Tugas Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi (Alih jenis IA)

Buatlah artikel ilmiah populer (bentuk opini) tentang “Ketersediaan Pangan”. Tulis dalam 500-700 kata (words). Masukkkan dalam comment berikut.

Terima kasih

Comments

Wahyu Pratiwi Dwi Cahyanti
Posted on 14th November, 2011

ARTIKEL KETERSEDIAAN PANGAN
Nama : Wahyu Pratiwi Dwi Cahyanti
NIM : 101111274
Kelas A
TERGANGGUNYA KETERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA AKIBAT SEMPITNYA LAHAN PERTANIAN
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya.
Masalah ketersediaan pangan menjadi salah satu tantangan terbesar Indonesia ke depan karena kepadatan penduduk semakin tinggi. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan penduduk Indonesia akan menembus angka 300 juta jiwa. Artinya, masalah sosial seperti ketidakmerataan atau ketimpangan ekonomi akan terjadi. Semakin tinggi jumlah penduduk dalam suatu negara otomatis jumlah pangan yang dibutuhkan juga semakin meningkat.
Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani, hal ini yang menjadikan salah satu alasan penduduk Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya. Semakin tinggi jumlah penduduk yang ada otomatis kebutuhan akan beras semakin meningkat. Sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan jumlah lahan pertanian yang memadai, karena banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman maupun tempat – tempat umum yang lain (mall, pusat pembelanjaan, jalan tol, industri, dll). Hal ini terjadi karena jumlah penduduk yang meningkat tetapi jumlah lahan pertanian tetap sehingga banyak orang yang mendesak lahan pertanian sebagai tempat tinggal mereka.
Jika hal ini dibiarkan saja maka akan mengganggu ketersediaan pangan bahkan dapat menimbulkan krisis pangan, karena penyempitan lahan pertanian dan kerusakan saluran pengairan akibat pembangunan gedung – gedung yang berada di sekitar lahan pertanian. Selain itu, semakin sempitnya lahan lahan pertanian ini, maka sulit untuk mengharapkan petani kita berproduksi secara optimum. Menurut penelitian pada tahun 2002 dan 2003 memperkirakan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian (tempat – tempat umum) di Indonesia semakin meningkat dengan rata – rata 30.000 – 50.000 ha per tahun.
Alih fungsi lahan merupakan masalah yang paling rumit penyelesainnya, karena di dalamnya terkait kepentingan ekonomi, sosial dan budaya berbagai lapisan masyarakat. Menghadapi masalah alih fungsi lahan ini, upaya pemerintah yang terkait dengan penyiapan aturan hukum (yuridis formal), salah satunya adalah dengan menerbitkan pengembangan sistem insentif/disinsentif untuk menjamin kelestarian lahan pertanian pangan berkelanjutan. Pengaturan tersebut tertuang dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Dalam menyelesaikan masalah ini diharapkan peran serta para petani dalam mempertahankan fungsi lahan pertanian yang sebenarnya agar alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian tidak semakin meluas. Petani diharapkan mengutamakan optimalisasi kerjanya sehingga mampu membantu ketersediaan pangan dibandingkan mendapatkan untung dari penjualan lahan pertanian yang kemudian berubah fungsi menjadi lahan non pertanian.
Beberapa langkah untuk mempertahankan ketahanan pangan di Indonesia, antara lain :
1. Mencegah dan mengurangi laju alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian.
2. Memanfaatkan dengan lebih optimal berbagai sumber daya lahan, seperti lahan kering, laha rawa dan lahan pasang surut.
3. Mendukung usaha peningkatan produktivitas usaha pertanian, terutama melalui peningkatan penggunaan bibit unggul dan mengurangi kehilangan hasil pascapanen.
4. Mengembangkan sistem informasi pangan yang dapat di akses secara terbuka.
5. Mengembangkan berbagai sistem insentif yang diperlukan bagi peningkatan produksi pangan dan peningkatan pola konsumsi pangan beraneka.
6. Terus memperjuangkan perdagangan internasional yang adil.
7. Mengaktualisasikan “jaringan ketahanan pangan” yang mencakup keterlibatan pemerintah, swasta dan lembaga swadaya masyarakat.

HAMSYAH/101111256
Posted on 14th November, 2011

TUGAS MATA KULIAH EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
ARTIKEL ILMIAH TENTANG KETERSEDIAAN PANGAN
OLEH : HAMSYAH
NIM : 101111256
MAHASISWA S1 ALIH JENIS FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
SEMESTER : V

Pangan merupakan kebutuhan yang esensial bagi manusia, tanpa pangan orang tak dapat hidup, pangan diperlukan untuk menyusun tubuh, sebagai sumber energi dan zat tertentu untuk mengatur proses metabolisme. Tetapi berbeda dengan makhluk hidup yang lain, yang membutuhkan pangan untuk kelangsungan hidup hayati, bagi manusia pangan juga mempunyai nilai untuk kehidupan manusiawi.
Pangan telah menjadi unsur kebudayaan, tidak hanya nilai gizinya saja yang penting, melainkan pangan harus pula disajikan dalam rasa, warna dan bentuk yang sesuai. Kecuali manusia, tidak ada makhluk lain yang memasak makanannya. Ada memang makanan yang dimakan mentah, misalnya sayuran sebagai lalap, pada beberapa bangsa, ada pula yang memakan daging, ikan atau kerang mentah, tetapi makannya juga dengan baik di atas piring, jadi unsur kebudayaan tetap ada. Orang Jepang mengatakan, makan tidak cukup untuk memenuhi selera lidah saja, melainkan juga untuk mata.
Pangan kita sebagian besar berasal dari tumbuhan, kira-kira 98% kalori, 90% protein dan 93% lemak dalam makanan kita berasal dari tumbuhan. Peranan hewan sangatlah kecil dalam makanan kita, daging, telur susu dan ikan, masing-masing memberi sumbangan < 1% dari jumlah kalori yang kita makan. Hanya hampir 3% protein yang kita makan berasal dari daging, dan hampir 7% dari ikan, < 1% berasal dari masing-masing telur dan susu.
Makanan nabati sebagian besar dari biji-bijian, seperti padi dan jagung. Hampir 70% dari kalori dan protein berasal dari biji-bijian, makanan biji-bijian yang terpenting adalah padi, kira-kira 55% kalori dan 55% protein yang dimakan berasal dari padi. Makanan lainnya yang relatif penting ialah ubi-ubian, terutama singkong, dan kacang-kacangan, seperti kedelai dan kacang tanah. Protein yang berasal dari kacang-kacangan cukup banyak, yaitu kira-kira 16%. Sumber kalori yang relatif penting adalah gula, minyak dan lemak. Jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan secara umum disebut palawija.
Angka di atas merupakan gambaran umum keadaan berbeda-beda menurut daerah, misalnya di daerah pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di Madura dan di Nusa Tenggara Timur, jagung merupakan bahan makanan yang penting. Di Maluku dan beberapa daerah lain, bahan makanan yang penting ialah sagu, di pedalaman Irian jaya ialah ubi jalar, di daerah Gunung Kidul di Jawa Tengah bagian selatan ialah singkong. Jenis pangan yang penting juga berubah menurut musim, di banyak daerah dengan musim kemarau yang panjang, beras banyak dimakan waktu musim panen. Dalam musim paceklik banyak orang makan pangan lain, misalnya jagung dan singkong, karena itu walaupun secara nasional beras penting, tetapi sebenarnya ada keanekaan menurut tempat dan musim.
Beras sebagian besar berasal dari padi sawah dan sisanya dari padi gogo, karena itu sumber pangan kita yang penting adalah sawah, palawija ditanam di tegalan, kebun dan pekarangan. Padi sawah selalu ditanam sebagai monokultur, walaupun dapat juga pematang ditanami dengan jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan. Di beberapa tempat di tengah petak sawah terdapat petak palawija yang letaknya lebih tinggi dari sawah, ini terdapat di daerah Yogyakarta bagian barat, penanaman itu disebut sistem surjan.
Umur padi yang pendek dan tersedianya pengairan yang makin baik, mendorong orang untuk menanam padi dengan terus menerus, tanpa adanya pergiliran tanaman atau mengistirahatkan lahan (bero). Lagi pula dengan tersedianya pengairan sepanjang tahun, orang setiap waktu dapat menanam padi, sehingga sepanjang tahun selalu tersedia padi dengan umur yang berbeda-beda. Namun, yang menjadi kendala atau pengaruh dalam ketersediaan pangan khususnya padi ini adalah serangan hama wereng. Tanaman padi unggul satu jenis tidak tahan wereng di daerah yang luas, tanaman padi yang terus menerus sepanjang tahun, hama wereng yang kebal pestisida, matinya musuh alami hama wereng dan makhluk lainnya yang bersaing dengan hama wereng.
Dengan menambah keanekaan (keragaman) jenis pangan pokok, berarti mengurangi areal padi, dengan ini kebutuhan air pengairan akan dikurangi pula. Seandainya di seluruh areal Jawa Barat dilakukan pola penanaman padi-padi, pasti tidak akan cukup persediaan air pengairan. Padahal di Jawa Barat musim hujan panjang dan curah hujan relatif tinggi. Untuk Jawa Tengah kekurangan pengairan akan lebih parah dan di Jawa Timur akan sangat parah. Untuk mengatasi keterbatasan pengairan itu diperlukan modal yang besar guna membangun waduk untuk pengembangan pengairan. Tetapi bila dikembangkan pola padi-padi-palawija, pengairan di Jawa Timur masih kekurangan cukup besar. Dengan pola padi-palawija-palawija keadaannya akan lebih baik lagi.

Daftar pustaka : Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, 1991.

RIZKY APRILIA/101111264
Posted on 15th November, 2011

KETERSEDIAAN PANGAN

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan juga dapat mengancam keamanan sosial. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan pangan masyarakat, perlu dilakukan persamaan persepsi. Ketersediaan pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah serta bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya. Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.
Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan. Pengaruh perubahan iklim serta cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini telah mengancam ketersediaan pangan dunia, termasuk di Indonesia. Badan Internasional bidang pangan dan pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) dalam setiap konferensinya telah mengingatkan negara-negara dunia akan ancaman kelangkaan pangan tersebut. La Nina, siklus cuaca basah ekstrim di wilayah Asia dan Pasifik disebut sebagai penyebab kacaunya cuaca saat ini, selain karena dampak dari perubahan iklim global yang semakin nyata. Namun, setelah lewat dari siklus cuaca ekstrim si ”anak gadis” tersebut, akankah ancaman krisis pangan dunia, khususnya di Indonesia telah selesai? Dan apakah penyebab masalah krisis pangan hanya dipicu oleh pengaruh perubahan iklim dan kondisi cuaca yang ekstrim? Ketersediaan pangan bagi kelangsungan hidup manusia adalah suatu hal yang fundamental. Di tengah perkembangan berbagai aspek peradaban manusia, seolah terlewatkan bahwa hal asasi dalam kehidupan ini telah jauh tertinggal dan kurang mendapat perhatian. Ancaman terjadinya krisis pangan, sebagai konsekuensinya sudah semakin nyata. Konflik yang melanda beberapa Negara di wilayah Afrika misalnya, baik itu penyebab maupun akibatnya telah berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan bagi penduduk setempat. Kelaparan yang terus mendera sebagian wilayah benua hitam tersebut telah memicu kematian ribuan jiwa setiap tahunnya. Kelangkaan pangan dunia juga berdampak pada meningkatnya inflasi pada Negara China, Vietnam dan beberapa Negara Eropa. Secara riil, kelangkaan komoditi pangan dunia mencapai 75 persen sejak tahun 2005.
Di Indonesia, indikator kelangkaan pangan kita dapat dilihat dari meningkatnya nilai impor bahan makanan kebutuhan pokok, bahkan hingga mencapai 60% dari konsumsi pangan kita. Bahan pangan seperti kedelai, daging dan susu masih terus mengandalkan stok impor bagi pasar domestik. Akibatnya, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi dan tak terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah.
Lebih penting dari sekedar angka-angka impor diatas, setiap hari kita bisa melihat fakta kasus busung lapar dan kekurangan gizi anak-anak generasi penerus negeri, yang juga mencerminkan kelangkaan pangan di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Dalam berita di media cetak dan televisi, atau fenomena yang paling dekat, kondisi para anak peminta-minta di simpang jalan. Dengan rambut tipis dan lusuh serta kulit yang kusam, bukan hanya karena sengatan perih matahari atau sudah tak mandi berhari-hari, namun juga karena kekurangan gizi dan zat-zat pertumbuhan lainnya. Dalam keseharian, sebagai mahasiswa, kita pun ikut merasakan harga-harga makanan di kantin fakultas maupun di warteg yang juga naik.

TANTANGAN UTAMA PEMENUHAN KECUKUPAN

Laju peningkatan kebutuhan pangan lebih cepat dibandingkan dengan laju peningkatan kemampuan produksi. Disamping itu peningkatan produktivitas tanaman di tingkat petani relatif stagnan, karena terbatasnya kemampuan produksi, penurunan kapasitas kelembagaan petani, serta kualitas penyuluhan pertanian yang jauh dari memadai. Semakin terbatasnya kapasitas produksi pangan nasional, disebabkan oleh (i) berlanjutnya konversi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian; (ii) menurunnya kualitas dan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan; (iii) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air untuk produksi pangan akibat kerusakan hutan; (iv) rusaknya sekitar 30 persen prasarana pengairan, dimana seharusnya dilakukan rehabilitasi sebanyak 2 kali dalam 25 tahun terakhir; (v) persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor industri dan pemukiman; (vi) kerusakan yang disebabkan oleh kekeringan maupun banjir semakin tinggi karena fungsi perlindungan alamiah telah sangat berkurang; (vii) masih tingginya proporsi kehilangan hasil panen pada proses produksi, penanganan hasil panen dan pengolahan pasca panen, masih menjadi kendala yang menyebabkan penurunan kemampuan penyediaan pangan dengan proporsi yang cukup tinggi; (viii) perubahan iklim; dan (ix) persaingan antara pangan untuk konsumsi dan produksi biofuel. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan lain yang perlu dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Tahun 2015 penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 247,6 juta jiwa. Apabila kebutuhan pangan untuk penduduk ini tidak dapat terpenuhi, maka akan mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan.

STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN PANGAN

Kebijakan ketersediaan pangan secara nasional tahun 2005-2009 diarahkan kepada beberapa hal yaitu: (i) Meningkatkan kualitas sumber daya alam dan lingkungan; (ii) Mengembangkan infrastruktur pertanian dan pedesaan; (iii) Meningkatkan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri; dan (iv) Mengembangkan kemampuan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat.
Di bawah ini adalah kegiatan operasional kunci yang dilakukan untuk menjamin dan meningkatkan ketersediaan pangan adalah:
1. Pengembangan lahan abadi 15 juta ha lahan sawah beririgasi dan 15 juta ha lahan kering.
2. Pengembangan konservasi dan rehabilitasi lahan.
3. Pelestarian sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai.
4. Pengembangan dan penyediaan benih, bibit unggul dan alat mesin pertanian.
5. Pengaturan pasokan gas untuk memproduksi pupuk.
6. Pengembangan skim permodalan bagi petani/nelayan.
7. Peningkatan produksi dan produktivitas (perbaikan genetik & teknologi budidaya).
8. Pencapaian swasembada 5 komoditas strategs: padi (swasembada berkelanjutan), jagung (2008), kedelai (2011), gula (2009), dan daging (2010).
9. Penyediaan insentif investasi di bidang pangan termasuk industri gula, peternakan dan perikanan.
10. Penguatan penyuluhan, kelembagaan petani/nelayan dan kemitraan.

Selain itu juga dilakukan kebijakan lain, yaitu:
1. Menata Pertanahan, Tata Ruang dan Wilayah melalui:
o Pengembangan reformasi agraria
o Penyusunan tata ruang daerah dan wilayah
o Perbaikan administrasi pertanahan dan sertifikasi lahan
o Pengenaan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur dan yang mentelantarkan lahan pertanian
2. Mengembangkan Cadangan Pangan
o Pengembangan cadangan pangan pemerintah (nasional, daerah dan desa) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan Pasal 5
o Pengembangan lumbung pangan masyarakat
3. Menjaga Stabilitas Harga Pangan
o Pemantauan harga pangan pokok secara berkala untuk mencegah jatuhnya harga gabah/beras di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP)
o Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyangga untuk stabilitas harga pangan seperti yang tercantum dalam Inpres Nomor 13 Tahun 2005 tentang Kebijakan Perberasan; SKB Men Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. KEP-46/M.EKON/08/2005 dan Nomor 34/KEP-34/ KEP/MENKO/KESRA/VIII/2005 tentang Pedoman Umum Koordinasi Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah; Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2005 tentang Penggunaan Cadangan pangan Pemerintah untuk Pengendalian Harga, dan Surat menteri Pertanian kepada Gubernur dan Bupati Walikota se-Indonesia Nomor 64/PP.310/M/3/2006 tanggal 13 maret 2006 tentang Pengelolaan Cadangan Pangan)
4. Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan
o Pemberdayaan masyarakat miskin dan rawan pangan
o Peningkatan efektivitas program Raskin
5. Melakukan Diversifikasi Pangan
o Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dengan gizi seimbang (Perpres No. 22 Tahun 2009)
o Pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah (PMTAS)
o Pengembangan teknologi pangan
o Diversifikasi usaha tani dan pengembangan pangan lokal

Desti Hersrining Pratiwi
Posted on 15th November, 2011

NAMA : DESTI HERSRINING PRATIWI
NIM : 101111236
KELAS : A (SEMESTER V ALIH JENIS)
TUGAS : ARTIKEL TENTANG KETERSEDIAAN PANGAN

MEMBERDAYAKAN MAKANAN PENDAMPING BERAS UNTUK MENGURANGI KRISIS PANGAN DI INDONESIA

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi penduduk di suatu daerah ditentukan oleh ketersediaan, kecukupan serta konsumsi pangan suatu daerah yang selanjutnya dibandingkan dengan potensi sumberdaya hayati, sarana dan prasarana produksi yang tersedia di daerah tersebut. Ketersediaan pangan ditentukan oleh tingkat produksi bahan makanan yang bersumber dari sektor pertanian, perternakan dan perikanan. Sedangkan kebutuhan pangan ditentukan oleh perkembangan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Produksi bahan makanan dan luas lahan yang optimum untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk diprediksi dengan pendekatan optimasi kebutuhan (demand) dan produksi (supply) sumberdaya hayati untuk pangan dan gizi (Setiawan 2006 ; Mustafril, dkk 2006).
FAO telah mengisyaratkan kemungkinan terjadinya bahaya kelaparan yang sedang dan akan melanda dunia. Walaupun kondisi krisis pangan ini merupakan fenomena global yang disebabkan oleh perubahan iklim dan adanya perebutan antara pangan dan energi, tak urung hati kita seperti teriris jika memperhatikan seringnya kejadian rawan gizi, dengan kenyataan bahwa kondisi kita saat ini seperti pepatah “ayam mati dalam lumbung padi”. Betapa tidak, kekayaan alam demikian besar, hingga menanam padi pun bisa kita lakukan 3 kali dalam satu tahun di daerah-daerah tertentu, tetapi kenapa kita sampai kekurangan pangan? Penurunan ketahanan pangan ini juga diakibatkan oleh menurunnya kemampuan pemenuhan kebutuhan beras dalam negeri karena berbagai alasan seperti masalah penciutan lahan, terjadi levelling off dari peningkatan produktivitas padi dan berbagai masalah lain. Tingkat konsumsi beras yang masih tinggi dan ketergantungan konsumsi hampir semua penduduk negeri ini pada beras membuat situasi menjadi sulit. Sebenarnya jika kita sebagai masyarakat mengerti akan pengolahan makanan lain yang dapat dijadikan makanan pendamping beras serta masyarakat dapat merubah mindset atau paradigma tentang makanan pokok yang tidak hanya beras melainkan yang kandungan karbohidratnya setara atau bahkan lebih tinggi dari beras tentu ketersediaan pangan di Indonesia dapat tercukupi. Berikut akan dijelaskan makanan pendamping yang dapat juga digunakan sebagai pengganti beras yaitu jagung beserta manfaatnya bagi tubuh.
Jagung merupakan sumber yang kaya akan nutrisi penting dan serat. Makanan yang banyak mengandung jagung dapat mengusir penyakit dan melindungi terhadap banyak penyakit. Berikut adalah beberapa manfaat kesehatan jagung:
1. Sumber yang Kaya Kalori: Jagung merupakan sumber yang kaya kalori dan merupakan makanan pokok bagi banyak penduduk. Kandungan kalori jagung adalah 342 kalori per 100 grams, salah satu yang tertinggi di sereal.
2. Pencegahan Kanker Usus dan Wasir: Kandungan serat dari satu cangkir jagung adalah 18,4% dari jumlah harian yang disarankan. Ini membantu dalam mengurangi masalah pencernaan seperti sembelit dan wasir, serta menurunkan resiko kanker usus.
3. Sumber yang Kaya Vitamin: Jagung kaya akan vitamin B, khususnya Thiamin dan Niacin. Thiamin penting untuk menjaga kesehatan saraf dan fungsi kognitif. Kekurangan Niacin bisa menyebabkan pellagra; penyakit yang ditandai dengan diare, demensia dan dermatitis dan umumnya diamati pada orang kekurangan gizi. Jagung juga merupakan sumber yang baik untuk asam pantotenat yang merupakan vitamin yang diperlukan untuk karbohidrat serta protein dan metabolisme lemak dalam tubuh. Kekurangan asam folat pada wanita hamil mengakibatkan kelahiran bayi kurus dan juga dapat mengakibatkan cacat neural tube pada saat lahir. Jagung menyediakan potongan besar dari kebutuhan folat sehari-hari. jagung kuning merupakan sumber yang kaya beta-karoten yang membentuk vitamin A dalam tubuh, penting untuk pemeliharaan visi yang baik dan kulit. Kernel jagung kaya akan vitamin E, antioksidan alami penting untuk pertumbuhan.
4. Mengandung Mineral yang Diperlukan: Jagung selain mengandung banyak fosfor dan magnesium, mangan, seng, besi dan tembaga. Serta mengandung mineral seperti selenium. Fosfor sangat penting bagi pemeliharaan pertumbuhan normal, kesehatan tulang dan fungsi ginjal normal. Magnesium diperlukan untuk mempertahankan denyut jantung normal dan untuk kekuatan tulang.
5. Sifat antioksidan Jagung: Menurut studi yang dilakukan di Cornell University, jagung merupakan sumber yang kaya antioksidan yang melawan kanker yang disebabkan oleh radikal bebas. Bahkan, proses memasak dapat meningkatkan zat antioksidan dalam jagung manis. Jagung merupakan sumber yang kaya akan senyawa fenolik asam ferulic, agen anti-kanker yang telah terbukti efektif dalam memerangi tumor pada kanker payudara dan kanker hati. Anthocyanin, ditemukan dalam jagung ungu juga bertindak sebagai pemulung penyebab kanker radikal bebas.
6. Melindungi Jantung: Menurut para peneliti, minyak jagung telah menunjukkan efek anti aterogenik pada tingkat kolesterol, sehingga mencegah risiko penyakit jantung.
7. Mencegah Anemia: vitamin B12 dan asam folat yang terdapat dalam jagung mencegah anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin ini.
8. Menurunkan Kolesterol Jahat: Menurut Jurnal Biokimia Nutrisi, konsumsi minyak kulit jagung menurunkan kolesterol LDL plasma dengan mengurangi penyerapan kolesterol oleh tubuh.
9. Perlindungan terhadap Diabetes dan Hipertensi: Konsumsi jagung membantu pengelolaan non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) dan efektif terhadap penyakit tekanan darah tinggi karena adanya phytochemical fenolik di seluruh jagung.
10. Manfaat Kosmetik: Tepung Jagung digunakan dalam pembuatan berbagai kosmetik dan mungkin juga dioleskan untuk menenangkan ruam kulit dan iritasi. Produk jagung dapat digunakan untuk menggantikan produk-produk minyak bumi karsinogenik yang merupakan komponen utama dari bahan kosmetik.

Amalia A'immatul Aziza
Posted on 15th November, 2011

NAMA : AMALIA A’IMMATUL AZIZA
NIM : 101111248
KELAS : A (SEMESTER V ALIH JENIS)
TUGAS : ARTIKEL TENTANG KETERSEDIAAN PANGAN

KETAHANAN PANGAN DAN TEKNOLOGI PRODUKTIVITAS MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN INDONESIA

Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkraman penjajah/musuh. Dengan demikian upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi untung rugi ekonomi saja tetapi harus disadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasional yang harus dilindungi.
Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia. Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justru menghadapi masalah bahaya latent yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yang terus menurun. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi pangan akan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangan semakin melebar.
Keragaan laju peningkatan produksi tiga komoditi pangan nasional padi, jagung dan kedelai. Keragaan di atas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan produksi pangan nasional rata-rata negatif dan cenderung menurun, sedangkan laju pertumbuhan penduduk selalu positif yang berarti kebutuhan terus meningkat. Keragaan total produksi dan kebutuhan nasional dari tahun ke tahun pada ketiga komoditas pangan utama di atas menunjukkan kesenjangan yang terus melebar; khusus pada kedelai sangat memprihatinkan. Kesenjangan yang terus meningkat ini jika terus di biarkan konsekwensinya adalah peningkatan jumlah impor bahan pangan yang semakin besar, dan kita semakin tergantung pada negara asing.
Impor beras yang meningkat pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun yang antara lain karena kekeringan panjang.
Pada komoditi jagung meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi, namun pada tahun 1998 justru terjadi surplus (ekspor) meskipun hanya kecil. Hal ini diduga karena banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderung turun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton/tahun).
Produksi kedelai nasional tampak mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar. Hal ini terjadi antara lain karena membanjirnya Impor akibat fasilitas GSM 102, kredit Impor dan “Triple C” dari negara importir yang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh importir kedelai Indonesia, disisi lain produktivitas kedelai nasional yang rendah dan biaya produksi semakin tinggi di dalam negeri. Akibat kebijakan di atas harga kedelai impor semakin rendah sehingga petani kedelai semakin terpuruk dan enggan untuk menanam kedelai. Dampaknya pada harga kedelai petani tidak bisa bersaing dengan membanjirnya kedelai Impor dan petani kedelai tidak terlindungi.
Melihat kenyataan tersebut seakan kita tidak percaya sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya tetapi pengimpor pangan yang cukup besar. Hal ini akan menjadi hambatan dalam pembangunan dan menjadi tantangan yang lebih besar dalam mewujudkan kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan langkah kerja yang serius untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

YELIASTUTI IKE MARLIANA
Posted on 16th November, 2011

NAMA : YELIASTUTI IKE MARLIANA
NIM/KLS: 101111292 / IA ALIH JALUR

KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA JAMIN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, serta pembuatan makanan atau minuman. Sedangkan istilah ketahanan pangan pertama kali digunakan pada tahun 1971 oleh PBB. Indonesia secara formal baru mengadopsi ketahanan pangan dalam kebijakan dan program pada tahun 1992, yang kemudian dirumuskan definisi ketahanan pangan pada undang-undang pangan No 7 tahun 1996, bahwa Ketahanan pangan diwujudkan bersama oleh masyarakat dan pemerintah dan dikembangkan mulai tingkat rumah tangga. Apabila setiap rumah tangga Indonesia sudah mencapai tahapan ketahanan pangan, maka secara otomatis ketahanan pangan masyarakat, daerah dan nasional akan tercapai. Dengan demikian, arah pengembangan ketahanan pangan berawal dari rumah tangga, masyarakat, daerah dan kemandirian nasional bukan mengikuti proses sebaliknya.
Karena fokusnya pada rumah tangga, maka yang menjadi kegiatan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan adalah pemberdayaan masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan. Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangakau oleh masyarakat juga tidak boleh dilupakan. Ada 4 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan yaitu:
1.Kecukupan ketersediaan pangan
Ketersediaan pangan dalam rumah tangga yang dipakai dalam pengukuran mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.
2.Stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun.
Stabilitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga diukur berdasarkan kecukupan ketersediaan pangan dan frekuensi makan anggota rumah tangga dalam sehari. Satu rumah tangga dikatakan memiliki stabilitas ketersediaan pangan jika anggota rumah tangga dapat makan 3 (tiga) kali sehari sesuai dengan kebiasaan makan penduduk di daerah tersebut. Dalam satu rumah tangga, salah satu cara untuk mempertahankan ketersediaan pangan dalam jangka waktu tertentu adalah dengan mengurangi frekuensi makan atau mengkombinasikan bahan makanan pokok (misal beras dengan ubi kayu).
3.Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan
Dapat dilihat dari kemudahan rumahtangga memperoleh pangan, yang diukur dari pemilikan lahan serta cara rumah tangga untuk memperoleh pangan.
4.kualitas/keamanan pangan
Kualitas/keamanan jenis pangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ukuran kualitas pangan seperti ini sangat sulit dilakukan karena melibatkan berbagai macam jenis makanan dengan kandungan gizi yang berbeda-beda., sehingga ukuran keamanan pangan hanya dilihat dari ‘ada’ atau ‘tidak’nya bahan makanan yang mengandung protein hewani dan/atau nabati yang dikonsumsi dalam rumah tangga.

Kombinasi antara kecukupan ketersediaan bahan pangan dan frekuensi makan memberikan indikator stabilitas ketersediaan bahan pangan. Selanjutnya kombinasi antara stabilitas ketersediaan bahan pangan dengan akses terhadap bahan pangan memberikan indikator kontinyuitas ketersediaan bahan pangan. Indeks ketahanan bahan pangan diukur berdasarkan gabungan antara indikator kontinyuitas ketersediaan bahan pangan dengan kualitas / keamanan bahan pangan. Dengan dipenuhinya ketahanan pangan pada tiap-tiap rumah tangga maka secara otomatis sistem ketahanan pangan nasional akan terwujud. Yang menjadi kendala adalah bagaimana cara agar ketersediaan dan ketahanan pangan tingkat rumah tangga tersebut bisa merata pada seluruh rumah tangga yang ada mengingat masih tingginya angka kemiskinan dan tingkat SDM yang rendah. Dalam hal ini perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang pertanian guna memandirikan dan menambah nilai pendapatan finansial masyarakat sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara optimal.
Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global, nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan suatu rangkaian system hirarkis. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya ketersediaan pangan bagi umat manusia. Untuk menjamin agar ketahanan pangan dapat berkelanjutan maka pencapaian ketahanan pangan harus diarahkan pada keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan dan budaya lokal/domestik, ketersediaan dan distribusi pangan mencapai seluruh wilayah serta peningkatan pendapatan masyarakat agar mampu mengakses pangan secara berkelanjutan yang dapat dicapai melalui berbagai cara diantaranya dengan menggali dan mengoptimalkan potensi sumberdaya pangan lokal.

DWI RAHMAWATY
Posted on 16th November, 2011

NAMA : DWI RAHMAWATY
NIM : 101111281
ALIH JENIS KELAS : A

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat mengancam keamanan sosial
Pada kenyataannya program ketahanan pangan tersebut belum bisa terlepas sepenuhnya dari beras sebagai komoditi basis yang strategis. Hal ini tersurat pada rumusan pembangunan pertanian, bahwa sasaran indikatif produksi komoditas utama tanaman pangan sampai tahun 2006, dan cadangan pangan pemerintah juga masih berbasis pada beras. Namun demikian, dengan semakin berkurangnya areal garapan pertanian, keterbatasan pasokan air irigasi dan mahalnya harga input, serta relatif rendahnya harga produk dapat menjadi faktor-faktor pembatas/kendala untuk program peningkatan kesejahteraan, dan kemandirian petani yang berbasis sumberdaya lokal tersebut.
Upaya untuk menuju pada peningkatan kesejahteraan petani secara operasional akan dilakukan melalui pemberdayaan penyuluhan, pendampingan, penjaminan usaha, perlindungan harga gabah, kebijakan proteksi dan promosi. Beberapa upaya tersebut memang relatif sangat diperlukan namun faktor kendala seperti disebutkan terdahulu perlu mendapatkan perhatian yang cermat hingga di tingkat daerah.
Hal tersebut dapat dimengerti mengingat sebagian besar petani di Indonesia untuk komoditas beras masih tergolong petani subsistem, dalam artian berperan sebagai produsen sekaligus konsumen beras. Dengan demikian maka jumlah beras yang dijual ke pasar akan sangat bergantung pada surplus konsumsi rumahtangga, dan harga beras serta harga barang lain yang diperlukan petani dari industri lain. Oleh karena itu kondisi perberasan nasional dan perilaku ekonomi petani penghasil beras, sebagai salah satu komponen ekonomi perberasan nasional. Semakin tinggi harga beras relatif terhadap harga barang lain, maka semakin sedikit jumlah produk yang dijual ke pasar karena mampu untuk membeli barang lain dengan hanya menjual beras sejumlah itu.
Sebaliknya semakin rendah harga beras relatif terhadap barang lain, maka petani akan menjual semakin banyak beras agar mampu membeli barang lain yang dibutuhkan rumah tangganya. Dengan demikian jika harga beras relatif lebih rendah dari harga barang lain, maka kemampuan rumahtangga petani untuk membeli barang lain menurun, yang berarti pula menurun tingkat kesejahteraannya. Namun, ditinjau dari ketersediaan beras di pasar akan meningkat karena petani menjual lebih banyak berasnya ke pasar.
Semakin meningkatnya kontribusi laju pertumbuhan impor beras pada kondisi lemahnya peranan pemerintah, untuk melindungi produksi sekaligus produsen dalam negeri dapat berakibat semakin lemahnya posisi tawar petani sebagai produsen beras di pasar domestik. Dengan demikian, upaya peningkatan ketersediaan beras domestik dan kesejahteraan petani, terutama petani padi yang sebagian besar berada di Jawa menjadi persoalan yang harus diperhatikan pula.
Apabila indeks nilai tukar petani dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan petani, maka semakin kecil indeks nilai tukar petani, maka akan semakin besar jumlah produk yang dipasarkan, agar dapat membeli barang-barang lain yang tidak diproduksinya. Dengan demikian, tingkat ketersediaan beras dari produksi petani domestik akan semakin meningkat, namun dengan konsekuensi terjadinya penurunan tingkat kesejahteraan petani dengan asumsi tingkat harga produk petani dan barang lain tidak berubah.
Sebenarnya peranan impor beras dapat dikurangi dengan melakukan efisiensi baik, dari proses produksi (on-farm activities) maupun pada kegiatan pasca panen, sehingga dapat mengurangi tingkat kehilangan hasil (waste). Hal tersebut dapat dimengerti mengingat jumlah nominal hasil yang terbuang relatif lebih besar dari jumlah beras yang diimpor, bahkan dengan laju pertumbuhan yang relatif tinggi pula (1,99% per tahun). Dengan upaya mengurangi tingkat kehilangan hasil hingga 50%, dapat mensubstitusi impor beras yang selama ini dilakukan dari pasar internasional.
Kehilangan hasil pada kegiatan produksi dapat disebabkan dari kondisi iklim, dan hama/penyakit yang menyerang tanaman, atau dapat pula karena rendahnya produktivitas yang diakibatkan oleh semakin berkurangnya air irigasi, dan penggunaan input produksi. Rendahnya dosis input seperti pupuk juga dapat menyebabkan rapuhnya bulir padi, sehingga tingkat rendemen gabah ke beras juga menurun.

Yusniar Dwi Hapsari
Posted on 17th November, 2011

Nama : Yusniar Dwi Hapsari
NIM : 101111294
Kelas: Alih Jalur A

MASALAH KETAHANAN PANGAN DAN PENGEMBANGANNYA

Ketahanan Pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah, maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan hal yang penting dan strategis, karena berdasarkan pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa tidak ada satu negarapun yang dapat melaksanakan pembangunan secara mantap sebelum mampu mewujudkan ketahanan pangan terlebih dahulu. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat pertumbuhannya yang tinggi, maka upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan merupakan tantangan yang harus mendapatkan prioritas untuk kesejahteraan bangsa.

Dalam sistem pangan, sebetulnya dikenal adanya sub sistem ketersediaan, sub sistem distribusi, dan sub sistem konsumsi.
Ketiga sub sistem ini merupakan paduan yang saling terkait yang tidak boleh dipisahkan dan sudah sewajarnya mampu kita rajut dengan penuh kehati-hatian. Sehingga tidak seharusnya dipersepsikan sebagai bagian yang terpisah antara satu sub sistem dengan sub sistem lainnya. Namun sesuai dengan perkembangan yang ada, ketiga sub sistem itu mestilah dapat diposisikan ke dalam kesatuan yang saling mempengaruhi sekaligus saling melengkapi.

Situasi ketersediaan pangan perlu diketahui secara periodik. Untuk itu diperlukan pemantauan ketersediaan, kebutuhan dan cadangan bahan pangan. Tujuan dari pemantauan ketersediaan, kebutuhan dan cadangan bahan pangan adalah untuk memantau tingkat ketersediaan dibandingkan dengan tingkat kebutuhan pangan masyarakat, sehingga informasi ini menjadi acuan bagi institusi yang bersangkutan dalam usaha perumusan kebijakan dan memecahkan masalah ketersediaan pangan.

Ketersediaan pangan yang cukup bahkan berlebih (surplus) adalah dambaan segenap warga bangsa di dunia. Begitu pun dengan adanya distribusi yang merata di seluruh penjuru tanah air dengan tingkat harga yang terjangkau oleh masyarakat adalah keinginan yang senantiasa harus diwujudkan. Bahkan semakin rendahnya laju konsumsi beras per kapita per tahun, adalah harapan yang selalu ingin digapai. Bangsa ini mendambakan agar laju konsumsi beras per kapita per tahunnya itu dapat ditekan hingga dibawah angka 100, sebagaimana yang sekarang ini sudah dicapai oleh negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia atau pun Thailand.

Sebaliknya, harga bahan pangan pokok yang meningkat menjadi topik utama pemberitaan media massa. Juga berita sawah kekeringan yang berarti menghadapi kerawanan pangan. Hal ini membuktikan bahwa ketahanan pangan bangsa tetap menjadi perhatian masyarakat luas. Ketahanan pangan rumah tangga merupakan salah satu aspek pembangunan nasional yang tidak boleh diabaikan pemerintah. Apabila negara tidak mampu menyediakan pangan yang cukup bagi rakyatnya, maka akan timbul keresahan sosial yang pada akhirnya dapat mengganggu kestabilan ekonomi dan politik. Dalam hal inilah, petani memiliki kedudukan strategis dalam ketahanan pangan : petani adalah produsen pangan, namun ironisnya petani adalah juga sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan. Dapat dikatakan petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketersediaan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun. Terkait hal di atas, usulan pengembangan ketersediaan pangan dapat dilakukan antara lain :
1. Komitmen dan kerjasama yang kuat antara pemerintah, legislatif, swasta dan masyarakat (LSM dan Perguruan Tinggi)
2. Mencegah dan mengurangi laju konversi lahan produktif
3. Memanfaatkan dengan lebih optimal berbagai bentuk sumberdaya lahan (lahan kering, lahan rawa, lahan pasang surut) untuk kepentingan pemantapan produksi pangan dan peningkatan pendapatan petani.

NAMA : IKA SARI APRILIA
Posted on 17th November, 2011

NAMA : IKA SARI APRILIA
NIM : 101111257
KELAS : ALIH JALUR A

UPAYA PENINGKATAN KETERSEDIAAN PANGAN BERBASIS PRODUK PANGAN LOKAL

Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya. Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.

Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.

Pangan lokal sesungguhnya merupakan bentuk kekayaan budaya kuliner kita. Keanekaragamannya yang terbentuk atas dasar ketersediaan bahan baku dan kebutuhan lokal, menjadikannya memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan masyarakat akan energi bagi tubuhnya. Seperti halnya umbi-umbian. Selama ini makanan umbian masih kurang diminati karena masyarakat menilai pangan umbian saat ini ketinggalan zaman. Akibatnya pangan tersebut jarang sekali disajikan sebagai hidangan sehari-hari atau sebagai camilan. Masyarakat kini masih memandang bahwa makanan Barat yang siap saji (fast food) lebih baik, sehat dan higienis. Padahal, makanan tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan baku terigu yang bahan bakunya di impor, seperti pizza atau mie. Ini dikarenakan miskinnya inovasi pengembangan diversifikasi produk pangan menyebabkan gagalnya pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal. Penyebabnya kurangnya SDM bermutu di bidang teknologi pangan non terigu. Di samping itu, pemanfaatan teknologi untuk pengembangan produk pangan lokal proporsinya memang masih dirasa kurang.

Berdasarkan penelitian, umbi-umbian tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Suweg memiliki kandungan kalsium yang baik bagi pertumbuhan anak, dapat menguatkan tulang dan gigi baik bagi anak maupun orang dewasa. Begitu juga dengan kimpul, selain mengandung kalsium, juga mengandung kalori yang digunakan oleh tubuh untuk beraktifitas.

