Blog Stats

Comments Posted By Anita Rahman

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments

Tugas Ekologi Pangan & Gizi 2009

Rekayasa Genetik Monosex Culture Benih Ikan Nila untuk Peningkatan Produksi
Teknologi rekayasa genetika merupakan inti dari bioteknologi didefinisikan sebagai teknik in-vitro asam nukleat, termasuk DNA rekombinan dan injeksi langsung DNA ke dalam sel atau organel. Definisi lain yaitu fusi sel di luar keluarga taksonomi atau teknologi yang dapat menembus rintangan reproduksi dan rekombinasi alami dan bukan teknik yang digunakan dalam pemuliaan dan seleksi tradisional. Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi atau melakukan perubahan susunan asam nukleat dari DNA (gen) atau menyelipkan gen baru ke dalam struktur DNA organisme penerima. Gen yang diselipkan dan organisme penerima dapat berasal dari organisme apa saja.
Rekayasa genetik merupakan salah satu aplikasi dalam peningkatan produksi perikananan terutama dalam usaha budidaya ikan nila. Ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Indonesia pada 1969. Ikan nila memiliki pertumbuhan relatif cepat dan pemeliharaan tidak susah. Apalagi, dari aspek biologi, ikan nila berkerabat dekat dengan ikan mujair sehingga relatif memiliki kesamaan morfologi, termasuk dalam hal teknologi budidaya. Kepopulerannya melebihi ikan tambakan, gurami, sepat siam, dan nilem yang menjadi ciri khas produk perikanan budidaya Jawa Barat. Kalangan penggiat akuakultur lebih mengenalnya dengan sebutan ikan nila ras T69. Pada 1990 Balai Penelitian Perikanan Air Tawar mendatangkan ikan nila ras citralada dari Thailand, dan ikan nila ras GIFT dari Filipina pada 1994. Di daerah Sumatera Barat dan Jambi dijumpai ikan nila kagoshima yang kemudian populer dengan sebutan ikan nila ras JICA sebagai hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan JICA (Jepang). Pada 2002-2003 Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendatangkan pula ikan nila ras GET juga dari Filipina. Ras ikan nila di Indonesia semakin banyak. Selain memperkaya keanekaragaman jenis ikan budidaya, ras ikan nila juga meningkatkan keragaman genetika.
Pada awal kedatangannya, baik ras T69, citralada, maupun GIFT, ikan nila memiliki pertumbuhan sangat cepat. Bahkan, ikan nila GIFT yang dipelihara di keramba jaring apung (KJA) mampu tumbuh lebih dari 500 gram per ekor dalam waktu 3-4 bulan. Namun, beberapa tahun kemudian terjadi penurunan kualitas ikan yang dipelihara. Untuk memperoleh ukuran tertentu dibutuhkan waktu pemeliharaan cukup lama dibandingkan dengan sebelumnya. Keadaan ini mempersulit penyediakan ikan bagi kebutuhan pasar ekspor yang memerlukan ukuran minimal 600 gram per ekor. Penyebab mundurnya pertumbuhan ikan nila bermula dari semakin meningkatnya kebutuhan benih. Setiap orang dengan mudahnya melakukan penangkaran. Benih ikan dari penangkar dibesarkan untuk kemudian dikawinkan. Hasil benih itu, oleh penangkar lain, dikawinkan kembali. Akibatnya, kesalahan kolektif tersebut menurunkan mutu gen dan berdampak pada pertumbuhan yang tidak sama dengan saat awal kedatangannya. Dalam bahasa sederhana, penangkar telah mengawinkan ikan dengan menggunakan induk-induk dari kerabat sangat dekat (keluarga). Para ahli pemuliabiakan ikan menyebutnya sebagai istilah in breeding (silang dalam) yang merugikan,
Ikan nila merupakan salah satu komoditas budidaya dengan prospek pasar cukup luas. Kebutuhan pasar ikan nila, baik dalam maupun luar negeri, belum tergarap maksimal. Padahal, permintaan pasar semakin meningkat. Di dalam negeri ikan nila lebih digemari karena dianggap sebagai makanan pengganti ikan laut (ikan kakap). Ikan nila mempunyai rasa spesifik dengan tekstur daging padat. Harga ikan nila relatif murah sehingga terjangkau masyarakat luas. Adapun fillet ikan nila merupakan komoditas ekspor yang diminati pasar Amerika dan Uni Eropa menggantikan kedudukan ikan red snapper dan ikan sea bream.. Sebagai sentra pengembangan ikan nila di Indonesia, pada 2005 Jabar mampu memproduksi sebanyak 49.092 ton ikan nila atau sekitar 21,24 persen dari total produksi ikan air tawar Jabar. Produksi ikan nila ini menduduki urutan kedua dari 13 jenis ikan yang dibudidayakan. Padahal, permintaan ikan nila dalam setahun bisa mencapai 200.000 ton. .
