Tugas Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi (Alih jenis IB)

Buatlah artikel ilmiah populer (bentuk opini) tentang “Ketersediaan Pangan”. Tulis dalam 500-700 kata (words). Masukkan dalam comment berikut.

Terima kasih

Comments

Auliya Firdha Chusna Arifa
Posted on 17th November, 2011

Strategi Penyelesaian Krisis Pangan (Pertanian) di Indonesia
oleh:
Auliya Firdha Chusna arifa
100911240
IKMB 09

Pengantar
Merencanakan strategi untuk menyelesaikan permasalahan pangan yang dihadapi Indonesia sangat penting mengingat :
1. Pangan merupakan hal fundamental yang dibutuhkan manusia untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
2. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus 2010 mencapai 237,6 juta jiwa atau 3,5 juta lebih dari prediksi sebelumnya. Ledakan jumlah penduduk ini membawa konsekuensi luas, terutama pada kewajiban pemerintah menyediakan pangan, permukiman, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, dan fasilitas dasar lain yang dibutuhkan masyarakat .
3. Kebutuhan pangan dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan ledakan jumlah penduduk yang terus meningkat. Jika tidak diselesaikan secara strategis dan jangka panjang, maka akan terjadi krisis multi dimensi yang sifatnya konstruktif.
4. Model pemecahan permasalahan pangan yang dilakukan Pemerintah saat ini tidak efektif dan sifatnya jangka pendek.
Model Pemecahan masalah
Terdapat dua model pemecahan masalah untuk menyelesaikan krisis pangan dan masing-masing model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Model pertama ialah pemecahan masalah yang sifatnya pragmatis atau pemecahan masalah yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan yang sifatnya mendesak, tanpa mengkalkulasikan implikasi jangka panjang. Hal yang disoroti dalam model ini ialah pada aspek urgensi pemenuhan kebutuhan, tetapi sangat minimal dalam memeta potensi-potensi sumber daya internal yang bisa dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan. Paradigma dalam model ini ialah pemenuhan kebutuhan sangat mendesak dan tidak ada waktu untuk memikirkan potensi-potensi internal lebih dalam, sehingga yang dipeta adalah sumber daya mana yang sudah tersaji yang bisa langsung dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan. Paradigma model pemecahan masalah ini dipakai oleh Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan Beras. Beberapa pekan yang lalu Pemerintah Indonesia melakukan Impor beras dari Vietnam dan India untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Kebijakan impor ini dilakukan karena terdapat permasalahan produksi pertanian dalam negeri yang berimplikasi pada terbatasnya kapasitas produksi yang tidak sebanding dengan permintaan pasar. Kekurangan dari model ini jika diterapkan dalam jangka panjang ialah tumbuhnya ketergantungan terhadap negara penghasil sumber daya dan hal ini berimplikasi pada politik (Politik Ekonomi).
Model pemecahan masalah yang kedua adalah model pemecahan masalah filosofis atau jangka panjang. Penekanan model ini adalah pada kuatnya analisis terhadap potensi-potensi internal dan adanya upaya pengembangan potensi – potensi tersebut untuk memenuhi kebutuhan. Model yang kedua ini lebih mengusung pada upaya kemandirian dalam memenuhi kebutuhan. Bagaimana suatu negara bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya dengan cara mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam ruang lingkup negaranya, baik itu potensi SDA maupun SDM. Kelebihan dari model yang kedua ini ialah kuatnya negara (mandiri) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan bersifat jangka panjang. Titik tekan model kedua ialah pada upaya pengembangan potensi sumber daya. Membutuhkan waktu untuk melakukan pengembangan. Kebutuhan waktu yang cukup panjang dan sumber daya lain untuk menunjang pengembangan sumber daya menjadi kelemahan pada konteks kebutuhan yang mendesak. Kelebihan metode ini jika pada konteks negara berkembang ialah pada proyeksi masa depan yang mampu menjadikan negara menjadi mandiri, lepas dari ketergantungan terhadap asing dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Model pemecahan masalah yang sifatnya filosofis jika dikontekskan pada masalah pangan (pertanian) adalah pengintegrasian sistem pertanian dari proses produksi sampai distribusi dengan berbasis kualitas. Misalnya dalam proses produksi, bagaimana penggunaan pengetahuan dan alat-alat modern untuk mengolah lahan pertanian. Banyak variabel pembangunan yang harus diperhatikan hubungan sistemiknya, sehingga menjadi formula pembangunan yang ideal.
Alternatif Solusi
Dari model pemecahan masalah yang dijelaskan secara umum di atas ditegaskan ada dua model pemecahan, yaitu yang sifatnya mendesak (pragmatis) dan jangka panjang (filosofis) dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing dalam menyelesaikan masalah. Pemecahan masalah hendaknya mengasumsikan penyelesaian yang sifatnya jangka pendek dan jangka panjang. Dalam menyelesaikan masalah krisis pangan, penulis memakai kombinasi dua model pemecahan masalah di atas dengan landasan untuk mereduksi dan menutupi kekurangan dari masing-masing model pemecahan. Jangka pendek yang tidak memikirkan dampak jangka panjang, begitu juga sebaliknya. Untuk menegaskan strategi kombinasi model tersebut perlu kiranya kita memeta kondisi indonesia secara umum sebagai pijakan untuk melakukan prosentase dari masing-masing model pemecahan tersebut. Indonesia merupakan negara dengan brand image negara agraris. Kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, curah hujan yang baik. Hal tersebut membuktikan bahwa indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri ke depannya. Permasalahan SDM yang menjadi kendala yang cukup besar. Ketidak mampuan SDM dalam mengelola potensi kekayaan alam indonesia berimplikasi pada minimnya produksi pangan indonesia. Kebutuhan pangan yang mendesak yang disebabkan oleh ledakan penduduk yang kurang produktifnya proses produksi pangan di indonesia menjadi asumsi bahwa Indonesia harus mengambil kebijakan impor dalam jumlah yang terbatas. Orientasi impor hanya untuk memenuhi kebutuhan unsich. Punya batas waktu dan kuota. Model pemecahan masalah yang sifatnya filosofis yang berbasis pada upaya pengembangan potensi-potensi sumber daya internal sangat ditekankan. Model pemecahan masalah filosofis harus memiliki acuan masalah yang jelas. Objek mana yang hendak dipecahkan dengan model seperti ini. Untuk itu pembukaan konstruksi pangan di indonesia harus dilakukan. Jika dilihat, struktur pemenuhan pangan di Indonesia, bahwa kebutuhan pangan banyak ditunjang dari Desa sebagai daerah yang menghasilkan pertanian (Sayur, Buah, Beras, Gula, dls). Desa merupakan basic perekonomian nasional. Desa menunjang kebutuhan orang-orang Desa dan Kota. Permasalahan yang terjadi ialah banyak orang yang tidak tertarik dengan desa karena kurang begitu prospek secara ekonomi dan mobilitas, sehingga banyak orang memilih urbanisasi. Dampaknya desa sebagai lumbung pangan ditinggalkan. Implikasi besarnya ialah krisis pangan.
Revitalisasi Desa
Berpijak pada model pemecahan masalah yang sifatnya filosofis. Sedangkan kajian kita sudah jelas, yaitu desa. Rumusan masalah dalam mengatasi krisis pangan yang sifatnya jangka panjang adalah bagaimana melakukan revitalisasi desa? Revitaliasi berarti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya . Dengan mengelola desa dengan baik sehingga orang tertarik ke desa dan menghidupkan ekonomi pedesaan yang berbasis agraris menghasilkan pangan. Konseptualiasi Revitalisasi sendiri perlu didalami lagi dengan matang. Prinsip yang penulis tawarkan untuk dijadikan pijakan dalam revitalisasi ialah,
1. Orientasi revitalisasi pada produktifitas pangan
2. Produksi yang berbasis pengetahuan dan teknologi modern
3. Pengaturan yang baik terhadap segala kegiatan ekonomi (distribusi, investasi) dengan dasar pemerataan
4. Pembangunan infrastruktur (jalan, pusat pendidikan, pusat riset, dls)
5. Arus informasi yang berjalan baik
Gambaran dari prinsip-prinsip tersebut ialah bagaimana menciptakan Desa modern yang kuat dalam ekonomi pertanian yang didukung oleh pengetahuan, teknologi modern dan infrastruktur yang menunjang dalam produksi dan distribusinya. Desa modern ini kelak menjadi penunjang pangan bagi wilayah lainnya.

Widi Jumaida
Posted on 17th November, 2011

Nama : Widi Jumaida
Nim : 101111332
Kelas : B (Alih Jenis)

Meningkatkan kesejahteraan dengan menjamin Kecukupan serta ketersediaan pangan dan gizi masyarakat

Kesepakatan global yang dituangkan dalam Milenium development Goals (MDG’s) memiliki tujuan besar untuk mengurangi bencana kelaparan dan kemiskinan. Berbicara tentang hal ini tentunya tidak terlepas dari bagaiman masalah pangan bahkan juga gizi yang menjamin peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat mencerminkan bagaimana keberhasilan pembangunan manusia dan masyarakat seluruhnya.
Di Indonesia Ketersediaan pagannya dapat dikatakan cukup besar dan berasal dari produksi sendiri, Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut, dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi, Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. namun ketersediaan pangan yang melimpah melebihi kebutuhan pangan penduduk tidak menjamin bahwa seluruh penduduk terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. Sehingga pada kenyataannya masih banyak penduduk di Indonesia yang kebutuhan pangan dan gizinya belum terpenuhi, kasus busung lapar menunjukkan adanya permasalahan ketahanan pangan.
Hal ini berhubungan erat dengan ketersediaan dan tingkat kualitas konsumsi pangan. Selain dari pada itu stabilitas ketersediaan pangan di Indonesia masih bergantung pada musim misalnya pada paceklik musiman. Ada saat bahan pangan tidak ada, tidak beli karena tidak punya uang, dan tidak bisa tanam karena climate change (perubahan iklim), selain dari pada itu akses dan keterjangkauan kualitas konsumsi pangannya masih sangat rendah, juga sangat mempengaruhi kebutuhan pangan dan gizi penduduk.
Adanya perbedaan-perbedaan permasalahan potensi atau sumberdaya di setiap daerah mengharuskan adanya kebijakan pangan terutama terkait dengan ketersediaan pangan dan gizi secara spesifik di daerah, agar program dapat dilaksanakan dengan baik, tepat sasaran dan berdampak nyata.
Dalam hal ini biasanya pemerintahan hanya fokus pada pangan sumber karbohidrat dan energi. Yang penting harga beras murah, padahal bagaimana dengan sumber protein, sedangkan harga daging gila-gilaan, lalu bagaimana dengan sumber zat gizi yang lain?? Seperti zat pengatur, yaitu vitamin dan mineral. Tentu saja air yang cukup. Factor ekonomi menjadikan pola daya fikir masyarakat sekarang asal kenyang saja dan murah, lebih ke selera kantong dan perut, sehingga tidak terpikir gizi terpenuhi atau belum.
Mungkin ketahanan pangan nasional dapat membaik dengan dilakukannya peningkatan produksi pangan, Meskipun kemandirian pangan cukup baik ketergantungan pangan terhadap impor beberap komuditas seperti beras, jagung kedelai dan susu yang relative tinggi mungkin diperlukan adanya adopsi tekhnologi baik dalam perbenihan, pembibitan, pengolahan hasil, sehingga produktivitas dan mutu impor dapat ditingkatkan , Pemerintah juga perlu mengintervensi mekanisme pasar yang tidak berjalan normal. Misalnya, ketika harga pangan membubung tinggi, peran untuk menahan laju harga menjadi penting, Perlu diperhatikan pula aksesibilitas ekonomis, dalam arti apakah harganya terjangkau dan tidak secara financial, atau makanannya ada, tetapi harganya mahal, tetap tidak aksesibel. Perlu peran pemerintah bagaimana caranya agar dengan daya beli yang terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Program pemerintah untuk menyediakan pangan yang murah bagi masyarakat dengan taraf ekonomi rendah diharapkan tidak saja berorientasi kepada pemenuhan kalori, tetapi seharusnya diimbangi dengan program penyediaan gizi protein. Sehingga tidak ada ada lagi Nelayan yang kerjanya menangkap ikan tidak makan ikan, karena semua dijual untuk membeli kebutuhan pangan yang lain. Kebijakan yang lain adalah perlunya peningkatan informasi mengenai gizi. Beberapa survey daerah menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi masih kurang, Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan menjadi penghambat upaya perbaikan gizi.

Sulistio Dyah Setyowati
Posted on 20th November, 2011

Nama : Sulistio Dyah Setyowati
NIM : 101111339/ 44
Kelas : VB Alih Jenis

KACANG HIJAU, KOMODITAS PALAWIJA ANDALAN KABUPATEN JOMBANG MASA DEPAN

Kacang Hijau atau nama Latinnya Vigna radiata atau nama lainnya mung bean, green bean, green gram, golden gram, green soy mongo, munggo, monggo, merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang berasal dari Asia Selatan (Banglades, India, dan Pakistan). Sekarang komoditas ini sudah dibudidayakan di seluruh kawasan tropis di dunia. Jenis kacang ini disebut kacang hijau, karena kulit bijinya berwarna hijau. Meskipun sebenarnya ada varietas yang kulit bijinya berwarna merah kecokelatan {red mung bean). Meskipun kulit bijinya bukan berwarna hijau, tetap saja namanya kacang hijau. Varietas kacang hijau yang dibudidayakan di Indonesia, hanya yang berkulit biji hijau. Kacang hijau adalah tema semusim/ dengan sosok mirip tanaman kedelai.
Sebagai komoditas kacang-kacangan, kacang hijau termasuk genus Vigna, komoditas ini masih satu genus dengan kacang bogor (Vigna subterranea), kacang asuki atau kacang merah (Vigna angularis), kacang panjang ( Vigna ungulculata sub spesies sesquipedalis), dan kacang tholo kacang tunggak, (Vigna unguiculata sub spesies ungulculata). Salah satu perbedaannya, polong kacang bogor tumbuh di dalam tanah seperti halnya kacang tanah (Arachis hypogaea). Sementara kacang panjang, kacang asuki, dan kacang tunggak tumbuh merambat (membelit). Seperti halnya kedelai, kacang hijau tumbuh tegak, hingga tidak perlu ajir sebagai tiang panjatan, dan polongnya tumbuh di atas permukaan tanah.
Kacang hijau bisa tumbuh subur di daerah Tropis dengan ketinggian 250 m- 500 m diatas permukaan laut. Kacang hijau ditanam pada awal musim penghujan, atau bersamaan dengan penanaman jagung setelah tanam padi berakhir (pada sawah tadah hujan). Budidaya kacang hijau pada awal musim penghujan, akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman kurang baik. Sementara intensitas serangan hama ulat juga cukup tinggi. Kacang hijau sudah bisa dipanen sekitar tiga bulan sejak penanaman. Beberapa varietas unggul kacang hijau, sudah bisa dipanen pada umur 2,5 bulan setelah tanam. Beberapa varietas unggul kacang hijau yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian antara lain Arto Ijo, Bakti, Manyar, Merak, No. 129, No. 119, Slwalik, Walet, Betet, dan Parkit. Dari 10 varietas tersebut, hanya empat varietas yang paling banyak dibudidayakan petani, yakni walet, manyar, merak dan No. 129.
KOMODITAS KACANG HIJAU DI KABUPATEN JOMBANG.
Wilayah Kabupaten Jombang mempunyai letak geografi antara 5.20° - 5.30° Bujur Timur dan antara :7.20′ dan 7.45′ lintang selatan dengan luas wilayah 115.950 Ha atau 2,4 % luas Propinsi Jawa Timur.(Wikipedia). Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1750 - 2500 mm pertahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya. (Wikipedia).
Dengan keadaan geografis seperti diatas wilayah Kab. Jombang sangat cocok bila digunakan untuk penanaman kacang hijau. Selama ini komoditi andalan Kab Jombang adalah padi,tebu, jagung serta kacang tanah, . Kacang hijau menempati posisi ke-5 setelah kacang tanah. Tahun 2006 Kab. Jombang hanya mampu menghasilkan 48 ton kacang hijau( Sumber data Dinas Kab Jombang 2008), padahal kebutuhannya mencapai 65 ton per tahun, sehingga harus dicukupi dari daerah lain.
Selama ini kendala utama yang dihadapi petani dalam menanam kacang hijau adalah :
1. Hama ulat yang sangat intensif menyerang tanaman ini mulai dari beberapa minggu setelah tanam, sampai panen. Penulis bahkan mengetahui sendiri kacang hijau yang baru dipanen dari sawah, kemudian dijemur, ulatnya sangat banyak jumlah maupun jenisnya. Selama ini sudah ada beberapa pestisida yang bisa menanggulangi hama ulat tersebut, tetapi dampak yang ditimbulkan tidak jarang bukan hanya ulatnya saja yang mati, tetapi tanamannya juga mati. Beberapa petani ada yang mencoba dengan melepaskan beberapa unggas mereka terutama ayam kampung ke areal persawahan. Ini juga tidak menyeleseikan masalah karena unggas tidak hanya memakan ulat tetapi juga memakan kacang kedelai yang hampir panen.
2. Harga kacang hijau selama 5 tahun terakhir ini cenderung tidak ada peningkatan, kalaupun meningkat hanya sekitar Rp1.000/ kg. Padahal harga benih, pupuk, pestisida meningkat drastis.
Dua hal diatas merupakan kendala utama yang dihadapi petani Kacang hijau, sehingga produksinya dari tahun ke tahun tidak sebanyak padi maupun tebu. Padahal Komoditas ini menjadi sangat strategis dikembangkan, karena nilai gizinva yang tinggi. Pada kacang hijau terdapat zat protein, karbohidrat, vitamin serta kaya serat. Kacang hijau bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan olahan, misalnya: onde- onde, bubur kacang hijau, mie sun, maupun tepung hungkwe.
Salah satu potensi kacang hijau yang masih bisa kita kembangkan adalah, sebagai bahan baku tahu dan tempe. Tahu kacang hijau akan lebih tinggi kualitas dan nilainya dibanding tahu kedelai. Kualitas tempe kacang hijau pun juga akan lebih tinggi dibanding dengan tempe kedelai. Apabila sedikit demi sedikit kacang hijau bisa menjadi substitutor kedelai, maka angka impor kedelai pun bisa sedikit demi sedikit ditekan.
Semoga Pemerintah maupun Ilmuwan dalam bidang Biologi berhasil menemukan solusi untuk kedua masalah diatas sehingga produktifitas kacang hijau bisa menjadi lebih optimal.

Agustina Zahrotun Nisa'
Posted on 21st November, 2011

Nama : Agustina Zahrotun Nisa’
Nim : 101111301
Kelas : IB (Alih Jenis)

“MENGOPTIMALKAN KETAHANAN PANGAN DENGAN PROGRAM DIVERSIFIKASI PANGAN”
Negara indonesia adalah negara yang mempunyai luas wilayah 1919440 km2 sebagian besar mata pencaharian penduduk indonesia adalah pertanian dan perkebunan. tanaman pangan yang di hasilkan negara indonesia diantaranya adalah beras, ubikayu, avokad, buncis, kentang, cengkeh, coklat, durian, jagung, kacang tanah, kedelai, kelapa, kelapa sawit dan masih banyak lagi. dengan hasil – hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah seharusnya mayarakat indonesia tidak lagi kekurangan atau kesulitan dalam pemenuhan pangan dalam kehidupan sehari-hari. namun tidak demikian, kenyataannya penduduk indonesia masih banyak yang mengeluh dengan keadaan pangan di indonesia. Salah satu masalah yang sekarang sedang dihadapi oleh masyarakat indonesia adalah tingginya harga beras, berbagai macam faktor yang menyebabkan harga beras naik. penduduk indonesia sangat tergantung dengan ketersediaan beras, karena mereka menganggap bahwa beras adalah satu-satunya makanan pokok. Padahal pangan lokal seperti sagu, ubi, jagung dan lainnya memiliki nilai gizi tidak kalah dengan beras. bahkan ada item tertentu justru lebih tinggi dibandingkan beras atau gandum. Anggapan masyarakat tentang beras adalah satu-satunya makanan pokok di indonesia harus di ubah dengan cara mengubah pola pikir masyarakat bahwa pangan lokal lainnya seperti ubi jagung sagu dan lain sebagainya juga bisa menggantikan kedudukan beras sebagai makanan pokok selain beras yang juga mempunyai nilai gizi yang tidak kalah dengan beras. Jika cara ini dimanfaatkan sebenarnya Indonesia tidak perlu impor beras. Bahkan dapat mengekspor beras. Istilah rawan pangan tidak akan terjadi di Indonesia. Namun kenyataanya Cara pandang masyarakat di indonesia bahwa kalau makan ubi atau jagung itu orang miskin, oleh karena itu makanan jagung maupun ubikayu semakin ditinggalkan. Hal tersebut harus diubah dengan mensosialisasikan manfaat dan kandungan gizi makanan non beras, dengan cara kampanye makanan non beras juga akan membantu ketahanan pangan di Indonesia, karena setiap daerah tak lagi bergantung pada konsumsi beras yang tinggi. Jika masyarakat memilih mengkonsumsi sumber karbohidrat selain beras tersebut, maka hal itu menunjukkan diversifikasi pangan di Indonesia cukup berhasil.Namun ada beberapa hal yang menjadi hambatan diversifikasi pangan dilakukan yaitu:
1. rasa beras memang lebih enak dan mudah di olah
2. ada konsep makan yang keliru, belum dikatakan makan kalo belum makan nasi
3. beras sebagai komoditas superior
4. teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras (pangan lokal) masih terbatas
5. kebijakan pangan yang tumpang tindih
6. adanya kebijakan impor gandum, jenis produk development cukup banyak dan promosi yang gencar.
Diversifikasi pangan memang merupakan salah satu persyaratan pokok dalam konsumsi pangan yang cukup mutu dan gizinya. Dan usaha menganekaragaman pangan masyarakat sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Beberapa tonggak sejarah yang penting dalam usaha penganeka-ragaman pangan, pada tahun 1950an telah dilakukan usaha melalui panitia perbaikan makanan rakyat tahun 1963 dikembangkan usaha perbaikan gizi keluarga, tahun 1974 dikeluarkan inpres 14/1974 tentang perbaikan menu makanan rakyat yang kemudian disempurnakan dengan inpres 20/1979, melanjutkan proses sebelumnya pada pelita VI telah pula dikembangkan program diversifikasi pangan dan gizi (DPG). Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan keanekaragaman sosial, ekonomi, kesuburan tanah dan potensi daerah memungkinkan terciptanya disersifikasi konsumsi pangan (DKP). keberhasilan kebijakan DKP penting tidak hanya untuk meningkatkan sumber daya manusia, tetapi juga berdampak positif pada ketahanan pangan, pendapatan petani dan agroindustri pangan serta dapat menghemat devisa negara. oleh karena itu, terwujudnya diversifikasi konsumsi pangan sangat tergantung dari para pemerintah baik dipusat maupun didaerah. keanekaragaman hayati indonesia berupa tumbuhan, legume, kacang-kacangan buah-buahan dan tumbuhan lalapan sangat banyak dan kaya sumber karbohidrat, protein vitamin dan mineral. panggilan potensi tersebut dilaksanakan dengan pengembangan teknologi pengolahan dan produk pangan, yang melibatkan swata terutama para industriawan. untuk selanjutnya, program diversifikasi konsumsi pangan seyogyanya dijadikan gerakan bersama yang melibatkan semua unsur, tidak hanya pemerintah tetapi juga swasta LSM dan masyarakat.

Dewi Nurita
Posted on 21st November, 2011

Nama : Dewi Nurita
NIM : 101111334
Kelas : B (Alih Jenis)

Penganekaragaman Makanan Pokok Selain Beras

kenapa orang indonesia masih mengandalkan dan membiasakan diri makan nasi?
Padahal masih banyak sumber makanan pokok lain yang bisa dimanfaatkan sebagai mekanan pengganti beras dan mudah dalam produksi serta penanamannya. lihat saja singkong yang berlimpah dan mudah ditanam serta harganya yang murah meriah. beras yang jumlahnya terbatas serta sulit untuk diproduksi menyebabkan harganya kian lama kian kian melambung naik seirama dengan pertambahan jumlah penduduk dan kebiasaan pola makan masyarakat yang tidak mengalami perubahan. Selain itu semakin hari lahan pertanian untuk produksi padi kian berkurang karena perubahan fungsi lahan menjadi perumahan atau lahan industri.
Selama ini masyarakat Indonesia memiliki budaya, belum merasa makan bila belum makan nasi. Padahal mereka sudah makan berbagai jajanan, seperti sejenis kue terbuat dari singkong, ubi atau sagu. Karena itu, perlu dibudayakan makanan alternatif sebagai pengganti makanan pokok beras. Makanan pengganti beras bisa dibudayakan dalam keluarga, jika pagi hari cukup makan dengan singkong, ubi atau roti. Sebab makanan singkong, ubi, sagu, dan roti memiliki gizi cukup tinggi dan sama kadarnya dengan beras. Ketergantungan kita terhadap beras akibat kebijakan pemerintah menganjurkan masyarakat Indonesia memakan nasi.
Cara pandang masyarakat terhadap sumber pangan pokok dalam kurun waktu dua puluh lima tahun kebelakang seolah-olah digiring kedalam pandangan yang lebih sempit bahwa sumber pangan pokok masyarakat hanya beras. Sekitar sembilan puluh persen dari masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok. Hal ini membentuk keyakinan bahwa ketahanan pangan nasional ditentukan oleh ketersediaan beras. Akibat lainnya pengolahan bahan makanan pokok selain beras menjadi terbatas. Tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia (130/kap/h) menjadikan Indonesia sebagai negara pengkonsumsi beras tertinggi di dunia. Hal ini sering menyebabkan berkurangnya stok pangan nasional dan melemahkan ketahanan pangan nasional.

Dalam mengatasi permasalahan ini pemerintah lebih memilih jalan pintas dengan melakukan impor beras. Ketergantungan ini hanya akan membuat ketahanan pangan nasional menjadi rapuh dan berimbas pada kondisi perekonomian negara. Sebenarnya masih banyak solusi lain dari masalah ini. Misalnya dengan pengoptimalan bahan pangan lokal, perubahan citra bahan makanan pokok selain beras, penganekaragaman pangan, dll. Penganekaragaman ini juga diharapkan dapat memperbaiki kualitas pangan masyarakat, dan menjadikan perbaikan gizi masyarakat. Hal ini dikarenakan semakin beragam konsumsi masyarakat, suplai zat gizi masyarakat juga akan lebih lengkap dibandingkan dengan satu jenis bahan pangan saja. Beberapa daerah di Indonesia ada yang telah mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras. Seperti jagung (Madura), sagu (Maluku), ubi kayu (DIY), dan ubi jalar (Papua).
Pemerintah bersama masyarakat menciptakan berbagai resep masakan baru yang sederhana tapi enak dan bergizi tinggi agar pengeluaran masyarakat untuk biaya makan dan minum bisa rendah semurah-murahnya agar uang yang ada dapat ditabung dan digunakan untuk keperluan lain yang lebih penting seperti untuk pendidikan, kesehatan, meningkatkan kesejahteraan, dan lain sebagainya. Mulailah dari diri sendiri untuk tidak ketergantungan dan ketagihan makan nasi. usahakan berganti menu seperti makan nasi jagung, sereal, oat, mie instant, kentang tumbuk, mie jagung, mie ubi, ubi madu panggang, dan lain sebagainya. jika harga beras naik maka kita pun tidak akan banyak terpengaruh karena kita bisa makan yang lain. ketika yang lain juga naik, makan yang lainnya lagi, begitu seterusnya.

Nur Cholilah
Posted on 21st November, 2011

Nama : Nur Cholilah
NIm : 101111319
Kelas : Alih Jalur B

Ketahanan Pangan

Kondisi iklim yang ekstrim di berbagai belahan dunia baru-baru ini secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi ketersediaan pangan. Kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan, banjir serta bencana alam lainnya di berbagai wilayah dunia terutama di sentra-sentra produksi pangan, sangat mempengaruhi ketersediaan gandum dan tanaman bijian-bijian lainnya yang tentu saja berdampak pada ketersediaan produk pangan tersebut untuk marketing season 2010/2011.
FAO dalam press release-nya bersama-sama dengan WFP pada bulan September 2010, mengemukakan bahwa jumlah penduduk dunia yang menderita kelaparan pada tahun 2010 mencapai 925 juta orang. Situasi ini diperparah dengan semakin berkurangnya investasi di sektor pertanian yang sudah berlangsung selama 20 tahun terakhir, sementara sektor pertanian menyumbang 70% dari lapangan kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kekhawatiran akan makin menurunnya kualitas hidup masyarakat, bahaya kelaparan, kekurangan gizi dan akibat-akibat negatif lain dari permasalahan tersebut secara keseluruhan akan menghambat pencapaian goal pertama dari Millennium Development Goals (MDGs) yakni eradication of poverty and extreme hunger.
Sejak permasalahan ini memuncak pada tahun 2008, berbagai upaya, inisiatif dan aksi internasional dan regional telah banyak dilakukan. Upaya ini diharapkan dapat menyepakati suatu aksi global berupa tindakan kolektif, kemitraan dan komitmen yang dapat menjamin ketersediaan bahan pangan guna memenuhi kebutuhan hidup dan menjamin akses seluruh masyarakat atas bahan pangan yang dibutuhkan untuk hidup sehat dan layak termasuk upaya pendanaannya.
Dari berbagai inisiatif dan upaya tersebut, puncaknya adalah penyelenggaraan World Summit on Food Security pada bulan November 2009. Pertemuan tersebut menyepakati Declaration of the World Summit on Food Security yang menitikberatkan pada pelaksanaan Five Rome Principles for Sustainable Global Food Security yang secara garis besar menetapkan komitmen dan kesepakatan aksi bersama masyarakat global. Deklarasi tersebut juga mendudukan Committee on World Food Security (CFS) FAO sebagai platform internasional yang inklusif untuk menghadapi isu ketahanan pangan dan nutrisi global, serta sebagai komponen utama dari proses menuju kemitraan global untuk pertanian, ketahanan pangan dan nutrisi.
Bagi Indonesia, masalah ketahanan pangan sangatlah krusial. Pangan merupakan basic human need yang tidak ada substitusinya. Indonesia memandang kebijakan pertanian baik di tingkat nasional, regional dan global perlu ditata ulang. Persoalan ketahanan pangan dan pembangunan pertanian harus kembali menjadi fokus dari arus utama pembangunan nasional dan global. Oleh karena itu di tengah diplomasi internasional yang semakin menganggap penting isu ketahanan pangan sebagai agenda sentral, Indonesia mengambil peran aktif dalam menggalang upaya bersama mewujudkan ketahanan pangan global dan regional.
Upaya mengarusutamakan dimensi pembangunan pertanian, ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan ke dalam agenda pembangunan global juga masih diperjuangkan dalam perundingan putaran Doha (Doha Development Agenda) di WTO. Dalam berbagai kesempatan, Indonesia selaku koordinator G-33 secara aktif mengedepankan isu food security, rural development dan livelihood security sebagai bagian dari hak negara berkembang untuk melindungi petani kecil dari dampak negatif masuknya produk-produk pertanian murah dan bersubsidi dari negara maju, melalui mekanisme special products dan special safeguard mechanism.
Dimulai dari surat Presiden RI kepada Sekjen PBB bulan Maret 2008 sampai dengan menjadi inisiator dan fasilitator disetujuinya resolusi mengenai pembangunan pertanian dan ketahanan pangan pada SMU PBB ke-63 pada tahun 2008 (resolusi 63/235), SMU PBB ke-64 pada tahun 2009 (resolusi 64/224), dan SMU PBB ke-65 pada tahun 2010 (resolusi 65/178) merepresentasikan gambaran umum bahwa ketahanan pangan menempati posisi yang penting dalam diplomasi RI. Keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan diplomasi di bidang ketahanan pangan juga diyakini akan dapat memperkuat profil Indonesia secara umum di mata internasional sekaligus merupakan bagian dari strategi nasional. Diundangnya Indonesia pada KTT G-8 di L’Aquila bulan Juli 2009, serta partisipasi dalam perumusan serta pengesahan L’Aquila Joint Statement on Global Food Security pada KTT tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan internasional. Selain itu, sebagai anggota G-20, Indonesia juga berperan dalam penyusunan kesepakatan yang mendorong pembentukan trust-fund di Bank Dunia untuk mendukung inisiatif baru dalam ketahanan pangan.
Sebagai negara dengan komitmen yang tinggi untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan global, Indonesia juga telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan FAO pada bulan Maret 2009 sebagai bentuk dukungan Indonesia terhadap berbagai program peningkatan ketahanan pangan global dan pembangunan pertanian negara-negara berkembang lainnya terutama dalam kerangka Kerjasama Selatan-Selatan (South-South Cooperation), kerjasama teknis negara-negara berkembang (KTNB/TCDC) dan pencapaian goal dari MDGs. Penandatanganan LoI ini juga diharapkan akan semakin memperkuat peran Indonesia dalam membantu peningkatan pembangunan pertanian di negara-negara berkembang, terutama di negara-negara Asia Pasifik dan Afrika yang telah berjalan sejak tahun 1980, termasuk salah satu bentuk perwujudan komitmen Indonesia untuk merealisasikan partisipasinya dalam L’Aquila Joint Statement on Global Food Security.
Di samping itu, Indonesia juga terus mendesak agar negara-negara anggota FAO mengambil langkah dan inisiatif yang berarti untuk terus menjamin ketersediaan pangan global, menuju ketahanan pangan global. Diharapkan pada tahun 2050 akan cukup tersedia pangan bagi sekitar 9 miliar penduduk.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia berada pada posisi mendukung reformasi di tubuh FAO. Langkah-langkah penting untuk mendorong produksi pangan menuju ketahanan pangan agar terus diperbaharui dari waktu ke waktu, seiring dengan pergerakan isu-isu global. FAO ke depan diharapkan menjadi organisasi internasional yang transparan, ramah birokrasi, terdesentralisasi, dan efektif serta efisien.

SHEILA SACHAVANIA
Posted on 21st November, 2011

NAMA:SHEILA SACHAVANIA
NIM :101111304
KLS :B (ALIH JENIS)

ANCAMAN KRISIS PANGAN DI MASA MENDATANG

Mengingat setiap tahun terus terjadi pertumbuhan penduduk, sedangkan ketersediaan lahan tetap, bahkan semakin berkurang. Ini akibat perubahan lahan menjadi pemukiman ditambah lagi otonomi daerah yang diiringi pemekaran daerah yang memerlukan dukungan lahan.
Belum lagi cuaca ekstrim yang tidak mengenal musim, ancaman gunung meletus, demikian juga konversi lahan pertanian menjadi lahan perkebunan seperti sawit, karet, coklat dll. Kesemua ini memperburuk kondisi lahan pangan kita.
Dalam rangka pertumbuhan ekonomi para pengusaha melakukan peningkatan usaha guna mengejar profit. Sedangkan para investor melakukan investasi di bidang perkebunan, industri, perdagangan, perumahan. Semua ini tak terhindari dari penggunaan lahan, oleh karenanya semakin hari semakin berkurang lahan pertanian yang disulap untuk perumahan, industri, perkebunan.
Melihat kondisi ini bila tidak diantisipasi secara cepat akan menjadi problem yang besar bagi kita ke depan. Akan banyak kehilangan lahan untuk pangan dan dapat dibayangkan ke depan kita tidak akan mandiri lagi di bidang pangan. Ini akan semakin menyulitkan bagi pemerintah baik tingkat pusat maupun di daerah.

Sebagai pemikiran perlu menjadi perhatian apa yang disampaikan Menteri Pertanian saat acara sidang regional Dewan Ketahanan Pangan 2010 di Hotel Red Top, Jakarta, Selasa (25/5). “Seiring pertumbuhan penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya, kebutuhan beras semakin meningkat, sehingga akan menjadi beban negara. Selama ini konsumsi beras per kapita masyarakat Indonesia masih sangat tinggi atau mencapai 139 kg per tahun. Sedangkan negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia, Thailand sudah di bawah 100 kg per kapita per tahun.Upaya Pemerintah untuk tetap menjaga kemandirian pangan terutama di sektor beras. Mengingat tantangan ke depannya dalam ketahanan pangan sangat kompleks, masalah konversi lahan yang meningkat, iklim yang tak stabil, penyakit hama dll.“
Saat ini lanjut Menteri Pertanian, Suswono, “Konversi lahan pertanian telah mencapai 100.000 hektar per tahun, sedangkan kemampuan pemerintah dalam menciptakan lahan baru hanya 30.000 hektar sehingga setiap tahun justru terjadi pengurangan luas lahan pertanian”.
Langkah yang diambil oleh Departemen Pertanian sebagai upaya pemerintah mengatasi persoalan tersebut, Menteri Pertanian menyatakan pemerintah mengembangkan program food estate. Ini suatu program kawasan pertanian skala luas dengan merangkul swasta, BUMN dan BUMD. Food Estate itu sebagai ekslarasi, karena anggaran APBN terbatas. Food estate orientasi untuk ekspor, tetapi kalau kebutuhan dalam negeri berkurang, maka diutamakan untuk mengisi kebutuhan dalam negeri.

Di antara beberapa kebijakan dalam upaya mengatasi krisis pangan salah satunya ditempuh untuk mengurangi makan nasi. Ini merupakan suatu solusi yang harus dipikirkan bagi kita semua sebagai upaya untuk menanggulangi keadaan yang terjadi saat ini. Selain keterbatasan lahan, kendala dalam pencapaian swasembada pangan adalah masih tingginya alih fungsi atau konversi lahan pertanian ke non pertanian. Konversi lahan sawah mencapai 100.000 hektar per tahun, namun penambahan lahan baru mencapai 20.000 hektar sampai 30.000 hektar. Jadi kondisi ini bila dibiarkan jelas ke depan kita akan krisis pangan.
Mengurangi makan nasi sebagai upaya untuk mewanti-wanti agar kita dan generasi akan datang tidak akan mengalami ketidakseimbangan kebutuhan pangan dengan ketersediaan pangan. Dapat dibayangkan bila tidak dikendalikan akan dapat mengakibatkan krisis pangan yang juga akan mengakibatkan gangguan terhadap roda kehidupan.
Memang tak semudah apa yang diucapkan, apalagi mengubah kebiasaan makan nasi. Ada kecenderungan bagi seseorang, bila yang dimakan bukan nasi, walaupun terasa yang dimakan sudah kenyang tapi kalau belum disentuh oleh nasi, terasa belum sempurna bahkan terasa kurang kenyang.
Mencoba mengurangi makan nasi artinya kita akan mengendalikan diri berupaya mengubah kebiasaan. Namun di sisi lain sebagai upaya menutupi selisihyang dikurangi ditutupi dengan mencari barang pengganti (subsitusi) seperti jagung, ubi, sagu, kentang, talas dll.

Untuk mengantisipasi kondisi ini kiranya Menteri Pertanian dan Menteri Dalam Negeri Menteri BUMN dan menteri terkait lainnya dapat melakukan tindakan yang menjamin agar lahan pangan tidak dialihfungsikan sebagai lahan perkebunan. Apalagi menjadi lahan pemukiman atau lahan yang berfungsi lainnya.
Memang rencana itu kita sambut baik, tapi bila tidak diatur secara terpadu antar departeman dan dibuat dalam satu aturan dan bila perlu dibuat undang-undangnya. Karena bila tidak diatur bisa jadi dalam realita di lapangan akan tidak nyambung, karena di daerah juga akan membuat aturan lain.
Hendaknya juga menjadi perhatian bagi kita semua untuk berupaya terciptanya perlindungan pangan sebagaimana yang telah ditentukan berdasarkan UU RI No. 7 Tahun 1996 pasal 1 ayat 17. Bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Sebagai upaya menghindari ancaman pangan dimasa mendatang, kiranya perlu terus diupayakan tetap terjamin ketahanan pangan terutama beras. Dengan tersedianya lahan di samping juga himbauan atau wacana “kurangi makan nasi“ memang perlu menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua.

TRI PUTRI YUNDIARTI
Posted on 21st November, 2011

NAMA : TRI PUTRI YUNDIARTI
NIM : 101111343
KELAS : B

ANCAMAN KETERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA

Ketersediaan pangan di Indonesia mulai mengalami ancaman. Berbagai sebab dapat mempengaruhi ketersediaan pangan. Hal tersebut menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia.
Indonesia merupakan negara tropis yang mampu menghasilkan berbagai tanaman pangan, seperti sayuran, buah-buahan, beras, umbi-umbian, dan berbagai tanaman lainnya. Namun, hal tersebut tidak membuat ketersediaan pangan di Indonesia merata. Kondisi geografis Indonesia merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pangan di Indonesia tidak merata. Tidak semua wilayah di Indonesia mampu mengahasilkan beras. Kondisi tersebut makin diperparah dengan kemampuan distribusi pangan pemerintah pada daerah-daerah pelosok dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau dengan transportasi darat. Hal ini menyebabkan beberapa daerah di Indonesia mengalami kekurangan bahan pangan yang dapat mengakibatkan kelaparan dan gizi buruk.
Kejadian luar biasa (KLB) busung lapar dan gizi buruk di NTT dan NTB beberapa waktu silam, menunjukan bahwa ketersediaan pangan di Indonesia masih mengalami masalah. Kelaparan di NTB, yang oleh pemerintah sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB), selain telah merenggut 13 nyawa anak balita, ada 655 anak balita lainnya yang memerlukan penanganan segera. Sementara di NTT tercatat 66.000an lebih anak balita yang mengalami gangguan kekurangan gizi, marasmus, kwarsiorkor, dan busung lapar. Rinciannya, kurang gizi 55.000an orang, gizi buruk 11.000 orang, marasmus 122 orang, kwarsiorkor dan busung lapar enam orang. Distribusi pangan menjadi faktor yang diyakini mampu mempengaruhi ketersediaan pangan di daerah tersebut.
Peningkatan penduduk merupakan salah satu masalah yang cukup serius bagi ketersediaan pangan tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Presiden SBY mengatakan, dari sekitar 6,3 miliar jumlah penduduk dunia, 200 juta orang tidak dapat tidur karena kelaparan. Pada tahun 2007, penduduk Indonesia diperkirakan sudah mencapai 232,9 juta dan 236,4 juta pada tahun 2008. Data jumlah penduduk yang ditunjukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), manyatakan bahwa pada tahun 2010 jumlah penduduk di Indonesia mencapai 237,6 juta penduduk dengan tingkat pertumbuhan menyentuh angka 1,49 persen per tahun. Tahun 2050 diperkirakan akan berjumlah 280 juta jiwa. Laju perkembangan penduduk yang cepat mendatangkan persoalan tersendiri dalam masalah ekonomi dan pangan. Semakin tinggi angka pertambahan penduduk, maka semakin tinggi pula kebutuhan akan pangan sebagai akibat peningkatan kebutuhan konsumsi. Ketersediaan pangan juga akan terancam seiring dengan pertambahan penduduk yang terjadi setiap tahun.
Krisis pangan dapat terjadi ketika antara produksi dan tingkat konsumsi tidak berimbang. Tahun 1997-2002, tingkat produksi kebutuhan pokok terus menurun. Pada tahun 2003 saja, Indonesia hanya mampu memproduksi beras sekitar 31,2 juta ton, sementara seiring laju penduduk kebutuhan konsumsi terus meningkat 2,5%-4%. Di sisi lain, kondisi alam juga menjadi penentu akan ketersediaan pangan di Indonesia. Iklim yang tidak menentu sebagai akibat peningkatan suhu dunia (Global Warming), menjadi kunci keberhasilan panen para petani. Pemanasan Global diperkirakan akan mengancam ketersediaan bahan makanan di seluruh penjuru dunia pada tahun 2100. Tekanan akibat pemanasan temperature menyebabkan produksi pangan akan berkurang, dan belum termasuk dengan ancaman kekeringan yang disebabkan tingginya temperature bumi. Di sebagian wilayah beriklim tropis, temperature dapat meningkat sekira 9 derajat Celsius di atas rata-rata musim panas, dan itu akan memangkas 20 hingga 40 persen produksi pangan.
Di samping bencana kekeringan, bencana alam seperti banjir, longsor, dan gempa bumi juga menjadi penentu ketersediaan pangan. Akibat beberapa bencana alam tersebut, petani gagal panen sehingga jumlah pangan yang tersedia mengalami penurunan di samping kebutuhan konsumsi meningkat seiring dengan pertambahan penduduk.
Untuk mengatasi ancaman ketersediaan pangan di Indonesia, diperlukan perhatian serius pemerintah untuk membangun infrastruktur yang diperlukan dalam distribusi pangan di berbagai daerah pelosok di Indonesia untuk mencegah terjadinya kelaparan dan gizi buruk, serta kebijakan untuk menanggulangi pertambahan penduduk yang menyebabkan kebutuhan pangan meningkat. Tidak hanya itu, kepedulian masyarakat juga sangat diperlukan dalam mengatasi hal ini, yaitu dengan menjaga lingkungan untuk mencegah terjadinya peningkatan temperatur bumi yang dapat mengganggu ketahanan pangan.

