempunyai manfaat, yakni meringankan gejala arthritis, karena di dalamnya terkandung zat anti-peradangan.

Makanan Olahan Labu Kuning

Buah Labu dapat digunakan sebagai sayur, sup, atau desert.Masyarakat umumnya memanfaatkan labu yang masih muda sebagai sayuran (lodeh, asem-asem, brongkos).Olahan tradisional yang paling dikenal dari labu kuning ialah kolak.Buah yang sudah tua digunakan sebagai campuran dalam membuat bubur Manado dan sayur bayam ala Sulawesi Selatan.Labu kuning setelah dikukus dapat dibuat aneka makanan tradisional, seperti dawet, lepet, jenang, dodol, dan lain-lain.Sebagai minuman, Labu kuning dapat diolah menjadi jus atau sari buah labu kuning. Selain itu, labu kuning dapat pula diolah menjadi beragam makanan lain misalnya: es krim, saus sambal, sup, manisan kering dan aneka macam kue.
Sesuai namanya, labu kuning mempunyai warna kuning atau jingga akibat kandungan karotenoid yang sangat tinggi.Itulah sebabnya air perasan labu kuning sering digunakan sebagai pewarna alami dalam pengolahan berbagai makanan tradisional.Tepung labu juga sering dicampurkan ke dalam berbagai produk olahan untuk mendapatkan warna kuning.Karotenoid dalam buah labu sebagian besar berbentuk betakaroten.

Air perasan buah dipercaya dapat mengobati luka akibat racun binatang. Sekitar 500-800 biji segar tanpa kulit bisa digunakan sebagai obat pembasmi cacing pita pada orang dewasa. Kadang-kadang diberikan sebagai obat emulsi (diminum beserta obat pencahar), setelah dicampur dengan air.Pengobatan demikian amat berkhasiat dan aman tanpa efek sampingan.Biji labu dikenal sebagai Semen Cucurbitae, yang kaya minyak dan dapat digunakan sebagai obat cacing pita. Kegunaan lain labu kuning adalah untuk obat digigit serangga berbisa (daging buah dan getahnya), disentri, dan sembelit. Labu kuning juga dapat digunakan untuk penyembuhan radang, pengobatan ginjal, demam, dan diare.Berdasarkan pemanfaatan labu kuning secara empiris dan turun-temurun untuk berbagai pengobatan, diduga komoditas ini mempunyai berbagai komponen bioaktif yang perlu dibuktikan secara ilmiah.
Untuk meningkatkan nilai ekonominya buah Labu Kuning dapat diubah menjadi produk olahan setengah jadi berupa tepung labu. Selain sebagai metode pengawetan hasil panen, tepung labu merupakan bahan baku yang fleksibel untuk industri pengolahan lanjutan, aman dalam distribusi, serta hemat ruang dan biaya penyimpanan. Kelebihan lain dari tepung labu adalah mudah dicampur (dibuat komposit), dibentuk, diperkaya zat gizi, dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis. Tepung labu kuning mempunyai sifat spesifik dengan aroma khas.Secara umum, tepung tersebut berpotensi sebagai pendamping terigu dan tepung beras dalam berbagai produk olahan pangan.Produk olahan dari tepung labu kuning mempunyai warna dan rasa yang spesifik, sehingga lebih disukai oleh konsumen.
Andaikata setiap hari per orang memakan 70 gram labu kuning, itu cukup untuk memenuhi jumlah asupan vitamin A yang diperlukan oleh tubuh. Kalau buah ini dibuat tepung, cukup hanya mengonsumsi 2,5 gram per hari,” kata Dr Ir Murdijati Gardjito, ketua Kelompok Pemerhati Labu Kuning Yogyakarta.

