Tugas IBA Kewirausahaan-MK Dasar Gizi

young entrepreneur

Buatlah tulisan (1 halaman) tentang kisah sukses pengusaha (nasional / internasional), diutamakan dalam bidang bisnis makanan/ pangan, yang memulai bisnisnya dari bawah, uraikan :

  • Jenis bisnis, omzet
  • Awal membangun usaha
  • Strategi/kiat-kiat sukses pengusaha
  • Attitude/ sikap/ ciri-ciri yang membuat pengusaha tersebut sukses.

Jangan lupa:

  • Tidak boleh ada yang sama (profil pengusahanya)
  • Tulis nama anggota kelompok dan sumber sitasinya

Masukkan dalam kolom comment berikut.

G’Luck n B’Success…

Comments

Primastuti Rolini Pamungkas
Posted on 30th October, 2012

IKMB 2011
Kelompok 10 :
 Primastuti Rolini Pamungkas 101111189
 Rr. Rovanaya NJ 101111190
 Hilda Nuruzzaman 101111191
 Riska Nur Safitri 101111192
 Ahmad Candra 101111193
 Ade Sinta Larasati 101111194
 Ghandy Elmada S 101111195
 Dianita Ratwitasari 101111196
 Karina Wahyu Andriani 101111197

BERAWAL DARI BAKPAO TELO

Pada tugas Hibah KWU dasar Ilmu Gizi, kami kelompok 10 akan mengulas sedikit kisah sukses pengusaha yang mengawali bisnisnya dari telo atau Ubi jalar. Unggul Abinowo adalah pemilik bisnis olahan ubi jalar ini. Ia memilih bisnis oalahan ubi jalar karena memang awalnya dia hanya menjual ubi jalar dalam bentuk mentah dan nilai jualnya sangat rendah, dan ia juga berfikir bahwa kandungan gizi yang terdapat pada ubi jalar ini dapat menggantikan tepung bahkan lebih tinggi dari tepung dan suami dari Suami Anggraeni Rahmawati Sri Dewi ini pun berhasil megubah harga jual ubi jalarubi jalar yang biasanya hanya dijual dengan harga sekitar Rp 400 per kilogram bisa ditingkatkan menjadi Rp 1.000-Rp 1.500 per kilogram, bahkan bisa lebih dari Rp 4.000 sekilo setelah dijadikan bakpao. Kini pengusaha unggul Anibowo dapat menikmati hasilnya dengan omsetnya mencapai 300-400 juta per bulan.

Awal membangun usaha ini pada tahun 1994 dengan bermodal uang Rp.900 .000 untuk menyewa tanah yang selanjutnya ia tanami dengan ubi jalar karena memang dia adalah seorang alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya malang dan gagasan itu berawal tak kala ia melihat hasil pertaniannya dihargai dengan sangat murah karena banyak masyarakat yang menganggap sebelah mata terhadap ubi jalar padahal kandungan ubi jalar lumayan tinggi dan mengandung antioksidan yang tinggi pula. Awal dia membuka usaha yang unik ini ia malah di tertawakan, awalnya ide bakpao kerena dulu orang tionghoa membuat bakpao jika tak ada terigu maka diganti dengan ubi, itulah awal inspirasinya. Awalnya bakpaonya hanya terjual 20 buah dan pembelinya hanya orang tionghoa, namun lama kelamaan banyak yang suka lalu ia meningkatkan usahanya dengan memberi isi bakpo dengan bermacam-macam isi seperti kacang hijau, keju, kornet dan makin lama makin laku. Alhasil bisnis yang ia rintis ini berkembang menjadi besar dan dia terus mengemnbangkan varian produk usahanya sehingga berhasil membuat 30 macam kudapan dan minuman, seperti brownis, burger, pizza, mie ungu, es krim, jus dan semuanya serba ungu karena terbuat dari telo atau ubi jalar ungu.

Strategi yang di gunakan unggul Anibowo snagatlah bagus karena ia menciptakan inovasi yang luar biasa walaupun hanya dengan bahan ubi, semangatnya yang luar biasa patut di acungi jempol karena sama dengan pengusaha sukses lainnya ia pun pernah gagal karena ketika tahun 1993 bisnisnya hancur total saat ia menikah di purwokerto, musibah itu di terima dan tawakal, dia percaya bahwa hidup adalah cobaan dan perjuangan. Kemudian ia berprinsip harus berani dan uang dari resepsi pernikahannya 7-9 juta ia gunakan untuk menutupi tanggungannya dan sisa Rp. 900 ribu sisa dan kemudian ia jadikan modal awal untuk usaha di pasuruan tahun 1994. Dan sekarangpun usahanya yang dulu hanya rumahan berpindah ke SPAT (sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu) padahal dulu ia hanya berjualan di depan kantor SPAT dengan gerobak. Begitu juga berbagai penghargaan mulai dari Pemuda pelopor tingkat nasional (1996), SPAT mendapatkan HACCP dari PT mutu Agung Lestari dan sertifikat halal dari MUI(2004), kemudian SPAT mendapatkan penghargaan UKM yang menerapkan sistem jaminan mutu dari mentri pertanian(2005), dan penghargaan produk inovasi makanan terbaik dalam pameran SMEsCO (2006).
Dia mengayomi para petani dan dimata petani ia adalah sosok petani kaya yang modern dan dermawan bahkan ia sering mengadakan pelatihan pada petani2 dan tidak sungkan terjun ke lapangan saat memberikan pendidikan atau pelatihan kepda petani binaan SPAT.
Untuk tetap mempertahankan minat beli terhadap Bakpao Telo, manajemen Republik Telo harus mengantisipasi strategi pemasaran dengan mempertahankan kepuasan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberi nilai dan kepuasan kepada konsumen melalui penyampaian produk dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing. Atribut Bakpao Telo adalah unsur-unsur Bakpao Telo yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengembangan keputusan pembelian.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari pengusaha bakpao telo yang mempunyai SPAT terminal agribisnis di Repoeblik TelO. Lokasinya berada di Jalan Raya Simping Purwodadi, Pasuruan adalah kita harus berani memunculkan inovasi baru, menuangkan ide kreatif kita untuk emmulai usaha walaupun dengan keterbatasan modal tapi dengan usaha yang gigih, semangat dan kesabaran maka kita akan menuai hasil akhirnya dengan kepuasan.

Sabila Fabi Hanida
Posted on 30th October, 2012

Nama Anggota kelompok 7 IKMA 2011
1. Priska Hapsari 101111003
2. Nano Susanto 101111012
3. Emmy N. 101111021
4. Niko R. 101111023
5. Rahmadiani 101111030
6. Helda B. 101111031
7. Stefanna Danty 101111078
8. Sabila Fabi H. 101111086

COFFEE TOFFEE
Nama pemilik : Odi Anindito dan Rakhma Sinseria
Jenis Bisnis : menjual minuman berbahan dasar kopi, coklat dan teh
Omset : 140 Juta/bulan
Awal usaha : Awal mula tercetusnya ide bisnis tersebut ketika Odi pulang dari Melbourne, Australia, negara dimana Ia bersekolah pada tahun 2005. Di negeri Kanguru tersebut Odi pernah bekerja paruh waktu sebagai Barista di kedai kopi, disanalah Ia mengetahui bahwa 12 dari 30 kopi yang disajikan ternyata berasal dari Indonesia dan responnya sangat luar biasa. Dari situlah Odi tergugah untuk bisa memanfaatkan kekayaan tanah kelahirannya tersebut di negeri sendiri.
Akhirnya pada tahun 2006 Odi dan Rakhma sepakat untuk membuka sebuah tempat ngopi yang berawal dari garasi rumahnya. Kecintaannya terhadap kopi sejak duduk di bangku kuliah dan rasa bangganya terhadap kekayaan Indonesia menggerakkannya untuk mengembangkan bisnis minuman berasal dari kopi lokal.
Ketika itu modal awal yang mereka keluarkan hanya Rp 5 juta, dengan segenap keyakinan mereka pun mulai mencari nama yang unik dan pas untuk kedai mereka. Akhirnya tercetuslah nama Coffee Toffee, alasan mengambil nama tersebut karena jika diucapkan memiliki irama yang pas. Setelah di cek, Toffee memiliki arti permen cokelat .
Strategi/kiat sukses usaha :Memilih memulai langkah barunya di Jakarta, pasangan suami istri ini sepakat untuk fokus dan membagi tugas. Rakhma sang istri bertanggung jawab mencari informasi tentang sistem kemitraan dan menajemen, bahkan Ia pun rajin mengikuti pelatihan usaha kecil menengah yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga pemerintahan. Sedangkan Odi bertugas mencari konsep dan berburu kopi ke daerah- daerah.
. Odi mendapatkan beragam jenis kopi khas Indonesia diantaranya kopi Sumatera Gayo dan Gelintong, Sulawesi Toraja Kolasi, Jawa Moca serta Bali Karu.
Pelan tapi pasti, terbukti dari fokus dan ketekunan yang Odi dan Rakhma lakukan gerai Coffee Toffee mulai merebak di Jakarta dan sekitarnya. Produk serta konsep yang mereka tawarkan cukup menarik hati konsumen. Kemasan yang lebih modern serta harga yang terjangkau ternyata sesuai dengan gaya hidup masyarakat
Atitute/sikap/ciri yang membuat sukses:
o Mengutamakan pengetahuan dan wawasan
o Inovasi
o Mengikuti perkembangan
o Mampu melihat selera konsumen
o Dengan berkolaborasi dengan para investor, maka CT dapat berkembang dengan cepat
o Saling berbagi knowledge antara sesama gerai dalam memberikan pelayanan kepada konsumen
o Meningkatkan komunikasi kepada customer dengan tujuan meningkatkan pelayanan

Sumber :
o resaprakoso » Blog Archive » Coffee Toffee, Sedapnya Aroma Bisnis Kedai Kopi Lokal
o diawali-iseng-coffee-toffee-kini-beromzet-hingga-rp140-juta
o coffee-toffee-sedapnya-aroma-bisnis-kedai-kopi-lokal
o coffee-toffee
o coffee-toffee.co.id

Afifah Nasyahta Dila
Posted on 30th October, 2012

101111170 Irma Aninda
101111171 Afifah Nasyahta Dila
101111172 Yanzen Kusuma A.K
101111173 Debora Dzahabiyyah
101111174 Aghnes Khen P.A
101111176 Ade Intan Puspita sari
101111177 Hardian Agung P
101111178 Oktian Firman B
IKMB 2011

Brownis Kukus AMANDA
BROWNIES KUKUS AMANDA disebut oleh-oleh paling ‘megang’ dari Bandung. Kue cokelat ini sejak beberapa tahun terakhir memang sangat ngetop. Amanda sendiri bukan nama seorang perempuan lazimnya. Amanda disini sarat makna, yakni Anak Menantu Damai. Nama itu mencerminkan keharmonisan karena Amanda dibangun oleh anak dan menantu.
Awal usaha: Memasak bukan sekedar hobi bagi ibu Hj. Sumiwiludjeng, tetapi juga untuk menambah pemasukan keluarga. Dengan kepandaiannya memasak, Bu Sumi mengutak-atik resep bolu kukus untuk mendapatkan rasa yang ‘nendang’.
Ketika akhirnya menemukan formula yang pas, Bu Sumi dibantu putra sulungnya, Joko Ervianto mulai menawarkan kue itu rumah-rumah dengan mengayuh sepeda. Saat itu Krisis Moneter atau sekitar tahun 1999 yang mendera tanah air membuat orang berpikir keras bagaimana bertahan hidup. Saat itu nama yang digunakan adalah bolu cokelat yang dipasarkan ke tetangga, kerabat dan langganan. Brownies yang hingga kini masih bisa dirasakan itu cukup mendapat respon baik kala itu.
Strategi dalam mengembangkan usaha:
Awal tahun 2000 Joko dan Atin (istri Joko) membuka sebuah kios kaki lima di kompleks pertokoan Metro, Margahayu, Bandung, untuk menjualnya. Pada mulanya, penjualan tidak begitu bagus. Orang-orang hanya sekedar melihatnya dan lewat. Tak kurang akal, Atin lalu menjual kue itu dalam bentuk kue potong seharga Rp1.000 per potong. Dengan cara ini, ternyata bisa laku 150-250 potong atau 3-5 loyang ukuran 24 x 24 cm.
Sayangnya, usaha yang baru berkembang ini tak bisa bertahan, karena pertokoan Metro terbakar. Amandapun pindah ke Jl. Tata Surya 11, yang masih terletak di kompleks yang sama.
Sukses menggaet pelanggan baru membuat Joko berpikir untuk memberi brand agar lebih komersial. Tahun 2001, kue itu punya nama resmi, yaitu Brownies Kukus Amanda. Joko juga menaruh nama Brownies Kukus Amanda pada kardus pembungkus, agar lebih profesional. Setelah itu, hanya melalui promosi dari mulut ke mulut, pamor kue ini melesat. Tahun 2002, mereka pindah ke Jl. Rancabolang No.2 di kawasan yang sama, karena toko yang lama sudah terasa sesak.
Selain sukses mendongkrak penjualan, cita-cita Sumi yang tersu¬rat dalam nama Amanda juga terkabul. Semua anak dan menantu pasangan Sumi dan Sjukur ikut mengelola bisnis ini dan semuanya hidup rukun. Joko yang menjabat sebagai direktur utama, meminta adik-adiknya, Andi Darmansyah dan Sugeng Cahyono, me¬ngelola 4 cabang resmi yang ada di Bandung, yaitu di jl. Cikawao, Antapani, Hyper Square Pasir Kaliki, dan toko mobil di JI Dago.
Awal tahun 2004, pusat toko mereka pindah ke bangunan perma¬nen dua lantai dan berhalaman lapang yang megah di JI Rancabolang No 29, Margahayu, Bandung. Andi dan Sugeng juga ditarik ke kantor pusat untuk memegang jabatan sebagai direktur keuangan dan direktur operasional. Sementara itu, pabrik pembuatan Brownies Kukus Amanda tetap di JI. Rancabolang 2. Pada tahun-tahun berikutnya pun Amanda membuka cabang barn di Surabaya dan Bogor.
Brownies Kukus Amanda ini sudah dipatenkan. Meski Atin mengakui, soal hak paten di Indonesia masih belum punya `gigi’. Atin melihat, banyak pengekor kesuksesan Amanda ramai-ramai mengeluarkan produk bernama brownies kukus.
Omset Amanda Brownies pada hari biasa mencapai Rp.3,8 miliar, namun jelang lebaran naik hingga Rp4,8 miliar, sehingga Amanda harus menaikan produksi sebesar 26% guna memenuhi kebutuhan Hari Raya Idul Fitri.
Begitu juga dengan omset yang dihasilkan di setiap cabang brownies Amanda. setiap outlet mendapat respon positif masyarakat sekitar sehingga selalu mendapat pencapaian omset yang sangat fantastis.
Attitude/sikap/ciri-ciri yang membuat pengusaha tersebut sukses:
- mengembangkan bakat yang dipunya dan membuat suatu produk yang memiliki nilai berbeda dengan produk lain
- selalu melakukan inovasi untuk tetap eksis dalam suatu bisnis
- selalu hidup rukun dengan keluarga sehingga dapat menyatukan kekuatan untuk mempertahankan bisnis tersebut
- tidak mudah putus asa
Referensi
http://regional.kompas.com/read/2011/08/24/19190410/Omzet.Bisnis.Kreatif.Naik.Pesat
http://www.malangbisnis.com/2010/06/bronis-amanda-sejarah-asal-mula.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/brownies-amanda-anak-menantu-damai.html

Edel Weisela Permata Sari
Posted on 30th October, 2012

KELOMPOK 7 IKMB 2011
1.Sheena Ramadhia Asmara D. 101111162
2.Rahmadi Fahmi Priandri 101111163
3.Edel Weisela Permata Sari 101111164
4.Yangga Dzikrin Nur 101111165
5.Anantya Wira Pambudhi 101111166
6.Syilvina Rizka 101111167
7.Puput Dyah Ayu 101111168
8.Faradilla Alif Octaviani 101111169

KOLONEL HARLAND SANDER(PELOPOR KFC)

Kolonel Harland Sander adalah pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Kolonel Sanders lahir pada tanggal 9 September 1890 dan dia memulai usahanya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Namun dia memiliki keahlian dalam memasak dan menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Kolonel Harland Sanders adalah pelopor Kentucky Fried Chicken yang telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam industri waralaba makanan siap saji di dunia.

Ketika memutuskan untuk pensiun, Kolonel Sanders hanya mendapatkan uang seratus lima dolar dari jaminan sosial miliknya sendiri dan juga istrinya. Meski dengan kondisi jiwa yang remuk, akan tetapi Harland Sanders tidak menyerah. Kepada dirinya dia berkata, “Tidak ada apa pun di hadapanmu kecuali satu hal yang bisa dilakukan, yaitu menggoreng ayam. Inilah yang akan engkau lakukan sepanjang hayatmu.” Dengan tekat kuatnya tersebut, ia menjual ayam ala KFC ke rumah makan di wilayah Outta. Saat itu, dia mengambil empat sen untuk setiap ayam yang terjual. Dengan semangat juangnya, dia turun ke pasar untuk mempromosikan ide penjualan ayam KFC-nya meskipun sudah tua dan terserang penyakit rematik.

Selama dua tahun berkeliling, Harland Sanders hanya dapat memuaskan lima rumah makan saja. Ketika usia kolonel Harland Sanders menginjak 70 tahun, jumlah rumah makan yang menjadi bagian dari franchise KFC-nya mencapai 200 tempat, di USA dan Kanada. Setelah mencapai jumlah ini, Harland Sanders berhenti berkeliling karena banyak orang yang datang ke tempat tinggalnya untuk berkonsultasi. Akhirnya, dia sepenuhnya membantu sang istri untuk meracik resep makanan yang terdiri dari beberapa jenis tanaman rempah – rempah dan bumbu – bumbu, lalu menjualnya memalui pos. Hingga sekarang, resep rahasianya hanya diketahui segelintir orang, yang jumlahnya tidak melebihi 5 orang.