Ratna Septiyani Purwadi
Posted on 21st November, 2011

Nama : Ratna Septiyani Purwadi /18

NIM : 101111313

Kelas : B alih jenis

Judul : ketersediaan pangan lewat pertanian organik

Era globalisasi kini telah menjangkau berbagai aspek kehidupan. Sebagai akibatnya persainganpun semakin tajam. Perusahaan-perusahaan yang dahulu bersaing hanya pada tingkat lokal atau regional, kini harus pula bersaing dengan perusahaan dari seluruh dunia. Hal ini berarti agar perusahan atau industri pangan mampu bersaing secara global diperlukan kemampuan mewujudkan produk pangan yang memiliki sifat aman (tidak membahayakan), sehat dan bermanfaat bagi konsumen. Keamanan pangan, masalah dan dampak penyimpangan mutu, peluang dan ancaman dalam pengembangan sistem mutu industri pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri dan konsumen, yang saat ini sudah harus memulai mengantisipasinya dengan implementasi sistem mutu pangan. Karena di era pasar bebas ini industri pangan Indonesia mau tidak mau sudah harus mampu bersaing dengan derasnya arus masuk produk industri pangan negara lain yang telah mapan dalam sistem mutunya. Salah satu sasaran pengembangan di bidang pangan adalah terjaminnya pangan yang dicirikan oleh terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan. Maka dari itu pertanian organik perlu digalakkan agar kualitas pangan cukup terjamin dari bahan-bahan maupun produk-produk kimia yang berbahaya.

Pengertian Pertanian Organik

Pertanian organik punya dua pengertian yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Pertanian organik dalam artian sempit yaitu pertanian yang bebas dari bahan – bahan kimia. Mulai dari perlakuan untuk mendapatkan benih, penggunaan pupuk, pengendalian hama dan penyakit sampai perlakuan pascapanen tidak sedikiti pun melibatkan zat kimia, semua harus bahan hayati, alami. Sedangkan pertanian organik dalam arti yang luas, adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan). Dengan tujuan untuk menyediakan produk – produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya.

Prinsip – Prinsip Pertanian Organik

Prinsip-prinsip ini diterapkan dalam pertanian dengan pengertian luas, termasuk bagaimana manusia memelihara tanah, air, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan, mempersiapkan dan menyalurkan pangan dan produk lainnya. Prinsip – prinsip tersebut menyangkut bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan hidup, berhubungan satu sama lain dan menentukan warisan untuk generasi mendatang.

Pertanian organik didasarkan pada:

1. Prinsip kesehatan

2. Prinsip ekologi

3. Prinsip keadilan

4. Prinsip perlindungan

• Prinsip Kesehatan

Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia. Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di alam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan. Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.

• Prinsip Ekologi

Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, pembangunan habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian.

• Prinsip Keadilan

Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen. Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya.

• Prinsip Perlindungan

Pertanian organik harus dikelola secara hati – hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya. Karenanya, teknologi baru dan metode – metode yang sudah ada perlu dikaji dan ditinjau ulang.

Ilmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkunganPertanian organik harus mampu mencegah terjadinya resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika (genetic engineering).

•Kelemahan dalam Sistem Pertanian Organik

Beberapa hal yang menjadi kelemahan dalam mengembangkan pertanian organik, yaitu :

1.Ketersediaan bahan organik terbatas dan takarannya harus banyak

2.Menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh sisa pertanaman dan limbah organik

3.Hasil pertanian organik lebih sedikit jika dibandingkan dengan pertanian non organik yang menggunakan bahan kimia terutama pada awal menerapkan pertanian organik.

4.Pengendalian jasad pengganggu secara hayati masih kurang efektif jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia.

5.Terbatasnya informasi tentang pertanian organik.

•Kelebihan dalam Sistem PertanianOrganik

1.Meningkatan aktivitas organisme yang menguntungkan bagi tanaman. Mikroorganisme seperti rizobium dan mikroriza yang hidup di tanah dan perakaran tanaman sangat membantu tanaman dalam penyediaan dan penyerapan unsur hara.

2.Meningkatkan cita rasa dan kandungan gizi. Cita rasa hasil tanaman organik menjadi lebih menarik, misalnya padi organik akan menghasilkan beras yang pulen, umbi – umbian terasa lebih empuk dan enak atau buah menjadi manis dan segar. Selain itu pertanian organik juga meningkatkan nilai gizi. Hasil uji laboraturium terhadap beras organik mempunyai kandungan protein, dan lemak lebih tinggi daripada beras nonorganik.

3.Meningkatkan ketahanan dari serangan organisme pengganggu. Karena dengan penggunaan pupuk organik yang cukup maka unsur – unsur hara makro dan mikro terpenuhi semua sehingga tanaman lebih kuat dan sehat untuk menahan serangan beberapa organisme pengganggu dan lebih tahan dari serangan peryakit.

4.Memperpanjang unsur simpan dan memperbaiki struktur. Buah dan hasil pertanian tidak cepat rusak atau akibat penyimpanan.

5.Membantu mengurangi erosi. Pertanian organik dengan pemakaian pupuk organik mejadikan tanah lebih gembur dan tidak mudah terkikis aliran air.

Untuk mewujudkan pertanian organik tentu saja memerlukan niat yang kuat untuk memajukan bangsa Indonesia dapat bersaing di mata dunia. Indonesia mempunyai lahan yang luas dan melimpah ruah tetapi karena suatu dan lain hal maka banyak orang lebih mengoptimalkan pertanian non-organik, hal itu seperti dana yang cukup, kesabaran dan keuletan agar pertanian organik dapat maju dan lebih unggul ketimbang pertanian non organik. Pertanian orgnik memiliki banyak manfaat seperti yang telah saya jelaskan di atas, selain lebih sehat, bahan makanan pun lebih awet dan aman dikonsumsi. Mari kita wujudkan pertanian organik demi menyelamatkan kesehatan generasi kita berikutnya.

Nisilia antika sari
Posted on 21st November, 2011

Nama : NISILIA ANTIKIA SARI
Nim : 101111331
Kelas : VB alih jalur

Judul : sukun sebagai bahan pangan pengganti beras
Sukun merupakan tanaman pangan alternatif di Indonesia sejak tahun 1920, yang pada awalnya tanaman ini tidak banyak ditanam orang, namun sekarang sudah cukup populer karena dapat dibuat berbagai makanan beraneka ragam terbuat dari sukun misalnya: goreng sukusukun, getuk sukun, kolak sukun, cake sukun, mie sukun, klepon sukun, dodol sukun, bola sukun, apem sukun dan bahan baku pembuat Pek empek (makanan khas Palembang) dan lain-lain. Karena dengan dibuat tepung sukun maka makanan ini menunjukkan amat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Sekarang ini bibit sukun tengah banyak dicari masyarakat untuk ditanam, karena budi dayanya yang relatif gampang, produksi buahnya cukup baik dan manfaat buahnya dapat dikonsumsi untuk aneka ragam makanan dan harga jual buah yang menguntungkan serta masih banyak kelebihan lainnya yang membuat daya tarik masyarakat dikarenakan sukun bisa menjadikan makanan alternatif pengganti beras.
Oleh karena itu kegunaan tanaman Sukun yang cukup banyak manfaatnya seperti tersebut diatas terdapat di seperti daerah Cilacap yang dikenal sebagai sentra produksi sukun di Indonesia yang menurut sejarahnya mendatang-kan sukun dari Pulau Bawean.
Barulah pada tahun 1983 oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Cilacap mulai memasyarakatkan tanaman sukun, dan sukun gundul yang terkenal sebagai primadona sukun nasional menjadi tanaman utama yang dikembangkan ke daerah lain. Pada akhirnya sukun gundul berhasil mengangkat nama Cilacap, sehingga tak heran kalau Pemerintah Daerah Cilacap menjadikan sukun gundul sebagai maskot daerahnya.

Sukun merupakan tanaman pangan alternatif.
Tanaman sukun yang diambil buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan pokok, dimana sukun merupakan tanaman asli Indonesia yang penyebaran tanaman sukun dapat cocok ditanam di daerah tropis, dapat tumbuh di daerah pesisir pantai serta banyaknya daerah-daerah yang ditanami sukun sehingga menunjuk-kan bahwa bahan pangan alternatif ini sudah cukup lama dikenal masyarakat Indonesia, sangat disayangkan bahwa kepopuleran sukun kalah dengan kentang sebagai makanan cepat saji dimata anak-anak pada umumnya. Padahal manfaat sukun sebagai bahan pangan alternatif telah dikenal sejak lama di Indonesia dan pada zaman penjajahan Belanda sukun lebih populer sebagai pangan alternatif disamping sebagai makanan sampingan (cemilan).
Selama ini baru 4 jenis tanaman yang dianggap sebagai pendamping padi atau beras sebagai makanan pokok yaitu jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kentang. lronisnya sukun belum dilirik sama sekali, padahal kandungan gizi (karbohidrat dan energi) sukun sesungguhnya tidak kalah dengan keempat komoditi pendamping 4 jenis tersebut. Berikut ini kandungan gizi sukun (buah Sukun tua dan tepung Sukun dari buah tua) yang dibandingkan dengan bahan pangan lain seperti beras, jagung, ubi kayu, ubijalar dan kentang seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Dari tabel 1dapat dilihat bahwa sukun mempunyai peluang besar sebagai makanan pokok alternatif terhadap kebutuhan pangan dalam rangka ketahanan nasional bidang pangan. Apabila dibandingkan dengan bahan pangan lainnya, kandungan gizi sukun tidak kalah dan bahkan melebihi kandungan gizi kentang yang saat ini sangat digemari anak-anak maupun masyarakat umum di berbagai belahan dunia sebagai makanan cepat saji (franchise). Adapun potensi lain dari sukun yang telah ditemukan sebagai pendamping padi adalah waktu panen. Sukun dapat terjadi sepanjang musim, saat bahan pangan lainnya dalam keadaan paceklik karena baru melalui periode musim kemarau, namun pohon sukun tetap berbuah sehingga keadaan seperti ini dapat membantu kehidupan ekonomi petani/masyarakat pedesaan bila menanam pohon sukun.
Perbedaan sukun dengan tanaman pangan lainnya, adalah pohon sukun bukan tanaman semusim sehingga dapat dipanen berulang kali, dan kelebihan yang lain bahwa disamping itu pohon sukun sebagai tanaman tahunan yang berumur hingga puluhan tahun apabila memungkin-kan, dengan demikian para petani/penduduk tidak perlu repot harus melakukan penanaman secara terus menerus untuk mendapatkan buah sukun seperti tanaman yang lain yang harus menanam ulang. Sukun merupakan tanaman yang tidak rewel baik mulai penanaman maupun perawatannya, bahkan pohon sukun yang dibiarkan tumbuh seadanya masih mampu berproduksi dengan baik. Kalaupun ada hama dan penyakit yang menyerang pohon sukun rata-rata bukanlah penyebab kegagalan panen atau bahkan sampai mematikan pohon sukun tersebut, apabila kalaupun ada serangan hama atau penyakit yang berbahaya itupun bersifat satu atau dua kasus yang muncul saja.

Mengenal Sukun
Pohon sukun memiliki sosok yang tinggi besar, tingginya dapat mencapai sekitar 20-40 M, batang pokoknya tegak. Penampilan pohon sukun amat indah dan anggun sehingga baik dijadikan tanaman penghijauan, cabang-cabangnya yang teratur rapi dan berjauhan dengan daun yang terletak diujung cabang membuat pohon sukun tergolong tanaman yang beruntung. Dikatakan demikian karena kelembapan tanaman menjadi terjaga, sehingga jarang diserang penyakit.
Akar tanaman pohon sukun tergolong akan advertif, karena sebagian besar menyebar didekat permukaan tanah. Bila tanaman sudah besar, kadang-2 sebagian akar menyembul pada permukaan tanah. Jika dilukai dari akar tersebut akan muncul tunas sebagai tanaman baru.
Buah sukun berbentuk bulat telur hingga bulat, tidak berbiji, garis tengah buah sekitar 10-30 Cm. Dari pohon sukun dewasa dapat dihasilkan sekitar 200-750 buah per pohon setiap tahunnya.
Di kalangan internasional, sukun di kenal sebagai bread fruit atau buah roti. Sukun memiliki nama yang berlainan di daerah-daerah di Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa sukun merupakan buah yang tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari penduduk nusantara. Ada 3 (tiga) jenis sukun yang beredar yakni: sukun kecil atau sukun kuning, sukun medium, sukun gundul, yang merupakan jenis buah sukun yang paling besar yang beratnya rata-rata 2,5 - 3 kg.

Lingkungan dan Daerah Penanaman yang Cocok.
Syarat tumbuh.
Pohon sukun merupakan tanaman tropis sehingga hampir semua daerah di-Indonesia dapat tumbuh, bahkan Sukun di Irian Jaya dan Halmahera diduga merupakan tanaman asli Indonesia. Sukun dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi dan dari asalnya didaerah kepulauan sukun pun cocok dikembangkan di Indonesia yang merupakan daerah kepulauan. Namun untuk berproduksi optimal, faktor lingkungan merupakan satu hal yang sangat menentukan yaitu ketinggian tempat, iklim dan tanah.
1. Ketinggian tempat.
Tanaman sukun tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi 700 m di atas permukaan laut. Pada ketinggian 700 m diatas permukaan laut tanaman sukun masih mau tumbuh asalkan daerahnya tak begitu dingin. Umumnya tanaman sukun akan tumbuh optimal didataran rendah hingga sedang, pada ketinggian 0 - 400 m di atas permukaan laut. Daerah-daerah dingin atau pegunungan yang jauh dari permukaan laut jarang di tumbuhi sukun, kalaupun daerah tersebut ditemukan tanaman sukun biasanya tanaman lebih cenderung tumbuh rimbun dan kurang berbuah normal.
2. Suhu.
Sukunpun mampu tumbuh di daerah yang memiliki temperatur harian rata-rata 20-40 °C. pertumbuhan optimal didapat di daerah dan kisaran suhu 21 - 33 °C.
3. Curah Hujan dan Keiembaban.
Selain tumbuh dapat di sembarang ketinggian tanaman sukun dapat tumbuh di daerah kering seperti Madura, NTT, sampai daerah basah seperti Jawa Barat. Kisaran hujannya 1500 - 2500 mm/tahun. Kelembaban ini penting untuk menunjang pertumbuhan, pembungaan dan pembesaran buah.
4. Sinar Matahari.
Pohon sukun memiliki kebutuhan sinar matahari yang sedikit rumit, sewaktu masih muda tanaman lebih baik bila ternaungi, tetapi setelah tanaman dewasa pohon sukun membutuhkan sinar matahari penuh.
5. Tanah.
Pohon sukun dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podsolik merah kuning, tanah berkapur dan rawa pasang surut. Sebenarnya di ketinggian manapun tanaman ini dapat tumbuh, maka yang diinginkan untuk tanaman baru adalah permukaan air tanah haruslah relatif dangkal, tetapi tidak tergenang. Sukun memang tidak berbiji, jadi pohon sukun hanya dapat diperbanyak secara vegetatif.
Adapun caranya bisa memilih dengan setek akar, okulasi, cangkok, atau tunas akar. Tehnik okulasi dan cakok ini mempunyai kendala yaitu sumber atau pohon tidak banyak, cabang bergetah dan juga sulit mencakok cabang/ranting yang sudah tinggi. Oleh karenanya, bila dibutuhkan bibit dalam jumlah banyak, cara ini sulit dipenuhi. Pembibitan pohon sukun dengan cara setek akan merupakan alternatif utama yang dipakai para pembibit.
Cara ini timbul karena secara alami akar sukun mampu menumbuhkan tunas sebagai tanaman baru. Berdasarkan hal tersebut muncul kesimpulan baru bahwa akar tanaman sukun di dalam media pembibitan dapat juga menumbuhkan tunas. Pohon sukun yang baru ditanam perlu disiram agar kelembaban dan kebutuhan airnya terjaga. Untuk mengantisipasi penyiraman, para petani biasanya melakukan penanaman diawal musim hujan, dengan demikian air hujan yang turun mampu mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang baru.

Panen
Pada umur 4 tahun setelah tanam, biasanya pohon sukun sudah menghasilkan buah. Produksi buah pada awalnya memang masih sedikit dan banyak buah yang rontok sewaktu masih muda. Namun produksi buah kan bertambah sejalan dengan pertumbuhan umur tanaman. Buah sukun yang siap panen adalah buah yang tua atau hampir masak. Buah sukun yang masih muda tidak tepat dipanen karena rasa daging buahnya belum enak, masih agak getir dan teksturnya kurang empuk di lidah. Ciri buah sukun tua siap panen ialah sebagai berikut:
• Kulit buah yang semula kasar menjadi halus, terutama untuk jenis sukun gundul.
• Warna kulit buah yang semula hijau cerah kini berubah menjadi hijau kekuningan. Buah tua yang sudah kuning tidak terlalu enak dikonsumsi karena sudah terlalu matang.
• Buah sukun tua tampak padat tetapi cenderung agak lunak bila ditekan, bila buah masih muda cenderung masih keras sekali.

Waktu Panen.
Umumnya panen sukun terjadi dua kali setahun. Dalam situasi iklim yang tidak menentu, terutama saat musim hujandan musim kemarau yang tidak beraturan sukun masih gampang ditemukan dipasaran sepanjang tahun. Sukun dipanen dengan cara pemetikan atau penjolokan. Pemetikan umumnya dilakukan terhadap pohon yang gampang dipanjat, penjolokan umumnya dilakukan terhadap pohon yang sudah tinggi atau rantingnya terlalu kecil sehingga sulit dipanjat atau dijangkau.

Produk Olahan Sukun.
Sebagai bahan pangan alternatif, dewasa ini penggunaannya sukun untuk dikonsumsi amatlah beraneka, dari yang sederhana seperti direbus atau digoreng hingga dibuat menjadi aneka kue makanan ringan karena dibuat sebelum jadi kue. Beberapa lomba yang diadakan untuk membuat resep makanan dari sukun akan membantu terciptanya variasi makanan lezat. Semakin banyak makanan atau produk olahan yang dapat dibuat dari sukun membuat sukun semakin banyak dicari konsumen.

Nelly Yuliana
Posted on 21st November, 2011

Nama : Nelly Yuliana
Nim : 101111329
Kelas : B / Alih Jenis FKM

Panggilan Tanaman Nipah Kaltim
Nipah adalah sejenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut dekat tepi laut. Kalimantan Timur dianugrahi dan dikenal sebagai propinsi yang mempunyai daerah aliran sungai yang banyak, dengan sungai yang tersohor adalah sungai mahakam. Adanya daerah aliran sungai yang banyak terdapat pula muara-muara sungai berair payau memiliki berbagai ekosistem flora dan fauna yang khas. Flora yang menjadi primadona di daerah sungai adalah Tanaman Nipah. Tanaman nipah bagi penduduk di daerah aliran sungai sangat mempunyai berbagai manfaat. Karena, dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti menjadi bahan pangan ( gula merah, gula semut, gula pasir, dan pasir ) bahan kerajinan bahan bakar dan sebagai tanaman penyangga ekosistem laut. Pemanfaatan dari bahan buku ini tidak maksimal dan menjadi pertanyaan besar untuk mengelolah tanaman nipah ini menjadi tanaman industri produksi dengan berbagai keuntungan. Prospek yang cukup besar potensinya adalah sebagai alternatif pemanis baru (gula merah, hula semut, sirup nira nipah, dan gula pasir nipah ) agar dapat mengintensifikasikan potensi nipah di harapkan meningkatkan kesejahteraan.
Konsumsi gula nasional yang diproyeksikan meningkat pertahum berdasarkan laju pertumbuhan dan konsumsi masyarakat dapat menjadi persoalan terus menerus. Jika tidak ditanggapi secara serius, oleh karena itu perlunya pemanfaatan aplikasi teknologi untuk mengekspos atau mempublikasikan tanaman nipah sebagai alternatif pengganti gula pasir. Tantangan pengembangan industri pangan di masa depan adalah masalah. Penyediaan bahan baku dan bahan pembantu , keamanan pangan, standar mutu, kemasan dan peralatan, proses, alih teknologi, sumber daya manusia, sistem transportasi, sistem distribusi, dan pemasaran serta peraturan pemerintah dan sistem kelembagaan. Permasalahan ini menjadi tantangan besar bagi tanaman nipah menjadi gula pasir nipah yang dikembangkan untuk industri pangan dimasa depan yang memerlukan teknologi modern dengan segala fasilitas dan kapasitas disertai dengan infrastruktur yang memadai. Pada pembuatan gula pasir nipah sama prinsip pembuatannya dengan gula pasir tebu. Perbedaannya terletak pada nira sebagai bahan baku pembuatan gula pasir yang dipasarkan menjadi sirup nira nipah. Proses ini memerlukan teknologi modern dan cukup rumit.
Oleh karena itu dengan pemanfaatan teknologi modern untuk mengolah nipah di kaltim sebagai gula pasir diperlukan suatu perhatian dengan tindakan yang besar dari pemerintahan untuk mengarahkan iklim investasi yang mengacu pada agrolindustri tetapi dengan segala keterbatasan dan hambatan yang telah dipaparkan di atas. Hambatan yang mendasar adalah faktor sumber daya manusia yang dapat menjadi ahli teknologi tersebut tidak lepas dari proses alih teknologi (technological leadership, marketing leadership, interface research and development dan marketing) yang bersifat horizontal (pelaku dengan pengetahuan sejenis) dan vertikal (pelaku dengan pengetahuan teknik yang berbeda), eksternal (dua pelaku dari organisasi berbeda) dan internal (pelaku orang dari organisasi yang sama), lokal (pelaku dari geografis yang sama) dan international (pelaku dari negara yang berbeda).
Dan secara prinsip dapat dikatakan bahwa pemilihan teknologi yang diperlukan dalam kegiatan bisnis pada umumnya dipengaruhi oleh jenis teknologi/ prospek (dukungan konsumen) cara penerapan (massal dan seriat) dan pasarnya. Langkah-langkah ini yang menjadikan nipah sebagai suatu komoditi alternatif pengganti gula pasir dan juga sebagai diversifikasi pangan untuk dalam satu visi yaitu meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia khususnya di Kaltim.

Widya Agustine
Posted on 21st November, 2011

Nama : WIDYA AGUSTINE
NIM : 101111314
Kelas : B Program Alih Jenis FKM 2011

GARUT SEBAGAI BAHAN PANGAN ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG

Garut (Marantha arun dinacea) merupakan tanaman pangan lokal. Selain sebagai sumber karbohidrat, tanaman garut memiliki manfaat bagi kesehatan terutama penderita diabetes atau penyakit kencing manis karena memiliki kandungan indeks glisemik yang rendah dibanding jenis umbi-umbian yang lain. Tanaman garut termasuk produk unggulan, lantaran tingginya manfaat ekonomi dan kesehatan yang terkandung di dalamnya. Umbi garut kaya akan serat, sehingga produk makanan olahannya dapat membantu kesehatan sistem pencernaan. Tanaman garut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan dapat kita jumpai hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tanaman ini sangat mudah cara budidayanya, karena mudah pemeliharaannya dan dapat tumbuh dengan baik pada lahan ternaungi. Akhir-akhir ini tanaman garut banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal dan mulai dikembangkan untuk agroindustri rumahtangga di pedesaan. Dengan Teknologi yang sederhana dapat meningkatkan nilai tambah dari komoditas tersebut.

Sejak lama masyarakat mengenal garut sebagai tanaman penghasil atau rimpang yang dapat dijadikan sumber pangan seperti halnya singkong dan ubi jalar. Tetapi akibat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras menjadikan umbi garut sedikit dilupakan. Semenjak adanya krisis moneter dan semakin terpuruknya perekonomian Indonesia, ternyata membawa hikmah terhadap banyak komoditas Indonesia yang sebelumnya banyak disepelekan dan bahkan tidak pernah dilirik. Salah satunya umbi tanaman garut. Sejak lama tim ahli di lingkungan Balitbang Pertanian berupaya meningkatkan peran aktif umbi dan terutama tepung garut karena dari hasil penelitian dan pengembangan sejak lama, sudah positif memiliki potensi yang menguntungkan.

Tanaman Garut telah dicanangkan Pemerintah sebagai salah satu komoditas bahan pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan/dibudidayakan karena memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu. Sebagai sumber karbohidrat, tanaman Garut belum dikembangkan secara sungguh-sungguh di Indonesia.

Tanaman garut bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Garut berasal dari daerah Amerika tropik yang kemudian menyebar ke daerah tropik termasuk Indonesia. Di Indonesia, tanaman garut dapat dijumpai di berbagai daerah seperti Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Sebagai tanaman teduhan, khususnya di Pulau Jawa, tanaman garut umumnya tumbuh liar dibawah hutan jati. Sedangkan di lahan petanian tumbuh dengan subur di tegalan atau kebun di bawah tanaman tahunan. Garut tidak akan dapat tumbuh dengan optimal apabila ditanam di daerah terbuka dengan penyinaran matahari penuh atau secara langsung. Tanaman garut mempunyai sistem perakaran serabut, rhizomanya mula-mula berupa batang yang merayap (stolon), kemudian menembus ke dalam tanah dan secara bertahap membengkak menjadi suatu organ yang berdaging. Kabupaten Sragen yang memiliki ketinggian 75 m – 300 m dari permukaan laut, sangat cocok untuk lahan tumbuh umbi Garut. Tanaman ini mudah ditanam di lingkungan yang ternaungi, dan dapat beradaptasi dari dataran rendah sampai ketinggian 900 m dari permukaan laut. Kebutuhan bibit bisa dicukupi dengan meninggalkan sebagian ujung-ujung umbi sewaktu memanen yang kelak akan tumbuh menjadi tanaman baru lagi. Uniknya, usia tanaman ini mencapai 7 tahun, dan dipanen setiap tahun. Sampai saat ini, tanaman garut ditanamkan sebagai tanaman tumpangsari (berada bersama dengan tanaman lain) atau sebagai tanaman semiliar di batas tanah-tanah miring, sudut pekarangan rumah, dsb., tetapi belum menjadi tanaman budi daya seperti layaknya singkong, ubi-jalar, talas, dsb. Hasil utama tanaman garut adalah umbi.

Pengembangan tanaman garut di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tersebar di 4 kabupaten yaitu di Kabupaten Gunungkidul, Bantul, Sleman dan Kulon Progo. Industri pengolahan garut adalah emping garut dan pembuatan pati garut. Namun di dalam pengembangannya, industri pengolahan mengalami kendala dari tahun ke tahun, yaitu kekurangan bahan baku. Karena tanaman ini hanya menghasilkan umbi setahun sekali, yaitu pada saat musim kemarau sehingga diperlukan perluasan areal tanam untuk menghasilkan umbi yang cukup banyak sebagai bahan baku industri. Keunggulan tanaman garut ini dapat hidup pada lahan marginal dan dibawah naungan. Dengan demikian pengembangan tanaman garut dapat dilakukan di lahan pekarangan.

Kegiatan fasilitasi sarana budidaya tanaman garut harus terus dikembangkan sehingga dapat menambah luasan areal tanam garut, meningkatan produktivitas tanaman garut dan memperbaiki kualitas pengolahan hasil baik emping maupun pati garut. Berdasarkan Analisa Usata Tani yang dilakukan oleh kelompok tani Ngudi Rejeki dapat memperoleh pendapatan yang cukup besar tiap hektarnya pada lahan marginal atau di bawah tanaman tegakan selama 8 - 9 bulan. Dengan melihat hasil yang cukup menguntungkan maka diharapkan dengan budidaya tanam garut dapat mengangkat perekonomian dan kesejahteraan di kelompok tani tersebut.

ANGGRAENI RAHMAWATI
Posted on 21st November, 2011

NAMA : ANGGRAENI RAHMAWATI
NIM : 101111330
KELAS: IB ALIH JENIS

MENGATASI PERMASALAHAN GIZI DAN PANGAN INDONESIA

Sehat adalah hak asasi manusia, sebagaimana tertera dalam deklarasi universal PBB tahun 1948. Sehat memungkinkan orang hidup sejahtera, dan produktif. Sehat memungkinkan keluarga tumbuh dan berkembang, dan berkontribusi produktif di komunitasnya. Sehat memungkinkan sebuah bangsa dengan daya tahan yang tinggi, dan berkontribusi positif dalam arena bangsa-bangsa di dunia.

Pembangunan di bidang kesehatan Indonesia dalam 5 tahun ke depan diarahkan untuk mencapai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Sasaran yang ingin dicapai adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), dan menurunkan prevalensi gizi kurang. Dalam pencapaian MDG’S setiap negara diupayakan untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan serta mengurangi tingkat kematian anak. Hal ini berkaitan erat dengan aspek gizi dan pangan masyarakat. Status gizi serta ketersediaan pangan di masyarakat yang baik pastinya dapat mengatasi situasi kesehatan dan kelaparan ini. Akan tetapi permasalahan gizi dan pangan di Indonesia banyak mengalami hambatan akibat kemiskinan dan pelaksanaan program kebijakan yang ada.

Menurut Prof Soekirman, Masalah Gizi adalah Gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kelompok orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidak seimbangan antara asupan (intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi penyakit (infeksi). Ketidak seimbangan ini bisa mengakibatkan gizi kurang maupun gizi lebih. Gizi kurang atau yang biasa terlihat sebagai kelaparan, lebih lanjut dibedakan lagi menjadi gizi kurang makro (makronutrien) dan gizi kurang mikro (mikronutrien). Tubuh dalam memenuhi asupan gizinya tentu saja membutuhkan makronutrien, yaitu karbohidrat, lemak, protein, dan mikronutrien, vitamin, yodium, zat besi, seng, asam folat, dll. Untuk mikronutrien ini kebanyakan terlupakan akan pentingnya bagi tubuh, padahal dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti yang diketahui yakni KVA, GAKI, anemia yang mengacu pada BBLR, gangguan intelektual, gangguan pertumbuhan, penurunan kekebalan bahkan kematian.

Hubungan yang sangat erat antara kematian bayi dengan kekurangan gizi. Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan daya tahan anak sehingga anak mudah sakit hingga bisa berakibat pada kematian. Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan bahwa 54% kematian bayi dan anak dilatarbelakangi keadaan gizi yang buruk. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), terdapat sekitar 907 juta penduduk di negara berkembang mengalami kekurangan pangan. Ahmad Rusfidra (2005) menyatakan bahwa konsumsi protein hewani yang rendah banyak terjadi pada anak usia bawah lima tahun (balita), sehingga terjadi kasus busung lapar dan malnutrisi. Usia balita disebut sebagai periode “the golden age” (periode emas pertumbuhan), dimana sel-sel otak anak manusia sedang berkembang pesat. Fase ini, otak membutuhkan suplai protein hewani yang cukup agar berkembang optimal. Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan, meningkatkan risiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan kecerdasan dan performa mereka di sekolah serta produktivitas tenaga kerja setelah dewasa.

Di Indonesia, merebaknya kasus gizi buruk atau malnutrisi pasca krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu, masih menjadi bahasan dan dapat kita saksikan di media masa hingga kini. Sebelumnya Indonesia merupakan negara swasembada pangan (beras) yang dapat dikatakan sejahtera, akan tetapi sekarang dengan kondisi negara yang jauh berbeda, kita belum dapat menuntaskan masalah pangan kita. Masyarakat Indonesia yang merupakan negara yang berkembang ini, status gizi buruk dan kurang sangatlah besar bila dibanding negara-negara Asia lainnya. Permasalahan gizi buruk ini tentu tidak hanya masalah pada status gizi masyarakat akan tetapi juga berhubungan dan mempengaruhi status kesehatan dan pangan masyarakat. Sehingga dalam melaksanakan penyelesaian masalah gizi dibutuhkan pertimbangan pada aspek kesehatan dan pangan.

Status gizi masyarakat ditentukan oleh makanan yang dimakan. Makanan yang dimakan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di masyarakat, sistem pengolahan makanan tersebut, baik modern atau tradisional, baik atau kurang baik, hingga sampai kepada masyarakat dan dimanfaatkan untuk memenuhi asupan gizi dan kesehatan. Sedangkan aspek kesehatan menentukan kondisi imunitas tubuh dan penyakit sesuai dengan asupan gizi yang didapat. Selain itu banyak faktor lain yang berhubungan pula seperti pelayanan kesehatan, kemiskinan, pendidikan, sosial budaya, gaya hidup, yang kesemuanya berkaitan dengan status gizi sehingga dapat mempengaruhi produktivitas atau kualitas sumber daya masyarakat. Kondisi iklim saat ini yang berubah akibat pemanasan global ternyata juga ikut mempengaruhi ketahanan dan keamanan pangan. Walaupun Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalaminya, akan tetapi hal ini menimbulkan perhatian besar mengingat kita sebagai negara agraris. Kondisi ini dapat mengakibatkan rusaknya tanaman pangan maupun kurangnya kandungan gizi yang terkandung didalamnya. Sehingga mempengaruhi kondisi gizi masyarakat.

Mengatasi masalah gizi ini tidak harus merubah program-program yang telah ada. Dengan adanya pengoptimalan program dipandang lebih bijak daripada menghabiskan banyak uang pada program baru. Perlu ditinjau lagi siapakah yang menjadi objek masalah gizi yang akan dilakukan, karena permasalahan yang berbeda pasti sasaran intervensinya berbeda pula sehingga lebih meningkatkan keefektivan. Misal pada gizi buruk, selain bayi dipertimbangkan pula ibunya pada saat kehamilan. Kemudian perlu ditinjau dampak apa saja yang terjadi pada masalah kesehatan agar program yang ada sesuai diimbangi dengan tersedianya sumberdaya dan manusia. Pengoptimalan tentunya juga dibarengi dengan perbaikan yang dapat dipelajari dari evaluasi yang ada.

Permasalahan gizi dan pangan Indonesia tentu dapat diselesaikan dengan pengorganisasian kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang baik. Untuk mencapai status perbaikan gizi dan pangan nasional peran pemerintah saja tidak cukup, karena proses pengawasan dan pendanaan yang setingkat nasional tidaklah mudah. Disini peran daerah diperlukan untuk dapat melaksanakan maupun menginovasikan program gizi dan pangan. Selama ini program tingkat nasional belum memberikan hasil yang baik dibandingkan program nasional di era orde baru seperti posyandu, KB, imunisasi, karena dipandang kebutuhan dan permasalahan di daerah berbeda-beda. Pemerintah daerah yang dianggap lebih memahami permasalahan daerahnya dituntut akan inovasinya serta jalinan hubungan kemitraan dengan swasta.

Di beberapa daerah, pengelolaan pangan seperti Klaten dengan swasembada beras dan Yogyakarta dengan berbagai program seperti Rumah Pemulihan Gizi, akan terwujud karena perhatian pemerintah daerah serta pengalokasian dana daerah yang baik. Apabila setiap daerah memiliki prestasi akan program gizi dan pangannya, tentu lebih memudahkan pemerintah pusat tercapainya status gizi dan pangan yang baik. Seperti halnya bidang kesehatan, jika pemerintah pusat harus menanggung biaya kesehatan nasional, maka anggaran dana cepat habis sebelum digunakan untuk kesejahteraan. Untuk itu lebih bijak dilaksanakan program pencegahan daripada pengobatan, kaitannya dengan gizi dan pangan tadi, tindakan pencegahan berupa pemerintahan daerah yang baik dalam melakukan program.

Kebijakan dalam permasalahan gizi dan pangan ini dilakukan dengan KIE gizi dan pangan serta program lain yang kreatif. Dengan KIE dan program ini diharapkan kemandirian dan partisipasi masyarakat untuk dapat mengatasi masalah gizi dan pangan masyarakat tersebut, jadi bernuansa community based management. Dalam KIE dilakukan pendidikan / edukasi sehingga masyarakat tidak hanya mengerti tetapi juga dapat menerapkan PHBS, kesadaran akan gizi dan kesehatan serta keinginan untuk mencari informasi tentang kesehatan. Sasarannya mungkin lebih kepada ibu-ibu karena biasanya terdapat perkumpulan ibu-ibu PKK dan juga mengingat perannya sebagai pengatur asupan gizi dalam menu makan keluarga.

Program lainnya dapat berupa dibentuknya Rumah Gizi yang memberikan informasi tentang gizi pada anak, dan tidak hanya itu, dapat juga dijadikan tempat untuk memeriksa status gizi anak serta pengobatan dan pemeliharaannya.

Kebijakan lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan ketersediaan pangan adalah diversifikasi dan alternatif pangan. Ketersediaan pangan dibutuhkan apabila ingin status gizi masyarakat lebih baik. Kebijakan mono kultur beras adalah jalan yang tidak tepat untuk mengatasi kekurangan pangan (gizi) di negara kita. Walaupun teknologi perberasan Indonesi sudah yang paling produktif dan terefisien di Asia Tenggara. Produksi pangan pada tahun 2006, beras 31 juta ton, singkong 19 juta ton, ubi jalar 1,2 juta ton, jagung 12 juta ton, cukup untuk kebutuhan pangan warga Indonesia. Namun karena 62 % penduduk sekarang bergantung hanya pada padi-padian, sehingga menjadi kekurangan pangan. Diversifikasi dan alternafiv pangan dapat mengembangkan gandum, jagung, ubi serta umbi-umbian yang setara beras untuk dapat dimanfaatkan mengingat suplai kita telah ada. Diversifikasi ini juga dapat meringankan penduduk yang miskin.

AMINATUS SA'DIYAH
Posted on 21st November, 2011

NAMA : AMINATUS SA’DIYAH
NIM : 101111324
KELAS: IB ALIH JENIS

Kondisi iklim yang ekstrim di berbagai belahan dunia baru-baru ini secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi ketersediaan pangan. Kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan, banjir serta bencana alam lainnya di berbagai wilayah dunia terutama di sentra-sentra produksi pangan, sangat mempengaruhi ketersediaan gandum dan tanaman bijian-bijian lainnya yang tentu saja berdampak pada ketersediaan produk pangan tersebut untuk marketing season 2010/2011.

FAO dalam press release-nya bersama-sama dengan WFP pada bulan September 2010, mengemukakan bahwa jumlah penduduk dunia yang menderita kelaparan pada tahun 2010 mencapai 925 juta orang. Situasi ini diperparah dengan semakin berkurangnya investasi di sektor pertanian yang sudah berlangsung selama 20 tahun terakhir, sementara sektor pertanian menyumbang 70% dari lapangan kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kekhawatiran akan makin menurunnya kualitas hidup masyarakat, bahaya kelaparan, kekurangan gizi dan akibat-akibat negatif lain dari permasalahan tersebut secara keseluruhan akan menghambat pencapaian goal pertama dari Millennium Development Goals (MDGs) yakni eradication of poverty and extreme hunger.

Sejak permasalahan ini memuncak pada tahun 2008, berbagai upaya, inisiatif dan aksi internasional dan regional telah banyak dilakukan. Upaya ini diharapkan dapat menyepakati suatu aksi global berupa tindakan kolektif, kemitraan dan komitmen yang dapat menjamin ketersediaan bahan pangan guna memenuhi kebutuhan hidup dan menjamin akses seluruh masyarakat atas bahan pangan yang dibutuhkan untuk hidup sehat dan layak termasuk upaya pendanaannya.

Dari berbagai inisiatif dan upaya tersebut, puncaknya adalah penyelenggaraan World Summit on Food Security pada bulan November 2009. Pertemuan tersebut menyepakati Declaration of the World Summit on Food Security yang menitikberatkan pada pelaksanaan Five Rome Principles for Sustainable Global Food Security yang secara garis besar menetapkan komitmen dan kesepakatan aksi bersama masyarakat global. Deklarasi tersebut juga mendudukan Committee on World Food Security (CFS) FAO sebagai platform internasional yang inklusif untuk menghadapi isu ketahanan pangan dan nutrisi global, serta sebagai komponen utama dari proses menuju kemitraan global untuk pertanian, ketahanan pangan dan nutrisi.

Bagi Indonesia, masalah ketahanan pangan sangatlah krusial. Pangan merupakan basic human need yang tidak ada substitusinya. Indonesia memandang kebijakan pertanian baik di tingkat nasional, regional dan global perlu ditata ulang. Persoalan ketahanan pangan dan pembangunan pertanian harus kembali menjadi fokus dari arus utama pembangunan nasional dan global. Oleh karena itu di tengah diplomasi internasional yang semakin menganggap penting isu ketahanan pangan sebagai agenda sentral, Indonesia mengambil peran aktif dalam menggalang upaya bersama mewujudkan ketahanan pangan global dan regional.

Upaya mengarusutamakan dimensi pembangunan pertanian, ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan ke dalam agenda pembangunan global juga masih diperjuangkan dalam perundingan putaran Doha (Doha Development Agenda) di WTO. Dalam berbagai kesempatan, Indonesia selaku koordinator G-33 secara aktif mengedepankan isu food security, rural development dan livelihood security sebagai bagian dari hak negara berkembang untuk melindungi petani kecil dari dampak negatif masuknya produk-produk pertanian murah dan bersubsidi dari negara maju, melalui mekanisme special products dan special safeguard mechanism.

Dimulai dari surat Presiden RI kepada Sekjen PBB bulan Maret 2008 sampai dengan menjadi inisiator dan fasilitator disetujuinya resolusi mengenai pembangunan pertanian dan ketahanan pangan pada SMU PBB ke-63 pada tahun 2008 (resolusi 63/235), SMU PBB ke-64 pada tahun 2009 (resolusi 64/224), dan SMU PBB ke-65 pada tahun 2010 (resolusi 65/178) merepresentasikan gambaran umum bahwa ketahanan pangan menempati posisi yang penting dalam diplomasi RI. Keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan diplomasi di bidang ketahanan pangan juga diyakini akan dapat memperkuat profil Indonesia secara umum di mata internasional sekaligus merupakan bagian dari strategi nasional. Diundangnya Indonesia pada KTT G-8 di L’Aquila bulan Juli 2009, serta partisipasi dalam perumusan serta pengesahan L’Aquila Joint Statement on Global Food Security pada KTT tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan internasional. Selain itu, sebagai anggota G-20, Indonesia juga berperan dalam penyusunan kesepakatan yang mendorong pembentukan trust-fund di Bank Dunia untuk mendukung inisiatif baru dalam ketahanan pangan.

Sebagai negara dengan komitmen yang tinggi untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan global, Indonesia juga telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan FAO pada bulan Maret 2009 sebagai bentuk dukungan Indonesia terhadap berbagai program peningkatan ketahanan pangan global dan pembangunan pertanian negara-negara berkembang lainnya terutama dalam kerangka Kerjasama Selatan-Selatan (South-South Cooperation), kerjasama teknis negara-negara berkembang (KTNB/TCDC) dan pencapaian goal dari MDGs. Penandatanganan LoI ini juga diharapkan akan semakin memperkuat peran Indonesia dalam membantu peningkatan pembangunan pertanian di negara-negara berkembang, terutama di negara-negara Asia Pasifik dan Afrika yang telah berjalan sejak tahun 1980, termasuk salah satu bentuk perwujudan komitmen Indonesia untuk merealisasikan partisipasinya dalam L’Aquila Joint Statement on Global Food Security.

Di samping itu, Indonesia juga terus mendesak agar negara-negara anggota FAO mengambil langkah dan inisiatif yang berarti untuk terus menjamin ketersediaan pangan global, menuju ketahanan pangan global. Diharapkan pada tahun 2050 akan cukup tersedia pangan bagi sekitar 9 miliar penduduk.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia berada pada posisi mendukung reformasi di tubuh FAO. Langkah-langkah penting untuk mendorong produksi pangan menuju ketahanan pangan agar terus diperbaharui dari waktu ke waktu, seiring dengan pergerakan isu-isu global. FAO ke depan diharapkan menjadi organisasi internasional yang transparan, ramah birokrasi, terdesentralisasi, dan efektif serta efisien.

AMINATUS SA'DIYAH
Posted on 21st November, 2011

NAMA : AMINATUS SA’DIYAH
NIM : 101111324
KELAS: IB ALIH JENIS

KETERSEDIAAN PANGAN

Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.

Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.

Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.
2.1. Produksi

Pemerintah Indonesia telah mempromosikan produksi pertanian dan mengadopsi beberapa parameter perlindungan untuk para petani. Pertanian (termasuk peternakan, kehutanan dan perikanan) telah berkontribusi sekitar 13-15% pada Produk Domestik Bruto Indonesia dalam 4 tahun terakhir. Angka pertumbuhan sektor pertanian adalah sekitar 3,5% per tahun selama tahun 2004-2007, dan mencapai 4,8% pada tahun 2008. Ini dapat dibandingkan dengan keberhasilan sektor lain yang cukup tinggi dan memiliki kemungkinan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan ketahanan pangan, menurunkan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.

Beras merupakan makanan pokok utama di Indonesia dan 23% dari hasil pertanian adalah beras. Jagung dan ubi kayu adalah 2 komoditi yang cukup diperhitungkan untuk masa mendatang dan merupakan 13% dari total hasil pertanian. Gula merah, minyak kelapa sawit dan karet mencakup 19% dari total produksi pertanian. Hasil peternakan berkontribusi sebanyak 5% dari hasil pertanian dimana unggas merupakan komponen terbesar.

Selama sepuluh tahun terakhir, produksi serealia terus meningkat, peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan luas tanam dan peningkatan produktivitas, kecuali tahun 2001. Pada tahun 2008, produksi beras meningkat sebanyak 5,46% (3,12 juta ton) dari tahun sebelumnya sehingga produksi mencapai 60,02 juta ton. Surplus produksi beras yang cukup tinggi pada tahun 2007 dan 2008 dilaporkan untuk pertama kalinya sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1997-1998, hal ini berhubungan erat dengan inisiatif Presiden Indonesia untuk meningkatkan produksi beras sebanyak 2 juta ton. Dengan menurunnya permintaan terhadap impor beras, harga beras berangsur-angsur menjadi stabil sejak pertengahan 2008 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Swasembada beras telah membantu Indonesia dalam menangani meningkatnya harga pangan di dunia tanpa melakukan impor beras.
Pada tahun 2007, total produksi serealia dan umbi-umbian mencapai 57,2 juta ton beras, 13,3 juta ton jagung, 19,9 juta ton ubi kayu, dan 1,9 juta ton ubi jalar. Produksi empat komoditas tersebut di tahun 2007 lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi rata-rata tahunan 10 tahun terakhir yang mencapai 52,6 juta ton untuk padi, 10,7 juta ton untuk jagung, 17,8 juta ton untuk ubi kayu, dan 1,8 juta ton untuk ubi jalar.
Padi.

Seluruh provinsi di Pulau Jawa, kecuali Jawa Barat, dapat mempertahankan total luas panen padi mereka. Seluruh provinsi di pulau Sumatera, kecuali Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan total luas panen padi yang hampir stabil atau berfluktuatif selama satu dekade terakhir ini. Hal ini terutama disebabkan adanya variasi iklim dan lahan pertanian tadah hujan. Sumatera Selatan merupakan satu-satunya provinsi yang mengalami peningkatan produksi secara stabil selama periode yang sama.

Produksi padi di sebagian besar Sumatera dan Jawa meningkat secara stabil, yaitu dari 39,5 juta ton pada tahun 1998 menjadi 43,8 juta ton pada tahun 2007. Secara khusus, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu dan Lampung di Sumatera dan seluruh provinsi di Jawa mencatat peningkatan hasil yang signifikan, namun hasil produksi padi di Pulau Jawa berfluktuasi dari tahun ke tahun. Adapun sentra produksi padi di pulau Jawa adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Sedangkan di pulau Sulawesi adalah Sulawesi Selatan, dan di Pulau Sumatera adalah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.
Jagung

Pada tahun 2007, produksi jagung mencapai 13,3 juta ton, hal ini menunjukkan adanya kenaikan di atas 1,5 juta ton dari tingkat produksi tahun 2006. Meningkatnya produktivitas (dari 3,47 ton per hektar di tahun 2006 menjadi 3,6 ton per hektar di tahun 2007) bersama dengan meningkatnya luas penanaman jagung memberikan kontribusi terhadap keseluruhan peningkatan produksi ini. Panen petani di Jawa pada tahun 2007 adalah sebesar 7,34 juta ton atau 55% dari total produksi nasional. Pulau Sumatera tetap sebagai sentra produksi jagung terbesar kedua di tahun 2007 yaitu sebesar 20% dari total produksi nasional, diikuti oleh Sulawesi (17%). Adapun provinsi yang menjadi sentra produksi jagung di pulau Jawa adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Di pulau Sumatera yang menjadi daerah sentra produksi jagung adalah provinsi Lampung dan Sumatera Utara.
Ubi Kayu

Keseluruhan produksi ubi kayu berada pada tingkat yang sama pada tahun 2006 dan 2007. Namun produksi ubi kayu meningkat dari 15,5 Ton/ha di tahun 2004 ke 16,6 Ton/ha di tahun 2007. Pulau Jawa tetap menjadi sentra produksi ubi kayu terbesar nasional yaitu sebesar 49% dari total produksi nasional, diikuti oleh Sumatera sebesar 37%. Adapun provinsi yang menjadi sentra ubi kayu untuk pulau Jawa adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI. Yogyakarta. Di pulau Sumatera yang menjadi daerah sentra produksi ubi kayu adalah provinsi Lampung.
Ubi Jalar

Produksi tahunan ubi jalar tetap berada pada tingkat hampir konstan selama tahun 2004 – 2007, yaitu sekitar 1,9 juta ton. Pulau Jawa, Sumatera, dan Papua merupakan sentra produksi ubi jalar utama. Adapun provinsi yang menjadi sentra ubi jalar untuk pulau Jawa adalah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Pulau Sumatera yang menjadi daerah sentra produksi ubi jalar adalah provinsi Sumatera Utara. Di Pulau Papua yang menjadi sentra produksi adalah provinsi Papua. Dengan meningkatnya kecenderungan petani dalam menanami tanaman bernilai jual tinggi, produksi ubi jalar (dan ubi kayu) akan tetap berada di tingkat ini atau bahkan menurun di masa mendatang.

Tantangan Utama Pemenuhan Kecukupan

Laju peningkatan kebutuhan pangan lebih cepat dibandingkan dengan laju peningkatan kemampuan produksi. Disamping itu peningkatan produktivitas tanaman di tingkat petani relatif stagnan, karena terbatasnya kemampuan produksi, penurunan kapasitas kelembagaan petani, serta kualitas penyuluhan pertanian yang jauh dari memadai. Semakin terbatasnya kapasitas produksi pangan nasional, disebabkan oleh: (i) berlanjutnya konversi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian; (ii) menurunnya kualitas dan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan; (iii) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air untuk produksi pangan akibat kerusakan hutan; (iv) rusaknya sekitar 30 persen prasarana pengairan, dimana seharusnya dilakukan rehabilitasi sebanyak 2 kali dalam 25 tahun terakhir; (v) persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor industri dan pemukiman; (vi) kerusakan yang disebabkan oleh kekeringan maupun banjir semakin tinggi karena fungsi perlindungan alamiah telah sangat berkurang; (vii) masih tingginya proporsi kehilangan hasil panen pada proses produksi, penanganan hasil panen dan pengolahan pasca panen, masih menjadi kendala yang menyebabkan penurunan kemampuan penyediaan pangan dengan proporsi yang cukup tinggi; (viii) perubahan iklim; dan (ix) persaingan antara pangan untuk konsumsi dan produksi biofuel.

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan lain yang perlu dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Tahun 2015 penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 247,6 juta jiwa. Apabila kebutuhan pangan untuk penduduk ini tidak dapat terpenuhi maka akan mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan.

Strategi untuk meningkatkan ketersediaan pangan

Kebijakan ketersediaan pangan secara nasional tahun 2005-2009 diarahkan kepada beberapa hal yaitu: (i) Meningkatkan kualitas sumberdaya alam dan lingkungan; (ii) Mengembangkan infrastruktur pertanian dan pedesaan; (iii) Meningkatkan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri; dan (iv) Mengembangkan kemampuan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat.

Di bawah ini adalah kegiatan operasional kunci yang dilakukan untuk menjamin dan meningkatkan ketersediaan pangan adalah:

1. Pengembangan lahan abadi 15 juta ha lahan sawah beririgasi dan 15 juta ha lahan kering.
2. Pengembangan konservasi dan rehabilitasi lahan.
3. Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai.
4. Pengembangan dan penyediaan benih, bibit unggul, dan alat mesin pertanian.
5. Pengaturan pasokan gas untuk memproduksi pupuk.
6. Pengembangan skim permodalan bagi petani/nelayan.
7. Peningkatan produksi dan produktivitas (perbaikan genetik & teknologi budidaya).
8. Pencapaian swasembada 5 komoditas strategs: padi (swasembada berkelanjutan), jagung (2008), kedelai (2011), gula (2009), dan daging (2010).
9. Penyediaan insentif investasi di bidang pangan termasuk industri gula, peternakan, dan perikanan.
10. Penguatan penyuluhan, kelembagaan petani/nelayan dan kemitraan.

Selain itu juga dilakukan kebijakan lain, yaitu:

1. Menata Pertanahan dan Tata Ruang dan Wilayah, melalui:
* Pengembangan reformasi agraria
* Penyusunan tata ruang daerah dan wilayah
* Perbaikan administrasi pertanahan dan sertifikasi lahan
* Pengenaan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur dan yang mentelantarkan lahan pertanian
2. Mengembangkan Cadangan Pangan
* Pengembangan cadangan pangan pemerintah (nasional, daerah dan desa) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan Pasal 5
* Pengembangan lumbung pangan masyarakat
3. Menjaga Stabilitas Harga Pangan
* Pemantauan harga pangan pokok secara berkala untuk mencegah jatuhnya harga gabah/beras di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP)
* Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyangga untuk stabilitas harga pangan seperti yang tercantum dalam Inpres Nomor 13 Tahun 2005 tentang Kebijakan Perberasan; SKB Men Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. KEP-46/M.EKON/08/2005 dan Nomor 34/KEP-34/ KEP/MENKO/KESRA/VIII/2005 tentang Pedoman Umum Koordinasi Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah; Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2005 tentang Penggunaan Cadangan pangan Pemerintah untuk Pengendalian Harga, dan Surat menteri Pertanian kepada Gubernur dan Bupati Walikota se-Indonesia Nomor 64/PP.310/M/3/2006 tanggal 13 maret 2006 tentang Pengelolaan Cadangan Pangan)
4. Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan
* Pemberdayaan masyarakat miskin dan rawan pangan
* Peningkatan efektivitas program Raskin
5. Melakukan Diversifikasi Pangan
* Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dengan gizi seimbang (Perpres No. 22 Tahun 2009)
* Pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah (PMTAS)
* Pengembangan teknologi pangan
* Diversifikasi usaha tani dan pengembangan pangan lokal

Vindi TyasTutik
Posted on 21st November, 2011

Nama : Vindi TyasTutik
Nim : 101111303
Kelas : Alih Jalur B

Ketersediaan Pangan “Climate Change”
Fenomena perubahan iklim membuat dunia semakin dihantui kemungkinan kemerosotan produksi dan ketersediaan ba-han pangan. Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, climate change dan dampaknya sudah terasa. Negara produsen bahan pangan merasakan penurunan produksi, sehingga mengurangi atau menghentikan ekspor karena menjaga stok di dalam negeri. Rusia sebagai salah satu produsen gandum terbesar dunia, mengurangi ekspor karena berjuta hektare ladang gandum mengering, bahkan terbakar. Thailand sebagai produsen beras terbesar juga mengurangi ekspor. Vietnam untuk sementara menyetop ekspor. Dua negara ini pemasok beras ke Indonesia, jika terjadi ke- kurangan produksi.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah memberikan peringatan bahwa perubahan cuaca ekstrem dan kenaikan harga pangan global diproyeksikan masih akan terus berlanjut dan kemungkinan mengakibatkan krisis pangan tahun ini maupun tahun-tahun mendatang, jika tidak diantisipasi. Banjir besar di Sri Lanka merusak 15,5 persen tanaman padi yang akan dipanen Maret 2011. Kerugiannya USS 120 juta. Kekeringan panjang yang terjadi di Tiongkok membuat negara berpenduduk lebih dari 1 miliar ini bersiap mengimpor berbagai bahan pangan. Bangladesh sedikitnya mengimpor 200.000 ton beras dari Thailand dan 100.000 ton dari Pakistan untuk meningkatkan cadangan pangan.
Di Indonesia, pemerintah mengaku sudah melakukan pengkajian dan antisipasi. Turunnya pasokan gabah dan be- ras ke Perum Bulog menyebabkan dikeluarkannya kebja-kan impor beras sebanyak 1,5juta ton untuk stok. Sementara ini, beras di pasar-pasar tetap tersedia dalam jumlah cukup, walaupun harganya naik. Pemerintah juga masih membuka pintu impor gandum yang diolah mejadi tepung terigu untuk pembuatan mi dan roti. Pintu impor juga masih dibuka lebar untuk jagung, kedelai, gula, daging sapi, dan garam, karena kebutuhan penting ini tak bisa semuanya dipenuhi dari dalam negeri.
Menurut Dirut Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, untuk menjaga stok beras, pemerintah terpaksa membuka pintu impor agar ketersediaan pangan terjamin dan harga di dalam negeri bisa dikendalikan.
Genjot Produksi
Selain impor, pemerintah juga bertekad menggenjot produksi dengan menerapkan teknologi, bantuan kepada pe-tani, dan berbagai upaya lainnya untuk meningkatkan produksi. Pada 2014, semua pangan pokok ditargetkan bisa swasembada.
Menteri Pertanian Suswono mengatakan, pemerintah sudah bertekad mewujudkan pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, daya saing, ekspor, dan kesejahteraanpetani. Sasarannya, pertumbuhan produksi padi lebih dari 5%, swasembada lima komoditas pangan pokok, pertumbuhan sektor pertanian 3,7%, dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Guna mempertahankan swasembada padi tahun 2011, produksi padi harus ditingkatkan 1% dari 65,98 juta ton pada 2010 menjadi 70,60 juta ton. Produksi jagung ditargetkan terus meningkat hinggamencapai 29 juta ton pada 2014, kedelai mencapai 2,7 juta ton dan gula 4,81 juta ton pada 2014,” katanya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan beras yang terus naik dan menghadapi cuaca ekstrem. Badan Litbang Kementerian Pertanian telah menghasilkan varietas unggul padi Inpari 13 yang memiliki umur sekitar 103 hari, potensi hasil 8 ton per hektare, dan tahan hama wereng batang cokelat
(WBC). Selain itu, ada varietas padi toleran kekeringan, toleran rendaman, dan padi hibrida.
Pemerintah, lanjut Suswono, juga meningkatkan luas pertanaman melalui pemanfaatan lahan suboptimal dan meningkatkan indeks pertanaman (IP) pada lahan irigasi dan lahan potensial lainnya. Kemudian, memobilisasi petugas lapangan dan tenaga terampil lainnya untuk pengamatan hama penyakit tanaman (HPT) dan pengamanan tanaman dari serangan HPT.
Selain itu, memperbanyak alat penanganan panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu dan mengurangi kehilangan hasil. Kementerian Pertanian bersama instansi lainnya juga sedang mengembangkan sistem asuransi pertanian untuk mengompensasi kerugian petani akibat gagal panen.
Sesuai arahan Presiden dan Menko Perenomonian, lanjut Suswono, harus diper-lancar pemberian skim kredit bagi petani dan subsidi, kredit lunak untuk pengadaan beras, subsidi untuk kredit investasi bidang pertanian, subsidi uang muka untuk alat dan mesin pertanian, serta subsidi pupuk untuk petani tanaman pangan. Pemerintah juga merencanakan upaya khusus di daerah rawan dan sulit, seperti di Nusa Tenggara Timur.
Apabila semua langkah itu berjalan dengan baik, tentu kita tak perlu khawatir terjadi kekurangan bahan pangan. Namun, tak jarang rencana di atas kertas meleset.
Untuk itu, kita berharap instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap penyediaan bahan pangan bagi rakyat serta seluruh pemangku kepentingan di bidang pertanian, tetap serius mengawal produksi bahan pangan dalam negeri agar ketersediaan pangan tetap terjaga.

Dewi Putri Arladin
Posted on 21st November, 2011

NAMA : DEWI PUTRI ARLADIN
NIM : 101111315
KELAS : ALIH JENIS 2011 – B
TUGAS : EPG

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KETERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA

Persoalan lingkungan saat ini menjadi salah satu masalah yang paling diperhatikan oleh dunia. Perubahan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah menyadarkan dunia bahwa ada masalah serius pada lingkungan dan bumi. Perubahan iklim telah menghadirkan ancaman serius bagi ketersediaan pangan, keamanan dan kenyamanan hidup mahluk di bumi.
Perubahan iklim yang ditandai dengan kemarau dan hujan yang tak menentu mulai menimbulkan korban. Dampak perubahan iklim saat ini sudah mulai dirasakan oleh petani dengan turunnya produktifitas pertanian. Tak hanya petani tanaman pangan yang merasakan dampaknya, para petani kebun yang ada di wilayah pegunungan juga sudah merasakan dahsyatnya dampak perubahan iklim. Tanaman seperti durian, kopi, kakau dan cengkeh mengalami penurunan produksi secara drastis.
Dalam rentang 1 tahun terakhir, penurunan produksi pertanian dan peristiwa gagal panen untuk tanaman pangan hampir merata terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Di Jawa Timur, hujan yang terjadi sepanjang tahun 2010 telah menekan luas areal panen kedelai. Luas tanam menurun jadi 2.581 hektar, sekitar 4,28 persen dibandingkan dengan masa normal. Akibatnya, produksi menurun 8,7 persen. Produktivitas kedelai juga turun dari 1,34 ton per hektar menjadi 1,28 ton per hektar.
Pada komoditas tebu, iklim yang cenderung basah memang meningkatkan luas panen tebu 3,96 persen dan meningkatkan produksi tebu 13,26 persen. Namun, rendemen tanaman tebu justru menurun dari 7,33 persen menjadi 6,07 persen. Komoditas tembakau yang paling serius terkena anomali iklim. Pada 2010 terdapat penurunan luas panen sebesar 31,82 persen dari tahun sebelumnya. Luas tanaman tembakau yang gagal panen mencapai 32.161 hektar, melanda 159 kecamatan dan 991 desa, serta berdampak terhadap 98.312 petani tembakau. (Kompas, 15 Januari 2011).
Di Aceh, Perubahan iklim telah mempengaruhi produksi pangan yang ditandai dengan terjadinya gagal panen hampir dua kali lipat dari tahun 2009. Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Aceh sampai September 2010 menyebutkan, total luasan gagal panen (puso) di Aceh mencapai 7.206 hektare. Rinciannya, 6.237 hektare padi, 4 hektare jagung, dan 965 hektare kedelai.
Dampak perubahan iklim, selain mulai mengancam proses produksi pangan juga membuat kehidupan nelayan terancam. Di beberapa daerah basis nelayan, aktifitas melaut para nelayan mulai berkurang. Para nelayan enggan melaut karena datangnya gelombang dan potensi mendapatkan tangkapan ikan sulit diprediksi. Di Sumatera, tepatnya di bagian pesisir selatan Sumatera Barat, petani gagal panen karena kemarau selama dua bulan terakhir. Di Nusa Tenggara Timur, petani gagal panen jagung karena minimnya info soal kondisi iklim. Kementerian Pertanian mengakui adanya keterlambatan pemerintah dalam mengantisipasi perubahan iklim yang berdampak pada banyaknya peristiwa gagal panen.
Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai pihak di antaranya LIPI, pihak yang paling merasakan dampak pemanasan global dan perubahan iklim adalah negara dunia ketiga, khususnya kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi. Dalam konteks ini, sebenarnya sudah dibaca bahwa kelompok rentan terkena dampak perubahan iklim diantaranya adalah petani.
Perubahan iklim yang mengarah ke pemanasan global merupakan tantangan besar yang dihadapi manusia dewasa ini. Hadirnya perubahan iklim tentu tidak bisa dihindari atau bahkan dihentikan. Langkah paling memungkinkan untuk dilakukan adalah mengadaptasikan diri dengan hadirnya cuaca ekstrim.
Sayangnya, sejauh ini kesadaran pemerintah untuk membantu warga beradaptasi menghadapi dampak perubahan iklim masih angin-anginan. Pemerintah justru sibuk mempersiapkan skema pengurangan emisi gas rumah kaca. Padahal, itu merupakan tugas utama negara-negara industri. Indonesia seharusnya mulai memobilisasi upaya membantu warga beradaptasi menghadapi dampak perubahan iklim.
Petani pada dasarnya memiliki cara dan kemampuan survival yang cukup teruji. Tetapi, bukan berarti mereka harus dibiarkan. Akan lebih bijak jika negara memediasi kepentingan petani untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

HERI TRIYANTO
Posted on 21st November, 2011

Nama : Heri Triyanto
NIM : 101111327
Kelas : 1 B - alih jenis

LANGKAH PEMERINTAH DALAM MENGHADAPI MASALAH KETERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau dalam daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, tetapi juga dapat mengancam keamanan sosial. Data Badan Ketahanan Pangan Nasional, angka rawan pangan Indonesia tercatat 27,5 %. Maka tidak aneh bila dengan mudah ditemukan data keluarga yang kurang gizi sampai kurang pangan.
Harga pangan yang mahal akan berdampak fatal, jumlah orang miskin dapat melonjak, dapat menyebabkan ketidakstabilan politik. ketersediaan stok pangan dapat dijamin dengan cara membangun infrastruktur pertanian. Inovasi dan pemanfaatan teknologi Jaringan irigasi, dan produksi harus dipercepat konstruksinya.Faktor manusia juga paling menentukan, kebijakan harga dan distribusi yang efektif. Dalam menjalankan Program pemerintah, langkah yang harus di lakukan terlebih dahulu adalah dengan menempatkan produsen kecil, seperti petani, nelayan, dan pekebun, sebagai subyek dalam penyediaan pangan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan di daerah pelosok. Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam menangani ketersediaan pangan yang terjadi di Indonesia ini dengan cara :
1.Peningkatan Produksi Bahan Pangan Secara Efisien dan Berkelanjutan:Kecuali gandum, semua jenis bahan pangan dapat di produksi di tanah Indonesia. Oleh sebab itu, bahan pangan yang bisa diproduksi sendiri tidak usah diimpor lagi. Petani harus diberdayakan agar mampu menguasai dan menerapkan teknologi budi daya pertanian. Pemerintah wajib membantu para petani, peternak, dan pembudi daya ikan agar mampu berusaha sesuai daya kapasitas yang dimilikinya.
2.Pengembangan Program Diversifikasi Pangan: Sejak 1987 ketergantugan kita pada beras dan terigu sangat besar, Tingginya konsumsi beras mengakibatkan 31 juta ton beras yang kita hasilkan setiap tahun tidak mencukupi kebutuhan nasional. Hal inilah yang dijadikan dalih oleh para komprador untuk terus mengimpor beras. Oleh sebab itu, mulai sekarang kita harus secara serius dan kontinyu mengurangi konsumsi beras sampai tingkat ideal, yakni 87 kg beras/kapita/tahun. Secara simultan kita lakukan diversifikasi pangan seperti ubi kayu, ubi jalar, sagu, kentang, ganyong, garut, dan jagung. Agar pangan nonberas tersebut mudah didapat dan praktis, maka harus kita proses menjadi tepung.
3.Pengembangan Industri Pascapanen: Pengembangan industri pasca panen yang mencakup penanganan dan pengolahan hasil pertanian serta pengemasannya. Industri ini dapat mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Penerapan teknologi pascapanen juga membuat produk pertanian dapat disimpan dalam waktu lama serta mudah ditransportasikan ke seluruh pelosok tanah air dan mancanegara.
4.Pengembangan Prasarana dan Sarana Transportasi serta Komunikasi: untuk mendistribusikan produk pertanian dari sentra produksi ke daerah konsumen (pasar) di seluruh pelosok nusantara maupun ke pelabuhan-pelabuhan ekspor secara efisien. Selain dapat mendongkrak produktivitas, efisiensi, dan daya saing produk pertanian, sistem transportasi dan komunikasi yang bagus juga menjamin seluruh warga negara dapat mengakses bahan pangan di mana pun mereka berada.
5.Pengembangan Industri Peralatan dan Mesin Pertanian Beserta Industri Penunjangnya: Dengan memproduksi peralatan dan mesin pertanian (seperti traktor, kincir air tambak, alat penangkapan ikan, mesin pabrik penggilingan padi, pengolahan cokelat, pengolah CPO menjadi belasan produk hilir, dan mesin cold storage) di dalam negeri. Tentu produksi pangan dan hasil pertanian lainnya akan lebih besar, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
6.Pengembangan Sistem Informasi Pertanian secara Terpadu: Pengembangan sistem informasi pertanian secara terpadu sebagai basis untuk proses perencanaan, pengambilan keputusan, pemantauan, dan pengendalian keseluruhan mata rantai dan proses pembangunan pertanian.
7.Penguatan Program Penelitian dan Pengembangan (Research & Development): Penguatan program penelitian dan pengembangan (research & development) untuk menghasilkan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.
8.Pengembangan Kerja Sama Internasional di Berbagai Bidang: Pengembangan kerja sama internasional di bidang IPTEK, pembangunan, perdagangan, dan lainnya yang saling menguntungkan serta mengutamakan kepentingan nasional.
9.Pengembangan SDM: Pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan secara terpadu dan berkesinambungan.
10.penyediaan permodalan yang cukup: Penyediaan permodalan yang mencukupi dan atraktif untuk investasi dan bisnis di sektor pertanian baik melalui perbankan maupun lembaga nonperbankan.

ketersediaan pangan di masyarakat yang baik pastinya dapat mengatasi situasi kesehatan dan kelaparan yang selalu menjadi masalah di Indonesia. Dari sini peran pemerintah daerah tetap menjadi prioritas utama dalam penanganan masalah ketersediaan pangan yang melanda di berbagai wilayah, untuk itu perlunya pengorganisasian kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang baik dalam menentukan langkah-langkah yang spesifik dalam mengatasi situasi keshatan dan kelaparan di Indonesia ini.

Muhammad Budi Aji
Posted on 21st November, 2011

Nama : Muhammad Budi Aji
NIM : 101111310-B
No Absen : 15

KETERSEDIAAN PANGAN (JAGUNG)
Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.
Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.
Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.
Di era modernisasi ini kebutuhan pangan dari hari kehari semakin meningkat, hal ini dikarenakan bahwa kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Begitu banyak jenis tanaman pertanian yang ada di Indonesia yang semestinya menjadi bahan makanan masyarakatnya, antara lain, padi, ubi, jagung, kentang, wortel, dan lain-lain. Salah satu sumber bahan pangan pengganti beras yang mempunyai potensi yang baik adalah jagung.
Jagung merupakan bahan makanan pokok utama di Indonesia, yang memiliki kedudukan sangat penting setelah beras. Di beberapa wilayah di Indonesia juga ada yang menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokok. Sehingga keberadaan jagung sangat dibutuhkan dalam rangka ketahanan pangan di Indonesia juga di belahan dunia lainnya. Menurut data ketersediaan pangan nasional, Pada komoditi jagung meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi, namun pada tahun 1998 justru terjadi surplus (ekspor) meskipun hanya kecil. Hal ini diduga karena banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderung turun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton/tahun).
Pemanfaatan jagung saat ini sangat beraneka ragam mulai dari bahan pangan hingga bioenergi. Dalam perkembangan ekonomi dewasa ini, jagung juga memiliki daya ekonomis yang tinggi dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, karena buah jagung sendiri tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagi bahan makanan untuk manusia, dewasa ini buah jagung telah banyak dimanfaatkan menjadi pakan ternak oleh penduduk, bahan olahan dari jagung juga sangat banyak ditemukan, mulai dari keripik, kue, bahkan olahan susu jagung pun telah ada dipasarkan.
Selain itu jagung tidak hanya dapat dimanfaatkan terbatas pada buahnya saja, Seperti batang dan daun jagung yang masih muda dikenal sebagai jerami jagung yang dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Selain sebagai pakan hijauan ternak, jerami juga dapat digunakan sebagai pakan olahan ternak dalam bentuk hay dan silase. Sisa buah tongkol jagung pun dapat diolah kembali menjadi bahan bakar, oleh karena itu pemerintah melalui departemen pertanian, terus berusahan meningkatkan produki jagung di Indonesia.
Berdasarkan komposisi kimia dan kandungan nutrisi, jagung mempunyai prospek sebagai pangan dan bahan baku industri. Ketersediaan jagung yang cukup di dalam negeri ini ditunjukkan dari ketersediaan di pasar di dalam negeri dalam jumlah besar. Pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri akan memberi nilai tambah bagi usaha tani komoditas tersebut. Penanganan dan pengolahan hasil pertanian memang penting untuk meningkatkan nilai tambah, terutama pada saat produksi melimpah dan harga produk rendah, juga untuk produk yang rusak atau bermutu rendah.

M. ABDURRAHMAN
Posted on 21st November, 2011

NAMA : M. ABDUR RAHMAN
NIM : 101111357
KELAS : 1B-ALIH JENIS

MASALAH KETAHANAN PANGAN DAN KEBIJAKANNNYA DI INDONESIA

Masalah-masalah pemenuhan gizi masyarakat tentunya sangat berkaitan erat dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah mengenai pemenuhan kebutuhan pangan terutama bagi rakyat miskin. Berikut dipaparkan mengenai kebijakan pemerintah serta aplikasinya terkait kebutuhan gizi masyarakat.
A. Kebijakan Pemerintah Terkait Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masayarakat
Permasalahna pemenuhan kebutuhan gizi sudah muncul sejak puluhan tahun yang lalu. Oleh karena itu, sudah ada beberapa upaya dari pemerintah yang diharapkan dapat mengurangi atau bahkan menyelesaikan permasalahan gizi. Upaya pemerintah tersebut diantaranya dituangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi. Di dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. UU tersebut menjelaskan konsep ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan
B. Fakta Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat
Dengan kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi yang dibuat, memang sangat ironis jika di negara sebesar dan sesubur Indonesia masih terjadi kekurangan gizi pada rakyatnya. Jika permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi masih banyak terjadi, maka perlu dipertanyakan kembali perihal kebijaksanaan pemenuhan kebutuhan gizi beserta aplikasi/pelaksanaannya.
C. Penyebab Terjadinya Permasalahan Pemenuhan Gizi
1. Kemiskinan
Kondisi yang dialami rakyat belakangan ini sungguh memasuki fase yang memiriskan hati. Lonjakan harga berbagai bahan pangan dan komoditas strategis membuat daya beli rakyat makin tergerus. Tidak tersedianya pangan dalam jumlah dan mutu yang memadai dapat diartikan sebagai telah terjadinya kemiskinan karena ada hak-hak dasar seseorang atau sekelompok orang yang tidak dapat terpenuhi. Oleh karena itu dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan maka ketersediaan pangan yang kemudian dikenal sebagai ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya strategis dalam penanggulangan masalah kemiskinan
2. Bencana Alam
Tidak bisa dipungkiri bahwa sering terjadinya bencana alam merupakan salah satu penyebab adanya gizi buruk di Indonesia. Banjir, tanah longsor, tsunami, letusan gunung berapi dan bencana alam lain akan menghambat pemenuhan gizi di Indonesia. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, permasalahan pemenuhan bahan pangan bukan hanya terkait ada atau tidaknya bahan pangan namun juga terkait dengan pendistribusian yang tidak merata. Bencana alam berpotensi menghalang proses distribusi bahan makanan sehingga bahan pangan yang ada tidak terdistribusi dengan baik. Sehingga daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau menjadi kekurangan bahan pangan yang dalam waktu relatif lama dapat menyebabkan gizi buruk.
3. Korupsi
Keterkaitan korupsi dengan masalah kekurangan gizi dapat ditinjau dari banyaknya anggaran yang disiapkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, namun faktanya pembagian dana tersebut tidak tepat sasaran dengan bukti permasalahan yang tidak segera selesai.
4. Budaya Serba Instan
Jika dilihat dari aspek ketahanan pangan di Indonesia, budaya Serba Instan inilah yang tengah menjajah bangsa ini sehingga melahirkan generasi yang malas, tidak produktif yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan diantaranya adalah pola konsumsi masyarakat. Budaya ini akan meninabobokan masyarakat Indonesia dari bangkit untuk menjadi masyarakat yang produktif. Jika saja budaya produktif dikembangkan diberbagai lini kehidupan, dipastikan bangsa Indonesia akan lebih cepat berkembang, termasuk mengenai permasalah pemenuhan bahan pangan.
6. Kebijakan Pemerintah Terkait Pengadaan Bahan Pangan
Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait pengadaan bahan pangan tentu mempunyai andil yang cukup besar terhadap keberadaan bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat berikut harganya. Pemerintah berwewenang mengambil kebijakan untuk impor atau ekspor bahan pangan. Selama ini pemerintah masih banyak mengimpor bahan pangan untuk memenuhi kekurangan bahan pangan dari dalam negeri. Namun impor bahan pangan yang tidak dikendalikan, dapat memperparah keterpurukan ekonomi Indonesia, karena hal tersebut dapat membunuh sektor pertanian yang seharusnya menjadi andalan bangsa ini. Kebijakan pemerintah yang berperan dalam pengadaan bahan pangan tidak hanya mengenai impor, namun juga kebijakan-kebijakan sebagai wujud perhatian kepada para petani. Kebijakan-kebijakan tersebut meliputi kebijakan sebelum tanam, masa pemeliharaan dan pascapanen. Kebijakan yang diharapkan petani untuk dapat menunjang perekonomiannya antara lain harga pupuk yang tidak mahal (terjangkau), harga gabah/beras yang tinggi. Dengan demikian sedikit demi sedikit perekonomian petani sebagai pengelola langsung sektor agraris yang sangat vital akan terangkat.

ni'matu zuliana
Posted on 21st November, 2011

Nama : NI’MATU ZULIANA
NIM : 101111323
Kelas : B (Alih Jenis)
Produksi dan Penyediaan Pangan di Indonesia
Pada saat ini dunia mengalami kekhawatiran mengenai masalah produksi pangan yang
semakin hari semakin menipis. Hal ini disebabkan beralihnya lahan pertanian ke non
pertanian seperti perumahan dan sektor industri seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk dunia. Hal ini berdampak pada kebutuhan penyediaan pangan juga semakin
banyak.
Beras merupakan salah satu contoh pangan yang dijadikan sebagai bahan pangan
pokok oleh sebagian masyarakat di dunia, terutama bagian Asia Tenggara. Indonesia
merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya besar dan sebagian besar dari
penduduk tersebut mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Oleh karena itu Indonesia
membuat suatu kebijakan mengenai kemandirian penyediaan beras melalui peningkatan
produksi beras domestik sebagai kebijakan pangan nasional.
Namun hingga saat ini Indonesia masih sering mendatangkan beras dari negara lain
untuk memenuhi kesediaan pangan. Komoditas pangan beras masih menempati peran yang
sangat penting dalam perekonomian nasional, karena sebagian besar penduduknya masih
mengandalkan beras sebagai bahan pangan yang utama. Dengan demikian, ketersediaan dan
distribuasi beras serta keterjangkauan masyarakat masih menjadi acuan perekonomian
bangsa.
Keterbatasan ini disebabkan oleh ketidakseimbangan lahan pertanian (semakin
menyempit). Selain itu keterbatasan juga dipengaruhi oleh keterbatasan produksi terutama
tentang pengairan (irigasi), keengganan petani untuk mengakses bibit unggul, dan
keterbatasan teknologi untuk penanganan pasca panen. Keterbatasan tersebut apabila tidak
segera di antisipasi akan dapat merugikan penduduk di masa yang akan datang. Kekurangan
pangan sangat ditakutkan oleh semua warga negara, karena dapat menyebabkan adanya
kelaparan. Kendala lain yang masih menjadi masalah dalam pengembangan pertanian adalah
kurangnya perhatian pemerintah kepada para petani. Di Indonesia profesi sebagai petani
masih dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Profesi ini masih dianggap sebagai
profesi yang rendah, tanpa mereka sadari bahwa petani mempunyai peran penting dalam
kelangsungan hidup mereka.
Di Indonesia daerah sentra produksi pangan masih terpusat di pulau Jawa. Sebagai
negara yang berdaerah tropis, Indonesia mempunyai potensi besar untuk meningkatkan
produksi beras dan menekan angka ketergantungan terhadap impor, atau bahkan dapat
menjadi salah satu negara pengekspor beras. Hal ini dapat diwujudkan dengan meningkatkan
faktor-faktor yang mempengaruhi produksi beras ke arah yang lebih baik., seperti
memperbaiki sistem pengairan (terutama di daerah luar Jawa), membuka lahan baru untuk
memproduksi hasil tanaman yang lebih besar, meningkatkan keterampilan petani agar dapat
menghasilakan hasil panen yang optimal dan juga meningkatkan teknologi dalam bidang
pertanian agar dapat mengolah dan memproduksi hasil panen secara optimal(pasca panen).
Selain itu peran pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan sangat diperlukan, dengan
cara memberikan perhatian yang lebih kepada petani dengan cara memberikan bantuan
melalui subsidi alat atau bahan pertanian dan juga dukungan atau bantuan kepada para petani
yang ingin mengekspor hasil pertaniannya. Dengan demikian petani lebih semangat dalam
bertani karena perhatian dan peluang tersebut.
Dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah dalam bidang pangan, dan dengan
adanya potensi alam Indonesia yang sangat bagus dalam bidang pertanian, maka cita-cita
untuk mewujudkan kemandirian Indonesia dalam mencukupi pangan akan dapat tercapai,
seiring berkembangnya teknologi dan pengetahuan yang ada dalam bidang pangan yang
selalu berkembang. Sehingga impor pangan yang sedang dilakukan oleh Indonesia dapat
dihentikan atau paling tidak dapat diminimalisir dan keinginan petani Indonesia untuk
mengekspor pangan dapat terwujud. Dengan demikian nasib para petani Indonesia juga akan
lebih baik, dan profesi sebagai petani tidak lagi dipandang sebelah mata, atau bahkan
dianggap sebagi profesi yang mulia karena sangat berjasa bagi penghidupan banyak manusia.

Nineng Endah Asta Palupi
Posted on 21st November, 2011

MENU SEHAT BAGI MANULA

Menjadi manula secara alami akan dialami oleh setiap orang. Prosesnya tidak dapat dihindari, dicegah atau ditolak, kecuali lagi mereka yang ditakdirkan meninggal pada usia muda. Kekuatan fisik dan daya tahan tubuh pada manula telah menurun, serta mekanisme kerja organ tubuh mulai terganggu. Kemunduran tersebut disebabkan oleh perubahan yang secara alami terjadi pada manula, antara lain : (1). besar otot berkurang, karena jumlah dan besar serabut otot berkurang, (2). metabolisme basal menurun, (3). kemampuan bernafas menurun karena elastisitas paru-paru berkurang, (4). kepadatan tulang menurun karena berkurangnya mineral, sehingga lebih mudah cidera, (5). sistem kekebalan tubuh menurun hingga peka terhadap penyakit dan alergi, (6). sistem pencernaan terganggu yang disebabkan antara lain oleh tanggalnya gigi, kemampuan mencerna dan menyerap zat gizi kurang efisien dan gerakan peristaltik usus menurun, dan (7). indra pengecap dan pembau sudah kurang sensitif (kurang peka) yang menyebabkan selera makan menurun.
Di negara maju yang tergolong menula adalah orang yang berumur 51 tahun atau lebih. Sedangkan untuk di Indonesia, menurut Widya Karya Pangan dan Gizi (1988) yang digolongkan manula adalah mereka yang berumur di atas 60 tahun.

KEBUTUHAN GIZI MANULA
Masalah gizi yang dihadapi manula berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas fisiologis tubuhnya. Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisi manula yang secara alami memang sudah menurun. Dibandingkan dengan usia dewasa, kebutuhan gizi manula umumnya lebih rendah karena adanya penurunnan metabolisme basal dan kemunduran lain seperti diuraikan di atas. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) telah membuat angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk manula dalam sehari, seperti disajikan pada tabel 1.
Kalori
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15 sampai 20 persen. Hal ini terutama disebabkan berkurangnya massa otot. Disamping itu, aktivitas (kerja, olah raga) yang dilakukan oleh lanjut usia umumnya menurun.
Tabel 1. Angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk manula dalam sehari Komposisi Laki-laki Perempuan
Energi (Kal)
Protein (gram)
Vitamin A (RE)
Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)
Niasin (mg)
Vitamin B12 (mg)
Asam folat (mikrogram)
Vitamin C (mg)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Seng (mg)
Iodium (mikrogram) 1960
50
600
0.8
1.0
8.6
1.0
170
40
500
500
13
15
150 1700
44
500
0.7
0.9
7.5
1.0
150
30
500
450
16
15
150
Sumber : Wiya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989)
Kebutuhan energi tiap orang berbeda-beda tergantung ukuran tubuh dan aktivitasnya. Umumnya orang dewasa membutuhkan sekitar 1000 sampai 2700 Kal per harinya. Sedangkan untuk manula membutuhkan energinya yaitu 1960 Kal untuk laki-laki dan 1700 Kal untuk manula wanita. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul kegemukan (obesitas), yang akan mempercepat timbulnya penyakit degeneratif. Sebaliknya bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.
Protein
Pada orang yang berusia lanjut, massa ototnya berkurang, sehingga total protein tubuhnya juga berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dibanding orang dewasa. Hal ini disebabkan pada orang tua efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerannya kurang efisien). Disamping itu, adanya stress (tekanan batin), penyakit infeksi, patah tulang dan lain lain penyakit, akan meningkatkan kebutuhan protein bagi manula. Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk manula sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12 - 14 persen dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.
Karbohidrat dan Serat Makanan
Dianjurkan agar para manula mengurangi konsumsi gula-gula sederhana (gula pasir, sirup) dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang berasal dari biji-bijian dan kacang-kacangan utuh selain berfungsi sebagai sumber energi, juga sebagai sumber serat.
Banyak manula yang mengalami diare jika mengkonsumsi susu. Hal ini disebabkan dalam ususnya tidak terkandung enzim pencerna (laktosa), sehingga laktosa dicerna oleh mikroba usus besar dan menimbulkan diare. Produk-produk susu yang sudah difermentasi, misalnya yoghurt dan keju tidak dapat menimbulkan diare, karena sebagian besar laktosanya telah digunakan mikroba dalam proses fermentasi. Disamping sebagai sumber karbohidrat (laktosa) susu juga sangat penting sebagai sumber protein, vitamin dan mineral.
Vitamin dan Mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya para manula kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasan, asam folat, vitamin C, D dan E. Umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan
Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringt dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Orang dewasa dianjurkan minum sebanyak 2 sampai 2,5 liter per hari. Ketentuan ini berlaku pula pada manula (minum lebih dari 6 - 8 gelas per hari).

Nineng Endah Asta Palupi
Posted on 21st November, 2011

Nama: Nineng Endah Asta Palupi
NIM: 101111307
Kelas: B

MENU SEHAT BAGI MANULA

Menjadi manula secara alami akan dialami oleh setiap orang. Prosesnya tidak dapat dihindari, dicegah atau ditolak, kecuali lagi mereka yang ditakdirkan meninggal pada usia muda. Kekuatan fisik dan daya tahan tubuh pada manula telah menurun, serta mekanisme kerja organ tubuh mulai terganggu. Kemunduran tersebut disebabkan oleh perubahan yang secara alami terjadi pada manula, antara lain : (1). besar otot berkurang, karena jumlah dan besar serabut otot berkurang, (2). metabolisme basal menurun, (3). kemampuan bernafas menurun karena elastisitas paru-paru berkurang, (4). kepadatan tulang menurun karena berkurangnya mineral, sehingga lebih mudah cidera, (5). sistem kekebalan tubuh menurun hingga peka terhadap penyakit dan alergi, (6). sistem pencernaan terganggu yang disebabkan antara lain oleh tanggalnya gigi, kemampuan mencerna dan menyerap zat gizi kurang efisien dan gerakan peristaltik usus menurun, dan (7). indra pengecap dan pembau sudah kurang sensitif (kurang peka) yang menyebabkan selera makan menurun.
Di negara maju yang tergolong menula adalah orang yang berumur 51 tahun atau lebih. Sedangkan untuk di Indonesia, menurut Widya Karya Pangan dan Gizi (1988) yang digolongkan manula adalah mereka yang berumur di atas 60 tahun.