Daftar pustaka
Rahma. 2008. Aneka Manfaat dan Kandungan Labu Kuning. http://srahma.blogspot.com. [3 November 2010]
. 2010. Kandungan Gizi Labu Kuning. http://www.ayahbunda.co.id. [3 November 2010]
. 2010. Ribuan Khasiat Labu Kuning Sungguh Luar Biasa. http://www.suaramedia.com. [3 November 2010]

Mutiara
Posted on 13th December, 2010

terima kasih atas postingannya… saya merasa postingannya sangat berguna bagi saya untuk mendapatkan informasi yang lebih lagi

MERDIANA AYU TULISTYA
Posted on 28th October, 2011

NAMA : MERDIANA AYU TULISTYA
NIM : 100911231
KELAS: IKM B 2009/VB
MENINGKATKAN KEMANDIRIAN DALAM KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA.
Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa, selain itu juga sebagai wahana penguat stabilitas ekonomi dan politik khususnya bagi bangsa Indonesia. Pemenuhan pangan sebagai hak dasar bagi setiap konsumen, namun hal ini justru merupakan salah satu permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Dalam hal ini tujuan utama penggunaan makanan sebagai pemberi zat gizi bagi tubuh yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup, Setiap bahan pangan baru harus memperbaiki fisiologik tubuh, tetapi tidak bertetangan dengan kepercayaan atau tradisi social dan kebiasaan makanan dari lingkungan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup dapat menimbulkan nilai, jumlah, mutu yang aman, dan merata, selain itu juga mudah dalam penjangkauan dari masyarakat merupakan sasaran utama dalam pembangunan ekonomi.

Peningkatan permintaan pangan terjadi seiring dengan laju pertumbuhan (kepadatan) penduduk, sehingga mendorong percepatan produksi dalam menstabilkan harga dan ketersediaan pangan. Berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh Food and Agricultural Organization (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan atau miskin.

kondisi ketahanan pangan di indonesia
Dari hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 ternyata mencapai angka 237,6 juta jiwa, Tingkat pertumbuhannya pun yang menyentuh angka 1,49 persen per tahun, dari angka tersebut dapat mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia.
Selain itu dalam hal ini pemenuhan pangan di Indonesia masih dipenuhi dengan cara impor. sedangkan, pemerintah telah menyusun empat episode pembangunan pertanian hingga 2014. Namun pemerintah kurang memperhatikan terjadinya komoditas pangan impor yang semakin marak beredar luas dipasaran. Seperti kasus yang terbilang masih hangat yakni membanjirnya kentang impor asal Cina di pasar dalam negeri.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari-Agustus 2011, impor beras mencapai 1,6 juta ton senilai 861,23 juta dolar AS. Berikutnya, jagung (2,6 juta ton) bernilai 837,55 juta dolar AS, kedelai (1,4 juta ton) bernilai 851,33 juta dolar AS, gandum (4,05 juta ton) bernilai 1,5 miliar dolar AS, garam (2,2 juta ton) bernilai 117,22 dolar AS, dan susu (13,6 juta ton) bernilai 523,67 juta dolar AS. Dari tahun-ketahun mengalami peningkatan.
Sedangkan Indonesia hanya unggul mengekspor komoditas tropis, seperti kelapa sawit dan kakao. Dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia memang mengalami peningkatan produksi minyak sawit di atas 200 persen. Namun, pada saat yang sama terjadi kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng. Terbukti, impor minyak goreng hingga Agustus 2011, menurut data BPS, mencapai 3,6 juta ton atau senilai 46,09 juta dolar AS.
Dari data tersebut diatas dapat menunjukkan bahwa laju pertumbuhan dan pengembangan pangan di Indonesia cenderung mengalami penurunan. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk terus meningkat dan begitu juga dengan kebutuhan pangan yang juga semakin meningkat, sehingga semakin besar peningkatan jumlah impor bahan pangan yang dibutuhkan.

Indikator terwujudnya ketahanan pangan yang kokoh :
1.Ketersediaan pangan bagi masyarakat (food availability)
2.Keterjangkauan pangan oleh seluruh masyarakat (food accessibility)
3.Kelayakan untuk diterima konsumen (consumer acceptability)
4.Kemanan untuk dikonsumsi (food safety)
5.Kesejahteraan masyarakat, keluarga dan perorangan (People’s welfare)