Pada tahun 1963, jumlah rumah makan yang berada di bawah franchise KFC-nya mencapai 400 tempat. Jumlah tersebut terlalu banyak dan tidak mungkin dia memikulnya sendiri. Oleh karena itu, Harland Sanders memutuskan untuk menjual bisnis waralaba KFC-nya kepada Jhon Brown Junior seharga satu juta dolar. Selain itu, dia juga mendapat gaji setiap bulan seumur hidup sebesar empat puluh ribu dolar (kemudian mengalami kenaikan menjadi tujuh puluh lima ribu dolar) sebagai ganti dari peranannya sebagai konsultan dan iklan yang telah dia publikasikan, dan jabatannya sebagai direktur utama perusahaan. Hingga Kolonel Harland Sanders meninggal pada tahun 1980 dan dimakamkan di Louisville.

Sumber :
http://agoes8.blogspot.com/2009/12/kisah-sukses-pendiri-kfc.html
http://kolom-biografi.blogspot.com/2012/02/biografi-kolonel-harland-sanders.html
http://www.ceritadanwarta.com/2010/08/kisah-sukses-colonel-sanders-kfc.html

Adyra Abdillah
Posted on 30th October, 2012

IKMB 2011 - Kelompok 11

101111198 Ajeng Ratna Y
101111199 Endiqa Gusprada
101111200 Prastiya cylvi Eka J
101111201 Kirani Herawati
101111202 Azhar Kadar Taruna
101111203 Bellamita chrisselda
101111204 Atika anggar Sari
101111205 Dwi Kirwan
101111206 Adyra Abdillah

Nama: Agus Pramono
Jenis bisnis: Warung Ayam Bakar
Omzet: Ratusan juta rupiah per bulan

Banyak orang yang berpikir untuk menjadi pengusaha itu harus berbekal gelar sarjana. Namun, saat ini tidak hanya orang yang memiliki gelar sarjana saja yang bisa menjadi pengusaha sukses. Seperti halnya yang dialami oleh pria kelahiran Madiun, Agus Pramono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono.

Berbekal ijazah SMA, kini ia mampu menjadi juragan ayam bakar yang omzetnya mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Namun, Mono mencapai kesukseskan penuh dengan perjuangan. Dia menghadapi berbagai tantangan yang berliku. Selain ia sempat menjadi Office Boy (OB) di salah satu perusahaan kota Jakarta, ia pun pernah menjadi penjual pisang coklat. Omzet yang didapat pun hanya Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per hari. Baginya, hal tersebut merupakan sebuah proses menuju sebuah keberhasilan. “Segala sesuatu itu tidak ada yang instan, untuk menjadi sebuah mie instan saja butuh penelitian dalam waktu yang lama,” katanya.

Menurutnya, setelah ia melewati segala perjuangannya tersebut dengan bermodalkan Rp500 ribu yang kini menjadi Rp5 miliar dan terus bertambah setiap saat, sekarang ia sudah mempunyai 32 cabang Ayam Bakar Mas Mono di kota Jakarta dan Bogor. Selain itu, ayam bakarnya pun pada awal April 2012 menjadi franchise go international di Malaysia. Tidak hanya itu, Mono juga punya biro travel umrah dan haji, dua taman kanak-kanak Islam terpadu, serta bisnis jasa katering. Total karyawan Mono 1.020 orang.

Awalnya, Mas Mono berjualan ayam bakar di pinggiran kaki lima Jalan Soepomo, Jakarta Selatan. Di tempat itu, ia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang. Dari lima ekor ayam yang ia beli, hanya tiga ekor yang laku.

Tempat berdagangnya pun sempat kena gusur tetapi karena terkena gusur tersebut ia akhirnya memberanikan diri untuk membuka cabang yang pertama. Ujiannya tak hanya itu, Mas Mono menambahkan, saat membuka cabangnya yang pertama tersebut isu flu burung sedang merebak. Namun, hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk menekuni bisnisnya.
Ia menjelaskan, jika ingin memulai bisnis dan menjadi pengusaha jangan hanya keinginan tetapi harus langsung dipraktikkan dan fokus. Menurutnya, rasa ayam bakarnya yang enak saja tidak cukup tetapi menjaga hubungan dengan pelanggan, menjaga kualitas, kebersihan, pelayanan yang baik, keramahan, serta tempat yang nyaman menjadi faktor pendukung keberhasilan.

Pelajaran yang bisa diambil dari kesuksesan seorang mas mono ini adalah jangan pernah menyerah dan cepat berputus asa, keberhasilan tidak didapatkan secara instan tetapi harus melewati proses-proses yang mungkin tidak mudah dan butuh perjuangan.

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/node/185556
http://www.majalahwk.com/artikel-artikel/teropong-usaha/321-artikel-artikel.html

Diva Madya Resdwivani
Posted on 30th October, 2012

IKMB 2011 KELOMPOK 3
o Enov Sayu M.M 101111129
o Zuhriyyatul Haq 101111131
o Diva Madya Resdwivani 101111132
o Efifta Pratama Ananda 101111133
o Budi Hartanto 101111134
o Apsari Damayanti 101111135
o Jihan Anfa 101111136
o Pramana Dafrilian Trisdhianto 101111137

GULE KPALA IKAN MAS AGUS
Pendahuluan
Gule Kepala Ikan Mas Agus merupakan salah satu rumah makan dengan menu andalan gule kepala ikan penuh, selama ini testimoni dari pelanggan menyebutkan bahwa menu ini sangat enak, buktinya pengunjung sangat banyak dan semuanya telah mengakui keunggulan rasanya. Usaha ini dikembangkan dari benar-benar nol hingga sekarang sudah memiliki 30 cabang lebih yang tersebar dan mempunyai banyak karyawan.

Pembahasan
Pemilik Usaha Gule Kepala Ikan Mas Agus adalah Ibu Liesmana. Beliau dulu waktu mahasiswa beliau aktif di HMI dan Senat dan selain aktif menjadi mahasiswa beliau juga mulai aktif untuk berbisnis, beliau menjual pakaian batik, dan beberapa bisnis kecil lainnya. sampai akhirnya beliau lulus dan pindah ke Jakarta mengikuti suami. Awalnya bu Lies memang hidup berkecukupan namun pada suatu saat ia terlilit hutang bank dan mulai berpikir jalan keluar yang tepat untuk membuka bisnis dari modal Rp.0 (hanya dibekali selusin piring dari mertuanya) dengan Gule Kepala Ikan Mas Agus. Suaminya bernama Pak Agus dan ia sangat menyukai gule kepala ikan buatan istrinya, sehingga dari sinilah beliau mendapatkan inspirasi nama restorannya. Jenis Bisnis Gule Kepala Ikan Mas Agus adalah Bisnis Kuliner yakni franchise. Omzet yang dihasilkan adalah mencapai Rp10 Juta dan sepuluh persen dari penghasilannya tersebut untuk disedekahkan.

Kiat Sukses Pengusaha ini adalah sebagai berikut:
• Dasar beliau mendirikan usaha adalah mencari ridho Allah SWT dan menyisihkan penghasilan yang didapat untuk sedekah bagi orang yang tidak mampu, termasuk memberi makan anak jalanan.
• Nama restoran yang unik membuat orang-orang tertarik membeli dan mengikat kerjasama usaha franchise dengan beliau.
• Bumbu menu gule kepala ikan sangat enak dan khas, dan hanya satu-satunya restoran yang menyajikan gule kepala ikan lengkap.
Sikap yang membuat pemilik usaha ini sukses adalah sikapnya yang sangat tulus ingin mendapatkan ridho Allah SWT, beliau sangat pasrah dan tidak lupa menyedekahkan penghasilannya untuk fakir miskin dan orang yang tidak mampu. Beliau juga pantang menyerah dengan keadaan awal yang membuat dia seharusnya pailit dan menyerah dengan keadaan. Namun dengan kegigihannya, usaha tersebut dapat dikembangkan dengan sempurna dan mampu meraih keuntungan dan memberikan peluang lapangan kerja bagi banyak orang, tentunya membantu mengurangi angka pengangguran di Indonesia.

Sumber:
http://gulekepalaikan.blogspot.com/
dari narasumber langsung Ibu Lies, owner Gule Kepala Ikan Mas Agus

Masyrifah
Posted on 31st October, 2012

IKM A 2011 kelompok 9 Bergizi
Masyrifah 101111006
Ade Nurma 101111014
Kiki O 101111028
Aida Nailil 101111038
Febby Yustitia 101111048
Malisa Devi 101111089
Aris Sujoko 101111089
Cokorde Dio 101111184

CAMILAN RUMPUT LAUT- TAO KAE NOI
by: Top Ittipat (Thailand)

Usia 26 tahun. Omzet 800 juta Baht (sekitar 235 milyar rupiah) per tahun & mempekerjakan 2.000 staf.

berawal dari bermain game online, lalu mendapat uang dari transaksi game online tsb. Orang tuanya bangkrut dan dililit hutang 40 juta baht,sehingga ia ingin jadi pengusaha. Top jarang masuk kuliah karena mempelajari secara langsung di lapangan bagaimana membangun usaha dari nol. Top tekun dan giat serta berprndirian kukuh. memulai bisnis dari nol, berkali kali gagal/bangkrut ketika mencoba berdagang:
1. berdagang DVD player, ditipu mentah-mentah sebab semua DVD Playernya ternyata barang palsu dan uangnya tidak dapat kembali
2. Jualan Kacang rebus di mall. diusir karena asap mengotori atap mall
3. Jual Rumput laut goreng, inspirasi didapat dari pacarnya.

ia putus kuliah demi memajukan usahanya. Berkali kali ditolak, akhirnya produk Camilan Rumput Laut ini diterima di 7eleven (distributor produk ke seluruh dunia)

kini, produk ini dapat ditemukan di indomaret terdekat. dan tersebar di seluruh Asia.

Top Ittipat : “Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau menyerah habislah sudah.”

Dian Puspitaningtyas L
Posted on 31st October, 2012

Kelompok 13 IKMB 2011
1. Aminatul Fitria 101111218
2. Tony Suwarwoyo 101111219
3. Dian Puspaningtyas 101111220
4. Wigandia febriariska R 101111221
5. Fransisca Anggiyostiana S 101111222
6. Ayu Dwi Klara S 101111223

“Kisah sukses PECEL LELE LELA”

1. Jenis bisnis/ omzet
Pangan , Rumah Makan Pecel Lele Lela yang menjual berbagai makanan olahan yang berbahan dasar ikan lele. Dengan omzet seluruh cabang mencapai Rp 1,8 miliar per bulan.
2. Awal membangun usaha
Lela bukanlah nama istri atau anak-anakku, melainkan singkatan dari Lebih Laku. Oh, ya, kenalkan, namaku Rangga Umara. Meski usiaku tergolong muda, 31 tahun, pahit getirnya membangun usaha sudah kurasakan sejak bertahun-tahun lalu, sebelum akhirnya RM Pecel Lele Lela dikenal luas. RM ini kudirikan sejak Desember 2006. Bolehlah kini dibilang sukses. Sebab, aku telah melewati masa - masa sulit. Karena itu, aku lebih bisa menghargai jerih payahku, menghargai hidup dan orang lain
Sebelum di-PHK dari jabatan manajer di sebuah perusahaan, Rangga Umara (31) memilih jualan pecel lele di pinggir jalan. Modal cekak membuat ia terjerat hutang renternir. Bagaimana jatuh-bangun Rangga membangun usaha bisnis RM Pecel Lele Lela
.
Nekat Wira¬usaha
Aku bertekad ingin membuka usaha sendiri. Aku memilih membuka warung seafood seperti yang banyak ditemukan di kaki lima. Modalku hanya Rp 3 juta.
Sampai suatu hari, aku mendatangi sebuah rumah makan semi permanen di kawasan tempat makan, masih di kawasan Pondok Kelapa. Seperti yang lain, pemilik rumah makan ini juga menolak tawaran kerjasamaku. Ia justru menawariku membeli peralatan rumah makannya yang hendak ia tutup lantaran sepi pembeli. Aku menolak, karena tak punya uang. Akhirnya, ia menawarkan sewa tempat seharga Rp 1 juta per bulan. Aku pun setuju.
Mirip Pisang Goreng
Bulan pertama buka usaha, mulai tampak hasilnya. Pembeli mulai berdatangan. Aku tahu, usaha yang bisa sukses dan bertahan adalah usaha yang punya spesialisasi. Kuputuskan untuk berjualan pecel lele, makanan favoritku sejak kuliah. Ya, semasa kuliah dulu, aku rajin berburu warung pecel lele yang enak. Kupikir, orang yang khusus berjualan makanan dari lele belum ada.
Terjebak Rentenir
Tahu usahaku laris, pemilik rumah makan menaikkan biaya sewa jadi dua kali lipat, yaitu Rp 2 juta per bulan. Aku mulai merasa seolah-olah bekerja untuk orang lain karena hasil yang kuraih hanya untuk membayar sewa tempat.
3. Strategi / kiat-kiat sukses pengusaha
Gratis Makan
Inovasi juga harus jadi kebiasaan, selain terus meningkatkan kualitas dan pencitraan Pecel Lele Lela. Kini, ada banyak pilihan menu lele di Pecel Lele Lela. Untuk menarik hati pembeli, Pecel Lele Lela juga menggratiskan hidangannya bagi pembeli yang berulang tahun di hari kedatangannya. Dan, pembeli bernama Lela juga akan mendapat keistimewaan berupa makan gratis seumur hidup. Menarik, bukan?
Para karyawan juga punya andil besar. Itu sebabnya, penting bagiku membuat mereka betah dan bekerja dengan hati. Sebagai penghargaan, tak jarang mereka kutraktir makan di restoran lain. Jika hati senang, mereka juga pasti akan bekerja dengan semangat.
4. Attitude/sikap/ciri-ciri yang membuat pengusaha tersebut sukses
Prinsip pengusaha ini, sejak memulai usaha adalah selalu mengawali sesuatu dengan akhir yang positif. Maksudnya, aku selalu memikirkan bagaimana nanti kalau usahaku sukses, bukan sebaliknya. Dengan demikian, Rangga selalu optimis.

Pecel Lele Lela yang pertama dan satu-satunya memberikan nilai tambah pada usaha pecel lele, sehingga Pecel Lele Lela sangat Optimis dan Yakin Pecel Lele Lela akan menjadi Pionir serta Pemimpin pasar usaha pecel lele modern di Indonesia. Sesuai mottonya, “Bersama Kami PECEL LELE AKAN MENDUNIA”
Pengusaha juga memiliki visi misi yang mencerminkan sikap kesuksesan
Visi
• Menjadi Brand Nasional dan Pemimpin pasar usaha pecel lele modern di Indonesia
• Menjadi Brand Nasional kebanggaan Indonesia, dan memberikaan manfaat yang seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat, mitra usaha dan karyawan
• Membawa makanan tradisional khas Indonesia pada dunia internasional
Misi
• Menyediakan berbagai variasi produk hidangan lele yang enak dan unik
• Memberikan kualitas pelayanan yang sangat baik, dengan mengutamakan QSV = Quality, Service & Value
• Senantiasa berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan dan mitra usaha

Sumber:
http://www.iftfishing.com/city/featured/kuliner2/resto/pecel-lele-lela
http://www.tabloidnova.com/

Dian Puspitaningtyas
Posted on 31st October, 2012

*REVISI

Kelompok 13 IKMB 2011
1. Aminatul Fitria 101111218
2. Tony Suwarwoyo 101111219
3. Dian Puspaningtyas 101111220
4. Wigandia febriariska R 101111221
5. Fransisca Anggiyostiana S 101111222
6. Ayu Dwi Klara S 101111223
7. Puspita Ayu Ramadhani 101111224
8. Syaifuddin Ariyo Nugroho 101111225
9. Ika Nurul Afifah 101111226
“Kisah sukses PECEL LELE LELA”
1. Jenis bisnis/ omzet
Pangan , Rumah Makan Pecel Lele Lela yang menjual berbagai makanan olahan yang berbahan dasar ikan lele. Dengan omzet seluruh cabang mencapai Rp 1,8 miliar per bulan.
2. Awal membangun usaha
Lela bukanlah nama istri atau anak-anakku, melainkan singkatan dari Lebih Laku. Oh, ya, kenalkan, namaku Rangga Umara. Meski usiaku tergolong muda, 31 tahun, pahit getirnya membangun usaha sudah kurasakan sejak bertahun-tahun lalu, sebelum akhirnya RM Pecel Lele Lela dikenal luas. RM ini kudirikan sejak Desember 2006. Bolehlah kini dibilang sukses. Sebab, aku telah melewati masa - masa sulit. Karena itu, aku lebih bisa menghargai jerih payahku, menghargai hidup dan orang lain
Sebelum di-PHK dari jabatan manajer di sebuah perusahaan, Rangga Umara (31) memilih jualan pecel lele di pinggir jalan. Modal cekak membuat ia terjerat hutang renternir. Bagaimana jatuh-bangun Rangga membangun usaha bisnis RM Pecel Lele Lela
.
Nekat Wira¬usaha
Aku bertekad ingin membuka usaha sendiri. Aku memilih membuka warung seafood seperti yang banyak ditemukan di kaki lima. Modalku hanya Rp 3 juta.
Sampai suatu hari, aku mendatangi sebuah rumah makan semi permanen di kawasan tempat makan, masih di kawasan Pondok Kelapa. Seperti yang lain, pemilik rumah makan ini juga menolak tawaran kerjasamaku. Ia justru menawariku membeli peralatan rumah makannya yang hendak ia tutup lantaran sepi pembeli. Aku menolak, karena tak punya uang. Akhirnya, ia menawarkan sewa tempat seharga Rp 1 juta per bulan. Aku pun setuju.
Mirip Pisang Goreng
Bulan pertama buka usaha, mulai tampak hasilnya. Pembeli mulai berdatangan. Aku tahu, usaha yang bisa sukses dan bertahan adalah usaha yang punya spesialisasi. Kuputuskan untuk berjualan pecel lele, makanan favoritku sejak kuliah. Ya, semasa kuliah dulu, aku rajin berburu warung pecel lele yang enak. Kupikir, orang yang khusus berjualan makanan dari lele belum ada.
Terjebak Rentenir
Tahu usahaku laris, pemilik rumah makan menaikkan biaya sewa jadi dua kali lipat, yaitu Rp 2 juta per bulan. Aku mulai merasa seolah-olah bekerja untuk orang lain karena hasil yang kuraih hanya untuk membayar sewa tempat.
3. Strategi / kiat-kiat sukses pengusaha
Gratis Makan
Inovasi juga harus jadi kebiasaan, selain terus meningkatkan kualitas dan pencitraan Pecel Lele Lela. Kini, ada banyak pilihan menu lele di Pecel Lele Lela. Untuk menarik hati pembeli, Pecel Lele Lela juga menggratiskan hidangannya bagi pembeli yang berulang tahun di hari kedatangannya. Dan, pembeli bernama Lela juga akan mendapat keistimewaan berupa makan gratis seumur hidup. Menarik, bukan?
Para karyawan juga punya andil besar. Itu sebabnya, penting bagiku membuat mereka betah dan bekerja dengan hati. Sebagai penghargaan, tak jarang mereka kutraktir makan di restoran lain. Jika hati senang, mereka juga pasti akan bekerja dengan semangat.
4. Attitude/sikap/ciri-ciri yang membuat pengusaha tersebut sukses
Prinsip pengusaha ini, sejak memulai usaha adalah selalu mengawali sesuatu dengan akhir yang positif. Maksudnya, aku selalu memikirkan bagaimana nanti kalau usahaku sukses, bukan sebaliknya. Dengan demikian, Rangga selalu optimis.