KEBUTUHAN GIZI MANULA
Masalah gizi yang dihadapi manula berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas fisiologis tubuhnya. Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisi manula yang secara alami memang sudah menurun. Dibandingkan dengan usia dewasa, kebutuhan gizi manula umumnya lebih rendah karena adanya penurunnan metabolisme basal dan kemunduran lain seperti diuraikan di atas. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) telah membuat angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk manula dalam sehari, seperti disajikan pada tabel 1.
Kalori
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15 sampai 20 persen. Hal ini terutama disebabkan berkurangnya massa otot. Disamping itu, aktivitas (kerja, olah raga) yang dilakukan oleh lanjut usia umumnya menurun.
Tabel 1. Angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk manula dalam sehari Komposisi Laki-laki Perempuan
Energi (Kal)
Protein (gram)
Vitamin A (RE)
Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)
Niasin (mg)
Vitamin B12 (mg)
Asam folat (mikrogram)
Vitamin C (mg)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Seng (mg)
Iodium (mikrogram) 1960
50
600
0.8
1.0
8.6
1.0
170
40
500
500
13
15
150 1700
44
500
0.7
0.9
7.5
1.0
150
30
500
450
16
15
150
Sumber : Wiya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989)
Kebutuhan energi tiap orang berbeda-beda tergantung ukuran tubuh dan aktivitasnya. Umumnya orang dewasa membutuhkan sekitar 1000 sampai 2700 Kal per harinya. Sedangkan untuk manula membutuhkan energinya yaitu 1960 Kal untuk laki-laki dan 1700 Kal untuk manula wanita. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul kegemukan (obesitas), yang akan mempercepat timbulnya penyakit degeneratif. Sebaliknya bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.
Protein
Pada orang yang berusia lanjut, massa ototnya berkurang, sehingga total protein tubuhnya juga berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dibanding orang dewasa. Hal ini disebabkan pada orang tua efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerannya kurang efisien). Disamping itu, adanya stress (tekanan batin), penyakit infeksi, patah tulang dan lain lain penyakit, akan meningkatkan kebutuhan protein bagi manula. Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk manula sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12 - 14 persen dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.
Karbohidrat dan Serat Makanan
Dianjurkan agar para manula mengurangi konsumsi gula-gula sederhana (gula pasir, sirup) dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang berasal dari biji-bijian dan kacang-kacangan utuh selain berfungsi sebagai sumber energi, juga sebagai sumber serat.
Banyak manula yang mengalami diare jika mengkonsumsi susu. Hal ini disebabkan dalam ususnya tidak terkandung enzim pencerna (laktosa), sehingga laktosa dicerna oleh mikroba usus besar dan menimbulkan diare. Produk-produk susu yang sudah difermentasi, misalnya yoghurt dan keju tidak dapat menimbulkan diare, karena sebagian besar laktosanya telah digunakan mikroba dalam proses fermentasi. Disamping sebagai sumber karbohidrat (laktosa) susu juga sangat penting sebagai sumber protein, vitamin dan mineral.
Vitamin dan Mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya para manula kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasan, asam folat, vitamin C, D dan E. Umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan
Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringt dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Orang dewasa dianjurkan minum sebanyak 2 sampai 2,5 liter per hari. Ketentuan ini berlaku pula pada manula (minum lebih dari 6 - 8 gelas per hari).

Aresta Widowati Rachmadani
Posted on 21st November, 2011

Nama : Aresta Widowati Rachmadani
NIM : 101111316
Kelas: 1b (Alih Jenis)

Kondisi Lahan Pertanian Yang Semakin Menyusut Membahayakan Ketahanan Pangan Indonesia

Tanah sawah merupakan pusat produksi pertanian. Tanpa lahan yang disebut sawah tersebut, jaman sekarang masih mustahil untuk menanam padi, kapas, gandum maupun tanaman kebutuhan pokok. Sebagaian besar sawah, notabennya berada di daerah Kabupaten. Di daerah Kota mungkin sudah langka atau jarang. Tiap tahun ke tahun keberadaan tanah/lahan sawah semakin berkurang. Berkurangnya lahan sawah bisa saja karena sudah “disulap” menjadi bangunan, baik itu rumah, pabrik, atau telah terkonversi menjadi lahan non pertanian. Terkonversinya lahan sawah untuk pertanian akan memunculkan banyak masalah.

Menurut saya, bahwa sawah masih menjadi media untuk menanam tanaman kebutuhan pokok. Jika sawah ini terkonversi menjadi lahan non pertanian, maka kuantitas mengahasilkan produksi pertanian pun akan berkurang. Kalau semakin menurun hasil produksi pertanian, tentunya kesediaan pangan pun akan sedikit. Kalau kesediaan pangan terancam, maka masalah ketahanan pangan pun akan muncul.

Banyak alternatif untuk mengatasi masalah kekurangan kesediaan pangan. Salah satunya dengan impor. Menurut pendapat saya, pengadaan impor untuk pangan adalah langkah terakhir. Kalau tiap tahun masih mengimpor pangan, berarti kita lupa dengan negara kita sendiri. Secara historis-gografis, negara kita terkenal subur dengan lahan pertaniannya.

Kembali pada kondisi lahan pertanian yang semakin menyusut. Sekiranya langkah apa yang harus ditempuh agar sawah tidak terkonversi ke lahan non pertanian dan terus produktif. Kalau meninjau munculnya sebab lahan pertanian tidak produktif maupun berubah menjadi lahan non pertanian cukup banyak faktornya. Alasan yang paling realistis adalah yang sangat memungkinkan terjadinya konversi lahan pertanian. Misal: banyak orang desa yang bekerja di kota. Bekerja menggantungkan pertanian sudah tidak manjanjikan. Petani tapi tidak punya sawah. Musimnya sulit. Sawah dibuat rumah atau dijual karena butuh uang.
Mengahadapi kondisi realitas dan sosial penyebab alasan realisitis di atas, tentunya bagaimana peran negara menghadapi kenyataan di atas. Ujung tombak peran negara menghadapi masayarakat tentunya berada dalam struktur organasasi terkecil. Di tingkat RT/RW dan Desa/Kelurahan ini yang sebenarnya bisa mengatur dan mengawasi sosial masyarakatnya. Kalau di tingkat atas/menengah memberikan kebijakan/peraturan larangan konversi lahan pertanian menjadi non pertanian, namun di tingkat bawah masih banyak tidak menjalankan kebijakan tersebut, maka perlu dibenahi masalah tersebut. Ini bukan saja masalah implementasi peraturan perundang-undangan, namun juga mengahadapi kondisi sosial masyarakat dengan kesadaran hukum masyarakat yang berbeda-beda.

Kalau disadari masyarakat, akibat berkurangnya lahan produktif pertanian menjadi non pertanian akan kembali ke masyarakat lagi khususnya mereka yang berada di tingkat kecil. Secara ekonomi, orang kecil kurang mampu berkompetisi/bersaing untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya (pangan) dengan masyarakat mampu/kaya. Membuat kebijakan di level Desa/Kelurahan mungkin langkah yang cukup tepat dengan dukungan level atas. Salah satunya membuat Peraturan Desa/Kelurahan mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Desa/kelurahan dan Larangan Konversi Lahan Sawah menjadi Non Pertanian. Aturan ini tentunya harus diselaraskan dengan aturan yang lebih tinggi. Misal pun kalau ada aturan lebih tinggi malah akan menghancurkan aturan Desa/Kelurahan tersebut harus diselesaikan dengan seadil-adilnya.

Dengan aturan Desa/Kelurahan tersebut, tidak berarti seseorang harus menjadi petani. Namun, bila dikaji lebih lanjut manfaat yang didapat lahan produktif pertanian setidak-tidaknya tidak terkonversi menjadi lahan non pertanian. Bisa dibayangkan bila sudah menjadi bangunan (pabrik maupun rumah). Bagaimana membuat lahan sawah dari bangunan, namun jika mengkoversi lahan sawah menjadi bangungan begitu pesat cepatnya.

Kalau kita memikirkan jangka panjang, mungkin langkah terbijak adalah dengan mengoptimalkan lahan sawah yang ada dan menciptakan lahan sawah baru. Untuk mengoptimalkan lahan sawah perlu dukungan/sumber hukum yang jelas. Maka membuat aturan Desa/Kelurahan mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Desa/kelurahan dan Larangan Konversi Lahan Sawah menjadi Non Pertanian adalah langkah yang seharusnya dibuat sejak dini.

DELLA YAN KARTIKA
Posted on 21st November, 2011

NAMA : DELLA YAN KARTIKA
NIM : 101111297
KELAS : VB (ALIH JENIS)

Masalah Ketahanan Pangan dan Ancaman Pemanasan Global (Global Warming)

Pengertian Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah, maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan hal yang penting dan strategis, karena berdasarkan pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa tidak ada satu negarapun yang dapat melaksanakan pembangunan secara mantap sebelum mampu mewujudkan ketahanan pangan terlebih dahulu. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat pertumbuhannya yang tinggi, maka upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan merupakan tantangan yang harus mendapatkan prioritas untuk kesejahteraan bangsa.

Berdasarkan definisi ketahanan pangan dari FAO (1996) dan UU RI No. 7 tahun 1996, yang mengadopsi definisi dari FAO, ada 4 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan yaitu:
kecukupan ketersediaan pangan;
stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun.
aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan serta
kualitas/keamanan pangan

Ketahanan Pangan, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional

Ketahanan pangan merupakan bagian terpenting dari pemenuhan hak atas pangan sekaligus merupakan salah satu pilar utama hak asasi manusia. Ketahanan pangan juga merupakan bagian sangat penting dari ketahanan nasional. Dalam hal ini hak atas pangan seharusnya mendapat perhatian yang sama besar dengan usaha menegakkan pilar-pilar hak asasi manusia lain. Kelaparan dan kekurangan pangan merupakan bentuk terburuk dari kemiskinan yang dihadapi rakyat, dimana kelaparan itu sendiri merupakan suatu proses sebab-akibat dari kemiskinan.

Oleh sebab itu usaha pengembangan ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari usaha penanggulangan masalah kemiskinan. Di lain pihak masalah pangan yang dikaitkan dengan kemiskinan telah pula menjadi perhatian dunia, dan Indonesia memiliki tanggung jawab untuk turut serta secara aktif memberikan kontribusi terhadap usaha menghapuskan kelaparan di dunia.

Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun. Dalam hal inilah, petani memiliki kedudukan strategis dalam ketahanan pangan : petani adalah produsen pangan, namun ironisnya petani adalah juga sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan. Dapat dikatakan petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.

Terkait hal di atas, usulan pengembangan ketahanan pangan dapat dilakukan antara lain dalam (1) komitmen dan kerjasama yang kuat antara pemerintah, legislatif, swasta dan masyarakat (LSM dan Perguruan Tinggi); (2) mencegah dan mengurangi laju konversi lahan produktif; dan (3) memanfaatkan dengan lebih optimal berbagai bentuk sumberdaya lahan (lahan kering, lahan rawa, lahan pasang surut) untuk kepentingan pemantapan produksi pangan dan peningkatan pendapatan petani. Tentunya masih ada usulan yang lain.

Ketahanan Pangan “Nyawa” Suatu Bangsa

Meningkatnya harga bahan pangan pokok menjadi topik utama pemberitaan media massa. Juga berita sawah kekeringan yang berarti menghadapi kerawanan pangan. Hal ini membuktikan bahwa ketahanan pangan bangsa tetap menjadi perhatian masyarakat luas. Ketahanan pangan rumah tangga merupakan salah satu aspek pembangunan nasional yang tidak boleh diabaikan pemerintah. Apabila negara tidak mampu menyediakan pangan yang cukup bagi rakyatnya, maka akan timbul keresahan sosial yang pada akhirnya dapat mengganggu kestabilan ekonomi dan politik.

Sejalan dengan hal itu, David Nelson mengatakan bahwa shortage of food can lead to a civil war (kekurangan pangan dapat menimbulkan perang saudara). Sebagai bukti pada jaman Presiden Sukarno pada tahun 1952 terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan beras Indonesia. Pada saat itu, dengan jumlah penduduk sebanyak 75 juta dan konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 86 kg (setara dengan 1.712 kkal/hari), maka kebutuhan beras dalam negeri mencapai 6,45 juta ton, sementara produksi beras nasional hanya mencapai 5,5 juta ton, maka terjadi defisit sebesar 0,95 juta ton (15% dari kebutuhan).

Selanjutnya, Bung Karno memproyeksikan delapan tahun ke depan, yaitu tahun 1960. Dengan asumsi konsumsi beras per kapita tetap dan kemampuan memproduksi padi juga tetap, apabila penduduk bertambah delapan juta jiwa menjadi 83 juta tahun 1960, maka kebutuhan impor beras meningkat menjadi 2,2 juta ton (dengan tingkat konsumsi energi 1.712 kkal/hari). Apabila konsumsi energi yang ingin dipenuhi sesuai standar kecukupan (2.250 kkal/hari/orang), maka kebutuhan impor akan mencapai 6,3 juta ton, yang berarti 50 persen kebutuhan beras dipenuhi dari impor. Lantas, apabila kemampuan untuk memproduksi lemah dan devisa ataupun utang luar negeri untuk mengimpor tidak ada, maka rata-rata konsumsi energi per kapita akan menjadi 1.547 kkal/hari. Pada tingkat konsumsi energi seperti itu, orang tidak dapat hidup sehat, apalagi produktif. Kondisi tersebut menurut Bung Karno akan menyebabkan “rakyat kelaparan, kocar-kacir dan menyedihkan secara permanen kuadrat”. Dalam kalimat yang sangat tegas Bung Karno menyatakan “…. bahwa kita sekarang ini

menghadapi hari kemudian yang amat ngeri, bahkan suatu todongan pistol ‘mau hidup atau mau mati’…”.

Kondisi ancaman “todongan pistol” tersebut ternyata sampai saat ini masih relevan untuk tetap diwaspadai. Walaupun dalam 50 tahun produksi padi dapat ditingkatkan 5,9 kali lipat, (dari 5,5 juta ton tahun 1952 menjadi 32,5 tahun 2002), tetapi dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi (dari 75 juta menjadi 212 juta jiwa) dan peningkatan konsumsi beras per kapita per tahun yang besar (dari 86 kg menjadi 142 kg), maka Indonesia masih harus mengimpor beras sekitar satu juta ton, suatu jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan total kebutuhan.

Sebagai perbandingan, satu juta ton beras impor tahun 2002 hanya sekitar tiga persen dari produksi domestik, sementara 50 tahun lalu jumlah itu setara dengan 15 persen. Fakta ini dapat dinilai sebagai prestasi dari para petani kita. Namun demikian, ancaman “todongan pistol” kerawanan pangan tersebut pada waktu yang akan datang masih tetap relevan apabila: (1) tingkat pertumbuhan penduduk tidak dapat diturunkan (saat ini 1,49 %/tahun), (2) kapasitas produksi pangan nasional tidak dapat dipelihara atau dipertahankan, antara lain karena konversi lahan yang tidak terkendali, dan (3) tingkat konsumsi beras/kapita tidak dapat diturunkan.

Upaya memantapkan ketahanan pangan untuk menghindari kondisi di bawah “todongan pistol mau hidup atau mati”, secara umum ada dua kelompok besar upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat yakni: (1) peningkatan pasokan/produksi (melalui intensifikasi dan ekstensifikasi) dan penurunan permintaan (konsumsi) pangan, serta (2) diversifikasi pangan, baik dari sisi produksi maupun konsumsi.

Diversifikasi produksi dilakukan melalui (a) pengembangan pangan karbohidrat khas Nusantara spesifik lokasi seperti sukun, talas, garut, sagu, jagung dan lain-lain, (b) pengembangan produk (product development) melalui peran industri pengolahan untuk meningkatkan cita rasa dan citra produk pangan khas nusantara (image product) dan (c) peningkatan produksi dan ketersediaan sumber pangan protein (ikan, ternak).

Diversifikasi konsumsi pangan terkait dengan upaya mengubah selera dan kebiasaan makan. Karena itu, pokok kegiatan ini berupa peningkatan pengetahuan, sosialisasi, dan promosi mengenai pola pangan beragam, bergizi, berimbang. Pendekatan pengembangan diversifikasi konsumsi pangan jangan diidentikkan dengan kegiatan pengentasan kemiskinan, tetapi merupakan upaya perbaikan konsumsi gizi dan kesehatan. Dengan mengonsumsi pangan yang lebih beragam, bergizi, dan dengan kandungan nutrisi yang berimbang, maka kualitas kesehatan akan semakin baik. Hasil ikutannya adalah, konsumsi beras per kapita diharapkan menurun. Selain itu, barangkali yang perlu ditanamkan sejak dini adalah jangan buang-buang nasi, dalam arti kalau mengambil nasi untuk makan harus secukupnya, tidak boleh ada nasi yang disisakan. Butir nasi sisa dapat dikalkulasi untuk setiap kali makan, untuk sehari, seminggu, sebulan, setahun dan seterusnya sudah berapa ton nasi yang terbuang.

Onny priskila
Posted on 21st November, 2011

Nama : Onny priskila
NIM : 101111318
Kelas : VB (alih jenis)

ALTERNATIF BAHAN MAKANAN POKOK

Sekarang ini cara pandang masyarakat terhadap sumber pangan pokok seolah-olah digiring kedalam pandangan yang lebih sempit bahwa sumber pangan pokok masyarakat hanya beras. Perilaku konsumsi masyarakat yang tergantung pada satu jenis sumber bahan pangan pokok sedikit banyaknya akan memberikan dampak pada tingkat ketahanan pangan masyarakat yang rentan. Sehingga masalah ikutan dari rendahnya ketahanan pangan masyarakat dapat menimbulkan masalah lain yang lebih serius. (Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, yaitu tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri atau sumber lainnya.- Dian Histifarina; 2008)
Iklim tropis di Indonesia menjadikan wilayah Indonesia sangat kaya akan sumber bahan pangan pokok selain beras. Misalnya, potensi umbi-umbian dan serealia yang beragam sebagai sumber karbohidrat dapat tumbuh dengan subur dan beragam jenisnya seperti; ubi jalar, ubi kayu, gembili, garut, ganyong dan lain-lain. Apabila ditinjau dari segi nutrisi, tanaman umbi-umbian mempunyai nilai nutrisi yang rendah dibandingkan dengan beras maupun kacang-kacangan, terutama kandungan protein dan lemak, namun cukup tinggi pada kandungan karbohidratnya.
Beberapa kendala mengapa sulitnya masyarakat Indonesia berpindah dari mengonsumsi beras ialah :
1. Pasokan beras yang ada di mana-mana. Beras sangat mudah dijumpai ketimbang bahan pangan lain.
2. Teknologi pengolahan beras telah sangat berkembang. Cara penyajiannya pun lebih mudah daripada penyajian bahan pangan lain.
3. Beras telah menjadi bahan makanan ekonomi politik. Apabila persediaan beras menurun, akan timbul kriminalitas yang akan memengaruhi stabilitas nasional
Upaya mengganti beras dengan pangan lain atau biasa disebut diversifikasi pangan sebenarnya telah dilakukan. Namun, diversifikasi berdasar sumber daya lokal masih gagal, yang sukses justru yang berbasis impor. Diversifikasi pangan yang berhasil ialah pangan berbasis gandum seperti mi instan dan roti. Indonesia merupakan konsumen mi instan terbesar di dunia. Hampir semua di rumah tangga ada yang namanya mi instan. Itu salah satu contoh diversifikasi pangan yang sangat berhasil.
Sebenarnya pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan pangan sudah dilakukan sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat Gunung Kidul, misalnya, sudah lama tidak bergantung pada beras. Mereka mengonsumsi tiwul yang terbuat dari singkong sebagai makanan pokok. Saat masyarakat mempunyai persediaan beras, mereka makan nasi. Ketika beras menipis, penduduk Gunung Kidul mulai menyiapkan gaplek yang berasal dari singkong, lalu diolah menjadi tiwul, dicampur nasi, menjadi sega uleng. Sayangnya, ini dilakukan akibat kelangkaan beras dan kemiskinan, bukan karena kesadaran diversifikasi.
Ketergantungan kita terhadap beras diperparah dengan anggapan masyarakat ‘jika belum makan nasi belum dianggap makan’, walaupun sudah melahap sumber karbohidrat lain. Saat ini masyarakat melihat beras memiliki nilai prestise yang lebih tinggi daripada makanan lain seperti tiwul, singkong, dan lainnya. Inilah yang membuat beras sulit digeser sebagai makanan utama masyarakat.
Untuk mengganti beras, ada beberapa bahan makanan pengganti yang dapat digunakan, diantaranya :
1. Terigu yang berasal dari gandum. Terigu gandum memiliki kandungan gizi yang mendekati beras.
2. Jagung juga berpotensi menggantikan beras. Namun, persaingan dengan pakan ternak atau biofuel pasti akan terjadi. Dulu, masih banyak masyarakat makan jagung, terutama di Madura. Namun, saat ini jagung cuma jadi makanan ringan.
3. Singkong atau sagu bisa juga digunakan sebagai pengganti, tapi dengan tambahan makanan yang punya protein tinggi.Jika masyarakat Maluku makan sagu hal itu tidak menjadi masalah karena mereka juga makan ikan yang tinggi protein. Tapi, kalau orang Jawa makan singkong dan tempe, akan menderita kekurangan gizi.
Diversifikasi pangan akan terjadi dengan sendirinya di kalangan orang yang berpenghasilan lebih baik. Umumnya, orang yang berpenghasilan lebih memiliki kesadaran dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Masyarakat lain yang telah melakukan diversifikasi pangan ialah masyarakat dengan budaya kental. Misalnya, konsumsi sagu di Papua, dan juga mereka yang memang terpaksa tidak dapat membeli beras, seperti masyarakat Gunung Kidul yang memilih mengonsumsi tiwul. Diversifikasi pangan di tingkat makro mungkin akan sulit dicapai. Namun, kita dapat memulainya dari diri kita dengan berusaha mengurangi konsumsi nasi dan mengganti dengan bahan makanan lokal.

Winarti
Posted on 21st November, 2011

Nama : Winarti
Nim : 101111321
Kelas : B

KACANG MERAH
Kacang jogo (Phseolus vulgaris L) bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari Meksiko Selatan,Amerika Selatan dan dataran Cina. Selanjutnya tanaman tersebut menyebar ke daerah lain seperti Indonesia, Malaysia, Karibia, Afrika Barat. Di Indonesia, daerah yang banyak ditanami kacang jogo adalah Lembang (Bandung), Pacet (Cipanas), Kota Batu (Bogor), dan Pulau Lombok.
Biji kacang jogo berwarna merah atau merah berbintik-bintik putih. Oleh karena itulah dalam kehidupan sehari-hari kacang jogo juga disebut kacang merah (Red kidney bean). Nama lain kacang merah adalah kacang galing. Kacang merah hanya dimakan dalam bentuk biji yang telah tua, baik dalam keadaan segar maupun yang dikeringkan.
Biasanya yang dimanfaatkan dari kacang merah adalah bijinya. Biji kacang merah merupakan bahan makanan yang mempunyai energi tinggi dan sekaligus sumber protein nabati yang potensial. Kacang merah dapat digunakan sebagai sayuran.
1. Sumber Protein.
Tanaman kacang merah terkenal sebagai sumber protein nabati, karena itu peranannya dalam usaha perbaikan gizi sangatlah penting. Disamping kaya akan protein, biji kacang merah juga merupakan sumber karbohidrat, mineral dan vitamin. Kandungan vitamin per 100 g biji adalah vitamin A 30 SI, thiamin/vitamin B1 0,5 mg, riboflavin/vitamin B2 0,2 mg, serta niasin 2,2 mg.
Kacang merah memiliki kadar karbohirat yang tertinggi, Kadar protein yang setara kacang hijau, kadar lemak jauh lebih rendah dibandingkan kacang kedelai dan kacang tanah, serta memiliki kadar serat yang setara dengan kacang hijau, kedelai dan kacang tanah. Kadar serat pada kacang merah jauh lebih tinggi dibandingkan beras, jagung, sorgum, dan gandum.
Kacang merah kering memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, yaitu mencapai 22,3 g per 100 g bahan. Kandungan protein ini hampir setara dengan yang terdapat pada kacang hijau yang lebih populer sebagai sumber protein. Dibandingkan dengan sumber protein hewani, keunggulan kacang merah adalah bebas kolesterol sehingga aman untuk dikonsumsi oleh semua golongan masyarakat dari berbagai kelompok umur. Protein kacang merah dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol LDL yang bersifat jahat bagi kesehatan manusia, serta meningkatkan kadar kolesterol HDL yang baik bagi kesehatan manusia.
Jenis-jenis protein yang terkandung dalam kacang merah adalah faseolin 20% (berta kering), faselin 2%, dan konfaseolin 0,36-0,40%. Kacang merah mempunyai susunan asam amino esensial yang lengkap. Beberapa diantaranya melebihi kandungan asam amino pada susu sapi, seperti arginin dan alanin.
Arginin merupakan asam amino kompleks yang sering ditemukan pada bagian aktif dari suatu protein dan enzim. Kandungan arginin pada royal jelly dapat mempengaruhi produk hormon pada manusia yang lebih populer disebut Human Growth Hormone (HGH). HGH ini membantu meningkatkan otot dan mengurangi penumpukan lemak dalam tubuh. Hasil Laboratorium menunjukkan arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.
2. Kaya Berbagai Mineral.
Kandungan karbohidrat pada kacang merah sangat tinggi mencapai 61 g per 100 g. Komponen karbohidrat pada kacang merah terdiri dri gula 1,6%; dekstrin 2,7%; pati 35,2%; pentosa 8,4%; galaktan 1,3%; dan pektin 0,7%. Tingginya kadar karbohidrat menyebabkan kacang merah sebagai sumbe energi yang baik sekitar 348 kkal per 100 gram.
Kadar lemak pada kacang merah relatif rendah yaitu 1,5 g per 100 g .Adapun komponen lemak dari kacang merah terdiri atas asam lemak jenuh 19% dan asam lemak tidak jenuh 63,3%. Sebagian asam lemak jenuh berbentuk asam palmitat sedangkan asam lemak tidak jenuh berbentuk asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat.
Kacang merah merupakan sumber mineral yang baik. Komposisi mineral per 100 g kacang merah kering adalah fosfor (410 mg), kalsium (260 mg), mangan (194 mg), besi (5,8 mg), tembaga (0,95 mg), serta natrium (15 mg). Kalsium berguna untuk menjaga kesehatan tulang dan besi untuk encegah anemia. Tembaga yang terdapat pada kacang merah berperan dalam beberapa kegiatan enzim pernafasan, yaitu sebagai enzim kofactor bagi enzim tirosinase dan sitokhrom oksidase. Tirosinase mengatalisis reaksi oksidasi tirosin menjadi pigmen melanin. Mineral seng komponen penting dari berbagai enzim dalam tubuh dan kalium berfungsi menjaga keseimbangan natrium dalam darah untuk mencegah hipertensi dan penyakit kardiovaskuler.fosfor digunakan untuk pembentukan tulang dan gigi,serta penyimpanan dan pengeluaran energi. Magnesium merupakan aktivator enzim peptidase dan enzim lin yang kerjanya memecah dan memindahkan gugus fosfat.
Karena kandungan gizi yang terdapat pada kacang merah sangat penting bagi tubuh kita maka alangkah baiknya bila tanaman kacang merah yang ada didaerah lebih diperhatikan, oleh karena itu disini peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam distribusi pangan terutama dipelosok.Untuk mencegah kekurangan gizi atau gizi buruk akibat ketersediaan pangan yang ada tidak memenuhi syarat kesehatan. Dalam hal ini pemerintah tidak bisa sendirian akan tetapi dibutuhkan kepedulian masyarakat untuk ikut serta manjaga lingkungan supaya tidak mengalami kekeringan sehingga akan mudah bagi kita untuk menanam kacang merah yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Bukan hanya kacang merah saja melainkan tanaman-tanaman lain yang banyak mengandung zat gizi seperti tanaman kacang-kacangan lainnya.

IFFAH LUTHFIYAH
Posted on 21st November, 2011

Nama : Iffah luthfiyah
Nim :101111325
Kelas : B (Program alih jenis 2011)
MASYARAKAT PAPUA KEMBANGKAN TEPUNG ALTERNATIF BERBAHAN BAKU MANGROVE
Jumlah penduduk yang semakin meningkat membuat kebutuhan akan pangan semakin meningkat. Akibatnya kebutuhan akan beras juga semakin meningkat. Oleh karena itu perlu di kembangkan sumber pangan alternatif pengganti beras agar ketersediaan pangan tetap tercukupi.
Masyarakat daerah Papua mulai mengembangkan sumber pangan alternatif sebagai pengganti beras dan sagu, melalui tumbuhan Mangrove, yang banyak bertumbuh di wilayah dekat pantai.
Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia.Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Mangrove dapat diolah menjadi tepung Aivon, selain itu juga dapat berfungsi seperti tepung beras, sehingga dapat diolah sebagai bahan pembuat kue bolu dan kue kering. Kalau yang menjadi beras Aivon, tepung tersebut dapat dijadikan bubur. Mangrove sendiri banyak terdapat di seluruh wilayah Nusantara, dan lebih umum dikenal sebagai tanaman bakau.
Masalahnya, masyarakat setempat hanya mampu mengembangkan tepung Aivon ini sebagai produk contoh saja, artinya hanya digarap dalam skala rumah tangga, belum digali lebih besar sebagai potensi daerah setempat atau menjadi industri kecil. Karena itu, produk ini juga belum dipasarkan secara komersil, baru dalam skala perkenalan
Padahal sebenarnya penggunaan tepung ini dapat menjadi produk pangan alternatif pengganti beras dan sagu. Selain beras lebih banyak dikenal di wilayah Indonesia bagian Barat dan Tengah, tanaman sagu juga kini mulai langka, karena dengan terjadinya era reformasi akhir-akhir ini, terjadi pemekaran wilayah ke banyak daerah di Indonesia.
Akibatnya sagu yang dikenal sebagai tanaman penting bagi masyarakat Ambon dan Papua kini mulai tergusur, dan dunia juga sempat mengalami krisis pangan tahun 2000. Selain itu sekarang harga terigu melambung tinggi karena subsidi untuk pembelian impor biji gandum sebagai bahan baku tepung terigu mulai dibatasi dan akan dihapus mulai Oktober 1998. Akhirnya sekitar tahun 2006, masyarakat daerah Papua mulai memperkenalkan tepung yang berasal dari buah Mangrove ini.
Sayangnya, belum ada sentra yang khusus menangani industri ini secara serius, demikian juga peran pemerintah yang sudah mengetahui potensi pengembangan tepung Aivon ini belum kelihatan. Di lain sisi, pemerintah gencar mendorong konsumsi penggunaan tepung lain seperti yang berasal dari singkong dan sorgum, walaupun masih digunakan secara kombinasi.
Padahal penggunaan tepung Aivon selain dapat mengembangkan potensi industri kecil pangan di wilayah setempat, juga dapat memberi lapangan kerja kepada masyarakat tersebut. Sebab selain diolah menjadi bahan pangan yang dikonsumsi langsung, produk ini dapat diolah, dan dampaknya menjadikan tambahan kekuatan fisik bagi mereka yang mengkonsumsinya.
Perlu kerja sama lintas sector yang baik yaitu kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat untuk lebih mengembangkan produk alternatif ini. Karena jika usaha ini di kembangkan dengan baik, tidak hanya kebutuhan sector pangan yang terpenuhi, tapi manfaat lainnya adalah tingkat pengangguran juga dapat di kurangi karena menambah lapangan kerja baru.Selain itu juga akan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Ika Purwaningdyah Oktavianti
Posted on 21st November, 2011

Nama : Ika Purwaningdyah Oktavianti
Nim : 101111335
Kelas : B (ALIH JENIS)

REAKTUALISASI DIVERSIFIKASI PANGAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL

Kelangkaan pangan telah menjadi ancaman setiap negara, semenjak meledaknya pertumbuhan penduduk dunia dan pengaruh perubahan iklim global yang makin sulit diprediksi. Pangan bukan hanya sekedar menjadi komoditas ekonomi tetapi telah menjadi komoditas politik yang memiliki dimensi sosial yang meluas. Di dalam World Food Summit pada tahun 1996, para pemimpin dunia bertekad untuk melawan kelaparan dengan agenda menghapus 400 juta warga miskin dan lapar, tetapi hingga tahun 2002, kecepatan pengentasan kemiskinan dan kelaparan hanya mencapai 6 juta/tahun dari target 22 juta/tahun (Witoro 2003). Di Indonesia, isu kelangkaan pangan dan malnutrisi di beberapa daerah telah banyak diberitakan, dan sangat ironi sekali bahwa daerah yang dilansir sebagai daerah rawan pangan dan terancam rawan pangan sebenarnya memiliki potensi sumber pangan dengan kandungan gizi yang cukup. Melihat kondisi pangan dunia saat ini, sudah barang tentu bahwa setiap negara akan memprioritaskan kebijakan pangan untuk mencukupi kebutuhan negaranya masing-masing. Negara dengan surplus pangan pun tidak akan serta merta untuk melakukan eksport, karena surplus akan disimpan sebagai cadangan pangannya. Berbagai upaya dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman krisis pangan global. Kedepannya, diharapkan bahwa kasus rawan pangan seperti malnutrisi dan tingkat kematian bayi dapat berkurang karena penduduk wilayah tersebut mampu menggarap potensi pangan secara maksimal dengan tingkat kecukupan gizi yang masih memenuhi standar. Jika setiap wilayah sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan pangannya dengan baik, maka diharapkan ketahanan pangan secara nasional dapat terwujud.
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2005 menunjukkan bahwa sepertiga kecamatan di Indonesia yaitu berjumlah 5.570 kecamatan mengalami masalah gizi serius. Sedangkan dari hasil pemetaan status nutrisi terkini yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Badan Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) dan AUSAID di 30 provinsi di Indonesia, diketahui bahwa persentase gizi buruk masih lebih dari 30%. Tingkat prevelansi malnutrisi tertinggi di kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Timur, NTB, NTT dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2004, peta rawan pangan (Food Insecurity Atlas) dikelompokkan pada tiga dimensi ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, akses terhadap pangan dan penyerapan pangan. Hasil penyusunan tersebut adalah: 1) Kondisi sangat tahan pangan: Bali; 2) Kondisi cukup tahan pangan hingga sangat tahan pangan: Jawa; 3) Kondisi agak rawan pangan: NTB, NTT, sebagian kecil Kaltim dan Kalteng; 4) Kondisi cukup rawan pangan hingga rawan pangan: Sumatera (sebagian besar Riau, Jambi, Sumsel dan Bengkulu, serta sebagian kecil NAD, Sumut, Sumbar dan Lampung); 5) Kondisi rawan pangan: sebagian besar Kalbar; 6) Kondisi agak rawan pangan hingga rawan pangan: sebagian besar Sulteng dan Gorontalo; 7) Kondisi agak rawan pangan hingga sangat rawan pangan: Maluku, Maluku Utara dan Papua (BKP 2005).
Indonesia merupakan wilayah dengan kondisi geografis yang sangat potensial untuk budidaya berbagai jenis tanaman pangan. Di setiap wilayah dengan masing-masing kondisi topografi, iklim dan ekologinya mempunyai potensi pangan yang beragam. Seperti kasus di Papua, provinsi ini memiliki potensi ketersediaan pangan lokal yang sangat besar, tetapi memiliki tingkat konsumsi pangan lokal yang sangat kecil (Neraca Bahan Makanan 2002 di dalam Carol 2008). Keterbatasan akses fisik dan ekonomi terhadap ketersediaan sumber bahan pangan merupakan faktor utama penyebab terjadinya kasus-kasus serupa. Ketiadaan akses karena keterbatasan ekonomi terkait dengan masalah kemiskinan menyebabkan masyarakat tidak dapat membeli dan mengolah bahan pangan. Informasi sebagai sumber pengetahuan dan penjelasan bagi masyarakat tidak dapat diakses dengan mudah. Hal ini berdampak pada aplikasi metode dan pengetahuan dalam penanganan dan pengolahan bahan pangan menjadi tidak up to date, sehingga masyarakat masih cenderung menggunakan pola lama (kuno).
Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melaksanakan kembali (reaktualisasi) diversifikasi pangan menuju produksi dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta yang terpenting adalah berbasiskan sumberdaya lokal. Diversifikasi pangan akan mempunyai nilai manfaat yang besar apabila mampu menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal yang ada dengan tetap menjunjung tinggi hak atas pangan sebagai hak dasar manusia (entitlement) dan kearifan lokal. Diversifikasi pangan dapat dilakukan dengan diversifikasi konsumsi dan produksi secara bersamaan. Diversifikasi pangan tidak hanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap beras tetapi juga upaya peningkatan perbaikan gizi menuju Pola Pangan Harapan (PPH) untuk mendapatkan manusia berkualitas dan memiliki daya saing.

Fatich Bagus S
Posted on 21st November, 2011

Nama : Fatich Bagus Sulistiono
Nim : 101111344
Kelas : B (ALIH JENIS)

PROSPEK SUKUN SEBAGAI PANGAN SUMBER KARBOIDRAT DALAM MENDUKUNG DEVERSIVIKASI KONSUMSI PANGAN

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, maka pola konsumsi pangan yang bermutu dengan gizi yang seimbang merupakan momentum yang tepat untuk melakukan diversifikasi pangan pada menu harian. Pangan yang beragam menjadi penting mengingat tidak ada satu jenis pangan yang dapat menyediakan gizi yang lengkap bagi seseorang. Konsumsi pangan yang beragam meningkatkan kelengkapan asupan zat gizi karena kekurangan zat gizi dari satu jenis pangan akan dilengkapi dari pangan lainnya (Khomsan 2006). Namun, pangan pokok masyarakat Indonesia masih bertumpu pada satu komoditas, yaitu beras. Budaya mengonsumsi nasi bagi penduduk negeri ini sangat tinggi, bahkan sebagian besar masyarakat merasa belum makan jika belum mengkonsumsi nasi.
Beras sebagai salah satu jenis pangan yang menempati posisi paling strategis diantara jenis pangan lainnya, sehingga ada tuntutan masyarakat agar kebutuhan beras dapat terpenuhi. Peningkatan permintaan beras tidak seimbang dengan ketersediaan dalam negeri, dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut selama ini dilakukan melalui impor beras. Sementara tanaman pangan sumber karbohidrat lain seperti aneka umbi dan buah (salah satunya adalah sukun) belum dimanfaatkan secara optimal. Apabila kondisi ini terus berlanjut, ketahanan pangan nasional berkelanjutan semakin sulit dipertahankan, meskipun tahun ini Indonesia berhasil swasembada beras.
Faktor lain yang perlu pertimbangan adalah kontribusi serealia terutama beras, dalam menu makan masyarakat Indonesia mencapai 62% (Dahuri 2007). Porsi ini terlampau tinggi, karena dalam Pola Pangan Harapan, porsi konsumsi serealia maksimum adalah 51%. Berdasarkan hal tersebut, maka pengolahan pangan pokok alternatif berbasis aneka umbi dan buah sumber karbohidrat menjadi penting untuk dikembangkan. Salah satu komoditas sumber karbohidrat yang berasal dari buah yang potensial untuk dikembangkan adalah sukun.
Berdasarkan kandungan karbohidrat dan nilai gizinya, buah sukun dapat digunakan sebagai sumber pangan lokal. Dengan beberapa cara pengolahan, buah sukun dapat digunakan untuk menunjang ketahanan pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya yang tidak mudah dan cepat dinilai keberhasilannya. Perilaku konsumsi pangan yang sudah terpola pada masyarakat Indonesia tidaklah mudah diubah begitu saja. Usaha-usaha yang selama ini telah dilakukan untuk menganekaragamkan makanan, khususnya dalam rangka mengurangi ketergantungan akan beras masih belum cukup. Sosialisasi dan pengenalan berbagai jenis pangan olahan perlu dilakukan secara terus menerus. Untuk menjaga kesinambungan penganekaragaman pangan non beras, perlu dikenalkan aneka olahan dari tepung-tepungan.
Pengolahan produk setengah jadi merupakan salah satu cara pengawetan hasil panen, terutama untuk komoditas yang berkadar air tinggi, seperti aneka buah dan umbi. Keuntungan lain dari pengolahan produk setengah jadi ini yaitu, sebagai bahan baku yang fleksibel untuk industri pengolahan lanjutan, aman dalam distribusi, awet serta menghemat ruangan dan biaya penyimpanan. Teknologi ini mencakup teknik pembuatan sawut/ chip/granula/grits, teknik pembuatan tepung, teknik separasi atau ekstraksi dll. Pada tulisan ini hanya akan diuraikan tentang teknologi pembuatan tepung, khususnya tepung sukun. Berdasarkan kadar karbohidrat yang cukup tinggi (27,12%), buah sukun berpeluang untuk diolah menjadi tepung. Pemanfaatan tepung sukun menjadi makanan olahan dapat mensubtitusi penggunaan terigu sampai 50 hingga 100% tergantung jenis produknya. Tepung sukun mengandung 84,03% karbohidrat, 9,90% air, 2,83% abu, 3,64% protein dan 0,41% lemak. Kandungan protein tepung sukun lebih tinggi dibandingkan tepung ubi kayu, tepung ubi jalar, tepung pisang dan tepung. Berdasarkan kandungan nutrisinya, buah sukun mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai salah satu makanan pokok pendamping beras. Kandungan vitamin dan mineral buah sukun lebih lengkap dibandingkan dengan beras, namun kalorinya lebih rendah. Hal ini mempunyai keuntungan tersendiri, yaitu dapat digunakan sebagai makanan diet. Untuk golongan masyarakat tertentu yang menginginkan diet makanan kalori rendah dapat memilih buah sukun dalam menu sehari-hari.
Untuk mengatasi kelemahan sifat umum buah-buahan segar, serta mengantisipasi ketersediaan yang lumintu, maka bentuk tepung sangat dianjurkan. Dalam bentuk tepung, sukun akan menjadi lebih awet, menghemat beaya transportasi dan penyimpanan, nilai ekonominya lebih tinggi dan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan aneka produk pangan.
Pengembangan agroindustri aneka tepung di pedesaan (sentra bahan baku) diharapkan dapat meningkatkan bargaining position petani, mengubah pola petik-jual menjadi petik-olah-jual, meningkatkan peluang kerja dan pendapatan masyarakat, mengurangi laju urbanisasi karena tersedia lapangan kerja di desa, bahkan dimungkinkan terjadi aliran dana berbalik dari kota ke desa. Dalam bentuk tepung, sukun dapat diolah menjadi aneka produk makananyang tidak kalah dengan produk olahan berbasis tepung beras ataupun terigu

Jenny Atmajayanti
Posted on 21st November, 2011

Nama : Jenny Atmajayanti
NIM : 101111353
Kelas : B (alih jenis)

UBI JALAR SEBAGAI BAHAN DIVERSIFIKASI PANGAN
Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Oleh Karena itu pangan di Indonesia haruslah tersedia dalam jumlah yang banyak yang sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia serta harus bermutu, aman di konsumsi, penyebarannya merata serta harganya terjangkau bagi masyakat terutama masyarakat dengan ekonomi rendah atau masyarakat miskin.Ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, yaitu tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri atau sumber lainnya. Akan tetapi ketersediaan pangan di Indonesia sangatlah memprihatinkan hingga tiap tahunnya kita harus mencukupinya dengan impor dari luar negeri. Misalnya saja beras, ditambah lagi kita sudah mengalami proses pemberasan yaitu suatu kondisi dimana beras sebagai satu-satunya makanan pokok. Padahal saat ini kecukupan beras di Negara kita termasuk terbatas. Oleh karena itu kita haruslah mencari sumber pangan alternative sumber karbohidrat selain beras.
Pencarian sumber pangan pokok alternatif yang mampu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat perlu menjadi perhatian bersama. Dalm hal ini yang di jadikan bahan pangan alternative sumber karbohidrat adalah dari tanaman umbi-umbian yaitu ubi jalar. Apabila ditinjau dari segi nutrisi, tanaman umbi-umbian mempunyai nilai nutrisi yang rendah dibandingkan dengan beras maupun kacang-kacangan, terutama kandungan protein dan lemak, namun cukup tinggi pada kandungan karbohidratnya.
Umbi-umbian merupakan tanaman lokal yang telah lama dikenal dan dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dalam bentuk segar kandungan protein ubi jalar masih sedikit. Masalah ini dapat diatasi dengan mengolahnya menjadi bentuk kering,misalnya beras ubi jalar. Sedangkan bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang memiliki kadar gizi berupa karbohidrat yang tinggi. Beberapa peluang penganekaragaman jenis penggunaan ubi jalar yaitu daunnya sebagai sayuran atau pakan ternak, batangnya dapat ditanam kembali, kulitnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, buah ubinya sebagai bahan makanan.
Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat utama setelah padi dan jagung. Ubi jalar dapat dimanfaatkan sebagai pengganti makanan pokok karena merupakan sumber kalori yang efisien. Selain itu, ubi jalar juga mengandung vitamin A dalam jumlah yang cukup, asam askorbat, tianin, riboflavin, niasin, fosfor, besi, dan kalsium. Kandungan Vitamin A yang tinggi dicirikan oleh umbi yang berwarna kuning kemerah-merahan. Kadar vitamin C yang terdapat di dalam umbinya memberikan peran yang tidak sedikit bagi penyediaan dan kecukupan gizi dan dapat dijangkau oleh masyarakat di pedesaan. selain itu ubi jalar merupakan umbi-umbian yang mudah ditemui di tanah air dan tanpa mengenal musim dan juga sangat mudah ditanam tanpa harus membali benih baru setiap akan menanamnya kembali.
Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang dapat mengganti beras dalam program diversifikasi pangan karena efisien dibanding tanaman pangan yang lain. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar dapat dimanfaatkan dalam upaya penganekaragaman pangan sehingga dapat mengurangi konsumsi beras. Selain itu, ubi jalar mempunyai potensi yang cukup besar untuk ditingkatkan produksinya dan umbinya dapat diproses menjadi aneka ragam produk yang mampu mendorong pengembangan agro-industri dalam diversifikasi pangan.
Beberapa alternatif produk yang dapat dikembangkan dari ubi jalar ada empat kelompok, yaitu :
1. Produk olahan dari ubi jalar segar, contohnya ubi rebus, ubi goreng, kolak, nogosari, getuk, dan pie
2. Produk ubi jalar siap santap, seperti keremes, saos, selai, hasil substitusi dengan tepung seperti biskuit, kue dan roti, bentuk olahan dengan buahbuahan, seperti manisan dan asinan. Bentuk manisan ubi jalar secara komersial berkembang di Filipina disebut Delicous SP
3. Produk ubi jalar siap masak, umumnya berbentuk produk instan seperti sarapan chips, mie atau bihun. Produk ini belum cukup dikenal di Indonesia, tetapi cukup populer di Cina dan Korea, terbuat dari pati ubi jalar
4. Produk ubi jalar bahan baku, bentuk produk ini umumnya bersifat kering, merupakan produk setengah jadi untuk bahan baku, awet dan tahan disimpan lama, antara lain adalah irisan ubi kering (gaplek), tepung, dan pati. Selain itu, ubi jalar juga menjadi campuran utama pembuatan saos tomat, jam, dan sambal.
Bahan diversifikasi pangan dapat dikembangkan bukan hanya dengan ubi jalar saja, tetapi dapat pula dari bahan-bahan makanan lainnya sehingga ketersediaan pangan di Negara kita dapat tercukupi dan krisis pangan dapat teratasi. Apalagi Negara kita banyak memiliki sumber pangan yang masih perlu banyak diolah lagi sehingga menghasilkan produk makanan jadi yang lebih berkualitas.