Untuk itu, perlu diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini tentang manfaat mengkonsumsi makanan umbi-umbian. Hal ini dapat dilakukan mulai dari keluarga dengan menyajikan makanan lokal, kantin sekolah bahkan pasar swalayan. Sehingga makanan lokal akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan juga bisa diterima secara internasional. Selain itu dengan memanfaatkan berbagai pangan lokal, akan baik bagi stabilitas pangan suatu daerah.

Niken Enestasia Anggraini
Posted on 17th November, 2011

Nama : Niken Enestasia Anggraini
NIM : 101111234
Kelas : A
 Opini tentang ketersediaan pangan
Thomas Robert Malthus menyebutkan dalam teorinya bahwa pertumbuhan penduduk akan selalu mengikuti deret ukur, sedangkan ketersediaan pangan akan mengikuti deret hitung. Teori tersebut terkenal dengan teori ledakan penduduk di wilayah perkotaan yang tidak diimbangu dengan ketersediaan pangan. Namun teori tersebut tidak seluruhnya benar dan mendapat banyak sekali bantahan. Kelemahan dari teori yang dikemukakan oleh Malthus tersebut, salah satunya adalah tidak mempertimbangkan kemajuan teknologi pertanian yang dapat meningkatkan produktvitas pertanian. Tetapi, hal tersebut juga bisa dibantahkan karena untuk memenuhi ketersediaan pangan di Indonesia masih banyak dilakukan impor bahan makanan padahal dengan melihat letak geografis dan alam Indonesia seharusnya ketersediaan pangan bisa tercukupi tanpa adanya impor ke luar negeri.
Bahkan, saat-saat ini banyak muncul peristiwa kekurangan gizi atau gizi buruk karena akibat harga bahan sembako yang semakin mahal sehingga banyak sejumlah masyarakat yang masih makan nasi aking, lumpuh layu. Hal ini disebabkan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Dengan melihat banyaknya kasus di masyarakat ini, maka bisa dikatakan bahwa di Indonesia ketersediaan pangan masih sangat kurang bahkan bisa dikatakan masih belum terpenuhi. Sebenarnya fenomena ini jika dilihat sangatlah ironi karena dapat dilihat bahwa Indonesia merupakan negara agraris dan negara maritim, namun pada kenyataannya masih sangat banyak rakyat yang kelaparan dan terkena gizi buruk.
Fenomena gizi buruk sebagian besar terjadi akibat kemiskinan dan diperparah dengan perilaku pemerintah yang selama ini kecanduan mengimpor secara besar-besaran aneka bahan pangan seperti beras, jagung, kedelai dan lain-lain. Dengan adanya impor aneka pangan ke luar negeri malah membuat para petani sengsara karena hasil panen mereka akan dibeli dengan jumlah sedikit bahkan membuat harga bahan pangan di Indonesia semakin rendah. Dengan harga panen semakin rendah, maka bisa menyebabkan timbulnya kemiskinan di kalangan para petani. Hal inilah yang membuat adanya gizi buruk dan kurangnya ketersediaan pangan. Jika, pemerintah selektif seharusnya mengurangi adanya impor bahan pangan ke luar pangan dan menggunakan bahan pangan di Indonesia dan bisa menaikkan harga panen para petani.
Tetapi di indonesia hal ini juga masih dirasa sulit jika menyangkut pemenuhan adanya ketersediaan pangan yang cukup untuk rakyat. Dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan kemampuan ekonomi yang relatif rendah, maka untuk menjadi negara yang mandiri di bidang pangan masih perlu usaha yang keras. Impor pangan masih dijadikan alternatif terakhir untuk mengisi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan dalam negeri. Dengan melihat ini sulit sekali untuk mengatasi ketersediaan pangan di indonesia. Di lain pihak diharapkan tidak ada impor bahan pangan ke luar demi kesejahteraan petani. Tetapi dengan melihat jumlah penduduk yang sangat besar di Indonesia impor bahan pangan juga diperlukan untuk memenuhi ketersediaan pangan di Indonesia. Walaupun ketersediaan pangan sudah tercukupi bagi semua rakyat juga masih muncul masalah gizi buruk di beberapa daerah yang masih sangat sulit untuk ditangani. Hal inilah yang menjadi masalah sangat besar tentang ketersediaan pangan di Indonesia.
Masalah ketersediaan pangan juga berhubungan dengan pendistribusian bahan pangan, mengingat Indonesia adalah negara kepaulauan jadi sarana dan prasarana pendistribusian bahan pangan sangat penting agar ketersediaan pangan bisa menyeluruh ke seluruh rakyat Indonesia. Stabilitas pasokan dan harga merupakan indikator paling penting. Harga yang fluktuasi dapat merugikan petani, pedagang, dan konsumen. Dengan ini, harus diterapkan bahwa pembelian dan penyaluran bahan pangan harus melalui perum buloq. Selain itu, harus dibentuk sistem pengawasan agar distribusi bahan pangan dari buloq ke masyarakat bisa aman dan menyeluruh sehingga ketersediaan pangan di rakyat bisa menyuluh dengan baik. Diharapkan masalah kekurangan pangan dan gizi buruk bisa teratasi.
Dapat dikatakan bahwa ketersediaan pangan di indonesia bisa dikatakan sudah dapat terpenuhi walau masih perlu dilakukannya impor bahan pangan ke luar negeri demi pemenuhan bahan pangan bagi jumlah penduduk yang sangat besar. Tetapi, walau ketersediaan pangan dikatakan cukup terpenuhi masih banyak kasus kekurangan pangan dan gizi buruk di Indonesia ini diakibatkan kemiskinan dan distribusi bahan pangan ke daerah-daerah pelosok yang masih kurang. Sehingga, diharapkan pemerintah lebih meningkatkan adanya subsidi bahan pangan ke masyarakat yang menyeluruh yang tidak disalah gunakan oleh opnum-opnum tertentu yang membuat distribusi subsidi bahan pangan terhambat dan diperlukannya pegawas untuk mengawasi segala distribusi bahan pangan agar bisa sampai ke masyarakat dengan tepat agar masalah ketersediaan pangan bisa teratasi dengan baik. Juga, diperlukan adanya tambahan kendaraan atau armada agar distribusi bahan pangan bisa menyeluruh ke seluruh daerah di Indonesia dan daerah-daerah terpencil bisa tersosialisasikan.

AYU FITRIASIH MARGARINI
Posted on 18th November, 2011

NAMA : AYU FITRIASIH M.
NIM : 101111280
KELAS : A ALIH JALUR

KURANGNYA KEBUTUHAN PANGAN BAGI PENDUDUK INDONESIA

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman. Pangan dan Gizi merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis dan politis. Implikasinya bahwa penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai harus terjamin, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penduduk di seluruh wilayah pada setiap saat sesuai dengan pola makan dan keinginan mereka agar hidup sehat dan aktif. Oleh karena itu terpenuhinya kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi.
Ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana setiap individu dan rumahtangga memiliki akses secara fisik, ekonomi, dan ketersediaan pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat. Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangakau oleh masyarakat juga tidak boleh dilupakan. Namun bagi Indonesia, ketahanan pangan masih sebatas konsep. Permasalahan ketahanan pangan di Indonesia masih terus terjadi, masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Masih banyak masyarakat yang kekurangan bahan pangan, sehingga mengakibatkan banyaknya gizi buruk dan menurunkan produktivitas pekerja. Tidak hanya itu kurangnya kebutuhan pangan juga berdampak bagi daya tahan tubuh masyarakat terhadap penyakit terutama pada penduduk yang berada pada kondisi kesehatan buruk dan tingkat ekonomi atau pendapatan rendah.
Permasalahan ketahanan pangan ini didasari oleh beberapa aspek, yang pertama yaitu aspek produksi dan ketersediaan pangan. Ketahanan pangan menghendaki ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dan setiap rumah tangga. Dalam arti setiap penduduk dan rumah tangga mampu untuk mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup. Tetapi sekalipun negara kita Indonesia masuk dalam kategori sebuah negara yang kaya akan hasil bumi seperti kebutuhan pangan namun tetap terjadi permasalahan dalam aspek produksi. Permasalahan ini diawali dengan ketidakcukupan produksi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan produksi pangan yang relatif lebih lambat dari pertumbuhan permintaannya. Permasalahan ini akan berpengaruh pada ketersediaan bahan pangan. Ketersediaan bahan pangan bagi penduduk akan semakin terbatas akibat kesenjangan yang terjadi antara produksi dan permintaan. Sehingga negara kita mau tidak mau memilih untuk meng-import bahan pangan untuk penduduk Indonesia. Namun sampai kapan bangsa ini mau mengimpor bahan pangan? Apabila bangsa kita terus-menerus impor bahan pangan dari negara lain, bangsa kita tidak akan pernah bisa berkembang, dan kehidupan para petani pun semakin terpuruk.
Aspek selanjutnya ialah aspek distribusi. Permasalahan di dalam permbangunan ketahanan pangan adalah distribusi pangan dari daerah sentra produksi ke konsumen di suatu wilayah. Distribusi adalah suatu proses pengangkutan bahan pangan dari suatu tempat ke tempat lain, biasanya dari produsen ke konsumen. Dengan kita mengimpor bahan pangan dari negara lain semisal kita impor beras dari Thailand, karena distribusi yang memakan waktu juga transportasi dari produsen ke konsumen maka harga beras impor yang dijual di negara kita mau tidak mau akan menjadi lebih tinggi dibandingkan di negara Thailand. Berikut ini ada empat akar permasalahan pada distribusi pangan, yang dihadapi. Pertama, dukungan infrastruktur, yaitu kurangnya dukungan akses terhadap pembangunan sarana jalan, jembatan, dan lainnya. Kedua, sarana transportasi, yakni kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat di dalam pemeliharaan sarana transportasi kita. Ketiga, sistem transportasi, yakni sistem transportasi negara kita yang masih kurang efektif dan efisien. Selain itu juga kurangnya koordinasi antara setiap moda transportasi mengakibatkan bahan pangan yang diangkut sering terlambat sampai ke tempat tujuan. Selanjutnya masalah keamanan dan pungutan liar, yakni pungutan liar yang dilakukan oleh preman sepanjang jalur transportasi di Indonesia masih sering terjadi. Sehingga menyebabkan distribusi bahan pangan terkendala.
Aspek lain yang tak kalah penting ialah aspek konsumsi. Permasalahan dari aspek konsumsi diawali dengan suatu keadaan dimana masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi terhadap bahan pangan beras. Walaupun kita menyadari bahwa beras merupakan bahan pangan pokok utama masyarakat Indonesia, keadaan ini dapat mengancam ketahanan pangan negara kita. Dapat kita lihat pada produksi beras yang terus menurun dari tahun ke tahun tetapi tidak diimbangi oleh komsumsi yang terus meningkat pada masyarakat. Walaupun masih bisa teratasi dengan mengimpor beras dari negara lain, tapi mau sampai kapan? Pertanyaan ini perlu kita perhatikan. Aspek terkhir ialah aspek kemiskinan. Ketahanan pangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek kemiskinan. Kemiskinan menjadi penyebab utamanya permasalahan ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan tingkat pendapatan masyarakat yang dibawah rata-rata sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Tidak tercukupi pemenuhan kebutuhan masyarakat dikarenan daya beli masyarakat yang rendah juga akan mempengaruhi tidak terpenuhinya status gizi masyarakat.
Maka dari itu hendaklah pemerintah negara kita yang bijaksana dapat lebih memperhatikan ketersediaan pangan bagi penduduknya. Program-program perbaikan yang telah dirancang dan disusun hendaklah dilaksanakan dengan seksama. Selain itu juga perlu ditingkatkan lagi kerjasama antar lintas sektor sehingga program-program maupun kebijakan yang telah dibuat untuk mempebaiki ketersediaan pangan bagi penduduk dapat berjalan dengan lancar dan dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan oleh seluruh mayarakat Indonesia.

MARINA RAKHMAWATI
Posted on 19th November, 2011

Nama : Marina Rakhmawati
NIM : 101111287
Kelas : A (S1 Alih Jenis sore)

BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB MASALAH KETERSEDIAAN PANGAN DAN SOLUSINYA.
Ketersediaan pangan merupakan salah satu aspek yang dapat mendukung pertumbuhan perekonomian suatu negara. Sebab, dengan adanya ketersediaan pangan yang aman, sehat dan cukup maka kebutuhan manusia akan makanan untuk mencukupi kebutuhan energinya akan terpenuhi. Dengan adanya sumber energi yang cukup maka mereka dapat melakukan aktivitas untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dalam hal mencukupi kebutuhan ekonomi dan hal ini secara langsung berpengaruh pada tingkat perekonomian suatu negara sebab pendapatan per kapita masyarakat akan meningkat. Salah satu cara untuk meningkatakan ketersediaan pangan adalah dengan adanya kegiatan pembangunan pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan petani dalam melakukan strategi-strategi pengembangan hasil produksi pangan. Kegiatan pembangunan pertanian ini dilaksanakan melalui tiga program yaitu :
1. Program peningkatan ketahanan pangan.
Program ini diarahkan pada kemandirian masyarakat atau petani yang berbasis sumber daya lokal yang secara operasional dilakukan melalui program peningkatan produksi pangan, menjaga ketersediaan pangan yang cukup, aman serta halal yang dapat tersedia di setiap daerah dan dapat dijangkau setiap saat serta adanya antisipasi agar tidak terjadi kerawanan pangan.
2. Program pengembangan agribisnis.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi yang variatif dengan kualitas yang sama tetapi tetap dapat menambah ketersediaan pangan yang ada. Misalnya pengembangan agribisnis kentang dan bahan makanan tepung sebagai pangan cadangan pengganti beras.
3. Program peningkatan kesejahteraan petani.
Hal ini dapat dilakukan melalui pemberdayaan penyuluhan, pendampingan, penjaminan usaha, perlindungan harga gabah serta kebijakan proteksi dan promosi.
Saat ini Indonesia masih belum mencapai swasembada surplus untuk beras karena produksinya masih kurang dari 20% (AFSIS,2008). Hal ini juga dibenarkan oleh wakil presiden Boediono, beliau mengungkapkan bahwa Indonesia masih belum memiliki ketersediaan pangan yang terbilang aman sehingga krisis pangan masih mengancam. Sebenarnya Indonesia mampu untuk meningkatkan ketersediaan pangannya kerena Indonesia memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, hanya saja untuk saat ini Indonesia masih lebih fokus terhadap ketersdiaan pangan yang berupa beras. Hal ini mengakibatkan sumber pangan alternatif lainnya seperti sagu, jagung ataupun kentang kurang mendapat perhatian padahal sumber pangan alternatif tersebut juga mengandung karbohidrat yang baik seperti beras.
Proses pemerataan ketersediaan pangan di setiap wilayah dapat saja berbeda karena setiap wilayah di Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya yang berbeda-beda pula sesuai dengan tipe ekologi. Selain itu, faktor distribusi pangan yang kurang maksimal pada tiap daerah juga menyebabkan terganggunya penyampaian pangan pada konsumen dan hal ini menimbulkan adanya ketersediaan pangan itu tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia harus bisa mengelola sumber daya alam yang tersedia dengan sebaik-baiknya dan seproduktif mungkin.
Sebenarnya masalah pokok dari ketersediaan pangan yaitu adanya ketidakseimbangan antara tingkat konsumsi masyarakat dengan produktivitas komoditas pangan. Tingkat permintaan dan penawaran yang tinggi akan bahan pangan tidak diikuti dengan meningkatnya produktivitas oleh karena itu, jumlah pangan yang tersedia lebih sering berkurang tanpa diikuti adanya simpanan atau cadangan. Melihat masalah ini maka kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan produktivitas dan stabilitas harga sangat dibutuhkan sebab, jika produktivitas meningkat dan harga pangan stabil maka seluruh masyarakat dapat menjangkau kebutuhan pangan mereka dan kualitas hidup petanipun meningkat karena harga pangan tidak berubah-ubah. Selain itu, pengembangan teknologi di bidang pertanian merupakan salah satu kunci untuk mempertahankan ketersedian pangan yang ada pada suatu negara. Salah satu fungsi dari pengembangan teknologi di bidang pertanian adalah untuk mengantisipasi adanya perubahan iklim yang ekstrem dimana, karena adanya perubahan iklim maka hasil pertanian akan mengalami masalah seperti busuk, rusak (tidak layak konsumsi) ataupun masa panen yang tidak menentu.

IVA NURMA RAHMAWATI
Posted on 19th November, 2011

TUGAS EKOLOGI PANGAN GIZI
Nama : Iva Nurma Rahmawati
NIM : 101111250
Kelas : A (alih jalur)

Ketahanan Pangan

Dari perspektif sejarah istilah ketahanan pangan (food security) muncul dan dibangkitkan karena kejadian krisis pangan dan kelaparan. Istilah ketahanan pangan dalam kebijakan pangan dunia pertama kali digunakan pada tahun 1971 oleh PBB untuk membebaskan dunia terutama negara–negara berkembang dari krisis produksi dan suplay makanan pokok.
Fokus ketahanan pangan pada masa itu menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan pokok dan membebaskan daerah dari krisis pangan yang nampak pada definisi ketahanan pangan oleh PBB sebagai berikut: food security is availability to avoid acute food shortages in the event of wide spread coop vailure or other disaster (Syarief, Hidayat, Hardinsyah dan Sumali, 1999).
Selanjutnya definisi tersebut disempurnakan pada Internasional Conference of Nutrition 1992 yang disepakati oleh pimpinan negara anggota PBB sebagai berikut: tersedianya pangan yang memenuhi kebutuhan setiap orang baik dalam jumlah dan mutu pada setiap saat untuk hidup sehat, aktif dan produktif.
Di Indonesia, secara formal dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional, istilah kebijakan dan program ketahanan pangan diadop sejak tahun 1992 (Repelita VI) yang definisi formalnya dicantumkan dalam undang-undang pangan tahun 1996. Dalam pasal 1 undang-undang pangan tahun 1996, ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, merata dan terjangkau (http://www.theceli.com/dokumen/ produk/1996/uu7-1996.htm).
Definisi ini menunjukkan bahwa target akhir dari ketahanan pangan adalah pada tingkat rumah tangga.

Beberapa definisi tentang ketahanan pangan dari beberapa ahli :
Ketahanan pangan adalah ketersediaan untuk menghindarkan kekurangan pangan akut dari kejadian penyebaran luasnya kegagalan kerjasama atau bencana lain (UN, 1974).
Kemampuan memenuhi level target dari konsumsi secara tahunan (Siamwalla and Valdes, 1980 dalam Maxwell dan Frankenberger, 1992).

Suatu situasi yang mana seluruh individu dalam suatu penduduk memiliki sumberdaya untuk menjamin akses cukup pangan untuk hidup aktif dan sehat (Weber dan Jayne, 1991)
Dari definisi diatas dapat dijelaskan bahwa ketahanan pangan merupakan suatu proses untuk mempertahankan kondisi individu, kelompok masyarakat maupun negara dalam mengakses dan memenuhi kebutuhan pangan secara agar tidak kekurangan pangan dikarenakan kondisi perekonomian yang sulit ataupun karena masalah lainya sehingga individu ataupun masyarakat dapat hidup aktif dan sehat dan juga kondisi negara akan tetap stabil karena tidak memerlukan mengimpor bahan makanan dari negara lain.

Pemantapan ketahanan pangan tidak terlepas dari penanganan kerawanan pangan karena kerawanan pangan merupakan penyebab penting instabilitas ketahanann pangan. Kerawanan pangan dapat disebabkan karena kendala yang bersifat kronis seperti terbatasnya sumber daya dan kemampuan, maupun yang bersifat sementara seperti tertimpa musibah atau bencana alam. Untuk mengatasi hal ini pemerintah dan masyarakat perlu membangun suatu sistem kewaspadaan, yang mampu mendeteksi secara dini adanya gejala kerawanan pangan di sekitarnya serta dapat meresponnya dengan cepat dan efektif. Penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk menghindarklan masyarakat tersebut dari kerawanan yang lebih parah, dengan segala dampak yang mengikutinya.

Opsi Pencapaian Ketahanan Pangan:
Ada dua pilihan luas untuk mencapai ketahanan pangan pada tingkat nasional yaitu swasembada pangan atau kecukupan pangan. Swasembada pangan diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, yang sejauh mungkin berasal dari pasokan domestik dengan meminimalkan ketergantungan pada perdagangan pangan. Di lain pihak, konsep kecukupan pangan adalah sangat berbeda dengan konsep swasembada pangan, akibat masuknya variabel perdagangan internasional. Dalam konsep kecukupan pangan, menuntut adanya kemampuan menjaga tingkat produksi domestik ditambah dengan kemampuan untuk mengimpor pangan agar dapat memenuhi kebutuhan (kecukupan) pangan penduduk. Keuntungan resiko dari menggantungkan pada perdagangan internasional untuk menjamin ketahanan pangan saat ini tampaknya masih menjadi topik hangat perdebatan diantara beberapa strategi alternatif.

Strategi Pencapaian Ketahanan Pangan:
Pada masa yang akan datang upaya-upaya memantapkan swasembada beras dan pencapaian swasembada lainnya tampaknya perlu difokuskan pada terwujudnya ketahanan pangan, diversifikasi konsumsi pangan serta terjaminnya keamanan pangan.9 Dengan mengadaptasi pendapat dari beberapa dari pakar, dapat dirumuskan beberapa strategi umum untuk mencapai ketahanan pangan rumah tangga. Pertama adalah sangat perlu untuk mengadopsi strategi pembangunan dan kebijakan ekonomi makro yang menciptakan pertumbuhan yang berdimensi pemerataan dan berkelanjutan (sustainable development). Kedua adalah merupakan keperluan yang mendesak untuk mempercepat pertumbuhan sektor pertanian dan pangan serta pembangunan perdesaan dengan fokus kepentingan golongan miskin. Dan ini berarti pertanian (pangan) harus menjadi mainstream dalam ekonomi nasional. Ketiga, sudah saatnya harus meningkatkan akses terhadap lahan dan sumberdaya pertanian dalam arti luas secara lebih bijaksana, termasuk menciptakan dan meningkatkan kesempatan kerja, transfer pendapatan, menstabilkan pasokan pangan, perbaikan perencanaan dan pemberian bantuan pangan dalan keadaan darurat kepada masyarakat.

Nurlaili Haida Kurnia Putri / V A
Posted on 19th November, 2011

Nama : Nurlaili Haida Kurnia Putri
NIM : 101111116
Kelas : A (Alih Jenis)
Tugas : Ekologi Pangan dan Gizi

TUGAS TENTANG KETERSEDIAAN PANGAN
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Menurut UU RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa pangan merupakan hak asasi bagi setiap individu di Indonesia. Oleh karena itu terpenuhinya kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Selain itu pangan juga memegang kebijakan penting dan strategis di Indonesia berdasar pada pengaruh yang dimilikinya secara sosial, ekonomi, dan politik.
Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat juga tidak boleh dilupakan.
Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global, nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan suatu rangkaian sistem hirarki. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya ketersediaan pangan bagi umat manusia.
Bagi Indonesia, ketahanan pangan masih sebatas konsep. Pada prakteknya, permasalahan ketahanan pangan di Indonesia masih terus terjadi, masalah ini mencakup empat aspek aspek pertama ialah aspek produksi dan ketersediaan pangan. Ketahanan pangan menghendaki ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dan setiap rumah tangga. Dalam arti setiap penduduk dan rumah tangga mampu untuk mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup.
Permasalahan aspek produksi diawali dengan ketidakcukupan produksi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan produksi pangan yang relatif lebih lambat dari pertumbuhan permintaannya. Permasalahan ini akan berpengaruh pada ketersediaan bahan pangan. Ketersediaan bahan pangan bagi penduduk akan semakin terbatas akibat kesenjangan yang terjadi antara produksi dan permintaan. Aspek selanjutnya ialah aspek distribusi. Permasalahan di dalam permbangunan ketahanan pangan adalah distribusi pangan dari daerah sentra produksi ke konsumen di suatu wilayah. Distribusi adalah suatu proses pengangkutan bahan pangan dari suatu tempat ke tempat lain, biasanya dari produsen ke konsumen. Selama ini, permasalahan ini dapat diatasi dengan impor bahan pangan tersebut. Namun, sampai kapan bangsa ini akan mengimpor bahan pangan dari luar? Padahal negara kita sangat kaya dengan keanekaragaman pangan dan daerah yang subur, tapi sangat disayangkan banyak prodak dari indonesia yang kualitas tinggi di eksport karena harga jual yang lebih tinggi diluar negeri dari pada dalam negeri. Sedangkan sisanya (kualitas dua/sisa) di lempar ke pasar indonesia.
Aspek lain yang tak kalah penting ialah aspek konsumsi. Permasalahan dari aspek konsumsi diawali dengan suatu keadaan dimana masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi terhadap bahan pangan beras. Keadaan ini dapat mengancam ketahanan pangan negara kita. Untuk mencegah hal itu, kita perlu memperhatikan tingkat pengetahuan masyarakat tersebut terhadap bahan pangan atau makanan yang dikonsumsi dan pendapatan masyarakat. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap bahan pangan juga sangat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat tersebut. Apabila suatu masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahan pangan yang sehat, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi. Maka masyarakat tersebut tentunya akan lebih seksama dalam menentukan pola konsumsi makanan mereka. Selain itu, pendapatan masyarakat sangat berpengaruh di dalam menentukan pola konsumsi masyarakat.
Aspek terakhir ialah aspek kemiskinan. Ketahanan pangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek kemiskinan. Kemiskinan menjadi penyebab utamanya permasalahan ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan tingkat pendapatan masyarakat yang dibawah rata-rata sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Tidak tercukupi pemenuhan kebutuhan masyarakat dikarena daya beli masyarakat yang rendah juga akan mempengaruhi tidak terpenuhinya status gizi masyarakat. Tidak terpenuhinya status gizi masyarakat akan berdampak pada tingkat produktivitas masyarakat Indonesia yang rendah. Status gizi yang rendah juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan generasi muda suatu bangsa. Oleh karena itu dapat kita lihat dari tahun ke tahun kemiskinan yang dikaitkan dengan tingkat perekonomian,daya beli, dan pendapatan masyarakat yang rendah sangat berpengaruh terhadap stabilitas ketahanan pangan di Indonesia.
Dari berbagai aspek permasalahan di atas, sebenarnya ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh bangsa kita agar memiliki ketahanan pangan yang baik. Diantara diperlukan adanya kerjasama dan integrasi yang baik dari setiap stakeholder sehingga dapat menjalankan program pengembangan sumber daya lokal. Dengan kerjasama tersebut dapat menciptakan stabilitas pangan di bangsa Indonesia.

ANITA MARTIKA DEWI / VA
Posted on 19th November, 2011

ANITA MARTIKA DEWI
101111277 / 45
KELAS A

Ledakan Penduduk Ancam Ketersediaan Pangan

Pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang kian pesat tidaklah seimbang dengan ketersediaan pangan yang cukup di banyak negara. Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Oktober 2011 ini lahir penduduk bumi yang ke tujuh miliar. Tingkat pertumbuhan yang begitu pesat membuat penduduk bumi diperkirakan sudah mencapai 9,5 miliar pada 2050 mendatang. Bagaimana memenuhi kebutuhan pangan manusia sebanyak itu? Inilah tantangan memerlukan perhatian khusus seluruh umat manusia.
Sekarang ini pun masih banyak penduduk dunia yang terancam atau mengalami kelaparan. Masih banyak pula manusia yang hidup dalam zona rawan pangan..Sebagai negara yang memiliki penduduk terbesar keempat di dunia, masalah ketersediaan pangan tentu menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia juga terus bertambah, dan belakangan ini malah lebih cepat tingkat pertumbuhannya..Menghadapi masalah pelik ini, semua jajaran pemerintahan harus menyiapkan langkah-langkah sistematis.
Pertambahan populasi de¬ngan sendirinya berbading lurus dengan pertambahan bermacam kebutuhan sejenis pangan, sandang, papan, jasa, pen¬didikan, dan sebagainya. Di sisi lain, ketersediaan sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun tak terbarukan, ber¬kurang. Lahan pertanian, misal¬nya, luasnya semakin sempit karena dialihfungsikan menjadi kebutuhan papan atau yang lain. Perumahan di sekitar kita semakin hari semakin rapat dan manusia semakin ramai. Realitas demikian adalah bukti positif peningkatan populasi.
Di antara berbagai macam kebutuhan tersebut, kebutuhan esensial dan dasar (baca:pa¬ngan) adalah yang paling mendesak yang meliputi sum¬ber daya alam seperti makanan dan minuman, bahkan udara. Kebutuhan akan energi dalam berbagai bentuk juga semakin hari semakin primer seiring dengan pola hidup kita yang semakin bergantung hampir sepenuhnya kepada energi dan turunannya. Sebut saja ke¬butuhan akan listrik, minyak, gas, dsb untuk memenuhi kebutuhan domestik, industri, kantor, dan public lain. Fak¬tanya kekurangan akan ke¬butuhan-kebutuhan dasar inilah yang membuat orang, saya pikir termasuk kapitalis, kha¬watir dengan ancaman di balik ledakan populasi.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kembali mengingatkan bahwa ledakan jumlah penduduk yang kemungkinan terjadi di lndo-nesia beberapa tahun mendatang bisa mengancam ketersediaan pangan.
Konsumsi per kapita beras di Indonesia masih sangat tinggi, yakni 139,15 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan ketersediaan lahan pangan pertanian makin terbatas. Hal ini juga menyebabkan terancamnya ketersediaan pangan bagi penduduk. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan jumlah penduduk dunia yang makin besar dari waktu ke waktu. Penduduk naik dari 2 miliar menjadi 7 miliar jiwa hanya dalam waktu kurang satu abad. Lonjakan jumlah penduduk dan pola pembangunan wilayah yang bersifat horizontal memaksa alih fungsi lahan, baik sawah maupun hutan, untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan industri. Hal ini telah lama menjadi penyebab menyusutnya jumlah lahan pertanian, terutama sawah.
Mengacu pada data Badan Pertanahan Nasional, selama 1994-2004, luas sawah di Jawa berkurang 36.798 hektare atau rata-rata 3.679 hektare per tahun. Artinya, setiap hari 10 hektare sawah berubah fungsi. Kondisi ini, menyebabkan proses penyediaan pangan bagi penduduk, terutama penyediaan beras, menjadi makin berat.
Berdasarkan sensus tahun 2010, diketahui-bahwa pertumbuhan penduduk melebihi proyeksi nasional, yaitu 237,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) 1,49 per tahun. Lajupertumbuhan yang tinggi akan mengakibatkan konversi lahan persahawan juga terus meningkat, padahal jumlah penduduk yang tinggi juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi akan beras, Untuk menghindari terjadinya ancaman ketersediaan pangan, maka laju pertumbuhan penduduk harus ditekan.
Ada tiga komponen penting dalam sistem pangan nasional, yaitu ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Sistem pangan kita akan tangguh jika kita dapat menjamin ketiga komponen penting tersebut. Untuk menjamin ketersediaan pangan aman, berbagai strategi produksi mulai dari tata guna lahan, input teknologi bibit, penyediaan pupuk, pengendalian hama terpadu, hingga strategi pembiayaan usaha tani selama ini telah menjadi tugas sehari-hari Kementerian Pertanian.
Pangan sudah tidak dipersepsikan sebagai komoditas kemanusiaan. Untuk itu mestinya ada upaya untuk mewujudkan tak hanya ketahanan pangan, melainkan juga kedaulatan pangan di mana kita harus memiliki kebijakan dan strategi sendiri atas produksi, distribusi, dan konsumsi pangan berkelanjutan, sehingga mampu menjamin hak atas pangan bagi seluruh penduduk.

MAHARDIKA NILA K
Posted on 19th November, 2011

NAMA : MAHARDIKA NILA K
NIM : 101111283
KELAS : A
TUGAS ARTIKEL KETERSEDIAAN PANGAN
Negara kita, Indonesia, merupakan negara yang memiliki ribuan pulau dengan struktur dan dasar tanah yang subur. Dengan bahan pangan dasar kita seperti beras, jagung, umbi-umbian dan juga kedelai, masyarakat kita di 33 provinsi saat ini perlu mengetahui dan menggali lebih akan ketersediaan bahan pangan. Kendati Indonesia negara yang kaya akan alam dan hasil buminya melimpah, negara kita saat ini dinilai belum kuat dalam ketersediaan bahan pangannya. Hal ini bisa dilihat dari keputusan pemerintah dalam pengimporan bahan pangan pada beberapa waktu silam (harian KOMPAS edisi Senin, 24 Agustus 2009) yang dinilai pemerintah sebagai usaha untuk memenuhi kekurangan pangan di tanah air.
Secara umum kondisi pertanian kita mengalami ketidakberdayaan petani yang disebabkan kegagalan pasar, keterbatasan jumlah institusi dan sumber daya manusia pertanian di daerah, perguruan tinggi yang mempunyai expert technology dan mahasiswa yang belum melaksanakan aktifitas tridharma yang sinergis dengan pembangunan pertanian.
Contoh yang jelas pada sumber daya manusia didaerah, dapat dilihat dari pengaruh kebijakan harga pangan yang diatur oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Sehingga petani terus mengalami situasi yang stagnan/tidak berkembang dan hal ini berefek buruk pada kestabilan harga pangan dan juga ketersediaan bahan pangan. Kemudian pada pengelolaan dan distribusi pangan sering terjadi pendistribusian yang terlambat akibat kemacetan, terutama di daerah pelabuhan dan jalan utama. Masih banyaknya kondisi jalan yang buruk dan pengendalian kemacetan menjadi faktor utama pada lambatnya distribusi pangan. Disini peran dari pemerintah perlu memperhatikan data base pangan dan pola transportasi antar propinsi di Indonesia yang sangat mempengaruhi distribusi pangan tiap wilayah pada pulau-pulau di Indonesia. Apalagi menjelang liburan dan perayaan umat beragama, seperti pada bulan Puasa, Lebaran, Natal, Galungan dll nantinya, ketersediaan pangan dapat dipenuhi.
Wacana mengenai pangan ini memiliki kompleksitas yang tinggi. Karena mencakup banyak pihak dari rakyat, mahasiswa dan pemerintah yang bergumul dari berbagai ilmu, terkhusus dari ilmu Pertanian dan Teknologi Pertanian. Apalagi jika sudah berbicara tentang sistem pertanian. Mau tidak mau kita harus menyusun daftar faktor-faktor yang bermain di dalamnya dan ketika semua faktor sudah didaftar, maka akan muncul beragam persoalan lagi. Oleh karena itu, perlu adanya kerjasama yang nyata dan sinergis dari berbagai pihak yang terlibat sehingga nantinya dapat menghasilkan pencapaian kestabilan ketersediaan pangan kita. Agar nantinya, terpenuhinya jaminan pangan yang diharapkan mampu menciptakan kemandirian bangsa dalam pemenuhan kebutuhan.
Berdasarkan data FAO (2004) dapat dikemukakan bahwa pada empat dekade terakhir produksi beras domestik telah mampu memenuhi sekitar 97% dari total pasokan yang dibutuhkan setiap tahun. Jumlah pemenuhan pasokan beras tertinggi dicapai pada periode 1981-1990 yang mencapai 101% dari total pasokan per tahun, namun kemudian menurun terus hingga pada tiga tahun terakhir mencapai rata-rata 94% dari total pasokan per tahun.
Sebagian besar atau sekitar 89% dari pasokan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional yang berdasarkan angka-angka pada tabel tersebut dapat diperhitungkan bahwa tingkat konsumsi beras untuk pangan (food) mencapai 121,6 kg per kapita. Tingkat konsumsi untuk pangan tersebut pada dasarnya telah dapat dipenuhi dari produksi domestik yang mencapai 107,5% dari kebutuhan pangan nasional. Namun demikian impor beras masih dilakukanuntuk memenuhi kebutuhan nasional yaitu dengan jumlah rata-rata per tahun mencapai sekitar 1.043.140 ton atau sekitar 4,7% dari pasokan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa kesetimbangan neraca perberasan nasional masih ditopang oleh impor walaupun dengan tingkat/persentase pemenuhan pasokan domestik yang cenderung menurun selama empat dekade terakhir.
Permintaan akan beras dengan tingkat konsumsi per kapita sebagai indikatornya ternyata untuk jangka panjang mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap ketersediaan beras nasional walaupun dalam jangka pendek tidak menunjukkan berpengaruh yang signifikan terhadap ketersediaan beras nasional. Untuk jangka panjang berarti setiap satu persen kenaikan tingkat permintaan atau konsumsi per kapita per tahun menuntut peningkatan ketersediaan pangan sebesar tiga persen setiap tahun. Sedangkan produksi domestik yang diindikasikan dengan luas panen menunjukkan pengaruh positif signifikan namun dengan persentase yang relatif lebih kecil dari peningkatan konsumsi. Untuk setiap satu persen kenaikan produksi hanya meningkatkan ketersediaan beras nasional sebesar 0,91 persen sehingga untuk menjamin keberlanjutan ketersediaan beras nasional yang berasal dari produksi dalam negeri diperlukan upaya peningkatan produktivitas per hektar luas panen sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih tinggi pada tingkat ketersediaan beras nasional. Hal ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah mengingat pada periode setelah krisis justru ketersediaan beras meningkat pada kondisi luas panen menurun dan ternyata kondisi ini ditunjukkan pula oleh laju pertumbuhan produksi yang semakin lambat yaitu sebesar 0,85 persen per tahun.
Selain itu, pengaruh impor beras terhadap ketersediaan beras nasional yang diindikasikan oleh rasio harga domestik dan internasional untuk jangka panjang ternyata tidak signifikan namun dalam jangka pendek mempunyai pengaruh yang signifikan. Sebelum krisis, setiap penurunan satu persen rasio harga domestik terhadap harga internasional akan menyebabkan kenaikan ketersediaan beras nasional sebesar 0,1 persen per tahun yang berarti bahwa impor beras tetap dilakukan oleh pemerintah Bulog walaupun tingkat harga domestik relatif lebih rendah. Namun setelah krisis dengan kondisi tidak ada monopoli dari Bulog ternyata kenaikan harga beras domestik relatif terhadap harga internasional mendorong terjadinya impor yang langsung berpengaruh terhadap kenaikan tingkat ketersediaan beras nasional. Hal ini menunjukkan kontribusi peranan beras impor terhadap ketersediaan beras nasional walaupun masih relatif kecil yaitu setiap kenaikan satu persen relatif harga domestik terhadap harga internasional akan meningkatkan impor sebesar 0,19 persen per tahun.
Secara keseluruhan dapat diketahui bahwa ketersediaan beras nasional setelah krisis meningkat secara signifikan, baik dari produksi dalam negeri maupun impor, namun peningkatan produksi domestik dengan laju pertumbuhan yang semakin lambat akan menyebabkan meningkatnya peranan beras impor terhadap ketersediaan beras nasional. Selain itu, terjadi pula kondisi yang dilematis selama ini antara upaya peningkatan ketersediaan beras/pangan nasional dengan menurunnya tingkat kesejahteraan rumahtangga petani umumnya. Berdasarkan pengaruh masing-masing faktor penentu ketersediaan beras nasional tersebut dapat diperhitungkan tingkat kontribusi faktor-faktor tersebut terhadap pertumbuhan ketersediaan beras nasional.
Untuk jangka panjang kebijakan pembatasan impor tersebut dapat dikurangi secara bertahap namun kebijakan peningkatan produksi domestik masih diperlukan yang disertai pula dengan upaya penganeka-ragaman konsumsi atau pangan sehingga mengurangi tekanan pada ketersediaan satu macam produk pangan, terutama beras. Konsekuensinya, keanekaragaman ketersediaan bahan pangan perlu ditingkatkan pula dengan didukung agroindustri pengolahan pangan non-beras yang berbasis produk dalam negeri agar dapat tersedia dan mudah diperoleh dimana saja. Pengembangan agroindustri tersebut diupayakan agar dapat sekaligus mendorong berkembangnya agroindustri rumahtangga sehingga sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan rumahtangga di pedesaan umumnya dan petani khususnya.