Pecel Lele Lela yang pertama dan satu-satunya memberikan nilai tambah pada usaha pecel lele, sehingga Pecel Lele Lela sangat Optimis dan Yakin Pecel Lele Lela akan menjadi Pionir serta Pemimpin pasar usaha pecel lele modern di Indonesia. Sesuai mottonya, “Bersama Kami PECEL LELE AKAN MENDUNIA”
Pengusaha juga memiliki visi misi yang mencerminkan sikap kesuksesan
Visi
• Menjadi Brand Nasional dan Pemimpin pasar usaha pecel lele modern di Indonesia
• Menjadi Brand Nasional kebanggaan Indonesia, dan memberikaan manfaat yang seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat, mitra usaha dan karyawan
• Membawa makanan tradisional khas Indonesia pada dunia internasional
Misi
• Menyediakan berbagai variasi produk hidangan lele yang enak dan unik
• Memberikan kualitas pelayanan yang sangat baik, dengan mengutamakan QSV = Quality, Service & Value
• Senantiasa berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan dan mitra usaha

Sumber:
http://www.iftfishing.com/city/featured/kuliner2/resto/pecel-lele-lela
http://www.tabloidnova.com/

NAMA KELOMPOK 12 IKMA 2011 1. Amanda Fairuz Hikmiyah 101111008 2. Marta Laili Ramadany 101111032 3. Stevie Yonara 101111036 4. Hidayatush Sholiha 101111052 5. Iraida Irviana 101111067 6. Khoirun Nikmah 101111076 7. Rizqal Hadiy
Posted on 1st November, 2012

KISAH SUKSES KEBAB TURKI BABA RAFI

Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil produk dari PT. Baba Rafi Indonesia yang bergerak di bisnis waralaba. Hendy Setiono adalah founder sekaligus saat ini menjabat sebagai presiden direktur. Sebelum memulai usaha ini di tahun 2003, beliau adalah seorang mahasiswa ITS Surabaya. Pada semester ke 2, ia mulai membuka usaha berjualan kebab, makanan khas Timur Tengah. Ide ini ia dapat ketika mengunjungi orang tuanya di Qatar dengan ongkos dari uang tabungannya untuk pergi kesana. Ia memilih nama Baba Rafi karena terinspirasi dari nama putra pertamanya, yaitu Rafi. Sementara Baba artinya adalah ayah.

Kisah Awal Kebab Turki Baba Rafi
Modal pertama usaha adalah empat juta rupiah yang merupakan pinjaman dari adik perempuannya. Hendy memulai usaha kebab dengan menggunakan gerobak yang menyerupai gerobak roti bakar. Pada mulanya, harga jual kebab yang ditetapkan ketika itu juga hanya mengacu pada sekelumit analisis sederhana saja karena pada saat itu beliau belum memiliki rumus pasti dalam menentukan harga jual. Namun disadarinya bahwa semakin usaha ini berjalan, semakin pentingnya pembuatan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berorientasi pada biaya produksi yang dikeluarkan. Di awal ketika Hendy mencoba memulai usaha ini, ia merasakan adanya tantangan yang cukup berat, dimana ia harus mampu mengedukasi market yang ketika itu posisinya adalah belum seberapa mengetahui makanan kebab.
Outlet pertama Kebab Turki Baba Rafi dibuka di Surabaya. Ketika usaha ini sudah mulai berjalan, Hendy tak mau setengah-setengah, ia nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Hal itu juga membuat dirinya tidak jarang menerima olok-olok, bahkan ia juga sempat mendapatkan tentangan dari orangtuanya. Namun semua hal itu justru dijadikan motivasi oleh Hendy, ia ingin membuktikan bahwa keputusannya itu tepat. Ia sangat yakin dengan intuisi bisnisnya, walaupun ketika itu dia tidak memiliki modal.

Perjalanan Kebab Turki Baba Rafi
Dalam perjalannya Hendy mengalami berbagai problematika. Di tengah niatnya untuk membuktikan bahwa keputusannya untuk berhenti kuliah, ia terus dihantui dengan kegagalan usaha, penolakan, kerugian, hingga harus ada counter yang harus ditutup, Namun ia terus menguatkan mentalnya. Bagi Hendy, gagal adalah teman dari kesuksesan, tidak ada seorangpun yang sukses tanpa pernah gagal, “Bagi saya gagal bukanlah suatu hal yang menakutkan tetapi suatu proses untuk menuju jalan kesuksesan”. Ini dikatakannya karena pada saat itu ia pernah membangun 14 usaha yang 8 diantaranya gagal tetapi menurutnya itu adalah proses yang harus dipelajari, apa penyebab kegagalannya, dimana letak kesalahannya, dan harus terus diperbaiki di kemudian hari agar kita bisa menjadi lebih baik.
Setiap usaha pasti di hadapkan pada cobaan dan tantangan,jadi tidak perlu takut manghadapinya. Dalam setiap permasalahn harus dapat mengambil hikmah dari cobaan itu sendiri agar dapat mengatasi apabila dihadapi kembali. Sifat cepat puas harus dihindari dalam melakukan usaha, selagi muda kejar impian setinggi langit raih semu yang bisa kita raih. Belajar dari orang-orang yang sukses mengelolah usaha, sebagai reprensi dalam berusaha agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan meniru kiat-kiat suksesnya dalam memulai usaha. Hendy menambahkan pentingnya berinovasi, karena selama merintis bisnisnya ini, ia juga terus berusaha melakukan inovasi-inovasi yang baru. Hendy mengartikan inovasi adalah adaptasi menuju perubahan, dan satu langkah lebih maju yang merupakan kunci menghadapi kegagalan, “saat ini banyak orang yang latah dalam berbisnis dengan konsep meniru, tentu yang seperti ini tidak bisa menjadi market leader”, terang pria yang hobi traveling dan makan ini.
Tindakan berani mengambil resiko, segala sesuatu kita memualai apapun pasti ada resikonya jadi kita harus siap dan memikrkan untuk mengatasi resiko itu tersebut. Harus memiliki visi yang besar dalam memulai usaha agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dikatakannya lagi, di awal perjalanan bisnisnya, ia benar-benar terus melatih mentalnya menjadi lebih kuat. Berbagai kegagalan dan kesulitan yang dialaminya telah membentuk mentalnya menjadi kuat.“Jadi yang harus dimiliki dalam suatu usaha yang sukses adalah mental yang kuat dari para pelakunya, itu kuncinya” tegas pria yang terinspirasi oleh Anies Baswedan ini.

Kebab Turki Baba Rafi Saat Ini
Dalam jatuh bangun perjalanan bisnisnya, dan berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, setelah 4 tahun berjalan Kebab Turki Baba Rafi coba dikembangkan oleh Hendy dalam bentuk waralaba. Dan strategi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar, ia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang sebanyak 100 gerai di 16 kota. Gerobak yang tadinya hanya gerobak biasa, sekarang sudah berevolusi dengan menggunakan bahan terbaik dan desain dengan warna yang menarik sehingga “eye catching” dan menarik minat para pembeli untuk membeli kebab turki Baba Rafi.
Kendala di awal usahanya dulu terletak pada sulitnya menjaga kualitas (standar) daging sapinya karena masih memproduksi sendiri. Kini, bekerjasama dgn PT Belfoods Indonesia, Hendy tak perlu kuatir dgn produksi daging untuk kebab, karena sudah ditangani oleh ahlinya. Sebab PT Belfoods Indonesia telah memenuhi standar yg telah dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan makanan (BPOM) dan memiliki sertifikat MUI. Menu andalan Kebab Turki Baba Rafi adalah kebab yg dijual dgn harga Rp 12.000. Selain itu juga ada menu hotdog seharga Rp 10.000, beef burger Rp 9.500, dan menu lainnya.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada tahun 2011, gerai kebab Baba Rafi telah mencapai 750 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, yang sebagian juga bekerjasama dengan franchisee. Total jumlah karyawan Baba Rafi saat ini total semuanya berjumlah 2400 orang ( karyawan tetap + dari supplier ). Dengan karyawan sebanyak itu, beliau menjadi terpacu untuk melakukan semua hal yang terbaik bagi kemajuan diri dan usahanya.
Apabila dihitung-hitung, Kebab Baba Rafi sudah meraup untung yang sangat menggiurkan, bila ada 750 gerai saat ini dan menurut Hendy setiap gerai menghasilkan profit bersih sebanyak 3 juta rupiah perbulan. Maka Rp.3.000.000 X 750 gerai = 2,25 M keuntungan perusahaannya per bulan. Walaupun sudah sukses seperti sekarang ini, namun Hendy masih belum mau berhenti belajar, terbukti di sela-sela kesibukannya menjalankan bisnis kebab turki Baba Rafi, ia menyempatkan untuk pergi keluar negeri untuk mencari ilmu dalam konferensi atau seminar yang dilakoninya untuk diserap ilmunya kemudian ia aplikasikan ilmu itu dalam berbisnis.

DAFTAR PUSTAKA

Juni, Delima. 2010. Kebab Turki Baba Rafi. Viewed 29 October 2012.
Candra Budiman, Teguh. 2010. INDUSTRI KREATIF. Viewed 29 October 2012.
Dewi, Taman. 2012. Kesuksesan Hendy Kebab Turki Baba Rafi. Viewed 26 Oktober 2012.
Jaya Web. 2012. Kebab Turki Ala Baba Rafi. Viewed 26 Oktober 2012.

NAMA KELOMPOK 12 IKMA 2011 1.Amanda Fairuz Hikmiyah 101111008 2.Marta Laili Ramadany 101111032 3. Stevie Yonara 101111036 4. Hidayatush Sholiha 101111052 5. Iraida Irviana 101111067 6. Khoirun Nikmah 101111076 7. Rizqal Hadiy Satryo 10111109
Posted on 1st November, 2012

KISAH SUKSES KEBAB TURKI BABA RAFI
Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil produk dari PT. Baba Rafi Indonesia yang bergerak di bisnis waralaba. Hendy Setiono adalah founder sekaligus saat ini menjabat sebagai presiden direktur. Sebelum memulai usaha ini di tahun 2003, beliau adalah seorang mahasiswa ITS Surabaya. Pada semester ke 2, ia mulai membuka usaha berjualan kebab, makanan khas Timur Tengah. Ide ini ia dapat ketika mengunjungi orang tuanya di Qatar dengan ongkos dari uang tabungannya untuk pergi kesana. Ia memilih nama Baba Rafi karena terinspirasi dari nama putra pertamanya, yaitu Rafi. Sementara Baba artinya adalah ayah.

Kisah Awal Kebab Turki Baba Rafi
Modal pertama usaha adalah empat juta rupiah yang merupakan pinjaman dari adik perempuannya. Hendy memulai usaha kebab dengan menggunakan gerobak yang menyerupai gerobak roti bakar. Pada mulanya, harga jual kebab yang ditetapkan ketika itu juga hanya mengacu pada sekelumit analisis sederhana saja karena pada saat itu beliau belum memiliki rumus pasti dalam menentukan harga jual. Namun disadarinya bahwa semakin usaha ini berjalan, semakin pentingnya pembuatan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berorientasi pada biaya produksi yang dikeluarkan. Di awal ketika Hendy mencoba memulai usaha ini, ia merasakan adanya tantangan yang cukup berat, dimana ia harus mampu mengedukasi market yang ketika itu posisinya adalah belum seberapa mengetahui makanan kebab.
Outlet pertama Kebab Turki Baba Rafi dibuka di Surabaya. Ketika usaha ini sudah mulai berjalan, Hendy tak mau setengah-setengah, ia nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Hal itu juga membuat dirinya tidak jarang menerima olok-olok, bahkan ia juga sempat mendapatkan tentangan dari orangtuanya. Namun semua hal itu justru dijadikan motivasi oleh Hendy, ia ingin membuktikan bahwa keputusannya itu tepat. Ia sangat yakin dengan intuisi bisnisnya, walaupun ketika itu dia tidak memiliki modal.

Perjalanan Kebab Turki Baba Rafi
Dalam perjalannya Hendy mengalami berbagai problematika. Di tengah niatnya untuk membuktikan bahwa keputusannya untuk berhenti kuliah, ia terus dihantui dengan kegagalan usaha, penolakan, kerugian, hingga harus ada counter yang harus ditutup, Namun ia terus menguatkan mentalnya. Bagi Hendy, gagal adalah teman dari kesuksesan, tidak ada seorangpun yang sukses tanpa pernah gagal, “Bagi saya gagal bukanlah suatu hal yang menakutkan tetapi suatu proses untuk menuju jalan kesuksesan”. Ini dikatakannya karena pada saat itu ia pernah membangun 14 usaha yang 8 diantaranya gagal tetapi menurutnya itu adalah proses yang harus dipelajari, apa penyebab kegagalannya, dimana letak kesalahannya, dan harus terus diperbaiki di kemudian hari agar kita bisa menjadi lebih baik.
Setiap usaha pasti di hadapkan pada cobaan dan tantangan,jadi tidak perlu takut manghadapinya. Dalam setiap permasalahn harus dapat mengambil hikmah dari cobaan itu sendiri agar dapat mengatasi apabila dihadapi kembali. Sifat cepat puas harus dihindari dalam melakukan usaha, selagi muda kejar impian setinggi langit raih semu yang bisa kita raih. Belajar dari orang-orang yang sukses mengelolah usaha, sebagai reprensi dalam berusaha agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan meniru kiat-kiat suksesnya dalam memulai usaha. Hendy menambahkan pentingnya berinovasi, karena selama merintis bisnisnya ini, ia juga terus berusaha melakukan inovasi-inovasi yang baru. Hendy mengartikan inovasi adalah adaptasi menuju perubahan, dan satu langkah lebih maju yang merupakan kunci menghadapi kegagalan, “saat ini banyak orang yang latah dalam berbisnis dengan konsep meniru, tentu yang seperti ini tidak bisa menjadi market leader”, terang pria yang hobi traveling dan makan ini.
Tindakan berani mengambil resiko, segala sesuatu kita memualai apapun pasti ada resikonya jadi kita harus siap dan memikrkan untuk mengatasi resiko itu tersebut. Harus memiliki visi yang besar dalam memulai usaha agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dikatakannya lagi, di awal perjalanan bisnisnya, ia benar-benar terus melatih mentalnya menjadi lebih kuat. Berbagai kegagalan dan kesulitan yang dialaminya telah membentuk mentalnya menjadi kuat.“Jadi yang harus dimiliki dalam suatu usaha yang sukses adalah mental yang kuat dari para pelakunya, itu kuncinya” tegas pria yang terinspirasi oleh Anies Baswedan ini.

Kebab Turki Baba Rafi Saat Ini
Dalam jatuh bangun perjalanan bisnisnya, dan berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, setelah 4 tahun berjalan Kebab Turki Baba Rafi coba dikembangkan oleh Hendy dalam bentuk waralaba. Dan strategi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar, ia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang sebanyak 100 gerai di 16 kota. Gerobak yang tadinya hanya gerobak biasa, sekarang sudah berevolusi dengan menggunakan bahan terbaik dan desain dengan warna yang menarik sehingga “eye catching” dan menarik minat para pembeli untuk membeli kebab turki Baba Rafi.
Kendala di awal usahanya dulu terletak pada sulitnya menjaga kualitas (standar) daging sapinya karena masih memproduksi sendiri. Kini, bekerjasama dgn PT Belfoods Indonesia, Hendy tak perlu kuatir dgn produksi daging untuk kebab, karena sudah ditangani oleh ahlinya. Sebab PT Belfoods Indonesia telah memenuhi standar yg telah dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan makanan (BPOM) dan memiliki sertifikat MUI. Menu andalan Kebab Turki Baba Rafi adalah kebab yg dijual dgn harga Rp 12.000. Selain itu juga ada menu hotdog seharga Rp 10.000, beef burger Rp 9.500, dan menu lainnya.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada tahun 2011, gerai kebab Baba Rafi telah mencapai 750 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, yang sebagian juga bekerjasama dengan franchisee. Total jumlah karyawan Baba Rafi saat ini total semuanya berjumlah 2400 orang ( karyawan tetap + dari supplier ). Dengan karyawan sebanyak itu, beliau menjadi terpacu untuk melakukan semua hal yang terbaik bagi kemajuan diri dan usahanya.
Apabila dihitung-hitung, Kebab Baba Rafi sudah meraup untung yang sangat menggiurkan, bila ada 750 gerai saat ini dan menurut Hendy setiap gerai menghasilkan profit bersih sebanyak 3 juta rupiah perbulan. Maka Rp.3.000.000 X 750 gerai = 2,25 M keuntungan perusahaannya per bulan. Walaupun sudah sukses seperti sekarang ini, namun Hendy masih belum mau berhenti belajar, terbukti di sela-sela kesibukannya menjalankan bisnis kebab turki Baba Rafi, ia menyempatkan untuk pergi keluar negeri untuk mencari ilmu dalam konferensi atau seminar yang dilakoninya untuk diserap ilmunya kemudian ia aplikasikan ilmu itu dalam berbisnis.