Rani Permata Sari
Posted on 21st November, 2011

Nama : Rani Permata Sari
NIM : 101111356
MASALAH PANGAN JIKA TIDAK SEGERA TERATASI

Pangan merupakan kebutuhann dasar manusia yang sangat berperan penting untuk kelangsungan hidup manusia. Untuk itu perkembangannya harus selalu diperhatikan karena sangat berpengaruh bagi kesejahteraan masyarakat. Jika terjadi suatu masalah pangan yang tidak segera diatasi maka jumlah kelaparan akan meningkat yang dapat menyebabkan kesakitan dan akhirnya berdampak kematian yang semakin tinggi. Untuk mencukupi kebutuhan pangan maka kualitas dan kuantitas pertanian memilki peran yang sangat penting dan semua itu tidak lepas juga dari peran SDM yang ada.
Indonesia merupakan negara agraris yang seharusnya menghasilkan pangan yang cukup besar. Dan dari hasil pangan tersebut seharusnya dapat membantu meningkatkan perekonomian bangsa. Mengingat luasanya pualau Indonesia serta kekayaan lautnya yang sangat melimpah. Namun masalah pangan di Indonesia masih belum bisa teratasi. Saat ini Indonesia masih banyak memasok makanan dari luar negeri karena Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Selain itu harga produk local cenderung lebih tinggi dibandingkan produk import.
Bangsa ini secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Tetapi distribusi pangan masih mengalami permasalahan. Sehingga pemerataan pangan di Indonesia belum dapat tercapai secara maksimal.
Belum teratasinya masalah pangan di Indonesia disebabkan oleh beberapa factor yang mepengaruhi., diantaranya: belum mampunya SDM untuk mengolah pangan secara maksimal, tingginya harga produk local dibandingkan import, kurangnya subsidi dari pemerintah untuk pupuk bagi para petani, selain itu adanya kecurangan dari pihak- pihak tertentu yang melakukan penimbunan pangan khususnya beras di beberapa tempat seperti yang diakui oleh Menteri Pertanian yang menunjukkan ketidakseriusan pemerintah mengurus pangan.
Saat ini jumlah penduduk yang semakin banyak juga menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian. Karena banyaknya pembangunan perumahan di lahan- lahan pertanian. Jika pembangunan seperti ini terus dilakukan dan tidak memperhatikan lagi akan pentingnya kebutuhan pangan yang juga terus meningkat maka beberapa puluh tahun kedepan akan terjadi kekurangan pangan karena berkurangnya lahan pertanian yang ada.
Sekarang ini pun masih banyak penduduk dunia yang terancam atau mengalami kelaparan. Masih banyak pula manusia yang hidup dalam zona rawan pangan. Sebagai negara yang memiliki penduduk terbesar keempat di dunia, masalah ketersediaan pangan tentu menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia juga terus bertambah, dan belakangan ini malah lebih cepat tingkat pertumbuhannya. Menghadapi masalah pelik ini, semua jajaran pemerintahan harus menyiapkan langkah-langkah sistematis.
Negeri kita ini sangat kaya dengan keragaman kuliner dan pangan. Ironisnya, ancaman kelaparan kerap menghantui negeri ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang menderita kelaparan lantaran salah kebijakan dari para pemimpinnya. Sudah seharusnya, kebijakan yang diambil pemerintah juga memerhatikan masalah pangan yang merupakan salah satu masalah yang serius bagi bangsa ini. Caranya dengan mengambil hal-hal bijak dari masa lalu untuk menghadapi persoalan masa depan. Karena dengan cara tersebut dapat meminimalkan kesalahan- kesalahan yang telah dilakukan.
Melihat begitu banyaknya masalah yang menjadi penyebab semakin rumitnya permasalahan pangan di Indonesia, maka negeri ini harus dapat meningkatkan produksi pangan mulai dari alam sampai pada tahap pengolahanya. Dalam hal ini SDM yang berkualitas memilki peran penting di dalamnya. Selain itu kebijakan pemerintahpun juga sudah seharusnya memihak pada rakyat (yang sebagian besar adalah petani) yang memiliki jasa begitu besar bagi bangsa ini. Karena secara tidak langsung mereka telah menyediakan pangan bagi rakyat Indonesia.

Leancy Ferdiana Kandou
Posted on 22nd November, 2011

Nama : Leancy Ferdiana Kandou
NIM : 101111342
Kelas : IB / Alih Jenis
PILIH KETAHANAN PANGAN ATAU KEDAULATAN PANGAN?
Ketahanan Pangan (Food Security) merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Sedangkan subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Kedaulatan Pangan (Food Sovereignty) dimaknai sebagai hak sesuatu negara untuk menentukan kebijakan pangannya sendiri dengan lebih mengutamakan produksi pangan lokal untuk kebutuhan sendiri, menjamin ketersediaan tanah subur, air, benih, termasuk pembiayaan untuk para buruh tani dan petani kecil serta melarang adanya praktek perdagangan pangan dengan cara dumping. Hal ini tercetus karena sistem pangan nasional dan global yang ada dewasa ini, yang dijiwai oleh liberalisasi perdagangan dunia, pada kenyataannya tidak dapat menjamin terpenuhinya hak rakyat atas pangan secara berkelanjutan. Kesadaran ini kemudian mendorong beberapa kelompok untuk menengok kembali sistem pangan lokal yang telah berkembang jauh sebelumnya dan menjadi fondasi sistem pangan rakyat.
Di Indonesia sendiri, permasalaan ketersediaan pangan tidak dapat kita hindari, walaupun kita sering disebut sebagai negara agararis yang sebagian besar penduduknya merupakan ratusan ribu komunitas petani yang memiliki sistem pangannya masing-masing yang khas serta jenis tanaman pangan yang beraneka ragam, baik yang dibudidayakan di ladang maupun di sawah. Setiap komunitas telah bertani menetap, mengembangkan sendiri sistem pengelolaan sumber-sumber agraria, melakukan inovasi dalam pembenihan dan teknik bercocok tanam, pengembangan infrastruktur, penyimpanan, distribusi atau perdagangan, sampai dengan dalam hal mengolah produk pangannya. . Kenyataannya masih banyak kekurangan pangan yang melanda Indonesia. Padahal di Indonesia Sistem-sistem ini memungkinkan petani perempuan dan laki-laki berperan aktif dan produktif dalam menyelenggarakan pertanian yang berkelanjutan, berdasarkan pada sumberdaya dan kearifan lokal tanpa diskriminasi, yang mengatasi kepentingan-kepentingan perdagangan. Berbeda dengan konsep ketahanan pangan yang tidak memusingkan dari mana datangnya pangan dan hak rakyat atas sumber-sumber produksi, konsep kedaulatan pangan tidak membatasi hak rakyat pada akses untuk memperoleh pangan saja, tetapi juga hak untuk memproduksi dan mendistribusikan pangan. Dan Indonesia dengan wilayah dan anekaragam hasil alamnya seharusnya mampu untuk mewujudkan kemandirian dalam ketersediaan pangan di banding Negara lainnya. Sekalipun ketersediaan pangan di Indonesia terancam dengan jumlah penduduk yang semakin banyak, seharusnya Indonesia mampu melakukan kemandirian pangan dengan melakukan strategi Kedaulatan Pangan, dimana masyarakat mampu mandiri dalam mengadakan, mendistribusikan dan memperdagangkan keanekaragaman hasil yang mereka miliki di setiap daerah. Sehingga setiap daerah mampu mengatasi kekurangan pangan sekaligus meningkatkan produksi komoditas yang menjadi unggulan atau ciri khas daerah tersebut dan perekonomian daerah pun meningkat. Ketersediaan pangan memang bukanlah masalah baru bagi suatu bangsa, tetapi strategi yang dilakukan beraneka ragam tiap bangsa. Dengan jumlah penduduk yang semakin banyak bila mampu di maksimalkan potensinya dan diimbangi dengan teknologi pengolahan pangan seharusnya mampu menjadi strategi jitu masyarakat Indonesia dalam menghadapi permasalahan ketersediaan pangan. Pada kenyataannya, Indonesia adalah salah satu Negara pengimpor pangan terbesar sejalan dengan populasinya yang juga salah satu terbesar di dunia. Seperti sudah menjadi pengetahuan awam, dengan pasar yang demikian besar dan menjanjikan, Indonesia adalah sasaran empuk para spekulan komoditas pangan global, dipermudah lagi oleh komprador-kompradornya di dalam negeri yang akan memastikan licinnya produk-produk pangan impor masuk ke pasar-pasar lokal, seperti apa pun kualitasnya, seberapa pun jadinya harga. Implementasi rezim ketahanan pangan di Indonesia pun telah terbukti menyengsarakan baik petani maupun umumnya rakyat miskin, jika tidak, tentu saja tidak terjadi arus migrasi dari pedesaan yang semakin miskin ke kota-kota yang semakin kumuh. Sudah saatnya Indonesia bergeser dari paradigma Ketahanan Pangan ke paradigma Kedaulatan Pangan untuk meningkatkan kemandirian dalam mengatasi masalah Ketersediaan Pangan sekaligus memperbaiki perekonomian Bangsa dan Negara Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya kelompok-kelompok tertentu, melainkan mengangkat perekonomian masyarakat miskin yang justru berasal dari para petani dan nelayan yang merupakan pelaku penting dalam mensukseskan program kemandirian pangan suatu Negara.

HARNILA PURWINDASARI
Posted on 22nd November, 2011

NAMA : HARNILA PURWINDASARI
NIM : 101111326
KELAS : B (ALIH JENIS)
JUDUL : KETERGANTUNGAN MASYARAKAT INDONESIA TERHADAP BERAS

Semakin banyak konsumsi dan permintaan beras merupakan dampak dari sejarah kebijakan swasembada beras dan program ketahanan pangan di masa lalu sehingga di semua daerah diupayakan menanam padi dan mendorong alih konsumsi dari pangan spesifik lokal ke arahberas. Permasalahan lain muncul ketika penduduk Indonesia melaju demikian cepat sehingga sampai dengan pertengahan tahun 2007 mencapai 248 juta jiwa (BPS, 2007). Kenaikan penduduk yang demikian cepat mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap komoditi pangan beras. Produksi nasional Indonesia tidak mampu lagi memenuhi permintaan penduduk akan beras. Kenaikan penduduk yang demikian cepat mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap komoditi pangan beras. Saat ini masyarakat Indonesia makin tergantung kepada beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Hal ini tentu tidak baik karena produksi beras harus terus digenjot. Dan kalau tidak terpenuhi maka Indonesia harus impor dari negara lain. Ketergantungan terhadap beras sebagai makanan pokok akan menyisakan banyak masalah. Kebutuhan yang semakin meningkat dan menyempitnya lahan pertanian mengakibatkan impor beras semakin tinggi, atau bahkan krisis beras. Diperlukan solusi guna mengatasi masalah tersebut. Salah satunya adalah keragaman pangan dari komoditi yang mengandung banyak karbohidrat sebagai pengganti beras. Ini perlu dikembangkan dengan menggali pangan lokal suatu daerah.
Dalam perspektif strategi, pangan lokal dapat dijadikan komplementer atau memberi ruang alternatif bagi konsumen guna memilih selain atau dikombinasikan bersama beras sebagai makanan pokok yang murah dan terjangkau oleh konsumen. Selain itu, kekayaan sumber daya pangan kita akan sia-sia jika tidak pernah dimanfaatkan. Kearifan lokal di masyarakat yang memanfaatkan umbi dan bahan pangan lain selain beras akan musnah jika kita tetap bergantung pada beras. Saat ini, upaya mengganti beras dengan pangan lain atau biasa disebut diversifikasi pangan sebenarnya telah dilakukan. Namun, diversifikasi berdasar sumber daya lokal masih gagal, yang sukses justru yang berbasis impor. Diversifikasi pangan yang berhasil ialah pangan berbasis gandum seperti mi instan dan roti. Indonesia merupakan konsumen mi instan terbesar di dunia. Sayangnya, diversifikasi pangan tersebut menggunakan bahan baku gandum yang tidak dapat diproduksi di Indonesia. Negara harus mengimpor gandum. Impor bahan baku tersebut sulit dikurangi karena Indonesia memiliki pabrik pengolahan gandum terbesar di dunia. Selain itu, permintaan masyarakat terhadap produk olahan gandum terus meningkat.
Sebenarnya pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan pangan sudah dilakukan sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat Gunung Kidul, misalnya, sudah lama tidak bergantung pada beras. Mereka mengonsumsi tiwul yang terbuat dari singkong sebagai makanan pokok. Saat masyarakat mempunyai persediaan beras, mereka makan nasi. Ketika beras menipis, penduduk Gunung Kidul mulai menyiapkan gaplek yang berasal dari singkong, lalu diolah menjadi tiwul, dicampur nasi, menjadi sega uleng. Sayangnya, ini dilakukan akibat kelangkaan beras dan kemiskinan, bukan karena kesadaran diversifikasi.
Ketergantungan kita terhadap beras diperparah dengan anggapan masyarakat ‘jika belum makan nasi belum dianggap makan’, walaupun sudah melahap sumber karbohidrat lain. anggapan itu muncul akibat kebijakan pemerintah menganjurkan masyarakat Indonesia memakan nasi. Selain itu, kebijakan pemberian jatah beras kepada pegawai negeri sipil (PNS) turut menggiring masyarakat untuk setia mengonsumsi beras. Saat ini masyarakat melihat beras memiliki nilai prestise yang lebih tinggi daripada makanan lain seperti tiwul, singkong, dan lainnya. Inilah yang membuat beras sulit digeser sebagai makanan utama masyarakat.
Untuk mengganti beras, ada terigu yang berasal dari gandum. Terigu gandum memiliki kandungan gizi yang mendekati beras. Namun, gandum merupakan komoditas impor sehingga dapat berpotensi membahayakan stabilitas karena tekanan terhadap gandum juga besar di tingkat internasional. Selain gandum, jagung juga berpotensi menggantikan beras. Namun, persaingan dengan pakan ternak atau biofuel pasti akan terjadi. Dulu, masih banyak masyarakat makan jagung, terutama di Madura. Namun, saat ini jagung cuma jadi makanan ringan. Selain gandum dan jagung, singkong atau sagu bisa juga digunakan sebagai pengganti, tapi dengan tambahan makanan yang punya protein tinggi. “Orang Maluku kan makan sagu tidak masalah karena mereka juga makan ikan yang luar biasa proteinnya. Tapi, kalau orang Jawa makan singkong sama tempe, akan kurang gizi mereka. Orang Jawa susah kalau disuruh makan ikan.
Salah satu kendala sulitnya masyarakat Indonesia berpindah dari mengonsumsi beras ialah pasokan beras yang ada di mana-mana. Beras sangat mudah dijumpai ketimbang bahan pangan lain. Kendala lainnya ialah teknologi pengolahan beras telah sangat berkembang. Cara penyajiannya pun lebih mudah daripada penyajian bahan pangan lain. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan dari pemerintah untuk memberikan alternatif makanan pengganti beras.

SITI ZULAICHAH
Posted on 22nd November, 2011

Nama : Siti Zulaichah
NIM : 101111352
Kelas : B (Alih Jenis)

KEBIJAKAN IMPOR DAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

Pada awal-awal kemerdekaan, negara ini memang telah mengejutkan dunia internasional, khususnya kawasan Asia Tenggara dengan berbagai pencapaian-pencapaian yang cukup gemilang dalam berbagai sektor. Salah satunya adalah pertanian. Indonesia kala itu dijagokan sebagai negara lumbung padi dikawasan Asia Tenggara yang mampu menyuplai kebutuhan beras untuk konsumsi dalam negeri dan hal itu memang benar saja terjadi. Masih terekam jelas bahwa ekses dari keberhasilan Indonesia memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri khususnya beras tersebut kemudian membuat pemerintah pada saat itu menerapkan kebijakan bahwa seluruh bangsa Indonesia harus makan nasi, (beras) sampai-sampai pemerintah Indonesia melakukan swasembada beras pada tahun 1982 dan bahkan mampu memproduksi beras sebanyak 25,8 juta ton per tahun serta memberi bantuan 1 juta ton padi kering kepada rakyat Afrika yang kala itu dilanda kelaparan.

Lain dulu, lain sekarang. Begitulah kata pepatah yang menggambarkan keadaan Indonesia tempo dulu dan sekarang. Jika kita menengok sejarah, memang benar bahwa negara ini pernah mencapai masa gemilang dalam hal hasil sawah. Tetapi apabila kita mengamati kondisi pangan Indonesia masa kini, tentu akan sering kita jumpai pemberitaan-pemberitaan yang mengabarkan bahwa seringkali pemerintah mengeluarkan kebijakan impor kebutuhan sembako dari berbagai negara. Sebut saja misalnya beras yang kerap kali diimpor dari negara Vietnam atau dari Thailand.

Kebijakan impor sembako tersebut tentu menjadi sebuah cerminan atau gambaran tentang gagalnya ketahanan pangan bangsa kita. Barangkali kita bisa mengatakan bahwa ketahanan pangan bangsa kita sangatlah lemah. Bahan makanan seringkali susah didapat di pasaran dan harganya pun tentu saja melambung tinggi. Dalam beberapa kasus, kelangkaan dan tingginya harga bahan pangan disebabkan oleh kondisi cuaca yang mengakibatkan gagal panen, pendistribusian yang kurang lancar hingga susahnya pupuk bagi para petani.

Gagal panen bukanlah satu-satunya penyebab dari susahnya mendapat bahan pangan dan harga yang tinggi, melainkan poin pentingnya adalah lemahnya sistem ketahanan pangan di negara kita untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Lemahnya ketahanan pangan inilah yang mengakibatkan kita akhirnya harus mengimpor bahan pangan dari berbagai negara. Dengung-dengung tentang surplus beras yang pernah diuatarakan oleh Bulog hampir saja menjadi sebuah wacana belaka manakala saat ini pemerintah akan membentuk Timnas Beras untuk menanggulangi kurangnya produksi pangan dalam negeri, yang dengan kata lain dapat diterjemahkan sebagai berita buruk bagi ketahanan pangan dalam negeri.

Tak heran jika banyak pengamat dari berbagai lembaga internasional memprediksi bahwa bangsa Indonesia kembali akan melakukan impor beras pada tahun ini. Seperti yang dikutip dari metrotvnews.com, Departemen Pertanian Amerika Serikat memprediksikan Indonesia akan mengimpor 1,75 juta ton pada tahun 2011 ini dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara importir beras nomor 4 terbesar didunia bersama Nigeria, Filiphina dan Arab Saudi.

Konflik ketahanan pangan ini tentu menjadi sebuah sinyalemen yang harus benar-benar diperhatikan oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah untuk secara cepat dan tepat melakukan langkah antisipatif terhadap lemahnya ketahanan pangan bangsa ini, terutama dalam memperkuat produksi beras dalam negeri yang selajan dengan konsepsi negara agrasis agar konsumsi pangan dalam negeri tetap terjaga dan menjauh dari ancaman bahaya bencana kelaparan.

Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Deddy Budiman Hakim mengungkapkan ia tidak mengerti mengapa pemerintah Indonesia masih mengimpor beras. Ia mengingatkan jika pemerintah tidak mulai membuat perencanaan jangka panjang soal pengadaan beras maka pangan di dalam negeri akan terus bermasalah karena beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia.

Ia juga mempertanyakan ketidakberdayaan pemerintah untuk mengajak masyarakat agar melakukan diversifikasi pangan sehingga tidak terus bergantung pada beras. Ia menilai untuk mencari jalan termudah maka pemerintah selalu mengimpor padahal langkah tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Pemberdayaan terhadap para petani harus segera dilakukan pemerintah agar produksi beras meningkat sehingga impor tidak lagi dibutuhkan.Pengembangan teknologi pertanian ditegaskannya harus segera diterapkan kepada para petani agar mereka lebih produktif.

Rofi'atul Laily Dwi Putri
Posted on 22nd November, 2011

NAMA : ROFI’ATUL LAILY DWI PUTRI
NIM : 101111306
KELAS : B (ALIH JENIS SEMESTER 5)
Dampak Perubahan Lahan Sawah dengan Kegiatan Non Pertanian terhadap Ketersediaan Pangan Masyarakat

Ketahan pangan merupakan penyediaan pangan dalam kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan pangan di suatu negara secara memadai, dan juga menyangkut pula aspek stabilitas ketersediaan pangan menurut waktu dan aksesibilitas penduduk terhadap bahan pangan yang dibutuhkan. Ketahanan pangan juga diliputi dengan aspek gizi seimbang untuk perkembangan pertumbuhan penduduk disuatu negara. Katahanan pangan yang meningkat merupakan tujuan utama sustu negara untuk meningkatkan pembangunan nasional. Peningkatan tersebut berkaitan dengan produksi beras yang dihasilkan dari lahan sawah. Karena beras merupakan makanan pokok penduduk yang terbesar. Namun seiring perubahan teknologi dan globalisasi penghasilan beras menurun, akibat dari perubahan lahan sawah yang dibuat kegiatan bukan sebagai persawahan. Sumber daya lahan pertanian memberikan manfaat yang sangat luas secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Oleh karena itu hilangnya lahan pertanian akibat perubahan lahan sawah yang dirubah sebagai kegiatan non pertanian akan menimbulkan dampak negatif terhadap berbagai aspek pembangunan. Manfaat dari sumber daya lahan pertanian yaitu bisa terpeliharanya keragaman biologis atau keberadaan spesies tertentu, dan masa yang akan datang mungkin sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia. Produk pertanian juga bisa dibuat karya usaha seperti jerami yang dibuat untuk penutup atap. Pada aspek lingkungan bisa mencegah terjadinya banjir, sebagai pengendalian keseimbangan tata air, mencegah terjadinya erosi, mengurangi pencemaran yang berasal dari limbah rumah tangga dan mencegah pencemaran udara yang berasal dari gas buang. Sehingga sebagian besar pemanfaat lahan sawah merupakan jenis manfaat yang dapat dinikmati masyarakat luas secara langsung. Jika lahan sawah dijadikan pembangunan non sawah atau non pertanian, maka dampak negatif atau kerugian yang ditimbulkan lebih ke masyarakat luas sendiri.
Perubahan lahan sawah diluar Jawa (132 ribu hektar pertahun) ternyata jauh lebih tinggi daripada di pulau Jawa (56 ribu hektar per tahun). Sebesar 58,68 persen konversi lahan sawah tersebut ditujukan untuk kegiatan non pertanian dan sisanya untuk usaha tani bukan sawah (Irawan, 2005). Kegiatan perubahan lahan sawah sebagian besar ditujukan pada pembangunan perumahandan sarana publik. Lahan sawah keberadaan merupakan dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan. Jika terjadi perubahan lahan sawah yang digunakan sebagai pembangunan kegiatan non pertanian maka kerugian dan dampak yang ditimbulkan akibat pembangun tersebut tentu lebih dirasakan oleh masyarakat luas daripada sebagian kecil masyarakat pemilik lahan. Begitu juga dampak bagi ketahanan pangan, perubahan lahan sawah akan dapat menimbulkan dampak merugikan, dapat menimbulkan turunnya produksi pangan seperti kekeringan, serangan hama, dan harga pangan rendah. Hal ini disebabkan karena berkurangnya produksi pangan yang disebabkan oleh perubahan lahan sawah akibat pembangunan. Perubahan lahan sawah akibat pembangunan non pertanian tidak bisa dihentikan secara keseluruhan, tetapi perlu untuk upaya pengendalian agar tidak mengancam ketahanan pangan nasional, antara lain penetapan sawah abadi atau sawah yang tidak bisa dikonversi. Bila usaha perubahan kegiatan pembanguna non sawah terus berlanjut maka akan di khawatirkan ketersediaan pangan nasional terbatas bahkan bisa sampai tidak tercukupi. Selain itu jumlah penduduk nasional semakin bertambah dengan seiring perjalanan tahun ke tahun. Setelah krisis pangan berlalu, kondisi swasembada pangan mulai diragukan sebagai satu-satunya indikator ketahanan pangan di negara. Ketersediaan kuantitas pangan pada dasarnya dapat dipenuhi melalui produksi domestik atau melalui impor. Namun apabila terus tergantung dengan produksi melaui impor akibat terbatasnya kebutuhan pangan akan berisiko terhadap cadangan devisa. Dengan demikian lahan sawah sangat berpotensi besar terhadap ketahan pangan nasional yang berkaitan dengan peranan produksi bahan pertanian atau pangan penduduk disuatu negara. Bila pembangunan perubahan sawah menjadi kegiatan non pertanian yang tidak henti akan secara langsung mengurangi kuantitas ketersediaan pangan akibat berkurangnya lahan pertanian yang dapat ditanami padi, komoditas pangan yang lainnya dan juga mengurangi usaha produktivitas petani.

Dessy Widya
Posted on 22nd November, 2011

Nama : Dessy WIdya A
Kelas : V B (Alih Jalur)
Nim : 101111354
PLUS MINUS KETERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA
Sudah bukan hal yang asing lagi jika Indonesia sering dikatakan sebagai negeri yang agraris. Namun dibalik julukan negeri yang agris itu, masih banyak plus dan minus disektor ketersediaan pangan. Banyak faktor yang mempengaruhi permasalahan plus minus ketersediaan pangan di Indonesia. Misalnya faktor distribusi, tidak adanya subsidi buat para petani, banyaknya produk-produk pangan dari luar negeri yang masuk ke Indonesia yang harganya lebih murah, dan lain sebagainya. Dilihat dari sector tersediannya lahan, sebernarnya masih banyak lahan yang bisa digunakan untuk persawah maupun bercocok tanam, namun yang menjadi masalah saat ini sering terjadi adanya pengalihan fungsi lahan sawah menjadi perumahan, pemukiman ataupun bangunan lainnya sehingga semakin sempit pula lahan untuk persawahan maupun untuk bercocok tanam. Hal ini bisa menyebakan ketersediaan pangan di Indonesia semakin bergantung dari import pangan dari luar negeri. Di Indonesia masyarakatnya mayoritas menjadikan beras sebagai pangan utama untuk dikonsumsi. Dengan bertambahnya penduduk, maka bertambah pula kebutuhan ketersediaan pangan beras yang dibutuhkan masyarakat Indonesia. Padahal kita semua tau, bahwa lahan untuk persawahan juga semaikin tahun semakin sempit dan beralih fungsi. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengatasi persoalan ini? Bukankah Indonesia dijuluki sebagai negeri agraris, tetapi kenapa masih saja impor bahan pangan dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Belum lagi kebutuhan beras yang semakin meningkat tahunnya, sehingga harus tersedia stok beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap hari masyarakat Indonesia. Lahan persawahan semakin sempit, petani beras tidak dapat subsidi dari pemerintah, ini bisa membuat Indonesia bergantung pada impor beras dari luar negeri, kalau hal ini terus dibiarkan maka selamanya Indonesia yang dijuluki sebagai negeri agraris tidak bisa mencukupi kebutuhan pangan didalam negeri tanpa import dari luar. Oleh sebab itu harus ada penyelesaian dari maslah ini. Misalnya dengan mengganti bahan pokok pangan beras dengan ketela (ubi kayu), jagung, dan lain sebagainya untuk mengngurangi konsumsi beras dimasyarakat. Sehingga diharapkan masyarakat tidak hanya mengkonsumsi beras sebagai bahan pokok pangan, melainkan bisa menggantinya dengan ketela (ubi kayu, jagung, dll. Alih fungsi lahan persawahan menjadi perumahan ataupun bangunan lainnya bisa diantisipasi dengan membuat undang-undang yang mengatur tidak bolehnya lahan persawahan berubah fungsi menjadi perumahan ataupun bangunan lainnya, dan jika ada yang melanggar akan dihukum seberat-beratnya. Sehingga diharapkan tidak ada lagi pihak-pihak yang mengubah fungsi lahan persawahan untuk menanam padi berubah jadi perumahan ataupun bangunan lainnya. Untuk mengantisipai lonjakan harga beras ataupun anjloknya harga beras harus ditentukan harga atap dan harga dasar. Harga atap untuk melindungi konsumen agar harga beras tidak melambung terlalu tinggi, harga dasar untuk melindungi produsen agar tidak bangkrut. Distribusi beras dari BULOG kemasyarakat harus tepat sasaran dan jangan menumpuk ber ton-ton beras digudang, sehingga stok beras berkurang hingga mengakibatkan import beras keluar negeri. Pendistribusiannya harus diawasi dan dievaluasi, apakah beras yang disalurkan BULOG tepat pada sasaran atau tidak. Hal ini dimaksudkan agar kita semua tau bagaimana proses distribusi beras sampai kemasyarakat itu tepat sasaran atau tidak, sehingga diharapkan tidak ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyalurkan dan menyimpan beras dari BULOG. Dilihat dari segi teknologi dan inovasi bidang pangan juga harus dikembangkan. Teknologi pangan dan inovasinya harus dikembangkan juga, ini tujuannya untuk membantu agar ketersediaan pangan diIndonesia tercukupi. Misalnya dengan memfungsikan lahan-lahan yang kosong ataupun ladang untuk bercocok tanam, membuka lahan persawahan baru untuk para petani lokal, pengembangan teknologi penggunaan flora sebagai peptisida alami, pengembangan metode-metode baru untuk penanaman pangan mulai dari sebelum panen, panen, dan paska panen, dan lain sebagainya. Dengan banyaknya pengembangan teknologi dibidang pangan diharapkan dapat membantu menyokong kebutuhan pangan diIndonesia, sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada import bahan pangan dari luar negeri lagi, dan juga para petani dalam negeri juga harus disejahterahkan, agar petani Indonesia hidupnya makmur. Dari sector pemerintah juga harus mendukung, membantu, dan mengayomi para petani. Misalnya dengan memberikan subsidi pupuk dan sebagainya. Memberikan kebebasan dan memfasilitasi para petani untuk mengekspor hasil panennya keluar negeri. Memberi dukungan moral dan materi dalam pengembangan riset dan teknologi dibidang pangan. Dengan melibatkannya banyak sector diharapkan ketersediaan pangan diIndonesia bisa tercukupi dengan baik.

Jusi Rita Handajani
Posted on 22nd November, 2011

MAKANAN ORGANIK,
MUNGKINKAH SEBAGAI PENGGANTI….?
OLEH:
JUSI RITA HANDAJANI
NIM : 101111320
KLAS : B ( Alih Jenis )

1. Makanan Organik

Ketersediaan pangan untuk jenis non beras perlu dikembangkan, misalnya makanan organik. Makanan organik adalah makanan yang seratus persen organik, yang di maksud organik adalah 95 persen diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, tanaman/hewan yang mengalami modifikasi genetis, atau radiasi untuk mematikan kuman (Newsweek, 30/9/2002).
Kesadaran untuk mengonsumsi makanan organik pun tidak selalu sama dari masa ke masa. Ketika budaya tandingan muncul di Barat pada tahun 1970-an-yang kemudian imbasnya juga terasa di Indonesia-konsumen mengambil makan organik sebagai sebuah identitas lebih karena alasan filosofis. Maksudnya, makanan menjadi cara mereka untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan, pilihan politik, bahkan spiritualitas mereka. Akan tetapi, keadaan ini kini berbalik lebih menjadi alasan praktis, yaitu kesehatan tadi, meskipun di sini jumlah konsumennya masih dari kalangan terbatas mengingat harganya yang jauh lebih mahal tadi.
Alasan kesehatan ini pun masih menjadi pro dan kontra di negara maju seperti AS. Betul pestisida adalah racun yang dimaksudkan untuk membunuh hama penyakit yang mengganggu tanaman, dan antibiotik digunakan untuk menangkal serangan penyakit pada hewan ternak. Tetapi, mereka yang membela penggunaan teknologi-pupuk buatan, pestisida, pangan hasil modifikasi genetika-mengatakan bahwa bahaya utama datang dari bakteri seperti E coli yang terdapat pada kotoran sapi yang menjadi pupuk tanaman organik.
Namun, yang tidak dapat dipungkiri adalah semakin intensifnya penggunaan pestisida dan antibiotik pada pertanian konvensional-pertanian dengan asupan teknologi modern menjadi konvensional dibandingkan dengan pertanian organik yang sebelum munculnya Revolusi Hijau tahun 1960-an dengan teknologi modernnya adalah pertanian konvensional itu sendiri-karena munculnya masalah antara lain hama penyakit yang kebal terhadap pestisida yang ada sampai jenuhnya tanah karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus sepanjang tahun.
Untuk lingkungan, pertanian organik dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan karena dia mengambil apa yang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam seraya menjaga keragaman hayati karena tidak perlu membunuh makhluk hidup-apakah dia kutu atau serangga pemakan sayuran-secara berlebihan karena penggunaan musuh alami atau pestisida dari bahan tanaman sendiri. Dan apabila konsumen sekarang memilih makanan organik karena alasan kesehatan, itu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.
APA pun alasan yang disampaikan entah dengan alasan kesehatan atau kembali ke alam, tetapi makanan organik meskipun perlahan semakin populer walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.
2. Hidup Sehat Dengan Makanan Organik
Tak ada orang yang tak mau hidup sehat. Dengan pola hidup teratur dan menghindari stres, hal itu bisa terpenuhi. Satu hal lain yang patut diperhatikan adalah pemilihan makanan. Seperti apa makanan yang bisa dibilang baik, hingga bisa menunjang pola hidup sehat tersebut. Jenis makanan organik merupakan solusi saat ini.
Hingga sekarang masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai pangan organik. Banyak juga yang mendefinisikannya sebagai makanan segar tanpa bahan kimia dan pestisida. Namun, banyak juga yang menganggap makanan jenis ini adalah makanan khusus orang-orang yang ‘gila’ kembali ke alam. Terlepas dari itu semua, harus diakui jenis makanan ini baik untuk mengurangi efek negatif racun dari berbagai bahan kimia dan pestisida.
Istilah makanan organik tidak sepenuhnya mengacu pada objek makanan tersebut. Namun menyangkut bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan. Jadi ada benarnya anggapan jenis makanan diproduksi tanpa menggunakan bahan-bahan kimia beracun.
Sampai sekarang kita tak bisa lepas sepenuhnya dari residu kimia dan pestisida. Contohnya tanah masih tetap mengandung bahan kimia karena penggunaan pupuk urea. Atau polusi udara dan air yang juga turut memberikan andil. Ini karena tidak semua petani Indonesia menggunakan sistem pertanian ekologis – memperhatikan kaidah kesehatan dan lingkungan.
Jadi, apa alasan kuat yang bisa diajukan untuk memilih makanan jenis ini.

3. Alasan Utama
Hippocrates, pemikir ilmu kesehatan modern, mengungkapkan biarkan makanan menjadi obat Anda dan biarkan obat menjadi makanan Anda. Pemikiran Hippocrates tersebut sekarang digali ulang sebagai landasan mengapa kita seharusnya memilih makanan.
Alasan yang berikutnya adalah masalah masa depan. Generasi penerus kita tidak seharusnya menerima akibat negatif dari apa yang kita lakukan sekarang. Hasil studi terakhir membuktikan bahwa anak-anak terkena empat kali lebih banyak efek pestisida daripada orang dewasa.
Sampai sekarang tercatat setidaknya ada delapan jenis pestisida dalam makanan yang dapat menyebabkan kanker. Pilihan makanan yang non-residu kimia dan pestisida saat ini akan membawa pengaruh penting pada kesehatan generasi mendatang.
Juga masalah ini bersangkutan dengan kemauan kita melindungi kualitas air. Seperti kita tahu, dua pertiga dari tubuh kita mengandung air. Air juga memenuhi dua pertiga isi bumi ini. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Tapi, hingga sekarang diperkirakan kebanyakan air tanah telah tercemar oleh pestisida.
Sudah ada 38 negara yang tingkat pencemaran airnya melebihi ambang batas, dan mirisnya berarti lebih dari setengah penduduk negara tersebut meminum air tercemar tadi.
Alasan lain adalah penghematan energi. Kebanyakan pertanian modern sekarang menggunakan bahan bakar minyak bumi. Hingga mencapai total 12 persen yang dikonsumsi oleh sektor tersebut. Berarti banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk kimia daripada untuk mengolah dan memanen tanaman.
Secara kesehatan, pestisida ternyata bisa juga menyebabkan kanker. Hampir 1,4 juta kasus kanker di dunia disebabkan oleh bahan ini. Ternyata pestisida juga memberikan pengaruh pada cacat kelahiran, kerusakan syaraf dan mutasi genetik.
Memilih makanan ini berarti kita juga menolong kelangsungan hidup petani. Secara kesehatan, para pekerja pertanian terancam saat harus menggunakan pestisida. Ini karena aturan penggunaan pestisida di negara berkembang belum menjamin keamanan penggunaannya. Hingga sekarang diperkirakan satu juta petani mengalami keracunan pestisida per tahunnya. Beberapa jenis pestisida yang dilarang digunakan di negara AS ternyata masih diproduksi dan diekspor ke negara-negara berkembang tersebut.

4. Keuntungan
Memilih makanan organik ini bila dilihat dari segi nutrisi, ternyata mengandung kandungan gizi lebih baik dibandingkan dengan bahan pangan non-organik. Sehingga secara logika berarti lebih membantu proses pertumbuhan dan perbaikan tubuh bila mengalami masalah.
”Makanan juga jenis ini juga ternyata lebih hemat”, demikian menurut penuturan Ibu Bibong Widyarti D, salah seorang pengguna jenis makanan ini. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena jenis makanan ini lebih lama basi, hingga tidak banyak beras yang terbuang, lanjutnya menguatkan.
Jadi, bukanlah hal yang merugikan bila kita memutuskan menggunakan jenis produk makanan ini sebagai alternatif makanan keluarga kita di rumah. Untungnya adalah penghematan proses produksi dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan di bumi yang kita cintai ini.