ANGGUN WIDA PRAWIRA
Posted on 20th November, 2011

NAMA: ANGGUN WIDA PRAWIRA
NIM : 10 1111 247
KELAS : A
PROGRAM ALIH JENIS FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT-UNAIR 2011

SAGU UNGGUL, SUMBER PANGAN LOKAL UNTUK KETAHANAN PANGAN & GIZI MASYARAKAT PESISIR TAMBANG PT. FREEPORT INDONESIA

Sejak beroperasinya PT. Freeport Indonesia, tahun 1967 di Kabupaten Mimika, Papua, hingga saat ini telah menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya alam dan perubahan kualitas lingkungan. Tailing/Sirsat atau limbah buangan sisa dari proses pengolahan bijih berupa batuan halus dan air, sudah menghancurkan dataran rendah sungai Ajkwa yang merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir. Pencemaran akibat tailing mencakup area pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan budidaya air. Kawasan disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Ajkwa tersebut menjadi dangkal, sempit bahkan tidak lagi produktif.
Dampak negatif permanen yang ditimbulkan dari aktivitas tailing terhadap lahan pertanian, perkebunan, kehutanan dan budidaya air, yaitu menimbulkan ancaman terhadap kecukupan ketersediaan pangan, stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuatif dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun, keterjangkauan terhadap pangan serta kualitas keamanan pangan bagi masyarakat pesisir.
Selama ini, pola konsumsi bahan makanan pokok masyarakat pesisir tambang sudah mulai akrab dengan beras yang lebih banyak didatangkan dari luar Papua dibandingkan dengan sagu. Peranan sagu sebagai makanan pokok di dalam masyarakat lokal tertentu mulai digeser oleh pangan lain (beras) yang umumnya berasal dari impor sehingga resiko bahaya rawan pangan menjadi tinggi. Padahal sagu merupakan sumber pangan pokok lokal Papua yang mestinya harus dikembangkan untuk ketahanan pangan. Masyarakat di daerah pesisir pantai Mimika mempunyai pola kehidupan yang sangat berbeda jauh dengan masyarakat pegunungan. Selain menangkap ikan sebagai kebutuhan pokok, sagu adalah makanan pokok mereka yang diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun. Dusun sagu yang tumbuh secara alami di sekitar mereka adalah roh kehidupan bagi suku Kamoro. Namun keberadaan dusun sagu yang tumbuh secara alamiah dan terus-menerus dieksploitasi tanpa ada pemberdayaan, tentu tak akan bertahan lama.
Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) termasuk salah satu bahan pangan alternatif unggulan karena produktivitasnya mencapai lima kali lebih besar dibanding padi, jagung, gandum maupun kentang. Sagu merupakan tumbuhan lokal (tanaman asli new guinea) yang sangat bermanfaat bagi masyarakat bahkan warga pendatang di Timika banyak yang memilih sagu sebagai makanan alternatif yang mempunyai rasa nikmat tersendiri, bermakna budaya bahkan tidak jarang menjadikan sagu sebagai sarana makanan yang berciri khas Papua yang bergizi pada acara-acara besar.
Sagu merupakan satu-satunya tanaman penghasil karbohidrat dengan produksi per satuan luas tertinggi dari semua jenis tanaman pangan yang ada saat ini, termasuk jika dibandingkan dengan tanaman ubi-ubian lainnya. Sagu adalah tanaman prospektif karena hampir seluruh bagian tanamannya bermanfaat bagi manusia, mulai dari akar hingga pucuk tanaman. Manfaat ekonomis sagu terutama berasal dari tepung atau pati yang diolah dari batang utama tanaman. Pati sagu bermanfaat sebagai bahan makanan, minuman, kosmetik dan pakan ternak. Selulosa dari ampas sagu dapat diolah lebih lanjut dalam pembuatan produk-produk ramah lingkungan seperti plastik organik, bahan bakar ethanol dan bio-gas. Ulat sagu sangat kaya akan protein sehingga menjadi padanan pangan sangat serasi dengan sagu.
Terlebih lagi di Kota Timika, khususnya dan Kabupaten Mimika pada umumnya, harga beras kadang tidak terjangkau. Sering dengan perkembangan zaman dimungkinkan harga komoditi beras akan terus melonjak karena terjadinya krisis pangan sedunia. Selain itu, kegagalan panen akibat perubahan iklim global membuat hasil panen menurun drastis. Kondisi ini tentu juga akan menjadi penyebab kenaikan harga komoditi beras. Fenomena ini tentu harus diperhatikan jelas, jika tidak, masyarakat yang tidak memiliki daya saing dalam mempersiapkan bahan makan untuk keluarga akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-harinya.
Melihat persoalan yang kompleks ini, instansi pemerintah, perusahaan, lembaga adat, dan instansi pendidikan (melalui pusat penelitian) perlu bekerja sama aktif membuat program ketahanan pangan berbasis kearifan lokal melalui proses budidaya tanaman terencana dalam menyediakan pangan masyarakat dengan melihat sagu sebagai salah satu sumber pangan yang penting.
Program yang saat ini tengah dikembangkan adalah merintis Dusun Sagu Tanam (DST) yang bertujuan memperkuat sistem ketahanan pangan masyarakat lokal (pesisir) melalui penanaman jenis-jenis sagu unggul yang dilakukan secara ilmiah dengan berdasarkan pada keterlibatan maksimal masyarakat. Jenis sagu yang ditanam dalam program DST terdiri dari 15 kultivar unggul hasil seleksi Pusat Penelitian Ubi-ubian dan Sagu Universitas Papua. Rangkaian rute pelaksanaan program ketahanan pangan dengan menitik beratkan sagu sebagai aktor utama sumber pangan lokal mengacu pada empat pilar pekerjaan, yaitu; pembibitan, pembukaan lahan, penenaman & pemeliharaan tanaman sagu. Keterlibatan masyarakat dalam hal pemeliharaan (mulai dari pelepasan tanah, pembersihan lahan, pemupukan) menjadi faktor penting utama karena menyangkut produktivitas sagu. Sebanyak 8000 pohon sagu yang ditanam di atas tanah seluas 120 hektar dikerjakan sendiri oleh masyarakat.

Sejauh pengamatan penulis saat masih bertugas di Tembagapura, PT. Freeport Indonesia, perlu dilaksanakan program/kegiatan pendukung yang bertujuan untuk mensosialisasikan panganan non beras sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat untuk lebih memanfatkan pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari dan mengurangi tingkat ketergantungan akan beras. Kegiatan tersebut meliputi:
a. Dipelopori usaha promosi pemasaran hasil olahan pangan lokal, melalui “Pameran kontes makanan berbahan lokal Papua”, yang menggunakan bahan dasar dari singkong, ubi jalar, talas dan sagu dalam. Kontes dapat dilaksanakan saat event ceremonial HUT RI. Bentuk kegiatan pameran berupa demo masak dan lomba memasak berbahan lokal. Dimana Setiap kelompok harus menyediakan hidangan pembukan, hidangan utama dan hidangan penutup yang kesemuanya harus terbuat dari pangan lokal.
b. Untuk lebih memeriahkan kegiatan ini, maka dilaksanakan juga “Talk Show Gizi Panganan Lokal”.
Hasil penelitian membuktikan bahwa kandungan gizi pada umbi-umbian dan sagu mempunyai Kadar gizi yang tidak kalah dengan beras bahkan untuk zat/vitamin tertentu lebih tinggi daripada beras. Melalui kerjasama antar pihak terkait dan partisipasi masyarakat maka kedepan diharapkan bahan pangan lokal sagu selain menemuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat juga dapat menjadi penggerak sektor perekonomian masyarakat sebagai sumber mata pencaharian warga yang bermukim di area sekitar tambang.

RATIH MAHARANI
Posted on 20th November, 2011

Nama : RATIH MAHARANI
NIM :101111260
Kelas : A
PROGRAM ALIH JENIS FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT-UNAIR 2011

KETERSEDIAAN PANGAN

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Pangan dan Gizi merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis dan politis. Implikasinya bahwa penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai harus terjamin, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penduduk di seluruh wilayah pada setiap saat sesuai dengan pola makan dan keinginan mereka agar hidup sehat dan aktif.
Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.
Ketersediaan Pangan Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi.
Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
· Larangan impor beras
· Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan
· Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras
Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.
Walaupun ketersediaan pangan Indonesia secara umum tidak memiliki masalah, namun dikarenakan jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya terus bertambah. Jumlah ketersediaan pangan Indonesia menjadi sangat terbatas. Kondisi ini bisa menyebabkan Indonesia menjadi krisis pangan. Pada situasi sekarang, keadaan pangan secara umum di Indonesia masih mengimbangi pertambahan penduduknya, meskipun pas-pasan. Oleh karena itu kondisi pangan di Indonesia masih mengalami kerawanan dan situasi pangan di Indonesia menjadi belum aman. Tanpa langkah-langkah yang sungguh-sungguh dan sistematis maka kerawanan pangan hampir dipastikan akan terus menghantui bangsa Indonesia.
Padahal Tuhan telah menganugerahi Indonesia dengan modal, seperti lahan dan sumber daya alam lainnya. Kuncinya, adalah bagaimana mengelola sumber daya alam lebih baik dan produktif.
Selain itu pemanasan global diperkirakan akan mengancam ketersediaan bahan makanan di seluruh penjuru dunia. Pemanasan global akan mengurangi produksi pertanian baik di wilayah tropis maupun subtropis. Tekanan akibat pemanasan temperature menyebabkan produksi pangan akan berkurang, dan belum termasuk dengan ancaman kekeringan yang disebabkan tingginya temperature bumi. Di sebagian wilayah beriklim tropis, temperature dapat meningkat sekitar 9 derajat Celsius di atas rata-rata musim panas, dan itu akan memangkas 20 hingga 40 persen produksi pangan.
Pemerintah telah berupaya meningkatkan ketersediaan pangan pada prioritas yang sangat tinggi. Indonesia harus aman dari kerawanan pangan. Dalam upaya membangun ketersediaan pangan bagi masyarakat dipandang perlu menggalakkan diversifikasi (penganekaragaman) pangan, melalui upaya penyediaan pangan yang beragam untuk memenuhi permintaan. Dalam upaya diversifikasi pangan tersebut untuk mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga, perlu dikembangkan penganekaragaman pangan horizontal dan vertikal serta mendorong berkembangnya industri pangan berskala kecil, menengah dan besar di pedesaan maupun perkotaan. Diversifikasi pangan juga berorientasi sumberdaya lokal artinya memenuhi kebutuhan pangan beragam diutamakan dari produksi lokal sekaligus dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang positif di daerahnya.

PERMATA ADIRAJA M.H
Posted on 20th November, 2011

Nama : Permata AdiRaja M.H
NIM : 101111270
KELAS: A (ALIH JENIS)
TUGAS ARTIKEL KETERSEDIAAN PANGAN
Pangan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, baik secara individu maupun kelompok karena sangat diperlukan untuk memenuhi konsumsi manusia. Pangan mempunyai peranan yang penting dan sangat menentukan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas hidup manusia dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pangan harus selalu tersedia setiap saat baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi, dan terjangkau daya beli masyarakat (dengan mutu yang memadai). Masalah pangan dan gizi muncul bila sistem pangan dan gizi terganggu (SPG). Untuk mengatasi adanya masalah yang timbul dalam sistem pangan dan gizi (SPG) memerlukan pedekatan sistem secara holistik, yaitu dengan memandang komponen-komponen dalam SPG tidak secara sendiri-sendiri melainkan secara terintegrasi sebagai komponen dalam suatu sistem. Hal ini tentu saja berkaitan dengan komponen-komponen atau subsistem di dalamnya. Tahapan atau rantai proses sistem pangan dan gizi yang perlu kita ketahui secara umum terdiri dari beberapa subsistem, yaitu :
1. Subsistem produksi
2. Subsistem distribusi/ ketersediaan
3. Subsistem konsumsi
4. Subsistem status gizi
Namun, pada kenyataannya Indonesia masih sulit untuk mengatasi keadaan dan masalah pangan. Menurut menteri perdagangan Gita Wirjawan pada Tempo media edisi jum’at, 21oktober 2011 menyatakan stok pangan hanya bisa diamankan dengan menjaga keseimbagan antara sisi produktivitas dan pola konsumsi. Gita melanjutkan, produksi pangan di dalam negeri memang lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Sementara itu, sebaliknya, konsumsi pangan di dalam negeri lebih tinggi dibanding dengan negara-negara tetangga. Kalau tidak salah, kata dia (Gita), data Kementrian Pertanian menyebutkan konsumsi beras nasional mencapai 140 kilogram per orang per tahun. Konsumsi ini lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand. Disisi lain, menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir menyatakan Indonesia sudah masuk dalam kategori rawan pangan. Indonesia bisa sewaktu-waktu kekurangan pangan apabila ada suatu gangguan terhadap produksi. Benar saja, dari data BPS tahun 2010-2011 melalui table luas panen dan hasil produksi untuk tanaman padi menurun 0,71 ku/ha atau sebanyak 1.084.211 ton produksi, dari 50,15 ku/ha atau sebanyak 66.469.394 ton produksi (2010) menjadi 49,44 ku/ha atau sebanyak 65.385.183 ton produksi (2011). Sedangkan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 sebesar 237,6 juta jiwa. Data dalam kompas.com, edisi rabu 13 juli 2011 menyebutkan Jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 3,5 juta jiwa per tahun dalam kurun sepuluh tahun ini dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 1,49 persen per tahun seiring tingginya pasangan usia subur (PUS). Jika setiap tahunnya bertambah 3,5 juta jiwa, maka jumlah penduduk pada 2011 bisa mencapai 241 juta jiwa lebih. Jika ledakan penduduk tersebut tidak segera diatasi maka juga akan mempengruhi jumlah ketersediaan pangan di Indonesia, hal ini terkait dengan faktor pola konsumsi masyarakat di Indonesia yang tinggi sedangkan produksi pangan menurun. Maka tidak dapat dipungkiri impor pangan di Indonesia cukup tinggi dan semakin meningkat. Nilai impor komoditi pangan Indonesia yakni sekitar 7 persen dari total impor Indonesia. Bahkan Indonesia harus mengimpor garam dari sejumlah negara seperti Cina dan India. Berdasarkan data BPS, selama semester I 2011 (Januari-Juni), Indonesia telah mengimpor bahan pangan, baik mentah maupun olahan, senilai 5,36 milliar dollar AS atau sekitar 45 triliun rupiah dengan volume impor mencapai 11,33 juta ton. BPS mencatat, Indonesia mengimpor sedikitnya 28 komoditi pangan mulai dari beras, jagung, kedelai, gandum, terigu, gula pasir, gula tebu, daging sapi, daging ayam, mentega, minyak goreng, susu, bawang merah, bawang putih, telur, kelapa, kelapa sawit, lada, teh, kopi, cengkeh, kakao, cabai segar dingin, cabai kering tumbuk, cabai awet, tembakau dan bahkan singkong alias ubi kayu juga diimpor. alasan dari impor ini dilakukan karena kurangnya stok atau cadangan pangan untuk ketahanan pangan dalam negeri sehingga untuk menjaga agar harga komoditi pangan tidak melonjak maka harus dilakukan impor, jika kondisi ini terus dibiarkan, tentu sangat tidak baik. Apalagi, pangsa pangan impor terhadap pemenuhan pangan nasional saat ini telah mencapai 65 persen. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa nantinya semua kebutuhan pangan kita harus diimpor. Dengan kata lain, kita akan menjadi negara yang tergantung pada impor pangan dari negara lain.
Masalah pangan dan gizi merupakan masalah yang kompleks dan bersifat multisektoral, yang dalam penanganannya perlu dilakukan pendekatan lintas bidang dan lintas sektoral secara terpadu. Dengan menekan laju pertumbuhan penduduk, melakukan upaya-upaya peningkatan produksi dan produktivitas (perbaikan genetik dan teknologi budidaya) pangan dalam negeri, seperti: Pengembangan lahan, konservasi dan rehabilitasi lahan, Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai, penyediaan benih, bibit unggul, dan alat mesin pertanian., pengaturan pasokan gas untuk memproduksi pupuk, dsb. Dan dengan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan atau pro rakyat, seperti: Pengembangan skim permodalan bagi petani/nelayan, pencapaian swasembada 5 komoditas strategis: padi (swasembada berkelanjutan), jagung (2008), kedelai (2011), gula (2009), dan daging (2010)., penyediaan insentif investasi di bidang pangan termasuk industri gula, peternakan, dan perikanan. Serta perubahan gaya hidup hemat dan Penguatan penyuluhan, kelembagaan petani/nelayan dan kemitraan. Sehingga impor pangan dapat minimal. Strategi diatas tersebut perlu dipertimbangkan guna mencukupi kebutuhan dan cadangan pangan di Indonesia. Semoga keseriusan dan ketegasan pemerintah Indonesia dapat membuahkan hasil.

SITI NUR JAYANI
Posted on 20th November, 2011

NAMA : SITI NUR JAYANI
NIM/KLS : 101111289/A
PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN KETAHANAN PANGAN
Ketersediaan pangan merupakan hal vital karena menyangkut kehidupan manusia yang paling asasi. Untuk mempertahankan eksistensinya, manusia berusaha untuk mencukupi kebutuhan pangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pangan merupakan aspek primer bagi keberlangsungan manusia serta sangat berkaitan erat dengan stabilitas politik suatu Negara. Apabila kebutuhan primer tersebut tidak dapat dipenuhi, maka kerawanan pangan akan berdampak luas ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat yang lebih kompleks.Tidak mengherankan bila ketahanan pangan selalu menjadi salah satu pilar utama program bagi pemerintah di seluruh dunia, tidak terkecuali Pemerintah Indonesia.
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Sedangkan subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Situasi ketahanan pangan di negara kita masih lemah. Hal ini ditunjukkan antara lain oleh: (a) jumlah penduduk rawan pangan (tingkat konsumsi < 90% dari rekomendasi 2.000 kkal/kap/hari) dan sangat rawan pangan (tingkat konsumsi <70 % dari rekomendasi) masih cukup besar, yaitu masing-masing 36,85 juta dan 15,48 juta jiwa untuk tahun 2002; (b) anak-anak balita kurang gizi masih cukup besar, yaitu 5,02 juta dan 5,12 juta jiwa untuk tahun 2002 dan 2003 (Ali Khomsan, 2003).
Tanah, merupakan alat produksi pangan utama. penyempitan lahan pertanian (tanah) merupakan ancaman serius terhadap ketahanan pangan masyarakat. Ketersediaan tanah, sebagai lahan pertanian, menentukan tingkat produksi pangan. Semakin luas lahan garapan semakin banyak produksi pangan. Sebaliknva, semakin sempit lahan garapan semakin sedikit produksl pangan – kapasitas produksi tidak memadai, sehingga tidak dapat menjangkau secara merata semua keluarga/individu.

Pertanian berkelanjutan menjadi syarat terwujudnya ketahanan dan kemandirian pangan. Mewujudkan kedaulatan pangan, bukan hanya berbicara ketahanan pangan di level Negara, namun juga di level masyarakat dan rumah tangga/individu. Ketahanan pangan menjadi kunci pokok kedaulatan pangan, yang merupakan sendi pokok pemantapan kedaulatan Negara.

Pertanian Berkelanjutan merupakan sistem usaha tani yang mampu mempertahankan produktivitas, dan kemanfaatannya bagi masyarakat dalam waktu yang tidak terbatas. Sistem demikian harus dapat mengkonservasikan sumberdaya, secara sosial didukung, secara ekonomi bersaing, dan secara lingkungan dapat dipertanggungjawabkan
Dalam Pertanian Berkelanjutan peningkatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dampak yang seminimal mungkin bagi lingkungan hidup, kesehatan masyarakat serta kualitas hidup penduduk di pedesaan. Program ini meliputi berbagai kegiatan mulai dari prakarsa pendidikan, pemanfaatan insentif ekonomi, pengembangan teknologi yang tepat guna hingga dapat menjamin persediaan pangan yang cukup dan bergizi, akses kelompok-kelompok rawan terhadap persediaan pangan tersebut, produksi untuk dilempar ke pasar, peningkatan pekerjaan dan penciptaan penghasilan untuk mengentaskan kemiskinan, serta pengelolaan sumberdaya alam dan perlindungan lingkungan.
Peningkatan produksi pangan harus dilakukan dengan cara-cara yang berkelanjutan tidak mengurangi dan merusak kesuburan tanah, tidak meningkatkan erosi, dan meminimalkan penggunaan dan ketergantungan pada sumberdaya alam yang tidak terbarukan, mendukung kehidupan masyarakat pedesaan yang berkeadilan, meningkatkan kesempatan kerja serta menyediakan kehidupan masyarakat yang layak dan sejahtera, mengurangi kemiskinan dan kekurangan gizi, tidak membahayakan kesehatan masyarakat yang bekerja atau hidup di lahan pertanian, dan juga kesehatan konsumen produk-produk pertanian yang dihasilkan, melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di lahan pertanian dan pedesaan serta selalu melestarikan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, memberdayakan dan memandirikan petani dalam mengambil keputusan pengelolaan lahan dan usaha taninya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sendiri, memanfaatkan dan melestarikan sumber daya lokal dan kearifan masyarakat tradisional dalam mengelola sumber daya alam.

.

AMALIA RISKI R
Posted on 20th November, 2011

Nama : Amalia Riski Rakhmawati
NIM : 101111284
Kelas : A ( Alih Jenis )
KETERSEDIAAN PANGAN SEBAGAI SUATU ASPEK KETAHANAN PANGAN
Pengertian Ketahanan Pangan menurut UU Nomor 7 Tahun 1196 adalah terpenuhinya kebutuhan pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup dalam jumlah, mutu dan keamanan, secara merata dan terjangkau oleh setiap individu dan untuk menjamin keberlanjutannya PP No. 68/2002 mengarahkan bahwa ketahanan pangan dikembangkan dengan bertumpu pada keragaman sumber pangan, kelembagaan dan budaya lokal.
Ada 3 aspek cakupan suatu wilayah dikatakan memiliki ketahanan pangan yang tangguh yaitu pertama, aspek ketersediaan (availability). Jumlah yang tersedia harus mencukupi kepentingan semua rakyat, baik bersumber dari produksi domestik ataupun impor. Kedua, keterjangkauan (accessibility) baik secara fisik maupun ekonomi. Keterjangkauan secara fisik mengharuskan bahan pangan mudah dicapai individu atau rumah tangga, sedangkan keterjangkauan ekonomi berarti kemampuan memperoleh atau membeli pangan atau berkaitan dengan daya beli masyarakat terhadap pangan. Ketiga, aspek stabilitas (stability) merujuk kemampuan meminimalkan terjadinya konsumsi pangan berada di bawah level kebutuhan standar pada musim-musim sulit (paceklik atau bencana alam).
Pentingnya pembangunan di bidang ketahanan pangan diperkuat dengan dikeluarkannya PP No. 38 Tahun 2007 yang menjelaskan bahwa urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, pengelolaan program ketahanan pangan merupakan urusan yang bersifat wajib antara urusan terkait dengan pelayanan dasar kepada masyarakat. Salah satu wujud dari pelaksanaan urusan wajib dalam peningkatan ketahanan pangan maka di daerah perlu di bentuk sebuah unit kerja yang dilembagakan dalam perangkat daerah yang mempunyai tugas dan wewenang menangani masalah ketahanan pangan (PP No.41 tahun 2007).
Ada tiga sub sistem ketahan pangan yaitu : 1) sub sistem ketersediaan bahan pangan, 2) sub sistem distribusi dan 3) sub sistem konsumsi.
Ketersediaan bahan pangan di suatu wilayah dipengaruhi beberapa faktor antara lainproduksi bahan pangan, stok bahan pangan yang terdapat di Dolog, Lumbung Pangan, Lembaga pembeli Gabah dan distributor serta pengaruh alur distribusi bahan pangan dalam bentuk ekspor/impor.
Tersedianya bahan pangan dapat dikatakan surplus atau minus apabila sudah diperhitungkan dengan jumlah kebutuhan bahan pangan di suatu wilayah yang dihitung berdasarkan kebutuhan dari jumlah penduduk dikalikan angka kebutuhan Susenas tahun 2002 perkapita pertahun/bulan/hari. Disamping itu naik turunnya kebutuhan bahan pangan juga dipengaruhi oleh keadaan yang tidak terduga seperti adanya bencana alam, terjadinya momen-momen tertentu misalnya kampanye dan hari raya keagamaan. Oleh sebab itu ketersediaan bahan pangan selalu diikuti oleh jumlah kebutuhan bahan pangan.
Trend tingkat ketersediaan mengindikasikan perkembangan kemampuan daerah dalam penyediaan bahan pangan antar waktu yang berpengaruh pada tingkat ketergantungan impor (besarnya porsi impor terhadap total pangan tersedia), tingkat efisiensi pasca panen (besarnya kehilangan pasca panen), kompetisi manusia dengan hewan ternak (porsi bahan pangan yang digunakan untuk pakan/industri peternakan), tingkat komposisi sumbangan pangan dari nabati maupun hewani yang tersedia ( kualitas pangan yang tersedia ) ditinjau dari sisi keragamannya menurut perhitungan Pola Pangan Harapan.
Sedangkan sub sistem konsumsi pangan adalah untuk meningkatkan pola konsumsi masyarakat menjadi sadar gizi dengan pola konsumsi yang beragam, bergizi dan berimbang.
Beragam berarti mengkonsumsi pangan yang beragam dan tidak tergantungpada salah satu bahan pangan saja, misalnya beras. Bergizi berarti bisa memenuhi kecukupan gizi sesuai dengan kebutuhan baik dalam jumlah dan ragam. Sedangkan berimbang berarti adanya kesinambungan antar kebutuhan dan kecukupan.
Dalam rangka memantapkan ketahanan pangan sektor pertanian khususnya seperti yang telah diuraikan di atas pemerintah telah menetapkan agenda pembangunan ekonomi melalui pencanangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dan terbitnya UU No.16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dimana arah kebijakan pembangunan pertanian terfokus pada :
1. Pembangunan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada kemampuan produksi, keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan dan bvudaya lokal
2. Rencana aksi pemantapan ketahanan pangan 2005-2010 dengan target utama pencapaian terhadap 5 komoditas utama yaitu : beras, gula, daging sapi, kedelai dan jagung. Langkah-langkah strategis yang dilaksanakan adalah merenovasi dan memperluas infrastruktur fisik pendukung, menahan laju konversi lahan, revitalisasi sistem penyuluhan, penelitian dan pengembangan teknologi pertanian spesifik lokalita dan mengembangkan sistem pembiayaan pertanian.
3. Pengembangan agribisnis yang berorientasi global dengan membangun keunggulan kompetitif produk-produk daerah berdasarkan kompetisi dan keunggulan kompatratif sumberdaya lahan dan sumberdaya lahan

FARIDA RAH UTAMI
Posted on 20th November, 2011

Nama : Farida Rah Utami
NIM : 101111262
Kelas : A (Alih Jenis)

KETERSEDIAAN PANGAN

Dalam setiap kehidupan makhluk hidup memerlukan pangan untuk mempertahankan dan melangsungkan hidupnya. Yang kita tahu pangan merupakan Segala sesuatu yang berasal dari sumber Hayati dan air, baik diolah maupun tidak diolah yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman. Pangan yang kita konsumsi untuk mendapatkan energi guna melakukan aktivitas fisik juga diharapkan memenuhi mutu pangan dan keamanan pangan sebagaimana pangan tersebut di produksi. Pentingnya pangan dan besaran jumlah yang dibutuhkan dapat menimbulkan masalah pangan yaitu keadaan kelbihan pangan, kekurangan pangan dan atau ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Bahan pangan untuk di konsumsi sehari – hari dapat di kelompokkan menjadi 9 Kelompok bahan pangan :
1.Padi – padian : Beras, Jagung, Sorghun dan Terigu
2.Umbi-umbian : Ubi kayu, Ubi Jalar dan Kentang, Talas dan sagu
3.Pangan Hewani : Ikan, Daging, Susu dan telur
4.Minyak dan Lemak : Minyak Kelapa, Minyak Sawit
5.Buah/Biji Berminyak, Kelapa Daging
6.Kacang-kacangan : Kedelai, Kacang Tanah dan Kacang Hijau
7.Gula : Gula Pasir, Gula Merah
8.Sayur dan Buah : Semua Jenis sayuran dan Buah-buahan yang bisa dikonsumsi
9.Lain-lain : teh, Kopi, Sirup, Bumbu-bumbuan, Makanan dan Minuman Jadi
Ruang lingkup Pangan diantaranya meliputi :
1.Ketersediaan pangan
2.Keamanan Pangan
3.Ketahanan Pangan
4.Keberlangsungan Pangan
Dari ruang lingkup pangan di atas merupakan beberapa hal yang menjadi masalah di berbagai negara. Salah satunya adalah Ketersediaan pangan yang ada di negara kita. Dari beberapa informasi yang ada mengenai ketersediaan pangan di Negara yang belum di jadikan sebagai prioritas pertama. Pengukuran dalam ketersediaan pangan yang ada sekarang ini mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi.
Di pedesaan, penentuan jangka waktu ketersediaan makanan pokok biasanya di lihat dengan mempertimbangkan jarak antara musim tanam dengan musim tanam berikutnya. Beberapa yang dapat menghambat ketersediaan pangan adalah :
1.Tidak adanya dukungan dari berbagai sektor untuk industri pertanian
2.Perubahan Iklim
3.Gangguan hama tanaman yang dapat mengganggu hasil panen sehingga hasil yang ada tidak mencukupi kebutuhan sampai masa tamam berikutnya.
4.Ledakan jumlah penduduk
5.Perbedaan jenis makanan pokok yang dikomsumsi antara dua daerah membawa implikasi pada penggunaan ukuran yang berbeda, seperti contoh berikut ini.
a.Di daerah dimana penduduknya mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Pada panen padi yang dapat dilakukan selama 3 kali dalam 2 tahun.
b.Di daerah dengan jenis makanan pokok jagung. Pada masa panen jagung di daerah yang hanya dapat dipanen satu kali dalam tahun.
Apabila pengukuran ketersediaan pangan dengan mengacu pada jarak waktu antara satu musim dengan musim panen berikutnya digunakan hanya akan berlaku pada rumah tangga dengan sumber mata pencaharian pokok di bidang pertanian dan tidak bisa diterapkan pada rumah tangga yang tidak berada dalam bidang pertanian.
Ketersediaan pangan yang mampu mencukupi kebutuhan makhluk hidup berarti dalam hal ketahanan pangan yang di butuhkan akan tercukupi di setiap musim. Sangatlah penting untuk menekankan ketersediaan pangan di Indonesia. Terpenuhinya jaminan pangan diharapkan mampu menciptakan kemandirian bangsa dalam pemenuhan kebutuhan

PUPUT DWIJAYANTI
Posted on 20th November, 2011

NAMA : PUPUT DWIJAYANTI
NIM : 101111273
KELAS : A (ALIH JENIS)

Potret Indonesia tahun 2011. Melesatnya pertumbuhan penduduk dengan sekitar 259 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar, yang tentunya akan semakin bertambah setiap tahunnya seiring dengan angka fertilitas yang tinggi. Pertambahan jumlah jiwa sudah pasti akan dibarengi dengan bertambahnya kebutuhan vital pangan manusia. Namun akankah pertambahan jumlah kebutuhan tersebut akan berbanding lurus dengan ketersediaan pangan yang ada demi tuntutan pemenuhan asupan gizi masyarakat? Bila melihat Sumber Daya Alam Indonesia –dengan segala keragaman, kekayaan dan kebelimpahannya– seharusnya jawaban atas pertanyaan diatas adalah iya. Namun realita yang terjadi di Indonesia dewasa ini masih sangat jauh dari harapan, seolah sebutan membanggakan bahwa Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi sama sekali tidak ada artinya bagi kita. Ironis memang. Negara kita yang dahulu menjadi rebutan untuk dijajah negara-negara lain oleh karena kekayaan alamnya kini tak berdaya menghadapi problem ketersediaan pangan. Maka jangan heran kalau angka penduduk Indonesia yang sangat tinggi diatas akan berubah menjadi bencana yang sangat mengerikan bila tidak dibarengi dengan peningkatan laju produksi pangan yang sepadan. Padahal telah jelas bahwa ketersediaan pangan untuk sekian juta penduduk tersebut menjadi hal yang mutlak harus dipenuhi, bukan untuk saat ini saja, namun untuk waktu-waktu yang akan datang. Namun fakta di lapangan berkata lain. Kelaparan, busung lapar, kurang gizi –atau apalah sebutan untuk itu– hingga saat ini masih sangat akrab di telinga kita, bahkan mungkin jumlah kejadian kelaparan yang tidak terekspose masih jauh lebih banyak. Hal-hal tersebut jelas mengancam eksistensi negara kita. Bila masyarakatnya kelaparan, maka tidak mungkin diharapkan untuk produktif. Lantas apa yang akan diharapkan bagi majunya negara kita ini di masa mendatang? Tidak usah jauh-jauh. Melihat lebih jeli sekitar kita saja telah menjawab berbagai pertanyaan yang ada. Gambaran anak-anak peminta-minta di lampu merah, dengan tubuh kurus, lusuh dan kering, sangat jauh dari harapan pemenuhan zat gizi pemicu hormon-hormon pertumbuhan mereka. Seperti itukah potret generasi muda kita saat ini? Sangat jauh dari harapan generasi yang sehat sebagai investasi berharga bangsa.
Tentu saja pertambahan penduduk yang sangat melejit ini bukan satu-satunya masalah ketersediaan pangan di Indonesia. Multifaktor memang. Namun inilah realita yang terjadi sekarang. Lingkungan, adalah realita selanjutnya. Fakta yang terjadi di negara kita adalah semakin banyaknya konversi lahan pertanian dan perkebunan ke non pertanian, lagi-lagi salah satunya karena pertambahan penduduk. Lahan pertanian yang seyogyanya untuk pemenuhan ketersediaan pangan berubah menjadi begitu banyak bangunan untuk pemukiman serta industri. Kita bahkan lupa bahwa keadaan tersebut menjadikan berkurangnya pasokan ketersediaan pangan kita akibat berubahnya fungsi lahan pertanian dan perkebunan tersebut. Global warming dan perubahan iklim juga menjadi isu yang tidak terpisah pula dari segi lingkungan. Siklus cuaca yang tidak menentu tak urung mengancam pula ketersediaan pangan di negara kita. Kemarau yang lebih panjang dekadenya menjadikan siklus air tidak stabil sehingga pengairan lahan pertanian dan perkebunan tidak terpenuhi dalam jumlah yang semestinya. Hal ini diperparah dengan persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan pemukiman penduduk dan sektor perindustrian. Fenomena lingkungan lainnya adalah turunnya kemampuan lahan pertanian dan perkebunan akibat perusakan lingkungan yang kian menjadi-jadi dewasa ini. Bagaimana tidak, pembuangan bahan-bahan pencemar ke tanah dan sekitarnya menjadikan kualitas lahan turun pada tingkat tertentu. Belum lagi permasalahan bencana alam yang tidak bisa ditebak kapan akan melanda. Banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya masih akan menjadi problem serius terhadap penurunan kualitas tanah pertanian dan perkebunan. Belum lagi ditambah problem hama dengan berbagai konsekuensi gagal panen dan sebagainya.
Tidak terlepas dari hal-hal diatas masalah ketersediaan pangan merupakan suatu hal mutlak yang harus dipenuhi seiring bertambahnya penduduk di masa sekarang dan akan datang. Pengimporan beras, kedelai dan pangan lain menunjukkan masih belum terpenuhinya pangan di Indonesia dari segi ketersediaan. Lalu dimana wibawa Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang teramat melimpah ini bila untuk masalah hasil alam seperti itu saja masih saja meminta uluran tangan negara lain? Harusnya kita malu, tidak seharusnya hal ini terjadi. Dimana letak kekeliruan yang mengakibatkan segala sesuatunya ini terjadi? Keadaan lingkungan yang teramat berubah kah? Atau mutlak karena permainan politik pihak tetentu? Ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Perlu adanya peningkatan konsistensi pemerintah untuk memenuhi tuntutan ini. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, ini adalah suatu keharusan. Ketersediaan pangan harus terpenuhi demi eksistensi negara kita di masa sekarang dan tetap mempertimbangkan untuk pemenuhan generasi mendatang pula.

PUTRI INDAH FEBRIYANTI / 101111278
Posted on 20th November, 2011

NAMA :PUTRI INDAH FEBRIYANTI
NIM :101111278
KELAS :A
TUGAS : MATA KULIAH EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
(ARTIKEL ILMIAH TENTANG KESEDIAAN PANGAN)

Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia mengingat pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama seperti diamanatkan oleh Undang Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Dalam UU tersebut disebutkan Pemerintah menyelenggarakan pengaturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan, sementara masyarakat menyelenggarakan proses produksi dan penyediaan, perdagangan, distribusi serta berperan sebagai konsumen yang berhak memperoleh pangan yang cukup dalam jumlah dan mutu, aman, bergizi, beragam, merata, dan terjangkau oleh daya beli mereka. Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan sebagai peraturan pelaksanaan UU No.7 tahun 1996 menegaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus berkembang dari waktu ke waktu, upaya penyediaan pangan dilakukan dengan mengembangkan sistem produksi pangan yang berbasis pada sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal, mengembangkan efisiensi sistem usaha pangan, mengembangkan teknologi produksi pangan, mengembangkan sarana dan prasarana produksi pangan dan mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif
Dalam aspek ketersediaan pangan, masalah pokok adalah semakin terbatas dan menurunnya kapasitas produksi dan daya saing pangan nasional. Hal inilah yang harus lebih diperhatikan dan perlu mendapatkan perhatian, jika tidak maka masalah mengenai ketersediaan pangan ini tidak akan terselesaikan. Dan akan tetap terjadi kekurangan makanan di beberapa pelosok Indonesia dan masalah gizi yang ad karena disebabkan gizi yang tidak terpenuhi akan tetap terjadi.
Dimulai dari aspek ketersediaan pangan secara teknis semakin banyaknya lahan pertanian yang beralih menjadi non pertanian (industri dan perumahan). Kemudian produktifitas pertanian yang relative sama dari tahun ketahun selain itu juga teknologi produksi yang tidak efektif dan efisien yang menyebabkan hilangnya hasil panen (10-15%), selain itu juga disebabkan faktor iklim di Indonesia. Sedangkan pada sosial- ekonomi belum terjaminnya sarana produksi oleh pemerintah dan tidak ada jaminan dan peraturan harga pokok pangan kecuali beras. Selain itu tata niaga produk pangan yang belum pro petani, termauk kebijakan impor.
Pada aspek Distribusi Pangan secara teknis Infrastuktur, prasarana distribusi darat dan antar pulau yang belum memadai untuk menjangkau seluruh konsumen di wilayah Indonesia., selain itu infrastruktur pengumpulan, penyimpanan dan ditribusi tidak merata (kecuali beras). Variasinya kemampuan pangan antar wilayah dan musim juga menuntut kecermatan dalam pengelolaan. Sedangkan pada Sosial-ekonomi peran kelembagaan pemasaran yang belum terasa yang seharusnya berfungsi untuk menyangga kestabilan distribusi dan harga pangan. Selain itu pungutan resmi maupun tidak resmi selama pendistribusian dan pemasaran yang mahal sehingga harga pokok juga meningkat.
Aspek Konsumsi Pangan secara Teknis belum berkembangnya teknologi dan industri pangan serta produk pangan alternative yang berasal dari sumber daya pangan lokal. Dan secara Sosial-ekonomi tingginya konsumsi beras per kapita pertahun namun juga masih terkendala budaya dan kebiasaan makan di sebagian daerah dan etnis sehingga belum tercipta pola konsumsi pangan dan gizi seimbang. Selain itu ketidak mampuan bagi penduduk miskin dan kesadaran masyarakat akan perlunya pangan yang sehat dan aman.
Aspek Pemberdayaan Masyarakat keterbatasan keterampilan dan akses masyarakat miskin terhadap sumber daya usaha seperti permodalan, teknologi, informasi pasar dan sarana pemasaran meyebabkan mereka kesulitan untuk memasuki lapangan kerja dan menumbuhkan usaha. Selain itu kurang efektifnya program pemberdayaan masyarkat yang selama ini bersifat top-down karena tidak memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan kemampuan masyarakat yang bersangkutan serta belum berkembangnya sistem pemantauan kewaspadaan pangan dan gizi secara dini dan akurat dalam mendeteksi kerawanan panagan dan gizi pada tingkat masyarakat.
Sedangkan pada Aspek Manajemen terbatasnya ketersediaan data yang akurat, konsisten, dipercaya dan mudah diakses yang diperlukan untuk perencanaan pengembangan kemandirian dan ketahanan pangan. Bagi pelaku usaha dan konsumen kecil di bidang pangan belum adanya jaminan perlindungan. Serta lemahnya koordinasi dan masih adanya iklim egosentris dalam lingkup instansi dan antar instansi, subsektor, sektor, lembaga pemerintah dan non pemerintah, pusat dan daerah dan antar daerah.

Eza Fitri Rahayu/101111254
Posted on 20th November, 2011

NAMA:EZA FITRI RAHAYU
NIM:101111254
KELAS:A
TUGAS:MATA KULIAH EKOLOGI PANGAN DAN GIZI

KETERSEDIAAN DAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia.

Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justru menghadapi masalah bahaya latent yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yang terus menurun. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi pangan akan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangan semakin melebar. Meskipun upaya peningkatan produksi pangan di dalam negeri saat ini terus dilakukan, namun laju peningkatannya masih belum mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri karena produktivitas tanaman pangan serta peningkatan luas areal yang stagnan bahkan cenderung menurun.

Lahan kering di Indonesia sebesar 11 juta hektar yang sebagian besar berupa lahan tidur dan lahan marginal sehingga tidak produktif untuk tanaman pangan. Di Pulau Jawa yang padat penduduk, rata-rata pemilikan lahan usaha tani berkisar hanya 0,2 ha/KK petani. Namun, banyak pula lahan tidur yang terlantar. Ada 300.000 ha lahan kering terbengkelai di Pulau Jawa dari kawasan hutan yang menjadi tanah kosong terlantar. Masyarakat sekitar hutan dengan desakan ekonomi dan tuntutan lapangan kerja tidak ada pilihan lain untuk memanfaatkan lahan-lahan kritis dan lahan kering untuk usaha tani pangan seperti jagung, padi huma dan kedelai serta kacang tanah. Secara alamiah hal ini membantu penambahan luas lahan pertanian pangan, meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah, seperti jagung 2,5 – 3,5 ton/ha dan padi huma 1,5 ton/ha dan kedelai 0,6 – 1,1 ton/ha, tetapi pemanfaatannya berdampak positif bagi peningkatan produksi pangan.