DAFTAR PUSTAKA

Juni, Delima. 2010. Kebab Turki Baba Rafi. Viewed 29 October 2012.

Candra Budiman, Teguh. 2010. INDUSTRI KREATIF. Viewed 29 October 2012.

Dewi, Taman. 2012. Kesuksesan Hendy Kebab Turki Baba Rafi. Viewed 26 Oktober 2012.

Jaya Web. 2012. Kebab Turki Ala Baba Rafi. Viewed 26 Oktober 2012.

ANDREAS DWI RIZKO NUGROHO
Posted on 1st November, 2012

NAMA KELOMPOK 12 IKMA 2011

1.Amanda Fairuz Hikmiyah 101111008
2.Marta Laili Ramadany 101111032
3.Stevie Yonara 101111036
4.Hidayatush Sholiha 101111052
5.Iraida Irviana 101111067
6.Khoirun Nikmah 101111076
7.Rizqal Hadiy Satryo 101111090
8.Andreas Dwi Rizko N. 101111180

KISAH SUKSES KEBAB TURKI BABA RAFI

Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil produk dari PT. Baba Rafi Indonesia yang bergerak di bisnis waralaba. Hendy Setiono adalah founder sekaligus saat ini menjabat sebagai presiden direktur. Sebelum memulai usaha ini di tahun 2003, beliau adalah seorang mahasiswa ITS Surabaya. Pada semester ke 2, ia mulai membuka usaha berjualan kebab, makanan khas Timur Tengah. Ide ini ia dapat ketika mengunjungi orang tuanya di Qatar dengan ongkos dari uang tabungannya untuk pergi kesana. Ia memilih nama Baba Rafi karena terinspirasi dari nama putra pertamanya, yaitu Rafi. Sementara Baba artinya adalah ayah.

Kisah Awal Kebab Turki Baba Rafi
Modal pertama usaha adalah empat juta rupiah yang merupakan pinjaman dari adik perempuannya. Hendy memulai usaha kebab dengan menggunakan gerobak yang menyerupai gerobak roti bakar. Pada mulanya, harga jual kebab yang ditetapkan ketika itu juga hanya mengacu pada sekelumit analisis sederhana saja karena pada saat itu beliau belum memiliki rumus pasti dalam menentukan harga jual. Namun disadarinya bahwa semakin usaha ini berjalan, semakin pentingnya pembuatan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berorientasi pada biaya produksi yang dikeluarkan. Di awal ketika Hendy mencoba memulai usaha ini, ia merasakan adanya tantangan yang cukup berat, dimana ia harus mampu mengedukasi market yang ketika itu posisinya adalah belum seberapa mengetahui makanan kebab.
Outlet pertama Kebab Turki Baba Rafi dibuka di Surabaya. Ketika usaha ini sudah mulai berjalan, Hendy tak mau setengah-setengah, ia nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Hal itu juga membuat dirinya tidak jarang menerima olok-olok, bahkan ia juga sempat mendapatkan tentangan dari orangtuanya. Namun semua hal itu justru dijadikan motivasi oleh Hendy, ia ingin membuktikan bahwa keputusannya itu tepat. Ia sangat yakin dengan intuisi bisnisnya, walaupun ketika itu dia tidak memiliki modal.

Perjalanan Kebab Turki Baba Rafi
Dalam perjalannya Hendy mengalami berbagai problematika. Di tengah niatnya untuk membuktikan bahwa keputusannya untuk berhenti kuliah, ia terus dihantui dengan kegagalan usaha, penolakan, kerugian, hingga harus ada counter yang harus ditutup, Namun ia terus menguatkan mentalnya. Bagi Hendy, gagal adalah teman dari kesuksesan, tidak ada seorangpun yang sukses tanpa pernah gagal, “Bagi saya gagal bukanlah suatu hal yang menakutkan tetapi suatu proses untuk menuju jalan kesuksesan”. Ini dikatakannya karena pada saat itu ia pernah membangun 14 usaha yang 8 diantaranya gagal tetapi menurutnya itu adalah proses yang harus dipelajari, apa penyebab kegagalannya, dimana letak kesalahannya, dan harus terus diperbaiki di kemudian hari agar kita bisa menjadi lebih baik.
Setiap usaha pasti di hadapkan pada cobaan dan tantangan,jadi tidak perlu takut manghadapinya. Dalam setiap permasalahn harus dapat mengambil hikmah dari cobaan itu sendiri agar dapat mengatasi apabila dihadapi kembali. Sifat cepat puas harus dihindari dalam melakukan usaha, selagi muda kejar impian setinggi langit raih semu yang bisa kita raih. Belajar dari orang-orang yang sukses mengelolah usaha, sebagai reprensi dalam berusaha agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan meniru kiat-kiat suksesnya dalam memulai usaha. Hendy menambahkan pentingnya berinovasi, karena selama merintis bisnisnya ini, ia juga terus berusaha melakukan inovasi-inovasi yang baru. Hendy mengartikan inovasi adalah adaptasi menuju perubahan, dan satu langkah lebih maju yang merupakan kunci menghadapi kegagalan, “saat ini banyak orang yang latah dalam berbisnis dengan konsep meniru, tentu yang seperti ini tidak bisa menjadi market leader”, terang pria yang hobi traveling dan makan ini.
Tindakan berani mengambil resiko, segala sesuatu kita memualai apapun pasti ada resikonya jadi kita harus siap dan memikrkan untuk mengatasi resiko itu tersebut. Harus memiliki visi yang besar dalam memulai usaha agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dikatakannya lagi, di awal perjalanan bisnisnya, ia benar-benar terus melatih mentalnya menjadi lebih kuat. Berbagai kegagalan dan kesulitan yang dialaminya telah membentuk mentalnya menjadi kuat.“Jadi yang harus dimiliki dalam suatu usaha yang sukses adalah mental yang kuat dari para pelakunya, itu kuncinya” tegas pria yang terinspirasi oleh Anies Baswedan ini.

Kebab Turki Baba Rafi Saat Ini
Dalam jatuh bangun perjalanan bisnisnya, dan berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, setelah 4 tahun berjalan Kebab Turki Baba Rafi coba dikembangkan oleh Hendy dalam bentuk waralaba. Dan strategi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar, ia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang sebanyak 100 gerai di 16 kota. Gerobak yang tadinya hanya gerobak biasa, sekarang sudah berevolusi dengan menggunakan bahan terbaik dan desain dengan warna yang menarik sehingga “eye catching” dan menarik minat para pembeli untuk membeli kebab turki Baba Rafi.
Kendala di awal usahanya dulu terletak pada sulitnya menjaga kualitas (standar) daging sapinya karena masih memproduksi sendiri. Kini, bekerjasama dgn PT Belfoods Indonesia, Hendy tak perlu kuatir dgn produksi daging untuk kebab, karena sudah ditangani oleh ahlinya. Sebab PT Belfoods Indonesia telah memenuhi standar yg telah dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan makanan (BPOM) dan memiliki sertifikat MUI. Menu andalan Kebab Turki Baba Rafi adalah kebab yg dijual dgn harga Rp 12.000. Selain itu juga ada menu hotdog seharga Rp 10.000, beef burger Rp 9.500, dan menu lainnya.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada tahun 2011, gerai kebab Baba Rafi telah mencapai 750 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, yang sebagian juga bekerjasama dengan franchisee. Total jumlah karyawan Baba Rafi saat ini total semuanya berjumlah 2400 orang ( karyawan tetap + dari supplier ). Dengan karyawan sebanyak itu, beliau menjadi terpacu untuk melakukan semua hal yang terbaik bagi kemajuan diri dan usahanya.
Apabila dihitung-hitung, Kebab Baba Rafi sudah meraup untung yang sangat menggiurkan, bila ada 750 gerai saat ini dan menurut Hendy setiap gerai menghasilkan profit bersih sebanyak 3 juta rupiah perbulan. Maka Rp.3.000.000 X 750 gerai = 2,25 M keuntungan perusahaannya per bulan. Walaupun sudah sukses seperti sekarang ini, namun Hendy masih belum mau berhenti belajar, terbukti di sela-sela kesibukannya menjalankan bisnis kebab turki Baba Rafi, ia menyempatkan untuk pergi keluar negeri untuk mencari ilmu dalam konferensi atau seminar yang dilakoninya untuk diserap ilmunya kemudian ia aplikasikan ilmu itu dalam berbisnis.

DAFTAR PUSTAKA

Juni, Delima. 2010. Kebab Turki Baba Rafi. Viewed 29 October 2012.

Candra Budiman, Teguh. 2010. INDUSTRI KREATIF. Viewed 29 October 2012.

Dewi, Taman. 2012. Kesuksesan Hendy Kebab Turki Baba Rafi. Viewed 26 Oktober 2012.

Jaya Web. 2012. Kebab Turki Ala Baba Rafi. Viewed 26 Oktober 2012.

Eka Puspita Sindi Amaliasari
Posted on 1st November, 2012

Kelompok 14 Dasar Ilmu Gizi IKMA 2011
101111024 Charisma Arianti
101111060 Eka Puspita Sindi Amaliasari
101111071 Esa Karunia
100810329 Moh Ali Afandi
101111105 Oky Nor Sahana
101111101 Sovranita Liesti Jat
Kepiting Cak Gundul
By Machsun
Kepiting Cak Gundul merupakan salah satu wirausaha di bidang kuliner yang terkenal yang telah memiliki banyak cabang di kota – kota besar dengan laba 250 juta rupiah per bulan. Usaha ini dimulai dari tahun 1992 yang berawal di kota Pasuruan Jatim, namun kini telah memiliki empat cabang yakni Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Pada saat memulai usaha, kondisinya masih sederhana, yaitu ia membuka warung kaki lima. Dahulu pada saat warung tutup, dia dan istrinya tidur di kos an dengan beralaskan Koran.
Machsun adalah sosok yang ulet. Sebelum 1992, setelah sempat bekerja di sebuah rumah makan dan berhenti, ia membuka warung seafood kaki lima di Surabaya. Tapi usaha itu tak berlangsung lama karena bangkrut. Namun, pria asal Porong, Sidoarjo itu pantang menyerah. Ia lalu mencari lokasi lain di Pandaan. Dengan modal pas-pasan, hasil menjual perhiasan Saroh, sang istri, ia mencoba merintis kembali warung seafood kaki limanya.
Agar brand warung seafoodnya cepat dikenal, Machsun mencari nama unik untuk warungnya dan akhirnya memlih “Cak Gundul”, nama ini menyesuaikan dengan keadaan fisiknya yang plontos.
Pasokan kepiting pun Machsun tak hanya mengandalkan dari Sidoarjo dan sekitarnya saja, bahkan sampai harus mendatangkan dari Papua, Kalimantan dan Sulawesi. Terutama jenis supercrab, yang satu ekornya mencapai berat 2 kilogram, itu tidak ada di Jawa. Untuk menjaga mutu, Machsun tetap mengirim pasokan kepiting ke setiap cabangnya lewat jalan darat untuk kawasan Jateng, dan kargo udara untuk cabang yang ada di Jakarta. Bila sedang ramai pengunjung, Machsun bisa membutuhkan hingga 4 ton kepiting per bulan. Per porsi menu kepiting kecil harganya Rp 120 ribul, sedangkan untuk jenis supercrab, harganya Rp 350 ribu.

Sumber: http://m.tabloidnova.com/layout/set/print/Nova/News/Peristiwa/Sukses-Bisnis-Kuliner-2

ANDREAS DWI RIZKO NUGROHO
Posted on 1st November, 2012

NAMA KELOMPOK 12 IKMA 2011

1.Amanda Fairuz Hikmiyah 101111008
2.Marta Laili Ramadany 101111032
3.Stevie Yonara 101111036
4.Hidayatush Sholiha 101111052
5.Iraida Irviana 101111067
6.Khoirun Nikmah 101111076
7.Rizqal Hadiy Satryo 101111090
8.Andreas Dwi Rizko N. 101111180

KISAH SUKSES KEBAB TURKI BABA RAFI

Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil produk dari PT. Baba Rafi Indonesia yang bergerak di bisnis waralaba. Hendy Setiono adalah founder sekaligus saat ini menjabat sebagai presiden direktur. Sebelum memulai usaha ini di tahun 2003, beliau adalah seorang mahasiswa ITS Surabaya. Pada semester ke 2, ia mulai membuka usaha berjualan kebab, makanan khas Timur Tengah. Ide ini ia dapat ketika mengunjungi orang tuanya di Qatar dengan ongkos dari uang tabungannya untuk pergi kesana. Ia memilih nama Baba Rafi karena terinspirasi dari nama putra pertamanya, yaitu Rafi. Sementara Baba artinya adalah ayah.

Kisah Awal Kebab Turki Baba Rafi
Modal pertama usaha adalah empat juta rupiah yang merupakan pinjaman dari adik perempuannya. Hendy memulai usaha kebab dengan menggunakan gerobak yang menyerupai gerobak roti bakar. Pada mulanya, harga jual kebab yang ditetapkan ketika itu juga hanya mengacu pada sekelumit analisis sederhana saja karena pada saat itu beliau belum memiliki rumus pasti dalam menentukan harga jual. Namun disadarinya bahwa semakin usaha ini berjalan, semakin pentingnya pembuatan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berorientasi pada biaya produksi yang dikeluarkan. Di awal ketika Hendy mencoba memulai usaha ini, ia merasakan adanya tantangan yang cukup berat, dimana ia harus mampu mengedukasi market yang ketika itu posisinya adalah belum seberapa mengetahui makanan kebab.
Outlet pertama Kebab Turki Baba Rafi dibuka di Surabaya. Ketika usaha ini sudah mulai berjalan, Hendy tak mau setengah-setengah, ia nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Hal itu juga membuat dirinya tidak jarang menerima olok-olok, bahkan ia juga sempat mendapatkan tentangan dari orangtuanya. Namun semua hal itu justru dijadikan motivasi oleh Hendy, ia ingin membuktikan bahwa keputusannya itu tepat. Ia sangat yakin dengan intuisi bisnisnya, walaupun ketika itu dia tidak memiliki modal.

Perjalanan Kebab Turki Baba Rafi
Dalam perjalannya Hendy mengalami berbagai problematika. Di tengah niatnya untuk membuktikan bahwa keputusannya untuk berhenti kuliah, ia terus dihantui dengan kegagalan usaha, penolakan, kerugian, hingga harus ada counter yang harus ditutup, Namun ia terus menguatkan mentalnya. Bagi Hendy, gagal adalah teman dari kesuksesan, tidak ada seorangpun yang sukses tanpa pernah gagal, “Bagi saya gagal bukanlah suatu hal yang menakutkan tetapi suatu proses untuk menuju jalan kesuksesan”. Ini dikatakannya karena pada saat itu ia pernah membangun 14 usaha yang 8 diantaranya gagal tetapi menurutnya itu adalah proses yang harus dipelajari, apa penyebab kegagalannya, dimana letak kesalahannya, dan harus terus diperbaiki di kemudian hari agar kita bisa menjadi lebih baik.
Setiap usaha pasti di hadapkan pada cobaan dan tantangan,jadi tidak perlu takut manghadapinya. Dalam setiap permasalahn harus dapat mengambil hikmah dari cobaan itu sendiri agar dapat mengatasi apabila dihadapi kembali. Sifat cepat puas harus dihindari dalam melakukan usaha, selagi muda kejar impian setinggi langit raih semu yang bisa kita raih. Belajar dari orang-orang yang sukses mengelolah usaha, sebagai reprensi dalam berusaha agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan meniru kiat-kiat suksesnya dalam memulai usaha. Hendy menambahkan pentingnya berinovasi, karena selama merintis bisnisnya ini, ia juga terus berusaha melakukan inovasi-inovasi yang baru. Hendy mengartikan inovasi adalah adaptasi menuju perubahan, dan satu langkah lebih maju yang merupakan kunci menghadapi kegagalan, “saat ini banyak orang yang latah dalam berbisnis dengan konsep meniru, tentu yang seperti ini tidak bisa menjadi market leader”, terang pria yang hobi traveling dan makan ini.
Tindakan berani mengambil resiko, segala sesuatu kita memualai apapun pasti ada resikonya jadi kita harus siap dan memikrkan untuk mengatasi resiko itu tersebut. Harus memiliki visi yang besar dalam memulai usaha agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dikatakannya lagi, di awal perjalanan bisnisnya, ia benar-benar terus melatih mentalnya menjadi lebih kuat. Berbagai kegagalan dan kesulitan yang dialaminya telah membentuk mentalnya menjadi kuat.“Jadi yang harus dimiliki dalam suatu usaha yang sukses adalah mental yang kuat dari para pelakunya, itu kuncinya” tegas pria yang terinspirasi oleh Anies Baswedan ini.

Kebab Turki Baba Rafi Saat Ini
Dalam jatuh bangun perjalanan bisnisnya, dan berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, setelah 4 tahun berjalan Kebab Turki Baba Rafi coba dikembangkan oleh Hendy dalam bentuk waralaba. Dan strategi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar, ia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang sebanyak 100 gerai di 16 kota. Gerobak yang tadinya hanya gerobak biasa, sekarang sudah berevolusi dengan menggunakan bahan terbaik dan desain dengan warna yang menarik sehingga “eye catching” dan menarik minat para pembeli untuk membeli kebab turki Baba Rafi.
Kendala di awal usahanya dulu terletak pada sulitnya menjaga kualitas (standar) daging sapinya karena masih memproduksi sendiri. Kini, bekerjasama dgn PT Belfoods Indonesia, Hendy tak perlu kuatir dgn produksi daging untuk kebab, karena sudah ditangani oleh ahlinya. Sebab PT Belfoods Indonesia telah memenuhi standar yg telah dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan makanan (BPOM) dan memiliki sertifikat MUI. Menu andalan Kebab Turki Baba Rafi adalah kebab yg dijual dgn harga Rp 12.000. Selain itu juga ada menu hotdog seharga Rp 10.000, beef burger Rp 9.500, dan menu lainnya.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada tahun 2011, gerai kebab Baba Rafi telah mencapai 750 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, yang sebagian juga bekerjasama dengan franchisee. Total jumlah karyawan Baba Rafi saat ini total semuanya berjumlah 2400 orang ( karyawan tetap + dari supplier ). Dengan karyawan sebanyak itu, beliau menjadi terpacu untuk melakukan semua hal yang terbaik bagi kemajuan diri dan usahanya.
Apabila dihitung-hitung, Kebab Baba Rafi sudah meraup untung yang sangat menggiurkan, bila ada 750 gerai saat ini dan menurut Hendy setiap gerai menghasilkan profit bersih sebanyak 3 juta rupiah perbulan. Maka Rp.3.000.000 X 750 gerai = 2,25 M keuntungan perusahaannya per bulan. Walaupun sudah sukses seperti sekarang ini, namun Hendy masih belum mau berhenti belajar, terbukti di sela-sela kesibukannya menjalankan bisnis kebab turki Baba Rafi, ia menyempatkan untuk pergi keluar negeri untuk mencari ilmu dalam konferensi atau seminar yang dilakoninya untuk diserap ilmunya kemudian ia aplikasikan ilmu itu dalam berbisnis.