5.Makanan Organik Hindari Penyakit Jantung
Organ ini sudah bekerja sejak manusia masih dalam kandungan. Tapi kini, lifestyle berpengaruh besar terhadap penyakit yang menyerang organ sebesar kepalan tangan.
Hampir setiap istirahat kerja, Iskandar (35 tahun) selalu memilih menu soto betawi yang menjadi kegemarannya. Jeroan yang dicampur dengan kuah kental yang panas, selalu menjadi sajian favoritnya di kala makan siang. Selama ini ia mengaku belum pernah mengalami keluhan seputar kesehatannya, meski penampilannya pun relatif gemuk. Namun seminggu belakangan ini, ia merasa dadanya sesak dan nafasnya tersengal-sengal ketika harus menaiki tangga rumahnya.
Keluhan ini disampaikan kepada saudaranya yang juga seorang dokter. Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata diketahui bahwa Iskandar mengidap kolesterol dan gejala penyakit jantung. Beruntung, penyakit ini telah terdeteksi sebelum timbul serangan yang lebih parah dan bisa menyebabkan kematian.
Memang, penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia untuk usia 40 hingga 50 tahun. Bahkan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi bahwa penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010.
Sebagai penggemar makanan berkolesterol tinggi, Iskandar memang memiliki resiko besar mengidap penyakit jantung koroner. Penyakit ini menyerang pembuluh darah dan dapat menyebabkan serangan jantung. Serangan jantung dikarenakan pembuluh arteri tersumbat, yang menghambat penyaluran oksigen dan nutrisi kejantung.
Menurut dokter Hananto Andriantoro, SpJP, FIHA, ahli jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, saat kerja jantung meningkat akibatnya tekanan darah meningkat dan denyut jantung pun naik. Terjadinya hal ini bisa karena sedang gembira, cemas, kaget, olahraga atau stres. Otomatis jantung bekerja lebih keras lagi dan membutuhkan oksigen lebih banyak. Oksigen ini dibawa oleh sel darah merah melalui pembuluh koroner jantung. “Nah,bila asupan oksigen ini terhambat akibat salurannya tersumbat, akibatnya terjadi serangan jantung koroner dan bisa menyebabkan kematian,” jelasnya.
Ada lagi resiko yang mengancam kejantanan pria apabila pembuluh darah arteri pudenda yang menuju ke alat kelamin tersumbat atau rusak. Akibatnya bisa fatal, disfungsi ereksi permanen bisa saja terjadi. Karena pembuluh darah inilah yang mengalirkan darah saat pria ereksi. “Sebaiknya setiap orang yang mengalami hal ini harus terbuka kepada dokter. Jangan karena masalah ini tabu, lalu memilih untuk mengobati sendiri dengan jamu atau ramuan obat kuat lain yang belum jelas hasilnya. Malah bisa terjadi komplikas,” pesan dokter Hananto.
Berdasarkan hasil penelitian Guru Besar UI, Prof. Dr. Dede Kusmana pada tahun 2005 lalu, disebutkan 99 persen penyakit jantung ini memang disebabkan perubahan pola dan gaya hidup. Perubahan itu membuat masyarakat kurang aktif bergerak, mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, merokok dan stres. Inilah yang dapat memicu munculnya resiko penyakit jantung.
Namun bukan berarti Anda tidak boleh mengkonsumsi makanan berlemak sama sekali. Lemak yang baik diperlukan, bahkan penting bagi struktur dan fungsi setiap sel dalam tubuh manusia. Lemak merupakan “bahan bakar” yang memberi Anda tenaga dua kali lebih banyak daripada jenis makanan lain. Lemak yang disimpan dalam tubuh juga berfungsi sebagai bank penyimpan tenaga. Lemak adalah bahan penyekat yang melindungi Anda dari rasa dingin yang merusak. Lemak juga menutupi saraf-saraf tubuh. Jenis lemak yang baik ini disebut HDL (high density lipoproteins). Ia dapat membantu menghilangkan kolesterol yang merusak dan tidak diinginkan itu dari pembuluh-pembuluh darah. Sehingga berfungsi juga mencegah serangan jantung.
Dokter Hananto menyarankan, untuk mengimbangi antara pola makan yang masih belum memenuhi gizi seimbang, sebaiknya melakukan exercise. Porsi latihan rutin minimal tiga kali seminggu, dapat membantu membakar lemak yang tertimbun dalam tubuh. Treadmil selama setengah jam dapat meningkatkan denyut jantung yang optimal.
Selain exercise, langkah terbaik untuk mencegah terkena resiko penyakit jantung tentu dengan mengganti pola makan yang sehat. Salah satu makanan yang bersahabat dengan jantung Anda adalah makanan yang mengandung biji-bijian. Karena memiliki kandungan serat, kaya vitamin, mineral serta antioksidan. Hal ini didukung oleh hasil studi dokter Luc Djousse, dari Sekolah Kedokteran Harvard, Amerika Serikat yang menyatakan hasil studinya di forum tahunan Asosiasi Jantung Amerika. Hasil penelitiannya mengungkapkan manfaat positif dari sereal gandum juga dirasakan oleh orang dewasa. Sereal yang terbuat dad gandum atau biji padi kaya akan serat yang efektif menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol jahat. Sekaligus menghindari serangan jantung.
Untuk mengetahui apakah pembuluh darah kita mengalami penyumbatan atau menyempit, bisa dengan melakukan deteksi dini cardiovasculer. Langkah mudahnya, dilakukan dengan melihat pembuluh darah pada leher. Lewat USG dapat diketahui, bila terjadi penebalan lebih dari 1 mili (normal) maka harus dilakukan pengobatan. Karena apabila hal ini terjadi, mengindikasikan pembuluh darah koroner dan pembuluh darah lainnya terjadi penebalan. Jadi, cegahlah sebelum ia berhenti berdetak.
6. Hidup Sehat, Konsumsi Pangan Organik
Bahaya polusi dan hal-hal yang berbau kimiawi membuat sebagian orang mulai menyadari arti penting pola hidup sehat. Salah satunya dengan mengonsumsi makanan organik, yakni bahan makanan bebas kimia.
Ahli teknologi pangan Prof Dr FG Winarno dalam buku Pengantar Pertanian Organik, yang disebut pertanian dan pangan organik adalah pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau artifisial dan atau pestisida sintetis. Namun, menggunakan pupuk organik seperti menur dari kotoran dan feses ternak, yang dikenal sebagai pupuk kandang serta kompos yang terbuat dari limbah hasil panen pertanian yang telah mengalami fermentasi spontan.
”Sedangkan yang dimaksud dengan pestisida alami, misalnya predator spesies binatang,” ujar Winarno. Dia menambahkan, definisi pangan organik lainnya dapat melebar dan meluas. Contohnya, The International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM) mengajukan batasan yang mencakup lebih luas dari sekadar aspek biofisik, yaitu meliputi beberapa aspek, seperti perikebinatangan (animal welfare), biodiversitas, dan keadilan sosial.
Menurut Ahli Terapis Organik dari Healthy Choice Kemang dr Angela C Ardhanie, yang dimaksud produk organik ialah produk yang pada proses penanaman dan pembuatannya tidak menggunakan bahan kimia atau zat-zat berbahaya. ”Misalnya, beras dan sayur organik yang pada proses penanamannya tidak menggunakan pestisida atau pupuk kimiawi.
Kemudian, pada proses selanjutnya juga tidak menggunakan pemutih. Sekarang kan banyak beras yang memakai pemutih, juga untuk gula dan tepung,” ujar dr Angela. Karena itu, untuk menanam secara organik, pengolahan dalam perkebunan organik juga harus melalui proses pembersihan terlebih dahulu.
Terutama, jika sebelumnya perkebunan tersebut telah digunakan untuk menanam secara konvensional menggunakan pembasmi hama pestisida dan pupuk yang mengandung unsur kimiawi lain. ”Ketika suatu produk disebut layak organik harus memiliki sertifikasi yang dikeluarkan lembaga tertentu,” tegas dr Angela.
Memang budi daya secara alami akan menghasilkan bahan pangan tergolong tidak menarik dari sisi penampilan. Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, ahli gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam suatu diskusi membenarkan bahwa bahan pangan organik, terutama sayuran mempunyai performa yang tidak menarik, banyak yang berlubang, dimakan ulat dan serangga.
Namun, jika ditinjau dari kualitas cita rasa, pangan organik memang lebih baik. ”Dari sisi cita rasa, bahan pangan organik juga lebih lezat. Sayuran dan buah organik lebih renyah, lebih manis, dan tahan lama. Sedangkan yang bukan, kandungan airnya tinggi sehingga rasanya kurang manis dan lebih cepat busuk,” paparnya.
Selain itu, Ali Khomsan mengungkapkan, bahan pangan organik tertentu seperti sayuran dan buah, kandungan mineral lebih baik dibandingkan bahan pangan konvensional. Beberapa penelitian menunjukkan, sayuran seperti kubis, selada, tomat, kandungan mineral kalsium,fosfor, dan magnesium jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran anorganik.
Seperti tomat organik, kandungan kalsiumnya 23 mg, sedangkan yang bukan hanya 5 mg. Sementara itu, dr Angela membenarkan anggapan masyarakat yang mulai beralih ke pangan organik untuk mencapai kesehatan optimal. Meskipun, cenderung ke tindakan preventif. ”Konsep kami untuk pangan organik, yaitu untuk mencapai hidup sehat. Jadi gaya hidup berubah, dari makan junk food atau makan sayuran yang terpapar pestisida, ditambah atau pengawet ke organik.
Tujuannya untuk mencegah penyakit atau preventif.Sebab, setiap zat yang ditambahkan pasti ada efek negatifnya,” tutur ibu satu anak itu. Pasalnya, jika zat-zat yang berbahaya tersebut terus menerus dikonsumsi, akan menjadi beban yang menumpuk di dalam tubuh seseorang.

Gresik , 20 Nopemver 2011

Maria ulfa dewi
Posted on 22nd November, 2011

NAMA : Maria ulfa dewi
NIM : 101111340
KELAS : B Alih jenis
TUGAS EPG
MENGATASI PERMASALAHAN GIZI DAN PANGAN INDONESIA

Di Indonesia, merebaknya kasus gizi buruk atau malnutrisi pasca krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu, masih menjadi bahasan dan dapat kita saksikan di media masa hingga kini. Sebelumnya Indonesia merupakan negara swasembada pangan (beras) yang dapat dikatakan sejahtera, akan tetapi sekarang dengan kondisi negara yang jauh berbeda, kita belum dapat menuntaskan masalah pangan kita. Masyarakat Indonesia yang merupakan negara yang berkembang ini, status gizi buruk dan kurang sangatlah besar bila dibanding Negara Asia lainnya. Permasalahan gizi buruk ini tentu tidak hanya masalah pada status gizi masyarakat akan tetapi juga berhubungan dan mempengaruhi status kesehatan dan pangan masyarakat. Sehingga dalam melaksanakan penyelesaian masalah gizi dibutuhkan pertimbangan pada aspek kesehatan dan pangan.
Status gizi masyarakat ditentukan oleh makanan yang dimakan. Makanan yang dimakan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di masyarakat, sistem pengolahan makanan tersebut, baik modern atau tradisional, baik atau kurang baik, hingga sampai kepada masyarakat dan dimanfaatkan untuk memenuhi asupan gizi dan kesehatan. Sedangkan aspek kesehatan menentukan kondisi imunitas tubuh dan penyakit sesuai dengan asupan gizi yang didapat. Selain itu banyak faktor lain yang berhubungan pula seperti pelayanan kesehatan, kemiskinan, pendidikan, sosial budaya, gaya hidup, yang kesemuanya berkaitan dengan status gizi sehingga dapat mempengaruhi produktivitas atau kualitas sumber daya masyarakat. Kondisi iklim saat ini yang berubah akibat pemanasan global ternyata juga ikut mempengaruhi ketahanan dan keamanan pangan. Walaupun Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalaminya, akan tetapi hal ini menimbulkan perhatian besar mengingat kita sebagai negara agraris. Kondisi ini dapat mengakibatkan rusaknya tanaman pangan maupun kurangnya kandungan gizi yang terkandung didalamnya. Sehingga mempengaruhi kondisi gizi masyarakat.
Mengatasi masalah gizi ini tidak harus merubah program yang telah ada. Dengan adanya pengoptimalan program dipandang lebih bijak daripada menghabiskan banyak uang pada program baru. Permasalahan gizi dan pangan Indonesia tentu dapat diselesaikan dengan pengorganisasian kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang baik. Untuk mencapai status perbaikan gizi dan pangan nasional peran pemerintah saja tidak cukup, karena proses pengawasan dan pendanaan yang setingkat nasional tidaklah mudah. Disini peran daerah diperlukan untuk dapat melaksanakan maupun menginovasikan program gizi dan pangan. Selama ini program tingkat nasional belum memberikan hasil yang baik dibandingkan program nasional di era orde baru seperti posyandu, KB, imunisasi, karena dipandang kebutuhan dan permasalahan di daerah berbeda-beda.
Apabila setiap daerah memiliki prestasi akan program gizi dan pangannya, tentu lebih memudahkan pemerintah pusat tercapainya status gizi dan pangan yang baik. Seperti halnya bidang kesehatan, jika pemerintah pusat harus menanggung biaya kesehatan nasional, maka anggaran dana cepat habis sebelum digunakan untuk kesejahteraan. Untuk itu lebih bijak dilaksanakan program pencegahan daripada pengobatan, kaitannya dengan gizi dan pangan tadi, tindakan pencegahan berupa pemerintahan daerah yang baik dalam melakukan program.
Kebijakan dalam permasalahan gizi dan pangan ini dilakukan dengan KIE gizi dan pangan serta program lain yang kreatif. Dengan KIE dan program ini diharapkan kemandirian dan partisipasi masyarakat untuk dapat mengatasi masalah gizi dan pangan masyarakat tersebut, jadi bernuansa community based management. Dalam KIE dilakukan pendidikan / edukasi sehingga masyarakat tidak hanya mengerti tetapi juga dapat menerapkan PHBS, kesadaran akan gizi dan kesehatan serta keinginan untuk mencari informasi tentang kesehatan. Sasarannya mungkin lebih kepada ibu-ibu karena biasanya terdapat perkumpulan ibu-ibu PKK dan juga mengingat perannya sebagai pengatur asupan gizi dalam menu makan keluarga.
Program lainnya dapat berupa dibentuknya Rumah Gizi yang memberikan informasi tentang gizi pada anak, dan tidak hanya itu, dapat juga dijadikan tempat untuk memeriksa status gizi anak serta pengobatan dan pemeliharaannya. Kebijakan lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan ketersediaan pangan adalah diversifikasi dan alternatif pangan. Ketersediaan pangan dibutuhkan apabila ingin status gizi masyarakat lebih baik. Kebijakan mono kultur beras adalah jalan yang tidak tepat untuk mengatasi kekurangan pangan (gizi) di negara kita. Walaupun teknologi perberasan Indonesi sudah yang paling produktif dan terefisien di Asia Tenggara. Produksi pangan pada tahun 2006, beras 31 juta ton, singkong 19 juta ton, ubi jalar 1,2 juta ton, jagung 12 juta ton, cukup untuk kebutuhan pangan warga Indonesia. Namun karena 62 % penduduk sekarang bergantung hanya pada padi-padian, sehingga menjadi kekurangan pangan. Diversifikasi dan alternafiv pangan dapat mengembangkan gandum, jagung, ubi serta umbi-umbian yang setara beras untuk dapat dimanfaatkan mengingat suplai kita telah ada. Diversifikasi ini juga dapat meringankan penduduk yang miskin.

SEPTIYANI MUNIROH
Posted on 22nd November, 2011

Judul Artikel : Potret Ketersediaan Pangan di Indonesia
Pengirim : Septiyani Muniroh
Kelas : Alih Jenis B
NIM/Absen : 101111305 / 10

Pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin lama semakin menunjukkan peningkatan. Dari data tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia telah mencapai angka 237,6 juta jiwa. Salah satu pakar memprediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2045 mencapai angka 400 juta jiwa. Melihat potret penduduk Indonesia yang semakin lama semakin meningkat, hal yang mutlak harus dipenuhi yaitu tuntutan kebutuhan pangan nasional baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini dikarenakan bila di suatu negara tersedia pangan dengan jumlah yang cukup dan mutu yang memadai, maka akan sangat menentukan peningkatan kualitas hidup masyarakat di negara tersebut.
Menurut Undang-Undang nomor 07 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa ketahanan pangan adalah suatu kondisi dimana setiap individu dan rumah tangga memiliki akses secara fisik, ekonomi dan ketersediaan pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat.
Ketahanan pangan belum bisa dicapai bila ketersediaan pangan terpenuhi namun tidak disertai dengan akses pangan yang memadai atau adanya hambatan akses baik secara fisik maupun ekonomi. Dengan kata lain, ketahanan pangan belum dapat dicapai meskipun ketersediaan pangan melimpah namun pemenuhan kebutuhan pangan tidak merata (distribusi pangan yang tidak merata) dan harga belum terjangkau oleh kebanyakan masyarakat yang dipengaruhi oleh rendahnya pendapatan serta ketidakstabilan harga pangan. Kondisi inilah yang saat ini masih menjadi masalah di Indonesia.
Di Indonesia indikator kelangkaan pangan dapat dilihat dari meningkatnya nilai impor bahan makanan yang menjadi kebutuhan pokok. Bahan pangan yang kita konsumsi terus mengandalkan impor dan akibatnya harga kebutuhan pokok semakin lama semakin tinggi dan tidak terjangkau oleh kalangan bawah. Fenomena lain yang banyak kita temui di berbagai media cetak dan televisi yaitu fakta berbagai kasus busung lapar dan gizi buruk yang terjadi di Indonesia juga menjadi salah satu indikator yang mencerminkan kelangkaan pangan. Fenomena diatas sungguh ironis bila terjadi di negara agraris dan maritim yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa banyaknya seperti Indonesia ini.
Indonesia mempunyai potensi sumber daya alam yang sangat bervariasi yaitu pertanian, perairan (perikanan), peternakan serta perkebunan yang sangat mempengaruhi pengembangan produksi pangan baik pangan nabati maupun pangan hewani. Berbagai provinsi di Indonesia mempunyai peran dalam pengembangan produksi pangan yang memberikan kontribusi di tingkat nasional. Bila disertai dengan keterjangkauan pangan dalam arti penyediaan pangan yang murah, pemenuhan pangan diberbagai daerah yang merata serta perubahan perilaku dalam masyarakat yang mempunyai kesadaran daya beli yang tinggi, maka ketersediaan pangan dan ketahanan pangan di Indonesia dapat dicapai dengan baik.
Pencapaian ketersediaan pangan dan ketahanan pangan di Indonesia dapat dicapai dengan baik apabila pemerintah juga memberikan perhatian dan pemantauan secara maksimal terhadap ketersediaan pangan bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat daerah maupun tingkat rumah tangga sehingga setiap individu dapat memperoleh pangan yang bergizi dan terjaminnya ketersediaan pangan bagi penduduk di Indonesia.

EKA ROISA SHODIQOH
Posted on 22nd November, 2011

NAMA : Eka Roisa Shodiqoh
NIM : 101111336
Kelas : B Alih Jenis

KEBIJAKAN PANGAN DAN MASALAH GIZI DI INDONESIA

Krisis moneter yang terjadi sejak tahun 1997 membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan rakyat Indonesia, terutama bagi kalangan menengah kebawah. Akibat krisis moneter, harga berbagai kebutuhan pokok terus melonjak. Hal tersebut menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat tajam. Dampak beruntun dari krisis moneter, meningkatnya harga kebutuhan pokok serta kemiskinan yang kian merajalela berimbas pada perubahan pola konsumsi masyarakat (dalam hal ini mengarah pada penurunan). Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan ketahanan pangan masyarakat anjlok.
Kinerja dari ketiga subsistem ketahanan pangan akan terlihat pada status gizi masyarakat, yang dapat dideteksi antara lain dari status gizi anak balita (usia di bawah lima tahun). Apabila salah satu atau lebih, dari ke tiga subsistem tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi masalah kerawanan pangan yang akan berdampak peningkatan kasus gizi kurang dan/atau gizi buruk. Dalam kondisi demikian, negara atau daerah dapat dikatakan belum mampu mewujudkan ketahanan pangan.
Dewasa ini, harga sembako seperti beras, beras, kedelai dan minyak goreng semakin hari semakin tidak terjangkau oleh daya beli rakyat Indonesia. Akibatnya, prahara kekurangan pangan dan gizi buruk merebak di berbagai daerah. Berita tentang adanya sejumlah rakyat yang kelaparan, makan nasi aking, lumpuh layu dan bunuh diri lantaran tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok menghiasi media massa hampir setiap hari. Penderita gizi buruk semakin bertambah. Jika pada tahun 2005 anak balita yang menderita gizi buruk sebanyak 1,8 juta jiwa, pada tahun 2007 menjadi 5 juta jiwa.

Sumber lain memaparkan hal yang lebih memprihatinkan lagi, tercatat 2 sampai 4 dari 10 anak balita di 72 kabupaten terkena busung lapar, sekitar 11 juta dari 13 juta anak usia sekolah di seluruh Indonesia kini mengalami anemia gizi (republika.co.id). Fenomena tersebut sungguh ironi yang memilukan, karena terjadi di negara agraris dan maritim terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan maritim terbesar, namun pada kenyataanya masih sangat banyak rakyatnya yang kelaparan dan terkena gizi buruk.
Fenomena gizi buruk sebagian besar terjadi akibat kemiskinan, diperparah dengan perilaku para komprador pemburu keuntungan yang selama ini kecanduan mangimpor secara besar-besaran aneka bahan pangan, mulai dari beras, kedelai, gula, daging sampai buah-buahan. Impor bahan pangan yang berlebihan dapat menyengsarakan para petani, meningkatkan pengangguran, menghamburkan devisa dan membunuh sektor pertanian yang mestinya menjadi keunggulan kompetitif bangsa. Dewasa ini Indonesia mengimpor sekitar 2,5 juta ton beras/tahun (terbesar di dunia); 2 juta ton gula/tahun (terbesar ke dua); 1,2 juta ton kedelai/tahun; 1,3 juta ton jagung/tahun; 5 juta ton gandum/tahun dan 550.000 ekor/tahun. Sungguh angka yang mencengangkan bagi sebuah negara yang memiliki kondisi agroekologis nusantara cocok untuk budi daya semua bahan pangan tersebut. Buktinya Indonesia pernah mengukir prestasi menumental yang diakui dunia (FAO), yaitu swasembada beras pada tahun 1984. indonesia juga pernah mencapai swasembada gula, jagung dan kedelai.
Tragedi kerawanan pangan dan gizi memang sungguh ironis terjadi di Negara sesubur Indonesia. Padahal pemerintah terus berupaya meningkatkan dari APBN untuk bantuan bagi rakyat miskin diantaranya melauli asuransi lesehatan rakyat miskin (Askeskin). Jika pada tahun 2005 anggaran yang disiapkan untuk rakyat miskin (Askeskin) adalah sebesar 2,3 triliun, tahun 2006 sebesar 3,6 triliun, tahun 2007, 2,2 triliun dan untuk 2008 dianggarkan 4,6 triliun. Oleh karena itu, sudah ada beberapa upaya dari pemerintah yang diharapkan dapat mengurangi atau bahkan menyelesaikan permasalahan gizi. Upaya pemerintah tersebut diantaranya dituangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi.
Undang-Undang yang secara eksplisit menyatakan kewajiban mewujudkan ketahanan pangan adalah UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. UU tersebut telah dijabarkan dalam beberapa Peraturan Pemerintah (PP) antara lain: (i) PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan yang mengatur tentang Ketahanan Pangan yang mencakup ketersediaan pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, peran pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusia dan kerjasama internasional; (ii) PP Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang mengatur pembinaan dan pengawasan di bidang label dan iklan pangan untuk menciptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (iii) PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, yang mengatur tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wilayah Indonesia. pengawasan dan pembinaan, serta peranserta masyarakat mengenai hal-hal di bidang mutu dan gizi pangan.

CANDRA WAHYU NURDIANSYAH
Posted on 23rd November, 2011

NAMA : Candra Wahyu N
NIM : 101111298
Kelas : B Alih Jenis

PEMBERDAYAAN PETANI DALAM RANGKA PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Krisis perekonomian yang terjadi saat ini tidak hanya di Indonesia. Di seluruh belahan bumi, banyak negara yang sedang mengalami kesulitan untuk memenuhi kehidupan rakyatnya. Adanya krisis global saat ini juga semakin membuat krisis bertambah sulit. Banyak kalangan yang memperkirakan kalau krisis perekonomian yang semakin kompleks ini bisa mengarah kepada krisis pangan. Kelaparan akan menjadi ancaman yang akan menyusul kemiskinan massal yang terjadi saat ini. Sebelum krisis pangan terjadi, sejak jauh- jauh hari, sudah banyak pemikir maupun praktisi yang mati-matian menggodok kebijakan kebijakan maupun sekedar sumbangan pemikiran untuk mengantisipasinya. Semuanya itu berdiri di atas satu sikap, bernama “Ketahanan Pangan”. Di dalam hal ini perlu sekali pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang baik untuk mengatasi krisis pangan yang akan terjadi.
Berbicara tentang kebijakan pemerintah, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi bahaya krisis pangan. Yang paling utama adalah dengan meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk semakin memantapkan ketahanan pangan di bumi Indonesia.
Di negara kita, kesulitan dalam penyeimbangan neraca pangan sudah dialami sebelum awal krisis moneter terjadi pada pertengahan tahun 1997. Bahkan, pemenuhan kebutuhan beras yang pernah diatasi secara swasembada pada tahun 1986, sampai saat sekarang ini ternyata tidak dapat dipertahankan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 1999 kita telah mengimpor beras sebanyak 1.8 juta ton pada tahun 1995; 2.1 juta ton pada tahun 1996; 0.3 juta ton pada tahun 1997; 2.8 juta ton pada tahun 1998; 4.7 juta ton pada tahun 1999. Di awal tahun 2000 kita bahkan dibanjiri dengan beras impor yang diberitakan ilegal, sedangkan di awal tahun 2006 kita diramaikan dengan keputusan pemerintah untuk mengimpor beras, yang dianggap tidak berpihak kepada petani meskipun hal itu bukan merupakan issue baru dan disadari pula bahwa petani kita pun merupakan konsumen beras. Bahkan, pada tahun ini kita dirisaukan dengan impor benih padi yang konon tidak berjalan mulus pula sampai ke tangan petani, padahal hasilnya diharapkan dapat mendongkrak produksi beras.
Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun. Dalam hal inilah, petani memiliki kedudukan strategis dalam ketahanan pangan : petani adalah produsen pangan dan petani adalah juga sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan. Petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Disinilah perlu sekali peranan pemerintah dalam melakukan pemberdayaan petani.
Kesejahteraan petani pangan yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan prospek ketahanan pangan nasional. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor dan keterbatasan, diantaranya yang utama adalah :
a. Sebagian petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali tenaga kerjanya (they are poor becouse they are poor) , dalam hal ini keterbatasan sumber daya manusia yang ada (rendahnya kualitas pendidikan yang dimiliki petani pada umumnya) menjadi masalah yang cukup rumit, disisi lain kemiskinan yang structural menjadikan akses petani terhadap pendidikan sangat minim.
b. Luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi. Pada umumnya petani di Indonesia rata-rata hanya memiliki tanah kurang dari 1/3 hektar, jika dilihat dari sisi produksi tentu saja dengan luas tanah semacam ini tidak dapat di gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari bagi petani.
c. Terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan , ketersediaan modal perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah pada umumnya permasalahan yang paling mendasar yang dialami oleh petani adalah keterbatasan modal baik balam penyediaan pupuk atau benih.
d. Tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik . petani di indonesia kebanyakan masih mengolah tanah dengan cara tradisional hanya sebagaian kecil saja yang sudah menggunakan teknologi canggih.tentu saja dari hasil aproduksinya sangat terbatas dan tidak bisa maksimal.
e. Infrastruktur produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai . pertanian di indonesia mayoritas masih berada di wilayah pedesaan sehingga akses untuk mendapatkan sarana dan prasarana penunjang seperti air, listrik , kondisi jalan yang bagus dan telekomunikasi sangat terbatas
f. Struktur pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar (bargaining position) yang sangat lemah .
g. Ketidak-mampuan, kelemahan, atau ketidak-tahuan petani sendiri.

Tanpa menyelesaian yang mendasar dan komprehensif dalam berbagai aspek diatas kesejahteraan petani akan terancam dan ketahanan pangan akan sangat sulit dicapai. Maka disinilah peranan pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah harus dijadikan sebagai perhatian utama demi terwujudnya ketahanan pangan karena ketahanan pangan dapat terwujud dengan baik jika pengelolaanya dikelola mulai dari tataran mikro (mulai dari rumah tangga), jika akses masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan pangan sudah baik maka ketahanan pangan di tataran makro sudah pasti secara otomatis akan dapat terwujud.
Pembangunan ketahanan pangan pada hakekatnya adalah pemberdayaan masyarakat, yang berarti meningkatkan kemandirian dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan dari waktu ke waktu. Masyarakat yang terlibat dalam pembangunan ketahanan pangan meliputi produsen, pengusaha, konsumen, aparatur pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat.
Mengingat luasnya substansi dan banyaknya pelaku yang terlibat dalam pengembangan sistem ketahanan pangan, maka kerja sama yang sinergis dan terarah antar institusi dan komponen masyarakat sangat diperlukan. Pemantapan ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui suatu kerja sama yang kolektif dari seluruh pihak yang terkait (stakeholders), khususnya masyarakat produsen (petani), pengolah, pemasar dan konsumen pangan dan pemerintah.
Pengadaan pangan bagi bangsa Indonesia hingga saat ini memang masih mengkhawatirkan. Padahal, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan telah memberikan arahan bagaimana kita harus mencapai ketahanan pangan bagi bangsa Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 mengatakan,bahwa Ketahanan pangan diwujudkan bersama oleh masyarakat dan pemerintah dan dikembangkan mulai tingkat rumah tangga. Apabila setiap rumah tangga Indonesia sudah mencapai tahapan ketahanan pangan, maka secara otomatis ketahanan pangan masyarakat, daerah dan nasional akan tercapai. Dengan demikian, arah pengembangan ketahanan pangan berawal dari rumah tangga, masyarakat, daerah dan kemandirian nasional bukan mengikuti proses sebaliknya.
Karena fokusnya pada rumah tangga, maka yang menjadi kegiatan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan adalah pemberdayaan masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan. Pemberdayaan masyarakat tersebut diupayakan melalui peningkatan kapasitas SDM agar dapat secara bersaing memasuki pasar tenaga kerja dan kesempatan berusaha yang dapat menciptakan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Proses pemberdayaan tersebut tidak lagi menganut pola serapan, tetapi didesentralisasikan sesuai potensi dan keragaman sumberdaya wilayah. Demikian pula kesempatan berusaha tidak harus selalu pada usahatani padi (karena dengan luas lahan sempit tidak mungkin dapat meningkatkan kesejahteraannya), tetapi juga pada usaha tani non padi perlu dikembangkan. Dalam kaitannya dengan itu, upaya peningkatan ketahanan pangan tidak perlu terfokus pada pengembangan pertanian (dalam arti primer), tetapi diarahkan pada sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi.
Dengan adanya peningkatan pendapatan, maka daya beli rumah tangga mengakses bahan pangan akan meningkat. Kemampuan membeli tersebut akan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memilih (freedom to choose) pangan yang beragam untuk memenuhi kecukupan gizinya. Karena itu upaya pemantapan ketahanan pangan tidak dilakukan dengan menyediakan pangan murah, tetapi dengan meningkatkan daya beli.
Dalam konteks inilah maka membangun kemandirian pangan pada tingkat rumah tangga ditempuh dengan membangun kemampuan (daya beli) rumah tangga tersebut untuk memperoleh pangan (dari produksi sendiri ataupun dari pasar) yang cukup, bergizi, aman dan halal, untuk menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Dengan demikian menghasilkan sendiri kemampuan memperoleh peningkatan pendapatan (daya beli) secara berkelanjutan. Dalam kaitan ini, maka kebebasan mengatur perdagangan pangan di daerah tidak perlu dibatasi, tetapi didorong dan diarahkan agar memberi manfaat yang optimal bagi konsumen dan produsen pangan di daerah yang bersngkutan sehingga kemandirian pangan akan dapat diwujudkan.

Berbagai upaya pemberdayaan untuk peningkatan kemandirian masyarakat khususnya pemberdayaan petani dapat dilakukan melalui :
Pertama, pemberdayaan dalam pengembangan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Hal ini dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan penyuluh dan peneliti. Teknologi yang dikembangkan harus berdasarkan spesifik lokasi yang mempunyai keunggulan dalam kesesuaian dengan ekosistem setempat dan memanfaatkan input yang tersedia di lokasi serta memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Kedua, penyediaan fasilitas kepada masyarakat hendaknya tidak terbatas pebngadaan sarana produksi, tetapi dengan sarana pengembangan agribisnis lain yang diperlukan seperti informasi pasar, peningkatan akses terhadap pasar, permodalan serta pengembangan kerjasama kemitraan dengan lembaga usaha lain.
Ketiga, Revitalitasasi kelembagaan dan sistem ketahanan pangan masyarakat. Hal ini bisa dilakukan melalui pengembangan lumbung pangan. Pemanfaatan potensi bahan pangan lokal dan peningkatan spesifik berdasarkan budaya lokal sesuai dengan perkembangan selera masyarakat yang dinamis.
Pemberdayaan petani untuk mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani seperti diuraikan diatas, hanya dapat dilakukan dengan mensinergikan semua unsur terkait dengan pembangunan pertanian. Untuk koordinasi antara instansi pemerintah dan masyarakat intensinya perlu ditingkatkan.
Di sisi lain berdasarkan pendekatan sistem pangan, strategi pencapaian ketahanan pangan juga dapat ditempuh melalui berbagai kebijakan di setiap subsistemnya, di antaranya sebagai berikut:
Subsistem konsumsi pangan
Di subsistem konsumsi (masyarakat konsumen) pangan, kebijakan peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat ditempuh dengan strategi penciptaan lapang kerja baru dan, khususnya oleh pemerintahan yang sekarang, pelaksanaan program subsidi langsung tunai (SLT) bagi rakyat yang miskin; kebijakan diversifikasi pangan dan perbaikan kebiasaan makan ditempuh melalui strategi pencarian komoditi pangan alternatif; kebijakan perbaikan/promosi kesehatan.ditempuh dengan strategi perbaikan gizi; kebijakan mutu pangan ditempuh melalui strategi penyelenggaraan sistem jaminan mutu pangan.
Subsistem produksi pangan
Di subsistem produksi pangan stratum on farm, kebijakan intensifikasi pertanian yang diutamakan untuk produksi padi masih perlu dipertahankan karena status padi sebagai komoditi yang berimplikasi politis, yakni melalui strategi teknologi, ekonomi, rekayasa sosial, dan nilai tambah yang diterapkan dalam praktek produksi. Dalam subsektor hortikultura, ditempuh strategi pembangunan, pemantapan, dan pengembangan sentra produksi buah-buahan unggulan yang dikaitkan dengan pembangunan kebun induknya. Kebijakan rehabilitasi pertanian ditempuh sejalan dengan strategi penetapan komoditi prioritas, yakni rehabilitasi jaringan irigasi sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi padi; rehabilitasi kebun bibit sebagai bagian dari strategi pengembangan buah-buahan prospektif. Kebijakan diversifikasi pertanian dilaksanakan melalui strategi diversifikasi horizontal dengan rekayasa sistem pertanian terpadu yang melibatkan usaha tani tanaman, ternak, dan atau ikan secara komplementer dan sinergis, sesuai dengan kondisi agroklimat lahannya.
Subsistem peredaran pangan
Di subsistem peredaran (pengadaan dan distribusi) pangan, kebijakan pengelolaan cadangan pangan dan stabilisasi harga pangan dijalankan khususnya untuk komoditi beras. Untuk komoditi ini, kebijakan pengelolaan cadangan pangan ditempuh dengan penerapan strategi pengendalian ekspor dan impor dan penetapan lama persediaan beras cadangan yang aman untuk ketahanan pangan.

KHOIZIN
Posted on 23rd November, 2011

NAMA : Khoizin
NIM : 101111347
KELAS : B (Alih Jenis)

PROBLEM KETAHANAN PANGAN DAN NASIB PETANI

Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia sering dikejutkan dengan berita banyaknya anak-anak yang menderita gizi buruk atau busung lapar di beberapa wilayah. Sebagai contoh 66.685 anak di Nusa Tenggara Timur (Kompas, 6/7/2005), sekitar 49.000 anak di Nusa Tenggara Barat (Kompas, 4/6/2005), 425 anak di Boyolali (Kompas, 7/6/2005), 11.368 anak di Sumba Barat (Kompas, 16/6/2005), dan masih banyak lagi menderita gizi buruk, dan sebagian dari mereka meninggal dunia karena orang tuanya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anaknya.
Berdasarkan peta orang lapar yang dibuat oleh Food and Agricultural Organization (FAO), hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah rawan pangan. Kenapa hal ini sampai terjadi? Padahal, Indonesia dikenal dengan negeri yang subur dan makmur.
Sebelum melihat persoalan dibalik gizi buruk dan busung lapar, ada baiknya dilihat dulu definisi dari “Ketahanan Pangan” Menurut Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, pada pasal 1 ayat 17, menyebutkan “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Dalam UU ini ketahan pangan ditujukan kepada kebutuhan rumah tangga, karena asumsi bahwa rumah tangga adalah bentuk kesatuan masyarakat terkecil di Indonesia.
Bandingkan definisi tersebut dengan pengertian food security (ketahanan pangan) yang tertera dalam Rome Declaration and World Food Summit Plan of Action, yaitu “food security exists when all people, at all times, have a access to sufficient, safe and nutritious food to meet their dietary needs for an active and healthy life”.
Dalam definisi ini sangat jelas bahwa ketahanan pangan harus dimiliki oleh setiap individu (all people), tidak saja yang berada dalam kesatuan rumah tangga (seperti yang disebutkan dalam UU no. 7 tahun 1996). Untuk konteks Indonesia, definisi ini bisa mencakup para gelandangan, anak jalanan, orang miskin, dll. Jadi, definisi yang diberikan oleh Rome Declaration adalah lebih sesuai untuk menjamin hak asasi rakyat untuk mendapatkan pangan yang layak, daripada definisi yang diberikan UU no. 7 tahun 1996.

Ketersediaan Pangan

Terjadinya rawan pangan diakibatkan oleh tidak terpenuhinya ketersediaan bagi rakyat. Berdasarkan produksi beras nasional adalah sekitar 29. 733 juta ton beras (BPS, 2004). Apabila menggunakan asumsi kebutuhan beras raktay Indonesia adalah 133 kg perkapita, maka beras yang dibutuhkan untuk 220 juta penduduk adalah 29. 26 juta ton per tahun. Tentunya, berdasarkan produksi beras tahun 2004, bisa dikatakan bahwa kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia dapat tercukupi dengan baik. Perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa seluruh penduduk memakan nasi, padahal masih ada yang memakan jagung, ketela, sagu atau kacang-kacangan.
Pangan (beras, kedelai, jagung, ketela, dll) di Indonesia, tidak serta merta disediakan oleh pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (BULOG). Ironisnya sebagai produsen pangan, petani juga sekaligus menjadi korban dari rawan pangan. Apabila dilihat dari kasus yang terjadi di NTT, NTB, Sumba, dll, maka sebagaian besar korban adalah petani miskin yang hidup di pedesaan.
Ternyata, 56,5 % dari 25,4 juta keluarga petani yang ada di Indonesia adalah petani gurem, yang memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha (BPS, 2003). Padahal untuk sekedar survive petani minimal harus memiliki lahan 1 Ha. Maka tidak heran, bahwa hampir 60% dari petani Indonesia adalah masuk dalam kategori miskin (pendapatan di bawah $US 2 per hari). Bagaimana mungkin, petani yang miskin akan menjadi penyangga utama penyedia pangan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Dari Analisa ini, maka ada 2 hal yang harus menjadi perhatian utama pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan bagi rakyat.
Pertama, petani sebagai produsen pangan harus dijamin kesejahteraannya. Hal ini sangat penting untuk memotivasi kinerja petani agar secara sungguh-sungguh mewujudkan ketersediaan pangan.
Kedua, kalau dilihat dari perhitungan diatas, ternyata produksi pangan mencukupi, tetapi busung lapar masih terjadi, maka masalahnya adalah distribusi. Peta produksi pangan (wilayah surplus dan minus) secara akurat harus dimiliki oleh pemerintah, untuk memastikan pendistribusiannya ke berbagai tempat yang kekurangan.

Solusi dari Rawan Pangan

Untuk menjamin kesejahteraan petani dan distribusi pangan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah.
1. Agendan land reform yang diamanatkan TAP MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan SDA harus dilaksanakan
2. Membangun corporate farming, sehingga petani-petani kecil akan bergabung dalam satu areal yang luas untuk memproduksi pangan secara bersama-sama
3. Pemerintah harus bisa menjamin akses pasar dan modal bagi petani
4. Mengoptimalkan kinerja BULOG untuk dapat secara langsung berhubungan dengan petani
5. Keragaman pangan yang dimiliki oleh rakyat, sebaiknya dipelihara dengan dengan baik

NURUL AINI
Posted on 24th November, 2011

Nama : NURUL AINI
NIM : 101111317
KELAS : ALIH JENIS IB
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Pangan dan Gizi merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis dan politis. Implikasinya bahwa penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai harus terjamin, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penduduk di seluruh wilayah pada setiap saat sesuai dengan pola makan dan keinginan mereka agar hidup sehat dan aktif.
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Salah satu indikator terwujudnya ketahanan pangan yang kokoh yaitu ketersediaan pangan bagi masyarakat (food availability).
Pembangunan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang
memberikan manfaat secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan
dengan keyakinan masyarakat. Dalam upaya membangun ketersediaan pangan bagi masyarakat dipandang perlu menggalakkan diversifikasi (penganekaragaman) pangan, melalui upaya penyediaan pangan yang beragam untuk memenuhi permintaan. Dalam upaya diversifikasi pangan tersebut untuk mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga, perlu dikembangkan penganekaragaman pangan horizontal dan vertikal serta mendorong berkembangnya industri pangan berskala kecil, menengah dan besar di pedesaan maupun perkotaan. Diversifikasi pangan juga berorientasi sumberdaya lokal artinya memenuhi kebutuhan
pangan beragam diutamakan dari produksi lokal sekaligus dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang positif di daerahnya.
Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Hal ini di tunjukkan dengan Pada tahun 2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek masing-masing 18,4 persen dan 36,8 persen sehingga Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90 persen kontribusi masalah gizi dunia (UN-SC on Nutrition 2008). Walaupun pada tahun 2010 prevalensi gizi kurang dan pendek menurun menjadi masing-masing 17,9 persen dan 35,6 persen (Riskesdas 2010) namun angka penurunannya masih kecil sekali.
Hal ini dapat disebabkan karena dampak global warming, yakni iklim yang ekstrim dan tidak menentu. Banyak petani yang gagal panen yang di akibatkan musim kemarau dan penghujan yang tidak dapat diprediksi. Yang tentunya hal ini mempengaruhi produksi pangan dan ketersediaan pangan di Indonesia
Dan juga menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada sensus 2010 sudah mencapai 237,6 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1,49%. Dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah otomatis kebutuhan akan tempat tinggal pun semakin bertambah. Banyak terjadi pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan. Hal ini semakin mempersempit lahan-lahan pertanian di daerah.
Pemerintah hendaknya dapat mengantisipasi permasalahan tersebut mengingat sumber daya alam Indonesia sangat beraneka ragam baik yang ada di daratan maupun di laut. Untuk mencegah terjadi krisis pangan diperlukan suatu kebijakan-kebijakan untu menjamin ketersediaan pangan. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
1. Larangan impor beras
Pemerintah harus mengoptimalkan produksi dalam negeri serta melakukan keaneka ragaman pangan sehingga dengan demikian untuk bahan pokok pangan tidak hanya bertumpu pada beras saja. memperhatikan kesejahteraan para petani. Meningkatkan pengetahuan petani akan keaneka ragaman bahan pangan, memeberikan fasilitas serta pelatihan
2. Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan dan melakukan pengaenaka ragaman pangan.
Hal ini dapat di lakukan dengan memberdayakan para petani Indonesia, karena Indonesia sendiri adalah wilayah agraris yang sebagian besar mata pencahariannya di bidang pertanian. Meningkatkan teknologi pertanian yang up to date serta memperhatikan kesejahteraan para petani dengan menetapkan harga dasar yang tidak merugikan petani
3. Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras dan bahan pokok pangan lainnya
Jadi di dalam bulog tidak hanya tersedia stok beras yang terjadi seperti sekarang ini, sehingga jika terjadi bencana alam akan kewalahan untuk menangani karena stok beras menipis. Hendaknya BULOG juga menyediakan stok selain beras, jagung misalnya atau umbi-umbian yang sudah dikeringkan (gaplek), dsb. Dan juga pendistribusian bahan pokok yang merata di seluruh wilayah.

IRMA KRISNAWATI
Posted on 24th November, 2011

NAMA : IRMA KRISNAWATI
NIM : 101111309
KELAS: Alih jenis 1B

Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketersediaan pangan bagi penduduknya. Indikator ketersediaan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Banyak anggota keluarga yang mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada dibawah kebutuhan konsumsi yang semestinya dan banyak anak diusia dibawah 5 tahun memiliki berat badan dibawah standard an mengalami gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil). Gizi yang buruk dapat menghambat pertumbuhan anak secara normal, membahayakan kesehatan ibu dan mengurangi produktivitas angkatan kerja. Ini juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit pada penduduk yang berada pada kondisi kesehatan yang buruk dan dalam kemiskinan.Hal yang juga penting untuk diperhatikan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis-jenis pangan yang berkualitas lebih baik. Namun kenyataannya banyak keadaan nutrisi makanan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan sejak akhir krisis. Sejumlah kebijakan penting yang berpengaruh terhadap kualitas pangan dan nutrisi meliputi:
• Upaya untuk melindungi sejumlah komoditas pangan penting
• Memperkenalkan program pangan tambahan setelah krisis
• Penyebarluasan dan pemasaran informasi mengenai nutrisi
Program RASKIN dimaksudkan sebagai salah satu program penting pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan dengan memasok sekitar 20 kg beras per bulan kepada 9 juta keluarga miskin. Fakta yang ada menunjukkan bahwa program tersebut teramat mahal, menghabiskan sekitar Rp. 4,8 trilliun pada tahun 2004, dan relatif buruknya sasaran yang harus
dicapai, menyebabkan manfaat yang diperoleh masyarakat miskin sangat kecil. Secara rata-rata, rumah tangga menerima sekitar 6 sampai 10 kg beras dan bukan 20 kg, disebabkan karena beras tersebut didistribusikan secara merata baik pada rumah tangga yang tidak miskin maupun rumah tangga miskin. Akibatnya, rata-rata nilai subsidi yang diberikan kepada masyarakat miskin
melalui program ini hanya sekitar 2,1 % dari pengeluaran perkapita; jauh lebih kecil pada masyarakat yang tidak miskin. Kemudian juga kebanyakan subsidi tersebut tidak pernah sampai pada rumah tangga yang tepat, karena kebanyakan dana itu menjadi biaya operasional BULOG. Pada tahun 2004 pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 3.343 untuk setiap kilogram beras yang
diberikan melalui BULOG, meski pada kenyataannya penyediaan beras oleh pihak swasta dapat diperoleh pada tingkat harga Rp. 2.800. Dari keseluruhan dana anggaran BULOG untuk pogram RASKIN hanya sekitar 18% yang tepat sasaran kepada masyarakat miskin. Meski terdapat sejumlah permasalahan pada program Raskin- program ini merupakan salah satu dari sedikit program dengan lingkup nasional dan memiliki infrastruktur organisatoris yang berperan penting pada waktu terjadinya gangguan pangan. Penghapusan program RASKIN, bukanlah suatu
cara yang tepat. Meski demikian juga penting untuk memikirkan reformasi
yang radikal berkaitan dengan program ini, antara lain:
1.Mensosialisasikan dan melaksanakan target dari program RASKIN kepada masyarakat,
dengan demikian masyarakat perdesaan dapat memahami bahwa distribusi program ini hanya
diperuntukan bagi penduduk yang benar-benar miskin. Sekali lagi hal ini akan lebih mudah
bila program ini memang tepat sasaran.