Melihat kenyataan di atas maka solusi terbaik adalah: (1) pemerintah sebaiknya memberikan ijin legal atas hak pengelolaan lahan yang telah diusahahan petani yaitu semacam HGU untuk usaha produktif usaha tani tanaman pangan sehingga petani dapat memberikan kontribusi berupa pajak atas usaha dan pemanfaatan lahan tersebut, (2) memberikan bimbingan teknologi budidaya khususnya untuk menerapkan teknologi organik dan Bio/hayati guna meningkatkan kesuburan lahan dan menjamin usaha tani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan (3) Melibatkan stakeholder dan swasta yang memiliki komitmen menunjang dalam sistem Agribisnis tanaman pangan sehingga akan menjamin kepastian pasar, Sarana Input teknologi produktivitas dan nilai tambah dari usaha tani terpadunya. Pengelolaan lahan kering untuk pertanian dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi produktivitas organik agar memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Membangun Ketahanan pangan berbasis Agribisnis pangan rakyat di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius. Seharusnyalah dibangun kembali kerangka pembangunan pertanian berkerakyatan dan berorientasi kemandirian dan kesejahteraan yang merata di dalam sistem agribisnis yang terpadu. Masalah penyediaan pangan untuk penduduk harus dipandang secara utuh, bukan sekedar dinilai secara untung rugi saja tetapi lebih jauh dicermati pada aspek politik, dan sosialnya karena di dalam pandangan nasional ketahanan pangan harus merupakan bagian dari ketahanan nasional. Menempatkan pangan sebagai bagian menempatkan kepentingan rakyat, bangsa dan negara serta rasa nasionalisme untuk melindungi, mencintai dan memperbaiki produksi pangan lokal harus terus dikembang-majukan.

Elemen terpenting dari kebijakan ketahanan pangan ialah adanya jaminan bagi kaum miskin untuk menjangkau sumber makanan yang mencukupi. Cara terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan ini ialah dengan memperluas strategi pertumbuhan ekonomi, khususnya pertumbuhan yang memberikan manfaat bagi kaum miskin. Kebijakan ini dapat didukung melalui program bantuan langsung kepada masyarakat miskin, yang diberikan secara seksama dengan target yang sesuai. Hal yang juga penting untuk diperhatikan, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis-jenis pangan yang berkualitas lebih baik.

TRIWAHYU SISCA AYU P/101111246
Posted on 20th November, 2011

Nama :TRIWAHYU SISCA AYU PUTRI
Nim :101111246
Kelas :A

Indonesia saat ini dalam masalah besar terkait ketahanan pangan di indonesia. Konsep ketahanan pangan sendiri yang cenderung tidak memandang bagaimana, dari mana dan siapa yang memproduksi pangan itu sendiri menjadi salah satu penyebab utama masalah pangan yang kita hadapi saat iniKondisi kekuatan dan ketahanan pangan di Indonesia saat ini sedang berada pada titik dimana jika tidak segera dilakukan perbaikan dapat menyebabkan ketergantungan bahkan kerawanan pangan. Dari sisi produsen pangan utama, petani dalam hal ini, jumlahnya masih sangat dominan di Indonesia. Namun di sisi sumber daya pertanian seperti, tanah, air, benih, dan dukungan infrastruktur dan kebijakan pertanian justru menghambat produksi pertanian nasional. Alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan monokultur (sawit khususnya), tambang dan infrastruktur sebesar 230.000 hektar per tahun akan mempengaruhi penurunan produksi pangan dengan cepat, pengusaan sumber daya air oleh sejumlah perusahaan swasta Di sisi lain kebijakan pertanian justru membuka pintu impor pangan besar-besaran, hal ini menurunkan insentif bagi petani untuk terus berproduksi, . Jika biaya yang dikeluarkan untuk impor bisa dialihkan untuk membangun pertanian dalam negeri, perbaikan irigasi dan infrastruktur pertanian lainnya, menjaga stabilitas harga baik di tingkat produsen maupun konsumen tentu pertanian dalam negeri akan lebih berkembang. Ketergantungan impor terus-menerus akan mempengaruhi penurunan produksi pangan dalam negeri, dan ini akan menjadi sangat berbahaya karena kita tidak bisa mengontrol jika terjadi gejolak harga atau penurunan produksi di pasar internasional. Indonesia saat ini bukan mengalami krisis pangan, namun krisis “harga” pangan, krisis daya beli, karena walaupun pangan tersedia di pasaran namun banyak orang yang tidak bisa mengakses pangan tersebut.
Sejumlah faktor yang mempengaruhi krisis “harga” pangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pilihan kebijakan pangan dan pertanian yang salah yang dilakukan pemerintah. Di dalam negeri pilihan untuk mengembangkan perkebunan dibandingkan tanaman pangan, menyebabkan Indonesia mengalami defisit perdagangan pangan dan peternakan 4,3 miliar US$ (Kementan dan BPS, 2009). Lahan-lahan pertanian dialih fungsikan menjadi perkebunan dan tambang, sementara petani tanaman pangan tidak mendapatkan dukungan untuk meningkatkan produksi maupun pendapatan mereka. Buruknya stabilisasi harga pangan yang hanya dibatasi pada beras, sementara berbagai komoditas pangan pokok lainnya diserahkan kepada pasar mempengaruhi daya beli masyarakat, saat ini 73% pengeluaran masyarakat khususnya menengah ke bawah dihabiskan untuk konsumsi pangan. Jika terjadi lonjakan harga sedikit saja dapat mendorong krisis pangan yang parah di dalam negeri. Sementara itu krisis iklim yang terjadi juga meningkatkan spekulasi harga pangan. Di sisi lain, buruknya penyerapan gabah petani menyebabkan pemerintah mengatakan stok beras nasional tidak cukup dan kita harus impor, padahal terjadi surplus produksi gabah sebesar 3,9 juta ton. Impor beras di saat petani panen, tentu akan menjatuhkan harga di tingkat petani. Jangan lupa petani bukan hanya produsen namun juga konsumen pangan, jika harga jatuh, tentu daya beli mereka pun akan berkurang. Perubahan iklim menjadi salah satu pemicu peningkatan spekulasi pangan beberapa tahun terakhir. Akibat kondisi iklim yang tidak stabil berpengaruh pula pada produksi pangan, walaupun hingga hari ini produksi pangan dunia sesungguhnya masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pangan populasi dunia, namun produksi ini tidak merata. Di satu sisi sejumlah daerah memiliki penurunan produksi, di sisi lain sejumlah daerah juga mengalami peningkatan produksi
Lebih lanjut perubahan iklim juga menimbulkan keresahan akan krisis energi dan upaya mencari energibaru yang bisa dikatakan lebih “hijau” hal ini mengarah pada pengembangan agrofuel/biofuel dari beberapa jenis tanaman sebagai bahan baku energy alternative ini.
Untuk itu upaya pemerintah yang harus dilakukan adalah memberikan dukungan. Baik dalam bentuk pelatihan tekhnis melalui sekolah-sekolah iklim bagi para petani ataupun asuransi kegagalan panen akibat perubahan iklim kepada petani. Memberikan insentif dengan kepastian harga produksi yang juga menguntungkan bagi mereka untuk tetap bisa berproduksi di tengah kondisi alam yang berubah. Secara sungguh-sungguh menghentikan alih fungsi lahan-lahan pertanian khususnya tanaman pangan bagi peruntukan lainnya. Organisasi tani juga terus melakukan pelatihan atau tukar menukar pengetahuan dan ketrampilan tekhnis pertanian yang dapat lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Perlu ada kerjasama antara pemerintah dan organisasi tani yang lebih taktis untuk mencapai kedaulatan pangan nasional.

YUSLIHUR RAHMI
Posted on 21st November, 2011

NAMA : YUSLIHUR RAHMI
NIM : 101111271
KELAS : A
Ketersediaan pangan sangatlah penting sebagai kebutuhan dasar setiap individu. Panmgan di butuhkan sebagai sumber energy dan juga sebagai pemenuhan nutrisi bagi tubuh. Tetapi tidak semua lapisan masyarakat di Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangan setiap harinya. Jangankan untuk pemenuhan nutrisi lengkap, mereka hanya berpikir “yang penting kenyang”.
Di Indonesia Sumaryanto dkk (2008) membedakan agroekosistem menjadi 3 yaitu: persawahan; lahan kering (lahan kering berbasis tanaman holtikultura dan lahan kering berbasis tanaman perkebunan); agroekosistem pesisir. Di persawahan atau lahan basah (yang biasanya di dataran rendah) petani lebih mudah memanfaatkan lahan mereka karena ketersediaan air yang lebih dari cukup atau bisa dibilang melimpah di musim penghujan ataupun kemarau. Sehingga para petani dapat menanam padi di musim penghujan dan tanaman palawija di musim kemarau, bahkan di daerah persawaahan yang cukup pemenuhan kebutuhan air nya, mereka bisa menanam padi di musim kemarau. Namun berbeda hal nya dengan petani di daerah lahan kering yang biasanya terdapat di dataran tinggi. Lahan kering disini bukan berarti lahanya benar-benar kering, namun lahan yang ketersediaan air untuk pengairan sangat terbatas. Sehingga tidak semua jenis pangan dapat di tanam.
Dalam kaitan dengan ketersediaan dan suplai air yang terbatas dalam pertanian lahan kering, maka berikut ini adalah beberapa teknik dan praktek yang direkomendasikan untuk mencapai tujuan meningkatkan dan sekaligus menjaga stabilitas produksi tanaman pada pertanian lahan kering (Anonimous, 2010)
1. Perencanaan Tanaman: pilihan varietas tanaman untuk lahan kering adalah varietas dengan durasi budidaya yang pendek dengan daya toleransi kekeringan yang cukup dan berpotensi hasil yang tinggi dan dapat dipanen dalam suatu periode musim hujan serta mampu memanfaatkan sisa kelembaban tanah untuk kegiatan pertanaman pasca periode hujan (post-monsoon cropping).
2. Perencanaan Cuaca: variasi dalam hasil dan output dari pertanian lahan kering disebabkan oleh pengamatan kondisi cuaca khususnya rurah hujan. Suatu aberrant cuaca dapat dikategorikan dalam tiga tipe yaitu: (a) datangnya musim hujan yang tertunda, (b) gap panjang atau jedah curah hujan, dan (c) berakhirnya musim hujan yang lebih awal dari waktu curah hujan normal. Petani harus membuat beberapa perubahan dalam jadwal pertanaman normal guna mengantisipasi gagal produksi.
3. Subsitusi tanaman: varitas tanaman tradisional yang tidak efisien dalam memanfaatkan kelembaban tanah, kurang responsif terhadap input produksi dan memiliki potensi produksi yang rendah sebaiknya disubsitusi dengan varietas tanaman yang lebih efisien.
4. Sistem pertanaman (cropping System):menaikan intensitas tanaman melalui praktek intercropping dan multiple cropping merupakan cara efisien pemanfaatan sumberdaya.
5. Cropping Systems: menambah intensitas pertanaman melalui praktek intercropping dan multiple cropping yang mendorong efisiensi penggunaan sumberdaya. Intensitas pertanaman akan dipengaruhi oleh lamanya periode pertanaman yang tergantung pada pola curah hujan dan kapastitas tanah mempertahankan kelembaban nya.
6. 6) Penggunaan pupuk: ketersediaan unsur hara yang terbatas pada lahan kering disebabkan oleh keterbatasan kelembaban tanah. Oleh karena itu, aplikasi pemupukan sebaiknya pada forrows di bawah benih. Penggunaan pupuk tidak saja membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman tapi juga membantu dalam efisiensi penggunaan kelembaban tanah. Kombinasi pemupukan organik dan anorganik yang tepat akan membantu tanah mempertahankan kapasitas kelembaban.
7. Managemen Air Hujan: efisiensi pengelolaan air hujan dapat meningkatkan produksi tanaman lahan kering. Aplikai kompos dan pupuk kandang serta leguminosa akan meningkatkan unsur organik tanah dan dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan air. Air hujan yang tidak dapat ditahan oleh tanah , akan mengalir keluar dalam bentuk erosi permukaan (suface runoff). Air yang berlimpah hasil runoff sebenarnya dapat dipanen dengan menampung nya dalam dugout ponds dan dapat dimanfaatkan bagi pertanaman pada saat terjadi kekurangan air.
8. Water shed management: water shed managemen adalah suatu pendekatan untuk optimalisasi penggunaan lahan, air dan vegetasi pada daerah kering. Jadi pendekatan ini mampu memberikan solusi kekeringan, moderate floods, mencegah erosi tanah, meningkatkan ketersediaan air dan increase fuel, fodde dan produksi pertanian secara berkesinambungan.
9. Alternatif lahan usaha: hampir seluruh lahan kering sebenarnya tidak cocok untuk produksi tanaman pangan. Lahan kering lebih cocok untuk digunakan bagi pengelolaan padang rumput, tanaman keras, hortikultura lahan kering, sistem agro-forestry yang mencakup alley cropping. Seluruh sistem dimaksud yang memberikan alternatif produksi pertanian disebut sistem penggunaan lahan alternatif. Sistem dimaksud dapat membantu menyediakan alternatif pekerjaan di luar musim tanam (musim hujan), dan juga meminimalsisasi risiko, mencegah degradasi lahan serta memperbaiki keseimbangan ekosistem. Sistem pemanfaatan lahan secara alternatif berupa alley cropping, sistem agri-horticultural, dan sistem silvi-pastoral memungkinkan penggunaan sumberdaya secara lebih baik untuk mendorong stabilitas produksi dibanding sistem budidaya tanaman pangan lahan kering.

Nita Lailiyah
Posted on 21st November, 2011

Nama : Nita Lailiyah
NIM : 101111276 / 44

Opini Ketersediaan Pangan Di Indonesia

Pola konsumsi masyarakat yang berbasis pada beras telah menempatkan produk olahan padi ini tidak lagi sekedar barang ekonomi tetapi telah diposisikan sebagai komoditas politik yang memiliki dimensi sosial yang luas. Beras menjadi strategis karena ditempatkan sebagai makanan pokok. No rice no glory menjadi landasan “politik beras murah” yang digelar pemerintah dari masa ke masa. Konsumsi beras meningkat secara signifikan, dari 110 kg/kapita/tahun pada 1967 menjadi 139 kg/kapita/tahun pada 2010.
Bandingkan dengan orang Jepang yang mengonsumsi beras hanya 45 kg/kapita/tahun. Kegiatan mengonsumsi nasi tiga kali sehari, bak makan obat, mengantarkan Indonesia menjadi pemakan beras tertinggi di dunia.
Melihat kondisi pangan dunia yang saat ini kian defisit, setiap negara akan memprioritaskan kebijakan pangan untuk mencukupi kebutuhan negara masing-masing. Negara dengan surplus pangan pun tidak akan serta merta untuk melakukan ekspor, mereka akan memperkuat cadangan pangannya.
Pemerintah Indonesia harus melakukan berbagai upaya untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman krisis pangan global. Masyarakat patut didorong untuk mengurangi ketergantungan konsumsi pada beras yang saat ini harganya kian mahal.
Dengan perkiraan produksi padi yang turun sekitar 30 persen dibandingkan dengan kondisi normal, cuaca yang tak menentu menjadi penyebab munculnya sejumlah hama hingga menurunkan produksi, harga beras akan naik secara signifikan. Selain itu alih fungsi lahan pertanian pangan yang makin banyak tersedot menjadi perkebunan sawit menjadi ancaman baru.
Sayangnya kebijakan pemerintah yang sempat membebaskan bea masuk impor beras telah membawa konsekwensi bias pada apresiasi kita terhadap pangan lokal. Ubi jalar, talas, singkong dan sagu menjadi komoditas inferior. Ketika ada sejumlah orang di suatu daerah yang mengonsumsi singkong atau tiwul, mereka disebut mengalami krisis pangan alias kelaparan. Pemahaman seperti ini menjadi ganjalan perwujudan diversifikasi konsumsi pangan nonberas berbasis sumber daya lokal sebagai pilar kemandirian pangan guna memerangi kelaparan.
Meski ketersediaan energi per kapita telah mencapai 2.912 kkal dan protein 77g per kapita per hari (BKP, 2006) – melampaui angka yang direkomendasikan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi ke-8 (2004) sebesar 2.200 kkal dan 57g protein per kapita per hari, namun kinerja pangan yang terus membaik itu tidak mencerminkan kondisi serupa di tingkat rumah tangga.
Beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa ketersediaan energi yang cukup secara nasional terbukti tidak menjamin perwujudan ketahanan pangan tingkat wilayah (regional), rumah tangga dan individu. Ketersediaan energi aktual yang melimpah di tingkat makro tidak mengalir ke rumah tangga yang membutuhkan karena terpuruk daya beli. Jumlah proporsi rumah tangga yang defisit energi di setiap provinsi cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan merujuk pada kesadaran dan sudut pandang fisiologis gizi. Manusia untuk dapat hidup aktif dan sehat memerlukan tidak kurang dari 40 jenis zat gizi yang terdapat pada berbagai jenis makanan.
Perkembangan menarik pada pola konsumsi pangan pokok sumber karbohidrat adalah kecenderungan menurunnya kontribusi energi dari jagung dan umbi-umbian seiring peningkatan pendapatan. Suatu komoditas pangan akan masuk ke dalam pola konsumsi apabila memiliki kontribusi energi sekurang-kurangnya 5 persen terhadap total konsumsi energi.
Terigu dan hasil olahannya (khususnya mi instan) menyumbang energi secara signifikan bukan hanya pada rumah tangga berpendapatan tinggi tetapi juga pada rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah. Perubahan ini perlu diwaspadai karena gandum adalah komoditas impor yang dapat menguras devisa.
Seiring dengan itu program diversifikasi konsumsi pangan non beras berbasis sumber daya lokal menjadi sangat penting untuk dilakukan agar tidak terjadi ketergantungan yang amat tinggi pada satu jenis pangan saja.
Meski Indonesia dikenal memiliki beragam makanan pokok, dalam artian beras dan terigu memang bukan makanan utama, miskinnya pengembangan iptek dan kurangnya SDM bermutu di bidang teknologi pangan non-beras berbasis sumber daya lokal menjadi penyebab lambatnya percepatan diversifikasi konsumsi pangan.
Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal adalah langkah penting untuk memantapkan kemandirian pangan di saat krisis pangan global ini. Perpres ini menjadi acuan dalam melakukan perencanaan, dan pengembangan diversifikasi konsumsi pangan guna memanfaatkan potensi pangan lokal.
Penilaian kualitas konsumsi pangan didasarkan pada keanekaragaman pangan yang diukur dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH). Peningkatan skor PPH memberikan informasi penting mengenai pencapaian diversifikasi konsumsi pangan. Semakin besar skor PPH maka kualitas konsumsi pangan semakin baik. Mutu konsumsi pangan harus ditingkatkan, dari skor PPH tahun 2008 sekitar 82,0 menjadi skor PPH 95,0 pada tahun 2014.
Peningkatan ini bisa dilakukan dengan mendorong percepatan diversifikasi konsumsi pangan nonberas berbasis sumber daya lokal. Energi percepatan ini menjadi formula jitu untuk mengatrol ingkat konsumsi umbi-umbian sekaligus menurunkan konsumsi beras.

Sagita Ayu Eka Novitasari
Posted on 21st November, 2011

Nama : Sagita Ayu Eka Novitasari
NIM : 101111261
Opini Tentang Ketersediaan Pangan di Indonesia
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Menurut UU RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa pangan merupakan hak asasi bagi setiap individu di Indonesia. Oleh karena itu terpenuhinya kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Selain itu pangan juga memegang kebijakan penting dan strategis di Indonesia berdasar pada pengaruh yang dimilikinya secara sosial, ekonomi, dan politik.
Ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana setiap individu dan rumahtangga memiliki akses secara fisik, ekonomi, dan ketersediaan pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat. Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangakau oleh masyarakat juga tidak boleh dilupakan.
Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global, nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan suatu rangkaian system hirarkis. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya ketersediaan pangan bagi umat manusia. Ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana setiap individu dan rumahtangga memiliki akses secara fisik, ekonomi, dan ketersediaan pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat.

Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangakau oleh masyarakat juga tidak boleh dilupakan. Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global, nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan suatu rangkaian system hirarkis. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya ketersediaan pangan bagi umat manusia. Ketersediaan bahan pangan bagi penduduk akan semakin terbatas akibat kesenjangan yang terjadi antara produksi dan permintaan. Selama ini, permasalahan ini dapat diatasi dengan impor bahan pangan tersebut.
Permasalahan di dalam permbangunan ketahanan pangan adalah distribusi pangan dari daerah sentra produksi ke konsumen di suatu wilayah. Distribusi adalah suatu proses pengangkutan bahan pangan dari suatu tempat ke tempat lain, biasanya dari produsen ke konsumen. Berikut ini merupakan ilustrasi yang menggambarkan permasalahan distribusi pangan diIndonesia. Thailand merupakan negara pengekspor beras terbesar di dunia, sementara Indonesia merupakan negara pengimport beras. Berdasarkan data, harga produksi rata-rata gabah atau beras antara Indonesia dan Thailand tidak terlalu berbeda jauh sekitar 100 USD per ton. Namun harga beras di pasaran antara Thailand dan Indonesia cukup berbeda jauh. Hal ini dapat menunjukkan bahwa permasalahan yang terjadi tidak hanya pada skala produksi, namun juga terdapat pada rantai distribusi beras tersebut dapat sampai pada konsumen.
Permasalahan dari aspek konsumsi diawali dengan suatu keadaan dimana masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi terhadap bahan pangan beras. Berdasarkan data tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap beras sekitar 134 kg per kapita. Walaupun kita menyadari bahwa beras merupakan bahan pangan pokok utama masyarakat Indonesia. Keadaan ini dapat mengancam ketahanan pangan negara kita. Jika kita melihat bahwa produksi beras Indonesia dari tahun ke tahun yang menurun tidak diimbangi dengan tingkat konsumsi masyarakat terhadap beras yang terus meningkat. Walaupun selama ini keadaan ini bisa teratasi dengan mengimport beras, namun sampai kapan negara kita akan terus mengimpor beras.
Pola konsumsi masyarakat terhadap suatu bahan pangan sangat dipengaruhi oleh dua faktor, diantaranya : tingkat pengetahuan masyarakat tersebut terhadap bahan pangan atau makanan yang dikonsumsi dan pendapatan masyarakat. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap bahan pangan juga sangat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat tersebut. Apabila suatu masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahan pangan yang sehat, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi. Maka masyarakat tersebut tentunya akan lebih seksama dalam menentukan pola konsumsi makanan mereka. Selain itu, pendapatan masyarakat sangat berpengaruh di dalam menentukan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan data dari BPS mengenai hubungan antara skor pola pangan harapan (PPH) suatu masyarakat dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Terdapat hubungan positif dianta keduanya, yakni semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan suatu masyarakat maka akan semakin tinggi pula pola pangan harapan masyarakat tersebut.
Aspek terkhir ialah aspek kemiskinan. Ketahanan pangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek kemiskinan. Kemiskinan menjadi penyebab utamanya permasalahan ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan tingkat pendapatan masyarakat yang dibawah rata-rata sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Tidak tercukupi pemenuhan kebutuhan masyarakat dikarenan daya beli masyarakat yang rendah juga akan mempengaruhi tidak terpenuhinya status gizi masyarakat. Tidak terpenuhinya status gizi masyarakat akan berdampak pada tingkat produktivitas masyarakat Indonesia yang rendah. Status gizi yang rendah juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan generasi muda suatu bangsa. Oleh karena itu dapat kita lihat dari tahun ke tahun kemiskinan yang dikaitkan dengan tingkat perekonomian, daya beli, dan pendapatan masyarakat yang rendah sangat berpengaruh terhadap stabilitas ketahanan pangan di Indonesia. Informasi tentang ketersediaan pangan di suatu daerah terkait dengan kecukupan pangan. Kekurangan pangan dapat berdampak pada berbagai masalah seperti terjadinya gizi buruk dan implikasinya pada masyarakat miskin di berbagai daerah di Indonesia.

Sugeng Santoso
Posted on 21st November, 2011

SUGENG SANTOSO
101111249
KELAS A

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan lain yang perlu dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Tahun 2015 penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 247,6 juta jiwa. Apabila kebutuhan pangan untuk penduduk ini tidak dapat terpenuhi maka akan mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan. Di Indonesia, indikator kelangkaan pangan kita dapat dilihat dari meningkatnya nilai impor bahan makanan kebutuhan pokok, bahkan hingga mencapai 60% dari konsumsi pangan kita. Bahan Pangan seperti kedelai, daging, dan susu masih terus mengandalkan stok impor bagi pasar domestik. Akibatnya, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi dan tak terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah.
Lebih penting dari sekedar angka-angka impor diatas, setiap hari kita bisa melihat fakta kasus busung lapar dan kekurangan gizi anak-anak generasi penerus negeri, yang juga mencerminkan kelangkaan pangan di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Dalam berita di media cetak dan televisi, atau fenomena yang paling dekat, kondisi para anak peminta-minta di simpang jalan. Dengan rambut tipis dan lusuh serta kulit yang kusam, bukan hanya karena sengatan perih matahari atau sudah tak mandi berhari-hari, namun juga karena kekurangan gizi dan zat-zat pertumbuhan lainnya. Bahkan masih sering kita dengar dan kita lihat diberbagai media adanya kasus gizi buruk yang menyerang diberbagai daerah, tidak hanya didaerah pedesaan tapi juga diadaerah-daerah perkotaan.
Ketersediaan pangan yang ada tidak lepas dari peran para petani didaerah-daerah. Sampai saat ini bisa dikatakan bahwa kesejahteraan petani masih kurang, mulai dari awal masa panen hingga panen petani masih menghadapi berbagai kesulitan. Ketika akan membutuhkan bibit saja selain harga yang terkadang relatif mahal juga susah diperolehnya dan kualitasnyapun terkadang kurang maksimal. Dalam masa tanam masih sering kita jumpai adanya kelangkaan pupuk dan obat-obatan, bahkan ada daerah yang tidak mendapatkan stok pupuk yang dibutuhkan kalaupun ada harganya sangat mahal. Belum lagi permainan harga waktu panen tiba, ketika biaya produksi yang dikeluarkan petani sangat tinggi tiba-tiba waktu waktu panen harga turun, sehingga petani sangat dirugikan. Beberapa hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan mengupayakan ketersediaan pangan.
Belum lagi beberapa faktor lain yang mempengaruhinya diantaranya adalah infrastruktur yang kurang mendukung mulai dari akses jalan dan irigasi pertanian, pengetahuan dan pendidikan petani yang masih rendah yang seringkali mereka masih mudah “dibodohi” serta kurangnya informasi yang baik kepada petani. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dibangun untuk mendukung perkembangan sektor pertanian terutama didaerah-daerah :
- Pertama pentingnya pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian masyarakat. Infrastruktur merupakan faktor kunci dalam mendukung program pengentasan kemiskinan yang dalam hal ini petani di pedesaan. Masih banyak petani-petani didaerah mengandalkan curah hujan untuk bercocok tanam, sehingga hasil yang diperoleh tidak bisa maksimal. Sarana transportasi pun juga harus diperhatikan agar distribusi hasil pertanian lancar sehingga nantinya kesejahteraan petani juga meningkat.

- Kedua, perluasan akses pengetahuan dan pendidikan. Pendidikan memainkan peranan yang penting dalam mengentaskan kemiskinan di pedesaan melalui tiga saluran yakni dimana tingkat pendidikan berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian itu sendiri. Kemudian, pendidikan juga berhubungan dengan semakin luasnya pilihan bagi petani untuk bisa bergerak di bidang usaha di samping sektor pertanian itu sendiri yang pada gilirannya juga akan dapat meningkatkan investasi di sektor pertanian. Terakhir, pendidikan juga berkontribusi terhadap migrasi pedesaan - perkotaan.

- Ketiga, penyediaan informasi baik melalui kearifan lokal setempat maupun fasilitasi dari pemerintah. (Umumnya petani miskin memiliki kualitas modal sosial yang rendah yang berakibat terhadap minimnya akses terhadap informasi seperti informasi kesempatan kerja, informasi pasar mengenai input dan output pertanian, dan informasi mengenai teknik – teknik pertanian terbaru. Kurangnya informasi ini merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan mengapa petani kita tetap miskin)
Selain ketiga hal tersebut yang lebih penting lagi adalah adanya kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani. Pemerintah harus berusaha menguasai industri pertanian mulai dari hulu ke hilir. Artinya pemerintah mengupayakan pemenuhan kebutuhan petani mulai dari bibit, dan juga lain sebagainya dengan konsekuensi nantinya petani harus menjual hasil pertaniannya kepada pemerintah, tentunya dengan harga yang sesuai dengan harga pasar. Dengan cara demikian maka kesejahteraan petani akan meningkat dan juga yang lebih penting lagi ketersediaan pangan juga akan terpenuhi.

KORNELIUS URBANUS RUMSELLY / 101111235
Posted on 21st November, 2011

Nama : KORNELIS U. RUMSELLY
NIM : 101111235
Kelas A
Permintaan Rumah Tangga Semakin Tinggi Terhadap Produksi Pangan
Dari banyak penentu yang mempengaruhi permintaan rumah tangga untuk suatu produk, kita baru mempertimbangkan harga produk itu sendiri. Faktor-faktor lain yang minentukan meliputi pendapatan dan kekayaan rumah tangga, harga barang dan jasa lain, selera dan preferensi, dan ekspektasi (harapan). Pendapatan suatu rumah tangga adalah jumlah semua upah, gaji, laba, pembayaran bunga, sewa, dan bentuk penghasilan lain yang diterima oleh suatu rumah tangga pada periode waktu tertentu.
Dengan demikian, pendapatan adalah ukuran Kita harus menentukan periode waktu untuknya, misalnya per bulan, atau per tahun. Jika kita mengkonsuntsi kurang dari pendapatan kita, kita menabung. Untuk melakukan konstunsi lebih dari pendapatan kita dalam satu periode, kita harus meminjam atau menarik tabungan yang terakumulasi dart periode sebeluninya.
Kekayaan adalah total nilai yang dimiliki oleh suatu rumah tangga dikurangi utang rumah tangga tersebut. Kata lain untuk kekayaan adalah kekayaan bersih jumlah yang akan tersisa bagi suatu rumah tangga jika rumah tangga menjual semua miliknya dan membayar semua utangnya. Kekayaan adalah ukuran persediaan: Kekayaan diukur pada titik waktu tertentu. Jika pada suatu periode tertentu, kita membelanjakan kurang dad pendapatan kita, kita menabung (saving) jumlah yang kita yakin itu adalah tambahan pada kekayaan kita. Menabung adalah aliran yang mempengaruhi simpanan kekayaan. Ketika kita membelanjakan lebih dari pada pendapatan kita, kita mengalami dis-save, kita mengurangi kekayaan kita.
Rumah tangga yang memiliki pendapatan lebih tinggi dan akumulasi tabungan atau kekayaan warisan yang lehih tinggi sanggup membeli banyak barang. Secara umum, kita menduga adanya permintaan yang sangat tinggi pada tingkat pendapatan/kekayaan yang lebih tinggi dan permintaan yang jauh lebih rendah pada tingkat pendapatan/kekayaan yang lebih rendah. Barang yang permintaannya naik ketika pendapatan lebih tinggi dan permintaannya turun ketika pendapatan rendah disebut barang normal. Tiket bioskop, makanan restoran, panggilan telepon, dan baju, semuanya adalah contoh barang normal.
Akan tetapi tetapi, generalisasi dalam ilmu ekonomi bisa berbahaya. Kadang permintaan atas suatu barang turun ketika pendapatan rumah tangga naik. Perhatikan, misalnya, berbagai kualitas daging yang tersedia. Ketika pendapatan rumah tangga naik, rumah tangga cenderung membeli daging, berkualitas lebih tinggi, permintaan filet mignon cenderung naik, tapi permintaan daging berkualitas lebih rendah chuck steak, misalnya cenderung turun. Transportasi adalah contoh lain. Dengan pendapatan lebih tinggi, orang sanggup naik pesawat. Orang yang sanggup naik pesawat cenderung tidak mau menggunakan bis untuk menempuh jarak jauh. Oleh sebab itu, pendapatan lebih tinggi mungkin mengurangi frekuensi seseorang menggunakan bis. Barang yang permintaannya cenderung turun ketika pendapatan meningkat disebut barang inferior.
Tidak ada konsumen yang memutuskan secara sendiri-sendiri jumlah segala komoditas yang hendak dibelinya. Sebaliknya, tiap keputusan adalah bagian dari sekumpulan keputusan yang lebih luas yang diambil secara serentak. Rumah tangga harus membagi adil pendapatannya atas berbagai barang dan jasa. Akibatnya, harga tiap satu barang bisa, dan sesungguhnya memang, mempengaruhi permintaan atas barang lain.
Ketika peningkatan harga suatu barang menyebabkan permintaan barang lain meningkat (hubungan positif), kita katakan bahwa barang itu adalah barang substitusi. Turunnya harga suatu barang menyebabkan penurunan permintaan barang substitusi. Barang substitusi adalah barang yang bisa bertindak sebagai pengganti satu sama lain atau biasa disebut sebagai barang pengganti dengan fungsi yang sama.
Seringkali dua produk “sejalan” artinya bisa menjadi pelengkap satu sama lain. Mahasiswi kita yang jauh dari pacarnya, yang menulis surat, misalnya. Ia akan merasakan permintaannya atas perangko dan alat tulis meningkat jika ia menulis surat lebih banyak, dan permintaannya atas akses internet naik ketika ia mengirim lebih banyak e-mail. Daging babi dan telur adalah barang komplementer, seperti halnya mobil dan bensin, serta kamera dan film. Ketika dua barang bersifat komplementer, penurunan dalam harga yang satu menyebabkan peningkatan dalam permintaan yang lain, begitu pula sebaliknya.
Selera dan Preferensi Pendapatan, kekayaan, dan harga barang yang tersedia adalah tiga faktor yang menentukan kombinasi hal-hal yang mampu dibeli oleh rumah tangga. Kita tahu bahwa kita tidak sanggup menyewa sebuah apartemen seharga $1.200 per bulan jika pendapatan bulanan kita hanya $400, tapi dalam batasan ini, kita relatif bebas memilih apa yang akan kita beli. Pilihan akhir kita tergantung pada selera dan preferensi individual kita.
Perubahan preferensi bisa dan memang memanifestasikan dirinya dalam perilaku pasar. Tiga puluh tahun yang lain, perlombaan maraton kota-kota besar utama hanya menarik beberapa ratus pelari. Sekarang puluhan ribu orang ikut berlari. Permintaan sepatu lari, pakaian lari, stopwatch, dan barang untuk olahraga lari lain pun meningkat pesat. Selama bertahun-tahun orang minum soda untuk mendapatkan kesegaran. Saat ini toko-toko serba ada diisi dengan begitu banyak teh es, jus buah, minuman alami, dan air mineral.
Dalam batasan harga dan pendapatan, preferensi membentuk kurva permintaan, tapi menggeneralisasikan selera dan preferensi tidaklah mudah. Pertama, keduanya mudah berubah: Lima tahun lalu, lebih banyak orang yang merokok dan lehih sedikit orang yang punya komputer. Kedua, keduanya bersifat khas: beberapa orang suka berbicara di telepon, sedang lainnya lebih suka kata-kata tertulis; beberapa orang suka anjing, lainnya tergil-agila pada kucing; beberapa orang suka sayap ayam, lainnya suka paha ayam. Keragaman permintaan individual hampir tak terbatas.

Rahmatika Dwi Fajarini
Posted on 21st November, 2011

Nama : Rahmatika Dwi Fajarini
NIM : 101111282
Kelas : A (alih jenis)
Mempertahankan Ketersediaan Pangan
Ketersediaan pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber,baik itu dari produksi pangan domestic, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.
Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.
Kondisi iklim yang ekstrim baru- baru ini, kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan, banjir serta bencana alam lainnya di berbagai wilayah dunia terutama di sentra-sentra produksi pangan, secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi ketersediaan produk pangan tersebut. Selain itu pertambahan penduduk, kerusakan lingkungan, konversi lahan dan penurunan kualitas lahan pertanian, perubahan pola konsumsi, pemanasan global, dan kebijakan lembaga keuangan internasional dan Negara maju juga bisa berpengaruh pada ketersediaan pangan.
Hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 mencapai angka 237,6 juta jiwa. Angka ini memang sebuah statistik, tetapi bukan sekedar statistik karena memiliki makna penting dan implikasi yang serius. Makna penting dari angka ini adalah 237,6 juta jiwa penduduk Indonesia jangan sampai menjadi beban tetapi harus menjadi modal pembangunan. Statistik ini pun memiliki implikasi yang serius terhadap sumberdaya alam dan lingkungan, mulai dari soal penyediaan pangan, energi, alokasi lahan permukiman hingga meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan. Jumlah penduduk yang tinggi tanpa adanya langkah penanganan dan antisipasi yang serius khususnya yang terkait dengan pangan, energi, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan akan berimplikasi pada ancaman kedaulatan bangsa dan ketahanan nasional. Kekhawatiran akan makin menurunnya kualitas hidup masyarakat, bahaya kelaparan, kekurangan gizi dan akibat-akibat negatif lain dari permasalahan tersebut secara keseluruhan akan menghambat pencapaian goal pertama dari Millennium Development Goals (MDGs) yakni eradication of poverty and extreme hunger.
Dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia merupakan Negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia yang harus wajib memikirkan dengan sungguh- sungguh masalah pangan, karena dinilai belum memiliki ketersediaan pangan yang terbilang aman sehingga krisis pangan masih mengancam. Oleh karena itu upaya peningkatan ketahanan pangan nasional harus dilakukan secepatnya. Bila tidak, Indonesia akan terus hidup dalam bawah bayang-bayang kerawanan pangan, kerawanan ekonomi dan sosial.
Sebenarnya Indonesia bisa terlepas dari kerawanan pangan karena negara ini dianugerahi sumber daya alam melimpah. Dengan kesuburan tanahnya, Indonesia bahkan bisa menjadi lumbung pangan dunia. Kuncinya adalah bagaimana mengelola sumber daya kita sebaik dan seproduktif mungkin. Untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat, Indonesia tidak hanya cukup menargetkan swasembada pangan,tetapi harus mencapai surplus. Hanya dengan kondisi surplus,keamanan pangan terjamin dalam keadaan apa pun. Salah satu kunci untuk menuju surplus pangan adalah dengan menyebarkan penggunaan teknologi yang tepat kepada petani pangan.
Selain itu,riset dan pengembangan di bidang pangan juga perlu diprioritaskan. Membangun sistem inovasi yang efektif di bidang pangan adalah pekerjaan besar dan harus kita mulai dari sekarang. Kemampuan suatu bangsa bertahan dari krisis global ditentukan kemampuannya dalam mengelola sumber daya alam dan menangani ketahanan pangan secara berkelanjutan. Pengembangan teknologi di bidang pertanian, terutama di negara berkembang, akan menjadi kunci bagi ketahanan pangan dunia. Perlunya teknologi pertanian yang memadai serta adaptif guna meningkatkan produktivitas pangan juga diperlukan untuk mengantisipasi perubahan iklim yang drastis. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat dan pengelolaan yang baik, sumber daya alam yang dimiliki tersebut akan menghasilkan pangan melebihi dari kebutuhan masyarakat bangsa ini dan dapat memberikan sumbangan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan dunia.
Selain itu dibutuhkan kebijakan pemerintah yang strategis dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan serta stabilisasi harga, mengingat adanya ketidakseimbangan dalam proses permintaan dan penawaran karena tingginya tingkat konsumsi pangan tidak dibarengi dengan produktivitas. Kita membutuhkan mekanisme yang sangat khusus untuk mencegah terjadinya krisis pangan dan transparansi informasi dalam pasar pangan dunia. Terus meningkatnya harga pangan, salah satunya karena dunia terlambat menanamkan investasi pada teknologi dan infrasrtuktur pangan serta kurangnya kebijakan politik di tingkat internasional untuk meningkatkan produktivitas komoditas pangan.
Oleh karena itu diharapkan adanya sinergi dari semua unsur baik dari pemerintah pusat dan daerah, pengusaha dan para petani guna menciptakan keamanan pangan di Indonesia.