DAFTAR PUSTAKA

http://gudangtugasgembul.blogspot.com/2010/06/kebab-turki-baba-rafi.html

http://teguhmcdeath.blogspot.com/2010/10/rangkuman-mengenai-kiat-sukses-kebab.html

http://sukses-kerja-usaha.blogspot.com/2012/03/kesuksesan-hendy-bisnis-kebab-turki.html

http://jayaweb.com/artikel/wirausaha/231-kebab-turki-ala-baba-rafi.html

kelompok 14
Posted on 1st November, 2012

NAMA KELOMPOK 14 IKMB 2011
1. 101111227 YAZID ALBUSTOMI
2. 101111228 NURHADI
3. 101111229 BUNTARI ASMANING PUTRI
4. 101111230 RECHY BANGKIT SAPUTRA
5. 101111231 INGGIT AJENG PRIMASTHI
6. 101111232 ABDUL HAKIM ZAKKIY FASYA
7. 101111239 PUTAKA MASTAR PURNAMASARI
8. 101111240 BAGUS SYAHRU ZAEN
9. 101111241 RAMADHANA A. DJ.

Pengusaha Maicih Sukses

Nama Produk = MAICIH

Jenis bisnis, omzet

Modal awal?
Kalau diakumulasikan di awal, modal yang dipakai cuma Rp15 juta. Itu untuk bahan baku, dan membuat tungku penggorengan. Karena kami tidak menggoreng pakai kompor, jadi rasanya pasti beda.

Omset saat ini?
Setiap bulan terus meningkat, dari omset yang hanya sedikit menjadi banyak. Saat ini, omset sebulan sudah menyentuh Rp4 miliar, dengan rata-rata per minggu lebih Rp750 juta.
Kemampuan produksi?
Sekarang itu produksinya sudah sampai 75 ribu bungkus per minggu. Itu semua varian dari kripik, jeblak, gurilem. Dan, selalu habis.

Awal membangun usaha
Keripik singkong sering dianggap sebagai makanan tradisional yang tidak berkelas dan identik dengan orang kampung. Namun, di tangan Reza Nurhilman atau yang kerap disapa AXL, keripik singkong mampu dirubah menjadi sesuatu yang dicari-cari, bahkan sebagai simbol gaya hidup dan produk bergengsi yang sukses menembus pasar internasional.
Semua berawal saat dunia usaha seolah ditampar, disadarkan mengenai arti pentingnya sebuah kreativitas. AXL berpikir, dalam berbisnis, kekuatan modal sejatinya bukanlah kunci utama. Kreativitas, didukung totalitas dalam melakukan kinerja, juga wajib diperhatikan. Tak cukup, loyalitas dan bagaimana mengatur kemampuan bersinergi dengan orang lain di sekitar, memberi pengaruh signifikan dalam mencapai keberhasilan.
Dari terobosan-terobosan yang telah dilakoni tersebut, AXL mencapai keberhasilan. Dan kini, ia mencoba berbagi pengalaman kepada khalayak dengan menerbitkan buku berjudul Revolusi Pedas Sang Presiden Maicih.
Lewat penuturan yang ringan tapi menyentuh, buku ini digadang-gadang bisa membuat perubahan yang lebih besar, menyadarkan masyarakat bahwa mengubah hidup bisa dilakukan lewat cara apapun yang diinginkan.

Strategi/kiat-kiat sukses pengusaha

Tips memulai bisnis
1. Hobi adalah cara mudah,enjoy & anda lebih paham dgn bidang yang akan ditekuni, misalnya : bunga, bengkel, hewan peliharaan
2. Terdesak kebutuhan sperti : nganggur,phk,org tercinta kena musibah (amit2) maka akan terpaksa untuk jualan apapun
3. Dapatkan inspirasi dari internet,koran,tv,saat rumpi-merumpi,saat jalan2..ketika klik ada yang “WOW” take action ambil peluang
4. Bisa dari teman,saudara,kolega menawarkan MLM! Kebanyakan org pasti memiliki persepsi negatif sama MLM,padahal bisa buat orang jd ultra kaya
5. Melanjutkan usaha keluarga,baik kecil2an/yang sudah berkembang..nantinya bisa “tangan dingin” jika diteruskan oleh anda
6. Memanfaatkan skill yang kalian miliki utk dijadikan bisnis seperti konsultan property,bimbel,toko service elektronik,dll
7. Ikuti coaching,diklat,lokakarya,training,seminar untuk mengembangkan kapasitas diri ,miliki mentor agar terarah
8. ATM jga monggo..hehee Amati Tiru Modifikasi,tapi persiapkanlah image “KW” utk cap usaha anda
9. Isi waktu luang dgn usaha yg kecil tp mdh di duplikasi,sprti : buka klontongan,refill aqua,counter pulsa dll
10. Selalu lihat peluang dmnpun anda berada,baik di lingkungan pekerjaan,tongkrongan. Klo ada langsung ambil peluangnya!

3. Kunci Sukses Keripik Pedas Maicih
1. Eksklusivitas
2. Keterbukaan
3. Kreativitas

SUMBER :
http://sukses-kerja-usaha.blogspot.com/2012/04/usia-23-tahun-reza-makmur-dengan.html
http://jogja.tribunnews.com/2012/07/15/kisah-sukses-produsen-maicih-dibukukan
http://tipsjualonline.com/10-tips-memulai-bisnis-ala-reza-maicih-nurhilman/
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/15587-3-kunci-sukses-keripik-pedas-maicih.html

KELOMPOK 3 IKMA 2011
Posted on 1st November, 2012

Kelompok 3
1. Eka Oktaviani 101111007
2. Ronggo yudo 101111011
3. Nihayatul Muna 101111015
4. Wemmy Noor F 101111029
5. Desy F 101111039
6. Ayu Tyas P 101111044
7. Mutmainnah W 101111082

Jenis Bisnis : Teh Kempot
Omset : 20 - 30 juta

Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.
Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.
Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.
Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.
“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.
Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.
Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari

Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.
Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.
Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya.

attitude :
1. sikap pandai memanfaatkan peluang usaha
2. kreatif dalam menuangkan ide
3. tidak mudah menyerah
4. selalu mencoba hal - hal unik

KELOMPOK 3 IKMA 2011
Posted on 1st November, 2012

Kelompok 3
1. Eka Oktaviani 101111007
2. Ronggo yudo 101111011
3. Nihayatul Muna 101111015
4. Wemmy Noor F 101111029
5. Desy F 101111039
6. Ayu Tyas P 101111044
7. Mutmainnah W 101111082

Jenis Bisnis : Teh Kempot
Omset : 20 - 30 juta

Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.
Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.
Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.
Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.
“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.
Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.
Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari

Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.
Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.
Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya.

attitude :
1. sikap pandai memanfaatkan peluang usaha
2. kreatif dalam menuangkan ide
3. tidak mudah menyerah
4. selalu mencoba hal - hal unik

sumber : http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/03/inilah-kisah-pengusaha-sukses-yang.html

Anikha Widya Bestari
Posted on 2nd November, 2012

PROFIL PENGUSAHA SUKSES DI BIDANG PANGAN
BOB SADINO
Dalam Memenuhi Tugas Kewirausahaan Gizi

Kelompok 5 IKMB 2011, dengan anggota :
101111146 Aditya Dwi Setyawan
101111147 Fariz Zuvil A
101111148 Anikha Widya Bestari
101111149 Margareta Fatimah A
101111150 Yudha Bagus P
101111151 Azzah Taswirul Bariro
101111152 Hikmawan Suryanto
101111153 Anasyia Nurwitasari

PROFIL BOB SADINO

Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama : Islam
Ayah : Sadino
Anak : Dua Orang

Pendidikan :’
1.SD, Yogyakarta (1947)
2.SMP, Jakarta (1950)
3.SMA, Jakarta (1953)

Karir :
1.Karyawan Unilever (1954-1955)
2.Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
3.Pemilik Tunggal Kem Chicks Supermarket (1969)
4.Dirut PT Boga Catur Rata
5.PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging ham)
6.PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah : Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Telp : 021-793981
Alamat Kantor : Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan, Telp : 021-793618

Bob Sadino, atau akrab dipanggil Om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan di Lampung, 9 Maret 1933.Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob Sadino dan keluarga kembali ke Indonesia.Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu.Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing. Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun.Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks.Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob Sadino berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira.Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu.Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya.Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Shintia Yunita Arini
Posted on 2nd November, 2012

IKMB 2011
Kelompok 9
-Shintia Yunita Arini 101111179
-Mustika Dyah Permatasari 101111181
-Turfah Amaliyah 101111182
-Mardliyatus Sholihah 101111183
-Handik Stevian A 101111185
-Ajeng Nindya Cahyaningrum 101111186
-Ayyuda Asyraf Zahra 101111187
-Bella Hayyu R.H 101111188

SEGO NJAMOER

Banyak orang bermimpi memiliki usaha sendiri. Namun, faktanya tak jarang mimpi tersebut membutuhkan modal yang besar. Hal tersebut yang kemudian membuat banyak orang mengubur cita-citanya begitu saja. Tetapi tidak di tangan pemilik usaha Sego Njamoer. Kembali mengukir prestasi, baru-baru ini, Sego Njamoer berhasil menjadi juara favorit dalam Shell Live Wire Bussines Start-Up Award 2011 besutan Bank Mandiri.
”Bisnis itu sudah saya anggap sebagai pacar sendiri,” ucap Mahendra Ega Higuitta mahasiswa Teknik Fisika. Kiprahnya sebagai wirausaha muda sudah tak usah diragukan lagi. Berbagai prestasi sempat ia renggut bersama Sego Njamoer-nya ini.

Ditemui di tengah kesibukkannya, mahasiswa yang akrab disapa Ega ini menceritakan sedikit banyak tentang asal mula Sego Njamoer. Ide Sego Njamoer awalnya terlahir dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan 2012. Dibantu dengan empat rekannya, akhirnya bisnis tersebut berjalan hingga saat ini.

Terhitung slah satu tahun berdiri, sudah ada 13 outlet Sego Njamoer yang tersebar di sekitar Surabaya dan Malang. Rasanya yang khas membuat makanan ini diburu oleh banyak kalangan, khususnya mahasiswa. Produknya yang berslogan anti kanker atau kantong kering tersebut membuat mahasiswa tidak salah pilih menu makanan. Yang paling unik adalah bentuknya yang praktis menyerupai makanan khas Jepang, onigiri (nasi kepal, red).

Sejumlah penghargaan pun telah berhasil disabet oleh bisnis milik Ega dan kawan-kawan ini. Sebut saja juara pertama Harian Bisnis Indonesia 2010, 3rd Winner&Most Favourite Product, juara dua LKTM-Wirausaha PIMNAS 2011, Young Entrepreneur Award ITS 2011, dan masih banyak lagi penghargaan-penghargaan lain.

Salah satu gelar yang masih hangat yang diraih Sego Njamoer adalah Shell Live Wire Bussines Start-Up Award 2011. Kompetisi bergengsi yang terdiri dari dua kategori mahasiswa dan alumni menjadi saksi keunggulan Sego Njamoer. Bagaimana tidak, dalam ajang satu ini Sego Njamoer berhasil menggondol gelar juara favorit untuk kategori mahasiswa.

Sedikit bercerita, Ega bertutur, ketika mengikuti lomba tersebut banyak hal luar biasa yang dirinya dan kawan-kawan alami. Salah satunya adalah bertemu dengan orang-orang hebat dengan ide bisnis yang istimewa. ”Senang bisa bertemu anak-anak Indonesia dengan ide dan pembawaan yang baik-baik,” ujar Ega.

Lomba yang digelar selama seminggu ini menyuguhkan kegiatan menarik bagi pesertanya. Selainworkshop, mereka juga ditantang untuk mempresentasikan ide bisnis mereka. Bak firasat, mahasiswa kelahiran 23 tahun silam ini mengaku optimis dengan kemenangannya dalam lomba tersebut.

Ia yakin, karena salah satu kriteria lomba tersebut adalah bisnis yang ditawarkan sudah dijalani selama setahun kebelakang. Sedang Sego Njamoer, Ega sadari betul telah melampaui kriteria tersebut. Untuk itu, saat presentasi, dengan penuh percaya diri Ega menunjukkan kebolehan Sego Njamoer miliknya.

Beberapa penilaian dewan juri yang kritis justru Ega jadikan sebagai cambuk motivasi. ”Konsep produk ini sangat bagus, tapi mengapa pencapaian bisnisnya hanya segini,” ucap Ega menirukan salah satu dewan juri.

Mendengar komentar pedas dewan juri tersebut membuat Ega kian terpacu untuk mengembangkan Sego Njamoer. Sebagai rencana lanjutan, Ega bersiap membumbui produk Sego Njamoer dengan ide-ide kreatif dan inovatifnya. Dan Ega pun berharap mampu mengekspansi pasar Sego Njamoer hingga ke luar Jawa Timur.

Kiky Aunillah Yolanda A
Posted on 2nd November, 2012

Kelompok 2 IKMB 2011
1. Irvan Prayogo 101111117
2. Eka Pratiwi 101111121
3. Aditya Kurnia 101111123
4. Qotrunada A 101111124
5. Candra Setyawati 101111125
6. Clairine Budi 101111126
7. Kiky Aunillah Y A 101111127
8. Nabella Kusuma 101111128

Tao Kae Noi
( Crispy Seaweed )
Tao Kae Noi adalah merk dari sebuah produk olahan rumput laut. Tao Kae Noi sendiri dalam bahasa Thailand berarti Pengusaha Muda, karena memang pemilik ataupun CEO perusahaan ini adalah seorang wirausahawan muda yang berumur 19 tahun ketika mulai memproduksi, memasarkan dan menjual produknya. Nama pengusaha muda ini adalah Aithipat Kulapongvanich, ia adalah orang asli Thailand. Awal mula berbisnis sebenarnya dimulai dari tingkat SMA, akan tetapi baru dalam pendidikan setara Perguruan Tinggi, ia baru mengembangkan bisnisnya. Dalam perkuliahan, sama sekali ia tidak tertarik tentang teori bisnis yang diajarkan pengusaha-pengusaha sukse Thailand, langsung terjun ke lapangan melihat bagaimana keadaan sebenarnya. Awalnya, ia memulai bisnis Perdagangan Senjata dalam sebuah Game Online, karena dianggap menyalahi aturan dengan bertransaksi senjata maka akunnya pun diblokir. Namun dari bisnis senjata game ini, ia dapat mengumpulkan uang sebanyak Rp. 217.692.000, sebagian dibelikannya mobil dan sebagian masih dalam tabungan. Tak hilang akal, berbekal pengalaman di dunia game, TOP (nama panggilan) memutuskan untuk berbisnis DVD game, akan tetapi belum berhasil karena DVD yang ia beli adalah DVD bajakan yang mudah rusak. Iseng-iseng mapir dalam Food Expo Thailand 2001, TOP tertarik berbisnis Kacang Khas Thailand, karena ada mesin otomatis pembuat olahan kacang tersebut yang di klaim sebagai alat pertama pembuat produk olahan kacang otomatis di Thailand. Ia pun menyewa mesin tersebut dan membawanya pulang. Awal mencoba, ia menyilakan Ayah, Ibu dan Pamannya untuk mencoba dan akhirnya merekapun menikmatinya. Berbekal dari hal tersebut, TOP langsung memutuskan focus untuk memulai bisnis kacangnya di sebuah Mall di Thailand, awalnya memang sepi peminat karena pemilihan tempat yang salah untuk berjualan, setelah terus mengamati tempat yang pas, akhirnya TOP dan Pamannya yang membantu berjualan menemukan tempat dimana tempat tersebut merupakan awal masuk orang di sebuah mall sehingga otomatis orang yang masuk mall tersebut pastilah melewati tempat TOP berjualan, alhasil dagangan TOP pun laku keras, selain karena memang produk olahannya terbilang enak, ia langsung terpikir untuk mebuka cabang, namun pamannya tidak menyetujuinya. Akan tetapi TOP tetap membuka cabang Produk Kacang Olahannya. Dalam perjalanannya, TOP menemukan masalah, yaitu asap dari produk olahannya membuat langit-langit mall tampak menghitam sehingga supervisor mall tersebut memutuskan kontrak kerjasama dengan TOP. Jiwa muda pebisnis Thailand ini belum padam, passion dalam perjalanannya, TOP tertarik dengan memulai bisnis baru yaitu Makanan Kripik Rumput Laut. Sampai-sampai pendidikannya ia korbankan demi bisnisnya. Awal mencoba, gagal, banyak kardus yang berisi Rumput Laut kering dijadikan uji coba untuk di goreng dan dijadikan keripik rumput laut, akan tetapi selalu gagal. Pantang menyerah, sampai pada akhirnya, sewaktu TOP pulang dari membeli beberapa kardus rumput laut untuk digoreng lagi, TOP menemukan pamannya yang membantu TOP menggoreng rumput lautnya, tergeletak berdarah dibawah guyuran hujan. Kemudian dibawalah pamannya ke Rumah Sakit. Sepulang dari RS, TOP menemukan satu kantung plastik Rumput Laut yang masih tersisa di dapur yang lembab karena terkena air hujan untuk digoreng, dan akhirnya ia pun berhasil menemukan cara membuat Keripik Rumput Laut yang enak. Dari sinilah awal kesuksesan TOP, ia berani memasarkan produknya di 7- Eleven (sejenis dengan Alfamart di Indonesia) setelah berjuang keras memasukkan produknya dengan banyak presentasi, membuat kemasan yang berbeda, dll. Karena ia ingin menerapkan strategi bisnis yang ia dapatkan dari kuliahnya. Saat ini TOP memiliki 2500 karyawan dengan memasarkan produknya ke 6000 7-Eleven di 27 Negara dengan Omzet 450 Milyar Tahun 2010. Saking hebatnya perjuangannya, kisah perjuangannya pun difilmkan. Film tersebut berjudul Top Secret a.k.a The Billionare.