Antara ikan nila jantan dan betina terdapat perbedaan. Perbedaan itu antara lain dalam hal kecepatan tumbuh, tingkah laku, saat mencapai dewasa, warna, bentuk, dan ukuran individu maksimum yang dapat dicapai. Ikan mas betina mampu tumbuh lebih cepat dan besar dibandingkan dengan ikan mas jantan. Itu berbeda dengan ikan nila. Ikan nila jantan justru tumbuh lebih cepat dan besar dibandingkan dengan ikan betina. Memelihara ikan jantan saja atau betina saja dikenal dengan pemeliharaan ikan secara tunggal kelamin (monosex culture). Penggunaan sistem budidaya monosex jantan pada usaha pembesaran ikan nila telah dipandang oleh para pembudidaya sebagai suatu keharusan. Ikan nila jantan mempunyai tingkat pertumbuhan 30% lebih cepat dari nila betina, Sistem budidaya monosex jantan ini dapat meningkatkan produksi pembesaran ikan nila sebesar 25%. Bila memelihara pada kolam tanah, pertumbuhan ikan bisa mencapai tiga kalinya. Sehingga target untuk mendapatkan ukuran ikan nila kualitas ekspor pun (berat di atas 600 gram) dapat lebih mudah dicapai. Kendala yang dihadapi para pembudidaya jika menggunaan sistem heterosex pada budidaya pembesaran ikan nila adalah, ikan nila memiliki sifat cepat matang kelamin (biasanya pada ukuran 250-300 gram). Akibatnya sering terjadi perkawinan yang tidak terkontrol pada kolam-kolam pembesaran yang tentunya akan menghambat pertumbuhan, karena energi untuk pertumbuhan digunakan untuk perkawinan. Itulah alasan mengapa permintaan benih nila jantan sangat tinggi, dan penggunanan induk nila Gesit pada usaha pembenihan layak menjadi solusinya. Dengan demikian, monosex culture pada ikan nila memberikan jalan keluar untuk menyiasati perolehan ikan yang memiliki pertumbuhan cepat serta berukuran relatif besar sesuai dengan tuntutan pasar ekspor.
Untuk menghasilkan benih nila jantan, metode yang dapat digunakan ada 4. Pertama, secara manual dengan seleksi kelamin benih berukuran 10 cm (20 gram). Ke-dua, persilangan antarspesies (Oreochromis niloticus dengan O. Aureus). Ke-tiga, penggunaan hormon methyl testoteron sebagai pengarah kelamin (sex reversal) pada benih yang kelaminnya belum berkembang (sexually undifferentiated fry). Ke-empat, dengan pengembangan YY male technology. Selama ini, biasanya para pembenih menggunakan teknik sex reversal, dengan menambahkan methyl testosteron pada pakan benih ikan fase larva. Atau dengan merendam larva yang baru menetas dalam larutan hormon tersebut agar sebagian besar benih berkelamin jantan. Harga hormon tersebut mahal dan juga bersifat karsinogenik, bagi orang yang bertugas mencampur pakan dan merendam larva dengan hormon tersebut. Jadi harus memakai peralatan pelindung tubuh. Sehingga metoda YY male technology menjadi pilihan yang lebih aman dan praktis, karena tidak menggunakan bahan aditif yang berbahaya. Kerja sama ahli pemuliabiakan ikan pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar, dan IPB memberikan hasil menggembirakan dengan ditemukannya ikan nila supermale atau ikan nila jantan super (NJS) versi Indonesia melalui teknologi rekayasa kromosom.
Disebut NJS karena kromosom sex yang dimilikinya bersifat homogamet (YY) tidak seperti ikan nila jantan umumnya yang heterogamet (XY). Apabila dikawinkan dengan ikan nila betina biasa, ikan nila jantan akan menghasilkan keturunan yang semuanya jantan. Dengan demikian, NJS mampu mengganti peran hormonal yang menjadi kendala dengan berbagai ketentuan pasar internasional. Sebagai wujud penghargaan prestasi para pakar genetik ikan bangsa kita, Departemen Kelautan dan Perikanan merilis NJS sebagai ikan budidaya dengan sebutan ikan nila genetically supermale on Indonesian tilapia (GESIT) melalui Keputusan Menteri Nomor 44/MEN/2006 Tanggal 14 Desember 2006.Keberhasilan tersebut sekaligus menyingkap rahasia di balik monosex culture bahwa sistem pemeliharaan ikan nila secara tunggal kelamin bisa sebagai alternatif peningkatan produksi ikan nila.
Anita Rahman /IKM B 2007/100810324
Sumber:
I Gede Putu Irawan.2009.Rekayasa Genetika,Siapa Takut?.http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=915. Diakses tanggal 24 Oktober 2009.
Muhamad Husen.Rahasia di Balik “Monosex Culture”.http://202.146.5.33/kompas-cetak/0712/06/Jabar/29900.htm.Diakses tanggal 24 Oktober 2009.
Anonim.2009.Bibit ikan nila unggul monosex jantan. http://nilanirwana.blogspot.com/. Diakses tanggal 24 Oktober 2009

Comment Posted By Anita Rahman On November 2, 2009 @ 5:36 pm

«« Back To Stats Page