kemandirian pangan
Ketersediaan pangan merupakan prasyarat penting bagi bekelanjutan konsumsi, namun dinilai belum mencakupi (necessary but not sufficient) dalam konteks ketahanan pangan, karena masih banyak variable yang berpengaruh untuk mencapai ketahanan pangan tingakat daerah dan rumah tangga. Oleh karena itu, berbagai uapaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Bila terjadi kelebihan (surplus), pangan tersebut dapat diperdagangkan antar wilayah terutama bagi wilayah yang mangalami deficit pangan dan ekspor. Sebaliknya bila terjadi deficit, sebagian pangan untuk konsumsi dalam negeri dapat dipenuhi dari pasar luar negeri.
Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui berbagai kebijakan yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan pangan. Bahkan pemerintah telah menetapkan kebijakan swasembada pangan untuk lima komoditas penting yaitu beras, jagung, kedelai, daging sapi dan gula. Pada tahun 2004, Indonesia telah berswasembada beras dan terus diupayakan keberlanjuatannya, sementara target swasembada jagung pada tahun 2007, gula tahun 2009, daging sapi tahun 2010 dan kedelai.
Dalam hal penanganannya, pemerintah perlu untuk lebih memperhatikan pasokan pangan dan permintaan. Dengan adanya pasokan bahan pangan maka perlu untuk melestarikan wilayah yang sudah swasembada. Serta dari permintaan itu sendiri diperlukannya penyeimbangan antara kebutuhan permintaan dengan kondisi infrastruktur pertanian baik perbaikan sarana yang rusak dan perluasan lahan dalam produksi. Akibat terjadinya kepadatan penduduk yang berdampak pada penyusutan areal tanam, khususnya penurunan luas lahan pertanian produktif yang di konversi menjadi sektor non-pertanian. Serta memperbaiki system politik pangan nasional, Agar Indonesia tidak selalu terjebak dalam ketergantungan pangan internasional.

Daftar pustaka :
http://www.iptek.net.id/ind/pustaka_pangan/pdf/prosiding/utama/MU 3_Membangun_Kemandirian_Pangan_Indonesia-Dedi_F.pdf
http://www.statistikaindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=77&catid=35&Itemid=184
http://koran.republika.co.id/koran/126/146015/Merajut_Episode_Kemandirian_Pangan_di_Indonesia

Nurul Komariah P
Posted on 27th November, 2011

PENTINGNYA KETERSEDIAAN PANGAN DI SUATU DAERAH

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, di segala musim, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat mengancam keamanan sosial serta stabilitas keamanan dari suatu daerah.
Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu daerah atau wilayah yang berasal dari segala sumber, baik itu berasal dari produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan juga bantuan pangan. Ketersediaan pangan juga ditentukan oleh kapasitas produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar yang ada di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan juga cadangan pemerintah, serta bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.

Produksi pangan itu sendiri tergantung pada berbagai faktor baik faktor alam maupun non alam. Faktor Alam yang berpengaruh di antaranya : iklim, jenis tanah dan juga curah hujan. Sedangkan faktor Non alam yang ikut mempengaruhi antara lain : ketersediaan lahan, sarana irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, distribusi pangan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.
Saat ini beras merupakan makanan pokok utama di Indonesia di hampir semua wilayah, dan kapasitas produksinya adalah 23% dari hasil seluruh hasil pertanian. Sedangkan jagung dan ubi kayu adalah 2 komoditi yang cukup diperhitungkan untuk masa mendatang dan merupakan 13% dari total hasil pertanian. Gula merah, minyak kelapa sawit dan karet mencakup 19% dari total produksi pertanian. Hasil peternakan berkontribusi sebanyak 5% dari hasil pertanian dimana unggas merupakan komponen terbesarnya.
Sekali lagi bahwa hal yang bisa mempengaruhi ketersediaan pangan di suatu daerah adalah iklim, kualitas tanah dan juga curah hujan. Bisa jadi secara Nasional tersedia stok pangan yang yang cukup bahkan surplus terutama stok dari beras. Tapi kenyataannya ada daerah-daerah tertentu yang mengalami rawan ketersediaan pangan. Banyak hal yang berpengaruh bukan hanya faktor alam tapi juga non alam seperti yang sudah saya bahas di awal.
Salah satu contoh adalah kondisi Sembilan kecamatan kepulauan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dinyatakan rawan ketersediaan pangan. Sembilan kecamatan itu antara lain, Pulau Kangean, Kangayan, Sapeken, Raas, Giligenting dan Masalembu ( http://www.tempo.co/read/news/2011/03/23 ). Padahal secara umum Propinsi Jawa Timur merupakan lumbung beras nasional. Kondisi ini dipengaruhi oleh salah satunya cuaca yang ekstrem sehingga menyebabkan distribusi bahan pangan khususnya beras menjadi terganggu ke wilayah tersebut. Sembilan kecamatan kepulauan di sumenep itu sendiri harus di tempuh dengan kapal feri dan membelah lautan untuk sampai kesana.
Pada musim-musim tertentu seperti pancaroba, mengakibatkan pasokan beras terganggu. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Sumenep, Bambang Heriyanto mengatakan, disebut rawan ketersediaan pangan karena struktur tanah di wilayah kepulauan yang tidak produktif untuk ditanami padi dan bahan pangan lainnya. Kalau pun ada, berupa sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami saat musim hujan. “Makanya persediaan pangannya menjadi perhatian bagi kami,” ujarnya.