2. Menciptakan dasar biaya penyelenggaraan program RASKIN dan merevisi anggaran untuk
program ini.
3. Memperluas penggunaan metode sasaran mandiri (self-targeting) oleh masyarakat miskin itu
sendiri, misalnya melalui paket RASKIN yang lebih kecil jumlahnya dan frekwensi pemberian
yang lebih sering.
Sasaran program RASKIN semestinya berjumlah lebih kecil dan biayanya jauh lebih murah. Melalui perbaikan sasaran, program tersebut masih tetap memiliki dampak yang lebih baik bagi masyarakat miskin.
Langkah tradisional pemerintah dalam meningkatkan keterjangkauan pangan umumnya ditempuh dengan cara menstabilisasikan harga beras. Hal ini dilakukan melalui kebijakan harga pagu dan membeli beras di pasar dengan maksud mempertahankan tingkat harga tersebut. Meski demikian ketidakmampuan BULOG dalam mempertahankan harga pagu tersebut telah menjadi hal yang umum dan keterlibatan pemerintah didalam pasar
Upaya pemerintahmenstabilisasikan harga mungkin cukup tepat di masa yang lampau, akan tetapi sekarang ini rantai pemasaran swasta telah cukup berkembang dan sejumlah keterlibatam pemerintah pada dasarnya tidak diperlukan. Peningkatan gizi makanan, seperti melalui aturan penambahan yodium pada produksi garam atau dengan mengharuskan produsen untuk menambah sejumlah nutrisi mikro ke dalam produk makanan mereka, merupakan cara yang cukup efektif dalam meningkatkan standar gizi. Pemerintah telah melakukan hal ini dengan mendukung penggunaan garam beryodium dan peningkatan gizi tepung terigu. Akan tetapi kondisi gizi yang buruk masih merupakan persoalan utama.
Pemerintahan baru dapat meningkatkan kondisi gizi masyarakat dengan mendorong dan menerapkan standar pemenuhan produksi pangan yang bergizi. Sebagai contoh, di beberapa daerah produksi garam oleh sejumlah produsen kecil lokal didukung oleh pemerintah setempat,
sekalipun hasil produksinya masih belum memenuhi standar yodium nasional. Pemerintah pusat harus bekerjasama dengan pemerintah daerah, produsen serta konsumen, untuk mendapatkan cara yang efektif dalam menjamin pemenuhan gizi (meningkatkan kadar yodium) tanpa harus
merusak pendapatan produsen lokal.
Menerapkan regulasi yang transparan juga menjamin bahwa investasi untuk memenuhi standar gizi pada produk makanan tidak akan dikurangi karena adanya produsen yang tidak memenuhi standar gizi pada produk makanan mereka. Kerjasama antar lembaga amat dibutuhkan melalui intervensi yang mencakup industri pengolahan makanan (dibawah Menperindag), impor (Kepabeanan/Bea Cukai), pengawasan penjualan makanan (BPOM), pemasaran secara sosial (Menkes) dan pemerintahan daerah (Mendagri). Kerjasama harus bertujuan untuk membangun
mekanisme perlindungan terhadap produk makanan tertentu, pilihan uji gizi produk makanan serta mekanisme penyediaannya dan membentuk kemitraan dengan produsen sektor swasta dan para pemasok produk makanan yang dilindungi. Kerjasama ini juga dapat ditujukan untuk
menciptakan standarisasi produk dan aturan-aturan produksi, serta memberikan pengawasan dan evaluasi terhadap penyediaan produk makanan, disamping mengawasi dampaknya terhadap produk makanan yang dilindungi bagi sejumlah penduduk.
Program makanan tambahan yang tepat sasaran amat berperan penting dalam peningkatan gizi. Program makanan tambahan diperkenalkan setelah krisis sebagai bagian dari jaringan pengamanan sosial ( JPS)
Survei menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang lebih baik menyiapkan lebih banyak gizi dan vitamin pada setiap makanan dalam rumah tangga. Pengetahuan ibu akan gizi tidaklah terkait erat dengan tingkat pendidikan formal mereka maupun tingkat pendapatan. Ini menunjukkan bahwa kampanye mengenai informasi tentang gizi dapat meningkatkan kualitas menu makanan. Apalagi ketersediaan bahan makanan yang bergizi pada pasar lokal, telah cukup meningkat. Di masa lalu jaringan posyandu merupakan salah satu jaringan yang paling efektif
untuk memberikan informasi tentang gizi kepada kaum ibu, namun cakupan geografis dan kualitas penyampaian informasi gizi melalui posyandu kini mengalami penurunan. Sementara program revitalisasi posyandu perlu mendapat perhatian, terpantau adanya sejumlah kendala pada anggaran dan sumber daya manusia, terutama berkaitan dengan masalah desentralisasi. Selain itu, penyelenggara jasa informasi alternatif juga mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Sehingga tujuan untuk membangun kembali jaringan secara nasional yang pernah ada, seperti posyandu, mungkin bukan suatu hal yang tepat. Akan lebih baik jika penyampaian informasi sosial mengenai gizi menempuh jalur altenatif yang tersedia, khususnya melalui saluran televisi dan radio.

Sema Morestavia
Posted on 24th November, 2011

Singkong sebagai Pengganti Gandum

Nama : Sema Morestavia
NIM : 101111350
Kelas : IB alih jalur

Angka impor gandum di Indonesia dari tahun ke tahun tidak pernah turun, padahal Indonesia memiliki potensi pengganti gandum yang salah satunya berasal dari singkong. Faktor penyebab diimpornya gandum adalah tanaman tersebut memang tidak bisa ditanam di wilayah Indonesia. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah menggunakan bahan makanan lain yang dapat ditanam secara komersial di wilayah Indonesia, seperti singkong.
Singkong merupakan makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran. Singkong banyak digunakan pada berbagai macam masakan. Direbus untuk menggantikan kentang dan pelengkap masakan. Tepung singkong dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum dan baik untuk pengidap alergi. Singkong goreng sering dijadikan sebagai makanan kudapan. Selain itu, singkong juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan mie instan.
Tim mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor menemukan sebuah inovasi produk makanan siap saji, yakni mie instan berbasis singkong. Mie itu diberi label “Mo Mie”. Riset dilakukan oleh Laeli Nur Hasanah bersama empat koleganya. Mereka dibimbing dosen Megawati Simanjuntak.
Menurut Laeli Nur Hasanah, “Mo Mie” memiliki beberapa kelebihan dibandingkan mie instan lain, yakni kandungan protein yang tinggi dan aman dikonsumsi. Ia menjelaskan, ada tiga jenis produk “Mo Mie” yang ditawarkan, antara lain kering, spagheti dan sozzilatos. Makanan ini dimaksudkan untuk mendukung program diversifikasi pangan pemerintah.
“Mo Mie” merupakan mie instan yang berbahan baku tepung singkong termodifikasi atau Modified Cassava Flour (Mocaf) dan tepung tempe. Tepung singkong dipilih karena singkong merupakan salah satu tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia sebagai sumber karbohidrat, yang produksinya belum optimal karena masih dinilai kurang ekonomis.
Berdasarkan contoh di atas, diketahui bahwa tepung singkong dapat menjadi pengganti tepung singkong. Pada sudut pandang lain, apabila dilihat dari segi kandungan gizi antara gandum dengan singkong, kandungan karbohidrat, protein dan lemak pada singkong memang lebih rendah daripada gandum. Namun, singkong mempunyai kandungan gizi yang lebih unggul, yaitu pada vitamin B1, vitamin C, kalsium dan fosfor.
Ironisnya, pada produksi roti, tidak ada bahan lain yang dapat digunakan sebagai pengganti gandum karena bahan makanan ini dapat mengembang dengan bantuan roti. Selain itu, gandum merupakan satu-satunya jenis biji-bijian yang mengandung gluten. Gluten adalah protein gandum yang tidak larut dalam air, mempunyai sifat elastis seperti karet dan merupakan kerangka dari roti beragi.
Hal ini akan sangat memprihatinkan, karena jika singkong dikembangkan sebagai pengganti gandum, maka akan dapat mengurangi angka impor gandum sekitar 10–30%. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus dan serius pada masalah ini. Peran pemerintah dalam pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan sangat diperlukan. Dampak positifnya, dengan adanya pengembangan produksi singkong dan pemanfaatannya akan dapat meningkatkan taraf hidup para petani.

SURATDI
Posted on 24th November, 2011

NAMA : SURATDI
NIM : 101111348
KELAS : I B ALIH JENIS
Opini - PEMBANGUNAN PERTANIAN UNTUK MENINGKATKAN PEREKONOMIAN PERDESAAN DI ERA OTONOMI DAERAH

Pentingnya Peranan Sektor Pertanian
Sektor pertanian menjadi salah satu komponen pembangunan nasional dalam menuju swasembada pangan guna mengentaskan kemiskinan. Pentingnya peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional diantaranya: sebagai penyerap tenaga kerja, menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), sumber devisa, bahan baku industri, sumber bahan pangan dan gizi, serta pendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainya.Di era otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki keleluasaan dalam perumusan permasalahan dan kebijakan pembangunan pertanian. Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi diharapkan akan mampu menjamin efisiensi dan efektifitas pelaksanaan pembangunan pertanian, sehinggadapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.
Pada kenyataannya, sampai saat ini sektor pertanian masih menghadapi banyak permasalahan. Kebijakan pemerintah daerah yang kurang berpihak pada sektor pertanian menjadi kendala dalam perkembangan sektor pertanian. Pemerintah daerah lebih memperhatikan sektor industri karena sektor industri selama ini diklaim memberikan pendapatan yang tinggi kepada daerah. Investor juga lebih tertarik menanamkan modalnya pada sektor industri dibanding sektor pertanian. Ini semakin menambah deretan permasalahan pembangunan sektor pertanian
Permasalahan-Permasalahan Dalam Pembangunan PertanianSebagai komponen dalam pembangunan dan penopang seluruh kehidupan masyarakat, sektor pertanian sering dihadapkan pada berbagai permasalahan. Permasalahan-permasalahan dalam sektor pertanian antara lain :

•Penguasaan dan akses teknologi pertanian lemah.
Tingkat pendidikan petani yang sebagian besar masih rendah menyebabkan sistem alih teknologi lemah dan penerapan teknologi kurang tepat sasaran. Akses informasi teknologi yang mendukung pembangunan pertanian diperdesaan cenderung lebih sulit didapatkan, sehingga menyebabkan pembangunan pertanian menjadi terhambat. Pada era desentralisasi kegiatan penyuluhan kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Hal ini mengakibatkan keterkaitan antara peneliti, penyuluh, dan petani kurang intensif sehingga diseminasi teknologi menjadi lambat dan kurang tepat sesuai kebutuhan.

•Infrastruktur pertanian terbatas dan terabaikan.
Masalah yang paling krusial dan sampai saat ini belum teratasi dengan bijaksana yaitu pengembangan infrastruktur pertanian. Keberadaan kelembagaan seperti balai karantina, laboratorium uji mutu, irigasi, listrik, transportasi, keuangan, unit pengolahan dan pemasaran masih terbatas akibatnya usaha pertanian kurang berkembang.

•Kelembagaan pertanian belum berfungsi secara maksimal.
Kelembagaan petani di tingkat desa sebagian besar merupakan kelembagaan informal dimana sistem organisasi, manajemen, maupun administrasi kelembagaannya belum dapat berfungsi secara maksimal. Lembaga petani yang dapat menjadi alat untuk meningkatkan skala usaha untuk memperkuat posisi tawar petani sudah banyak yang tidak berfungsi.

•Nilai tambah dan harga produk pertanian rendah.
Sektor pertanian Indonesia masih sangat tergantung pada hasil primer, sehingga nilai tambah produk yang diperoleh masih rendah dan kurang kompetitif dipasar domestik maupun luar negeri.

•Ketersediaan sumber daya manusia pengelola pertanian terbatas.
Sejak dahulu prosentase peluang terbesar penyerap tenaga kerja di Indonesia ada di sektor pertanian. Di era globalisasi ini, ketersediaan sumber daya manusia yang mau dan mampu mengelola di bidang pertanian sudah semakin berkurang karena rendahnya regenerasi petani. Generasi muda yang diharapkan sebagai penerus, lebih tertarik dibidang selain pertanian sehingga menjadi kendala dalam perkembangan sektor pertanian.

•Tingginya harga sarana produksi pertanian.
Harga sarana produksi pertanian kian hari kian tinggi. Disamping itu ketersedian saprotan (misalnya pupuk dan benih unggul) dipasaran ketika musim tanam tiba terkadang sangat terbatas. Pengurangan subsidi saprotan membuat biaya usaha pertanian semakin tinggi, sehingga tidak sebanding dengan harga hasil panen produk pertanian. Ini akan menjadi beban petani yang ditangung secara terus menerus sehingga mengakibatkan sektor pertanian mengalami penurunan.

•Perubahan iklim yang tajam.
Perubahan iklim yang ekstrim mengakibatkan fluktuasi dan penurunan produktivitas pertanian, bahkan dapat menyebabkan gagal panen yang dapat terjadi berulang-ulang.Struktur pasar yang monopsonis.Penguasaan akses pasar yang lemah sangat merugikan petani. Produk pertanian umumnya harus menghadapi struktur pasar yang monopsonis. Kondisi infrastruktur perdesaan (transportasi, pasar, gudang) yang belum memadai juga menyebabkan rantai tata niaga menjadi panjang. Akibatnya petani kurang dekat dengan pasar dan posisi tawar petani dipasar menjadi lemah karena harga beli “ditentukan” oleh pedagang pengepul dan tengkulak.

•Lemahnya akses permodalan.
Akses petani terhadap sumber-sumber permodalan masih sangat terbatas. Keterbatasan modal ini karena petani Indonesia adalah petani kecil (gurem) yang kurang mampu memenuhi persyaratan dan prosedur pengajuan kredit kepada bank maupun lembaga keuangan formal lainnya. Akibatnya sebagian besar petani lebih akrab dengan sumber-sumber pembiayaan informal (pedagang input/output, tengkulak, dan kelompok) karena sumber-sumber ini “sangat mengerti” kondisi dan kebutuhan petani.

•Ketersediaan dan pemanfaatan lahan pertanian belum optimal.
Tingginya alih fungsi atau konversi lahan pertanian ke non pertanian akibat kebijakan sekarang sedang menjadi fenomena yang terjadi di hampir seluruh wilayah. Berkurangnya luasan lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian secara signifikan dapat mengganggu stabilitas kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan baik lokal maupun nasional. Disamping itu, produktivitas lahan menurun akibat intensifikasi berlebihan dan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus serta masih banyak lahan tidur yang belum dimanfaatkan.

•Upaya Peningkatan Peran Sektor Pertanian
Untuk lebih meningkatkan peran sektor pertanian pelaku pembangunan pertanian harus mampu membangun usaha yang berdaya saing tinggi dan mampu berperan serta dalam melestarikan lingkungan hidup. Beberapa rekomendasi strategi pembangunan pertanian dalam upaya peningkatan peran sektor pertanian dan perdesaan, yaitu :

Meningkatkan kegiatan penyuluhan guna menggalakan sistem alih teknologi dan percepatan penyebaran informasi pembangunan pertanian melalui pendampingan petani.Perbaikan infrastruktur pertanian dan peningkatan teknologi tepat guna yang berwawasan pada konteks kearifan lokal serta pemanfaatan secara maksimal penelitian dibidang pertanian.Penguatan sistem kelembagaan pertanian dan perdesaan melalui penumbuhan kesadaran petani terhadap hak-hak petani melalui pembinaan yang berkelanjutan, penguatan organisasi dan jaringan tani.Peningkatan nilai tambah komoditas melalui pengembangan agroindustri yang berbasis sumber daya domestik dan perdesaan, sehingga dapat meningkatkan daya saing komoditas pertanian dan kesempatan kerja terhadap perekonomian perdesaan makin luas.Peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi, kewirausahaan, dan manajemen usaha tani melalui penyuluhan pertanian, dan pengembangan sistem pendidikan dibidang pertanian yang menarik minat dan bakat generasi muda.Kebijakan daerah mengenai program insentif usaha tani melalui pemberian jaminan harga, subsidi pupuk yang tepat sasaran dan bersifat produktif, serta keringanan pajak.Sosialisasi informasi prakiraan iklim yang handal guna menekan angka gagal panen akibat perubahan iklim yang ekstrim. Dengan adanya informasi prakiraan iklim yang handal petani dapat menyesuaikan sistem budidaya atau strategi penanaman dengan prakiraan iklim tersebutPerlunya menciptakan pengembangan pasar dan jaringan pemasaran yang berpihak kepada petani berupa pasar alternatif dengan rantai tata niaga pendek (direct marketing), mendorong terwujudnya organisasi tani yang kuat dan berakar serta meningkatkan kemudahan layanan akses sumber informasi dan teknologi.Menumbuh kembangkan program pembiayaan pertanian melalui lembaga keuangan khusus yang melayani petani.Menggalakan sistem pertanian yang berbasis pada konservasi lahan, pengembangan sistem pertanian ramah lingkungan (organik) dan pemanfaatan lahan tidur untuk pemberdayaan masyarakat daerah.Pembangunan pertanian bukan hanya dihadapkan pada permasalahan dalam lingkup pertanian saja. Perubahan sistem pemerintahan sentralistik menjadi desentralisasi, yang memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengelola sumber daya ekonominya secara mandiri, merupakan tantangan tersendiri dalam bidang tata kelola pemerintahan dan birokrasi yang mendukung pembangunan pertanian. Dalam hal ini, koordinasi antara pusat dan daerah serta integrasi sistem pembangunan pertanian akan meingkatkan percepatan pembangunan pertanian. Selain itu, globalisasi yang menjadi pintu gerbang bagi arus masuk barang mengakibatkan peningkatan produk pertanian dari luar negeri, dan arus informasi mengakibatkan perubahan cara pandang masyarakat. Untuk itu, pembangunan pertanian di Indonesia tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang berdaya saing tinggi, pembangunan pertanian diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah serta pemberdayaan masyarakat. Tantangan tersebut mengharuskan kita untuk bekerja keras, apabila menginginkan pertanian menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.

Referensi :
Anton Apriantono. Konsep Pembangunan Pertanian, (Online), (htpp://www.deptan.go.id/renbangtan/Konsep_Pembangunan_Pertanian.pdf), diakses 28 Juli 2011
Ashari. Peranan Perbankan Nasional Dalam Pembiayaan Sektor Pertanian di Indonesia. (Online), (htpp://litbang.deptan.go.id/Ind/pdf), diakses 2 Juli 2011
Deptan, (2006). Program dan Kegiatan Departemen Pertanian Tahun 2007, (Online), (htpp://www.deptan.go.id/renbangtan/Progkeg), diakses 28 Juli 2011
Wan Abas Zakaria. Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani. Makalah Seminar Nasional. (Online), (htpp://litbang.deptan.go.id/Ind/pdf), diakses 2 Juli 2011

bastian setia dharmawan
Posted on 25th November, 2011

Nama : Bastian Setia Dharmawan
NIM : 101111308
Kelas : Alih Jenis (B)

Cadangan Pangan Indonesia…

Ada beberapa hal yang penting dalam hal cadangan pangan nasional seperti yang disampaikan Ibrahim Hasan (1993) yang dikutip Entang Sastraatmadja (2007) yang menyatakan bahwa cadangan ketahanan pangan nasional (national food security reserve) merupakan cadangan pangan yang ada di masyarakat dan pemerintah. Cadangan pangan ini adalah dalam rangka mengatasi keadaan-keadaan darurat karena adanya banjir, kemarau panjang, perang, bencana alam dan berbagai macam ketidak pastian lainnya. Cadangan ketahanan pangan sendiri adalah jumlah pangan yang harus tersedia setiap saat, baik yang berada di masyarakat sendiri , di pemerintah atau juga masih tersembunyi (potensi) di hutan. Cadangan pangan nasional ini berdasarkan sumbernya dapat berasal dari pertama, cadangan pangan konvensional yang dikuasai oleh rumah tangga atau lumbung desa yang dikelola seara berkelompok oleh masyarakat desa. Cadangan pangan konvensional ini merupakan cadangan pangan lini satu yaitu cadangan yang tersedia dan segera dapat dikonsumsi. Cadangan pangan jenis ini dilihat dari segi pembiayaan relatif sangat murah karena dibiayai oleh swadaya sendiri.

Cadangan ketahanan pangan itu sendiri dapat berupa barang, tanaman (hutan), ternak dan uang. Apabila terjadi gangguan alam, masyarakat dengan sendirinya dapat mengatasi dengan cepat tanpa menunggu jalur birokrasi. (kita dapat bandingkan dengan kondisi sekarang? Semua menunggu bantuan pemerintah) jalur lini satu inilah yang disayangkan banyak pihak yang belum mendapatkan perhatian maksimal, mungkin karena masih mudahnya mendapatkan pangan yang mengganggap hal ini menjadi tidak terlalu penting. Tapi dengan kondisi bangsa Indonesia kini yang rawan akan bencana (banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dll) sesungguhnya harus ada sebuah grand desain yang memadai untuk membenahi eksistensi dari cadangan ketahanan pangan pada lini satu atau saya sebutkan dengan cadangan stategis komando rakyat. Cadangan ketahanan pangan yang kedua adalah cadangan pangan pemerintah, dimana selama ini dikelola oleh Perum Bulog (Badan Urusan Logistik). Saat ini cadangan ketahanan pangan yanga harus tersedia setiap saat adalah sebesar 1 juta ton beras yang dapat dipakai untuk mengatasi masalah-masalah atau kondisi darurat. Pemerintah telah mempunyai satuan tugas penanganan keadaan bencana alam dll, faktor cadangan pangan inilah yang sesungguhnya menjadi langkah kedua setelah penanganan korban, karena bagaimanapun rakyat/korban bencana apapun memerulukan makan. Cadangan pangan pemerintah ini seharusnya tidak lagi dibebani oleh masalah birokrasi yang berbelit walaupun pada sisi pengadaan dan penyimpanan serta distribusi akan memakan biaya yang tidak sedikit, tetapi kita harus ingat bahwa hampir disemua negara memiliki bentuk cadangan pangan yang seperti ini walaupun dalam bentuk dan sistem yang berbeda. Inilah cadangan ketahanan pangan strategis komando pemerintah. Selain kedua cadangan tadi, sebetulnya masih ada satu cadangan pangan yang ketiga yaitu hutan pangan. Cadangan pangan ini berupa umbi-umbian dihutan atau berupa tanaman tahunan (sagu, aren, sukun, dll). Cadangan ini dipakai sebagai cadangan apabila terjadi keadaan darurat seperti perang dan kemarau berkepanjangan atau banjir bandang. Tapi kita tahu bersama bahwa kini banyak hutan gundul dan ketika adanya HPH banyak hutan yang hanya dikelola untuk peroduksi kayu, inilah yang seharusnya kita sadari bersama kini, idealnya di setiap Provinsi lewat birokrasi Departemen Kehutanan harus mempunyai hutan dengan kekuatan cadangan pangan didalamnya. Departemen Pertahanan juga dapat mendesain cadangan-cadangan stetegis pangan sebagai bagian dari sistem keamanan negara, jadi tidak hanya mengursi masalah senjata dan pesawat yang harus segera di remajakan, ada hal penting ketika perang benar-benar terjadi dan kita lupa kondisi ketersediaan pangan. Dengan pemahaman seperti itu, cadangan pangan nasional khususnya komoditas beras menjadi sesuatu yang strategis. Dengan cara apapun kita harus menyediakan kekurangan cadangan pangan, mungkin dengan impor sebagai alternatif terakhir. Ketidakcukupan pangan, secara potensial memiliki dampak negatif yang bisa menggoyahkan ketahanan nasional dan menghancurkan sistem pemerintahan.

Septika Anggraini
Posted on 26th November, 2011

World Food Summit tahun 1996 menyebutkan bahwa “Ketahanan Pangan adalah sebagai akses setiap Rumah Tangga atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat (Pambudy, 2002a). Sementara UU RI No. 7 tahun 1996, Pasal 1 ayat 17 menyebutkan bahwa “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan Rumah Tangga yang tercermin dari ketersediaannya pangan yang cukup, baik jumlah ataupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
Dewasaini, bangsa Indonesia mengalami berbagai krisis diantaranya krisis pangan untuk memenuhi kebutuhan makanan manusia, krisis pakan untuk memenuhi kebutuhan makanan ternak, serta krisis energi untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap bahan bakar.
Indonesia memilikilahanpertanian yang luas, sebagianbesardengankondisiiklimkering yang sesuaiuntukpertanamansorgum, sehinggaberpeluangbesardapatmengembangkanbudidayasorgum.Peluangtersebutdidukungdengankenyataanbahwa sorgummemilikidayaadaptasi yang luas, dapattumbuh di hampirsemuajenislahan, tahanterhadapkekeringan, membutuhkan input pertanian yang relatiflebihsedikit, danbanyakbergunabaiksebagaisumberbahanpangan, pakanternakmaupunbahanbakubermacamindustri. Di antaraspesiessorgumterdapatsuatu jenissorgummanis yang batangnyamengandungkadargulatinggi. Sorgummanisbanyakdigunakansebagaipakanternak, bahanpembuatangulacair (sirup), jaggery (semacamgulamerah) danbioetanol.
Di Indonesia sorgumtelah lama dikenalolehpetanikhususnya di Jawa, NTB dan NTT. Di Jawasorgumdikenaldengannama Cantel, seringditanamolehpetanisebagaitanamanselaatautumpang sari dengantanamanlainnya. Budidaya, penelitiandanpengembangantanamansorgum di Indonesia masihsangatterbatas, bahkansecaraumumproduksorgumbelumbegitupopuler di mastarakat.Padahalsorgummemilikipotensibesaruntukdapatdibudidayakandandikembangkansecarakomersialkarenamemilikidayaadaptasiluas, produktivitastinggi, perlu input relatiflebihsedikit, tahanterhadaphamadanpenyakittanaman, sertalebihtolerankondisimarjinal (kekeringan, salinitasdanlahanmasam). Dengandayaadaptasisorgum yang luastersebutmembuatsorgumberpeluangbesaruntukdikemangkan di Indonesia sejalandenganoptimalisasipemanfaatanlahankosong, yang kemungkinanberupalahan marginal, lahantidur, ataulahan non-produktiflainnya.
Sorgumadalahtanamanserbaguna yang banyakkegunaannya.Sebagaisumberbahanpangan global sorgumberada di peringkat ke-5 setelahgandum, padi, jagungdan barley (ICRISAT/FAO, 1996).Sedangkanmenurutlaporan U.S. Grain Council (2005) di AmerikaSerikatsorgummerupakanserealiaterpentingketiga.Sorgumdilaporkanmemilikikandungannutrisi yang baik, bahkankandungan protein danunsur-unsurnutrisipentinglainnyalebihtinggidaripadaberasspertiterlihatdalamTabel 1 (DEPKES RI, 1992).Selaindigunakansebagaisumberpangan, sorgumjugadimanfaatkanuntukpakanternak, yaitubijisorgumuntukbahancampuranransumpakanternakunggas, sedangkanbatangdandaunsorgum (stover) untukternakruminansia.
Selainitu, bijisorgum yang mengandungkarbohidratcukuptinggiseringdigunakansebagaibahanbakubermacamindustrisepertiindustri beer, pati, gulacair (sirup), jaggery (semacamgulamerah), etanol, lem, cat, kertas, degradable plastics dan lain-lain. Adapulajenis sorghum yang batangnyamengandungkadargulacukuptinggidandisebutsorgummanis (sweet sorghum). Sorgummanissangat ideal digunakanuntukpakanternakruminansia, gulacair (sirup), jaggery danbioetanol (ICRISAT, 1990).
Sorgummemilikipotensihasil yang relatiflebihtinggidibandingpadi, gandumdanjagung.Bilakelembabantanahbukanmerupakanfaktorpembatas, hasilsorgumdapatmelebihi 11 ton/ha dengan rata-rata hasilantara 7-9 ton/ha.Padadaerahdenganirigasi minimal, rata-rata hasilsorgumdapatmencapai 3-4 ton/ha (House, 1985).Selainitu, sorgummemilikidayaadaptasiluasmulaidaridataranrendah, sedangsampaidatarantinggi.Hasilbiji yang tinggibiasanyadiperolehdarivarietassorgumberumurantara 100-120 hari.Varietassorgumberumurdalamcenderungakancocokbiladigunakansebagaitanamanpakanternak (forage sorghum).
Sorgumterkenalsebagaitanaman yang tahantumbuhpadakondisikekeringan.Secarafisiologis, permukaandaunsorgum yang mengandunglapisanlilindansistemperakaran yang ekstensif, fibrous dandalamcenderungmembuattanamanefisiendalamabsorpsidanpemanfaatan air (lajuevavotranspirasisangatrendah). Hasilstudioleh House (1985) menunjukkanbahwauntukmenghasilkan 1 kg akumulasibahankeringsorgumhanyamemerlukan 332 kg air, sedangkanjagung, barley dangandumberturut-turutmemerlukan 368, 434 dan 514 kg air.Dibandingtanamanjagung, sorgumjugamemilikisifat yang lebihtahanterhadapgenangan air, kadargaramtinggidankeracunanaluminium (House, 1985).
Adanyakecenderungankrisispangandanenergidimasamendatangmembuatsorgummemilikiprospek yang cerahuntukdikembangkan.Potensipeningkatanproduksidankualitassorgumuntuktujuanspesifikterbukaluas, diantaranyamelalui program pemuliaantanamandanpemanfaatan plasma nutfahsorgumsecara optimal. Untukmenghindarikompetisidalampenggunaanlahan, pengembangansorgumdapatdiarahkansejalandenganupayapeningkatanproduktivitaslahankosong (lahan marginal, lahantidur, danataulahan non-produktiflainnya).

Septika Anggraini
Posted on 26th November, 2011

Nama : Septika Anggraini
NIM : 101111360
Kelas : Alih Jenis B
Judul :Tanaman Sorgum Sebagai Alternatif Ketahana Pangan

World Food Summit tahun 1996 menyebutkan bahwa “Ketahanan Pangan adalah sebagai akses setiap Rumah Tangga atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat (Pambudy, 2002a). Sementara UU RI No. 7 tahun 1996, Pasal 1 ayat 17 menyebutkan bahwa “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan Rumah Tangga yang tercermin dari ketersediaannya pangan yang cukup, baik jumlah ataupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Dewasa ini, bangsa Indonesia mengalami berbagai krisis diantaranya krisis pangan untuk memenuhi kebutuhan makanan manusia, krisis pakan untuk memenuhi kebutuhan makanan ternak, serta krisis energi untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap bahan bakar.
Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas, sebagian besar dengan kondisi iklim kering yang sesuai, sehingga berpeluang besar dapat mengembangkan budidaya sorgum. Peluang tersebut didukung dengan kenyataan bahwa sorgum memiliki daya adaptasi yang luas, dapat tumbuh di hamper semua jenis lahan, tahan terhadap kekeringan, membutuhkan input pertanian yang relative lebih sedikit, dan banyak berguna baik sebagai sumber bahan pangan, pakan ternak maupun bahan baku bermacam industri. Di antara spesies sorgum terdapat suatu jenis sorgum manis yang batangnya mengandung kadar gula tinggi. Sorgum manis banyak digunakan sebagai pakan ternak, bahan pembuatan gula cair (sirup), jaggery (semacamgulamerah) dan bioetanol.
Di Indonesia sorgum telah lama dikenal oleh petani khususnya di Jawa, NTB dan NTT. Di Jawa sorgum dikenal dengan nama Cantel, sering ditanam oleh petani sebagai tanaman sela atau tumpang sari dengan tanaman lainnya. Budidaya, penelitian dan pengembangan tanaman sorgum di Indonesia masih sangat terbatas, bahkan secara umum produk sorgum belum begitu populer di mastarakat. Padahal sorgu mmemiliki potensi besar untuk dapat dibudidayakan dan dikembangkan secara komersial karena memiliki daya adaptasi luas, produktivitas tinggi, perlu input relative lebih sedikit, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, serta lebih toleran kondisi marjinal (kekeringan, salinitas dan lahan masam). Dengan daya adaptasi sorgum yang luas tersebut membuat sorgum berpeluang besar untuk dikemangkan di Indonesia sejalan dengan optimalisasi pemanfaatan lahan kosong, yang kemungkinan berupa lahan marginal, lahantidur, ataulahan non-produktiflainnya. Sorgum adalah tanaman serbaguna yang banyak kegunaannya. Sebagai sumber bahan pangan global sorgum berada di peringkat ke-5 setelah gandum, padi, jagung dan barley. Sorgum juga merupakan serealia terpenting ketiga. Sorgum dilaporkan memiliki kandungan nutrisi yang baik, bahkan kandungan protein dan unsur-unsur nutrisi penting lainnya lebih tinggi daripada beras. Selain digunakan sebagai sumber pangan, sorgum juga dimanfaatkan untuk pakan ternak, yaitu biji sorgum untuk bahan campuran ransum pakan ternak unggas, sedangkan batang dan daunsorgum (stover) untukt ernak ruminansia.
Selain itu, biji sorgum yang mengandung karbohidrat cukup tinggi sering digunakan sebagai bahan baku bermacam industry seperti industri beer, pati, gulacair (sirup), jaggery (semacamgulamerah), etanol, lem, cat, kertas, degradable plastics dan lain-lain. Sorgum manis sangat ideal digunakan untuk pakan ternak ruminansia, gula cair (sirup), jiggery dan bioetanol ( ICRISAT, 1990 ).
Sorgum memiliki potensi hasil yang relative lebih tinggi disbanding padi, gandum dan jagung. Bila kelembaban tanah bukan merupakan factor pembatas, hasil sorgum dapat melebihi 11 ton/ha dengan rata-rata hasil antara 7-9 ton/ha. Pada daerah dengan irigasi minimal, rata-rata hasil sorgum dapat mencapai 3-4 ton/ha (House, 1985). Selain itu, sorgum memiliki daya daptasi luas mulai dari dataran rendah, sedang sampai dataran tinggi. Hasil biji yang tinggi biasanya diperoleh dari varietas sorgum berumur antara 100-120 hari. Varietas sorgum berumur dalam cenderung akan cocok bila di gunakan sebagai tanaman pakan ternak (forage sorghum).
Adanya kecenderungan krisis pangan dan energy dimasa mendatang membuat sorgum memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan. Potensi peningkatan produksi dan kualitas sorgum untuk tujuan spesifik terbuka luas, diantaranya melalui program pemuliaan tanaman dan pemanfaatan plasma nutfah sorgum secara optimal. Untuk menghindari kompetisi dalam penggunaan lahan, pengembangan sorgum dapat diarahkan sejalan dengan upaya peningkatan produktivitas lahan kosong (lahan marginal, lahantidur, danataulahan non-produktiflainnya).

MEGA AYU BUDI A.R
Posted on 27th November, 2011

Nama : Mega Ayu Budi Arining Ratri
NIM : 101111328
Kelas : Alih Jalur B
ZECCA SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN DAN PEMBERDAYAAN PRODUKSI LOKAL
Pengantar
Padi secara umum merupakan pangan pokok rakyat Indonesia, yang memang “katanya sekarang” sudah berhasil berswasembada. Tapi apakah selamanya swasembada akan terjaga. Ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat dalam sebuah negara sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM tersebut. Sehingga pemenuhan kebutuhan pangan menjadi sangat penting. Kebijakan yang perlu diperhatikan berkaitan dengan ketersediaan pangan adalah diversifikasi dan alternatif pangan. Ketersediaan pangan dibutuhkan apabila ingin status gizi masyarakat lebih baik. Kebijakan mono kultur beras adalah jalan yang tidak tepat untuk mengatasi kekurangan pangan (gizi) di negara kita. Walaupun teknologi perberasan Indonesia sudah yang paling produktif dan terefisien di Asia Tenggara. Produksi pangan pada tahun 2006, beras 31 juta ton, singkong 19 juta ton, ubi jalar 1,2 juta ton, jagung 12 juta ton, cukup untuk kebutuhan pangan warga Indonesia. Namun karena 62 % penduduk sekarang bergantung hanya pada padi - padian, sehingga menjadi kekurangan pangan. Diversifikasi dan alternatif pangan dapat mengembangkan jagung, ubi serta umbi-umbian yang setara beras untuk dapat dimanfaatkan mengingat suplai kita telah ada. Diversifikasi ini juga dapat meringankan penduduk yang miskin. Selain itu dalam program ini dapat digunakan untuk menurunkan inflasi mengingat ketergantungan negara terhadap produk impor dengan meningkatkan alternatif pangan dari produksi dalam negeri.
ZECCA
Kelangkaan akan beras sebagai tanaman pokok mendorong untuk berfikir bagaimana tercipta alternatif pangan yang bisa dikembangkan dan didapatkan dari dalam negeri. Modifikasi dari berbagai alternatif pangan dan mengenalkan pada masyarakat tentang keanekaragaman alternatif pangan selain umbi – umbian serta alternatif pangan yang lain. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap makanan pokok tunggal yaitu beras.
Zecca berasal dari kata zea mays (jagung) dan sallaca zallaca (salak) yang merupakan bahan utama. Zecca dibuat dalam bentuk intermediate moisture food (IMF). Zecca ini sendiri merupakan bentuk olahan menggunakan inovasi pemanfaatan kedua bahan utama yang diolah menjadi alternatif makanan pokok. Substitusi makanan ini merupakan sebuah langkah maju untuk pemenuhan kebutuhan gizi yang tak hanya syarat akan kandungan karbohidrat (setara dengan kandungan pada beras) tapi juga syarat akan kebutuhan vitamin dan yang lainnya. Pemanfaatan zecca sebagai alternatif pangan juga dapat mengandalkan bahan lokal yang sangat mudah dan prospektif untuk dikembangkan di indonesia. Zecca unggul karena pengolahannya mudah, praktis, dan memiliki kandunngan gizi yang cukup. Melihat bahan – bahan yang mudah didapat dari petani lokal maka, zecca juga menjadi saluran pemberdayaan pangan lokal. Kandungan kalori yang cukup baik pada pemanfaatan zeccca sekaligus juga mengurangi ketergantungan impor bahan pokok. Tidak hanya itu, pemanfaatan buah salak dalam pembuatan zecca akan meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan mengedepankan potensi daerah – daerah yang mempuyai keunggulan akan buah tersebut, seperti sleman.
Bahan jagung di dalam zecca merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidratdan protein setelah beras. Dalam perekonomian nasional, jagung penyumbang terbesar kedua setelah padi dalam subsektor tanaman pangan. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan sumberdaya terutama lahan irigasi yang menjadi permasalahan pada produksi beras relatif tidak terjadi pada jagung. Jagung dapat ditanam setelah masa penanamanpadi yaitu pada musim kemarausehingga produksi makanan pokok tetap berlangsung.
Pengolahan zecca merupakan bentuk diversifikasi makanan pokok dengan jagung sebagai alternatif pengganti beras ditambah buah salak sebagai modifikasi. Hendaknya harus diikuti dengan perancangan olahan untuk meningkatkan penerimaan masyarakat.

NURUL KOMARIYAH P
Posted on 27th November, 2011

TUGAS EPG
NAMA : NURUL KOMARIYAH P
NIM : 101111333
KELAS: IB ALIH JENIS

PENTINGNYA KETERSEDIAAN PANGAN DI SUATU DAERAH

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap saat, di segala musim, baik kuantitas maupun kualitas, aman, bergizi dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Kekurangan pangan tidak hanya dapat menimbulkan dampak sosial, ekonomi, bahkan dapat mengancam keamanan sosial serta stabilitas keamanan dari suatu daerah.
Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu daerah atau wilayah yang berasal dari segala sumber, baik itu berasal dari produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan juga bantuan pangan. Ketersediaan pangan juga ditentukan oleh kapasitas produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar yang ada di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan juga cadangan pemerintah, serta bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.

Produksi pangan itu sendiri tergantung pada berbagai faktor baik faktor alam maupun non alam. Faktor Alam yang berpengaruh di antaranya : iklim, jenis tanah dan juga curah hujan. Sedangkan faktor Non alam yang ikut mempengaruhi antara lain : ketersediaan lahan, sarana irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, distribusi pangan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan.
Saat ini beras merupakan makanan pokok utama di Indonesia di hampir semua wilayah, dan kapasitas produksinya adalah 23% dari hasil seluruh hasil pertanian. Sedangkan jagung dan ubi kayu adalah 2 komoditi yang cukup diperhitungkan untuk masa mendatang dan merupakan 13% dari total hasil pertanian. Gula merah, minyak kelapa sawit dan karet mencakup 19% dari total produksi pertanian. Hasil peternakan berkontribusi sebanyak 5% dari hasil pertanian dimana unggas merupakan komponen terbesarnya.
Sekali lagi bahwa hal yang bisa mempengaruhi ketersediaan pangan di suatu daerah adalah iklim, kualitas tanah dan juga curah hujan. Bisa jadi secara Nasional tersedia stok pangan yang yang cukup bahkan surplus terutama stok dari beras. Tapi kenyataannya ada daerah-daerah tertentu yang mengalami rawan ketersediaan pangan. Banyak hal yang berpengaruh bukan hanya faktor alam tapi juga non alam seperti yang sudah saya bahas di awal.
Salah satu contoh adalah kondisi Sembilan kecamatan kepulauan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dinyatakan rawan ketersediaan pangan. Sembilan kecamatan itu antara lain, Pulau Kangean, Kangayan, Sapeken, Raas, Giligenting dan Masalembu ( http://www.tempo.co/read/news/2011/03/23 ). Padahal secara umum Propinsi Jawa Timur merupakan lumbung beras nasional. Kondisi ini dipengaruhi oleh salah satunya cuaca yang ekstrem sehingga menyebabkan distribusi bahan pangan khususnya beras menjadi terganggu ke wilayah tersebut. Sembilan kecamatan kepulauan di sumenep itu sendiri harus di tempuh dengan kapal feri dan membelah lautan untuk sampai kesana.
Pada musim-musim tertentu seperti pancaroba, mengakibatkan pasokan beras terganggu. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Sumenep, Bambang Heriyanto mengatakan, disebut rawan ketersediaan pangan karena struktur tanah di wilayah kepulauan yang tidak produktif untuk ditanami padi dan bahan pangan lainnya. Kalau pun ada, berupa sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami saat musim hujan. “Makanya persediaan pangannya menjadi perhatian bagi kami,” ujarnya.

Menurut Bambang, untuk memenuhi ketersediaan beras bagi warga kepulauan, pihaknya memberlakukan sistem subsidi. Kecamatan di Sumenep daratan yang surplus beras sebagian dialihkan ke kecamatan kepulauan yang kekurangan beras.

Ahmat Arifin, salah satu warga Pulau Masalembu Sumenep menuturkan pasokan beras di Masalembu memang masih bergantung dari luar daerah. Selama cuaca normal kebutuhan beras akan tercukupi. “Kalau cuaca buruk, krisis beras terjadi, biasanya kami makan nasi singkong,” ucapnya.

Ahmat Arifin berharap agar pasokan beras cukup meski terjadi cuaca buruk, maka perlu dibuat lumbung pangan di setiap desa di wilayah kepulauan.
Kenyataan ini membuat saya berfikir, mengapa Pulau Madura yang dahulu di kenal dengan makanan pokok berupa jagung ( pelajaran SD ) sekarang menjadi tergantung kepada beras??.
Salah satunya mungkin diakibatkan oleh opini yang berkembang selama ini yaitu makanan pokok orang Indonesia beralih dari berbagai macam produk sesuai ketersediaan di suatu daerah menjadi beras seluruhnya atau istilahnya terjadi “pemberasan”.
Jika saja pangan itu sendiri tidak tergantung beras, mungkin bisa ditekan kemungkinan rawan ketersediaan pangan di berbagai daerah lain yang kondisi alamnya kurang cocok untuk penanaman padi. Tanaman itu antara lain ; singkong, jagung, ubi jalar atau bahan pangan apapun yang bisa dihasilkan sebagai pengganti beras.
Semoga kedepan pemerintah khususnya pemerintah daerah mampu menghasilkan kebijakan yang bisa mengatasi masalah apapun yang berkaitan dengan ketersediaan pangan. ( NURUL KOMARIYAH PRIHATINI).