Nur Lathifah Syakbanah
Posted on 2nd November, 2012

NAMA ANGGOTA KEL 1 IKMB 2011:
1. Faiqoh Elok (100911217)
2. Ni Putu Ayudya RP. (101111018)
3. Paramita Hermaniati (101111020)
4. Rahmawati Sari B.U (101111043)
5. Nur Lathifah S (101111112)
6. Rizka Wahyu H (101111113)
7. RR. Vigna Maya K (101111114)
8. Alfiannisa Luthfi (101111115)

DARMO HADIPRANOTO, Pelopor Campina Ice Cream

Telah 40 tahun Campina menemani masyarakat Indonesia dengan beragam rasa dan kelezatan berkualitas untuk jadikan momen istimewa. Berawal pada tanggal 22 Juli 1972, Bapak Darmo Hadipranoto beserta istri, mulai membuat es krim Campina di garasi rumahnya yang terletak di Jl. Gembong Sawah, Surabaya. Saat itu jugalah, CV Pranoto didirikan.

Seiring berjalannya waktu, Campina mulai dikenal dan menjadi pilihan bagi masyarakat. Terbukti dengan kunjungan Gubernur Jawa Timur, Bapak H.M.Noer ke pabrik Campina pada tahun 1973. Cara penjualan Campina juga mulai beragam, dari menggunakan armada sepeda, freezer hingga van.

Untuk memperkuat daya saing perusahaan, maka pada tahun 1994, keluarga Bp. Sabana Prawirawidjaja (PT Ultrajaya Milk Industry) berpartisipasi dalam kepemilikan saham sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Campina Ice Cream Industry.
Demi meningkatkan varian produk, pada tahun 1984, Campina memindahkan lokasi pabriknya ke Rungkut, Surabaya yang sampai saat ini masih digunakan. Campina selalu menghadirkan produk-produk istimewa dari bahan alami, higienis dan berkualitas.

Pabrik Campina di kawasan Rungkut dilengkapi dengan peralatan modern mulai 7 line machine baik untuk mesin Cup, Cone maupun Stick. Kalau awal berproduksi, peralatan yang digunakan sangat sederhana. Untuk menjalankan 7 mesin tersebut sekitar 500 karyawan bekerja dalam 7 hari 3 shift. Mereka memproduksi es krim setiap hari yang nilainya mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar dengan jumlah varian es krim lebih dari 50.

Sebelum produk dipasarkan, es krim pun disimpan dalam cold storage dengan suhu ruangan minus 20 hingga minus 30 derajat Celcius. Dalam gudang ini, produk bisa tahan hingga 2 tahun. ”Namun umumnya, setiap kali produksi, produk hanya tersimpan 2 minggu karena habis terserap pasar. Begitu pula saat didistribusikan ke kantor cabang, kendaraan pengangkut juga tetap dijaga suhu ruangan agar kualitas produk tidak berkurang,”kata Karyono.

Kelezatan es krim Campina pun semakin beragam. Tak hanya digemari oleh keluarga dan remaja, namun merebut hati pelanggan cilik. Terbukti dengan adanya kerja sama antara Campina dengan Nickelodeon yang menjadikan satu-satunya pemegang lisensi produk es krim ‘Spongebob’ dan ‘Avatar’ di Asia Tenggara. Selain produk diatas, Campina memiliki produk yang sesuai dengan segmennya. Untuk segmen anak-anak: Fantasy, Didi Cup, Blue Jack. Segmen remaja: Concerto dan Tropicana. Segmen dewasa: Bazooka, Hula-Hula. Dan segmen keluarga: Family pack dengan berbagai rasa dan ukuran. Untuk acara-acara special, ice cream cake yang akan melengkapi kemeriahan.

Inovasi tebaru dari Campina dengan menghadirkan es krim ‘LuVe Litee’ yang merupakan es krim low fat dan 100% non-dairy pertama di Indonesia. Produk ‘LuVe Litee’ pun menjadi pilihan utama bagi konsumen yang menjalani diet, bergaya hidup vegan dan lactose intolerance.

Tak hanya menghadirkan kelezatan berkualitas, Campina peduli untuk mengurangi pemanasan global. Beberapa contoh kegiatan yang telah dilakukan adalah penanaman 1000 pohon di Banda Aceh dan adanya Roof Top Organic Garden di lingkungan pabrik, dan pengolahan sampah menjadi kompos. Gaya hidup sehat pun diwujudkan dengan adanya vegan menu yang nikmat di kantin karyawan setiap hari.

Dikatakan, saat ini market share Campina baru 25 persen dan diharapkan tahun ini bisa naik menjadi 30-35 persen. Dengan omset Rp 650 Miliar setahun, Campina optimistis mampu mengembangkan produknya lebih dikenal dan menjadi pilihan pertama konsumen di Tanah Air.

Jaringan distribusi Campina terdiri dari 20 distributor di Pulau Jawa dan 15 distributor yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Sedangkan bentuk pemasarannya dilakukan melalui channel modern (40 persen), tradisional/mini market (25 persen), Horeka (10-15 persen) dan sisanya melalui mobile unit.
Attitude/ sikap yang membuat Darmo Hadipranoto sukses:
- Gigih dan ulet
- Kreatif dan inovatif
- Campina memiliki sifat “caring” di masyarakat, LuVe Litee (low-fat), memasang Roof Top Organic Garden, pengolahan kompos di lingkungan pabrik, dan vegan menu di kantin
- Mampu melihat selera konsumen

Ajrina Rantau Larasati
Posted on 3rd November, 2012

kelompok 1 Gizi
1. Jenius Setio Insano 101111035
2. Risnia Aprilianti 101111046
3. Lisa Uktolseya 101111571
4. Santi 101111084
5. Ajrina Rantau Larasati 101111091
6. Risanita Diah F 101111099
7. Tegus Kusnur Eko Prasetyo

kisah sukses pengusaha warung steak n shake

Bisnis ini adalah kuliner, yaitu warung steak n shake. Waroeng Steak & Shake didirikan pasangan Jody Brotosuseno- Siti Hariyani. Tanggal 4 September 2000 adalah awal berdirinya Waroeng Steak and Shake di Jalan Cendrawasih Demangan Yogyakarta.

awal membangun usaha

Sebelum menggeluti bisnis ini, mereka sempat menekuni berbagai bisnis kecil-kecilan, antara lain menjual roti bakar, susu kedelai serta memproduksi kaus partai menjelang Pemilu 1999. Dari bisnis kaus itu, mereka sempat membeli motor. Motor itu kemudian dijual lagi tahun 2001 buat modal membuka warung steak. Hasil jual motor itu, dikatakan Jody, cuma cukup buat membayar kontrakan dan membeli beberapa peralatan warung (10 hotplate, gelas dan selusin piring). Sementara itu, meja yang disiapkan hanya 5 set. Mereka membeli peralatan tambahan setelah usaha berjalan lancar. Produk dan market yang mereka sasar ternyata sangat tepat. Respon masyarakat sangat baik sekali dengan terbukti Warung Steak mereka selalu dipadati oleh pengunjung. Padahal awalnya mereka mengembangkan usaha kuliner ini dengan modal 5 buah hot plate dan 5 meja makan yang daya tampung tempatnya 20 orang, tapi saat ini sungguh di luar dugaan karena mereka telah memiliki 30 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia antara lain Jakarta, Bandung, Bogor, Medan, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Pekan Baru bahkan bali. Dan kini omset Waroeng Steak Jody beserta istrinya ini mencapai ratusan hingga milyaran rupiah setiap bulannya.

Strategi atau kiat-kiat sukses pengusaha:

1.Berani untuk mencoba berbagai peluang bisnis yang ada untuk mendapatkan jenis bisnis yang akhirnya sesuai untuk dikembangkan
2.Jangan pernah takut dengan modal usaha yang mimimum karena sebenarnya kita dapat memanfaatkan apa yang kita miliki menjadi modal usaha yang optimum
3.Membangun mindset baru para konsumen dengan penawaran harga yang terjangkau dengan rasa yang sesuai untuk semua selera, strategi jitu dari “waroeng steak n shake” ini adalah menawarkan harga yang murah untuk setiap makanan dan minuman yang tersedia diwarungnya, hal tersebut dilakukan agar mindset masyarakat yang menganggap steak adalah makanan mahal orang eropa dan hanya bisa dikonsumsi direstaurant mahal saja diubah dengan mendirikan warung makan tetapi dengan hidangan steak yang rasanya sesuai dengan lidah orang Indonesia dan harganyapun sangat terjangkau.
4.Melakukan Inovasi (terobosan baru) yang berbeda dengan pengusaha lain yang tentunya hal tersebut dapat menjadi ciri khas usaha kita, seperti yang telah dilakukan oleh “waroeng steak n shake” yang sengaja menyediakan hidangan steak dengan rasa kesukaan lidah orang Indonesia, agak berbeda dengan steak-steak pada umumnya yang kebanyakan menggunakan resep ala Eropa

Attitude/ sikap/ ciri-ciri yang membuat pengusaha tersebut sukses:
1.ketekunan yang tinggi
2.tekad yang kuat untuk berusaha
3.tidak mudah putus asa dan selalu bekerja keras

Daftar Pustaka
Admin.2012.Sukses Waroeng Steak n Shake-Gerai Waroeng Steak ala Anik dan Jody, diakes3 November 2012 (http://usahakecilmodalkecil.com/sukses-steak-jawa.html)
Admin.2010.SejarahWaroeng,diakses 3 November 2012 (http://steakwaroeng.blogspot.com/)
Admin.2012. Jody Broto Suseno - Pengusaha berbagai kuliner Jogja berawal dari Waroeng Steak berkonsep murah, diakses 3 N0vember 2012.( http://www.kotajogja.com/tokoh/index/17)

Nindieta Zulfa
Posted on 3rd November, 2012

Kelompok 12 IKMB 2011

1. 101111207 Cintya ully chardena
2. 101111208 Septiana Ningtyas
3. 101111209 Raditya Angga P
4. 101111210 Dedy Setiawan
5. 101111212 Gregorius timotius
6. 101111213 Nindieta Zulfa K
7. 101111214 Izfa Rifdiani
8. 101111215 Vreza Budi Setiawan
9. 101111217 Eska Distia Permatasari

Chocodot van Garut

Kalau bicara dodol, identik dengan Garut. Maklum, dodol adalah makanan khas kota ini yang sudah kesohor ke mana-mana. Tak terhitung, berapa banyak pengusaha yang sukses dari bisnis dodol. Namun sekarang ini, Garut tak hanya dikenal dengan dodolnya tapi juga Chocodot, yaitu nama makanan yang diambil dari singkatan Cokelat Isi Dodol Garut. Kendati Chocodot ini baru ditemukan, namanya sudah menyeruak ke permukaan sehingga menjadi incaran para pelancong yang datang ke kota di Jawa Barat ini.

Adalah Kiki Gumelar yang pertama kali membuat Chocodot dan sukses membisniskannya. Inovasi dan keluar dari pakem bisnis dodol yang sudah ada menjadi kunci sukses bagi pria berusia 30 tahun ini dalam mengelola bisnisnya. Selain bisnisnya makin berkembang, pengakuan atas inovasi yang dilakukannya alumni jurusan Administrasi Hotel, Akademi Pariwisata Ambarukmo, Yogyakarta ini, juga banyak diraih. Salah satunya, pada 2010 lalu, ia mendapat penghargaan UKM Award 2010 dari Wakil Presiden Boediono pada acara pembukan pameran Trade Expo Indonesia dan Pangan Nusa 2010, di Jakarta Expo Kemayoran.

Ia merintis usaha Chocodot ini sejak pertengahan tahun 2009 lantaran merasa sudah jenuh menjadi pegawai. Karier mantan pemenang Jajaka Garut tahun 1997 ini yang cemerlang sebagai Manajer Pengembangan Bisnis di PT Nirwana Lestari, distributor produk PT. Ceres Indonesia, tak mampu membendung keinginannya berwirausaha. Ia merasa perlu tantangan dalam hidupnya. Apalagi sudah delapan tahun Kiki tinggal di Yogyakarta. Ia jenuh dan ingin kembali ke kampung halaman, yaitu Garut.

Akhirnya, setelah melalui proses yang tak mudah, Kiki menemukan Chocodot saat masih tinggal di Jogyakarta. Setelah dirinya keluar dari tempat kerjanya, ia langsung tancap gas dengan menekuni pembuatan Chocodot di Garut dengan modal Rp 17 juta hasil pinjaman kartu kredit milik ibunya. Chocodot pun mulai dipasarkan sejak Juli 2009 dan ia mendirikan UD. Tama Cokelat, sebagai perusahaan yang menaungi Chocodot.

Awal pemasarannya sederhana saja: dari satu pintu ke pintu. “Cuma pakai motor, saya mendatangi toko oleh-oleh dan hotel yang ada di Garut. Satu per satu yang didatanginya menolak,” katanya mengenang. Namun. di antara mereka, ada beberapa hotel yang bisa melihat potensi Chocodot. Itu pun dari 10 yang ditawari, hanya ada empat yang mau mencoba memasarkan produknya.

Titik cerah mulai terlihat, ketika Pemerintah Kabupaten Garut mengadakan Garut Summit dan Kiki pun ikut ambil bagian dalam acara tersebut. Dalam pameran memperkalkan potensi Garut tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Garut, Dicky Chandra yang melirik potensi bisnis Chocodot besutan Kiki. Sejak saat itulah, Dicky yang mantan artis itu, selalu mempromosikan Chocodot dalam setiap kesempatan. Dari situlah, Chocodot mulai menyedot perhatian.

Setelah itu sejumlah pameran ia ikuti di samping terus melakukan pengembangan pasar ke barbaga kota di luar Garut. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Di penghujung tahun 2009, atau beberapa bulan setelah bisnisnya berdiri, ia mampu mencetak omset hingga Rp 100 juta dengan pemasaran 90% hanya di Garut.

Kesuksesan Chocodot menyedot perhatian Bank Jabar. Hanya cukup sekali presentasi di depan petinggi bank tersebut, kucuran kredit sebesar Rp 100 juta didapat Kiki. Modal sebesar itu digunakan Kiki untuk pengembangan usahanya. Apalagi saat itu, ia menjalankan usahanya dari rumah kontrakan berukuran 5×6 m2. Permintaan yang begitu deras mengharuskannya menambah kapasitas produksi. Uang tersebut digunakannya untuk membangun toko permanen. Kini, Kiki sudah memiliki enam cabang, termasuk di Bandung dan Jakarta.

Ia pun terus menambah varian produknya. Selain Chokodot, ia juga memasarkan Dogar (cokelat isi abon), Cokelat Olga (cokelat oleh-oleh Garut), Jadol (pizza topping dodol). Bagi Kiki, melakukan inovasi adalah hal penting. Karena itulah konsumen selalu mau kembali. “Orang yang datang kemari, tidak selalu pelanggan tetap. Lebih banyak orang-orang baru yang penasaran dengan produk kami yang juga selalu baru,” ungkap ayah satu anak ini.

Sekarang, impiannya menjadikan cokelat sebagai ikon Garut perlahan mulai terwujud. Bahkan kini sudah mulai bermunculan pesaing yang mengemas persis seperti produknya. Kondisi ini pun dijadikan pria yang pernah menjadi Duta Boga Jawa Barat versi Bogasari itu mulai menyiapkan strategi pertahanan. Salah satunya dengan mulai memperdayakan penduduk di sekitarnya.

Akhir tahun 2010 disyukuri oleh peraih Garut Award 2010 bidang inovasi produk buah tangan kota Garut itu dengan perolehan omset Rp 800 Juta. Target tahun ini adalah melipatkan omsetnya sebanyak dua kali. Hal itu mungkin saja terjadi dengan volume penjualan yang meningkat. Kini, ada 40 toko oleh-oleh di Garut yang mengambil produknya. Demikian juga banyak agen travel yang membawa para pelancong datang ke berbagai outlet yang menjual Chocodot.

Berkat kesuksesannya itu, sekarang Kiki mulai rajin mengisi seminar kewirausahaan di berbagai institusi. Tiada minggu baginya tanpa undangan sebagai pembicara. Demikian juga, undangan pameran bertebaran. Seperti, tahun lalu, ia bersama peserta UKM lainnya mengikuti pameran di ASEAN Week, Mid Valley, Kualalumpur, Malaysia.