Novie Kartikasari
Posted on 21st November, 2011

Nama :Novie Kartikasari
Nim :101111285
Kelas :A

Ketersediaan Bahan Makanan dari Pekarangan Rumah
Pada tahun 2002, konsumsi sayuran dan buah di Indonesia diperkirakan sekitar 59,2 kg/kapita/tahun. Bila dari konsumsi sayuran 15% di antaranya dibuang karena tidak diperlukan atau karena mengalami kerusakan, berarti konsumsi bersih dari sayuran tersebut hanya mencapai 47,5 kg/kapita/tahun atau sekitar 130,1g/kapita/hari. Angka ini masih di bawah standar internasional untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, yakni di atas 150 g /kapita/hari. Angka ini belum cukup baik bila dibandingkan dengan konsumsi rata-rata masyarakat Asia 220 g/kapita/hari dan dunia sebesar 240 g/kapita/hari (Redaksi Trubus, 2009). Melihat produksi sayur Indonesia pada tahun 2002 yang hampir mencapai 7,5 ton sementara konsumsi sayuran mencapai 47,5 kg/kapita/tahun diperlukan 9,8 ton sayuran untuk lebih dari 206 juta penduduk Indonesia. Dengan demikian dapat diduga bahwa kontribusi sayuran non-komersil dalam memenuhi kebutuhan konsumsi sayuran mencapai 2,3 juta ton (Redaksi Trubus, 2009).
Dari besarnya kontribusi yang diberikan oleh sayuran non-komersil tersebut dapat dipastikan bahwa usaha bertanam sayuran di halaman masih sangat diperlukan. Bagi masyarakat di pedesaan, bukan saja untuk memnuhi kebutuhan sendiri, melainkan juga untuk menambah penghasilan keluarga. Karena hasil panen dapat dijual ke pasar. Kegiatan bertanam sayur di pekarangan saat ini telah menjadi alternatif penyaluran hobi yang banyak dilakukan ibu rumah tangga di kota.
Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tinggal. Lahan ini jika dipelihara dengan baik akan memberikan lingkungan yang menarik nyaman dan sehat serta menyenangkan sehingga membuat kita betah tinggal di rumah. Pekarangan rumah kita dapat kita manfaatkan sesuai dengan selera dan keinginan kita. Misalnya dengan menanam tanaman produktif seperti tanaman hias, buah, sayuran, rempah-rempah dan obat-obatan. Dengan menanam tanaman produktif di pekarangan akan memberi keuntungan ganda, salah satunya adalah kepuasan jasmani dan rohani (Anonim, 2009).
Taman sayur merupakan contoh taman yang multifungsi. Di satu sisi tampilannya cukup memberikan kesan dan ketika dipanen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan (Supriati, dkk 2008). Bahkan jika jumlahnya cukup banyak bisa dijual yang akan memberikan keuntungan ekonomis. Selain dari manfaat estetis dan produktif dari taman sayur ada manfaat lain yang bisa kita peroleh. Dengan taman sayur di pekarangan kita ikut mendukung gaya hidup hijau yang merupakan suatu usaha untuk mengatasi laju pemanasan global yang bisa kita mulai dari rumah kita (Anonim, 2010).
Keuntungan Pekarangan Produktif
Berbagai keuntungan diperoleh dengan memanfaatkan pekarangan menjadi produktif secara konseptual adalah sebagai berikut:
1. Banyak yang tidak menyadari akan potensi pekarangan sebagai penghasil (tambahan), seperti bahan pangan atau bahan obat-obatan bahkan ternak untuk kebutuhan hidup sehari-hari dalam rangka hidup sehat, murah dan mudah.
2. Pemanfaatan pekarangan merupakan bagian dari pembangunan hutan kota, guna lingkungan yang nyaman, sehat dan indah, sangat mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (suistanable development), karena pemanfaatan pekarangan merupakan pelestarian ekosistem yang sangat baik.
3. Jika setiap rumah mempunyai pekarangan yang indah serta terpelihara, sekaligus akan meningkatkan pembangunan hutan kota yang berbentuk menyebar dengan struktur yang berstrata akan meningkatkan kualitas lingkungan yang sejuk, sehat dan indah.
4. Dengan membuat taman pekarangan, ini berarti akan dapat menyalurkan segala kreatifitas dan kesenangan ataupun hobi semua anggota keluarga.
5. Unsur utama dalam pemanfaatan pekarangan adalah tanaman, apakah itu tanaman hortikultura, obat-obatan, bumbu-bumbuan, rempah-rempah dan lainnya.
6. Pemanfaatan pekarangan dengan taman pekarangan yang konseptual akan memberikan kenyamanan serta dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah terutama anggota keluarga, maupun siapa saja yang lewat disekitar rumah kita.
7. Pemanfaatan pekarangan mengandung nilai pendidikan khususnya dapat mendidik anggota keluarga cinta lingkungan, juga pekarangan dapat menjadi laboratorium hidup (Irwan, 2008; Ginting, 2010).

kiki mellisa andria
Posted on 21st November, 2011

NAMA : KIKI MELLISA ANDRIA
KLS : FKM ALIH JENIS A
NIM : 101111258

KETERSEDIAN PANGAN
Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat mengancam keamanan sosial. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan pangan masyarakat, perlu dilakukan persamaan persepsi tentang instrument analisis yang digunakan para aparat di daerah, yang difasilitasi melalui kegiatan Apresiasi Analisis Ketersediaan Pangan. Hasil analisis ketersediaan pangan, diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam penyusunan kebijakan ketersediaan pangan dan sekaligus sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam memulai suatu program aksi agar tepat sasaran.
Pengembangan ketersediaan pangan diarahkan untuk membangun kemandirian dalam penyediaan pangan, mengurangi ketergantungan pada bantuan dan produk pangan asing. Situs Web ini menyajikan informasi tentang Pusat Pengembangan Ketersedian Pangan, Badan Bimas Ketahanan Pangan-Departemen Pertanian, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemantapan ketersedian pangan.
Misi Pusat Pengembangan Ketersediaan Pangan yaitu:
Memahami situasi ketersediaan pangan dengan memberdayakan kemandirian masyarakat.
Mendorong pengembangan ketersediaan pangan berbasis sumberdaya lokal.
Mewujudkan sinergi antar lembaga dan pelaku dalam pengembangan ketersediaan pangan.
Meningkatkan partisipasi dan kemampuan SDM dalam pengembangan ketersediaan pangan yang beragam dan berkelanjutan.
Pusat Pengembangan Ketersediaan Pangan mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, perumusan kebijakan dan pemantauan produksi dan ketersediaan pangan, yaitu dengan menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan rencana pengkajian dan pengembangan ketersediaan pangan
2. Pengkajian dan pemantauan produksi pangan dan cadangan pangan
3. Perumusan kebijakan teknis pengembangan ketersediaan pangan
4. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pengembangan ketersediaan pangan
Di tengah krisis pangan yang melanda dunia, kebijakan pangan yang diambil pemerintah pada periode 2011-2012 justru tidak menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat dan kesejahteraan produsen yang mayoritas masyarakat kecil. Langkah yang diambil Pemerintah Indonesia sangat bertolak belakang dengan langkah yang diambil oleh pemerintah di mana pun di dunia, bahkan negara-negara yang terang-terangan menganut ekonomi liberal. Pada saat krisis pangan mereka menata sistem pangannya serta melindungi produsen dan kebutuhan rakyatnya. Indonesia malah sibuk membuka sektor pangan untuk investor swasta dengan membangun infrastruktur berbiaya tinggi. Aliansi untuk Desa Sejahtera merupakan aliansi dari 18 organisasi nonpemerintah dan jaringan, dengan fokus kerja mengupayakan penghidupan pedesaan yang lestari dengan pendekatan pada 3 komoditas, beras/pangan, sawit, dan ikan.
kebijakan pangan yang tidak memihak produsen kecil itu di antaranya tecermin dalam master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, World Economic Forum. Merauke Integrated Food and Energy Estate ataupun anggaran RAPBN 2012. RAPBN menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas ke 5 dengan total budget Rp 1.418,5 triliun. Program apa pun tanpa menempatkan produsen kecil, seperti petani, nelayan, dan pekebun, sebagai subyek dalam penyediaan pangan tidak akan dapat meningkatkan kesejahteraan di pedesaan. Kalau melihat seluruh kinerja ekonomi makro selama 10 tahun terakhir memang membaik. APBN bertumbuh terus, produksi ikan juga demikian. Tetapi, kesejahteraan nelayan tidak beranjak walau nilai tukar nelayan juga naik. Hal itu terjadi karena proporsi anggaran untuk kesejahteraan nelayan nyaris tidak ada. Demikian juga daerah-daerah penghasil ikan tidak mendapatkan insentif, yang akhirnya berimplikasi pada memburuknya kerja sektor perikanan. Penimbunan pangan, khususnya beras di beberapa tempat seperti yang diakui oleh Menteri Pertanian Suswono, menunjukkan ketidakseriusan pemerintah mengurus pangan. Pemerintah kalah dengan pedagang karena kerangka berpikir dan kebijakannya hanya melihat pangan sebagai komoditas semata. Kenaikan harga pangan sendiri memiliki dua sisi, sebagai produsen pangan menguntungkan, tetapi karena petani juga merupakan nett consumers, kenaikan harga yang terus-terusan akhirnya menekan mereka.

TATIEK WAHYU PRIHASTUTI
Posted on 21st November, 2011

Nama : Tatiek Wahyu Prihastuti
Nim : 101111290
Kekas : A
Tugas : Ketersedian Pangan.

Di era globalisasi saat ini, menurut wakil Presiden Boediono mengatakan, bahwa penduduk Indonesia sekarang lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia belum memiliki ketersediaan pangan yang terbilang aman sehingga krisis pangan masih mengancam. Negara Indonesia dengan penduduk terbesar keempat di dunia wajib memikirkan dengan sungguh- sungguh masalah pangan. Sekarang ini keadaan pangan secara umum masih bisa mengimbangi dengan pertambahan penduduk di Negara Indonesia meskipun hanya paspasan. Kondisi pangan kita masih mengandung kerawanan,” papar Wapres dalam sambutannya pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) Ke-31.
Karena kondisi yang belum aman,upaya peningkatan ketahanan pangan nasional harus dilakukan secepatnya. Bila tidak, Indonesia akan terus hidup dalam bawah bayang-bayang kerawanan pangan. ”Risikonya terlalu besar apabila kita puas dengan keadaan pangan yang pas-pasan, karena itu berarti kita akan selalu dihantui oleh kerawanan pangan, kerawanan ekonomi dan sosial, Negara Indonesia bisa terlepas dari kerawanan pangan karena negara ini dianugerahi sumber daya alam melimpah. Dengan kesuburan tanahnya, Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia. ”Kuncinya adalah bagaimana kita mengelola sumber daya kita sebaik dan seproduktif mungkin, untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat, Indonesia tidak hanya cukup menargetkan swasembada pangan,tetapi harus mencapai surplus.Hanya dengan kondisi surplus, keamanan pangan terjamin dalam keadaan apa pun. Salah satu kunci untuk menuju surplus pangan adalah dengan menyebarkan penggunaan teknologi yang tepat kepada petani pangan. Selain itu,riset dan pengembangan di bidang pangan juga perlu diprioritaskan. ”Membangun sistem inovasi yang efektif di bidang pangan adalah pekerjaan besar dan harus kita mulai dari sekarang. Upaya peningkatan ketahanan pangan nasional serta pengembangan pertanian harus mempertimbangkan karakteristik sektor pertanian Indonesia yang sangat khas, yakni didominasi kegiatan pertanian rakyat. Pertanian berskala kecil namun jumlahnya sangat banyak yang menjadi ciri khas tersebut menurut dia harus menjadi titik tolak sekaligus tujuan utama dari setiap kebijakan terkait pangan. Upaya produktivitas pangan yang diperoleh dengan mengorbankan petani kecil hanya akan menimbulkan kerawanan yang besar.Karena itu,perlu dicari cara dan strategi dasar pembangunan pertanian yang memadukan sasaran pertumbuhan dan pemerataan, yang merangkul usaha skala besar dan petani kecil. Usaha skala besar itu perlu digunakan. Tentu kita tidak boleh menutup kemungkinan dibangunnya food estate dan perkebunan besar yang sering kali sasarannya untuk pasar ekspor.Tetapi, kebijakan ini tidak boleh lepas dari dan harus selalu disinkronkan dengan tidak boleh bertabrakan dan justru harus mendukung. Pentingnya teknologi pertanian yang memadai serta adaptif guna meningkatkan produktivitas pangan.Teknologi yang adaptif ini diperlukan untuk mengantisipasi perubahan iklim yang drastic. Perubahan iklim tidak bisa dikendalikan karena itulah diperlukan adaptasi dan mitigasi terhadap iklim sendiri. Kemampuan suatu bangsa bertahan dari krisis global ditentukan kemampuannya dalam mengelola sumber daya alam dan menangani ketahanan pangan secara berkelanjutan,Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) di Indonesia James Mc Grane yang membacakan pesan Direktur Jenderal FAO Jacques Diouf mengingatkan pentingnya kebijakan pemerintah yang strategis dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan serta stabilisasi harga. Kebijakan itu sangat diperlukan, mengingat adanya ketidakseimbangan dalam proses permintaan dan penawaran karena tingginya tingkat konsumsi pangan tidak dibarengi dengan produktivitas. Dibutuhkan political will dari pemerintah untuk membangun stabilisasi kesediaan dan harga pangan. Kita membutuhkan mekanisme yang sangat khusus untuk mencegah terjadinya krisis pangan dan transparansi informasi dalam pasar pangan dunia untuk menjawab kepanikan dunia. Menurut Mc Grane menyatakan bahwa dinegara Indonesia sekarang ini terus meningkatnya harga pangan, salah satunya karena dunia terlambat menanamkan investasi pada teknologi dan infrasrtuktur pangan serta kurangnya kebijakan politik di tingkat internasional untuk meningkatkan produktivitas komoditas pangan. Pengembangan teknologi di bidang pertanian, terutama di negara berkembang, akan menjadi kunci bagi ketahanan pangan dunia di Indonesia.
Friday, 21 Oktober 2011 - Sumber Berita: Seputar Indonesia.

diahpuspitarini
Posted on 21st November, 2011

Diah Puspitarini
101111269
1A
TUGAS GIZI
OPINI TENTANG “ KETERSEDIAAN PANGAN “

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk didalamnya adalah bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang sengaja ataupun tidak disengaja bercampur dengan makanan atau minuman tersebut. Apapun jenis pangan, produksi pangan merupakan kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, dan mengemas kembali dan atau mengubah bentuk pangan.
Indonesia jika dilihat dari Sumber Daya Alamnya yang melimpah logikanya memiliki ketersediaan pangan yang lebih dari cukup.Mulai dari kekayaan lautnya,flora dan faunanya ditunjang dengan Iklim tropis yang memungkinkan sinar matahari ada disepanjang tahun sehingga banyak tumbuhan dan hewan bisa hidup di alam kita.Sampai-sampai kita mendapat julukan Negara Agraris karena sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan.Namun kenyataannya hampir semua bahan pangan kita impor.Masih banyak masyarakat kita yang belum bisa mencukupi kebutuhan pangannya karena tidak menjangkau harganya.
Masyarakat kita sangat tergantung akan beras, hampir 90 % orang Indonesia menjadikan beras sebagai makanan pokoknya karenanya ketika produksi beras mulai berkurang dengan berbagai sebab, baik itu karena faktor alam (perubahan cuaca,kekeringan,dll) atau berkurangnya lahan pertanian akibat bertambahnya jumlah penduduk sehingga pemukiman semakin meluas, Pemerintah mulai khawatir akan Ketersediaan Pangan Nasional sehingga diambilah tindakan Impor. Satu sisi kita diuntungkan dengan terjaganya stok pangan Nasional tapi sisi lain tindakan ini merugikan petani, padahal masyarakat kita lebih banyak buruh dan petani.Kesejahteraan petani akhirnya menurun. Hal serupa terjadi pada peternak kita, adanya impor daging besar-besaran menyebabkan produksi daging lokal menurun.

Masyarakat kita masih sulit menerima bahan makanan pokok lain sebagai pengganti beras.Kebiasaan orang Indonesia kalau belum makan nasi berati belum makan padahal sudah mengkonsumsi roti.Karena itulah meskipun Indonesia memiliki berjuta-juta variasi bahan pangan tapi tidak semuanya dikonsumsi oleh masyarakat, alasannya simple,karena tidak terbiasa.Masyarakat Indonesia bagian Timur tidak terbiasa makan nasi tapi sagu dan mereka juga enggan mengganti bahan pokok mereka,misal dengan jagung, ubi ,kentang, dll.Dari sini bisa dilihat akar permasalahannya bahwa kita tidak bisa mengexplor kekayaan kita sehingga hanya terpaku untuk mengolah bahan itu-itu saja sehingga bahan pangan yang potensial produktif tidak berkembang karena tidak ada niat selain itu sulitnya pemasaran menjadi alasan klasik karena bahan pangan tersebut butuh waktu untuk bisa diterima oleh masyarakat.
Masalah ketersediaan pangan juga dipengaruhi oleh ledakan penduduk karena adanya ledakan penduduk yang sangat tinggi bisa mengancam ketersediaan pangan.Dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 230 juta jiwa membutuhkan konsumsi beras yang tinggi perkapita yaitu sekitar 139,15 koligram per kapita per tahun.Sementara itu konversi lahan persawahan menjadi pemukiman sangat cepat terjadi akibat tingginya pertumbuhan penduduk padahal jumlah penduduk yang tinggi juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi beras. Selain itu, perubahan iklim yang dipicu tingginya jumlah penduduk juga mengakibatkna gagal panen.Penduduk yang banyak bisa mempengaruhi perubahan iklim, dan sebaliknya penduduk juga terpengaruh pada perubahan iklim yang terjadi, karenanya laju pertumbuhan penduduk harus ditekan dan dengan meningkatkan kualitas penduduk melalui berbagai program baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas. Selain itu diperlukan pengembangan teknologi untuk mengimbangi ledakan penduduk dan krisis pangan.
Sistem distribusi pangan yang handal juga diperlukan agar penyebarannya bisa merata di seluruh Indonesia. Adanya jaminan bagi masyarakat miskin untuk menjangkau bahan pangan tersebut, misal beras. Tindakan pemerintah dengan mengucurkan program RASKIN ternyata tidak menyelesaikan permasalahan keterjangkauan pangan. Sudah waktunya pemerintah memberdayakan masyarakat. Mereka harusnya dibekali Ilmu dan Teknologi agar mereka mau dan bisa mengembangkan, mengolah bahan pangan seefisien mungkin serta mengoptimalkan sumber daya alam yang dimiliki agar tidak terjadi ketergantungan pada bahan pangan tertentu, karenanya kedepan krisis ketersediaan pangan bisa diatasi tanpa harus impor.

NURUL KHOIRIAH
Posted on 21st November, 2011

NAMANURUL KHOIRIAH
101111259
KELAS I A
TUGAS : KETERSEDIAAN PANGAN

Annastasia Helga Primanti
Posted on 21st November, 2011

Nama: Annastasia Helga Primanti
NIM: 101111279
Kelas: A

Pangan merupakan kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidup manusia dan sekaligus merupakan kebutuhan paling mendasar bagi keutuhan suatu bangsa. Ketahanan pangan bagi suatu bangsa merupakan pilar utama dari integrasi dan independensi bangsa tersebut dari cengkraman penjajah. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkraman penjajah. Dengan demikian upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi untung rugi ekonomi saja tetapi harus disadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasional yang harus dilindungi.
Diantara berbagai jenis bahan pangan, maka beras merupakan komoditi pangan paling penting bagi bangsa Indonesia, sebab beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk, menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi sekitar 21 juta rumah tangga. Sehingga beras sering menjadi komoditas politik yang sangat strategis dan produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi Indonesia. Laporan BPS tentang kemiskinan menyatakan bahwa setiap bulannya pengeluaran yang dilakukan oleh penduduk yang masuk dalam zona di bawah garis kemiskinan (GK) (pengeluaran per bulan di bawah Rp 152.847) untuk membeli beras mencapai 23,10% dari uang yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut ukuran BPS penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pada bulan Maret 2007 berjumlah 39,05 juta jiwa (17,75%). Namun bila menggunakan dasar perhitungan penduduk yang berada di luar zona garis tidak miskin dengan pengeluaran di bawah Rp 229.270 (1,5 GK) per bulan jumlahnya mencapai 128,94 juta jiwa atau 58,61% dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia.
Ketidak-cukupan produksi pangan domestik (dalam hal ini beras) dikarenakan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang berarti jumlah permintaan akan beraspun meningkat, yang antara lain juga dikarenakan oleh macetnya upaya diversifikasi bahan makanan pokok non beras. Sementara disisi lain, produktivitas lahan pertanianpun (sawah) cenderung menurun yang mengakibatkan menurunnya produktivitas padi. Kecenderungan turunnya produktivitas padi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain karena pengaruh iklim yaitu kekeringan, sementara banyaknya prasarana irigasi mulai dari saluran primer, sekunder, dan juga termasuk bendungan yang membutuhkan perbaikan sesegera mungkin. Kurusnya tanah sawah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlangsung lama dan dalam jumlah yang terus meningkat; Serangan hama & penyakit tanaman padi, semakin memperburuk jumlah produksi padi yang dihasilkan. Di luar itu, kecilnya margin keuntungan usahatani beras yang tidak sebanding dengan peningkatan nilai kebutuhan hidup petani, ikut mempengaruhi minat petani dalam melanggengkan usahatani padi. Ditambah lagi semakin banyaknya lahan (sawah) potensial yang beralih fungsi ke non pertanian semakin memperburuk jumlah produksi beras domestik yang bisa dihasilkan.
Mengingat bahwa pertanian tanaman pangan di Indonesia itu merupakan kegiatan yang didominasi oleh pertanian rakyat yang jumlah (petani) nya banyak, dengan skala usaha yang didominasi lahan kecil / sempit, maka kebijakan yang diambil pemerintahpun seharusnya tetap memperhatikan dan berorientasi pada produktivitas pertanian rakyat.
Ketersediaan Pangan Nasional tak akan tercapai jika Kedaulatan Pangan bagi rakyat itu sendiri tidak tercipta, karena kemampuan untuk memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri, menentukan jenis makanan yang dimakan, kebijakan pertanian yang dijalankan, kapasitas produksi [termasuk makanan lokal di tingkat lokal], serta distribusi dan perdagangan adalah hak semua orang termasuk petani.

Moh.Setyo Puji Raharjo
Posted on 21st November, 2011

NAMA : MOHAMMAD SETYO PUJI RAHARJO
NIM : 101111268
EMAIL : mz_think2@yahoo.co.id
KETERSEDIAAN PANGAN INDONESIA
Ancaman krisis pangan yang menghantui dunia, ketergantungan Indonesia yang cukup besar kepada pangan impor, kekeringan berkepanjangan yang menyebabkan beberapa daerah di Tanah Air terancam krisis pangan, merupakan deretan realitas yang menjadikan perbincangan seputar pangan makin penting. Kehkhawatiran itu sudah ditunjukkan pemerintah dengan menambah alokasi anggaran ke¬tersediaan dan siaga pangan dalam RAPBN 2012 sebesar tiga triliun rupiah. Persoalan ketersediaan pangan Indonesia semakin diragukan dan dipertanyakan publik. Sejak bebe¬rapa tahun terakhir, musim kemarau berkepanjangan dan banjir yang mengebabkan puluhan ribu hektar sawah mengalami gagal panen (puso) merupakan realitas yang kian mencemaskan. Pada saat yang sama, reaksi penolakan masyarakat terhadap pangan, terutama beras impor terus bergulir. Meskipun pemerintah mengatakan bahwa luas area sawah yang ¬mengalami gagal panen karena kekeringan hanya sekitar 3,9 persen dari total lahan yang dimiliki, jumlah itu se¬sungguhnya tidak kecil.
Pokok persoalan terkait pangan adalah konsumsi beras rakyat Indonesia yang terus meningkat. Ini juga menjadi salah satu masalah serius yang akan dihadapi terus-menerus jika diversifikasi konsumsi pangan tidak dapat diwujudkan. Dari sisi konsumsi beras, data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa konsumsi beras rata-rata orang Indonesia sebesar 139,15 kilogram per kapita per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dari konsumsi dunia yang hanya sekitar 60 kg per kapita per tahun.
Ketersediaan pangan adalah salah satu hasil pemberdayaan di bidang agraris. Ketersediaan Pangan berarti kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah-tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup baik jumlah, maupun mutunya, aman, serta merata terjangkau. Ketersediaan Pangan harus sepenuhnya tertumpu pada, Sumber Pangan Lokal, Mengandung keragaman antar daerah, dan Tidak tergantung pada pemasukan pangan dari luar negeri. Perwujudan ketersediaan pangan nasional menjadi tugas dan tanggung jawab utama pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, desa dan masyarakat sendiri.
Ketergantungan Indonesia pada impor beras dari negara lain semakin tinggi. Para petani pun yang masih bertani dengan lahan yang seadanya malah terus tertekan karena kelangkaan dan kenaikan harga bibit, pupuk, dan obat-obatan menjelang musim tanam sedangkan harga jual beras menjelang musim panen malah melorot ke bawah karena masuknya impor beras dari negara lain. Kenyataan yang sangat ironis sekali mengingat negara indonesia adalah negara agraris. Berdasar data dari BPS tahun 2000 Sebanyak 60.7 % penduduk Indonesia tinggal di desa dan secara geografis, 48% mencari nafkah dari sektor pertanian dengan melibatkan 50% tenaga kerja atau 60 juta petani, dan 38.2% di antaranya adalah perempuan. Sebanyak 16% Petani Kepala Rumahtangga (PKRT) adalah perempuan. Hal ini menunjukkan begitu besar potensi ketersediaa pangan bangsa Indonesia di bidang agraris jika dimanfaatkan dengan baik, pengaturan pangsa pasar yang baik, dengan menekan import beras dari luar negri yang akan merugikan petani lokal. Selain itu ketergantungan akan beras yang cukup tinggi bisa disiasati dengan holtikultura. Penanaman potensi pangan lain selain beras yang dapat membantu bangkitnya ketersediaan pangan di Indonesia. Jika kita lebih dalam lagi memperhatikan potensi holtikultura, coba tengok saudara kita yang berada di Indonesia bagian barat seperti di Papua dan sulawesi selatan, mereka dapat mengkonsumsi sagu sebagai bahan makanan pokok mereka. Selain itu di daerah Gorontalo menjadikan jagung sebagai bahan makanan pokok mereka. Ini berarti sebuah peluang dapat diterapkan holtikultura di Indonesia. Ada beberapa keuntungan dalam menerapkan holtikultura di Indonesia yakni ;
Pertama, pengembangan hortikultura secara sungguh-sungguh akan memberikan beberapa keuntungan bagi Indonesia. Yang pasti, potensi krisis ¬pangan dapat diminimalkan. Selain itu, pengembangan hortikultura akan menyiapkan pondasi kemandirian pangan nasional untuk menuju kemandirian bangsa.
Kedua, pengembangan hortikultura secara sungguh-sungguh dapat dilakukan dengan mendorong perkembangan kewirausahaan terkait produk hortikultura. Ikhtiar ini dapat dilakukan di daerah-daerah. Jika ini dapat dilakukan dengan baik, sektor kewirausahaan akan menggeliat, yang pada akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dengan kata lain, pengembangan hortikultura tidak hanya membantu memperkuat pilar ketersediaan pangan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru dan memberantas kemiskinan.

AYU KHARINA
Posted on 21st November, 2011

Nama :AYU KHARINA
NIM :101111265
Kelas :A (S1 Alih Jalur)
Konversi Lahan Pertanian Menjadi Daerah Industri Mengganggu Stabilitas Ketersediaan Pangan di Indonesia

Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh rumah tangga atau seluruh masyarakat dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Sedangkan subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Situasi ketahanan pangan di negara kita masih lemah. Hal ini ditunjukkan antara lain jumlah penduduk rawan pangan dan sangat rawan pangan masih cukup banyak, anak-anak balita kurang gizi masih cukup besar yang dikarenakan perekonomian yang kurang. Arti dari ketahanan pangan itu sendiri merupakan tantangan yang mendapatkan prioritas untuk mencapai kesejahteraan bangsa dan negara. Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional harus bertumpu pada sumber daya pangan lokal yang mengandung keragaman antar daerah.
Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di dunia. Lonjakan penduduk dunia mencapai peningkatan yang tinggi setelah tahun 1960, hal ini dapat kita lihat dari jumlah penduduk tahun 2000an yang mencapai kurang lebih 6 miliar orang, tentu saja dengan pertumbuhan penduduk ini akan mengkibatkan berbagai permasalahan diantaranya kerawanan pangan. Di Indonesia sendiri, permasalah pangan tidak dapat kita hindari, walaupun kita sering disebut sebagai negara agararis yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Kenyataannya masih banyak kekurangan pangan yang melanda Indonesia, hal ini seiring dengan meningkatnya penduduk. Bertambahnya penduduk bukan hanya menjadi satu-satunya permasalahan yang menghambat untuk menuju ketahanan pangan nasional. Berkurangnya lahan pertanian yang dikonversi menjadi pemukiman dan lahan industri, telah menjadi ancaman dan tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dalam bidang pangan.
Permasalahan yang dapat mengahambat dalam mencapai ketahanan pangan dan menjauhkan Indonesia dari keadaan rawan pangan adalah konversi lahan pertanian menjadi daerah industri. Dengan semakin sempitnya lahan pertanian ini, maka sulit untuk mengharapkan petani kita berproduksi secara optimum. Selain karena semakin meningkatnya jumlah penduduk fenomena perubahan iklim membuat dunia semakin dihantui kemungkinan kemerosotan produksi dan ketersediaan bahan pangan. Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, climate change dan dampaknya sudah terasa. Negara produsen bahan pangan merasakan penurunan produksi, sehingga mengurangi atau menghentikan ekspor karena menjaga stok di dalam negeri. Rusia sebagai salah satu produsen gandum terbesar dunia, mengurangi ekspor karena berjuta hektare ladang gandum mengering, bahkan terbakar. Thailand sebagai produsen beras terbesar juga mengurangi ekspor. Vietnam untuk sementara menyetop ekspor. Dua negara ini pemasok beras ke Indonesia, jika terjadi ke- kurangan produksi.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memberikan peringatan bahwa perubahan cuaca ekstrem dan kenaikan harga pangan global diproyeksikan masih akan terus berlanjut dan kemungkinan mengakibatkan krisis pangan untuk tahun ini maupun tahun-tahun yang akan datang, jika tidak diantisipasi.
Di Indonesia, pemerintah mengaku sudah melakukan pengkajian dan antisipasi. Turunnya pasokan gabah dan be ras ke Perum Bulog menyebabkan dikeluarkannya kebijakan impor beras sebanyak 1,5juta ton untuk stok. Sementara ini, beras di pasar-pasar tetap tersedia dalam jumlah cukup, walaupun harganya naik. Pemerintah juga masih membuka pintu impor gandum yang diolah mejadi tepung terigu untuk pembuatan mi dan roti. Pintu impor juga masih dibuka lebar untuk jagung, kedelai, gula, daging sapi, dan garam, karena kebutuhan penting ini tak bisa semuanya dipenuhi dari dalam negeri.
Selain membuka pintu impor agar ketersediaan pangan terjamin dan harga pangan di dalam negeri bisa dikendalikan, pemerintah juga bertekad menggenjot produksi dengan menerapkan teknologi bantuan kepada petani, dan berbagai upaya lainnya untuk meningkatkan produksi. Misalnya saja dengan meningkatkan luas pertanian atau pertanaman melalui pemanfaatan suboptimal dan meningkatkan indeks pertanian atau pertanaman pada lahan irigasi dan lahan potensial lainnya. Kemudian memobilisasi petugas lapangan serta tenaga trampil untuk Pengamatan Hama Penyakit (HPT) dan pengamanannya. Selain itu, memperbanyak alat penanganan panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu dan mengurangi kehilangan hasil. Hal itu dilaksanakan agar semua pangan pokok ditargetkan bisa swasembada.
Apabila semua langkah itu berjalan dengan baik, tentu kita tak perlu khawatir terjadi kekurangan bahan pangan di negara kita maupun di tiap-tiap negara . Untuk itu, kita berharap instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap penyediaan bahan pangan bagi rakyat serta seluruh pemangku kepentingan di bidang pertanian, tetap serius mengawal produksi bahan pangan dalam negeri agar ketersediaan pangan tetap terjaga.

NURUL KHOIRIAH
Posted on 21st November, 2011

NAMA : NURUL KHOIRIAH
NIM : 101111259
KELAS : I A
TUGAS : KETERSEDIAAN PANGAN

Bagi Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat besar (215 juta orang), masalah pangan selalu merupakan masalah yang sensitif. Sering terjadi gejolak politik karena dipicu oleh kelangkaan dan naiknya harga pangan.Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pangan bukan sekedar komoditas ekonomi tetapi juga menjadi komoditas politik yang memiliki dimensi sosial yang luas.Kondisi obyektif Indonesia masih berkutat pada masalah gizi. Masalah gizi tersebut berakar pada masalah ketersediaan, distribusi, keterjangkauan pangan, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan serta perilaku masyarakat. Dengan demikian masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Penanganan ketahanan dimaksud memerlukan perencanaan lintas sektor dan dengan sasaran serta tahapan yang jelas dan terukur dalam jangka waktu menengah maupun panjang. Perubahan kondisi global menuntut kemandirian yang tercermin dari harga pangan internasional yang mengalami lonjakan drastis dan tidak menentu. Ketahanan pangan telah menjadi komitmen nasional berdasarkan pada pemahaman atas peran strategis dalam pembangunan nasional. Tiga aspek peran strategis tersebut antara lain adalah :
1. Akses terhadap pangan dan gizi yang cukup merupakan hak yang paling azasi bagi manusia.
2. Peranan penting pangan bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.
3. Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama yang menopang ketahanan pangan ekonomi dan ketahanan nasional.
Ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Cakupan ketahanan pangan antara lain :
1. Ketersediaan pangan yang mencakup produksi, cadangan dan pemasukan.
2. Distribusi / aksesibilitas mencakup fisik (mudah dijangkau) dan ekonomis (terjangkau daya beli) serta
3. Konsumsi mencakup mutu dan keamanan serta kecukupan gizi individu.
Terdapat empat elemen untuk mencapai ketahanan pangan yaitu :
1. Tersedianya pangan yang cukup yang sebagian besar berasal dari produksi sendiri
2. Stabilitas ketersediaan pangan sepanjang tahun, tanpa pengaruh musim
3. Akses atau keterjangkauan terhadap pangan yang dipengaruhi oleh akses fisik dan ekonomi terhadap pangan.
4. Kualitas konsumsi pangan serta keamanan pangan.
Ketersediaan pangan merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan konsumsi namun dinilai belum mencukupi dalam konteks ketahanan pangan karena masih banyak variabel yang berpengaruh untuk mencapai ketahanan pangan tingkat daerah dan rumah tangga. Oleh karena itu berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Bila terjadi kelebihan (surplus) pangan tersebut dapat diperdagangkan antar wilayah terutama bagi wilayah yang mengalami defisit pangan dan ekspor. Sebaliknya bila terjadi defisit, sebagian pangan untuk konsumsi dalam negeri dapat dipenuhi dari pasar luar negeri atau impor.
Masalah tidak dapat dipisahkan dari masalah harga pangan sebagai salah satu aspek yang mencerminkan ketersediaan atau produksi pangan sekaligus permintaan atau konsumsi pangan. Perkembangan harga beberapa komoditas pangan dunia yaitu jagung, gandum dan beras yang memiliki kecenderungan semakin meningkat. Diantara harga bahan pangan ini, harga beras umumnya lebih tinggi / lebih mahal dibandingkan dua bahan pangan lainnya. Hal ini mengindikasikan adanya ketergantungan terhadap beras yg semakin besar. Peningkatan konsumsi beras yang relatif lebih tinggi dibanding ketersediaannya.
Beberapa kebijakan yang ditempuh beberapa negara terkait dengan perlindungan terhadap produksi dalam negeri dan jaminan ketersediaan pangan antara lain : restriksi perdagangan, liberalisasi perdagangan, subsidi konsumen, perlindungan sosial dan kebijakan peningkatan produksi / penawaran. Kebijakan subsidi konsumen dan peningkatan produksi merupakan kebijakan yang paling populer dilaksanakan. Nampaknya harga jual pangan yang cukup tinggi diharapkan menjadi daya tarik bagi petani untuk memproduksi pangan dalam jumlah yang lebih banyak.

HENNY PILANTIG MAYARIZHA
Posted on 21st November, 2011

HENNY PILANTIG MAYARIZHA
101111266
KELAS A ALIH JALUR
MENGATASI KETAHANAN PANGAN DENGAN PENGENDALIAN HARGA

Hingga 2050, penduduk dunia akan meningkat 33 persen, dari enam miliar orang menjadi delapan miliar orang. Bersamaan dengan itu, permintaan terhadap pangan, air, dan energi akan meningkat 30 – 50 persen. “Kekurangan pangan di salah satu negara yang padat penduduknya pasti menimbulkan efek domino terhadap negara lain,” kata Menteri Pertanian Suswono, dalam sambutannya di Seminar Internasional Keamanan Pangan, Bogor, mengatakan sangat penting untuk memacu peningkatan produksi dan produktivitas pangan.
Empat negara terpadat penduduknya di dunia, yaitu Cina, India, Amerika Serikat, dan Indonesia bakal mengalami krisis kecukupan pangan yang merupakan pemasok sekaligus konsumen pangan yang sekecil apa pun goncangan stabilitas pangannya pasti memengaruhi pangan global.
Peneliti dari Yunan Agricultural University Cina, Xuelin Tan, mengatakan Indonesia memiliki potensi itu. “Indonesia berperan dalam memberi makan penduduk regional dan global (feed the world)” kata Tan. “Seperti Cina yang mampu memasok 20 persen pangan dunia dengan lahan pertanian hanya tujuh persen.”
Belum lagi tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia pada 2005 mencapai 135 kg/kapita/tahun. Angka ini meningkat hingga mencapai 139-140 kg/kapita/tahun hanya dalam selang waktu enam tahun saja. Padahal seharusnya nilai itu menurun dengan dipublikasikannya diversifikasi pangan.
Jepang contohnya. 30 tahun lalu konsumsinya mencapai 135 kg/kapita/tahun, sekarang mencapai 60 kg/kapita/tahun. Jepang sekarang malah menjadi eksportir beras. Ini adalah teguran untuk kita yang di beberapa tahun terakhir berada dalam grade teratas importir beras, padahal kita adalah negara agraris.
Mungkin sekarang Thailand dan Myanmar masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan beras kita. Tetapi apakah untuk beberapa tahun ke depan mereka akan tetap siap sedia melayani kita jika kondisi negaranya juga dilanda krisis pangan? Inilah pertanyaan terbesar untuk kita.
Tahun demi tahun ancaman bertambah, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman ekonomi global. Negara-negara ASEAN bersama India dan Cina berperan memeriksa ketahanan pangan daerah dengan cara yang lebih pragmatis. Sebab, kemakmuran yang kolektif merupakan visi bersama.
Indonesia perlunya mengembangkan teknologi pertanian untuk mengurangi penyusutan hasil gabah pascapanen. Ini juga merupakan salah satu strategi untuk pencapaian surplus beras 10 juta ton.”Peningkatan pascapanen untuk memperkecil susut hasil gabah menjadi 8,825% pada taun 2015,” katanya. Strategi lain yang diungkapkan Zaenal, penganekaragaman konsumsi pangan yang memiliki sumber karbohidrat menjadi nonberas. Selain itu, penerapan kebijakan bantuan pangan beras plus karbohidrat berbasis sumberdaya lokal (Pangkin).
“Maka kita perlu menyiapkan pengganti beras. Secara terus-menerus panganan beras baik dan enak dikonsumsi,” tuturnya. Zaenal menambahkan, RI juga perlu meningkatan luas lahan tanam melalui cetak baru di tahun 2015 sebesar 300 ribu hektar.
“Cetak sawah baru dari 60 ribu hektar di tahun 2011 menjadi 300 ribu hektar di tahun 2015,” imbuhnya.(detik finance.com,2011). Selain sistem dan kebijakan pemerintah dalam bidang perberasan ada beberapa faktor lain yang ikut memperburuk keadaan, diantaranya adalah adanya konversi lahan subur (sawah irigasi dan tadah hujan) yang terus berlangsung di Jawa, sehingga pertumbuhan produksi padi cenderung menurun. Data statistik menunjukkan bahwa 95 persen dari produksi padi nasional berasal dari lahan sawah. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan sektor industri dan perumahan menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan untuk perumahan dan areal pabrik. Irawan (2003) melaporkan bahwa selama 1978-1998 sekitar 1,07 juta hektar lahan (30,8%) telah terkonversi menjadi lahan nonpertanian. Selama periode yang sama, terdapat pembukaan sawah baru sekitar 0,91 juta hektar. Namun sejak krisis ekonomi yang berkepanjangan, pembukaan sawah baru hampir tidak mungkin, karena keterbatasan dana pembangunan. Dengan demikian, adalah sangat sulit mempertahankan luas areal tanam padi di Jawa. Di lain pihak, sekitar 48 persen padi ditanam di Jawa, mempunyai kontribusi produksi sekitar 58 persen dari produksi padi nasional. Ini berarti bahwa konversi lahan di Jawa akan berpengaruh buruk terhadap produksi beras nasional dan dengan sendirinya memperlemah ketahanan pangan.
Tetapi baru –baru ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meluncurkan sembilan solusi mengatasi gejolak harga pangan. Solusi itu bakal menjadi acuan pemerintah dalam mengendalikan lonjakan harga bahan pangan. Menurut SBY, solusi itu merupakan pendekatan dari sisi hilir baru ke hulu. Pertama, intervensi atau operasi pasar untuk mengendalikan harga komoditas tertentu mesti terus dilakukan. Kedua, kebijakan fiskal khusus untuk perdagangan pangan, baik impor maupun ekspor dapat dilakukan. “Policy harus tepat disini dengan tujuan akhir harga pada konsumen,” ujar SBY saat membuka sidang kabinet paripurna di kantor Presiden, Kamis (6/1/2011). Ketiga, kepastian suplai dalam negeri memenuhi permintaan secara nasional. Menurut SBY, impor untuk komoditas tertentu saat keadaan krisis tidak ditabukan. “Itu bagian dari solusi untuk mengatasi krisis,” katanya. Keempat, kepastian stok di tangan pemerintah, termasuk Bulog benar-benar kuat sehingga, bisa menangkal aksi spekulasi. Kelima, produksi dan produktivitas pangan dalam harus terus meningkat, contohnya menghasilkan bibit unggul yang berkualitas dan tahan terhadap kondisi cuaca, memberantas hama, dan menjaga ketersediaan lahan. Keenam, mendorong gerakan ketahanan pangan lokal dan keluarga. SBY mencontohkan, setiap rumah tangga bisa menanam sayuran, cabe, tomat. “Tidak ada salahnya kita lakukan gerakan agar semua berkreasi mencukupi keperluan pangannya sendiri,” imbuh SBY. Ketujuh, mencegah penyelundupan dan penimbunan komoditas pangan. Kedelapan, kalkulasi atau prediksi produksi pangan harus akurat. Oleh sebab itu, SBY meminta setiap kementerian, pemerintah daerah, dan Badan Pusat Statistik memakai metode yang tepat dan sering turun ke lapangan. Kesembilan, mengamankan lahan-lahan pertanian dari kegiatan alih fungsi. SBY menambahkan, orientasi dari semua solusi adalah tercapainya penghasilan petani yang lebih baik sekaligus konsumen semakin mudah menjangkau, terutama mereka yang berpenghasilan rendah. “Dua hal itulah yang harus kita lihat manakalan menghadapi krisis harga pangan dan langkah stabilisasi,” tuturnya. Bapak Presiden sudah mengeluarkan kebijakannya tinggal melihat apakah kebijakan tersebut benar –benar berjalan dan para petani sudah benar – benar bebas dari para tengkulak.