Menurut Bambang, untuk memenuhi ketersediaan beras bagi warga kepulauan, pihaknya memberlakukan sistem subsidi. Kecamatan di Sumenep daratan yang surplus beras sebagian dialihkan ke kecamatan kepulauan yang kekurangan beras.

Ahmat Arifin, salah satu warga Pulau Masalembu Sumenep menuturkan pasokan beras di Masalembu memang masih bergantung dari luar daerah. Selama cuaca normal kebutuhan beras akan tercukupi. “Kalau cuaca buruk, krisis beras terjadi, biasanya kami makan nasi singkong,” ucapnya.

Ahmat Arifin berharap agar pasokan beras cukup meski terjadi cuaca buruk, maka perlu dibuat lumbung pangan di setiap desa di wilayah kepulauan.
Kenyataan ini membuat saya berfikir, mengapa Pulau Madura yang dahulu di kenal dengan makanan pokok berupa jagung ( pelajaran SD ) sekarang menjadi tergantung kepada beras??.
Salah satunya mungkin diakibatkan oleh opini yang berkembang selama ini yaitu makanan pokok orang Indonesia beralih dari berbagai macam produk sesuai ketersediaan di suatu daerah menjadi beras seluruhnya atau istilahnya terjadi “pemberasan”.
Jika saja pangan itu sendiri tidak tergantung beras, mungkin bisa ditekan kemungkinan rawan ketersediaan pangan di berbagai daerah lain yang kondisi alamnya kurang cocok untuk penanaman padi. Tanaman itu antara lain ; singkong, jagung, ubi jalar atau bahan pangan apapun yang bisa dihasilkan sebagai pengganti beras.
Semoga kedepan pemerintah khususnya pemerintah daerah mampu menghasilkan kebijakan yang bisa mengatasi masalah apapun yang berkaitan dengan ketersediaan pangan. ( NURUL KOMARIYAH PRIHATINI).

Nurul Komariah P
Posted on 27th November, 2011

TUGAS EPG:
PENTINGNYA KETERSEDIAAN PANGAN DI SUATU DAERAH

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, di segala musim, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat mengancam keamanan sosial serta stabilitas keamanan dari suatu daerah.
Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu daerah atau wilayah yang berasal dari segala sumber, baik itu berasal dari produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan juga bantuan pangan. Ketersediaan pangan juga ditentukan oleh kapasitas produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar yang ada di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan juga cadangan pemerintah, serta bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.