Mahmudi
Posted on 3rd November, 2012

Oleh Kelompok 4 GIZI, IKMA 2011:
1. Agni Amurbatami M 101111026
2. Nurul Hidayatul M 101111036
3. Sarah Syafirah 101111064
4. Hanif Bagus Azar 101111095
5. Stephanie Julia P. S. 101111096
6. Trio Linda F E R 101111097
7. Muhammad Mahmudi 101111361

Igor’s Pastry
Premium Pastry dan Bakery dari Surabaya
dengan kualitas kelas dunia
“Karyawan, baik di bagian produksi dan service berkomitmen untuk jujur dan melayani dengan sepenuh hati, barulah persembahan produk pastry & bakery yang kami produksi dengan penuh komitmen menjadi bernilai di mata konsumen.”
SEJARAH IGOR’s PASTRY
Pada tahun 1989, Igo dan Ratna selesai menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Perhotelan Bandung, mendapat tawaran kerja di Hilton Hotel London untuk terjun sebagai cook professional. Di tahun 1991 pindah ke Switzerland, Igo bekerja di Brasserie Lipp - top 10 Michelin restaurant di Geneva kemudian pindah ke Hyatt Hotel Montreux sementara Ratna bekerja di Movenpick Hotel Zurich. Setelah itu mereka memperdalam ilmu perhotelan di Hotel Institute Montreux.
Pada tahun 1996 Igo dan Ratna memutuskan pulang ke Indonesia dan bekerja di Bali, Igo bekerja di Grand Hyatt Hotel dan Ratna di Oberoi Hotel. Namun setelah 2 tahun Igo dan Ratna lebih memilih di Surabaya, di mana Igo bekerja di Mandarin Oriental Hotel (sekarang Hotel Majapahit) dan Ratna di Westin Hotel (sekarang Marriott Hotel). Selama hampir 7 tahun di di Mandarin Oriental Hotel Surabaya, Igo berkesempatan membantu Mandarin Oriental Hong Kong, Mandarin Oriental Macau dan mengikuti Food and Beverage Professional Development Program dari Cornell University, New York sedangkan Ratna membantu The Westin Osaka.
Pengalaman yang panjang setelah lebih dari 14 tahun di Inggris, Switzerland, Jepang dan Indonesia sebagai professional di dunia perhotelan dan pastry bakery didukung pendidikan yang menunjang membuat Igo dan Ratna percaya diri memulai dengan membawa pengalaman dan pelajaran internasionalnya, ke tingkatan usaha bisnis Igor’s Pastry. Igor’s Pastry didirikan tahun 2002 nama Igor’s diambil dari nama Igo sebagai Director yang mengelola seluruh aspek manajemen dan marketing sedangkan Pastry Chef Ratna yang mengelola keseluruhan proses produksi. Hingga saat ini Igor’s Pastry memiliki 200 karyawan yang tersebar di tiga gerai di kota Surabaya
KEUNGGULAN IGOR’s PASTRY
Dengan menonjolkan berbagai macam keunggulan, di Igor’s dapat ditemukan bermacam all homemade bread, chocolate, cookies, ice cream, pastries and cakes - semuanya dibuat di dapur produksi Igor’s Pastry dengan philosophy health conscious. Dalam menentukan standar kualitas, Igor’s menerapkan standar international yang tinggi, dengan mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analyzis Critical Control Point), yaitu penerapan standar pengawasan mutu proses produksi, yang dikeluarkan oleh The Royal Institute London dan Food Quality Checked Mark dari TUV Nord German. Sertifikasi ini untuk menjamin sistem keamanan sebelum - selama - setelah proses produksi. Bahan baku mereka memakai bahan yang aman konsumsi dan berkualitas tinggi, misalnya tidak memakai aneka produk yang mengandung trans-fat dan bebas pengawet.
Menu-menu klasik dan baru selalu ditawarkan dan untuk melayani tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan, Igor’s Pastry menawarkan produk yang sugar free, egg free, gluten free, kasein free, flour free, low carbohidrat dan hi-fibre dalam aneka produk pastry, bakery, cookies, ice cream, snack dan pudding. Igor’s Pastry juga melayani delivery order.
GERAI IGOR’s PASTRY di SURABAYA
1. Jl. Biliton 55, Surabaya. Telp : 031 - 503 8342
2. Office Park B – 22, Jl. Bukit Darmo Boulevard. Telp : 031 - 734 4744
3. Ranch Market, Galaxy Mall. Telp : 031 - 7058 4935
IGOR’s PASTRY QUOTE
Kami yakin ramuan sukses dari bahan baku terbaik dan menjunjung etika bisnis yang tinggi sehingga pelanggan mendapatkan nilai yang sesuai bahkan pelanggan loyal tidak jarang minta menu baru sebagai inspirasi tambahan.
Inilah gerai pastry dan bakery berkualitas tinggi, yang lahir dari tangan anak bangsa. Interior yang terkesan suasana rumah kayu di Eropa menambah keanggunan gerai tersebut, kesejukan gerai, kebersihan yang hebat, kualitas penataan, jajaran produk yang variatif dan unik, kualitas pelayanan berkelas, dan hebatnya ini bukan berada di ibukota Jakarta. Strategi Igor’s Pastry adalah menjadi pemain berkelas dunia, walaupun bukan berada di ibukota negara.
Igor’s Pastry
… only if you want the best
Sumber:www.*igors-pastry.com/index.php?param=cGFnZT1hYm91dHVz

atina husnayain
Posted on 3rd November, 2012

Kelompok 2 Dasar Ilmu Giza
1. Wuri Emira 101111004
2. Sofi Sudarma Putri 101111009
3. Auli Fisty N A 101111022
4. Ayu Putri Pitaloka 101111037
5. Atina Husnayain 101111042
6. Aig Baladhika 101111063
7. Ryan Rizky Bikatofani 101111068

Sego Njamoer
Narasumber : wawancara langsung dengan mbak Eka angkatan 2009 jurusan KIMIA FMIPA ITS, sebagai financial and HRD sego njamoer.

Awal muncul bisnis kuliner ini pada tanmggal 10 oktober 2010, latar belakang saat pemberdayaan masyarakat di mojokerto karena kesulitan memasarkan panen jamur tiram untuk meningkatkan penjualan masyarakat, serta mahasiswa ITS kebanyakan sibuk jadi menciptakan makanan yang sehat, bergizi dan praktis. Awalnya dari PKMK, februari 2010 didanai 6 jutaan, dulu bentuk kepalan masih pakai tangan, sekarang pakai cetakan, kemasan dulu kertas minyak sekarang sudah memakai wadah khusus. Kendala pemasaran dari nama, masak nasi berjamur kok dijual, tapi beliau tetap optimis bahwa nama itu menarik. Modal awal PKMK 6 juta, terus dapat dana dari DIKTI 23 juta juni 2012 program PMW. System franchise, banyak outlet. Akan ekspansi di Bekasi. 28 outlet, 9 milik sendiri. Sistem kemitraan dengan bayar 12.364.000, dapat rombong, peralatan, training karyawan, biaya marketing. Omzet sekarang dari bisnis sego njamoer perbulan adalah Rp 84.000.000 dengan rincian adalah Rp.600.000 x 5 outlet x 20 hari = Rp.60.000.000 dan Rp 300.000 x 4 outlet x 20 hari = Rp 24.000.000.Jumlah pegawai dari sego njamoer yang berjumlah 9 outlet ini adalah 20 orang.Awalnya ada 5 anggota, dulu beda, 2 orang ketrima di stan, lalu cari lagi. Sekarang jumlah personel 6.Anggota dari pemilik sego njamoer adalah Mahendra ega teknik fisika general manager, Rizki aris teknik elektro sales n development manager, Dhika adi pratama teknik lingkungan operasional dan wireless manager, M bahari teknik fisika marketing manager, Ola teknik fisika customer n quality control manager. Varians sego njamoer adalah original, spicy, brownie, nasi uduk jamur, pentol jamur, es krim jamur belum stabil, tas reduce, bantal motif jamur, kaos. Selain produk makanan, ekspansi ke merchandise. PUSAT Gebang wetan 2b. Prestasi yang sudah di raih dari bisnis sego jamoer ini adalah Juara 2 Lomba Penunjang Kategori Kewirausahaan Tahun 2011 , Juara 1 Lomba Bisnis Indonesia Tahun 2010 , Juara Shell Live Wire Tahun 2011 , Juara 1 Kategori Kuliner Tingkat Jatim Sosro Joy Green Tea Youth Bisnis Competition Tahun 2012 , Juara Faforit Wirausaha Muda Mandiri Kategori Mahasiswa Tahun 2011. Awalnya dulu berlima dari satu SMA, kecuali M bahari.Kami berasal dari Sman 1 Sooko.Kami juga terima delivery, dengan kemitraan dilimpahkan ke kirimmakan.com.Untuk fasilitas ini dikenai jasa antar.Bisnis usaha kami juga sudah mempunyai sertifikat kandungan gizi, menggunakan kemasan food grade. Sudah punya merk dagang dan terdaftar ke disperindag dengan nama CV. SEGO NJAMOER. Kendala terjadi waktu libur panjang mahasiswa. Solusinya dengan mencari bazaar bazaar makanan, seperti kampong ramadhan. Daya tarik produk ini dari nama dan design mascot yang bergambarkan jamur warna hijau unyu ngets eye catching. Strategi untuk tetap exist, kuncinya ada di rasa, dengan menjaga kualitas rasa. Ada staff khusus untuk training kepada pegawai yang lain crew marketing outlet, dengan tugas melakukan inspeksi ke outlet-outlet. Order bahan baku wajib tergantung kebutuhan mitra. Untuk hasil keuntungan diputar kembali untuk melebarkan sayap bisnis Sego Njamoer lebih luas dan lebih diterima lagi oleh masyarakat.

atina husnayain
Posted on 3rd November, 2012

Kelompok 2 Dasar Ilmu Gizi IKM A 2011
1. Wuri Emira 101111004
2. Sofi Sudarma Putri 101111009
3. Auli Fisty N A 101111022
4. Ayu Putri Pitaloka 101111037
5. Atina Husnayain 101111042
6. Aig Baladhika 101111063
7. Ryan Rizky Bikatofani 101111068

INSPIRASI PENGUSAHA SUKSES, PISANG IJO JUSTMINE
Jasmine memang berarti melati. Dalam plesetan yang dibuat perempuan Riezka Rahmatiana (23), kata ”jasmine” diubah menjadi ”JustMine” untuk mengangkat penganan tradisional pisang ijo asli Makassar ke masyarakat. Bahkan, pisang ijo ini dijadikan peluang usaha waralaba.
Mirip semerbak keharuman bunga melati, gadis kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 26 Maret 1986 ini mengawali usaha kecilnya pada saat duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Kini, kartu namanya sudah tertulis Riezka Rahmatiana sebagai Presiden Direktur ”JustMine”.
Awalnya, orang tua Riezka bekerja sejak pagi hingga larut malam. Hasil banting tulang seharian dilakukan untuk meraih gaji. Hal itulah yang menumbuhkan semangat kewirausahaan dalam diri Riezka.
”Saya tidak mau menyusahkan orangtua. Berbekal modal awal Rp 13,5 juta, tahun 2007 bisnis makanan pisang ijo yang segar mulai menjadi pilihan untuk dipasarkan di Kota Bandung,” kata Riezka.
Ketika mengambil keputusan berwirausaha di sela-sela kuliahnya, anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku mendapat larangan keras dari orangtuanya. Mereka menganjurkan dia agar mencari pekerjaan yang aman.
Riezka pun menuturkan jatuh dan bangunnya mencicipi aneka pekerjaan di sela-sela kuliahnya. Mulai dari menjadi anggota jaringan pemasaran alias multi level marketing (MLM), penjual pulsa telepon seluler, hingga menjajal bekerja di sebuah kafe. Dari sebagian menyisihkan penghasilan bekerjanya selama itulah, Riezka memulai usaha pisang ijo khas Makassar.
Tanggal 16 Maret 2009 menjadi momentum perjalanan wirausahanya. Riezka memang belum pernah ke Makassar, tetapi ketekunannya mencari penganan tradisional dan kemauannya untuk belajar memproduksi pisang ijo itulah menjadi modal dasarnya. Tanya-tanya resep pun terus dilakukannya.
Pisang dipandang sebagai bahan baku yang relatif murah dan selalu mudah diperoleh di pasar. Hanya dengan dibalut adonan tepung beras yang diberi warna hijau, sajian khas ini bisa mulai dipasarkan dengan nama tren Pisang Ijo.
Dari sanalah kreativitas Riezka bermunculan. Dari sajian pisang ijo orisinal, Riezka mengembangkannya dengan aneka rasa, seperti pisang ijo vanila, stroberi, coklat, dan durian. Semangkok pisang ijo yang disiram sedikit cairan fla yang gurih akan menjadi bertambah segar apabila ditambah pecahan es batu. Apalagi, kreativitasnya dilakukan dengan menambahkan serutan keju dan mesis coklat.
Penghasilan tak terbatas
Dorongan menjadi entrepreneur terjadi justru ketika Riezka membaca buku berjudul Cashflow Quadrant bahwa tidak ada karyawan yang bisa memperoleh penghasilan tak terbatas.
Benarkah hipotesis tersebut? Riezka membuktikan lewat ketekunannya. ”Kalau orang atau setidaknya orangtua saya bekerja dari pagi hingga malam, untuk pada akhirnya mencari penghasilan, saya justru sebaliknya. Kita semestinya tidak bekerja mengejar penghasilan, tetapi biarlah uang mendatangi kita,” ujar Riezka yang akhirnya mewaralabakan usahanya itu.
Dari usaha kecilnya ini, Riezka membuka peluang berinvestasi dengan sistem waralaba. Alhasil, dari satu gerai, kini ada 10 pewaralaba pisang ijo yang tersebar, terutama di kota Bandung, Jawa Barat.
Pemilihan mitra pun dilakukan selektif karena visi yang diemban adalah ”Kepuasan konsumen adalah kepuasan kami. Kesuksesan mitra adalah kesuksesan kami.” Pemilihan gerai bukan sekadar melihat berkas yang diajukan calon mitra, apalagi uang waralaba yang disiapkan mitra.
Melalui penelitian lokasi pasar, Riezka berani mengambil keputusan diterima atau tidaknya seorang mitra. Dia pun memprediksi, besarnya potensi pasar terhadap produknya di lokasi tertentu.
”Sasarannya tetaplah mahasiswa. Karena itu, lingkungan kampus menjadi target lokasi,” kata Riezka.
Bersama sahabatnya, Erwin Burhanudin, Riezka membangun sistem waralaba. Mereka pun mengaku tidak ingin gegabah memperoleh sebanyak-banyaknya pewaralaba. Kapasitas produksi tetap harus menjadi acuan usahanya.
Cepat atau lambat, Riezka yang murah senyum kini sudah mulai menuai hasil. Enam karyawannya ikut bekerja keras menunjang usaha waralabanya dengan memproduksi sekitar 500 porsi setiap harinya.
Soal keuntungan, pokoknya sangat menggiurkan. Sebagai wirausaha muda yang berhasil masuk sebagai finalis tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri 2008, Riezka hanya berharap, setitik perjalanan hidupnya bisa memberikan napas kehidupan masyarakat sekitarnya.
sumber : http://inilahpengusaha.blogspot.com/

Aryanti Ardiningrum
Posted on 3rd November, 2012

Anggota Kelompok 5 IKMA 2011
1. Hermin Yulianti 101111017
2. Annisa Nur Luthfiyah 101111045
3. Ridha Ramayanti 101111050
4. Aderia Putri P. 101111057
5. Aryanti A. 101111061
6. M. Mukhdor Al Faruq 101111119
7. Wahyu Fahrul Ridho 101111130

BAKSO MALANG KOTA “CAK EKO”
Di tahun 2005, Henky Eko Sriyantono dengan bermodalkan 2,5 juta Rupiah mulai mantap dengan membuka Bakso Malang. Ternyata dewi fortuna sudah menunggu Cak Eko untuk membuka bisnis ini. Di hari pertama saja, ia mendapatkan untung sebesar 900 ribu rupiah. Dan perlahan omsetnya terus naik hingga ia pun bisa membuka 2 cabang lainnya..
SEJARAH BERDIRINYA BAKSO MALANG KOTA “CAK EKO”
Didirikan pada tahun 2005, Bakso Malang Kota ‘Cak Eko” boleh dibilang adalah satu-satunya Bakso Malang yang memiliki banyak penggemar fanatik. Alhasil, ketika mulai diwaralabakan pada September 2005, peminat terhadap waralaba Bakso Malang Kota Cak Eko kian besar saja.
Cak Eko memulai bisnis bakso malangnya di sebuah pelataran Pujasera di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat. “Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat,” ujarnya.
Hanya dalam kurun waktu 10 bulan, bisnis bakso Cak Eko berkembang dengan pesat. Sekitar Oktober 2006, dia mulai mengembangkan brand-nya melalui sistem franchise.
Untuk outlet yang tersebar itu, dirinya memberikan bakso dan olahan siomay dan batagor dengan bumbu-bumbu yang telah disiapkan secara instan dalam bentuk bubuk. Terdapat 3 tempat produksi untuk memenuhi permintaan dan suplai ke outlet-outlet.
“Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidoarjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu,”ungkapnya.
Kesuksesan Cak Eko membuat dirinya dipanggil untuk berbagi pengalaman dalam sekolah enterpreneurship bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung dalam sekolah ini agar tidak ada orang yeng mengalami pengalaman buruk seperti dirinya dalam berbisnis.
“Supaya mereka tidak mengalami hal yang sama dengan saya sampai 10 kali gagal,” kenangnya.
Menurut Cak Eko, kegagalan dalam berbisnis itu bisa disebabkan beberapa hal, seperti kesalahan memilih mitra. Selain itu, bisnis yang pendapatannya tidak harian juga bisa berpotensi kegagalan. Begitu pun karena tidak memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis.
PRODUK BISNIS BAKSO MALANG KOTA “CAK EKO”
Produk yang ditawarkan Eko terbilang unik. Ia tidak hanya menjual satu jenis jajanan melainkan juga jenis makanan khas Jawa Tengah dan Jawa Timur lain. Di antaranya soto ayam dan daging, cuwie mie malang, nasi, dan mi goreng jawa. Mengenai harganya tidak mahal sekitar Rp.10.0000,- sampai Rp.13.000,-.
Saat ini terdapat 155 gerai bakso kotak cak eko yang mana 4 gerai milik sendiri sedangkan 151 milik Franchise yaitu: Rewwin Waru, SCC ITS, Sidoarjo, Solo, Duri Pekanbaru, Kutai Barat,Ambon,Masohi Maluku Tengah, Gresik,Pangkep, Batang, Kendari, Tegal, Purbalingga, Pinrang,Kendal,Baturaja,Muara Bungo dan lain-lain.
Omzet dari setiap gerainya ada yang mencapai Rp15 juta per bulan, ada yang Rp30 juta per bulan, tetapi rata-rata semua outlet mencapai omzet Rp25 juta per bulan. Bakso kotak Cak Eko ini sudah beberapa kali mendapat penghargaan di bidang wirausaha salah satunya adalah sebagai franchise Indonesia dengan prospek bisnis terbaik tahun 2008.
KIAT SUKSES HENKY “CAK EKO” SRIYANTONO
Keinginan seseorang untuk hidup mandiri tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Wirausahawan muda asal Surabaya yang lahir di Surabaya pada 5 Mei 1974, Henky Eko Sriyantono mengalami jatuh bangun mengecap kegagalan hingga 10 kali ketika memulai bisnisnya. Baru setelah berusaha selama 8 tahun, Henky Eko mulai menemukan kemandiriannya setelah merintis usaha Bakso Malng Kota “Cak Eko” di rumahnya di daerah Jatiwarna, Bekasi pada tahun 2006.
Kalau kita tidak pernah mau kesasar, maka kita tidak akan pernah menemukan jalan-jalan baru di dunia ini. Seperti itulah yang dipelajari Henky “Cak Eko” Sriyantono. Ia menyeberangi pulau sambil terantuk-antuk sepuluh kali sebelum akhirnya menemukan “pulau” yang ia cari yaitu Bakso Malang Kota. Yang penting dalam hidup ini bukan sukses atau gagal, tetapi kalau gagal atau berhasil, apa pembelajaran yang dapat ditarik dan hasil yang telah dicapai itu. Setiap kegagalan terjadi karena kita tidak mengenal sistem bisnisnya. Kenalilah dan bekerjalah dengan sistem dan aturannya. Bekerjalah dengan arah yang jelas, lakukan tindakan-tindakan yang riil, dan hiduplah dengan damai.