Yunia Retno Witantri
Posted on 21st November, 2011

Yunia Retno Witantri
101111263
Kelas A

Ketahanan Pangan di Indonesia

Dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah ketahanan pangan menjadi isu penting di Indonesia, dan dalam setahun belakangan ini dunia juga mulai dilanda oleh krisis pangan. Wilayah pemerintahan di Indonesia terdiri dari wilayah Provinsi, Kabupaten, dan Kota yang masing-masing memiliki karakteristik khusus. Memang sangat ironis melihat kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara besar agraris mengalami masalah ketahanan pangan. Untuk memahami kenapa demikian, perlu diketahui terlebih dahulu apa saja faktor-faktor determinan utama ketahanan pangan. Dalam kaitan dengan ketahanan pangan, pembicaraan harus dikaitkan dengan masalah pembangunan pedesaan dan sektor pertanian. Pada titik inilah dijumpai realitas bahwa kelembagaan di pedesaan setidaknya dipangku oleh tiga pilar, yaitu kelembagaan penguasaan tanah, kelembagaan hubungan kerja, dan kelembagaan perkreditan. Ketiga pilar tersebut akan sangat menentukan keputusan petani sehingga turut mempengaruhi derajat ketahanan pangan.
Ketahanan pangan juga sangat ditentukan tidak hanya oleh tiga pilar tersebut namun oleh sejumlah faktor berikut: lahan, infrastruktur, teknologi, keahlian dan wawasan, energi, dana, lingkungan fisik/iklim, relasi kerja, dan ketersediaan input lainnya.
Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya tetapi pangan hanya terpusat pada satu bahan makanan saja yaitu beras. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Banyak rumah tangga yang konsumsi makanan masih berada dibawah kebutuhan konsumsi semestinya. Terdapat tiga komponen kebijakan ketahanan pangan :
1. Ketersediaan Pangan
Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
• Larangan impor beras.
• Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan.
• Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras.
2. Keterjangkauan Pangan.
Elemen terpenting dari kebijakan ketahanan pangan ialah adanya jaminan bagi kaum miskin untuk menjangkau sumber makanan yang mencukupi. Cara terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan ini ialah dengan memperluas strategi pertumbuhan ekonomi, khususnya pertumbuhan yang memberikan manfaat bagi kaum miskin. Kebijakan ini dapat didukung melalui program bantuan langsung kepada masyarakat miskin, yang diberikan secara seksama dengan target yang sesuai. Sejumlah kebijakan penting yang mempengaruhi keterjangkauan pangan meliputi:
• Program Raskin yang selama ini telah memberikan subsidi beras bagi hampir 9 juta rumah tangga.
• Upaya BULOG untuk mempertahankan harga pagu beras.
• Hambatan perdagangan yang mengakibatkan harga pangan domestik lebih tinggi dibandingkan harga dunia.
3. Kualitas Makanan dan Nutrisi
Hal yang juga penting untuk diperhatikan, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis pangan yang berkualitas lebih baik. Namun, seperti catatan diatas, keadaan nutrisi makanan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan sejak akhir krisis. Sejumlah kebijakan penting yang berpengaruh terhadap kualitas pangan dan nutrisi meliputi:
• Upaya untuk melindungi sejumlah komoditas pangan penting.
• Memperkenalkan program pangan tambahan setelah krisis.
• Penyebarluasan dan pemasaran informasi mengenai nutrisi.
• Sepuluh langkah dibawah ini mengkaji ulang efektivitas kebijakan di tiga wilayah tersebut diatas dan kemudian mengajukan sejumlah langkah praktis dalam meningkatkan keadaan dan mendorong ketahanan pangan.

Yunia Retno Witantri
Posted on 21st November, 2011

Yunia Retno Witantri
101111263
Kelas A

Ketahanan Pangan di Indonesia

Dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah ketahanan pangan menjadi isu penting di Indonesia, dan dalam setahun belakangan ini dunia juga mulai dilanda oleh krisis pangan. Wilayah pemerintahan di Indonesia terdiri dari wilayah Provinsi, Kabupaten, dan Kota yang masing-masing memiliki karakteristik khusus. Memang sangat ironis melihat kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara besar agraris mengalami masalah ketahanan pangan. Untuk memahami kenapa demikian, perlu diketahui terlebih dahulu apa saja faktor-faktor determinan utama ketahanan pangan. Dalam kaitan dengan ketahanan pangan, pembicaraan harus dikaitkan dengan masalah pembangunan pedesaan dan sektor pertanian. Pada titik inilah dijumpai realitas bahwa kelembagaan di pedesaan setidaknya dipangku oleh tiga pilar, yaitu kelembagaan penguasaan tanah, kelembagaan hubungan kerja, dan kelembagaan perkreditan. Ketiga pilar tersebut akan sangat menentukan keputusan petani sehingga turut mempengaruhi derajat ketahanan pangan.
Ketahanan pangan juga sangat ditentukan tidak hanya oleh tiga pilar tersebut namun oleh sejumlah faktor berikut: lahan, infrastruktur, teknologi, keahlian dan wawasan, energi, dana, lingkungan fisik/iklim, relasi kerja, dan ketersediaan input lainnya.
Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya tetapi pangan hanya terpusat pada satu bahan makanan saja yaitu beras. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Banyak rumah tangga yang konsumsi makanan masih berada dibawah kebutuhan konsumsi semestinya. Terdapat tiga komponen kebijakan ketahanan pangan :
1. Ketersediaan Pangan
Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
• Larangan impor beras.
• Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan.
• Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras.
2. Keterjangkauan Pangan.
Elemen terpenting dari kebijakan ketahanan pangan ialah adanya jaminan bagi kaum miskin untuk menjangkau sumber makanan yang mencukupi. Cara terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan ini ialah dengan memperluas strategi pertumbuhan ekonomi, khususnya pertumbuhan yang memberikan manfaat bagi kaum miskin. Kebijakan ini dapat didukung melalui program bantuan langsung kepada masyarakat miskin, yang diberikan secara seksama dengan target yang sesuai. Sejumlah kebijakan penting yang mempengaruhi keterjangkauan pangan meliputi:
• Program Raskin yang selama ini telah memberikan subsidi beras bagi hampir 9 juta rumah tangga.
• Upaya BULOG untuk mempertahankan harga pagu beras.
• Hambatan perdagangan yang mengakibatkan harga pangan domestik lebih tinggi dibandingkan harga dunia.
3. Kualitas Makanan dan Nutrisi
Hal yang juga penting untuk diperhatikan, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis pangan yang berkualitas lebih baik. Namun, seperti catatan diatas, keadaan nutrisi makanan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan sejak akhir krisis. Sejumlah kebijakan penting yang berpengaruh terhadap kualitas pangan dan nutrisi meliputi:
• Upaya untuk melindungi sejumlah komoditas pangan penting.
• Memperkenalkan program pangan tambahan setelah krisis.
• Penyebarluasan dan pemasaran informasi mengenai nutrisi.
• Sepuluh langkah dibawah ini mengkaji ulang efektivitas kebijakan di tiga wilayah tersebut diatas dan kemudian mengajukan sejumlah langkah praktis dalam meningkatkan keadaan dan mendorong ketahanan pangan.

Della Neonalita Andiny
Posted on 21st November, 2011

Della Neonalita Andiny
101111233
KELAS A

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Menurut UU RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa pangan merupakan hak asasi bagi setiap individu di Indonesia. Oleh karena itu terpenuhinya kebutuhan pangan di dalam suatu negara merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi. Selain itu pangan juga memegang kebijakan penting dan strategis di Indonesia berdasar pada pengaruh yang dimilikinya secara sosial, ekonomi, dan politik.Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
• Larangan impor beras
• Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan
• Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras ketersediaan
Pembangunan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan
dengan keyakinan masyarakat. Dalam upaya membangun ketersediaan pangan bagi masyarakat dipandang perlu menggalakkan diversifikasi (penganekaragaman) pangan, melalui upaya penyediaan pangan yang beragam untuk memenuhi permintaan. Dalam upaya diversifikasi pangan tersebut untuk mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga, perlu dikembangkan penganekaragaman pangan horizontal dan vertikal serta mendorong berkembangnya industri pangan berskala kecil, menengah dan besar di pedesaan maupun perkotaan. Diversifikasi pangan juga berorientasi sumberdaya lokal artinya memenuhi kebutuhan pangan beragam diutamakan dari produksi lokal sekaligus dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang positif di daerahnya. Ketersediaan bahan pangan bagi penduduk akan semakin terbatas akibat kesenjangan yang terjadi antara produksi dan permintaan. Selama ini, permasalahan ini dapat diatasi dengan impor bahan pangan tersebut. Berikut ini merupakan ilustrasi yang menggambarkan permasalahan distribusi pangan di Indonesia.
Thailand merupakan negara pengekspor beras terbesar di dunia, sementara Indonesia merupakan negara pengimport beras. Berdasarkan data, harga produksi rata-rata gabah atau beras antara Indonesia dan Thailand tidak terlalu berbeda jauh sekitar 100 USD per ton. Namun harga beras di pasaran antara Thailand dan Indonesia cukup berbeda jauh. Harga beras di Indonesia sampai awal tahun 2004 berkisar antara Rp. 2.750, 00 – Rp. 3.000, 00. Harga beras di Thailand lebih lebih murah dibandingkan itu. Hal ini dapat menunjukkan bahwa permasalahan yang terjadi tidak hanya pada skala produksi, namun juga terdapat pada rantai distribusi beras tersebut dapat sampai pada konsumen. Berikut ini ada empat akar permasalahan pada distribusi pangan, yang dihadapi. Pertama, dukungan infrastruktur, yaitu kurangnya dukungan akses terhadap pembangunan sarana jalan, jembatan, dan lainnya. Kedua, sarana transportasi, yakni kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat di dalam pemeliharaan sarana transportasi kita. Ketiga, sistem transportasi, yakni sistem transportasi negara kita yang masih kurang efektif dan efisien. Selain itu juga kurangnya koordinasi antara setiap moda transportasi mengakibatkan bahan pangan yang diangkut sering terlambat sampai ke tempat tujuan. (4) masalah keamanan dan pungutan liar, yakni pungutan liar yang dilakukan oleh preman sepanjang jalur transportasi di Indonesia masih sering terjadi. Aspek lain yang tak kalah penting ialah aspek konsumsi. Permasalahan dari aspek konsumsi diawali dengan suatu keadaan dimana masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi terhadap bahan pangan beras. Berdasarkan data tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap beras sekitar 134 kg per kapita. Walaupun kita menyadari bahwa beras merupakan bahan pangan pokok utama masyarakat Indonesia. Keadaan ini dapat mengancam ketahanan pangan negara kita. Jika kita melihat bahwa produksi beras Indonesia dari tahun ke tahun yang menurun tidak diimbangi dengan tingkat konsumsi masyarakat terhadap beras yang terus meningkat. Walaupun selama ini keadaan ini bisa teratasi dengan mengimport beras. Namun sampai kapan negara ini akan terus mengimport beras? Pertanyaan ini perlu kita perhatikan.

Adhi Wijaya Siswanto
Posted on 22nd November, 2011

Nama: Adhi Wijaya Siswanto
Kelas: A
NIM: 101111293

KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu bangsa. Dalam suatu bangsa ketahanan pangan merupakan sentral utama dari suatu integrasi dan independensi bangsa tersebut dari cengkraman penjajah. Oleh karena itu upaya untuk mencapai suatu kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi profit tetapi harus dipandang juga dari bagian yang menjadi dasar bagi ketahanan pangan nasional. Di dalam sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai pertahanan musuh. Dalam hal ini, dengan adanya ketergantungan terhadap pasokan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari cengkeraman penjajah atau musuh.
Dalam hal berbagai macam jenis bahan pangan, beras merupakan suatu komoditi yang paling penting bagi bangsa Indoonesia, hal ini dikarenakan beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk. Angka ini mengindikasikan besarnya besarnya pasokan beras yang harus disediakan. Pengaruh besar yang mengindikasikan suatu ketahanan pangan adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan peningkatan produksi pangan, dimana dapat menimbulkan suatau masalah. Semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk maka kebutuhan akan pasokan pangan pada suatu area akan meningkat juga. Hal ini dapat diindikasi dari data Biro Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia pada tahun 2004 berjumlah 217,9 juta jiwa, dimana pertumbuhan penduduk pada tahun 2009 akan mencapai 235 juta jiwa dan pada tahun 2025 diperkirakan sekitar 300 juta jiwa. Kondisi tersebut diperkirakan 33,5 juta ton beras pada tahun 2009 dan 42,5 juta ton beras pada tahun 2025.
Dalam hal membangun kemandirian dalam ketahanan pangan nasional harus didasari dengan sistem dan kebijakan pangan yang menekan pada upaya swasembada pangan yang kokoh dan sustainable, serta pengelolaan program yang terencana, bertahap dan profesional dengan keterpihakan untuk rakyat. Hal ini dapat dilakukan dengan penerapan aspek teknologi terobosan dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian yang dilakukan dengan cara mengembalikan daya dukung lahan dan mengeliminasi penggunaan sarana pertanian kimia sintetis seperti pupuk kimia dan pestisida kimia. Oleh karena itu, perlu diberlakukan subsidi teknologi bagi para petani sehingga dapat menjadi bagian penting dari upaya menciptakan ketahanan pangan yang tangguh. Dalam hal ini teknologi tersebut mengutamakan teknologi produktivitas yang ramah lingkungan. Penerapan teknolgi tersebut harus telah terbukti memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produktivitas dan teruji bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas melainkan mampu menjaga kelestarian produksi dan ramah lingkungan. Selain itu teknologi tersebut harus bersifat sederhana dimana petani dapat mengerti dalam menerapkan di lapangan secara utuh dan konsisten.
Beberapa hal yang mempengaruhi peningkatan produksi pangan nasional antara lain karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman. Berdasarkan hal itulah,dapat dilakukan suatu strategi dengan menerapkan pertanian hortikultura yang juga dapat memasok nilai ekonomi yang lebih tinggi. Selain itu dalam jangka pendek dapat diberlakukan strategi perluasan areal pertanian dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur seperti padang alang-alang. Lahan tersebut sangat berpeluang dikembagkan baik untuk tanaman yang musiman dan tahunan. Berdasarkan pertimbangan lain, lahan sawah irigasi yang ada sekarang ini, perlu dipertahankan keberadaannya karena sawah tersebut telah menghabiskan investasi yang besar dalam pencetakan dan pembangunan jaringan irigasinya, hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan lahan sawah abadi. Apabila tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara nyata, maka sudah pasti produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional.

YUNI SETYO PRATIWI
Posted on 22nd November, 2011

Prospek Sukun (Artocarpus communis) sebagai Pangan Sumber Karbohidrat dalam Mendukung diversifikasi Konsumsi Pangan

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat pentingnya kesehatan, pola konsumsi pangan bermutu dengan gizi seimbang merupakan momentum tepat melakukan diversifikasi pangan menu harian. Pangan yang beragam menjadi penting mengingat tidak ada satu jenis pangan yang dapat menyediakan gizi yang lengkap bagi seseorang. Konsumsi pangan yang beragam meningkatkan kelengkapan asupan zat gizi karena kekurangan zat gizi dari satu jenis pangan akan dilengkapi dari pangan lainnya (Khomsan 2006). Namun, pangan pokok masyarakat Indonesia masih bertumpu pada beras. Budaya mengonsumsi nasi sangat tinggi, bahkan sebagian besar masyarakat merasa belum makan jika belum mengkonsumsi nasi.
Beras sebagai salah satu jenis pangan yang menempati posisi paling strategis diantara jenis pangan lainnya, sehingga tuntutan masyarakat akan kebutuhan beras dapat terpenuhi. Peningkatan permintaan beras yang tidak seimbang dengan ketersediaan dalam negeri, dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan impor beras. Sementara tanaman pangan sumber karbohidrat lain seperti aneka umbi dan buah (salah satunya sukun) belum dimanfaatkan optimal. Apabila kondisi ini berlanjut, ketahanan pangan nasional semakin sulit dipertahankan.
Faktor lain yang perlu pertimbangan adalah kontribusi serealia terutama beras, dalam menu makan masyarakat Indonesia mencapai 62% (Dahuri 2007). Porsi ini terlampau tinggi, karena dalam Pola Pangan Harapan, porsi konsumsi serealia maksimum adalah 51%. Berdasarkan hal tersebut, maka pengolahan pangan pokok alternatif berbasis aneka umbi dan buah sumber karbohidrat menjadi penting untuk dikembangkan. Salah satu komoditas sumber karbohidrat yang berasal dari buah yang potensial untuk dikembangkan adalah sukun.
Diversifikasi Pangan
Kandungan karbohidrat dan nilai gizinya, buah sukun dapat digunakan sebagai sumber pangan lokal. Beberapa cara pengolahan, buah sukun dapat digunakan untuk menunjang ketahanan pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya yang tidak mudah dan cepat dinilai keberhasilannya. Perilaku konsumsi pangan yang sudah terpola, tidaklah mudah diubah. Usaha-usaha yang selama ini telah dilakukan untuk menganekaragamkan makanan, khususnya dalam rangka mengurangi ketergantungan akan beras masih belum cukup. Sosialisasi dan pengenalan berbagai jenis pangan olahan perlu dilakukan secara terus menerus. Untuk menjaga kesinambungan penganekaragaman pangan non beras, perlu dikenalkan aneka olahan dari tepung-tepungan.
Produksi Sukun
Produksi sukun di Indonesia terus meningkat dari 35.435 ton (tahun 2000) menjadi 92.014 ton (tahun 2007) dengan luas panen 13.359 ha. Sentra produksi sukun adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Kalimantan Timur, NTT, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Jambi (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2007). Pengembangan tanaman sukun oleh Direktorat Jenderal Hortikultura seluas 380 ha (tahun 2003), saat ini sudah mulai panen. Untuk mengantisipasi melimpahnya sukun saat panen raya dan memperpanjang umur simpannya, maka perlu dilakukan upaya perbaikan mutu tepung sukun. Tepung sukun mengandung sekitar 80% karbohidrat dan energi 302 kalori/100 gram.
Produksi buah sukun dapat mencapai 50-150 buah/tanaman. Produktivitas tanaman tergantung daerah dan iklimnya. Paling sedikit setiap tanaman dapat menghasilkan 25 buah dengan rata-rata 200-300 buah per musim. Untuk setiap hektar lahan dapat menghasilkan buah sukun sebanyak 16-32 ton. Budidaya tanaman sukun secara monokultur jarang dilakukan. Umumnya pohon sukun ditanam sebagai tanaman pinggiran, untuk penghalang angin, atau kadang – kadang sebagai pelindung tanaman kopi. Musim panen sukun biasanya dua kali setahun, yaitu bulan Januari – Pebruari dan Juli – September.
Konsumsi Sukun
Bobot buah sukun rata-rata 1.500 gram/buah, dengan bobot daging buah yang dapat dimakan sekitar 1.350 g. Konsumsi beras rata-rata perkapita untuk sekali makan sebanyak 150 g (= 117g karbohidrat, kadar karbohidrat beras sekitar 78%). Kandungan karbohidrat buah sukun 27% (Anonim 1992), berarti satu buah sukun dengan bobot daging 1.350g mengandung karbohidrat sebesar 365g. Jadi satu buah sukun dapat dikonsumsikan sebagai penggati beras untuk 3-4 orang. Pada tahun 2000 produksi buah sukun di Jawa Barat 1.446.100 kg atau kurang lebih sebanyak 964.067 buah. Bila setiap keluarga dalam sehari satu kali mengonsumsikan buah sukun sebagai pengganti beras, maka produksi sukun dalam setahun dapat dikonsumsikan oleh 3.792 jiwa. Ini setara dengan konsumsi beras 5.688 ton.

Komposisi Kimia Sukun
Buah sukun mengandung karbohidrat, mineral dan vitamin cukup tinggi. Setiap 100g buah sukun mengandung karbohidrat 27,12 g, kalsium 17 mg, vitamin C 29 mg, kalium 490 mg dan nilai energi 108 kalori. Dibandingkan dengan beras, buah sukun mengandung mineral dan vitamin lebih lengkap tetapi nilai kalorinya rendah, sehingga dapat digunakan untuk makanan diet rendah kalori.

YUNI SETYO PRATIWI
Posted on 22nd November, 2011

NAMA : YUNI SETYO PRATIWI
NIM/KELAS : 10 1111 245 / A (ALIH JENIS)

Prospek Sukun (Artocarpus communis) sebagai Pangan Sumber Karbohidrat dalam Mendukung diversifikasi Konsumsi Pangan

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat pentingnya kesehatan, pola konsumsi pangan bermutu dengan gizi seimbang merupakan momentum tepat melakukan diversifikasi pangan menu harian. Pangan yang beragam menjadi penting mengingat tidak ada satu jenis pangan yang dapat menyediakan gizi yang lengkap bagi seseorang. Konsumsi pangan yang beragam meningkatkan kelengkapan asupan zat gizi karena kekurangan zat gizi dari satu jenis pangan akan dilengkapi dari pangan lainnya (Khomsan 2006). Namun, pangan pokok masyarakat Indonesia masih bertumpu pada beras. Budaya mengonsumsi nasi sangat tinggi, bahkan sebagian besar masyarakat merasa belum makan jika belum mengkonsumsi nasi.
Beras sebagai salah satu jenis pangan yang menempati posisi paling strategis diantara jenis pangan lainnya, sehingga tuntutan masyarakat akan kebutuhan beras dapat terpenuhi. Peningkatan permintaan beras yang tidak seimbang dengan ketersediaan dalam negeri, dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan impor beras. Sementara tanaman pangan sumber karbohidrat lain seperti aneka umbi dan buah (salah satunya sukun) belum dimanfaatkan optimal. Apabila kondisi ini berlanjut, ketahanan pangan nasional semakin sulit dipertahankan.
Faktor lain yang perlu pertimbangan adalah kontribusi serealia terutama beras, dalam menu makan masyarakat Indonesia mencapai 62% (Dahuri 2007). Porsi ini terlampau tinggi, karena dalam Pola Pangan Harapan, porsi konsumsi serealia maksimum adalah 51%. Berdasarkan hal tersebut, maka pengolahan pangan pokok alternatif berbasis aneka umbi dan buah sumber karbohidrat menjadi penting untuk dikembangkan. Salah satu komoditas sumber karbohidrat yang berasal dari buah yang potensial untuk dikembangkan adalah sukun.
Diversifikasi Pangan
Kandungan karbohidrat dan nilai gizinya, buah sukun dapat digunakan sebagai sumber pangan lokal. Beberapa cara pengolahan, buah sukun dapat digunakan untuk menunjang ketahanan pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya yang tidak mudah dan cepat dinilai keberhasilannya. Perilaku konsumsi pangan yang sudah terpola, tidaklah mudah diubah. Usaha-usaha yang selama ini telah dilakukan untuk menganekaragamkan makanan, khususnya dalam rangka mengurangi ketergantungan akan beras masih belum cukup. Sosialisasi dan pengenalan berbagai jenis pangan olahan perlu dilakukan secara terus menerus. Untuk menjaga kesinambungan penganekaragaman pangan non beras, perlu dikenalkan aneka olahan dari tepung-tepungan.
Produksi Sukun
Produksi sukun di Indonesia terus meningkat dari 35.435 ton (tahun 2000) menjadi 92.014 ton (tahun 2007) dengan luas panen 13.359 ha. Sentra produksi sukun adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Kalimantan Timur, NTT, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Jambi (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2007). Pengembangan tanaman sukun oleh Direktorat Jenderal Hortikultura seluas 380 ha (tahun 2003), saat ini sudah mulai panen. Untuk mengantisipasi melimpahnya sukun saat panen raya dan memperpanjang umur simpannya, maka perlu dilakukan upaya perbaikan mutu tepung sukun. Tepung sukun mengandung sekitar 80% karbohidrat dan energi 302 kalori/100 gram.
Produksi buah sukun dapat mencapai 50-150 buah/tanaman. Produktivitas tanaman tergantung daerah dan iklimnya. Paling sedikit setiap tanaman dapat menghasilkan 25 buah dengan rata-rata 200-300 buah per musim. Untuk setiap hektar lahan dapat menghasilkan buah sukun sebanyak 16-32 ton. Budidaya tanaman sukun secara monokultur jarang dilakukan. Umumnya pohon sukun ditanam sebagai tanaman pinggiran, untuk penghalang angin, atau kadang – kadang sebagai pelindung tanaman kopi. Musim panen sukun biasanya dua kali setahun, yaitu bulan Januari – Pebruari dan Juli – September.
Konsumsi Sukun
Bobot buah sukun rata-rata 1.500 gram/buah, dengan bobot daging buah yang dapat dimakan sekitar 1.350 g. Konsumsi beras rata-rata perkapita untuk sekali makan sebanyak 150 g (= 117g karbohidrat, kadar karbohidrat beras sekitar 78%). Kandungan karbohidrat buah sukun 27% (Anonim 1992), berarti satu buah sukun dengan bobot daging 1.350g mengandung karbohidrat sebesar 365g. Jadi satu buah sukun dapat dikonsumsikan sebagai penggati beras untuk 3-4 orang. Pada tahun 2000 produksi buah sukun di Jawa Barat 1.446.100 kg atau kurang lebih sebanyak 964.067 buah. Bila setiap keluarga dalam sehari satu kali mengonsumsikan buah sukun sebagai pengganti beras, maka produksi sukun dalam setahun dapat dikonsumsikan oleh 3.792 jiwa. Ini setara dengan konsumsi beras 5.688 ton.
Komposisi Kimia Sukun
Buah sukun mengandung karbohidrat, mineral dan vitamin cukup tinggi. Setiap 100g buah sukun mengandung karbohidrat 27,12 g, kalsium 17 mg, vitamin C 29 mg, kalium 490 mg dan nilai energi 108 kalori. Dibandingkan dengan beras, buah sukun mengandung mineral dan vitamin lebih lengkap tetapi nilai kalorinya rendah, sehingga dapat digunakan untuk makanan diet rendah kalori.

YUNI SETYO PRATIWI
Posted on 22nd November, 2011

NAMA : YUNI SETYO PRATIWI
KELAS/NIM : A (ALIH JENIS) / 10 1111 245
TUGAS EKOLOGI PANGAN DAN GIZI

Prospek Sukun (Artocarpus communis) sebagai Pangan Sumber Karbohidrat dalam Mendukung diversifikasi Konsumsi Pangan

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat pentingnya kesehatan, pola konsumsi pangan bermutu dengan gizi seimbang merupakan momentum tepat melakukan diversifikasi pangan menu harian. Pangan yang beragam menjadi penting mengingat tidak ada satu jenis pangan yang dapat menyediakan gizi yang lengkap bagi seseorang. Konsumsi pangan yang beragam meningkatkan kelengkapan asupan zat gizi karena kekurangan zat gizi dari satu jenis pangan akan dilengkapi dari pangan lainnya (Khomsan 2006). Namun, pangan pokok masyarakat Indonesia masih bertumpu pada beras. Budaya mengonsumsi nasi sangat tinggi, bahkan sebagian besar masyarakat merasa belum makan jika belum mengkonsumsi nasi.
Beras sebagai salah satu jenis pangan yang menempati posisi paling strategis diantara jenis pangan lainnya, sehingga tuntutan masyarakat akan kebutuhan beras dapat terpenuhi. Peningkatan permintaan beras yang tidak seimbang dengan ketersediaan dalam negeri, dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan impor beras. Sementara tanaman pangan sumber karbohidrat lain seperti aneka umbi dan buah (salah satunya sukun) belum dimanfaatkan optimal. Apabila kondisi ini berlanjut, ketahanan pangan nasional semakin sulit dipertahankan.
Faktor lain yang perlu pertimbangan adalah kontribusi serealia terutama beras, dalam menu makan masyarakat Indonesia mencapai 62% (Dahuri 2007). Porsi ini terlampau tinggi, karena dalam Pola Pangan Harapan, porsi konsumsi serealia maksimum adalah 51%. Berdasarkan hal tersebut, maka pengolahan pangan pokok alternatif berbasis aneka umbi dan buah sumber karbohidrat menjadi penting untuk dikembangkan. Salah satu komoditas sumber karbohidrat yang berasal dari buah yang potensial untuk dikembangkan adalah sukun.
Diversifikasi Pangan
Kandungan karbohidrat dan nilai gizinya, buah sukun dapat digunakan sebagai sumber pangan lokal. Beberapa cara pengolahan, buah sukun dapat digunakan untuk menunjang ketahanan pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya yang tidak mudah dan cepat dinilai keberhasilannya. Perilaku konsumsi pangan yang sudah terpola, tidaklah mudah diubah. Usaha-usaha yang selama ini telah dilakukan untuk menganekaragamkan makanan, khususnya dalam rangka mengurangi ketergantungan akan beras masih belum cukup. Sosialisasi dan pengenalan berbagai jenis pangan olahan perlu dilakukan secara terus menerus. Untuk menjaga kesinambungan penganekaragaman pangan non beras, perlu dikenalkan aneka olahan dari tepung-tepungan.
Produksi Sukun
Produksi sukun di Indonesia terus meningkat dari 35.435 ton (tahun 2000) menjadi 92.014 ton (tahun 2007) dengan luas panen 13.359 ha. Sentra produksi sukun adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Kalimantan Timur, NTT, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Jambi (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2007). Pengembangan tanaman sukun oleh Direktorat Jenderal Hortikultura seluas 380 ha (tahun 2003), saat ini sudah mulai panen. Untuk mengantisipasi melimpahnya sukun saat panen raya dan memperpanjang umur simpannya, maka perlu dilakukan upaya perbaikan mutu tepung sukun. Tepung sukun mengandung sekitar 80% karbohidrat dan energi 302 kalori/100 gram.
Produksi buah sukun dapat mencapai 50-150 buah/tanaman. Produktivitas tanaman tergantung daerah dan iklimnya. Paling sedikit setiap tanaman dapat menghasilkan 25 buah dengan rata-rata 200-300 buah per musim. Untuk setiap hektar lahan dapat menghasilkan buah sukun sebanyak 16-32 ton. Budidaya tanaman sukun secara monokultur jarang dilakukan. Umumnya pohon sukun ditanam sebagai tanaman pinggiran, untuk penghalang angin, atau kadang – kadang sebagai pelindung tanaman kopi. Musim panen sukun biasanya dua kali setahun, yaitu bulan Januari – Pebruari dan Juli – September.
Konsumsi Sukun
Bobot buah sukun rata-rata 1.500 gram/buah, dengan bobot daging buah yang dapat dimakan sekitar 1.350 g. Konsumsi beras rata-rata perkapita untuk sekali makan sebanyak 150 g (= 117g karbohidrat, kadar karbohidrat beras sekitar 78%). Kandungan karbohidrat buah sukun 27% (Anonim 1992), berarti satu buah sukun dengan bobot daging 1.350g mengandung karbohidrat sebesar 365g. Jadi satu buah sukun dapat dikonsumsikan sebagai penggati beras untuk 3-4 orang. Pada tahun 2000 produksi buah sukun di Jawa Barat 1.446.100 kg atau kurang lebih sebanyak 964.067 buah. Bila setiap keluarga dalam sehari satu kali mengonsumsikan buah sukun sebagai pengganti beras, maka produksi sukun dalam setahun dapat dikonsumsikan oleh 3.792 jiwa. Ini setara dengan konsumsi beras 5.688 ton.
Komposisi Kimia Sukun
Buah sukun mengandung karbohidrat, mineral dan vitamin cukup tinggi. Setiap 100g buah sukun mengandung karbohidrat 27,12 g, kalsium 17 mg, vitamin C 29 mg, kalium 490 mg dan nilai energi 108 kalori (Tabel 2). Dibandingkan dengan beras, buah sukun mengandung mineral dan vitamin lebih lengkap tetapi nilai kalorinya rendah, sehingga dapat digunakan untuk makanan diet rendah kalori.

ALIES LUSIATI / 101111237
Posted on 22nd November, 2011

ALIES LUSIATI
101111237

KACANG-KACANGAN BAGAIKAN “PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK” TUBUH
Selain nasi, sebagai makanan pokok, masyarakat Indonesia banyak menyediakan makanan lain yang juga bermanfaat bagi kesehatan. Salah satunya adalah Tanaman kacang-kacangan. Tanaman kacang-kacangan atau legum adalah tanaman yang unik, jenis tanaman perdu yg ditanam di sawah atau di ladang. Ia berbuah polong dengan banyak sekali jenisnya seperti: kacang tanah, kedelai, mucuna, kacang merah, kacang koro, kacang Bogor, kacang hijau, kacang keling, kacang panjang, kacang mede, dan masih banyak jenis lainnya.
Manfaat Kacang tidak jarang dipakai baik pada dunia baking ataupun dunia masak untuk mengentalkan saus atau membuat gurih masakan. Diluar rasanya yang enak, kacang-kacangan mengandung banyak vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat untuk tubuh seperti copper magnesium, folic acid, potasium, dan vitamin E.
Jenis menentukan manfaat, Itulah kalimat yang tepat untuk menyebut kacang-kacangan yang beraneka ragam. Tak disangka bahwa kacang yang kecil itu dapat memberi manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh, mulai dari mengobati penyakit jantung, kolesterol, diabetes, kanker hingga menurunkan berat badan.
Kacang merupakan nutrisi seakan “pembangkit tenaga listrik” yang banyak mengandung Vit E, asam folat, tembaga, magnesium dan asam amino arginin yang masing-masing memainkan peranan penting dalam mencegah penyakit jantung.
Meski kacang-kacangan memiliki kadar lemak yang tinggi namun kebanyakan lemak yang dimilikinya adalah monosaturated, yang dapat menurunkan kadar kolesterol. Selain itu kacang juga mengandung sterol yaitu senyawa yang secara teratur ditambahkan ke margarin untuk mengurangi penyerapan kolesterol.
Seperti dilansir dari tekegraph, oleh Tutut Indarwati, (Solo Pos, 28/9/2010), berikut beberapa manfaat kesehatan dari kacang-kacangan :
1. Almond, kacang macadamia dan pecan untuk mengobati kolesterol tinggi. Almond memiliki dampak yang sangat positif dari kolesterol jahat. Studi membuktikan bahwa pasien yang makan Almond 74 g per hari dapat menurunkan kadar LDL (kolesterol jahat), sebesar 9,4 % sedangkan kacang macadamia 90 g sehari mengurangi LDL 5,3 % dan kacang pecan 16,5 %. “Bukan hanya menaikkan rasio kolesterol HDL, kacang-kacangan juga menurunkan trigliserida sehingga baik untuk kesehatan jantung”, demikian laporan Archieves of Internal Medicine.
2. Hazelnut untuk penuaan dini. Hazelnut yang kaya dengan vitamin E dan asam lemak esensial dapat menjaga sel-sel lemak di bawah kulit sehingga mencegah keriput dan dapat memicu pertumbuhan sel kulit baru.
3. Kacang Brazil untuk masalah kesuburan. Produksi sperma memerlukan nutrisi yang cukup spesifik tetapi nutrisi tersebut banyak yang hilang dalam makanan modern, termasuk selenium. Dengan mengkonsumsi 2 atau 3 kacang Brazil yang kaya selenium tiap hari maka masalah kesuburan dapat diatasi.
4. Kacang tanah untuk diabetes tipe 2 (diabetes karena gaya hidup). Banyak orang menunjukkan bahwa kacang tanah dapat melindungi diri terhadap diabetes dan sindrom metabolik lainnya terutama batu empedu. Kacang tanah dapat memberi perubahan yang menguntungkan dalam jumlah sel-sel lemak (lipid) dalam darah, ditambah kurangnya kerusakan sel dan inflamasi, sehingga baik untuk penderita diabetes tipe 2.
5. Walnut (kacang kenari) dan Almond untuk meningkatkan memori. Makan kacang-kacangan 45 g sehari dapat membantu gangguan memori yang terkait dengan usia. Kacang yang tinggi kandungan alpha-linotenic acid (ALA) dan polifenol lain yang bertindak sebagai antioksidan, dapat memblokir sinyal yang dapat menyebabkan kerusakan pada jalur otak.
6. Kacang pistachio untuk kanker paru-paru. Gamma-tocopherol, suatu bentuk vitamin E yang ditemukan di pistachio dapat membantu mengurangi risiko kanker paru-paru. Penelitian dari departemen Epidemiologi di University of Texas menunjukkan bahwa makan kacang pistachio setiap hari dapat bermanfaat untuk kanker paru-paru.
7. Almond untuk menurunkan berat badan. Menurut penelitian yang dilakukan di Purdue University Lafayette, Indiana makan almond benar-benar dapat membantu menurunkan berat badan. Efek kacang almond yang mengenyangkan dan tidak mengandung lemak jenuh, dapat membuat orang mengurangi porsi makan yang besar. Penelitian terbaru membuktikan segenggam kacang sehari bisa menjauhkan dari rasa lapar sekaligus mengalahkan lemak di perut. Ini untuk pertama kalinya ditemukan hubungan antara mengkonsumsi kacang dan level tinggi dari serotonin yaitu zat yang menurunkan nafsu makan, meningkatkan kebahagiaan, dan kesehatan jantung. “Meningkatnya pembuangan dari metabolisme serotonin untuk pertama kalinya dihubungkan dengan konsumsi kacang-kacangan,” kata tim peneliti dari University of Barcelona yang dipimpin Cristina Andris-Lacueva dalam Daily Mail, 3 November 2011.
Ia menambahkan bahwa temuan mengenai tingginya kadar serotonin dalam kacang-kacangan itu kontradiktif dengan persepsi keliru di masyarakat yang umumnya mengeluarkan kacang-kacangan dari daftar diet demi menurunkan asupan kalori.

Melihat dari berbagai manfaat tersebut di atas maka tidak salah bahwa kacang-kacangan disebut sebagai “pembangkit tenaga listrik” tubuh dan menjadi menu pilihan setiap hari.