Produksi pangan itu sendiri tergantung pada berbagai faktor baik faktor alam maupun non alam. Faktor Alam yang berpengaruh di antaranya : iklim, jenis tanah dan juga curah hujan. Sedangkan faktor Non alam yang ikut mempengaruhi antara lain : ketersediaan lahan, sarana irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, distribusi pangan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.
Saat ini beras merupakan makanan pokok utama di Indonesia di hampir semua wilayah, dan kapasitas produksinya adalah 23% dari hasil seluruh hasil pertanian. Sedangkan jagung dan ubi kayu adalah 2 komoditi yang cukup diperhitungkan untuk masa mendatang dan merupakan 13% dari total hasil pertanian. Gula merah, minyak kelapa sawit dan karet mencakup 19% dari total produksi pertanian. Hasil peternakan berkontribusi sebanyak 5% dari hasil pertanian dimana unggas merupakan komponen terbesarnya.
Sekali lagi bahwa hal yang bisa mempengaruhi ketersediaan pangan di suatu daerah adalah iklim, kualitas tanah dan juga curah hujan. Bisa jadi secara Nasional tersedia stok pangan yang yang cukup bahkan surplus terutama stok dari beras. Tapi kenyataannya ada daerah-daerah tertentu yang mengalami rawan ketersediaan pangan. Banyak hal yang berpengaruh bukan hanya faktor alam tapi juga non alam seperti yang sudah saya bahas di awal.
Salah satu contoh adalah kondisi Sembilan kecamatan kepulauan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dinyatakan rawan ketersediaan pangan. Sembilan kecamatan itu antara lain, Pulau Kangean, Kangayan, Sapeken, Raas, Giligenting dan Masalembu ( http://www.tempo.co/read/news/2011/03/23 ). Padahal secara umum Propinsi Jawa Timur merupakan lumbung beras nasional. Kondisi ini dipengaruhi oleh salah satunya cuaca yang ekstrem sehingga menyebabkan distribusi bahan pangan khususnya beras menjadi terganggu ke wilayah tersebut. Sembilan kecamatan kepulauan di sumenep itu sendiri harus di tempuh dengan kapal feri dan membelah lautan untuk sampai kesana.
Pada musim-musim tertentu seperti pancaroba, mengakibatkan pasokan beras terganggu. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Sumenep, Bambang Heriyanto mengatakan, disebut rawan ketersediaan pangan karena struktur tanah di wilayah kepulauan yang tidak produktif untuk ditanami padi dan bahan pangan lainnya. Kalau pun ada, berupa sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami saat musim hujan. “Makanya persediaan pangannya menjadi perhatian bagi kami,” ujarnya.

Menurut Bambang, untuk memenuhi ketersediaan beras bagi warga kepulauan, pihaknya memberlakukan sistem subsidi. Kecamatan di Sumenep daratan yang surplus beras sebagian dialihkan ke kecamatan kepulauan yang kekurangan beras.

Ahmat Arifin, salah satu warga Pulau Masalembu Sumenep menuturkan pasokan beras di Masalembu memang masih bergantung dari luar daerah. Selama cuaca normal kebutuhan beras akan tercukupi. “Kalau cuaca buruk, krisis beras terjadi, biasanya kami makan nasi singkong,” ucapnya.

Ahmat Arifin berharap agar pasokan beras cukup meski terjadi cuaca buruk, maka perlu dibuat lumbung pangan di setiap desa di wilayah kepulauan.
Kenyataan ini membuat saya berfikir, mengapa Pulau Madura yang dahulu di kenal dengan makanan pokok berupa jagung ( pelajaran SD ) sekarang menjadi tergantung kepada beras??.
Salah satunya mungkin diakibatkan oleh opini yang berkembang selama ini yaitu makanan pokok orang Indonesia beralih dari berbagai macam produk sesuai ketersediaan di suatu daerah menjadi beras seluruhnya atau istilahnya terjadi “pemberasan”.
Jika saja pangan itu sendiri tidak tergantung beras, mungkin bisa ditekan kemungkinan rawan ketersediaan pangan di berbagai daerah lain yang kondisi alamnya kurang cocok untuk penanaman padi. Tanaman itu antara lain ; singkong, jagung, ubi jalar atau bahan pangan apapun yang bisa dihasilkan sebagai pengganti beras.
Semoga kedepan pemerintah khususnya pemerintah daerah mampu menghasilkan kebijakan yang bisa mengatasi masalah apapun yang berkaitan dengan ketersediaan pangan. ( NURUL KOMARIYAH PRIHATINI).

Penyakit Flu Tulang
Posted on 10th April, 2012

Mkasih nih informasinya salam kenal gan….

tbc
Posted on 1st May, 2012

salam kenal ya gan

Leave your Comment