Sumber : http://arifh.blogdetik.com/kisah-sukses-bakso-malang-cak-eko/
http://baksomalangcakeko.blogspot.com/
http://www.baksomalangcakeko.co.nr

KELOMPOK 6 IKMA 2011
Posted on 4th November, 2012

Chairul Tanjung adalah pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan,” Saya bercita-cita jadi orang besar.” Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu bangkrut.

Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai “The Rising Star”. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Pencapaian Chairul Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya, telah membuat ia dinobatkan sebagai “The Rising Star”. Ia mampu membuktikan, bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairung Tanjung yang bisa diteladani kita semua.

KELOMPOK 6 IKMA 2011
Posted on 4th November, 2012

Anggota kelompok:
1. Faradina Permaasari (101111002)
2. Fanny Oktavia (101111013)
3. Ratih Arinda L. (101111047)
4. Cholifatun Ni’mah (101111058)
5. Windy Z.A. (101111070)
6. M. Ridwan A. (101111083)
7. Bettis Wijayanti (101111093)

Chairul Tanjung adalah pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen sempit.

Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan,” Saya bercita-cita jadi orang besar.” Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu bangkrut.

Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai “The Rising Star”. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Pencapaian Chairul Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya, telah membuat ia dinobatkan sebagai “The Rising Star”. Ia mampu membuktikan, bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairung Tanjung yang bisa diteladani kita semua.

Sumber:
Diredja, Tjahja Gunawan.2012. Chairul Tanjung Si Anak Singkong.Jakarta:Kompas MEdia Nusantara

Kelompok 10 IKM A 2011
Posted on 4th November, 2012

Kelompok 10 IKM A 2011
Eka Nur Yunita Sari 101111001
Adelia Ratri Mahenda 101111005
Isnaini Fajariah 101111051
Syahru Ramadhaan Unzila 101111065
Indira Probo Handini 101111072
Imaculata Tinneke Tandiono 101111075
Lira Yuanita 101111079
Eryna Laili Putri 101111085

Sate Ondomohen di Jalan Walikota Mustajab Surabaya

JENIS USAHA DAN OMZET
Jenis usaha dari usaha ini adalah kuliner. Saat ini, dalam menjalankan usahanya Bu Asih dibantu oleh banyak orang kerabat dekatnya yang juga berasal dari Madura. Menghabiskan tidak kurang dari 25 kg daging sapi atau sekitar 2.500 tusuk sate. Dengan volume penjualan sebesar itu bisa ditaksir omset penjualan Sate Kelapa Bu Asih bisa mencapai Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah) per hari atau sekitar Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dalam satu bulan.
AWAL MEMBANGUN USAHA
Sate kelapa yang dijual di pinggir jalan Ondomohen (sekarang jalan Walikota Mustajab) merupakan salah satu makanan legendaris Kota Surabaya. Sudah ada sejak 61 tahun silam. Penjual sate yang tak pernah berpindah lokasi ini letaknya agak terpencil, di ujung gang sempit Ondomohen Magersari II. Menemukan pedagang kaki lima ini tak terlalu sulit. Sepanjang pukul 06.00 WIB -15.00 WIB pembeli selalu antre. Tak salah jika berkat sate kelapa si tukang sate menjadi sangat makmur. Empat rumah mentereng lengkap dengan Kijang Innova dan Toyota Altis merupakan hasil jerih payah penjual sate kelapa ondomohen ini. Sebelumnya, si penjual cuma naik sepeda onthel. Rumah pun masih ngontrak. Untuk modal, ia terpaksa menjual sepeda onthel kesayangannya. Harga sate kepala ondomohen tak mahal, hanya Rp 12.000 - Rp 14.000 per 10 tusuk, tambah Rp 2.000 jika pakai nasi. Mau sate daging sapi murni, campur lemak, otot, sumsum, atau ginjal tergantung selera.
Awalnya Ny. Asih tak punya warung khusus ketika berjualan, apalagi depot. Gaya berjualan sama seperti penjual sate pada umumnya. Berbekal bangku kecil, bakaran sate, kipas sate, sebakul nasi, tempeh besar untuk wadah sate, dan daun pisang untuk bungkus plus lima buah bangku plastik. Semua perlengkapan itu siap dibawa berkeliling sewaktu-waktu. Ny. Asih duduk berjualan beralas tanah. Tepat di depan warung kopi yang berbaik hati memberinya sejumput lahan. “Saya sebetulnya paling alergi kalau ditanya omzet, karena takut diuber-uber pajak,” ujar Ny. Asih sambil tersipu membungkus sate. Padahal, Ny. Asih hanyalah pedagang kaki lima yang tak memiliki tempat berdagang tetap. Maka ia pun tak punya kewajiban setor pajak.
STRATEGI KESUKSESAN PENGUSAHA
1.Menekan harga seminimal mungkin
Bu Asih selaku generasi kedua dari pendiri sate ondomohen selalu berusaha untuk menekan harga penjualan sate seminimal mungkin dengan harapan dapat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Namun menekan harga tersebut bukan berarti bu Asih tidak menggunakan daging sapi yang bagus dan fresh sebagai bahan dasar pembuatan sate, bu Asih tetap akan menaikkan harga jika harga pasar dari daging sapi juga naik, namun bu Asih tidak menaikkan harga terlalu tinggi hanya untuk mencari keuntungan pribadi.
2.Memberikan pelayanan yang terbaik
Pengusaha sate ondomohen dari dulu hingga sekarang selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada setiap konsumen tanpa memandang harta, ras, maupun agama. Bu Asih selalu memberikan teladan yang terbaik pada karyawannya untuk bersikap ramah, memberikan pelayanan cepat, bekerja keras dan cerdas.
3.Menggunakan keuntungan yang diperoleh untuk kepentingan sosial
Keuntungan yang diperoleh Bu Asih tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, namun juga untuk kepentingan sosial. Beliau hanya menggunakan keuntungan secukupnya, selebihnya untuk meningkatkan kualitas produksi dan mensejahterakan karyawannya. Dengan demikian pengunjung yang datang tidak pernah berkurang bahkan semakin meningkat. Beliau memiliki prinsip bahwa membantu orang lain tidak akan pernah merugikannya dan setiap orang berhak untuk sejahtera.
ATTITUDE PENGUSAHA
Ny. Asih Sudarmi yang kini berusia 52 tahun dan almarhum sang mertua (Haji Zaenab) merupakan orang-orang yang sangat sederhana dan berjiwa sosial yang tinggi. Selain itu beliau sangat tekun dan gigih dalam bekerja. Beliau selalu sabar dalam mengarahkan karyawannya dan bersikap ramah kepada siapapun. Terhadap karyawannya, beliau selalu berusaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka, seperti membantu mendaftarkan naik haji. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan mobil ambulance gratis untuk siapa saja masyarakat yang membutuhkan pertolongan, bagi kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas beliau hanya menarik harga yang sangat sedikit untuk hanya untuk mengganti bensin, sedangkan untuk kaum ekonomi lemah beliau tidak menarik biaya apapun.
SUMBER
Surya. Tuesday, 27 May 2008. Diakses melalui http://kabarmadura05.blogspot.com/2008/06/sate-kelapa.html
wawancara langsung dengan salah satu saudara kandung dari Bu Asih (tidak boleh disebut namanya)

Dian Febrina Anggraini
Posted on 4th November, 2012

Menjadi seorang pengusaha sukses, tentunya menjadi impian besar bagi semua orang. Namun sayangnya tidak banyak orang yang bisa berhasil meraih impian tersebut, karena untuk mencapai sebuah kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan tekad yang kuat guna menghadapi semua rintangan dan hambatan yang sering muncul di tengah perjalanan menuju sukses. Hal inilah yang memotivasi sepasang suami istri, Jody Brontosuseno dan Siti Hariyani dalam mengembangkan usaha.
Jatuh bangun dalam menjalankan sebuah usaha, sudah menjadi bagian dari perjuangan mereka mencapai kesuksesan. Berbagai peluang usaha dari mulai berdagang roti bakar, berjualan susu, sampai berbisnis kaos partai musiman pernah mereka jalani, dan semuanya tidak bisa bertahan lama hingga harus ditutup sebelum mencapai suksesnya.
Meskipun begitu, pengalaman pahit tersebut tidak membuat sepasang suami istri ini berhenti mencoba peruntungannya di dunia bisnis. Mengawali kesuksesan bisnisnya pada tahun 2000, Jody dan Anik mencoba membuka warung steak sederhana dengan memanfaatkan teras rumahnya, yang berlokasi di Jl. Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta sebagai lokasi usaha. Berbekal jiwa entrepreneur yang telah mereka miliki, pasangan serasi ini nekat membangun sebuah rumah makan steak dengan nama “Waroeng Steak n Shake” yang kini lebih dikenal dengan istilah WS, lain daripada restoran steak lainnya.
Jika biasanya kuliner ala Eropa ini hanya bisa dinikmati masyarakat menengah atas, di berbagai restoran mewah atau di hotel-hotel berbintang dengan harga yang relatif mahal. Jody dan Anik, berhasil menciptakan sebuah gebrakan baru di bisnis kuliner, dengan menawarkan salah satu makanan barat yang banyak diminati masyarakat yaitu steak, dengan harga yang sangat bersahabat dan jauh dari kata mahal.
Mereka sengaja menawarkan steak di warung sederhananya, untuk membangun image baru di mata konsumen bahwa menu ala Eropa juga bisa disajikan di warung makan biasa, dengan cita rasa yang tidak kalah bersaing dengan steak di hotel-hotel berbintang lima.
Siapa sangka jika strategi tersebut cukup menarik minat konsumen, hingga waroeng steak yang dulunya hanya bermodalkan 5 buah hot plate dan 5 buah meja makan, dengan daya tampung 20 pengunjung. Kini berhasil berkembang pesat, mencapai lebih dari 30 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti di daerah Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogyakarta, Bali, serta Pekanbaru. Dengan omset ratusan hingga milyaran rupiah setiap bulannya.
Terobosan baru yang ditawarkan Waroeng steak, melalui mottonya “Bukan steak biasa” ini berhasil merubah pandangan masyarakat, yang dulunya beranggapan bahwa makanan steak hanya bisa dikonsumsi orang kaya. Menjadi makanan baru yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau dan tentunya pas dikantong semua konsumen.
Dengan menanamkan image murah yang begitu kuat di hati para konsumennya. Kini duet suami istri ini tercatat sebagai salah satu entrepreneur sukses yang keberadaannya patut diperhitungkan, karena mereka tidak hanya sukses mengembangkan puluhan cabang WS di berbagai daerah saja, namun juga merambah bisnis makanan lainnya yang menawarkan berbagai menu bakaran.

sumber:
bisnisukm.com › Pengusaha Sukses

Dian Febrina Anggraini
Posted on 4th November, 2012

Menjadi seorang pengusaha sukses, tentunya menjadi impian besar bagi semua orang. Namun sayangnya tidak banyak orang yang bisa berhasil meraih impian tersebut, karena untuk mencapai sebuah kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan tekad yang kuat guna menghadapi semua rintangan dan hambatan yang sering muncul di tengah perjalanan menuju sukses. Hal inilah yang memotivasi sepasang suami istri, Jody Brontosuseno dan Siti Hariyani dalam mengembangkan usaha.
Jatuh bangun dalam menjalankan sebuah usaha, sudah menjadi bagian dari perjuangan mereka mencapai kesuksesan. Berbagai peluang usaha dari mulai berdagang roti bakar, berjualan susu, sampai berbisnis kaos partai musiman pernah mereka jalani, dan semuanya tidak bisa bertahan lama hingga harus ditutup sebelum mencapai suksesnya.
Meskipun begitu, pengalaman pahit tersebut tidak membuat sepasang suami istri ini berhenti mencoba peruntungannya di dunia bisnis. Mengawali kesuksesan bisnisnya pada tahun 2000, Jody dan Anik mencoba membuka warung steak sederhana dengan memanfaatkan teras rumahnya, yang berlokasi di Jl. Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta sebagai lokasi usaha. Berbekal jiwa entrepreneur yang telah mereka miliki, pasangan serasi ini nekat membangun sebuah rumah makan steak dengan nama “Waroeng Steak n Shake” yang kini lebih dikenal dengan istilah WS, lain daripada restoran steak lainnya.
Jika biasanya kuliner ala Eropa ini hanya bisa dinikmati masyarakat menengah atas, di berbagai restoran mewah atau di hotel-hotel berbintang dengan harga yang relatif mahal. Jody dan Anik, berhasil menciptakan sebuah gebrakan baru di bisnis kuliner, dengan menawarkan salah satu makanan barat yang banyak diminati masyarakat yaitu steak, dengan harga yang sangat bersahabat dan jauh dari kata mahal.
Mereka sengaja menawarkan steak di warung sederhananya, untuk membangun image baru di mata konsumen bahwa menu ala Eropa juga bisa disajikan di warung makan biasa, dengan cita rasa yang tidak kalah bersaing dengan steak di hotel-hotel berbintang lima.
Siapa sangka jika strategi tersebut cukup menarik minat konsumen, hingga waroeng steak yang dulunya hanya bermodalkan 5 buah hot plate dan 5 buah meja makan, dengan daya tampung 20 pengunjung. Kini berhasil berkembang pesat, mencapai lebih dari 30 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti di daerah Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogyakarta, Bali, serta Pekanbaru. Dengan omset ratusan hingga milyaran rupiah setiap bulannya.
Terobosan baru yang ditawarkan Waroeng steak, melalui mottonya “Bukan steak biasa” ini berhasil merubah pandangan masyarakat, yang dulunya beranggapan bahwa makanan steak hanya bisa dikonsumsi orang kaya. Menjadi makanan baru yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau dan tentunya pas dikantong semua konsumen.
Dengan menanamkan image murah yang begitu kuat di hati para konsumennya. Kini duet suami istri ini tercatat sebagai salah satu entrepreneur sukses yang keberadaannya patut diperhitungkan, karena mereka tidak hanya sukses mengembangkan puluhan cabang WS di berbagai daerah saja, namun juga merambah bisnis makanan lainnya yang menawarkan berbagai menu bakaran.

sumber:
bisnisukm.com › Pengusaha Sukses
KELOMPOK 11 IKMA

Asri Hikmatus Z.
Posted on 4th November, 2012

Kelompok 8 Dasar Ilmu Gizi IKMA 2011
• Zia Rosyidah 101111019
• Mohammad Zamroni 101111025
• Mursyidul Ibad 101111040
• Fenty Ayu R. 101111049
• Asri Hikmatus Z. 101111059
• Ratna Ayu H. 101111062
• Denov Marine 101111073
• Ajeng Fauziah S.K 101111092

Klenger Burger, Kisah Sukses Pejuang Kuliner Indonesia
Nama Pemilik : Velly Kristanti
Jenis Bisnis : food and beverages
Omzet : 17 miliar/tahun
Rumah Makan Pondok Sayur Asem adalah usaha yang pernah dirintis Velly dan suaminya, Gatut Cahyadi, pada 2002, saat maish berstatus pegawai kantoran. Namun, usaha rumah makan tersbeut tidak terlalu sukses, ia pun sempat frustasi
Tahun 2004, Velly dan suami terjun bebas melepaskan status pegawai dan mendirikan bisnis advertising syariah dan gagal lagi. Kemudian, bisnis IT juga pernah dilakoni namun kesuksesan belum juga menghampiri.
Hingga sampai di titik nol dan satu-satunya yang mereka punya hanyalah Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot projectnya. Mengaku tak pernah belajar dari chef manapun, Velly dan suami meracik sendiri visi burger mereka, tentunya yang khas dan pas dengan lidah orang Indonesia.
Nama ‘klenger’ diambil dari kosakata bahasa Jawa yang berarti ‘setengah mati’ atau ‘klepek-klepek’, namun Velly lebih suka mempersepsikan klenger dengan analogi ‘tobat sambel’, sudah tau sambel pedas tapi mau lagi.
Velly merasakan ujian yang menimpanya dalam waktu singkat telah membawa begitu banyak pengalaman berharga. Dari ditipu orang, modal habis-habisan, sampai frustasi, membuat Velly dan suami belajar ikhlas dan mencoba bangkit dari keterpurukan.
Percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin serta kesuksesan itu bukan suatu proses yang instan adalah resep Velly dalam menggodok bisnisnya. Meski bisnisnya berkembang pesat, Velly merasa belum di puncak sukses. Lulusan D3 Sastra Belanda FIB UI ini masih merasa banyak tugas yang harus dikerjakannya. Soal tawaran dari luar negeri, Velly mengaku, telah menampik tawaran tersebut karena ingin Berjaya di negeri sendiri baru menginjakkan kaki di negeri orang.
Attitude yang membuat sukses:
1. Tidak mudah putus asa, belajar dari pengalaman.
2. Rajin, ulet, inovatif.
3. Mau bekerja keras.
4. Selalu mencoba hal-hal baru.
5. Mampu membidik selera konsumen yang dituju.
Sumber:
http://www.*inilahpengusaha.blogspot.com/

Jual Gamat Gold
Posted on 19th January, 2013

informasi yang cukup menarik

jamu kuat sex
Posted on 28th January, 2013

wah… makasih artikelnya..

obat asam urat
Posted on 7th February, 2013

artikel artikel dalam blog ini bagus bagus banget.. nice post

Leave your Comment