ANAFRILYA M / 101111272
Posted on 22nd November, 2011

Nama : ANAFRILYA M
Nim : 101111272
Kelas : Alih Jenis A (Semester V)

KETERKAITAN PUPUK DENGAN PERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA
Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka pembangunan nasional untuk membentuk manusia Indonesia berkualitas, mandiri, dan sejahterah. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diwujudkan ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat (Dewan Ketahanan Pangan, 2002).
Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di dunia. Tentu saja hal ini akan mengkibatkan berbagai permasalahan diantaranya kerawanan pangan. Di Indonesia sendiri, permasalahan pangan tidak dapat kita hindari, walaupun kita sering disebut sebagai negara agararis yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Kenyataannya masih banyak kekurangan pangan yang melanda Indonesia, hal ini seiring dengan meningkatnya penduduk. Bahkan dua peneliti AS pernah menyampaikan bahwa pada tahun 2100, penduduk dunia akan mengahadapi krisis pangan (Nasoetion, 2008).
Ketahanan pangan menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996, diartikan sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
Ketersediaan pangan juga mencakup kuantitas dan kualitas bahan pangan agar setiap individu dapat terpenuhi standar kebutuhan kalori dan energi untuk menjalankan aktivitas ekonomi dan peningkatan standar hidup sumberdaya manusia indonesia.
Upaya peningkatan ketahanan pangan nasional memerlukan dukungan ketersediaan prasarana dan sarana produksi, terutama pupuk. Sampai saat ini, kendala yang dihadapi petani adalah keterbatasan kemampuannya dalam pembiayaan usaha tani, termasuk untuk pembelian pupuk dan pestisida.
Beras terkait dengan pupuk dan keduanya menyatu dengan petani. Ketiganya merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Pupuk sebagaimana fungsinya dapat memacu peningkatan produksi tanaman pangan. Karena itu pupuk merupakan komoditi yang memiliki peran strategis dalam mendukung sektor pertanian dan dalam upaya meningkatkan produksi gabah dan beras petani. Untuk mewujudkan ketahanan pangan pemerintah merasa perlu mendorong peningkatan produksi gabah dan beras di sektor pertanian. Pupuk telah menjadi kebutuhan pokok bagi petani dalam produksi gabahnya. Tetapi penggunaan pupuk memerlukan biaya dan biaya tersebut merupakan beban bagi petani dalam proses produksi.
Karena itu pada satu sisi pemerintah bermaksud membantu beban biaya pupuk petani dan mendorong peningkatan produksi gabah mereka. Sementara pada sisi lain pemerintah menganggap pupuk memiliki peran sangat penting didalam peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian yang memperngaruhi ketersediaan pangan untuk mewujudkan Program Ketahanan Pangan Nasional. Dengan demikian pemerintah merasa perlu mensubsidi pupuk.
Pupuk adalah hara tanaman yang ada dalam tanaman yang ada didalam tanah, atmosfer, dan dalam kotoran hewan secara alami. Namun hara yang ada itu tidak selalu tersedia dalam bentuk yang siap digunakan tanaman atau jumlahnya tidak tercukupi. Jadi, harus ditambahkan dengan penggunaan pupuk, untuk membantu tanaman tumbuh mencapai potensi maksimum.
Pupuk digolongkan dalam dua kategori, organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan mahkluk hidup atau mahkluk hidup yang telah mati, meliputi kotoran hewan, seresah, sampah, kompos, dan berbagai produk antara lain dari organisme hidup. Pupuk anorganik adalah pupuk yang berasal dari sumber-sumber yang bukan mahkluk hidup sebagian besar buatan manusia, pupuk-pupuk komersial. Pupuk buatan dan alami sebenarnya mengandung unsur-unsur yang sama, tetapi pupuk buatan bereaksi lebih cepat.
Kelangkaan pupuk di indonesia secara umum dikarenakan sistem distribusi pupuk yang tidak mampu mengikuti dinamika perubahan kebutuhan dan kelembagaan pertanian dan konsumen pupuk. Salah satu kendala yang umum dihadapi industri pupuk adalah pasokan gas. Untuk itu, pemerintah perlu menyiapkan sinergi program antar departemen sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasokan gas industri pupuk. Lima pabrik pupuk yang dimiliki negara (PT pupuk iskandar muda, PT pupuk sriwijaya, PT pupuk kaltim, PT pupuk kujang dan PT pupuk petro kimia) memang mengalami kendala kelancaran pasokan gas, sebagai bahan baku utama industri pupuk.
Berkaitan dengan ketahanan pangan dan ketersediaan pangan perlu adanya perencanaan matang dan memadai, tanpa perencanaan yang matang dan langkah-langkah strategis dan konsisiten dalam meningkatkan produksi pangan maka akan sangat mengancam ketahanan pangan nasional. Maka peran pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait harus merancang pemenuhan pangan seperti perluasan lahan pertanian, peningkatan produksi dan produktivitas pertanian, teknologi pertanian, penanganan pasca panen, dan lain lain. Agar ketersediaan pangan terus meningkat. Sebab ketahanan pangan memiliki tiga dimensi yang saling terkait, yaitu : (1) ketersediaan pangan, (2) aksesbilitas masyarakat terhadap pangan dan (3) stabilitas harga pangan.

Sumber : Arifin Bustanul, 2007. Diagnosis Ekonomi Politik Pangan dan Pertanian. PT Raja Grafindo: Jakarta

marpinani
Posted on 22nd November, 2011

marpinani/101111291

al/kapita/hari) bahwa ketersediaan pangan secara makro setara energy dan protein Indonesia telah melebihi kebutuhan. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan penduduk yang bertambah, kemudian lahan – lahan pertanian penghasil bahan pangan yang sudah banyak tergeser oleh pembangunan – pembangunan perumahan. Secara tidak langsung hal tersebut sangat berdampak pada ketersediaan pangan di Indonesia. Karena bagaimanapun juga hasil pangan atau pertanian adalah tergantung juga dari ketersediaan lahan pertanian. Jadi semakin berkurangnya sarana dan prasarana pertanian juga bisa mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia.
Dari data yang sama juga diperolehIndonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar – no.2 di dunia setelah Brazil. Spesies tanaman pangan yang dimiliki adalah kurang lebih 800 spesies dan kurang lebih 1000 spesies tumbuhan medicinal. Tak heran jika Indonesia dinamakan negara Agraris yang notabennya adalah negara yang kaya akan sumber – sumber bahan pangan atau hasil pertanian. Menurut data pada tahun 2004 dalam data ketersediaan pangan menurut komoditasnya (k info bahwa alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian (perumahan, perkantoran dll) di Indonesia diperkirakan 106.000 ha/5 th dan cenderung meningkat. Di Jawa dan banyak daerah lainnya luas hutan tinggal 15% dari luas daratan (untuk kelestarian minimal 30%), serta banyaknya dijumpai lahan kritis. Sejak 10 tahun terakhir terjadi banjir dengan erosi hebat dan ancaman tanah longsor pada musim hujan bergantian dengan kekeringan hebat pada musim kemarau. Bila laju degradasi terus berjalan maka tahun 2015 diperkirakan deficit air di Jawa akan mencapai 14,1 miliar m3 per tahun.
Sumber dari data yang diperoleh dari susenas bahwa ketersediaan pangan Indonesia telah melebihi standar yakni sebesar 3031 kilo kalori dan protein 76,28 gram per kapita per hari. Sedangkan laju peningkatan produksi pangan cenderung melandai dengan rata – rata pertumbuhan kurang satu persen sedangkan pertambahan penduduk sebesar 1,2 % setiap tahun. Petani umumnya skala kecil (kurang dari 0,5 hektar) yang berjumlah 13,7 juta KK menyebabkan aksesibilitasnya terbatas terhadap sumber permodalan, teknologi dan sarana produksi sehingga sulit meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya tanpa difasilitasi oleh pemerintah.
Dalam hal pendistribusian dan akses pangan yaitu bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar waktu merupakan tantangan dalam menjamin distribusi pangan agar tetap lancer sampai ke seluruh wilayah konsumen sepanjang waktu. Terbatasnya sarana dan prasarana perhubungan untuk menjangkau seluruh wilayah terutama daerah terpencilpun terkadang masih kesulitan. Hal inilah yang menyebabkan pendistribusian bahan pangan yang kemudian mempengaruhi ketersediaan pangan yang tidak baik. Disamping itu masa panen yang tidak merata sepanjang bulan sehingga harga tinggi pada masa panen dan rendah pada masa panen menyebabkan ketersediaan pangan yang tidak stabil. Dalam hal ketersediaan pangan sebaiknya berpikir juga untuk menyediakan cadangan pangan. Hal ini ada beberapa hal yang berkaitan. Diantaranya adalah sifat komoditas pangan yang bersifat musiman sementara pendapatan masyarakat umumnya sangat rendah menuntut perlunya adanya cadangan makanan. Disamping itu adanya kondis iklim yang tidak menentu sehingga sering terjadi pergeseran penanaman misalnya sawah yang biasanya ditanami padi, karena musim yang tidak mendukung adanya air yang memadai maka sawah diganti tanamannya dengan jagung, kacang atau tanaman lainnya. Hal lain yang berkaitan adalah masa pemanenan yang tdak merata sepanjang tahun. Kemudian sering terjadinya bencana yang tidak diduga seperti banjir, longsor, gempa bumi dan bencana lainnya merupakan system pencadangan makanan yang baik.

marpinani
Posted on 22nd November, 2011

marpinani/101111291

Indonesia merupakan negara yangg memiliki keaneragaman hayati yg besar no 2 d dunia setelah brazil. Spesies tanaman pangan yg dimiliki adalah kurang lebih 800 spesies dan kurang lebih 1000 spesies medicinal. Tak heran jika Indonesia dinamakan negara agraris yg notabennya adalah negara yg kaya akan sumber pangan atau hasil pertanian. Menurut data pd tahun 2004 dlm data ketersediaan pangan menurut komoditasnya (kal/kapita/hari) bahwa ketersediaan pangan secara makro setara energy dan protein Indonesia telah melebihi kebutuhan. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan penduduk yang bertambah, kemudian lahan – lahan pertanian penghasil bahan pangan yang sudah banyak tergeser oleh pembangunan – pembangunan perumahan. Secara tidak langsung hal tersebut sangat berdampak pada ketersediaan pangan di Indonesia. Karena bagaimanapun juga hasil pangan atau pertanian adalah tergantung juga dari ketersediaan lahan pertanian. Jadi semakin berkurangnya sarana dan prasarana pertanian juga bisa mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia.
Dari data yang sama juga diperolehIndonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar – no.2 di dunia setelah Brazil. Spesies tanaman pangan yang dimiliki adalah kurang lebih 800 spesies dan kurang lebih 1000 spesies tumbuhan medicinal. Tak heran jika Indonesia dinamakan negara Agraris yang notabennya adalah negara yang kaya akan sumber – sumber bahan pangan atau hasil pertanian. Menurut data pada tahun 2004 dalam data ketersediaan pangan menurut komoditasnya (k info bahwa alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian (perumahan, perkantoran dll) di Indonesia diperkirakan 106.000 ha/5 th dan cenderung meningkat. Di Jawa dan banyak daerah lainnya luas hutan tinggal 15% dari luas daratan (untuk kelestarian minimal 30%), serta banyaknya dijumpai lahan kritis. Sejak 10 tahun terakhir terjadi banjir dengan erosi hebat dan ancaman tanah longsor pada musim hujan bergantian dengan kekeringan hebat pada musim kemarau. Bila laju degradasi terus berjalan maka tahun 2015 diperkirakan deficit air di Jawa akan mencapai 14,1 miliar m3 per tahun.
Sumber dari data yang diperoleh dari susenas bahwa ketersediaan pangan Indonesia telah melebihi standar yakni sebesar 3031 kilo kalori dan protein 76,28 gram per kapita per hari. Sedangkan laju peningkatan produksi pangan cenderung melandai dengan rata – rata pertumbuhan kurang satu persen sedangkan pertambahan penduduk sebesar 1,2 % setiap tahun. Petani umumnya skala kecil (kurang dari 0,5 hektar) yang berjumlah 13,7 juta KK menyebabkan aksesibilitasnya terbatas terhadap sumber permodalan, teknologi dan sarana produksi sehingga sulit meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya tanpa difasilitasi oleh pemerintah.
Dalam hal pendistribusian dan akses pangan yaitu bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar waktu merupakan tantangan dalam menjamin distribusi pangan agar tetap lancer sampai ke seluruh wilayah konsumen sepanjang waktu. Terbatasnya sarana dan prasarana perhubungan untuk menjangkau seluruh wilayah terutama daerah terpencilpun terkadang masih kesulitan. Hal inilah yang menyebabkan pendistribusian bahan pangan yang kemudian mempengaruhi ketersediaan pangan yang tidak baik. Disamping itu masa panen yang tidak merata sepanjang bulan sehingga harga tinggi pada masa panen dan rendah pada masa panen menyebabkan ketersediaan pangan yang tidak stabil. Dalam hal ketersediaan pangan sebaiknya berpikir juga untuk menyediakan cadangan pangan. Hal ini ada beberapa hal yang berkaitan. Diantaranya adalah sifat komoditas pangan yang bersifat musiman sementara pendapatan masyarakat umumnya sangat rendah menuntut perlunya adanya cadangan makanan. Disamping itu adanya kondis iklim yang tidak menentu sehingga sering terjadi pergeseran penanaman misalnya sawah yang biasanya ditanami padi, karena musim yang tidak mendukung adanya air yang memadai maka sawah diganti tanamannya dengan jagung, kacang atau tanaman lainnya. Hal lain yang berkaitan adalah masa pemanenan yang tdak merata sepanjang tahun. Kemudian sering terjadinya bencana yang tidak diduga seperti banjir, longsor, gempa bumi dan bencana lainnya merupakan system pencadangan makanan yang baik.

Endang Erifarida
Posted on 22nd November, 2011

Nama ; Endang Eriparida
Nim ; 101111120
Kelas ; A
II. BUDIDAYA JAMUR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DAN GIZI
3. Apa itu Jamur
Jamur didefinisikan sebagai “Suatu makrofungus dengan tubuh buah yang bersifat epigeus atau hypogeus. Tubuh buahnya cukup besar untuk dapat dilihat dengan mata dan dapat dipetik dengan tangan” (Chang and Miles, 1992)
Jamur tidak memiliki klorophil sehingga tidak dapa melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan makanannya sendiri. Dia hidup dengan cara mengambil makanan dari organism lain. Oleh sebab itu jamur digolongkan sebagai tumbuhan yang Heterophonik atau tumbuhan yang hidup dari atau tergantung pada orgnaisme lain.
4. Mengapa budidaya jamur
Jamur sudah dikenal sebagai bahan pangan manusia sejak dahulu kala, ratusan tahun bahkan ribuan tahun sebelum Masehi.
Jamur dinilai memiliki cita rasa yang eksotik dan bahnkan dinilai sebagai makanan yang mewah, hidangan untuk raja-raja dan orang kaya.
a. Jamur dapat dibudidayakan dimana saja sejauh memiliki kondisi yang dapat membuatnya tumbuh.
b. Teknologi untuk budidaya dapat dilakukan melalui cara yang paling sederhana sampai pada penerapan teknologi yang kompleks dan mahal.
c. Jamur memiliki nilai nutrisi yang tinggi sehingga memiliki kontribusi yang tinggi untuk kebutuhan nutrisi manusia.
d. Jamur disamping sebagai bahan pangan yang menyehatkan juga memiliki kemampuan sebagai obat.
e. Jamur tumbuh pada sebaian besar limbah-limbah pertanian, limbah pabrik dan limbha perkebunan.
f. Budidaya jamur termasuk kegiatan yang padat karya sehingga dapat menumbuhkan lapangan kerja.

g. Budidaya jamur memiliki nilai ekonomi yang “lumayan baik” dibandingkan dengan kegiatan agrobisnis lainnya.
5. Budidaya Jamur di Indonesia
Sesungguhnya pada jaman kolonial Belanda dan jaman pendudukan Jepang di Indonesia telah dimulia rintisan budidaya yang tercatat pada tahun 1937 dan 1942 untuk Jamur Merang.
Baru pada awal tahun 1970-an budidaya jamur secara komersial dimulia di Indonesia yang antara lain dengan adanya industry Jamur Kancing di Dieng, Jamur Merang di Purwakarta, serta Jamur Kuping di Yogya dan pertumbuhan budidaya Jamur Tiram di beberapa tempat.
Hingga kini bentuk usaha budidaya jamur dapat terbagi menjadi dua yaitu:
Pertama yang berciri industri dengan produksi utama untuk tujuan ekspor didukung pembudidaya sebagai plasma. Dan yang Kedua adalah pembudidaya yang bersifat usaha kelompok perorangan atau keluarga yang tumbuh secara tersebar maupun terkelompok dengan cirri 100% sebagai sandaran hidup sampai pada yang merupakan usaha sampingan.
Dari tahun ke tahun produksi dapat meningkat selaras dengan peningkatan konsumen jamur.
Namun demikian beberapa permasalahan bahkan hampir mencakup seluruh aspek tahapan pembudidayaan masih harus dihadapi oleh para pembudidaya baik yang sudah lama maupun pemula. Permasalahan dapat dimulai atau terdapat pada aspek penyediaan bibit, teknologi budidaya, manajemen budidaya, sampai pada pasca panen, pemasaran dan akses terhadap dana.
6. Budidaya Jamur di Negara-negara Miskin dan Berkembang lainnya
Di negeara-negara miskin dan berkembang lain budidaya jamur sudah dijadikan sebagai salah satu program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan. Dalam pelaksanaannya dukungan ataupun bantuan kepada para pembudidaya diperoleh dari pemerintah, dari perguruan tinggi atau lembaga terkait lainnya, juga dari badan-badan PBB atau LSM dan individu dari Negara tertentu.
Gambaran tentang program-program seperti ini dapat dilihat dari pekembangan budidaya jamur di Negara-negara seperti Ghana, Burundi, Tanzania, Lesotho,

serta Negara-negara miskin di Afrika dan Negara-negara seperti Bangladesh bahkan India. Sedangkan gambaran-gambaran di Negara-negara yang lebih maju dapat pula dilihat pada Negara-negara seperti halnya Australia, Irlandia, Belgia, Korea, Jepang, bahkan yang termaju adalah Kanada dan China.
III. PELUANG DAN TANTANGAN
7. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk Indonesia maupun dunia menuntut kemampuan penyediaan pangan dimana Jamur adalah salah satu pangan yang sehat bergizi yang dapat mendukung kesehatan tubuh yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi jamur.
8. Globalisasi
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar yang dapat dijadikan pasar bagi produsen jamur Negara sekitar kita. Beberapa jenis jamur seperti Tiram, Merang, dan Kuping harus dapat tetap menguasai pasar domestic Indonesia demi kepentingan pembudidaya serta kesediaan pangan nasional.
9. Kebijakan Pemerintah
Dengan melihat kondisi kita serta lingkungan termasuk keterbatasan kemampuan sumber dana maka perlu dirumuskan beberapa kebijakan yang antara lain dorongan terhadap usaha swasta termasuk pemberdayaan asosiasi secara optimal yang didukung dengan kebijakan yang menyangkut Perbankan.
Kebijaksanaan operasional kiranya patut mempelajari bahkan meniru langkah beberapa Negara yang Nampak berhasil dalam program-program pembudidayaan jamur guna mendukung program ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan.

IRENIUS SIRIYEI
Posted on 24th November, 2011

Nama : IRENIUS SIRIYEI
NIM : 101111243
Kelas: A

GAMBARAN KETERSEDIAAN PANGAN NASIONAL
Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada dibawah kebutuhan konsumsi yang semestinya. Lebih dari seperempat anak usia dibawah 5 tahun memiliki berat badan dibawah standar, dimana 8 % berada dalam kondisi sangat buruk. Bahkan sebelum krisis, sekitar 42% anak dibawah umur 5 tahun mengalami gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil); suatu indikator jangka panjang yang cukup baik untuk mengukur kekurangan gizi. Gizi yang buruk dapat menghambat pertumbuhan anak secara normal, membahayakan kesehatan ibu dan mengurangi produktivitas angkatan kerja. Ini juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit pada penduduk yang berada pada kondisi kesehatan yang buruk dan dalam kemiskinan.

Kebijakan untuk Menjamin Ketahanan Pangan
Terdapat tiga komponen kebijakan ketahanan pangan :
1. Ketersediaan Pangan: Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
- Larangan impor beras
- Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan
- Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras

2. Keterjangkauan Pangan. Elemen terpenting dari kebijakan ketahanan pangan ialah adanya jaminan bagi kaum miskin untuk menjangkau sumber makanan yang mencukupi. Cara terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan ini ialah dengan memperluas strategi pertumbuhan ekonomi, khususnya pertumbuhan yang memberikan manfaat bagi kaum miskin. Kebijakan ini dapat didukung melalui program bantuan langsung kepada masyarakat miskin, yang diberikan secara seksama dengan target yang sesuai Sejumlah kebijakan penting yang mempengaruhi keterjangkauan pangan meliputi:
- Program Raskin yang selama ini telah memberikan subsidi beras bagi hampir 9 juta rumah tangga
- Upaya BULOG untuk mempertahankan harga pagu beras
- Hambatan perdagangan yang mengakibatkan harga pangan domestik lebih tinggi dibandingkan harga dunia.

3. Kualitas Makanan dan Nutrisi: Hal yang juga penting untuk diperhatikan, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis-jenis pangan yang berkualitas lebih baik. Namun, seperti catatan diatas, keadaan nutrisi makanan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan sejak akhir krisis. Sejumlah kebijakan penting yang berpengaruh terhadap kualitas pangan dan nutrisi meliputi:
- Upaya untuk melindungi sejumlah komoditas pangan penting
- Memperkenalkan program pangan tambahan setelah krisis
- Penyebarluasan dan pemasaran informasi mengenai nutris
Sepuluh langkah dibawah ini mengkaji ulang efektivitas kebijakan di tiga wilayah tersebut diatas dan kemudian mengajukan sejumlah langkah praktis dalam meningkatkan keadaan dan mendorong ketahanan pangan.

LANGKAH-LANGKAH MENJAGA KETAHANAN PANGAN

I. MENGUPAYAKAN PERAN BULOG
BULOG masih merupakan salah satu institusi terpenting dalam menjamin ketahanan pangan di Indonesia. Perubahan status hukum BULOG pada tahun 2003 dari Badan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memperluas lingkup BULOG untuk melakukan aktivitas komersil sebagai bagian dari peran pentingnya dalam pelayanan jasa publik. Tugas BULOG termasuk menjaga stok ketahanan pangan nasional, pendukung publik dalam menjaga harga-harga komoditas pertanian, menyediakan pangan dalam keadaan darurat, dan melaksanakan program subsidi beras RASKIN bagi masyarakat miskin. Pengawasan pemerintah pusat terhadap sejumlah pelayanan BULOG, yang selama ini dilakukan oleh BULOG sendiri, telah dialihkan ke dalam tugas Kementrian Keuangan dan Kementrian BUMN, dimana keduanya memiliki keterbatasan kapasitas dan pengalaman dalam hal manajemen dan kebijakan ketahanan pangan. Namun demikian BULOG masih tetap melakukan fungsi tersebut selama lebih dari setahun terakhir, meski tanpa adanya persetujuan mengenai rencana usaha maupun dalam penyusunan anggaran, walaupun sebenarnya kedua hal tersebut dibutuhkan sebagai payung hukum. Pemerintahan yang baru harus memperkuat pengawasan terhadap peran BULOG melalui Kementrian Keuangan dan Kementrian BUMN dengan cara:
1. Membangun prosedur pengesahan laporan keuangan, rencana usaha dan anggaran tahunan BULOG.
2. Mulai membangun mekanisme penyediaan dan kontrak alternatif dengan pihak penyelenggara lain untuk mendapatkan perbandingan atas pelayanan publik yang selama ini dilakukan BULOG, termasuk biaya yang timbul dalam pelayanan tersebut.
3. Membentuk komisi independen yang bertugas memantau stok aman kebutuhan beras nasional.
4. Menghitung secara akurat biaya penyediaan program RASKIN dan mengkaji ulang kontrak antara pemerintah dengan BULOG.

II. MENGKAJI KEMUNGKINAN DIPISAHKANNYA BADAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL DARI KEMENTRIAN PERTANIAN

Kebijakan ketahanan pangan nasional membutuhkan keseimbangan yang tepat antara keinginan konsumen dan produsen. Dewan Ketahanan Pangan Nasional, yang diketuai oleh Presiden, didukung penuh oleh Badan Ketahanan Pangan Nasional dibawah Menteri Pertanian. Meski sejauh ini dewan tersebut menunjukkan kinerja yang cukup baik, susunan struktur seperti ini dapat menghadapi sejumlah kesulitan dimana Kementrian Pertanian pada dasarnya akan cenderung lebih menanggapi kemauan petani ketimbang keinginan konsumen pangan. MPR telah mempertimbangkan kemungkinan tersebut dan, melalui Keputusan MPR No 8/2003, menginstruksikan presiden untuk mengkaji kemungkinan BKP dijadikan sebagai lembaga yang terpisah dari Kementrian Pertanian. Permintaan MPR tersebut membutuhkan tanggapan yang yang cukup serius. Jika pemindahan itu memang harus dilakukan, hal tersebut harus direncanakan secara matang, mengingat telah terjadi sejumlah perubahan susunan institusi ketahanan pangan dan koordinasi antar lembaga di tahuntahun belakangan ini. Yang terpenting dalam hal ini ialah perubahan tersebut tidak menghilangkan kapasitas institusi yang telah ada sebagai akibat perencanaan yang tidak matang.

III. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DEWAN KETAHANAN PANGAN DI TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Peraturan Pemerintah tahun 2000 mengenai ketahanan pangan memberikan suatu kerangka dimana pemerintah daerah dapat berkontribusi dalam mencapai tujuan ketahanan pangan nasional. PP ini mengatur bahwa pemerintah sub-nasional turut bertanggung jawab terhadap ketahanan pangan dalam wilayah mereka masing masing. Beberapa kabupaten/kota telah membentuk Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. PP tersebut juga mendefinisikan kebutuhan pangan pokok secara luas, hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan bagi perbedaan pola makanan yang tercermin dalam ukuran-ukuran ketahanan pangan pada tingkat daerah. Dengan demikian beras tidak harus diberi penekanan khusus di daerah dimana terdapat makanan pokok lainnya. Ini merupakan gambaran yang baik dari sistem yang sedang terbentuk, namun demikian kurangnya kapasitas kemampuan Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota membuat mereka hanya cenderung sekedar mengikuti agenda-agenda tertentu dan terlibat dalam pengadaan serta penyimpanan kebutuhan pokok yang tidak efektif. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah pusat untuk memberikan petunjuk dan pengembangan kapasitas kemampuan agar Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota berfungsi secara efektif.

IV. MENGHILANGKAN LARANGAN IMPOR BERAS
Pada Januari 2004 Kementrian Industri dan Perdagangan mengumumkan larangan atas impor beras mulai dari dua bulan sebelum hingga satu bulan sesudah periode panen. Larangan ini secara berulang diperluas dan masih terus digunakan. Tujuan utama dari larangan tersebut dimaksudkan untuk mendukung para petani dan meningkatkan ketahanan pangan. Namun demikian kenyataan yang terjadi justru sebaliknya-harga eceran terus naik namun harga di tingkat petani tidak berubah, yang menunjukkan bahwa petani tidak memperoleh manfaat sesuai dengan harapan. Artinya, ketahanan pangan bagi kebanyakan orang menjadi lebih buruk. Sekitar 80 % penduduk mengkonsumsi beras lebih banyak dari yang diproduksinya, dan terbebani harga beras yang tinggi. Sementara di lain pihak, 20 % penduduk lainnya yang memperoleh keuntungan dari kebijakan ini, ternyata bukanlah masyarakat miskin. Studi terakhir menunjukkan bahwa larangan impor secara permanen dapat meningkatkan jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan sebanyak 1,5 juta orang. Pemerintahan yang baru sebaiknya menghapus larangan impor dan Membiarkan impor beras oleh para importir seperti sebelumnya. Memproteksi beras justru memperburuk ketahanan pangan. Namun jika proteksi dianggap penting secara politis hal itu dapat ditempuh melalui bentuk yang lebih transparan dan efisien seperti dengan menerapkan bea masuk yang rendah ketimbang memberlakukan larangan impor.

V. MENGUBAH FOKUS DEPARTEMEN PERTANIAN DARI MENDORONG PENINGKATAN PRODUKSI KE PERLUASAN TEKNOLOGI DAN PENCIPTAAN DIVERSIFIKASI
Kebijakan harga beras yang tinggi juga memiliki keterbatasan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan: Bagi produsen beras yang produksinya lebih tinggi dari konsumsi, dukungan melalui sejumlah kebijakan proteksi akan memberikan peningkatan pendapatan dalam waktu seketika; namun tidak mendorong pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, ketika produktivitas pertanian beras domestik telah mencapai titik yang cukup tinggi. Akan lebih baik bagi Departemen Pertanian untuk memusatkan perhatian pada peningkatan produktivitas di sejumlah produkproduk pertanian secara lebih luas. Sebagaimana kita ketahui, konsumsi pangan disetiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah bergerak menuju pangan dengan kualitas yang lebih baik. Dengan pertumbuhan seperti sekarang ini, konsumsi rumah tangga pada buah-buahan dan sayur-sayuran kecenderungannya akan melebihi nilai konsumsi beras dalam dekade ini. Kebijakan pertanian saat ini terlalu berkonsentrasi pada pemenuhan beras, dimana nilainya cenderung rendah dan termasuk komoditas yang murah di pasaran internasional. Hal ini telah memaksa petani untuk menanam komoditas yang bernilai rendah serta menghambat upaya mereka untuk berpindah pada produksi buah-buahan, hortikultura dan perternakan yang bernilai tinggi. Di saat bersamaan pertumbuhan permintaan domestik terhadap produk-produk ini semakin meningkat. Kebijakan pertanian harus bergerak secara agresif menuju suatu penelitian dan agenda pengembangan yang menaruh perhatian pada komoditas bernilai tinggi dan produk-produk yang permintaannya tumbuh tinggi. Kebijakan tersebut juga dapat diusahakan untuk membantu produsen kecil dalam memenuhi standar kualitas pada pasar-pasar yang sedang terbentuk, serta untuk memperoleh akses pada rantai pasokan pangan yang saat ini banyak dilayani oleh jaringan supermarket.

VI. MENURUNKAN BIAYA RASKIN (DOWN SCALE RASKIN)
Program RASKIN dimaksudkan sebagai salah satu program penting pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan dengan memasok sekitar 20 kg beras per bulan kepada 9 juta keluarga miskin. Fakta yang ada menunjukkan bahwa program tersebut teramat mahal, menghabiskan sekitar Rp. 4,8 trilliun pada tahun 2004, dan relatif buruknya sasaran yang harus, menyebabkan manfaat yang diperoleh masyarakat miskin sangat kecil. Secara rata-rata, rumah tangga menerima sekitar 6 sampai 10 kg beras dan bukan 20 kg, disebabkan karena beras tersebut secara merata baik pada rumah tangga yang tidak miskin maupun rumah tangga miskin. Akibatnya, rata-rata nilai subsidi yang diberikan kepada masyarakat miskin melalui program ini hanya sekitar 2,1 % dari pengeluaran perkapita; jauh lebih kecil pada masyarakat yang tidak miskin. Kemudian juga kebanyakan subsidi tersebut tidak pernah sampai pada rumah tangga yang tepat, karena kebanyakan dana itu menjadi biaya operasional BULOG. Pada tahun 2004 pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 3.343 untuk setiap kilogram beras yang diberikan melalui BULOG, meski pada kenyataannya penyediaan beras oleh pihak swasta dapat diperoleh pada tingkat harga Rp. 2.800. Dari keseluruhan dana anggaran BULOG untuk pogram RASKIN hanya sekitar 18% yang tepat sasaran kepada masyarakat miskin. Meski terdapat sejumlah permasalahan pada program Raskin- program ini merupakan salah satu dari sedikit program dengan lingkup nasional dan memiliki infrastruktur organisatoris yang berperan penting pada waktu terjadinya gangguan pangan. Penghapusan program RASKIN, bukanlah suatu cara yang tepat. Meski demikian juga penting untuk memikirkan reformasi yang radikal berkaitan dengan program ini, antara lain:
1. Mensosialisasikan dan melaksanakan target dari program RASKIN kepada masyarakat, dengan demikian masyarakat perdesaan dapat memahami bahwa distribusi program ini hanya diperuntukan bagi penduduk yang benar-benar miskin. Sekali lagi hal ini akan lebih mudah bila program ini memang tepat sasaran.
2. Menciptakan dasar biaya penyelenggaraan program RASKIN dan merevisi anggaran untuk program ini.
3. Memperluas penggunaan metode sasaran mandiri (self-targeting) oleh masyarakat miskin itu sendiri, misalnya melalui paket RASKIN yang lebih kecil jumlahnya dan frekwensi pemberian yang lebih sering. Sasaran program RASKIN semestinya berjumlah lebih kecil dan biayanya jauh lebih murah. Melalui perbaikan sasaran, program tersebut masih tetap memiliki dampak yang lebih baik bagi masyarakat miskin.

VII. MEMIKIRKAN KEMBALI KEBIJAKAN STABILISASI HARGA BERAS
Langkah tradisional pemerintah dalam meningkatkan keterjangkauan pangan umumnya ditempuh dengan cara menstabilisasikan harga beras. Hal ini dilakukan melalui kebijakan harga pagu dan membeli beras di pasar dengan maksud mempertahankan tingkat harga tersebut . meski demikian ketidakmampuan BULOG dalam mempertahankan harga pagu tersebut telah menjadi hal yang umum dan keterlibatan pemerintah didalam pasar, telah menghambat pengembangan mekanisme penyesuaian harga oleh pihak swasta (seperti melalui mekanisme penyimpanan). Upaya pemerintah menstabilisasikan harga mungkin cukup tepat di masa yang lampau, akan tetapi sekarang ini rantai pemasaran swasta telah cukup berkembang dan sejumlah keterlibatam pemerintah pada dasarnya tidak diperlukan. INPRES No 9 tahun 2001 mengubah kebijakan sebelumnya dari menerapkan harga pagu menjadi penerapan harga pembelian oleh pemerintah. Pemerintahan yang baru harus memusatkan perhatian pada implementasi dari isi INPRES ini dengan mengkaji ulang apakah mungkin dan jika memang demikian, bagaimanakah caranya menstabilisasikan harga besar tanpa menghambat aktivitas sektor swasta.

VIII. MENDUKUNG DAN MENERAPKAN PENINGKATAN GIZI PADA BAHAN MAKANAN POKOK
Peningkatan gizi makanan, seperti melalui aturan penambahan yodium pada produksi garam atau dengan mengharuskan produsen untuk menambah sejumlah nutrisi mikro ke dalam produk makanan mereka, merupakan cara yang cukup efektif dalam meningkatkan standar gizi. Pemerintah telah melakukan hal ini dengan mendukung penggunaan garam beryodium dan peningkatan gizi tepung terigu. Akan tetapi kondisi gizi yang buruk masih merupakan persoalan utama. Sebagai contoh
sekitar 63 % wanita hamil dan sekitar 65-68 % anak dibawah 2 tahun menderita anemia disebakan karena kekurangan zat besi. Sementara itu lebih dari seperempat rumah tangga belum mengkonsumsi garam beryodium yang cukup. Pemerintahan baru dapat meningkatkan kondisi gizi masyarakat dengan mendorong dan menerapkan standar pemenuhan produksi pangan yang bergizi. Sebagai contoh, di beberapa daerah produksi garam oleh sejumlah produsen kecil lokal didukung oleh pemerintah setempat, sekalipun hasil produksinya masih belum memenuhi standar yodium nasional. Pemerintah pusat harus bekerjasama dengan pemerintah daerah, produsen serta konsumen, untuk mendapatkan cara yang efektif dalam menjamin pemenuhan gizi (meningkatkan kadar yodium) tanpa harus merusak pendapatan produsen lokal. Hasil yang dicapai oleh Proyek Penanggulangan Defisiensi Yodium (Intensified Iodine Deficiency Control Project) menunjukkan bahwa cara ini dapat ditempuh dan telah berhasil mengurangi lebih dari 50% angka penderita gondongan pada periode 1996 dan 2003 diantara anak-anak sekolah yang berada di provinsiprovinsi dengan endemi gondongan yang parah maupun moderat. Menerapkan regulasi yang transparan juga menjamin bahwa investasi untuk memenuhi standar gizi pada produk makanan tidak akan dikurangi karena adanya produsen yang tidak memenuhi standar gizi pada produk makanan mereka. Kerjasama antar lembaga amat dibutuhkan melalui intervensi yang mencakup industri pengolahan makanan (dibawah Menperindag), impor (Kepabeanan/Bea Cukai), pengawasan penjualan makanan (BPOM), pemasaran secara sosial (Menkes) dan pemerintahan daerah (Mendagri). Kerjasama harus bertujuan untuk membangunmekanisme perlindungan terhadap produk makanan tertentu, pilihan uji gizi produk makanan serta mekanisme penyediaannya dan membentuk kemitraan dengan produsen sektor swasta dan para pemasok produk makanan yang dilindungi. Kerjasama ini juga dapat ditujukan untuk menciptakan standarisasi produk dan aturan-aturan produksi, serta memberikan pengawasan dan evaluasi terhadap penyediaan produk makanan, disamping mengawasi dampaknya terhadap produk makanan yang dilindungi bagi sejumlah penduduk.

IX. FOKUSKAN KEMBALI PERHATIAN PADA PROGRAM MAKANAN TAMBAHAN
Program makanan tambahan yang tepat sasaran amat berperan penting dalam peningkatan gizi. Program makanan tambahan diperkenalkan setelah krisis sebagai bagian dari jaringan pengamanan sosial ( JPS). Nilai anggaran untuk program ini pada tahun 2004 meningkat hingga Rp 120 milliar untuk memasok dan mendistribusikan MP-ASI yang diproduksi secara lokal, yaitu sejenis makanan tambahan utama dalam program tersebut. Meski demikian bukti yang diperoleh menunjukkan bahwa cakupan program tersebut amat rendah dan tidak tepat sasaran. Sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 14% penduduk seperlima terkaya dan 17% penduduk seperlima termiskin yang sama-sama menerima program makanan tambahan. Pemerintah harus merevisi dan memfokuskan sasaran program untuk ditujukan pada masyarakat yang mengalami kemiskinan yang kronis dan berada pada situasi yang amat buruk.

X. MENINGKATKAN INFORMASI MENGENAI GIZI
Survei menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang lebih baik menyiapkan lebih banyak gizi dan vitamin pada setiap makanan dalam rumah tangga. Pengetahuan ibu akan gizi tidaklah terkait erat dengan tingkat pendidikan formal mereka maupun tingkat pendapatan. Ini menunjukkan bahwa kampanye mengenai informasi tentang gizi dapat meningkatkan kualitas menu makanan. Apalagi ketersediaan bahan makanan yang bergizi pada pasar lokal, telah cukup meningkat. Di masa lalu jaringan posyandu merupakan salah satu jaringan yang paling efektif untuk memberikan informasi tentang gizi kepada kaum ibu, namun cakupan geografis dan kualitas penyampaian informasi gizi melalui posyandu kini mengalami penurunan. Sementara program revitalisasi posyandu perlu mendapat perhatian, terpantau adanya sejumlah kendala pada anggaran dan sumber daya manusia, terutama berkaitan dengan masalah desentralisasi. Selain itu, penyelenggara jasa informasi alternatif juga mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Sehingga tujuan untuk membangun kembali jaringan secara nasional yang pernah ada, seperti posyandu, mungkin bukan suatu hal yang tepat. Akan lebih baik jika penyampaian informasi sosial mengenai gizi menempuh jalur altenatif yang tersedia, khususnya melalui saluran televisi dan radio.

(Sumber ; Bank Dunia ; Litbang Deptan 2011)

DORTEA YAWAN
Posted on 24th November, 2011

Nama : DORTEA YAWAN
NIM : 101111251
Kelas: A

KETERSEDIAAN PANGAN

Ketahanan Pangan (food security) adalah paradoks dan lebih merupakan penemuan dunia modern. Secara prosentase, lebih banyak produsen pangan di masa lalu ketimbang masa kini; tetapi dunia hari ini lebih aman pangan ketimbang masa lalu. Paradoks ini bisa terlihat jelas di banyak Negara maju, salah satunya adalah Ingggris Raya; Prosentase populasi pertanian di UK tahun 1950 adalah 6 % dan terus menurun secara drastis hingga 2 % di tahun 2000, dan berdasarkan prediksi FAO (Food and Agriculture Organisation), jumlah populasi pertanian di Inggris akan terus turun menjadi 1% di tahun 2010. Sederhananya, sekitar 896,000 petani akan memberi makan sedikitnya 60 juta penduduk. Indonesia saat ini memiliki 90 juta petani (seratus kali dari Inggris) atau sekitar 45% penduduk “memberi makan” seluruh pendududuk (sekitar 230 juta orang). Tetapi fakta-fakta dari Nusa Tenggara Barat (yang kerap dikenal sebagai daerah lumbung padi) serta daerah semi arid seperti Nusa Tenggara Timur di semester pertama tahun 2005, justru menghadapi ketahanan pangan yang rapuh, terbukti dengan tingginya tingkat kekurangan pangan dan gizi buruk.