Dinda Dewi Zalinda
Posted on 27th November, 2011

Nama: Dinda Dewi Zalinda SPI
NIM:101111349

Upaya Perluasan Lahan Pertanian Baru Untuk Menunjang Ketersediaan pangan di Indonesia
Peningkatan produksi pangan nasional dirasa sulit karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif, dimana lahan telah berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman dan pendirian gedung-gedung tinggi. Lahan irigasi Indonesia sebesar 10.794.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi sebesar 48.201.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbang dari pulau Jawa (BPS, 2000). Akan tetapi, lahan tanaman pangan tersebut terus mengalami degradasi seiring meningkatnya kebutuhan pemukiman dan pilihan pada komoditi lain seperti hortikultura. Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara nyata untuk membuka areal baru pertanian pangan, dikhawatirkan produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional.
Dari sisi perluasan area lahan tanaman pangan, upaya yang dapat ditempuh adalah: (1) Memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut termasuk di kawasan pasang surut (Alihamsyah, dkk, 2002) (2) Mengoptimalkan lahan tidur dan lahan tidak produktif di pulau Jawa. Kedua pilihan di atas harus diiringi dengan penerapan teknologi produktivitas pangan agar hasil yang di dapatkan maksimal.
Menurut Moeljopawiro (2002) luas lahan pasang surut dan Lebak di Indonesia diperkirakan mencapai 20,19 juta hektar dan sekitar 9,5 juta hektar berpotensi untuk pertanian serta 4,2 juta hektar telah di reklamasi untuk pertanian (Ananto, E.,2002). Memanfaatkan lahan lebak dan Pasang Surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah. Produktivitas rata-rata tanaman pangan padi, Jagung dan Kedelai di lahan lebak/pasang surut dengan penerapan teknologi konvensional hasilnya masih rendah yaitu : secara berturut turut sekitar 3,5 ton/ha; 2,8 ton/ha dan 0,8 ton/ha. Kendala utama pengembang di lahan ini adalah keragaman sifat fisiko-kimia seperti pH yang rendah, kesuburan rendah, keracunan tanah dan kendala Bio fisik seperti pertumbuhan gulma yang pesat, OPT, dan cekaman Air.
Ditemukannya teknologi baru (misalnya Bio P 2000 Z) dengan memanfaatkan mikroba penyubur dan pengendali kesuburan alami tanah di lahan lebak dan pasang surut memberikan bukti bahwa produktivitas tanaman pangan tersebut mampu lebih tinggi dibanding produktivitas konvensional di lahan subur atau produktivitas rata-rata nasional yaitu: 5,5 - 8 ton/ha padi; 2,5 – 3,5 ton/ha kedelai dan 5 – 8 ton/ha jagung JPK). Efek mikroba memiliki manfaat yang besar dalam mengendalikan lingkungan mikro tumbuh kembang tanaman yang secara sinergi memberikan manfaat: (1) diredamnya faktor penghambat tumbuh kembang tanaman yang dijumpai dalam tanah termasuk menetralkan kemasaman lahan, (2) adanya produksi senyawa bio-aktif seperti enzim, hormon, senyawa organik, dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman (3) pasok dan penyerapan hara oleh akar makin efesien, lancar, dan berimbang, (4) ketahanan internal terhadap hama dan penyakit meningkat. Budidaya dengan menerapkan teknologi ini secara baik di lahan jenis tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sehingga usaha tani pangan di lahan tersebut akan dapat bersaing. Menjadikan lahan lebak dan pasang surut untuk usaha pertanian harus didukung dengan teknologi dan infrastruktur yang memadai sehingga luasan lahan ini dapat menjadi pendukung untuk peningkatan produksi pangan dan swasembada.
Lahan kering di Indonesia sebesar 11 juta hektar yang sebagian besar berupa lahan tidur dan lahan marginal sehingga tidak produktif untuk tanaman pangan. Di Pulau Jawa yang padat penduduk, rata-rata pemilikan lahan usaha tani berkisar hanya 0,2 ha/KK petani. Namun, banyak pula lahan tidur yang terlantar. Ada 300.000 ha lahan kering terbengkelai di Pulau Jawa dari kawasan hutan yang menjadi tanah kosong terlantar. Masyarakat sekitar hutan dengan desakan ekonomi dan tuntutan lapangan kerja tidak ada pilihan lain untuk memanfaatkan lahan-lahan kritis dan lahan kering untuk usaha tani pangan.
Pemerintah sebaiknya memberikan hak pengelolaan lahan yang telah diusahahan petani untuk usaha produktif usaha tani tanaman pangan sehingga petani dapat memberikan kontribusi berupa pajak atas usaha dan pemanfaatan lahan tersebut guna menunjang ketersediaan pangan nasional. Selain itu, pemerintah sebaiknya juga memberikan bimbingan teknologi budidaya khususnya untuk menerapkan teknologi organik dan Bio/hayati untuk meningkatkan kesuburan lahan dan menjamin usaha tani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan guna meningkatkan produksi pangan. Usaha tani tanaman pangan ini sangat berarti dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar dan bagi ketersediaan pangan nasional

Ika Arifiyanti
Posted on 28th November, 2011

nama : Ika Arifiyanti
nim : 101111346
kelas: B (alih jenis)

LENGSERKAN BERAS DARI RAJA PANGAN NEGERI GARUDA
Saat ini Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar dari pasar beras dunia. Ketergantungan bangsa Indonesia pada beras sangat tinggi, mencapai 139 kg beras per kapita per tahun dan hal ini akan membahayakan ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan diartikan sebagai kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu memiliki akses, baik secara fisik maupun ekonomis terhadap pangan yang cukup, beragam, bergizi dan aman untuk memenuhi kebutuhan gizi harian yang diperlukan agar dapat hidup dengan sehat dan aktif. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras oleh negeri yang memiliki lebih dari 230juta jiwa ini. Sumber karbohidrat di Indonesia tidak hanya beras, masih banyak pilihan lainnya. Karena itu, masyarakat harus bisa membiasakan diri mengonsumsi sumber karbohidrat selain beras. Umbi-umbian sangat berpotensi menggantikan beras. Misalnya kentang hitam, ubi, ubi kayu, talas, ganyong, gembuli, dan kecondong. Selain kandungan karbohidrat yang tinggi, umbi-umbian tersebut mudah dibudidayakan terutama di musim kemarau. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk puasa beras yakni bisa dimulai seminggu sekali untuk tidak makan nasi tapi diganti dengan karbohidrat lain selain beras dan terigu tentunya. Cara lain yakni belajar untuk membiasakan mengganti menu makan saat pagi hari. Ganti konsumsi nasi dengan makanan pengganti selain beras dan terigu dengan makanan yang tersedia di daerah masing-masing. Bayangkan jika satu orang mengonsumsi 50 gram nasi tiap pagi maka bangsa ini sudah memakan lebih dari 11 juta gram nasi tiap pagi tiap hari. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk bisa swasembada pangan tetapi dalam upaya surplus beras, sehingga dapat di eksport ke daerah lain. Pelaksanaan diversifikasi pangan menuju produksi dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, yang berbasiskan sumberdaya lokal, merupakan salah satu upaya, untuk meningkatkan ketahanan pangan. Masyarakat dalam memenuhi makanan pokoknya atau makanan utamanya harus memberagamkan pangannya, didaerah-daerah yang tumbuh jagung, masyarakat makan jagung atau nasi jagung, bila yang daerahnya banyak singkong, masyarakatnya makan tiwul, bila banyak sagu masyarakatnya makan sagu, demikian juga dengan ubi jalar yang dapat dibuat berbagai jenis makananan utama ujarnya. Adapaun kandungan makanan khas yang dapat ditonjolkan dari masing-masing daerah sebagai pengganti nasi adalah sebagai berikut:
Kentang hitam (Solenostemon rotundifolius (Poir), sangat menarik untuk dikembangkan karena meski rasanya mirip kentang, kandungan karbohidratnya tinggi, yakni 33,7 gram per 100 gram, lebih tinggi dari karbohidrat kentang biasa 13,5 gram, juga kandungan energinya dan vitamin C-nya.Selain itu, potensi produktivitas kentang hitam juga tinggi. Di Afrika mencapai 45 ton/ha yang bisa dipanen setiap 4-5 bulan meski di Indonesia produktivitasnya baru 5-15 ton per ha karena teknik budidaya yang belum optimal. Kentang hitam juga cocok ditanam di dataran rendah
Sagu Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di mana di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0.2 gram protein, 0.5 gram serat, 10 mg kalsium, 1.2mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil.
kentang Kandungan gizi dalam 100 gr kentang antara lain: protein 2 gr, lemak 0,3 gr, karbohidrat 19,10 gr, kalsium 11 mg, fosfor 56 mg, serat 0,3 gr, besi 0,3 mg, vitamin B1 0.09 mg, vitamin B2 0,03 mg, vitamin C 16,00 mg, dan niacin 1,40 mg.
Jagung Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g.
Singkong/ubi merupakan sumber karbohidrat kompleks, ubi juga mengandung beberapa kandungan vitamin dan mineral lain yang sangat diperlukan tubuh. Kalau tidak salah, ubi mengandung karoten yang sangat diperlukan untuk kesehatan mata.
Mari lengserkan kedudukan beras dengan pangan unggul di daerah masing-masing. So, apa saja pangan unggul yang ada di daerahmu?

Ika Arifiyanti
Posted on 28th November, 2011

nama : Ika Arifiyanti
nim : 101111346
abs : 51
kelas: B (alih jenis)

LENGSERKAN BERAS DARI RAJA PANGAN NEGERI GARUDA
Saat ini Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar dari pasar beras dunia. Ketergantungan bangsa Indonesia pada beras sangat tinggi, mencapai 139 kg beras per kapita per tahun dan hal ini akan membahayakan ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan diartikan sebagai kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu memiliki akses, baik secara fisik maupun ekonomis terhadap pangan yang cukup, beragam, bergizi dan aman untuk memenuhi kebutuhan gizi harian yang diperlukan agar dapat hidup dengan sehat dan aktif. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras oleh negeri yang memiliki lebih dari 230juta jiwa ini. Sumber karbohidrat di Indonesia tidak hanya beras, masih banyak pilihan lainnya. Karena itu, masyarakat harus bisa membiasakan diri mengonsumsi sumber karbohidrat selain beras. Umbi-umbian sangat berpotensi menggantikan beras. Misalnya kentang hitam, ubi, ubi kayu, talas, ganyong, gembuli, dan kecondong. Selain kandungan karbohidrat yang tinggi, umbi-umbian tersebut mudah dibudidayakan terutama di musim kemarau. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk puasa beras yakni bisa dimulai seminggu sekali untuk tidak makan nasi tapi diganti dengan karbohidrat lain selain beras dan terigu tentunya. Cara lain yakni belajar untuk membiasakan mengganti menu makan saat pagi hari. Ganti konsumsi nasi dengan makanan pengganti selain beras dan terigu dengan makanan yang tersedia di daerah masing-masing. Bayangkan jika satu orang mengonsumsi 50 gram nasi tiap pagi maka bangsa ini sudah memakan lebih dari 11 juta gram nasi tiap pagi tiap hari. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk bisa swasembada pangan tetapi dalam upaya surplus beras, sehingga dapat di eksport ke daerah lain. Pelaksanaan diversifikasi pangan menuju produksi dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, yang berbasiskan sumberdaya lokal, merupakan salah satu upaya, untuk meningkatkan ketahanan pangan. Masyarakat dalam memenuhi makanan pokoknya atau makanan utamanya harus memberagamkan pangannya, didaerah-daerah yang tumbuh jagung, masyarakat makan jagung atau nasi jagung, bila yang daerahnya banyak singkong, masyarakatnya makan tiwul, bila banyak sagu masyarakatnya makan sagu, demikian juga dengan ubi jalar yang dapat dibuat berbagai jenis makananan utama ujarnya. Adapaun kandungan makanan khas yang dapat ditonjolkan dari masing-masing daerah sebagai pengganti nasi adalah sebagai berikut:
Kentang hitam (Solenostemon rotundifolius (Poir), sangat menarik untuk dikembangkan karena meski rasanya mirip kentang, kandungan karbohidratnya tinggi, yakni 33,7 gram per 100 gram, lebih tinggi dari karbohidrat kentang biasa 13,5 gram, juga kandungan energinya dan vitamin C-nya.Selain itu, potensi produktivitas kentang hitam juga tinggi. Di Afrika mencapai 45 ton/ha yang bisa dipanen setiap 4-5 bulan meski di Indonesia produktivitasnya baru 5-15 ton per ha karena teknik budidaya yang belum optimal. Kentang hitam juga cocok ditanam di dataran rendah
Sagu Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di mana di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0.2 gram protein, 0.5 gram serat, 10 mg kalsium, 1.2mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil.
kentang Kandungan gizi dalam 100 gr kentang antara lain: protein 2 gr, lemak 0,3 gr, karbohidrat 19,10 gr, kalsium 11 mg, fosfor 56 mg, serat 0,3 gr, besi 0,3 mg, vitamin B1 0.09 mg, vitamin B2 0,03 mg, vitamin C 16,00 mg, dan niacin 1,40 mg.
Jagung Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g.
Singkong/ubi merupakan sumber karbohidrat kompleks, ubi juga mengandung beberapa kandungan vitamin dan mineral lain yang sangat diperlukan tubuh. Kalau tidak salah, ubi mengandung karoten yang sangat diperlukan untuk kesehatan mata.
Mari lengserkan kedudukan beras dengan pangan unggul di daerah masing-masing. So, apa saja pangan unggul yang ada di daerahmu?

EKA SETYA JUWATINIGSIH
Posted on 28th November, 2011

NAMA :EKA SETYA JUWATININGSIH
NIM :101111355
KELAS : ALIR JALUR
NAMA : EKA SETYA JUWATININGSIH
NIM :101111355
KELASA: ALI JALUR Vb
MENGGANTIKAN BAHAN POKOK BERAS DENGAN BAHAN NON BERAS
Ketersediaan Pangan di Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:Larangan impor beras,Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan,Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras.
Untuk jangka panjang kebijakan pembatasan impor tersebut dapat dikurangi secara bertahap namun kebijakan peningkatan produksi domestik masih diperlukan yang disertai pula dengan upaya penganeka-ragaman konsumsi atau pangan sehingga mengurangi tekanan pada ketersediaan satu macam produk pangan, terutama beras. Konsekuensinya, keanekaragaman ketersediaan bahan pangan perlu ditingkatkan pula dengan didukung agroindustri pengolahan pangan non-beras (misalnya sukun, sogum,kentang, singkon, jagung dll) yang berbasis produk dalam negeri agar dapat tersedia dan mudah diperoleh dimana saja.
Tanaman sukun yang diambil buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan pokok, dimana sukun merupakan tanaman asli Indonesia yang penyebaran tanaman sukun dapat cocok ditanam di daerah tropis, dapat tumbuh di daerah pesisir pantai serta banyaknya daerah-daerah yang ditanami sukun sehingga menunjuk-kan bahwa bahan pangan alternatif ini sudah cukup lama dikenal masyarakat Indonesia, sangat disayangkan bahwa kepopuleran sukun kalah dengan kentang sebagai makanan cepat saji dimata anak-anak pada umumnya. Padahal manfaat sukun sebagai bahan pangan alternatif telah dikenal sejak lama di Indonesia dan pada zaman penjajahan Belanda sukun lebih populer sebagai pangan alternatif disamping sebagai makanan sampingan (cemilan). Selama ini baru 4 jenis tanaman yang dianggap sebagai pendamping padi atau beras sebagai makanan pokok yaitu jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kentang. lronisnya sukun belum dilirik sama sekali, padahal kandungan gizi (karbohidrat dan energi) sukun sesungguhnya tidak kalah dengan keempat komoditi pendamping 4 jenis tersebut. Berikut ini kandungan gizi sukun (buah Sukun tua dan tepung Sukun dari buah tua) yang dibandingkan dengan bahan pangan lain seperti beras, jagung, ubi kayu, ubijalar dan kentang. Sebagai bahan pangan alternatif, dewasa ini penggunaannya sukun untuk dikonsumsi amatlah beraneka, dari yang sederhana seperti direbus atau digoreng hingga dibuat menjadi aneka kue makanan ringan karena dibuat sebelum jadi kue. Beberapa lomba yang diadakan untuk membuat resep makanan dari sukun akan membantu terciptanya variasi makanan lezat. Semakin banyak makanan atau produk olahan yang dapat dibuat dari sukun membuat sukun semakin banyak dicari konsumen.

Sorgum sebagai bahan pangan alternative utama pengganti beras dengan kandungan karbohidrat 83%., lemak 3,5%, dan protein 8-12 %. Dengan kandungan protein tersebut sorgum tidak kalah dengan kandungan protein beras kususnya.Sorgum dalam bahasa latinya gramine (rumput-rumputan).Jenis rumput dari sorgum adalah rumput harmada.Tingkat kemudahan dalam pembudidayaan sorgum merupakan alasan utama pemerintah menjadikan sorgum menjadi makanan konvesional potensial pangan nabati. Keuntungan penanaman sogum adalah budidaya mudah,semua bagian tanaman (malai, biji, daun batang) bermanfaat. Biji mengandung protein tinggi sepeti sorgum varietas jepang kandungan protein (9,38 g), sorgum varietas amerika kandungan proteinya (11,27g) dibandingkan dengan beras (6,50 g), beras ketan putih (6,70 g), beras ketan hitam (7,00 g), jagung kering pipil (7,90 g),tepung terigu (8,00 g) harga kompotitif peluang ekspor, umur singkat dan padat karya.
Sagu adalah butiran atau tepung yang diperoleh dari teras batang pohon sagu atau rumbia (Metroxylon sago Rottb). Makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua ini biasa dimakan dalam bentuk papeda (semacam bubur). Sagu sendiri juga dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang. Saat ini banyak juga loh Moms, mie yang diolah dari sagu. Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di mana di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0.2 gram protein, 0.5 gram serat, 10 mg kalsium, 1.2mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil
Kentang merupakan lima kelompok besar makanan pokok dunia selain gandum, jagung, beras, dan terigu. Bagian utama kentang yang menjadi bahan makanan adalah umbi, yang merupakan sumber karbohidrat, dengan vitamin dan mineral cukup tinggi.Kandungan gizi dalam 100 gr kentang antara lain: protein 2 gr, lemak 0,3 gr, karbohidrat 19,10 gr, kalsium 11 mg, fosfor 56 mg, serat 0,3 gr, besi 0,3 mg, vitamin B1 0.09 mg, vitamin B2 0,03 mg, vitamin C 16,00 mg, dan niacin 1,40 mg.
Jagung adalah makanan pokok alternantif warga Madura, Nusa Tenggara bahkan juga warga Amerika Serikat ini juga kaya akan gizi. Tak heran bonggol berambut merah ini juga diminati anak-anak. Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g.

Mita Dwi Ayudha
Posted on 29th November, 2011

Nama : Mita Dwi Ayudha
NIM : 101111338
Kelas : Alih Jenis B

Ekologi Pangan Beras

Teori Malthus ringkasnya menyatakan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur sehingga manusia pada masa depan akan mengalami ancaman kekurangan pangan.
Penduduk Indonesia tumbuh pesat, tahun 1900 jumlahnya masih sekitar 40 juta. Peningkatan penduduk berdasar pada periode, yaitu 120 juta (1970), 147 juta (1980), 179 juta (1990), dan mencapai 206 juta (2000). Angka terbaru penduduk telah mencapai 225 juta (2007).Dalam 40 tahun tekahir, penduduk telah bertambah lebih dari 100 juta jiwa, sebuah peningkatan yang fantastis (BPS, 2009).
Secara nasional, tingkat pertumbuhan penduduk dapat ditekan dari 2,31 persen tahun 1970-an menjadi 1,49 persen tahun 2000-an. Jika hal ini terabaikan, bukan tidak mungkin gejala ledakan penduduk akan terjadi dan berdampak sosial ekonomi yang lebih rumit dan membahayakan.
Besarnya jumlah penduduk terkait langsung dengan penyediaan pangan. Konsumsi pangan utama sumber karbohidrat adalah beras. Meskipun setelah tahun 1990, konsumsi beras sedikit turun, tapi dipandang masih cukup besar, yaitu 114 kg/orang/tahun pada 2000 (BPS). Rerata konsumsi per kapita ini merupakan yang terbesar di dunia.
Ketidakmampuan menyediakan pangan pokok yang ditandai dengan besarnya impor beras beberapa saat lalu menjadi pertanda yang serius bagi kita agar memiliki perhatian pada persoalan kependudukan dan penyediaan pangan.
US Census Bureau mencatat kebutuhan pangan biji-bijian (beras dan jagung) di Asia akan meningkat pesat dari 344 juta ton tahun 1997 menjadi 557 juta ton tahun 2020 di mana kontribusi China dan India 26 dan 12 persen.
Persoalan krisis pangan dunia yang ditandai kelangkaan pangan dan melonjaknya harga pangan di pasar internasional tahun 2008, salah satunya disebabkan membubungnya permintaan pangan oleh kekuatan ekonomi baru China dan India dengan penduduk masing-masing 1 miliar jiwa.
Dalam konteks Indonesia, produksi pangan nasional yang cukup merupakan persoalan yang serius. Meskipun selama dua tahun terakhir dilaporkan swasembada beras tercapai, tapi untuk jangka panjang masih menjadi pertanyaan besar.
Salah satu solusi dalam peningkatan produksi pangan adalah peningkatan areal dan produktivitas. Meskipun hal tersebut telah dilakukan dengan berbagai strategi tapi data menunjukkan masih jauh dari cukup. Dengan prediksi jumlah penduduk 300 juta tahun 2015, kebutuhan beras akan membacapi 80-90 ton/tahun. Sejarah produksi beras dunia mencatat negara yang memiliki sejarah dan tradisi produksi beras paling panjang dan teknologi paling hebat seperti Jepang, Taiwan, Korea, dan China hanya mampu memproduksi beras di lahan petani secara stabil dalam skala lapangan paling tinggi 7 ton/ha.
Kemampuan kita secara kontinu menyediakan pangan yang melampaui pertumbuhan penduduk akan terus diuji sepanjang waktu.
Program pengendalian penduduk diikuti program pendukung seperti layanan sosial, pendidikan dan kesehatan menjadi prasyarat dan prioritas. Pemerintah pusat dan daerah harus saling bersinergi dan bermintra dengan kalangan swasta dan korporasi terkait dengan hal ini.
Penciptaan lahan baru perlu didorong terutama untuk daerah yang layak dan potensial. Program ini tidak bisa sepenuhnya diharapkan karena kendala sosial, teknis, dan biaya. World Bank (2003) mendata lahan kering di Indonesia sebesar sekitar 24 juta ha.Lahan tersebut sangat potensial untuk program diversifikasi pangan dan diversifikasi produksi pertanian dengan tanaman kehutanan, peternakan, dan perkebunan. Pada wilayah dengan ekologi sawah dan tegalan/ladang seperti Jawa dan Sumatera, pola pangan yang dominan adalah beras dan umbi-umbian, sementara di kawasan timur Indonesia seperti Papua dan Maluku yang banyak terdapat ekologi sagu. Walaupun ekologi suatu wilayah akan menentukan pola pangan masyarakatnya, adanya perubahan lingkungan strategis seperti globalisasi di bidang pangan dan informasi juga berdampak pada perubahan pola pangan masyarakat Indonesia.
Pola pangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi seperti pendapatan dan harga pangan tetapi juga didorong oleh berbagai penalaran dan perasaan seperti kebutuhan, kepentingan, dan kepuasan, baik yang bersifat pribadi maupun sosial. Pangan pokok adalah jenis pangan sumber karbohidrat seperti beras, umbi-umbian, jagung, sagu. Pola pangan pokok dikatakan beras bila sumbangan energi dari beras lebih dari 90%. Pangan pokok masih dominan pangan lokal seperti umbi-umbian, sagu, dan jagung adalah NTT, Papua, dan Maluku. Ini semua menggeser kembali pola pangan pokok ke arah pangan lokal seperti zaman dulu, keadaan tersebut memang sulit dan perlu program dan tekad yang kuat dari semua pihak. Indonesia sangat kaya dengan pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal. Diperlukan sentuhan teknologi untuk meningkatkan nilai sosial dan ekonomi pangan lokal, antara lain melalui pengembangan industri pangan baik skala rumah tangga, industri kecil, menengah maupun besar.

Novina Eka Muji Fitrah Sari
Posted on 29th November, 2011

Nama : Novina Eka Muji Fitrah Sari
NPM : 101111300
Kelas : B

MASIHKAH ADA MAKANAN BUAT HARI ESOK

Pemberasan yang dilakukan pada masa orde baru ternyata menjadi masalah saat ini. Bertambahnya jumlah penduduk, berkurangnya lahan pertanian, kurangnya penghargaan bagi petani, dan banyaknya kerusakan hutan serta perairan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan bagi penduduk itu sendiri.
Pemberasan yang membuat orang merasa bahwa sudah benar - benar makan jika mereka makan nasi sebenarnya tidak optimal, karena suatu daerah mempunyai kondisi tanah dan keadaan alam yang berbeda – beda, dimana daerah tersebut tidak bisa menghasilkan padi baik dengan kualitas baik atau kurang. Dengan adanya pemberasan ini mengakibatkan semua daerah tergantung kepada beras,daerah luar Pulau Jawa kebanyakan menggantungkan kebutuhan beras pada daerah Pulau Jawa yang relatif subur dan dapat menghasilkan beras. Sebenarnya mungkin kebiasaan pemberasan ini bisa di ubah dari pemberasan kemakanan karbohidrat lainnya yang bisa dihasilkan di daerah masing - masing berdasarkan kondisi alamnya.
Bahkan akhir - akhir ini Negara kita lebih suka mengimpor beras atau bahan makanan lain dari luar negeri karena lebih murah dan relatif kualitasnya baik. Di Negara kita khususnya di Jawa Timur yang menurut bulog persediaan makannya menipis, kecuali di daerah Jember, Banyuwangi, padahal menurut dinas pertanian, setelah diadakan pertemuan antara dinas pertanian, bulog dan 38 kabupaten / kota sebelum bulog didapatkan hasil bahwa beras di Jawa Timur surplus 4,1 juta ton beras. Pernyataan ini disampaikan sebelum bulog memberi pernyataan kalo beras di Jatim kurang. Menurut saya kondisi beras di daerah masih bisa mencukupi kebutuhan pangan daerahnya tetapi bulog tidak mau membeli hasil panen petani dengan harga yang sesuai.

RIA EKA NOVITA
Posted on 29th November, 2011

Pertimbangan risiko terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia
dalam jangka panjang tersebut membawa Protokol ini menekankan perlunya
pendekatan pencegahan dini (precautionary) yang terkandung dalam Prinsip 15 The
Rio Declaration on Environment and Development.
Prinsip pencegahan dini mengisyaratkan adanya keterbukaan informasi atas
suatu kegiatan atau bahan yang dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan hidup juga menuntut adanya usaha-usaha lain (alternatif) untuk
memperkecil kekhawatiran (risiko) tersebut.
Dengan menandatangani Cartagena Protocol on Biosafety artinya Pemerintah
Indonesia berkewajiban secara moral menerapkan peraturan internasional mengenai
penanganan lintas batas bahan rekayasa genetika. Terlebih lagi karena Indonesia telah
meratifikasi Convention on Biological Diversity dengan Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1994.

RIA EKA NOVITA
Posted on 29th November, 2011

PELABELAN PRODUK PANGAN YANG MENGANDUNG
BAHAN REKAYASA GENETIKA SEBAGAI WUJUD
ASAS KETERBUKAAN INFORMASI

Pelabelan Produk Pangan Yang Mengandung Bahan Rekayasa Genetika
Sebagai Wujud Asas Keterbukaan Informasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi memicu bertambahnya produk-produk perdagangan, yang mana salah
satunya adalah produk rekayasa genetika, yang mana memiliki segi positif dan
negative, sekaligus meningkatkan kesadaran konsumen akan mutu dan keamanan
produk yang dikonsumsinya.
Hal tersebut menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan produk
pangan yang mengandung bahan hasil rekayasa genetika khususnya mengenai
implementasi prinsip pencegahan dini sebagaimana disyaratkan oleh Protokol
Cartagena sebagai satu-satunya regim hukum internasional mengenai pergerakan
lintas batas produk rekayasa genetika. Selain itu perlu juga dikaji mengenai aspek
regulasi pelabelan produk pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika dan
tanggung jawab produsen atas pelabelan tersebut.
 Pengertian Label
Label merupakan sumber informasi yang esensial bagi konsumen sehingga
konsumen memliki kontrol dan pilihan yang efektif terhadap apa yang mereka
konsumsi berhubungan dengan alasan-alasan kesehatan, keamanan, dan kepercayaan
yang diyakini konsumen (misalnya label halal).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi meningkatkan kesadaran konsumen akan mutu dan keamanan produk yang dikonsumsinya. Keadaan ini menyebabkan konsumen semakin selektif dalam memilih suatu produk yang berhubungan dengan standar-standar kualitas, bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, proses dan manajemen proses.
 Rekayasa Genetika
Produk rekayasa genetika merupakan produk yang dihasilkan dari teknologi memanipulasi sifat baka atau gen (DNA) suatu organisme tanpa melalui seksual (tanpa melalui perkawinan) untuk menghasilkan organisme dengan sifat-sifat sesuai dengan yang ditentukan.
Metode ini dipakai salah satunya untuk menciptakan tanaman-tanaman rekayasa genetika yang kemudian digunakan sebagai teknik pertanian pangan yang meliputi bidang: peningkatan produksi, peningkatan kualitas, perbaikan pasca panen, dan perbaikan processing.1 Dengan demikian produk pertanian yang menggunakan teknik rekayasa genetika ini panen yang dihasilkan menjadi lebih banyak, lebih besar dan tahan lama, dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan produk pertanian konvensional.

 Permasalahan yang timbul dalam perdagangan pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika
Adalah mengenai konteks yang lebih luas dari penggunaan teknologi rekayasa genetika (misalnya dalam teknik obat-obatan), konsekuensi-konsekuensinya dalam lingkungan sosial-ekonomi manusia, dan mengenai pelabelan dalam rangka perlindungan hak-hak konsumen atas informasi produk yang dikonsumsinya.

 Pentingnya Label pada produk yang menggunakan hasil rekayasa genetika
Label pada produk yang menggunakan hasil rekayasa genetika ini sangat penting mengingat sampai sekarang ini belum ada suatu penelitian yang menyatakan bahwa mengkonsumsi produk hasil rekayasa genetika adalah aman. Penggunaan teknologi rekayasa genetika dan berbagai produknya menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan di masa yang akan datang (dampak jangka panjang).

 Jaminan Informasi Bagi Konsumen
Untuk menjamin bahwa konsumen mendapatkan informasi yang jujur atas produk yang dikonsumsinya, tindakan yang rasional adalah dengan mencantumkan label terhadap produk pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika. Dengan pelabelan terhadap produk yang mengandung hasil rekayasa genetika konsumen tahu apa dikonsumsinya sehingga bebas untuk menentukan pilihan; meningkatkan kepedulian dan pendidikan bagi konsumen; perlindungan bagi lingkungan dan pendekatan pencegahan; dan keamanan pangan.
Selama sepuluh tahun perundingan tingkat internasional dilakukan untuk membahas permasalahan menyangkut organisme hasil rekayasa genetika. Pada Mei 2000 dihasilkan regulasi pertama dari Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (Convention on Biodiversity), yaitu Cartagena Protocol on Biosafety. Protokol ini bertujuan untuk memberikan aturan dalam memastikan tingkat proteksi yang memadai dalam hal transfer, penanganan, dan penggunaan yang aman dari organisme hidup hasil bioteknologi modern yang mungkin berpengaruh merugikan terhadap kelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati, dengan juga mempertimbangkan risiko terhadap kesehatan manusia, dan khususnya pada pergerakan lintas batas.
Protokol Cartagena adalah perjanjian yang mengikat secara hukum (legally binding) dan berlaku 90 hari setelah 50 negara meratifikasi. Sampai dengan Mei 2000 tercatat 68 negara telah meratifikasi. Indonesia sendiri telah menandatangani Protokol ini pada tanggal 24 Mei 2000.
Para pihak dalam perjanjian ini harus memastikan bahwa pengembangan penanganan, pengangkutan, pemakaian, pemindahan dan penglepasan organisme hidup dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat mencegah atau mengurangi risiko yang timbul terhadap keanekaragaman hayati, dengan juga mempertimbangkan risikonya terhadap kesehatan manusia.
Pertimbangan risiko terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia
dalam jangka panjang tersebut membawa Protokol ini menekankan perlunya
pendekatan pencegahan dini (precautionary) yang terkandung dalam Prinsip 15 The
Rio Declaration on Environment and Development.
Prinsip pencegahan dini mengisyaratkan adanya keterbukaan informasi atas suatu kegiatan atau bahan yang dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan hidup juga menuntut adanya usaha-usaha lain (alternatif) untuk memperkecil kekhawatiran (risiko) tersebut.
Dengan menandatangani Cartagena Protocol on Biosafety artinya Pemerintah Indonesia berkewajiban secara moral menerapkan peraturan internasional mengenai penanganan lintas batas bahan rekayasa genetika. Terlebih lagi karena Indonesia telah meratifikasi Convention on Biological Diversity dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994.

RIA EKA NOVITA
Posted on 29th November, 2011

Nama : Ria Eka Novita
Kelas : VB
NIM : 101111322

PELABELAN PRODUK PANGAN YANG MENGANDUNG
BAHAN REKAYASA GENETIKA SEBAGAI WUJUD
ASAS KETERBUKAAN INFORMASI

Pelabelan Produk Pangan Yang Mengandung Bahan Rekayasa Genetika
Sebagai Wujud Asas Keterbukaan Informasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi memicu bertambahnya produk-produk perdagangan, yang mana salah
satunya adalah produk rekayasa genetika, yang mana memiliki segi positif dan
negative, sekaligus meningkatkan kesadaran konsumen akan mutu dan keamanan
produk yang dikonsumsinya.
Hal tersebut menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan produk
pangan yang mengandung bahan hasil rekayasa genetika khususnya mengenai
implementasi prinsip pencegahan dini sebagaimana disyaratkan oleh Protokol
Cartagena sebagai satu-satunya regim hukum internasional mengenai pergerakan
lintas batas produk rekayasa genetika. Selain itu perlu juga dikaji mengenai aspek
regulasi pelabelan produk pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika dan
tanggung jawab produsen atas pelabelan tersebut.
 Pengertian Label
Label merupakan sumber informasi yang esensial bagi konsumen sehingga
konsumen memliki kontrol dan pilihan yang efektif terhadap apa yang mereka
konsumsi berhubungan dengan alasan-alasan kesehatan, keamanan, dan kepercayaan
yang diyakini konsumen (misalnya label halal).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi meningkatkan kesadaran konsumen akan mutu dan keamanan produk yang dikonsumsinya. Keadaan ini menyebabkan konsumen semakin selektif dalam memilih suatu produk yang berhubungan dengan standar-standar kualitas, bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, proses dan manajemen proses.
 Rekayasa Genetika
Produk rekayasa genetika merupakan produk yang dihasilkan dari teknologi memanipulasi sifat baka atau gen (DNA) suatu organisme tanpa melalui seksual (tanpa melalui perkawinan) untuk menghasilkan organisme dengan sifat-sifat sesuai dengan yang ditentukan.
Metode ini dipakai salah satunya untuk menciptakan tanaman-tanaman rekayasa genetika yang kemudian digunakan sebagai teknik pertanian pangan yang meliputi bidang: peningkatan produksi, peningkatan kualitas, perbaikan pasca panen, dan perbaikan processing.1 Dengan demikian produk pertanian yang menggunakan teknik rekayasa genetika ini panen yang dihasilkan menjadi lebih banyak, lebih besar dan tahan lama, dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan produk pertanian konvensional.

 Permasalahan yang timbul dalam perdagangan pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika
Adalah mengenai konteks yang lebih luas dari penggunaan teknologi rekayasa genetika (misalnya dalam teknik obat-obatan), konsekuensi-konsekuensinya dalam lingkungan sosial-ekonomi manusia, dan mengenai pelabelan dalam rangka perlindungan hak-hak konsumen atas informasi produk yang dikonsumsinya.

 Pentingnya Label pada produk yang menggunakan hasil rekayasa genetika
Label pada produk yang menggunakan hasil rekayasa genetika ini sangat penting mengingat sampai sekarang ini belum ada suatu penelitian yang menyatakan bahwa mengkonsumsi produk hasil rekayasa genetika adalah aman. Penggunaan teknologi rekayasa genetika dan berbagai produknya menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan di masa yang akan datang (dampak jangka panjang).

 Jaminan Informasi Bagi Konsumen
Untuk menjamin bahwa konsumen mendapatkan informasi yang jujur atas produk yang dikonsumsinya, tindakan yang rasional adalah dengan mencantumkan label terhadap produk pangan yang mengandung bahan rekayasa genetika. Dengan pelabelan terhadap produk yang mengandung hasil rekayasa genetika konsumen tahu apa dikonsumsinya sehingga bebas untuk menentukan pilihan; meningkatkan kepedulian dan pendidikan bagi konsumen; perlindungan bagi lingkungan dan pendekatan pencegahan; dan keamanan pangan.
Selama sepuluh tahun perundingan tingkat internasional dilakukan untuk membahas permasalahan menyangkut organisme hasil rekayasa genetika. Pada Mei 2000 dihasilkan regulasi pertama dari Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (Convention on Biodiversity), yaitu Cartagena Protocol on Biosafety. Protokol ini bertujuan untuk memberikan aturan dalam memastikan tingkat proteksi yang memadai dalam hal transfer, penanganan, dan penggunaan yang aman dari organisme hidup hasil bioteknologi modern yang mungkin berpengaruh merugikan terhadap kelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati, dengan juga mempertimbangkan risiko terhadap kesehatan manusia, dan khususnya pada pergerakan lintas batas.
Protokol Cartagena adalah perjanjian yang mengikat secara hukum (legally binding) dan berlaku 90 hari setelah 50 negara meratifikasi. Sampai dengan Mei 2000 tercatat 68 negara telah meratifikasi. Indonesia sendiri telah menandatangani Protokol ini pada tanggal 24 Mei 2000.
Para pihak dalam perjanjian ini harus memastikan bahwa pengembangan penanganan, pengangkutan, pemakaian, pemindahan dan penglepasan organisme hidup dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat mencegah atau mengurangi risiko yang timbul terhadap keanekaragaman hayati, dengan juga mempertimbangkan risikonya terhadap kesehatan manusia.
Pertimbangan risiko terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia
dalam jangka panjang tersebut membawa Protokol ini menekankan perlunya
pendekatan pencegahan dini (precautionary) yang terkandung dalam Prinsip 15 The
Rio Declaration on Environment and Development.
Prinsip pencegahan dini mengisyaratkan adanya keterbukaan informasi atas suatu kegiatan atau bahan yang dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan hidup juga menuntut adanya usaha-usaha lain (alternatif) untuk memperkecil kekhawatiran (risiko) tersebut.
Dengan menandatangani Cartagena Protocol on Biosafety artinya Pemerintah Indonesia berkewajiban secara moral menerapkan peraturan internasional mengenai penanganan lintas batas bahan rekayasa genetika. Terlebih lagi karena Indonesia telah meratifikasi Convention on Biological Diversity dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994.

aryatama R
Posted on 1st December, 2011

ARYATAMA R
101111311

DEFERSIFIKASI PANGANBERBASIS TEPUNG
Program diversifikasi pangan kita dinilai gagal oleh banyak pihak. Indikasinya konsumsi beras tidak mengalami penurunan. Dalam berbagai kesempatan diskusi juga muncul pertanyaan menggelitik, “Mengapa penduduk Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur “dipaksa” mengkonsumsi beras? Padahal makanan pokoknya bukan beras.” Dalam hal diversifikasi pangan, pada dasarnya suatu barang dapat menjadi substitusi atau penggunaannya menjadi pengganti barang lain apabila barang tersebut lebih murah harganya, tersedia dalam jumlah yang cukup dan mudah memperolehnya, kualitas mendekati atau lebih baik dari pesaingnya, tidak terkesan sebagai barang inferior dan didukung oleh kebijakan pengembangan yang tepat.
Indonesia kaya akan sumber daya alam hayati yang dapat dijadikan sebagai bahan baku tepung. Indonesia kaya berbagai jenis umbi-umbian dan biji-bijian yang dapat dikembangkan dalam berbagai keadaan agroklimat sebagai bahan baku tepung. Indonesia memiliki jenis pohon yang menghasilkan tepung seperti pohon sagu dan aren. Indonesia juga memiliki pohon buah seperti sukun yang dapat dijadikan bahan baku tepung untuk diolah menjadi makanan. Jenis tanaman garut dan ganyong —yang tumbuh subur di bawah tegakan pohon yang dapat ditanam di kebun atau di bawah pohon di hutan— menghasilkan tepung yang dapat diolah menjadi makanan yang cukup terkenal bagi bayi dan orang sakit.
Tulisan ini menjelaskan perkembangan kebijakan terigu selama kurang lebih 40 tahun dalam berbagai keadaan pasang surutnya ekonomi pangan kita. Dari berbagai kebijakan tersebut, diharapkan dapat dipetik pelajaran untuk merumuskan kebijakan diversifikasi pangan berbasis tepung nonberas dan nonterigu, terutama yang bersumber dari dalam negeri.
Terigu merupakan bahan baku untuk industri makanan skala besar yang menghasilkan produk seperti mie instant, biskuit dan lain-lain. Terigu juga sebagai bahan baku industri kecil dan menengah yang menghasilkan antara lain mie basah, kue kering, roti tawar, dan lain-lain. Selain itu, terigu juga sebagai bahan baku industri rumah tangga yang menghasilkan aneka makanan jajan pasar dan industri nonpangan untuk pembuatan lem dan lain-lain.
Secara agregat total peningkatan kebutuhan untuk memenuhi sektor-sektor tersebut ditunjukkan oleh volume impor gandum dan hasil pengolahan atau penyaluran terigu yang mengalami kecenderungan naik. Untuk melihat dinamika perubahan kebijakan dan dampaknya terhadap permintaan (agregat) terigu mulai awal Pemerintahan Soeharto sampai sekarang, dalam tulisan ini disajikan periodisasi perkembangan kebijakan di bidang terigu dan gandum yang diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap dampak dari kebijakan tersebut dan implementasi kebijakan diversifikasi pangan berbasis tepung.
Permintaan terigu sebagian besar merupakan permintaan turunan (derived demand) karena yang dikonsumsi sebagian besar dalam bentuk pangan hasil olahan. Menurut beberapa studi, penggunaan terigu pada garis besarnya adalah untuk industri (besar, menengah, kecil, dan rumah tangga), konsumsi rumah tangga langsung, dan penggunaan lainnya. Konsumsi rumah tangga dihitung dari data Susenas, Industri besar dan sedang berdasarkan Sensus Ekonomi, dan industri kecil merupakan residu. Proporsi ini tentunya masih dapat dikembangkan lagi terutama untuk merinci penyerapan, baik oleh industri kecil maupun industri sedang dan besar. Berdasarkan pengelompokan jenis tanaman terdapat sumber-sumber bahan tepung pangan yang sangat potensial untuk dikembangkan, yaitu: Pertama, Dari sumber biji-bijian non beras , Kedua, Dari sumber pohon-pohonan, Ketiga, Dari sumber buah-buahan, Keempat, Dari sumber umbi-umbian.
STRATEGI PENGEMBANAN BAHAN BAKU TEPUNG SUBSTITUSI TERIGU
Belajar dari pengalaman pengembangan penggunaan terigu di Indonesia, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Pertama, Kebijakan yang konsisten dan berjangka panjang terhadap pengembangan bahan baku tepung substitusi terigu. Maksudnya, dalam keadaan apapun program yang berkaitan dengan pengembangan tepung substitusi terigu tersebut harus dijaga agar berjalan. Kedua, Dukungan kebijakan penetapan bea masuk impor gandum dan terigu yang kondusif bagi pengembangan budidaya tananaman yang menghasilkan tepung sebagai substitusi terigu Ketiga, Dukungan kebijakan makro yang kondusif seperti nilai tukar dan perpajakan serta perkreditan yang mendorong pengembangan tepung subsitusi terigu. Keempat, Dukungann terpadu antardepartemen untuk kegiatan (produksi atau ketersediaan, pascapanen atau pengolahan, perdagangan atau distribusi, penggunaan atau divesifikasi konsumsi). Kelima, Dukungan penyediaan teknologi, penelitian, dan pengembangan. Keenam, Didukung oleh masyarakat yang mencintai produk dalam negeri.

cara pemesanan tricajus
Posted on 5th February, 2013

Postingan yang sangat menarik…

obat sipilis
Posted on 5th February, 2013

Postingan yang sangat menarik,Sehingga menjadikan wacana anak Bangsa bayak pelajartan yang kita dapat dari artikelnya

obat ;kencing nanah
Posted on 5th February, 2013

bagus artikelnya dan makasi ah atas infonya

Leave your Comment