Definisi Ketahanan Pangan
Definisi ketahanan pangan dari Waktu Ke Waktu Pendefinisian ketahanan pangan (food security) berbeda dalam tiap konteks, waktu dan tempat. Sedikitnya ada 200 definisi ketahanan pangan (Lihat: FAO 2003 dan Maxwell 1996) dan sedikitnya ada 450 indikator ketahanan pangan (Hoddinott 1999). Istilah ketahanan pangan (food security) sebagai sebuah konsep kebijakan baru pertama kali muncul pada tahun 1974, yakni ketika dilaksanakannya konferensi pangan dunia (Sage 2002). Maxwell (1996) mencoba menelusuri perubahan-perubahan definisi tentang ketahanan pangan sejak konferensi pangan dunia 1974 hingga pertengahan decade 90an; perubahan terjadi pada level global, nasional, skala rumah tangga dan
individu; dari perspektif pangan sebagai kebutuhan dasar (food first perspective) hingga pada perspektif penghidupan (livelihood perspective) dan dari indikator indikator objektif ke persepsi yang subjektif. Maxwell and Slater (2003) juga turut mengevaluasi definisi ketahanan pangan sepanjang waktu dan menemukan bahwa wacana (diskursus) mengenai ketahanan pangan berubah sedemikian cepatnya dari fokus pada ketersediaan-penyediaan (supply & availability) ke perspektif hak dan akses (entitlements). Sejak tahun 1980an awal, diskursus global ketahanan pangan didominasikan oleh hak atas pangan (food entitlements), resiko dan kerentanan (vulnerability). Buku The Poverty & Famines-nya Amartya Sen (1981) dianggap sebagai salah satu pelopor utama perubahan perspektif ketahanan pangan (Maxwell &Slater, 2003; Boudreau & Dilley, 2001). Diakui bahwa Amartya Sen berhasil menggugat kesalahan paradigma kaum Maltusian yang kerap berargumentasi bahwa ketidak-ketahanan pangan dan kelaparan (famine) adalah soal produksi dan ketersediaan semata. Sedangkan dengan mengangkat berbagai kasus di India dan Afrika, Sen mampu menunjukan bahwa ketidak-tahanan pangan dan kelaparan justru kerap terjadi karena ketiadaan akses atas pangan (entitlements failures) bahkan ketika produksi pangan berlimpah, ibarat “tikus mati di lumbung padi”. Kasus busung lapar di Nusa Tenggara Barat adalah salah satu bukti. Sedikitnya ada empat element ketahanan pangan berkelanjutan (sustainable food security) di level keluarga yang diusulkan oleh Maxwell (1996), yakni: pertama, kecukupan pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kehidupan yang aktif dan sehat. Kedua, akses atas pangan, yang didefinisikan sebagai hak (entitlements) untuk berproduksi, membeli atau menukarkan (exchange) pangan ataupun menerima sebagai pemberian (transfer). Ketiga ketahanan yang didefinisikan sebagai keseimbangan antara kerentanan, resiko dan jaminan pengaman sosial. Keempat: fungsi waktu manakala ketahanan pangan dapat bersifat kronis, transisi dan/atau siklus. Pendefinisian formal dalam Box 1 memberikan pengertian yang saling melengkapi. Box: 1 Definisi Formal Ketahanan Pangan:
1. World Food Conference 1974, UN 1975: ketahanan pangan adalah “ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu … … untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan … dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga.”
2. FAO 1992: Ketahanan Pangan adalah “situasi di mana semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman (safe) dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.
3. World Bank 1996: Ketahanan pangan adalah: “akses oleh semua orang pada segala waktu atas pangan yang cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
4. Oxfam 2001: Ketahanan pangan adalah kondisi ketika: “setiap orang dalam segala waktu memiliki akses dan control atas jumlah pangan yang cukup dan kualitas yang baik demi hidup yang katif dan sehat. Dua kandungan makna tercantum di sini yakni: ketersediaan dalam artian kualitas dan kuantitas dan akses (hak atas pangan melalui pembelian, pertukaran maupun klaim).
5. FIVIMS 2005: Ketahanan Pangan adalah: kondisi ketika “semua orang pada segala waktu secara fisik, social dan ekonomi memiliki akses pada pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi (dietary needs) dan pilihan pangan (food preferences) demi kehidupan yang aktif dan sehat.”

6. Indonesia – UU No.7/1996: Ketahanan Pangan adalah :”Kondisi di mana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan (safety), distribusi yang merata dan kemampuan membeli.

Keutamaan Beras Sebagai Konstruksi Sosial
Penyamaan swasembada beras dengan ketahanan pangan sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Ini semacam mitos yang terus direproduksi ulang dari masa ke masa. Ketersediaan beras di gudang Bulog kerap di jadikan basis ketahanan pangan di level propinsi maupun kabupaten. Hal ini mengidikasikan pengutamaan beras sebagai indikator ekonomi nasional.

Kendala dan Tantangan dalam Ketahanan Pangan

Permasalahan utama yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia saat ini adalah bahwa pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaan. Permintaan yang meningkat merupakan resultante dari peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan selera. Sementara itu, pertumbuhan kapasitas produksi pangan nasional cukup lambat dan stagnan, karena: (a) adanya kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya lahan dan air, serta (b) stagnansi pertumbuhan produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian. Ketidak seimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional mengakibatkan kecenderungan pangan nasional dari impor meningkat, dan kondisi ini diterjemahkan sebagai ketidak mandirian penyediaan pangan nasional. Dengan kata lain hal ini dapat diartikan pula penyediaan pangan nasional (dari produksi domestik) yang tidak stabil. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar dan terus
berkembang, sektor pertanian (sebagai sumber penghasil dan penyedia utama pangan) diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan yang cukup besar dan terus berkembang dalam jumlah, keragaman dan mutunya. Telah menjadi kebijakan nasional untuk memenuhi sejauh mungkin kebutuhan konsumsi bangsanya dari produksi dalam negeri, karena secara politis Indonesia tidak ingin tergantung kepada negara lain. Untuk itu, sektor pertanian menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Tantangan ini juga terus berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan sosial, budaya, ekonomi dan politik. Perkembangan sektor pertanian juga tidak terisolasi dari isu globalisasi dan suasana reformasi dan segala dinamika aspirasi masyarakatnya dan perubahan tatanan pemerintahan ke arah desentralisasi (otonomi). Dalam sektor ini terkait masalah sumber daya lahan (dan perairan) sebagai basis kegiatan sektor pertanian semakin terdesak oleh kegiatan perekonomian lainnya termasuk prasarana pemukiman dan transportasi, teknologi, SDM, kegiatan hulu dan hilir, kesejahteraan masyarakat produsen maupun konsumen, sistem pasar domestik hingga global, dan penyelenggaraan pelayanan publik, yang masing-masing dapat saling mempengaruhi. Mengingat demikian besarnya peranan dan demikian kompleksnya aspek yang terkait dalam upaya mewujudkan stabilitas penyediaan pangan nasional dari waktu ke waktu, pembangunan sektor pertanian memerlukan perhatian dan pemikiran yang dalam serta upaya yang bersifat menyeluruh. Kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional antara lain adalah:
1. Berlanjutnya konversi lahan pertanian untuk kegiatan non pertanian, khususnya pada lahan pertanian kelas satu di Jawa menyebabkan semakin sempitnya basis produksi pertanian, sedangkan lahan bukaan baru di luar Jawa mempunyai kesuburan yang relatif rendah. Demikian pula, ketersediaan sumber daya air untuk pertanian juga telah semakin langka. Dalam kaitan ini sektor pertanian menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air secara lestari dan mengantisipasi persaingan dengan aktifitas perekonomian dan pemukiman yang terkonsentrasi di Pulau Jawa.

2. Teknologi produksi menggunakan benih unggul dan pupuk kimia yang secara intensif diterapkan sejak awal 70-an pada ekologi sawah berhasil memacu produksi cukup tinggi, namun juga menyebabkan merosotnya kualitas dan kesuburan lahan (soil fatigue), serta terdesaknya varietas unggul lokal dan kearifan teknologi lokal yang menjadi ciri dan kebanggaan masyarakat setempat. Sementara itu, terkonsentrasinya pengembangan teknologi pangan pada lahan sawah menyebabkan kurang berkembangnya teknologi pada ekosistem lainnya. Pada saat teknologi lahan sawah relatif stagnan, sementara itu teknologi lahan kering, lahan rawa/lebak, lahan pasang surut relatif belum mampu meningkatkan produktivitas tanaman secara signifikan.

3. Kebijakan pengembangan komoditas pangan, termasuk teknologinya yang terfokus pada beras telah mengabaikan potensi sumbersumber pangan karbohidrat lainnya, dan lambatnya pengembangan produksi komoditas pangan sumber protein seperti serealia, daging, telur, susu serta sumber zat gizi mikro yaitu sayuran dan buah-buahan. Kondisi demikian berpengaruh pada rendahnya keanekaragaman bahan pangan yang tersedia bagi konsumen. Selanjutnya apabila teknologi pengembangan aneka pangan lokal tidak cepat dilakukan, maka bahan pangan lokal akan tertekan oleh membanjirnya anekaragam pangan olahan impor.

4. Teknologi pasca panen belum diterapkan dengan baik sehingga tingkat kehilangan hasil dan degradasi mutu hasil panen masih cukup tinggi. Demikian pula agroindustri sebagai wahana untuk meningkatkan nilai tambah dan penghasilan bagi keluarga petani belum bekembang seperti yang diharapkan. Peningkatan pelayanan teknologi tepat guna serta penyediaan prasarana usaha harus diupayakan untuk menunjang pengembangan usaha pasca panen dan agroindustri di pedesaan.

5. Belum memadainya prasarana dan sarana transportasi, baik darat dan terlebih lagi antar pulau, yang menghubungkan lokasi produsen dengan konsumen menyebabkan kurang terjaminnya kelancaran arus distribusi bahan pangan ke seluruh wilayah. Hal ini tidak saja menghambat akses konsumen secara fisik, tetapi ketidaklancaran distribusi juga berpotensi memicu kenaikan harga sehingga menurunkan daya beli konsumen. Ketidak lancaran proses distribusi juga merugikan produsen, karena disamping biaya distribusi yang mahal potensi kerugian akibat karena rusak atau susut selama proses pengangkutan cukup tinggi.

6. Ketidakstabilan harga dan rendahnya efisiensi sistem pemasaran hasil-hasil pangan pada saat ini merupakan kondisi yang kurang kondusif bagi produsen maupun konsumen. Hal ini antara lain disebabkan karena lemahnya disiplin dan penegakan peraturan untuk menjamin sistem pemasaran yang adil dan bertanggung jawab, terbatasnya fasilitas perangkat keras maupun lunak untuk membangun transparansi informasi pasar, serta terbatasnya kemampuan teknis institusi dan pelaku pemasaran. Penurunan harga pada saat panen raya cenderung merugikan petani, sebaliknya pada saat tertentu pada musim paceklik dan hari-hari besar, harga pangan meningkat tinggi menekan konsumen, tetapi kenaikan harga tersebut sering tidak dinikmati oleh petani produsen.

7. Khusus untuk beras, yang pada saat ini peranannya cukup sentral karena aktivitas produksi hingga konsumsinya melibatkan hampir seluruh masyarakat, pemerintah sangat memperhatikan kestabilan produksi maupun harganya. Harga yang relatif stabil dan dijaga kewajarannya bagi produsen dan konsumen, akan lebih memberikan kepastian penghasilan dan insentif berproduksi kepada petani dan sekaligus menjaga kelangsungan daya beli konsumen. Dalam era perdagangan bebas (globalisasi) dan reformasi pemerintahan saat ini, fungsi dan kewenangan lembaga-lembaga negara seperti Departemen Keuangan, Bank Indonesia, BRI, Bulog, termasuk kebijakan subsidi yang dahulu sangat berperan dalam menunjang stabilisasi sistem perberasan, telah mengalami deregulasi mengikuti asas mekanisme pasar bebas. Kebijakan harga dasar menjadi sulit dipertahankan karena pemerintah tidak dapat lagi membiayai pembelian gabah dan operasi pasar dalam jumlah besar, dan Bulog tidak lagi memegang hak monopoli. Dalam kondisi demikian pemerintah harus mengupayakan cara-cara lain untuk menjaga kestabilan harga dan memberikan insentif berproduksi kepada petani.

8. Terbatasnya kemampuan kelembagaan produksi petani karena terbatasnya dukungan teknologi tepat guna, akses kepada sarana produksi, serta kemampuan pemasarannya. Adalah tantangan bagi institusi pelayanan yang bertugas memberikan kemudahan bagi petani dalam menerapkan iptek, memperoleh sarana produksi secara enam tepat, dan membina kemampuan manajemen agribisnis serta pemasaran, untuk meningkatkan kinerjanya memfasilitasi pengembangan usaha dan pendapatan petani secara lebih berhasil guna.

9. Terbatasnya kelembagaan yang menyediakan permodalan bagi usahatani di pedesaan, dan prosedur penyaluran yang kurangmengapresiasikan sifat usahatani dan resiko yang dihadapi, merupakan kendala bagi berkembangnya usahatani. Demikian pula, kurang memadainya prasarana fisik menjadi kendala berkembangnya industri hulu dan hilir sebagai wahana bagi peningkatan pendapatan petani di pedesaan.

Mewujudkan Ketahanan Pangan

Kebijakan Umum
Presiden SBY mengatakan, dari sekitar 6,3 miliar jumlah penduduk dunia, 200 juta orang tidak dapat tidur karena kelaparan. Dengan demikian, kerentanan pangan tidak hanya menjadi persoalan kita saja, melainkan persoalan dunia. Pada tahun 2007, penduduk Indonesia diperkirakan sudah mencapai 232,9 juta dan 236,4 juta pada tahun 2008. Tahun 2050 diperkirakan akan berjumlah 280 juta jiwa. Laju perkembangan penduduk yang cepat mendatangkan persoalan tersendiri dalam masalah ekonomi. Kira-kira begitu yang diyakini para ekonom seperti Thomas Robert Maltus, David Ricardo, Roy Forbes Harrod, dan Evsey D. Domar.

Krisis pangan dapat terjadi ketika antara produksi dan tingkat konsumsi tidak berimbang. Tahun 1997-2002, tingkat produksi kebutuhan pokok terus menurun. Pada tahun 2003 saja, kita hanya mampu memproduksi beras sekitar 31,2 juta ton, sementara seiring laju penduduk kebutuhan konsumsi terus meningkat 2,5%-4%. Sektor kedelai lebih parah lagi. Pengamat pertanian Sapuan Gafar menjelaskan, dari tahun 1999-2007 impor kedelai melebihi 1 juta ton dengan tingkat produksi 0,6 juta ton tahun 2007. Padahal tahun 1992, Indonesia mampu memproduksi 1,8 juta ton kedelai.

Masalah kerentanan pangan harus cepat dicarikan solusinya. Beberapa langkah strategis perlu dilakukan, Misalnya intensifikasi pertanian, restrukturisasi industri pascapanen, atau mengkaji ulang retribusi. Tidak kalah pentingnya menempatkan posisi koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai salah satu lembaga perekonomian yang mendorong usaha kemandirian pangan.
Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional tidak terlepas dengan kebijakan umum pembangunan pertanian dalam mendukung penyediaan pangan terutama dari produksi domestik. Dalam kerangka demikian upaya mewujudkan ketahanan pangan dan stabilitasnya (penyediaan dari produksi domestik) identik pula dengan upaya meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional dalam pembangunan pertanian beserta kebijakan pendukung lain yang terkait. Strategi umum pembangunan pertanian adalah memajukan agribisnis, yaitu membangun secara sinergis dan harmonis aspek-aspek:
1. industri hulu pertanian yang meliputi perbenihan, input produksi lainnya dan alat mesin pertanian.
2. pertanian primer (on-farm).
3. industri hilir pertanian (pengolahan hasil).
4. Jasa-jasa penunjang yang terkait.
Mengingat bahwa pelaku utama agribisnis adalah petani dan pengusaha, dan tanpa adanya insentif pendapatan mereka akan enggan menekuni agribisnis, maka kata kunci dalam meningkatkan kinerja sektor ini adalah menciptakan insentif ekonomi yang menunjang daya tarik agribisnis.

Ketersediaan Pangan
Seiring dengan proses otonomi daerah yang diatur dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2000 Tentang Otonomi Daerah yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000, peranan daerah dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayahnya menjadi semakin meningkat. Searah dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dapat berperan aktif dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan di wilayah kerjanya. Partisipasi tersebut diharapkan memperhatikan beberapa azas, yaitu:
1. Mengembangkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh masingmasing daerah sesuai dengan potensi sumberdaya spesifik yang dimilikinya, serta disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.
2. Menerapkan kebijakan yang terbuka dalam arti menselaraskan kebijakan ketahanan pangan daerah dengan kebijakan ketahanan pangan nasional.
3. Mendorong terjadinya perdagangan antar daerah.
4. Mendorong terciptanya mekanisme pasar yang berkeadilan.
Dengan memperhatikan beberapa azas kebijakan ketahanan pangan di daerah tersebut, beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut diantaranya meliputi:
1. Pemerintah daerah perlu menyadari akan pentingnya memperhatikan masalah ketahanan pangan di wilayahnya.
2. Perlunya apresiasi tentang biaya, manfaat, dan dampak terhadap pembangunan wilayah dan nasional program peningkatan ketahanan pangan di daerah kepada para penentu kebijakan di daerah.
3. Pemerintah daerah perlu menyusun perencanaan dan strategi untuk menangani masalah ketahanan pangan di daerah.
4. Perlu dikembangkan suatu wahana untuk saling tukar menukar informasi dan pengalaman dalam menangani masalah ketahanan pangan antar pemerintah daerah.

Pengembangan teknologi
Pengembangan teknologi guna meningkatkan efisiensi akan mencakup spektrum teknologi yang sangat luas dari teknologi yang terkait dengan teknologi pengembangan sarana produksi (benih, pupuk dan insektisida), teknologi pengolahan lahan (traktor), teknologi pengelolaan air (irigasi gravitasi, irigasi pompa, efisiensi dan konservasi air), teknologi budidaya (cara tanam, jarak tanam, pemupukan berimbang, pola tanam, pergiliran varietas), teknologi pengendalian hama terpadu (PHT). Teknologi pertanian berperan penting dalam mendukung pengembangan pertanian pangan di areal pengembangan baru (ekstensifikasi). Pengembangan lahan pertanian baru, menurut kondisi agro ekosistemnya dapat dibedakan menjadi:
1. Lahan sawah cetakan baru.
2. Lahan kering (ladang atau di bawah naungan).
3. Lahan rawa (pasang surut dan lebak).
Sudah barang tentu teknologi yang dibutuhkan untuk pengembangan di areal ekstensifikasi ini akan bersifat lokal spesifik.

Diversifikasi Produksi Pangan
Diversifikasi produksi pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam ketahanan pangan. Diversifikasi produksi pangan bermanfaat bagi upaya peningkatan pendapatan petani dan memperkecil resiko berusaha. Diversifikasi produksi secara langsung ataupun tidak juga akan mendukung upaya penganekaragaman pangan (diversifikasi konsumsi pangan) yang merupakan salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan. Ada dua bentuk diversifikasi produksi yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan, yaitu:
1. Diversifikasi horizontal; yaitu mengembangkan usahatani komoditas unggulan sebagai “core of business” serta mengembangkan usahatani komoditas lainnya sebagai usaha pelengkap untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam, modal, dan tenaga kerja keluarga serta memperkecil terjadinya resiko kegagalan usaha.
2. Diversifikasi regional; yaitu mengembangkan komoditas pertanian unggulan spesifik lokasi dalam kawasan yang luas menurut kesesuaian kondisi agro ekosistemnya, dengan demikian akan mendorong pengembangan sentra-sentra produksi pertanian di berbagai wilayah serta mendorong pengembangan perdagangan antar wilayah.

Pola Produksi dan Konsumsi
Produk pangan pada umumnya mengikuti pola produksi musiman, sedangkan kebutuhan pangan harus dipenuhi sepanjang tahun. Selain itu, produk pertanian pada umumnya cepat rusak (perishable). Dalam kondisi demikian maka aspek pengolahan dan penyimpanan menjadi hal penting dalam upaya penyediaan pangan secara kontinyu. Di Indonesia, produksi pangan tersebar menurut kondisi agroekosistem dan geografinya, sedangkan lokasi konsumen tersebar di seluruh pelosok tanah air, baik yang tinggal di daerah perkotaan maupun pedesaan. Dengan demikian, aspek transportasi dan distribusi pangan menjadi sangat vital dalam rangka penyediaan pangan yang merata bagi seluruh penduduk Indonesia. Dalam mengatasi permasalahan penyediaan pangan antar waktu dan antar tempat tersebut, teknologi pasca panen dapat berperan dalam meningkatkan efisiensi baik pada saat panen (mengurangi kehilangan hasil), pengolahan hasil, pengemasan, transportasi, dan penyimpanan. Efisiensi yang dimaksud dalam hal ini mencakup aspek efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknis mencakup upaya mengurangi kehilangan hasil, mempertahankan kualitas, dan memperlancar arus perpindahan barang. Sedangkan efisiensi ekonomis berupa penghematan biaya untuk pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, dan pendistribusian. Dengan demikian selisih harga (disparitas harga) antar wilayah dan antar waktu diharapkan menjadi lebih kecil. Pengembangan teknologi pasca panen juga mempunyai peran untuk pengembangan produk pangan (product development) dan penciptaan nilai tambah (value added) bagi bahan pangan. Dengan pengembangan produk, bahan pangan yang mempunyai nilai tambah rendah dapat diolah menjadi berbagai produk olahan yang bernilai tambah tinggi. Pada saat yang sama kegiatan pengolahan tersebut dapat menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja di pedesaan. Sebagai contoh ubikayu dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti tapioka, tepung, chips, gaplek, seriping, mie dan alkohol. Melalui pengolahan sekunder, tapioka atau tepung singkong dapat diolah antara lain menjadi roti, kue, mie, lem, bahan kosmetika, dan bahan farmasi.
Peranan Badan Litbang Pertanian
Mengingat bahwa pelayanan teknologi tepat guna sangat vital bagi peningkatan produktivitas, peningkatan efisiensi, perbaikan mutu dan peningkatan nilai tambah di sektor pertanian, maka peranan lembaga penelitian nasional dan daerah seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) beserta lembaga mitra kerjanya yang lain sangat vital dalam meningkatkan kinerja sektor ini. Kinerja pelayanan teknologi dituntut untuk mampu merespon dengan baik kebutuhan para petani dan pengusaha, dalam mengembangkan agribisnis yang modern dalam arti mengandalkan iptek untuk membangun efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing produknya, dengan tujuan utama meningkatkan pendapatan keluarga tani di pedesaan. Teknololgi pertanian berperan sangat strategis di dalam upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. Teknologi pertanian dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas pangan, meningkatkan diversifikasi dalam jenis dan kualitas pangan, meningkatkan nilai tambah, kesempatan kerja, dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Dengan teknologi tepat guna efisiensi produksi dapat ditingkatkan sehingga meningkatkan daya saing produk pangan di dalam negeri dan di pasar internasional. Pengembangan teknologi juga mencakup aspek rekayasa kelembagaan, yang mendorong berkembangnya kelembagaan agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan di pedesaan. Pelayanan kepada petani, dalam era reformasi ini, harus dilaksanakan dalam koridor pemerintahan yang baik dan bersih, mengikuti prinsip-prinsip:
1. Bersifat memberdayakan dalam arti meningkatkan kemampuan menganalisis, mengambil keputusan, membangun akses terhadap sumberdaya dan sarana produksi, serta mengatasi masalah yang dihadapi.
2. Bersifat partisipatif dalam menghasilkan teknologi tepat guna, yaitu mengikut-sertakan petani sejak perencanaan, pelaksanaan, pemantauan evaluasi dan perbaikan.
3. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan.
4. Membangun komunikasi dan kerja sama yang baik antar pemerintah dengan berbagai komponen masyarakat, untuk dapat saling mengisi dalam mewujudkan tujuan bersama.

Untuk itu sistem yang selama ini didisain untuk pola yang sentralistis dan instruktif, pada era otonomi dan globalisasi ini perlu disesuikan kepada pola yang partisipatif. Penyesuaian ini memerlukan kemauan, kemampuan intelektual dan komitmen untuk berubah dan harus dimulai dari lingkungan kita masing-masing, untuk selanjutnya ditularkan kepada mitra kerja dalam kalangan yang lebih luas. Melalui upaya tersebut disertai tekad yang kuat untuk membangun bangsa, maka ketahanan pangan nasional dapat kita wujudkan. **

(Rujukan; BKP Deptan ; Litbang Deptan)

Eko Ari Bowo
Posted on 25th November, 2011

:)

Widyawati / 101111238
Posted on 25th November, 2011

KETERSEDIAAN PANGAN INDONESIA
Pangan merupakan kebutuhan primer yang mutlak harus di penuhi, pangan merupakan masalah yang menyangkut hajat orang banyak. Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat mengancam keamanan sosial. Dan kendali pengelolaannya berada pada tangan pemerintah. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia secara otomatis juga meningkatkan kebutuhan pangan yang harus dipenuhi setiap harinya. Pemilihan bahan pangan pokok dan peningkatan keragaman pangan konsumsi juga turut berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional.
Bagaimanakah Gambaran pangan di indonesia 2011?

(gambar tak terdeteksi)

Gambar 1. Produksi Pangan Nabati Indonesia
Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.
Khusus Indonesia, produksi bahan pangan yang terdiri dari: padi, jagung dan ubi kayu meningkat selama 2003 sampai dengan 2008. Pertumbuhan rata-rata komoditas tersebut masing-masing 0,47%; 1,12% dan 0,39% per tahun selama periode tersebut. Akan tetapi, untuk bahan pangan ubi jalar mengalami penurunan selama periode yang sama. Perkembangan produksi pangan tersebut beserta produksi bahan nabati lainnya ditunjukkan dalam gambar 1.
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2005 sebesar 218.868.791 Jiwa dan diperkirakan menjadi 227.516.121 Jiwa pada tahun 2008. Dengan jumlah produksi padi 54.151.000 Ton di tahun 2005, maka rasio antara jumlah produksi padi terhadap jumlah penduduk pada tahun 2005 adalah 247,4 Kg/Kapita/Tahun atau 0,7 Kg/Kapita/Hari. Pada tahun 2008, dengan jumlah produksi padi sebesar 59.877.000 Ton maka rasio tersebut menjadi 263,2 Kg/Kapita/Tahun atau 0,7 Kg/Kapita/Hari. Perhitungan ini menjukkan bahwa sebenarnya ketersediaan beras di Indonesia sampai dengan 2008 masih memadai. Namun demikian, oleh karena semakin banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan-lahan lain (perumahan, bisnis, dan lain-lain) menyebabkan rasio tersebut menjadi terganggu. Terganggunya rasio antara jumlah produksi padi terhadap jumlah penduduk sebagaimana diutarakan di atas menyebabkan, pada tahun-tahun terakhir, Indonesia tergantung pada impor.
Masalah krisis pangan yang melanda dunia.
Dunia saat ini sedang dilanda krisis pangan. Badan Pangan Dunia (FAO) pada Maret 2008 mengidentifikasi krisis pangan semakin meluas. Saat ini tercatat 36 negara langka pangan. Kelangkaan ini bahkan telah menyulut gejolak sosial, seperti di Meksiko, Maroko, Seegal, Uzbekistan, Etiopia, Pantai Gading, Guinea, Mauritania, Yaman, Filipina, dan Korea Utara.

(gambar tak terdeteksi)
Gambar 2. Negara beresiko terkena krisis pangan dunia
Indonesia juga mengalami krisis pangan. Meski krisis pangan kita tak separah negara-negara tersebut, bukan berarti kita boleh berlega hati. Lihat saja, selama 2006-2007 media massa sering melaporkan kondisi rawan pangan dan gizi buruk di beberapa daerah. Ketergantungan kita pada pola makan beras dan terigu juga semakin tinggi. Beberapa waktu lalu kita sempat mengikuti pro kontra impor beras. Belum lagi impor gandum atau terigu kita yang dari tahun ke tahun semakin tinggi.
Lantas apa yang terjadi bila ketersediaan dua bahan pangan ini – beras dan terigu – tak memenuhi kebutuhan nasional? Apa kita juga akan membiarkan negara kita chaos sebagaimana negara-negara yang sedang terlanda krisis pangan di atas? Semua permasalahan itu membutuhkan jawaban segera.
Ketersediaan pangan mempengaruhi hayat hidup orang banyak. Kita harus segera menemukan jalan keluar yang mampu menjawab ketergantungan kita pada bahan pangan tertentu, khususnya pangan impor, mengingat sewaktu-waktu negara pengekspornya bisa menghentikan pasokan. Belum lagi jika harga terus melambung dilihat dari kecenderungan pasar dunia saat ini.

Solusi
Diversifikasi pangan saat ini adalah kunci keberhasilan kita dalam mempertahankan ketahanan pangan. Mungkin tak perlu langsung berganti secara total dalam pola konsumsi kita. Berikan pemahaman kepada anak cucu kita bahwa Indonesia ini kaya dengan bahan baku pangan. Bila perlu campur 3 bagian beras dengan 1 bagian jagung atau singkong. Rasanya justru jadi luarbiasa, eksotis, dan nikmat.
Peningkatan Kapasitas produksi domestik, melalui : (1) pengembangan produksi pangan sesuai dengan potensi daerah, (2) peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pangan dengan teknologi spesifik lokasi, (3) pengembangan dan menyediakan benih/bibit unggul dan jasa alsintan, (4) peningkatan pelayanan dan pengawasan pengadaan sarana produksi, (5) peningkatan layanan kredit yang mudah diakses petani.
Pelestarian sumberdaya lahan dan air, melalui : (1) pengendalian alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian untuk mewujudkan lahan abadi, (2) sertifikasi lahan petani, (3) konservasi dan rehabilitasi sumberdaya lahan dan air pada daerah aliran sungai (DAS), (4) pengembangan sistem pertanian ramah lingkungan (agroforestry dan pertanian organik), (5) pemantapan kelompok pemakai air untuk peningkatan pemeliharaan saluran irigasi, (6) penataan penggunaan air untuk pertanian, pemukiman dan industri, (7) pengembangan sistem informasi bencana alam dalam rangka Early Warning System (EWS), (8) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya alam, (9) perbaikan dan peningkatan jaringan pengairan.
Penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk peningkatan daya beli pangan beragam dan bergizi seimbang.

Peningkatan kelancaran distribusi dan akses pangan. Peningkatan kelancaran distribusi dan akses pangan. Peningkatan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan pangan/pangan bersubsidi kepada masyarakat golongan miskin Peningkatan produk pangan yang berbasis pangan lokal. Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pemenuhan gizi seimbang melalui oraniasai kemasyarakatan (PKK, Posyandu, Kelaompok ibu mandiri, dll).
Negara indonesia merupakan negara yang dikaruniai dengan tanah yang subur, potensi lokal dalam menghasilkan bahan pangan dengan ragam alternatif sangatlah tinggi. Jadikan potensi ini untuk menjaga ketahanan pangan kita sendiri. Mari, ragamkan konsumsi pangan kita. Jangan terpaku pada satu jenis bahan pangan saja.
By Widyawati
101111238
FKM – UNAIR A 2011

Eko Ari Bowo/101111286
Posted on 25th November, 2011

:P

Eko Ari Bowo
Posted on 25th November, 2011

NAMA : Eko Ari Bowo
NIM : 10 1111 286
KELAS : A (Alih Jenis)

KETERSEDIAAN PANGAN
Ketersediaan pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainya.
Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.
Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.
A. Produksi
Pemerintah Indonesia telah mempromosikan produksi pertanian dan mengadopsi beberapa parameter perlindungan untuk para petani. Pertanian (termasuk peternakan, kehutanan dan perikanan) telah berkontribusi sekitar 13-15% pada Produk Domestik Bruto Indonesia dalam 4 tahun terakhir. Angka pertumbuhan sektor pertanian adalah sekitar 3,5% per tahun selama tahun 2004-2007, dan mencapai 4,8% pada tahun 2008. Ini dapat dibandingkan dengan keberhasilan sektor lain yang cukup tinggi dan memiliki kemungkinan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan ketahanan pangan, menurunkan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.

Beras merupakan makanan pokok utama di Indonesia dan 23% dari hasil pertanian adalah beras. Jagung dan ubi kayu adalah 2 komoditi yang cukup diperhitungkan untuk masa mendatang dan merupakan 13% dari total hasil pertanian. Gula merah, minyak kelapa sawit dan karet mencakup 19% dari total produksi pertanian. Hasil peternakan berkontribusi sebanyak 5% dari hasil pertanian dimana unggas merupakan komponen terbesar.
B. Tantangan utama pemenuhan kecukupan.
Laju peningkatan kebutuhan pangan lebih cepat dibandingkan dengan laju peningkatan kemampuan produksi. Disamping itu peningkatan produktivitas tanaman di tingkat petani relatif stagnan, karena terbatasnya kemampuan produksi, penurunan kapasitas kelembagaan petani, serta kualitas penyuluhan pertanian yang jauh dari memadai. Semakin terbatasnya kapasitas produksi pangan nasional, disebabkan oleh: (i) berlanjutnya konversi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian; (ii) menurunnya kualitas dan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan; (iii) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air untuk produksi pangan akibat kerusakan hutan; (iv) rusaknya sekitar 30 persen prasarana pengairan, dimana seharusnya dilakukan rehabilitasi sebanyak 2 kali dalam 25 tahun terakhir; (v) persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor industri dan pemukiman; (vi) kerusakan yang disebabkan oleh kekeringan maupun banjir semakin tinggi karena fungsi perlindungan alamiah telah sangat berkurang; (vii) masih tingginya proporsi kehilangan hasil panen pada proses produksi, penanganan hasil panen dan pengolahan pasca panen, masih menjadi kendala yang menyebabkan penurunan kemampuan penyediaan pangan dengan proporsi yang cukup tinggi; (viii) perubahan iklim; dan (ix) persaingan antara pangan untuk konsumsi dan produksi biofuel.

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan lain yang perlu dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Tahun 2015 penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 247,6 juta jiwa. Apabila kebutuhan pangan untuk penduduk ini tidak dapat terpenuhi maka akan mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan.

C. Strategi untuk meningkatkan ketersediaan pangan

Kebijakan ketersediaan pangan secara nasional tahun 2005-2009 diarahkan kepada beberapa hal yaitu: (i) Meningkatkan kualitas sumberdaya alam dan lingkungan; (ii) Mengembangkan infrastruktur pertanian dan pedesaan; (iii) Meningkatkan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri; dan (iv) Mengembangkan kemampuan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat.

Di bawah ini adalah kegiatan operasional kunci yang dilakukan untuk menjamin dan meningkatkan ketersediaan pangan adalah:
1. Pengembangan lahan abadi 15 juta ha lahan sawah beririgasi dan 15 juta ha lahan kering.
2. Pengembangan konservasi dan rehabilitasi lahan.
3. Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai.
4. Pengembangan dan penyediaan benih, bibit unggul, dan alat mesin pertanian.
5. Pengaturan pasokan gas untuk memproduksi pupuk.
6. Pengembangan skim permodalan bagi petani/nelayan.
7. Peningkatan produksi dan produktivitas (perbaikan genetik & teknologi budidaya).
8. Pencapaian swasembada 5 komoditas strategs: padi (swasembada berkelanjutan), jagung (2008), kedelai (2011), gula (2009), dan daging (2010).
9. Penyediaan insentif investasi di bidang pangan termasuk industri gula, peternakan, dan perikanan.
10. Penguatan penyuluhan, kelembagaan petani/nelayan dan kemitraan.

Rima Kusuma Wardhani
Posted on 26th November, 2011

RIMA KUSUMA WARDHANI
101111275
VA
TUGAS :
KETERSEDIAAN PANGAN
Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dengan keunggulan di bidang agraris, hasil-hasil bumi dan laut yang melimpah ternyata tidak mampu mengimbangi dengan jumlah ledakan penduduk yang tiap tahun semakin bertambah banyak. Sekarang ini meskipun berlatar belakang negara agraris namun masih banyak penduduk Indonesia yang terancam atau mengalami kelaparan. Masih banyak pula masyarakat Indonesia yang hidup dalam zona rawan pangan. Sebagai negara yang memiliki penduduk terbesar keempat di dunia, masalah ketersediaan pangan tentu menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia juga terus bertambah, dan belakangan ini malah lebih cepat tingkat pertumbuhannya. Menghadapi masalah pelik ini, semua jajaran pemerintahan harus menyiapkan langkah-langkah sistematis. Pulau Jawa terutama provinsi Jawa timur dan Jawa Barat sebagai daerah penghasil komoditas beras terbesar di Indonesia ternyata tidak mampu mencukupi kebutuhan beras yang merupakan sumber bahan pangan utama masyarakat Indonesia. Import dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan beras yang semakin naik. Dengan beras import yang kualitas lebih baik dan murah tentunya masyarakat akan lebih memilih membeli beras import daripada beras lokal. Padahal dengan dilakukan import di sisi petani sangat merugikan karena akan mengurangi pendapatan petani. Selain itu juga berdampak terhadap perkembangan ekonomi Indonesia tentunya. Dengan perkembangan strategi di bidang produksi pangan melalui program yaitu :
• Program swasembada : intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi.
• Diversifikasi pangan : horizontal → pengembangan budidaya.
Vertikal → pengembangan teknologi pengolahan.
Dengan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi pangan yaitu sumber daya alam berupa kuantitas dan kualitas lahan, air dan perairan, kelautan, hayati flora dan fauna. Sumber daya manusia dengan kuantitas jumlah penduduk trend pekerja di bidang pertanian, kualitas pendidikan, ketrampilan, status gizi dan kesehatan. Sumber daya teknologi berupa alsitan, paket teknologi tanaman, ternak dan perikanan. Sumber daya kelembagaan dengan adanya penyalur saprodi, penyalur kredit/modal, fasilitas pasar /koperasi/asosiasi, fasilitas informasi dan informasi litbang. Sedangkan faktor lainnya yaitu sosial ekonomi budaya masyarakat misalnya image berternak kelinci dimana image kelinci sebagai peliharaan kemudian digunakan sebagai bahan pangan membuat masyarakat ngeri padahal nilai gizi kelinci lebih baik dibandingkan ayam. Politik dan hankam dengan kebijakan-kebijakan subsidi, pengaturan harga dengan memproteksi produksi didalam negeri dan keamanan negara. (Dr. Anis Catur, 2011)
Selain produk-produk unggulan diatas pengembanggan produksi pangan lainnya di Indonesia berdasarkan kondisi geografis dan kesuburan lahan serta kesesuaian jenis pangan. Untuk di jawa dan Bali terkonsentrasi pada holtikultura dan pengembangan sayur dan buah. Di pulau Sumatra terkonsentrasi pada perkebunan dan pengembangan sayur-buah serta tanaman pangan yang memungkinkan. Di pulau Kalimantan digalakkan pengembangan perkebunan terutama kelapa sawit dan peningkatan pemanfaatan lahan gambut untuk produksi pangan. Di sulawesi dan nusa tenggara terutama untuk ternak hewan ruminansia besar dan burung unta. Di Maluku dan Papua dikonsentarsikan perikanan, perkebunan dan tanaman pangan terutama di DAS Memberamo. Hal tersebut diharapkan dapat menambah dan mengganti ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia dengan kualitas yang lebih baik dibandingan sumber bahan pangan sebelumnya. Selain itu usaha menggalakkan perkembangan pertanian indonesia dan menggalakkan bahan pangan lain selain beras sebagai sumber alternatif bahan pangan utama seperti jagung yang juga merupakan bahan pangan utama namun hanya di salah satu suku di Indonesia yaitu etnis suku madura yang menggunakan. Kandungan gizi jagung juga bagus, jagung juga sebagi sumber makanan bagi penderita diabetes tentunya lebih aman dikonsumsi. Jika dibandingkan dengan kandungan karbohidrat beras memang lebih sedikit namun kandungan protein jagung lebih tinggi daripada beras. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan. Membuktikan bahwa selain untuk bahan pangan jagung juga bisa digunakan untuk industri. Selain itu beras merah juga bisa digunakan sebagai bahan alternatif berikutnya karena kandungan proteinnya yang lebih tinggi. Memiliki indeks glikemik rendah yang tentunya aman bagi orang memiliki potensi diabetes maupun non-diabetes, Karena kandungan seratnya yang tinggi itulah nasi merah tidak meningkatkan gula darah secara drastis. Selain unggul dalam kandungan serat, nasi merah pun memiliki kandungan vitamin dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan nasi putih. Sebagai contoh, beras merah kaya akan vitamin B, vitamin E, magnesium, dan zat besi yang diperlukan tubuh serta beras merah mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain . Asalkan dikembangkan dengan program perkembangan strategi pangan dan sosialisasi sumber bahan pangan lainnya yang benar akan didapatkan solusi permasalahan pangan bagi masyarakat, peningkatan kehidupan perekonomian petani dan tentunya peningkatan perekonomian bangsa Indonesia tanpa harus melakukan import bahan pangan. Cukup bahan pangan hasil negara sendiri dan cintailah produk Indonesia sebagai perwujudan cinta tanah air.

Leave your Comment